Rindu dengan Rasulullah

Insya Allah tinggal dua minggu lagi saya akan berangkat menunaikan haji ke Tanah Suci. Berbagai perasaan tentu telah berkecamuk di dalam hati saya menjelang keberangkatan. Antara bahagia, sedih, dan gembira. Bahagia karena saya akan menjadi tamu Allah SWT di Rumah-Nya di Baitulah. Gembira karena saya akan bertemu kembali dengan Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan saya akan berada di samping Rasulullah meskipun hanya maqamnya saja. Sedih karena harus meninggalkan keluarga, terutama anak dan istri yang saya sayangi. Tetapi, saya telah memasrahkan diri kepada Allah SWT  sepenuh hati lahir dan batin agar perjalanan haji ini dilancarkan dan berharap mendapat haji yang mabrur.

Meskipun saya telah pernah pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan Umrah tahun 2015, namun haji adalah puncak dari Rukun Islam. Haji itu adalah wukuf di Arafah, demikian kata Rasulullah, maka haji tanpa wukuf di Arah adalah tidak sah. Umrah yang saya lakukan hanya sebatas Thawaf dan Sa’i, maka itu bukanlah ibadah haji.

Orang yang pernah pergi ke Tanah Suci Makkah dan Madinah, baik untuk berumrah maupun berbadah haji, maka di dalam dirinya selalu muncul keinginan untuk kembali dan kembali lagi ke Tanah Suci. Tanah Suci Makkah dan Madinah adalah dua tempat yang selalu dirindukan untuk didatangi lagi, berkali-kali jika ada kesempatan (waktu dan biaya). Tidak heran banyak orang umrah berkali-kali meskipun tidak wajib, tetapi perasaan rindu itu telah mengikat batin untuk datang berkali-kali ke sana.

Sebuah tempat yang saya rindukan untuk selalu berada di sisinya adalah maqam Rasulullah. Maqam Rasulullah terdapat di dalam Masjid Nabawi di Madinah. Saya pernah duduk di samping maqam Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, ketika umrah tiga tahun lalu. Kisah ini saya ceritkan dalam tulisan berjudul Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 3): Di dalam Masjid Nabawi. Saya duduk di area Raudhah. Raudhah adalah tempat yang terletak di antara rumah Nabi dan mimbar Nabi. Seperti diketahui, Nabi dimakamkan di dalam rumahnya, dan rumahnya kini sudah menyatu di dalam Masjid Nabawi.

DSC_0511

Jamaah menyesaki Raudhah. Di kejauhan tampak maqam Nabi yang berawarna hijau

Kadang-kadang saya duduk persis di sebelah maqam Nabi. Tidak terbayangkan oleh saya bisa berada sedekat itu dengan Rasulullah meskipun hanya duduk di samping jasadnya yang sudah berada di dalam tanah. Saya bayangkan dulu Nabi bolak-balik pergi melewati tempat saya duduk dari rumahnya menuju mimbar di dalam masjid, dan sekarang saya hanya bisa mengenangnya. Shalawat dan salam ya Rasulullah.

DSC_0525

Maqam Rasulullah di dalam Masjid Nabawi, dahulu adalah rumahnya. Maqam ini ditutup dengan pintu besi berwarna hijau dan menyisakan beberapa lubang untuk melihat ke dalamnya.

Sungguh saya tidak percaya, sedekat itu saya berada di samping Rasulullah, meskipun terpisah oleh waktu selama ribuan tahun. Tetapi saya saat itu duduk di dekatnya. Rasulullah Muhammad SAW, lelaki yang agung yang dicintai oleh ratusan juta ummat Islam di seluruh dunia. Namanya selalu diucapkan setiap hari, seluruh ummat mendambakan syafaatnya pada Hari Akhir nanti.

Ketika saya mendengarkan lagu dari penyanyi Maher Zain yang berjudul Ya Nabi Salam Alaika, tiba-tiba saja kerinduan saya kepada Rasulullah membuncah demikian hebatnya. Tidak terasa mata saya terasa basah, membayangkan lelaki yang telah membawa ummat manusia ke jalan keselamatan.

