Perjalanan ke Kota Atambua dan Dili (Bagian 1)

Mengunjungi kota Dili di Timor Leste tidak pernah terpikirkan oleh saya. Mungkin Dili tidak termasuk dalam daftar kota yang akan saya kunjungi. Namun, ketika saya mengadakan kunjungan ke kota Kupang dalam rangka penelitian dengan Politeknik Negeri Kupang, teman di sana menawarkan jalan-jalan ke kota Dili. Wah, kenapa tidak, pikir saya. Kapan lagi punya kesempatan mengunjungi bekas ibukota Propinsi Timor Timur yang sekarang menjadi ibukota negara Timor Leste itu?

Perjalanan ke Dili dari Kupang melalui kota perbatasan di NTT yang bernama kota Atambua. Tulisan pertama ini menceritakan perjalanan saya dari kota Kupang menuju kota Atambua.

Saya tiba di kota Kupang pukul 21.30 WITA setelah menempuh perjalanan panjang dengan pesawat Garuda dari Bandara Soekarno-Hatta dan transit di Surabaya. Daniel Bataona, dosen Poltek Kupang menjemput kami di Bandara Eltari. Bandara ini sedang dibangun bertingkat dan akan menjadi bandara yang megah. Kupang dan NTT mulai menjadi tujuan menarik wisatawan baik wisatawan asing maupun wisatawan lokal. Alam NTT yang unik adalah daya tarik tersendiri. Mengunjungi Kupang tahun ini adalah kunjungan saya kedua kalinya setelah kunjungan pertama pada tahun yang lalu untuk urusan yang sama (Baca: Berkunjung ke Kota Kupang).

Pagi hari pukul 7.00 setelah istirahat semalam di hotel Neo dekat bandara, kami memulai perjalanan menuju kota Atambua dan Dili. Seorang pegawai Poltek Kupang bernama Pak Agustinus akan ikut menemani kami hingga ke Dili. Pak Agustinus adalah orang asli Timor Leste. Dia termasuk warga Timor Timur yang pro integrasi saat jajak pendapat tahun 1999 dan memilih bergabung dengan Indonesia. Banyak juga orang Timor Timur yang tidak mau kembali ke kampung halamannya dan memilih tinggal di Pulau Timor bagian wilayah Indonesia.

Perjalanan dari Kupang ke Atambua menempuh waktu 6 sampai 7 jam dengan mobil. Wah, lama juga ya. Sebenarnya kita bisa pergi ke sana lewat udara. Di kota Atambua ada bandara. Dari Kupang ke Atambua terdapat dua kali penerbangan setiap hari yang dilayani oleh Wings Air. Tetapi saya memilih lewat darat supaya dapat melihat pemandangan alam Pulau Timor dan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. Bulan Juli hingga September adalah waktu yang tepat untuk mengunjung Pulau Timor karena cuaca sangat cerah. Matahari bersinar terang dan langit biru bersih tanpa awan.

Kami sudah keluar kota Kupang dan sekarang memasuki Kabupaten Kupang.  Ketika sampai di Oesao, kami berhenti sebentar untuk membeli jajanan khas yaitu kue cucur. Sebenarnya ingin berhenti di kedai jagung pulut yang pernah saya singgahi tahun lalu (Baca: Berkunjung ke Kota Kupang), tapi pagi itu mungkin jagung pulut yang khas Oesao belum tersedia. Di depan warung kue cucur berhenti sebuah minibus yang hendak menuju kota Kefamananu di pedalaman di Pulau Timor. Bus-bus antar kota di Kupang tidak ada yang besar, umumnya berukuran minibus.  Seorang pemuda Pulau Timor dan lelaki tua dengan kain tenun ikat berdiri di depan bus.  Wajah-wajah orang Timor itu umumnya khas seperti pada foto ini. Berambut ikal, hidung mancung, kulit agak kehitaman, dan mata agak ke dalam. Inilah Indonesia yang multi etnis dan multi kultural.

Minibus yang membawa sebuah sepeda motor di belakangnya.

Pemandangan sepanjang jalan sungguh indah. Pohon-pohon sepe dan pohon jati berbaris sepanjang jalan. Alam pulau Timor tidaklah segersang yang kita kira. Jalanan menaik dan menurun bukit.  Bukit-bukit hijau berdiri memagar.

Kami telah keluar Kabupaten Kupang dan sekarang akan memasuki Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kami berhenti di desa Takari. Di pinggir jalan terlihat sebuah pemandangan alam yang mempesona. Sebuah lembah dengan sungai yang  hampir mengering dan bukit kapur terlihat sangat mempesona. Swafoto dulu ah…

Numpang foto di Takari, Kab TTS.

Di Takari kita melewati sebuah jembatan yang panjang bernama jemnbatan Noelmina (saya kira jembatan Wilhelmina :-)).  Jembatan ini menghubungkan Kabupaten Kupang dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sebuah tugu dengan tiga jari tegak dan dua jari membentuk huruf O menyambut kami. Hmmm…apa ya makna susunan jari seperti itu?

