Ketika Teman Seangkatan di ITB Maju ke Pilkada Kabupaten Sragen

Seorang teman seangkatan saya ketika dulu sama-sama kuliah di Informatika ITB, mencoba karir barunya sebagai politisi. Jaka Sumanta namanya, orang Sragen, Jawa Tengah. Jaka maju ke Pilkada Kabupaten Sragen sebagai calon Bupati Sragen periode yang baru (2016-2021). Jaka dan pasangannya calon wakil bupati, diusung oleh tiga partai yaitu PKB, PAN, dan PPP. Tahun 2015 memang tahun Pilkada, karena Pilkada serentak dilakukan di seluruh Indonesia.

Jaka Sumanta, tengah, berpeci.

Jaka Sumanta, tengah, berpeci.

Alumni ITB yang menjadi walikota, bupati, atau gubernur sudah banyak. Ridwan Kamil misalnya, alumnus Arsitektur ITB angkatan 1990 itu sukses memenangkan Pilkada Kota Bandung dan sekarang menjadi walikota yang populer. Selain itu masih ada Riza Falepi, alumnus Teknik Elektro angkatan 1989, yang menjadi walikota Payakumbuh, Sumatera Barat, dan Indra Catri, alumnus Teknik Planologi ITB angkatan 1983 yang menjadi Bupati Kabupaten Agam, masih di Sumatera Barat.

Nah, jika teman semasa kuliah sendiri yang maju sebagai calon pemimpin daerah, ya baru kali ini. Rasanya saya belum pernah mendengar ada alumni angkatan 1985 ITB yang menjadi bupati/walikota/gubernur.

Kenapa para alumni itu tertarik ikut Pilkada? Alasannya cukup melankolik, yaitu untuk memajukan tanah kelahiran. Jaka Sumanta berasal dari daerah Sragen. Menurutnya, Sragen memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan, terutama dalam sektor pertanian, dan itu semua untuk kemakmuran rakyat Sragen. :-)

Jaka Sumanta di antara pendukungnya di Sragen

Jaka Sumanta di antara pendukungnya di Sragen

Saya dan Jaka Sumanta kuliah di Jurusan Teknik Informatika ITB, kami sama-sama diterima di ITB dari jalur PMDK (jalur undangan). Saya akui Jaka adalah mahasiswa yang sangat cerdas. Materi kuliah di kampus begitu mudah dicernanya, saya banyak belajar dan diajar oleh Jaka, karena saya kadang-kadang agak telmi memahami materi kuliah dasar. Seingat saya dia orang yang relijius, rendah hati, dan suka membantu orang lain.

Bakat kepemimpinan Jaka sudah terlihat sejak kuliah. Menjadi Ketua Angkatan di Informatika, lalu pernah menjadi ketua pertama organisisi GAMAIS, sebuah organisasi mahasiswa muslim ITB yang tetap eksis sampai sekarang (didirikan tahun 1987), dan sekarang menjadi ketua Ikatan Alumni Informatika ITB (IAIF ITB). Hampir semua mahasiswa ITB angkatan 1985 menyegani kewibawaannya.

Sekarang Jaka Sumanta sudah berhasil sebagai seorang wirausaha (enterpreneur) dalam bidang Teknologi Informasi. Secara materi mungkin dia sudah merasa lebih dari cukup. Menjadi bupati tentu bukan untuk mengejar materi lagi. Kini saatnya mengabdi ke tanah kelahiran untuk mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk memajukan kampung halaman.

Jaka Sumanta sedang berorasi di antara pendukungnya.

Jaka Sumanta sedang berorasi di antara pendukungnya.

Sebagai teman seangkatan, tentu saya terpanggil memberi dukungan moril, dan karena saya suka menulis maka yang saya mampu adalah melalui tulisan ini. Teman-teman seangkatan 1985 di ITB juga memberi dukungan penuh. Jaka Sumanta sudah memiliki kendaraan politik untuk mewujudkan idealismenya menjadi pemimpin daerah, mudah-mudahan saja rakyat Kabupaten Sragen memberi dukungan kepadanya. Pada akhirnya, rakyat Sragen juga yang menentukan. Semangat, kawan!

Dipublikasi di Indonesiaku, Seputar Informatika, Seputar ITB | 4 Komentar

Sudah Masuk Sekolah Favorit tetapi kok Tetap Ikut Bimbel?

