Sisa Makanan Anak, Orangtua Menjadi Seksi “Pembersih”

Orangtua di mana-mana mungkin sama saja tindakannya. Jika anaknya  nggak habis memakan makanannya, maka orangtua bertindak menjadi seksi “pembersih”. Sisa makanan anak dimakan lagi, rasanya sayang jika dibuang. Mubazir. Seperti foto di bawah ini, nasi  bagian bawah adalah sisa anakku tadi yang makan dengan  ayam goreng krispi, nasi yang bagian atas saya tambahkan untuk makan malam.

sisanasi

Jika memakan sisa makanan orang lain kita sering merasa enggan atau malahan jijik, tetapi memakan sisa makanan anak sendiri sama sekali tidak. Bahkan jajanan yang didigit anak saja kita masih mau memakannya. Kenapa begitu, ya karena rasa jijik itu dibuang saja, toh anak sendiri, darah daging kita sendiri. Waktu anak masih bayi saja kita mau dipipisinya, lagi-lagi karena merasa itu darah daging kita sendiri. Coba kalau dipipisi orang lain, tidak tanggung marah dan jijiknya kita.

Yah begitulah, ikatan jiwa dengan anak kandung membuat orangtua irasional dan mau melakukan apa saja untuk anaknya.  Tahukah anda kenapa demikian? Itu karena rasa kasih dan sayang. Pengasih dan penyayang itu sifat Tuhan, namun sebagian rasa kasih dan sayang itu diberikan-Nya kepada manusia, khususnya orangtua, untuk mengasihi dna menyayangi anaknya.

Kembali ke cerita soal makanan bersisa tadi. Karena sering memakan sisa makanan anak, tidak jarang ibu-ibu malah tambah gemuk. Maksud hati ingin diet untuk menguruskan badan, tapi melihat makanan anak bersisa sayang untuk dibuang, akhirnya dimakan juga, he..he.

Dipublikasi di Gado-gado | 2 Komentar

Anak-anak Pemburu Telolet. Telolet itu Palindrom!

Tiba-tiba saja deman telolet menjadi fenomena dan viral di  dunia maya dengan tagar #OmTeloletOm. Awalnya fenomena telolet itu berasal dari kebiasaan anak-anak yang berburu suara klakson bus yang berbunyi khas. Suara klakson itu terdengar seperti “telolet…telolet..telolet…”. Mereka meminta bus-bus yang lewat untuk membunyikan suara klakson telolet. Suara telolet tersebut direkam oleh anak-anak itu dengan menggunakan ponsel. Koleksi suara-suara telolet itulah yang membuat anak-anak ketagihan sehingga mereka setiap sore berdiri di pinggir jalan raya untuk berburu suara telolet.(Baca: Sopir Ungkap Rahasia Klakson Bus Bisa Berbunyi ‘Telolet’). Ini videonya:

Demam telolet juga merambah ke orang-orang dewasa dengan memasang kertas bertuliskan “Om Telolet Om” di sepanjang jalan yang dilalui bus  hingga akhirnya menjadi fenomenal dan viral di media sosial. Demam telolet membawa kesenangan dan kebahagian tersendiri bagi orang-orang. Bahagia itu ternyata sederhana ya. (Baca:Ini Cerita Bus ‘Telolet’ Saat Berada di Jalan)

Atau video yang ini:

Menyaksikan anak-anak yang berburu telolet mengingatkan saya pada masa kanak-kanak. Telolet bukan hal yang baru, ia sudah digemari sejak dulu. Anak-anak suka mendengar suara klakson bus yang berbunyi telolet. Saya pun juga begitu. Dulu bus-bus di sepanjang jalan Lintas Sumatera membunyikan klakson telolet yang khas itu. Sebut saja bus ALS, ANS, IPS,  Sibual-buali, Bintang Kejora, dan lain-lain. Anak-anak  berdiri di sepanjang jalan menunggu bus-bus yang lewat. Supir-supir bus merasa terhormat disambut anak-anak yang melambai-lambai sepanjang jalan. Sebagai bentuk penghargaan kepada anak-anak itu, supir bus membunyikan suara klakson telolet sebagai tanda menyapa anak-anak itu. Anak-anak pun bersorak kegirangan.

