Keluar dari Grup Whatsapp

Berbincang-bincang melalui aplikasi whatsapp (WA) di dalam sebuah grup diskusi memang mengasyikkan. Pada era smartphone saat ini hampir semua pemilik gawai (gadget) memiliki aplikasi whatsapp. Perbincangan di dalam grup bisa membahas masalah serius, tapi bisa pula hanya berisi senda gurau belaka yang dapat melenakan penggunanya sehingga keasyikan  chatting berjam-jam.

Setiap orang mungkin tergabung dalam beberapa grup di WA. Grup WA yang banyak  jumlahnya adalah grup alumni, baik alumni SD, SMP, SMA, kuliah, alumni prajabatan CPNS, alumni umroh dan haji, dan masih banyak lagi. Itu belum termasuk grup komunitas, grup pegawai di kantor, grup RT, grup arisan, dan sebagainya. Memori ponsel bisa-bisa penuh dengan pesan-pesan yang terkirim di WA. Jika dilayani semua, chatting melalui WA dapat melalaikan pekerjaan kita atau tugas utama kita sehari-hari. Sikap yang paling bijak adalah berkomunikasi melalui WA seperlunya saja.

Pesan atau informasi apa saja dapat dikirim melalui WA. Tidak hanya pesan teks, tetapi juga dokumen (Word, Excell, PPT, pdf, dll), gambar, video, animasi, tautan ke situs berita daring dan sebagainya. Nah, di sinilah letak masalahnya. Karena terlalu bersemangat, anggota grup WA seringkali kebablasan. Humor-humor yang berbau pornografi sering kali melintas. Namun yang lebih parah adalah gambar-gambar mesum atau video mesum yang dikirim anggota grup.

Saya yang menerima gambar-gambar atau video mesum tersebut masih dapat bersabar. Gambar dan video tersebut saya hapus dari memori ponsel. Tetapi gambar-gambar mesum lain masih saja terus lalu lalang yang dikirim oleh anggota grup. Default-nya adalah gambar-gambar yang dikirim melalui WA akan tersimpan secara otomatis kecuali kalau kita men-seting perlu persetujuan user.

Pengirim gambar-gambar mesum sering berkilah, tujuannya hanya untuk sekedar fun, himor, biar nggak stres, atau hanya sekedar iseng mencari perhatian anggota grup. Namun, pengirim gambar tidak sadar, bahwa tidak semua anggota grup mempunyai pola pikir seperti dia. Tidak semua anggota suka dengan gambar-gambar mesum tersebut.

Saya sering komplain pada beberapa grup, mempertanyakan anggota grup yang suka mengirim gambar-gambar yang tidak pantas ke jalur umum. Jika Anda ingin menikmati gambar-gambar koleksi mesum tersebut, nikmati saja sendiri, tanggung jawab sendiri, itu urusan Anda, dosanya dosa anda, kenapa harus disebar ke dalam grup yang anggotanya beragam?

Saya punya alasan mengapa saya harus “marah”. Anak saya di rumah suka meminjam ponsel saya, sekedar main game atau mengakses video di Youtube. Kadang-kadang dia juga suka melihat koleksi gambar di Gallery ponsel.  Nah, inilah yang saya takutkan. Setiap kali saya menerima kiriman gambar mesum dari grup WA, saya dengan sigap selalu menghapusnya. Saya khawatir anak-anak saya melihatnya dan mengira saya mengkoleksi gambar-gambar mesum tersebut. Namun, ada kalanya saya lupa menghapusnya. Kecepatan saya menghapus juga tidak selalu secepat anak saya melihatnya. Bisa saja ketika dia menggunakan ponsel saya, gambar-gambar tersebut masuk dan saya belum menghapusnya. Itulah yang saya takutkan, dia melihat gambar-gamba pornografi kiriman anggota grup.  Saya membenarkan pendapat Bu Elly Risman yang menyatakan kalau peredaran pornografi secara masif adalah melalui ponsel.

