Puasa itu Untuk Allah

Puasa (wajib atau sunnah) adalah ibadah yang unik dan eksklusif karena tidak mengandung unsur riya (ingin dilihat/dipuji). Ini sangat berbeda dengan ibadah lainnya seperti sholat, sodaqah/zakat, atau haji yang terang benderang diketahui orang lain. Jika anda sholat, orang lain bisa melihatnya. Jika anda pergi haji, orang sekampung tahu. Jika anda berzakat, maka petugas zakat atau penerima zakat tahu. Jika anda bersadaqah kepada anak yatim, maka orang lain akan tahu, apalagi jika anda membawa wartawan untuk meliput aksi amal anda.

Nah, kalau anda puasa, hanya diri anda dan Tuhan yang tahu. Tiada orang lain yang tahu anda sedang berpuasa atau bukan. Anda bisa saja diam-diam meminum air ketika berwudhu, tidak ada yang tahu. Anda bisa saja diam-diam makan di kamar tertutup tanpa ada orang lain yang tahu. Kalaupun ada orang yang melihat anda makan, mereka mungkin tidak tahu apakah anda makan karena membatalkan puasa atau memang tidak berpuasa.

Karena unik dan eksklusifnya, maka perlakuan Allah SWT terhadap puasa itu berbeda.

Allah SWT berfirman : ”Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya.” Hadis lengkapnya adalah sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda, ‘Setiap amalan kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah SWT berfirman, ‘Kecuali, amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. (HR Bukhari dan Muslim)

Nah, karena istimewanya ibadah puasa itu, maka janganlah menyia-nyiakan hak eksklusif Allah SWT tersebut. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

Dipublikasi di Agama, Renunganku | Tinggalkan komentar

Sales Kartu Kredit yang Ulet

Saya seringkali menerima telepon dari sales kartu kredit bank. Kadang-kadang mereka menelpon langsung ke ponsel saya, kadang-kadang menelpon via nomor kantor. Dua bank yang sangat agresif menawarkan kartu kredit tersebut adalah Bank Mand*r* dan Bank B*I, sekali-kali ada juga dari Bank Nia*a. Darimana mereka dapat nomor telepon saya, itu bukan hal mengherankan saat ini. Banyak cara bagi pihak bank untuk mendapatkan nomor telepon pelanggan. Data pribadi kita seperti nama, alamat dan nomor telepon memang ‘berserakan’ di mana-mana, jadi tidak usah heran lagi kalau tiba-tiba saja dapat surat atau telepon dari instansi lain yang menawarkan produk atau jasa.

Kembali ke cerita sales kartu kredit tersebut. Setiap kali saya menerima telepon mereka, saya sudah dapat menduga bahwa mereka menawarkan kartu kredit. Suaranya manis (umumnya wanita), kalimat-kalimatnya seperti sudah dihafal sehingga terdengar kaku. Tanpa banyak lika-liku, mereka langsung ke inti persoalan yaitu menawarkan kartu kredit dari banknya.

Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik memiliki kartu kredit. Kartu kredit satu-satunya yang saya miliki adalah kartu kredit gratis (tanpa biaya administrasi seumur hidup) dari Bank Mand*r*, yang saya miliki karena ditawarkan dari koperasi kampus. Tapi, sesungguhnya kartu kredit tersebut sangat jarang saya pakai. Hanya satu kali saya gunakan ketika memesan hotel untuk liburan. Itu saja, dan sesudah itu tidak pernah lagi sampai sekarang. Pada dasarnya saya tidak suka berutang, saya lebih suka bertransaksi tunai. Membayar transaksi dengan kartu kredit artinya kita ngutang dulu ke bank, bank yang menalangi peembayaran transaksi kita ke pihak merchant, nanti barulah kita membayar tagihan tersebut ke bank sebelum jatuh tempo.