Sewaktu saya mengambil rapor anak di sekolahnya pada akhir semester yang lalu, beberapa lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) membagikan brosur bimbelnya kepada orangtua yang masuk ke dalam kelas. Sambil menunggu wali kelas datang membagikan rapor, saya baca-baca brosur tadi. Cukup banyak lembarannya. Satu lembaran brosur menarik perhatian saya karena berisi daftar nama-nama siswa yang ikut bimbel lengkap dengana nama sekolahnya. Betapa terkejutnya saya, di dalam daftar tersebut banyak sekali nama siswa dari sekolah negeri favorit (SMP dan SMA) di Bandung. Lembaga bimbel tersebut seperti ingin menegaskan bahwa siswa-siswa bimbelnya adalah anak-anak pintar dari sekolah favorit. Semacam promosi barangkali. Secara etika menampilkan nama-nama siswa serta sekolahnya di brosur jelas melanggar privasi. Tetapi, ya sudahlah, di negeri ini antara privasi dan publik tidak jelas batasnya.

Bukan masalah etika yang saya persoalkan, tetapi saya merasa ada yang salah dengan kondisi ini, khususnya di kota Bandung ini. Anak-anak yang bersekolah di sekolah favorit itu sudah terseleksi secara ketat dari ribuan pendaftar ketika PPDB. Secara umum mereka anak-anak yang cerdas, NEM atau SKHUN mereka tinggi-tinggi. Kalau tidak tinggi, tentu mereka tidak bisa masuk ke sekolah yang disebut masyarakat sebagai sekolah favorit itu. Bersekolah di sekolah favorit memang kebanggaan tersendiri bagi siswa dan orangtua. Iklim belajar yang kompetitif, kualitas siswa, dan daya juang siswa-siswanyalah yang membuat sekolah tersebut unggul. Ketika masuk perguruan tinggi terkemuka seperti ITB, mereka seperti bedol desa saja, banyak banget yang diterima.

Namun, anehnya, setelah masuk sekolah favorit itu, kenapa mereka masih ikut bimbel lagi sepulang sekolah? Tidak cukupkah pelajaran dari guru-guru mereka di sekolah? Kemana rasa percaya diri mereka yang begitu tinggi ketika diterima pertama kali masuk sekolah itu?

Saya tidak anti dengan bimbel (anak saya juga ikut bimbel), tetapi saya merasa ada yang salah dengan sekolah-sekolah itu. Bimbel sebenarnya untuk anak-anak yang lamban menangkap pelajaran, kurang cepat mengerti, dan masih perlu tutor (pengajar bimbel) untuk membuat pelajaran sekolah lebih mudah dipahami. Anak-anak yang pintar sebenarnya tidak membutuhkan bimbel lagi, namun kenapa mereka masih ikut bimbel? Bagi lembaga bimbel, mendapatkan siswa pintar apalagi dari sekolah favorit tentu menguntungkan. Mengajar siswa pintar lebih mudah darpada mengajar siswa yang lamban. Siswa-siswa bimbel yang pintar itu nanti akan mendongkrak nama lembaga bimbel ketika anak-anak itu kelak diterima di sekolah favorit tahap selanjutnya atau diterima di perguruan tinggi terkemuka, yang diklaim sebagai hasil didikan lembaga bimbelnya. Mereka akan memasang iklan dan berpromosi bahwa siswa-siswa bimbel mereka banyak diterima di sekolah favorit atau PTN ternama. Makanya tidak heran, banyak lembaga bimbel yang memberikan diskon harga masuk bagi siswa-siswa yang mendapat ranking di sekolah, supaya mendapat lebih banyak siswa pintar yang akan menaikkan nama bimbel mereka nanti.

Akhirnya saya menemukan jawaban kenapa siswa-siswa dari sekolah favorit itu masih tetap bimbel meskipun nama sekolah mereka sudah menggambarkan keunggulan siswanya. Setelah mendengar cerita beberapa orangtua yang anaknya bersekolah di sekolah favorit di Bandung, akhirnya saya bisa paham. Masuk sekolah favorit bukan berarti guru-gurunya juga bagus mengajar, malah banyak yang pikasebeulen kata orang Sunda (artinya menyebalkan). Orangtua siswa sering mengeluh guru sering tidak masuk kelas. Jika guru tidak masuk, maka kadang-kadang tugasnya digantikan oleh guru piket yang menyuruh membaca bab ini atau mengerjakan bab itu. Siswa sering dilepas belajar sendiri. Untung saja mereka pada dasarnya sudah pintar sehingga tidak ada gurupun mereka masih mampu belajar sendiri.

