Orang Indonesia Tidak Takut

Serangkaian bom mengguncang kawasan Sarinah, Jakarta, hari Kamis siang. Aksi teror yang sangat mengagetkan itu memiliki pola yang sama seperti bom Paris tahun lalu. Teroris menyebar dan menyasar orang banyak. Tujuh orang tewas dalam aksi terorisme itu (lima teroris dan dua warga), belasan lainnya luka-luka berat dan ringan.

Yang namanya bom pasti menakutkan. Mendengar kata bom saja orang-orang sudah takut duluan. Sangat sensitif. Bahkan, calon penumpang pesawat di bandara akhir-akhir ini sering bercanda mengucapkan kata bom ketika barang bawaannya diperiksa oleh  petugas. Akibatnya berabe, penumpang itu ditangkap meskipun tidak terbukti ada bom di dalam bagasinya.

Bercanda dengan kata bom saja sudah membuat paranoid, apalagi bila benar-benar terjadi. Namun bom yang terjadi di Jakarta kemarin adalah anomali. Warga Jakarta tampak seperti orang yang berani, mereka sama sekali tidak takut. Ketika bom dan tembak menembak antara teroris dan polisi terjadi, warga malah berkerumun menonton. Bukannya lari menjauh, mereka menonton kejadian yang mengerikan itu seperti sedang ada syuting film.

selfi-sarinah 2

Aksi polisi mengejar teroris. Warga berkerumun di latar belakang

Yang lebih mencekam lagi ketika seorang teroris berjalan dengan tenang di tengah badan jalan sambil menyandang senjata AK, tampak warga masih berkeliaran di pinggir jalan menyaksikan si teroris siap-siap melakukan tembakan.

sarinah4

Seorang teroris dengan tenang berjalan membawa senjata AK, warga malah bukan lari menjauh tetapi memandangnya dengan heran.

Foto yang berhasil diabadikan oleh wartawan Tempo di bawah ini memperlihatkan perilaku warga yang berkerumun di lokasi TKP. Bukannya lari menyelamatkan diri, warga malah mendekat. Di luar negeri jika terjadi aksi terorisme, maka polisi mensterilkan TKP sekian ratus meter dari warga yang mendekat.

tempo1

Warga berkerumun di TKP bom bunuh diri. Orang yang diberi lingkaran merah adalah terduga teroris. Sumber: Tempo

 

Padahal bahaya sedang mengintai di belakang warga yang berkerumun. Seorang teroris yang berbaur dnegan warga tiba-tiba menembak dua orang polisi.

tempo3

Teroris menembak polisi, warga yang semula berkerumun tidak menyangka ada teroris di belakangnya. Sumber: Tempo

Dua gambar dari Tempo di atats diambil dari berita ini: Detik-detik Polisi Ditembak Dua Terduga Teroris Bom Sarinah.

Bukti berikutnya bahwa orang Indonesia tidak takut dengan aksi bom kemarin dapat dilihat pada foto yang diunggah seorang netizen melalui Path. Seorang tukang sate yang berada 100 meter dari TKP tetap tenang mengipas-ngipas satenya dan  melayani pembeli, pembeli sate pun tidak membatalkan pesanan satenya dan tetap makan dengan tenang, seakan-akan tidak tidak terpengaruh dengan peristiwa bom dan tembak menembak yang sedang berlangsung. Baca: Cerita Tukang Sate yang Tetap Mengipas Dagangan Saat Ledakan di Sarinah. Foto tukang sate dan narasi dari Wimpy di Path tersebut menginisiasi orang-orang membuat slogan dan tagar dan#kamitidaktakut di dunia maya.

sate jamal

Tukang sate ini tetap tenang melayani pembeli, sementara warga lain berkerumun menonton kejadian

Setelah semua teroris tewas (sebagian mati karena bom bunuh diri), warga Jakarta tetap berkerumun di lokasi kejadian. Mereka malah menjadikan lokasi ledakan sebagai ajang untuk swafoto (selfie). Sebuah wisata teror baru saja tercipta.

selfi-sarianh

Warga malah berswafoto di lokasi kejadian aksi terorisme.