Kadang-kadang saya iseng melihat orang membuka dompet ketika melakukan pembayaran di kasir supermarket. Di dalam dompetnya terlihat banyak sekali kartu kredit dari berbagai bank. Wah, kaya sekali orang itu, punya banyak kartu, he..he… Saya saja satu biji nggak terpakai. Nah, ini ada sales kartu kredit yang tidak henti-hentinya menawarkan kartu kredit. Setiap kali saya tolak, maaf saya tidak tertarik, dia masih belum mau menyerah. Masih saja mencoba untuk meyakinkan saya tentang perlunya memiliki kartu kredit dari banknya, dengan aneka diskon, keunggulan, dan lain-lain.

Sebagian orang langsung menutup telpon ketika dirinya ditelpon sales kartu kredit. Atau, ada juga orang yang meletakkan teleponnya di atas meja membiarkan sales itu ngomong sendiri dan akhirnya berhenti sendiri karena tidak ditanggapi. Halo…halo…. (tutup).

Kasihan juga kalau dipikir-pikir jika orang diperlakukan seperti itu, padahal mereka sedang mencari nafkah juga, sama seperti kita. Saya yakin sales tersebut bukanlah pegawai tetap bank, mereka mungkin tenaga outsourcing yang gajinya dibawah UMR. Tiap hari kerjanya duduk di depan telepon menawarkan aneka produk bank seperti kartu, asuransi, dan sebagainya. Mereka mendapat tambahan gaji yang diperoleh dari komisi bila berhasil mendapat nasabah baru. Jadi, tidak heran mereka begitu ulet menawarkan kartu-kartu itu kepada nasabah.

Terus terang saya kagum dengan orang yang bekerja sebagai sales apapun, termasuk sales kartu kredit. Mereka adalah pekerja keras yang tahan banting. Itu sisi positifnya. Mereka harus tebal muka, harus membuang rasa malu, atau menahan perasaan jika dibentak atau diacuhkan oleh calon nasabah.

Meskipun sering terganggu dengan sales-sales kartu kredit itu, sebaiknya kita tidak perlu bersikap apriori, apalagi membanting telepon dengan keras, membiarkannya ngomong sendiri, dan sebagainya. Katakan saja permohonan maaf bahwa anda sedang ada rapat, sedang ada pekerjaan yang tidak bisa diganggu, atau belum tertarik memiliki kartu itu, sambil mengucapkan terima kasih telah dihubungi. Saya pribadi masih melayani telepon dari sales kartu kredit, namun meminta maaf tidak tertarik untuk saat ini. Saya rasa itu sudah cukup tanpa membuatnya korban perasaan.

Dipublikasi di Gado-gado | 3 Komentar

Menghormati Orang yang (Tidak) Berpuasa

Dua hari lagi bulan Ramadhan kan menjelang’. Umat Islam akan memulai shaum (puasa) Ramadhan selama satu bulan penuh. Jauh-jauh hari tanda-tanda datangnya bulan Ramadhan itu sudah dirasakan orang Indonesia. Lihat saja di TV, jika iklan sirup Marjan sudah muncul, itu pertanda bulan puasa akan segera tiba. He..he, piss, bercanda.

Selama satu bulan orang Islam yang mengimani kewajiban puasa akan berpantang makan dan minum pada siang hari. Suasana bulan Ramahan di Indonesia sangat kental terasa. Salah satunya dengan mengamati banyak warung makan dan restoran yang tutup pada siang hari. Jika pun tidak tutup, mereka masih buka namun dengan menutup jendela kacanya dengan kain gorden atau tabir lain sehingga orang yang makan di dalamnya tidak terlihat dari luar. Itu cara mereka menghormati orang yang berpuasa meskipun orang Islam tidak pernah meminta harus begitu. Semuanya merupakan kesadaran sendiri saja, dan hal ini sudah berlangsung lama sejak dulu tanpa perlu dikomando atau diajarkan.

Namun kesadaran seperti itu tiba-tiba saja sedikit ‘terusik’ ketika Menteri Agama membuat kicauan di Twitter yang meminta kita menghormati orang yang tidak berpuasa dengan cara tidak perlu memaksa warung-warung makan tutup. Baca ini: Menteri Agama: Hormati yang Tak Puasa, Warung Makan Boleh Buka Siang Hari Selama Ramadan.

