Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 2): Dari Embarkasi Haji Bekasi Menuju Madinah

Setelah menempuh perjalanan 6 jam dari Bandung (termasuk istirahat dan makan di RM Cibening Sari, Purwakarta, akhirnya  rombongan 10 bus Kloter 7 JKS sampai di Embarkasi Haji  Bekasi. Ini adalah embarkasi untuk jamaah haji dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Dulu embarkasi ini bernama Asrama Haji Pondok Gede. Kabarnya tahun depan embarkasi haji untuk jamaah haji Jawa Barat dipindahkan ke Bandara Kertajati, Majalengka. Tahun ini belum bisa di Kertajati karena asrama haji belum dibangun.

Di Embarkasi Haji Bekasi kami cukup lama menunggu untuk masuk aula dan belum bisa beristirahat di asrama. Kami harus menunggu selesainya pemrosesan kedatangan jamaah haji Kloter 6 dari Tasikmalaya. Sambil menunggu masuk aula, jamaah haji duduk-duduk saja di lorong asrama. Udara kota Bekasi saat itu terasa gerah, jamaah yang kelelahan selama perjalanan banyak yang duduk tertidur sambil terangguk-angguk. Semua jamaah haji memakai seragam batik nasional yang berwarna hijau. Seragam batik ini dipakai saat keberangkatan dan saat kepulangan. Tetapi, di Tanah Suci banyak juga jamaah haji Indonesia tetap memakai batik ini sehari-hari ketika ke Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Batik menjadi identitas jamaah haji Indonesia. Dengan melihat jamaah yang memakai seragam batik tersebut, maka tahulah kita jika mereka adalah saudara sebangsa dan setanah air di Tanah Suci.

Duduk-duduk menunggu panggilan masuk aula

Kompleks embarkasi Haji Bekasi cukup luas. Di dalamnya terdapat asrama, masjid, aula, dan lapangan untuk manasik haji. Ada minatur ka’bah di tengahnya. Tetapi keberadaan kami di embarkasi ini hanya selama 12 jam, jadi mana sempat untuk latihan manasik haji. Jadilah ka’bah mini itu hanya untuk dipandang-pandang. Insya Allah kami akan melihat ka’bah yang sebenarnya dalam waktu beberapa hari lagi.

Embarkasi Haji Bekasi

Akhirnya, setelah rombongan Kloter 6 selesai diproses, rombongan jamaah haji Kloter 7 dipanggil untuk masuk ke dalam aula. Di dalam aula ini ada seremoni penyambutan jamaah haji, lalu serah terima jamaah haji hari PPIH Kota Bandung ke PPIH Pusat, dan beberapa pengarahan yang cukup lama. Tidak apa-apalah, jamaah haji banyak yang berusia lanjut, jadi kepada mereka memang perlu pengarahan secara detil. Selain itu, di sini jamaah haji juga diperiksa kembali kesehatannya. Khusus untuk jamaah haji perempuan yang masih berusia produktif, ada lagi tes urin untuk memastikan sedang tidak hamil. Jika teryata positif hamil, maka jamaah tersebut terpaksa dibatalkan keberangkatannya.

Di dalam aula , menerima berbagai pengarahan dan….uang riyal.

Tibalah pembagian yang ditunggu-tunggu, he..he. Setiap jamaah mendapat living cost sejumlah 1500 riyal atau setara 6 juta rupiah. Living cost adalah tradisi Pemerintah RI sejak dulu. Living cost diberikan sebagai bekal jamaah selama di Tanah Suci. Di Tanah Suci jamaah haji mendapat makan 40 kali  (makan siang dan makan malam) berupa layanan catering haji. Tidak setiap hari jamaah haji mendapat catering makan, ada sejumlah hari tidak mendapat catering, yaitu beberapa hari sebelum dan sesudah pelaksanaan wukuf. Selain itu, jamaah haji tidak mendapat sarapan pagi. Sarapan pagi harus dibeli atau disiapkan sendiri. Jadi, uang living cost itu tujuanya digunakan sebagai bekal membeli makanan selama tidak mendapat layanan catering, juga untuk membeli sarapan pagi setiap hari, dan membeli barang kebutuhan lainnya. Namun dalam pengamatan saya di Tanah Suci, living cost yang dibagikan lebih banyak digunakan jamaah haji untuk membeli oleh-oleh di Madinah dan Mekah, he..he. Selain living cost, jamaah haji juga mendapat uang pengganti pembuatan paspor sejumlah Rp350.000. Dalam hati saya berkata, paspor saya ini sudah lama dibuat, tetapi tetap dapat penggantian biaya, ya diterima saja, anggap saja rezeki.

Umumnya jamaah haji juga telah menyiapkan bekal uang sendiri dalam bentuk pecahan riyal. Ada jamaah yang membawa banyak riyal, tapi saya membawa secukupnya saja, hanya beberapa ratus riyal saja yang saya tukarkan di bank. Tidak perlu khawatir kekurangan uang riyal di Saudi. Selain ada jasa penukaran uang di sana, asalkan kita punya kartu ATM dengan logo VISA (contohnya kartu ATM Bank Mandiri), maka kita bisa menarik uang riyal di ATM mana saja di Saudi.

Nah, selain dapat uang di atas, jamaah haji mendapat lagi souvenir dari Kemenkes RI, berupa obat-obatan (oralit, krim anti pegal-pegal, hansaplast, dll), setumpuk masker (padahal saya sudah membeli banyak masker sebelum berangkat, di sini dapat banyak masker lagi), dan tabung air semprot . Walah, tas koper dan tas tentengan saya sudah penuh, mau ditaruh dimana lagi barang-barang souvenir tadi. Jamaah haji mendapat satu buah koper, satu tas tenteng, dan satu tas paspor dari maskapai. Hanya tiga tas itu saja yang boleh dibawa ke dalam pesawat. Koper sudah dibawa duluan dari Bandung oleh truk ke bandara, tas tenteng sudah penuh dan padat, akhirnya terpaksalah dicari-cari ruang di dalam tas tenteng untuk memasukkan souvenir dari Kemenkes.

Setelah dua jam di dalam aula, akhirnya jamaah haji mendapat pembagian kamar asrama untk beristirahat. Saya mendapat kamar di gedung yang lama, satu kamar berisi 10 tempat tidur dalam bentuk ranjang susun. Gedungnya kusam, kamar mandinya di luar, dan AC nya tidak jalan. Malam hari terasa gerah sekali, saya tidak bisa tidur. Ah, memang tidak akan bisa tidur, sebab jam 2 malam nanti harus siap-siap bangun lagi untuk berangkat ke bandara Soekarno-Hatta.

