Berkas Ujian yang Sayang Dibuang

Semester genap di ITB baru saja selesai. Nilai-nilai mata kuliah sudah diumumkan. Seperti biasa, pada akhir semester saya selalu membagikan kembali semua berkas milik mahasiswa, baik itu berkas ujian mereka maupun berkas tugas lainnya. Saya taruh di atas meja lab, silakan diambil milik masing-masing. Namun, berkas ujian dan tugas itu seringkali tidak diambil lagi oleh mahasiswa setelah nilai diumumkan. Mungkin mereka merasa tidak perlu lagi, padahal menurut saya mendokumentasikan hasil-hasil pekerjaan dann ujian selama kuliah itu adalah penting.

berkas

Saya sendiri selalu menyimpan hasil-hasil ujian dan tugas sejak S1 hingga S3. Tujuannya bukan sekedar memorabilia untuk bernostalgia, tetapi mengingatkan perjalanan hidup yang pernah dilalui. Baik buruk hasilnya, itu adalah diri kita, sejarah kita.

Kebiasaan menyimpan hasil sekolah ini saya teruskan ke anak saya. Semua berkas ujian mereka, buku catatan, hasil karya, dll (kecuali buku cetak) saya simpan di dalam lemari, sampai penuh tuh lemari. Sampai-sampai istri saya  mengeluh karena lemari sudah penuh. Mau dibuang, tapi saya bilang jangan dulu. Sayang.

Berkas-berkas yang tidak diambil itu sayang sekali jika nanti dikilo di pasar loak lalu berakhir di kios gorengan untuk pembungkus pisang goreng atau pembungkus barang dagangan. Tertera di bungkus gorengan nilai UAS seorang mahasiswa mendapat nilai 35. Saya tersenyum kecut membaca jawaban ujiannya.

Di negara Belanda (cerita teman), berkas-berkas ujian mahasiswa disimpan di lemari universitas. Berkas-berkas itu hanya boleh dimusnahkan setelah 5 tahun (itu artinya setelah mahasiswa yang bersangkutan lulus). Jadi, berkas ujian mahasiswa tidak pernah ditemukan di pasar kertas bekas, tidak seperti di sini yang berakhir menjadi pembungkus gorengan.

Dokumentasi itu penting, sebab ia adalah sejarah diri kita.

Dipublikasi di Gado-gado, Seputar Informatika | 1 Komentar

Masjid Salman ITB Tempat yang “Radikal”

Sebagai orang yang pernah aktif di Masjid Salman ITB, saya cukup terhentak dengan tudingan Ketua Umum PBNU K.H Said Aqil Siradj yang menyatakan bahwa Masjid Salman ITB adalah tempat berkembangnya paham radikalisme (Baca: NU: Radikalisme Menyebar ke Kampus, Terutama Masjid Salman ITB). Meski akhirnya Pak Kyai mengaku khilaf dan meminta maaf atas tudingannya itu  (baca: Pengurus Masjid Salman: Kiai Said Aqil Mengaku Khilaf dan Mohon Maaf), namun tuduhan pak Kyai terlanjur menjadi viral di media sosial dan menimbulkan keresahan bagi para alumni ITB yang pernah merasakan kehidupan di Masjid Salman.

masjid-salman

Masjid Salman ITB (Sumber: kabarsalman.com)

Kata radikal saat ini menjadi kata yang banyak dilontarkan terkait situasi politik tanah air yang belum tenang sebagai dampak kasus Ahok. Radikal dipertentangkan dengan Pancasila. Ormas radikal, ormas anti pancasila, radikalisme, kaum radikal, dan seterusnya, itulah kata-kata yang menghiasi media di tanah air. Disematkan kata radikal saja sudah membuat tidak nyaman, apalagi jika dituding sebagai pendukung dan penyebar radikalisme. Seringkali cap radikal disandingkan dengan kata anarkisme, ekstrimisme, intoleran, dan bahkan terorisme.