Lirik lagu Ya Nabi Salam Alaika:

Anta nurullahi fajran
Ji’ta ba’dal usri yusran
Rabbuna ‘alaka qadran
Ya imamal anbiya’i

Anta fil wujdani hayyun
Anta lil ainaini dhoyyun
Anta indal haudhiriyyun
Anta hadun wa shafiyyun
Ya habibi ya Muhammad

Ya nabi salam alaika
Ya rassul salam alaika
Ya habib salam alaika
Shalawatullah alaika

Yartawi bil hubbi qalbi
Hubbi khairi rusli Rabbi
Man bihi abshortu darbi
Ya syafi’i ya Rasulallah

Ayyuhal mukhtaru fina
Zadanal hubbu haniina
Ji’tana bil khairidiina
Ya khitamal mursalina
Ya habibi ya Muhammad

Ya Nabi salam alaika
Ya Rasul salam alaika
Ya Habib salam alaika
Shalawatullah alaika

 

Terjemahan:

Engkaulah cahaya pada waktu fajar
Engkau datang setelah kesulitan (dan menjadikannya) kemudahan
Tuhan kami telah mengangkat derajat atasmu
Wahai pemimpin para nabi

Engkau berada di dalam hati nurani yang hidup
Engkaulah cahaya untuk kedua mataku
Engkaulah aliran air pada sungai
Engkau adalah petunjuk yang sesungguhnya
Wahai kekasihku ya Muhammad

Wahai Nabi keselamatan (tercurah) atasmu
Wahai Rasul keselamatan (tercurah) atasmu
Wahai kekasih keselamatan (tercurah) atasmu
(semoga) shalawat (rahmat) Allah (tercurah atasmu

Cinta yang tak terpadamkan di dalam hatiku
Cinta(kepada) utusan terbaik dari Tuhanku
Barangsiapa yang bersama kulihat (berada) di jalan (Allah)
Wahai perantaraku wahai Rasululullah

