Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 7 – Habis): Wisata Ziarah di Kota Makkah dan Selamat Tinggal Tanah Suci

Rasanya empat hari di kota Makkah masih kurang, masih belum puas beribadah di Masjidil Haram. Ingin sekali selalu berada di sana, beri’tikaf, sholat, thawaf, sa’i, dan lain-lain. Namun karena ini program paket umrah, maka selalu ada acara wisata ziarah menuju tempat-tempat bersejarah.

Selama satu hari kami mengunjungi banyak tempat di kota Makkah dan sekitarnya. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jabal Tsur, sekitar 6 km dari kota Makkah. Jabal Tsur adalah sebuah bukit yang di atasnya terdapat sebuah gua. Di sinilah Rasulullah bersembunyi di dalam sebuah gua bersama sahabatnya, Abu Bakar, dari kejaran pemuda-pemuda Quraisy. Ketika para pemuda Quraisy sampai di bukit itu, Allah SWT menurunkan pertolongan-Nya. Mulut gua ditutupi sarang laba-laba dan di dekatnya ada sarang burung merpati. Para pemuda Quraisy menyangka bahwa tidak mungkin Rasulullah berada di dalam gua itu, sebab jika orang masuk ke dalamnya pasti rusaklah sarang laba-laba tersebut. Maka, selamatlah Rasululullah dan sahabatnya dari kejaran kaum Quraisy.

Jabal Tsur

Jabal Tsur

Di Jabal Tsur kami hanya singgah sebentar untuk berfoto dari bawah bukit. Selanjutnya perjalanan wisata ziarah menuju tempat wukuf di Arafah. Padang Arafah saat ini tidak gersang lagi, sudah banyak pepohonan yang ditanam di sana. Pohon-pohon itu tidak pernah bisa tinggi, mungkin memang jenisnya demikian. Di Padang Arafah ada pohon yang dinamakan Pohon Soekarno, karena dulu Presiden Soekarno pernah menaman beberapa pohon di sana.

Di dekat Padang Arafah ada bukit yang sangat terkenal, yaitu Jabal Rahmah. Inilah bukit yang dipercaya sebagai tempat bertemunya Adam dan Hawa yang terpisah selama ratusan tahun setelah terusir dari Surga akibat memakan buah larangan. Jabal Rahmah terletak di dekat Padang Arafah. Di atas bukit ini terdapat sebuah tugu untuk mengenang pertemuan Adam dan Hawa.

Jabal Rahmah

Jabal Rahmah

Tugu di atas Jabal Rahmah

Tugu di atas Jabal Rahmah

Mendaki Jabal Rahmah tidak sulit-sulit amat. Para aki-aki dan nini-nini yang sudah sepuh pun masih kuat untuk mendakinya. Maklum saja ini bukit batu dan banyak tempat untuk berpijak ketika mendaki. Kalau mau lebih aman, jamaah bisa naik tangga yang sudah dibuat oleh Pemerintah Arab Saudi. Tangga menuju Jabal Rahmah terletak di sisi timur. Semangat jamaah umrah untuk mendaki bukit ini luar biasa, tak henti-hentinya jamaah mengalir mendaki bukit batu ini.

Antusiasme jamaah mendaki Jabal Rahmah

Antusiasme jamaah mendaki Jabal Rahmah

Dari Arafah kita menuju Mina. Inilah tempat di mana para jamaah haji bermalam sebelum melontar jumrah. Di Mina sudah terpasang ribuan tenda tempat jamaah haji menginap. Meskipun bukan bulan haji, tenda-tenda itu tidak pernah dibongkar, dan kita dapat menyaksikannya sepanjang perjalanan.

Tenda-tenda di Mina

Tenda-tenda di Mina

Lebih dekat dengan tenda di Mina

Lebih dekat dengan tenda di Mina

Selesai melewati Mina, jamaah umrah kembali ke kota Makkah. Sebelum memasuki pusat kota Makkah, kami singgah terlebih dahulu di sebuah museum eksibisi arsitektur dua masjid suci, yaitu Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Di museum ini kiat dapat melihat sejarah elemen-elemen arsitektur kedua masjid suci tersebut.