Di sekolah anak saya yang bukan sekolah favorit, etos kerja gurunya tidak jauh berbeda dengan sekolah favorit tadi. Ada guru yang sering bolos mengajar. Macam-macam saja sebabnya, misalnya menjadi instruktur bagi guru-guru di kota lain, ada rapat di kantor Dinas Pendidikan, atau tugas lain yang intinya membuat siswanya terlantar. Ketidakhadiran guru di kelas sering ditambah lagi dengan rapat-rapat guru di sekolah sehingga kelas kosong. Karena sering tidak masuk kelas, maka beberapa materi pelajaran akhirnya tidak sempat diajarkan. Guru hanya mengatakan kepada siswa untuk mempelajari sendiri bab-bab yang tidak sempat diajarkan di rumah. Untung saja saya masih ingat dengan pelajaran sekolah, sehingga malam hari sepulang dari kampus saya ‘terpaksa’ mengajari anak saya materi pelajaran yang tidak sempat diajarkan gurunya karena sering bolos tersebut. Bagaimana dengan orangtua lain yang tidak mengerti pelajaran anaknya di sekolah, tentu tidak bisa berbuat yang sama seperti saya. Parahnya lagi, tidak ada kordinasi antar guru pelajaran yang sama di kelas paralel lainnya padahal soal ujian sama untuk seluruh kelas paralel, sehingga ketika ujian tengah semester atau ujian akhir kenaikan kelas, banyak soal yang materinya belum diajarkan akhirnya keluar. Tentu saja siswa merasa dirugikan, tapi mau bagaimana lagi, mau protes tidak ada gunanya.

Nah, kembali tentang siswa sekolah favorit tadi. Mungkin karena tidak puas dengan pengajaran guru di sekolah, akhirnya anak-anak itu lari ke bimbel. Selain itu mungkin karena tuntutan untuk meraih NEM tinggi agar dapat diterima di sekolah lanjutan favorit, atau untuk menaikkan nilai rapor agar diterima di PTN jalur undangan (SNMPTN). Guru-guru zaman sekarang merasa enak karena terbantu dengan adanya Bimbel. Mereka tidak perlu repot-repot mengajar muridnya di sekolah, toh nanti anak-anak itu akan belajar materi yang sama di Bimbel. Saya menangkap kesan guru-guru di sekolah favorit merasa “dimanjakan” dengan kondisi siswa-siswanya yang pintar-pintar, sehingga mereka tidak perlu susah-susah mengajar. Bahkan bolos mengajar pun tidak apa-apa, karena toh siswanya bisa belajar sendiri atau ikut bimbel. Hal ini tentu saja jalan pikiran yang keliru, karena siswa tidak mendapat haknya .

Saya melihat banyak sekali perbedaan etos kerja antara guru-guru di sekolah negeri dengan guru-guru sekolah swasta. Saya tahu hal itu karena dulunya anak saya bersekolah di sekolah swasta. Di sekolah swasta, khususnya sekolah swasta yang berkualitas, semuanya sudah sistematis dan terkordinasi dengan rapi. Semua siswa mendapat haknya (pengajaran). Tidak ada guru yang suka bolos mengajar. Semua materi pelajaran tuntas untuk semua kelas, soal ujian sama, bahkan soal latihan pun sama dan tercetak dengan rapi. Hasil-hasil ujian dibagikan secepatnya dan orangtua mendapat laporan prestasi belajar. Sayangnya di sekolah negeri tidak begitu, bagaimana gurunya saja mengajar atau memberi pelajaran. Padahal, dilihat dari sisi kesejahteraan, guru-guru sekolah negeri yang notabene PNS itu lebih sejahtera daripada guru-guru sekoalh swasta, termasuk sekolah swasta yang bagus sekalipun. Gaji guru-guru PNS sekarang cukup besar, mereka juga mendapat tunjangan sertifikasi guru yang bnesaranya satu kali gaji. Namun, sayangnya peningkatan kesejahteraan tidak berbanding lurus dengan kualitas belajar-mengajar.