Selama di embarkasi ada kegiatan yang baru pertama kali dilakukan pada tahun ini, yaitu pengambilan data biometrik (sidik jari, foto retina,  dan foto wajah). Malam hari setelah Isya, jamaah dipanggil untuk pengambilan data biometrik. Biasanya kalau kita keluar negeri, pengambilan data biometrik ini dilakukan di bandara kedatangan (dalam hal ini bandara di Saudi), tetapi tahun ini ada inovasi baru, yaitu pengambilan data biometrik dilakukan di Embarkasi haji. Proses pengambilan data biometrik ini akan mempersingkat waktu tunggu jamaah di bandara Saudi nantinya. Pengambilan data biometrik dilakukan oleh petugas Indonesia namun di bawah pengawasam Imigrasi Saudi. Tahun ini pengambilan data biometrik hanya dilakukan di beberapa embarkasi saja sebagai percontohan, tahun depan mungkin di semua embarkasi.

Hmmm…malam yang melelahkan. Saya tidak bisa memejamkan mata sepicingnpun di dalam kamar asrama. Selain gerah, juga banyak nyamuk. Jamaah haji yang mendapat kamar di gedung yang baru mungkin lebih beruntung, karena kamarnya mirip dengan kamar di hotel bintang tiga. Tapi saya tetap mensyukuri apapun yang saya terima.

Jam dua malam jamaah harus bangun dan siap-siap untuk berangkat ke bandara. Jamaah melewati proses pemindain X-ray di embarkasi, semua bawaan jamaah berupa tas tenteng dan tas paspor diperiksa dengan sinar X untuk memastikan tidak ada benda-benda terlarang dan ciaran yang melebihi 100 ml. Jadi, nanti di bandara kita tidak melewati pemeriksaan X-ray lagi, sebab jamaah haji langsung diantar ke tangga pesawat.

Jam empat pagi akhirnya jamaah haji masuk ke dalam bus-bus untuk berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Bus-bus dikawal kembali oleh mobil patwal dari embarkasi menuju bandara. Sesampai di bandara, mula-mula kita dibawa ke bagian imigrasi bandara. Saya kira kita akan diperiksa lagi oleh imigrasi Indonesia, ternyata bukan. Di bandara Soekarno-Hatta kita melewati imigrasi Saudi! Ya, untuk mempersingkat pemeriksaan imigrasi di Saudi, petugas imigrasi dari Saudi didatangkan langsung ke Jakarta. Di sini paspor dan data biometrik kita dicocokkan kembali oleh petugas Saudi. Proses ini menurut saya akan mempersingkat antrian jamaah di bandara kedatangan, sebab di bandara Saudi tidak perlu pemeriksaaan imigrasi lagi, jamaah haji bisa langsung keluar bandara seturun dari pesawat.

Jam tujuh pagi jamaah mulai memasuki pesawat. Jam delapan tepat pesawat pun take-off. Pesawat yang membawa jamaah haji Kloter 7 adalah dari maskapai Saudia. Pesawatnya sama dengan pesawat ketika saya umrah tahun 2015 yang lalu. Garuda Indonesia hanya membawa jamaah haji dari beberapa bandara saja, yaitu Padang, Solo, Banda Aceh, Makassar, dan Banjarmasin, selebihnya diangkut oleh maskapai Saudi. Menurut saya maskapai Saudia ini bagus, pesawatnya lebar dan besar. Susunan kursinya dalam satu baris 3, 4, 3. Sajian makanannya juga enak. Selama dalam penerbangan penumpang mendapat dua kali makan (meal), dan berbagai snack serta minuman. Pramugarinya selain orang Arab juga ada orang Indonesia. Pengumuman disampaikan dalam bahasa Arab dan dalam Bahasa Indonesia.

Sepuluh jam di dalam pesawat cukup menjemukan. Kita dapat mengisi waktu dengan tidur, membaca Quran, atau menikmati hiburan (flight entertainmet) melalui layar  TV di depan kita. Di luar sana hanya terlihat awan dan cahaya terang (kami berangkat pagi hari). Oh ya, jika anda jamaah haji yang berangkat pada gelombang kedua, maka anda sudah harus memakai kain ihram ketika masuk pesawat karena nantinya anda kangsunke Mekah untuk melaksanakan umrah wajib. Untuk jamaah haji pada gelombang satu tetap memakai pakaian biasa karena belum akan melaksanakan umrah.

Memasuki wilayah daratan Saudi terlihatlah pemandangan yang tandus. Bukit batu dan gurun pasir yang tandus terlihat di bawah sana. Masya Allah, di negeri yang tandus inilah Nabi Muhammad diutus oleh Allah SWT kepada kaum Quraish yang jahiliyah.

Bukit-bukit batu yang tandus terlihat dari atas pesawat.

Tepat pukul 14.0o waktu Madinah, pesawat mendarat di Bandara Madinah. Alhamdulillah, perjalanan sangat lancar. Tiba di bandara Madinah kami disambut dengan suhu udara 41 derajat Celcius! Arab Saudi sedang musim panas pada bulan Juli hingga September. Suhu siang hari sangat panas, udara malm hari terasa gerah.

Alhamdulillah, pesawat yang membawa Kloter 7 JKS mendarat di bandara Madinah

Tidak perlu berlama-lama di bandara ini. Tidak ada pemeriksaan imigrasi lagi karena sudah dilakukan di bandara Soekarno-Hatta. Jamaah haji dapat langsung keluar bandara. Koper-koper dan tas tenteng sudah diurus oleh porter dan dimasukkan ke dalam bus untuk dibawa ke hotel. Jamaah haji segera menuju hotel tempat pemondokan selama berada di Madinah. Kami adalah jamaah haji Gelombang 1, jadi akan berada di Madinah dulu selama sembilan hari, baru kemudian pindah ke Mekah (BERSAMBUNG).