Museum eksibisi arsitektur dua masjid suci

Museum eksibisi arsitektur dua masjid suci

Di museum ini kita dapat melihat:
1. Maket Masjidil Haram

Maket Masjidil Haram

Maket Masjidil Haram

2. Cetakan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim (Maqam Nabi Ibrahim yang terletak di depan ka’bah)

Cetakan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim (Maqam Ibrahim)

Cetakan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim (Maqam Ibrahim)

3. Cungkup Hajar Aswad

Cungkup Hajar Aswad

Cungkup Hajar Aswad

4. Sumur Air Zam-zam

Sumur Air Zam-zam

Sumur Air Zam-zam

5. Kunci pintu ka’bah

Kunci pintu ka'bah

Kunci pintu ka’bah

6. Tangga kayu ka’bah yang dibuat tahun 1420 H

Tangga ka'bah yang terbuat dari kayu jati

Tangga ka’bah yang terbuat dari kayu jati

7. Pintu Masjid Nabawi

Pintu  Masjid Nabawi

Pintu Masjid Nabawi

8. Dan lain-lain, masih banyak lagi yang bisa dilihat, sayang sekali waktunya hanya sebentar, kami sudah dipanggil untuk naik ke bis, sebab waktu sholat Dhuhur di Masjidil Haram hampir tiba. Kami para jamaah akan segera menuju Masjidil Haram untuk sholat Dhuhur. Sebelum pergi, saya sempatkan dulu berfoto dulu di dalam museum ini. Setiap pengunjung mendapat oleh-oleh sebuah Al-Quran gratis dari pengelola museum.

He..he, disempatkan dulu berfoto narsis di dalam museum.

He..he, disempatkan dulu berfoto narsis di dalam museum.

Sehari sebelum pulang ke tanah air, para jamaah jalan-jalan ke kota Jeddah untuk membeli oleh-oleh yang masih kurang. Perjalanan dari Makkah ke Jeddah hanya sekitar dua jam. Kota Jeddah adalah kota pelabuhan karena letaknya di pinggir laut. Di sini juga terdapat bandara internasional untuk kedatangan jamaah haji. Sepanjang perjalanan dari Makkah ke Jeddah kita disuguhi pemandangan yang kering dan tandus. Sekali-sekali kita melihat tenda suku badui dan untanya.

Pemandangan kering dan tandus sepanjang jalan dari Makkah ke Jeddah

Pemandangan kering dan tandus sepanjang jalan dari Makkah ke Jeddah

Di Jeddah para jamaah berbelanja di pusat perbelanjaan ‘yang katanya’ murah. Toko-toko di sini ‘ramah’ dengan orang Indonesia. Maksudnya ramah adalah pegawai tokonya bisa berbahasa Indonesia. Uang rupiah berlaku di sini selain riyal tentunya. Berada di sini serasa tidak berada di Arab Saudi, karena kita mudah menemukan kedai bakso, kedai soto, kedai siomay, orang Indonesia, dan tentu saja tulisan-tulisan berbahasa Indonesia.

Pusat perdagangan murah di Jeddah

Pusat perdagangan murah di Jeddah

Toko Ali Murah, serasa berada di Pasar Baru Bandung

Toko Ali Murah, serasa berada di Pasar Baru Bandung

Jamaah umrah atau haji yang berada di Jeddah pasti tidak lupa untuk mengunjungi masjid terapung. Dalam perjalanan menuju bandara Jeddah, kami menyempatkan diri untuk sholat Subuh di masjid terapung. Masjid yang terletak di pinggir Laut Merah ini sebenarnya tidak terapung, hanya sebagian badan masjid terletak di atas laut. Sayangnya masjid ini kurang terawat, toiletnya tampak kurang dibersihkan, bau pesing di mana-mana.

Masjid terapung di pinggir Laut Merah

Masjid terapung di pinggir Laut Merah

Masjid terapung

Masjid terapung

Di dalam masjid terapung

Di dalam masjid terapung

Akhirnya, perjalanan umrah ke Tanah Suci harus berakhir. Sedih rasanya ketika melaksanakan thawaf wada’ atau thawaf perpisahan semalam sebelum kami berangkat ke Jeddah. Saya akan berpisah dengan Masjidil Haram. Ketika berdoa pada akhir thawaf wada’, maka mintalah agar kelak suatu saat kita diberi kesempatan untuk mengunjungi Baitullah dan Masjid Nabawi kembali.

