Miskin bukan berarti tidak punya apa-apa, kaya bukan berarti punya segalanya

Ini cerita sederhana yang saya peroleh dari teman, tentang seorang gadis yang mengontrak sebuah rumah, dia tinggal sendiri di sana. Di sebelah rumahnya tinggal sebuah keluarga miskin dengan dua orang anaknya yang masih kecil.

Suatu malam listrik mati di pemukiman mereka. Rumah-rumah menjadi gelap gulita, termasuk rumah yang disewa gadis dan rumah keluarga miskin tadi. Dengan bantuan cahaya dari ponsel, si gadis mencari lilin di lemari dapur. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk, suara seorang anak kecil  terdengar dari luar. “Kak, punya lilin tidak?”, tanya anak kecil tadi.  Itu adalah suara dari anak miskin, tetangga sebelah rumahnya.

Gadis itu terdiam, dia berpikir sejenak. Dia merasa tidak usah memberikan lilin kepada anak miskin tadi, sebab jika diberi nanti  menjadi kebiasaan untuk terus meminta. Lalu dia menjawab  dengan keras, “Tidak ada!”.

Anak miskin tadi berkata dengan riang. “Nah, benar ‘kan kakak tidak punya lilin. Ibu menyuruh saya memberikan dua lilin ini kepada kakak, karena ibu khawatir kakak tinggal sendirian dan tidak punya lilin”.

