Mamang Tukang Cukur Keliling

Seorang lelaki tua tampak berjalan kaki dengan berjalan perlahan di sekitar perumahan Antapani.  Dia, seorang bapak tukang cukur keliling. Setiap hari dia mengukur jalanan, masuk kampung keluar kampung, masuk gang keluar gang. Dengan memanggul tas besar berisi peralatan cukur dan bangku kecil untuk duduk, dia berjalan kaki menyusuri jalan-jalan pemukiman penduduk, menawarkan jasa cukur, berharap ada bocah atau orang dewasa dicukur rambutnya.

TukangCukur

Saya sering melihatnya di sekitar Antapani sejak lama.  Setiap pagi saat saya olahraga jalan kaki saya sering berselisih jalan dengannya. Kadang dia lewat di depan rumah saya. Tampak letih di wajahnya, kerut keriput wajahnya, dan kulitnya yang sudah hitam terpanggang matahari menandakan dia sudah lama menjalani profesi tukang cukur keliling ini. Saya memang tidak mengenalnya dan tidak pernah memakai jasanya, tetapi saya dapat merasakan perjuangannya mencari nafkah.

Pada masa pandemi seperti ini mencari orang yang mau dicukur tentu semakin sulit. Sebagian orang masih menghindar kontak langsung dengan tukang cukur, khawatir tertular virus corona. Namun di beberapa barber shop dan tempat-tempat cukur lain di Antapani, pengunjung sudah mulai tampak normal, sudah banyak orang bercukur lagi. Tentu rambut tidak bisa menunggu waktu lebih lama untuk dicukur, ia tumbuh terus dan bertambah panjang. Mencukur sendiri atau dicukur oleh anggota keluarga hasilnya kurang memuaskan karena memang bukan ahlinya. Akhirnya orang kembali lagi ke tukang cukur rambut, tentu dengan tetap memperhatikan protokol covid-19: pakai masker saat dicukur, baik pencukur maupun yang dicukur.

Kembali tentang bapak tukang cukur keliling tadi. Pikiran saya melayang ke masa lalu, saat masih bocah. Dulu waktu kecil,  rambut saya sering dicukur oleh tukang cukur keliling. Ibu menyuruh saya duduk di kursi kecil yang dibawa tukang cukur itu. Kaki kursinya berbentuk huruf X dan dapat dilipat menjadi satu. Alas duduknya terbuat dari kulit sapi yang lentur. Saya duduk di bawah pohon atau di halaman rumah yang tidak bersemen. Tukang cukur mengeluarkan sehelai kain putih yang sudah kumal, kain putih itu dipakaikan ke punggung saya sebagai jubah agar potongan rambut tidak mengenai badan.  Potongan rambut anak-anak saat itu umumnya seragam, yaitu potongan rambut tentara: plontos di bagian belakang, tipis di bagian atas. 🙂

Kalau tidak pakai jasa tukang cukur keliling, ayah saya membawa saya bercukur rambut di DPR (di bawah pohon rindang). DPR itu pada prinsipnya sama dengan tukang cukur keliling, tetapi mereka mangkal di bawah pohon besar yang rindang, biasanya pohon beringin. Dulu di dekat rumah saya di kawasan Sawahan Padang ada tempat pemotongan hewan yang dikenal dengan nama Rumah Potong. Nah, di halaman Rumah Potong itu tumbuh sebuah pohon beringin yang besar dan rindang. Nah, di bawah pohon beringin itulah mangkal beberapa orang tukang cukur. Sebuah cermin besar tergantung di batang pohon sebagai tempat bercermin orang yang sedang dicukur.

Ada terbersit keinginan saya nanti ingin dicukur oleh tukang cukur keliling yang sering saya lihat tadi. Ada rasa iba di dalam hati saya. Kasihan melihat keletihan di wajahnya. Semoga Allah SWT membalas peluh keringatnya yang bercucuran dengan pahala, dan memberinya rezeki yang barokah.

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mamang Tukang Cukur Keliling

  1. Jumal Ahmad berkata:

    Semoga corona lekas berlalu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.