Sesampai di terminal haji Bandara Jeddah, saya merenung. Semoga saya bisa kembALI ke Tanah Suci kelak beberapa tahun lagi untuk menunaikan ibadah haji. Saya mendapat kuota haji pada tahun 2018 yang berarti tiga tahun lagi. Rasanya sudah tidak sabar ingin kembali ke Tanah Suci. Rasanya perjalanan umrah begitu sebentar. Bahkan, baru beberapa hari saya berada di tanah air, saya merasa kangen dan rindu untuk kembali ke sana.

Terminal Haji Bandara King Abdul Aziz,  Jeddah

Terminal Haji Bandara King Abdul Aziz, Jeddah

Pesawat Saudi Arabian sudah menunggu di landasan. Satu persatu para jamaah umrah memasuki badan pesawat. Tidak ada isak tangis atau air mata, yang ada adalah perasaan bahagia karena sudah berkunjung ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umrah.

Pesawat Saudi Arabian yang membawa jamaah pulang ke Tanah Air

Pesawat Saudi Arabian yang membawa jamaah pulang ke Tanah Air

Selamat tinggal kota suci Makkahh dan Madinah, semoga kami dapat mengunjungimu kembali suatu hari nanti. (TAMAT)

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 3 Komentar

Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 6): Masjidil Haram pada Waktu Siang

Pada siang hari kita dapat menyaksikan Masjidil Haram lebih jelas dan lebih terang, termasuk pemandangan di sekelilingnya. Titik sentral Masjidil Haram tentulah bangunan ka’bah yang berbentuk kubus dan berselimut kain hitam bernama kiswah. Inilah pusat kiblat shalat ummat Islam di seluruh dunia. Jika di Indonesia kita sholat dengan menghadap ke arah barat dan serong sedikit ke kanan, maka di Masjidil Haram kita dapat menghadap ke arah mana saja asalkan menghadap ke ka’bah.

Ka'bah, titik sentral Masjidil Haram dan pusat kiblat ummat Islam sedunia. Jamaah bergerak serentak melaksanakan thawaf, baik di lantai dasar di depan ka'bah maupun di temporary ring di lantai satu dan lantai dua.

Ka’bah, titik sentral Masjidil Haram dan pusat kiblat ummat Islam sedunia. jamaah bergerak serentak melaksanakan thawaf, baik di lantai dasar di depan ka’bah maupun di temporary ring di lantai satu dan lantai dua.

Ka’bah tidak pernah sepi dari jamaah yang sholat dan jamaah yang thawaf. Ketika kita sedang sholat di dekat ka’bah mungkin di depan kita lalu lalang jamaah yang berjalan melakukan thawaf. Jamaah yang melakukan thawaf tidak hanya di lantai dasar, tetapi juga di temporary ring dua lantai yang mengitari ka’bah. Semua bergerak dalam arah yang sama menghasilkan ritme yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Crane-crane proyek perluasan masjid tampak menyembul dari luar masjid seakan-akan mengamati para jamaah yang melaksanakan thawaf.

Di Masjidil Haram kita disunnahkan sering melaksanakan thawaf, tidak hanya pada prosesi umrah saja. Selama di Makkah, saya alhamdulillah telah lima kali melakukan thawaf, baik sebelum sholat wajib atau sesudahnya. Melakukan thawaf tujuh putaran memakan waktu 30 menit hingga 40 menit, bergantung padat atau tidaknya jamaah di depan ka’bah. Menjelang dimulainya sholat fardhu, para askar dan petugas Masjidil Haram menghimbau jamaah menghentikan thawafnya karena sholat fardhu atau sholat wajib akan dimulai. Setelah selesai sholat, kita dapat melanjutkan putaran thawaf sisanya.

Ka'bah dengan latar belakang Menara Zam-zam

Ka’bah dengan latar belakang Menara Zam-zam

Ada satu titik di ka’bah yang menjadi rebutan jamaah untuk menjamah dan menciumnya. Itulah hajar aswad atau batu hitam. Batu yang diyakini berasal dari syurga itu selalu diimpikan para jamaah untuk sekedar memegang atau menciumnya. Pada mulanya batu tersebut berwarna putih, namun karena dosa-dosa mansuialah maka ia berubah menjadi hitam.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « نَزَلَ الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ »

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam”. ( HR. Tirmidzi no. 877. Shahih menurut Syaikh Al Albani)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَكَانَ أَشَدَّ بَيَاضاً مِنَ الثَّلْجِ حَتَّى سَوَّدَتْهُ خَطَايَا أَهْلِ الشِّرْكِ.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad adalah batu dari surga. Batu tersebut lebih putih dari salju. Dosa orang-orang musyriklah yang membuatnya menjadi hitam.” (HR. Ahmad 1: 307.