Kicauan Menteri itu sekilas tujuannya terdengar baik, namun menurut saya lebay atau berlebihan. Sekelas Menteri Agama tidak perlu membuat pernyataan seperti itu. Orang yang berpuasa tidak pernah meminta dirinya dihormati karena ia sedang berpuasa, begitu pula orang tidak berpuasa tidak pernah minta dirinya dihormati. Itu adalah sikap yang berlebihan.

Diminta atau tidak, orang-orang yang tidak berpuasa pun punya rasa tahu diri dengan tidak mengumbar makan dan minum di dekat orang yang berpuasa. Kalau pun mau makan, mereka sering meminta maaf (yang sebenarnya juga tidak perlu) karena tidak puasa. Kita juga harus ingat bahwa orang yang tidak berpuasa tidak hanya non-muslim, tetapi juga perempuan muslim yang sedang haid, musafir, orang sakit, dan sebagainya.

Salah satu ujian puasa adalah menahan godaan makan dan minum. Anggap saja melihat orang yang makan dan minum itu sebagai godaan iman. Orang yang sedang berpuasa sedang diuji keimanannya. Semakin kuat iman, semakin besar godaannya. Orang yang lulus ujian adalah orang yang bisa menahan diri tidak tergoda hingga waktu berbuka tiba. Godaan seperti ini biasa Anda jumpai ketika anda sedang berpuasa sunnah (misalnya puasa Senin-Kamis) di luar bulan Ramahan. Orang-orang di sekeliling anda makan dan minum, misalnya ada acara makan-makan di kantor, tetapi anda tetap kuat menahan diri untuk menuntaskan puasa sampai waktu Maghrib datang. Ketika waktu berbuka tiba, hati anda pun plong karena dapat mengalahkan godaan untuk membatalkan puasa pada siang tadi. Nikmat, sekali bukan? Maka, begitu pulalah sikap kita selama bulan Ramadhan. Kita tidak meminta orang lain untuk tidak makan dan minum di dekat kita. Kita tidak minta dihormati.

Jika meminta penghormatan kepada orang yang seang berpuasa adalah sikap berlebihan, maka bagaimana dikatakan tidak berlebihan pula kalau anda diminta menghormati orang yang tidak berpuasa dengan tidak memaksa tutup warung-warung makan. Toh orang-orang yang tidak berpuasa sudah dihormati sejak dulu, mereka tidak pernah dilarang makan dan minum pada siang hari. Restoran dan rumah makan tidak pernah dilarang buka pada siang hari. Yang terjadi adalah saling memaklumi seperti yang saya ceritakan di atas.

Jadi, minta dihormati karena berpuasa itu aneh, dan minta menghormati orang yang tidak berpuasa lebih aneh lagi. Pernyataan Menteri Agama itu seolah-olah menganggap orang yang berpuasa (baca: orang Islam) sebagai ‘tertuduh’. Saya khawatir pernyataan Menag dapat berkembang ke arah yang lebih liar. Salah satu posting liar yang ramai di jejaring sosial adalah tantangan kepada Menteri Agama untuk membuat pernyataan menjelang hari besar agama lain, misalnya menyatakan jangan memaksa tutup bandara di Bali pada hari raya Nyepi, hormati orang yang tidak merayakan Nyepi. Jika ini yang terjadi, maka akan timbul kegaduhan antar umat beragama akibat pernyataan yang membuat resah. Tentu kita tidak ingin seperti itu, bukan?

Orang Indonesia pada dasarnya punya rasa toleransi atau tenggang rasa kepada pihak lain yang tidak sepaham tanpa perlu harus ditegaskan secara eksplisit. Saling menghormati dan saling memaklumi.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | 8 Komentar

Oh, Angeline, Nasibmu yang Pilu

Setiap kali saya mendengar atau membaca berita pembunuhan anak-anak oleh orang dewasa, apalagi dilakukan dengan cara yang sadis dan keji, hati saya selalu berguncang perih. Bagaimana tidak, anak kecil yang tidak berdosa, yang sedang berada dalam masa-masa cerianya, kehidupannya harus direnggut oleh aksi keji orang terdekatnya yang seharusnya melindunginya.

