Lumpiah Basah Jalan Ganesha yang “Ngangenin” Alumni ITB

Ada satu jajanan kaki lima di depan kampus ITB (Jalan Ganesha) yang menjadi nostalgia dan bikin kangen alumni ITB. Apa itu? Jajanan sederhana bernama lumpiah basah. Biasanya lumpiah itu digoreng, tetapi lumpiah yang satu ini, sesuai namanya, tidak digoreng, tetapi dibungkus di dalam sebuah kulit yang sudah dilumuri dengan adonan tertentu, sedangkan isinya berupa sayuran yang ditumis. Maka, tampilannya akan terlihat mengandung kuah  atau basah.

Gerobak pedagang lumpiah basah di Jalan Ganesha

Gerobak pedagang kaki lima penjual lumpiah basah biasanya mangkal di depan Masjid Salman. Kalau kita mau ke Salman dan melewati gerobak pedagang ini maka terciumlah bau wangi bawang putih yang sedang dirajang di penggorengan.

lumpiah4

Mamang sedang membuat lumpiah (Foto ini dari Ginar IF2005)

Lumpiah basah terdiri dari kulit yang sudah dilumuri dengan adonan aci dan gula merah. Di atas kulit ini dimasukkan sayuran yang sudah ditumis dengan bumbu-bumbu dan  diorak-arik dengan telur.  Biasanya sayuran di dalam lumpiah adalah  rebung, tetapi pedagang lumpiah basah di Ganesha menggantinya dengan bengkoang yang sudah dibumbui sehingga baunya tidak terlalu tajam lagi (kalau rebung baunya khas dan tajam). Selain rebung juga ada tauge dan lain-lain. Untuk menambah selera dan sensasi pedas, maka ditambahkan sambal cabe rawit. Setelah matang lalu ditaruh di atas daun pisang dan dimakan menggunakan sumpit. Panas-panas dan pedas.

Lumpiah yang siap dimakan

Hmmmm….sedapnya

Porsi sayuran di dalam lumpiah banyak sekali sehingga memakan satu lumpiah basah itu sudah mengenyangkan. Harganya hanya 10 ribu rupiah saja.  Umumnya penggemar lumpiah basah adalah para mahasiswi. Mamang penjual lumpiah terlihat repot meladeni para pembeli ini terutama pada jam makan siang.

Di Bandung penjual lumpiah tidak terlalu banyak jumlahnya. Di kota lain di Jawa Barat  juga ditemukan pedagang lumpiah basah. Menurut cerita para alumni yang sudah mencoba bermacam lumpiah basah di berbagai tempat, maka lumpiah basah di Jalan Ganesha ini yang katanya paling enak. Mamang penjual lumpiah basah di Jalan Ganesha sudah cukup lama berjualan, mahasiswi angkatan tahun 97-an ke atas sudah mengenal si Mamang.

Saya jadi teringat cerita mahasiswiku tentang jajanan lumpiah basah di depan kampus ITB itu. Katanya lumpiah basah tidak ditemukan di kotanya (Yogya). Lumpiah basah di depan kampus selalu ngangenin, kata para alumni ITB, khususnya yang perempuan. Maka, jika ada kesempatan kunjungan ke Bandung, misalnya acara reuni di kampus, maka salah satu yang dicari adalah lumpiah basah di Jalan Ganesha ini.

Mau coba?

Dipublikasi di Makanan enak, Seputar ITB | 1 Komentar

Berkunjung ke Ho Chi Minh City, Vietnam

Setelah menghadiri konferensi internasional ICEEI 2017 di Langkawi, Malaysia, beberapa hari kemudian saya harus berangkat lagi ke Ho Chi Minh City, Vietnam, guna mengikuti konferensi RCCIE 2017. Konferensi ini  diselenggarakan di Ho Chi Minh City University of Technology (HCMUT).

Ini pengalaman pertama kali bagi saya berkunjung ke negara Vietnam. Jika disebut Vietnam maka yang terbayang bagi kita adalah Perang Vietnam, film Rambo, manusia perahu (yang mengungsi dan ditampung di Pulau Galang, dekat Batam), dan sebagainya. Tapi itu dulu, sekarang Vietnam tumbuh sebagai negara yang paling pesat pertumbuhan ekonominya. Vietnam  mampu mengejar ketertinggalannya setelah porak poranda akibat perang saudara dan intervensi Amerika.

