Setelah PPDB SMP Kota Bandung Berlalu

Hari ini saya datang ke SMPN 44 Bandung di Jalan Cimanuk No. 1, pertigaan dengan Jalan Riau (Jl. R.E Martadinata, jalan yang terkenal dengan sederetan Factory Outlet atau FO). Tujuan ke sini adalah untuk melakukan daftar ulang anak yang diterima di SMP negeri tersebut. Alhamdulillah, Tuhan mentakdirkan anak bungsuku bersekolah di SMP ini melalui proses PPDB  pada bulan puasa yang lalu. Kota Bandung memang paling cepat menyelenggarakan PPDB di antara semua kota/kabupaten di Jawa Barat.

PPDB tahun 2019 menerapkan full sistem zonasi. Semua sekolah negeri di Indonesia harus tunduk pada Peraturan Menteri Kemendikbud yang mengharuskan penerimaan siswa baru SMP/SMA berdasarkan jarak rumah ke sekolah. Siapa yang rumahnya makin dekat ke sekolah, maka peluangnya diterima di sekolah tersebut makin besar. Siswa yang rumahnya  dekat  SMP/SMA negeri tidak  perlu giat belajar di tingkat sekolah sebelumnya. Mereka, meski punya  NEM (nilai USBN atau nilai UN) rendah, sudah “terjamin” bisa masuk SMP/SMA negeri. Siswa yang punya NEM tinggi tapi rumah jauh dari sekolah terpaksa gigit jari, tersingkir dari sekolah yang diinginkannya.

Sistem zonasi memang sudah berhasil menghilangkan sekolah-sekolah berlabel favorit. Siswa dengan NEM bagus tersebar merata di berbagai sekolah. Sekolah-sekolah SMP favorit yang terletak di tengah kota di Bandung seperti SMPN 2, 5, 7, 14, dan 44 melalui sistem zonasi tahun 2019 rata-rata mendapat siswa dengan NEM yang rendah. Tidak banyak siswa memiliki NEM bagus.

Sistem zonasi di Bandung hanya memberi kuota 2,5% saja menerima siswa berdasarkan nilai NEM, atau setara 7 hingga 8 orang saja, 2,5 % lagi berdasarkan prestasi perlombaan, dan 5% untuk jalur mutasi orangtua. Sisanya 90% berdasarkan jarak, itu sudah termasuk jalur kombinasi sebesar 20% yang menerima siswa berdasarkan kombinasi jarak rumah dan nilai NEM. Anak saya karena berada di luar zonasi hanya bisa memilih jalur prestasi berdasarkan nilai USBN saja, itupun hanya boleh memilih satu sekolah.

Beruntunglah orangtua yang punya rumah dekat SMP/SMA negeri, malanglah orangtua yang membeli rumah di pinggiran kota yang jauh dari sekolah negeri. Meski anak-anak mereka berprestasi akademis tapi kalah bersaing dengan anak-anak yang rumahnya dekat sekolah. Mau masuk sekolah negeri dengan jalur prestasi akademis itu pun tidak aman karena kuotanya sangat sedikit. Mau masuk sekolah swasta tidak punya uang karena sekolah swasta yang berkualitas memungut uang pangkal puluhan juta dan SPP yang mahal.

Ruwet sekali PPDB zaman sekarang. Sistem PPDB yang selalu berubah-ubah setiap tahun memusingkan orangtua. Anak-anak selalu menjadi kelinci percobaan para pengambil keputusan.  Pada dasarnya saya setuju dengan tujuan sistem zonasi, yaitu untuk memeratakan mutu sekolah, tidak ada lagi sekolah favorit atau tidak favorit. Tetapi setuju dengan syarat, yaitu sekolah tersebar secara merata dan kualitasnya juga merata, sehingga masuk sekolah apapun sama saja. Namun sayangnya, di kota Bandung penyebaran sekolah dan kualitasnya tidak merata, oleh karena itu sistem zonasi belum bisa diterapkan secara penuh. Tentang hal ini sudah  pernah saya tulis pada posting tahun lalu (baca ini). Kalau belum bisa diterapkan secara penuh, maka fifty-fifty saja, yaitu 50% menerima siswa berdasarkan jarak dan 50% lagi berdasarkan NEM. Lebih fair dan lebih adil bagi semua pihak.

Tahun ini kabinet menteri akan berganti lagi karena presidennya baru. Mendikbud yang sekarang kemungkinan akan diganti juga. Kita semua sudah mahfum dengan slogan ganti menteri ganti aturan. Bukan tidak mungkin Mendikbud yang baru akan mengubah lagi mekanisme PPDB. Siap-siap saja orangtua dipusingkan dengan aturan yang berubah-ubah. Tiga tahun lagi ketika anak saya tamat SMP entah seperti apa pula aturan PPDB masuk SMA.

Jalan Cimanuk yang teduh

Alhamdulillah, proses pendaftaran ulang siswa baru sudah selesai di tempat sekolah anak saya. Sekolah yang berada di kawasan belakang Gedung Sate ini berada di kawasan yang teduh dan rindang, banyak pohon besar, dan tidak dilalui kendaraan umum. Mudah-mudahan sekolah ini adalah yang terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk anak saya. Tahun lalu SMPN 44 meraih predikat sekolah berbudaya religi. Itu artinya SMPN 44 memiliki pola pendidikan karakter yang kuat. Insya Allah.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Seputar Informatika. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.