Berhubung komplain saya tidak mendapat tanggapan yang memuaskan, maka apa boleh buat, saya pun terpaksa left atau keluar dari grup. Daripada anak saya menjadi korban pornografi, biarlah saya rela tidak mengikuti grup diskusi yang ramai itu. Keluar dari grup WA tidak berarti memutus hubungan pertemanan di darat. Hubungan saya dengan teman di grup tetap baik-baik saja.

Dipublikasi di Pengalamanku | 4 Komentar

Mendidik dengan Memberi Contoh

Suatu hari anak saya yang bungsu pergi belanja sendiri ke minimarket dengan menggunakan sepeda. Diam-diam saya buntuti dia, karena saya agak khawatir kalau dia tidak lihat kiri kanan saat menyeberang jalan dengan sepedanya (minimarket itu berada di seberang jalan). Tiba di minimarket, saya amati dia dari jauh. Setelah membayar belanjaan di kasir, ternyata ada sisa kembalian berupa uang receh. Uang receh itu lalu dia masukkan ke kotak amal yatim piatu yang terletak di luar dekat pintu masuk minimarket. Dia melakukan hal itu (memasukkan uang ke dalam kotak amal) karena sering melihat saya melakukan hal yang sama ketika dia diajak berbelanja ke minimarket. Hmmm…padahal saya tidak pernah lho menyuruh dia untuk memasukkan uang ke kotak kencleng, tapi sekarang dia melakukan amal kecil yang pernah saya lakukan.

Saya pun tersadar. Pendidikan terbaik bagi anak-anak adalah dengan memberikan contoh. Tidak perlu berteori yang muluk-muluk atau berceramah  panjang lebar, tapi perlihatkan dengan contoh teladan. Apa saja yang anda lakukan, maka anak anda akan menirunya karena dia menganggap orangtua dan guru adalah contoh yang patut ditiru, terlepas apakah perbuatan itu baik atau buruk. Anak anda akan mem-foto-copy apa yang anda lakukan.

Maka, bila anda memperlihatkan teladan baik, anak anda akan mencontohnya. Bila anda memperlihatkan sikap buruk, anak anda  pun akan menirunya. Anda membanting pintu sebagai pelampiasan marah di depan anak anda, maka anak anda akan melakukan hal yang sama. Anda merokok di depannya, anak anda akan jadi perokok juga, diam-diam atau terang-terangan. Pada contoh cerita saya di atas, anda bersedekah di dekatnya, maka dia pun akan melakukan hal yang sama kelak. Percayalah.

Saya merasa tindakan apa yang saya lakukan selama ini ternyata berpengaruh besar terhadap sikap anak. Selain sikap yang menurut pandangan umum adalah baik, kadang-kadang saya menyesal bila pernah memberi contoh yang kurang baik. Makan minum sambil berdiri misalnya, maka anak saya pun sering begitu. Membawa ponsel ke toilet, maka anak pun juga membawa ponselnya ke sana. Duh, saya menyesal telah memberi contoh yang  kurang baik dan sekarang harus memperbaiki kembali bangunan yang sudah salah terbentuk.

Dipublikasi di Pendidikan | 2 Komentar

Menangisi Nasib Rohingya yang Nestapa

Kekerasan terhadap warga Rohingya di Myanmar yang dilakukan oleh tentara Myanmar dan sebagian massa Budha radikal mewarnai pemberitaan dunia hari-hari ini. Media setiap hari memberitakan pembunuhan keji yang dilakukan oleh tentara Myanmar kepada warga Rohingya di negara bagian Rakhine (Arakan). Kaum lelaki dibunuh dan dibakar, para perempuan diperkosa,  anak-anak yang melindungi ibunya dipotong lehernya dengan pisau, rumah-rumah mereka dibakar (Baca: Mengerikan, Kekerasan Tentara Myanmar terhadap Rohingya). Puluhan ribu orang yang selamat melarikan diri ke perbatasan Bangladesh menyeberangi sungai Naf. Perahu yang sarat penumpang itu ada yang terbalik menghanyutkan penumpangnya, yang akhirnya menjadi mayat-mayat yang terdampar di pinggir sungai. Ethnic cleansing atau genosida sedang dilakukan oleh tentara dan Pemerintah Myanmar.