ans

Bus ANS tahun 70-80-an

Sekarang telolet telah mendunia. Telolet adalah sebuah ungkapan yang istimewa, sebab kata  TELOLET jika dibaca dari depan dan dari belakang bunyinya teap sama yaitu TELOLET. Di dalam teori lingustik hal ini dikenal sebagai bentuk palindrome. Contoh kata atau kalimat lain yang palindrom adalah KATAK, MALAM, NABABAN, KASUR RUSAK, dan lain-lain. Jadi, jika sekarang sedang ramai istilah “OM TELOLET OM” maka ia menjadi palindrom pula jika ditulis “MO TELOLET OM” yang artinya mau telolet om. 🙂

Dipublikasi di Gado-gado | 2 Komentar

Sudah Berapa Orang yang Kamu “Unfriend” dan “Unfollow”?

Sejak masa Pilpres 2014 hingga Pilkada DKI 2017 menjelang, bangsa Indonesia terbelah dua menjadi kelompok yang pro dan kontra. Seharusnya setelah masa Pilpres usai kedua kelompok ini sudah cair, toh hubungan Jokowi dan Prabowo sudah kembali erat. Namun Pilkada DKI dengan salah satu calonnya Ahok kembali membuat bangsa Indonesia terbelah. Ahok, yang sekarang sedang menjadi terdakwa kasus penistaan agama,  telah memicu sentimen SARA di tanah air. Bangsa Indonesia terbelah lagi antara yang pro dan kontra Ahok.

Lihatlah percakapan di media sosial, isinya kebanyakan perdebatan panas antara kedua kubu. Posting-an yang menyebar kebencian, berita hoax, berita plintiran, gambar editan, dan argumen panas berseliweran setiap hari di media sosial, dari subuh hingga subuh lagi. Orang-orang dengan mudahnya menyebarkan berita dan gambar yang belum tentu benar, cukup dengan menekan tombol Bagikan atau Share, maka kekuatan media sosial mampu menembus batas-batas ruang dan waktu untuk meneruskan posting-an yang panas.

Efek media sosial sangat terasa mempengaruhi pikiran banyhak orang. Perseteruan kedua kelompok pendukung telah merenggangkan hubungan pribadi antara manusia yang dulunya sangat hangat. Teman pun sekarang menjadi “musuh” karena diskusi panas yang tidak mencapai titik temu. Masing-masing pihak merasa benar dengan pendapatnya. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya buzzer yang memanaskan suasana. Buzzer ini menggunakan akun bodong, yaitu akun yang isinya kosong, yang memang dibuat secara instan untuk memberi komentar tanpa ketahuan identitas aslinya. Komentar-komentarnya sangat pedas dan menyakitkan hati. Selain buzzer, jagad maya juga diramaikan dengan bot  (akun robot) yang menyerbu diskusi di dunia maya secara massal dan sistematis. Satu komentar yang sama bisa muncul di banyak thread diskusi. Tujuannya satu: membangun opini.

Gerah dengan posting-an yang tidak berkenan, sebagian orang sampai memutuskan pertemanan di media sosial. Istilahnya unfriend jika semula berteman, atau unfollow jika hanya mengikuti posting-an orang lain tanpa perlu berteman. Alasan melakukan unfriend atau unfollow bermacam-macam, tetapi saya catat beberapa alasannya adalah tidak suka dengan posting-an mantan teman yang suka menjelek-jelekkan pihak lain, tidak suka dengan ujaran kebencian yang membuat sakit hati, tidak suka dengan teman yang menyebarkan gambar atau berita hoax.  Sudah berapa orang yang kamu unfriend atau unfollow dari akun jejaring sosialmu?

