Melakukan Perjalanan dalam Bulan Puasa

Latepost !

Melakukan perjalanan ke luar kota saat bulan Ramadhan ini rasanya sesuatu banget bagi saya. Kalau tidak terlalu penting sama sekali saya lebih baik tidak pergi saja. Bagi saya sendiri, berkumpul bersama anak dan istri di rumah, menyiapkan buka puasa dan makan sahur bersama, itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan materi.  Acara-acara buka bersama (bukber) jarang saya ikuti, ya karena alasan itu tadi, saya lebih suka bersama anak-anak saya di rumah. Tetapi demi memudahkan urusan orang lain di kota yang saya kunjungi, maka saya tidak kuasa menolaknya, saya ikhlaskan hati pergi meninggalkan rumah selama bulan  puasa  ini.

Bandara Husein Sastranegara Bandung dengan latar belakang Gunung Tangkubanperahu.

Mendarat di kota tujuan saat adzan maghrib berkumandang ibalah hati. Terbayang anak-anak dan istri di rumah buka puasa tanpa kehadiran saya, sementara saya masih on the way dari bandara menuju hotel. Memang pihak hotel menyediakan kurma dan teh hangat untuk berbuka puasa, tetapi tetap saja  lebih afdhal sama anak-anakku di rumah.

Pihak pengundang menyediakan akomodasi hotel dengan paket makan malam untuk buka puasa dan makan sahur sebagai pengganti breakfast. Saat memasuki restoran hotel untuk buka puasa,  betapa kagetnya saya melihat restoran ini penuh dengan manusia yang menyerbu berbagai makanan yang terhidang. Semua kursi penuh di-booking. Agaknya mereka tidak semuanya tamu hotel, tetapi pengunjung biasa yang memanfaatkan promosi hotel yang menyediakan paket berbuka puasa all you can eat dengan harga miring.   Apalagi hotel ini bersatu  dengan mal, jadi tidak heran pengunjungnya mungkin adalah pengunjung mal juga.

Seperti diketahui, saat bulan puasa adalah low season bagi kebanyakan industri hotel. Tamu hotel turun sangat drastis karena orang-orang menahan diri tidak melakukan perjalanan selama bulan puasa.  Kegiatan-kegiatan bisnis dan pertemuan di hotel banyak “dipepetkan” selesai sebelum bulan Ramadhan, akibatnya selama bulan Ramadhan hotel benar-benar sepi tamu. Maka, salah satu strategi hotel untuk tetap “hidup” adalah mengadakan paket buka puasa di restoran mereka dengan harga miring, all you can eat. Strategi ini tampaknya berhasil, nyatanya hampir semua rumah makan, kafe, termasuk restoran di hotel, pengunjungnya membludak saat buka puasa tiba. Kursi-kursi sudah di-booking, orang-orang sudah ramai duduk di kursinya satu jam sebelum beduk maghrib berbunyi. Maka, saya tidak heran melihat restoran hotek penuh sesak seperti yang saya saksikan.

Saya kehilangan selera makan melihat suasana ramai seperti itu.  Apalagi hampir semua makanan yang tersaji ludes, saya hanya mendapat sisa-sisa saja.  Lagi-lagi saya teringat dengan keluarga di rumah, kami makan dengan tenang. Seusai makan pembatal puasa, saya menemani anak shalat maghrib dulu, barulah makan makanan berat.

Saat makan sahur di hotel, saya merasa “aneh” saja makan sahur sendirian di hotel ini. Biasanya jam 3.20 dinihari  segini saya dan istri sudah bangun untuk menyiapkan makan sahur buat semua. Sekarang saya menikmati sahur yang disediakan hotel sebagai pengganti breakfast. Menginap di hotel ini sekalian dengan paket berbuka puasa dan sahur. Jika saat buka puasa restoran hotel penuh sesak dengan pengunjung sehingga makanan yang tersaji cepat habis, maka saat makan sahur boleh dihitung pengunjungnya dengan jari, yang umumnya tamu hotel itu sendiri.

Sahur sendirian di hotel

Nasi goreng hotel. Hanya sedikit saya bisa makan.