Ibukota negara Vietnam adalah Hanoi, tetapi kota terbesar di negara itu adalah Ho Chi Minh City.  Dulu Vietnam terpecah menjadi dua negara, Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Vietnam Utara yang berhaluan komunis beribukota di Hanoi, sedangkan Vietnam Selatan ibukotannya Saigon (sekarang berganti nama menjadi Ho Chi Minh City). Ho Chi Minh adalah nama pemimpin Vietnam dulu yang menjadi father of Vietnam.

Dari Bandung tidak ada penerbangan langsung ke Ho Chi Minh City. Jadi, saya naik pesawat Malindo Air dulu dari Bandung, kemudian transit di Kuala Lumpur (KLIA) selama empat jam. Dari Kuala Lumpur banyak pilihan maskapai ke Ho Chi Minh City, bisa menggunakan Vietnam Airlines, Malaysia Airlines, Malindo Air, dan sebagainya. Saya  naik Malaysia Airlines karena untuk mengikuti konferensi ini saya mendapat sponsorship dari AUN-SEED/Net, dan pesawat yang dipilihkan adalah Malaysia Airlines.

Bandara Ho Chi Minh City

Jadwa konferensi yang padat dari pagi sampai sore tidak memungkinkan saya untuk berjalan-jalan ke tempat-tempat yang menarik di kota Ho Chi Minh City.  Meski bukan ibukota Vietnam, Ho Chi Minh City adalah kota metropolitan yang besar dan padat penduduk. Gedung-gedung pencakar langit bertebaran di mana-mana. Menurut guide orang Vietnam, penduduk kota Ho Chi Minh sekitar 10 juta jiwa. Hmmm…sepadat kota Jakarta ya.

Sesudut kota Ho Chi Minh City dari lantai sembilan Hotel Athena, tempat saya menginap.

Berada tiga hari di kota ini saya menyimpulkan kota Ho Chi Minh adalah kota dengan lalu lintas yang sangat semrawut. Jalan-jalan dikuasai oleh ribuan sepeda motor. Mobil dan kendaraan roda empat tidak terlalu banyak jumlahnya dibandingkan sepeda motor. Para biker (pengemudi sepeda  motor) tidak mempedulikan kedisiplinan berkendara. Mereka dengan seenaknya menyalip kendaraan lain tanpa bersalah, menyerobot,  mengemudikan motor dengan kencang, dan mengambil jalur yang berlawanan dengan cueknya. Tidak ada polisi yang terlihat mengatur lalu lintas. Sangat ngeri menyeberang jalan di kota Ho Chi Minh City, kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita dilindas sepeda motor yang melaju kencang.

Yang mengherankan saya, meskipun para pemotor itu suka menyerobot dan menyalip kendaran roda empat dengan tiba-tiba, tidak ada yang marah-marah. Supir bis kami terlihat tenang saja ketika sebuah motor menyalip dari arah belakang atau arah depan  dengan tiba-tiba sehingga hampir saja tertabrak. Tidak keluar umpatan dari mulutnya karena disalip motor dengan tiba-tiba. Kalau kejadian tersebut di negara kita pasti sudah terdengar umpatan dan sumpah serapah dari mulut supir kendaraan roda empat  yang disalip tiba-tiba. Sepertinya kejadian salip menyalip dan serobot menyerobot itu sudah biasa di Ho Chi Minh City. Saya yang menyaksikan motor-motor salip-menyalip secara tiba-tiba tidak dapat menahan sport jantung. Supir mobil di Ho Chi Minh City sudah lihai tampaknya.

Universitas Teknologi Ho Chi Minh City (HCMUT) adalah universitas papan atas di Vietnam. HCMUT sudah berusia 64 tahun. Kampusnya resik dan banyak pepohonanan sehingga terasa adem berada di sini di tengah cuaca kota Ho Chi Minh yang panas.

Gerbang kampus HCMUT

Pepohonan yang rindang di dalam kampus

Narsis di HCMUT

Latar belakang adalah gambar pemimpin Vietnam masa lalu, Ho Chi Minh

Bangku-bangku sepanjang jalan untuk duduk-duduk atau belajar

Seperti halnya kampus-kampus di Indonesia, di luar kampus banyak bertebaran tempat usaha foto copy dan pedagang kaki lima yang berjualan makanan. Rasanya saya sedang tidak berada di Vietnam, tetapi serasa berada di Indonesia saja.