Orang Indonesia tidak takut, orang Indonesia berani. Teroris mungkin kecele, mereka mengira dengan bom itu mereka dapat mengirimkan pesan ketakutan kepada masyarakat. Yang terjadi malah sebaliknya. Bahkan di dunia maya kesadaran netizen pun  tumbuh dengan tidak menyebarkan foto-foto  kengerian bom bunuh diri. Menyebarkan foto-foto tersebut akan menjad viral ddi dunia maya, dan hal itu menandakan kesuksesan aksi para teroris. Di jejaring sosial beredar  pesan singkat yang salah satunya sebagai berikut:
“Mohon yg ada foto korban jgn d fwd atau re fwd…buat pelaku itu akan jd materi viral yg bs dijadiikan patokan kesuksesan sebuah aksi…mohon dipahami.”

Orang Indonesia memang hebat. Bravo orang Indonesia!

Dipublikasi di Indonesiaku | 8 Komentar

Anak-anak Muda, Korban Organisasi Menyimpang

Hari-hari ini media di tanah air ramai sekali memberitakan tentang kasus orang hilang yang diduga tergabung dalam sebuah organisasi berpaham menyimpang, bernama Gafatar. Kasus ini mencuat setelah menghilangnya dr. Rica dan anaknya yang pergi tanpa pamit kepada suaminya. Dr. Rica akhirnya ditemukan di bandara Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah). Selain dr. Rica, juga telah dilaporkan hilang orang-orang lainnya yang tergabung dengan Gafatar.  Apa itu Gafatar, silakan baca artikel ini:  10 Hal Tentang Gafatar Yang Penting Anda Ketahui .

Kasus hebohnya Gafatar mengingatkan kita pada kasus NII beberapa tahun lalu dulu. Saya pernah menulis tentang mahasiswa saya di ITB yang menjadi korban NII ini (baca: Mahasiswa ITB Korban NII). Baik Gafatar maupun NII modus merekrut anggotanya memiliki kemiripan. Sasarannya adalah anak-anak muda yang masih lemah akidah namun memiliki keinginan yang kuat untuk belajar agama, atau anak muda yang sedang galau/labil dan sedang mencari jawaban terhadap kegelisahan hidup. Ketika ada yang menawari untuk ikut pengajian, mereka tertarik, apalagi di pengajian itu mereka mendapat ‘ketenangan’ batin, dan mendapat pencerahan terhadap kegelisahan yang selama ini mereka  rasakan. Di dalam kelompok itu mereka merasa nyaman, merasa dilindungi, dan akhirnya kerasan.

Sekali ikut pengajian itu, lalu ikut lagi, ikut lagi, dan secara tidak sadar anak-anak muda itu mengalami indoktrinasi atau cuci otak. Masuklah paham-paham yang menyimpang ke dalam kepala mereka. Dimulai dengan menanamkan pemahaman bahwa  kondisi saat ini tidak ideal, tidak sesuai dengan kaidah yang seharusnya. Lalu jamaah (anggotanya) diminta untuk  berjuang di jalan Allah (baca: Lengkap, Pesan Terakhir PNS Diduga Ikut Gafatar untuk Keluarganya). Sampai di sini tidak ada yang aneh. Keanehan mulai terjadi ketika  jamaahnya diajarkan tidak perlu sholat lima waktu, tidak perlu puasa, dan sebagainya. Orangtua juga boleh dilawan jika menghalangi perjuangan di jalan Allah. Para aota juga dibaiát atau diambil sumpah untuk setia kepada pemimpin dan organisasinya (baca: Ini Dia Sepenggal Janji Pengurus dan Naskah Persaksian Anggota Gafatar). Sekali masuk ke dalamnya susah untuk keluar.

Untuk membiayai organisasinya, jamaah harus menyetor uang secara periodik (baca: Inilah Pengakuan Seorang Pengusaha Mantan Donatur Gafatar). Ajaran aneh lainnya adalah ajakan untuk berhijrah karena tempat yang didiami sekarang sudah dikutuk dan dilaknat dan tidak lama lagi akan hancur, oleh karena itu para jamaahnya harus melakukan eksodus. Mungkin dr. Rica dan orang-orang lain yang dilaporkan hilang itu ikut eksodus ke suatu tempat yang dianggap aman, dalam hal ini ke Kalimantan (baca: Buku Harian Ungkap Menghilangnya Istri dan Anak Warga Garut).

