Suatu Siang di depan Aula Barat ITB

Aula Barat dan Aula imr ITB adalah karya arsitektur masa lalu yang tidak habis-habisnya menjadi objek untuk dilukis dan difoto. Bangunan yang cantik dan menjadi heritage kampus ITB dan juga heritage kota Bandung. Siang itu tampak beberapa orang mahasiswa fakultas  senirupa (atau Arsitektur ?) sedang membuat tugas menggambar. Objeknya adalah Aula Barat dalam sudut perspektif yang memikat. Dengan alas permadani berupa rumput yang hijau, bangunan Aula Barat itu tampak anggun.

albar1

albar2

Dipublikasi di Seputar ITB | Meninggalkan komentar

Nyaris 100% Anak Sudah Melihat Pornografi

Sebuah berita di harian lokal Bandung pagi itu membuat saya sangat kaget. Berita tersebut menyebutkan hampir 100% anak-anak sudah melihat pornografi. Nyaris 100%, itu berarti termasuk anakmu, anakku, anak kita, (hampir)  semua sudah melihat pornografi. Menyedihkan, kalau tidak bisa dibilang mengerikan. Sebab, pornografi sama bahayanya dengan narkoba. Narkoba menjerumuskan masa depan anak, sedangkan pornografi merusak otak anak yang akhirnya juga merusak masa depan anak (Baca tulisan saya yang lalu: Indonesia Darurat Pornografi).

pornografi

Menurut Maria Advianti dari KPAI yang melakukan riset tentang hal ini, sebagian besar anak melihat pornografi melalui gawai (gadget). Gawai itu dibelikan oleh orangtuanya atau meminjam gawai temannya. Umumnya gawai saat ini berupa smartphone yang dapat mengakses internet. Nah, melalui internet itulah anak-anak melihat pornografi, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, baik sendirian maupun bersama  teman-temannya.

Jadi solusinya bagaimana nih? Mengeluh saja tidak ada gunanya. apakah anak-anak tidak usah diberi atau dibelikan gawai supaya mereka tidak bisa mengakses internet? Ini hampir mustahil, sebab mungkin saja mereka melihat pornografi itu dari gawai milik temannya, atau bahkan dari gawai orangtuanya.

Melarang anak menggunakan dan mengakses teknologi informasi (atau IT)  bukan solusi yang tepat. Cepat atau lambat ia akan menggunakannya juga. Di zaman digital ini hampir musykil memisahkan anak dengan teknologi informasi (komputer, telekomunikasi). Lihatlah, kehidupan kita saat ini sudah dikelilingi teknologi informasi. Teknologi informasi adalah keniscayaan peradaban yang mau tidak mau akan dihadapi seorang anak di dalam hidupnya.

Solusi yang bijak menurut saya adalah mengendalikan, mengawasi, dan mengedukasi. Orangtua perlu mengendalikan penggunaan gawai pada anaknya. Di rumah saya, sebelum anak berstatus siswa SMP, dia belum saya belikan ponsel. Untuk adiknya yang masih SD, penggunaan smartphone (pakai smartphone saya sendiri) hanya boleh dalam waktu tertentu dengan lama terbatas.

Setelah pengendalian, maka selanjutnya adalah mengawasi. Orangtua perlu mendampingi penggunaan smartphone oleh anak. Anak kita jangan dilepas begitu saja menggunakan smartphone. Umumnya anak-anak mengakses internet untuk main game aau nonton video di Youtube. Kalau anak kita mengakses game online, kita perlu memastikan apakah game online tersebut aman untuk anak (tidak mengandung konten kekerasan dan pornografi). Begitu juga video di Youtube yang dia lihat pun perlu dipastikan video yang aman. Tidak apa-apa menjadi cerewet melakukan cek dan ricek ini, kalau bukan kita yang melakukannya, lalu siapa lagi?