Si gadis merasa bersalah karena telah berburuk sangka kepada keluarga miskin itu. Air matanya berlinang, dia memeluk erat-erat anak miskin tadi…

~~~~~~~~~~

Moral dari cerita ini adalah hendaklah kita jangan mudah cepat berprasangka. Jangan menilai  kelemahan orang lain dari penampilan luarnya. Kekayaan tidak diukur dari banyaknya harta yang kita miliki, tetapi seberapa mampu kita memberi  kepada orang yang tidak berpunya. Miskin bukan berarti tidak punya apa-apa, kaya bukan berarti punya segalanya.

(kisah terinspirasi dari kiriman seorang teman)

Dipublikasi di Kisah Hikmah | 6 Komentar

Pembaca Berita TV-One yang Berjilbab

Ada pemandangan yang berbeda yang saya amati akhir-akhir ini pada stasiun televisi TV-One. Penyiar program beritanya beberapa kali tampil penyiar yang mengenakan hijab (jilbab), seperti yang saya lihat tadi pagi (lihat foto di bawah). Tentu saja menurut saya hal ini menggembirakan, sebab itu artinya stasiun TV tersebut tidak melakukan diskriminasi kepada kaum perempuan yang ingin menjadi penyiar namun tetap menjalankan kewajiban agamanya dalam berbusana muslimah.

tvone

Penyiar berita TV-One yang mengenakan hijab dalam program berita pagi

Kita semua tahu dalam beberapa kasus, perempuan yang berbusana muslimah seringkali mengalami diskriminasi karena pakaiannya. Ia ditolak bekerja karena berjilbab, baik secara halus maupun terang-terangan. Yang dilihat adalah pakaiannya, bukan kemampuan orangnya. Saya masih ingat kasus seorang penyiar televisi bernama Sandrina Malakiano. Dia adalah penyiar cemerlang di sebuah stasiun televisi berita ternama (anda pasti tahu nama televisinya). Ketika dia memutuskan berjilbab, stasiun televisi tersebut tidak lagi membolehkan dia menjadi pembaca berita. Dia diberi tempat di belakang layar  saja, yang secara halus artinya ‘menghukumnya’ karena berjilbab.  Sampai akhirnya Sandrina keluar dari televisi tersebut, dia ditolak menjadi penyiar karena jilbabnya, padahal dia adalah penyiar yang cerdas dan piawai.  Sikap islamophobia  yang ditunjukkan  televisi berita tersebut sungguh tidak layak terjadi di negeri ini, apalagi mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Dalam pengamatan saya, fenomena host acara TV mengenakan hijab bukanlah hal yang baru. Beberapa stasiun TV juga memiliki program acara yang dipandu oleh host-nya yang berbusana muslimah. Reporter TV yang berjilbab juga sering saya lihat  melaporkan secara langsung suatu kejadian. Namun, melihat pembaca berita yang berjilbab sangat jarang ada, padahal program siaran hard news adalah acara andalan stasiun TV berita. Selain di TV-One, saya juga pernah melihat pembawa berita berjilbab pada stasiun Trans TV. Beberapa acara di Trans TV juga banyak bermuatan islami seperti Khasanah, kuliah subuh, dan lain-lain. Mungkin karena Chairul Tanjung  sebagai pemilik Trans TV adalah seorang yang cukup religius. Lihat saja di Trans Studio Mall Bandung, dia membangun masjid yang sangat bagus dan besar di kompleks mall terbesar di Bandung itu.

Kembali ke stasiun TV-One tadi. Terlepas dari pandangan politik pemilik stasiun TV ini (keluarga Aburizal Bakrie) dan pemberitaannya yang terkesan sebagai oposisi (sangat berbeda dengan stasiun TV berita satu lagi yang menjadi corong Pemerintah), saya menilai stasiun TV One memberikan porsi yang cukup banyak untuk siaran bermuatan Islami. Ada program dakwah Damai Indonesiaku pada setiap minggu siang yang menampilkan siaran langsung ceramah agama yang dipandu ustad kondang. Pada hari-hari khusus mereka mengadakan acara bertema keislaman. Bahkan, pada malam tahun baru yang lalu, ketika banyak orang Indonesia larut dengan perayaan hura-hura tahun baru, termasuk acara malam tahun baru di berbagai stasiun TV, stasiun TV-One malah menampilkan acara muhabsabah berupa pengajian yang disiarkan langsung.

Saya mengaspresiasi kebijakan stasiun TV One yang tidak melarang penyiar beritanya menggunakan hijab. Sudah tidak saatnya lagi perempuan didiskriminasi dan ditolak bekerja hanya karena menggunakan pakaian muslimah. Perempuan yang berbusana hijab atau yang tidak adalah sama haknya untuk mendapat porsi yang sama dalam bekerja. Selama mereka tetap sopan, bekerja profesional, maka mengapa harus ada diskriminasi karena pakaian yang dikenakannya?

Dipublikasi di Indonesiaku | 5 Komentar

Lampu Sen ke Kiri tapi Beloknya ke Kanan

Seorang teman bercerita, kalau dia sedang mengendarai mobil lalu di depannya ada ibu-ibu yang mengendarai motor, maka dia harus ekstra hati-hati. Kenapa? Karena lampu sen yang dinyalakan ibu-ibu itu sering tidak sinkron, dia lampu sen ke  kiri, tapi beloknya ke kanan, atau sebaliknya. Jika sudah demikian, maka bisa celaka, katanya sambil tertawa. Mungkin kira-kira kejadiannya seperti karikatur di bawah ini (sumber dari akun Facebook ini):-).

lampu-sen

Sejak motor teknologi matic berkembang pesat, banyak kaum perempuan memakai sepeda motor. Praktis, sebab untuk motor matic cuma perlu mengatur gas dan rem saja. Belajar beberapa jam saja sudah langsung mahir menggunakan motor. Di jalan-jalan pemukiman sudah menjadi pemandangan biasa melihat ibu-ibu mengemudikan sepeda motor untuk mengantar anak sekolah, pergi belanja ke swalayan, dan sebagainya.

Sampai di sini masih aman-aman saja, karena jalan pemukiman tidak begitu ramai. Namun kalau sudah berada di jalan besar perlu kehati-hatian karena lampu sen adalah penanda bagi kendaraan di belakang untuk menyesuaikan kecepatan dan arah bagi motor yang mau belok. Kalau banyak melamun di jalan, maka seringkali lampu sen tidak sinkron dengan arah belokan.

