Berkujung ke Yangon, Myanmar (Bagian 3. Tamat)

Berkunjung ke Yangon tanpa mengunjungi Pagoda Shwedagon rasanya kurang lengkap. Pagoda Shwedagon merupakan ikon negara Myanmar. Ia juga merupakan tempat suci terbesar umat Budha di Myanmar. Pagoda Shwedagon menjadi  terkenal karena sejarahnya yang berkaitan dengan Budha Gautama dan karena ia terbuat dari emas! Pagoda Shwedagon yang saya lihat dari jendela hotel  The Summitpark View (baca tulisan pertama) akan saya ceritakan pada seri tulisan terakhir ini.

Pagoda Shwedagon hanya berjarak 300 meter dari hotel The Summitpark View. Kami berjalan kaki melewati taman People’s Park dan People’s Square yang terletak di seberang kawasan pagoda.

shwedagon-pagoda-on-map-of-yangon

Peta lokasi Pagoda Shwedagon. Lokasi pagoda di peta ditandai dengan balon merah bertuliskan huruf A.

Di taman ini pada sore hari banyak orang Yangon berekreasi membawa keluarganya atau sekedar olahraga jogging. Tampak juga di sudut-sudut taman para muda-mudi Myanmar berpacaran tanpa malu-malu, sebagian lagi berpacaran dengan ditutupi payung🙂.

Dari People’s Park dan People’s Square tampaklah pagoda Shwedagon yang terbuat dari emas. Kira-kira tingginya setinggi Monas di Jakarta. Semburat cahaya matahari sore membuat emas pagoda tampak berkilauan. Di plaza People’s Park  ini banyak masyarakat berkumpul menikmati air mancur yang dapat menari.

14495274_1221480184586671_8988938826990876280_n

Pagoda Shwedagon tampak dari People’s Square

14572215_1221479971253359_5730855434187182020_n

Penulis dengan teman berfoto di People’s Square dengan latar belakang Pagoda Shwedagon

Hari sudah menjelang Maghrib waktu Yangon. Malam segera datang. Sayang kalau tidak masuk ke dalam pagoda ini. Kami berjalan kaki dari People’s Square menuju kompleks pagoda.  Ternyata kompleks Pagoda Shwedagon sangat luas seperti yang ditunjukkan pada peta di bawah ini. Luasnya 46 hektar. Pagoda Shwedagon dikelilingi oleh bangunan-bangunan pendukung.

14517593_1221480521253304_3944578338574377242_n

Peta kompleks Pagoda Shwedagon

img_20161002_185850_hdr

Pintu masuk utama ke dalam pagoda. Dua patung singa raksasa berdiri menjaganya

Pagoda Shwedagon yang menurut legenda sudah berusia lebih dari 2500 tahun, itu berdiri di atas sebuah bukit yang tingginya 190 kaki atau sekitar 57 meter. Pgoda yang berbentuk stupa itu tingginya  sekitar 100 meter. Jadi, ketika kita masuk ke dalam, kita seolah-olah menaiki sebuah bukit. Untuk mencapai ke dalam pagoda, kita menaiki sejumlah tangga biasa dan tangga berjalan (elevator). Dari pintu masuk utama kita melewati koridor ruangan yang panjang dengan tiang-tiang besar di sepanjangnya. Seluruh dinding dan tiang dicat dengan warna kuning emas. Kuning merupakan warna khas negara Myanmar.

14502856_1221480224586667_5650132658458988178_n

Koridor panjang setelah melewati pintu masuk pagoda. Semua dinding dan tiang dicat dengan warna emas.

Ternyata koridor ini sangat panjang. Kita mulai menaiki  area yang lebih tinggi dengan menggunakan tangga berjalan. Oh iya, pengunjung tidak boleh menggunakan alas kaki, jadi kita harus melepas sepatu atau sandal. Petugas jaga menawarkan kantong plastik dengan membayar uang sekedarnya..

14519883_1221480291253327_487160647516539527_n

Tangga berjalan menuju area yang lebih tinggi

Akhirnya setelah melewati koridor yang panjang itu, sampailah kita ke lantai utama  pagoda. Bagi turis asing, untuk masuk ke dalam pagoda harus membayar 8000 kyat atau 80.000 rupiah. Perempuan yang sedang datang bulan tidak boleh memasuki pagoda.

Akhirnya saya melihat dari dekat Pagoda Shwedagon yang terbuat dari emas itu. Warna kuning emas tampak di mana-mana, dan berbagai patung Budha mulai dari yang berukuran raksasa hingga berukuran kecil bertebaran di mana-mana. Ada juga patung Budha dalam posisi berbaring.

img_20161002_191750_hdr

Pagoda emas setinggi 100 m. Di puncaknya bertahtakan batu permata

14502834_1221480311253325_4052641537491872443_n

Vihara-vihara kecil di sekeliling pagoda dengan patung Budha di setiap vihara

Malam itu warga Myanmar tampak memadati pagoda sekedar berjalan-jalan atau memang untuk sembahyang. Mereka membungkukkan badan dan sujud di depan Budha,  sembari melafalkan doa  yang berisi permintaan kepada Sang Budha.