Padahal kalau membuka kamus bahasa kata radikal itu tidak selalu berarti negatif.  Radikal berasal dari kata radix yang artinya akar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti radikal adalah sbb:

radikal1/ra·di·kal/ a 1 secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang –; 2 Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 3 maju dalam berpikir atau bertindak;

Jika dimaksudkan radikal itu adalah kembali ke hal yang mendasar atau prinsipil, maka sudah seharusnya setiap orang demikian. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Kita sering berkata demikian, misalnya harus sesuai dengan prinsip dasar, hal yang mendasar adalah…., dsb, dsb.  Lihatlah arsitektur Masjid Salman sendiri tergolong radikal pada zamannya. Ia tidak mempunyai kubah seperti masjid lain pada umumnya.  Arsitek Masjid Salman, Pak (alm) Ahmad  Nu’man, punya alasan mengapa rancangan masjidnya demikian. Masjid memiliki kata dasar sujud, jadi masjid itu tempat bersujud. Maka, bagi sebuah masjid yang dipentingkan adalah fungsi dasarnya sebagai tempat bersujud (sholat). Bentuk bangunan sendiri tidak ditekankan seperti apa, pakai kubah atau tidak. Lihatlah Masjidil Haram, tidak ada kubah di sana. Kubah masjid baru ada pada zaman Kerajaan Ottoman Turki. Kubah tidak identik dengan Islam, kubah juga terdapat pada bangunan gereja-gereja di Eropa.

Arti kata radikal yang ketiga adalah maju dalam berpikir dan bertindak. Ya, memang, dalam hal ini Masjid Salman tergolong radikal. Pengelolaan masjid dilakukan secara profesional oleh pengurus masjid yang kebanyakan adalah dosen-dosen ITB. Berbagai teknologi sudah diterapkan Masjid Salman untuk membuat masjid ini semakin nyaman untuk beribadah, termasuk untuk pemberdayaan ekonomi dan kegiatan yang bertujuan sosial (baca juga: ATM Beras dari Masjid Salman ITB). Berbagai kajian dan diskusi yang mencerahkan pikiran diadakan silih berganti untuk menambah wawasan jamaah. Berbagai tokoh politik, tokoh agama, ilmuwan, dan tokoh masyarakat telah banyak mengisi kajian berupa seminar, telaah buku, diskusi kontemporer, semuanya untuk menghidupkan fungsi masjid lebih dari sekedar tempat sholat, tetapi masjid adalah pusat peradaban masyarakat.

Arti kata radikal yang kedua adalah amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan). Jika ini yang dimaksudkan, maka sangat jauh panggang dari api. Jamaah Salman yang umumnya kaum intelektual (mahasiswa, dosen) bukanlah bertipe demikian, apalagi jika dihubungkan dengan perilaku kekerasan.  Saya belum pernah membaca atau mendengar ada kegiatan makar atau penggulingan Pemerintahan yang sah yang dilakukan oleh jamaah Salman, apalagi melakukan tindak anarkis. Di Salman tidak ada kaderisasi politik. Jika alumninya aktif dalam politik praktis, maka itu bukan karena Salman-nya, tetapi adalah pilihan pribadinya.

Siapapun yang pernah berkunjung, sholat, maupun aktif berkegiatan di Masjid Salman ITB, pasti mengetahui bahwa Masjid Salman ITB adalah masjid yang terbuka. Siapapun boleh datang, ikut kajian, ikut mendengarkan ceramah, ikut mengaji, ikut memakmurkan masjid, ikut berbagai kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid, dan sebagainya. Walikota Bandung, Ridwan Kamil, adalah alumni Masjid Salman juga.

emil dan bimbel

Emil (sedang dipeluk di belakang) dan para murid Bimbel Salman berfoto dengan para pengajar di tangga Masjid Salman, tahun 1990 usai malam tafakkur menjelang UMPTN 1990. Saya berada di depannya pada baris kedua, di sebelah murid perempuan.