Selain perekrutan anggota/jamaah organisasi melalui cara-cara klasikal (pengajian), juga ada kemungkinan modus lain dengan cara hipnotis. Tadi siang saya mendapat pesan dari jejaring sosial yang bersumber dari pengakuan orangtua yang anaknya kost di Yogyakarta. Begini isi pesan yang saya dapatkan (setelah saya edit tata bahasanya namun tidak mengurangi maknanya):

Hati-hati bagi siapapun yang mempunyai anak yangsedang kuliah dan kost di Jogja, bisa-bisa anak anda menjadi target perekrutan anggota aliran Gafatar. Anak perempuan saya hampir menjadi korban organisasi sesat ini

Kata anak saya , modusnya diajak sesama teman untuk pengajian, tetapi ajakan ini seperti ada unsur setengah paksaan.

Berkali-kali anak saya menjawab tidak mau, karena sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Tetapi, berkali kali pula ‘ajakan’ itu terus dilakukan tanpa henti.

Karena merasa ‘risih’ , sekali tempo anak saya menuruti ajakan pengajian itu .

Apa yang terjadi ?  Banyak sekali keanehan-keanehan yang terjadi dalam ‘pengajian’ itu .

Anak saya bilang, peristiwa dalam ‘pengajian’ itu lebih tepat kalau dikatakan sebagai indoktrinasi dan pemahaman dasar-dasar aliran itu.  Yang membuat anak saya masih dapat berfikir normal adalah menolak saat disuruh minum ‘cairan’ dalam jamuan ‘pengajian’ itu ,

Mungkin ‘minuman’ itu yg membuat sebagian calon anggota yang direkrut ‘gagal pulang’  dan berhasil ‘dicuci otaknya’, sehingga dengan ‘sukarela’ menjadi anggota sekte Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara).  Dan selanjutnya dengan kesadaran sendiri rela berpisah dari keluarganya dirumah .

Inilah yg kemudian dikatakan sbg ‘orang hilang’ .  Padahal , hilangnya itu karena kesadaran sendiri, yg memang sudah tidak mau berhubungan dengan keluarganya.

Sungguh mengerikan .. ‘

Masih beruntung anak saya menolak minuman itu , dengan alasan sedang berpuasa,
dan dengan keberanian yang dipaksakan, anak saya pura-pura ijin kencing ke belakang, lalu melarikan diri dan kabur .. ‘

Alhamdulillah anak saya selamat .. ‘

Semoga pengalaman ini akan membuat pemirsa lebih waspada dengan putra putrinya yg sedang menuntut ilmu di Jogja .

Wassalam

 

Mengerikan sekali, pantas kalau sudah masuk ke dalam organisasi itu sulit untuk keluar lagi.

Terlepas dari benar tidaknya isi pesan yang saya terima, namun saya yakin sebagai organisasi yang memerlukan jamaah, organisasi tersebut melakukan berbagai cara untuk merekrut anggota sebanyak-banyaknya. Entah apa yang dicari pengurusnya dengan membuat organisasi yang menjerumuskan anak-anak muda itu. Uang?  Kekuasaan? Wallahualam.

Dipublikasi di Indonesiaku | 2 Komentar

Pengalaman Menginap di Hotel “BW Suite Belitung”

Tulisan saya ini masih satu rangkaian dengan cerita jalan-jalan ke Pulau Belitung. Jika anda jalan-jalan ke Belitung, tidak usah khawatir dengan fasilitas akomodasi. Di Pulau Belitung sekarang tumbuh menjamur hotel-hotel. Sejak Belitung populer menjadi tujuan wisata setelah meledaknya film Laskar Pelangi, hotel-hotel baru terus bermunculan, sebagian besar berada di Belitung bagian barat (Kabupaten Belitung).

Beragam hotel dengan tarif kamar per malam dari seratus ribu rupiah hingga jutaan rupiah tersedia di sana, dari hotel bintang satu hingga bintang lima. Liburan tahun baru kemarin saya menginap di hotel BW Suite Belitung. Hotel ini satu-satunya hotel bintang lima di Belitung, terketak di dalam kota Tanjungpandan. Lokasinya di pinggir pantai di Jalan Pattimura. Hotel BW Suite Belitung merupakan bangunan paling tinggi di seluruh pulau Belitung. Hotel ini terdiri dari 11 lantai. Dulunya bernama Hotel Aston Belitung dan tergabung dalam jaringan hotel Aston, namun sejak dua tahun lalu diambil alih oleh pemiliknya (pengusaha asal Belitung) dan diberi nama sesuai singkatan namanya, BW (Budiyono Widodo).

