Bapak Tua Penjual Koran

Jika Anda sering melewati Masjid Salman ITB (jalan kecil menuju masjid di samping Taman Ganesha) tentu Anda sering melihat bapak tua ini. Dia menawarkan koran kepada siapapun yang lewat. Tidak banyak pejalan kaki yang membeli korannya. Kita semua paham bahwa pada era informasi digital ini media cetak sudah kehilangan banyak pembacanya  (baca tulisan saya sebelum ini). Pembaca sudah beralih membaca informasi dari media daring.

Tiap Dhuhur saya ke Salman dan sering ketemu bapak ini.  Memang tidak setiap hari dia berjualan koran di Salman, tetapi kalau hari Jumat selalu ada, mungkin hari Jumat masjid sangat ramai dengan jamaah yang sholat Jumat.

penjualkoran

Setiap kali saya melewatinya biasanya saya tidak mempedulikannya, tidak tertarik beli koran, karena di rumah saya sudah berlangganan koran lokal meskipun jarang dibaca.

Tapi hari ini saya beli korannya. Saya beli koran ibukota saja. Saya beli karena rasa iba melihat dia duduk tertunduk menatap dagangan korannya. Masih banyak koran yang belum laku. Saya pun ingin sekedar tahu profilnya. Berikut dialog saya dengannya.

+ Siapa namanya, Pak?
– Asep.     (Agak-agak kurang jelas, suaranya lirih. Red).
+ Dari mana, pak?
– Dari Cicaheum
+ Setiap hari bawa koran berapa?
– 100
+ Habis?
– Nggak juga
+ Sudah jarang orang beli koran ya, Pak?
– Iya, tapi ada saja yang beli

Demikianlah percakapan saya dengan Pak Asep. Dia menjawab pendek-pendek sambil menunduk. Sepertinya Pak Asep sedang sakit. Dari seorang teman saya baru tahu kalau dulunya Pak Asep ini agak gemuk, tetapi sekarang mengidap penyakit diabetes. Tangannya tampak bergetar. Kasihan ya.

Kalau kamu ketemu dia, sempatkanlah membeli korannya, meski kamu tidak terlalu butuh. Satu saja tak apa. Itu sudah membantu dia bertahan hidup. Orang kecil seperti Pak Asep ini banyak di sekeliling kita. Mereka tidak mau meminta-minta, tetapi selalu berikhtiar mencari nafkah halal meskipun keuntungan tidak seberapa. Hanya melalui tangan kitalah kita bisa membantu mereka dengan membeli dagangannya.

 

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Bapak Tua Penjual Koran

  1. arawari berkata:

    Kalau yang saya pernah dengar, Bapak Asep dulu sering di Salman makanya mungkin jadi suka ke Salman. Semoga saja ada rejeki buat bapak Asep. Di suatu tempat yang berkah.

  2. Bayu Prasetyo berkata:

    Dulu antara thn 1995 – 2000 an ketika saya masih kuliah di ITB, ada penjual koran dan majalah di kios depan masjid salman, atau tepatnya di pojok pertigaan antara Jl. Ganesha dan Jl. Ciungwanara. Penjualnya namanya Pak ….. (Lupa Namanya) orangnya gemuk, saat itu usianya mungkin udah 40-50 th an dan dulu sering pakai jaket coklat susu, kadang pakai topi ala pak tino siddin. Ada yg tahu kabar nya? Bapaknya sangat baik dan saya merasa berutang budi sama beliau. semoga masih di beri usia panjang bapaknya, kalau ada yg tahu kabar keberadaannya mohon infonya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.