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 2 Komentar

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 1): Dari Bandung Menuju Embarkasi Haji

Pengantar: Selama satu bulan lebih, lebih tepatnya 41 hari, saya cuti menulis di dalam blog ini karena saya menjadi tamu Allah SWT di Tanah Suci Makkah dan Madinah untuk menunaikan Rukun Islam yang ke-5, Haji. Sebelum berangkat ke Tanah Suci, saya sudah berniat untuk menuliskan perjalanan haji sepulang dari sana, sebagaimana dulu saya pernah menuliskan tulisan berseri catatan perjalanan Umrah tahun 2015. Insya Allah saya akan menuliskan pengalaman haji sebagai tulisan berseri, dengan maksud berbagi pengalaman kepada pembaca yang belum pernah naik haji, atau sekedar bernostalgia merajut kenangan bagi pembaca yang sudah pernah menunaikan haji.

Sebelum menulis seri tulisan tentang haji, saya sudah menulis beberapa tulisan pendahuluan sebagai berikut:

  1.  Bismillaahirrahmaanirrahiim, Memulai Niat ke Tanah Suci
  2.  Menuju Haji 2018
  3. Rindu dengan Rasulullah

************************************************************************************

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu selama enam tahun pun tiba. Setelah mengikuti manasik selama tiga bulan di KBIH Mega Arafah (d/h Mega Citra), akhirnya kami diberitahu bahwa keberangkatan haji ke tanah suci adalah pada tanggal 19 Juli 2018. Saya dan jamaah lain di KBIH tersebut tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter 7), dengan kode JKS 07 embarkasi Bekasi.Saya pergi haji sendiri, tidak bersama istri. Istri saya sudah haji tahun 2011. Kami tidak bisa pergi haji berdua karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Tanggal 18 Juli 2018 sebelum sholat subuh semua jamaah haji sudah berkumpul di KBIH sebelum berangkat ke Mapolda Jabar di Gedebage, Bandung. Semua jamaah haji kota Bandung berangkat ke embarkasi Bekasi dari Mapolda Jabar. Di kantor KBIH kami dilepas oleh keluarga. Di sana tidak tertahankan lagi isak tangis dan peluk cium yang mengharukan antara jamaah haji dengan keluarganya, seperti hendak pergi selama-lamanya dan tidak bertemu lagi. Pergi haji masih dianggap pergi ke tempat yang jauh dan dalam jangka waktu yang lama (40 hari). Belum tentu jamaah haji bisa pulang ke tanah air, mungkin saja ditakdirkan wafat di Tanah Suci. Hidup dan mati hanya Allah yang tahu, kita tidak tahu di bumi mana kita dilahirkan dan di bumi mana kita diwafatkan. Setiap tahun memang ratusan jamaah haji Indonesia meninggal dunia di Tanah Suci. Faktor penyakit bawaan dari tanah air atau usia lanjut adalah faktor terbesar meninggalnya jamaah haji di sana.

Saya pun larut dalam kesedihan. Apalagi saya pergi haji sendiri, meninggalkan anak dan istri di rumah tanpa kehadiran saya. Namun, saya selalu teringat kata-kata ustadz pembimbing haji ketika manasik. Katanya, jika kita berangkat haji, maka pasrahkan saja semuanya kepada Allah SWT.  Kita pasrahkan keluarga kita dan harta yang kita tinggalkan kepada Allah. Biarlah Allah saja yang menjaganya. Insya Allah dengan memasrahkan diri kepada Allah kita dapat berangkat ke Tanah Suci dengan tenang.

Dari kantor KBIH di Jalan Cimandiri (belakang Gedung Sate), kami berangkat dalam rombongan satu bus ke Mapolda Jabar di Gedebage, Jalan Soekarno-Hatta Bandung. Di sana semua rombongan jamaah haji Kloter 07 dari berbagai KBIH dikumpulkan.  Jamaah haji Kloter 7 semuanya 410 orang. Mereka berasal dari KBIH Maqdis, KBIH Mega Arafah, KBIH As-syakur, KBIH Al-Abror, KBIH Unisba, dan beberapa orang jamaah haji mandiri (tidak tergabung dalam KBIH manapun).

Di Mapolda Jabar jamaah haji Kloter 7 dikumpulkan di Masjid. Di sana jamaah masih diberi pengarahan dan kiat-kiat sehat di Tanah Suci. Setelah serangkaian seremoni, akhirnya jamaah haji masuk kembali ke dalam bus masing-masing, siap berangkat ke embarkasi Jawa Barat di Bekasi.

Bersiap-siap memasuki bus

Berfoto bersama di Mapolda Jabar sebelum berangkat ke Embarkasi

Satu persatu bus rombongan haji (10 bus) meninggalkan Mapolda Jabar. Para pengantar,  yang merupakan keluarga jamaah haji, yang menunggu di luar (tidak boleh masuk ke dalam Mapolda) menyemut memberikan lambaian tangan selamat jalan. Tak terasa air mata pun menetes. Sungguh mengharukan. Sepanjang jalan dari Mapolda Jabar hingga perempatan lampu merah di Gedebage para pengantar berbaris melambaikan tangan. Perjalanan haji adalah perjalanan jauh, mungkin juga perjalanan menuju kematian. Para pengantar itu datang beramai-ramai ke Mapolda. Ada yang menyewa angkot, minibus, atau membawa mobil pribadi.

Lambaian tangan selamat jalan dari pengantar

Para keluarga pengantar jamah haji berbaris sepanjang jalan melambaikan tangan selamat jalan

Labbaikallahumma labbaik, labbaikala syarikalaka labbaik. Hamba datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.

Bus-bus rombongan jamaah haji selama perjalanan dari embarkasi menuju Embarkasi Haji di Bekasi dikawal oleh mobil Patwal polisi sehingga mendapat prioritas jalan. Bunyi sirine meraung-raung sepanjang jalan.  Bahkan, ketika tol Cikampek ditutup karena ada pembangunan jalan LRT,  khusus untuk rombongan jamaah haji dibuka khusus. Serasa menjadi tamu VIP saja.

Di Kabupaten Purwakarta bus berhenti di RM Cibening Sari untuk makan siang. Pemkot Bandung mentraktir jamaah haji makan siang gratis di rumah makan tersebut. Memang selama mengikuti haji mulai berangkat dari Bandung hingga kembali ke Bandung jamaah haji mendapat banyak perlakuan istimewa. Mungkin sebabnya satu: jamaah haji itu adalah tamu-tamu Allah, sehingga banyak orang/instansi berlomba memuliakan tamu-tamu itu, meskipun sebagai jamaah haji tidak pernah meminta perlakuan khusus tadi.