Mindset masyarakat kitalah yang mengkotak-kotakkan antara sekolah negeri favorit dan sekolah non favorit. Yang membuat sekolah itu menjadi favorit lebih banyak disebabkan oleh kualitas siswanya yang sudah unggul dari sononya. Sementara, kualitas pengajaran dan SDM guru-guru di sekolah itu tidak jauh berbeda dengan sekolah negeri lain yang tidak favorit, sebagaimana yang saya ceritakan di atas. Jadi, karena tidak puas dengan pengajaran guru di sekolah, akhirnya murid-murid itu masih ikut bimbel lagi.

Dipublikasi di Pendidikan, Seputar Bandung | 6 Komentar

Kerepotan Pagi

Awal masuk sekolah dimulai lagi tanggal 27 Juli kemarin, setelah sebulan lamanya libur panjang Ramadhan dan Idul Fitri. Itu artinya rutinitas pagi, yang saya sebut kerepotan pagi, dimulai kembali. Tiga anak saya yang masih sekolah semuanya masuk pukul 7 pagi, tetapi sekolahnya tidak ada yang sama, lokasinya saling berjauhan. Pagi-pagi sekali mereka harus sudah siap usai sholat Shubuh. Jadi, setelah sholat shubuh semuanya antri untuk mandi, sementara saya dan istri menyiapkan sarapan, memasak, dan menyiapkan bekal makan siang yang akan dibawa ke skolah. Istri juga menyiapkan dirinya untuk bekerja ke kantor, sementara anak yang bungsu masih minta disuapi makan. Praktis jam-jam padat dan sibuk di rumah saya adalah jam 5 subuh hingga jam 6.30 pagi. Pak pik puk, inilah rutinitas pagi dari Senin sampai Jumat di rumah kami, lalu Senin sampai Jumat lagi, begitu seterusnya.

Jam 6 pagi anak yang kedua sudah siap saya antar dengan motor ke tempat angkot untuk berangkat ke sekolahnya, kadang-kadang bareng berangkat sama ibunya. Jam 6.15 pagi, giliran si sulung siap dijemput oleh ojek langganan untuk diantar ke sekolahnya yang berjarak 8 km. Setelah itu saya melanjutkan menyuapi si bungsu sarapan, dan jam 6.30 dia sudah siap diantar ke sekolahnya (masih dekat rumah). Jam 7 pagi tinggallah saya sendiri di rumah karena istri dan anak-anak sudah berada di tempat aktivitasnya masing-masing. Jam 9 pembantu harian datang, dan sayapun siap-siap pergi ke kampus.

Kerepotan yang rutin setiap pagi saya nikmati saja dengan senang hati. Suatu masa nanti, setelah mereka sudah besar dan sudah mandiri, saya mungkin tidak bisa menikmati lagi rutinitas ini. Ada masa dimana mereka tidak membutuhkan kerepotan kita lagi, karena mereka sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Mereka sudah dewasa, menikah dan berpisah tempat tinggal dengan kita. Tinggallah orangtua di rumah dibalut rasasepi ditinggalkan anak-anaknya.

Jadi kepada orangtua, ketika anak-anakmu masih kecil, nikmatilah rutinitas mengasuh dan membesarkan mereka dengan kasih sayang. Kasih sayang orangtua itu akan berbekas pada anak-anak kita, mereka tidak akan lupa hal itu, sebagaimana kita selalu terkenang dengan kasih sayang orangtua. Tidak perlu marah-marah karena repot, tidak perlu snewen karena anak lelet atau masih ingin santai. Nikmati saja semua itu sebagai bentuk amal ibadah. Semua kerepotan itu akan dirindukan suatu hari nanti, ketika anda sudah tua.

Dipublikasi di Gado-gado, Pendidikan | Meninggalkan komentar

Radikalisme Ada pada Semua Agama

Kasus pembubaran sholat Ied dan pembakaran kios serta masjid oleh massa Gereja Injili di Indonesia (GIDI) di Tolikara, Papua, semakin menegaskan bahwa radikalisme ada pada hampir semua agama. Biasanya sebutan radikalisme selalu disematkan pada ormas atau kelompok Islam yang oleh media tertentu sering disebut sebagai massa intoleran. Sekarang semakin jelas bahwa radikalisme tidak memandang bulu dan keyakinan. Pada kasus agama Budha, kelompok radikal itu tergambar pada kelompok bhiksu dan massa radikal yang dikoordinir oleh Bhiksu U Wirathu di Myanmar. Mereka mengusir kaum muslim Rohignya, membunuh, dan membakar semua harta bendanya. Sedangkan di India, kelompok radikal Hindu menghancurkan Masjid Babri yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Dewa Rama.

