Mengurus Negara Seperti Mengurus RT?

Bagaimana ya menggambarkan kejadian kemarin? Menteri ESDM yang baru, Arcandra Tahar, yang baru saja dilantik tiga minggu lalu, kemarin diberhentikan karena masalah kewarganegaraan. Dia memiliki paspor ganda, paspor RI dan USA. Ketika Arcandra mempunyai paspor USA, maka otomatis status kewarganegaraan WNI-nya hilang, sebab negara RI tidak menganut sistem dwi-kewarganegaraan. Ini artinya selama dua puluh satu hari negara besar RI memiliki menteri seorang warga negara asing. Bahkan, seorang pengamat mengatakan Arcandra sudah tidak punya warganegara lagi sejak mejabat Menteri ESDM.

Siapa yang salah? Mengapa Pemerintah begitu lalai dalam urusan administrasi yang sangat vital ini? Ini kedua kalinya Pak Presiden Jokowi melakukan kesalahan administrasi yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Kesalahan pertama dulu adalah pada kasus yang dikenal dengan I don’t read what I sign. Jokowi membatalkan Kepres yang baru saja dia tanda tangani berkaitan dengan kanaikan tunjangan pembelian mobil buat pejabat, dengan alasan dia tidak mungkin memeriksa satu per satu halaman yang dia tandatangani.

Kita kasihan kepada Arcandra yang menjadi korban kesalahan administrasi penyelenggara negara (anehnya, Pemerintah tidak mau mengakui disebut kebobolan), meskipun dari sisi dirinya juga ada unsur kesalahan karena tidak memberikan informasi yang jujur sebelum dilantik menjadi Menteri bahwa dia memiliki paspor USA selain paspor Indonesia. Tetapi, kita sebenarnya lebih kasihan kepada rakyat Indonesia yang menjadi “korban” dari orang-orang yang mengurus negara ini dengan gaya amatiran.

Satu keputusan dibuat lalu dibatalkan dengan mudahnya. Hey, apakah ini mengurus negara atau  mengurus RT? Jangan-jangan Presiden kita memang tidak punya kapabilitas mengurus negara yang besar ini. Maaf!

Dipublikasi di Indonesiaku | 6 Komentar

Orang Cina Bandung yang “Nyunda”

Membaca berita kerusuhan rasial di Tanjungbalai, Sumatera Utara, minggu lalu, membuat saya merasa sangat prihatin. Ya, hanya bisa prihatin, karena masalah kecil antara seorang warga keturunan Tionghoa dengan kaum pribumi di kota itu berujung pembakaran rumah ibadah kaum Tionghoa. Peristiwa ini menyiratkan bahwa hubungan antara warga Tionghoa dengan penduduk pribumi di sana masih menyimpan masalah terpendam, yang sewaktu-waktu bisa meledak bagaikan bara di dalam sekam. Ada masalah sedikit saja, maka akan ada pihak ketiga yang memprovokasi warga untuk melampiaskan kemarahan sekaligus mengambil kesempatan dalam kesempitan (pencurian misalnya). Kerusuhan SARA di Indonesia memang setiap waktu bisa meletup gara-gara masalah sepele.

Saya tidak pernah hidup di Sumut, jadi kurang tahu seperti apa hubungan antara etnik di sana, khususnya antara penduduk pribumi dengan warga keturunan. Saya hanya dengar-dengar saja jika orang cina di Medan atau Sumut agak patentang-patenteng gitu. Kata orang di sana, agak songong. Entahlah. Yang saya tahu adalah kondisi di Bandung. Saya sudah tiga puluh tahun tinggal di Bandung, dan saya melihat sendiri hubungan antara etnik Tionghoa dengan warga pribumi (Sunda) di Bandung terjalin sangat baik.

Orang Tionghoa di Bandung berbaur dengan orang Sunda. Jangan heran jika anda datang ke Bandung, orang-orang cina di sini berbicara dalam Bahasa Sunda.  Mereka memakai bahasa Sunda bukan hanya kepada orang pribumi, tetapi juga kepada sesama orang Tionghoa lainnya.