rohingya2

Sumber gambar: http://bdnews24.com/neighbours/2017/09/02/rohingya-muslims-flee-as-more-than-2600-houses-burned-in-myanmar-s-rakhine

Orang Rohingya adalah etnik yang tidak diakui oleh negara Myanmar. Mereka dianggap imigran dari Bangladesh yang memasuki wilayah Rakhine, meskipun menurut sejarah mereka sudah tinggal di Rakhine beberapa generasi. Secara fisik mereka berbeda dengan orang Myanmar pada umumnya. Orang Rohingya berkulit gelap (hitam) dan, sedangkan orang Burma (suku terbesar di Myanmar) berkulit putih. Bahasa mereka juga berbeda dengan bahasa di Myanmar. Satu pembeda lain dengan warga Myanmar adalah agama. Penduduk Myanmar umumnya beragama Budha, sedangkan orang Rohingya ini beragama Islam. Kelak soal agama ini juga ikut memicu ketegangan rasial antara warga Rohingya dengan kelompok Budha yang dipimpin oleh Bhiksu radikal.

Pemerintah dan warga Myanmar menyebut mereka Bengali ketimbang Rohingya. Jumlah mereka mencapai 1,1 jiwa yang sebagian besar hidup di Rakhine. Karena tidak diakui sebagai warganagera yang sah, maka warga etnik Rohingya tidak mendapat hak-hak seperti hak pendidikan, hak politik, kesehatan, hak mendapat pekerjaan formal, dan lainnya. Mereka didiskriminasi dalam segala bidang. Pemerintah dan warga Myanmar membenci warga Rohingya dan menjadikan mereka sebagai musuh bersama yang harus dijauhi dan diusir dari Myanmar. Malangnya, Bangladesh pun tidak mengakui mereka sebagai warga Bangladesh. Jadilah orang Rohingya menjadi stateless, tidak memiliki kewarganegaraan apapun. Faktor stateless inilah yang menjadi pemicu awal diskriminasi terhadap orang  Rohingya.

Hampir setiap waktu terjadi aksi kekerasan terhadap orang Rohingya. Tak tahan dengan kekerasan yang terus menerus yang dialami etniknya, maka sekelompok kecil warga Rohingya akhirnya menjadi militan dan melakukan perlawanan mengangkat senjata. Mereka sudah putus asa dan sudah kehilangan harapan untuk hidup.  Dalam pikiran mereka, jika pun masih hidup, maka nanti akan mati juga di tangan tentara atau warga Myanmar. Satu-satunya jalan adalah melawan, mau mati atau hidup sudah tidak ada harapan lagi, mungkin begitu yang terlintas di kepala mereka. Kelompok militan yang dinamakan ARSA ini  menyerang pos polisi dan tentara, membunuh target yang mereka temui. Rupanya, aksi kekerasan yang dilakukan oleh ARSA ini berimbas kepada warga Rohingya lain yang tidak berdosa. Mereka menjadi target tentara Myanmar untuk memburu kelompok militan itu, dengan alasan tidak bisa membedakan mana militan dan  mana warga biasa. Dengan keji tentara Mynamar membunuh warga Rohingya yang tidak bersalah, membakar rumah-rumah mereka, sehingga menghasilkan arus pengungsian seperti yang saya sebutkan di bagian awal.

Sesungguhnya pengusiran dan pembunuhan warga Rohingya sudah berlangsung selama puluhan tahun. Sekarang saja puncaknya karena ada momentum untuk menjadi alasan pembenaran aksi kekejaman itu, yaitu sebagian warga Rohingya dianggap teroris yang  harus dibasmi.