(Sumber hadis dari sini)

Kenapa kita ummat Islam disunnahkan mencium batu tersebut padahal ia tidak mendatangkan manfaat maupun mudhorat apa-apa? Jawabannya adalah karena Rasululah pernah menciumnya, maka ummatpun mencontoh Rasulnya dengan ikut menciumnya pula.

عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270).

Hajar aswad letaknya di sudut ka’bah. Untuk bisa mencapai batu itu perjuangannya sungguh luar biasa. Semua jamaah berebut untuk sekedar memegang atau menciumnya. Ada yang berhasil dan ada pula yang gagal, namun sebagian besar gagal mencapainya. Banyak yang sudah hampir mencapai batu tersebut, namun kemudian tubuhnya terlempar lagi keluar karena dorongan yang kuat dari jamaah asal Turki dan Mesir yang badan-badannya besar-besar. Saya sudah beberapa kali mencoba mendekati hajar aswad, namun selalu gagal karena tidak kuat menahan dorongan jamaah yang berdesak-desakan. Daripada badan saya hancur terjepit atau patah, biarlah saya mengalah dan tidak jadi mencapainya. Saya hanya bisa melambaikan tangan dan mengecup dari jauh kepada hajar aswad sebagai simbol saya memegang dan menciumnya. Sedih.

Satu pemandangan yang mungkin tidak pernah terbayangkan terjadi beberapa tahun lampau adalah fenomena jamaah berfoto-foto di depan ka’bah. Dulu, setahu saya, membawa kamera ke dalam Masjidil Haram adalah tindakan terlarang, apalagi memotret ka’bah atau berfoto di depannya. Para askar yang bertugas di Masjidil Haram akan merampas kamera kita dan tidak akan pernah mengembalikannya lagi. Namun saat ini, sejak kamera menyatu dengan ponsel, maka larangan itu sekarang sudah longgar. Para jamaah tampak memotret selfie atau saling memotret dengan kamera ponselnya. Saya pun meminta bantuan seorang jamaah Indonesia untuk memotret saya dengan latar belakang ka’bah sebagai kenang-kenangan.

Saya dengan latar belakang ka'bah

Saya dengan latar belakang ka’bah

Tidak henti-hentinya jamaah mengalir memasuki masjid. Semakin siang semakin ramai jamaah berdatangan menuju ke depan ka’bah. Saya begitu terharu menyaksikan antusiasme umat Islam dari berbagai bangsa untuk sholat dan thawaf di depan ka’bah.

Jamaah yang terus mengalir memasuki pelataran ka'bah

Jamaah yang terus mengalir memasuki pelataran ka’bah

Di sekeliling Masjidil Haram terdapat pelataran yang luas dan masih terus dibangun dengan latar belakang hotel-hotel yang menjulang. Raja Arab Saudi sebagai pelayan dua kota suci terus memperluas Masjidil Haram untuk menampung jamaah haji dan umrah yang selalu bertambah setiap tahun. Jamaah yang tidak dapat masuk mendekati ka’bah bisanya sudah cukup puas bisa sholat di pelataran ini. Kebanyakan jamaah perempuan yang memilih sholat di pelataran di luar Masjidil Haram.

Pelataran Masjidil Haram dengan latar belakang hotel-hotel.

Pelataran Masjidil Haram dengan latar belakang hotel-hotel.

Pelataran Masjidil Haram

Pelataran Masjidil Haram

Pelataran di luar Masjidil Haram

Pelataran di luar Masjidil Haram

Pelataran  Masjdil Haram dan hotel-hotel di sekelilingnya. Menara-menara crane tegak berdiri menandakan proyek perluasan Masjdiil Haram secara besar-besaran

Pelataran Masjdil Haram dan hotel-hotel di sekelilingnya. Menara-menara crane tegak berdiri menandakan proyek perluasan Masjdiil Haram secara besar-besaran

