Tahu Susu dari Lembang

Oleh-oleh dari Lembang, Bandung, tidak hanya ulen (ketan bakar) atau komoditas sayuran, tetapi saat ini yang dicari wisatawan di sana juga oleh-oleh tahu susu. Entah sejak kapan dimulai produksi tahu susu di Lembang, saya juga kurang tahu. Namun yang jelas, tahu susu bukan hal yang aneh di Lembang, sebab Lembang adalah gudangnya peternakan sapi perah. Produksi susu yang berlimpah di sana mengilhami produsen tahu untuk membuat jenis tahu yang tidak biasa.

Nah, apa jadinya jika dalam proses pembuatan tahu dicampur dengan susu? Tentulah diperoleh tahu yang lembut, gurih, dan bergizi. Di pasar-pasar tradisionil di kota Bandung kadang-kadang ada pedagang yang menjual tahu susu dari Lembang itu. Saya membeli tahu susu produksi Lembang di pasar tradisionil di dekat perumahan di Antapani. Saya membeli sebungkus tahu susu berisi 10 tahu, harganya hanya Rp7000. Lumayan murah.

Tahu susu dari Lembang

Tahu susu dari Lembang

Di kota Bandung sendiri juga terdapat kawasan penghasil tahu yang terkenal, yaitu daerah Cibuntu (dikenal dengan tahu cibuntu). Produsen tahu di Cibuntu pun ikut-ikutan memproduksi tahu susu. Selain tahu susu mereka juga memproduksi tahu keju dan tahu sutra. Soal kreativitas orang Bandung memang tidak ada habis-habisnya. Namun setelah saya mencoba tahu susu dari Cibuntu, menurut saya tetap lebih enak tahu susu dari Lembang. Yang enak-enak itu memang kalau berasal dari tempat aslinya.

Tahu susu ini lebih nikmat jika dimakan dalam keadaan panas, dan tentu saja pakai sambal cabe rawit yang membuat mulut hah huh hah huh…

Yuk, sarapan pagi dulu. Bismillah.

Dipublikasi di Makanan enak | 7 Komentar

Etika Menulis Surat Anak Muda Zaman Sekarang

Kesantunan berkomunikasi tampaknya sudah mulai pudar pada anak-anak muda zaman sekarang. Berkomunikasi melalui surat ada etika atau tata kramanya. Bahasa tulisan sama pentingnya dengan bahasa lisan, di dalamnya kita seharusnya mengedepankan sopan santun dalam menulis pesan atau surat kepada orang lain. Pemilihan kata dan kalimat di dalam surat dapat menunjukkan kualitas adab seseorang.

Suatu hari saya menerima pesan yang dikirim melalui messenger dari seorang mahasiswa luar kampus yang tidak saya kenal. Ia meminta bahan suatu modul algoritma (mungkin karena terkait dengan mata kuliah yang saya ajar). Di akhir pesan dia menulis begini, “Saya minta tolong kirim ke email saya, Pak. Terima kasih.“, tulisnya.

Wah, bahasanya itu lho, bernada memerintah. Sudahlah saya tidak kenal, lalu memerintahkan saya untuk mengirimkan file modul tersebut ke alamat surelnya. Hei, who are you, guy? I don’t know you but you ask me to send a file to your email address. Tidakkah bisa menuliskannya dengan bahasa yang lebih sopan sebagai berikut: “Mohon maaf, Pak. Jika bapak berkenan, saya membutuhkan bahan algoritma yang ada pada Bapak… dst. Jika tidak keberatan, dapatkah Bapak mengirimkannya kepada saya via email? Berikut email saya…… Mohon maaf bila telah merepotkan dan terima kasih banyak atas bantuannya”. Nah, kalau begini kan lebih sopan daripada pesan pertama, bukan? Surat-surat dengan bahasa memerintah seperti itu sudah sering saya terima, meskipun agak kurang sopan bahasanya namun tetap saya layani juga (sambil mengeluh prihatin dengan bahasa tulisannya).

