WFH itu Tidak Selalu Nyaman

Setelah hampir dua bulan “dirumahkan” semasa pandemi virus corona, apa yang Anda rasakan?

Bagi saya, jujur saja jawabannya adalah bosan. Iya, rasanya sudah bosan berada di rumah terus. Bagi orang yang sudah biasa bekerja di luar rumah atau berhubungan dengan banyak orang seperti saya (dosen dengan para mahasiswanya), berada di rumah selama berbulan-bulan tidaklah menyenangkan. Kecuali bagi orang yang memang sehari-harinya bekerja dari rumah tentu tidak masalah di rumah terus.

Virus corona memberi hikmah kepada kita bahwa relasi sosial itu penting artinya. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia butuh berhubungan dengan orang lain. Namun pandemi virus corona yang tidak diketahui pasti kapan berakhirnya membuat banyak orang harus menjauh dari orang lain. Diam di rumah saja agar terhindar dari penularan virus corona. Itu cara yang aman dan ikut membantu membatasi penularan.

Bagi kami yang bekerja dalam bidang pendidikan (guru, dosen), work from home (WFH) itu tidak selalu nyaman. Seorang teman, dosen sebuah PT, curhat begini:

Kasihan dosen2 ya… kalau harus ngajar on line terus… pakai fasilitas internet dan komputer pribadi. WFH itu bagi dosen malah jadi bekerja seperti 24 hours a day… 7 days a week… Instruksi “top down” dari atasan kapan saja, mhs minta diskusi on line kapan saja, konsultasi pembimbingan kapan saja… tidak ada “office hours”…

Melakukan perkuliahan secara daring itu cukup menyita waktu. Bekerja tidak lagi sesuai jam kerja, tetapi bisa siang dan malam. Rapat secara daring juga kadang dilakukan pada hari libur (sabtu atau minggu), atau sore menjelang malam. Jadi tidak heran jika WFH itu tidak mengenal “office hour”.

Selain melakukan WFH, waktu dan perhatian juga harus dibagi-bagi untuk pekerjaan rumah tangga dan mengawasi anak di rumah yang melakukan SFH (school from home). Anak-anak sekolah itu umumnya diberi tugas yang cukup banyak dari gurunya.

guru1

Tidak semua guru dan dosen memiliki fasilitas internet yang memadai seperti WiFi di rumah. Rata-rata mereka mengandalkan kuota internet dari ponsel. Dengan fasilitas internet yang pas-pasan seperti itu bagaimana melakukan pengajaran dengan nyaman untuk menemui anak didiknya di rumah mereka melalui dunia maya?

guru3

guru2

(Ilustrasi: gambar-gambar di atas diambil dari akun Facebook Roy Lo di sini)

Namun WFH bagi kami orang-orang pendidikan ada sisi positifnya juga. Materi ajar  yang sudah ada mau tidak mau harus diperbaiki, di-update, dan diperbagus, sehingga ketika disampaikan di dalam kuliah yang menggunakan video conference (Zoom, GoogleMeetWebex, dll) mudah dimengerti oleh mahasiswa.  Menyampaikan kuliah secara langsung (offline) tentu berbeda jika disampaikan secara daring (online). Pun jika  materi kuliah tampil dalam bentuk rekaman di platform seperti YouTube misalnya, tidak malu-maluin. Selain itu, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mempelajari berbagai teknologi dan aplikasi pembelajaran daring.

Meski bosan, tidak nyaman dengan WFH, ya mau tidak mau harus dijalani saja dengan sabar dan tabah. Yang patut disyukuri adalah saya dan keluarga masih diberi kesehatan oleh Allah SWT. Alhamdulillah.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

3 Balasan ke WFH itu Tidak Selalu Nyaman

  1. Mantan aktivis ukm 99 berkata:

    Masyaa Allaah.. bpk tnyata masih aktif terus dgn blognya..
    Sehat terus ya pak 🙂

  2. Yusuf Ahmad berkata:

    Betul pak, saya sampai lupa hari kadang. Kerjaan ga produktif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.