Hukuman Mati

Ramai sekali perbincangan tentang hukuman mato di Indonesia, terutama menjelang dieksekusinya 9 orang terpidana kasus pengedaran narkoba. Dua diantara sembilan orang tersebut adalah dua warga Australia yang dikenal dengan sebutan Duo Bali Nine. Pemerintah Australia berupaya keras untuk menyelamatkan warganya dari hukuman mati. Berbagai negara pun mengecam Pemerintah RI karena masih menrapkan hukuman mati.

Di dalam negeri pun pro kontra tentang hukuman mati masih bergulir. Pihak yang menentang hukuman mati misalnya LSM Kontras dan Komnas HAM. Alasan mereka sama, yaitu negara tidak berhak menentukan hidup matinya seseorang. Hak hidup adalah hak dasar setiap manusia, negara tidak bisa menghilangkannya dengan alasan apapun.

Pandangan Kontras dan Komnas HAM tersebut berkebalikan dengan hasil jajak pendapat tentang hukuman mati. Mayoritas warga Indonesia atau sebanyak 86 persen ternyata mendukung langkah Presiden Joko Widodo menghukum mati pengedar narkoba (Sumber dari sini).

Sebenarnya hukuman mati tidak hanya ada di Indonesia. Hukuman ini terdapat di banyak negara seperti Arab Saudi, Malaysia, Singapura, Tiongkok, bahkan Amerika Serikat sekalipun. Di Arab Saudi misalnya, hukuman mati diterapkan bagi pembunuh, pemerkosa, pengedar narkoba, dan murtad. Dalam tahun ini saja Arab Saudi telah melakukan 72 kali hukuman mati (sumber dari sini). Yang dihukum mati tidak hanay warga asing (seperti TKI yang melakukan pembunuhan), tetapi juga warga Saudi sendiri.

Dalam ajaran Islam, hukuman mati diterapkan pada pelaku pembunuhan dan perzinahan. Untuk pelaku pembunuhan, nama hukumannya adalah qishas, sedangkan untuk pelaku perzinahan nama hukumannya adalah rajam.

Qishas dilakukan dengan cara memenggal kepala pelaku pembunuhan dengan pedang, sedangkan rajam dilakukan dengan melempar kepala pelaku perzinahan dengan batu secara beramai-ramai sampai mati. Di dalam hukum hukum qishas, pelaku pembunuhan harus dibunuh pula, namun jika keluarga pelaku memaafkan pelaku, maka hukuman mati pun menjadi batal. Biasanya keluarga korban meminta tebusan uang yang harus dibayar oleh pelaku pembunuhan.

Di Saudi Arabia yang menerapkan hukum Islam, pengedar narkoba puin termasuk kejahatan yang dihukum mati. Pengedar narkoba memang tidak membunuh orang secara langsung, namun kejahatannya telah merampas masa depan banyak generasi muda, termasuk yang mati secara perlahan karena pengaruh narkoba yang sangat akut.

Dalam pandangan saya, hukuman mati yang adil adalah hukuman mati yang diajarkan oleh syariat Islam. Nyawa harus dibayar dengan nyawa pula. Membunuh satu nyawa berarti membunuh banyak generasi sesudahnya, karena calon keturunan si korban juga musnah. Kasihan kepada pelaku pembunuhan yang terancam dihukum mati boleh-boleh saja, namun kita juga harus kasihan kepada keluarga korban yang harus kehilangan anggota keluarganya. Namun, hukuman mati itu bisa batal apabila pelaku pembunuhan mendapat maaf dari keluarga korban. Memaafkan adalah sikap yang paling baik. Begitulah indahnya ajaran Islam.

Nah, pelaku kejahatan narkoba yang terancam hukuman mati bisa saja bebas dari hukuman jika ia mendapat maaf dari ratusan atau ribuan keluarga korban yang teraniaya karena masa depan anggota keluarga mereka menjadi hancur. Namun, apakah mudah mendapatkan maaf dari ratusan atau ribuan keluarga tersebut? Wallahualam.