Tempat usaha foto copy di luar kampus HCMUT

Pedagang kaki lima di sekitar kampus

Serasa bukan di Vietnam

OK, hanya segitu pengalaman saya di kota Ho Chi Minh City.  Seperti yang saya bilang tadi, saya tidak sempat mengunjungi tempat-tempat menarik di kota ini. Hanya pada malam hari saja kami menuju pusat kota untuk makan malam. Oh iya, bagi muslim harap berhati-hati makan di Vietnam karena sebagian besar makanan di sini tidak halal, banyak mengandung daging babi. Baik di hotel atau di restoran saya hanya berani makan ikan dan telur saja. Makan nasi goreng di hotel juga harus berani bertanya ke pelayan campurannya apa saja. Jika campurannya sayuran dan telur saya berani makan, tetapi jika ditambah dengan daging maka saya pun mundur, he..he.

Mata uang Vietnam adalah Dong. Satu Dong Vietnam nilainya setara dengan 0,6 rupiah. Jadi jangan kaget jika daftar harga di Vietnam mempunyai banyak angka nol. Nilai uang di Vietnam sangat rendah, lebih rendah dari mata uang rupiah kita. Sebagai contoh misalnya, harga sebotol Coca-cola di hotel 26.000 dong. Ketika menginap di hotel, petugas hotel meminta uang deposit sebesar 2.000.000 dong atau setara 100 dolar. Jadi, tidak hanya negara kita saja yang memiliki uang dngan nilai rendah dan banyak angka nol, Vietnam lebih parah lagi, he..he.

Vietnam adalah negara komunis. Delapan puluh persen penduduknya tidak memiliki agama atau memiliki kepercayaan lokal yang dipengaruhi oleh konfusianisme dan taoisme dari Cina (Sumber dari sini). Hanya 20% saja yang mengidentifikasikan dirinya dengan agama. Dari 20% itu agama yang terbesar adalah Budha, lalu Kristen dan Katolik, Hindu, dan Islam. Penganut Islam hanya sekitar 100 ribu yang kebanyakan dari etnis Cham di barat daya Vietnam (Sumber dari sini). Terdapat beberapa masjid di Ho Chi Minh City tetapi saya belum berhsil menemukannya. Menurut teman saya peserta konferensi dari Malaysia, di Ho Chi Minh City terdapat sebuah kampung yang bernama kampung Melayu. Di kampung ini ada masjid dan rumah makan yang menjual makanan halal. Sayang sekali saya tidak sempat ke sana karena pulang sudah malam.

Kembali ke Jakarta saya menggunakan Vietnam Airlines dari bandara Ho Chi Minh City. Maskapai ini tergabung dengan Skyteam sehingga kartu miles Garuda kita bisa dipakai di sini. Bandara Ho Chi Minh City sangat padat hari itu. Cukup lama kami antri di imigrasi. Setelah dari imigrasi kita harus antri lagi menuju ruang tunggu. Pemeriksaan di X-ray terakahir agat ketat. Kita sampai perlu membuka sepatu dan sandal lalu ditaruh di atas baki. Baru kali ini saya diminta melepas sepatu, padahal biasanya cukup ikat pinggang, dompet, jam tangan dan HP.

Antri check-in di konter Vietnam Airlines

Bandara Ho Chi Minh City sangat megah, mirip dengan Terminal 3 Soekarno-Hatta. Saya menghabiskan persediaan uang Dong dengan berbelanja di toko-toko di ruang tunggu penumpang. Saya hanya membeli mainan tempel magnetik kulkas dan durian kering. Harganya semua dalam dolar.

Ruang tunggu penumpang

Vietnam Airlines

Yang menarik di bandara ini adalah tersedia kamar-kamar tidur (sleep zone) bagi calon penumpang yang ingin beristirahat. Saya tidak tahu apakah kamar tidur ini gratis atau bayar.

