Ketika Taat Menjalankan Agama Malah Dilabeli Radikal

Sudah puluhan tahun saya hidup di tanah air tercinta, baru pada zaman pemerintahan sekarang, kira-kira 5 tahun ke belakanglah, saya merasa banyak hal menjadi terbalik-balik. Yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar. Banyak contohnya.

Memakai gamis, memakai jilbab panjang, menumbuhkan jenggot, atau memakai celana semata kaki (dikenal dengan nama celana cingkrang) akan dicap sebagai orang radikal, taliban,khilafah, HTI, fundamentalis, PKS, bahkan teroris. Dengan gampang saja label itu disematkan kepada mereka oleh kelompok pembenci. Waspada pada paham radikalisme boleh-boleh saja, tetapi menggeneralisasi semua orang yang mengikuti sunnah Rasul  adalah radikal merupakan sikap yang kebablasan.

Pada kasus revisi UU KPK misalnya, buzzer-buzzer pendukung Pemerintah melancarkan opini bahwa KPK adalah sarang kelompok radikal dan taliban. Tudingan itu dibuat karena di sana ada penyidik Novel Baswedan yang sekarang suka memakai celana cingkrang, juga karena setiap pekan ada pengajian buat karyawan yang muslim ( sementara kebaktian bagi karyawan kristiani tidak dipermasalahkan).

Fenomena lain yang membuat saya prihatin adalah seringnya ustad dihadang di bandara, pengajian dibubarkan oleh sekelompok orang atau ormas hanya karena ustad  yang akan mengisi pengajian dicap sebagai ustad radikal, khilafah, HTI, dan sebagainya. Dulu tidak pernah kejadian seperti ini. Ustad Felix Siaw adalah ustad yang paling sering dihadang dan pengajiannya dibubarkan, disamping ustad-ustad lain. Meskipun saya tidak kenal Felix Siaw, tidak selalu sepaham dengan Felix Siaw, tidak pernah mendengarkan ceramahnya, namun membubarkan pengajian atau menghadang ulama dalam kacamata saya adalah perbuatan yang tidak menghargai demokrasi. Tidak Pancasilais, anti Pancasila malah, sebab Pancasila menjunjung tinggi demokrasi, menghargai kebebasan berpendapat, dan menjamin setiap orang menjalankan agama dan kepercayaannya.

Parahnya, ormas yang membubarkan pengajian sama-sama ormas Islam juga. Lha, kok?  Aneh, bukan? Sama-sama mengucapkan syahadat, sama-sama mempunyai kitab Al-Quran, Nabinya sama, Tuhannya sama, tetapi kok sangat beringas kepada saudaranya. Dialog tidak dikedepankan, tetapi kekerasan fisik dan verbal lebih diutamakan. Padahal seharusnya pemikiran dilawan dengan pemikiran, tulisan dilawan dengan tulisan, pendapat dilawan dengan pendapat. Bukan dengan kekerasan atau menggunakan alat kekuasaan.

Kemarin saya membaca berita Ustad Abdul Somad (UAS) ditolak oleh UGM mengisi diskusi di masjid kampus dengan alasan yang terkesan mengada-ada. Menurut kabar karena tekanan sebagian alumninya. Sebagai kampus yang menghargai kebebasan akademis dan tempat beradu gagasan, penolakan itu tidaklah pada tempatnya. Apa yang ditakutkan dengan ceramah seorang ustad? Penolakan terhadap UAS tidak hanya sekali ini saja, tetapi sudah beberapa kali di beberapa tempat karena alasan dia ustad radikal. Benarkah?

Saya menduga, penyebab berbagai tudingan radikal, fundamentalis, khilafah, membubarkan pengajian, menghadang ulama, menolak ustad, dan sebagainya, benang merahnya sama: mereka dianggap oposan, tidak pro rezim, mereka tidak berada di kubu 01. Politis sekali, bukan? Karena anda tidak berada di kubu kami, maka anda adalah lawan. Mengerikan. Polarisasi akibat Pilpres (dan juga Pilkada DKI) memang sangat buruk. Bangsa kita terbelah dua. Efeknya masih terasa sampai sekarang meskipun Pilkada DKI dan Pilpres sudah selesai, meskipun Prabowo sudah menyalami Jokowi, tetapi dampaknya belum hilang. Orang-orang yang dianggap oposan itu citranya dibuat buruk

Keberadaan para pendengung (buzzer) seperti Denny Siregar, Abu Janda, dan lain-lain ikut memperkeruh suasana. Para pendengung itu meniupkan isu, menyebarkan hoaks (ingat isu ambulan membawa batu yang disebarkan oleh DS), paling sering melontarkan isu radikal, khilafah, dan lain-lain, sehingga membuat suasana menjadi panas. Keberadaan para pendengung ini merusak demokrasi karena membuat bangsa ini terpecah belah. Sayangnya, meski telah berkali-kali dilaporkan ke kepolisian, mereka untouchable.

Sampai lima tahun ke depan saya prediksi persatuan bangsa ini akan mudah tercabik-cabik karena kepentingan kekuasaan. Menyedihkan!

Pos ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Ketika Taat Menjalankan Agama Malah Dilabeli Radikal

  1. natanedan berkata:

    Menyedihkan memang

  2. Ganesha berkata:

    Hal yang sama juga saya rasakan pak, mudah2an kondisi ini segera berakhir.

  3. abbie psw berkata:

    Benar, itu juga saya rasakan. mungkin masa sekarang sudah memasuki pra akhir zaman, umat islam semakin banyak jumlahnya, tetapi agama islam semakin terasa asing oleh sebagian pemeluknya. kondisi ini tercipta karena narasi yang disebar secara masif dan terus menerus oleh kalangan liberal yg dekat dengan kekuasaan, dan benar mereka itu sekarang bebas men-jungkir balikkan kebenaran dan menjadi kalangan yg tidak tersentuh hukum. lihat saja bendera nabi sekarang di cap sebagai bendera HTI/isis/teroris. saya pun heran kenapa pemerintah tidak mengkalrifikasi secara tegas mana bendera nabi dan mana bendera HTI/isis, dan hasil klarifikasi di sampaikan kepada masyarakat luas, agar pemahaman masyarakat tidak salah. saya pernah mendapat postingan di WA atau di Twitter ketika ada yg memosting bendera bertulisan tahu bulat dalam bahasa arab, tanpa melihat/membaca tulisan tsb langsung saja sebagian netizen menyebut sebagai ISI, HTI, Teroris, Khilafah. sungguh menyedihkan memang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.