Indonesia memang tidak menganut hukum Islam, karena Indonesia bukan negara agama meskipun mayoritas penduduknya menganut agama Islam. Namun, sebagian hukum Islam sudah tercakup di dalam hukum positif di Indonesia, termasuk hukuman mati. Memang pelaku pembunuhan tidak selalu dijatuhi hukuman mati, banyak diantaranya hanya dihukum beberapa tahun hingga belasan tahun. Sangat jarang pelaku pembunuhan diancam hukumam mati, kecuali jika aksi pembunuhannya dilakukan dengan sangat keji. Hukuman mati adalah hukuman maksimal yang mungkin dijatuhkan. Pelaku pembunuhan biasanya mendapat keringanan hukuman misalnya karena masih muda, sopan di dalam persidangan, mengakui kesalahan, menyesali perbuatan, dan sebagainya.

Pelaku kejahatan narkoba sama saja dengan pelaku pembunuhan. Mereka dapat terancam hukuman mati jika jumlah narkoba yang dibawanya melebihi batas tertentu. Namun sebenarnya narkoba, sedikit atau banyak, telah meracuni puluhan ribu generasi muda di tanah air. Narkoba efeknya tidak langsung membunuh, tetapi pembunuhanya terjadi pelan-pelan. Jika begitu, maka kejahatan narkoba sama saja dengan kejahatan pembunuhan. Keduanya dapat diancam hukuman mati.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | Tinggalkan komentar

Bandung Berbeda Setelah Ridwan Kamil Menjadi Walikota

Peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang ke-60 di Bandung sudah usai. Hajatan besar yang dihadiri oleh puluhan kepala negara di Asia dan Afrika telah menjadi kenangan yang indah bagi orang Bandung. Selama dua bulan wajah kota Bandung bersolek sehingga tampil pangling bagi orang yang sudah lama tidak ke Bandung. Orang pertama yang mempunyai peran kunci bagi kesuksesan pelaksanaan KAA adalah walikota Bandung sendiri, yaitu Ridwan Kamil, atau sering akrab disapa Kang Emil. Dialah yang merancang semua tata letak, hiasan, dan pernak-pernik aseori kota sehingga Bandung tampil seperti kota-kota di Eropa. Pelaksanaaan KAA melibatkan partisipasi seluruh warga kota, sehingga KAA tidak hanya hajatan Pemkot atau Pemprov Jabar semata, tetapi juga hajatan seluruh warga kota Bandung demi suksesnya pelaksanaan KAA.

Sejak walikota Bandung dijabat oleh Ridwan Kamil, warga Bandung merasakan banyak perubahan pada kotanya. Taman-taman tematik bermunculan di berbagai lokasi di dalam kota. Jalur pedesterian diperbaiki sehingga menjadi nyaman untuk berjalan kaki. Para pedagang kaki lima di beberapa titik berhasil direlokasi. Foto-foto di bawah ini menunjukkan beberapa taman cantik yang hadir membuat nyaman mata. Itu baru sebagian, masih banyak lagi taman-taman tematik di berbagai sudut kota. Bahkan, alun-alun kota Bandung sekarang berhias lapangan rumput sintetis yang luas di depan Masjid Agung. Warna hijaunya yang menawan mengingatkan kita pada pemandangan halaman rumput istana-istana di Eropa.

Taman Musik Centrum di Jalan Belitung (Sumber foto: https://ridwanspektra.wordpress.com/2014/05/05/melipir-ke-taman-musik-centrum/)

Taman Musik Centrum di Jalan Belitung (Sumber foto: https://ridwanspektra.wordpress.com/2014/05/05/melipir-ke-taman-musik-centrum/)

Taman bioskop dengan layar digital raksasa di bawah jembatan layang Pasupati (Sumber: http://www.rumahku.com/berita/read/serunya-nonton-bioskop-di-ruang-terbuka-di-taman-film-bandung-409486#.VTtYjJNMiwE)

Taman bioskop dengan layar digital raksasa di bawah jembatan layang Pasupati (Sumber: http://www.rumahku.com/berita/read/serunya-nonton-bioskop-di-ruang-terbuka-di-taman-film-bandung-409486#.VTtYjJNMiwE)

