Bertahan Hidup pada Masa Pandemi

Sudah lima bulan pandemi corona berlangsung di tanah air (dan mungkin masih akan terus berlangsung). Sudah banyak orang terhempas secara ekonomi akibat pandemi corona. Sudah banyak orang kehilangan pekerjaan dan mata pencahariannya karena tidak ada orang yang mau memakai jasanya, atau membeli barangnya, atau karena orang-orang menghindar dulu untuk berhubungan dulu dengan mereka.

Berikut daftar orang-orang yang kehilangan mata pencaharian/pekerjaan akibat pandemi corona:
1. Pemijat termasuk tukang pijat tuna netra dan pekerja di spa
2. Pengajar bimbel/les privat
3. Pegawai hotel dan pekerja di tempat-tempat wisata
4. Perajin suvenir untuk pariwisata
5. Pilot dan pramugari (hanya sebagian mereka yang boleh terbang)dan kru di bandara (porter, pegawai check-in counter)
6. Pegawai bioskop
7. Guru honorer di sekolah swasta
8. Pegawai perusahaan biro travel, termasuk biro perjalanan umrah dan haji
9. Pegawai perusahaan ticketing daring (Traveloka, Tiket.com, Airy Room, dll sudah merumahkan sebagian karyawannya)
10. Pegawai perusahaan catering dan wedding, karena resepsi pernikahan masih belum diperbolehkan untuk tamu yang banyak.
11. Pegawai sarana transportasi (kereta api, bus travel, pesawat, Gojek, Grab, dll)
12. Pekerja event organizer
13. Pekerja seni pertunjukan (dalang, penari, sinden, penyanyi, MC, dll)
14. Artis
15. …

Masih panjang lagi daftarnya, silakan diisi sendiri. Sedih melihat situasi ini, karena efek dominonya kemana-mana.

Namun bukan orang Indonesia namanya jika tidak berusaha dengan berbagai cara untuk bertahan hidup. Kang Deden misalnya, sebelum pandemi ia bekerja di sebuah perusahaan interior kantor. Namun akibat pandemi, perusahaannya melakukan rasionalisasi karena tidak ada order interior. Setelah di-PHK dari tempat kerjanya akibat badai corona, Kang Deden banting stir berjualan ikan bandeng presto keliling. Ketika lewat di depan rumah saya, dia menawarkan ikan bandeng presto. Saya pun membelinya.

Ikan bandeng presto itu memang bukan dia yang membuatnya, tetapi diambil dari majikannya, orang Semarang  yang menjadi perajin bandeng presto di Bandung. Dia hanya menjualkannya saja secara keliling, lalu mengambil sedikit keuntungan dari per satuan  ikan bandeng yang terjual. Satu ekor ikan bandeng presto dijualnya sembilan ribu hingga sepuluh ribu rupiah. Tidak terlalu mahal. Setelah saya goreng atau bakar, rasanya yummy. Enak.

“Ya ginilah, Pak,”, katanya. “Daripada nggak ada kerjaan, saya keliling jualan ikan bandeng ini”, katanya lagi.

Tentu saja orang-orang seperti Kang Deden ini banyak jumlahnya, ratusan ribu, bahkan jutaan orang. Mereka ini dulunya punya pekerjaan tetap, tetapi akibat pandemi yang luar biasa ini, pekerjaan mereka menjadi ambyar. Pekerjaan apapun dilakukan untuk mencoba bertahan.  Yang penting halal.

Semoga orang-orang seperti Kang Deden diberi ketabahan dan tetap semangat ditengah krisis.

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Bertahan Hidup pada Masa Pandemi

  1. Faisal berkata:

    Saya juga mengisi masa pandemi dengan belajar online: Udemy, Coursera, dkk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.