Last but not least, yang paling penting dari semua aksi itu adalah melakukan edukasi. Anak kita tidak 24 jam ada bersama kita di rumah. Dia berinteraksi dengan teman-temannya di luar rumah (sekolah, tetangga). Justru penularan pornografi itu lebih banyak dari interkasi dengan  orang lain. Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua membekali dan membentengi anaknya dari pengaruh negatif yang berasal dari lingkungan luar. Kuncinya adalah edukasi atau pendidikan. Anak kita perlu diedukasi dan diberitahu bahaya konten kekerasan dan pornografi. Anak kita perlu diajarkan nilai-nilai yag baik, apa yang boleh dan tidak boleh, mengapa boleh dan mengapa tidak boleh. Termasuk dalam hal ini adalah penanaman nilai-nilai agama. Jadi, jika dia berada di luar rumah dan tidak dalam kendali kita sebagai orangtuanya, maka harapan terakhir penahan pornografi adalah dari nilai-nilai edukasi yang kita tanamkan itu. Duh, Sulitnya Menjadi Orangtua Zaman Sekarang (Tentang Pornografi pada Anak dan Remaja). Kalau tidak berhasil juga, bablaslah kita, gagal mendidik anak!

Dipublikasi di Pendidikan | 2 Komentar

Menerima Pemberian dari (Orangtua) Mahasiswa

Baru-baru ini Kemenristekdikti mengeluarkan surat edaran tentang larangan bagi dosen untuk menerima hadiah atau pemberian lainnya dari mahasiswanya. Tujuannya untuk menjaga integritas proses akademik antara mahasiswa dan dosennya. Dengan kata lain, dosen dilarang menerima gratifikasi dalam bentuk apapun dari mahasiswa yang berada dalam tanggung jawabnya (dosen wali, dosen pembimbing Tugas Akhir, dosen pengampu mata kuliah). Begitu juga mahasiswa dilarang memberi apapun kepada dosennya.

gratifikasi

Surat edaran tersebut ditanggapi secara beragam oleh para dosen di berbagai perguruan tinggi. Setidaknya tanggapan tersebut dapat  dibaca pada forum-forum diskusi di media sosial. Ada yang setuju, tetapi ada juga yang mengomentari bahwa jawabannya tidak hitam dan putih, tetapi ada variabel lain yang juga perlu dipertimbangkan. Misalnya, jika tiba-tiba ada mahasiswa yang pulang dari kampung lalu datang ke ruangan dosen membawa sedikit oleh-oleh, apakah langsung ditolak? Contoh lain, setelah mahasiswa bimbingan lulus sidang TA, dia sudah beres urusan laporan, nilai, wisuda dan sebagainya, artinya tidak punya hubungan akademik lagi, lalu datang memberikan kenang-kenangan (makanan, pulpen, batik, jam tangan, dll) sebagai ucapan terima kasih, apakah itu termasuk gratifikasi juga kah?

Pada prinsipnya saya sepakat dengan semangat surat edaran tersebut. Intinya adalah untuk mencegah budaya korupsi di negeri ini. Memberi dan menerima suap, memberi hadiah yang terkait dengan jabatan seseorang (gratifiaksi), menurut definisi KPK termasuk perbuatan korupsi. Dulu saya pernah menulis tentang masalah gratifikasi di lingkungan kampus (baca: Termasuk Gratifikasikah Ini?). Jauh sebelum muncul surat edaran di atas, saya sendiri sudah berusaha untuk berhati-hati dalam masalah pemberian ini. Secara pribadi saya menolak secara halus pemberian mahasiswa yang masih ada urusan dengan saya. Ini untuk menjaga independensi dan conflict of interest. Pernah ada mahasiswa bimbingan saya membawa oleh-oleh dari kampung halamannya, saya mengucapkan terima kasih atas perhatiannya, namun dengan menyesal saya katakan bahwa saya tidak bisa menerimanya. Setelah saya jelaskan sikap saya ini, dia bisa mengerti dan menhormati. Saya sarankan kepadanya untuk membagi oleh-oleh itu untuk teman-temannya di lab saja :-).