Contohnya enchi di bawah ini. Nci atau enchi adalah panggilan buat wanita cina di Bandung. Enchi-enchi ini pedagang sepeda di Jalan Veteran, Bandung. Jalan Veteran di kawasan Kosambi merupakan sentra toko-toko sepeda di Bandung. Toko-toko sepeda di Kosambi para pemiliknya umumnya dari etnik Tionghoa. Mereka mempekerjakan orang Melayu ( Sunda) sebagai pegawai teknisi sepeda. Simbiosis Cina-Melayu sudah umum di mana-mana. Ada relasi saling membutuhkan antara keduanya.

cina3

Jalan Veteran Bandung, salah satu kawasan perniagaan yang banyak diiisi oleh toko-toko sepeda.

Sejak anak masih balita hingga remaja saya sudah langganan beli sepeda di toko enchi ini. Mulai dari sepeda roda tiga hingga sepeda gunung. Tukar tambah sepeda bisa di tokonya, jadi sepeda lama yang dulu saya beli di toko si enchi bisa saya tukar lagi dengan sepeda baru.

Enchi ini wanita tua yang ramah. Bicaranya pelan dan lembut. Dia bicara pakai bahasa Sunda, bahkan kepada anaknya dan kepada sesama enchi pun tetap pakai bahasa Sunda, bukan bahasa Mandarin. Bahasa Sundanya halus, tak beda dengan orang Sunda umumnya, malah lebih halus dari orang Sunda kebanyakan, dengan logat  Sunda yang kentara. Rata-rata orang Tionghoa di Bandung memang berbicara dengan bahasa Sunda sehari-hari. Mereka bergaul dengan pribumi, di sekolah-sekolah, termasuk sekolah yang banyak diisi orang cina,  diajarkan muatan lokal yaitu bahasa Sunda. Secara bahasa mereka sudah menyatu dengan pribumi di sini. Mereka sudah menjadi Sunda sejak kecil, hanya secara rupa saja yang berbeda.

cina1

Enchi, pedagang sepeda yang ramah

cina2

Sepeda-sepeda di toko si enchi

Sejauh yang saya ketahui setelah tiga puluh tahun tinggal di Bandung, harmoni antara etnik Tionghoa dan etnik Sunda terjaga dengan baik. Belum pernah terjadi kerusuhan rasial antara kedua etnik ini. Mungkin seperti kata saya tadi, orang Cina di Bandung sudah menjadi Sunda sejak kecil. Faktor rukun ini ditambah lagi dengan sifat orang Sunda yang ramah terhadap kaum pendatang,  sehingga keberadaan orang cina diterima dengan baik.

Menurut saya, salah satau cara agar terjadi harmoni antara etnik berbeda di tanah air, resepnya adalah menyesuaikan diri dengan budaya lokal. Berbicara dengan bahasa lokal, misalnya, itu adalah salah satu cara agar bisa diterima. Orang-orang cina di Jawa, Padang, Manado, dan lain-lain yang saya ketahui juga berbicara dalam bahasa lokal. Di negara-negara seperti Thailand, Vietnam,  Laos, dan lain-lain, orang Cina malah menjadi pengikut Budha sesuai dengan agama mayoritas di sana. Di Filipina orang-orang cina beragama Katolik sesuai agama mayoritas di sana.

Hanya di Indonesia asimilasi itu berbeda, orang Cina tidak mengikuti agama mayoritas pribumi karena faktor penjajahan Belanda. Penjajah Belanda mengkategorikan penduduk menjadi kelas-kelas sosial. Orang Belanda dan keturunan Indo-nya merupakan warga kelas satu, orang Tionghoa warga kelas dua, dan orang pribumi warga kelas tiga. Berbeda kelas maka berbeda pula pergaulannya, termasuk budayanya. Warga kelas satu tidak mau serupa dengan warga kelas dua atau tiga, warga kelas dua juga tidak mau serupa dengan warga kelas tiga. Serupa itu dalam pengertian budaya dan agama. Jadi, warga Belanda dan kaum Indo beragama Kristen, warga Cina beragama Budha atau Khong Hu Chu, dan warga pribumi beragama Islam (khususnya di Jawa).