Pembakaran kios dan masjid di Tolikara, Papua, pada saat sholat Iedul Fitri (Sumber gambar: MetroTV news)

Pembakaran kios dan masjid di Tolikara, Papua, pada saat sholat Iedul Fitri (Sumber gambar: MetroTV news)

Ketika suatu agama mayoritas di suatu tempat, maka gejala radikalisme itu lebih mudah tumbuh sebagai bentuk eksistensi untuk mempertahankan eksklusivisme daerahnya sebagai penganut agama mayoritas. Kelompok yang radikal ini merasa “terancam” atau terusik dengan umat agama minoritas yang dianggap berulah atau macam-macam. Mereka melakukan pembatasan dan pelarangan, yang apabila tidak dipatuhi maka penyelesaian akhirnya adalah dengan jalur kekerasan. Apa yang terjadi di beberapa daerah mayoritas Islam di Indonesia, di Myanmar dan di Tolikara adalah adalah contoh nyatanya.

Namun saya yakin kelompok yang ekstrim ini jumlahnya minoritas. Tidak semua umat dalam agama itu setuju dengan kelompok radikal. Mayoritas umat setiap agama itu berada di tengah-tengah, tidak di ujung kiri (ekstrim kiri) atau tidak di ujung kanan (ekstrim kanan). Yang di tengah-tengah itu, yang jumlahnya mayoritas, lebih menginginkan hidup tenang, rukun dan damai, adem tentrem kerta rahardja, beribadah dan bekerja dengan tenang, ketimbang berkonflik yang hanya menghasilkan kebencian dan permusuhan.

Khusus kasus di Tolikara, dari penuturan orang-orang di Papua, mereka menyatakan bahwa tidak ada masalah dalam hubungan umat beragama di Papua. Papua termasuk daerah yang menjadi contoh kerukunan umat beragama, selain Manado yang saya tahu. Tidak pernah ada perang antar agama di Papua, yang ada hanyalah perang antar suku. Jadi, kejadian di Tolikara tidak mencerminkan karakter orang Papua yang pada dasarnya lemah lembut.

Jadi, radikalisme atau ekstrimisme bukanlah ajaran hakiki agama manapun. Tidak ada agama yang mengajarkan ummatnya melakukan kekerasan kepada orang lain yang tidak seagama, kecuali jika anda diserang.

Pada dasarnya orang Indonesia itu bisa hidup rukun damai dengan orang yang berbeda suku dan agama. Lihat saja di daerah-daerah yang multi agama seperti di Sumut, Sulut, NTT, Kalteng, Maluku, dll, mereka damai-damai saja. Mereka sudah berabad-abad hidup dengan keberagaman itu. Kerusuhan berbau SARA muncul ketika ada provokator dari luar yang memanas-manasi. Maluku contohnya.

Boleh saja kita berbeda agama dan keyakinan. Namun yang sering kita lupakan adalah bahwa kita ini masih satu bangsa dan satu tanah air, sama-sama hidup di Indonesia, sama-sama warga negara Indonesia.

Dipublikasi di Agama | 2 Komentar

Rindu Siaran Radio Kampung Halaman dengan “RRI Play”

Jika datang kerinduan mendengar siaran radio dalam bahasa daerah dari kampung halaman, maka saat ini kerinduan itu bukan hal yang sulit lagi. Tidak perlu pulang kampung untuk mendengarkan siaran radio berbahasa daerah, cukup dari genggaman tangan anda dengan menggunakan smartphone, maka kerinduan itu akan terbalaskan. Siaran radio streaming dari RRI stasiun daerah dapat anda nikmati sambil tiduran, berkendara, atau leyeh-leyeh di rumah. Asalkan ada koneksi Internet, maka anda dapat mendengarkan radio streaming dari belahan bumi mana saja.

RRI PlayCaranya mudah. Carilah aplikasi RRI Play seperti logo di samping kanan dari Play Store/Apple Store di smartphone anda, lalu unduh ke ponsel anda. RRI Play adalah aplikasi android yang disediakan di dalam Google Play. Aplikasi RRI Play tidak berbayar alias gratis, jadi anda tidak dikenakan biaya untuk mengunduhnya, kecuali biaya internet selama pengunduhan.