Pertokoan di sekitar Masjidil Haram

Pertokoan di sekitar Masjidil Haram

Menara Zam-zam diwaktu pagi usai sholat Shubuh

Menara Zam-zam diwaktu pagi usai sholat Shubuh

Hotel Elaf El Mashaer tempat kami menginap, 300 meter dari Masjidil Haram

Hotel Elaf El Mashaer tempat kami menginap, 300 meter dari Masjidil Haram

Setiap waktu sholat tiba, jamaah berduyun-duyun memasuki kompleks Masjidil Haram. Jika kita datang setengah jam sebelum adzan, maka jangan harap kita dapat memasuki Masjidil Haram. Pelataran masjid saja sudah penuh dengan manusia. Maka, jika di pelataran masjid saja tidak ada tempat, jamaah sudah puas sholat di atas trotoar di pinggir jalan atau trotoar di depan pertokoan. Setiap adzan berkumandang, pemilik toko di Mekkah menutup tokonya, jadi tidak ada lagi lalu lalang pembeli, dan jamah dapat dengan tennang sholat di selasar atau di atas trotoar di depan toko.

Sholat di atas trotoar di depan pertokoan.

Sholat di atas trotoar di depan pertokoan.

(BERSAMBUNG)

Tulisan selanjutnya: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 7 – Habis): Wisata Ziarah di Kota Makkah dan Selamat Tinggal Tanah Suci

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 2 Komentar

Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 5): Ibadah Umrah ke Kota Makkah

Tibalah hari yang dinanti-nanti yaitu bersiap menuju kota Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Ibadah sholat di Masjid Nabawi tidak termasuk ke dalam rangkaian ibadah umrah. Ibadah umrah itu intinya adalah thawaf, sa’i, dan tahalul. Jika pada ibadah haji ada wukuf di Arafah, melontar jumrah di Mina, dan bermalam di Muzdalifah, maka ibadah umrah hanya terdiri atas tiga rangkaian ibadah itu saja, sehingga umrah dinamakan juga haji kecil. Sebenarnya ibadah umrah bisa diselesaikan selama satu hari saja karena prosesi thawaf, sa’i, dan tahalul paling lama memakan waktu lima jam. Selesai ibadah umrah kita bisa langsung pulang ke tanah air (setelah sebelumnya melakukan thawaf wada’ atau thawaf perpisahan). Saya teringat peristiwa pada Pilpres 2014 yang lalu, banyak orang Indonesia mencemooh Capres Jokowi yang pergi melaksanakan umrah demikian cepat, hari ini sampai di Makkah lalu besoknya sudah pulang lagi ke tanah air. Orang-orang mencemooh kok singkat sekali umrahnya, umrah apaan itu? Selama ini publik beranggapan bahwa umrah itu setidaknya dilaksanakan selama satu minggu, tetapi kalau kita mengetahui bahwa ibadah umrah hanyalah tiga rangkaian ibadah tadi, maka kita seharusnya paham dan tidak mencela orang lain yang melaksankan umrah selama satu hari terlepas preferensi politik yang kita miliki.

Namun, kalau kita hanya melaksanakan umrah selama satu hari saja lalu pulang lagi ke tanah air tentu sangat disayangkan. Rugi ‘menambang’ pahala, karena kita tidak dapat meraih pahala sholat sebanyak-banyaknya di Masjid Nabawi dan di Masjidil Haram. Jamaah umrah bermukim agak lama di Madinah agar dapat sholat di Masjid Nabawi sebanyak mungkin, begitu juga bermukim agak lama di Makkah agar dapat melaksanakan sholat dan thawaf sesering mungkin di depan ka’bah. Program paket umrah yang saya ambil adalah selama 9 hari, yaitu 4 hari di Madinah (termasuk keberangkatan dari tanah air), empat hari di Makkah, dan satu hari kepulangan ke tanah air.

Hari Jumat sesudah sholat Jumat dan makan siang, kami segera memakai baju ihram. Baju ihram bagi laki-laki adalah dua lembar kain putih yang tidak berjahit, sedangkan bagi perempuan cukup menggunakan mukena atau pakaian yang menutup aurat kecuali muka dan telapak tangan. Pakaian ihram yang dua lembar itu hikmahnya adalah untuk mengingatkan kita pada kematian. Nanti kalau kita mati, maka kita tidak membawa apa-apa keceuali dua lembar kain kafan yang membungkus jenazah kita.

