Demam yang Parno

Pada zaman pandemi corona yang masih berlangsung saat ini, siapapun yang pernah demam, sakit kepala, nggak enak badan, batuk, atau diare, mungkin akan mengalami parno (paranoid) seperti yang saya rasakan. Karena gejala-gejala seperti yang disebutkan tadi mengarah ke Covid-19. Ciri-cirinya mirip-mirip. Jadi, jika badan lagi demam, atau sedang batuk-batuk, maka langsung was-was apakah ini Covid?

Minggu lalu saya mengalami demam dan diare. Dimulai dari hari Rabu malam, tiba-tiba badan saya menggigil seperti orang yang meriang. Saya langsung tarik selimut dan tidur saja sampai pagi. Keesokan harinya saya harus menguji beberapa tesis mahasiswa S2 secara onlen, namun tubuh saya terasa hangat. Demam. Saya tidak bisa konsentrasi. Semakin siang suhu badan saya semakin tinggi dan pernah mencapai hampir 39 derajat Celcius. Dan yang membuat saya menderita adalah saya diare (mencret) tiada henti. Tiap sebentar pergi ke toilet, meskipun BAB yang keluar hanya berbentuk cair. Saya coba meminum obat diare seperti Diatab dan Diapet, namun diare tidak berhenti juga.

Saya sudah mulai khawatir, jangan-jangan….. Ah, saya buang jauh-jauh pikiran ini, namun setiap kali membaca penjelasan di Internet tentang gejala covid, saya pun khawatir lagi. Diare dan demam adalah salah satu ciri Covid-19. Saya juga kehilangan selera makan, patah selera. Tidak mau makan. Namun yang masih saya syukuri, indra penciuman dan perasa saya masih normal. Setiap kali saya coba hirup minyak kayu putih, saya baui nasi, pisang, saya minum madu, masih terasa baik rasanya. Begitu pula tenggorokan baik-baik saja, tidak ada radang, tidak susah menelan makanan. Namun tetap saja ada rasa was-was di dalam hati.

Saya semakin gelisah ketika anak saya yang sulung, yang ABK, badannya juga hangat. Saya kontak istri, lalu saya minta pakai masker di rumah dan tidak dekat-dekat dengan saya dan anak. Saya mengisolasi diri di studio mini tempat saya bekerja di lantai dua.

Akhirnya Hari Jumat saya beranikan diri ke klinik Medika Antapani, berobat ke dokter umum, diantar anak saya yang tengah. Setelah menunggu cukup lama, tibalah giliran saya masuk ke ruang praktek dokter. Setelah menceritakan gejala yang saya alami, dokter merekomendasikan saya untuk tes swab antigen, setelah ada hasilnya nanti baru boleh kembali lagi ke dokter tersebut. untuk pemeriksaan.

Kebetulan di klinik tersebut juga menyediakan tes swab antigen, jadi saya tidak perlu jauh-jauh ke tempat lain. Dengan perasaan harap-harap cemas, saya mulai menjalani tes swab antigen. Hidung saya dicucuk dengan semacam cotton bud untuk mengambil cairan di hidung. Duh, terasa perih dan ngilu. Saya agak tegang sih. Ini pertama kali saya dicucuk hidung untuk di-swab, biasanya hanya mendengar cerita-cerita orang yang di-swab, sekarang saya menjalani sendiri.

Sambil menunggu hasi tes, pikiran saya berkelabat ke mana-mana. Saya memikirkan berbagai skenario kalau hasilnya positif. Itu berarti seluruh orang di rumah nanti harus di-swab juga, lalu isolasi mandiri. Yang saya pikirkan adalah anak sulung saya yang ABK, bagaimana dia menjalaninya nanti? Sambil berdoa, saya berharap agar hasilnya negatif, saya minta anak saya yang tengah mendoakan saya.

Setelah setengah jam menunggu, maka hasilnya segera keluar. Dan….alhamdulillah, hasilnya negatif. Saya pun bernapas lega. Saya kembali ke dokter umum tadi membawa hasil tes, dan dia berucap yang sama. Barulah dokter berani memeriksa badan saya. Setelah memberi resep obat, saya pun menuju apotik untuk membeli obatnya.

Setelah minum obat dari dokter selama dua hari, ternyata diare saya tidak berhenti juga. Kalau demam memang tidak ada lagi, tetapi diarenya masih, meskipun frekuensi ke belakang sudah berkurang menjadi satu dan dua kali saja. Selera makan saya sudah mulai agak normal. Namun diare itu masih menjadi pikiran saya. Sampai obatnya habis saya masih tetap diare, BAB nya masih cair atau bubur (maaf). Namun yang alhamdulillah, anak saya yang sulung, yang tadi demam, demamnya hanya satu hari, besoknya sudah sembuh.

Di dalam lembaran hasil tes swab antigen disebutkan bahwa hasil negatif tidak menyingkirkan kemungkinan terinfeks SARS-Cov-2 sehingga masih beresiko menularkan kepada orang lain. Meskipun saya tidak batuk, tidak pilek, dan tidak demam lagi, namun indera penciuman dan perasa masih normal. Ini yang saya syukuri, sebab seperti yang saya baca, penderita covid kehilangan penciuman. 

Untuk lebih meyakinkan lagi dan ingin sembuh dari diare, saya kembali berobat ke klinik Medika Antapani, tetapi kali ini ke dokter spesialis penyakit dalam (internis) pada Hari Selasa. Hari Senin dokter internis sudah penuh dengan pasien. Setelah menunggu sampai jam 13.00 (bayangkan dari jam 9 pagi), maka tibalah giliran saya. Saya ceritakan kondisi saya secara kronologis dan saya tunjukkan hasil tes swab antigen.

Dokter Faishol yang memeriksa saya adalah dokter yang sudah berusia lansia, tentu beliau sudah berpengalaman dengan  berbagai penyakit. “Jadi, kenapa saya masih diare, Dok”, tanya saya. “Bapak mengalami gangguan pencernaan”, jawabnya. Oh…,jadi itu rupanya.

Dokter memberi resep obat. Ada dua macam obat yang harus saya minum, yang pertama antibiotik, yang kedua obat diare. Alhamdulillah, keesokan harinya saya sudah tidak diare lagi. BAB normal.

Begitulah pengalaman saya. Salah satu kesalahan saya adalah panik, khawatir, atau stres. Hal ini tidak boleh, sebab dapat menurunkan imun. Sebaiknya harus disikapi dengan tenang dan berpasrah diri kepada Allah SWT.

Moral dari kisah ini, saya semakin mensyukuri nikmat kesehatan dari Allah SWT. Betapa kesehatan itu adalah nikmat yang paling tinggi. Apa guna banyak uang tetapi badan sakit, maka uang itu tidak dapat kita nikmati. Sakit mengajarkan kita agar selalu menjaga kesehatan dan selalu bersyukur. Jangan merasa sombong dan takabur. Jangan menganggap enteng pandemi ini. Terima kasih ya Allah, semoga kami sekeluarga diberi selalu tubuh yang sehat dan dijauhkan dari berbagai penyakit, dan pembaca yang membaca kisah saya ini juga dilindungi oleh Allah SWT. Amiin ya rabbal alamiin.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.