Kamar-kamar tidur di bandara

Kapan-kapan saya ingin ke Vietnam lagi, tetapi bukan ke Ho Chi Minh City, melainkan ke Hanoi. Di dekat Hanoi ini ada tempat wisata yang terkenal yaiu Halong Bay. OK, suatu saat nanti jika ada kesempatan.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 3 Komentar

Memboikot Produk Suatu Negara itu Tidak Mudah

Donald Trump membuat gaduh seisi dunia. Dia mengakui Yerussalem sebagi ibukota negara Israel. Sebagai konsekuensi dari pengakuan itu, Amerika Serikat berencana akan memindahkan Kedubesnya dari Tel Aviv ke Yerussalem. Akibatnya mudah ditebak, demo di mana-mana di hampir seluruh dunia menentang kebijakan Trump itu, khususnya di negara-negara berpenduduk Muslim, termasuk Indonesia.

Pada aksi Demo Bela Palestina hari Minggu (17/12/2017) yang lalu, Majelis Ulama Indonesia menyerukan agar umat Islam Indonesia memboikot produk yang terkait Amerika dan Israel, dan menggantinya dengan produk sejenis karya anak bangsa.

Saya sendiri juga menentang keputusan sepihak Trump tersebut. Tapi, memboikot produk-produk Amerika? Tunggu dulu, itu tidaklah mudah. Negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, sudah sangat tergantung dengan semua yang dari Amerika, baik produk barang dan jasa, maupun teknologi. Di Indonesia produk yang berbau Amerika mudah ditemukan, tidak terhitung jumlahnya, sebut saja beberapa di antaranya yang terkenal seperti Coca Cola, Kentucy Fried Chicken, McDonald, Starbucks, film-film Amerika di bioskop, dan lain-lain.

Secara tidak langsung saya pribadi bukan konsumen produk-produk tersebut sehingga sangat jarang mengkonsumsinya. Saya tidak pernah mampir minum kopi di Starbucks, hanya beberapa kali pernah beli burger di McD, tidak terlalu suka fried chicken (termasuk KFC), jarang minum Coca-Cola, Fanta, dsb, sangat jarang nonton film di bioskop. Jadi, tanpa ikut memboikut pun saya tidak (atau sangat jarang) menggunakan produk-produk Amerika tersebut. Saya lebih suka makanan dan minuman khas Indonesia.

Kalau benda-benda  yang kasat mata seperti di atas mungkin bisa diboikot dengan tidak membelinya. Nah, yang sangat sulit diboikot -dan sepertinya hampir tidak mungkin- adalah produk IT (information technology), hardware maupun software. Komponen komputer saja hampir seluruhnya produk teknologi Amerika, sebut saja misalnya prosesor Intel, AMD, Apple. Begitu juga hampir semua software adalah buatan orang Amerika. Windows yang kita gunakan di komputer, program Office dari Microsoft (Microsoft Word, Excell, Power Point, dll), program utility seperti anti virus, perambah (browser) Internet (Firefox, Chrome), mesin pencari Google, dan lain-lain adalah buatan Amerika. Beralih ke Smartphone, hampir setiap hari warganet  mengakses media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Whatsapp, dan lain-lain, itu juga buatan (dari) Amerika. Bahkan blog yang anda baca ini, WordPress, adalah buatan Amerika juga.

Hampir dua pertiga penduduk bumi ini sudah sangat bergantung dengan produk IT dari Amerika. Melepaskannya untuk tidak menggunakannya bukan perkara yang mudah. produk-produk IT itu sudah menjadi kebutuhan penting manusia modern di era digital ini layaknya makanan dan minuman. Penggantinya belum tentu ada atau tidak senyaman yang ada sekarang.  Jadi, mau bagaimana? Itu baru produk IT, bagaimana dengan produk teknologi tinggi lainnya dari Amerika seperti pesawat Boeing? Hampir semua pesawat udara adalah buatan Boeing dari Amerika. Apakah anda akan menolak naik pesawat Boeing untuk pergi Umrah atau Haji?

Saya menghormati pihak-pihak yang menyeru pemboikotan. Semangatnya saya setuju, yaitu menunjukkan solidaritas dan keberpihakan. Itu mungkin dianggap sebagai salah ssatu cara untuk menekan Donald Trump. Tapi, apakah efektif? Wallahualam. Saya juga bertanya-tanya, apakah pihak-pihak yang menyeru pemboikotan dapat bersikap konsisten? Apakah mereka melakukan apa yang dikatakannya? Artinya, apakah produk-produk IT di komputer atau smartphone mereka sudah di-uninstall dari produk IT dari Amerika? Kalau tidak nanti malah jadi bahan tertawaan orang.