Tidak hanya unfriend atau unfollow, sebagian orang keluar (left) dari grup diskusi di Whatsapp, Line, dan lain-lain, karena sudah merasa tidak nyaman lagi berada di dalamnya.  Diskusi-diskusi di dalam grup telah memperlihatkan siapa teman sebenarnya, kemana keberpihakannya, dan bagaimana reaksinya menanggapi berbagai isu terkait Pilkada DKI. Sudah berapa banyak kamu left dari grup whatsapp  sejak isu Pilkada DKI mulai memanas?

Memang kondisi ini sangat menyedihkan. Meskipun bukan warga DKI, namun Pilkada DKI telah menyita perhatian dan energi bangsa ini sehingga terpecah belah. Bangsa kita yang dulu bersatu, tidak punya masalah yang serius amat dalam hubungan berbangsa, sekarang menjadi putus silaturahmi karena berbeda keberpihakan. Entah sampai kapan begini, saya juga tidak tahu. Saya merindukan bangsa Indonesia yang rukun damai seperti dulu.

Dipublikasi di Indonesiaku | 4 Komentar

ATM Beras dari Masjid Salman ITB

Ada yang baru di Masjid Salman ITB, yaitu keberadaan sebuah mesin ATM beras di pojok kantor masjid (depan kantor satpam). Biasanya mesin ATM mengeluarkan uang, tapi mesin ATM yang satu ini dapat mengeluarkan beras! Dengan menempelkan kartu elektronik RFID (Radio Frequency Identification) di bagian card reader, maka mesin ATM akan mengeluarkan beras dalam jumlah tertentu secara otomatis. Sewaktu makan di kantin Salman kemarin saya melihat mesin ATM beras ini, gambar di bawah ini wujudnya, mirip seperti ATM biasa, namun isinya beras.

atmberas1

Tidak semua orang dapat mengambil beras dari ATM beras (disingkat ATMB), tetapi beras yang ada di dalamnya hanya untuk kaum dhuafa saja, dan tentu saja dibagikan secara gratis. Jadi ATM ini bersifat sosial, karena tujuannya untuk membantu kaum fakir miskin yang karena kemiskinannya tidak mampu membeli beras. Kaum dhuafa (fakir dan miskin) yang berhak diseleksi terlebih dahulu lalu dibagikan kartu elektronik yang mirip seperti kartu ATM biasa.

atmberas2

Pencipta ATMB ini adalah alumni Salman bernama Budiaji.Budiaji sendiri adalah alumni Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1980.  Dikutip dalam laman http://kabar.salmanitb.com, Budiaji mengatakan:

ATMB ini bisa ditempatkan di masjid-masjid, kantor kelurahan, kantor-kantor BUMN, sekolah,  kampus atau di lokasi kantong-kantong kemiskinan lainnya.  Bahkan bisa jadi di area rumah orang kaya untuk menyantuni fakir miskin di sekelilingnya. “Bisa juga temporary ditempatkan di area bencana. Sumber berasnya bisa dari pemerintah (raskin), CSR (Corporate Social Responsibility), zakat, atau masyarakat yang peduli lainnya,” tutur alumni Asrama Masjid Salman ITB ini,

Secara fisik, perangkat ini berukuran 60 cm x 60 cm x 160 cm, berbentuk kotak/lemari, mirip mesin ATM biasa berkapasitas sekitar seperempat ton beras. Mesin ini juga dilengkapi dengan perangkat elektroniknya, modem hybrid untuk network GSM/satelit untuk daerah terpencil, serta sistem kontrol dan pemantauan berbasis  M2M (machine to machine) / IoT (Internet of Things).