DSC_1325

Hotel BW Suite Belitung dengan pantai yang sedang surut airnya.

Memasuki lobby hotel ini kesan mewah sudah terasa. Lobby hotelnya sangat bagus dengan interior yang menyiratkan kemegahan. Pegawai resepsionisnya cukup ramah melayani tamu.  Oh ya, saya menemukan hotel ini lewat internet dan memesan kamar hotel via  Agoda, kebetulan usai tahun baru sehingga masih ada kamar untuk reservasi.

DSC_1394

Lobby hotel

Tarif kamar di hotel ini bervariasi, mulai dari 600 ribu rupiah (standard) hingga lebih dari satu juta rupiah (president suite room), belum termasuk pajak pelayanan. Saya memesan kamar via Agoda sehingga mendapat diskon (bukan harga publish rate). Lantai di kamarnya bukan keramik, tetapi dari bahan kayu jati.  Fasilitas yang didapat sebandinglah dengan harga tersebut.

Oh ya, yang menarik dari hotel ini adalah kolam renangnya dengan pemandangan lepas ke lautan, seolah-olah kita berada di atas tempat di pinggir laut. Cuaca hari itu agak mendung, jadi foto saya di bawah ini terlihat tidak terlalu terang.

DSC_1391

Kolam renang hotel dengan pemandangan lepas ke laut

DSC_1384

Kolam renang dari sudut pandang yang lain

Saya mengambil kamar dengan pemandangan (view) lautan. Jika pada sore hari kita dapat memandang sunset dari atas kamar hotel. Oh ya, lautan yang kita lihat itu adalah selat yang memisahkan Pulau Belitung dengan Pulau Bangka, namanya Selat Gaspar.

DSC_1401

Pemandangan lautan dari atas kamar hotel lantai 9. Tampak kolam renang di bagian bawah.

Pada sore dan malam hari laut di depan itu surut, kita dapat berjalan-jalan di pantai yang airnya surut itu. Menurut saya pantainya kurang  begitu bagus, tidak cocok untuk beranang. Warna air lautnya terlihat seperti kotor, namun sebenarnya bukan karena sampah, tetapi di sekitar pantai itu banyak tanaman bakau, di samping itu tidak jauh dari sana ada muara sungai. Mungkin akar-akar tanaman bakau dan aliran sungai yang bermuara di laut itulah yang membuat air laut berwarna agak kecoklatan.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 4 Komentar

Berkunjung ke SD Muhammadiyah Gantong (Sekolah Laskar Pelangi) di Belitung Timur

Liburan tahun kemarin saya kembali mengunjungi Pulau Belitung. Obyek wisata Pantai Tanjung Tinggi (tempat shooting film Laskar Pelangi) dan Pulau Lengkuas dengan mercusuarnya sudah pernah saya kunjungi tahun 2013 (Baca tulisan terdahulu tahun 2013: Jalan-Jalan ke Pulau Belitung (Bagian 2): Pantai Belitung nan Indah). Nah, kali ini saya ingin bercerita tentang satu  obyek wisata yang sejak dulu ingin saya kunjungi, yaitu SD Muhammadiyah Gantong yang menjadi tempat belajar Ikal dan kawan-kawan.

SD Muhammadiyah Gantong

Para pemain film Laskar Pelangi di depan SD Muhammadiyah Gantong, Belitung Timur

Tidak semua orang yang berwisata ke Belitung sempat mampir ke SD ini, sebab lokasinya sangat jauh dari kota Tanjungpandan. Jika anda naik pesawat  dari Jakarta, maka anda akan mendarat di bandara H.A.S Hanandjoedin di kota Tanjungpandan. Kota Tanjungpandan adalah ibukota Kabupaten Belitung. FYI, Pulau Belitung dibagi menjadi dua kabupaten, yang pertama Kabupaten Belitung dengan ibukota Tanjungpandan, dan yang kedua Kabupaten Belitung Timur dengan ibukota Manggar. Kabupaten Belitung Timur adalah kampung halamannya Ahok yang menjadi Gubernur DKI sekarang.

