Bandara yang Ramah Colokan Listrik

Ketika menunggu boarding pesawat di Bandara Sam Ratulangi, Manado, mata saya tertumbuk pada deretan bangku dengan colokan listrik terpasang pada setiap tempat duduknya (lihat foto di bawah ini).

samrat

Colokan listrik pada setiap kursi di dalam ruang tunggu keberangkatan di Bandara Sam Ratulangi, Manado

Keberadaan colokan listrik di ruang tunggu ini sangat berarti bagi calon penumpang. Calon penumpang tidak perlu repot lagi mencari colokan kabel listrik di dinding, di pojok, bahkan sampai rebutan atau antri dengan orang lain yhang duluan dapat colokan listrik. Sambil duduk tenang menunggu boarding, calon penumpang bisa pakai ponsel/laptop sambil men-cas ponsel, laptop, power bank, dll sampai penuh di tempat duduknya masing-masing.

samrat2

Ruang tunggu keberangkatan di Bandara Sama Ratulangi. Setiap calon penumpang asyik dengan gawainya. Gawai sangat bergantung pada energi listrik.

Di Bandara Soekarno-Hatta sendiri tidak ada fasilitas yang sama seperti ini. Memang di ruang tunggu keberangkatan ada disediakan kotak sebesar lemari kecil yang berisi beberapa colokan listrik paralel, namun kita harus berjalan ke sana meninggalkan tempat duduk, lalu menungguinya, atau ditinggal pergi sambil dilihat dari jauh. Yang repot adalah ketika kita membutuhkan ponsel saat sedang di-cas, maka mau tidak mau mau kita harus berdiri di dekat kotak colokan itu sambil menggunakan ponsel atau gawai yang sedang di-cas. Kurang nyaman saja rasanya.

Mobilitas orang-orang zaman sekarang tidak bisa dilepaskan dari perangkat gawai. Gawai membutuhkan pasokan energi listrik. Colokan yang ada di setiap tempat duduk itu sangat memudahkan pengguna bandara yang sangat bergantung pada energi listrik agar gawai tetap bisa menyala.

Saya memberikan salut buat kepada manager bandara yang mengerti sekali kebutuhan mobilitas orang-orang zaman sekarang ini. Memang belum semua bangku diberi colokan listrik seperti gambar di atas, tetapi sekali lagi ini sangat memudahkan. Mudah-mudahan di semua bandara lain juga diberikan fasilitas colokan listrik pada setiap bangku.

Dipublikasi di Gado-gado | 3 Komentar

Kudeta di Turki, yang Ribut di Indonesia

Kudeta yang gagal di Turki menarik perhatian masyarakat dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Kudeta yang umurnya cuma lima jam gagal mendapat dukungan dari militer dan partai oposisi. Kudeta yang terjadi pada tengah malam itu mengagetkan banyak orang di tanah air. Dengan cepat peristiwa kudeta itu menjadi perbincangan di media dan jejaring sosial dari pagi hari hingga hari ini.Bagi masyarakat Indonesia, Turki memiliki kedekatan emosional karena sama-sama negara dengan penduduk mayotitas beragama Islam, sehingga apa yang terjadi di Turki akan menjadi bahan pembicaraan di tanah air.

Masyarakat Indonesia ikut terpecah dengan peristiwa kudeta di Turki itu. Secara garis besar ada dua kelompok yang menanggapi. Kelompok pertama mengecam kudeta di Turki dan bersyukur kudeta tersebut akhirnya gagal. Kelompok ini merupakan kalangan masyarakat Indonesia yang bersimpati kepada Turki maupun Erdogan. Mereka menganggap Pemerintahan Erdogan sebagai role model politik Islam yang  berhasil mendobrak prinsip-prinsip sekularisme yang selama ini menjauhkan Turki dari kultur Islam yang dianut oleh 99 persen penduduknya.

