Sepenggal Dialog Siang

Seorang pegawai Pizza H*t (sebuah waralaba pizza yang terkenal)  lewat di depan rumah dengan motornya menawarkan paket pizza seratus ribu empat buah. Saya yang sedang berdiri di depan rumah disapanya.

+Pak, beli pizzanya, seratus ribu empat biji. Masih hangat pak, baru dibakar. (Ia menunjukkan box di sadel motor yang penuh berisi pizza)

Saya sebetulnya tidak tertarik dengan paket pizza seratus ribu empat itu, sebab kata seorang teman, pizzanya keras, udah dingin, banyak tepung, topping-nya dikit lagi.

-Boleh nggak dua saja (saya menawar 🙂 )

+Maaf pak, nggak bisa, sudah aturannya begitu. Kalau di restoran harganya 150 ribu pak (dia mencoba berpromosi)

Sudah lama jualan seperti ini?

+Iya pak, sekarang sepi. Jadi sekarang kami yang mencari pembeli door to door

Begitulah waralaba pizza yang dulu dikenal sebagai makanan elit, sekarang turun kelas menjadi makanan ‘murahan’ yang ditawarkan secara asongan di pinggir jalan atau dijajakan keliling kampung. Sejak pandemi corona banyak bisnis bertumbangan, termasuk waralaba makanan asing yang mengalami kerugian besar. Sepi pembeli, karena banyak orang takut makan di restoran, atau menghindar makan di dalam ruangan bersama.

pizza

Pizza ditawarkan di pinggir jalan

Oh, begitu?

+Iya pak, sudah banyak pegawai kami di-PHK. Ini kami ditugaskan berjualan keliling.

Boleh nggak setengah saja (kembali saya menawar). Empat buah pizza mah kebanyakan.

+Wah, nggak bisa pak. Ini saya dari tadi keliling belum laku pak (katanya sedih)

(Ya, iyalah, agak sulit laku, sebab seratus ribu itu bagi orang awam sangat besar kalau hanya untuk membeli pizza. Dengan uang segitu sudah dapat lima bungkus nasi ramas di rumah makan Padang. Kalau ingin menyasar kalangan menengah ke bawah seharusnya mereka menjualnya satuan atau minimal dua buah)

Karena raut wajahnya terlihat suram, akhirnya pertahanan saya tumbang. Kasihan aja. 🙂 Terbayang anaknya pasti menunggu ayahnya pulang bawa rezeki.

Ya udah, saya beli ya    (saya beli saja dengan niat menolong saja, meski saya tidak berminat makan pizza)

+Terimakasih ya pak (dengan nada gembira).

Empat buah pizza dan uang seratus ribu pun berpindah tangan.

******

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.