Bagaimana saya tidak menangis membaca berita pilu seperti nasib Angeline, seorang anak perempuan di Bali yang berusia delapan tahun (kelas II SD). Anak perempuan yang cantik, tampak ceria, dan sedang menikmati masa kanak-kanaknya yang indah. Tiba-tiba dia mati secara tragis.

Angeline, bocah perempuan yang cantik, harus mengalami nasib tragis dibunuh secara keji.

Angeline, bocah perempuan yang cantik, harus mengalami nasib tragis dibunuh secara keji.

Semula dia dinyatakan hilang di halaman rumah orangtua angkatnya pada tanggal 16 Mei 2015. Sebulan kemudian (beberapa hari yang lalu) dia telah ditemukan menjadi mayat. Jasadnya dikubur oleh pembunuhnya di dekat kandang ayam. Yang membuat hati menjadi tambah pilu, jasad Angeline ditemukan sedang memeluk boneka kesayangannya. Di tubuhnya terlihat tanda-tanda kekerasan dan sundutan api rokok. Sampai tulisan ini saya tulis, polisi telah menetapkan tersangka pembunuh Angeline adalah pembantu rumah laki-laki yang baru bekerja sebulan di rumah itu. Pembantu itu mengaku dia juga memperkosa Angeline! Astaghfirullah.

Yang lebih menyedihkan, Angeline adalah anak angkat. Dia diadopsi ketika berusia tiga hari oleh seorang perempuan kaya. Ibu kandungnya tidak mampu membayar biaya persalinan sebesar Rp800.000. Biaya itu ditebus oleh perempuan kaya yang bernama Margriet. Sejak saat itu Angeline terpisah dari ibu kandungnya yang tidak pernah melihatnya lagi. Namun pada usia 8 tahun dia harus mati di rumah ibu angkatnya karena dibunuh secara keji. Sebelum dia hilang, Angeline sering dilaporkan oleh tetangga maupun gurunya sering terlihat berwajah murung dan tubuhnya sering bau kotoran ayam. Apakah ibu angkatnya juga terlibat dalam pembunuhan ini, wallahu alam (baca: Sedang Menggambar, Angeline Dipanggil Margaret Lalu Diduga Dibunuh). Biarlah polisi yang mengusut dan menuntaskan kasus yang mengusik hati nurani bangsa ini.

Membaca berita-berita pembunuhan Angeline saya benar-benar tidak tahan. Tiada dapat saya menahan hati yang pilu kala mambayangkan dia dibunuh dengan keji. Teringat anak saya yang juga seusia Angeline (8 tahun) saat ini. Usia seperti itu adalah masa-masa bermain yang penuh kegembiraan bagi seorang anak. Masa bermanja-manja dengan oangtuanya, pergi dan pulang sekolah setiap hari, berlari-larian di halaman sekolah bersama teman-temannya.

Sekarang Angeline mungkin sedang berlari-lari di taman surga. Dia sudah kembali ke Pencipta-Nya. Di taman surga tidak ada kekerasan, yang ada hanyalah kasih sayang Allah SWT. Dunia ini terlalu kejam bagi Angeline.