Saya tidak anti Amerika, tapi saya tidak suka Donald Trump. Saya tidak mau ambivalen, yaitu di satu sisi memboikot Amerika, tetapi di sisi lain masih menggunakan produk IT-nya. Sudah itu saja.

Dipublikasi di Dunia oh Dunia | 10 Komentar

Saya Indonesia, Saya Pancasila, tapi…

Beberapa bulan terakhir ini saya seringkali membaca slogan dari orang-orang di media sosial dengan tulisan seperti pada judul di atas. Saya Indonesia, atau Saya Pancasila. Ada juga yang ditambah dengan kata-kata, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI harga mati. Di satu sisi slogan ini tujuannya baik, sebab ingin menegaskan bahwa dirinya adalah orang Indonesia tulen yang mencintai bangsa dan negaranya serta meneguhkan Pancasila sebagai falsafah negaranya.

Namun, di sisi lain slogan tersebut seringkali ditujukan untuk menyindir (atau malah menyerang) orang atau kelompok orang yang berbeda pandangan dengan dirinya. Dengan menyatakan dirinya Saya Indonesia, Saya Pancasila, maka  orang atau kelompok lain yang berbeda pandangannya dengannya dianggap tidak Pancasila, anti bhinneka tunggal ika, anti NKRI, intoleran, dan sebagainya. Dengan gampangnya mereka merasa berhak untuk mencap orang lain tidak lebih Pancasila dibandingkan dirinya atau kelompoknya.

Klaim-klaim semacam ini  terjadi pasca Pilpres 2014, lalu diikuti Pilkada DKI 2017. Seperti kita ketahui Pilpres 2014 telah membuat bangsa ini terbelah. Pasca Pilpres polarisasi ini bukannya semakin lebur, tetapi semakin tajam, apalagi ditambah dengan Pilkada DKI 2017 yang merupakan Pilkada terpanas sepanjang sejarah. Sejak dua pemilu tersebut maka muncullah berbagai demo besar berjilid-jilid. Berita hoax, berita adu domba, ujaran kebencian, fitnah, dan sebagainya merajalela, yang membuat bangsa Indonesia ini berada di jurang perpecahan. Sejak itulah kata-kata seperti intoleran, radikal, anti kebhinnekaan, anti NKRI, anti Pancasila, dan sebagainya berseliweran di dunia maya maupun di dunia nyata. Maka, untuk membedakan diri atau kelompoknya dengan orang atau kelompok lain yang berbeda pandangan, maka dimunculkanlah slogan-slogan seperti di atas.

Kondisi ini tentu saja sangat menyedihkan dan berbahaya. Menyedihkan  karena menimbulkan permusuhan sesama anak bangsa. Berbahaya karena setiap orang atau kelompok memiliki tafsir sepihak untuk menilai orang lain atau kelompok lain anti Pancasila, anti bhinneka tunggal ika, anti NKRI, intoleran, radikal, dan sebagainya. Kita semua sepakat Pancasila sudah final menjadi dasar negara, tidak ada yang perlu dipersoalkan lagi. Tetapi, jika merasa berhak untuk menilai orang lain tidak lebih Pancasila dibandingkan dirinya itu saya kira sangat fatal.

Baru-baru ini seorang ustad mengalami persekusi ketika akan berceramah di Bali. Dia ditolak dan diancam untuk diusir  oleh beberapa ormas di sana karena dianggap radikal, anti NKRI, intoleran, anti Pancasila. Sang ustad dipaksa untuk berikrar, mencium bendera merah putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sebagainya. Padahal ormas-ormas itu tidak punya legalitas untuk memaksa orang lain berikrar, apalagi menuduh seseorang anti NKRI, anti Pancasila, dan sebagainya. Hal yang sama juga terjadi pada beberapa ulama yang ditolak ditolak berceramah oleh sebuah ormas keagamaan di Jawa Timur dan Jawa Barat hanya karena ulama-ulama itu dianggap anti bhinneka tunggal ika, anti NKRI, dan sebagainya.