Masih ada beberapa pengalaman lain tentang masalah pemberian ini dengan mahasiswa saya, baik mahasiswa S1, S2, maupun S3. Selama mereka masih dalam tanggung jawab saya, saya menjaga prinsip untuk tidak menerima pemberian atau hadiah dari mereka. Untunglah mahasiswa di ITB sudah paham tentang hal ini, jadi mereka juga tahu diri untuk tidak membawakan dosennya hadiah atau benda-benda lainnya selama mereka masih menjadi mahasiswa di kampus.

Tapi menjaga prinsip ini tidak selalu mudah untuk dipertahankan, khususnya jika yang datang itu adalah orangtua mereka. Saya pernah kedatangan orangtua mahasiswa di bawah perwalian saya. Maksud kedatangannya adalah untuk silaturahmi saja, kebetulan orangtua itu sedang dinas ke Bandung. Nah, orangtua mahasiswa ini ternyata datang dengan membawa oleh-oleh makanan khas dari kotanya. Ini sedikit oleh-oleh, Pak, katanya. Seharusnya saya tolak pemberian itu, namun saya tidak tega, tidak ingin menyakiti perasaannya. Saya tidak punya cara dan kata-kata yang tepat untuk mengatakan tidak. Saya tahu itu pemberian yang tulus. Saya terima juga akhirnya (maafkan saya jika ini termasuk gratifikasi). 😦

Pernah juga sekali waktu orangtua mahasiswa di bawah perwalian saya datang bersilaturahmi membawakan oleh-oleh seperti batik, tas buat laptop, dan ikat pinggang. Saya sudah berkali-kali menolaknya, saya suruh bawa kembali, namun orangtua itu kekeuh mengatakan ini tidak ada maksud apa-apa dan meminta saya untuk menerimanya. Saya pun menyerah.

Pernah terpikir oleh saya untuk mengembalikan hadiah itu kepada anaknya (yang merupakan mahasiswa saya), namun tidak jadi saya lakukan, karena bisa muncul masalah baru seperti mahasiswa tersebut merasa malu, atau malah bisa menimbulkan konflik antara orangtua dengan anak. Saya pun pernah meminta pendapat kolega dosen bahkan Dekan, sebaiknya saya apakan hadiah ini, namun tidak ada jawaban yang memuaskan, mungkin mereka pun dilematis. Sampai saat ini barang-barang pemberian itu masih tersimpan rapi di dekat meja saya. Belum pernah saya buka bungkusnya, apalagi memakainya. Mungkin kalau kalau anaknya sudah lulus dari ITB, akan saya pertimbangkan lagi apakah akan tetap memakainya atau mau diapakan.

Untuk amannya bagi kami, kepada orangtua mahasiswa, kami himbau tidak usah membawa makanan atau barang apapun dari kota anda kala menemui dosen anak anda. Tidak semua kami mampu berkata tidak untuk menolaknya tanpa berniat menyakiti perasaan anda. Kalau mau berkunjung, silaturahmi, atau konsultasi, ya berkunjung saja, tidak perlu membawa macam-macam agar tidak dianggap gratifikasi. Kami menjadi dilematis dan serba salah.

Mungkin kasus-kasus di atas yang disebut variabel bagi sebagian orang, yang dalam hal ini jawabannya tidak hitam dan putih. Tetapi sekali lagi, menjaga prinsip itu tidak selalu mudah.

Dipublikasi di Pendidikan | 4 Komentar

Pengorbanan AHY dan Teladan yang Ditunjukkannya

Pilkada DKI Jakarta putaran pertama sudah berlalu. Paslon nomor 1, yaitu Agus Harymurti Yudhoyono, atau disingkat AHY, dengan pasangannya Sylviana tersingkir dari putaran pertama. Paslon nomor 2, Ahok-Djaror dan Paslon nomor 3, Anies-Sandi, melaju ke putaran kedua. AHY sebenarnya adalah bintang yang cemerlang, di awal-awal kampanye elektablitas AHY naik cepat di atas  30%, namun cepat pula merosot hingga akhirnya hanya dapat suara 17% sesuai hasil quick count kemarin. Penurunan itu akibat banyak faktor, mulai dari perfoma yang kurang memuaskan pada acara debat, hingga serangan-serangan yang berbau politis yang ditujukan untuk menjatuhkan elektabilitasnya.