Oleh karena itu, proses pembaruan Tionghoa dan pribumi di Indonesia masih menyisakan masalah hingga saat ini. Jika agama tidak mungkin bisa disatukan, maka pembauran bisa dilakukan secara budaya. Contohnya berbahasa lokal seperti orang Cina di Bandung. Mereka sudah nyunda sejak kecil.

Dipublikasi di Indonesiaku, Seputar Bandung | 5 Komentar

Apa yang Bisa Dibaca dari Reshuffle Kabinet?

Jokowi melakukan reshuffle kabinetnya kemarin siang. Nama-nama  menteri baru  menggeser menteri lama, beberapa orang berganti posisi, sedangkan beberapa orang lagi tidak tersentuh. Meskipun pergantian menteri adalah hak perogeratif Presiden, namun reshuffle ini menyisakan banyak pertanyaan yang tak terjawab. Di bawah ini adalah opini penulis semata, boleh setuju boleh tidak ya.

1. Pergantian Anies Baswedan
Banyak masyarakat yang kaget dengan penggantian Anies Baswedan menjadi Mendikbud. Setahu saya Pak Anies ini orang yang baik, perhatiannya terhadap dunia pendidikan jangan ditanya lagi. Program Indonesia Mengajar adalah salah satu idenya yang mendapat banyak dukungan dan simpati dari masyarakat. Selama menjadi menteri memang tidak ada kebijakannya yang radikal, namun banyak kebijakannya mendapat sambutan yang baik. Misalnya, meningkatkan integritas sekolah atau kejujuran dalam Ujian Nasional (UN), pelarangan kegiatan perpeloncoan dalam kegiatan MOS (Masa Orientasi Sekolah), penghapusan bullying, dan terakhir himbauannya kepada orangtua untuk mengantar anak ke sekolah pada hari pertama tahun ajaran baru.

Anies menjadi Menteri mungkin sebagai bentuk “balas budi” dari Jokowi karena telah menjadi relawan pendukungnya selama Pilpres. Namun, popularitas Anies Baswedan yang banyak mendapat simpati mungkin dapat mengancam popularitas Jokowi yang ingin menjadi Presiden pada periode kedua. Jadi, daripada memelihara anak macan yang dapat menjadi harimau ketika besar, maka lebih baik Jokowi menyingkirkannya sekarang.

2. Semakin kuat dukungan Jokowi kepada Ahok
Pergantian sejumlah menteri menyiratkan Jokowi melindungi Ahok. Menko Kemaritiman, Rizal Ramli, yang saat ini “berseteru”dengan Ahok terkait dengan proyek reklamasi, akhirnya harus tersingkir. Ini berarti proyek reklamasi tidak akan mendapat hambatan lagi karena Menteri yang menentangnya telah ditendang. Dia digantikan oleh Luhut Panjaitan, dan kita semua tahu Luhut adalah teman dekat Jokowi yang selama ini dilihat oleh masyarakat mempunyai peran lebih tinggi dari Presiden.

Perkataan Ahok bahwa Jokowi bisa menjadi Presiden karena didukung pengembang menunjukkan arah kebenaran ketika Menteri Perdagangan yang baru adalah Enggartyasto Lukita, yang dikenal dulunya sebagai pengusaha porperti. Reklamasi Teluk Jakarta yang ditentang banyak pihak karena dianggap lebih menguntungkan para taipan pengusaha properti dan akan menjadi pulau tempat tinggal orang-orang kaya menunggu buktinya nanti.

3. Pelanggar HAM, dulu dihujat sekarang diangkat
Ketika Pilpres 2014, Capres Prabowo sering dibuli oleh pendukung Jokowi maupun oleh media arus utama karena masa lalunya yang kelam terkait pelanggaran HAM. Salah satu penyebab kekalahannya saat Pilpres adalah gencarnya isu pelanggaran HAM yang dihembuskan para pendukung lawannya. Namun sekarang, Jokowi malah mengangkat Wiranto sebagai Menko Polhukam, padahal Pak Wiranto juga punya masa lalu yang kelabu dalam pelanggaran HAM. Isu pelanggaran HAM ini sempat menjadi bahan untuk menjegal pencapresannya pada Pilpres 2009. Namun sekarang para pembuli itu (termasuk media dan aktivis yang dulu garang terhadap Wiranto dan Prabowo) terlihat diam tak bersuara ketika Wiranto diangkat menjadi Menteri yang berkaitan dengan HAM. Jadi, benarlah adagium yang mengatakan “jika dia di kubu lawan, maka apapun yang dia katakan adalah salah, tetapi jika dia di kubu kami maka apapun yang dikatakannya selalu benar”.