Wahai yang terpilih diantara kami
Cinta kami mendorong rasa rindu kami
Engkau datang kepada kami dengan agamayang terbaik
Wahai penutup orang-orang yang diutus
Wahai kekasihku wahai Muhammad

~~~~~~~~~~~~

Ya Nabi salam ‘alaika shalawat dan salam tercurah untukmu.

Dipublikasi di Agama, Pengalamanku | 3 Komentar

Tragedi Danau Toba yang Memilukan

Liburan Idul Fitri tahun ini diwarnai berita kecelakaan yang memilukan. Pada tanggal 18 Juni 2018 sebuah kapal penyeberangan di Danau Toba, KM Sinar Bangun, yang mengangkut lebih dari 200 orang penumpang serta puluhan kendaraan bermotor tenggelam di danau yang sangat dalam itu (450-500 meter dalamnya).  Hanya ada 18 orang penumpang selamat, tiga orang ditemukan meninggal dunia, dan ratusan lainnya masih hilang, diduga ikut tenggelam ke dasar Danau Toba bersama kapal yang nahas itu. Kapal berangkat dari Pulau Samosir yang berada di tengah danau dan hendak menyerang ke daerah Simalungun di daratan Sumatera (berita di sini). Penumpang kapal mungkin sebagian besar adalah wisatawan yang jalan-jalan ke Pulau Samosir.

Menurut penuturan penumpang yang selamat, kapal dihantam badai dan gelombang besar ketika berlayar (Baca: Video Detik-detik Menakutkan Kapal Tenggelam di Danau Toba). Tetapi faktor lain yang membuat kapal itu tenggelam adalah over kapasitas atau kelebihan muatan. Seharusnya kapal hanya boleh membawa penumpang maximum 80 orang, tetapi jumlah yang diangkut didiuga mencapai 200 orang lebih.  Di bawah ini foto penampakan KM Sinar Bangun yang saya peroleh dari media sosial, saya tidak tahu apakah ini foto sebelum keberangkatan pada harii yang nahas itu atau foto pelayaran sebelumnya. Lihatlah puluhan motor berjajar di pinggir kapal, sementara penumpang yang membludak sampai duduk di atas kapal.

sinarbangun

Penampakan KM Sinar Bangun yang over kapasitas

Tahun lalu kami sefakultas jalan-jalan ke Danau Toba dan Pulau Samosir. Sungguh takjub saya menyaksikan Danau Toba, selain indah juga sangat-sangat luas.  Karena tidak terkira luasnya, maka ia tampak lebih mirip lautan ketimbang danau. Dengan bentang danau yang sangat luas itu, sangatlah mungkin di tengahnya terjadi badai dan gelombang besar mirip di lautan.

Danau Toba yang sangat luas tampak dari Taman Simalem di Bukit Simarjarunjung

Danau Toba dari atas Taman Simalem

Danau Toba dan Pulau Samosir di tengahnya (Sumber gambar: Wikipedia)

Kembali ke soal kecelakaan kapal  di Danau Toba tadi. Siapakah yang salah? Pada kondisi prihatin seperti saat ini saling menyalahkan tidak ada gunanya. Nakhoda kapal jelas harus bertanggung jawab karena dia tidak memperhatikan faktor keselamatan kapal, penumpang diangkut sebanyak-banyaknya mumpung sedang ramai.  Kendaraan (motor) dibawa dalam jumlah banyak seperti pada foto di atas. Nakhoda juga tidak memeprhatikan faktor cuaca, tidak memantau informasi dari BMKG.

Tetapi kita juga menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah pada angkutan danau. Kita punya lembaga ASDP, Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan, namun kalau saya perhatikan ASDP lebih sering mengurusi pelayaran penyeberangan di laut seperti kapal ferry. Padahal negara kita mempunyai beberapa danau yang luas, misalnya selain Danau Toba adalah Danau Singkarak, Danau Sentani, Danau Maninjau, Danau Ranau, Danau Sempayang, dan lain-lain.  Di danau yang luas maupun kecil penyeberangan dari suatu titik ke titik lain di pinggir danau sering tidak terawasi. Kalau sudah ada kejadian, barulah kita menyadari kealpaan selama ini.

Dipublikasi di Indonesiaku | 2 Komentar

Kenangan di Pelabuhan Teluk Bayur

Masa-masa arus balik lebaran yang berlangsung hari-hari ini membuat saya teringat dengan sebuah foto lama. Di bawah ini foto kenangan saya di pelabuhan Teluk Bayur Padang tahun 1998, saat saya balik ke perantauan ke tanah Jawa setelah mudik lebaran ke kampung halaman. Saya masih bujangan saat itu, baru beberapa tahun menjadi dosen di ITB. Balik ke pulau Jawa menumpang kapal PT PELNI bernama KM Lambelu. Saya diantar ke pelabuhan Teluk Bayur oleh orangtua (alm) dan saudara.