OK, saya tidak akan membicarakan lagi mengenai hasil Pilkada putaran pertama itu. Saya ingin menyoroti satu sisi lain, yaitu fenomena AHY. Menurut saya,  Mas Agus, panggilan AHY, adalah fenomena baru perpolitikan di negeri ini. Dia adalah bintang yang bersinar. Dia anak mantan Presiden (SBY). Karir militernya sangat bagus, tidak lama lagi akan menjadi Letkol.  Dia sepi dari pemberitaan, tidak pernah ada gosip negatif  tentang dirinya. Hal itu ditunjung dengan penampilan fisiknya yang tampan dan postur tubuh yang bagus (atletis).

Di tengah karir militernya yang cemerlang, tiba-tiba dia dipanggil (entah oleh bapaknya atau entah oleh Parpol yang dihimpun SBY) untuk maju ke gelanggang percaturan politik Pilkada DKI. Sebagai anak yang taat kepada orangtua, dia mematuhi permintaan itu, meskipun resikonya sangat besar: dia harus mundur dari TNI, dan jika dia gagal dalam Pilkada DKI, dia tidak bisa kembali lagi ke TNI. Pengorbanan yang sangat berat bagi seorang muda seperti AHY.

ahy

Selama proses kampanye Mas Agus dielu-elukan rakyat kecil. Dia menjadi pilihan alternatif diantara  Ahok (yang dipersepsikan berperilaku kasar) atau Anies (yang dipersepsikan saat itu belum punya program terobosan). Perlahan-lahan Mas Agus yang tidak begitu dikenal tiba-tiba menjadi idola baru. Elektabilitasnya naik bahkan mengalahkan Ahok dan Anies.

Tetapi, politik itu sangat kejam. Mulailah berbagai cara yang dilakuka lawan untuk menjatuhkan citra Mas Agus. Mula-mula suami pasangannya, Mpok Sylvi, dikaitkan dengan isu makar. Selanjutnya Mpok Sylvi dikaitkan dengan isu korupsi pembangunan masjid. Kedua kasus tersebut tidak terdengar lagi perkembangannya, kemungkinan memang disengaja dibuka pada masa Pilkada. Dua pemberitaan tersebut perlahan mulai menurunkan elektablitas Mas Agus, disamping karena performa debatnya yang agak mengecewakan. AHY dan bapaknya SBY menjadi sasaran buli netizen kubu sebelah yang tidak habis-habisnya untuk mencerca dirinya.

Penurunan elektabilitas tidak berhenti sampai di situ. Pak Beye tidak dapat menahan perasaannya untuk sering “curhat” di Twitter mengenai  kasus-kasus yang mengaitkan dirinya dengan berbagai tudingan miring. Puncaknya adalah “serangan fajar” yang dilakukan oleh mantan ketua KPK, Antasari Azhar, sehari sebelum pencoblosan, yang menuding SBY berada dibalik kriminalisasi dirinya.

Lengkaplah sudah berbagai sebab itu membuat pemilih AHY lari ke Paslon lain. Dia tersingkir dari gelanggang Pilkada. Namun lihatlah bagaimana reaksi AHY. Setelah mengetahui hasil quick count yang tidak memenangkan dirinya, AHY mengakui kekalahan secara ksatria. Dia tidak perlu ngeles segala atau menuding ada kecurangan, atau mencari-cari alasan dengan menyalahkan pihak lain, namun dia terima hasilnya dengan lapang dada. Mas Agus telah memberi contoh teladan yang baik dalam berkompetisi. Sportivitas prajurit benar-benar dia laksanakan, tidak hanya retorika belaka.