Sebaliknya, ada pula kelompok masyarakat Indonesia yang kecewa kudeta tersebut gagal. Mereka sebenarnya menginginkan kudeta itu berhasil seperti halnya yang terjadi di Mesir, sebab hanya kudetalah yang dapat mendepak perpolitikan Islam dari Turki. Mereka tidak senang dengan gaya Pemerintahan Erdogan, termasuk antipati terhadap partainya Erdogan, AKP. Mereka  khawatir kebangkitan politik Islam di Turki akan menyebar pengaruhnya di Indonesia. Erdogan digambarkan sebagai pemimpin otoriter sehingga tidak masalah dia diturunkan dengan cara apapun, termasuk kudeta militer sekalipun. Saya menilai kelompok kedua ini kontradiktif, sebab di satu sisi mereka pentolan pendukung demokrasi, namun di sisi lain mereka mendukung aksi yang tidak demokratis seperti kudeta terhadap pemerintahan yang dihasilkan dari Pemilu yang sah.

Secara sederhana kelompok yang mensyukuri kudeta gagal adalah kelompok islamis, atau  mereka yang bersimpati dengan Erdogan, sedangkan kelompok yang kecewa dengan kegagalan kudeta adalah kelompok pengusung Islam liberal, sekuler, termasuk juga Syiah. Kenapa saya sertakan pendukung Syiah masuk ke dalam kelompok ini, karena Turki selama ini memusuhi Iran, sedangkan Iran adalah  panutan kaum Syiah di tanah air. Penganut Syiah di tanah air tidak menyukai ormas keagamaan maupun partai Islam yang selama ini selalu menghadang gerakan Syiah, padahal ormas keagamaan dan partai Islam itu memiliki ikatan batin dengan Turki yang mayoritas penduduknya bermadzhab Sunni.

Dua kelompok di atas perang opini dan perang komentar di media dan jejaring sosial. Itu dapat dilihat pada posting-an di Facebook, Twitter, dan lainnya.  Bagi kelompok pertama, Erdogan semakin disanjung sebagai pemimpin yang dicintai oleh rakyat Turki, sebab rakyat Turki menolak kudeta itu, mereka menuruti perintah Erdogan untuk turun ke jalan-jalan sebagai aksi menolak kudeta. Sedangkan bagi kelompok kedua, mereka menuding bahwa kudeta itu adalah akal-akalan yang dibuat-buat oleh Erdogan untuk mengangkat pamornya.

Ada pula pihak yang mencoba mengaitkan kudeta di Turki ini dengan Jokowi. Tampaknya polarisasi kedua kelompok dalam menyikapi kudeta di Turki mirip dengan polarisasi ketika Pilpres tahun 2014. Kelompok yang kecewa dengan kegagalan kudeta di Turki kebetulan adalah pendukung Jokowi di Pilpres, sedangkan kelompok yang mensyukuri kegagalan kudeta di Turki kebetulan adalah penolak Jokowi. Mungkin faktor kebetulan saja atau memang efek perpecahan akibat Pilpres 2014 masih terasa sampai saat ini hingga masalah di Turki pun terbawa-bawa dalam perdebatan di tanah air. Saya heran, mengapa orang Indonesia sedemikian ributnya dengan apa yang terjadi di Turki.

Dipublikasi di Indonesiaku | 7 Komentar

Setelah PPDB 2016 Berlalu

Tanggal 18 Juli 2016 adalah awal tahun ajaran baru untuk tingkat SD, SMP, dan SMA. Sebagian besar anak-anak sudah mendapat sekolah yang diidamkannya masing-masing, sebagian lagi masuk di sekolah yang kurang diinginkannya, dan sebagian lagi gagal mendapat sekolah. PPDB (Pendaftaran Peserta Didik baru) sekolah negeri tahun 2016 di Kota Bandung sudah berakhir dengan sejumlah banyak catatan. Tentu ada yang bahagia, sebagian tentu ada yang merasa kecewa. Ada yang merasa diperlakukan kurang adil, tetapi sebagian lagi merasa PPDB ini sudah adil. Adil atau tidak adalah relatif bagi setiap orang, jika keinginannya tercapai maka dia akan senang hati menyebutnya sudah adil, tetapi jika keinginannya tidak tercapai maka dia (tidak semua begitu) mungkin menganggap proses PPDB ini tidak adil.

PPDB tahun 2016 telah menguras banyak energi dan perasaan orangtua, terutama bagi orangtua dengan nilai UN anaknya yang serba tanggung. Mau milih sekolah ini khawatir tidak diterima, mau milih sekolah yang itu khawatir banyak saingan. Passing grade benar-benar tidak dapat diprediksi sampai jam-jam terakhir pendaftaran. Pergerakan data  yang lambat dan sebaran nilai UN yang kurang rinci, membuat sport jantung banyak orangtua. Sistem PPDB online tidak benar-benar online, karena data yang tersaji tidaklah real time.