Rekan saya di kampus pernah menerima surel dari mahasiswa walinya. Mahasiswa tersebut mengalami kehilangan dokumen penting, lalu dia bertanya kepada dosen walinya dengan menyebut kata “Anda” sebagai berikut: “Saya bernama …… dengan NIM …. Anda adalah dosen wali saya. Saya mengalami suatu masalah ….dst…dst.”

Waw, kepada gurunya (dosen) mahasiswa memanggil dengan kata “Anda”? Kalau dalam Bahasa Inggris semua kata yang menunjuk kepada kamu, Anda, kau, dan sebagainya hanya satu kata saja yaitu you. Kamu memanggil ayahmu dengan kata you, gurumu dengan kata you, itu wajar-wajar saja. Tetapi, dalam Bahasa Indonesia kata “Anda” tidaklah pantas disematkan kepada orang yang kita hormati, yaitu orangtua kitya sendiri maupun guru-guru kita. Kita dapat memanggilnya dengan kata Bapak atau Ibu, dan bukan “Anda”.

Masih tentang etika menulis, rekan saya mengeluhkan surel mahasiswanya yang memberikan pilihan waktu untuk bertemu. Begini bunyi surel tersebut: Äpakah ibu memiliki waktu kosong diantara:
– hari ini
– besok sebelum jam 10 pagi
– besok jam 12-14 siang?

Waduh, tepok jidat. Mahasiswa tersebut yang memiliki keperluan dengan dosennya, tetapi dia pula yang menentukan pilihan waktu untuk bertemu, seperti menjawab soal pilihan berganda saja.

Dan yang ini lebih parah lagi: “Saya akan datang ke meja ibu pukul xxx, tolong ibu ada di tempat“. Hah? Kebangetan, bukan?

Beginilah jadinya jika pendidikan etika diabaikan. Anak-anak muda kita sangat perlu dididik tentang etika menulis surat, termasuk etika berinternet. Setinggi apapun ilmu yang dimiliki seseorang, tidak ada artinya jika mengabaikan etika. Ingatlah bahwa di atas ilmu pengetahuan itu ada etika. Dahulukan adab sebelum ilmu, demikian kata para ulama.

Dipublikasi di Pendidikan | 9 Komentar

Jangan Kau Bunuh Anakmu!

Beberapa hari ini saya masih shock membaca berita tentang kasus pembunuhan yang dilakukan seorang ayah kepada anak kandungnya sendiri. Hanya karena masalah rebutan baju dengan kakaknya, Deni tega memukul anaknya, Kasih Ramadhani (7 tahun) dengan menggunakan bambu berkali-kali ke kepala dan badan anaknya. Coba kamu baca, sesudah selesai dipukul hingga berdarah-darah, Kasih masih sempat meminta maaf kepada pembunuhnya, yang tidak lain ayahnya sendiri.

Kasih Ramadani (7), berjalan sempoyongan mengambil air untuk membersihkan darah yang mengalir di wajahnya, di rumah Eko Hendro (40) di Dusun Buwek, Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Sabtu (21/2). Lalu, ia berjalan menghampiri ayahnya, Deni (30) yang telah memukulnya hingga berdarah untuk meminta maaf.

“Anak saya sempat cuci muka, lalu meminta maaf ke saya. Setelah itu dia roboh. Saya sangat menyesal,” kata Deni ayah Kasih yang membunuh anaknya sendiri saat dimintai keterangan polisi, Ahad (22/2).