belitung

Peta Pulau Belitung (Sumber: dika26putra.wordpress.com)

Nah, SD Muhammadiyah Gantong terletak di Kabupaten Belitung Timur. Dari kota Tanjungpandan ke daerah Gantong berjarak sekitar 100 km, lumayan jauh, namun waktu tempuh ke sana hanya sekitar satu jam saja dengan mobil. Kenapa waktu tempuhnya cepat, karena jalan-jalan di Pulau Belitung sangat sepi, selama melintasi jalan raya kita berpapasan dengan hanya satu atau dua mobil atau motor. Hal ini ditunjang pula dengan jalan raya yang beraspal mulus. Seperti apa sepinya jalan raya di Pulau Belitung, silakan lihat foto di bawah ini.

DSC_1349

Jalan raya yang sangat sepi di Pulau Belitung. Jalannya beraspal mulus.

Di kiri kanan jalan hanyalah hutan semak belukar. Sesekali kita berpapasan dengan kebun-kebun sawit yang katanya dimiliki investor dari Malaysia. Selama perjalanan dari Tanjungpandan ke Gantong saya hanya mendapati satu dua rumah di pinggir jalan. Benar-benar sepi. Mobil dapat berlari kencang di sini seperti di jalan tol. Jalan-jalan yang sepi itu tidak punya lampu penerangan pada malam hari, jadi terbayang kondisi gelap gulita pada malam hari  dimana anda melaju sendiri pada malam yang sepi.

Asal tahu saja, pulau Belitung yang luas itu didiami penduduk yang jumlahnya tidak sampai 300.000 jiwa. Meskipun kondisinya sepi, namun pulau Belitung dikenal aman. Tingkat kriminalitas sangat rendah. Anda dapat meninggalkan motor atau mobil dalam keadaan tidak terkunci, tidak akan ada yang mengambil. Lha, mau lari kemana membawa motor atau mobil curian, karena sekeliling pulau adalah laut.

Mobil rental yang membawa saya ke Gantong disopiri oleh orang asli Belitung. Selama dalam perjalanan dia bercerita berbagai hal, termasuk kekalahan telak adik kandung Ahok pada Pilkada tanggal 9 Desember 2015 yang lalu.  Seperti yang kita ketahui, petahana Bupati Belitung Timur yang merupakan adik kandung Ahok dikalahkan oleh kakak kandung Yusril Ihza Mahendra. Kata sopir rental, warga Belitung Timur tidak simpatik kepada adik Ahok tersebut karena dia sering mengatai-ngatai PNS di sana. Kelakuannya sama saja dengan Ahok, yaitu suka berkata kasar dan mengatai-ngatai orang. Mungkin karena itulah warga Belitung Timur tidak memilihnya lagi pada Pilkada. Akankah Ahok akan bernasib sama dengan adiknya pada Pilkada DKI tahun 2017 nanti, wallaualam. Apakah warga DKI sama seperti warga Belitung Timur yang mempertimbangkan sopan-santun dan akhlak calon pemimpin sebagai kriteria memilih, tidak tahulah awak. Kita tidak pernah tahu suara silent majority, yang kita tahu selama ini hanyalah penggalangan yang didukung media massa arus utama dan oleh orang-orang yang menamakan dirinya #kawanahok.

Huss.. saya ngelantur terlalu jauh membicarakan Pilkada DKI, padahal saya sedang berada di Belitung nih. Setelah perjalanan selama satu jam lebih, sampailah saya ke lokasi SD Muhammadiya Gantong yang menjadi lokasi shooting film Laskar Pelangi yang fenomenal itu. Novel dan film Laskar Pelangi telah melambungkan nama Pulau Belitung sebagai daerah tujuan wisata alternatif. Saat ini semakin banyak penerbangan ke Belitung setiap hari yang dilayani oleh maskapai Sriwijaya Air, Nam Air, Citilink, Garuda Indonesia, dan Lion Air. Hampir semua kursi pesawat terisi penuh pada setiap penerbangan. Lama penerbangan dari Jakarta hanya satu jam saja dengan harga tiket berkisar 400-500 ribu rupiah.

