Lima Ratus Rupiah yang Berarti

Beberapa kali melewati sekitar Jalan Supratman Bandung saya sering melihat bapak bersepeda dengan tulisan di depan sepedanya “Isi Korek Gas Keliling”.

Kemarin ketika melewati Jalan Cilaki saya melihatnya lagi. Saya pun menghentikannya untuk mengetahui apa yang dia jual. Oh, ternyata dia menawarkan jasa isi korek gas. Korek gas adalah korek api yang memakai bahan gas.

Biasanya kalau kita menggunakan korek apai gas lalu gasnya sudah habis, korek api gas tersebut kita buang. Tetapi bagi Pak Dedi, demikian namanya, korek gas itu bisa jadi sumber rezeki. Dia menawarkan jasa mengisi korek gas yang kosong, hanya 500 rupiah saja sekali isi. Lima ratus yang tidak berarti apa-apa pada zaman sekarang, tetapi bagi Pak lima ratus rupiah Dedi sangat berarti.

Pak Dedi juga menjual korek gas kosong. Korek gas itu dibelinya dari pemulung, lalu dibentuknya dengan sentuhan seni sehingga meliuk-liuk. Kita bisa membeli korek gas kosong itu beserta isi gasnya. Harganya hanya 2000 rupiah saja beserta isi gasnya, berikut batere kecil untuk pemantik api.

Saya memperhatikan Pak Dedi cara memasukkan gas ke dalam korek kosong. Saya beli tiga buah korek gasnya yang antik itu beserta isi gasnya. Pak Dedi bilang 5000 rupiah saja untuk tiga buah korek api gas beserta isi gasnya. Ketika saya lebihkan membayarnyam, dia kaget. Ini terlalu banyak, katanya. Tidak apa-apa, buat bapak saja, kata saya. Saya pun berlalu meninggalkannya.

Zaman sekarang ketika orang sudah jarang menggunakan kompor minyak tanah, korek api mungkin tidak terlalu diperlukan. Cukup klik kompor gas, lalu kompor menyala. Mungkin korek api gas maupun korek api biasa masih dibutuhkan kaum perokok. Atau, dibutuhkan kalau pergi camping untuk membakar api unggun.

Menurut saya pekerjaan mengisi gas korek ini terbilang unik dan langka, namun masih ada orang yang mau menjalaninya dengan tekun dan tabah. Tuhan selalu punya cara memberikan rezeki bagi makhluk-Nya.

Kalau Anda bertemu Pak Dedi berkeliling di jalan, belilah korek gasnya, atau isilah korek gas yang kosong di rumahmu dengan gas yang dijualnya. Hanya 500 perak saja. Sambil membantu dia mencari rezeki halal.

Dipublikasi di Romantika kehidupan, Seputar Bandung | Meninggalkan komentar

Berdamai dengan Diri Sendiri (Dialog dengan Mahasiswaku)

Sambil berjalan kaki dari Masjid Salman ke Labtek 5 di Kampus Ganesha, seorang mahasiswa yang ikut berjalan di samping saya menceritakan dirinya yang sekarang telah berubah. Selama dua tahun dia merasa tidak punya motivasi kuliah, tidak semangat, merasa tidak cocok kuliah di Informatika. IPK pas-pasan. Jauh tertinggal dari teman seangkatan.

+ Lalu apa yang membuatmu sekarang berubah?, tanya saya.

– Saya mencoba mengerjakan proyek kecil-kecilan, pak. Tidak apa-apa dibayar murah. Itu cara saya untuk menyukai bidang Informatika.

+ Berapa nilai proyeknya?, tanya saya lagi.

– Satu juta saja, Pak.

+ Oh, tak apa-apa, biar kecil, yang penting kamu mulai menyukai bidangmu. Lalu apa lagi?

– Saya mencoba memasukkan lamaran magang ke beberapa perusahaan dari situs online. Tetapi semua ditolak. Ndak masalah. Saya mau coba cari lagi untuk mengisi liburan semester Desember dan Januari ini.

+ Baguslah. Itu artinya kamu sekarang sudah berdamai dengan dirimu sendiri. Perlu dua tahun untuk merenung. Belum terlambat. Kalau di tingkat empat kamu baru sadar, barulah itu terlambat.

…….

Dialog berakhir. Saya sudah sampai ke ruangan saya. Diapun berbalik pergi.

******

Begitulah. Setiap tahun ada saja di antara mahasiswa saya yang keteteran dalam kuliah. Ketinggalan dari teman-temannya yang lain. Penyebabnya macam-macam. Tidak semangat, tidak punya motivasi, malas, kecanduan game, dan sebagainya. Padahal mereka tidaklah bodoh. Kalau bodoh, tentu kamu tidak mungkin bisa lolos masuk Informatika STEI- ITB, kata saya selalu setiap memberi wejangan di kelas. Lolos masuk STEI-ITB itu susah, passing grade-nya paling tinggi se-Indonesia. Seharusnya kamu bersyukur bisa masuk ke sini, kata saya lagi.

Jika tidak mau mengubah diri sendiri, maka duniamu tidak akan berubah. Apakah seterusnya malas, merasa kurang semangat? Wejangan dan nasehat setumpuk tidak mempan.

Saya yakin, mereka-mereka yang merasa tidak semangat kuliah itu karena belum berhasil mengalahkan dirinya sendiri. Mereka selalu dihantui rasa bersalah sebagai orang yang tiada berguna. Hanya menghabiskan kiriman uang dari orangtua, tetapi di Bandung kuliah tanpa ada rasa. Hambar saja.

Untunglah ada saja mahasiswa model begini tersadar. Setahun dua tahun habis waktunya untuk berperang dengan batin. Akhirnya dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Dia bangkit dari kekeliruannya yang selama ini sia-sia saja membuang-buang waktu. Mahasiwaku di atas contohnya.

Dipublikasi di Seputar Informatika | 1 Komentar

“Harta Karun” dari Almarhumah Ibunda; Rezeki Anak Sholeh

Tukang ojek langganan anakku, yang selama 5 tahun ini selalu mengantar jemput anakku ke sekolah, tiba-tiba mendapat “harta karun” yang tak terkira.

Jadi begini ceritanya (dulu saya pernah tuliskan di sini: Kesabaran Merawat Ibu yang Terkena Stroke).  Tukang ojek ini dan istrinya (mereka belum punya anak) hidupnya susah. Namun dia adalah tipe anak yang berbakti kepada orangtuanya. Sudah tiga tahun lebih ibunya terbaring tidak berdaya di atas kasur karena terkena stroke. Lumpuh. Segala-galanya dilakukan di atas kasur. Tidur, mandi, makan, pipis, BAB, semua di atas kasur. Sudah menipis badannya, tinggal tulang saja.