Tidak bisa dipungkiri, semua itu adalah ide Ridwan Kamil. Dia memang seorang arsitek lulusan ITB dan sudah melanglang buana ke berbagai kota di dunia. Ide-ide dari Eropa itu “dicontek” dan direalisasikannya di kotanya sendiri. Hasilnya, warga Bandung dan wisatawan luar Bandung yang datang ke kota ini menjadi takjub melihat Bandung tampil beda dengan yang dulu. Menariknya lagi, sebagian besar pembuatan taman itu tidak didanai dari APBD, tetapi dari dana-dana CSR.

Ide-ide Ridwqan Kamil tidak berhenti sampai di situ. Sekarang dia mengarah ke Bandung Timur. Kawasan Bandung Timur, khususnya di Gedebage, akan dibuat menjadi teknopolis, yaitu kota dengan sentuhan teknologi dan seni. Di kawasan Gedebage akan dibuat danau raksasa, yang fungsinya tidak hanya menjadi pengendali banjir, tetapi juga arena wisata dan rekreasi seperti Garden by the Bay di Singapura.

Danau raksasa di kawasan teknopolis Gedebage (Sumber: https://www.facebook.com/RKbdg/posts/468549013296925?pnref=story)

Danau raksasa di kawasan teknopolis Gedebage (Sumber: https://www.facebook.com/RKbdg/posts/468549013296925?pnref=story)

Tentu ada yang bertanya, mengapa Ridwan Kamil justru lebih mendahulukan membuat taman-taman yang indah dan sarana rekreasi itu ketimbang membenahi masalah kota yang kompleks seperti kemacetan, PKL, sampah, banjir, transportasi, dan sebagainya. Ridwan Kamil sendiri pernah mengatakan bahwa berawalnya dia membangun taman-taman karena dia ingin meningkatkan indeks kebahagiaan (level of happiness) warga Bandung terlebih dahulu. Jadi, prinsipnya berlawanan dengan pandangan umum yang mengatakan bahwa benahi semua permasalahan kota sampai tuntas barulah warganya menjadi bahagia. Tetapi prinsip Ridwan Kamil sebaliknya, warga harus dibuat senang dan betah dengan kotanya dulu, sembari memperbaiki infrastruktur lainnya serta menyelesaikan aneka permasalahan kota besar seperti Bandung. Permasalahan kota besar tidak akan pernah tuntas, selalu bertambah, maka menunggu tuntas tidak akan pernah selesai-selesai.

Sampai di sini saya setuju dengan ide-ide Ridwan Kamil tersebut. Namun, saya juga menyimpan beberapa kritik kepada Ridwan Kamil. Pertama, jangan ada kesan semua ini hanya politik kosmetik belaka. Kedua, saya melihat bahwa Ridwan Kamil terkesan lebih banyak memfokuskan penataan kota dari pusat kota hingga ke Bandung Utara saja, sementara kawasan Bandung Barat dan Bandung Selatan masih kurang tersentuh. Pemandangan yang bagus memang lebih banyak ditemukan di Bandung Tengah dan Bandung Utara, karena kota lama dan bangunan warisan Belanda berada di sini. Tetapi Bandung tidak hanya di utara, tetapi juga di selatan, barat, dan timur. Penduduk yang padat justru di kawasan selatan, barat, dan timur. Cobalah anda melintasi Jalan Gardujati, Sudirman, terus ke Soekarno-Hatta, dan Kopo. Kawasan di sepanjang jalan itu terlihat gersang, crowded, semrawut, dan tentu saja kotor. Kawasan ini belum tersentuh penataan Ridwan Kamil.

Baiklah, saya berprasangka baik saja, mungkin skala prioritas Bandung Tengah dan Utara dulu, nanti mungkin ke selatan, barat, dan sekarang sudah menyentuh ke timur. Ridwan Kamil belum setahun menjabat, jadi memang tidak bisa sim salabim semuanya dikerjakan dalam waktu bersamaan.