Memakai kain ihram adalah hal yang pengalaman baru bagi saya. Kita tidak boleh memakai apa-apa lagi kecuali dua lembar kain ihram itu. Tidak boleh memakai celana dalam, singlet, topi/kopiah, dan busana lainnya. Namun kalau memakai jam tangan, tas selempang, ikat pinggang, kacamata, masih diperbolehkan. Kain ihram terdiri dari dua lembar, kain yang pertama sebagai penutup aurat dari pusar hingga lutut, sedangkan kain ihram yang kedua untuk menutup badan dari bahu hingga perut. Bahan kain ihram terbuat dari jenis kain handuk sehingga cukup tebal untuk menghangatkan badan di tengah hawa dingin saat itu. Rasanya gimana gitu ya berpakaian tanpa menggunakan pakaian dalam, hi…hi..hi, sambil berjalan-jalan lagi. Agar kain ihram tidak melorot (maluu kan…), maka sebaiknya kita memakai ikat pinggang.

Selesai makan siang dan memakai baju ihram, kami pun chek-out dari hotel Dar el Thaibah, lalu menaiki bis menuju Masjid Bir Ali di luar kota Madinah. Karena kita berangkat dari Madinah, maka kita memulai miqat (batas tempat memulai niat umrah) di Masjid Bir Ali ini. Di Masjid Bir Ali sudah terlihat banyak rombomgan jamaah umrah dari berbagai negara untuk memulai niat umrah. Dengan mengucapkan Labbaika Allahumma umratan di Masjid Bir Ali, maka ibadah umrah baru dimulai, dan sejak saat itu berlakulah larangan-larangan selama berihram. Larangan-larangan tersebut adalah tidak boleh memotong kuku atau memotong rambut, mencabut bulu/rambut, membunuh hewan buruan, mencabut tanaman, menikah atau menjadi menikahkan, menampakkan aurat, berhubungan suami istri, dan sebagainya. Jika dilanggar maka umrahnya batal kecuali membayar dam atau denda yang jumlahnya bergantung berat ringannya pelanggaran.

Perjalanan dari Masjid Bir Ali menuju kota Makkah memakan waktu empat sampai lima jam. Selama di dalam perjalanan jamaah umrah lebih banyak berdiam diri atau merenung, mungkin khawatir melanggar larangan selama berihram. Sebentar lagi kami akan menjadi tamu-tamu Allah karena akan berkunjung ke rumah-Nya di Baitullah.

Jam satu dinihari kami sampai di kota Makkah. Hotel yang kami tempati jaraknya 300 meter dari Masjidil Haram, lumayan jauh karena harus berjalan memutar disebabkan proyek perluasan Masjidil Haram membuat akses menuju masjid banyak yang ditutup. Setelah chek-in di hotel, malam itu juga kami bersama-sama berjalan menuju Masjidil Haram. Meskipun sudah waktu dinihari, tetapi suasana di sekitar Masjidil Haram tetap ramai dengan lalu lalang jamaah yang pergi dan pulang. Ada yang masih berpakain ihram, ada pula yang sudah memakai pakaian biasa.

Hati saya bergetar memasuki kompleks Masjidil Haram, sebab sebentar lagi saya akan melihat sendiri ka’bah yang selama ini hanya saya lihat gambarnya saja. Bangunan pertama yang menyambut kami adalah bangunan Menara Zam-Zam (Zam-zam Tower) tepat di depan Masjidil Haram. Ini bangunan tetinggi kedua di dunia setelah Burj Dubai (tingginya sekitar 600 meter). Menara Zam-Zam berisi sejumlah hotel, mal-mal yang menawarkan kesenangan duniawi, dan pertokoan mewah. Di puncaknya terdapat jam raksasa yang dijadikan acuan waktu di Saudi (fungsinya seperti jam Menara Big-Ben di London). Rasanya tidak elok ada bangunan yang menyiratkan hedonisme berada di depan Masjidil Haram, sangat kontras dengan kehusyukan jamaah yang melaksanakan ibadah sholat, umrah, dan sa’i di depannya. Saya masih belum bisa mengerti mengapa Raja Arab Saudi mengizinkan ada bangunan bernuansa “Las Vegas” berada tepat di depan Masjidil Haram.

Zam-zam Tower di depan Masjidl Haram

Zam-zam Tower di depan Masjidl Haram

Kami berjalan memasuki Masjidil Haram. Pelataran masjid sangat luas, namun kenyamanan agak terganggu karena deru mesin dan menara-menara crane menjulang di sana-sini sebagai bagian dari proyek perluasan Masjidil Haram. Di pelataran masjid banyak jamaah yang duduk-duduk, tidur, atau sholat, padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 2 dinihari.