Namun tukang ojek langganan anakku ini merawat ibunya dengan sabar dan telaten. Sebelum mengantar anakku ke sekolah, dia mandikan dulu ibunya di atas kasur (dilap). Setelah itu diberinya makan. Setiap hari Minggu pagi dijemur di bawah sinar matahari pagi. Selama dia mencari nafkah, istrinya yang di rumah yang mengurus ibunya. Jika ibunya BAB, dia yang membersihkan kotorannya, membersihkan pipisnya. Memang pakai pampers, tapi pampers jika penuh dengan kotoran BAB tetap harus diganti. Satu pampers setiap hari. Sudah habis barang-barang di rumahnya dijual untuk biaya pengobatan dan biaya kebutuhan sehari-hari.

Pekerjaan merawat ibunya ini dilakukan sudah hampir tiga tahun lebih. Pada bulan Agustus 2018 yang lalu, bertepatan saat saya masih menunaikan ibadah haji di Mekkah, ibunya dipanggil oleh Allah SWT. Wafat. Berakhirlah penderitaan ibunya, , dan berakhir pulalah tugas ia merawat ibunya. Mungkin itulah jalan terbaik menurut Allah SWT.

Pada bulan November 2018, ketika tukang ojek anakku membersihkan lemari tua ibunya, dia menemukan “harta karun” tak disangka-sangka. Sebuah surat tanah di Kabupaten Cianjur seluas 5000 meter persegi, terletak di pinggir jalan raya. Selama ini ibunya tidak pernah bercerita tentang surat tanah tersebut.

Bergegas dia dan keluarganya mencari lokasi tanah itu di Cianjur. Ternyata memang benar ada. Karena sudah lama tidak diurus (15 tahun lebih), tanah itu dirawat oleh kelurahan di Cianjur. Tanah masih kosong, hanya ditanami tanaman palawija. Segeralah tanah itu diurus sertifikatnya melalui notaris.

Jika tanah tersebut dijual dengan harga 300.000/M2, dia akan mendapat uang sebesar Rp 1,5 milyar. Mungkin harga bisa naik lagi karena tanah itu terletak di pinggir jalan raya, cocok untuk perumahan atau hotel.

Alhamdulillah, saya pun ikut bersyukur dan berbahagia. Ternyata alamarhumah ibunya meninggalkan warisan berupa “harta karun” yang besar sekali nilainya.

Saya katakan kepadanya, bahwa tanah itu tidak sekedar warisan, tetapi mungkin balasan dari Allah SWT atas baktinya merawat ibunya yang sakit stroke selama bertahun-tahun. Rezeki anak Sholeh.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 1 Komentar

Bapak Penjual Mainan Baling-Baling Angin

+ Berapa harganya satu pak?
– Sepuluh ribu, cep
+ Saya beli satu ya pak

Uang dan mainan baling-baling dari plastik itu pun berpindah tangan.

Saya sering melihat bapak tua ini berjalan kaki di Jalan Bengawan menenteng kardus yang berisi mainan baling-baling. Setiap hari saya memang melewati jalan ini ketika pergi ke kampus ITB dari rumah, karena di kiri kanan jalan banyak pepohonan, udaranya sejuk, dan tidak terlalu macet dibandingkan jika melewati Jalan Supratman. Beberapa kali saya berpapasan dengan dia. Akhirnya, pada papasan ketiga kalinya saya menghentikan laju sepeda motor saya lalu menunggu dia lewat. Saya ingin membeli mainannya itu.

Baling-baling angin. Ini mainan kanak-kanak, baling-baling yang dapat berputar ketika ditiup angin. Mainan saya waktu kecil dulu. Bedanya dulu baling-baling terbuat dari kertas, kalau yang ini dari plastik berwarna-warni. Batangnya terbuat dari bambu. Bapak saya dulu membelikan mainan ini, lalu saya berlari-lari membawa baling-baling itu. Hei lihat, baling-balingnya berputar. Semakin kencang angin, semakin kencang putarannya.

Tetapi, pada zaman sekarang, ketika mainan serba  elektonik dan anak-anak sudah candu main game di gawai, masih adakah anak-anak di perkotaan yang suka dengan mainan baling-baling angin?  Saya pun tidak punya anak balita lagi, tetapi saya beli saja agar dagangannya laku.

Saya pasang baling-baling itu di bagian depan motor, sehingga baling-baling ini akan berputar ditiup angin bersamaan lajunya motor. Hidup itu laksana baling-baling angin,   terus berputar.

Semoga barokah pak dagangannya. Saya pun melanjutkan perjalanan, meninggalkannya yang terus menyusuri Jalan Bengawan.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 1 Komentar

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 12 – HABIS): Hari-hari Terakhir di Mekkah, Selamat Tinggal Tanah Suci Mekkah Al-Mukarramah

Usai sudah puncak pelaksanaan ibadah haji. Tinggal menghitung hari lagi saya berada di kota Mekkah. sini. Hampir empat puluh hari meninggalkan tanah air, berada di tanah suci. Tiba saatnya untuk berpisah. Sedih? Ya sudah tentu. Ingin lebih lama lagi di sini, tetapi program pemerintah untuk haji hanya 41 hari. Selain itu tugas-tugas di kampus pun sudah menanti. Mahasiswa sudah menunggu. Keluarga di rumah juga sudah menunggu. Tugas-tugas kehidupan adalah arena ibadah selanjutnya.

Ka’bah yang selalu dirindukan

Bak kata sebuah lagu, ada pertemuan tentu ada pula perpisahan.

“Pertemuan atau berada di Baitullah memiliki makna tersendiri bagi setiap orang yang pernah mengerjakan haji atau umrah.

Baitullah bukan hanya sekedar “rumah” yang ditatap hanya sepintas dan kemudian ditinggalkan. Baitullah ternyata menjadi sumber kerinduan bagi seluruh jamaah haji.

Setiap jamaah yang meninggalkan Ka’bah rindu untuk kembali ke sana, bahkan tidak sedikit orang yang meneteskan air mata karenanya. Berbeda dengan ketika melihat dan menyaksikan suatu tempat yang lain yang tanpa kesan dan tidak tertarik lagi untuk kedua kaki dan seterusnya. Memandang Ka’bah menumbuhkan keimanan di dalam hati” (Dikutip dari buku panduan haji Kemenag).

Bagi seorang muslim, tiada satupun tempat di muka bumi ini yang selalu dirindukan untuk ingin dikunjugi lagi, dikunjungi lagi, dan seterusnya, selain Baitullah. Haji memang wajib satu kali saja, tetapi umrah bisa kapan saja selagi masih punya umur, biaya, dan kesempatan. Kalau anda sudah berada di tanah air lalu mendengar teman atau tetangga naik haji atau umrah, mungkn tiba-tiba saja perasaan di dalam dada berkecamuk rindu dengan penuh keharuan. Kapan pula saya akan ke sana lagi?, begitu kira-kira. Mungkin perasaan yang sama akan saya rasakan pula tahun depan ketika melihat postingan teman2 di media sosial yang pamitan naik haji.