Namun kejadian ketidaksinkronan lampu sen dengan arah belokan tidak selalu kasusnya ibu-ibu. Bapak-bapak juga ada, penyebabnya pasti karena melamun. Justru yang lebih berbahaya adalah jika motor dikendarai oleh anak-anak. Anak-anak sekarang sudah pandai mengendarai motor. Lihatlah di jalan-jalan, anak-anak yang masih SD saja sudah mahir bermotor. Anak-anak ini cenderung tidak tahu aturan. Dia belok tapi tidak menyalakan lampu sen, maka kendaraan yang di belakang pasti mengerem mendadak untuk menghindari tabrakan. Jika sudah begitu, maka yang keluar adalah kata umpatan dan makian dari pengendara di belakang.  Oleh karena itu, jangan izinkan anak-anakmu membawa motor ke jalan sebelum dia punya SIM.

Dipublikasi di Gado-gado | 5 Komentar

Nilai Sosial Buah Manggis Pinggir Jalan

Bulan Maret ini adalah saatnya musim buah manggis di Bandung. Pedagang manggis kaki lima menggelar dagangan buah manggis di pinggir-pinggir jalan. Selain menggunakan meja-meja di jongko kakilima, banyak pula pedagang berjualan manggis menggunakan mobil bak terbuka. Buah manggis itu didatangkan dari Kabupaten Tasikmalaya.

manggis

Buah manggis di jongko kaki lima

Pedagang buah manggis di pinggir jalan yang saya lewati menawarkan manggis Rp15.000/kg, jika dua kilo maka harganya Rp25.000. Di koran lokal pagi hari saya membaca iklan sebuah supermarket yang menawarkan buah manggis Rp11.250/kg, jika dua kilo harganya tentu dua kalinya, yaitu Rp22.500. Lebih murah dari pedagang kaki lima.

Pilih yang mana? Manggis pedagang kaki lima atau manggis di supermarket itu? Saya pilih membeli buah manggis pedagang kaki lima tadi. Memang harganya sedikit lebih mahal dari supermarket, tapi tak apalah.

Tidak salah membeli di supermarket, juga tidak salah membeli dari pedagang kecil. Ini soal pilihan saja. Namun, membeli dari pedagang kecil itu ada nilai sosial dan nilai ibadahnya, yaitu sekalian untuk membantu kelangsungan hidup dan usaha mereka.

Pedagang besar sudah biasa menikmati untung besar, mereka berdagang untuk meraih untung sebanyak-banyak. Sebaliknya bagi pedagang kecil, mereka berjualan untuk bertahan hidup.

Jika kamu selalu membelanjakan uangmu di supermarket yang nyaman, maka cobalah bagi uangmu untuk berbelanja pada pedagang kecil seperti pedagang kaki lima. Insya Allah barokah karena diniatkan untuk membantu kelestarian usaha mereka.

Dipublikasi di Gado-gado | 2 Komentar

Beda Antara Paris dan Ankara

Bom kembali meledak di bandara dan stasiun kereta api di Brussel (Belgia) kemarin dalam aksi serangan bunuh diri yang menewaskan puluhan orang dan ratusan lainnya luka-luka. Sungguh ini perbuatan keji, karena orang-orang tidak bersalah menjadi korban. Dunia kembali tersentak setelah aksi serangan terorisme yang mematikan di Paris bulan November tahun lalu.

Paris? Ya, dunia lebih banyak mengingat peristiwa bom Paris ketimbang aksi bom di tempat lainnya. Hampir semua pemimpin dunia, tokoh publik, dan kalangan pesohor menyuarakan kecaman, kutukan, sembari mendoakan Perancis agar tetap kuat. Jagad maya pun ikut heboh. Di media sosial, Facebook mengaktifkan pengecekan keselamatan yang bisa digunakan oleh pengunanya untuk menginformasikan kondisinya sedang aman. Di jagad maya tagar #PrayForParis dengan cepat menyeruak sebagai bentuk simpati kepada Perancis. Netizen memasang gambar bendera Perancis menjadi  foto profilnya sebagai tanda ikut berduka cita.

Namun, reaksi warga dunia, khususnya penduduk jagad maya, sangat berbeda ketika aksi terorisme melanda Ankara, Turki. Selama dua bulan berturut-turut Turki dilanda aksi terorisme. Dua ledakan besar melanda ibukota Turki, Ankara. Puluhan orang tewas dan luka-luka. Tidak terdengar pemimpin dunia, tokoh publik, dan kaum pesohor mengeluarkan kecaman. Tidak ada tagar #PrayforAnkara atau #PrayforTurkey di jagad maya, seakan-akan peristiwa bom di Ankara adalah peristiwa biasa saja. Padahal Turki juga negara Eropa, seperti halnya Perancis. Harian Independent menulis sebagai berikut: Downing Street raises the Belgian flag and we tweet for Brussels – but where was this sympathy after Ankara?

Di Indonesia, Presiden Jokowi pun tidak pernah menyampaikan kicauan duka cita di akun Twitter-nya terkait bom Ankara. Ini sangat berbeda ketika bom di Paris dan Brussel, Presiden Jokowi dengan cepat memberikan reaksinya. Apa salah Turki, Pak Jokowi?

brussel

Reaksi yang berbeda ini mungkin karena Turki adalah negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Jika korban aksi terorisme adalah warga muslim, maka dunia tidak terlalu peduli, sebagaimana ketidakpedulian ketika aksi bom dan terorisme menyasar di Irak, Afghanistan, Pakistan, Palestina, dan lain-lain. Sedangkan peristiwa bom di Paris dan Brussel mendapat simpati dan reaksi berbeda karena korbannya adalah warga Eropa dan pelakunya diduga berkaitan dengan dunia Arab (dan Arab secara sederhana diidentikkan dengan Islam).

Begitulah. Tidak ada yang begitu mempedulikan peristiwa keji di Turki dan di negara-negara muslim lainnya. Mereka yang menjadi korban mungkin hanya dihitung secara statistik saja, lalu sesudah itu dilupakan.

Kita mengutuk aksi terorisme di manapun, apapun motifnya dan siapapun pelakunya. Korbannya adalah rakyat tidak berdosa. Siapapun pelakunya, sungguh keji perbuatannya. #PrayforParis, #PrayforAnkara, #PrayforBrussel, #PrayforGaza, #PrayforPalestina, #PrayforIrak, #PrayforAfghanistan, dan di manapun di dunia ini #pray untuk kemanusiaan.

Dipublikasi di Dunia oh Dunia | 6 Komentar

Orang Miskin akan Menuntun Tanganmu ke Surga

Sebuah posting bagus yang saya terima pagi ini. Isinya inpsiraif dan menggugah iman kita. Saya bagikan dulu ya sebelum saya komentari di bawahnya. Terima kasih buat penulisnya (yang tidak diketahui siapa orang yang pertama kali mengirimnya, karena begitu cepat menyebar di jejaring sosial).