Kembali ke Bandung dengan pesawat siang, hanya ada 20 orang penumpang Wings Air hari itu dari kapasitas 80 penumpang, itupan sudah digabung dengan penumpang Lion Air jadwal sorenya. Waktu berangkat dari Bandung pun demikian, seharusnya saya terbang dengan Lion Air sore, tetapi karena penumpang sore sangat sedikit, maka mereka digabung dengan penumpang pesawat siang, pesawat sore dibatalkan.

Sepi penumpang

Seperti halnya hotel, industri penerbangan pun mengalami low season saat bulan puasa, tetapi itu hanya sebentar, sawat memang Benar2 sepi. Seperti sudah diduga, selama bulan puasa orang enggan melakukan perjalanan. Namun periode sepi itu hanya sebentar, menjelang lebaran Idul Fitri penumpang pesawat  melonjak tajam dan mencapai peak season tertingginya dalam satu tahun, sampai-sampai maskapai menambah frekuensi penerbangan (extra flight). Begitu juga hotel-hotel full booked selama musim liburan Idul Fitri. Begitulah, Allah SWT Maha Adil, rezeki-Nya tidak pernah kurang. Selalu saja ada.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | Meninggalkan komentar

Rujak Sayur-Buah dan Bubur Hanjeli khas Orang Sunda kala Bulan Puasa

Membicarakan masalah makanan tiada habisnya, he..he. Mumpung ini bulan Ramadhan, maka topik tentang makanan untuk buka puasa termasuk hal yang menarik untuk dibahas. Setiap daerah di tanah air tentu punya makanan khas yang hanya keluar saat bulan Ramadhan saja. Pada bulan puasa inilah kita dapat melihat aneka penganan dan makanan yang disajikan sebagai hidangan pembuka puasa. Kreativitas masyarakat dalam mengolah makanan keluar semua pada bulan puasa.

Tipikal orang perkotaan adalah ingin serba praktis, dan tidak mau direpotkan dengan urusan memasak makanan untuk buka puasa. Hal ini ditangkap oleh sebagian masyarakat dengan menjual aneka hidangan takjil. Ketika matahari mulai tergelincir, lapak-lapak penjual makanan untuk buka puasa bertebaran di mana-mana.

Di Kota Bandung di sepanjang jalan banyak yang menjual aneka takjil. Menjelang sore keriuhan penjual takjil semakin  menjadi-jadi. Orang-orang yang pulang dari kantor biasanya mampir membeli makanan untk berbuka puasa.

Salah satu makanan untuk buka puasa favorit saya adalah rujak buah-sayur dan bubur hanjeli. Yang pertama adalah rujak buah-sayur atau kadang disebut juga rujak cuka.  Penganan ini saya amati hanya muncul saat bulan puasa di Bandung. Rujak buah-sayur mungkin mirip seperti asinan Bogor tetapi tidak serupa. Saya sebut rujak buah-sayur karena isinya campuran buah dan sayur. Buah yang digunakan adalah potongan buah bengkoang dan buah nanas, sedangkan sayurannya adalah tauge, kol, mentimun, dan parutan wortel. Kuahnya adalah air yang sudah dicampur dengan serbuk kacang, cabe, gula, dan cuka. Rasanya asam pedas manis. Lebih enak disimpan dulu di dalam kulkas, lalu dimakan sepulang sholat tarawih. Segar dan menyehatkan.

Rujak buah-sayur khas Bandung

Makanan yang kedua adalah bubur hanjeli. Hanjeli adalah tumbuhan biji-bijian dari suku padi-padian, mirip seperti biji gandum. Nama latinnya coix lacryma-jobi.  Jika dimasak menjadi bubur sepintas mirip kacang hijau. Rasanya tawar, tapi bagi orang Sunda hanjeli dijadikan bubur dengan tambahan gula merah dan santan. Bubur hanjeli bisa juga dicampur dengan aneka kolak seperti kolak kolang-kaling, kolak candil dan pisang. Makanan ini jarang dijual pada hari biasa, meskipun beberapa food court ada juga yang menyediakannya, misalnya di Kartika Sari.