Barangkali ini semua adalah hasil jerih payah orangtuanya yang berhasil mendidik anak-anaknya. SBY boleh kecewa karena AHY terlempar, tapi menurut saya Indonesia butuh orang-orang seperti AHY yang telah memberikan contoh yang baik dalam berkompetisi. Jangan melihat pada hasil akhir saja, tetapi lihat pulalah prosesnya.

Meskipun saya tidak memilih Mas Agus (bukan warga DKI), namun terus terang saya bangga dan terharu dengan Mas Agus. Mas Agus masih memiliki harapan untuk nanti tampil kembali menjadi pemimpin Indonesia masa depan. Dia masih muda, mungkin sekitar sepuluh tahun lagi, ketika para jago-jago tua sudah tiada atau sudah  undur diri dari gelanggang, dia dapat maju ke gelanggang dengan performa yang lebih matang. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Kepada Pak Beye, selamat Pak anda memiliki anak yang taat kepada orangtua, bangsa, dan agama.

Semoga Allah SWT selalu menjaga Mas Agus.

Dipublikasi di Indonesiaku | 3 Komentar

Konflik Rasial adalah Akibat Kesenjangan Sosial

Konflik rasial yang bermuatan SARA (suku, agama, ras, antar golongan) cukup sering terjadi di Indonesia. Konflik rasial ini semakin marak sejak orde reformasi (1998). Makin ke sini makin sering saja. Contoh yang berkaitan dengan agama misalnya masalah pembangunan rumah ibadah agama minoritas di tengah masyarakat mayoritas (ingat kasus di Bogor, Bekasi, Papua, Bali, Kupang, dsb). Contoh yang berkaitan dengan etnik misalnya pengusiran warga Madura oleh warga Dayak di Kalimantan, konflik antara masyarakat keturunan Bali dengan warga pribumi di Lampung, konflik antara warga Tionghoa dengan warga pribumi di Tanjungbalai.

Pertanyaannya, apakah konflik rasial itu disebabkan karena bangsa kita anti perbedaan? Tidak suka hidup berdampingan dengan orang berbeda etnik, agama, dan golongan? Kenapa dulu bangsa kita bisa rukun-rukun saja, kenapa sekarang makin sering terjadi konflik?

Saya percaya jawabannya bukanlah karena bangsa kita anti perbedaan. Konflik rasial itu bukan disebabkan karena perbedaan agama maupun etnik. Jika karena berbeda agama maupun etnik, pasti sejak dulu bangsa kita sudah perang bratayudha antara satu agama dengan agama lain, antara satu suku dengan suku lain, antara satu golongan dengan golongan lain. Nyatanya tidak, bukan? Lihatlah di berbagai daerah, masjid, gereja, pura, dan wihara bisa berdiri tanpa ada yang mengganggu. Orang-orang di kota dan di desa sudah biasa punya tetangga berbeda agama maupun etnik. Di dalam satu keluarga bisa saja anggota keluarga berbeda agama. Di beberapa suku di Maluku ada tradisi pelagandong yang mengikat masyarakat yang berbeda agama (Islam dan Nasrani). Jadi, bangsa kita sebenarnya sudah terbiasa hidup dengan orang berbeda agama dan suku sejak dahulu kala.

Lalu, kenapa kok masih sering terjadi konflik rasial? Apa sebabnya? Saya menduga, penyebab konflik tersebut adalah akibat kesenjangan sosial. Harmoni yang sudah terbangun sejak lama menjadi rusak karena faktor kesenjangan sosial yang semakin lebar. Melihat kaum pendatang sukses di suatu daerah, lalu mereka membawa semakin banyak kaumnya ke tanah rantau, maka muncullah ketidakseimbangan. Kaum pendatang membawa tradisi dan agamanya, mereka membangun banyak rumah ibadah tanpa memperhatikan perasaan warga lokal yang mulai terusik. Secara ekonomi mereka lebih baik daripada warga lokal, mereka membangun jaringan ekonomi dengan sesama sukunya. Warga lokal hanya menjadi kuli atau pegawai rendahan. Maka, ketika ada kasus yang melibatkan warga lokal dengan warga pendatang, maka siap-siaplah akan meletus konflik sosial yang dibaca orang sebagai konflik rasial. Provokator akan masuk untuk membuat suasana semakin panas dan runyam.