4. Menteri yang tak tersentuh
Menko Kesra Puan Maharani nyaris tidak punya prestasi. Dia kalah pamor dengan menteri di bawah koordinasinya sendiri, yaitu Anies Baswedan. Namun yang menjadi “korban” reshuffle justru orang baik seperti Anies Baswedan. Puan tidak tersentuh mungkin karena dia adalah puteri Sang Ratu. Sebagai petugas partai, tidak mungkinlah Jokowi berani macam-macam kepada Ibunda Ratu.

Untuk menteri-menteri lain yang diganti memang sudah seharusnya, misalnya Menpan Yuddy Chrisnandi yang  tidak bisa menjaga konsistensi dengan peraturan yang dibuatnya sendiri. Sedangkan  Menhub  Ignatius Jonan  mungkin dianggap mbalelo karena tidak setuju dengan proyek kereta api cepat yang diusulkan Jokowi. Menteri yang lainnya entahlah, saya tidak tahu banyak.

Nah itulah analisis saya terhadap reshuffle kemarin. Bisa jadi benar bisa jadi salah, namanya saja opini pribadi.

Dipublikasi di Indonesiaku | 4 Komentar

Pokemon Tidak Perlu Dilarang

Permainan online berbasis augmented reality dan teknologi GPS yang lagi heboh saat ini adalah Pokemon. Di dalam permainan yang menggunakan gawai ini, pengguna berburu monster lucu  di berbagai tempat. Semakin banyak dan semakin langka monster yang ditangkap, semakin mengasyikkan dan membuat penasaran hingga ketagihan.Di bawah ini gambar permainan Pokemon (Sumber gambar dari sini).

pokemon-go-nick_statt-screenshots-2.0

Layar permainan Pokemon.

pokemon-go-nick_statt-screenshots-1.0

Monster dari permainan Pokemon ini berbasis augmented reality, dia muncul dengan latar belakang berupa gambar dunia nyata yang ditangkap oleh kamera perangkat gawai.

Positifnya,  pemain Pokemon perlu banyak berjalan kaki sampai berkilo-kilo meter untuk berburu monster di tempat-tempat yang dianggap banyak monster bersembunyi, sehingga membuat tubuh sehat. Negatifnya, karena mata selalu tertuju pada layar gawai sambil berjalan kaki, si pengguna mungkin tidak awas sehingga bisa jatuh, tertabrak, atau menabrak orang lain. Bahkan ada orang yang tidak peduli adab sampai berburu Pokemon ke dalam masjid, tidak sadar mereka memakai celana pendek. Masuk masjid kok tidak punya tata krama begini.

Cari-Monster-Pokemon-Dua-Pria-Bercelana-Pendek-Menyelonong-ke-Masjid-Cheng-Hoo-Pandaan-Pasuruan-by-Tafdil-31wdr6qacv5x91smqv5r7k

Nyelonong ke dalam masjid mencari Pokemon, tidak sadar menggunakan celana pendek. Sumber gambar: hidayatullah.com

Sebegitu hebohnya permainan ini, lembaga Pemerintah dan lembaga layanan masyarakat sampai perlu mengeluarkan edaran larangan bermain Pokemon di instansinya, seperti edaran yang dikeluarkan oleh Menpanlarangan dari kepolisian, dan larangan yang diekluarkan banyak Pemda. Bahkan para ulama NU pun mulai membahas hukum bermain Pokemon hingga mengeluarkan hukum makruh sampai haram.  Ada juga yang khawatir kalau pembuat Pokemon punya agenda terselubung untuk mengumpulkan data dari GPS untuk tujuan intelijen sehingga membahayakan negara. Kalau alasannya demikian, kenapa hanya Pokemon yang dipermasalahkan? Banyak juga kan aplikasi online lain yang menggunakan GPS seperti Gojek, Grab Taxi, Waze, Instagram, Twitter, Facebook, dan lain-lain tetapi kok tidak dilarang? (baca tulisan rekan saya ini yang meninjau dari sisi keamanan: Keamanan Aplikasi Pokemon Go).