Masyarakat kota Bandung kebanyakan negeri-minded.  Bukan apa-apa, untuk tingkat SMP dan SMA kebanyakan sekolah yang bagus itu adalah sekolah negeri. Sekolah swasta hanya beberapa saja yang bagus dan itupun uang pangkal serta SPP-nya lumayan mahal, tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Lagipula, sekolah swasta yang bagus-bagus itu sudah tersegmentasi pasarnya berdasarkan etnis, agama, atau status sosial.

Hasil PPDB 2016 sudah diumumkan di situs PPDB Kota Bandung, namun data kelulusan PPDB ini hanya akan bertahan selama tiga bulan saja, setelah itu masyarakat tidak dapat melihatnya lagi. Untunglah ada beberapa blog merekap hasil PPDB sehingga dapat menjadi rujukan untuk tahun-tahun berikutnya, misalnya direkap oleh seorang volunteer di dalam blog bicarapassinggrade.wordpress.com.

Anak saya yang nomor dua masuk SMA tahun ini. Keinginannya untuk masuk SMA negeri  di Jalan Belitung ternyata belum berhasil. Kurang sedikit lagi passing grade-nya untuk bisa lolos pada SMA pilihan pertama di Jalan Belitung itu.  Andai Peraturan Walikota (Perwal) yang mengatur passing grade luar kota minimal sama dengan passing grade tahap dua (gabungan wilayah) dijalankan panitia, mungkin dia bisa lolos di SMA pilihan pertama. Namun Panitia PPDB tidak mematuhi amanah Perwal ini dengan alasan yang tidak jelas. Meskipun saya sudah menyampaikan komplain ini ke Disdik di Jalan Ahmad Yani, namun tidak ada tanggapan. Bahkan, jika amanah Perwal yang ini dijalankan dan kuota luar kota yang tidak terisi dilimpahkan kembali ke GW, maka passing grade akan bisa turun lagi sehingga banyak anak-anak yang  terlempar dari pilihan 1 dan 2 akan “tertolong” masuk lagi. Bukankah siswa dalam kota Bandung seharusnya lebih diutamakan dari pada siswa luar kota? Ya sudahlah, anak saya akhirnya bisa menerima dengan lapang dada masuk di SMA pilihan kedua. Meskipun ada rona kekecewaan, namun saya anggap mungkin sudah jalan hidupnya demikian. Dia memang tidak  lolos masuk SMA terbaik di kota Bandung, namun insya Allah SMA pilihan keduanya ini mungkin SMA yang terbaik baginya.

Harus saya akui, PPDB 2016 tetap  belum bisa menghilangkan kesan sekolah favorit dalam benak masyarakat, termasuk saya sendiri. Meskipun kebijakan walikota Bandung pada PPDB tahun ini bertujuan baik yaitu agar anak bersekolah di sekolah terdekat dengan rumahnya (sistem rayonisasi), namun bagi sebagian masyarakat memburu sekolah favorit tersebut tetap tidak bisa dihilangkan. Bagi saya pribadi, masuk ke sekolah favorit itu bukan soal gengsi, tetapi bersekolah di sekolah favorit itu agar dapat merasakan suasana kompetitif bagi sang anak. Anak-anak yang masuk di sekolah favorit itu memang sudah bibit unggul, jadi jika berada di tengah-tengah mereka dapat memotivasi anak lain untuk selalu mengejar ketertinggalan dan berusaha terus maju. Inilah yang saya maksud dengan suasana kompetitif yang berdampak positif bagi perkembangan akademik seorang anak. Bukankah di ITB tempat saya mengajar suasana kompetitif itu terbentuk karena mahasiswa yang masuk adalah mahasiswa pilihan yang berotak brilian. Input mahasiswa yang bagus jugalah yang membuat ITB bisa menjadi perguruan tinggi terdepan dalam bidang sains dan  teknologi. Suasana kompetitif semacam ini sulit ditemukan di sekolah atau perguruan tinggi yang biasa-biasa aja.

