Dimana Rasa Empati? (dan Sakit Hati)

Banjir besar dan sangat parah di Jadebotabek pada awal tahun 2020 meninggalkan cerita sedih dan pilu. Ribuan rumah tenggelam oleh banjir yang tingginya sampai ke atap rumah, bahkan ada yang tingginya sampai delapan meter. Mirip tsunami kecil saja karena aliran air banjir sangat deras akibat bobolnya tanggul.  Puluhan orang meninggal dunia karena tenggelam, hanyut, atau tertimpa tanah longsor. Mobil-mobil hanyut. Tentu tidak terhitung kerugian harta benda akibat banjir hebat ini. Banjir sangat masif dengan cakupan wilayah yang luas. Benar-benar banjir yang paling besar dalam sejarah di kawasan itu.

Seorang teman yang rumahnya (di Jatiasih Bekasi) digulung banjir merasa terpukul. Banjir hampir setinggi atap rumah merendam semua barang di dalam rumahnya. Malangnya lagi, saat kejadian banjir tidak ada seorangpun di rumah, semua anggota keluarga sedang berada di luar kota. Kasur, perabot, TV, kulkas, sepeda motor, mobil di garasi, dan segala rupa barang rusak semua. Semua harta benda yang telah didapatkan selama bertahun-tahun musnah seketika. Yang paling dia sedihkan adalah kertas-kertas berharga iku hancur. Ya ijazah, sertifikat rumah, dan surat-surat berharga lainnya.

Saya menelpon dia tanggal 3 Januari pagi kemarin. Ketika saya telpon dia sedang membersihkan rumah dan semua barang yang berlumpur dengan air. Bayangkan, kemana pula mencari air bersih untuk menyemprot lumpur-lumpur itu. Pompa air pun rusak/korslet akibat terendam. Kalau tidak segera disemprot air dikhawatirkan lumpur-lumpur itu mengeras sehingga semakin sukar dibersihkan.

Saat itu yang pertama dibersihkannya dan coba dihidupkannya adalah sepeda motor agar bisa digunakan. Kalau mobil di garasi pastilah tidak akan bisa dihidupkan lagi, rusaklah. Tanpa kendaraan  tentu mobilitasnya sangat terbatas, sulit pergi ke mana-mana untuk membeli berbagai keperluan.

Saya dapat merasakan hancur dan sedih hatinya. Namun, di dunia netizen yang “kejam” yang terjadi bukannya memberikan rasa empati kepada korban, tetapi malah sibuk mencari-cari kesalahan dan membuli orang lain. Bukannya membantu para korban yang ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, tetapi membuat kegaduhan di dunia maya dengan komentar-komentar yang menyerang seorang pejabat. Sungguh terlalu.

banjir

Banjir kali ini sekaligus memperlihatkan bahwa efek Pilakda dan DKI dan Pilpres masih belum selesai rupanya, duel antara cebong dan kampret masih berlanjut di dunia maya. Padahal banjir  tidak hanya terjadi di Jakarta, namun juga di daerah Jawa Barat bagian barat dan Banten, tetapi semua kesalahan ditimpakan kepada Gubernur DKI Jakarta.  Tanpa bermaksud membela siapapun, banyak orang tidak bisa berlaku adil dalam hal ini.  Bukannya berempati kepada para korban, mereka malah lebih mengedepankan rasa kebencian dan sakit hati kepada gubernur DKI yang sekarang.

Ya begitulah politik, peristiwa bencana pun dipolitisasi dan dijadikan ajang balas dendam. Kekalahan akibat Pilkada DKI masih menyimpan rasa sakit hati bagi pendukung yang kalah. Rasa sakit hati bercampur dengan hasad dan dengki, kebaikan orang tidak dilihat, yang tampak hanya keburukan saja.

Membanding-bandingkan pemimpin yang sekarang dengan pemimpin sebelumnya dalam situasi prihatin seperti sekarang tidaklah pantas.  Tiap orang harus diperlakukan secara proporsional. Anak-anak kita saja harus diperlakukan adil, mereka pasti tidak suka kalau dibanding-bandingkan, bukan?  Semua pemimpin pasti sudah berupaya yang terbaik mereka lakukan untuk rakyatnya, cuma tidak bisa sempurna 100% karena kesempurnaan hanya milik Allah.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

2 Balasan ke Dimana Rasa Empati? (dan Sakit Hati)

  1. Rafania AZ berkata:

    Benar kak, hrsnya peduli dn empti pd korban banjir minimal mendoakan mereka bukan salng menyalahkan..

  2. Indonesia Hebat berkata:

    Itulah salah satu efek negatif era keterbukaan informasi yang masif sekarang ini pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.