Sampailah saya ke SD Muhammadiyah Gantong tempat sekolah Ikal dan kawan-kawan. Ini bukan SD Muhammadiyah yang sesungguhnya, tetapi hanyalah replika saja yang dijadikan lokasi shooting. SD Muhammadiyah Gantong yang sesungguhnya cukup jauh dari situ, lokasinya di pinggir pantai Belitung Timur. Sutradara Riri Riza membuat replika SD ini lengkap dengan pasir pantainya yang putih. Sekarang replika SD Muhammadiyah Gantong menjadi salah satu obyek wisata andalan di Belitung Timur, selain Museum Kata yang digagas oleh Andrea Hirata, pengarang novel Laskar Pelangi.

DSC_1368

Replika SD Muhammadiyah Gantong

DSC_1367

Gerbang halaman sekolah

DSC_1377

Dilihat dari samping

DSC_1380

Dari samping lagi, tapi agak kejauhan. Untuk masuk ke lokasi, ada petugas yang menjual karcis masuk Rp3000/orang. Resmi apa tidak tuh?

DSC_1374

Saya di depan papan nama sekolah

DSC_1372

Di halaman upacara bendara

Jika dibandingkan dengan foto sekolah  di dalam film Laskar pelangi (lihat foto pertama pada awal tulisan), bentuk banguna sekolah ini sedikit mengalami perubahan. Lantai sekolahnya dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah, sedangkan di filmnya sama rata dengan tanah.

Saya masuk ke dalam ruang kelas. Hanya ada dua ruang kelas. Kondisi ruang kelas sangat memprihatinkan. Lantainya tanah, dindingnya papan yang sudah kusam, mengingatkan kita pada kondisi sekolah di daerah pedalaman yang kurang mendapat perhatian Pemirintah. Dinding kelas dihiasi foto para pahlawan Indonesia. Di sinilah Bu Muslimah (di dalam film itu) mengajar. Di sini pulalah kepala sekolah (diperankan oleh Ikranegara) bercerita kepada murid-muridnya yang menyimak dengan tekun.

DSC_1361

Suasana kelas yang sangat memprihatinkan. Di sinilah mimpi masa depan dibangun oleh murid-murid Laskar Pelangi.

DSC_1355

Saya merenung di dalam kelas ini.

muslimah

Bu Muslimah sedang mengajar di ruang kelas yang saya masuki (sumber: screenshot film Laskar Pelangi)

Lokasi replika SD Muhammadiyah Gantong sudah berkembang menjadi obyek wisata. Di sekitar SD ini terdapat bangunan baru yang berupa toko-toko cendermata dan warung makanan.

DSC_1379

Bangunan-bangunan baru yang tumbuh di sekitar replika SD Muhammadiyah Gantong

Begitulah kunjungan saya ke replika SD Muhamamadiyah Gantong di Belitung Timur. Entah sampai kapan replika ini bisa bertahan lama mengingat ia dibuat dari bahan-bahan sederhana. Ia menjadi museum pendidikan yang mengingatkan orang pada perjuangan guru-guru dan anak-anak yang belajar di tengah kondisi memprihatinkan guna meraih mimpi-mimpi mereka di masa depan.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 1 Komentar

Toleransi yang Salah Kaprah

Sebenarnya tulisan saya ini sudah tidak up-to-date lagi, karena kejadiannya sudah berlangsung dua minggu yang lampau. Namun saya tergelitik untuk mengomentarinya karena masalah ini berkaitan dengan akidah. Yang namanya akidah atau keyakinan tidak boleh dianggap main-main. Ia merupakan hal fundamental dalam beragama.

Pada Perayaan Natal tingkat nasional tahun 2015 di kota Kupang (NTT) yang dihadiri oleh Presiden Jokowi, ada kejadian yang cukup mengagetkan banyak pihak, khususnya bagi kaum muslimin. Pada acara itu, seorang biduan menyanyikan lagu merdu berjudul Ave Maria karya Franz Schubert. Ini adalah lagu rohani saudara-saudara kita kaum kristiani. Yang mengagetkan, lagu tersebut diiringi dengan suara adzan yang dilantunkan oleh Imam Masjid Oepura, Ustad Umarba (Baca: Dengarkan Lagu “Ave Maria” dan Adzan Berkumandang, Gubernur NTT Menangis dan  Ketika Ave Maria dan Adzan Mengalun Bersama, Oh Indahnya… ).