Oh iya, kloter saya, Kloter 7, termasuk dalam keberangkatan gelombang pertama. Sebagaimana diketahui, pemberangkatan jamah haji dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama dari tanggal 16 Juli – 30 Juli 2018, jamaah haji diterbangkan ke Madinah dulu. Gelombang kedua dari tanggal 31 Juli – 15 Agustus 2018, jamaah haji diterbangkan ke Mekah via Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Jamaah haji gelombang satu akan berada di Madinah dulu selama sembilan hari sebelum bertolak ke Mekah, sedangkan jamaah haji gelombang kedua tinggal di Mekah dulu selama 31 hari, baru kemudian pindah ke Madinah selama sembilan hari. Jadi, jamaah haji gelombang satu nantinya pulang ke tanah air melalui bandfara Jeddah, sedangkan jamah haji gelombang dua pulang melalui bandara Madinah.

Pembagian dua gelombang ini karena jamaah haji Indonesia sangat banyak jumlahnya tahun ini mencapai 220.000 orang, sehingga tidak mungkin diangkut semuanya secara serentak dalam satu periode. Mengangkut 220.000 orang dengan pesawat terbang sama dengan memindahkan seluruh penduduk sebuah kabupaten di Sumatera, dan menurut saya ini adalah sebuah pekerjaan raksasa.

Berangkat pada gelombang satu atau gelombang dua sama-sama memiliki plus minus. Jika berangkat pada gelombang satu, maka perginya lebih awal dan pulangnya ke tanah air juga lebih awal. Minusnya adalah terlalu lama menunggu puncak ibadah haji (wukuf di Arafah, energi jamaah sudah terkuras untuk mengerjakan ibadah sunnah di Madinah dan Mekah, sehingga ketika masa puncak haji kondisi kebugaran dan kesehatan jamaah sudah mulai menurun. Padahal, inti ibadah haji itu adalah wukuf di Arafah.

Sebaliknya jika berangkat pada gelombang kedua, jarak waktunya dengan puncak ibadah haji tidak terlalu lama menunggu, sehingga jamaah masih dalam keadaan fit untuk menjalani puncak ibadah haji di Armina (Arafah, Mudzdalifah, dan Mina). Sisa waktu setelah puncak ibadah haji dapat digunakan untuk ibadah sunnah di Makkah dan Madinah. Minusnya adalah setelah puncak ibadah haji selesai, jamaah haji biasanya sudah diliputi perasaan homesick untuk pulang ke kampung halaman.

Sayangnya jamaah haji tidak dapat memilih diberangkatkan pada gelombang satu atau dua, karena urutan keberangkatan ditentukan oleh Kemenag (mungkin melalui pengundian?). Namun, biasanya beberapa KBIH tertentu sudah memiliki “kebiasaan” berangkat pada gelombang satu atau gelombang dua setiap tahun. Tinggal kita saja mencari-cari informasi KBIH ini biasanya berangkat pada gelombang satu, KBIH yang itu biasanya pada gelombang dua. Kebetulan KBIH saya biasanya kebagian gelombang satu. Beberapa KBIH di Bandung sudah langganan berangkat pada gelombang dua, misalnya KBIH Salman, KBIH Pusdai, KBIH Istiqamah, KBIH Persis, dan lain-lain.

Kembali ke kisah perjalanan kami ke embarkasi Bekasi. Selama perjalanan ke embarkasi saya lebih banyak duduk diam dan melamun. Melamun banyak hal :-). Akankah saya dapat melaksanakan ibadah haji ini dengan lancar? Dapatkah saya melupakan sejenak urusan duniawi ini, fokus beribadah kepada Allah saja? Banyak lagi yang saya lamukan, namun sebagimana kata ustad pembimbing, pasrahkan semua urusan hidup ini hanya kepada Allah SWT saja. (BERSAMBUNG)

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 1 Komentar

Manfaat Tidur Miring ala Rasulullah

Tidur dengan posisi manakah yang bagus buat kesehatan tubuh? Tidur telentang atau tidur miring? Para ahli telah meneliti tentang hal ini, dan mereka menyimpulkan bahwa tidur dengan posisi miring memberi manfaat buat kesehatan. Saya baru saja membaca tulisan di Republika yang menceritakan Empat Manfaat Tidur dalam Posisi Miring. Dikutip dari artikel tersebut:

Menurut sejumlah ahli, tidur dalam posisi miring sangat disarankan demi alasan kesehatan. Dilansir dari Business Insider, inilah empat manfaat yang diperoleh dengan tidur miring:

1. Mengatasi dengkur

Orang-orang yang punya kebiasaan mendengkur saat tidur disarankan untuk tidur dalam posisi miring. Menurut Joachim Maurer selaku praktisi dari German Society of Otolaryngology, Head, and Neck Surgery, orang mendengkur karena memulai tidur dalam posisi terlentang.

“Hampir semua orang yang mendengkur mengawali tidurnya dalam posisi terlentang,” ungkap Maurer.

Alexander Blau, praktisi tidur dan pulmonologis di Berlin Sleep Academy juga merekomendasikan agar orang dengan problem pernafasan tidur dengan miring. “Paru-paru bekerja lebih baik dalam kondisi tegak,” ujar Blau.

2. Mengatasi masalah perut dan jantung

Maurer menyarakan memilih posisi tidur yang tepat tidak hanya membuat nyaman. Akan tetapi, bisa menjaga kesehatan jantung, otak, perut, dan sistem pernafasan.

Dietrich Andersen, kardiologis dan ahli fisiologi di Hubertus Protestant Hospital di Berlin menjelaskan orang dengan masalah jantung sebaiknya tidur menghadap kanan. Ini bertujuan agar jantung tidak menerima tekanan dari tubuh saat tidur.

3. Menyegarkan otak

Tahukah anda ternyata selama tidur otak kita mengalami proses ‘pencucian’. Oleh karena itu posisi tidur yang tepat bisa membuat kita bangun dengan pikiran yang segar. Kendati tidak memiliki masalah kesehatan apapun, tidur dengan posisi miring disebut lebih baik. Hans Forstl yang menjalankan klinik psikiatri dan psikoterapi di Munich mengatakan selama tidur otak mengalami penyegaran.

“Dengan tidur yang berkualitas, otak seperti dicuci ketika istirahat di malam hari,” jelasnya. Percobaan di laboratoruin dengan tikus putih menunjukkan apabila tikus tidur dalam posisi miring, maka zat-zat negatif akan luruh berkat kinerja sistem imun.