Usai meminta maaf, Kasih masih sempat meneguk air putih dan kemudian roboh. Napasnya tersengal-sengal. Darah terus mengalir dari kepalanya. Ayahnya panik lalu membopong Kasih ke gubuk yang ada di kebun samping rumah Hendro. Ayahnya mengikatkan baju di kepala Kasih untuk membendung darah agar tidak terus mengalir. Tapi nyawa Kasih tetap tidak tertolong. (Sumber: Sebelum Meninggal, Kasih Minta Maaf pada Pembunuhnya)

Berita selengkapnya dapat dibaca di sini: Rebutan Baju dengan Kakak, Anak 7 Tahun Tewas Setelah Dipukuli Ayahnya

Hiks…hiks…hiks, saya menangis membacanya, terbayang jeritan pilu dan raungan Kasih karena dipukul bertubi-tubi oleh ayahnya yang kalap. Bayangkan anak yang masih kecil (berusia tujuh tahun), yang masih membutuhkan kasih sayang ayahnya, yang masih minta digendong atau dipangku, yang masih suka bermanja-manja, sekarang dihabisi nyawanya oleh ayah kandungnya sendiri. What a humanity?

Anak-anak nakal itu kan biasa, sirik-sirikan dengan saudara kandungnya juga biasa, bertengkar dengan adik karena rebutan mainan, makanan, atau pakaian adalah hal yang lumrah. Tetapi, orangtua yang marah besar kepada anak-anaknya sehingga sampai tega melakukan kekerasan fisik nakal sampai anak tersebut mati, maka kejahatan yang dilakukan oleh orangtua tidak sebanding dengan kenakalan anak-anaknya. Menyesali diri setelah anak kandung yang sejak kecil diberi makan dan dibesarkan dengan susah payah itu mati sudah tiada gunanya lagi. Nasi sudah menjadi bubur.

Orangtua boleh stres karena banyak masalah, tetapi otak harus tetap jalan dan tetap sadar, logika dikedepankan, hati jangan selalu dikuasai oleh nafsu amarah karena setan ada di belakangnya. Semarah apapun kondisinya, seseorang harus dapat membedakan mana perbuatan yang melampaui batas. Punya masalah dengan orang lain atau dengan pasangan jangan sampai anak sendiri yang menjadi pelampiasan kemarahan.

Saya teringat dengan anak saya yang juga sepantaran Kasih. Meskipun saya kadang-kadang jengkel dengan ulah anak, tetapi saya selalu menahan diri untuk tidak marah secara berlebihan. Malahan saya seringkali menyesal setelah memarahi anak sampai-sampai saya sendiri tidak tenang bekerja di kantor. Sore hari ketika saya pulang ke rumah, saya ciumi anak saya sebagai tanda menyesal karena memarahi dia dengan berlebihan.

Nah, ini ada orang yang memarahi anaknya sampai setega itu hingga menghabisinya. Where is humanity?

Selamat jalan Kasih, semoga kamu mendapat baju yang lebih baik di Taman Surga.

Dipublikasi di Renunganku | 6 Komentar

Thawaf dan Tarian Alam Semesta

Ini kenanganku ketika melaksanakan ibadah umrah bulan lalu. Masih terbayang-bayang di depan mata saat-saat aku thawaf di depan ka’bah di Masjidil Haram. Diri ini terasa begitu kecil di hadapan-Nya.

Aku berdiri di lantai dua bangunan temporary ring dan memandang ke bawah. Ratusan ribu jamaah berjalan mengitari ka’bah sejumlah tujuh putaran dalam prosesi ibadah thawaf. Tidak hanya di lantai dasar, tetapi juga di temporary ring dua lantai yang dibangun selama proses renovasi besar-besaran Masjidil Haram. Semua bergerak serempak dalam arah berlawanan dengan jarum jam, sambil melafalkan doa, bertasbih, menyebut Nama Allah Yang Maha Besar dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad yang dicintai jutaan muslim sedunia.

Saat aku melakukan sendiri thawaf di depan ka’bah bersama-sama ribuan jamaah lain, bulu kudukku merinding dan hati bergetar ketika berada di dalam pusaran yang berputar itu. Kau pun akan merasakan hal yang sama jika mengalaminya sendiri. Klik foto di bawah ini untuk melihat lebih jelas.

Jamaah thawaf mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram.

Jamaah thawaf mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram.