PPDB tahun 2016 yang membagi seleksi calon siswa menjadi kategori Dalam Wilayah (DW) dan Gabungan Wilayah (GW) (baca tulisan saya sebelumnya) menghasilkan beberapa kejutan yang tak terduga. Beberapa SMA favorit memperoleh siswa dengan nilai UN yang sangat rendah. Di sebuah SMA favorit yang selama bertahun-tahun passing grade-nya selalu tinggi (rata-rata nilai UN yang diterima di atas 370) nilai UN terkecil yang diterima adalah 166. Jika dirata-rata dengan empat pelajaran yang di-UN-kan, maka nilai rata-ratanya hanya 41,5. Saya berpikir positif saja, mungkin sudah rezekinya diterima di sekolah itu, maka kita tidak patut membuli anak yang bernilai UN rendah tersebut. Ada puluhan anak lain dengan nilai UN yang rendah-rendah berhasil lolos masuk SMA favorit tersebut, sangat jauh dengan nilai UN mayoritas anak lainnya yang tinggi-tinggi. Anak-anak tersebut bisa lolos masuk karena “diuntungkan” dengan keberadaan rumah yang berada di dalam rayon SMA favorit itu. Karena jumlah pendaftar dari dalam wilayah SMA tersebut sangat sedikit (maklum bukan wilayah pemukiman penduduk), sementara kuota yang tersedia besar, maka mereka otomatis diterima karena tidak ada saingan di dalam wilayahnya. Mereka pun tidak perlu bersaing dengan anak-anak dari luar rayon (GW)  dengan nilai UN yang lebih tinggi, yang berjuang dengan susah payah untuk masuk dan akhirnya sebagian besar terlempar.

Apakah hasil seperti ini yang dimaksudkan Pak Walikota dengan sistem “proteksi wilayah”, yaitu anak-anak yang berada di dalam wilayah SMA-nya lebih diutamakan daripada anak-anak yang tinggal jauh meskipun nilai UN-nya kecil. Ada kesan anak tidak perlu belajar terlalu rajin, toh nanti bisa masuk ke sekolah (favorit) karena dekat rumah, sementara anak-anak yang rajin dan pintar kalah karena faktor jarak. Jika sistem seperti ini diteruskan setiap tahun, maka bukan tidak mungkin kesan favorit SMA-SMA tersebut akan pudar karena mereka banyak menerima siswa dengan kemampuan pas-pasan akibat proteksi wilayah. Hal ini menjadi tantangan bagi para guru di sekolah tersebut, yang mungkin shock dengan kondisi ini, yaitu bagaimana membuat anak-anak yang mempunyai keterbatasan akademik itu menjadi orang-orang hebat di kemudian hari. Saya percaya pendidikan tidak hanya untuk memberdayakan otak kiri saja yang identik dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga memberdayakan otak kanan yang berhubungan kecerdasan emosional. Kalau anak-anak itu  tidak dapat dibentuk menjadi orang pintar, mudah-mudahan para guru dapat membentuknya menjadi orang yang sholeh.

Dipublikasi di Pendidikan, Seputar Bandung | 3 Komentar

Perlakuan Terhadap Guru, Dulu dan Sekarang

Lihat gambar di bawah ini,  apa yang terpikir olehmu? Mungkin seperti inilah kira-kira perlakuan orang zaman dahulu terhadap guru dan bedanya dengan zaman sekarang (Gambar diambil dari sini).

see-the-problem

Zaman dulu guru begitu dihormati. Orangtua dan anak menurut apa yang dikatakan guru. Jika guru menghukum muridnya (misalnya karena berbuat salah), orangtua tidak marah. Mereka menganggap memberi hukuman adalah salah satu bentuk pendidikan juga agar anak mengerti kesalahannya. Reward and punishment adalah metode dalam pendidikan: jika siswa benar maka pantas diberi hadiah (reward), jika salah maka diberi hukuman (punishment).  Reward bisa berupa nilai, pujian, ucapan selamat, dan sebagainya. Punishment bisa berupa tugas tambahan hingga hukuman fisik yang sifatnya bukan untuk mencelakai, tetapi sebagai peringatan supaya tidak mengulangi lagi. Bahkan, orangtua zaman dulu sering menambahi hukuman kepada anaknya di rumah. Gambar di sebelah kiri barangkali menceritakan kondisi seperti ini.