Dipublikasi di Indonesiaku | 5 Komentar

Warna-warni Kesenian Minangkabau di Gedung Sabuga ITB

(Tulisan ini sebenarnya agak terlambat di-posting, karena kejadiannya sebulan yang lalu. Meskipun demikian, masih tetap gres saya tulis di sini)

Setiap tahun, menjelang Ujian Akhir Semester, mahasiswa-mahasiswa ITB yang tergabung di dalam Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB mengadakan malam pagelaran kesenian budaya Minangkabau di dalam kampus. Tempatnya di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB. Penontonnya tidak hanya para mahasiswa di dalam kampus, tetapi juga datang dari mahasiswa lainnya di kota Bandung, khususnya mahasiswa asal Sumbar, dan tentu saja para perantau Minang yang berada dia kawasan Bandung Raya. Bagi perantau Minang di Bandung, acara UKM-ITB ini adalah yang selalu ditunggu-tunggu. Hal ini tampak dari membludaknya penonton, ditandai dari antrean panjang calon penonton di pintu Sabuga dengan memperlihatkan kode pesanan tiketnya yang dipesan secara daring di Internet. Zaman sekarang menjual tiket tidak perlu berupa kertas lagi, tetapi cukup via internet seperti kita membeli tiket pesawat. Tidak hanya itu, jika anda tidak hadir di Sabuga malam itu, pertunjukan pun dapat dilihat dari seluruh dunia karena disiarkan secara live streaming melalui Internet.

Saya datang pada malam itu guna memenuhi undangan para mahasiswa Minang ITB yang saya cintai. Bandung malam itu sangat ramai dan meriah, karena baru saja usai ‘pesta’ perayaaan Konferensi Asia Afrika ke-60. Kawasan Jalan Dago dan sekitarnya macet total, karena beberapa jalan ditutup akibat adanya pertunjukan musik dan karnaval. Jadi, malam pagelaran kesenian Minang dari UKM-ITB itu bolehlah dianggap sebagai ‘ikut meramaikan’ perayaan KAA. Ketika ada seorang rekan bertanya kepada saya, apakah malam keseninan Minang di Sabuga itu dalam rangka KAA? Iya, jawab saya sekenanya sambil tersenyum. Dengan sepeda motor yang tersendat-sendat di sela kemacetan patrah Jalan Tamansari, akhirnya saya sampai juga di Gedung Sabuga.

Asesori-asesori hiasan Minangkabau sudah menyambut tamu menuju pintu Sabuga. Sepasang anak daro-marapulai (pengantin muda-muda Minang) menyambut penonton dengan ramah. Saya menyempatkan berfoto dulu bersama teman saya, seorang alumni ITB yang pernah menjadi Dirut beberapa BUMN semasa Menteri Dahkan Iskan dulu. Sambutan muda-mudi dalam balutan busana tradisionil Minangkabau bagaikan pengkondisian bahwa anda sekarang memasuki kawasan budaya Minang.

Sepasang muda-mudi Minang menyambut penonton masuk ke dalam sabuga.

Sepasang muda-mudi Minang menyambut penonton masuk ke dalam sabuga.

Jadwal pertunjukan ternyata ngaret dari yang diagendakan. Acara dimulai dengan pembacaan tilawah Al-Quran. Sebagai orang Minang yang taat pada agama dan dengan filosofi adat yang bersendikan pada ajaran agama (Islam), tradisi pembukaan acara dengan membaca kitab Suci Al-Quran sangat jarang kita temukan pada pertunjukan kesinian manapun. Hanya di UKM-ITB itu ada. Tradisi ini sangat baik dan perlu dilestarikan pada setiap pertunjukan dari UKM-ITB.

Setelah beberapa kata sambutan dari beberapa orang, dua orang pembawa acara mulai berceloteh panjang lebar dalam Bahasa Minang yang memancing gelak tawa. Saya mencatat celotehan ini setidaknya memakan waktu hampir satu jam, waktu yang terlalu lama untuk pembawa acara yang tampak terlampau semangat bergurau di atas panggung, lupa bahwa the main course bukanlah lawakan mereka, tetapi atraksi kesenian yang ditunggu-tunggu penonton. Tidak heran jika pertunjukan berakhir sampai hampir tengah malam (23.30 WIB). Ups…, saya sudah membicarakan waktu akhir, padahal tulisan ini baru saja dimulai.

Latar belakang panggung dengan rumah bagonjong dan tampilan video mapping.

Latar belakang panggung dengan rumah bagonjong dan tampilan video mapping.