Satu per satu jamaah haji gelombang pertama mulai pulang ke tanah air. Kami yang termasuk ke dalam Kloter 07 JKS akan pulang tanggal 29 Agustus 2018 melalui bandara Jeddah. Jamaah haji gelombang kedua masih tetap berada di Mekkah selama 30 hari, lalu kemudian pindah ke kota Madinah dan pulang ke tanah air melalui bandara Madinah.

Dua hari sebelum pulang ke tanah air, kami semua kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf Wada’ atau tawaf perpisahan. Kami sengaja mengambil waktu tawaf setelah sholat Subuh agar dapat melaksanakan tawaf di plaza di depan Ka’bah. Bus Sholawat sudah mulai berperasi sesudah hari-hari tasyrik,jadi kami bisa ke Haram naik bus lagi. Masjidil Haram sudah mulai agak longgar karena jamaah haji dari berbagai negara sudah mulai pulang ke tanah airnya.

Melaksanakan tawaf perpisahan sungguh mengharukan. Inilah tawaf perpisahan denghan Baitullah. Hampir semua jamaah berlinang air mata ketika melakukan tawaf wada’, karena sebentar lagi akan berpisah dengan Baitullah.  Selesai tawaf wada’, kami berdoa dipimpin oleh Pak Ustad. Kami berdoa agar dapat bertemu kembali dengan Baitullah. Dalam doa ada air mata.

Usai berdoa, rombongan jamaah KBIH  meninggalkan Masjidil Haram, kecuali saya. Saya sengaja memisahkan diri dan belum ingin pulang. Saya ingin duduk lama di depan Ka’bah sebelum saya pulang ke hotel. Sebab, setelah tawaf wada’ ini kita tidak bisa lagi mengunjungi Ka’bah, tidak boleh lagi tawaf. Saya belum ingin berpisah dengan Baitullah. Saya mengambil tempat menyendiri di depan Ka’bah. Saya menumpahkan isi hati saya kepada Allah, menceritakan apa yang yang saya rasakan. Terbayanglah anak-anak saya, terutama si sulung yang matanya selalu sendu. Membuncahlah tangis saya tak tertahankan. Saya menangis tersedu-sedu, saya berdoa, meminta kepada Allah agar si sulung diberi kesembuhan.  Lama sekali saya menangis di depan Ka’bah. Kira-kira setengah jam saya menangis tersedu-sedu sendirian, sementara di depan saya lalu lalang orang-orang yang melaksanakan tawaf. Saya tidak peduli, saya terus menangis, mohon ampunan, memohon lindungan, memohon segala apa yang ada di dalam hati saya. Saya belum pernah menangis tersedu-sedu dalam waktu yang lama seperti ini. Belum pernah.

Setelah tangisan saya berhenti, saya duduk menjauh, tetap masih menghadap Ka’bah. Setelah sholat sunat Dhuha, saya menyelesaikan khatam Al-Quran saya di depan Ka’bah. Ada beberapa surat di dalam Juz 30 yang belum selesai saya baca, saya tamatkan di depan Ka’bah hari ini, yaitu hari terakhir saya mengunjungi Baitullah. Alhamdulillah, niat saya dari tanah air untuk mengkhatamkan Al-Quran akhirnya tuntas sudah.

Saya mengisi air botol air mineral dengan air zam-zam sebanyak-banyaknya. Saya ingin membawa pulang beberapa botol air zam-zam, meskipun Pemerintah Arab Saudi akan memberikan secara gratis 5 liter air zam-zama.

Saya berjalan ke arah pintu keluar Masjidil Haram melalui jalur sa’i. Mata saya terus menatap Ka’bah. Dan terakhir kali sebelum Ka’bah hilang dari pelupuk mata, saya potretlah ia dalam mode siluet.

Pandangan terakhir melihat Ka’bah

Sampai bertemu kembali dengan Baitullah. Mudah-mudahan Allah SWT mengundangku kembali ke sini suatu hari nanti. Amin.

 

Pulang

Sehari sebelum kepulangan, semua koper jamaah haji dikumpulkan di lobby hotel untuk dibawa ke bandara. Koper akan lebih dulu dibawa ke bandara Jeddah. Setiap koper ditimbang dan beratnya tidak boleh lebih dari 30 kg. Jangan sekali-sekali mencoba “menyelundupkan” air zamzam ke dalam bagasi, pasti ketahuan, dan koper Anda akan dibuka paksa petugas di Jeddah untuk mengeluarkannya.

Pemeriksaan dan penimbangan bagasi di lobby hotel

Keesokan harinya, setelah sholat Subuh, kami sudah bersiap masuk ke dalam bus-bus untuk menuju kota Jeddah. Setelah ada acara pelepasan oleh petugas haji Indonesia, bus-bus bergerak meninggalkan hotel. Selamat tinggal kota Mekkah.

Perjalanan ke Jeddah menempuh waktu dua jam. Selepas kota Mekkah, pemandangan yang kita lihat hanyalah padang pasir dan bukit batu yang tandus.

Di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, jamaah menunggu untuk masuk melalui pintu keberangkatan. Di sini kita mendapat catering makan siang. Inilah catering terakhir dari Kemenag RI.

Di pintu keberangkatan, petugas haji Arab Saudi membagikan Al-Quran gratis dan keping DVD. Banyak sekali pemberian yang diperoleh di bandara ini. Sudah tidak muat lagi tas tenteng untuk menyimpan barang-barang tersebut.

Sebelum masuk ke gate keberangkatan, semua barang bawaan jamaah diperiksa lagi. Sangat lelet sekali pemeriksaannya. Pemeriksaan terhadapa jamaah perempuan lebih lama dibandingkan jamaah pria. Saya antri kira-kira dua jam untuk sampai ke alat pemindai X-ray. Saya lihat banyak jamaah yang menggantungkan di lehernya tabung air dari tembaga yang berisi air zam-zam. Saya pikir tabung air zam-zam maupun botol-botol air zam-zam akan disita, eh, ternyata boleh lewat. Jadi, membawa air zam-zam ke atas pesawat tidak dilarang oleh petugas Arab Saudi, asalkan botol air zam-zam itu ditenteng, tidak dimasukkan ke dalam tas. Jadi, yang tidak boleh itu adalah memasukkan zamzam ke dalam tas, sebab jika tumpah maka dapat berbahaya jika di atas pesawat (korsleting mislanya). Saya yang hanya membawa tiga botol air-zam “sedikit menyesal” kenapa hanya membawa tiga botol saja, padahal kalau saya bawa lebih banyak lagi tidak apa-apa. Tapi ya sudahlah, mungkin rezekis aya segitus aja.

Jam 14.00 siang akhirnya kami bisa boarding ke atas pesawat Saudi Arabian. Pesawat berbadan lebar ini akan mengangkut sekitar 400-an jamaah haji Kloter 07 ke Jakarta. Jamah yang pulang telah berkurang satu karena wafat di Mekkah.