~~~~~~~~~~

“JANGAN TAKUT DIMINTA TOLONG”

Ada seorang teman datang berkunjung ke sebuah perusahaan, pas dia melewati pintu gerbang melihat tulisan,
“Tidak Menerima Permintaan Sumbangan dari Pihak Mana pun.”

Teman yang juga seorang motivator tersebut, langsung berkomentar kepada si pemilik perusahaaan….
“Ganti Pak tulisan ini…”
“Ganti sama apa?”
“Ganti dengan: ‘Siapa pun yg butuh sumbangan, silakan kemari aja.’ “

Tentu saja komentar itu disambut dengan tawa.
“Nanti pada dateng dong minta sumbangan.”
“Biarin aja. Itu kan tandanya rezeki. Semakin banyak yg dateng, maka semakin banyak rezeki. Lagian, enggak mungkin Allah mempertemukan yang susah dengan kita, kalau kita enggak bisa bantu. Jadi kalau didatengin sama yang susah, itu tandanya Allah sudah mempersiapkan kita untuk bisa membantu.”

Banyak orang takut didatengin orang susah. Karena seringkali logika berpikirnya, mereka yg butuh, bakal ngerepotin. Padahal, kita yang butuh mereka.

Suatu hari Rasulullah memberitahu para sahabatnya, bahwa orang2 miskin nanti akan memiliki kekuasaan. Sahabat bertanya, “Kekuasaan apa ya Rasul?”
Rasulullah menjawab,”di hari kiamat, nanti akan dikatakan kepada mereka, tariklah mereka yang pernah memberimu makan walau sesuap, minum walau seteguk, pakaian walau selembar. Peganglah tangannya dan tuntunlah ke surga.” Masya Allah!!!

Dan salah satu kekuatan orang susah, orang miskin, orang yg terdzalimi, doanya makbul dan cepat dikabulkan.