Di depan KM Lambelu, Teluk Bayur Padang

Saat itu pulang mudik dan balik naik kapal laut adalah pilihan yang menyenangkan. Pesawat low cost carrier seperti Lion Air dan lainnya belum ada, pesawat hanya ada Garuda, Merpati, dan Sempati Air (milik Tommy Soeharto ). Harga tiket pesawat masih terasa mahal, sedangkan naik kapal laut masih lebih murah. Di atas kapal laut kita bertemu dengan teman2 seperantauan. Tidur di kelas ekonomi (dek) atau paling banter di kelas 4 yang sekamar 8 orang.

Kapal Pelni yang singgah ke Teluk Bayur saat itu adalah KM Kerinci, KM Kambuna, KM Lawit, dan KM Lambelu. Butuh waktu perjalanan dua hari satu malam mengarungi Samudera Hindia menuju Tanjung Priok, Jakarta. Dari Tanjung Priok perjalanan diteruskan ke Bandung naik bus atau kereta api.

Ada kesan yang mendalam setiap naik kapal dari Teluk Bayur, terutama ketika naik KM Kerinci. Ketika kapal mulai bertolak dari pelabuhan, dari pengeras suara di atas kapal diputarlah lagu legendaris ” Teluk Bayur” dari Ernie Djohan yang terkenal itu, menggema ke seluruh ruang-ruang kapal dan sampai terdengar hingga dermaga. Begini syair lagunya:

“Selamat tinggal Teluk Bayur permai
Aku pergi jauh ke negeri seberang
Ku kan mencari ilmu di negeri orang
Bekal hidup kelak di hari tua

Selamat tinggal kasihku yang tercinta
Doakan agar ku cepat kembali
Kuharapkan suratmu setiap minggu
Kan ku jadikan pembunuh rindu

Lambaian tanganmu kurasakan ngilu di dada
Kasih sayangku bertambah padamu
Air mata berlinang tak terasa kan olehku
Nantikanlah aku di Teluk Bayur”

https://m.youtube.com/watch?v=2nMmX7masBE

Suasananya memang pas sekali, melankolis, yaitu menceritakan perpisahan di Teluk Bayur. Ketika lagu itu diputar, hampir semua penumpang berdiri di pinggir kapal melambai-lambaikan tangan ke para pengantar di dermaga. Di dermaga para pengantar berjalan semakin mendekati bibir dermaga sambil melambaikan tangan tanda perpisahan. Syair lagu tadi begitu meresap, tak terasa air mata pun berlinang-linang, banyak penumpang kapal menangis terisak-isak termasuk saya sendiri tentunya, seakan-akan pergi tidak bertemu lagi. Salut bagi kapten kapal yang pandai mengharu-biru emosi penumpang kapal dengan lagu itu sehingga penumpang merasa berkesan naik kapalnya.

Sekarang sudah tidak ada kapal Pelni menyinggahi pelabuhan Teluk Bayur lagi, kalah bersaing dengan Lion Air dkk. Orang awak lebih memilih naik pesawat daripada kapal laut. Tetapi pengalaman naik kapal laut setiap mudik dan balik lebaran meninggalkan kenangan yang tidak terlupakan bagi saya.

Foto ini juga mengingatkan saya akan kasih sayang (alm) ayah dan (almh) ibu, setiap balik ke Tanah Jawa saya selalu diantar ke pelabuhan meskipun saya sudah besar sekalipun. Hanya doa yang bisa kupanjatkan buat mereka.

Allahummaghfirlahu(a) warhamhu(a) wa ‘afihi wa’fuanhu(a) waj ‘alil jannata matswaahu(a).

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 2 Komentar

Melakukan Perjalanan dalam Bulan Puasa

Latepost !

Melakukan perjalanan ke luar kota saat bulan Ramadhan ini rasanya sesuatu banget bagi saya. Kalau tidak terlalu penting sama sekali saya lebih baik tidak pergi saja. Bagi saya sendiri, berkumpul bersama anak dan istri di rumah, menyiapkan buka puasa dan makan sahur bersama, itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan materi.  Acara-acara buka bersama (bukber) jarang saya ikuti, ya karena alasan itu tadi, saya lebih suka bersama anak-anak saya di rumah. Tetapi demi memudahkan urusan orang lain di kota yang saya kunjungi, maka saya tidak kuasa menolaknya, saya ikhlaskan hati pergi meninggalkan rumah selama bulan  puasa  ini.