Ya, ya, Pokemon telah membuat banyak orang sibuk sampai membuat larangan segala. Saya punya pendapat  agak berbeda. Pokemon tidak perlu dilarang, karena dia tidak menakutkan seperti yang kita kira. Ini permainan yang sifatnya trend sesaat saja, sedang mode saja, lama-lama juga nanti orang akan bosan sendiri. Sifat dasar manusia adalah selalu tertarik mencoba sesuatu yang baru atau sensasi baru, setelah lama dipakai akhirnya jenuh, ternyata ya cuma begitu-begitu saja. Akhirnya hilang sendiri deh itu permainan, digusur permainan baru yang muncul selanjutnya. Ingat dulu pernah heboh permainan angry birds, tomagochi, dll, yang sudah tidak terdengar lagi  beritanya. Sebagian pengguna fanatik mungkin akan bertahan, tetapi sebagian besar pengguna hanya coba-coba saja untuk memenuhi rasa ingin tahu.

Jadi, ya begitulah, tidak perlu lebay. Jangan sampai energi ini dihabiskan untuk membahas hal-hal yang kurang esensial begini.

Dipublikasi di Gado-gado, Indonesiaku | 7 Komentar

Telepon Rumah (Tidak) Akan Tinggal Kenangan?

Di rumah saya masih terpasang telepon rumah. Telepon rumah ini jarang sekali digunakan dan jarang sekali berdering, jadi boleh dibilang lebih sering menganggur. Paling-paling telepon rumah digunakan untuk mencari keberadaan ponsel yang  lupa ditaruh di mana. Selain itu untuk menelpon toko air mineral dan toko gas minta diantarkan air galon dan gas jika keduanya sudah habis di rumah.  Hampir tidak pernah lagi saya menggunakan telepon rumah untuk menghubungi teman, saudara, dan orang lainnya, seperti halnya dua puluh tahun yang lalu.

telepon-rumah

Telepon rumah yang kesepian

Sejak telepon genggam (ponsel) sudah menjadi alat komunikasi yang lumrah dan biasa, telepon rumah semakin menjadi tidak penting lagi keberadaannya. Sudah ada ponsel yang lebih praktis dan mobile daripada telepon rumah, maka orang-orang tidak menganggap telepon rumah menjadi  kebutuhan penting.

Telepon rumah adalah satu-satunya saluran telepon fixed line yang dikelola oleh PT Telkom. Dulu ketika memiliki ponsel belum selumrah sekarang, untuk mendapatkan sambungan telepon rumah dari PT Telkom butuh waktu yang cukup lama. Jika di sekitar rumah kita belum ada tiang dan kabel telepon, maka perlu bersabar untuk mendapat sambungan baru. Dulu rumah yang memiliki telpon rumah memiliki nilai tambah tersendiri, sebab ketika rumah dijual dan ada sambungan telepon rumah maka harganya berbeda jika rumah tersebut tidak punya sambungan telepon.

Karena sudah sangat jarang digunakan, sebagian orang mencabut telepon rumah dari kabelnya. Maksudnya telepon rumah tidak dipasang lagi di atas meja, tinggal kabelnya yang menggantung. Lucunya, meski telepon rumah sudah tidak dipasang, namun mereka tidak mau memutus sambungannya dari PT Telkom. Mungkin merasa sayang saja jika diputus karena dulu untuk mendapatkannya perlu kesabaran tersendiri. Meski tidak dipasang lagi, tapi mereka tetap membayar abonemen bulanan  ke PT Telkom. Bagi PT Telkom sendiri telpon rumah yang menganggur mungkin sebuah kerugian, sebab mereka tidak banyak mendapat pemasukan dari fixed line, namun perawatan fixed line tetap saja harus dilakukan.