Bubur hanjeli

Itulah dua makanan khas yang saya temukan di tanah Pasundan saat bulan puasa. Jika anda ingin mencobanya, coba saja cari di antara penjual kolak di berbagai ruas jalan yang ramai menjajakannya. Kolak candil sudah biasa, tetapi bubur hanjeli jarang ada. Rujak buah sudah umum, tetapi rujak buah-saur ini beda rasanya.

Mau?

Dipublikasi di Makanan enak | 3 Komentar

Kaos Kaki Ayah

Ini kisah inspiratif yang sudah sering diceritakan sebagai sebuah pelajaran yang dapat diambil hikmahnya. Mungkin anda pernah mendengar kisah ini atau pernah membacanya. Namun, tidak ada salahnya saya ceritakan ulang kembali. Kisah seorang ayah yang meninggalkan wasiat kepada anak-anaknya yang sedang dilanda  kebingungan ketika mengurus jenazah dirinya. Saya ceritakan kembali dengan beberapa perubahan dan penambahan.

Begini kisahnya….

Ada seorang ayah yang sering menceritakan perjalanan masa mudanya kepada anak-anaknya, yaitu masa-masa ketika awal membina rumah tangga. Sebagai seorang calon ayah yang menanti kelahiran anak pertama, ia dihadapkan dengan masalah ekonomi rumah tangga yang masih labil. Ia belum mempunyai penghasilan yang tetap. Wirausaha yang dijalaninya, yaitu usaha jasa membuat kartu nama, belum dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Namun semangatnya tidak membuatnya pantang menyerah. Dari pintu ke pintu ia menawarkan jasa pembuatan kartu nama. Sedikit demi sedikit usahanya mulai dikenal dan memiliki banyak pelanggan, terutama kantor-kantor yang membutuhkan pembuatan kartu nama untuk para stafnya. Lambat laun usahanya mulai tumbuh besar. Dari keuntungan dan pinjaman modal yang diperolehnya, akhirnya sang ayah memiliki usaha percetakan sendiri. Tidak hanya melayani pembuatan kartu nama, tetapi juga percetakan lainnya seperti kartu undangan, buku, dan sebagainya. Makin lama usahanya semakin besar dan berkembang menjadi unit-unit usaha turunan seperti foto copy, toko alat tulis dan kantor, dan sebagainya. Sang Ayah sekarang menjadi seorang pengusaha sukses. Hartanya banyak berupa rumah, tanah, uang, dan kendaraan.

Anak-anaknya tumbuh dan besar dalam keadaan berkecukupan. Meskipun demikian, sang ayah tetaplah orang yang rendah hati. Anak-anaknya pun dididiknya menjadi anak yang santun, taat agama, dan menghormati orangtua.

Setiap kali mengenang masa-masa perjuangannya, ia sering menceritakan kepada anak-anaknya satu kenangan yang tidak pernah dilupakannya, yaitu sepasang kaos kaki. Dulu, ketika menawarkan jasa pembuatan kartu nama dari pintu ke pintu, ia selalu menggunakan kaos kaki dan sepatu yang sudah hampir lusuh. Karena setiap hari sering dipakai, kaos kaki itu mulai berlubang di ujung jari  kaki. Namun, ia  merasa sayang menggunakan uang untuk membeli kaos kaki baru sebab lebih mementingkan uang yang diperolehnya untuk kebutuhan  membeli susu bagi anak-anaknya. Akhirnya bolong di kaos kaki itu semakin lebar sehingga tidak bisa dipakai lagi. Namun, ia tidak mau membuang kaos kaki itu, tetapi disimpannya agar kelak suatu hari nanti bisa diceritakan dan ditunjukkan kepada anak-anaknya.

Kepada anak-anaknya ia berpesan agar nanti jika ia meninggal dunia, tolong pasangkan kaos kaki itu ke kakinya sebagai kenang-kenangan yang dibawa ke dalam kubur.

Singkat cerita, ketika sang ayah wafat, anak-anaknya pun teringat dengan pesan ayahnya dulu. Anak-anaknya lalu meminta Pak Ustad yang mengurus jenazah ayahnya untuk memasangkan kaos kaki ayahnya itu. Namun Ustad menolak, sebab di dalam syariat Islam jenazah hanya boleh dipakaikan kain kafan, itulah harta yang boleh dibawa ke alam kubur. Benda-benda lain tidak boleh dibawa oleh jenazah, termasuk kaos kaki kenangan yan sudah bolong itu.

