Merasa Tidak Tega versus Kebutuhan Hidup Bang Gojek

Malam-malam saat hujan turun saya ingin makan martabak. Saya pesanlah  martabak di Babakan Sari via gofood.  Saya pikir Babakan Sari dekat dengan rumah saya di Antapani. Antapani dan Babakan Sari Kiaracondfong hanya dipisahkan oleh sebuah kali, Kali Cidurian namanya.
 
Saya kira sulit mendapat driver saat hujan begini. Sudah dua orang driver Gojek yang mengambil order ini, tetapi kok posisinya sangat jauh dari Babakan Sari. Driver pertama posisinya di Margacinta, daerah Margahayu sana. Driver kedua posisinya dekat Jalan Soekarno-Hatta. Jauh semua. Entah kenapa algoritma Gojek sekarang tidak memilihkan driver yang terdekat, tetapi entah berdasarkan apa. Karena cukup jauh dari Babakan Sari, saya minta mereka batalkan saja. Kasihan kejauhan.
 
Akhirnya dapat driver ketiga, posisi di Antapani, lagi mangkal di  restoran Wingz o Wingz. Dari tempat mangkalnya di Antapani terlihat dia menyusuri jalan, masuk gang, menyeberang sungai Kali Cidurian. Sampai di tukang martabak 15 menit. Menunggu sampai martabak selesai 15 menit, lalu diantar ke rumah 15 menit. Satu jam kurang seperempat perjuangannya mencari nafkah halal malam-malam hujan begini untuk mencapai jumlah orderan gojek agar mendapat bonus yang tidak seberapa dari perusahaan Om Nadiem itu. Saya kok merasa gak tega, jadi merasa bersalah sendiri. Setiba pesanan diantar ke rumah, rasa gak tega itu saya ganti dengan bonus dari saya sendiri.
 
Saya sempat berpikir begini: ah, lain kali jangan pesan Gofood saat hujan malam-malam begini. Tapi saya sadar ini pikiran yang belum tentu benar. Mungkin saat hujan, malam-malam lagi, adalah waktu pengharapan bagi abang-abang Gojek. Berharap ada orang yang malam-malam lapar lalu  order Gofood.
 
Jadi, mending order Gofood saja daripada merasa “tidak tega” ya. Abang-abang Gohek itu juga perlu orderan agar mendapat pemasukan. Dari kita sebagai pembeli sebaiknya kasih tip yang lumayan banyak saja, apalagi kalau dirasa hujan deras. Atau belikan dua, satu buat kita dan satu lagi buat Bang Gojek.  
 
Moral dari cerita ini adalah bahwa yang kita sangka kesulitan (saat hujan) ternyata bagi orang lain merupakan berkah. 

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.