Ormas-ormas yang mengaku paling Pancasila dan paling NKRI itu sebenarnya secara tidak sadar telah menunjukkan sikap intoleran dan anti Pancasila. Menolak orang lain mengunjungi suatu daerah di tanah air adalah melanggar undang-undang, karena setiap warga negara Indonesia berhak pergi ke mana saja di seluruh wilayah tanah air. Melarang orang lain melakukan dakwah atau beribadah, apapun agamanya, melanggar sila pertama Pancasila dan Pasal 29 UUD 1945. Melakukan persekusi (penghakiman secara sepihak) kepada orang lain adalah perbuatan melanggar undang-undang.

Biasanya persekusi dimulai dari provokasi seseorang di akun media sosialnya ( FB, Twitter, Instagram, dll) lalu postingan tersebut menyebar secara masif dan cepat di media sosial. Sentimen keagamaan atau kedaerahan membuat orang awam yang tidak paham masalah jadi ikut-ikutan ikut terpancing dan tersulut emosi. Dengan cepat massa berkumpul di suatu tempat, dan tanpa tahu siapa yang memberi komando mereka bergerak melakukan aksi persekusi terhadap orang yang disasar. Sang provokator tidak ikut di lapangan, tetapi dia puas tujuannya telah tercapai dengan menggerakkan massa untuk melakukan persekusi.  Senjata tajam pun ikut berkeliaran tetapi aparat penegak hukum seperti tidak berdaya untuk bertindak karena kalah jumlah dengan massa.

Yang saya khawatirkan dan takutkan adalah aksi persekusi itu dapat menimbulkan reaksi balasan di tempat lain. Aksi balas dendam. Itu sudah terjadi pada beberapa kasus di tanah air. Menurutku, Pasca Pilpres 2014 dan Pasca Pilkada DKI bangsa Indonesia saat ini adalah bangsa yang sakit. Gagal move on dan selalu memendam bara api kebencian kepada orang yang sudah mengalahkannya. Menyedihkan!

Dipublikasi di Indonesiaku | 8 Komentar

Jalan-Jalan ke Pulau Langkawi, Malaysia

Akhir bulan November kemarin saya ada acara konferensi ICCEI 2017 di Pulau Langkawi, Malaysia. Langkawi adalah sebuah pulau wisata di sebelah barat Semenanjung Malaka. Dari Bandung tidak ada penerbangan langsung ke Langkawi, kita harus transit dulu di bandara Kuala Lumpur (KLIA), lalu melanjutkan penerbangan ke Pulau Langkawi. Saya dan teman-teman naik Malindo Air dari Bandung ke Kuala Lumpur (KL) dan dari KL ke Langkawi. Dua jam penerbangan dari Bandung ke KL dan 50 menit penerbangan dari KL ke Langkawi. Menurut saya pesawat Malindo Air cukup nyaman juga, ruang buat kakinya lapang dan nyaman, ada hiburan di dalam pesawat (inflight entertainment) dan mendapat light meal (pizza dan kue serta minuman). Secara umum sama dengan Batik Air. Anda harus bawa earphone sendiri kalau mau mendengarkan audio inflight entertainment-nya ya.

Tempat duduk yang lapang di Malindo Air

Light meal di Malindo Air

Oke, kembali ke cerita Langkawi. Setelah menempuh perjalanan total 3 jam plus beberapa jam transit di KL, kami pun sampai di bandra udara Langkawi International Airport. Bandaranya kecil saja, mirip dengan bandara Husein Sastranegara di Bandung. Tidak ada garbarata, jadi kita dari pesawat turun ke landasan dan berjalan kaki memasuki ruang terminal.

Bandara Langkawi

Langkawi merupakan pulau andalan wisata selain Pulau Penang di Malaysia. Pulau Langkawi terletak di negara bagian Kedah, lebih dekat dengan perbatasan Thailand. Kepulauan Langkawi terdiri dari sebuah pulau utama (Pulau Langkawi) dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Di sini terdapat geopark yang sudah terdaftar di UNESCO. Kata “Langkawi” berasal dari elang dan kawi. Elang adalah nama burung dan kawi artinya batu. Jadi, Langkawi secara harafiah artinya batu elang atau batu tempat burung elang bertengger. Landamark pulau Langkawi adalah burung elang yang hinggap di batu.

Letak Pulau Langkawi

(Gambar di atas diambil dari sini)

Sebagai pulau wisata, di Langkawi terdapat sejumlah obyek wisata. Di bawah ini saya tampilkan peta wisata di Pulau Langkawi (Sumber dari sini).