14463268_1221480361253320_1940862571744703443_n

Patung Budha dalam posisi rebahan

img_20161002_192411_hdr

Warga Myanmar berdoa di depan patung Budha

Di bawah ini gambar-gambar lain dari Pagoda Shwedagon yang diambil dari sini dan sini:

maxresdefault

Shwedagon dari udara

yangon_pagoda_shwedagon

Pagoda Shwedagon kala siang hari

Hari sudah beranjak makin malam. Hujan gerimis membasahi pagoda. Kami segera kembali ke hotel. Di depan pintu masuk utama tadi sudah berjejer taksi. Kami menaiki taksi yang tanpa argometer itu, karena kalau berjalan kaki lagi nanti kehujanan. Supirnya sedikit bisa berbahasa Inggris standard. Setiba di hotel kami menanyakan berapa ongkosnya, ternyata cukup 2000 kyat saja atau 20.000 rupiah.Selamat malam, Yangon. (TAMAT)

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 2 Komentar

Berkunjung ke Yangon, Myanmar (Bagian 2)

Konferensi regional RCCIE 2016 diadakan di kampus Yangon Technological University YTU). YTU adalah perguruan tinggi teknik terkemuka di Myanmar, sekaligus perguruan tinggi teknik tertua dan terbesar. YTU berawal dari Departemen Teknik di Rangoon University pada tahun 1924, lalu kemudian populer dengan nama Rangoon Institute of Technology. Jadi boleh dikatakan YTU ini adalah ITB-nya Myanmar. Sebagai salah satu anggota perguruan tinggi di dalam jaringan AUN-SEED/Net, maka YTU menjadi tuan rumah konferensi Regional Conference on Computer and Information Engineering (RCCIE) tahun 2016. Ketika saya ikut RCCIE tahun 2013 di Bangkok pelaksanaannya diadakan di hotel bintang lima, tapi RCCIE tahun ini diselenggarakan di kampus.

Ketika bus peserta konferensi memasuki kampus YTU, saya membayangkan kampus ini luas seperti kampus perguruan tinggi ternama lainnya, ternyata dugaan saya meleset. Kampus utama YTU di daerah Gyogone ini tidak begitu luas. Bangunan utamanya yang terlihat dari depan tidak mengesankan bangunan khas Asia, tetapi sepintas mirip seperti bangunan berarsitektur Rusia. Dari laman Wikipedia saya memperoleh informasi kalau kampus utama YTU  (yang dibangun antara tahun  1958 – 1961) merupakan bantuan Pemerintah Uni Soviet  (sekarang Rusia).

img_20161004_075217_hdr

Bangunan utama kampus YTU. Tiang-tiangnya yang tinggi dan arsitekturnya mirip seperti bangunan Rusia

Pada salah satu tiang bangunan utama terdapat sebuah prasasti yang bertuliskan aksara Rusia. Saya tidak bisa membaca tulisan di prasasti itu, tetapi isinya mungkin berisi keterangan bahwa bangunan kampus YTU ini merupakan kerjasama antara Pemerintah Myanmar dengan Uni Soviet kala itu.

img_20161003_081023_hdr

Prasasti beraksara Rusia tahun 1958 di salah satu tiang bangunan utama.

14495370_1222121237855899_4625753540946125699_n

Nampang di depan kampus YTU

Kampus utama YUT ini tampak sangat kokoh. Langit-langitnya tinggi, jendela dan pintunya besar-besar serta tinggi. Sepintas mirip seperti bangunan sekolah peninggalan Belanda di Indonesia yang langit-langitnya juga tinggi (seperti gedung SMAN 3 Bandung). Ada delapan bangunan dengan tiga lantai yang saling terhubung dengan koridor-koridor sehingga kita kita tidak akan kehujanan atau kepanasan jika berjalan dari satu gedung ke gedung lainnya.

14572851_1222903471111009_3080403262616762791_n

Tampak belakang bangunan utama

14572901_1222902541111102_8031840206672547930_n

Ruang-ruang kuliah dan laboratorium

14469675_1222903691110987_7760929505663689794_n

Koridor

14570295_1222172644517425_4468419202682457844_n

Aula besar tempat pelaksanaan RCCIE 2006 di gedung utama kampus YTU

Kampus utama YTU ini tampak seperti kurang terawat. Cat temboknya sudah berjamur diterpa hujan. Di halaman depan bangunan utama rumput liar tumbuh meranggas. Saya sempat menengok sebuah lab kimia, peralatan labnya tampak sudah tua, kurang terlihat peralatan baru dan modern. Bahkan kursi di ruang kuliah terbuat dari plastik. Saya hampir tidak percaya sebuah perguruan tinggi terkemuka memiliki peralatan dan perabot sederhana seperti itu.

14572241_1222903864444303_5947471129567047399_n

Ruang kuliah dengan kursi dari plastik

Akhirnya saya baru bisa memahami setelah mendapat penjelasan dari seorang dosen di sana. Bahwa YTU sempat ditutup selama beberapa tahun oleh pemerintah junta militer Myanmar (sebelum akhirnya beralih ke pemerintahan sipil yang dimenangkan oleh partai yang dipimpin Aung San Suu Kyi). Penyebabnya adalah banyak alumni kampus ini yang menjadi tokoh oposisi terhadap  Pemerintah, sehingga pemerintah militer menutup kampus ini. Oleh karena itu selama ditutup kampus ini tidak terawat dan tidak memperoleh dana untuk pemeliharaan. Jadi wajar jika kampus YTU tampak kusam. Namun seperti halnya rakyat Myanmar yang tampak sederhana, justru dari kesederhanaan kampus inilah dihasilkan alumni yang hebat dan menjadi tokoh-tokoh penting di Myanmar.

Salah satu keunikan di kampus YTU adalah para mahasiswa, dosen, dan pegawainya tidak ada yang memakai celana panjang. Seperti  umumnya rakyat Myanmar, mahasiswa dan dosen sehari-hari menggunakan sarung yang disebut longyi. Longyi untuk pria dan wanita pada prinsipnya sama, yang berbeda hanyalah motif dan warnanya. Longyi untuk laki-laki motifnya polos atau kotak-kotak, sedangkan longyi untuk perempuan lebih berwarna dan bermotif. Kemana-mana orang Myanmar memakai longyi, baik untuk bekerja, sekolah, kuliah, dan aktivitas sehari-hari. Mulai dari kuli bangunan, supir, pegawai kantor, dosen, pedagang, dan  lainnya  nyaman saja memakai longyi tanpa takut lepas atau kedodoran.