Tetapi kini zaman sudah berubah. Orangtua ikut intervensi dalam pendidikan anak. Sejauh intervensi itu berupa saran, kritik, tentu tidak masalah, sebab pendidikan adalah tugas bersama, baik guru, sekolah, orangtua, maupun masyarakat. Tetapi, masalahnya menjadi lain jika intervensi itu sampai mencampuri kewenangan guru dalam memberi pendidikan. Guru sudah mendidik dengan “benar” malah dianggap salah dan dipidanakan. Guru mencubit siswanya, orangtua melaporkan ke polisi. Guru  menghukum siswanya, orangtua datang dan menyerang guru anaknya. Misalnya baru-baru ini seorang guru SMP di Bantaeng, Sulawesi Selatan, harus mendekam di penjara karena mencubit siswanya yang berperilaku nakal (Baca: Cubit Siswi Anak Polisi, Guru Bantaeng Masuk Penjara). Gambar di sebelah kanan kira-kira menggambarkan kondisi seperti ini.

Terkait dengan hukuman fisik, kita yang pernah sekolah pada zaman tahun 60-an hingga  80-an menganggap hukuman fisik dari guru masih dalam batas kewajaran. Saya masih ingat guru saya zaman SD dulu, jika kami telat datang sholat berjamaah di mushola sekolah, maka kaki kami yang dilapisi kain sarung dipukul dengan rotan. Tidak keras, juga tidak lunak. Jika kami tidak mengerjakan PR atgau tidak bisa mengerjakan soal hitungan di papan tulis, maka siap-siap telapak tangan kami menerima pukulan rotan. Apakah orangtua kami marah mendengar hukuman itu? Tidak, malah mereka tertawa sambil menambahi dengan nasihat agar kami lebih rajin lagi belajar dan selalu patuh pada guru.

Tetapi sekarang, dengan berkembangnya isu HAM, hukuman fisik dari guru dianggap sebagai pelanggaran HAM. Menurut saya, sejauh hukuman fisik itu mengarah ke penganiayaan dan merendahkan martabat manusia, jelas itu lebay alias berlebihan. Guru juga tidak boleh mentang-mentang kepada muridnya. Ada guru yang menendang kepala dan badan muridnya dengan kaki. Ada guru yang menampar muridnya sangat keras sehingga ia sampai muntah-muntah, pusing, bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Ada guru yang mengeluarkan kata-kata kasar dan kata makian yang merendahkan harga diri murid. Nah, ini jelas guru lebay yang tidak mengerti mana hukuman yang bersifat mendidik dan mana hukuman yang mencelakakan lahir dan batin.

Di dalam ajaran Islam bagaimana adab kepada guru (dan orangtua) itu sudah diatur dengan baik di dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi. Misalnya jika anak sampai usia 10 tahun tidak mau sholat, maka orangtua (juga guru) boleh memukul kakinya. Pukulan itu bukan pukulan untuk mencelakakan, tetapi sebagai efek shock therapy agar dia tidak lalai di kemudian hari. Saya dan anda yang pernah merasakan hukuman seperti itu tentu ketika dewasa merasa berterimakasih, justru karena efek shock therapy  itulah maka saya dan anda tidak lalai dalam mengerjakan sholat hingga saat ini. Betul tidak?

(Tambahan: tentang gambar di atas, ada juga yang menafsirkan bahwa anak kecil pada gambar di sebelah kiri adalah sang ayah pada gambar sebelah kanan. Dendam masa kecil kepada guru? Entahlah. )

Dipublikasi di Pendidikan | 2 Komentar

Mudik yang “Horor” dan Hilangnya Rasa Empati

Mudik Lebaran tahun ini meninggalkan catatan kelabu. Kemacetan horor di pintu keluar tol Brebes (Brexit) telah menyebabkan 12 orang pemudik meninggal dunia. Kalau meninggal dunia karena kecelakaan mungkin berita biasa saja, tetapi meninggal dunia  karena daya tahan tubuh yang tidak kuat di tengah kemacetan puluhan jam, ini jelas tidak biasa. Anda bisa membayangkan ribuan kendaraan dengan penumpang di dalamnya tidak bisa bergerak keluar tol selama puluhan jam. Mereka harus rela duduk di dalam kendaraan yang sempit selama berjam-jam. Bahkan ada pemudik yang berada tiga hari tiga malam masih berada di tengah kemacetan (Baca:Kesaksian dari Jalur Neraka Mudik, 44 Jam di Jalan Raya).