Karena sifatnya yang terbuka, maka siapapun bisa beraktivitas di sana. Ketika ramai kasus NII di Bandung, masjid Salman ikut kena imbas karena aktivis NII melakukan perekrutan anggota melalui masjid, tak terkecuali mungkin mereka diam-diam menggunakan Masjid Salman sebagai base. Tapi, sekali lagi itu bukan kegiatan masjid, tetapi orang-orang yang memanfaatkan masjid untuk tujuan kelompoknya.

Tulisan ini bukan pembelaan diri. Tetapi demikianlah adanya bahwa masjid Salman itu memang masjid yang radikal dalam tanda kutip.

Dipublikasi di Indonesiaku, Pengalamanku, Seputar ITB | 3 Komentar

Kuburan di Atas Bukit

Bulan puasa Ramadhan pada tahun 2017 tinggal dalam hitungan hari. Tradisi  umat Islam di Indonesia menjelang bulan Ramadhan adalah pergi beziarah ke makam orangtua atau keluarga yang sudah mendahului. Di Jawa dinamakan dengan tradisi nyekar atau nyadran. Tradisi ziarah kubur sebelum Ramadhan memang tidak dicontohkan oleh Nabi, tetapi ziarah kubur sendiri tidak dilarang, sebab mengunjungi makam orang yang sudah meninggal berguna agar kita selalu mengingat kematian.

Seperti orang Indonesia lainnya, minggu lalu saya menyempatkan diri pulang ke Padang untuk menziarahi makam kedua orangtua saya.  Di Padang kompleks pemakaman sering didasarkan atas kampung asal (orang Padang sendiri sebagian besar adalah perantau dari berbagai daerah kabupaten di  Sumatera Barat). Kompleks pemakaman orang-orang dari Koto Anau, Solok, di Padang adalah di sebuah bukit di daerah Seberang Palinggam. Di sanalah kedua orangtua saya dimakamkan.

Kota Padang sendiri dilingkari oleh perbukitan. Bukit-bukit di daerah selatan, yang berbatasan dengan sungai dan laut, sudah lama menjadi tempat pemakaman warga Tionghoa. Kuburan orang Cina, begitu kami menyebutnya, terentang di atas Bukit Siti Nurbaya (nama baru setelah ada jembatan Siti Nurbaya). Nah, kuburan orang kampung saya di sepanjang bukit itu juga, tapi agak ke timur.

Di atas bukit di daerah Seberang Palinggam itulah terdapat kompleks pemakaman orang kampung saya (Koto Anau, Solok). Mungkin sudah ada ratusan kuburan di atas sana, dari dulu hingga sekarang. Pemakaman itu dijaga dan dirawat oleh sebuah keluarga dari suku Nias. Orang Nias cukup banyak juga di Padang, umumnya mereka tinggal di sekitar perbukitan dekat kawasan Muara.

13315652_1118877744846916_5869833978637917960_n

Untuk mencapai pemakaman ini, kita harus menaiki tangga, sebagian lagi melalui jalan setapak yang cukup terjal. Saya membayangkan betapa sulitnya membawa jenazah yang hendak dikubur di sini. Pada musim hujan jalan setapak ke atas bukit itu  cukup licin, jika tidak hati-hati kita bisa terpeleset ke bawah. Namun, bagi orang Nias yang banyak bermukim di bukit itu, mereka sudah biasa saja naik turun bukit yang terjal tersebut.

13266057_1118877698180254_3045192816838233239_n

Karena berada di atas bukit, maka kompleks pemakaman itu rawan longsor. Dua tahun lalu terjadi hujan deras yang begitu lebat di atas bukit. Air dari atas bukit meluncur deras dalam jumlah yang besar, menghanyutkan dan merobohkan apapun yang dilaluinya. Sejumlah kuburan terkena longsoran, termasuk makam ayah saya. Air yang deras meluluhlantakkan isi sejumlah makam sehingga tulang-belulang jenazah ikut jatuh ke bawah dan tidak dikenali lagi itu tulang belulang siapa.