14522966_1222143867853636_9077164847632170167_n

Mahasiswa YTU sehari-hari ke kampus menggunakan longyi. Serasa berada di dalam pesantren saja, he..he

14517521_1222181421183214_1707404823421632660_n

Para mahasiswinya juga memakai longyi yang bermotif dan lebih berwarna

14522719_1221976414537048_7800389718333170378_n

Saya diantara dosen dan mahasiswi YTU yang memakai longyi. Berfoto di hotel sebelum berangkat ke tempat konferensi di kampus YTU

14591787_1222855581115798_7683174901749032920_n

Di sebelah kiri saya adalah Ketua Departemen Komputer dan Teknologi Informasi YTU, Dr. Win Zaw. Di sebelah kanan saya adalah dosen dan mahasiswa YTU. Semuanya tetap setia da tidak canggung berbusana longyi, bahkan ke hotel mewah sekalipun.

Cara menggunakan longyi agak berbeda dengan memakai sarung di negara kita. Jika di Indonesia sarung ditarik ke atas lalu digulung ke bawah, maka di Myanmar longyi diikat  ujung-ujungnya dan ditautkan di tengah sehinga tampak menjendol. Sedangkan untuk wanita longyi dililit ke pinggang (seperti memakai kain kebaya di Indonesia) lalu ditautkan di samping pinggang. Jadi longyi merupakan bawahan untuk busana pria maupun wanita, sedangkan atasannya bisa kemeja, kaos, atau blus. Memakai longyi membuat udara mengalir di antara dua kaki sehingga terasa sejuk. Tentu saja di dalamnya mereka masih menggunakan celana dalam, he..he. Longyi menjadi kenyamanan di Myanmar karena iklim di Myanmar umumnya panas, sehingga memakai longyi adalah salah satu cara untuk mengatasi gerah.

Melihat para mahasiswa, dosen,dan pegawai di YTU hilir mudik memakai longyi  di dalam kampus,  saya merasa seperti berada di dalam pesantren. Jika anda pergi mengunjungi pesantren-pesantren tradisionil di Pulau Jawa, anda melihat para santri dan kyainya memakai sarung sehingga kaum santri itu sering dinamakan juga “kaum sarungan”.

Orang Myanmar umumnya bertubuh kecil dan berpinggang ramping seperti yang anda lihat pada foto-foto di atas. Saya jarang menemukan orang Myanmar yang  bertubuh gemuk atau obesitas. Mungkin karena pola makan orang Myanmar yang tidak kaya lemak, mungkin juga karena orang-orangnya senang berjalan kaki.

Kembali ke kampus YTU di atas. Jika di negara kita program studi S1 apapun lamanya  empat tahun (atau delapan semester), maka di Myanmar program studi sains dan teknik berlangsung selama enam tahun. Wah lama sekali ya. Ternyata hal ini karena sistem pendidikan dasar dan menengah di Myanmar hanya berlangsung selama 10 tahun (SD enam tahun, sekolah menengah empat tahun). Jadi, selama dua tahun pertama di perguruan tinggi mahasiswa mendapat mata kuliah sains yang cukup  banyak sebagai penguatan. Meskipun S1 di YTU lamanya enam tahun, tetapi usia mereka tidak terlalu tua untuk lulus, karena di Myanmar usia wajib sekolah dimulai dari umur lima tahun.

Di YTU tidak hanya ada program S1 (bachelor), tetapi juga terdapat program magister (S2) dan doktoral (S3). Program magister lamanya dua tahun, sedangkan program doktoral antara tiga hingga lima tahun. Sebagai perguruan tinggi teknik terkemuka di Myanmar, seleksi mahasiswanya sangat ketat. Setiap tahun YTU hanya menerima 200 orang mahasiswa S1. Bandingkan di ITB setiap tahun menerima 3500 hingga 4000 orang mahasiswa baru S1. (BERSAMBUNG)

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 3 Komentar

Berkunjung ke Yangon, Myanmar (Bagian 1)

Awal bulan Oktober yang lalu saya dan beberapa orang teman dari kampus melakukan perjalanan konferensi ke Yangon, Myanmar. Konferensi yang kami ikuti adalah Regional Conference on Computer and Information Engineering (RCCIE)  yang disponsori oleh AUN/SEED-Net. Konferensi RCCIE diselenggarakan di kampus Yangon Tecchological University (YTU) di kota Yangon. Yangon (dahulu Rangon atau Rangoon) dulunya adalah ibukota Myamar, sekarang ibukota Myanman pindah ke Naypyidaw. Saya sama sekali belum pernah ke Myanmar, bahkan tidak pernah membayangkan negara ini masuk dalam salah satu kunjungan saya. Ya, Myanmar memang bukan negara yang populer untuk tujuan wisata, apalagi untuk tujuan konferensi.

Sebelum berangkat ke Yangon, ada keraguan di dalam pikiran saya. Pertanyaan yang menggelayut di dalam pikiran saya adalah apakah aman ke sana, mengingat Myanmar  sering dilanda konflik etnik dan agama. Konflik yang menjadi perhatian dunia adalah pertikaian antara etnik Rohingya dengan kaum Budha di negara bagian Rakhine. Berita-berita tentang penderitaan etnik Rohingnya, etnik yang teraniaya dan tidak diakui oleh negara Myanmar, masih belum hilang dalam ingatan saya. Bahkan, saya tidak bisa mentransfer biaya registrasi konferensi dari bank BNI ke bank penerima di Myanmar, karena bagian kliring internasional Bank Indonesia menolak mentransfer uang dengan alasan Myanmar dikategorikan sebagai negara beresiko tinggi (high risk). Uang yang saya transfer dikembalikan lagi. Jadi, terpaksalah nanti saya membayar tunai di tempat konferensi di Yangon. Sebegitu mengkhawatirkankah kondisi di Myanmar sehingga bank di tanah air menolak transfer uang ke sana?