Pertunjukan kesenian Minang pada malam itu mengambil setting cerita drama tahun 2040 (wah!). Dikisahkan tentang keluarga perantau Minang di Jakarta mempunyai anak lelaki yang akan diplot menjadi datuk di kampung halaman. Namun persoalannya, di kampungnya juga ada calon datuk lain yang digadang-gadang oleh keluarganya. Persaingan menjadi datuk pun terjadi dengan aneka intrik dan taktik. Di sela-sela kisah drama itu ditampilkan aneka tarian, randai, dendang, musik, dan lagu.

Salah satu adegan drama. Video mapping di latar belakang menambah rancak suasana.

Salah satu adegan drama. Video mapping di latar belakang menambah rancak suasana.

Sejatinya penonton tidak terlalu mementingkan jalan cerita drama yang mudah ditebak dan mengandung pesan-pesan yang mungkin terkesan klise saat ini, yaitu lestarikan adat dan budaya Minang. Pada setiap pertunjukan kesenian Minang di manapun, yang menjadi andalan adalah tari, musik, dan lagu. Kisah drama bolehlah dianggap sebagai pemanis belaka, celoteh bagarah-garah (lawakan) yang memancing tawa bolehlah untuk menghidupkan suasana supaya tidak garing, namun gerak tari dan lagu dengan iringan musik tradisionil itulah yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh penonton di manapun. Jiwa dari kesenian minang adalah musik, tarian (termasuk randai), dan lagu. Jadi, jiwa inilah yang harus mendapat perhatian besar bagi produser acara kesenian Minang di manapun, termasuk para mahasiswa ITB itu.

Tim musik talempong

Tim musik talempong

Gerak tari sungguh rancak dipandang mata, suara musik dan lagu memanjakan telinga. Padu padan tarian dan musik lebih baik dari tahun sebelumnya. Lho, kok tahu? Lha iya, saya selalu menonton acara ini setiap tahun :-). Hanya sayangnya, seperti kata saya dulu, tarian yang dibawakan tidak pernah berubah, selalu yang itu-itu saja. Hanya personilnya yang berganti, sedangkan koleksi tarian masih yang dulu.

Meskipun demikian, hati sungguh terhibur dengan penampilan yang memukau mata dan telinga. Gerakan yang kompak, ritmis, dan teratur dari para penari membuat penonton tidak beranjak sampai acara selesai. Apalagi di latar belakang dihiasi dengan tampilan video mapping yang membuat acara kali ini penuh warna. Video mapping adalah hal yang bari kali ini, meskipun kepopulerannya di kota Bandung sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu ketika ada pertunjukan video mapping di dinding Gedung Sate.

Foto-foto di bawah ini dapat membawa anda terhanyut dalam warna-warni kesenian Minangkabau seperti yang saya ceritakan.

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari Indang

Tari Indang

Tari Kipeh Marawa

Tari Kipeh Marawa

Tari Randai

Tari Randai

Tari Rantak

Tari Rantak

Puncak semua tari, Tari Piring

Puncak semua tari, Tari Piring

Para mahasiswa itu telah berhasil menampilkan pagelaran kesenian Minang yang menawan. Apresiasi buat mereka, karena telah mengorbankan banyak waktu latihan di sela-sela kesibukan kuliah yang padat dan berat. Setiap sore dan malam meerka berlatih di sela-sela lantai gedung kampus yang kosong. Meskipun mereka bukan penari dan pemusik profesional, mereka sudah menampilkan pertunjukan kesenian sekelas profesional.

Tahun depan, pertunjukan macam apa lagikah yang akan mereka hidangkan?

Dipublikasi di Cerita Minang di Rantau, Seputar ITB | 4 Komentar

Ketika Doa Belum Terkabul

Setiap orang beragama pasti pernah berdoa kepada Sang Pencipta. Kita berdoa kepada Tuhan meminta keselamatan, meminta kesembuhan, meminta petunjuk, meminta ampun, atau meminta apa saja. Berdoa itu pada dasarnya meminta. Kepada siapa lagi kita meminta tolong kalau tidak kepada Tuhan. Saya dan Anda pasti pernah berdoa  kepada Allah untuk meminta suatu keinginan.