Di ibukota, dan di kota-kota besar lainnya, di mana kesenjangan sosial sedemikian parahnya antara masyarakat kaya dan miskin, antara konglomerat dengan masyarakat bawah, antara penguasa dengan rakyat, konflik rasial mudah untuk meletus. Ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat menemukan tempat untuk dilampiaskan dalam bentuk kerusuhan (rasial).

Solusi untuk masalah ini adalah menegakkan keadilan. Adil di sini bukan berarti sama rata sama rasa, tapi adil itu adalah meletakkan sesuatu sesuai tempatnya. Jangan merasa mentang-mentang berkuasa, maka anda bisa sewenang-wenang kepada masyarakat yang tidak memilih anda. Jangan karena anda mempunyai kekayaan melimpah, maka hukum bisa anda beli. Jangan karena kaum anda semakin banyak, anda bisa membuat apa saja di tanah rantau tapa menghormati budaya dan agama setempat. Jangan karena anda menguasai media, maka anda bisa membuat berita yang menyudutkan suatu kelompok. Jangan karena anda merasa paling benar dan merasa banyak beking maka anda bisa melecehkan suatu kepercayaan atau simbol-simbol agama maupun etnik. Jika anda sudah bisa berlaku adil, maka niscaya kesenjangan sosial akan semakin kecil gap-nya. Bangsa ini tidak akan mudah bergejolak.

Ketahuilah, bangsa kita tidak suka berkonflik. Mereka ingin hidup tenang dan damai. Bangsa kita rindu  hidup rukun seperti dulu. Mereka tidak anti perbedaan.

Dipublikasi di Indonesiaku | 3 Komentar

Ajakan Sholat Subuh Berjamaah yang Simpatik

Suatu siang ketika melewati Jalan Jakarta di depan Rutan Kebonwaru Bandung, mata saya tertumbuk pada sebuah spanduk yang terpasang pada sebuah papan billboard. Bunyi tulisan di dalam spanduk tersebut cukup simpatik. Mulai Hari Ini, Jangan Lewatkan Sholat Subuh Berjamaah di Masjid, begitu bunyinya. Beberapa spanduk yang sama juga terpasang di beberapa papan billboard di jalan-jalan utama kota kembang.

subuh

Tak penting siapa yang memasang  spanduk iklan tersebut, namun isinya menggugah kesadaran umat Islam untuk meramaikan masjid dengan sholat Subuh berjamaah. Gerakan sholat subuh berjamaah  di masjid cukup gencar didengungkan pasca aksi 212 tahun lalu. Secara bergilir para pemimpin ummat ini menghadiri sholat Subuh berjamaah di berbagai kota di tanah air. Hasilnya memang terlihat, masjid-masjid besar di berbagai kota diramaikan dengan umat Islam yang melaksanakan sholat Subuh berjamaah.

Secara kebetulan, Walikota Bandung Ridwan Kamil juga membuat gerakan sholat subuh berjamaah di kota Bandung (Baca: Ridwan Kamil Sasar Anak Muda Buat Gerakan Subuh Berjamaah). Mungkin saja spanduk pada billboard yang saya lihat di atas berhubungan  dengan gerakan yang dicanangkan Kang Emil.

Siapapun yang mempelopori gerakan sholat Subuh berjamaah di masjid, itu adalah ajakan yang sangat baik. Masjid adalah pusat berkumpulnya ummat Islam. Kecuali sholat Jumat, selama ini di kebanyakan masjid sepi dari shalat berjamaah, hanya satu sampai dua shaf saja yang terisi. Dengan memulai hari melalui sholat berjamaah di masjid, diharapkan lahir generasi muda yang mencintai masjid dan menegakkan sholat.