OK, kekhawatiran itu saya buang jauh-jauh. Di Yangon kan ada Kedubes Indoensia, itu berarti orang asing seperti saya aman-aman saja  ke sana. Jikalau tidak aman, tentu Kedubes Indonesia di Yangon sudah tutup atau setidaknya ada travel warning ke sana. Dari Jakarta atau Bandung tidak ada penerbangan langsung ke Yangon, jadi kami harus memakai pernerbangan transit. Kami naik pesawat Malaysian Airlines yang transit di Kuala Lumpur setengah jam, lalu berganti pesawat Malaysia Airlines lain ke Yangon. Total waktu tempuh dari Jakarta ke Yangon adalah 4 jam. Oh iya, saya membeli tiket Malaysia Airlines cukup murah lho, karena saya membelinya PP maka mendapat diskon 30% untuk sekali perjalanan. Jadi, harga tiket Malaysia Airlines sekali jalan hanya Rp 1,9 juta saja, cukup murah untuk perjalanan sejauh itu. Selain Malaysia Ailines, ada pilihan lain yaitu  menggunakan Air Asia atau Lion Air tetapi transit di Bandara Don Muang Bangkok. Harga tiketnya juga tidak jauh beda dengan Malaysia Airlines tadi.

Setelah menempuh penerbangan empat jam, sampailah kami di Bandara Yangon International Airport. Bandara ini terlihat tidak terlalu besar, agak mirip dengan bandara Halim Perdanakususmah di Jakarta dari penampakannya.

14463087_1221336271267729_4655152163938694164_n

Bandara Yangon International Airport

14484627_1221336307934392_8556261210078546464_n

Terminal kedatangan internasional di Bandara Yangon

Tidak diperlukan visa dari Indonesia  ke Myanmar, karena sebagai sesama negara ASEAN tidak diberlakukan visa. Pemeriksaan imigrasi di Bandara Yangon tidak memerlukan waktu lama dan tidak terlalu ketat. Kita dapat keluar bandara dengan cepat. Sebelum keluar bandara, kita perlu menukar uang dolar dengan mata uang Myanmar, kyat, di kios money changer yang berjejer di dekat pintu keluar. Di Indonesia tidak ada money changer yang menyediakan mata uang Myanmar, jadi kita mungkin memerlukan mata uang kyat ini untuk berbelanja selama di negara ini.  Satu kyat sama dengan sepuluh rupiah, atau 1 US $ setara dengan Rp12.000 (tergantung kurs). Jika anda tidak membawa dolar, anda  tidak perlu khawatir, karena mesin ATM berlogo VISA dapat mengeluarkan lembaran uang kyat dengan menggunakan kartu ATM bank yang kita bawa dari tanah air.

Selama perjalanan dari bandara ke hotel saya melihat pemandangan yang tidak jauh beda kondisinya dengan di Indonesia. Suasana perkotaan di Myanmar, sudut-sudut jalan, rumah penduduk, dan lain-lain persis seperti di Indonesia. Hilir mudik kaum laki-laki yang memakai sarung -yang disebut longyi– dan mereka yang berdiri di pinggir jalan. Lalu, ada pedagang kaki lima meramaikan pinggir jalan menjajakan makanan, mainan, asesori ponsel, dan barang-barang lainnya.Kemacetan di jalan adalah hal yang biasa di Yangon. Suhu udara di Yangon seperti di Jakarta, lumayan panas. Kendaraan di Yangon mengambil rute di lajur kanan (bukan kiri seperti di negara kita), namun menariknya setir mobil ada yang di kanan dan sebagian mobil setirnya di kiri. Tidak ada motor di jalanan kota Yangon, karena motor dilarang digunakan di jalan raya. Seperti halnya di negara kita, pedagang asongan memanfaatkan kemacetan untuk menjajakan barang.

img_20161003_080405_hdr

Warga Myanmar memakai longyi hilir mudik di kota Yangon, dipotet dari dalam bus. Setir mobil ada di kanan atau di kiri, namun jalur jalan yang dipakai tetap jalur kanan

Kami menginap di Hotel The Summitpark View yang terletak agak di pinggir kota Myanmar. Ini hotel bintang lima yang berusia sudah agak lama, lokasinya dekat dengan pagoda Shwedagon yang terbuat dari emas. Dari atas lantai lima hotel saya dapat menyaksikan puncak pagoda Shwedagon yang merupakan vihara terbesar di Myanmar dan menjadi ikon negara Myanmar. Tentang pagoda ini akan saya ceritakan pada tulisan selanjutnya.

img_20161002_172510

Hotel The Summitpark View

14570217_1221367301264626_4124758224948001496_n

Puncak pagoda Shwedagon yang terbuat tampak dari lantai lima hotel The Summitpark View

Orang Myanmar sedikit sekali yang bisa berbahasa Inggris, jadi bahasa isyarat atau bahasa  tubuh cukup menolong selama di sini. Kebanyakan papan pengumuman ditulis dalam aksara Myanmar, seolah-olah seperti tulisan yang terenkripsi, he..he (jadi ingat kriptografi).

14568094_1221473964587293_8992220162112619834_n

Tulisan beraksara Myanmar di sebuah taman yang saya tidak mengerti.