Peta wisata Pulau Langkawi

Penduduk pulau Langkawi sedikit saja, hanya 100 ribu orang, tetapi pulau ini dikunjungi banyak turis asing. Kami menginap di sebuah hotel di pinggir pantai, namanya Hotel Resort World. Hotelnya bergaya arsitektur klasik dengan bangunan yang mamanjang sepanjang pantai.

Salah satu sudut hote Resort World

Sudut lain hotel Resort World

Berada di pinggir hotel ini kita serasa berada di pinggir danau, karena lautnya tenang tiada ombak. Ya, kita sebenarnya berada di sebuah laguna. Pulau-pulau kecil di depan hotel membuat laut di sini sangat tenang. Tapi, menurut cerita orang Malaysia, ketika terjadi tsunami pada tahun 2004 yang lalu, pulau ini terkena tsunami setinggi 4 meter, termasuk hotel ini juga terkena gelombang tusnami. Ada puluhan orang di Langkawi yang hilang atau meninggal akibat tsunami.

Karena waktu kami sangat sempit, kami mencuri-curi waktu mengunjungi satu tempat wisata terkenal di Pulau Langkawi, yaitu menaiki cable car yang katanya tertinggi di dunia (800 meter). Oh iya, transportasi tidak sulit di Langkawi. Selain taksi konvensional, kita juga bisa naik Grab. Dari hotel ke tempat cable  car hanya 29 ringgit saja (1 ringgit = Rp3300). Memang sebaiknya kita perlu memasang aplikasi transporatsi online seperti Grab dan Uber selama berada di luar negeri, karena terbukti bermanfaat untuk pergi ke mana-mana dengan harga yang murah.

Naik cable car yang tertinggi di dunia, terlihatlah lanskap alam pulau-pulau di sekitar Langkawi. Sayangnya hari hujan sehingga fotonya kurang jelas

Saya hanya merekam beberapa foto saja yang sayangnya kurang jelas karena faktor cuaca (maklum pakai kamera ponsel). Di bawah ini foto-foto yang lebih jelas yang saya ambil dari akun Facebook teman saya, Pak Arry Armand, yang juga ikut dalam rombongan ke Langkawi.

Cable car (Photo by Arry Armand)

Untuk naik cable car ini (isinya max 6 orang) kita harus membayar 55 ringgit. Bentangan cable car ini cukup panjang, sekitar 2 km. Ada dua titik perhentian di puncak bukit. Kita bisa berhenti dulu pada setiap perhentian ini untuk berfoto-foto sambil menikmati pemandangan yang spektakuler, Di bawah sana jurang yang dalam, di ujung sana tampak pulau-pulau.

Di titik perhentian terakhir kita bisa turun lagi dan kalau berani kita menyusuri jembatan gantung yang sebagian dasarnya terbuat dari kaca. Ngeri banget melihat ke bawah. Untuk naik jembatan gantung ini kita harus membayar 10 ringgit.

Jembatan gantung (Photo by Arry Armand)

Jembatan gantung (Photo by Arry Armand)

Kalau ingin menyusuri Pulau Langkawi lebih lengkap setidaknya dibutuhkan dua hari lagi agar semua obyek wisata bisa dikunjungi. Tapi berhubung jatah kami hanya dua hari saja di sana, maka hanya satu obyek wisata saja yang dapat kami kunjungi.

 

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 3 Komentar

Menikmati Kuliner Malam di Bandar Lampung

Dalam suatu kesempatan menjadi dosen terbang di Instiitut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung Selatan, saya menginap satu malam. Malam hari setelah sholat Maghrib di wisma, saya mulai mencari makan malam di Bandar Lampung. Kalau bakso Sonny sudah biasa, sudah sering. Kali ini supir yang mengantar tadi siang mempromosikan begini: coba pak, nasi uduk Toha, sudah terkenal di Bandar Lampung. Nasi uduk mah sudah biasa, di Bandung juga ada, tetapi umumnya dijual pada pagi hari. Malam hari ada juga sih yang menjual nasi uduk ini, umumnya pedagang soto Jawa Timur. Selain soto, pedagang juga menyediakn menu ayam goreng dan pecel lele, nah nasinya itu bisa nasi biasa atau nasi uduk. Nasi uduk adalah nasi  nasi gurih yang dimasak dengan bumbu-bumbu dan sedikit santan.