Kadang-kadang kita merasa Tuhan mengabulkan (meng-ijabah) doa kita  setelah melihat ada perubahan yang terjadi setelah kita berdoa. Alangkah bahagianya ketika doa yang kita panjatkan dikabulkan oleh Allah SWT. Bertambah-tambah rasa iman kita kepada Allah.

Namun kadang-kadang kita merasa doa kita belum dijawab atau diijabah oleh Alllah. Apakah Allah tidak mengabulkan doa hamba-Nya?

Saya yakin seyakin-yakinnya, sesungguhnya Allah pasti mengabulkan (meng-ijabah) setiap doa yang dipanjatkan makhluk-Nya, karena Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia yang telah menciptakan kita,  dan Sang Pencipta pasti menyayangi setiap yang dicitptakannya.

Belum diijabah berati tidak, tetapi ditunda. Bisa jadi Allah menunda mengabulkan doa hamba-Nya untuk menguji kesabaran. Ditunda entah sampai waktu kapan, kita tidak tahu. Tuhan mungkin ingin tahu, apakah karena belum dikabulkan  itu kita jadi berpaling dari-Nya? Apakah karena belum dikabulkan lalu kita berburuk sangka kepada-Nya?  Apakah karena belum dikabulkan lalu kita berhenti berdoa?   Semuanya adalah ujian kesabaran, dan ujian kesabaran itu adalah ujian iman.

Kalau doa tidak dikabul-kabulkan juga setelah sekian lama, maka kita berbaik sangka saja kepada Allah. Allah itu sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Jika kita bersangka baik kepada Allah Ta’ala (khusnudhzon), maka Allah pun bersangka baik kepada kita. Kalau kita bersangka buruk kepada Allah (su’udhzon), maka Allah pun akan bersangka buruk kepada kita.

Kalau Allah tidak mengabulkan doa, bukan berarti tidak. Boleh jadi doa kita dikabulkan Allah dalam bentuk yang lain, yang mungkin lebih baik dari yang kita minta dan tiada kita sangka-sangka. Dia yang lebih tahu apa yang terbaik buat hamba-Nya.

Sebuah kutipan indah dari seorang teman di dunia maya: Jangan pernah berputus asa dalam berdo’a. Jika terijabah doamu, itu ‘kan menambah imanmu. Jika tertunda, itu ‘kan menambah sabarmu. Jika tiada dikabulkan berarti Allah Ta’ala sedang mempersiapkan yang lebih indah dari apa yang kamu pinta.

(tulisan ini renungan untuk siapapun, termasuk diri saya sendiri, yang sedang menunggu doa diijabah oleh Ilahi)

Dipublikasi di Renunganku | 7 Komentar

Terima Kasih, Rakyat Aceh!

Terimakasih kepada rakyat Aceh yg telah menolong, menyelamatkan, menampung, da memberi makan pengungsi Rohingnya yang malang. Sementara negara masih berpegang pada aturan kaku tentang pengungsi, orang-orang Aceh telah berbuat lebih jauh dengan menyelamatkan mereka yang telah terapung-apung selama berbulan-bulan di laut.

Pengungsi Rohingya asal Myanmar saat terombang-ambing di dekat Pulau Andaman, 14 Mei 2015 (Sumber foto: http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/indonesia/93355-nelayan-aceh-dan-penyelamatan-pengungsi-bangladesh-myanmar?cp_rap_source=yml#cxrecs_s)

Pengungsi Rohingya asal Myanmar saat terombang-ambing di dekat Pulau Andaman, 14 Mei 2015 (Sumber foto: http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/indonesia/93355-nelayan-aceh-dan-penyelamatan-pengungsi-bangladesh-myanmar?cp_rap_source=yml#cxrecs_s)

Orang Aceh yang sering dituding melanggar HAM karena menerapkan syariat Islam, justru merekalah yang pertama menegakkan HAM dengan menolong orang-orang yang teraniaya itu. Nelayan-nelayan Aceh telah menyelamatkan ratusan pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di laut, mereka masakkan makanan di atas kapal untuk para pengungsi yang kelaparan itu, lalu selanjutnya perahu pengungsi ditarik oleh nelayan ke daratan.