Screenshot_2015-06-15-19-58-13Setelah diunduh, jalankan aplikasi RRI Play ini. RRI punya kanal Pro 1, Pro 2, Pro 3, dan Pro 4 dari stasiun RRI berbagai kota mulai dari Aceh sampai Papua. Untuk siaran radio dalam bahasa daerah, pilih Pro 4.

Misalkan saya ini sebagai perantau Minang ingin mendengarkan siaran berbahasa Minang, maka pilih Pro 4, lalu pilih pilih RRI Padang, maka siaran radio berbahasa Minang dari RRI Padang Pro 4 dapat saya nikmati. Saya dapat mendengarkan lagu-lagu Minang, request lagu, berita kampung halaman, celoteh dalam Bahasa Minang, beriyta dari kampung halaman, dan lain-lain yang disiarkan oleh penyiar dari RRI Padang. Rasanya saya sedang berada di kampung sendiri:-). Dengan kecepatan 32 kbps, siaran RRI statsiun daerah ini dapat dinikmati secara live dan realtime. Pulsa internet yang terpakai pun tidak terlalu besar untuk streaming selama satu jam.

Screenshot_2015-06-15-19-58-40Ada banyak stasiun RRI daerah Pro 4 yang dapat dimainkan dari RRI Play. Saat ini ada RRI Ambon, RRI Bandung, RRI Banjarmasin, RRI Cirebon, RRI Denpasar, RRI Jakarta, RRI Jambi, RRI Jayapura, RRI Kupang, RRI Malang, RRI Manado, RRI Manokwari, RRI Medan, RRI Padang, RRI Palembang, RRI Palu, RRI Pekanbaru, RRI Semarang, RRI Samarinda, RRI Surabaya, RRI Yogyakarta. Untuk RRI Pro 1, selain stasiun radio yang disebutkan di atas, masih ada RRI Bukittinggi, RRI Fak Fak, RRI Gunung Sitoli, RR Ende, RRI Biak, RRI Bengkulu, RRI Banten, RRI Bogor, RRI jember, RRI Kendari, RRI Madiun, dan masih banyak lagi. Itu belum termasuk RRI Pro 2 dan Pro 3. RRI Play juga mempunyai kanal lagu-lagu jazz, kanal lagu klaisk, kanal lagu keroncong, dan siaran perbatasan.

Screenshot_2015-06-15-19-59-22Radio adalah media yang lebih akrab dan lebih intm ketimbang televisi. Kita dapat mendengarkannya sambil belajar, sambil membaca buku, sambil mengetik di depan komputer, sambil mengemudi, atau sambil tidur-tiduran tanpa harus membuat mata lelah seperti menonton TV. Rasanya kerinduan pada kampung halaman terbayarkan, apalagi jika anda tidak mudik ke kampung pada lebaran tahun ini. Terima kasih RRI Play, semoga RRI tetap jaya, sekali di udara tetap di udara.

Dipublikasi di Cerita Minang di Rantau, Gado-gado | 3 Komentar

Anak Yatim Berhak Menerima Zakat?

Seorang rekan senior bertanya kepada saya, apakah saya mudik pada lebaran tahun ini? Tidak, jawab saya, karena saya sudah tidak punya orang tua lagi di kampung halaman. Wah, kalau begitu anda yatim piatu dong, katanya. Anda berhak menerima zakat tuh, katanya setengah bercanda.

Ha..ha, jelas tidak. Setahu saya anak yatim bukanlah salah satu dari delapan asnaf (orang yang berhak menerima zakat). Dari pelajaran agama yang saya ketahui ada delapan golongan asnaf, yaitu fakir (orang yang tidak memiliki harta), miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi), riqab (hamba sahaya atau budak), gharim (orang yang memiliki banyak hutang), mualaf (orang yang baru masuk Islam), fisabilillah (pejuang di jalan Allah), ibnu sabil (musyafir dan para pelajar perantauan), dan amil zakat (panitia penerima dan pengelola dana zakat) (sumber: Inilah 8 Golongan Orang Yang Berhak Menerima Zakat)

Karena anak yatim bukan salah satu dari delapan asnaf, maka mereka tidak berhak menerima zakat, sebab anak yatim berada di bawah tanggungan orang yang berzakat (keluarganya atau famili dekat/jauh). Saya pernah membaca jawaban Pak K.H Miftah Farid (ulama tawadhu dari Bandung) tentang pertanyaan apakah anak yatim boleh menerima zakat. Jawaban Pak Miftah, kalau memberi zakat karena keyatimannya jelas tidak boleh. Namun kalau memberi zakat kepada anak yatim karena kemiskinannya, maka itu boleh.