Namun anak-anaknya tetap bersikeras ingin menunaikan pesan ayahnya, tetapi Pak Ustad tetap menolak. Karena tidak tercapai titik temu, maka dipanggillah pengacara ayahnya. Pengacara itu berkata, almarhum pernah meninggalkan surat wasiat, mari kita bacakan surat wasiat itu, siapa tahu ada petunjuk di dalamnya.

Lalu Bapak Pengacara membacakan surat wasiat yang bunyinya adalah sebagai berikut.

Anak-anakku, mungkin saat ini kalian sedang dilanda kebingungan luar biasa ketika ingin melaksanakan pesan Ayah untuk memasangkan kaos kaki kenangan itu. Kaos kaki yang sudah bolong saja tidak boleh dibawa ke dalam kubur, apalagi harta ayah yang banyak itu. Tidak ada satupun yang bisa menemani kita di alam kubur nanti, kecuali amal sholeh kita selama hidup di dunia. Ialah yang akan menjadi teman kita selama kita berada di akhirat. Oleh karena itu anakku, selagi masih diberi hidup oleh Allah SWT, perbanyaklah berbuat dan beramal sholeh sebagai bekalmu nanti menuju alam akhirat kelak.

Setelah dibacakan surat wasiat tadi, bertangisanlah anak-anak almarhum tadi, ternyata inilah maksud ayah mereka menyuruh memasangkan kaos kaki pada jenazahnya. Pada akhir hayatnya ayah mereka masih meninggalkan nasihat yang sangat berharga untuk kehidupan mereka nanti.

Akhirnya sang ayah dimakamkan dengan dua  lembar kain kafan yang membungkus tubuh bekunya. Kaos kaki yang sudah bolong akan terus disimpan anak-anaknya agar menjadi pengingat bahwa harta duniawi tidak ada yang bisa dibawa mati kecuali  amal sholeh selama hidup di dunia sebagai bekal ke akhirat kelak.

Dipublikasi di Kisah Hikmah | Meninggalkan komentar

Bahaya Melakukan Rampatan (Generalisasi): Kasus Cadar

Pasca teror bom bunuh diri yang menghebohkan tanah air, berseliweran ujaran kebencian dan sikip sinis kepada kelompok tertentu, salah satunya kepada wanita pemakai cadar. Salah satu pelaku bom bunuh diri di Gereja di Surabaya adalah seorang wanita yang memakai hijab (cadar?). Oleh karena itu, banyak wanita pemakai cadar merasa tidak nyaman karena mereka dianggap sebagai orang berpaham radikal bahkan dicap teroris.

Sebelumnya beberapa bulan yang lalu pernah ada polemik larangan penggunaan cadar bagi mahasiswa dan dosen di beberapa universitas. Lagi-lagi karena, meskipun tidak ditulis secara eksplisit, mengasosiasikan penggunaan cadar dengan radikalisme. Kasus teror bom bunuh diri kemaren semakin menguatkan sentimen sebagian kalangan kepada wanita yang bercadar.

Menurut pemahaman saya, cadar memang bukan keharusan bagi wanita muslimah. Di dalam agama hanya disebutkan kewajiban menutup aurat bagi wanita. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Jadi, menggunakan jilbab atau kerudung yang menutup aurat saja sudah cukup. Tetapi, pemahaman agama setiap orang tidak selalu sama. Sebagian kalangan di dalam Islam memiliki keyakinan bahwa wajah wanita juga termasuk aurat yang harus ditutupi. Kalangan ini mengatakan memakai cadar termasuk keharusan.