Atas kesepakatan warga perantau kampung saya, maka seluruh tulang belulang itu dikumpulkan dan dimakamkan di dalam satu lubang. Sebagai simbol bahwa makam pernah ada, maka keluarga yang masih hidup membangun makam baru sebagai simbol saja, padahal isinya tidak ada. Tujuannya adalah agar keluarga yang masih hidup dapat tetap berizarah ke sana meskipun kuburan aslinya sudah hilang. Itu termasuk makam ayah saya.

Dari atas bukit ini kita dapat melihat pemandangan kota Padang. Dari kejauhan kita dapat melihat kantor gubernur, beberapa bangunan hotel, Masjid Raya Sumbar, Pantai Padang, dan lain-lain.

18485304_1472619679472719_10544900203165908_n

13325440_1118877774846913_1913774488892107167_n

18485281_1472619636139390_1941990409701227054_n

Tadi sudah saya sebutkan bahwa bukit ini berbatasan dengan sebuah sungai, namanya Sungai Batang Harau. Sungai ini bermuara ke Samudera Hindia sekitar 2 km ke arah barat. Di daerah Muara bertemulah air laut yang asin dengan air tawar dari sungai.

Anda semua pasti tahu jika kota Padang rawan gempa. Gempa bumi sering terjadi dalam skala kecil hingga skala besar. Beberapa kali gempa besar pernah terjadi di sini, terkahir tahun 2009 yang meluluhlantakkan kota. Kekhawatiran paling besar dari gempa bumi adalah tsunami. Jika terjadi tsunami, maka air laut akan masuk ke tengah kota melalui anak-anak sungai yang bermuara ke laut, termasuk melalui sungai Batang Harau ini. Bagi warga yang bermukim di kawasan selatan, jalur evakuasi untuk menghindari tsunami adalah lari ke atas bukit-bukit itu. Pemerintah kota membangun beberapa jembatan evakuasi di atas sungai Batang Harau. Jika terjadi peringatan tsunami, maka warga bisa berlari ke atas bukit yang saya ceritakan ini.

Dari kompleks pemakaman tadi saya dapat melihat dengan jelas jembatan evakuasi tsunami.  Berlindung ke bukit yang tinggi ini cukup aman bagi warga sampai menunggu pertolongan datang.

13312673_1118877794846911_5475495546647719388_n

Jembatan evakuasi dari tsunami

13325620_1118958614838829_6122710926432889508_n

Yang paling penting dari jembatan ini adalah edukasi. Penting bagi Pemerintah kota untuk sering melakukan simulasi gempa dan tsunami agar warga menyadari bahwa jembatan ini bukan sekedar tempat penyeberangan biasa, tetapi adalah sarana evakuasi bencana.

Dipublikasi di Cerita perjalanan, Cerita Ranah Minang | 4 Komentar

Tukang Ojek Perempuan yang Ikhlas Membantu Suaminya

Beberapa waktu yang lalu saya ke kampus Ganesha naik Go-Jek (karena motor saya masih kena tilang di kantor polisi). Ketika mengorder Go-Jek, pengemudi yang menerima order ternyata perempuan. Wah, saya kaget! Susi namanya, begitu yang tertera di layar aplikasi. Waduh, bagimana ya, asa gimana gitu diboncengi tukang ojeg perempuan. Belum pernah sih. Tapi karena sudah terlanjur pesan, saya merasa nggak enak juga membatalkannya.

Setelah dia datang, benar, ternyata ada rasa canggung juga bagi saya naik motornya. Risih.

“Nggak apa-apa nih, saya laki-laki”, tanya saya.

“Nggak apa-apa pak, sudah biasa”, katanya.