Daya tahan tubuh manusia itu terbatas. Macet stagnan lebih dari tiga jam saja sudah membuat tubuh linglung, stres, emosi menaik, jadi uring-uringan. Semua menumpuk terakumalasi menjadi satu. Apalagi di jalan tol dengan suhu udara yang panas. Tidak ada tempat beristirahat di pinggir jalan tol, tidak ada warung, toko, atau hotel  sekedar melepas penat. Paling-paling penumpang hanya bisa keluar kendaran lalu duduk-duduk atau berdiri di luar melepas kejemuan. Tapi jika stagnan selama dua hari dua malam lebih di jalan tol tanpa persediaan makan minum yang cukup, udara yang panas dan gerah, tidak ada fasiliats jamban, siapa yang tahan? Bagi orang yang memang kondisinya tidak fit sebelum mudik, atau punya riwayat penyakit jantung, stroke, kemacetan horor di Brexit itu membuat andil dekat dengan kematian. Itulah yang terjadi di jalan tol Brebes menjelang Idul Fitri.

Boro-boro keluarga pemudik yang ditimpa  musibah mendapat simpati, yang terjadi adalah mereka disalahkan. Banyak netizen menyalahkan pemudik karena bawa mobil buat pamer. Komentar-komentar yang tak tahu diri dan tanpa merasa empati sedikitpun keluar dari jari-jemari netizen. Netizen bisa menyalahkan pemudik karena yang terkena musibah kematian itu bukan keluarga mereka. Cobalah pikir, kalaulah tempat duduk kereta api dan pesawat tersedia dalam jumlah sangat banyak, mungkin para pemudik tidak perlu naik mobil menuju kampung halaman. Kenyataannya, kapasitas kereta api dan pesawat sangat kecil dibandingkan orang yang mudik. Jadi, pilihan berkendara dengan mobil tidak dapat dielakkan. Bawa mobil untuk pamer? Mungkin saja ada, tetapi membawa mobil ke kampung halaman lebih pada alasan kepraktisan saja, sebab mobilitas di kampung halaman lebih mudah jika membawa kendaraan sendiri.

Reaksi Pemerintah sama saja dengan netizen itu. Boro-boro meminta maaf karena lalai menjamin keselamatan warganya, Pemerintah malah tidak percaya kalau kematian 12 orang pemudik itu akibat kemacetan. Coba kita simak pernyataan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan di dalam berita ini:

“Masa kemacetan bisa menimbulkan orang meninggal, kan enggak mungkin. Kalau kecelakaan, mungkin. Kalau macet saya kira enggak,” kata Jonan, saat mengikuti open house di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu, 6 Juli 2016.

Menurut dia, orang meninggal bisa dengan bermacam-macam cara, bukan karena kemacetan. “Kalau tidak mengidap penyakit sebelumnya, saya kira enggak akan meninggal,” katanya.

Jonan mengatakan ada yang bilang pemudik meninggal karena terjebak macet 12 jam dan mengalami dehidrasi. Dia pun meragukan hal ini. “Kalau puasa berapa jam? Lebih saya kira 12 jam, buktinya enggak apa-apa juga. Ini kan cuma duduk-duduk saja. Menurut saya, ini sudah mengidap penyakit sebelumnya atau apa,” katanya.

Baca kembali baik-baik pernyataan Pak Jonan di atas. Ini menteri sama sekali tidak memiliki rasa empati pada korban.  Dia bisa bicara demikian karena tidak berada di TKP saat itu. Apakah Pak Jonan perlu merasakan sendiri kemacetan selama puluhan jam di sana baru bisa mengakui bahwa memang kemacetan itulah yang memicu kematian para pemudik. Bagaimana dengan kesaksian pemudik ini yang menyatakan ibarat dimasukkan ke dalam penjara di jalur neraka. Saya sendiri pernah terjebak kemacetan di jalan tol selama 19 jam di jalan tol Cikampek hingga jalan tol dalam kota Jakarta ketika hendak ke bandara, saya merasakan sendiri betapa menderitanya di dalam bus. Stres, bingung, kesal, lapar, bercampur menjadi satu. Untung saja di dalam bus ada toilet, bagaimana dengan penumpang di dalam mobil lain yang sama sekali tidak ada fasilitas toilet? Bagaiamana dengan penumpang yang membawa bayi dan anak kecil? Tentu rewelnya minta ampun.