Kita tidak memperdebatkan jika ada keyakinan orang Islam yang demikian. Silakan saja. Toh orang yang memakai cadar termasuk berbusana sopan,  jadi kenapa harus dilarang. UUD 1945 menjamin kebebasan setiap penduduk menjalankan agama dan keyakinannya, termasuk keyakinan bahwa menggunakan cadar termasuk kewajiban seorang muslimah. Istri saya sendiri hanya memakai jilbab biasa, tidak bercadar. Mahasiswi saya di kampus pun kebanyakan memakai jilbab yang bermacam-macam bentuknya, jarang sekali saya melihat mahasiswi memakai cadar, tetapi sejauh yang saya ketahui kampus ITB tidak pernah melarang cadar.

Kembali tentang topik saya di atas yang mengasosiasikan cadar dengan radikalisme. Melakukuan generalisasi ini berbahaya, karena menganggap semua wanita bercadar adalah radikal, ekstrimis, atau bahkan teroris. Jika ada orang yang berpendapat demikian, maka ia akan malu sendiri jika melihat foto di bawah ini. Ini foto yang bersumber dari sebuah akun Twitter Afwan Riyadi. Di dalam akunnya itu ia menulis sebagai berikut:

“Kapolri menjenguk polisi korban serangan teroris di Riau; AKBP Farid. Istri AKBP Farid mengenakan cadar. Maka, stop asosiasikan cadar dengan teroris. Justru mereka adalah korban dari teroris, jangan tambah lagi penderitaan mereka karena anggapan kita.”

AKBP Farid adalah salah satu korban luka pada aksi terorisme di Pekanbaru. Sebagaimana diketahui, pasca teror bom di Surabaya, dua hari sesudahnya juga terjadi aksi teror ke Mapolrestabes Pekanbaru. Terduga teroris menggunakan pedang dan menghantam mobilnya ke polisi. Seorang polisi meninggal dunia, dan beberapa orang luka-luka, salah satunya adalah AKBP Farid. Istri AKBP Farid adalah seorang pengguna cadar. Nah, di internal keluarga polisi sendiri ada yang memakai cadar, maka apakah mereka ini pantas dicap berpaham radikal atau teroris sedangkan suaminya sendiri seorang polisi yang tugasnya melawan teroris.

Contoh kasus di atas menunjukkan bahwa melakukan perampatan (meng-generalisasi) kepada suatu kelompok orang hanya karena ulah segelintir oknum di dalam kelompok tersebut sama sekali tidak tepat dan berbahaya. Berbahaya karena semua orang di dalam kelompok tersebut mendapat stigma negatif, yang dapat berlanjut kepada diskriminasi,  persekusi, pengusiran, bahkan ancaman pembunuhan, seperti cuitan di bawah ini.

princess

Kita semua sepakat melawan terorisme, tetapi marilah kita obyektif menilai. Tidak semua orang memakai cadar adalah teroris, tetapi teroris memakai cadar bisa jadi.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | 2 Komentar

Membajak Agama di Surabaya dan Racun Orangtua kepada Anak-anaknya

Memasuki awal bulan Ramadhan tahun ini terasa sumbing. Aksi terorisme yang sangat keji terjadi di Surabaya membuyarkan keceriaan menyambut Ramadhan. Lima aksi bom bunuh diri dalam dua hari menyasar orang-orang yang tidak bersalah. Tiga gereja menjadi sasaran kekejian teroris, lalu malam harinya bom meledak di sebuah rusun, dan keesokan paginya polisi di Polrestabes menjadi sasaran berikutnya. Puluhan jiwa tak bersalah menjadi korban terorisme.

Saya pribadi mengutuk aksi biadab itu. Melakukan aksi bunuh diri saja dilarang agama, apalagi membunuh orang lain yang tidak bersalah. Jika pelaku bom bunuh diri mengklaim bahwa aksinya termasuk jihad dan matinya adalah syahid, maka menurut saya hal itu salah besar. Indonesia tidak berada dalam kondisi perang, maka tidak ada musuh yang harus dimusnahkan. Mengapa pula sasarannya gereja dan jemaatnya. Apa kesalahan jemaat gereja itu sehingga mereka dibom?

Saya bisa memahami perasaan saudara-saudara sebangsa kita kaum kristiani. Mereka tentu trauma menjalankan ibadah, karena selalu diliputi rasa was-was. Aksi terorisme kemarin salah satu tujuiannya mungkin telah tercapai, yaitu membuat hubungan antar agama menjadi saling curiga atau bahkan saling membenci.