Kebetulan warga Rohingya ini beragama Islam, maka solidaritas dan aksi demo di negara-negara muslim pun marak memprotes kekejaman tentara Myanmar. Di tanah air, solidaritas kepada warga  Rohingya memancing sekelompok orang lain untuk bersikap sebaliknya. Kelompok ini sepertinya tidak memiliki hati nurani. Aksi keji tentara dan warga Myanmar terhadap warga Rohingya tidak mampu menumbuhkan empati pada diri mereka. Mereka malah nyinyir kepada warganet (netizen) yang memberikan rasa empati dan simpati mereka kepada Rohingnya. Mereka malah menyalahkan orang  Rohingya sebagai pendatang dari Bangladesh yang tidak tahu diri. Sudahlah “mengambil” tanah orang, lalu membuat gaduh di sana, begitu kata mereka. Terhadap orang Indonesia yang ikut-ikutan membela Rohingya, kelompok ini berkata sinis sebagai berikut: tidak perlu jauh-jauh membantu orang Rohingya, masih banyak warga kita yang perlu dibantu itu urusan dalam negeri Mynamar, ngapain kita ikut campur; kalau mau berjihad, silakan saja pergi ke sana; ujung-ujungnya nanti yang disalahkan adalah Jokowi; dan sebagainya.  Perpecahan bangsa akibat Pilpres dan Pilkada masih berlanjut hingga ke masalah Rohingya ini. Astaghfirullah.

Padahal, tidak perlu menjadi muslim untuk ikut bersimpati kepada penderitaan warga Rohingya. Menjadi manusia saja sudah cukup untuk ikut merasakan nestapa orang Rohingya yang teraniaya. Mereka terlahir menjadi Rohingya bukanlah keinginan mereka.  Meski mereka tidak memiliki kewarganegaraan, tapi bukan berarti manusia, dalam hal ini tentara Myanmar, boleh semena-mena memperlakukan mereka sebagai anjing kurap yang harus dibasmi. Siapapun manusia di dunia yang teraniaya karena nasibnya yang malang, apapun etnis dan agamanya, maka sebagai manusia lain yang lebih beruntung minimal kita berempati kepada nasib mereka ini. Hak asasi manusia untuk hidup harus dihormati.

Di sisi lain, meskipun kita warga muslim Indonesia berempati dan membela Rohingya, jangan sampai pula kita membuat fallacy yang membahayakan. Meskipun mayoritas warga Myanmar beragama Budha, tetapi warga Budha di Indonesia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kekerasan yang dilakukan warga Budha Myanmar terhadap warga Rohingya. Konflik di tanah Arakan itu bukan konflik berlatarbelakang agama.  Jadi, sungguh perbuatan salah jika vihara, bhiksu, dan warga Budha di tanah air menjadi sasaran kemarahan. Stop membuat kesimpulan ngawur dan sesat.

Dipublikasi di Dunia oh Dunia | 1 Komentar

Jalan-Jalan ke Danau Toba dan Samosir (Bagian 3)

Setelah menikmati Pulau Samosir, maka saatnya melihat Danau Toba dari ketinggian dengan pemandangan jauh lebih indah dan sangat mengagumkan.  Dari Parapat hendaknya Anda mengelilingi Danau Toba melalui jalan-jalan di sekitarnya yang mendaki. Dari daerah ketinggian itu terlihatlah keindahan Danau Toba yang luar biasa dan tidak bsia dilukiskn dengan kata-kata. Dalam perjalanan kami dari Parapat menuju Medan, kami melewati sebuah tempat di Kabupaten Karo yang bernama  Simarajunjung.  Di daerah ini terdapat sebuah resort yang dikelola oleh pihak swasta, bernama Taman Simalem.

Di Taman Simalem ini terdapat hotel, restoran, amphiteather, taman-taman yang indah, toko souvenir dan lain-lain. Sangat luas sekali resort ini, kabarnya milik seorang pengusaha Medan. Dari taman Simalem yang terletak di Dataran Tinggi Karo kita dapat menyaksikan pemandangan Danau Toba yang sungguh mempesona, seperti foto-foto di bawah ini. Kita dapat melihat betapa Danau Toba itu laksana lautan luas sahaja.