Pulang

Setelah menempuh perjalanan sekitar 9 jam, pada hari Kamis pukul 03.00 pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Alhamdulillah, sampailah kami kembali ke tanah aii tercinta. Dari landasan Bandara, bus-bus menjemput kami untuk dibawa ke Embarkasi Haji di Bekasi. Di sana setiap jamaah mendapat jerigen berisi 5 liter air zam-zam. Koper-koper bagasi dikembalikan lagi kepada jamaah.

Setelah seremoni singkat serah terima jamaah haji dari Embarkasi Bekasi ke PPIH Kota Bandung, berangkatlah bus-bus rombongan jamaah haji Klotyer 07 JKS menuju kota Bandung.

 

Renungan dan Kilas Balik

Selama di dalam perjalanan ke Bandung, saya melakukan kials balik dan merenung. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan sejak keberangkatan ke Tanah Suci hingga pulang kembali ke tanah air. Menjadi jamaah haji Indonesia, khususnya yang berangkat melalui Embarkasi Jakarta/Bekasi, mendapat banyak sekali kebajikan dan keistmewaan dari berbagai pihak sebagai berikut:

Di tanah air:
1. Kami mendaat berbagai souvenir dari Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung antara lain  tikar mendong, tempat air minum, payung, tas sandal, dll. Itu belum termasuk souvernir dari bank penerima setoran ONH berupa kain ihram, buku, tas sandal. Khusus kami jamaah haji dari ITB, dilepas oleh pak rektor di rumah dinasnya dan mendapat lagi seabreg souvernir.

2. Makan gratis oleh Pemkot di perjalanan ke Embarkasi waktu pergi dan pulang.

3. Bus rombongan haji dikawal oleh mobil Patwal polisi dari Mapolda Jabar hingga Embarkasi sehingga mendapat prioritas jalan. Bahkan ketika tol Cikampek ditutup karena ada pembangunan jalan LRT, khusus untuk rombongan jamaah haji dibuka khusus. Serasa menjadi tamu VIP. Hal yang sama ketika pulang ke Bandung.

4. Dari Embarkasi Bekasi hingga bandara Cengkareng dikawal lagi oleh patwal.

5. Di Embarkasi mendapat souvernir lagi dari Kemenkes berupa obat2an, payung, masker, tabung semprot, dll. Sudah tidak muat lagi tas dengan berbagai pemberian.

6. Naik ke pesawat tidak melalui gate atau terminal keberangkatan, bus rombongan langsung mengantar jamaah haji dari Embarkasi hingga ke tangga pesawat. Hal yang sama ketika pulang.

7. Pengambilan data biometrik tidak lagi di bandara Saudi, tetapi di Embarkasi Bekasi sehingga mempercepat proses keluar bandara.

8. Pemeriksaan imigrasi di bandara Saudi dipindahkan ke bandara Cengkareng, sehingga tiba di Saudi tidak perlu ke imigrasi lagi, langsung keluar bandara.

9. Mendapat uang living cost sejumlah 1500 riyal atau setara 6 juta rupiah. Sejak dulu hingga sekarang, hanya jamaah haji Indonesia yang mendapat uang living cost selama di Saudi. Pernah tanya ke jamaah negara tetangga, mereka tidak pernah dapat bekal uang.
10. Tidak terhitung doa dari para sejawat, teman, tetangga, handai tolan, hingga dilepas oleh ribuan orang.

Di Saudi:
1. Ada perbaikan menu catering yang tadinya 25 kali menjadi 40 kali.

2. Masuk di perbatasan kota Mekah disambut oleh petugas Saudi dengan mengantarkan makanan dan air zamzam ke dalam bus.

3. Banyak orang Saudi memberi makanan dan minuman gratis kepada jamaah haji di Madinah dan Mekah. Itu mulai dari kurma, air mineral, hingga makanan berat.

4. Tanggal 1 hingga 8 Zulhijjah adalah puncak murah hatinya para dermawan Saudi kepada para jamaah haji. Hampir tiap hari mobil2 dermawan datang ke pemondokan mengantarkan nasi kotak berupa nasi briyani, nasi bukhori, nasi mandhi. Sampai-sampai kita tidak tahu bagaimana menghabiskannya karena baru dapat nasi kotak, tiba lagi nasi kotak baru.

5. Macam-macam souvernir datang lagi ke pemondokan berupa payung, Al-Qur’an, dll.

6. Tim kesehatan (dokter dan perawat) dari Kemenkes siap siaga di maktab jika ada jamaah haji yang sakit. Semua obat dan pelayanan gratis.

7. Pulang lewat bandara Jeddah disambut khusus oleh petugas Saudi dan mendapat lagi paket Qur’an, buku, dan DVD. Tas sudah tidak muat lagi.

Semua keistimewaan tadi sebabnya satu: jamaah haji itu adalah tamu-tamu Allah, sehingga banyak orang/instansi berlomba memuliakan tamu-tamu itu, meskipun kita sebagai jamaah haji tentu tidak pernah meminta perlakuan khusus tadi.

Least but not least: untuk semua kebajikan di atas maka saya teringat ayat ini : “Maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (TAMAT)

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | Meninggalkan komentar

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 11): Melempar Jumrah pada Hari-hari Tasyrik dan Tawaf Ifadah

Siang hari setelah aktivitas melempar jumrah Aqabah selesai, jamaah yang sudah bangun dari tidurnya memulai aktivitas di dalam dan di sekita tenda. Tidak ada yang dapat dilakukan selain hanya membaca, mengaji, duduk-duduk, ngobrol, tiduran, dan sebagainya. Pasokan catering untuk makan siang dan makan malam tetap datang. Catering makan siang datang pada pukul 10 pagi, sedangkan catering makan malam datang pada sore hari. Di sekitar tenda juga tersedia air panas untuk memasak mie instan, teh, atau kopi.

Saya berjalan-jalan ke luar tenda, karena saya belum melihat suasana perkampungan tenda pada siang hari. Jamaah yang sudah berpakaian biasa terlihat bercengkerama di luar.

Jamaah haji bercengkerama di luar tenda

Dua orang jamaah haji setelah tahalul

Aktivitas yang paling ramai adalah di sekitar toilet merangkap kamar mandi. Puluhan orang antri untuk mandi atau membuang hajat. Jika terlalu lama anda di dalam, seseorang di luar mungkin menggedor-gedor pintu toilet. Ya, harap bertoleransi saja dan menenggang rasa dengan jamaah haji orang lain. Harap dimaklumi juga orang Indonesia tidak bisa menjaga kebersihan. Bungkus shampo, sabun mandi, dan yang paling mengenaskan adalah ceceran BAB orang-orang tua yang tidak bersih membersihkan diri. Oh ya, di dalam toliet ini tersedia selang air panas dan air dingin.