Budiaji pun memaparkan, sistem pengelolaan dan pengawasan dibuat secara transparan sehingga masyarakat luas bisa mengakses via internet tentang data orang miskin yang disantuni, jumlah beras yang dibagikan, dan rincian pendistribusiannya. Selain itu, sistem juga akan memantau status level beras yg tersedia di tiap-tiap ATMB.

“Ditargetkan ke depan bahwa tidak boleh ada lagi rakyat yang lapar di negeri ini yang terpaksa mengemis di mana-mana. Lebih jauh lagi dari itu, ATMB ini bisa dikembangkan dan diproduksi lebih luas untuk penjualan beras secara otomatis melalui transaksi kartu elektronis,” katanya. Budiaji berharap, umat Muslim bisa lebih mengembangkan nilai-nilai kesalehan sosial melalui ATMB.

Hingga saat ini kaum dhuafa yang berhak mendapatkan beras dari ATMBN bejumlah 49 orang. Dikutip dari laman Antara,

Mekanisme penarikan beras dari mesin tersebut diatur berdasarkan jenis kartu yang dimiliki warga yakni bagi warga yang memiliki kartu kategori A bisa mengambil beras pada hari Selasa dan Jumat, bagi warga pemilik kartu kategori B mengambil beras pada hari Rabu dan Sabtu dan warga pemilik kartu kategori C bisa mengambil beras pada hari Kamis dan Minggu. Satu kali transaksi warga bisa menarik beras dari ATM Beras ini sebanyak 1,65 kg atau sekitar dua lite.

Semoga keberadaan ATMB dapat diproduksi secara massal dan dapat dijadikan ladang amal sholeh untuk berbagi kepada kaum yang membutuhkan. Saya mengapresiasi Mas Budiaji yang telah menemukan ATMB dan kepada Masjid Salman ITB yang mempelopori pemanfaatan ATMB untuk membantu mengentaskan kebutuhan pokok kaum dhuafa. Jazakallah.

Dipublikasi di Agama, Seputar ITB | 1 Komentar

Inspirasi dari Santri Ciamis

Aksi damai tanggal 2 Desember 2016 yang lalu (selanjutnya disebut aksi 212) di kawasan Monas Jakarta menyisakan cerita yang sangah menggugah. Seperti yang kita baca di media, aksi ini terkait dengan kasus hukum yang dilakukan oleh Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, berupa tuduhan penistaan kitab suci. Lautan manusia memadati kawasan Monas hingga ke kawasan sekitarnya sampai ke Bundaran HI untuk mengikuti doa dan istighasah hingga sholat Jumat bersama. Saya memprediksi jumlah jamaah yang mengikuti aksi ini jutaan orang, persisnya berapa saya kurang tahu. Wallahu alam. Foto epic di bawah ini dapat menggambarkan betapa dahsyatnya jumlah peserta aksi. Itu baru di kawasan Monas, belum lagi ratusan ribu lainnya yang memadati jalan-jalan sekitarnya hingga ke Bundaran HI.

belaislam3

Belum pernah terjadi di negeri ini jutaan orang berkumpul di suatu tempat pada waktu yang sama. Semuanya datang tanpa disuruh, tanpa dipaksa, datang dengan kesadaran sendiri karena merasa terpanggil untuk membela al-Quran.

Jumlah jamaah yang datang berlipat dua dibanding aksi sebelumnya pada tanggal 4 November 2016. Mengapa jamaah yang datang luar biasa sekali banyaknya? Padahal semula diprediksi jumlah jamaah yang datang tidak akan sebanyak itu, mungkin lebih sedikit dibandingkan aksi tanggal 4 November. Beberapa tokoh agama maupun ormas keagamaan bahkan menyarankan tidak perlu lagi melakukan aksi damai tersebut. Namun peristiwa menjelang tanggal 2 Desember 2016 telah menggerakkan rasa emosional dan sentimen keagamaan seseorang untuk datang ke Monas. Peristiwa apakah itu? Itulah aksi longmarch para kyai dan ratusan santri dari Ciamis yang menggerakkan orang untuk datang ke Monas.