Saya sendiri tidak berniat untuk memutus sambungan telepon rumah. Biar saja terpajang di atas meja. Ia masih berfungsi dengan baik. Meskipun jarang digunakan, setidaknya telepon rumah masih berguna untuk menelpon call center bank, menelpon kantor layanan umum, menelpon pembantu dari kantor ke rumah, memesan gas dan air galon yang habis, dan ya itu…mencari keberadaan ponsel yang nyelip entah di mana.🙂. Menurut cerita teman, beberapa bank BUMN dan bank asing  menjadikan nomor telepon rumah sebagai syarat untuk membuka rekening, entah benar entah tidak.

Bagi saya telepon rumah punya kelebihan tersendiri, yaitu sifatnya yang lebih ‘hangat’ dibandingkan ponsel. Ponsel bersifat pribadi,  jika ia berdering dengan nada dering yang disetel oleh pemiliknya, maka hanya pemiliknya yang mengangkat. Beda dengan telepon rumah, jika ia berdering di dalam rumah, maka seisi rumah tahu. Jika seorang anggota rumah mengangkatnya dan ternyata telpon itu untuk anggota keluarga lainnya, maka dia akan memanggil anggota rumah yang dituju. Jadi, keberadaan telpon rumah dapat mempererat jalinan anggota keluarga. Sepele, tapi itulah yang saya alami sendiri.

Dipublikasi di Gado-gado, Pengalamanku | 2 Komentar

Bandara yang Ramah Colokan Listrik

Ketika menunggu boarding pesawat di Bandara Sam Ratulangi, Manado, mata saya tertumbuk pada deretan bangku dengan colokan listrik terpasang pada setiap tempat duduknya (lihat foto di bawah ini).

samrat

Colokan listrik pada setiap kursi di dalam ruang tunggu keberangkatan di Bandara Sam Ratulangi, Manado

Keberadaan colokan listrik di ruang tunggu ini sangat berarti bagi calon penumpang. Calon penumpang tidak perlu repot lagi mencari colokan kabel listrik di dinding, di pojok, bahkan sampai rebutan atau antri dengan orang lain yhang duluan dapat colokan listrik. Sambil duduk tenang menunggu boarding, calon penumpang bisa pakai ponsel/laptop sambil men-cas ponsel, laptop, power bank, dll sampai penuh di tempat duduknya masing-masing.

samrat2

Ruang tunggu keberangkatan di Bandara Sama Ratulangi. Setiap calon penumpang asyik dengan gawainya. Gawai sangat bergantung pada energi listrik.

Di Bandara Soekarno-Hatta sendiri tidak ada fasilitas yang sama seperti ini. Memang di ruang tunggu keberangkatan ada disediakan kotak sebesar lemari kecil yang berisi beberapa colokan listrik paralel, namun kita harus berjalan ke sana meninggalkan tempat duduk, lalu menungguinya, atau ditinggal pergi sambil dilihat dari jauh. Yang repot adalah ketika kita membutuhkan ponsel saat sedang di-cas, maka mau tidak mau mau kita harus berdiri di dekat kotak colokan itu sambil menggunakan ponsel atau gawai yang sedang di-cas. Kurang nyaman saja rasanya.

Mobilitas orang-orang zaman sekarang tidak bisa dilepaskan dari perangkat gawai. Gawai membutuhkan pasokan energi listrik. Colokan yang ada di setiap tempat duduk itu sangat memudahkan pengguna bandara yang sangat bergantung pada energi listrik agar gawai tetap bisa menyala.

Saya memberikan salut buat kepada manager bandara yang mengerti sekali kebutuhan mobilitas orang-orang zaman sekarang ini. Memang belum semua bangku diberi colokan listrik seperti gambar di atas, tetapi sekali lagi ini sangat memudahkan. Mudah-mudahan di semua bandara lain juga diberikan fasilitas colokan listrik pada setiap bangku.

Dipublikasi di Gado-gado | 3 Komentar

Kudeta di Turki, yang Ribut di Indonesia

Kudeta yang gagal di Turki menarik perhatian masyarakat dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Kudeta yang umurnya cuma lima jam gagal mendapat dukungan dari militer dan partai oposisi. Kudeta yang terjadi pada tengah malam itu mengagetkan banyak orang di tanah air. Dengan cepat peristiwa kudeta itu menjadi perbincangan di media dan jejaring sosial dari pagi hari hingga hari ini.Bagi masyarakat Indonesia, Turki memiliki kedekatan emosional karena sama-sama negara dengan penduduk mayotitas beragama Islam, sehingga apa yang terjadi di Turki akan menjadi bahan pembicaraan di tanah air.