Antri di depan jajaran toilet di sekitar tenda

Saya melihat ke arah jalan di sekitar tenda. Jamaah haji yang tidak punya kegiatan menghabiskan waktu di luar, sembari melihat-lihat dagangan PKL yang juga berjualan secara sembunyi-sembunyi.

Pintu masuk ke perkampungan tenda. Jamaah haji mengerumuni PKL

Saya melongok ke arah jalan. Masih banyak rombongan jamaah haji yang baru pulang melempar jumrah Aqabah. Mereka tetap melempar jumrah pada siang hari. Setiap KBIH memang berbeda-beda dalam  menentukan waktu untuk melempar jumrah. Menurut saya semuanya sah saja karena ada dalilnya masing-masing dan tidak perlu dipersoalkan.

Pulang dari melempar jumrah Aqabah

Adzan Maghrib di Mina menandakan waktu pun berganti hari menjadi tanggal 11 Zulhijjah. Ini berarti hari-hari Tasyrik pun dimulai. Selama hari-hari Tasyrik jamaah haji melempar 3 jumrah, yaitu jumrah Ula, jumrah Wustha, dan jumrah Aqabah. Batu-batu di dalam kantong kecil yang berawran biru masih cukup untuk melempar ketiga jumrah itu. Ustad pembimbing haji mengatakan bahwa kita akan melempar tiga buah jumrah pada pukul 2 dinihari nanti. Jadi, sama seperti tanggal 10 Zulhijjah, kita akan melempar jumrah pada waktu dinihari. Oke, jadi jamaah haji tidur dulu dan bangun lagi pukul 12 malam.

Jam 12 malam kami dibangunkan. Pak Ustad menyuruh kami membawa semua barang bawaan. Lho, mau ke mana, kata saya? Ternyata, setelah melempar tiga buah jumrah nanti, kami langsung kembali ke hotel di Mekkah, tidak kembali lagi ke tenda di Mina. Saya baru paham, berada siang hari di Mina tidak diwajibkan, sebab yang wajib itu adalah mabit (bermalam) di Mina. Barang siapa yang berada siang hari di Mina, maka dia wajib bermalam di Mina. Sementara, kami tidak akan di Mina pada siang hari, tetapi istirahat di hotel saja. Nanti setelah Maghrib kami akan kembali ke Mina untuk mabit. Kebetulan hotel kami di daerah Syisyah 2 tidak jauh dari jamarat, yaitu dibalik bukit batu. Tenda-tenda yang sempit di Mina dengan fasilitas sanitasi yang kurang memadai memang kurang nyaman bagi jamaah haji, jadi kalau bisa istirahat di hotel kenapa tidak.

Jam 2 malam sampailah kami di jamarat. Mula-mula kami melempar jumrah Ula yang berukuran kecil sebanyak tujuh kali, selanjutnya jumrah Wustha sebanyak tujuh kali, dan terakhir melempar  jumrah Aqabah sebanyak tujuh kali. Jamaah haji tidak terlalu padat malam itu sehingga melempar jumrah dapat dilakukan dengan mudah.

Selesai melempar tiga buah jumrah kami meninggalkan jamarat, berjalan kaki menyusuri jalan menuju hotel Syisyah 2. Setelah melewati beberapa bukit batu, jalanan yang padat dengan bus-bus rombongan jamaah haji, sampailah kami ke hotel pukul 4 pagi. Jarak dari jamarat ke hotel kira-kira 3 km. Berjalan kaki adalah kegiatan yang paling banyak dilakukan selama berhaji, jadi fisik harus kuat, badan harus sehat.

Jamarat tidak terlalu jauh dari hotelami Syisyah 2, letaknya di balik bukit batu itu (di kejauhan)

Sesampai di hotel, lega rasanya bertemu dengan kasur dan kamar mandi dengan air yang deras. Setelah sholat Shubuh, maka apalagi yang dilakukan selain tidur. Sungguh melelahkan tetapi menyenangkan sekali pengalaman melempar jumrah pada hari tasyrik pertama. Siang hari saya terbangun dari tidur pulas. Saya dan teman-teman menggunduli rambut. Ada teman yang membawa alat cukur dari Bandung, jadi kami tidak perlu pergi ke barber shop. Ini pertama kali saya gundul, karena saya belum pernah botak, he..he..he.

Sore hari kami berjalan kaki kembali dari hotel ke jamarat. Ya, kami akan melempar tiga buah jumrah pada hari  Tasyrik kedua (12 Zulhijjah). Kita harus berada di Mina sore itu, yang berarti harus bermalam di Mina. Dalam perjalanan dari Syisah 2 ke jamarat, kami melewati ujung terowongan. Itulah terowongan Mina, terowongan yang punya sejarah monumental bagi jamaah haji Indonesia. Di dalam terowongan inilah terjadi tragedi Mina tahun 1990, yaitu bertemunya arus manusia yang mau melontar jumrah dengan arus manusia yg baru pulang melontar jumrah. Tubrukan tidak terhindarkan dan ribuan jamaah mati syahid terinjak-injak. Ada 600 lebih jamaah haji Indonesia yang jadi korban.  Tapi itu dulu. Sekarang sudah dibangun dua terowongan, satu untuk pergi dan satu untuk pulang.

Terowongan Mina

Sore hari sebelum Maghrib kami sudah sampai ke areal jamarat, tapi belum masuk gedung jamarat. Kami akan melempar jumrah setelah lepas tengah malam. Di areal jamarat ini saya menyaksikan ratusan ribu jamaah haji datang dan pergi pada hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) untuk melaksanakan lempar jumrah. Semakin sore semakin padat karena cuaca sudah berkurang kegarangan panasnya. Mungkin mereka sama seperti kami, pada siang hari pulang ke Mekkah, lalu sore hari kembali ke Mina untuk mabit. Saya merinding melihat ratusan ribu jamaah yang mengalir seperti air bah.

Ratusan ribu jamaah bagai air bah mengalir ke jamarat.

Karena hari masih sore, jadi kami duduk-duduk dulu di sini. Ternyata para askar mengusir  jamaah yang duduk-duduk maupun berdiri dalam kelompok-kelompok. Hajj..hajj, teriak mereka mengusir jamaah haji yang berdiri. Ya, jamaah yang duduk atau berdiri (tidak berjalan) dianggap oleh askar menghalanagi pergerakan jamaah haji lainnnya. Askar-askar itu sih inginnya kami terus berjalan kaki ke arah gedung jamarat, tapi kan kami baru akan melempar jumrah pada pukul 2 dinihari nanti.

Berfoto di area jamarat

Sambil menunggu waktu Maghrib, kami mulai membentangkan sajadah di aspal, lalu sholat sunnat. Nah, kalau sedang sholat, maka askar tidak akan berani mengusir orang yang sholat. Sholat Maghrib dan Isya dilakukan dengan niat jamak.