Tertarik dengan promosi pak supir, saya pun mulai mencari tempat yang menjual nasi uduk ini. Kebetulan ruko yang menjual nasi uduk Toha itu tidak jauh dari wisma, yaitu di Jalan Antasari. Nah itu dia, nasi uduk Toha yang kata orang Lampung sudah menjadi legendaris.

Nasi uduk Toha

Saya pun memesan satu porsi nasi uduk dengan lauk satu potong ayam goreng dan tempe. Ternyata yang dihidangkan lebih dari itu.  Tambahannya berupa satu piring kerupuk emping, lalap sayuran yang banyak, dan tentu saja sambal.

Satu porsi nasi uduk lengkap

Rasanya sih lumayan, memang cocok dimakan hangat pada malam hari yang dingin. Menurutku nilai nasi uduknya 7,5 lah. Sambalnya tidak pedas sekali, ada sedikit rasa manis. Rasa ayam gorengnya standard seperti ayam goreng yang dijajakan pedagang kaki lima.

Coba tebak berapa harga yang harus saya bayar untuk satu paket seperti pada gambar di atas. Empat puluh dua ribu (42.000) rupiah. Hmmmm…mahal juga, kata temanku yang membaca postingan-ku di Facebook. Dia kira sekitar 20 sampai 25 ribulah. Kalau menurut taksiranku sih sekitar 30 ribulah, karena emping dan tempenya lumayan banyak.  Yang penting saya sudah mencoba nasi uduk Toha yang legendaris di Bandar Lampung itu.

Dipublikasi di Makanan enak | Meninggalkan komentar

Bersikap Istiqamah itu Jauh lebih Sulit

Beberapa hari ini media daring ramai memberitakan artis Indonesia yang melepas hijab (jilbabnya) setelah dua tahun memakainya. Tanggapan dan komentar pun datang silih berganti. Kalau yang melakukannya orang biasa, mungkin tidak ada orang peduli, tetapi karena yang melepas hijab adalah tokoh publik, maka resiko sebagai public figure ya begitu, setiap tindak tanduknya harus siap dinilai, dikritisi, atau dikomentari.

Sebenarnya ini berita basi, sebab sudah biasa dan sering terjadi artis yang melepas jilbabnya setelah cukup lama memakainya. Sebagai orang awam, bukan hak kita untuk menghakimi mereka. Biar itu urusannya dengan Tuhan saja. Apakah mereka mempermainkan agama atau bukan, saya kurang tahu.

Setidaknya peristiwa semacam di atas memberi hikmah bagi kita.  Tiap orang ingin menjadi lebih baik dari hari kemarin. Pada kasus di atas, bagi perempuan muslimah, keputusan memakai busana muslimah dengan menutup aurat (mengenakan hijab) adalah sebuah hijrah untuk lebih mengamalkan ajaran agama menjadi lebih baik lagi.

Nah, untuk berubah menjadi orang yang lebih baik tidaklah sulit. Tetapi yang jauh lebih sulit adalah adalah bersikap istiqamah atau konsisten untuk mempertahankannya. Saya sendiri mengalami hal yang sama, misalnya ingin terus melaksanakan shalat tahajud, tetapi hanya konsisten di awal-awal, setelah itu jarang. Ingin bersedekah, meskipun sedikit, setiap hari, tetapi sekarang sering lalai. Ampuni Hamba-Mu ini ya Allah, tidak bisa istiqamah.

Nah, apa yang dialami oleh para artis yang buka tutup hijab saya duga mungkin juga begitu. Mereka ingin berubah lebih baik, ingin menjalankan agama lebih kaffah, tetapi tidak dapat mempertahankannya untuk waktu yang seterusnya. Godaan di luar sana, masalah di dalam diri sendiri, dan lain-lain yang saya tidak tahu, membuat keistiqamahan itu luntur dalam perjalanan waktu.

Menurut saya, sungguh berbahagialah orang yang selalu istiqamah, orang yang selalu konsisten dengan pilihan hidupnya atau dengan keputusan yang dia ambil, meskipun banyak orang mengecam atau mencemoohnya. Dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang, dia hanya berkeyakinan bahwa apa yang dia lakukan adalah benar.

Dipublikasi di Renunganku | 2 Komentar