Setelah makan dan sholat di kawasan Taman Simalem (di dalamnya ada mushola dan di depannya gereja), kami melanjutkan perjalanan ke kota Medan. Kami melewati kota-kota seperti  Kabanjahe, Berastagi, Sibolangit, dan lain-lain. Sepanjang jalan kita melihat penduduk yang mengelola perkebunan. Daerah Dataran Tinggi Karo memang sangat subur. Beberapa komoditas pertanaian seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Kebun buah yang utama adalah jeruk. Jeruk Medan yang kita kenal itu sebenarnya berasal dari Berastagi. D

Kami mampir di pasar buah Berastagi. Di pasar buah ini kita dapat melihat dan membeli buah-buah segar yang berwarna-warni damn sangat menawan hati. Ada jeruk, terong belanda, mangga udang yang kecil-kecil tapi manis, salak side,puan, buah kesemek, dan lain-lain. Melihat buah-buahan yang beraneka ragam itu, sadarkah kita kalau negara kita ini sebenarnya penghasil buahan-buahan yang menarik dan segar?

Demikianlah perjalanan saya mengunjungi Danau Toba dan Pulau Samosir. Sebenarnya masih kurang puas hanya sebentar di sana. Jika ada kesempatan, saya ingin lebih lama lagi menjelajahi keindahan danau ini.

(TAMAT)

 

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 2 Komentar

Jalan-Jalan ke Danau Toba dan Samosir (Bagian 2)

Jalan-jalan ke Danau Toba tanpa mengunjungi Pulau Samosir sama seperti makan nasi tanpa sayur, nggak lengkap rasanya. Danau Toba dan Pulau Samosir adalah satu kesatuan geografis. Pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba besarnya kira-kira seluas negara Singapura (lihat gambar di bawah, sumber dari sini). Oh ya, Danau Toba yang luas ini dikelililing oleh tujuh  kabupaten, yaitu Kabupaten Simalungun, Kabupaten Tobasa (Toba Samosir), Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Dairi, Kabupatyen Karo, dan Kabupaten Samosir. (Baca:  7 Kabupaten yang mendiami kawasan Danau Toba).

Danau Toba dan Pulau Samosir di tengahnya (Sumber gambar: Wikipedia)

Setelah sarapan dan check-out dari Hotel Inna Parapat, kami rombongan Garuda menyeberang ke Pulau Samosir menaiki perahu wisata. Dari dermaga di dekat Hotel Inna Parapat menuju ke Pulau Samosir membutuhkan waktu berlayar kira-kira 40 menit.

Perahu wisata menuju Pulau Samosir

Air Danau Toba cukup tenang, tidak berombak seperti lautan. Membayangkan diri kita berlayar di Danau Toba sebenarnya kita mengarungi kaldera bekas letusan supervalcano ribuan tahun yang lalu. Saya sempat berpikiran nakal, jika tiba-tiba supervolcano Toba ini meletus kembali, habislah diri kami di sini.

Sepanjang perjalanan di danau yang sangat luas ini kita dapat melihat hamparan Pulau Samosir yang memanjang. Hotel dan vila berjejer di sepanjang pantai pulau. Pulau Samosir sekarang menjadi kabupaten sendiri, bernama Kabupaten Samosir dengan ibukotanya di Panguruan. Panguruan adalah kota kecil yang terletak pada posisi persambungan Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera. Jadi, sebenarnya Pulau Samosir ini dahulu tidaklah terpisah seluruhnya dengan daratan Pulau Sumatera.  Ia belum menjadi pulau dalam arti sebenarnya, tapi masih merupakan bagian pulau Sumatera. Ada bagian tanjung yang sangat sempit yang tersambung dengan pulau Sumatera. Tetapi,  Belanda pada zaman penjajahan dulu memotong persambungan ini sehingga Pulau Samosir resmi terpisah dengan Pulau Sumatera, dipisahkan oleh sebuah kanal. Sekarang daratan antara Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera dihubungkan dengan sebuah jembatan sepanjang 20 meter (Baca tentang jembatan itu di sini:  Sejarah Pulau Samosir yang Banyak Orang Belum Tahu, dan Kisah Jembatan Satu-satunya dari Pulau Samosir ke Sumatera).