4. Mengurangi risiko kematian bayi

Studi yang dimuat di British Medical Journal menyebut ibu hamil yang tidur miring akan lebih sedikit terkena risiko kematian bayi saat lahir. Ibu hamil yang tidur miring ke kiri risiko kematian bayinya lebih rendah 50 persen daripada mereka yang tidur menghadap ke kanan atau terlentang.

~~~~~~~~~~~~~~

Ternyata, ratusan abad sebelum para ahli kesehatan menemukan manfaat tidur dengan posisi miring,  Rasulullah Muhammad SAW sudah mencontohkan tidur dengan posisi miring. Rasulullah tidur dengan posisi miring ke kanan.

Rasulullah bersabda :

“Apabila kamu hendak tidur maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk sholat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain Rasulullah juga bersabda;Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu,” (Hr Al-Bukhari dan Muslim).

Dikutip dari artikel Rahasia Tidur Miring ke Kanan Anjuran Nabi, ternyata tidur dengan posisi miring ke kanan sangat baik untuk kesehatan. Dikutip dari artikel tersebut:

Berikut menfaat tidur dengan posisi miring ke kanan yang diambil dari berbagai sumber.

  • Tidur dalam posisi ke kanan dapat mengistirahatkan otak kiri. Dengan tidur miring ke kanan,  dapat menghindarkan dari bahaya yang timbul seperti pengendapan pembekuan darah, lemak, asam sisa oksidasi, dan penyempitan pembuluh darah.
  • Dapat mengurangi beban jantung. Dengan posisi miring ke kanan saat tidur dapat membuat darah terdistribusi secara merata dan terkonsentrasi ke tubuh bagian kanan, membuat aliran darah yang masuk dan keluar jantung lebih melambat sehingga denyut jantung lebih lambat dan tekanan darah akan menurun.
  • Mengistirahatkan lambung. Dengan tidur miring ke kanan menyebabkan aliran chiem lancar sehingga cairan empedu meningkat. Hal ini dapat mencegah batu kantung empedu.
  • Meningkatkan waktu penyerapan gizi. Dengan posisi tidur miring ke kanan membuat perjalan makanan yang tercerna lebih lama, sehingga penyerapan sari makanan lebih optimal.
  • Merangsang buang air besar. Dengan tidur miring ke kanan akan membuat proses pengisian usus besar lebih cepat penuh sehingga merangsang gerak usus besar dan relaksasi dari otot anus. Ini akan merangsang untuk buang air besar.
  • Mengistirahatkan kaki kiri. Dengan tidur miring ke kanan akan membantu pengosongan vena kaki kiri sehinnga rasa pegal lebih cepat hilang.
  • Menjaga kesehatan paru-paru. Paru-paru kanan lebih besar daripada paru-paru kiri. Saat tidur miring ke kanan, jantung juga akan condong ke kanan. Hal ini tak masalah karena jantung akan menekan paru-paru kanan yang ukurannya lebih besar.
    Menjaga saluran pernafasan. Dengan tidur miring ke kanan akan mencegah jatuhnya pangkal lidah yang dapat mengganggu saluran pernafasan.
  • Untuk sekarang apa salahnya kita membiasakan dengan tidur miring ke kanan untuk memperoleh posisi tidur yang sehat.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Saya akan mengikuti sunnah Nabi ini karena terbukti banyak manfaatnya.

Dipublikasi di Agama, Gado-gado, Kisah Hikmah | 5 Komentar

Haru Biru PPDB SMP Negeri Sistem Zonasi 90% di Kota Bandung

Di Kota Bandung Penerimaan Peserta Didik baru (PPDB) SMP negeri tahun ini menyisakan cerita sedih. Sistem zonasi 90% telah membuat banyak orangtua marah dan kecewa. Banyak orangtua yang anak-anaknya terdepak, tidak diterima di pilihan manapun, kalah oleh faktor jarak rumah ke sekolah yang dituju. Bukan kalah oleh nilai UN atau dulu disebut NEM, tetapi kalah oleh meteran.

Sistem zonasi 90% artinya 90% kuota siswa baru diseleksi berdasarkan jarak rumah ke sekolah. Nilai UN SD sama sekali tidak dipakai (jadi, buat apa ada UN?). Semakin dekat jarak rumah calon siswa ke sekolah, semakin besar peluangnya diterima di sekolah tersebut. Faktanya hanya calon siswa yang berjarak radius kurang dari 500 meter yang diterima, selebihnya gagal, termasuk gagal di pilihan kedua yang tentu jarak dari rumah ke sekolah lebih jauh lagi. Jadi, diterima atau tidak seorang anak di SMP yang dituju tergantung nasib memilih rumah ketika orangtua membeli rumah dulu.

Pengecualian zonasi 90% hanya pada lima SMP negeri di tengah kota yang tidak dikelilimgi oleh pemukiman penduduk, yaitu SMPN 2, 5, 7, 14, dan SMPN 44. Di lima SMP negeri tersebut seleksinya menggunakan nilai UN, namun itupun kuotanya hanya 40% saja, sedangkan kuota 60% lagi tetap berdasarkan jarak rumah, termasuk kuota untuk jalur-jalur lain seperti RMP (rawan melanjutkan pendidikan), anak guru, jalur prestasi, dan anak berkebutuhan khusus.

Sistem zonasi adalah amanat Permendikbud. Tujuan sistem zonasi sebenarnya bagus yaitu agar anak-anak bersekolah di dekat rumah dan menghilangkan dikotomi sekolah favorit dan non favorit. Tetapi masalahnya penyebaran sekolah di Bandung tidak merata. Ada kawasan yang padat penduduk tetapi hanya ada satu SMP negeri atau bahkan tidak punya SMP negeri. Perhatikan peta sebaran SMP negeri di sepenggal wilayah kota Bandung yang saya peroleh dari akun Facebook ini.  Terlihat tidak meratanya sebaran SMP negeri. Hanya calon siswa yang sekitar sekolah saja yang bisa diterima. Bagaimana dengan calon siswa di daerah abu-abu yang notabene jauh dari SMP negeri? Tersingkir! Mereka dikalahkan oleh “nasib” memiliki rumah jauh dari sekolah. Meskipun nilai UN mereka tinggi, tetapi mereka kalah bersaing oleh siswa yang rumahnya dekat sekolah sekalipun memiliki nilai UN jelek. Nilai UN sama sekali tidak dipakai untuk seleksi (dipakai hanya kalau ada dua siswa mempunyai jarak yang sama).