Sekali lagi aksi terorisme tersebut telah mencoreng wajah Islam yang damai karena pelaku terorisme di Surabaya kebetulan beragama Islam.  Sebagian kaum non-muslim yang selama ini memiliki persepsi negatif tentang agama Islam, karena  diidentikkan dengan aksi kekerasan di berbagai wilayah di muka bumi, semakin menambah persepsi buruk mereka tentang agama Islam. Memang tidak semua kaum non-muslim mempunyai persepsi demikian, karena sebagian mereka tetap beranggapan pelaku kekerasan tersebut hanyalah oknum yang berkedok agama dan tidak mewakili mayoritas penganut agama tersebut. Radikalisme ada pada penganut agama manapun.

Teroris telah membajak ajaran agama dengan melakukan penafsiran secara sempit.  Mereka bilang ini jihad, tetapi sesungguhnya perbuatan mereka adalah kejahatan yang mengerikan. Mereka bilang  ini mati syahid, tetapi sesungguhnya ini adalah mati konyol. Tidak ada ajaran Islam yang menyuruh membunuh orang yang tidak bersalah atau menghancurakn rumah ibadah agama lain. Nabi saja melarang membunuh anak, anak, wanita, dan manula, baik dalam situasi perang maupun bukan. Dalam masa pemerintahan Nabi di Madinah, keberadaan kaum Yahudi dan Nasrani dilindungi, termasuk rumah ibadah mereka.

Satu hal yang membuat miris dari aksi terorisme di Surabaya kemarin adalah pelakunya adalah tiga keluarga. Lima kali peristiwa bom di Surabaya melibatkan anak-anak dan istri  teroris. Saya bergidik mendengarnya. Sungguh, sampai saat ini saya antara percaya dan tidak percaya anak-anak tersebut melakukan aksi bom bunuh diri.  Saya melihat foto ibu dan keempat anaknya itu di akun fesbuk ibu mereka. Terlihat anak-anak itu masih dalam membutuhkan dunia bermain, sorot matanya mendambakan kasih sayang.  Anak-anak yang masih polos, lugu, dan mempunyai masa depan yang masih panjang diajak orangtuanya untuk melakukan bom bunuh diri. Membunuh orang lain yang tak berdosa dan membunuh darah dagingnya sendiri. Alangkah bejat dan biadabnya kelakuan teroris seperti itu, mencuci otak istri dan anaknya. Alangkah biadabnya si ayah, melilitkan bom ke pinggang anaknya, lalu menyuruh anaknya meledakkan diri di gereja. Oh…

Sampai sekarang saya masih syok kenapa ayah yang biadab ini mengajak anak-anak serta istrinya melakukan aksi bom bunuh diri.  Ajaran apa yang didoktrinasi kepada anak istrinya sehingga mereka tega melakukan aksi teror pembunuhan. Sungguh bejat ayah seperti itu, dan sungguh biadab orang yang mendoktrin mereka menjadi demikian (Baca: Peluk Tangis Anak-Anak Dita Maghrib Sebelum Aksi Bom). Saya tidak sanggup menuliskannya lagi.  Saya juga mempunyai anak-anak seusia mereka. Saya pulang dan saya cium anak-anak saya di rumah. Oh….

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | Meninggalkan komentar

Rahasia Sehat dan Umur Panjang PM Mahathir Muhammad

Pilihan Raya (Pemilu) Malaysia minggu lalu menarik perhatian publik di tanah air. Pasalnya Pilihan Raya tersebut menghantarkan Mahathir Muhammad terpilih kembali menjadi Perdana Menteri (PM) Malaysia, menumbangkan PM petahana Najib Razak yang telah berkuasa sejak tahun 2009. Mahathir dulu pernah menjadi PM beberapa periode,  cukup lama juga dari 1981 sampai 2009. Di bawah kepemimpinannya Malaysia tampil menjadi salah satu harimau Asia dengan pertumbuhan ekonominya yang mengagumkan. Setelah Mahathir turun dari PM, maka kepemimpinannya dilanjutkan oleh Najib Razak. Mahathir tampil kembali ke gelanggang politik untuk menumbangkan Najib Razak yang dulu adalah anak didiknya. Di Malaysia memang dimungkinkan kembali mantan PM mencalonkan diri kembali menjadi PM. Di Indonesia bukannya tidak boleh mantan presiden mencalonkan diri kembali menjadi presiden, UU tidak melarang, tetapi memang belum pernah ada kejadiannya.