Bandara Husein Sastranegara Bandung dengan latar belakang Gunung Tangkubanperahu.

Mendarat di kota tujuan saat adzan maghrib berkumandang ibalah hati. Terbayang anak-anak dan istri di rumah buka puasa tanpa kehadiran saya, sementara saya masih on the way dari bandara menuju hotel. Memang pihak hotel menyediakan kurma dan teh hangat untuk berbuka puasa, tetapi tetap saja  lebih afdhal sama anak-anakku di rumah.

Pihak pengundang menyediakan akomodasi hotel dengan paket makan malam untuk buka puasa dan makan sahur sebagai pengganti breakfast. Saat memasuki restoran hotel untuk buka puasa,  betapa kagetnya saya melihat restoran ini penuh dengan manusia yang menyerbu berbagai makanan yang terhidang. Semua kursi penuh di-booking. Agaknya mereka tidak semuanya tamu hotel, tetapi pengunjung biasa yang memanfaatkan promosi hotel yang menyediakan paket berbuka puasa all you can eat dengan harga miring.   Apalagi hotel ini bersatu  dengan mal, jadi tidak heran pengunjungnya mungkin adalah pengunjung mal juga.

Seperti diketahui, saat bulan puasa adalah low season bagi kebanyakan industri hotel. Tamu hotel turun sangat drastis karena orang-orang menahan diri tidak melakukan perjalanan selama bulan puasa.  Kegiatan-kegiatan bisnis dan pertemuan di hotel banyak “dipepetkan” selesai sebelum bulan Ramadhan, akibatnya selama bulan Ramadhan hotel benar-benar sepi tamu. Maka, salah satu strategi hotel untuk tetap “hidup” adalah mengadakan paket buka puasa di restoran mereka dengan harga miring, all you can eat. Strategi ini tampaknya berhasil, nyatanya hampir semua rumah makan, kafe, termasuk restoran di hotel, pengunjungnya membludak saat buka puasa tiba. Kursi-kursi sudah di-booking, orang-orang sudah ramai duduk di kursinya satu jam sebelum beduk maghrib berbunyi. Maka, saya tidak heran melihat restoran hotek penuh sesak seperti yang saya saksikan.

Saya kehilangan selera makan melihat suasana ramai seperti itu.  Apalagi hampir semua makanan yang tersaji ludes, saya hanya mendapat sisa-sisa saja.  Lagi-lagi saya teringat dengan keluarga di rumah, kami makan dengan tenang. Seusai makan pembatal puasa, saya menemani anak shalat maghrib dulu, barulah makan makanan berat.

Saat makan sahur di hotel, saya merasa “aneh” saja makan sahur sendirian di hotel ini. Biasanya jam 3.20 dinihari  segini saya dan istri sudah bangun untuk menyiapkan makan sahur buat semua. Sekarang saya menikmati sahur yang disediakan hotel sebagai pengganti breakfast. Menginap di hotel ini sekalian dengan paket berbuka puasa dan sahur. Jika saat buka puasa restoran hotel penuh sesak dengan pengunjung sehingga makanan yang tersaji cepat habis, maka saat makan sahur boleh dihitung pengunjungnya dengan jari, yang umumnya tamu hotel itu sendiri.

Sahur sendirian di hotel

Nasi goreng hotel. Hanya sedikit saya bisa makan.

Kembali ke Bandung dengan pesawat siang, hanya ada 20 orang penumpang Wings Air hari itu dari kapasitas 80 penumpang, itupan sudah digabung dengan penumpang Lion Air jadwal sorenya. Waktu berangkat dari Bandung pun demikian, seharusnya saya terbang dengan Lion Air sore, tetapi karena penumpang sore sangat sedikit, maka mereka digabung dengan penumpang pesawat siang, pesawat sore dibatalkan.

Sepi penumpang

Seperti halnya hotel, industri penerbangan pun mengalami low season saat bulan puasa, tetapi itu hanya sebentar, sawat memang Benar2 sepi. Seperti sudah diduga, selama bulan puasa orang enggan melakukan perjalanan. Namun periode sepi itu hanya sebentar, menjelang lebaran Idul Fitri penumpang pesawat  melonjak tajam dan mencapai peak season tertingginya dalam satu tahun, sampai-sampai maskapai menambah frekuensi penerbangan (extra flight). Begitu juga hotel-hotel full booked selama musim liburan Idul Fitri. Begitulah, Allah SWT Maha Adil, rezeki-Nya tidak pernah kurang. Selalu saja ada.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | Meninggalkan komentar