Ya sudah, saya pun naik motor gojeknya dengan tetap menjaga jarak di atas boncengan. Dari Antapani tujuan saya ke kampus ITB naik Go-Jek dengan pengemudinya bernama Teteh Susi. 🙂

Seperti biasa saya selalu mengajak ngobrol supir Go-Jek sepanjang perjalanan. Kata Teh Susi, dia biasanya berjualan buah lokal di Antapani. Tetapi sekarang jualan buah sedang sepi, musim hujan yg berkepanjangan membuat buah2an jarang ada. Akhirnya Teh Susi banting stir jadi pengemudi Go-Jek.

Bagi Teh Susi, kerja meng-gojek merupakan pekerjaan sampingan untuk membantu suaminya. Suami Teh Susi bekerja di sebuah bengkel motor di daerah Ujungberung. Bosnya orang Tionghoa. Baik. Suami Teh Susi meminjam uang kepada bosnya untuk membangun rumah di Pasir Impun. Cara pengembalian pinjaman adalah dengan memotong gaji suaminya. Kata Teh Susi, gaji suaminya di bengkel itu Rp3 juta per bulan. Tiap bulan dipotong 50% untuk membayar cicilan pinjaman. Suami Teh Susi meminjam Rp 100 juta kepada bosnya. Alhamdulilah, rumah yang dibangun di atas tanah seluas 5 tumbak (70 m2) sudah selesai dibangun, tinggal melunasi penjaman uang setiap bulan.

Untuk membantu melunasi pinjaman suaminya, Teh Susi bekerja menjadi supir Go-Jek dari jam 7 pagi sampai sore. Dia mangkal di kios buahnya di Jl. Indramayu yang kosong (tidak ada buah yang dijual). Anaknya dua orang masih kecil-kecil, dititipkan di rumah ibunya. Dari bekerja sebagai supir Go-Jek, Teh Susi bisa mendapat bonus (dari go-ride, go-food, go-send, dll) sampai 20 poin sehari, itu setara dengan Rp100.000. Kadang-kadang cuma dapat Rp50.000. Lumayan, alhamdullah.

Sampailah saya di Jl. Ganesha. Ongkos Go-Jek 15.000 saya lebihkan saja menjadi 20.000. Lima ribunya buat teh Susi saja, kata saya, buat wanita yang bekerja dengan ikhlas membantu suaminya.

Teteh, saya foto dulu ya..

teh susi

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 3 Komentar

Kena Tilang (lagi), Slip Biru, dan Anti-korupsi

Beberapa hari yang lalu motor saya kena tilang pak polisi di depan PUSDAI Jalan Supratman, Bandung. Salah saya juga sih, plat nomor saya sudah kadaluarsa beberapa hari. Hari yang apes, karena pada hari itu saya justru mau mengurus STNK di kantor SAMSAT, tapi keburu kena tilang. Selain plat nomor yang kadaluarsa, SIM saya juga sudah lewat waktu (belum sempat ikut ujian SIM lagi. Saya harus bikin ulang SIM baru karena masa kadaluarsa SIM telat satu hari). Jadilah saya melanggar dua pasal.

Pak polisi yang menilang saya kemudian berkata: “Motor bapak kami tahan beserta kuncinya, nanti bisa diambil di Jalan Jawa (kantor Poltabes). Bagaimana, Pak? Apa bapak mau ikut sidang pengadilan tanggal 26 Mei atau dibantu diselesaikan di sini?”.

Saya sudah paham maksud Pak polisi itu. “Diselesaikan disini” artinya selesai di jalan saja, tidak perlu ikut sidang pengadilan, tapi cukup pakai “uang damai”.  Tawarannya saya tolak, sebab bertentangan dengan prinsip saya (anti menyuap). Menyelesaikan perkara dengan jalan uang damai sama saja dengan menyuruh Pak Polisi melakukan korupsi. Uang damai akan masuk ke kantongnya, bukan ke kas negara.