Semoga kita tergolong insan mukmin yang gemar dan mudah menolong.

~~~~~~~~~~~~

Saya pribadi memiliki pengalaman yang juga dialami oleh kebanyakan orang, yaitu selalu didatangi oleh peminta sumbangan, pengamen, peminta-minta, maupun orang kesusahan lainnya. Insya Allah selalu ada saja rezeki saya buat mereka. Tidak perlulah kita pelit memberi kepada orang yang sedang ditimpa kesulitan hidup.

Terhadap peminta sumbangan yang mengatasnamakan anak yatim, pondok pesantren, panitia pembangunan masjid, yayasan pengampu anak cacat, dan sebagainya, mungkin di antara kita ada perasaan berat hati untuk memberi mereka sekedar uang. Mungkin sebagian kita berpikir, apakah ini benar?, apakah ini penipuan? Akibatnya sebagian orang enggan untuk mengeluarkan uangnya, paling-paling hanya mengucapkan “maaf”. Kalau saya sih saya beri saja, perkara mereka bohong atau tidak benar, itu urusan mereka dengan Allah saja. Niat saya  bersekah dan beramal sholeh. Saya sengaja memberikan uang itu di depan anak-anak saya, dengan harapan kelak mereka menjadi orang pengasih dan penyayang kepada orang lain.

Di pintu rumah beberapa warga atau pintu kantor sering saya temui stiker yang berbunyi mirip seperti posting-an di atas: “TIDAK MENERIMA PERMINTAAN SUMBANGAN DALAM BENTUK APAPUN TANPA IZIN KETUA RT”., atau “DI SINI NGAMEN GRATIS”. Secara tidak sadar mereka sudah menutup pintu rumahnya dari orang-orang miskin. Padahal kalau kita mengimani hadis Rasulullah di atas, justru kitalah yang membutuhkan orang miskin, bukan mereka yang butuh kita. Di akhirat nanti orang miskin yang pernah kita beri bantuan akan menarik tangan kita ke surga.

Dipublikasi di Agama, Kisah Hikmah | 6 Komentar

Kiriman Rendang Pensi Singkarak

Beberapa hari yang lalu kakak perempuan saya di Padang mengirim paket rendang pensi. Tau pensi? Orang Minang pasti tahu makanan yang satu ini. Pensi adalah sejenis tiram/kerang air tawar yang hanya ada di Danau Singkarak dan Danau Maninjau, Sumatera Barat. Orang Minang mengolah pensi ini menjadi berbagai macam lauk, salah satunya rendang pensi yang dikirim oleh kakak saya itu. Selain pensi, Danau Singkarak juga terkenal dengan hasil tangkapan berupa ikan endemik khas danau yang bernama ikan bilih.

DSC_1530 (1)

Rendang pensi, kiriman dari Padang

Pensi dimasak dengan santan dan bumbu-bumbu seperti cabe, bawang, daun serai (sereh), laos, jahe, daun ruku-ruku, daun jeruk, dan lain-lain. Cara memasaknya mirip seperti memasak rendang. Lebih enak lagi dicampur dengan kacang berukuran besar yang kalau di Padang dinamakan kacang pagar.

Awalnya sebelum menjadi rendang masih berupa gulai yang dinamakan gulai pensi. Biasanya yang dimasak adalah daging tiramnya saja, sedangkan cangkangnya dibuang. Nah, dalam bentuk gulai pensi saja sudah menerbitkan air liur, seperti gambar di bawah ini (Sumber gambar gulai pensi dari sini):

gulai pensi

Gulai pensi 

Almarhumah ibu saya dulu sangat pandai memasak gulai pensi. Ibu kami berasal dari daerah Solok. Danau Singkarak itu sebagian berada di Kabupaten Solok, sehingga orang Solok sangat kenal dengan pensi ini. Sekarang kemahiran memasak pensi itu dilanjutkan oleh kakak saya di Padang. Pensi yang dikirimnya itu dalam bentuk rendang agar awet jika dikirim ke tempat yang jauh.

Saya menjadikan rendang pensi itu sebagai bekal makan siang di kampus. Ini dia bekal makan siang berupa nasi, rendang pensi, dan tentu saja samba lado.

934849_1060444320690259_8659086415320729305_n

Bekal makang siang dengan rendang pensi

Jika anda nanti singgah ke Danau Singkarak atau Danau Maninjau, jangan lupa membeli oleh-oleh berupa pensi yang sudah diambil dagingnya (tanpa cangkang). Di Pasar Raya Padang juga ada yang menjual pensi, tetapi membeli pensi segar dari pinggir danau lebih disarankan. Pedagang mejualnya dalam takaran liter atau kilogram.

2-pensi

Pensi. (Sumber gambar dari http://www.izzawa.com/2015/08/cemilan-pensi.html)

Tiba di rumah nanti bisa diolah menjadi aneka masakan. Salah satu resep gulai pensi dapat dibaca di sini.

Dipublikasi di Cerita Minang di Rantau, Cerita Ranah Minang, Makanan enak | 8 Komentar