mahathir

Mahathir Muhammad

Nah, yang menarik publik Indonesia bukanlah sekedar keberhasilan Mahathir Muhammad menjadi PM Malaysia kembali, tetapi faktor usianya. Mahathir saat ini berusia 92 tahun, usia yang sangat aki-aki kalau di Indonesia. Dengan uisia 92 tahun tersebut Mahathir menjadi pemimpin tertua di dunia. Meski usia sudah aki-aki, tetapi Mahathir Muhammad terlihat masih bugar dan sehat. Otaknya belum pikun, cara berbicaranya masih lantang.

Saya cukup kagum dengan umur panjang Mahathir. Dia bisa tampil prima sampai usia di atas kepala sembilan. Saya pernah diceritakan teman dari Malaysia, usia pensiun pegawai di Malaysia adalah 55 tahun, bandingkan kalau di Indonesia usia pensiun PNS adalah 58 tahun.  Pendeknya usia pensiun ini karena rata-rata usia hidup orang Malaysia sekarang mulai menurun, banyak orang Malaysia terkena penyakit diabetes dan stroke karena pola hidup yang kurang sehat, tuturnya.  Pak Mahathir mungkin adalah pengecualiannya.

Lalu, apa rahasia bugar Mahathir Muhammad? Dikutip dari berita ini: Jadi PM Malaysia Usia 92 Tahun, Ini Rahasia Bugar Mahathir, ternyata:

“Rahasianya? Tidak makan berlebihan,” kata Mahathir.

Kesehatannya, diimbangi pula dengan berat badan yang dijaga di Kisaran 62 kilogram (kg) sampai 64 kg selama tiga dekade terakhir.

Pria yang lahir pada Juli ini menegaskan, kunci kesehatannya yakni tidak merokok, tidak minum alkohol, serta tidak makan terlalu banyak. Ia makan secukupnya sesuai kebutuhan kalori.

“Ada kecenderungan bagi orang-orang di atas usia tertentu untuk menjadi gemuk. Mereka memiliki perut besar untuk memuaskan diri mereka, mereka minum dan makan berlebihan yang menempatkan beban pada hati mereka,” tuturnya.

Jadi, rahasia sehat Mahathir Muhammad hingga usianya sudah 92 tahun adalah makan tidak berlebihan, tidak merokok, tidak minum alkohol, dan selalu menjaga berat badan ideal. Selain itu saya membaca kalau Mahathir Muhammad rajin berjalan kaki setiap hari.

Nah, memang pola makan adalah nomor satu agar tetap sehat. Makan itu sebenarnya boleh apa saja, tetapi yang tidak boleh adalah berlebih-lebihan. Makan secukupnya saja, yang berlebih-lebihan itu menjadi penyakit.  Penyakit–penyakit modern seperti darah tinggi, stroke, sakit jantung, diabetes, gagal ginjanl, dan sebagainya, antara lain disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat atau makan yang terlalu banyak (berlebihan). Tubuh kita mempunyai kapasitasnya sendiri, jika ia diisi dengan makanan yang berlebihan, maka tubuh tidak mampu mengolah semuanya. Kelebihan nutrisi ditimbun menjadi lemak. Lemak yang menumpuk inilah yang menjadi sumber penyakit. Hal ini ditambah lagi dengan kebiasan orang modern yang kurang gerak. Klop deh menjadi penyakit di badan.

Rahasia sehat PM Mahathir Muhammad perlu kita contoh.