Nah, kalau alasannya karena anak yatim itu miskin, saya sepakat (atau bisa diperluas jika ia banyak utang, fisabilillah, ibnu sabil, dst). Soalnya, anak yatim belum tentu semuanya miskin lho. Banyak juga anak yatim dari keluarga berada, mereka yang menjadi yatim karena ditinggal ayah/bundanya, namun memiliki warisan yang lumayan untuk bekal hidupnya. Saya ini sekarang anak yatim piatu, namun saya punya penghasilan memadai dan orangtua kami meninggalkan warisan yang cukuplah buat kami para anaknya, jadi saya merasa bukan salah satu dari delapan asnaf.

Yang menyedihkan, banyak lembaga sosial yang mengatasnamakan anak yatim memasang spanduk menerima zakat dan shadaqah. Jika tidak hati-hati, bisa salah paham dengan menganggap anak yatim berhak menerima zakat karena keyatimannya itu. Petugas penerima shadaqah/zakat di suatau lembaga amil zakat yang mengatasnamakan anak yatim pernah saya tanya tentang hal ini, tapi tampaknya dia tidak mengerti dengan mengatakan bahwa anak yatim kan boleh menerima zakat.

Tentu saja boleh, namun sekali jangan salah niat memberi zakat karena faktor keyatimannya, namun karena kemiskinannya. Karena kemiskinannya itu maka ia tidak mampu membayar biaya sekolah, misalnya. Supaya tidak salah paham, biasanya ketika saya memberi uang kepada anak yatim atau lembaga amal yatim, maka saya meniatkannya bukan atas nama zakat, tetapi atas nama sadaqah. Nah, kalau sadaqah bisa buat siapa saja, termasuk anak yatim.

Masalah ini menurut saya sama dengan pertanyaan apakah masjid boleh menerima zakat? Coba perhatikan, banyak Panitia Pembangunan Masjid memasang spanduk di jalanan bahwa masjidnya menerima titipan zakat, infaq, dan sadaqah untuk menyelesaikan pembangunan masjid. Karena masjid bukan manusia, maka masjid tidak termasuk salah satu dari delapan asnaf. Mungkin yang lebih tepat adalah memberikan sumbangan ke masjid atas nama waqaf, lebih tepatnya waqaf pembangunan masjid.

Dipublikasi di Agama | 3 Komentar

Perilaku LGBT Sudah Mewabah pada Anak-anak Muda Indonesia

Ini masih seputar berita pernikahan sesama jenis yang sedang hangat di dunia. Membaca postingan Ummi Yana di Facebook tentang grup gay di Jombang, membuat saya bergidik. Ngerii… naudzubillah min zalik, ternyata kehidupan gay dan lesbian sudah mewabah pada generasi muda di negara kita. Sudah mulai menular sejak anak-anak SMP/SMA. Ini baru di Jombang lho, sebuah kabupaten kecil di Jatim. Bagaimana dengan kota/kabupaten lain di Indonesia?

Fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Trasgender) di Indonesia ini bagaikan gunung es, yang terlihat baru puncaknya saja, tetapi yang belum terungkap justru lebih besar dan mengerikan. Mungkin yang akan kita temukan di Internet lebih dari cerita Ummi Yana tersebut.

Sebelum media sosial dan jejaring sosial ada, perilaku LGBT anak-anak muda ini mungkin sudah lama ada, tapi saya yakin tidak sebanyak sekarang. Sekarang saja menjadi lebih ramai karena peran media tersebut. Namun, media sosial pula yang ikut menyebarkan wabah LGBT ini. Mereka eksis di media sosial karena di dunia nyata mereka merasa dikekang, tidak leluasa berpacaran, tidak dapat berkomitmen secara formal, dan posesif terhadap pasangan.