Selesai sholat Maghrib, kami berjalan kaki menuju gdung jamarat. Jalan kakinya pelan-pelan saja, tidak buru-buru, karena waktu melempar jumrah masih lama. Selama dalam perjalanan kami menemui jamaah haji berbagai bangsa dalam kelompok-kelompoknya. Jamaah haji dari Indonesia tampil dengan busana batik yang khas dan membawa bendera yang melambangkab KBIH atau daerah mereka. Sebagian jamaah haji Indonesia sangat unik, mereka berjalan kaki dengan semangat sambil menyanyikan shalawat. Pastilah itu jamaah haji dari kalangan nahdliyin (NU).

Sambil menunggu waktu untuk melempar jumrah, kami duduk-duduk di jembatan lalu  di dekat gedung jamarat. Dari atas jembatan terlihatlah Mina pada waktu malam dibalut cahaya lampu. Ribuan orang ramai berjalan kaki. Di kejauhan juga terlihat restoran ayam goreng yang terkenal di Saudi, yaiyu Al-Baik.

Mina pada waktu malam

Mina pada waktu malam, sangat ramai.

Dari jembatan kami turun ke lantai dasar. Di area lantai dasar sudah penuh dengan jamaah haji dari berbagai bangsa yang juga menunggu waktu lepas tengah malam untuk melempar jumrah. Kami pun mencari tempat yang kosong di lantai aspal, beralaskan tikar atau sajadah untuk sekedar duduk atau tiduran. Sebenarnya tempat ini terlarang buat jamaah haji untuk duduk-duduk. Tiap sebentar datang mobil askar dengan sirinenya yang meraung-raung membubarkan jamaah yang berada di sana. Bandel ya para jamaah haji. Setelah mobil askar pergi, mereka kembali lagi duduk-duduk dan tiduran di sana. Ya mau kemana lagi, tidak ada tempat untuk beristirahat di jamarat.

Duduk-duduk di areal terlarang untuk menunggu waktu tengah malam.

Akhirnya setelah menunggu selama enam jam, waktu menunjukkan pukul 2 dinihari. Kami segera naik ke lantai satu untuk melempar tiga buah jumrah seperti kemarin. Tujuh lempana untuk jumrah Ula, tujuh lemparan untuk jumrah Wustha, dan tujuh lemparan untuk jumrah Aqabah. Berhubung kami mengambil nafar awal, kami tidak melakukan lempar jumrah pada hari tasyrik ketiga. Oleh karena itu, batu-batu yang tersisa di dalam kantung batu harus dibuang ke dasar jumrah. Batu-batu itu tidak boleh dibawa pulang ke tanah air sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan. Cerita dari ustad kami, pernah ada jamaah haji yang membawa pulang batu dari Mina sebagai oleh-oleh, tapi  di tanah air dia sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia. Percaya atau tidak, maka sebaiknya kita ikuti saja nasihat untuk tidak membawa pulang sisa batu pelepar jumrah ke tanah air supaya tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan.

Oh ya, tadi saya menyinggung tentang nafar awal. Selain nafar awal maka jamaah haji bisa memilih melakukan nafar tsani. Jika melakukan nafar awal, maka kita melempar jumrah hanya pada tanggal 11 dan 12 Zulhijjah saja. Jika melakukan nafar tsani, maka kita melempar jumrah sampai tanggal 13 Zulhijjah. Jika seseorang berada di Mina pada siang hari tanggal 12 Zulhijjah, maka dia harus mabit di Mina tanggal 13 Zulhijjah, dan wajib melempar jumrah pada tanggal 13 Zulhijjah. Kedua nafar ini sama sahnya.

Karena kami melakukan nafar awal, maka kami harus kembali ke Mekkah guna melakukan tawaf ifadah.  Dari jamarat kami berjalan kaki kembali keluar dari Mina. Kami sampai di luar kota Mekkah (saya lupa namanya, mungkin Aziziyah) yang dinihari itu sangat ramai. Ada beberapa hotel jamaah haji Indonesia di sini. Mungkin inilah hotel jamaah haji yang terdekat ke jamarat.

Dari sini perjalanan ke Masjidil Haram akan ditempuh dengan berjalan kaki. Sebagian jamaah yang tidak kuat lagi berjalan kaki memilih menyewa taksi ramai-ramai ke Masjidil Haram. Saya memilih berjalan kaki saja ke Haram bersama teman yang lain. Menurut saya ini perjalanan spiritual, jadi lebih baik berjalan kaki saja samil meresapi suasana batiniah yang tidak akan terlupakan seumur hidup.

Perjalanan ke Masjidil Haram kira-kira jauhnya 5 km. Saya dan beberapa jamaah lain berjalan kaki melewati jalanan kota Mekkah yang tetap ramai. Sesekali berhenti untuk istirahat dan minum teh yang dijual di pinggir jalan. Sungguh suasana dinihari itu sangat syahdu bagi saya. Alhamdulillah kaki saya masih kuat berjalan.

Kami pun sampai di mulut sebuah terowongan. Ini adalah terowongan yang sering saya lalui jika naik bus sholawat ke Haram. Ini berarti di ujung terowongan sana adalah terminal bus Syib Amir. Dengan kata lain sebentar lagi saya akan sampai di Masjidil Haram. Panjang terowongan ini 800 meter.

Terowongan ke arah terminal Syib Amir

Bejalan di dalam terowongan. JHarus hati-hati karena kendaraan melaju kencang. Tidak ada trotoar.

Di ujung terowongan terlihatlah Menara Zamzam beridiri dengan megah. Allahu Akbar, saya sudah sampai kembali ke Haram. Adzan Subuh berkumaandang tepat ketika kami sampai. Kami pun segera berlari untuk mengejar tempat buat sholat subuh. Masjidil Haram saat itu tidak ramai. Masih sepi saat itu karena sebagian besar jamaah masih berada di Mina. Tentu saja, karena sebagian besar jamaah haji masih berada di MinaMungkin setelah matahari sepenggalahan naik Masjidil Haram akan semakin ramai.

Selesai sholat subuh, kami turun ke mataf untuk melaksanakan tawaf ifadah. Karena jamaah tidak ramai, maka tawaf ifadah dapat dilakukan lebih cepat. Selesai tawaf ifadah, saya duduk di mataf, duduk memandangi Baitullah, Ka’bah yang menjadi pusat kiblat ummat Islam sedunia.

Duduk memandangi Ka’bah usai tawaf ifadah

Tinggal menghitung hari lagi saya di sini. Hampir empat puluh hari meninggalkan tanah air, berada di tanah suci. Tiba saatnya untuk berpisah. Sedih? Ya sudah tentu. Ingin lebih lama lagi di sini, tetapi program pemerintah untuk haji hanya 41 hari. Selain itu tugas-tugas di kampus pun sudah menanti. Mahasiswa sudah menunggu. Keluarga di rumah juga sudah menunggu. Tugas-tugas kehidupan adalah arena ibadah selanjutnya.