Rujak Sayur-Buah dan Bubur Hanjeli khas Orang Sunda kala Bulan Puasa

Membicarakan masalah makanan tiada habisnya, he..he. Mumpung ini bulan Ramadhan, maka topik tentang makanan untuk buka puasa termasuk hal yang menarik untuk dibahas. Setiap daerah di tanah air tentu punya makanan khas yang hanya keluar saat bulan Ramadhan saja. Pada bulan puasa inilah kita dapat melihat aneka penganan dan makanan yang disajikan sebagai hidangan pembuka puasa. Kreativitas masyarakat dalam mengolah makanan keluar semua pada bulan puasa.

Tipikal orang perkotaan adalah ingin serba praktis, dan tidak mau direpotkan dengan urusan memasak makanan untuk buka puasa. Hal ini ditangkap oleh sebagian masyarakat dengan menjual aneka hidangan takjil. Ketika matahari mulai tergelincir, lapak-lapak penjual makanan untuk buka puasa bertebaran di mana-mana.

Di Kota Bandung di sepanjang jalan banyak yang menjual aneka takjil. Menjelang sore keriuhan penjual takjil semakin  menjadi-jadi. Orang-orang yang pulang dari kantor biasanya mampir membeli makanan untk berbuka puasa.

Salah satu makanan untuk buka puasa favorit saya adalah rujak buah-sayur dan bubur hanjeli. Yang pertama adalah rujak buah-sayur atau kadang disebut juga rujak cuka.  Penganan ini saya amati hanya muncul saat bulan puasa di Bandung. Rujak buah-sayur mungkin mirip seperti asinan Bogor tetapi tidak serupa. Saya sebut rujak buah-sayur karena isinya campuran buah dan sayur. Buah yang digunakan adalah potongan buah bengkoang dan buah nanas, sedangkan sayurannya adalah tauge, kol, mentimun, dan parutan wortel. Kuahnya adalah air yang sudah dicampur dengan serbuk kacang, cabe, gula, dan cuka. Rasanya asam pedas manis. Lebih enak disimpan dulu di dalam kulkas, lalu dimakan sepulang sholat tarawih. Segar dan menyehatkan.

Rujak buah-sayur khas Bandung

Makanan yang kedua adalah bubur hanjeli. Hanjeli adalah tumbuhan biji-bijian dari suku padi-padian, mirip seperti biji gandum. Nama latinnya coix lacryma-jobi.  Jika dimasak menjadi bubur sepintas mirip kacang hijau. Rasanya tawar, tapi bagi orang Sunda hanjeli dijadikan bubur dengan tambahan gula merah dan santan. Bubur hanjeli bisa juga dicampur dengan aneka kolak seperti kolak kolang-kaling, kolak candil dan pisang. Makanan ini jarang dijual pada hari biasa, meskipun beberapa food court ada juga yang menyediakannya, misalnya di Kartika Sari.

Bubur hanjeli

Itulah dua makanan khas yang saya temukan di tanah Pasundan saat bulan puasa. Jika anda ingin mencobanya, coba saja cari di antara penjual kolak di berbagai ruas jalan yang ramai menjajakannya. Kolak candil sudah biasa, tetapi bubur hanjeli jarang ada. Rujak buah sudah umum, tetapi rujak buah-saur ini beda rasanya.

Mau?

Dipublikasi di Makanan enak | 3 Komentar

Kaos Kaki Ayah

Ini kisah inspiratif yang sudah sering diceritakan sebagai sebuah pelajaran yang dapat diambil hikmahnya. Mungkin anda pernah mendengar kisah ini atau pernah membacanya. Namun, tidak ada salahnya saya ceritakan ulang kembali. Kisah seorang ayah yang meninggalkan wasiat kepada anak-anaknya yang sedang dilanda  kebingungan ketika mengurus jenazah dirinya. Saya ceritakan kembali dengan beberapa perubahan dan penambahan.

Begini kisahnya….

Ada seorang ayah yang sering menceritakan perjalanan masa mudanya kepada anak-anaknya, yaitu masa-masa ketika awal membina rumah tangga. Sebagai seorang calon ayah yang menanti kelahiran anak pertama, ia dihadapkan dengan masalah ekonomi rumah tangga yang masih labil. Ia belum mempunyai penghasilan yang tetap. Wirausaha yang dijalaninya, yaitu usaha jasa membuat kartu nama, belum dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Namun semangatnya tidak membuatnya pantang menyerah. Dari pintu ke pintu ia menawarkan jasa pembuatan kartu nama. Sedikit demi sedikit usahanya mulai dikenal dan memiliki banyak