petasekolah

Seorang ibu menulis pada akun tersebut:

Masih banyak yg mengira kisruhnya PPDB tahun ini karena memperebutkan sekolah favorit. Walau tidak sepenuhnya salah krn memang masih ada yg berharap demikian, dan sah2 saja selama berkemampuan dan dicapai dg jujur. Tapi kisruhnya PPDB sekarang ini lebih kepada tidak sesuainya kebijakan dg kondisi dilapangan. Tidak ada yg bisa diperjuangkan utk meraih sekolah krn sdh ditentukan oleh nasib letak rumahnya. Ilustrasi berikut mungkin bisa memudahkan mereka yg tidak terlibat PPDB (tidak tahu masalah) tapi menyalahkan korban krn menyangka memperebutkan sekolah favorit.

Akhirnya pilihan orangtua yang gagal adalah ke sekolah swasta. Tetapi sekolah swasta pun lokasinya jauh dari rumah. Sekolah swasta yang bagus-bagus pun sudah lama tutup pendaftaran. Maka, akhirnya tujuan zonasi agar siswa sekolah di dekat rumah tidak tercapai. Selain itu, tidak semua orangtua punya kemampuan ekonomi menyekolahkan anaknya ke swasta.

Tahun depan, jika sistem zonasi seperti ini tetap dipakai, maka harga rumah dekat sekolah mungkin akan melejit tinggi. Beli saja rumah atau apartemen dekat SMP 2 atau 5 (misalnya) di tengah kota, bikin kartu keluarga baru di sana, maka biarpun nilai UN anakmu jeblok, dia akan mudah masuk sekolah tersebut.

Sistem zonasi tanpa menperhitungkan nilai UN ini dapat membuat motivasi belajar siswa tidak perlu lagi. Siswa tidak usah giat belajar, banyak main game dan PS aja, toh sudah terjamin masuk SMP negeri karena rumah dekat sekolah.

Penerimaan siswa baru berdasarkan sistem zonasi hanya cocok diterapkan jika SMP negeri tersebar secara merata. Selama sekolah belum tersebar secara merata, maka sistem ini tidak adil bagi siswa yang jauh dari sekolah. Sistem ini juga telah “membunuh” siswa yang memiliki kemampuan akademik bagus tetapi tersingkir karena tinggal di tempat yang jauh dari sekolah.

Kota Bandung menerapkan sistem zonasi 90% secara total, seharusnya bertahap dulu mengingat sebaran SMP negeri yang belum merata.  Menurut saya sistem yang fair adalah dengan tetap mempertahankan seleksi berdasarkan nilai UN. Sistem zonasi tetap ada, tetapi persentasenya 20 sampai 30% saja untuk warga sekitar. Mungkin sistem seleksi SMA negeri bisa dijadikan acuan yang tetap memperhitungkan nilai UN ditambah skor jarak dari rumah ke sekolah. Biarkan anak-anak kita termotivasi belajar di sekolah untuk meraih nilai UN bagus agar dapat bersaing masuk sekolah negeri pilihannya.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 1 Komentar

Lorong dan Pilar di Kampus ITB

Kampus ITB di Jalan Ganesha adalah kampus yang indah dan unik. Banyak bangunan heritage yang dibangun pada zaman Belanda sejak tahun 1920. Sebut saja Aula Barat, Aula Timur, Gedung Teknik Sipil, Gedung Fisika, Gedung Teknik Lingkungan, dan Gedung LFM. Semuanya adalah bangunan tua dengan atap berupa kayu sirap. Dua tahun lagi, pada tahun 2020 ITB genap berusia 100 tahun.

Aula Barat ITB

Bangunan baru di dalam kampus dibuat kompatibel dengan bangunan lama. Salah satu unsur yang dipertahankan pada bangunan baru adalah pilar-pilar bulat yang tersusun dari batu kali dan direkat dengan semen sehingga tampak alami. Pilar-pilar itu menyangga atap bangunan. Pilar-pilar itu ada yang dibuat berpasangan kiri dan kanan sehingga membentuk lorong. Kalau kita berjalan di dalam lorong itu, kita seakan-akan menapaki perjalanan sejarah.

Di bawah ini adalah lorong dengan pilar-pilar penyangga di Gedung Teknik Sipil yang terletak di belakang Aula Barat. Ketika anda melewati lorong Teknik Sipil ini, seakan-akan anda menapaktilasi langkah kaki Soekarno ketika dia berjalan di lorong yang sama saat kuliah di sini pada tahun 1920-an. Ya, Soekarno adalah alumni Teknik Sipil ITB tahun 1920-an. Waktu Soekarno kuliah tahun 1923 di ITB hanya ada beberapa gedung saja, antara lain  Aula Barat, Teknik Sipil, dan Gedung Fisika. Praktis Soekarno bolak-balik kuliah ke gedung-gedung tersebut melewati lorong ini.

Pilar-pilar dari susunan batu yang menyangga atap bangunan di Gedung Teknik Sipil

Berjalan terus dari lorong ini ke arah utara kita melewati lorong di Gedung Fisika. Lantainya adalah marmer jadul, dan di sebelah kiri adalah dinding atau tembok untuk menempel pengumuman nilai ujian Fisika. Mahasiswa menyebut tembok ini sebagai tembok ratapan. Pilar-pilar yang sama seperti di Aula Barat dan Gedung Teknik Sipil berdiri diam membisu. Pilar-pilar itu sudah berdiri di sana sejak tahun 1920-an.

Lorong Fisika yang sepi, ditinggal para mahasiswa yang mudik. Sebelah kanan adalah “tembok ratapan” mahasiswa TPB. Lantai marmer nya yang membuat jalan bergoyang masih terjaga keasliannya sejak tahun 1920.

Terus berjalan lagi ke utara, kita akan melewati lorong yang menghubungkan Gedung Fisika dengan Gedung Labtek V. Gedung LabTek adalah gedung yang relatif baru usianya, yaitu dibangun tahun 1994. Namun, gedung ini dibuat sedemikian rupa sehingga tetap mewarisi aura atau “ruh” Aula Barat. Pilar-pilar batu berdiri dengan anggunnya seakan menyapa kita yang melewatinya.

Lorong yang menghubungkan Gedung Fisika dengan LabTek V