Selain masalah-masalah kesemrawutan yang saya sebutkan di atas, masih banyak PR bagi walikota Bandung yang belum tuntas sejak dulu. Misalnya masalah halte bis Trans Metro Bandung yang mangkrak dan tidak terpakai, masalah pembangunan apartemen dan hotel yangh tidak terkendali sehingga membuat resah warga sekitar, masalah banjir di berbagai wilayah dalam kota, pengangguran, dan masih banyak lagi kalau didaftar satu per satu.

Banyak orang menaruh harapan kepada Ridwan Kamil. Dia pemimpin muda yang bukan kader partai (meskipun pencalonannya diusung oleh dua partai, Gerindra dan PKS) dan bersih dari kasus korupsi. Dia tidak banyak bicara tetapi banyak kerja, sangat kontras dengan pemimpin ibukota banyak yang bacot, hobi marah-marah, suka mencari musuh, tetapi hasil kerjanya nyaris tidak ada.

Ridwan Kamil adalah calon pemimpin masa depan seperti halnya walikota Surabaya, Bu Risma. Bukan tidak mungkin popularitasnya mengalahkan presiden sekarang. Bukan tidak mungkin pula dia bisa menjadi calon pemimpin negeri ini suatu hari nanti. Semakin banyak karya nyatanya yang dirasakan warga Bandung, maka semakin naik popularitasnya. Namun saya tahu karakteristik Emil bukanlah orang yang haus pujian, saya tahu latar keluarganya jadi tidak mungkin dia bekerja untuk mengharap dipuji. Menurut saya dia memang bekerja sepenuh hati untuk menata kota kelahirannya sehingga menjadi kota juara, sebagimana semboyan Bandung Juara yang menjadi slogan kota Bandung saat ini.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 6 Komentar

Sempurna itu Tidak Pernah Ada

Pepatah yang mengatakan bahwa “manusia tidak ada yang sempurna” bukanlah suatu pembelaan diri (excuse) semata. Kesempurnaan hidup itu tidak akan pernah kita dapatkan. Ada saja kurangnya, ada saja cacatnya.

Mencari jodoh yang ideal, misalnya, hanya ada di dalam cerita-cerita dongeng. Yang ideal itu tidak akan pernah ada. Ada saja kurangnya. Dapat suami yang tampan, tinggi, tajir, humoris, cerdas, pendidikannya tinggi, tetapi setelah diamati lagi ada kelemahannya, misalnya suka emosional. Dapat istri yang cantik, berkulit putih, semampai, badan proporsional, tetapi ada saja kurangnya, misalnya tidak suka memasak.

Ya, pasangan hidup kita, baik istri kita ataupun suami kita, pasti mempunyai kekurangan. Masalahnya adalah bagaimana kita bisa ikhlas menerima kekurangan itu. Pikirkanlah bahwa dibalik kekurangannya, ia mempunyai kelebihan. Jadi, kelebihan itu diciptakan Tuhan untuk menutupi kelemahannya.

Ada sebuah kisah bijaksana yang menceritakan seorang pujangga, Khalil Gibran. Begini kisahnya, seperti yang saya peroleh dari sebuah pesan di jejaring pertemanan.

Suatu hari, Khalil Gibran bertanya kepada gurunya:

“Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup..?”

Sang Guru: “Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali ke belakang..!”.

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Khalil Gibran kembali dengan tangan hampa, lalu Sang Guru bertanya: “Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun…???”

Gibran: “Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya, karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah. Namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang TERINDAH, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi..!”

Sambil tersenyum, Sang Guru berkata: “Ya, itulah hidup.. semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, “Karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita utk menerima kekurangan.

Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak usah berkecil hati dengan kekurangan yang ada pada diri kita, tidak usah malu dengan kekurangan yang ada pada anak kita, pasti ada kelebihan yang mungkin tidak tampak sekarang, tapi muncul suatu hari nanti.

