Menghafal itu Penting dan Perlu, tetapi Mengamalkan yang Dihafal Jauh Lebih Penting

Diskursus tentang hafal menghafal tidak perlu menjadi polemik (baca berita: Nadiem Makarim: Dunia Tak Butuh Anak-anak yang Jago Menghafal).  Menurut saya Pak Menteri tidak bermaksud merendahkan kemampuan menghafal, namun menafikan kemampuan hafalan juga tidak sepatutnya.

Menghafal adalah bagian dari proses belajar. Otak manusia memiliki kemampuan mengingat sesuatu. Di dalam Taksonomi Bloom dijelaskan bahwa “mengingat” atau “menghafal” adalah tingkatan terendah untuk mencapai tingkatan berikutnya. Tingkatan Taksonomi Bloom dari rendah ke tinggi adalah sebagai berikut:
1. Mengingat
2. Memahami
3. Menerapkan
4. Menganalisis
5. Mengevaluasi
6. Menciptakan

Menurut saya kemampuan menghafal itu juga penting dan diperlukan. Ketika saya masih di kecil, di sekolah guru menyuruh kami menghafal perkalian dari 1 sampai 10, sehingga ketika menyelesaikan soal perkalian dapat diselesaikan tanpa perlu banyak berpikir. Sampai sekarang pun saya kira guru2 SD masih mengajarkan murid untuk menghafal perkalian, namun dibarengi dengan menyelesaikan soal-soal matematika.

Beberapa profesi memerlukan daya ingat (CMIIW), misalnya dokter harus menghafal dan mengingat bagian-bagian anatomi manusia, ahli hukum perlu hafal pasal-pasal KUHP, biolog perlu hafal nama-nama latin makhluk hidup, dsb.

Di kelas kuliah saya pun saya menyuruh mahasiswa harus hafal hukum-hukum himpunan (set properties) dan hukum-hukum logika proposisi (law of logics), karena ketika menyelesaikan soal ujian untuk membuktikan sebuah kesamaan, mereka harus menuliskan nama-nama hukum yang dipakai. Bagaimana cara mengingatnya terserah mereka, yang penting selain hafal tapi tahu kapan menggunakannya. Jika tidak menyebutkan nama-nama hukumnya, maka nilainya tidak penuh, harusnya 10 maka dapat 8.

Saat ini, ketika dunia hanya dalam satu genggaman, menghafal itu tidak terlalu penting lagi. Cukup cari di Internet, pengetahuan apa yang kita inginkan dapat diperoleh dengan mudah  cepat. Dulu saat masih SD saya sangat rajin menghafal nama-nama menteri, nama-nama gubernur, nama-nama ibukota negara, dan lain-lain. Sekarang buat apa menghafal nama-nama itu, tidak perlu.

Namun, menghafal pelajaran thok tanpa mengaplikasikannya jelas tidak berguna. Sangat disayangkan memori jangka panjang digunakan untuk menghafal pelajaran semata. Hidup itu memerlukan kemampuan untuk menerapkan ilmu yang dipelajari, bukan sekedar hafalan. Inilah yang dimaksudkan oleh Pak Menteri itu.

Dunia tidak butuh anak-anak yang jago hafalan? Ya betul, untuk konteks urusan duniawimu memang tidak dibutuhkan kemampuan hafalan, tetapi yang dibutuhkan adalah skill, kompetensi, dan kemampuan mengaplikasikan ilmu.  Ini juga maksud dan tujuan Pak Menteri berkata begitu.

Dunia tidak butuh anak-anak yang jago hafalan? Ya betul, tetapi untuk urusan akhiratmu perlu. Hidup kita kan tidak hanya untuk dunia saja. Bagi seorang muslim yang percaya ada kehidupan di akhirat, hidup itu juga persiapan untuk menuju akhirat kelak. Bagi seorang muslim, menghafal itu penting. Saya bisa membaca surat-surat pendek ketika sholat karena sejak kecil sudah dibiasakan menghafal juz Amma. Saat ini kemampuan saya menghafal surat selain juz Amma sudah sulit. Faktor U penyebabnya.

Karena kemampuan menghafal itulah maka Al-Quran terjamin kemurniannya hingga saat ini. Para sahabat Nabi menghafal Al-Quran sehingga bacaan Al-Quran tetap terjaga. Keberadaan hafidz dan hafidzah adalah dalam rangka melestarikan Al-Quran dan dalam rangka ibadah meraih pahala. Namun perlu diingat juga, Al-Quran diturunkan tidak hanya untuk dihafal, tetapi diamalkan dalam kehidupan. Pintar menghafal tetapi tidak mengamalkannya sama seperti rangka tidak punya jiwa.

Jadi, marilah kita mendudukkan masalah hafal menghafal ini sesuai konteksnya. Menghafal bukan berarti tidak perlu. Perlu, namun lebih penting lagi mengamalkan (mempraktekkan) apa yang dihafal itu.

Selamat pagi.

Antapani, 17-12-2019.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Menghafal itu Penting dan Perlu, tetapi Mengamalkan yang Dihafal Jauh Lebih Penting

  1. hashmboh berkata:

    Bisa menghafal quran itu hebat, hafal dan bisa mengamalkan maka sangatlah hebat, mantap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.