Pulau Samosir dari atas perahu

Setelah menempuh waktu 40 menit, sampailah kami di dermaga Pulau Samosir. Inilah titik singgah pertama wisatawan dari Parapat ke Samosir.  Dari dermaga ini kita berjalan melewati jalan setapak menuju sebuah kampung Ambarita, kampung marga Huta Siallagan. Di kampung ini terdapat situs bersejarah peninggalan masa lalu berupa beberapa rumah adat Batak Toba serta meja dan kursi dari batu tempat rapat marga Huta Siallagan. Menurut kepercayaan orang Batak, Pulau Samosir dianggap sebagai tempat asal-muasal suku Batak. Berikut foto-foto di kampung Ambarita.

Konon, di meja dan kursi batu inilah Raja Huta Siallagan melakukan sidang untuk mengadili orang yang dituduh melakukan tindak kejahatan atau mata-mata. Sebelum disidang, tersangka pelaku dipasung di dalam sebuah ruangan di depan rumah adat ini.

Tempat pemasungan pelaku (tersangka)

Tidak jauh darti meja batu tadi, terdapat meja batu lain sebaga tempat eksekusi pelaku yang sudah dijatuhi hukuman mati. Hukuman matinya adalah dengan cara memenggal kepala si tersangka. Hii…seram ya.

Meja batu tempat eksekusi

Batu tempat pemenggalan kepala

Kata pemandu kami, kepala yang sudah dipenggal kemudian dibuang ke Danau Toba. Menurut kepercayaan penduduk Samosir, Danau Toba setiap tahun meminta tumbal berupa kepala manusia. Hiiii….lagi-lagi seram ya.

Di kampung Ambarita ini wisatawan dapat menikmati paket wisata berupa menari tor-tor bersama-sama dengan pakaian ulos dan busana batak lainnya, serta melihat atraksi patung sigale-gale.

Sebenarnya masih banyak situs-situs yang perlu dikunjungi di Pulau Samosir ini, misalnya Tomok. Namun, karena keterbatasan waktu, kami tidak dapat mengunjunginya. Untuk menjelajahi seluruh Pulau Samosir ini dibutuhkan waktu sedikitnya satu minggu. Jangan khawatir, di pulau ini banyak terdapat hotel dan penginapan.

Di kampung Ambarita, tempat meja batu tadi, kita dapat berbelanja souvenir khas Batak. Pedagang souvenir di sini sangat gigih merayu wisatawan untuk membeli dagangannya. Inang-inang (ibu-ibu suku Batak) menghiba-hiba untuk mampir ke kiosnya. Belilah satu, belilah satu pak, kata inang-inang itu setiap kali saya melewati satu kios.  Satu tips yang penting berbelanja souvenir di sini adalah pandai-pandai menawar. Jika beruntung dan deal, anda dapat setengah harga.

(BERSAMBUNG)

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 1 Komentar

Jalan-Jalan ke Danau Toba dan Samosir (Bagian 1)

Siapa yang tidak ingin melihat Danau Toba, danau yang terluas di Indonesia dan di Asia Tenggara itu. Jangan heran, meskipun saya berasal dari Sumatera, namun saya belum pernah ke sana. Danau Toba terletek di propinsi Sumatera Utara, Sumatera Utara adalah propinsi yang sangat luas. Mengunjungi kota Medan, ibukota Sumatera Utara, pun saya baru sekali. Danau Toba sendiri sangat jauh letaknya dari kota Medan, memakan waktu perjalanan sekitar lima sampai enam jam lewat perjalanan darat. Namun sekarang akses ke Danau Toba menjadi lebih dekat sejak dibukanya Bandara Silangit yang terletak di Siborong-borong, kabupaten  Tapanuli Utara. Dari Silangit ke kota Parapat yang terletak di pinggir danau Toba sudah lebih dekat jaraknya dan memakan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan darat.