Tawaf ifadah bukanlah tawaf wada’. Jadi, setelah melakukan tawaf ifadah, sholat di maqam Ibrahim, minum air zam-zam, lalu jamaah haji melakukan ibadah sa’i antara Safa dan Marwa. Dengan demikian tuntaslah rangkaian ibadah haji, sebelum nanti ditutup dengan tawaf Wada’ sebelum kembali ke tanah air. Kami kembali ke hotel dengan taksi, karena bus Sholawat belum beroperasi. Tarif taksi melambung tinggi pada hari-hari setelah melempar jumrah. Saya berlima dengan teman membayar 250 riyal, per orangnya 50 riyal.

Tiba di hotel….whuahhhh…mengantuk sekali, capai sekali selama tiga hari dua malam ini.  Waktunya membayar utang tidur dengan tidur pulas siang hari ini. (BERSAMBUNG).

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | Meninggalkan komentar

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 10): Melempar Jumrah Aqabah di Mina (10 Zulhijjah)

Setelah Maghrib bus-bus yang mengangkut jamaah haji bergerak dari Arafah ke Mina. Lalu lintas ke Mina sangat padat dengan bus-bus jamaah haji dari negara lain, tidak hanya bus jamaah haji Indonesia saja. Mina adalah perkampungan tenda. Berbeda dengan tenda di Arafah yang bersifat bongkar pasang, tenda di Mina adalah tenda yang permanen. Tenda-tenda ini hanya terisi selama musim haji saja, di luar itu Mina bagaikan kota mati yang sepi. Ketika mengikuti city tour di kota Mekkah (baca tulisan Bagian 8), kami melewati Mina. Dari atas bus saya melihat bangunan jamarat yang digunakan untuk melempar jumrah.

Melewati perkampungan tenda di Mina ketika city tour di Mekkah. Gedung yang terlihat di kejauhan adalah gedung jamarat untuk melempar jumrah.

Malam itu semua jamaah di atas bus masih berpakaian baju ihram. Baju ihram baru boleh diganti jika sudah melakukan tahalul, yaitu setelah melontar Jumrah Aqabah. Wajah-wajah jamaah terlihat kelelahan dan kurang tidur. Bus melintasi jalan-jalan di Mina yang padat merayap, semakin malam semakin banyak bus-bus yang berdatangan.

Seharusnya kami berhenti sebentar di Mudzdalifah untuk mengumpulkan batu-batu untuk melempar jumrah. Namun tempat kami mabit nanti di Mina adalah di Mina Jadid, atau Mina Baru, yang merupakan perluasan Mina. Jamaah haji yang setiap tahun semakin banyak tidak memungkinkan lagi tertampung di Mina, sehingga Pemerintah Saudi memperluas Mina hingga ke Mina Jadid. Mina Jadid ini sudah termasuk ke dalam wilayah Mudzdalifah. Jadi, bermalam di Mina Jadid pada hakikatnya adalah juga bermalam di Mudzdalifah. Dengan kata lain Mina Jadid itu di Mudzdalifah juga. Oleh karena itu, tujuan kami adalah langsung ke Mina Jadid.

Lalu, bagaimana dengan pengumpulan batu? Kami tidak perlu lagi mengumpulkan batu-batu, Pemerintah Saudi telah menyediakan kantung kecil yang berisi batu-batu kerikil untuk melempar jumrah. Kantung kecil itu dibagikan ketika kami masih berada di atas bus menuju Mina. Wah, semakin dimudahkan saja menjalankan haji oleh Pemerintah Saudi.

39939036_2018008001600548_4157742803129991168_o

Kantung kecil berisi batu pelontar jumrah yang dibagikan Pemerintah Saudi untuk jamaah haji Asia Tenggara

Jam 10 malam akhirnya bus sampai di gang masuk ke tenda Kloter 07 JKS di Mina Jadid. Satu tenda diisi oleh beberapa KBIH. Tenda di Mina lebih sempit dibandingkan tenda di Arafah. Untuk tidur saja susah, berjejer seperti ikan pindang, ditambah dengan barang bawaan. Satu kepala menghadap ke utara, satu lagi ke selatan, lalu dua pasang kaki bertemu di tengah. Sebagian jamaah yang tidak tahan dengan suasana sempit di dalam tenda lebih memilih tidur di dalam gang antar tenda.

Yang lebih menyedihkan adalah jamaah haji mandiri yang tidak tergabung dalam KBIH manapun. Teman saya di kloter yang lain, jamaah haji mandiri, mengeluhkan dia dan istrinya tidak mendapat tempat di dalam tenda. Tenda-tenda itu sudah dikapling oleh KBIH-KBIH, jadi dia dan temannya yang lain yang tidak tergabung di dalam KBIH tidak kebagian tempat. Setelah diskusi yang alot akhirnya dia memilih di luar saja, sementara istrinya bisa masuk ke dalam tenda.  Persoalan ini terjadi karena pemetaan yang tidak cocok antara jumlah jamaah haji dengan jumlah tenda.

Untuk mengetahui seperti apa suasana tenda di Mina, di bawah ini saya perlihatkan beberapa foto keadaan tenda pada siang hari.

Tenda-tenda jamaah haji di Mina

Suasana di dalam tenda di Mina

Tenda-tenda jamaah haji di Mina

Kembali ke cerita tadi, ketika kami baru sampai di Mina dari Arafah. Setelah tiba di tenda Kloter 07 JKS, kami beristirahat sebentar. Catering makan malam yang terlambat dibagikan  kepada jamaah. Tenda penuh dengan tas dan aneka barang bawaan jamaah dari Arafah. Mau rebahan sebentar juga susah dan sempit.

Setelah beritirahat sebentar, jam 12 malam kami diinstruksikan oleh ustad pembimbing haji untuk bersiap-siap menuju jamarat. Ya, melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijjah (hari Idul Adha) akan akan segera dilakukan. Sebenarnya waktu yang afdhol untuk melempar jumrah Aqabah adalah pada pagi hari setelah matahari terbit. Namun, mungkin karena pertimbangan padatnya jamaah haji yang melempar jumrah secara bersamaan, maka  kami melempar jumrah Aqabah pada waktu dinihari tanggal 10 Zulhijjah. Begitu juga pada hari tasyrik 11, 12, dan 13 Zulhijjah, kami melempar jumarh selalu setelah lewat waktu tengah malam.

Masalah waktu ini memang sering diperdebatkan, dan selalu ada sebagian ulama yang membolehkan maupun melarang dengan dalil masing-masing.  Soal pro dan kontra melempar jumrah Aqabah sebelum matahari terbit pada tanggal 10 Zulhijjah  tidak akan saya bahas di sini. Kalau saya baca berita ini dan ini memang Pemerintah Saudi telah mengatur waktu melempar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijjah bagi jamaah haji Asia Tenggara. Saya kutip dari berita tersebut, “pada tanggal 10 Zulhijjah dilarang melontar jamarat mulai pukul 06.00–10.30 waktu Arab Saudi (WAS), 11 Zulhijjah pada pukul 14.00–18.00 WAS dan 12 Zulhijjah larangan melontar jamarat pada pukul 10.30–14.00 WAS”.