Dipublikasi di Kisah Hikmah | 2 Komentar

Kupat Tahu, Sarapan Pagi Orang Sunda

Selain bubur ayam dan nasi kuning/nasi uduk, sarapan pagi orang Sunda adalah kupat tahu. Kupat tahu adalah makanan setengah berat, terdiri atas lontong/ketupat, tahu goreng yang dipotong-potong, sayur tauge, lalu disiram kuah bumbu kacang, dan di atasnya ditaburi kerupuk. Jika mau agak manis, dapat ditambahkan kecap, dan jika mau pedas bisa ditambah sambal. Sepintas bentuknya mirip gado-gado lontong atau ketoprak di Betawi.

Di Bandung entah berapa ratus banyaknya gerobak pedagang kupat tahu. Hampir sebagian besar penjual menamakan dagangannya “Kupat Tahu Khas Tasikamalaya” atau “Kupat Tahu Khas Singaparna”. Singaparna adalah kota kecil di Kabupaten Tasikmalaya, dikenal juga sebagai kota santri. Mungkin pedagang kupat tahu sebagian besar berasal dari daerah Tasik atau Singaparna itu, atau mungkin kupat tahu yang lezat asalnya dari daerah tersebut? Wallahualam.

Penambahan kata “tahu” setelah “kupat” menunjukkan bahwa orang Sunda tidak bisa dilepaskan dari penganan yang satu ini. Tahu yang digunakan haruslah tahu kuning yang agak lembek, dan digorengnya setengah matang. Cara penyajiannya adalah sebagai berikut: ketupat atau lontong dipotong-potong, lalu tahu yang masih sedang digoreng di atas wajan diambil dan dipotong-potong, kemudian diletakkan di atas ketupat. Sebagai topping ditambahkan sayur tauge, dan terakhir barulah disiram dengan kuah bumbu kacang yang sudah diulek dengan bumbu-bumbu.

Kupat tahu yang enak adalah kupat tahu yang bumbu kacangnya langsung diulek saat itu juga (dadakan) memakai batu cobek, bukan yang disiapkan di rumah lalu direbus di atas kompor supaya tidak cepat basi. Ada banyak pedagang kupat tahu yang memilih cara praktis seperti itu, mungkin mereka tidak mau repot mengulek bumbu di lapaknya, tinggal siram saja ke atas piring.

Di antara pedagang kupat tahu yang menyiapkan bumbu kacangnya secara dadakan adalah pedagang kupat tahu “Penasaran” khas Tasik yang saya temui di Jalan Purwakarta, kawasan Antapani. Pelanggannya termasuk ramai, hal itu menandakan kupat tahunya diminati karena enak. Ciri khas kupat tahunya adalah ada tambahkan petis ketika bumbu kacang diulek di atas batu cobek. Petis adalah bumbu dapur mirip terasi, terbuat dari udang kecil-kecil. Petis tersebut didatangkan dari sentra industri rumahan di Cirebon.

Kupat tahu petis, khas Tasik

Kupat tahu petis, khas Tasik

Rasanya memang mantap, bumbunya nendang kata penggila kuliner, pedasnya pas. Rasa petis itu yang membuat kupat tahu ini beda dari yang biasa. Di gerobaknya saya melihat puluhan lontong berukuran besar yang dibungkus daun pisang. Untuk membuat kupat atau lontong, berasnya bukan beras jenis yang dimasak menjadi nasi, tetapi beras jenis IR 5 yang khusus untuk membuat kupat. Hampir semua pedagang kupat tahu tahu jenis beras khusus ini. Lontong yang dihasilkan dari beras jenis IR sangat lembut, putih, dan sempurna bentuk lontongnya.

Nah, sekali-kali jika anda ingin makan kupat tahu, haruslah datang pagi hari, dan carilah yang warungnya tertulis kupat tahu petis. Dijamin anda akan ketagihan. Mau?

Dipublikasi di Makanan enak, Seputar Bandung | 3 Komentar

Tetangga, Menjadi Musuh atau Menjadi Teman?

Hidup bertetangga itu susah-susah gampang. Karena setiap hari bertemu atau berinteraksi, maka yang namanya gesekan itu pasti ada. Tidak jarang terjadi perselisihan, cekcok, dan sebagainya. Kadang-kadang hanya masalah sepele seperti masalah anak, masalah air talang hujan, masalah air pembuangan, atau tanaman tetangga yang cabangnya masuk ke halaman rumah kita. Sepele tapi bisa meletup menjadi persoalan besar.