Seperti dikutip dari sini:

Saat mereka ditemukan, para pengungsi hanya memakai celana pendek dan kaos singlet. “Kebanyakan dari mereka tidak pakai baju, dan tubuhnya lemas,” kata Marzuki.

Setelah menarik para pengungsi, nelayan mengeluarkan stok air minum dan bahan makanan. Gula dan kue langsung disantap habis oleh para pengungsi yang kelaparan.

Karena tak cukup, para nelayan memutuskan untuk mengeluarkan stok beras dan memasak untuk para pengungsi.

“Butuh waktu sekitar 20-30 menit untuk memasak,” katanya. “Makannya pun di tangan, karena persediaan piring tak cukup.”

Mereka lalu dibawa ke Teluk Langsa dan ditangani kepolisian setempat serta pemerintah daerah.

Cerita mengenai kebaikan nelayan Aceh bagi pengungsi tak hanya sebatas menyelamatkan. Pada gelombang pengungsi sebelumnya, warga Aceh membantu dengan memberikan makanan ke tempat penampungan.

Bahkan ada beberapa warga Aceh yang ingin mengadopsi anak-anak pengungsi.

“Saya benar-benar tulus ingin merawat anak Rohingya. Apalagi mereka adalah warga Muslim. Sesama Muslim, kita harus saling membantu. Apalagi dulu saat konflik Aceh, kita juga pernah merasakan bagaimana penderitaan akibat perang,” kata Ilyas, warga Aceh.

Orang-orang Rohignya adalah etnis yang paling teraniaya di muka bumi karena mengalami diskriminasi akibat dua hal yang disandangnya: etnis dan agama. Mereka dianggap bukan orang Myanmar meskipun nenek moyang mereka sudah ratusan tahun hidup di sana oleh orang Rohingya. Agama mereka juga berbeda dengan agama mayoritas orang Myanmar, yaitu Budha. Oleh Pemerintah Myanmar mereka tidak diakui sebagai warganegara, sedangkan oleh rakyat Myanmar sendiri -dengan disponsori para Bhiksu Budha yang radikal- mereka dimusuhi, diburu, dan dibunuh dengan keji.

Karena tidak tahan dengan perlakuan buruk di negaranya, ratusan ribu orang Rohingya melarikan diri dengan perahu-perahu kayu sederhana. Mereka berbulan-bulan di laut lepas tanpa boleh mendekati daratan. Setiap mendekati daratan suatu negara, perahu mereka ditarik kembali ke laut oleh aparat keamanan negara setempat.

Tapi tidak bagi orang-orang Aceh. Ketika negara-negara di ASEAN menolak pantainya dibanjiri pengungsi yang dibuang di negara asalnya, dan ketika TNI mengembalikan mereka kembali ke laut lepas, sebaliknya nelayan-nelayan Aceh yang hidup sederhana itu justru menerima mereka dengan tangan terbuka.

Adat orang Aceh adalah memuliakan tamu yang datang, kata seorang nelayan Aceh.

Jika kita terlambat datang menolong, mereka semua akan mati, kata nelayan yang lain lagi.

Jadi, bagaimana kita harus berkata kepada rakyat Aceh selain kata terimakasih.

~~~~~~~~~~~~

Baca juga:
1. Menyelamatkan Rohingya: Mengingat kebaikan orang Aceh

2. Ditolak TNI AL, pengungsi Rohingya ditolong nelayan Aceh

3. 672 pengungsi Bangladesh dan Rohingya kembali ditemukan nelayan Aceh

Dipublikasi di Indonesiaku | 7 Komentar