Tahukah kamu, sesungguhnya gerakan mengelilingi ka’bah tersebut adalah metafora dari gerakan alam semesta yang dinamakan “tarian alam semesta”. Alam pun berthawaf dengan caranya sendiri. Planet-planet berputar mengelilingi matahari, elektron-elektron berputar mengelilingi inti atom, mitokondria di dalam sel makhluk hidup berputar mengelilingi inti sel, dsb. Sambil berputar sesungguhya alam ini bertasbih memuji Penciptanya.

Tarian alam semesta itu menghasilkan harmoni atau keseimbangan alam. Andai jika gerakan alam tersebut berhenti, niscaya hancurlah alam semesta ini. Apa jadinya jika bumi berhenti berputar, elektron berhenti mengelilingi inti atom? Maka binasalah alam ini. Allah menyuruh ummat-Nya berthawaf untuk merenungkan alam semesta yang luas maha luas ini.

Aku berada di dalam gelombang pusaran manusia yang berputar itu. Terombang-ambing sendiri. Kadang terombang ke kiri, kadang terambing ke kanan saking padatnya jamaah. Aku bagaikan setitik kecil di antara lautan manusia itu.

Maha Suci Allah yang menyuruh manusia belajar dari alam semesta yang diciptakan-Nya.

Dipublikasi di Renunganku | Tinggalkan komentar

Saus Tomat dan Sambal itu Ternyata Tidak Pakai Tomat dan Cabai Sama Sekali

Akhir bulan Januari yang lalu kepolisian Bandung menggerebek sebuah pabrik saus tomat dan sambal di kawasan Caringin Bandung. Saus tomat dan sambal yang diproduksi oleh pabrik tersebut mengandung zat kimia yang berbahaya. Bahkan yang mengejutkan, saus tomat dan sambal yang dihasilkan sama sekali tidak menggunakan bahan baku tomat dan cabai sama sekali. Seperti dikutip dari berita ini:

“Sambal dan saus ini bahannya dari ampas tapioka (onggok) 27 kilogram, ekstrak bawang putih 3-4 kilogram, ekstrak cabai leoserin capsikum 0,5 ons, saksrin 50 gram, garam 4 kilogram, cuka 200 gram, pewarna sunset 1 ons, perwarna jenis poncau satu sendok, potasium fospat 50 gram, dan bibit cairan tomat 0,5 ons,” sebutnya.

Jadi saus dan sambal ini, lanjut dia, tidak pakai cabai atau tomat sama sekali. Tapi pakai esens rasa tomat dan cairan kimia ekstrak cabai. Cara pembuatan saus dan sambal tersebut yakni dengan mencampur semua bahan dalam satu drum kemudian dilaruti air panas sebanyak 30 liter. Kemudian setelah itu diaduk.

“Setelah jadi, saus atau sambal tersebut kemudian dikemas dalam bungkus plastik yang sudah diberikan label dan cap serta ada tulisan bahan komposisi yang tidak sesuai dengan sebenarnya,” katanya.

Dia menjelaskan, saus dan sambal itu dipasarkan ke pasar-pasar tradisional di Kota Bandung dan di seluruh Jawa Barat. Pabrik ini sudah beroperasi selama 14 tahun. Dalam sehari, pabrik rumahan tersebut bisa membuat sambal dan saus palsu hingga 200 ton dengan keuntungan mencapai Rp 100 juta per harinya.

POLISI memeriksa bahan baku saat melakukan penggerebekan pabrik saus sambal di Jln. Cicukang, Kelurahan Caringin, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, Senin (26/1/2015).  Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/313681

POLISI memeriksa bahan baku saat melakukan penggerebekan pabrik saus sambal di Jln. Cicukang, Kelurahan Caringin, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, Senin (26/1/2015). Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/313681

Berita lainnya dapat dibaca di sini dan di sini.