Masyarakat Indonesia ikut terpecah dengan peristiwa kudeta di Turki itu. Secara garis besar ada dua kelompok yang menanggapi. Kelompok pertama mengecam kudeta di Turki dan bersyukur kudeta tersebut akhirnya gagal. Kelompok ini merupakan kalangan masyarakat Indonesia yang bersimpati kepada Turki maupun Erdogan. Mereka menganggap Pemerintahan Erdogan sebagai role model politik Islam yang  berhasil mendobrak prinsip-prinsip sekularisme yang selama ini menjauhkan Turki dari kultur Islam yang dianut oleh 99 persen penduduknya.

Sebaliknya, ada pula kelompok masyarakat Indonesia yang kecewa kudeta tersebut gagal. Mereka sebenarnya menginginkan kudeta itu berhasil seperti halnya yang terjadi di Mesir, sebab hanya kudetalah yang dapat mendepak perpolitikan Islam dari Turki. Mereka tidak senang dengan gaya Pemerintahan Erdogan, termasuk antipati terhadap partainya Erdogan, AKP. Mereka  khawatir kebangkitan politik Islam di Turki akan menyebar pengaruhnya di Indonesia. Erdogan digambarkan sebagai pemimpin otoriter sehingga tidak masalah dia diturunkan dengan cara apapun, termasuk kudeta militer sekalipun. Saya menilai kelompok kedua ini kontradiktif, sebab di satu sisi mereka pentolan pendukung demokrasi, namun di sisi lain mereka mendukung aksi yang tidak demokratis seperti kudeta terhadap pemerintahan yang dihasilkan dari Pemilu yang sah.

Secara sederhana kelompok yang mensyukuri kudeta gagal adalah kelompok islamis, atau  mereka yang bersimpati dengan Erdogan, sedangkan kelompok yang kecewa dengan kegagalan kudeta adalah kelompok pengusung Islam liberal, sekuler, termasuk juga Syiah. Kenapa saya sertakan pendukung Syiah masuk ke dalam kelompok ini, karena Turki selama ini memusuhi Iran, sedangkan Iran adalah  panutan kaum Syiah di tanah air. Penganut Syiah di tanah air tidak menyukai ormas keagamaan maupun partai Islam yang selama ini selalu menghadang gerakan Syiah, padahal ormas keagamaan dan partai Islam itu memiliki ikatan batin dengan Turki yang mayoritas penduduknya bermadzhab Sunni.

Dua kelompok di atas perang opini dan perang komentar di media dan jejaring sosial. Itu dapat dilihat pada posting-an di Facebook, Twitter, dan lainnya.  Bagi kelompok pertama, Erdogan semakin disanjung sebagai pemimpin yang dicintai oleh rakyat Turki, sebab rakyat Turki menolak kudeta itu, mereka menuruti perintah Erdogan untuk turun ke jalan-jalan sebagai aksi menolak kudeta. Sedangkan bagi kelompok kedua, mereka menuding bahwa kudeta itu adalah akal-akalan yang dibuat-buat oleh Erdogan untuk mengangkat pamornya.

Ada pula pihak yang mencoba mengaitkan kudeta di Turki ini dengan Jokowi. Tampaknya polarisasi kedua kelompok dalam menyikapi kudeta di Turki mirip dengan polarisasi ketika Pilpres tahun 2014. Kelompok yang kecewa dengan kegagalan kudeta di Turki kebetulan adalah pendukung Jokowi di Pilpres, sedangkan kelompok yang mensyukuri kegagalan kudeta di Turki kebetulan adalah penolak Jokowi. Mungkin faktor kebetulan saja atau memang efek perpecahan akibat Pilpres 2014 masih terasa sampai saat ini hingga masalah di Turki pun terbawa-bawa dalam perdebatan di tanah air. Saya heran, mengapa orang Indonesia sedemikian ributnya dengan apa yang terjadi di Turki.

Dipublikasi di Indonesiaku | 7 Komentar