Maksud hati Panitia Natal 2015 adalah untuk menunjukkan bahwa umat Kristen dan umat  Islam hidup berdampingan dengan damai di NTT dengan cara menampilkan lagu dan adzan tersebut secara bersamaan pada perayaan Natal. Di Propinsi NTT, seperti cerita seorang teman, toleransi antar umat beragama di sana memang terjalin dengan baik. Silakan baca komposisi demografi penduduk di NTT dari laman Wikipedia ini.

Dalam kacamata keislaman, apa yang dilakukan oleh Panitia Natal di Kupang itu bukanlah suatu bentuk toleransi beragama yang benar. Itu sama sekali tidak indah, tetapi benar-benar salah. Menurut saya, kejadian ini sudah termasuk sinkretisme, yaitu mencampuradukkan ibadah kedua agama. Mungkin bagi saudara-saudara kita kaum kristiani hal ini tidak menjadi persoalan (CMIIW), namun dalam akidah Islam hal ini adalah suatu masalah besar. Adzan adalah panggilan untuk melaksanakan  ibadah sholat bagi umat Islam, sedangkan menyanyikan lagu Ave Maria adalah bagian dari ibadah umat kristiani. Tentu tidak pantas kedua ibadah itu dicampurkan. Tidaklah layak suara adzan dilantunkan pada ibadah Natal, sebagaimana tidaklah layak menyanyikan  lagu rohani kristiani pada ibadah umat Islam.

Toleransi  antar umat beragama yang terjadi pada perayaan Natal di Kupang itu sudah salah kaprah. Toleransi beragama yang benar adalah dengan tidak mengganggu ibadah umat agama lain, memberikan rasa tenang dan nyaman buat mereka yang beribadah itu.  Orang Islam tidak diganggu ibadahnya, begitu juga orang Kristen tidak diganggu ibadahnya. Itulah wujud toleransi yang indah.

Toleransi beragama cukup dalam di dalam ranah sosial saja, bukan dalam ranah  peribadatan. Orang Islam tidak perlu ikut ibadah orang Kristen, begitu juga orang Kristen tidak perlu ikut ibadah orang Islam. Orang Islam tidak perlu ikut misa Natal di gereja, begitu juga orang Kristen tidak perlu ikut pengajian di masjid. Orang Islam tidak perlu qasidahan pada acara misa di gereja, begitu juga paduan suara orang Kristen tidak perlu menyanyikan shalawat di dalam masjid.

Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi pada masa yang akan datang. Biarlah masing-masing umat beragama berjalan sesuai dengan agamanya masing-masing.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | 13 Komentar

Pramugari Sriwijaya Air yang Berjilbab

Ketika terbang dengan pesawat Sriwijaya Air dari Tanjungpandan (di Pulau Belitung) ke Jakarta beberapa waktu yang lalu, saya menemukan pemandangan langka. Surprise! Baru kali ini saya menemukan pramugari pesawat domestik memakai busana muslimah berupa  kerudung atau jilbab, dan pramugari itu ada di pesawat Sriwijaya Air yang sedang saya naiki.

sriwijaya1

Pramugari Sriwijaya Air yang memakai jilbab

Kenapa saya sebut surprise, karena selama ini belum pernah ada pramugari di dalam pesawat memakai jilbab.  Menjadi pramugari tampaknya tertutup bagi wanita yang menggunakan busana muslimah. Iklan lowongan kerja pramugari secara eksplisit mensyaratkan si pelamar harus tampil menarik, cantik, dan enak dipandang, dan secara implisit tentu tidak boleh menggunakan kerudung atau jilbab.  Foto si pelamar harus memperlihatkan pose setengah badan dan pose penuh untuk memperlihatkan kecantikan dan proporsional tubuhnya.

Oh ya, tadi saya sebut belum pernah ada pramugari di dalam pesawat memakai jilbab, namun ada beberapa pengecualian. Pramugari yang melayani penerbangan haji atau umrah umumnya menggunakan kerudung, tetapi pramugari tersebut menggunakannya hanya selama penerbangan haji/umrah saja, setelah itu mereka tampil seperti biasa (tanpa jilbab) pada penerbangan lainnya.