Dari tenda, kami berjalan kaki menuju jamarat. Karena tenda berada di ujung Mina, yaitu di Mina Jadi, maka jaraknya ke jamarat cukup jauh, yaitu sekitar 5 km (saya tidak tahu persis berapa km), dan jarak yang sama untuk pulang kembali ke tenda.  Tidak ada kendaraan yang mengantar ke jamarat, semua ditempuh dengan berjalan kaki. Baik muda, tua, maupun yang berkursi roda semua berjalan menuju jamarat. Tidak ada jamaah yang mengeluh dengan kondisi yang jauh itu. Semua dijalani dengan penuh keikhlasan untuk mengharapkan ridho-Nya. Apalagikah yang kita cari selama hidup di dunia ini kalau bukan ridho Allah SWT?

Dari semua rangkaian ibadah haji, melontar jumrah adalah kegiatan yang paling krusial dan paling melelahkan. Bayangkan jutaan jutaan jamaah bergerak ke tempat yang sama dengan berjalan kaki. Menempuh berjalan kaki sejauh 5 km insya Allah saya masih kuat. Saya membayangkan bagaimana dengan jamaah yang sudah tua, tentu tidak kuat berjalan sejauh itu. Tetapi…ya Allah, saya menemukan kebalikannya. Orang-orang tua yang sudah renta sekalipun sangat bersemangat berjalan kaki. Mereka tidak ada yang mengeluh. Perjalanan menuju jamarat dilakukan dengan ikhlas. Kalau hati sudah ikhlas, perjalanan seberat apapun akan dilalui tanpa beban.

Memperhatikan rombongan jamaah haji Indonesia yang berjalan kaki dari tenda ke Jamarat sungguh membuat hati siapa saja merasa terharu. Bapak – bapak dan ibu yang sudah sepuh, atau yang memakai kursi roda, atau memakai tongkat, berjalan kaki bersama-sama menembus terik matahari yang membara (kalau melontar jumrah pada siang hari), atau menembus malam yang gerah dan jalanan yang padat dengan bus dan manusia. Seorang anak mendorong kursi roda orangtuanya, suami mendorong kursi roda istrinya. Seorang ibu yang kakinya (maaf) pincang tetap berjalan dengan caranya yang khas. Sambil berjalan kaki mereka tetap bersemangat bertalbiyah atau bertakbir. Hati siapa yang tidak tergetar melihat semua ini secara langsung? Mereka menuju titik yang sama: Jamarat. Kalau Allah sudah memanggil hamba-Nya ke Baitullah, apapun akan dilakukan untuk memenuhi undangan-Nya.

Melontar jumrah adalah mengulangi peristiwa sejarah ketika Nabi Ibrahim dan Ismail digoda oleh setan untuk membatalkan niat menyembelih Ismail yang merupakan perintah Allah. Nabi Ibrahim melempari setan dengan batu, begitu pula Nabi Ismail dan ibunya Siti Hajar. Ketiga peristiwa pelemparan batu itu diulang kembali oleh jamaah haji dengan melempar tiga jumrah (ulaa, wustha, dan aqabah). Makna pelemparan jumrah itu saat ini adalah melempari sifat buruk pada diri setiap manusia. Nabi Ibrahim berhasil mengalahkan godaan setan dan mematuhi perintah Allah. Atas ketaatan Nabi Ibrahim mematuhi perintah Allah, maka sebagai gantinya Allah menyuruh Nabi Ibrahim menyembelih seekor domba sebagai ganti menyembelih Ismail. Ummat Islam yang tidak pergi haji mengulangi peristiwa Nabi Ibrahim itu dengan menyembelih hewan qurban pada Hari Raya Idul Adha. Darah dan daging qurban itu tidak sampai kepada Allah SWT karena memang tidak diperuntukkan bagi-Nya, tetapi yang sampai adalah taqwa dari hamba-Nya karena telah menaati perintah-Nya.

Sepanjang perjalanan menuju jamarat kita melalui pinggir jalan raya yang padat dengan bus-bus yang membawa rombongan jamaah haji dari Arafah, Saya menemukan pemandangan yang mengenaskan, yaitu jamaah haji dari Afrika bergelimpangan tidur di pingir jalan. Mereka tidak menginap di tenda, entah mereka tidak mendapat tenda atau memang mereka tidak terorganisir.

Setelah berjalan kaki selama dua jam, akhirnya sampailah kami di gedung jamarat. Gedung jamarat ini ada tiga lantai. Kita dapat melempar jumrah dari lantai  mana saja karena jumrah dibuat seperti tugu yang tingginya tiga lantai. Untuk naik ke setiap lantai tersedia eskalator.

Gedung jamarat

Rombongan kami melempar jumrah di lantai satu. Setelah masuk ke dalam, kita menemukan jumrah yang paling besar yang terletak paling ujung, itulah jumrah Aqabah. Dinihari saat itu tidak terlalu padat dengan jamah haji. Kami dapat melempar jumarh Aqabah dengan mudah. Ada tujuh kali lemparan. Setiap kali kita melempar batu ke jumrah, kita membaca bismillaahi allahu akbar.

Melempar jumrah Aqabah

Hanya jumrah Aqabah saja yang dilempar pada tanggal 10 Zulhijjah itu. Dua jumrah yang lain (jumrah Ula dan jumrah Wustha) akan dilempar pada hari-hari tasyrik. Selesai melempar jumrah Aqabah, kami pun melaksanakan tahalul, yaitu memotong beberapa helai rambut. Alhamdulillah, dengan demikian rangkaian melempar jumrah tahap pertama sudah selesai, kami sudah boleh mengganti pakaina ihram dengan  pakaian biasa lagi. Tetapi, karena pakaian ada di dalam tenda, maka berganti pakaian nanti saja di tenda.

Rombongan kami berjalan kaki kembali menempuh jalan yang sama menuju tenda. Itu artinya berjalan kaki sejauh 5 km. Bagi jamaah yang tidak kuat pulang berjalan kaki, ada orang Arab yang menyediakan kursi roda dan mendorongnya hingga ke tenda. Seorang ibu di rombongan kami yang tidak kuat lagi berjalan, memilih menggunakan jasa sewa kursi roda ini. Ongkosnya nego,  tercapai kesepakatan 200 riyal atau sekitar 800 ribu rupiah (jika 1 riyal = Rp 4000).

Sempat pula kami kesasar ketika kembali ke tenda. Rupanya kami tidak hafal lokasi tenda semula. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya sampai jugalah kami di tenda ketika adzan Subuh berkumandang. Setelah sholat Subuh, sebagian besar jamaah tertidur karena kelelahan. (BERSAMBUNG)

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | Meninggalkan komentar