Karena itu, berhentilah menyalahkan siapapun. Stop-lah membuat komentar yang menyakitkan para korban dan keluarganya. Mudik lebaran adalah peristiwa setahun sekali. Pemerintah seharusnya sudah mengantisipasi fenomena jutaan orang bepergian dalam waktu libur yang pendek secara serentak. Perencanaan penanganan mudik perlu disiapkan secara matang dan terpadu dengan sejumlah alternatif yang lebih dari satu. Tugas Pemerintah adalah menjamin keselamatan warganya, bukan menyalahkan warganya.

Dipublikasi di Indonesiaku | 5 Komentar

Merdu dan syahdunya suara Muzammil Hasballah

Di awal Ramadhan hingga hari ini masyarakat muslim Indonesia dibuat terpesona dengan video yang berisi lantunan suara Muzammil Hasballah ketika mengimami sholat Maghrib dan Isya di Masjid Al-Lathif Bandung bulan Maret 2016.  Anda mungkin sudah pernah melihat beritanya di TV atau membaca profilnya dari berita daring. Kalau belum tahu, sila klik salah satu videonya di Youtube di bawah ini. Video Muzammil menyebar secara viral di dunia maya.

Muzammil Hasballah dulunya adalah mahasiswa Arsitektur ITB angkatan tahun 2011 yang berasal dari Aceh (sekarang sudah lulus). Suara Muzammil Hasballah ketika melantunkan bacaan sholat terdengar merdu dan syahdu sekali, enak didengar telinga. Suaranya mirip dengan suara Mishari Rasyid, qori asal Kuwait yang terkenal itu.

Kalau video di bawah ini adalah bacaan Surat Ar-Rahman full. Perhatikan pada menit 00.52 ada bayangan sekelabat di belakang jamaah. Jin Islam kah itu? Wallahu alam bissawab.

Saya tidak mengenal mahasiswa ini secara pribadi, juga belum pernah bertemu muka, namun saya pernah menjadi jamaah sholat di Masjid Salman ITB dengan dia sebagai imam sholatnya. Muzammil saya dengar adalah aktivis Masjid Salman ITB semasa kuliahnya. Ketika dia mengimami sholat, bacaan surat Alfatihah dan surat pendek lainnya terdengar sangat indah dan menggetarkan hati. Rasanya tidak akan “bosan” seandainya pun dia membaca surat yang panjang-panjang atau bahkan satu juz dalam sekali sholat. Video di bawah ini adalah ketika dia mengimami sholat Tarawih di Masjid Salman ITB tahun 2014, yaitu dua tahun sebelum video yang paling atas menjadi viral.

 

Dalam pandangan saya Muzammil bagaikan seorang hafidz yang sedang membaca Al-quran dengan indahnya. Mungkin kita perlu menunggu rekaman suaranya dalam format MP3 untuk seluruh surat di dalam Al-quran.:-)

Jarang-jarang ada orang dikaruniai suara indah seperti Muzammil. Sekarang mungkin dia sedang laris diminta untuk mengimami sholat di berbagai masjid. Mungkin pula Muzammil  menjadi calon menantu idaman para orangtua yang memiliki anak gadis:-). Semoga Muzammil tetap rendah hati setelah menjadi seorang yang terkenal, jangan sampai terperosok dalam puja-puji yang dapat membuat riya. Amiin.

Dipublikasi di Agama, Seputar Bandung | 3 Komentar

Berharap banyak pada jembatan layang Antapani

Bagi warga kawasan Antapani Bandung, kemacetan setiap pagi dan sore di Jalan Terusan Jakarta sudah menjadi makanan sehari-hari. Jalan keluar menuju pusat kota Bandung dari Antapani cuma satu, yaitu Jalan Terusan Jakarta itu. Jalan Terusan Jakarta juga menjadi jalan keluar juga bagi warga kawasan tetangganya, yaitu Arcamanik. Jadi, dari dua kawasan pemukiman itu setiap pagi semuanya bermuara ke Jalan Terusan Jakarta. Penyebab kemacetan adalah lampu merah pada persimpangan dengan Jalan Kiaracondong (sekarang Jalan Ibrahim Ajie). Lampu merah ini bergiliran menjadi hijau untuk setiap empat arah jalan di perempatan itu. Jadi, kabayang kan betapa lamanya menunggu lampu merah menjadi hijau, sementara antrian di belakangnya panjaaaang pisan.