“Begini saja pak”, kata saya setelah diskusi yang cukup alot dengan Pak Polisi. “Saya minta slip formulir tilang yang berwarna biru. Nanti denda tilang saya setor ke Bank BRI”.

(Ini adalah alternatif jika kita tidak mau ikut sidang tilang.  Terlalu lama menunggu. Di Bandung sidang tilang setiap hari Jumat di Jalan Riau, yang antri sidang puluhan sampai ratusan orang. Kita harus pagi-pagi datang ke pengadilan supaya dapat nomor antrian kecil. Sidangnya tidak sampai 5 menit, tapi mengantrinya seharian)

Pak Polisi tampak agak ogah-ogahan memberikan slip tilang yang berwarna biru. Sepertinya dia agak keberatan. Dia pikir mungkin saya mau menyelesaikan di jalan saja, seperti pemotor lain yang kena tilang.

Setelah berdiskusi dengan temannya, akhirnya dia berikan juga slip biru itu. Dia cantumkan nomor rekening Bank BRI di formulir tersebut. Saya bisa setor denda tilang via ATM BRI atau ke teller BRI.  Saya coba bayar via ATM ternyata tidak berhasil (belakangan saya ketahui memang belum bisa, sebab besar denda tilang tidak tertulis di surat tilang tesrebut). Akhirnya saya minta pegawai kantor saya untuk membayar denda tilang di  kantor BRI. Teller BRI sudah tahu  berapa besar dendanya.  Denda yang kita bayar adalah denda maksimal (kalau ikut sidang pengadilan, maka dendanya lebih kecil lagi). Saya membayar denda Rp150.000.  Tak apalah, daripada seharian antri sidang pengadilan yang menurut saya tidak efektif.

Dua hari kemudian saya bisa mengambil motor kembali di Jalan Jawa , tapi sebelumnya saya harus mengurus perpanjangan STNK beserta plat nomor seharian di kantor Samsat. Perlu waktu dua hari untuk mengurus perpanjangan plat nomor ini.  Berhubung saya tidak punya waktu, maka saya kuasakan saja ke pegawai kantor saya. Untuk perpanjangan plat nomor ini (berikut denda keterlambatan),  biayanya sekitar Rp400 ribuan.

Moral dari cerita ini, setidaknya saya bersyukur. Bersyukur karena saya sudah terhindar memberikan uang suap, dan telah menghindarkan polisi itu dari berbuat korupsi. Itu saja.

Dipublikasi di Pengalamanku | 1 Komentar

Ketika Islam Dibenturkan dengan Kebhinnekaan dan NKRI

Sebagai orang Islam, saya merasa cukup sedih ketika umat Islam dituding intoleran, radikal, anti-kebhinnekaan, anti-NKRI, anarkis, dan sebagainya. Sebutan-sebutan negatif itu berlangsung selama Pilkada hingga Ahok divonis bersalah dan dihukum dua tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara baru-baru ini.

Pilkada DKI memang kental dengan nuansa SARA. Puncaknya ketika Ahok dianggap menistakan Al-Quran dengan kasus Al-Maidah 51 yang sama-sama kita ketahui. Pro kontra terhadap ucapan Ahok itu telah membangkitkan sentimen keagamaan yang meluas di  seluruh tanah air. Aksi-aksi demo yang bertubi-tubi yang diikuti oleh ratusan ribu hingga jutaan umat Islam di Jakarta,  demo di mana-mana di seluruh negeri, dan perang kata-kata di media sosial, telah membuat situasi negara ini menjadi tambah panas. Hampir-hampir saja negara ini diambang perpecahan. Peserta demo-demo itu dituding anti-kebhinnekaan, radikal, intoleran, dan anti NKRI. Saya tidak mengerti kenapa disebut demikian, mungkin karena yang demo itu memakai sorban, peci, berbaju putih-putih, menggemakan takbir, dan sasaran demo adalah Ahok yang kebetulan non-muslim dan beretnik Tionghoa. Padahal yang diperjuangkan oleh peserta demo adalah tindakan hukum, bukan agama orang lain atau etnik.