Kota Yangon adalah kota yang padat penduduk. Di sepanjang jalan dari hotel ke kampus YTU saya menyaksikkan pemandangan yang mirip dengan suasana kota Jakarta pada tahun 1970-1980an, seakan-akan kita terlempar ke masa lalu ibukota Jakarta (seperti yang sering saya lihat pada film-film lama). Bus-bus tua yang padat penumpang berseliweran di jalan. Benar-benar bus tua, sepertinya buatan India. Penduduk golongan menengah ke bawah tinggal di apartemen yang tampak kusam. Unit-unit apartemen itu terlihat sempit. Kabayang nggak, apakah untuk naik ke lantai atas menggunakan lift atau naik tangga saja?

14457485_1222365337831489_304060635408771773_n

Bus-bus yang padat penumpang

14519722_1222365244498165_2511217800201449755_n

Bus tua dan gedung-gedung tua di belakangnya

14595837_1222365461164810_3653263834140904795_n

Angkot?

14520410_1222365517831471_9212539844757672083_n

Apartemen tua yang menjadi tempat tinggal penduduk kota Yangon golongah menengah ke bawah

img_20161003_075403_hdr

Apartemen lainnya

Pemandangan kusam seperti foto-foto di atas tidak akan kita lihat di tengah kota Yangon. Gedung-gedung tinggi, beberapa jalan layang, dan hotel-hotel berbintang  modern menghiasi pusat kota. Namun secara umum kondisi di Yangon memang masih tertinggal jauh dibandingkan Jakarta.

Meskipun mayoritas penduduk Myanmar beragama Budha, namun ada sedikit penduduk muslim di sana. Di kota Yangon saya menemukan beberapa masjid di beberapa ruas jalan. Masjidnya kecil, terjepit di antara banguan-banguan pertokoan. Masjid itu terlihat bergaya India, sepertinya merupakan masjid komunitas muslim India. Penduduk Myanmar terdiri dari lebih dari seratus etnis, salah satunya etnis India/Tamil yang beragama Hindu dan Islam. Etnis Rohingya yang tidak diakui oleh Myanmar adalah etnis beragama Islam, mereka mayoritas berada di bagian barat daya negara Myanmar (negara bagian Rakhine).

14516475_1222271761174180_8237873791968825119_n

Masjid bergaya India yang terjepit di antara bangunan pertokoan dan apartemen

14563519_1222271827840840_7864695441899778715_n

Masjid lainnya di pinggir jalan

14448904_1222365657831457_9141506069297873220_n

Kuil Hindu. Burung gagak sangat banyak beterbangan di kota Yangon

Keberadaan masjid di Yangon menunjukkan bahwa penduduk kota Yangon umumnya lebih moderat dan lebih terbuka menerima perbedaan. Konflik berlatar belakang etnik dan agama tidak sampai ke kota Yangon. Konflik rasial itu mungkin lebih banyak terjadi di pedalaman Mynamar. Jadi, kekhawatiran saya tentang rasa aman berada di kota Yangon ternyata tidak terbukti. Nyatanya saya merasa biasa saja berada di sini, tidak ada yang perlu ditakutkan. Penduduk Yangon menurut saya adalah warga yang ramah. (BERSAMBUNG)

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Temanku Menuju Bombana 1

Musim Pilkada datang lagi. Ratusan Pilkada akan berlangsung di banyak daerah di tanah air untuk memilih kepala daerah yang baru (bupati, walikota, gubernur). Sayangnya hampir semua berita tentang ratusan Pilkada itu tenggelam oleh pemberitaan tentang Pilkada DKI  Jakarta yang heboh dengan isu agama.  Berita Pilkada di daerah nyaris tidak terdengar gegap gempitanya.

kasra

Baiklah, kita tinggalkan hiruk pikuk Pilkada DKI Jakarta dulu. Salah satu temanku semasa kuliah di ITB dulu sekarang maju mencalonkan diri menjadi Bupati Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Kasra Munara namanya, dia alumni ITB angkatan 1985, seangkatan dengan saya di ITB, tapi beda Jurusan. Saya dari Jurusan Informatika, sedangkan Kasra dari Jurusan Kimia. Kasra Munara diusung oleh empat Parpol yaitu PPP, PKS,PDIP dan PBB. Dia berpasangan dengan Man Arfah, pasangan calon Bupati-Wakil Bupati. Mereka mengusung tagline BERKAH, yaitu singkatan “Bombana Baru dan Maju Bersama Kasra dan Arfah”.

Sebelum Kasra, sudah ada teman seangkatanku tahun lalu ikut kompetisi Pilkada di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Namanya Jaka Sumanta, teman kuliah di Jurusan Informatika ITB angkatan 1985. Namun sayang dia tidak menang dalam Pilkada Kabupaten Sragen tersebut.

Saya mengenal Kasra sejak tahun pertama di ITB. Waktu itu saya dan Kasra ikut pelatihan Panitia Pelaksana Program Pelaksana Ramadhan (P3R) 1405 H di Masjid Salman ITB tahun 1986. P3R itu seluruh anggota panitianya adalah mahasiswa tingkat 1 ITB dari berbagai Jurusan (sekarang Program Studi). Jumlah anggota P3R sekitar 200-an orang. Beberapa bulan sebelum bulan Ramadhan datang, kami diberi pelatihan oleh kakak-kakak mentor selama dua hari dua malam di Masjid Salman. Di sanalah saya berkenalan dengan Kasra karena satu kelompok mentoring. Saya tanya dari mana asalnya, dia menjawab dari Pulau Buton. Wah, mendengar Pulau Buton saya teringat pelajaran Ilmu Bumi di Sekolah Dasar. Yang saya ingat tentang Pulau Buton adalah pulau penghasil aspal di Indonesia. Jadi jika ingat aspal maka pasti ingat Pulau Buton. Namun saya belum pernah pergi ke Pulau Buton. Yang saya tahu Pulau Buton itu di Sulawesi, tepatnya di Propinsi Sulawesi Tenggara.

pulau_buton

Saya sering terkesan dengan teman-teman mahasiswa ITB dari berbagai daerah di tanah air. Mahasiswa ITB berasal dari Sabang sampai Merauke. Pulau Buton menurut saya pulau yang sangat jauh karena terletak di kawasan Indonesia Timur. Perlu waktu tiga hari tiga malam untuk berlayar dengan kapal penumpang PELNI dari pelabuhan Bau-bau di Pulau Buton menuju Jakarta.