Beberapa hari sebelum tanggal  2 Desember 2016, kepolisian melarang semua PO Bus untuk membawa massa aksi damai 212 datang ke Jakarta. Jika dilanggar, maka izin trayeknya dicabut. Karena takut, maka banyak PO Bus yang tidak bersedia membawa peserta aksi damai ke Jakarta. Namun, tiadanya bus yang membawa ke Jakarta tidak menyurutkan kaum santri dari Kabupaten Ciamis Jawa Barat untuk datang. Jika tidak bisa datang dengan kendaraan, maka berjalan kaki adalah pilihan terakhir yang dipilih. Jarak 300 km dari Ciamis ke Jakarta akan ditempuh dengan berjalan kaki. Maka, mulailah ribuan santri dengan dipimpin oleh para kyainya berjalan kaki dari masjid Agung Ciamis. Koran Pikiran Rakyat Bandung (dan beberapa media daring lainnya) memberitakan aksi heroik ini sehingga menyebar secara cepat di dunia maya.

ciamis

Tidak banyak media arus utama yang memberitakan longmarch Camis ini, tapi kekuatan media sosial tidak dapat dibendung untuk memberitakan apa adanya tanpa diplintir atau dibelokkan. Dan apa yang terjadi? Sepanjang jalan yang dilewati dari Ciamis hingga ke daerah-daerah lainnya di Jawa Barat ribuan warga menyambut mereka. Warga berbaris sepanjang jalan menyediakan makanan, minuman, sandal, sepatu, dan kebutuhan lain untuk para santri yang mereka sebut mujahid itu. Makanan dan minuman begitu melimpah di sepanjang jalan. Warga berlomba-lomba menyodorkannya kepada para santri itu sehingga mereka pun kewalahan untuk menerimanya. Sambutan  warga itu…Masya Allah…. begitu tulus dan ikhlas. Banyak warga yang menangis sepanjang jalan yang dilewati para santri. Orang-orang yang datang menyaksikan tidak mampu menyeka air matanya. Air mata mengalir tak terbendung  melihat perjuangan para santri yang tidak pantang menyerah datang ke Jakarta dengan berjalan kaki. Foto-foto di bawah ini mungkin dapat bercerita lebih banyak dibanding ribuan kata. Lihatlah ibu tua yang menyeka air matanya karena tidak mampu menahan haru.

ciamis2

ciamis4

Deny Suwardja, seorang warga Garut, menuliskan kesaksiannya yang sangat mengharukan di akun Facebook-nya ketika para santri itu sampai di Malangbong, Garut, seperti ditulis di dalam situs Hidayatullah pada tulisan ini: Sebuah Kesaksian: Gerimis Air Mata di Malangbong. Ah, andaikan saya hadir di sana, mungkin mata saya pun akan meleleh melihat dan merasakannya. Semangat ukhuwah islamiyah begitu sangat terasa. Belum pernah saya menyaksikan persaudaraan Islam begitu kuat dan syahdunya selama hidup ini.

Foto-foto di atas, dan foto-foto lainnya, menyebar dengan cepat bagaikan viral di dunia maya. Sebagian orang yang tidak suka kemudian mencibir dan meremehkan aksi longmarch itu. Namun hal yang tidak diprediksi adalah kekuatan media sosial mampu membalikkan logika. Foto  dan berita longmarch santri Ciamis yang beredar di media sosial telah  menggetarkan dan menggugah emosi banyak orang sehingga memicu rasa kebergamaan paling dalam. Orang-orang yang semula tidak berniat hadir ke Monas akhirnya tergugah hatinya dan memutuskan untuk datang ke aksi damai. Longmarch santri Ciamis telah menyebabkan efek domino sehingga menggerakkan massa lainnya datang berjalan kaki. Orang-orang yang biasa-biasa saja dalam beragama dan terbiasa sangat logis berpikir tiba-tiba mengambil keputusan untuk datang ke Monas setelah membaca perjuangan kaum santri Ciamis itu.