Namun, sebaliknya tidak jarang ditemukan pula para tetangga yang selalu hidup rukun, damai, dan guyub. Kalau mendapat tetangga yang baik, maka itu adalah berkah, tetapi jika mendapat tetangga yang selalu reseh atau tidak ramah, maka alamat tidak akan bisa akur. Akhirnya yang terjadi adalah hidup nafsi-nafsi, hidup masing-masing, tanpa mempedulikan tetangga.

Ketika saya membeli rumah (rumah seken sih), maka selain utilitas vital seperti air dan listrik, maka pertimbangan saya yang lain adalah tetangga di sebelah menyebelah rumah. Jika naga-naganya tetangga sebelah orang yang ramah, setelah melihat dan kenalan sepintas, maka saya merasa nyaman jika membeli rumah tersebut. Tetapi, jika orangnya terlihat judes, kurang ramah, dan tertutup, waaah..lebih baik saya cari yang lain saja.

Gesekan antar tetangga adalah wajar. Persoalannya adalah bagaimana menyikapi gesekan tersebut sehingga tidak menjadi persoalan besar. Apakah kita ingin tetangga menjadi teman selamanya atau menjadi musuh yang selalu perang?

Ada sebuah kisah dari Tiongkok yang saya peroleh dari persebaran tulisan di jejaring sosial. Sungguh indah kisahnya, dan sungguh bermakna hikmah yang terkandung di dalamya. Begini kisahnya setelah saya rapikan tata bahasanya (terima kasih kepada orang yang pertama kali mengetikkan kisah ini, jazakllah).

Kisah Petani dan Pemburu

Dikisahkan ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yg berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yg galak namun kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar domba-domba petani. Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjinya, tapi ia tidak mau peduli.

Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa domba sehingga terluka parah. Petani itu merasa tidak sabar, lalu ia memutuskan pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim.

Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dan berkata; “Saya bisa saja menghukum pemburu itu, memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya, tapi Anda akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?”

Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.

“Baik, saya akan menawari anda sebuah solusi yg mana anda harus menjaga domba-domba anda, supaya tetap aman dan ini akan membuat tetangga anda tetap sebagai teman.”

Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju, lalu dia pulang kembali ke desanya. Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana mereka menerima denga sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.

Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah mengganggu domba² pak tani.

Sebagai rasa terima kasih atas kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kepada petani. Sebagai balasannya, petani mengirimkan daging domba & keju buatannya. Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman yang baik.

Sebuah ungkapan Tiongkok Kuno mengatakan,
“CARA TERBAIK UNTUK MENGALAHKAN & MEMPENGARUHI ORANG ADALAH DENGAN KEBAJIKAN.

Moral dari cerita ini adalah, saya petik dari penyerta tulisan di atas, sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Ingat sebuah peribahasa yang berbunyi: seribu teman itu masih sedikit, tetapi satu musuh itu terlalu banyak.

Dipublikasi di Kisah Hikmah | 5 Komentar

Penawaran Properti “Firdaus Regency”. Berminat? (Bagi yang Percaya Saja)

Sebuah pesan di whatsapp masuk ke ponsel saya. Pesan dari seseorang yang menawarkan properti berupa perumahan eksklusif yang bernama Firdaus Regency. Semula saya tidak berminat membacanya, tetapi setalah saya lihat sekilas ke bawah tidak ada harga jualnya, saya penasaran lagi dan mulai membacanya dari awal. Tanpa menyelesaikan membacanya, saya langsung setuju. Sangat berminat. Inilah “rumah” masa depan yang diidam-idamkan bagi orang yang percaya.

Bagi orang yang percaya? Ya, hanya bagi orang yang percaya bahwa rumah eksklusif tersebut hanya dapat dimiliki jika mereka melakukan amal sholeh selama hidup di dunia. Pahala dari amal sholeh itulah yang nanti “ditukar” dengan “rumah” eksklusif di taman surga yang bernama Firdaus Regency.