Jembatan Noelmina

66838160_10219330253108299_3529029457228595200_o

Anak pedagang camilan di atas jembatan Noelmina (Credit photo by Tutun Juhana)

Tugu perbatasan Kabupaten Kupang dengan Kabupaten TTS

Setelah dua jam perjalanan kami memasuki kota Kefamenanu di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Kota Kefamenanu, atau kota Kefa saja adalah ibukota Kabupaten TTU. Kami berhenti di sini untuk mengisi bensin. Sebuah gereja cantik bernama Gereja Masehi Injili di tanah Timor berdiri dengan megah. Penduduk NTT mayoritas beragama Katolik (55,39%) dan Kristen Protestan (34,32%). Penduduk beragama Islam sekitar 9.05%, sisanya agama lain dan kepercayaan lokal seperti Marapu (Sumber: NTT di Wikipedia). NTT adalah propinsi dengan kerukunan beragama yang baik. Dua kali saya berkunjung ke Timor saya melihat masjid dan gereja mudah ditemukan. Perempuan berkerdudung banyak ditemukan di pasar-pasar bahkan hingga di kota pedalaman.

Jalanan di kota Kefamenanu

Gereja Masehi Injili di Timor

Kami memasuki hutan jati di luar kota Kefa. Di pinggir hutan berdiri pondok-pondok yang menjual jambu biji dan jeruk lokal yang warnanya menggoda. Jeruk-jeruk diatur dalam tumpukan piring sehingga terlihat menarik. Rasa jeruknya agak asam, tapi lumayan memberikan kesegaran pada siang hari yang terik.

Jeruk lokal Kefa

Perjalanan ke Atambua masih jauh, sekitar 2 jam lagi. Terus terang saya merasa pusing dan mual selama perjalanan karena jalanan yang berbelok-belok. Ya, kita naik dan turun melingkar bukit sehingga isi perut serasa dikocok-kocok. Saya lebih banyak diam dan berbaring karena merasa mau muntah. Untung tidak jadi muntah karena makan jeruk lokal tadi. Nggak nyambung ya?

Pukul 13 siang kami memasuki kota Atambua. Gapura gerbang kota Atambua menyambut kami. Sepanjang jalan memasuki kota Atambua di kiri kanan terdapat  hutan jati. Pohon jati milik Pemerintah, sebagian lagi milik misi (organisisasi penyebaran agama Katolik). Pohon jati di sini ditanam sejak zaman Belanda. Pohonnya tidak pernah ditebang-tebang, dibiarkan begitu saja. Pohon jatinya besar-besar lho. Hmmmm…kalau dijual di Pulau Jawa harganya tentu selangit. Tapi pohon jati di sini tidak boleh ditebang, barang siapa yang menebang akan ditangkap polisi.

Gerbang kota Atambua. Ini difoto kala pulang dari sana (sore hari)

Hutan jati sepanjang jalan memasuki kota Atambua

Hutan jati

Berfoto bersama pak Agustinus, orang asli Timor Leste, yang menjadi guide kami ke Dili

Alhamdulillah, sampailah kami ke pusat kota Atambua. Perut sudah lapar nih. Kami pun berhenti di rumah makan padang.  Hehehe…kemanapun pergi, tetap makannya di rumah makan padang. Ada tiga sampai empat rumah makan Padang di kota Atambua. Ternyata cukup banyak juga perantau Minang di kota perbatasan dengan Timor Leste ini. Pemilik rumah makan yang saya singgahi ini adalah perantau dari Pariaman. Katanya ada sekitar 80 KK warga perantau Minang di sana. Banyak juga ya. Oh ya, selain rumah makanan padang, mencari makanan halal di Atambua  tidak sulit. Ada juga rumah makan Jawa Timur dengan menu   soto ayam, pecel lele, dan ayam goreng.

Rumah makan Padang Raya di tengah kota Atambua

Atambua adalah ibukota Kabupaten Belu. Kota Atambua kecil saja. Tapi inilah kota perbatasan ke Timor Leste. Jam 19.00 malam kota ini udah sepi, toko-toko sudah tutup. Masjid dan gereja berdiri berdampingan. Di tengah kota terdapat gereja katedral dan masjid raya Al-Mujahidin. Saya sholat jamak Dhuhur dan Ashar di sana. Teman saya, Daniel dan Agustinus menunggu di halaman masjid.

Masjid Raya Mujahidin di Atambua

Selesai makan kami mengejar waktu untuk memasuki pintu perbatasan ke Timor Leste di Motaain. Tapi karena kami membawa mobil selama di Timor Leste, maka kami harus mengurus surat izin bea cukai terlebih dahulu di kantor bea cukai Atambua. Kantor bea cukai ini terletak setelah bandara Atambua dan taman makam pahlawan Seroja. Di sini dimakamkan tentara dan pejuang RI yang gugur di Timor Timur.  Oh ya, di kantor bea cukai ini juga terdapat kantor imigrasi di lantai dua.

Nampang di taman makam pahlawan Seroja

Taman makam pahlawan Seroja

Petugas bea cukai masih muda-muda. Mereka umumnya adalah lulusan STAN di Jakarta. Mereka adalah pegawai Kementerian Keuangan RI. Pegawai bea cukai ramah-ramah. Mereka menanyakan surat-surat kendaraan, setelah itu dilanjutkan dengan memeriksa fisik kendaraan.

Mengurus surat izin kendaraan di kantor Bea Cukai

Kantor bea cukai

Cukup lama juga kami mengurus suart-surat kendaran di kantor bea cukai Atambua. Hari sudah menunjukkan pukul 15.30, setengah jam lagi pintu perbatasan RI-Timor Leste di Motaain akan tutup. Pintu perbatasan dibuka pukul 8.00 pagi hingga pukul 16.00 WITA, setelah itu tutup dan jika terlambat maka kita harus menunggu keesokan harinya. Hmmm…apakah kami bisa terkejar waktunya ke Motaain yang jaraknya 10 km dari kantor bea cukai? (BERSAMBUNG)

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.