Saya cepat akrab dengan Kasra karena kami sama-sama putra daerah di ITB (saya dari Padang). Selepas kepanitiaan di P3R saya masih sering bertemu dengan Kasra di dalam kampus (kampus ITB di Jalan Ganesha itu tidak luas, sehingga intensitas bertemu dengan teman-teman dari berbagai jurusan cukup sering). Meskipun berbeda Jurusan, saya dan Kasra tetap menjalin persahabatan. Saya sering mengunjunginya yang tinggal di Asrama Mahasiswa ITB  Rumah H di Jalan Sawunggaling (sekarang menjadi Hotel Sawunggaling). Di tahun terakhir kuliah saya juga tinggal di asrama mahasiswa ITB, tetapi di Rumah C di Jalan Skanda. Ketika liburan panjang tiba saya berkirim surat kepada Kasra yang waktu itu pulang kampung ke Buton. Saya mengutarakan keinginan untuk ikut dengannya pulang kampung berlayar ke Pulau Buton. Saya ingin sekali mengunjungi Pulau Buton itu dan ingin melihat kehidupan masyarakat di sana. Hingga sekarang keinginan ke Buton belum terlaksana meskipun tahun lalu Kasra pernah mengajak ke sana.

Setelah lulus dari ITB saya mendengar Kasra bekerja di luar negeri di perusahaan eksplorasi minyak Schlumburger. Selama bekerja di Schlumburger dia sudah sering berpindah-pindah kota di berbagai belahan dunia karena ditempatkan oleh perusahaaanya.

Setelah sekian lama bekerja di luar negeri, Kasra berniat untuk pulang kampung untuk membangun tanah kelahirannya di Bombana dengan melamar menjadi calon Kepala Daerah di sana. Dimanakah Bombana itu? Setelah saya cari petanya di Google, Kabupaten Bombana itu sebagian berada dataran Pulau Sulawesi dan sebagian lagi di Pulau Kabaena (lihat peta di bawah pada bagian yang berwarna merah, sumber peta dari sini). Mengapa bukan di Buton, mengapa di Bombana? Menurut Kasra dia  besar dan sekolah di Buton (karena ayahnya yang TNI ditugaskan di sana), namun kampung asalnya ya di Bombana ini.

sulawesi_tenggara_kabupaten_bombana

Sebagai seorang teman  seangkatan tentu saya mendukung langkahnya untuk menjadi Bombana 1. Saya mengenal Kasra sebagai orang yang baik dan humble. Menurutku  dia punya kapasitas menjadi pemimpin karena semasa mahasiswa aktif dalam kegiatan di Himpunan Mahasiswa Kimia. Pengalaman kerjanya yang melanglangbuana di luar negeri pasti berguna untuk membangun tanah kelahirannya. Meski saya tidak bisa memilih, karena bukan warga Bombana, namun saya berharap Kasra terpilih sebagai Bupati Bombana. Selamat dan sukses, kawan!

Dipublikasi di Indonesiaku, Seputar ITB | Meninggalkan komentar

Surat Al-Maidah 51 yang Dipermasalahkan

Perdebatan tentang kasus bermuatan agama  yang diucapkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ahok, tentang  Surat Al-Maidah 51 di Kepulauan Seribu akhir September yang lalu tampaknya belum akan selesai. Ahok memang sudah meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan dari ucapannya itu (Ahok bersikukuh tak ada yang salah tentang ucapannya itu, tetapi hanya meminta maaf atas kegaduhan yang timbul), dan permintaan maafnya sudah diterima, namun kasus ini tetap diproses secara huku karena ormas-ormas Islam sudah membawa masalah ini ke ranah hukum. Kita tunggu keseriusan polisi dalam menangani kasus ini.

Kesalahan Ahok menurut saya bukan pada surat Al-Maidah yang dia permasalahkan itu, tetapi karena penggunaan kata “bohong” yang disambungkannya dengan surat Al-Maidah 51. “Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu, gak bisa pilih saya, ya — dibohongin pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu lho“, katanya (transkip lengkap sila baca di sini). Memang Ahok tidak mengatakan Surat Al-Maidah itu bohong, atau Al-Quran itu bohong. Tidak. Tetapi, menyandingkan  kata “bohong” dengan ayat suci dampaknya sangat besar. Kata “bohong” adalah kata yang negatif. Kalimat Ahok ini bisa ditafsirkan dua macam:

(1) Para ulama yang mengajarkan ayat tersebut di dalam ceramah agama berarti telah melakukan kebohongan. Jadi jika ulama membahas Surat Al-Maidah 51 di dalam pengajian kepada ummat berarti mereka telah mengajarkan kebohongan.

(2) Kata “pakai” biasanya diikuti dengan kata objek. Misalnya “dipotong pakai pisau”, maka pisau adalah alat untuk memotong. Pada pernyataan Ahok di atas berarti Surat Al-Maidah 51 adalah alat untuk melakukan kebohongan.