Mengerikan, bukan? Saus semacam inilah yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat bawah karena harganya murah. Para pedagang kaki lima yang menjual bakso, mie ayam, cuanki, capcai, mie goreng, dan lain-lain adalah konsumen utama saus tomat dan sambal yang berbahaya itu. Di pasar-pasar tradisionil mudah ditemukan kedai yang menjual saus dan sambal isi ulang dalam kemasan plastik berkapasitas 1 kg. Pedagang kaki lima yang membelinya lalu memindahkannya ke dalam botol. Warnanya yang merah meriah menggoda konsumen untuk mencampurkannya ke dalam bakso atau mie ayam.

Dikonsumsi satu kali atau dua kali mungkin tidak terlihat efeknya, tetapi jika dikonsumsi dalam frekuensi yang sering dan dalam waktu yang lama, maka efeknya tentu sangat berbahaya bagi tubuh. Salah satu penyakit yang mungkin timbul dari konsumsi zat kimia berbahaya adalah kanker.

Saos-TomatSejak dulu saya selalu menghindari memakai saus tomat dan sambal dari pedagang bakso atau mie ayam kaki lima. Saya tidak percaya itu saus tomat asli atau sambal asli. Sudah lama saya tahu bahwa bahan baku utamanya adalah tepung singkong/tapioka. Mungkin saja ada pabrik yang menggunakan tomat dan cabai beneran, tetapi proporsinya tentu sangat kecil. Rasa tomat dan rasa pedas lebih banyak diperoleh dari penggunaan essens (perasa buatan). Tapi ini masih mendingan daripada pabrik di atas yang sama sekali tidak menggunakan tomat dan sambal, semuanya dalam bentuk ekstrak dan essens, sudah itu lalu ditambah lagi dengan bahan kimia berbahaya.

Kalau saya membeli bakso atau mie ayam dari pedagang kaki lima, biasanya saus dan sambalnya tidak saya pakai. Jika saya membelinya untuk dibawa pulang, maka setiba di rumah saya memakai saus tomat dan sambal botol dari merek yang sudah dikenal di pasaran.

Pengusaha yang memproduksi saus tomat dan sambal palsu mungkin hanya memikirkan untung besar saja, mereka tidak memikirkan (atau tidak peduli) bahaya penggunaan zat kimia yang berbahaya bagi tubuh. Di sisi lain masyarakat kita tidak aware dengan dampak buruk makanan yang mengandung zat kimia berbahaya. Mereka hanya mementingkan harga murah semata. Sudah saatnya masyarakat kita dieduksi untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan tidak mengandung zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 9 Komentar

Pelajaran Berharga dari Penjual Nasi Kuning

Nasi kuning merupakan sarapan pagi orang Bandung. Nasi kuning adalah semacam nasi uduk tetapi berwarna kuning karena memakai kunyit (bahasa Sunda: koneng). Rasanya gurih karena dimasak dengan santan dan aneka daun rempah-rempah. Hampir setiap pekan saya membeli nasi kuning, karena anak saya suka sekali memakannya. Salah satu penjual nasi kuning langganan saya adalah seorang ibu yang membuka warung di pinggir jalan di kawasan perumahan. Sejak dulu harga sebungkus nasi kuningnya cuma Rp5000. Murah sekali, bukan? Seporsi nasi kuning terdiri atas nasi kuning, irisan telur dadar, oseng-oseng tempe, sambal oncom, dan kerupuk. Harga Rp5000 itu bertahan selama bertahun-tahun. Barulah setahun lalu terpaksa dinaikkan menjadi 6000. Saya katakan “terpaksa” karena si ibu penjual nasi kuning melakukannya dengan berat hati. Banyak pelanggan setianya protes karena harganya dinaikkan seribu. Pelanggan setia penjual nasi kuning adalah mamang-mamang penarik beca, tukang ojeg, pedagang sayur keliling, yang penghasilannya memang pas-pasan.