Jadi, bolehlah saya menduga-duga, apa yang menyebabkan jutaan orang datang ke Monas tanggal 2 Desember kemarin? Salah satu sebabnya adalah karena tergerak hatinya oleh para santri dan kyai yang longmarch dari Ciamis itu. Ya, kaum santri pejalan kaki dari Ciamis telah memberi inspirasi kepada banyak orang sehingga akhirnya anda melihat foto epic pada gambar pertama di atas.

Sebuah foto pada aksi damai 212 menggambarkan shaf terdepan pada sholat Jumat di Monas dibiarkan kosong karena dipersiapkan untuk santri Ciamis yang datang sebelum sholat Jumat dimulai. Foto diambil dari akun Numpy Aja.

ciamis5

Dan, tahukah anda? Aksi warga Jawa Barat sepanjang jalur Ciamis hingga Jakarta yang  menyediakan kebutuhan logistik (makanan, minuman, dll) kepada para peserta longmarch mungkin ikut menginspirasi banyak orang di Jakarta pada hari H, yaitu pada tanggal 2 Desember 2016. Orang-orang menjadi sangat dermawan dan rela berkorban apa saja. Niatnya satu, karena Allah. Mulai dari malam Jumat hingga siang tidak henti-hentinya orang-orang menawarkan makanan, minuman, sandal, sajadah, colokan listrik untuk cas batere HP, dll kepada peserta aksi damai. Makanan dan minuman datang berlimpah, sampai-sampai peserta aksi damai sudah kehabisan cara untuk menolak makanan yang ditawarkan karena sudah kenyang. Yang mengharukan, sampai-sampai ada pedagang roti yang menggratiskan dagangannya, dan masya Allah, Tuhan menggantinya dengan rezeki yang tak terduga.

Terima kasih kepada santri Ciamis, langkahmu telah tercatat dalam sejarah ukhuwah dahsyat yang tidak akan terlupakan. Alangkah indahnya

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | 2 Komentar

Merasakan Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta yang Baru

Akhirnya kita punya juga bandara yang megah yang bisa dibanggakan, tidak kalah dengan bandara megah di luar negeri. Ya, bandara merupakan etelase sebuah negara. Orang asing yang datang ke suatu negara lewat bandara maka yang dilihatnya pertama kali adalah bandara. Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta yang baru saja diresmikan beberapa bulan yang lalu sudah beroperasi melayani penerbangan dengan Garuda. Baru Garuda lho, itupun untuk rute domestik, sementara untuk penerbangan internasional masih di Terminal 2E yang lama.  Ke depan nanti Terminal 3 Ultimate ini akan melayani penerbangan internasional jika sudah selesai 100%.

Minggu lalu saya pertama kali mencoba merasakan  Terminal 3 Ultimate ini untuk terbang ke Semarang. Turun dari bus Primajasa dari Bandung kaki saya langsung menginjak lantai terminal keberangkatan. Wow, keren, terasa megah sekali. Maklum masih baru, he..he. Sebagai seorang yang suka mengamati bandara di mana-mana, saya merasa penasaran untuk mencicipi bandara yang baru ini.

terminal-1

Terminal keberangkatan berada di lantai 2. Dari sini saya bisa melihat pemandangan ke bawah, ke arah terminal kedatangan. Pemandangannya membuat decak kagum, keren sekali.

terminal-2

terminal-3

OK, selanjutnya saya masuk ke dalam untuk chek-in. Ruangan di dalamnya sangat lapang, terang, bergaya lux dan modern. Benar-benar menunjukkan bandara kelas satu, tidak kalah dengan bandara Svarnabhumi di Bangkok nih, kata saya dalam hati (saya pernah ke bandara Svarnabhumi ini).