Setelah Pilkada diketahui hasilnya, yang ternyata Ahok kalah, maka media asing pun ramai memberitakannya. Media asing menulis bahwa kemenangan Anis-Sandi adalah kemenangan kaum radikal dan menunjukkan meningkatnya intoleransi di Indonesia. Publik di dalam negeri yang Pro Ahok ikut-ikutan mengamini tudingan media luar negeri tersebut. Naon? Apa hubungannya kemenangan Anies-Sandi dengan radikalisme dan intoleransi?  Apakah tidak memilih Ahok maka disebut intoleran dan anti kebhinnekaan? Bagaimana dengan kelompok pemilih dari non-muslim atau pemilih beretnik Tionghoa yang kompak 99% memilih Ahok, apakah mereka juga disebut anti-kebhinnekaan?

Jika kemenangan Anies-Sandi dianggap kemenangan kaum radikal, itu artinya 58% pemilih DKI yang memilih Anies-Sandi (sekitar 3,2  juta pemilih) seluruhnya dianggap kaum radikal dan intoleran, sedangkan 42% yang memilih Ahok dianggap toleran dan tidak radikal. Kesimpulan yang sama sekali absurd dan gegabah, sebab, meski ada yang memilih karena alasan agama, lebih banyak lagi warga DKI tidak memilih Ahok bukan karena pertimbangan agama, tetapi karena faktor attitude Ahok dan serangkaian peristiwa yang terjadi pada masa tenang yang telah menggerus elektabilitasnya. Peristiwa-peristiwa itu seperti pembagian sembako, kasus Steven yang mendiskreditkan pribumi, dan iklan kampanye Ahok yang kontroversial.

Pasca Pilkada, saya kira suasana kebatinan di tanah air sudah mulai reda, ternyata saya salah. Kegaduhan di dalam negeri belum usai. Sidang Ahok berakhir klimaks dengan vonis hukuman penjara dua tahun yang dijatuhkan oleh hakim. Yang lebih mengejutkan, hakim memerintahkan Ahok ditahan. Media luar negeri pun kembali nyinyir dengan menyebut hukuman kepada Ahok sebagai bukti intoleransi dan radikalisme di Indonesia. Mereka menyebut vonis tersebut adalah hasil tekanan massa. Itu artinya media luar negeri meragukan independensi hakim Indonesia.

Para pendukung Ahok yang belum bisa move on tidak terima Ahok dipenjara, padahal sebelumnya mereka mengatakan siap menerima apapun keputusan hakim. Mereka melakukan unjuk rasa dan menuntut Ahok dibebaskan. Pendukung Ahok menyatakan keadilan telah mati di Indonesia. Indonesia mundur ke belekang. Dalam aksi unjuk rasanya mereka kembali menghina ulama dan menyebut vonis ini adalah akibat kaum radikal yang anarkis dan intoleran dan anti-NKRI.

Kawan. Umat Islam Indonesia sangat cinta NKRI. Kemerdekaan Indonesia ini diperjuangan dengan darah para syuhada dan ulama. Mana mungkin umat Islam mengkhianati hasil perjuangannya sendiri dengan mengancam NKRI yang sudah susah payah diperjuangkannya?

Umat Islam tidak anti Pancasila. Sila-sila di dalam Pancasila itu adalah perwujudan ajaran Islam. Umat Islam tidak menuntut negara Islam. Soal dasar negara ini sudah selesai ketika para tokoh Islam pada tahun 1945 berbesar hati menghilangkan tujuh kata di dalam Piagam Jakarta untuk menjaga keutuhan NKRI dari ancaman pemisahan oleh saudara sebangsa di kawasan Indonesia Timur.