Analisis saya, mungkin perilaku gay/lesbian itu subur karena kalau melakukan hubungan intim dengan sesama jenis tidak beresiko hamil. Beda kalau pacaran lain jenis sampai hubungan intim, bisa berabe. Anak-anak muda itu lagi tinggi-tingginya dorongan syahwatnya, maka penyalurannya adalah sesama jenis supaya tidak hamil.

Aduh, semakin berat saja mendidik anak pada zaman sekarang. Harus sejak dini pendidikan agama ditanamkan kepada anak. Tidak cukup itu saja, orangtua harus selalu mengawasi dan memantau pergaulan anaknya. Anak kita mungkin manis di depan kita, tidak tahunya mereka sudah terperosok ke perbuatan dosa besar. Mari kita jaga pergaulan anak-anak kita dari virus LGBT yang mengerikan ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sumber: Celotehan Ummi Yana

Sebenarnya, aku udh azzam pada diri sendiri ga mau ngomongin soal LGBT dulu selama ramadhan..

Fokus ibadah.. Dan aksi #RombongSedekah

Tapi keisenganku bberapa waktu lalu untuk masuk ke ‘Grup Gay Jombang’ Facebook, berbuah mual, muntah, dan keringat dingin..

Dan aku harus membaginya..

Seenggaknya, biar anda-anda para ibu, ayah, orangtua, yg merasa, perkembangan LGBT ini bukan sesuatu yg patut ditakutkan, sedikit bs lebih melek! ..

Buuuu..
Pakkkk..

Peluk erat anak-anak kita..
Dekati..
Fahami..
Doakan..

**

Grup ini, hanya 1 dari puluhan Grup para gay yg eksis di FB.
Itu baru yg keyword “gay jombang” ,
blum lg grup LGBT dengan nama-nama sandi,
seperti Pelangi, Rainbow, Warna-warni, dll..
Dan..
Itu baru di Jombang..
Baru di Jombang.. Sebuah kabupaten kecil !

*

Jangan dikira lolos ke grup tertutup ini mudah..
Butuh bbrpa hari..
Aku harus membuat account dgn nama alay, dan foto cowok alay yg lg selfie.. Agar meyakinkan sbg seorang Gay..
#ingat ya, cowok klo suka selfie dgn pose alay itu termasuk kategori terlalu gay
tongue emotikon

Aku jg melampirkan nomer telpon yg aktif, agar dipercaya..

**

Butuh sepekan lebih baru aku diijinkan masuk.
Dan setelah masuk..
Aku seperti berada di neraka..
frown emotikon

Foto-foto kelamin pria beredar dimana-mana..
Sebagian mereka masih remaja.. Bahkan ada yg masih SMP.
Cari pasangan untuk seks bebas dan bersenang-senang, Jauh lebih mudah dari menjual makanan di Grup Kuliner Jombang.

Tinggal tulis usia, peran, dan ketertarikan seksual (cari yg tua, muda, putih, sawo matang, dll),
dan tinggalkan nomor telpon, WA, BBM..

Semua tawaran dan ajakan maksiat akan muncul di komentar..
Gayung bersambut..

**

” Tantangan untuk menyembuhkan anak-anak kita yg punya kecenderungan LGBT akan semakin berat jika mereka sudah memasuki fase telah berhubungan badan.. Mereka akan terjebak kenikmatan yg mengandung candu ”

Kurang lebih begitu kak Egi, penulis buku @anakku bertanya tentag LGBT menyebut bahayanya fase ini.
Dan para member di grup ini, sudah jelas masuk dlm fase ini.

*

Tak segan2 jika ada yg dikecewakan, member meng-upload sebuah foto cowok, sambil berkomentar :
” Ada yg pernah ML dgn ini gag? “.
Dan puluhan komen muncul.

Bukti, bahwa Tak hanya seks bebas,
prostitusi gay,
tukar pasangan

Jd hal yg umum banget di grup ini..

*

Ahhh, sudahlah..
Tulisan ini cuma pengen buat ente2 yg suka ngenyek aku, bangun!
Aku ga lebay..
Ini beneran terjadi.. Dekatttt dengan kita..
Ga usah ikut2an iseng kaya aku, bikin account palsu..
Nanti muntah..

**

Tulisan selanjutnya baru kita bahas lagi “harus apa” dan “gimana” yaaa

Salam,
Yana Nurliana

Menulis bukan nakut-nakutin,
Tapi membuka mata biar melek

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku, Pendidikan | 18 Komentar