terminal-4

Toilet ada di mana-mana dengan petugas cleaning service yang selalu stand-by. Jadi, tidak usah khawatir jika kebelet dan antri seperti di Terminal 1 dan 2.

terminal-8

Tersedia kursi-kursi buat duduk jika anda lelah berdiri sebelum masuk ke ruang tunggu. Karpet hijau yang elegan membuat suasana di dalamnya teduh.

terminal-5

Supaya tidak bete, di beberapa tempat dipajang  berbagai lukisan dan foto-foto dokumentasi negara. Kita merasa berada di dalam sebuah galeri saja. Konsep bandara dengan pajangan karya seni sudah lama diterapkan di bandara Ngurah Rai. Di Bandara Husein Sastranegara Bandung  yang baru juga ada lukisan tapi jumlahnya sedikit, maklum bandaranya relatif kecil. Bandara saat ini memang tidak hanya sekedar tempat mampir, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern dengan memasukkan aneka fasilitas yang memanjakan pengunjung.

 

terminal-7

Selanjutnya saya berjalan menuju ruangan tunggu. Kalau tidak salah gate (pintu keberangkatan) di ruang tunggu ini mencapai 17 buah. Jumlah ini menunjukkan Terminal 3 Ultimate panjang sekali, capek juga kaki berjalan dari ujung ke ujung.

 

Di ruang tunggu keberangkatan ini berjejer restoran, toko-toko, dan lounge yang semuanya dikelola oleh perusahaan Saphire. Harga makanan di restoran lumayan mahal, tapi dimaklumi saja karena pasti sewa tempatnya juga sangat mahal. Lounge-nya menggunakan konsep terbuka, jadi siapa saja yang lewat bisa melihat orang di dalam lounge mengambil makanan, makan, duduk-duduk. Hmmm…kurang privasi sekali nih.

Pulang dari Semarang saya naik Garuda lagi ke Jakarta dan turun di Terminal 3 Ultimate lagi. Kali ini saya harus berjalan kaki lumayan jauh dari pintu kedatangan ke tempat pengambilan bagasi. Bisa gempor nih kaki berjalan sejauh ratusan meter, maklum Terminal 3 ini panjang sekali. Kebayang kalau yang berjalan itu para manula atau orangtua yang tidak kuat berjalan jauh. Tidak tersedia kursi roda bagi mereka yang tidak kuat jalan.Kalau mau ya naik ban berjalan di beberapa bagian lantai.

terminal-10

terminal-12

Begitulah pengalaman saya merasakan Terminal 3 Ultimate yang bau ini. Kesannya memang megah, tapi seperti ada sesuatu yang kurang. Apa ya? Saya merasakan Terminal 3 ini seperti tidak punya “ruh” atau tidak memiliki karakter yang kuat seperti Terminal 1 dan 2. Ah, mungkin saya terlalu berlebihan menilai ya.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | Meninggalkan komentar

Sekarang Setiap Orang adalah Guruku

Pada Hari Guru yang jatuh tanggal 25 November, saya menampilkan quote dari Jet Li, seorang aktor laga Mandarin yang terkenal.

jet-li

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

Ketika saya berusia:
SEPULUH tahun, saya takut pada guru saya
DUA PULUH tahun, saya mulai memahami guru adalah orang biasa seperti orang lain
TIGA PULUH tahun, saya mulai berpikir pentingnya kehadiran seorang guru
EMPAT PULUH tahun, saya menghargai setiap guru yang saya jumpai
Sekarang saya berusia LIMA PULUH tahun, setiap orang adalah guruku

Dan…untuk saya sendiri, sekarang semua orang adalah guru saya, guru dalam kehidupan yang tidak pernah diam. Karena, sekarang  I’m fifty seperti Jet Li.

Dipublikasi di Pendidikan | Meninggalkan komentar