pelanggan, terutama kantor-kantor yang membutuhkan pembuatan kartu nama untuk para stafnya. Lambat laun usahanya mulai tumbuh besar. Dari keuntungan dan pinjaman modal yang diperolehnya, akhirnya sang ayah memiliki usaha percetakan sendiri. Tidak hanya melayani pembuatan kartu nama, tetapi juga percetakan lainnya seperti kartu undangan, buku, dan sebagainya. Makin lama usahanya semakin besar dan berkembang menjadi unit-unit usaha turunan seperti foto copy, toko alat tulis dan kantor, dan sebagainya. Sang Ayah sekarang menjadi seorang pengusaha sukses. Hartanya banyak berupa rumah, tanah, uang, dan kendaraan.

Anak-anaknya tumbuh dan besar dalam keadaan berkecukupan. Meskipun demikian, sang ayah tetaplah orang yang rendah hati. Anak-anaknya pun dididiknya menjadi anak yang santun, taat agama, dan menghormati orangtua.

Setiap kali mengenang masa-masa perjuangannya, ia sering menceritakan kepada anak-anaknya satu kenangan yang tidak pernah dilupakannya, yaitu sepasang kaos kaki. Dulu, ketika menawarkan jasa pembuatan kartu nama dari pintu ke pintu, ia selalu menggunakan kaos kaki dan sepatu yang sudah hampir lusuh. Karena setiap hari sering dipakai, kaos kaki itu mulai berlubang di ujung jari  kaki. Namun, ia  merasa sayang menggunakan uang untuk membeli kaos kaki baru sebab lebih mementingkan uang yang diperolehnya untuk kebutuhan  membeli susu bagi anak-anaknya. Akhirnya bolong di kaos kaki itu semakin lebar sehingga tidak bisa dipakai lagi. Namun, ia tidak mau membuang kaos kaki itu, tetapi disimpannya agar kelak suatu hari nanti bisa diceritakan dan ditunjukkan kepada anak-anaknya.

Kepada anak-anaknya ia berpesan agar nanti jika ia meninggal dunia, tolong pasangkan kaos kaki itu ke kakinya sebagai kenang-kenangan yang dibawa ke dalam kubur.

Singkat cerita, ketika sang ayah wafat, anak-anaknya pun teringat dengan pesan ayahnya dulu. Anak-anaknya lalu meminta Pak Ustad yang mengurus jenazah ayahnya untuk memasangkan kaos kaki ayahnya itu. Namun Ustad menolak, sebab di dalam syariat Islam jenazah hanya boleh dipakaikan kain kafan, itulah harta yang boleh dibawa ke alam kubur. Benda-benda lain tidak boleh dibawa oleh jenazah, termasuk kaos kaki kenangan yan sudah bolong itu.

Namun anak-anaknya tetap bersikeras ingin menunaikan pesan ayahnya, tetapi Pak Ustad tetap menolak. Karena tidak tercapai titik temu, maka dipanggillah pengacara ayahnya. Pengacara itu berkata, almarhum pernah meninggalkan surat wasiat, mari kita bacakan surat wasiat itu, siapa tahu ada petunjuk di dalamnya.

Lalu Bapak Pengacara membacakan surat wasiat yang bunyinya adalah sebagai berikut.

Anak-anakku, mungkin saat ini kalian sedang dilanda kebingungan luar biasa ketika ingin melaksanakan pesan Ayah untuk memasangkan kaos kaki kenangan itu. Kaos kaki yang sudah bolong saja tidak boleh dibawa ke dalam kubur, apalagi harta ayah yang banyak itu. Tidak ada satupun yang bisa menemani kita di alam kubur nanti, kecuali amal sholeh kita selama hidup di dunia. Ialah yang akan menjadi teman kita selama kita berada di akhirat. Oleh karena itu anakku, selagi masih diberi hidup oleh Allah SWT, perbanyaklah berbuat dan beramal sholeh sebagai bekalmu nanti menuju alam akhirat kelak.

Setelah dibacakan surat wasiat tadi, bertangisanlah anak-anak almarhum tadi, ternyata inilah maksud ayah mereka menyuruh memasangkan kaos kaki pada jenazahnya. Pada akhir hayatnya ayah mereka masih meninggalkan nasihat yang sangat berharga untuk kehidupan mereka nanti.

Akhirnya sang ayah dimakamkan dengan dua  lembar kain kafan yang membungkus tubuh bekunya. Kaos kaki yang sudah bolong akan terus disimpan anak-anaknya agar menjadi pengingat bahwa harta duniawi tidak ada yang bisa dibawa mati kecuali  amal sholeh selama hidup di dunia sebagai bekal ke akhirat kelak.

Dipublikasi di Kisah Hikmah | Meninggalkan komentar