Oh ya, seorang teman berkomentar tentang spanduk pada papan billboard di atas. Rasanya adem melihat spanduk tersebut, ketimbang diisi dengan iklan rokok atau minuman.

Dipublikasi di Agama | 1 Komentar

Kalau ke Bandara, Bawalah Makanan Sendiri

Sudah seringkali kita mendengar cerita orang-orang yang “dicekik” harga tak wajar ketika makan di Bandara. Semua orang tahu kalau harga makanan di Bandara tak terkira mahalnya. Mungkin karena pajak atau sewa ruangan di Bandara yang mahal maka pemilik restoran sungguh semena-mena menetapkan harga yang mahal untuk jualannya.

Ini cerita yang saya peroleh dari seorang fesbuker. Di bandara Cengkareng dia melihat seorang bapak dengan istri dan dua orang anak,  yang tampaknya datang dari kampung,  masuk ke sebuah rumah makan semacam “warung tegal” ketimbang masuk ke restoran cepat saji atau waralaba yang populer.  Setelah makan dengan menu masing-masing dan ditambah minuman ringan, betapa kagetnya sang kepala keluarga ketika harus membayar total harga makanan dan minuman sebesar 395 ribu rupiah.  Hampir tidak percaya dia, semacam warung tegal di Bandara menjual makanan dengan harga yang tidak kira-kira mahalnya. Sebagai perbandingan, soto betawi di rumah makan itu harganya seporsi kecil saja sudah 70 ribu rupiah.

Betapa mahalnya, betapa bangsa kita tidak tahu malu mengeruk saku pengunjung dengan harga yang tidak sebanding dengan kualitas dan kuantitas makanan yang dijual. Parahnya lagi, tidak ada daftar harga di dalam menu, baik di meja maupun yang ditempel di dinding sehingga pengunjung yang masuk akhirnya merasa tertipu setelah selesai makan.

Cerita teman saya di Bandara Cengkareng juga tidak jauh beda. Di area parkir mobil pribadi ada sebuah kafe bernama kafe N. Karena sudah lelah dan lapar setelah terbang sekian jam, dia dan temannya makan di kafe itu. Seporsi nasi dan ayam, seporsi nasi dan rawon, serta minuman teh total harganya Rp225.000. Rinciannya, nasi ayam Rp80.000, nasi rawon Rp115.000, dan teh Rp30.000.  Alamak, rawon macam apa yang harganya 115 ribu? Nasi ayam macam mana yang harganya mencapai 80 ribu?

Tidak karu-karuan. Harga makanan di bandara negara kita jauh lebih mahal daripada di bandara Changi atau Kualalumpur. Di Bandara Minangkabau Padang saya juga terkaget-kaget ketika makan soto Padang semangkuk kecil plus nasi di restoran di dalam bandara harganya Rp45.000. Sudahlah rasa sotonya tidak enak, dagingnya seencrit, mahal pula. Bah, kapok saya makan di sana lagi.

Maka, menyikapi harga makanan yang tidak wajar di Bandara, sebaiknya kita membawa makanan sendiri dari rumah atau dari luar bandara. Bersih, sehat, dan murah, serta tidak membuat sakit hati. Saya sendiri selalu begitu, hampir selalu bawa nasi dari rumah. Saya tidak malu makan di ruang tunggu atau di kursi bandara. Ini makanan saya sendiri, kenapa harus malu. Di luar negeri sudah biasa orang menikmati sandwhich-nya atau memakan bekalnya sambil duduk membaca di ruang tunggu bndara. Jika pun terpaksa makan di restoran, pilihlah restoran waralaba yang sudah populer, karena harga makanannya selalu sama di mana saja, baik di bandara maupun di luar bandara.

Dipublikasi di Cerita perjalanan, Gado-gado | 6 Komentar