Sejak kenaikan harga BBM awal tahun yang lalu, harga barang-barang kebutuhan lainpun ikut naik sebagai efek domino dari kenaikan BBM, termasuk harga bahan baku pembuatan nasi kuning, terutama sekali beras. Kenaikan harga BBM telah menyengsarakan rakyat kecil. Sekarang, meskipun harga BBM sudah diturunkan, namun harga barang kebutuhan tidak mau turun. Saya menyarankan kepada si ibu penjual nasi kuning untuk menaikkan harga dagangannya menjadi Rp7000. Saya kira para pembeli pasti bisa memakluminya. Di pedagang lain harga seporsi nasi kuning rata-rata sudah Rp7000, bahkan ada yang seporsi delapan ribu hingga sepuluh ribu. Masa si ibu nggak ikut menaikkannya? Apa dia tidak rugi nanti?

Apa jawab si ibu? “Ah enggaklah den, kasihan yang beli, nanti pada lari. Biar harganya 6000 tetapi yang penting tetap ada yang beli. Biar (untung) sedikit tetapi langgeng”.

Sederhana sekali pikiran si ibu. Ia lebih memperhatikan kelestarian pelanggan ketimbang mencari untung lebih besar. Apa gunanya menaikkan harga tetapi pelanggan menjauh dan akhirnya usahanya tutup. Maka, yang dilakukannya adalah mengurangi sedikit porsi nasi kuning namun harga tetap. Prinsip ini banyak dianut pedagang kecil, mereka lebih mempertahankan pelanggan ketimbang tergoda untung yang lebih besar.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dalam konteks ibadah, maka begitu jugalah sebaiknya seorang hamba dalam beramal sholeh, biar amalan kecil tetapi terus menerus (langgeng) alias istiqamah. Biar sedekah cuma seribu tetapi rutin setiap hari, biar sibuk bekerja tetapi sholat Dhuha dan sholat malam rutin dikerjakan. Sesungguhnya Allah mencintai amalan yang sedikit namun terus menerus (langgeng/lestari).

Dikutip hadis dari sini, dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”

Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”

’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah, ”Wahai Ummul Mukminin, bagaimanakah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam beramal? Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab,

”Tidak. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (rutin dilakukan). Siapa saja di antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lakukan.”

Pelajaran berharga dari penjual nasi kuning, biar sedikit tetapi terus menerus.

Dipublikasi di Agama, Kisah Hikmah | 1 Komentar

Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 7 – Habis): Wisata Ziarah di Kota Makkah dan Selamat Tinggal Tanah Suci

Rasanya empat hari di kota Makkah masih kurang, masih belum puas beribadah di Masjidil Haram. Ingin sekali selalu berada di sana, beri’tikaf, sholat, thawaf, sa’i, dan lain-lain. Namun karena ini program paket umrah, maka selalu ada acara wisata ziarah menuju tempat-tempat bersejarah.

Selama satu hari kami mengunjungi banyak tempat di kota Makkah dan sekitarnya. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jabal Tsur, sekitar 6 km dari kota Makkah. Jabal Tsur adalah sebuah bukit yang di atasnya terdapat sebuah gua. Di sinilah Rasulullah bersembunyi di dalam sebuah gua bersama sahabatnya, Abu Bakar, dari kejaran pemuda-pemuda Quraisy. Ketika para pemuda Quraisy sampai di bukit itu, Allah SWT menurunkan pertolongan-Nya. Mulut gua ditutupi sarang laba-laba dan di dekatnya ada sarang burung merpati. Para pemuda Quraisy menyangka bahwa tidak mungkin Rasulullah berada di dalam gua itu, sebab jika orang masuk ke dalamnya pasti rusaklah sarang laba-laba tersebut. Maka, selamatlah Rasululullah dan sahabatnya dari kejaran kaum Quraisy.

Jabal Tsur

Jabal Tsur

Di Jabal Tsur kami hanya singgah sebentar untuk berfoto dari bawah bukit. Selanjutnya perjalanan wisata ziarah menuju tempat wukuf di Arafah. Padang Arafah saat ini tidak gersang lagi, sudah banyak pepohonan yang ditanam di sana. Pohon-pohon itu tidak pernah bisa tinggi, mungkin memang jenisnya demikian. Di Padang Arafah ada pohon yang dinamakan Pohon Soekarno, karena dulu Presiden Soekarno pernah menaman beberapa pohon di sana.