Umat Islam tidak anti kebhinnekaan. Sudah lama umat Islam hidup berdampingan dengan damai dengan pemeluk agama berbeda. Di Indonesia tidak hanya hari penting agama Islam saja yang dijadikan hari libur nasional, semua agama mendapat hari libur untuk hari rayanya. Bahkan hari Jumat tidak dijadikan hari libur, justru hari Minggu yang menjadi hari libur. Kita hampir tidak menemukan libur nasional untuk hari raya umat Islam di Amerika, Inggris, Jerman maupun Perancis, padahal mereka adalah negara-negara yang dianggap mbah-nya demokrasi.

Umat Islam bukanlah orang radikal, ekstrimis, teroris. Perilaku radikal sekelompok orang tidak dapat digeneralisasi bahwa semua orang Islam adalah radikal, ekstrimis, dan teroris. Mereka yang demo-demo kemarin itu dalam rangka membela agama dan kitab sucinya, sama sekali bukan menyerang agama lain dan etnik  lain. Demo-demo itu bahkan berlangsung tertib dan damai, jauh sekali dari kesan anarkis yang dilabelkan oleh kelompok yang tidak suka.

Kawan. Jangan kau benturkan Islam dengan label-label yang menyesatkan itu.  Indonesia bukan hanya soal Ahok. Indonesia adalah negara besar. Terlalu habis energi bangasa kita ini hanya mengurus masalah satu orang, padahal masih banyak persoalan bangsa ini yang menuntut perhatian.

Yang dapat kita lakukan saat ini adalah menghormati keputusan hakim. Terpidana masih punya hak untuk menuntuk keadilan dengan melakukan upaya banding, kasasi, dan PK.  Jalan masih panjang, keputusan belum inkracht.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | 12 Komentar

Bermula dari Satu Sekolah Muhammadiyah ini

Sebuah foto saya peroleh dari grup ilmuwan Muhammadiyah di WhatsApp. Ini foto jadoel, diperkirakan tahun 1912, foto sekolah Muhammadiyah pertama yang didirikan K.H Ahmad Dahlan di Kauman, Yogyakarta. Tampak di dalam foto K.H Ahmad Dahlan berdiri di pintu. Murid-muridnya berpakaian sederhana dan bersarung, sedangkan asisten guru memakai baju lurik dan blangkon Jawa.

SD Muhammadiyah Kauman 1912

Bermula dari sekolah kecil ini, organisasi Muhammadiyah kini mempunyai ribuan TK, SD, SMP, SMA, SMK, MI, MTs, MA, Pondok Pesantren, dan ratusan Perguruan Tinggi di seluruh Nusantara. Menurut data dari situs web Muhammadiyah, jumlah lembaga pendidikan yang dikelola oleh Muhammadiyah saat ini adalah:

1 TK/TPQ 4.623
2
Sekolah Dasar (SD)/MI
2.252
3
Sekolah Menengah Pertama (SMP)/MTs
1.111
4
Sekolah Menengah Atas (SMA)/SMK/MA
1.291
5
Pondok Pesantren
67
 6
Jumlah total Perguruan tinggi Muhammadiyah171
 171

Itulah amal usaha Muhammadiyah yang ikut mencerdaskan anak bangsa . Jika Ahmad Dahlan masih hidup, mungkin dia tidak akan percaya jika sekolah Muhammadiyah yang dirintisnya tahun 1912 berkembang luar biasa.

Saya yang pernah sekolah di SD Muhammadiyah Sawahan, Padang, dan hidup di lingkungan Muhammadiyah yang kental di Sumatera Barat juga ikut merasa bangga. Dua anak saya juga bersekolah di SD Muhammadiyah 7 Antapani Bandung. Meskipun saya bukan kader, hanya simpatisan saja, saya berharap Muhammadiyah akan selalu istiqamah dalam membentuk manusia Indonesia yang berpendidikan, beriman, berkarakter, dan berakhlaqul karimah. Amin.

Dipublikasi di Pendidikan | 2 Komentar