Anda berminat? Tidak usah takut kehabisan karena jumlahnya tersedia tidak terbatas.

Berikut iklan penawaran perumahan Firdaus Regency (setelah saya edit tata bahasanya)

PERUMAHAN EKSKLUSIF “FIRDAUS REGENCY”. HUNIAN INDAH, NYAMAN, AMAN, DAMAI & BERKAH.
🏤
Tersedia 4 TYPE :
1. Jannatun Na’i’m
2. Jannatul Ma’wa
3. Jannatul Firdaus
4. Jannatun ‘Adn
(Semua Type Ready Stock)

FASILITAS :
-Sungai susu Salsabila
-Danau indah Kautsar
-Pasive income bagi semua penghuni
-View tak terbatas
-Akses masuk 8 pintu
-Taman main anak-anak sholeh/shalihah
-Taman jutaan hektar dengan buah, nikmat dan siap santap.
-Bonus bidadari & bidadara
-Hak milik selama-lamanya (Abadi)

SYARAT Pemesanan :
1. Taubat & kembali kepada jalan-Nya.
2. Berpegang teguh agama-Nya.
3. Melaksanakan syari’at-Nya.
4. Rezeki yang halal & thoyib.

DP :
-100% sholat fardu & sunnah,
– 2,5% sisihkan harta untuk zakat,
– 100% rajin bershodaqoh & infaq,
– 100% sempatkan waktu untuk membaca Alquran, menuntut ilmu, beramal sholeh, silaturahim, mendoakan kedua orangtua, berdakwah & jauh dari maksiat.

Waktu sangat terbatas !
Stock hunian tak terbatas !
Dijamin bebas roaming !

Alamat KONTAK :
Sholat tahajud setiap malam.

Alamat CABANG :
Masjid, musholla, pondok pesantren, majlis ‘ilmu, majlis dzikir.

Inilah sebaik-baik tempat tinggal.,
Ayo segera DP sekarang juga … TIDAK PERLU menunggu tua, atau kaya, atau menjabat, atau pinter.

Dipublikasi di Agama, Renunganku | 8 Komentar

Ketika Situs Dakwah Diblokir

Wah, cukup lama saya tidak menulis di blog ini. Terlalu banyak yang ingin saya tuliskan sebenarnya, namun apa daya dililit kesibukan membuat waktu menulis pun berkurang. Banyak isu yang bertebaran selama dua minggu ini, saya pun tergelitik untuk menuliskan catatannya. Isu yang hangat adalah tindakan Kemkominfo yang memblokir situs-situs Islam atas rekomendasi BNPT karena alasan yang sering berubah-ubah (Baca: Kominfo Blokir 22 Situs yang Dianggap Radikal). Semula alasannya karena situs-situs web tersebut menjadi sarana mempropagandakan ISIS atau mendukung ISIS. Belakangan tuduhan tersebut berubah lagi karena menjelekk-jelekkan Jokowi, mengobarkan jihad dalam arti perang, dan terakhir tuduhannya karena mengusung paham radikal.

Meskipun definisi radikal itu sendiri masih belum jelas apa batasannya, saya setuju jika situs-situs yang mengajarkan radikalisme dilarang, tidak hanya situs yang berlatarbelakang agama, tetapi juga situs lain yang mengajarkan paham radikal lain seperti komunisme. Beberapa situs dari 22 situs yang diblokir tersebut menurut penilaian saya memang sangat keras, kalau tidak boleh dibilang menyebarkan kebencian kepada suatu golongan. Menurut saya isu-isu yang sensitif sebaiknya tidak boleh dipanas-panasi sebab dapat menimbulkan konflik horizontal di tengah masyarakat. Media seharusnuya menjadi tuntunan, bukan memprovokasi. Ini juga berlaku bagi media lain yang meski tidak mengatasanamakan agama tetapi berita-beritanya menyudutkan suatu kelompok dan bernada provokatif.