Bahaya Melakukan Rampatan (Generalisasi): Kasus Cadar

Pasca teror bom bunuh diri yang menghebohkan tanah air, berseliweran ujaran kebencian dan sikip sinis kepada kelompok tertentu, salah satunya kepada wanita pemakai cadar. Salah satu pelaku bom bunuh diri di Gereja di Surabaya adalah seorang wanita yang memakai hijab (cadar?). Oleh karena itu, banyak wanita pemakai cadar merasa tidak nyaman karena mereka dianggap sebagai orang berpaham radikal bahkan dicap teroris.

Sebelumnya beberapa bulan yang lalu pernah ada polemik larangan penggunaan cadar bagi mahasiswa dan dosen di beberapa universitas. Lagi-lagi karena, meskipun tidak ditulis secara eksplisit, mengasosiasikan penggunaan cadar dengan radikalisme. Kasus teror bom bunuh diri kemaren semakin menguatkan sentimen sebagian kalangan kepada wanita yang bercadar.

Menurut pemahaman saya, cadar memang bukan keharusan bagi wanita muslimah. Di dalam agama hanya disebutkan kewajiban menutup aurat bagi wanita. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Jadi, menggunakan jilbab atau kerudung yang menutup aurat saja sudah cukup. Tetapi, pemahaman agama setiap orang tidak selalu sama. Sebagian kalangan di dalam Islam memiliki keyakinan bahwa wajah wanita juga termasuk aurat yang harus ditutupi. Kalangan ini mengatakan memakai cadar termasuk keharusan.

Kita tidak memperdebatkan jika ada keyakinan orang Islam yang demikian. Silakan saja. Toh orang yang memakai cadar termasuk berbusana sopan,  jadi kenapa harus dilarang. UUD 1945 menjamin kebebasan setiap penduduk menjalankan agama dan keyakinannya, termasuk keyakinan bahwa menggunakan cadar termasuk kewajiban seorang muslimah. Istri saya sendiri hanya memakai jilbab biasa, tidak bercadar. Mahasiswi saya di kampus pun kebanyakan memakai jilbab yang bermacam-macam bentuknya, jarang sekali saya melihat mahasiswi memakai cadar, tetapi sejauh yang saya ketahui kampus ITB tidak pernah melarang cadar.

Kembali tentang topik saya di atas yang mengasosiasikan cadar dengan radikalisme. Melakukuan generalisasi ini berbahaya, karena menganggap semua wanita bercadar adalah radikal, ekstrimis, atau bahkan teroris. Jika ada orang yang berpendapat demikian, maka ia akan malu sendiri jika melihat foto di bawah ini. Ini foto yang bersumber dari sebuah akun Twitter Afwan Riyadi. Di dalam akunnya itu ia menulis sebagai berikut:

“Kapolri menjenguk polisi korban serangan teroris di Riau; AKBP Farid. Istri AKBP Farid mengenakan cadar. Maka, stop asosiasikan cadar dengan teroris. Justru mereka adalah korban dari teroris, jangan tambah lagi penderitaan mereka karena anggapan kita.”

AKBP Farid adalah salah satu korban luka pada aksi terorisme di Pekanbaru. Sebagaimana diketahui, pasca teror bom di Surabaya, dua hari sesudahnya juga terjadi aksi teror ke Mapolrestabes Pekanbaru. Terduga teroris menggunakan pedang dan menghantam mobilnya ke polisi. Seorang polisi meninggal dunia, dan beberapa orang luka-luka, salah satunya adalah AKBP Farid. Istri AKBP Farid adalah seorang pengguna cadar. Nah, di internal keluarga polisi sendiri ada yang memakai cadar, maka apakah mereka ini pantas dicap berpaham radikal atau teroris sedangkan suaminya sendiri seorang polisi yang tugasnya melawan teroris.

Contoh kasus di atas menunjukkan bahwa melakukan perampatan (meng-generalisasi) kepada suatu kelompok orang hanya karena ulah segelintir oknum di dalam kelompok tersebut sama sekali tidak tepat dan berbahaya. Berbahaya karena semua orang di dalam kelompok tersebut mendapat stigma negatif, yang dapat berlanjut kepada diskriminasi,  persekusi, pengusiran, bahkan ancaman pembunuhan, seperti cuitan di bawah ini.

princess

Kita semua sepakat melawan terorisme, tetapi marilah kita obyektif menilai. Tidak semua orang memakai cadar adalah teroris, tetapi teroris memakai cadar bisa jadi.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | 2 Komentar