Nah, pramugari Sriwijaya Air yang ini tampaknya memang sehari-harinya memakai jilbab, dan dia tetap berjilbab ketika melaksanakan tugasnya di dalam pesawat. Dari nametag-nya saya mengetahui nama pramugari itu  adalah Kiki Seftika. Dia tampak begitu cekatan dan ramah melayani penumpang pesawat.

sriwijaya3

Kiki Seftika sedang menutup kabin penumpang

Jilbab yang digunakannya sama sekali tidak menghalanginya untuk menjalankan tugasnya di atas pesawat, tidak ada bedanya dengan pramugari lain yang kebetulan tidak berkerudung. Dia mondar-mandir di dalam pesawat sambil memastikan semua penumpang sudah memasang  sabuk keselamatan, memperagakan pemakaian alat keselamatan, dan melayani penjualan barang (inflight shop).

sriwijaya2

Kiki Seftika sedang melayani penumpang

Saya mengapresiasi manajemen dan pemilik maskapai Sriwijaya Air  yang menerima pramugari berjilbab. Rasa salut saya buat mereka karena berani melawan arus. Mereka bersikap terbuka terhadap wanita berjilbab yang ingin menjadi pramugari. Menurut pandangan saya, yang dinilai dari seorang pramugari adalah kemampuannya melaksanakan tugas melayani penumpang, bukan memakai jilbab atau tidak. Busana pramugari asalkan sopan tidak masalah, yang penting profesionalitasnya dalam menjalankan tugasnya selama di atas pesawat.

Keberadaan pramugari yang memakai busana muslimah di dalam pesawat menurut saya adalah pilihan yang baik dan bijak karena berkaitan dengan rasa nyaman.  Penumpang pesawat dari kalangan yang bermacam-macam status sosial, kepercayaan, dan kebiasaan. Ada penumpang yang merasa nyaman jika dilayani pramugari berjilbab, ada penumpang yang risih jika dilayani pramugari dengan pakaian ketat, sebaliknya ada juga yang senang dilayani pramugari yang berbusana biasa saja. Ibarat supermarket, penumpang diberikan banyak pilihan, mana yang menurut anda nyaman saja.

Dalam beberapa kasus, perempuan yang berbusana muslimah seringkali mengalami diskriminasi karena pakaiannya. Ia ditolak bekerja karena berjilbab. Saya masih ingat kasus seorang penyiar televisi bernama Sandrina Malakiano. Dia adalah penyiar cemerlang di sebuah stasiun televisi berita ternama (anda pasti tahu nama televisinya). Namanya identik dengan nama stasiun televisi tempatnya bekerja. Ketika dia memutuskan berjilbab, stasiun televisi tersebut tidak lagi membolehkan dia menjadi host atau pembaca berita. Dia diberi tempat di belakang layar  saja, yang secara halus artinya ‘menghukumnya’ karena berjilbab.  Sampai akhirnya Sandrina keluar dari televisi tersebut, dia ditolak menjadi penyiar karena jilbabnya, padahal dia adalah penyiar yang cerdas dan piawai.  Sikap islamophobia  yang ditunjukkan  televisi berita tersebut sungguh tidak layak terjadi di negeri ini, apalagi mayoritas penduduk Indonesia beragama Isla. Syukurlah saat ini di beberapa stasiun televisi lain sudah dibolehkan penyiar televisi berhijab menutup aurat.

Kembali ke pramugari berjilbab tadi. Mudah-mudahan keberadaannya di maskapai Sriwijaya Air terus dipertahankan. Mudah-mudahan semakin banyak maskapai yang menerima pramugari yang berjilbab. Mudah-mudahan semakin banyak perusahaan yang berhubungan dengan publik seperti media, hotel, pariwisata, dan lain-lain yang tidak melarang pegawainya memakai busana muslimah. Tidak hanya membolehkan busana yang menutup aurat, tetapi juga membolehkan pramugarinya beribadah  seperti menunaikan sholat di sela-sela tugasnya di atas pesawat seperti kisah pramugari Garuda ini. Jazakallah.

Dipublikasi di Agama, Pengalamanku | 4 Komentar

Review Blog Catatanku Selama Tahun 2015

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Museum Louvre dikunjungi 8,5 juta orang setiap tahun. Blog ini telah dilihat sekitar 2.000.000 kali di 2015. Jika itu adalah pameran di Museum Louvre, dibutuhkan sekitar 86 hari bagi orang sebanyak itu untuk melihatnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Dipublikasi di Pengalamanku | Meninggalkan komentar