Gedung LabTek V, VI, VII, dan VIII serupa bentuknya. Bangunan berlantai 4 itu disangga dengan pilar-pilar batu. Saat berjalan di lorong yang berjejer dengan pilar-pilar batu itu saat kampus sedang sepi, dari ujung ke ujung, kita seolah berjalan menuju sebuah titik yang konvergen.

Saat kampus sedang sunyi, berjalan di lorong LabTek V ini seakan menuju ke sebuah titik fokus.

Semua pilar-pilar batu di dalam kampus dihiasi dengan kembang stepanut  yang menjalar dan bergelayutan. Pada Bulan Agustus, bunga-bunga yang berwarna oranye dari kembang stepanut bermekaran dengan indahnya.

Bunga-bunga di setiap pilar

Duh, cantiknya…

Kembang stepanut yang cantik di pelataran antara LabTek V dan LabTek VI (depan kolam “Indonesia Tenggelam”)

Kembang agustusan bermekaran di Tugu Kubus di depan Taman Ganesha

Semua lorong di dalam kampus berawal dari pintu gerbang utara, dan berakhir di gerbang selatan. Setiap gedung dari utara ke selatan terhubung oleh lorong-lorong dengan pilar batu yang artistik dan alami, sehingga tidak ada alasan mahasiswa kehujanan untuk mencapai gedung manapun di dalam kampus.

Dipublikasi di Seputar ITB | 3 Komentar

Pengalaman Minum Obat Tidur

Mungkin ini salah satu pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan, yaitu pernah mengkonsumsi obat tidur!  Seumur hidup inilah pertama kali saya mengkonsumsi obat semacam ini.

Jadi ceritanya begini. Seusai lebaran kemaren, saya pernah dua hari dua malam tidak bisa tidur. Mata tidak bisa dipejamkan  sepicingpun. Sudah bolak-balik badan saya di atas kasur, tapi mata tetap melek. Sudah beberapa doa dan surat di dalam Al-Quran saya baca tetapi tetap tidak bisa tidur juga. Sampai adzan subuh berkumandang saya belum berhasil tidur.  Istilah ilmiahnya saya mengalami insomnia.

Efeknya terasa pada siang hari. Badan saya kleyeng-kleyengan kata orang Jawa, tidak nyaman, pusing, tidak bisa konsentrasi.  Badan terasa lelah. Mata terasa sangat berat tetapi tidak ada rasa mengantuk. Tidak enaklah pokoknya.

Dua hari tidak bisa tidur, maka saya tidak ingin pada hari ketiga juga tidak bisa tidur. Lalu, saya pun mengunjungi dokter umum. Dokter mengatakan saya mungkin mengalami stres atau banyak pikiran sehingga tidak bisa tidur. Banyak pikiran? Mungkin juga. Menjelang keberangkatan haji, seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, saya memang sering kepikiran. Kepikiran anak sulung, kepikiran segala macam. Meskipun kepikiran itu hanya selintas-selintas saja melayang di dalam otak, tetapi terbawa ke tempat tidur. Akibatnya ya begini, saya tidak bisa tidur sepicingpun. Insomnia!

Saya minta solusinya kepada dokter. Saya ingin tidur barang sejam dua jam tak apalah. Dokter memberi saya lima butir obat namanya Alganax. Dari internet saya ketahui kalau Alganax adalah sejenis obat penenang yang memberi efek mengantuk. Semacam valium lah. Obat ini diminum satu butir setelah makan malam. Dosis obat yang diberikan adalah 0.5 mg.

Malam harinya saya minum satu butir Alganax. Beberapa jam kemudian saya merasa mengantuk berat. Akhirnya saya benar-benar bisa tertidur pulas sampai adzan Subuh. Keesokan harinya badan saya merasa segar kembali.

Pada malam kedua saya minum satu butir lagi. Saya memang bisa tidur seperti pada hari sebelumnya.

Tetapi, pada hari ketiga, saya tidak mau meminum lagi. Saya tidak ingin tergantung pada obat tidur ini. Dua butir saja cukup, sisanya tidak mau saya habiskan.  Pada dasarnya semua obat penenang memberi efek kecanduan, yang jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama bisa membuat penggunanya seperti pecandu narkoba: harus tersedia, jika tidak ada maka diri akan merasa gelisah, badan tidak enak, dan sebagainya.

Pada hari ketiga dan keempat setelah saya tidak mau minum obat tidur itu lagi, memang mata sulit dipejamkan. Saya mencoba berbagai tips agar bisa tidur, misalnya kamar dibuat dalam keadaan gelap gulita, tidak boleh ada cahaya sedikitpun. Semua jam yang berbunyi saya turunkan,  minum susu hangat, madu, bahkan mandi air hangat. Setelah berjuang berjam-jam untuk tidur, memang saya bisa tidur sebentar tapi terbangun lagi. Setelah terbangun saya tidak bisa tidur lagi. Intinya saya tidak bisa tidur lelap. Kejadian ini berlangsung selama beberapa hari yang membuat badan saya drop. Tetapi, demi tidak mau minum obat tidur lagi, hal ini harus dilalui supaya efek ketergantungan itu hilang.

Saya berkesimpulan bahwa penyebab insomnia ini yang harus diatasi terlebih dahulu, bukan solusinya dengan obat.  Obat tidur atau obat penenang hanya memberi ketenangan yang semu. Efek mengantuknya tidak alami, tetapi karena dirangsang oleh zat kimia dari obat. Kalau memang saya tidak bisa tidur karena banyak pikiran menjelang berangkat haji, maka masalah inilah yang harus diselesaikan.  Lalu, saya bermunajat kepada Allah SWT, saya memasrahkan diri saya kepada-Nya, ikhlas lahir batin. Semua saya serahkan kepada Allah, baik keluarga saya, anak saya, maupun harta benda saya. Saya minta diampuni semua dosa dan kesalahan saya.

Pada hari kelima dan seterusnya saya bisa juga tidur, tetapi setelah larut malam baru mata bisa terpejam. Tak apalah, daripada tidak bisa tidur sama sekali. Dua jam pun cukup.

Sekarang saya sudah bisa tidur lagi. Sebagai pengganti obat tidur dari dokter, saya menggunakan beberapa herbal. Saya pesan teh Chammomile lewat Tokopedia. Saya coba minum larutan serbuk buah pala dicampur madu. Saya juga minum suplemen. Alhamdulillah, saya berhasil  tidur lama dan badan saya mulai merasa segar kembali.