Dipublikasi di Dunia oh Dunia | Meninggalkan komentar

Penyesalan yang (Belum) Terlambat

Dulu pernah ada mahasiswa saya yang bercerita tentang penyesalan dia selama berkuliah. Dia menyesal kenapa dulu ia tidak kuliah dengan serius, malas, dan lebih banyak waktu terbuang untuk hal-hal yang tidak berguna.  Ketika sudah berada pada tahun keenam kuliah, tahun terakhir sebagai batas waktu studi di ITB, barulah dia menyesali diri sendiri jika ternyata dia sudah lalai selama ini. Dia merasa dirinya sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan teman-teman seangkatannya. Andai jarum waktu bisa kembali diputar mundur ke belakang, tetapi sayang hal itu tidak bisa.

Dulu ada senior saya yang menceritakan masa mudanya yang makan apa saja tanpa memikir kesehatan. Segala makanan yang enak dan berlemak tinggi dilibas. Ketika akhirnya dia terkena stroke, barulah dia menyesali kenapa dulu tidak memikir kesehatan apabila makan. Sampai akhir hayatnya saya masih terngiang-ngiang penyesalannya itu.

Sepasang suami istri pernah menyesal kenapa dulu terlalu sibuk bekerja siang sampai malam sehingga melupakan pendidikan agama anaknya. Ketika anaknya terlibat pergaulan bebas yang berakhir masuk penjara, barulah mereka menyesali kenapa dulu dia dilenakan oleh pekerjaan duniawi sehingga melupakan perhatian kepada anak-ananya.

Seorang artis menyesali dulu semasa masih terkenal hidup bergelimang maksiat. Minum minuman keras sudah biasa, mencoba narkoba pun sudah sering meskipun tidak tertangkap polisi. Kehidupan malam adalah dunianya. Berganti pasangan sudah lumrah. Hidupnya terasa hampa. Kebahagiaan duniawi yang dicapainya hanya semu semata. Ketika sudah mulai tua dan tidak laku lagi barulah dia menyadari dia begitu jauh dari Tuhan. Untung malaikat maut masih “berbaik” hati belum menjemputnya, dia pun tobat dan memperbaiki hidupnya.

Kita sering membaca atau mendengar orang-orang yang menyesali apa yang sudah dia lakukan pada masa lalu. Dulu tidak pernah berpikir mengapa tidak begini, mengapa tidak begitu. Masa muda disesali pada masa tua.

Namun, penyesalan terhadap masa lalu yang saya ceritakan di atas belum ada apa-apanya dibandingkan penyesalan orang yang sudah mati.  Penyesalan dikatakan belum terlambat selama umur masih dikandung badan, selama ajal belum datang.  Ketika maut sudah memisahkan nyawa dengan badan, maka semua penyesalan sudah tiada berguna. Janganlah kita seperti penghuni neraka yang meminta dikembalikan ke dunia dan berjanji untuk mengerjakan amal saleh. Semuanya sudah terlambat. Banyak ayat Al-Quran yang menceritakan penyesalan orang yang sudah mati dan sekarang berada di alam akhirat. Mereka menyesal kenapa dulu tidak rajin beribadah dan beramal shaleh. Diantara ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” (Surat Faathir :37)

Hingga apabila telah  datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan. (Al Mukminun: 99-100)

Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah…” (QS. Al Munafiqun: 10)

“Yaa Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (kedunia) niscaya kami akan mengerjakan amal shalih. Sungguh kami adalah orang orang yang yakin.” (QS. As Sajdah: 12)

Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) adzab datang kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zhalim, “Ya Rabb kami, kembalikanlah kami meskipun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan mengikuti rasul-rasul”. (QS. Ibrahim: 44)

Oleh karena itu, selama hayat masih dikandung badan, selama masih diberi kehidupan, hendaklah kita banyak melakukan amal saleh. Mendirikan sholat, memperbanyak sholat sunat, menyeringkan puasa sunat, memperbanyak sadaqah, mengeluarkan zakat, memberi makan orang miskin dan anak yatim, rajin ke masjid, memperbanyak membaca Quran, menjauhi perbuatan maksiat, dan lain-lain. Janganlah setelah kita mati kita menyesal telah lalai mengerjakannya. Itu sudah terlambat.

Tulisan ini untuk mengingatkan diri sendiri dan orang-orang yang membacanya. Amin.

Dipublikasi di Renunganku | Meninggalkan komentar