Ada dua maskapai yang membuka penerbangan langsung dari Jakarta ke Silangit, yaitu Garuda Indonesia dan Sriwjaya Air. Garuda memiliki jadwal sehari satu kali penerbangan dari Terminal 3 Bandara Soetta ke Silangit, sedangkan Sriwijaya Air ada dua kali penerbangan langsung ke sana. Selain dari Jakarta, Bandara Silangit juga dapat dicapai dengan penerbangan dari Batam dan Kualanamu. Jika naik Sriwijaya, pesawatnya dari jenis Boeing, sedangkan bila memakai Garuda maka pesawatnya berukuran lebih kecil dari Boeing, yaitu pesawat berjenis Bombardier atau Explore Jet.

Minggu lalu fakultas saya mengadakan acara rapat kerja sekaligus rekreasi ke Danau Toba.  Kami berangkat dengan penerbangan pagi, rombongan pertama menggunakan Sriwijaya, sedangkan rombongan kedua menggunakan Garuda.

garuda

Berfoto dengan pesawat Garuda jenis Bombardier. Foto dari Baskara Nugraha

Saya berada dengan rombongan kedua, namun karena pesawat mengalami kerusakan, kami mengalami delay yang cukup lama, yaitu empat jam! Sebagai kompensasinya, kami mendapat makan gratis sepuasnya di Lounge Garuda Terminal 3, selanjutnya karena delay empat jam itu maka kami juga mendapat uang tunai Rp300.000 dari Garuda sesuai aturan Kementerian Perhubungan. Yah, berantakanlah rencana mengunjungi danau Toba pada siang hari itu, sebab pesawat baru berangkat pukul 13.00, padahal kami berangkat dari bandung pukul 12 malam untuk mengantisipasi kemacetan di jalan tol menuju Jakarta.

garuda

Uang kompensasi 300 ribu dari Garuda

Rombongan pertama dengan Sriwijaya berhasil mendarat di Silangit pada pukul sembilan pagi, sedangkan kami yang di Garuda gagal mendarat di Silangit karena cuaca buruk. Selama dalam perjalanan kami sempat mengalami turbulensi di atas daratan Sumatera. Cukup mencekam juga  turbulensinya yang membuat wajah pucat pasi. Kalau sudah berada di udara, maka saya hanya bisa berpasrah diri kepada Allah SWT.  La hawla walaa quwwata illa billah. Hidup dan mati ada ditangan-Nya.  Karena gagal mendarat di Bandara Silangit, pesawat akhirnya dialihkan mendarat di Bandara Kualanamu di Deli Serdang pada sore hari. Dari Kualanamu perjalanan diteruskan lewat darat melewati beberapa kota dan daerah menempuh waktu (termasuk makan dan istirahat di Perbaungan) enam jam. Jam 12 malam lebih sedikit akhirnya kami sampai di hotel Inna Parapat yang terletak persis di pinggir Danau Toba. Alhamdulillah, sampai jugalah saya di pinggir danau yang sudah lama ingin saya kunjungi.

Dari jendela hotel kita dapat melihat sebagian danau Toba. Saya sebut sebagian karena Danau Toba itu selain sangat luas juga sangat panjang.  Panjang danau Toba adalah 100 km, sedangkan lebarnya 30 km, kedalamannya saja 500 meter! Dalam sekali. Di bawah ini saya tampilkan tiga foto penampakan Danau Toba dari Hotel Inna Parapat yang terletak di kota Parapat di pinggir Danau Toba (Foto-foto lainnya akan saya tampilkan dalam tulisan selanjutnya.).  Di pinggir danau ini terdapat banyak sekali hotel dan tempat penginapan, mulai dari kelas melati hingga berbintang empat.