Di dekat Padang Arafah ada bukit yang sangat terkenal, yaitu Jabal Rahmah. Inilah bukit yang dipercaya sebagai tempat bertemunya Adam dan Hawa yang terpisah selama ratusan tahun setelah terusir dari Surga akibat memakan buah larangan. Jabal Rahmah terletak di dekat Padang Arafah. Di atas bukit ini terdapat sebuah tugu untuk mengenang pertemuan Adam dan Hawa.

Jabal Rahmah

Jabal Rahmah

Tugu di atas Jabal Rahmah

Tugu di atas Jabal Rahmah

Mendaki Jabal Rahmah tidak sulit-sulit amat. Para aki-aki dan nini-nini yang sudah sepuh pun masih kuat untuk mendakinya. Maklum saja ini bukit batu dan banyak tempat untuk berpijak ketika mendaki. Kalau mau lebih aman, jamaah bisa naik tangga yang sudah dibuat oleh Pemerintah Arab Saudi. Tangga menuju Jabal Rahmah terletak di sisi timur. Semangat jamaah umrah untuk mendaki bukit ini luar biasa, tak henti-hentinya jamaah mengalir mendaki bukit batu ini.

Antusiasme jamaah mendaki Jabal Rahmah

Antusiasme jamaah mendaki Jabal Rahmah

Dari Arafah kita menuju Mina. Inilah tempat di mana para jamaah haji bermalam sebelum melontar jumrah. Di Mina sudah terpasang ribuan tenda tempat jamaah haji menginap. Meskipun bukan bulan haji, tenda-tenda itu tidak pernah dibongkar, dan kita dapat menyaksikannya sepanjang perjalanan.

Tenda-tenda di Mina

Tenda-tenda di Mina

Lebih dekat dengan tenda di Mina

Lebih dekat dengan tenda di Mina

Selesai melewati Mina, jamaah umrah kembali ke kota Makkah. Sebelum memasuki pusat kota Makkah, kami singgah terlebih dahulu di sebuah museum eksibisi arsitektur dua masjid suci, yaitu Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Di museum ini kiat dapat melihat sejarah elemen-elemen arsitektur kedua masjid suci tersebut.

Museum eksibisi arsitektur dua masjid suci

Museum eksibisi arsitektur dua masjid suci

Di museum ini kita dapat melihat:
1. Maket Masjidil Haram

Maket Masjidil Haram

Maket Masjidil Haram

2. Cetakan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim (Maqam Nabi Ibrahim yang terletak di depan ka’bah)

Cetakan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim (Maqam Ibrahim)

Cetakan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim (Maqam Ibrahim)

3. Cungkup Hajar Aswad

Cungkup Hajar Aswad

Cungkup Hajar Aswad

4. Sumur Air Zam-zam

Sumur Air Zam-zam

Sumur Air Zam-zam

5. Kunci pintu ka’bah

Kunci pintu ka'bah

Kunci pintu ka’bah

6. Tangga kayu ka’bah yang dibuat tahun 1420 H

Tangga ka'bah yang terbuat dari kayu jati

Tangga ka’bah yang terbuat dari kayu jati

7. Pintu Masjid Nabawi

Pintu  Masjid Nabawi

Pintu Masjid Nabawi

8. Dan lain-lain, masih banyak lagi yang bisa dilihat, sayang sekali waktunya hanya sebentar, kami sudah dipanggil untuk naik ke bis, sebab waktu sholat Dhuhur di Masjidil Haram hampir tiba. Kami para jamaah akan segera menuju Masjidil Haram untuk sholat Dhuhur. Sebelum pergi, saya sempatkan dulu berfoto dulu di dalam museum ini. Setiap pengunjung mendapat oleh-oleh sebuah Al-Quran gratis dari pengelola museum.

He..he, disempatkan dulu berfoto narsis di dalam museum.

He..he, disempatkan dulu berfoto narsis di dalam museum.