Dipublikasi di Pengalamanku | 2 Komentar

Rindu dengan Rasulullah

Insya Allah tinggal dua minggu lagi saya akan berangkat menunaikan haji ke Tanah Suci. Berbagai perasaan tentu telah berkecamuk di dalam hati saya menjelang keberangkatan. Antara bahagia, sedih, dan gembira. Bahagia karena saya akan menjadi tamu Allah SWT di Rumah-Nya di Baitulah. Gembira karena saya akan bertemu kembali dengan Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan saya akan berada di samping Rasulullah meskipun hanya maqamnya saja. Sedih karena harus meninggalkan keluarga, terutama anak dan istri yang saya sayangi. Tetapi, saya telah memasrahkan diri kepada Allah SWT  sepenuh hati lahir dan batin agar perjalanan haji ini dilancarkan dan berharap mendapat haji yang mabrur.

Meskipun saya telah pernah pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan Umrah tahun 2015, namun haji adalah puncak dari Rukun Islam. Haji itu adalah wukuf di Arafah, demikian kata Rasulullah, maka haji tanpa wukuf di Arah adalah tidak sah. Umrah yang saya lakukan hanya sebatas Thawaf dan Sa’i, maka itu bukanlah ibadah haji.

Orang yang pernah pergi ke Tanah Suci Makkah dan Madinah, baik untuk berumrah maupun berbadah haji, maka di dalam dirinya selalu muncul keinginan untuk kembali dan kembali lagi ke Tanah Suci. Tanah Suci Makkah dan Madinah adalah dua tempat yang selalu dirindukan untuk didatangi lagi, berkali-kali jika ada kesempatan (waktu dan biaya). Tidak heran banyak orang umrah berkali-kali meskipun tidak wajib, tetapi perasaan rindu itu telah mengikat batin untuk datang berkali-kali ke sana.

Sebuah tempat yang saya rindukan untuk selalu berada di sisinya adalah maqam Rasulullah. Maqam Rasulullah terdapat di dalam Masjid Nabawi di Madinah. Saya pernah duduk di samping maqam Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, ketika umrah tiga tahun lalu. Kisah ini saya ceritkan dalam tulisan berjudul Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 3): Di dalam Masjid Nabawi. Saya duduk di area Raudhah. Raudhah adalah tempat yang terletak di antara rumah Nabi dan mimbar Nabi. Seperti diketahui, Nabi dimakamkan di dalam rumahnya, dan rumahnya kini sudah menyatu di dalam Masjid Nabawi.

DSC_0511

Jamaah menyesaki Raudhah. Di kejauhan tampak maqam Nabi yang berawarna hijau

Kadang-kadang saya duduk persis di sebelah maqam Nabi. Tidak terbayangkan oleh saya bisa berada sedekat itu dengan Rasulullah meskipun hanya duduk di samping jasadnya yang sudah berada di dalam tanah. Saya bayangkan dulu Nabi bolak-balik pergi melewati tempat saya duduk dari rumahnya menuju mimbar di dalam masjid, dan sekarang saya hanya bisa mengenangnya. Shalawat dan salam ya Rasulullah.

DSC_0525

Maqam Rasulullah di dalam Masjid Nabawi, dahulu adalah rumahnya. Maqam ini ditutup dengan pintu besi berwarna hijau dan menyisakan beberapa lubang untuk melihat ke dalamnya.

Sungguh saya tidak percaya, sedekat itu saya berada di samping Rasulullah, meskipun terpisah oleh waktu selama ribuan tahun. Tetapi saya saat itu duduk di dekatnya. Rasulullah Muhammad SAW, lelaki yang agung yang dicintai oleh ratusan juta ummat Islam di seluruh dunia. Namanya selalu diucapkan setiap hari, seluruh ummat mendambakan syafaatnya pada Hari Akhir nanti.

Ketika saya mendengarkan lagu dari penyanyi Maher Zain yang berjudul Ya Nabi Salam Alaika, tiba-tiba saja kerinduan saya kepada Rasulullah membuncah demikian hebatnya. Tidak terasa mata saya terasa basah, membayangkan lelaki yang telah membawa ummat manusia ke jalan keselamatan.

Lirik lagu Ya Nabi Salam Alaika:

Anta nurullahi fajran
Ji’ta ba’dal usri yusran
Rabbuna ‘alaka qadran
Ya imamal anbiya’i

Anta fil wujdani hayyun
Anta lil ainaini dhoyyun
Anta indal haudhiriyyun
Anta hadun wa shafiyyun
Ya habibi ya Muhammad

Ya nabi salam alaika
Ya rassul salam alaika
Ya habib salam alaika
Shalawatullah alaika

Yartawi bil hubbi qalbi
Hubbi khairi rusli Rabbi
Man bihi abshortu darbi
Ya syafi’i ya Rasulallah

Ayyuhal mukhtaru fina
Zadanal hubbu haniina
Ji’tana bil khairidiina
Ya khitamal mursalina
Ya habibi ya Muhammad

Ya Nabi salam alaika
Ya Rasul salam alaika
Ya Habib salam alaika
Shalawatullah alaika

 

Terjemahan:

Engkaulah cahaya pada waktu fajar
Engkau datang setelah kesulitan (dan menjadikannya) kemudahan
Tuhan kami telah mengangkat derajat atasmu
Wahai pemimpin para nabi

Engkau berada di dalam hati nurani yang hidup
Engkaulah cahaya untuk kedua mataku
Engkaulah aliran air pada sungai
Engkau adalah petunjuk yang sesungguhnya
Wahai kekasihku ya Muhammad

Wahai Nabi keselamatan (tercurah) atasmu
Wahai Rasul keselamatan (tercurah) atasmu
Wahai kekasih keselamatan (tercurah) atasmu
(semoga) shalawat (rahmat) Allah (tercurah atasmu

Cinta yang tak terpadamkan di dalam hatiku
Cinta(kepada) utusan terbaik dari Tuhanku
Barangsiapa yang bersama kulihat (berada) di jalan (Allah)
Wahai perantaraku wahai Rasululullah

Wahai yang terpilih diantara kami
Cinta kami mendorong rasa rindu kami
Engkau datang kepada kami dengan agamayang terbaik
Wahai penutup orang-orang yang diutus
Wahai kekasihku wahai Muhammad

~~~~~~~~~~~~

Ya Nabi salam ‘alaika shalawat dan salam tercurah untukmu.

Dipublikasi di Agama, Pengalamanku | 3 Komentar