Andaikan Ahok tidak menyebut kata “bohong” sehingga kalimatnya menjadi begini:

Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu, gak bisa pilih saya, ya — karena pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu lho.

maka tidak akan ada kegaduhan yang timbul. Tapi nasi sudah menjadi bubur, kata yang terucap tidak dapat ditarik lagi. Forgiven but not forgotten.

Dalam pandangan saya, Surat Al-Maidah ayat 51 itu tidak ada yang salah. Ia merupakan Wahyu Allah SWT yang dijadikan tuntutan bagi orang Islam dalam memilih wali, pemimpin, atau teman dekat (kata awliya di dalam ayat tersebut bisa diartikan wali,  pemimpin, atau teman dekat). Karena merupakan tutunan agama, maka siapapun yang mengimani Kitab Suci maka ia wajib mematuhinya, namun jika anda tidak mau mempercayainya juga terserah anda, karena pertanggungjawaban setiap individu adalah pada Hari Akhir nanti.

(Update 9/11/2016. Tulisan lain yang membahas tentang makna perkataan Ahok dapat dibaca di sini:
1. Membongkar Argumentasi “Dibohongi Pakai Surat Al Maidah Ayat 51”
2. Pakar Bahasa Analisis Kalimat Krusial Ahok: Dibohongin Dibodohin
)

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | 39 Komentar

Ahok yang Kontroversial

Hiruk pikuk Pilkada DKI (Pemilihan Gubernur DKI Jakarta) telah menyita perhatian masyarakat Indonesia. Meskipun Pilkada tersebut di lingkup DKI Jakarta, tetapi orang-orang di wilayah lain di Nusantara ikut membicarakannya, juga ikut terbawa emosi dan perasaannya. Jakarta adalah barometer perpolitikan di tanah air, apa yang terjadi di Jakarta akan mempengaruhi konstelasi politik di tanah air. Pilkada DKI saat ini menjadi seksi karena Gubernur DKI dianggap batu loncatan meraih kekuasan lebih tinggi, yaitu menjadi Presiden.

Pilkada DKI tidak akan menjadi “heboh” nasional jika calon gubernur yang bertarung bukan  sosok kontroversial, yaitu petahana (incumbent) Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama. Selain Ahok-Jarot, ada dua pasangan calon gubernur lain yang maju menjadi rivalnya yaitu Anies Baswedan – Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono – Sylvi. Mengapa Ahok menjadi sosok kontroversi, tidak lain karena tabiatnya yang temparemantal dan kata-katanya yang membuat orang-orang bereaksi dengan keras. Ahok terkenal ceplas ceplos berbicara dan suka memarahi bawahannya di depan publik.

Puncak kontroversi Ahok adalah ketika baru-baru ini dia mengeluarkan kalimat yang menyinggung kitab suci Al-Quran terkait surat Al-Maidah ayat 51. Blunder memang, karena menurut saya tidak sepantasnya Ahok menyinggung ayat-ayat dari kitab suci agama lain di ruang publik. Masalah agama adalah hal sangat sensitif.  Meskipun Ahok berdalih tidak bermaksud melecehkan, namun kata-kata yang diucapkannya itu sudah terlanjur memancing kemarahan sebagian umat Islam. Sekarang proses hukum sedang bergulir di kepolisian, Ahok diadukan dengan tuduhan penistaan agama. Kita tidak tahu bagaimana akhir kisah yang menghebohkan ini.

Menurut pandangan saya, meskipun Ahok itu beretnis Tionghoa dan beragama Kristen, sebenarnya kedua hal ini tidaklah terlalu dipersoalkan orang. Gubernur Jakarta dulu pun pernah dari kalangan non-muslim (Henk Ngantung). Sudah ada contoh-contoh Kepala Daerah lain yang berbeda agama yang menjadi walikota, bupati, atau gubernur di daerah yang penduduknya mayoritas Islam, misalnya Walikota Solo sekarang, Gubernur Kalimantan Tengah yang bernama Teras Narang, Gubernur Kalimantan Barat, Gubernur Maluku, dan lain-lain. Meskipun ada hal-hal yang menyinggung soal SARA dalam masa Pilkada, namun skalanya kecil dan tidak menimbulkan gesekan yang berarti. Karakteristik mayoritas orang Islam di Indonesia adalah Islam kebanyakan yang tidak terlalu kuat agamanya, tidak menjalankan sepenuhnya ajaran agama, namun mudah terprovokasi jika ada provokator menyusup.

Sayang, Ahok tidak membangun empati dari kalangan mayoritas sejak dia menggantikan Jokowi. Alih-alih meraih simpati, Ahok malah mencari “musuh” dengan melontarkan kata-kata yang bersifat menyerang, mertendahkan, kata-kata kasar dan kotor, mempermalukan orang lain, menunjukkan emosi yang meledak-ledak di depan umum, dan menyingggung hal-hal yang berbau SARA, sesuatu yang sangat sensitif bagi penduduk Indonesia. Selama ia menjadi Gubernur selalu gaduh. Ketidaksukaan (sebagian) masyarakat kepada sifat Ahok ini diperparah lagi dengan kebijakannya yang menggusur pemukiman kumuh dan ilegal dengan pendekatan kekuasaan dan kekuatan aparat TNI dan Polri, jauh berbeda dengan cara-cara Jokowi yang lebih persuasif. Meskipun penggusuran dan relokasi merupakan program yang legal, namun karena dilakukan dengan cara yang kurang manusiawi dan kurang persuasif, maka yang dihasilkan adalah antipati.

Namun, Ahok tetaplah memmpunyai pendukung setia dan militan. Mereka menilai Ahok adalah sosok yang tegas. Gaya kepemimpinannya dianggap anti mainstream karena mendobrak kemapanan para pemimpin yang selama ini dianggap terlalu protokoler dan birokratis. Mereka menyukai gaya Ahok yang ceplas ceplos dan apa adanya. Bagi pendukung setia Ahok, sifat Ahok yang kasar dan temparemantal tidaklah mereka persoalkan. Pendukung Ahok yang militan sekalipun selalu berusaha mencari alasan pembenaran terhadap apapun yang dilakukan oleh Ahok.