FYI, kawasan Antapani di Bandung Timur adalah kawasan pemukiman yang banyak kompleks perumahan. Dulu cuma ada Perumnas di sana, sekarang ada puluhan perumahan baru yang telah menghabisi sawah-sawah di sana sehingga nyaris tidak ada lagi sawah atau tanah kosong yang bersisa. Balong (danau kecil) pun sampai diuruk untuk dijadikan perumahan. Kawasan Antapani menjadi favorit untuk tempat tinggal karena jaraknya sangat dekat dengan pusat kota (cuma lima kilometer ke Gedung Sate). Infrastrukturnya juga sudah mapan. Sekolah, toserba, mal, klinik dokter, pertokoan, universitas, sarana olahraga, sarana ibadah, dan lain-lain sudah tersedia di sana. Maka tak heran harga tanah di Antapani sangat tinggi, begitu juga harga rumah di sana sudah ratusan juta hingga lebih 1 M.

Dengan jumlah perumahan yang terus bertambah, maka dapat dibayangkan semua warga keluar dalam waktu bersamaan pada pagi hari untuk sekolah atau bekerja, sorenya kembali ke rumah pada waktu yang bersamaan pula. Sementara jalan keluar dari kawasan ke pusat kota cuma satu, yaitu Jalan Terusan Jakarta. Ada sih alternatif melalui jalan kecil ke Terminal Cicaheum, tapi tetap saja bertemu kemacetan di sana. Atau, melalui Jalan Sulaksana di samping Borma Supermarket, tapi keluarnya di Jalan Ahmad Yani yang akhirnya bertemu lagi dengan perempatan Jalan Jakarta-Kiaracondong. Sama-sama parahnya kalau pagi hari.

Tapi sukurlah Walikota Bandung saat ini, Ridwan Kamil, memahami kondisi macet parah itu. Solusinya adalah dibangun jembatan layang di atas perempatan itu. Sejak dua minggu lalu pembangunan jembatan layang yang membentang di atas perempatan Jalan Terusan Jakarta-Kiaracondong sudah dimulai.

 

jembatanantapani

Gambar jembatan layang Antapani (Sumber: jabar.tribunnews.com)

Jembatang Layang Antapani Bandung

Sudut lain gabar jembatan layang (Sumber: bandungaktual.com)

Sudah dua minggu ini warga harus menghadapi kemacetan makin parah karena jalan-jalan di sekitar perempatan itu semakin sempit saja akibat pembangunan jembatan layang. Bagian tengah jalan ditutup dan dipagari seng untuk tahap pembangunan konstruksi. Tidak apa-apalah, bersabar selama enam bulan pembangunan, awal Januari 2017 nanti jembatan layang itu sudah selesai.

Jembatan layang Antapani ini akan menjadi role model jembatan layang berikutnya di kota Bandung. Disebut-sebut jembatan layang ini merupakan pertama di Indonesia menggunakan teknologi struktur baja bergelombang dari Korea. Waktu pengerjaannya lebih cepat 50 persen dibanding struktur bertulang, dan biayanya menjadi hemat 60 persen-70 persen. Jadi, jika jika untuk satu buah jembatan dibutuhkan Rp 100 miliar, maka dengan teknologi baja bergelombang ini biayanya hanya 35 milyar (Sumber dari sini).

Mudah-mudahan jembatan layang ini menjadi jawaban atas persoalan kemacetan selama ini. Saya pun bisa ke kampus lebih cepat. Namun seorang kawan berkata, turun dari jembatan layang akan bertemu lagi dengan kemacetan di jalan Jakarta yang menjadi bottleneck dari tiga arah jalan lain dari perempatan itu. Kita akan bertemu lagi dengan kemacetan baru di perempatan Jalan Ahmad Yani-Jalan Supratman-Jalan Jakarta. Tapi tenang, sesudah jembatan layang ini selesai, jembatan layang di perempatan Jalan Ahmad Yani tadi akan dibangun berikutnya. Pak Emil akan membangung banyak jembatan layang di berbagai permpatan jalan yang selalu menjadi titik macet di kota Bandung. Semoga Bandung bebas macet.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 1 Komentar