Sehari sebelum pulang ke tanah air, para jamaah jalan-jalan ke kota Jeddah untuk membeli oleh-oleh yang masih kurang. Perjalanan dari Makkah ke Jeddah hanya sekitar dua jam. Kota Jeddah adalah kota pelabuhan karena letaknya di pinggir laut. Di sini juga terdapat bandara internasional untuk kedatangan jamaah haji. Sepanjang perjalanan dari Makkah ke Jeddah kita disuguhi pemandangan yang kering dan tandus. Sekali-sekali kita melihat tenda suku badui dan untanya.

Pemandangan kering dan tandus sepanjang jalan dari Makkah ke Jeddah

Pemandangan kering dan tandus sepanjang jalan dari Makkah ke Jeddah

Di Jeddah para jamaah berbelanja di pusat perbelanjaan ‘yang katanya’ murah. Toko-toko di sini ‘ramah’ dengan orang Indonesia. Maksudnya ramah adalah pegawai tokonya bisa berbahasa Indonesia. Uang rupiah berlaku di sini selain riyal tentunya. Berada di sini serasa tidak berada di Arab Saudi, karena kita mudah menemukan kedai bakso, kedai soto, kedai siomay, orang Indonesia, dan tentu saja tulisan-tulisan berbahasa Indonesia.

Pusat perdagangan murah di Jeddah

Pusat perdagangan murah di Jeddah

Toko Ali Murah, serasa berada di Pasar Baru Bandung

Toko Ali Murah, serasa berada di Pasar Baru Bandung

Jamaah umrah atau haji yang berada di Jeddah pasti tidak lupa untuk mengunjungi masjid terapung. Dalam perjalanan menuju bandara Jeddah, kami menyempatkan diri untuk sholat Subuh di masjid terapung. Masjid yang terletak di pinggir Laut Merah ini sebenarnya tidak terapung, hanya sebagian badan masjid terletak di atas laut. Sayangnya masjid ini kurang terawat, toiletnya tampak kurang dibersihkan, bau pesing di mana-mana.

Masjid terapung di pinggir Laut Merah

Masjid terapung di pinggir Laut Merah

Masjid terapung

Masjid terapung

Di dalam masjid terapung

Di dalam masjid terapung

Akhirnya, perjalanan umrah ke Tanah Suci harus berakhir. Sedih rasanya ketika melaksanakan thawaf wada’ atau thawaf perpisahan semalam sebelum kami berangkat ke Jeddah. Saya akan berpisah dengan Masjidil Haram. Ketika berdoa pada akhir thawaf wada’, maka mintalah agar kelak suatu saat kita diberi kesempatan untuk mengunjungi Baitullah dan Masjid Nabawi kembali.

Sesampai di terminal haji Bandara Jeddah, saya merenung. Semoga saya bisa kembALI ke Tanah Suci kelak beberapa tahun lagi untuk menunaikan ibadah haji. Saya mendapat kuota haji pada tahun 2018 yang berarti tiga tahun lagi. Rasanya sudah tidak sabar ingin kembali ke Tanah Suci. Rasanya perjalanan umrah begitu sebentar. Bahkan, baru beberapa hari saya berada di tanah air, saya merasa kangen dan rindu untuk kembali ke sana.

Terminal Haji Bandara King Abdul Aziz,  Jeddah

Terminal Haji Bandara King Abdul Aziz, Jeddah

Pesawat Saudi Arabian sudah menunggu di landasan. Satu persatu para jamaah umrah memasuki badan pesawat. Tidak ada isak tangis atau air mata, yang ada adalah perasaan bahagia karena sudah berkunjung ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umrah.

Pesawat Saudi Arabian yang membawa jamaah pulang ke Tanah Air

Pesawat Saudi Arabian yang membawa jamaah pulang ke Tanah Air

Selamat tinggal kota suci Makkahh dan Madinah, semoga kami dapat mengunjungimu kembali suatu hari nanti. (TAMAT)

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 3 Komentar