Yang saya sesalkan adalah beberapa situs dakwah ikut terkena blokir, antara lain situs hidayatullah.com. Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang setia membaca situs hidayatullah.com. Setahu saya situs Hidayatullah sudah lama ada sebagai pelengkap dari majalahnya yang bernama sama. Majalah Hidayatullah dan situs webnya adalah bagian dari pesantren besar di Indonesia Timur, yaitu Pesantren Hidayatullah. Pesantren Hidayatullah pusatnya di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, namun cabangnya ada di mana-mana dari Sabang sampai Merauke. Pesantren ini termasuk unik, karena mereka mengirimkan para dai ke daerah terpencil untuk membina masyarakat muslim dan kaum mualaf yang jauh dari bimbingan agama. Uniknya adalah para dai itu tidak diberi modal ketika disuruh berangkat, tetapi hanya diberi sejumlah majalah Hidayatullah untuk dipasarkan. Hasil dari penjualan majalah itulah yang digunakan untuk sekedar penyambung hidup. Para dai diminta mencari hidup sendiri, dan karena keikhlasan mereka berdakwah, ada saja orang-orang di daerah tujuan mewakafkan tanah kepada dai itu untuk mendirikan pesantren atau tempat mengajar anak-anak mengaji. Dari sanalah cikal bakal tumbuhnya cabang-cabang pesantren Hidayatullah yang betebaran di mana-mana, khususnya di kawasan Indonesia Timur yang miskin infrastruktur.

Saya tahu cerita di atas karena selalu membaca majalah dan situs webnya. Dulu saya aktif membeli majalah ini, tetapi sejak ada situs webnya saya lebih banyak membaca berita dan artikel di situs web ketimbang membaca edisi cetaknya.

Sejauh yang saya baca dan saya pahami, majalah dan situs web Hidayatullah isinya sangat jauh dari tuduhan radikal. Isi situsnya lebih banyak mengajak kaum muslimin dan muslimat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan banyak beribadah dan beramal sholeh. Menurut saya Hidayatullah.com adalah situs dakwah yang menuntun pembacanya lebih taat pada agama. Saya merasa heran saja situs dakwah ini termasuk ikut diblokir. Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla saja sudah pernah mengunjungi pesantren ini. Kalau memang radikal, kenapa sekelas Pak Presiden dan Wakil Presiden sampai datang ke sana?

Memang situs hidayatullah.com pernah membahas persoalan-persoalan yang hangat di dalam Islam seperti isu Syiah, Ahmadiyah, dan aliran-aliran sesat lainnya. Apakah karena itu? Kesamaan dari semua situs yang diblokir tersebut adalah karena mereka menolak paham Syiah dan Ahmadiyah. Polemik soal Syiah, Ahmadiyah, dan aliran sesat juga banyak betebaran di banyak media, termasuk media arus utama sekalipun, tetapi media tersebut tidak dibreidel tuh. Sebagai situs Islam, sudah sewajarnya mereka membahas aliran-aliran ini guna meluruskan akidah ummat. Saya berburuk sangka, jangan-jangan pemblokiran situs merupakan pesanan kelompok liberal (termasuk kelompok Islam Liberal) yang memang menjadi tameng bagi gerakan aliran yang menyimpang. Hidayatullah menjelekkan Jokowi? Yang saya tahu mereka mengkritisi Jokowi. Menjelekkan tidak sama dengan mengkritisi. Apakah bersikap kritis sudah dilarang di negeri ini?

Hmmm…saya tidak bermaksud membela situs Hidayatullah secara khusus. Saya tidak punya kepentingan dengan situs ini. Saya hanya merasa kehilangan situs dakwah yang bagus seperti Hidayatullah. Sekarang situs ini tidak bisa diakses lagi karena terkena internet filtering yang diterapkan oleh internet provider. Saya khawatir pemblokiran situs-situs Islam tersebut merupakan bentuk pengekangan terhadap kebebasan berbicara. Lebih jauh lagi pemblokiran tersebut berdampak menimbulkan Islam0phobia. Jangan-jangan nanti bakal banyak media dan situs di Internet yang diblokir karena mengkritisi Pemerintah. Jika ini terjadi, maka sejarah Orde Baru kembali terulang dan kita mundur kembali ke belakang.

Dipublikasi di Agama | 6 Komentar