Namun kita tetap harus adil menilai Ahok. Kinerja Ahok membenahi Jakarta tidak boleh dinafikan begitu saja. Banyak hal-hal baik yang telah dilakukan Ahok meskipun masih perdebatan. Ahok telah bekerja keras dan menurut saya itu patut diapresiasi. Program-programnya tentu ada yang berhasil dan ada yang masih dalam penyelesaian. Sayangnya, prestasinya ini tertutup oleh attitude-nya yang kontroversi itu. Dia meminta jangan menyinggung SARA, namun dia pula yang melontarkan hal berbau SARA.

Saya berandai-andai, andai saja Ahok sejak awal membangun empati dan mencuri hati rakyat Jakarta maupun rakyat Indonesia, mungkin jalannya untuk kembali menjadi Gubernur akan mulus. Pasti banyak orang atau partai yang mendukungnya. Namun sayang nasi sudah menjadi bubur, terlanjur rusak karena Ahok tidak mampu menjaga lisan maupun sikap. Sekarang tinggal bagi rakyat Jakarta untuk menentukan pilihan di bilik suara, siapa yang akan menjadi pemimpin mereka lima tahun yang akan datang.

Dipublikasi di Indonesiaku | 8 Komentar

Rasulullah Sudah Mengajarkan Cara Mandi yang Benar dan Sehat

Sebuah artikel yang saya kutip dari laman web ini tampaknya masuk akal, meskipun secara medis perlu mendapat penjelasan yang lebih ilmiah. Saya akan mengulasnya di bawah ini:

Sering kita dengar banyak orang jatuh dan terkena stroke di dalam kamar mandi. Yang jadi pertanyaan mengapa tidak di tempat lain? Perlu untuk direnungkan mengapa kita selalu mendengar kabar orang jatuh di kamar mandi akibat serangan stroke. Mengapa kita jarang mendengar orang jatuh akibat serangan strok ditempat tempat lain?

Seorang penceramah professor di universitas di Malaysia, UITM,  yang juga terlibat dengan kegiatan olah raga negara menasihatkan supaya pada waktu mandi jangan membasahi kepala dulu, namun basahi bagian badan lainnya.

Ini karena apabila kepala basah dan dingin, secara tiba-tiba darah akan dipompa mengalir ke kepala untuk menghangatkan kepala, logika ‘warm blooded human’. Dan jika ada saluran pembuluh darah di daerah kepala yang mengalami penyempitan akibat kolesterol atau lainnya maka dapat terjadi kondisi pecahnya pembuluh darah akibat derasnya aliran darah yang tiba-tiba di kepala. Ini kerapkali berlaku di kamar mandi.

Berikut cara mandi yang benar :

1. Pertama siramkan air di telapak kaki.
2. Kemudian dilanjutkan dengan segayung di betis.
3. Segayung di paha.
4. Segayung di perut.
5. Segayung di bahu.
6. Berhentilah sejenak 5-10 detik

Kita akan merasakan seperti uap/ angin yang keluar dari ubun-ubun bahkan meremang, setelah itu lanjutkan dengan mandi seperti biasa.

Ini ibarat sebuah gelas yang diisi air panas kemudian kita isi dengan air dingin. Apa yang terjadi? Gelas akan retak,  bahkan pecah!

Jika perubahan suhu yang tiba-tiba ini terjadi pada tubuh kita apa yang retak dan pecah?

Suhu tubuh kita cenderung panas dan air itu dingin, maka yang terjadi jika kita mandi langsung menyiram pada badan atau kepala, uap yang harusnya keluar jadi terperangkap dan dapat membawa maut karena pecahnya pembuluh darah.

Maka sebab itu kita sering menjumpai orang jatuh di kamar mandi tiba-tiba kena ‘stroke’. Boleh jadi kita sering masuk angin karena cara mandi kita yang salah. Boleh jadi kita sering migrain kerana cara mandi yang salah.

Cara mandi ini baik bagi semua umur terutama yang memunyai sakit diabetes, darah tinggi, kolesterol dan migrain/ sakit kepala sebelah.

~~~~~~~~

Cara mandi seperti yang dituliskan dalam artikel di atas sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah mengajarkan kita tatacara mandi besar  atau mandi wajib (misalnya karena junub, mimpi basah, selepas haid, dsb). Mandi besar dimulai dengan membasuh kedua telapak tangan, mencuci kemaluan, lalu berwudhu.  Ini adalah sebuah cara adaptasi agar tubuh tidak kaget dengan air (dingin). Selanjutnya, setelah berwudhu, mulailah menyiram kepala sehingga  seluruh tubuh basah dengan air (baca: Tata Cara Mandi Junub Sesuai Tuntunan Rasulullah).

Tidak hanya ketika mandi besar, untuk mandi yang lain pun kita disunnahkan berwudhu terlebih dahulu. Maknanya selain untuk menyucikan, juga agar tubuh beradaptasi dengan air, sehingga terhindar dari stroke  karena mendapat kejutan dingin tiba-tiba. Inilah hikmahnya membasuh tubuh perlahan-lahan dengan air dari bawah ke atas hingga akhirnya ke kepala.

Demikianlah, Rasulullah sudah mencontohkan mandi yang benar dan sehat sejak 15 abad yang silam, sebelum ilmu pengetahuan kemudian menemukan kebenarannya. Shalawat dan salam tercurah padamu ya Rasulullah.

Dipublikasi di Agama, Gado-gado | 2 Komentar