Toba1

Toba3

Toba2

Itu foto pada pagi hari. Cuaca di Parapat sering mendung dan berkabut, jadi mendapatkan foto yang sangat bersih agak sulit diperoleh saat musm hujan pada bulan Agustus di sana.

Danau Toba pada dasarnya adalah sebuah kawah hasil letusan  gunung api raksasa (supervolcano). Dikutip dari laman Wikipedia,  Gunung Toba meletus sekitar 75.000 tahun yang lalu. Hasil letusan menghasilkan kaldera yang kemudian terisi dengan air, itulah yang menjadi Danau Toba sekarang. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya pulau yang bernama Pulau Samosir. Pulau Samosir inilah yang menjadi keunikan Danau Toba, yaitu ada pulau besar di tengah danau yang sangat luas.

Tulisan tentang jalan-jalan ke Danau Toba akan saya teruskan pada tulisan selanjutnya. (BERSAMBUNG)

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 3 Komentar

Masyarakat Pemarah (2)

Masyarakat kita gampang sekali marah dan main hakim sendiri tanpa tahu duduk masalahnya.  Kasus yang memilukan baru-baru ini adalah tindakan main hakim sendiri hingga membakar hidup-hidup terduga pencuri amplifier mushola bernama Zoya (baca: Pria yang Dibakar Hidup-hidup di Bekasi Sempat Bilang “Saya Enggak Maling”, dan Ini Cerita Saksi Tentang Joya yang Dibakar Hidup-Hidup.)

Malang benar nasib Zoya. Dia tidak sempat membela diri, tapi hukuman jalanan sudah lebih dulu berbicara. Yang membuat hati tambah pilu adalah dia meninggalkan seorang istri yang sedang mengandung dan seorang anak balita.

Membakar hidup-hidup seorang yang diduga mencuri adalah tindakan yang sangat kejam. Kalau pun benar ia mencuri amplifier, hukuman membakar hidup-hidup itu sama sekali sangat tidak pantas di negara yang menjunjung tinggi hukum dan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Harga amplifier tidak seberapa dibandingkan  dengan nyawa seorang anak manusia yang dibunuh dan dibakarnya.

Saya ingin bertanya kepada pelaku yang membakar Zoya, anda dibakar saja sedikit jari tangannya, minimal disentuh ke dalam api selama sepuluh detik saja, mau tidak? Sakit tidak? Itu baru jari tangan, bagaimana bila seluruh tubuh? Sungguh sakit yang tiada terperi. Begitu pula yang dirasakan Zoya yang, lebih mengerikan sakitna dai yang kita kira. Saya tidak bermaksud membela Zoya, tapi saya mempertanyakan aksi kejam yang dilakukan oleh orang-orang saat itu.

Aksi pembakaran terhadap terduga pelaku pejahatan sudah sering terjadi. Tahun 2006 saya sudah pernah menulis tentang kejadian serupa dalam tulisan berjudul sama: Masyarakat pemarah. Masyarakat kita sudah gelap mata sehingga orang yang belum tentu benar-benar mencuri sudah dihukum tanpa proses pengadilan.

Masyarakat kita memang sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk main hakim sendiri terhadap terduga perilaku kriminal. Ingat lho, masih terduga, belum menjadi tersangka. Tindakan main hakim sendiri hingga hukuman yang sangat sadis mungkin dilatari oleh rasa kesal  masyarakat terhadap aksi pencurian (maupun  aksi kriminal lain seperti penculikan anak, pemerkosaan, dll)  yang membuat resah. Aparat keamanan dianggap gagal memberikan rasa aman, maka masyarakat sendiri yang memberikan hukuman jalanan. Namun, apapun alasannnya, tetap saja tindakan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan.

Hukuman bakar hidup-hidup ini sangat ironis dibandingkan koruptor yang mencuri uang rakyat dalam jumlah yang tidak kira-kira. Koruptor saja hukumannya ringan, hanya dalam hitungan tahun. Bahkan ada koruptor yang masih bisa tersenyum dan melambaikan tangan.

Dipublikasi di Indonesiaku | Meninggalkan komentar