Kami memasuki pintu King Fahd dan berjalan ke dalam. Karena kami belum melaksanakan sholat Maghrib dan Isya, maka kami sholat jama’ dulu di di dalam area masjid. Bangunan Masjidil Haram memiliki banyak pintu masuk. Kita harus hafal pintu yang kita masuki supaya tidak tersesat.

Menjama' sholat Maghrib dan Isya di dalam Masjidil Haram

Menjama’ sholat Maghrib dan Isya di dalam Masjidil Haram

Selesai sholat jama’, kami berjalan mendekati ka’bah, dan….Masya Allah… tampaklah bangunan ka’bah yang menjadi kiblat sholat ummat Islam di seluruh dunia. Perasaan saya tidak menentu, bercampur aduk antara gembira, terharu, dan terkesima. Allahu akbar!

Ka'bah di Masjidil Haram. Menara-menara crane berdiri di sekelilingnya karena ada proyek perluasan masjid.

Ka’bah di Masjidil Haram. Menara-menara crane berdiri di sekelilingnya karena ada proyek perluasan masjid.

Ustad pembimbing umrah membawa kami semakin dekat ke depan ka’bah. Kami memulai ibadah thawaf bersama-sama. Saat itu jamaah thawaf sangat padat meskipun ini waktu dinihari. Semua orang dari berbagai bangsa di dunia melebur menjadi satu. Tidak ada lagi perbedaan si kaya dan si miskin, berpangkat atau tidak, jenderal atau rakyat biasa, semua sama di hadapan Allah, sama-sama berputar mengelilingi ka’bah. Kami mengelilingi ka’bah selama tujuh kali dengan arah berlawanan pergerakan jarum jam.

Saat ini bangunan ka’bah dikelilingi oleh sebuah bangunan bertingkat dua untuk menampung jamaah yang tidak dapat melakukan thawaf di lantai dasar. Bangunan ini ‘merusak’ pemandangan ke ka’bah, namun untunglah bangunan ini sifatnya sementara saja dan akan dibongkar lagi setelah proyek perluasan Masjidil Haram selesai pada tahun 2016.

Bangunan dua lantai yang bersifat tenporer untuk menampung jamaah yang melaksanakan thawaf

Bangunan dua lantai yang bersifat tenporer untuk menampung jamaah yang melaksanakan thawaf

Setelah melaksanakan thawaf, kami sholat sunat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Maqam Nabi Ibrahim bukanlah kuburan, tetapi berupa cetakan telapak kaki Nabi Ibrahim di tempat dia berpijak ketika membangun ka’bah. FYI, ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan putranya Ismail sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk membangun Rumah-Nya di Baitullah. Usai melaksanakan sholat sunat, kami meminum air zam-zam yang gentong-gentongnya bertebaran di seluruh areal masjid, persis seperti di Masjid Nabawi.

Prosesi ibadah umrah berikutnya adalah melaksanakan sa’i, yaitu berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan bukit Marwah. Kedua bukit ini terletak di dekat bangunan ka’bah tetapi sekarang sudah tidak ada lagi sejak Masjidil Haram mengalami perluasan besar-besaran. Yang ada hanyalah tanda situsnya saja, dan di antara kedua <a href="“>bukit Shofa dan Marwah itu dibangun tempat melaksanakan ibadah sa’i. Jadi, tempat melakukan sa’i saat ini berada di dalam kompleks Masjidil Haram.

Area anatra Shofa dan Marwah untuk melakukan sa'i.

Area anatra Shofa dan Marwah untuk melakukan sa’i.

Jamaah umrah melakukan sa’i di tempat ini. Di antara dua tempat yang ditandai dengan lampu-lanmpu berwarna hijau jamaah laki-laki berlari-lari kecil, sedangkan di luar tanda itu jamaah cukup berjalan cepat saja. Prosesi sa’i dilakukan sebanyak tujuh kali, dan setiap perjalanan dari Shofa ke Marwah dihitung satu kali, begitu juga sebaliknya perjalanan dari Marwah ke Shofa dihitung satu kali. Ibadah sa’i ini untuk meneladani kisah Siti Hajar (istri Nabi Ibrahim) yang ketika itu mencari air di antara bukit Shafa dan bukit Marwah guna memberi minum anaknya yang masih bayi, Ismail, yang kehausan. Dia berlari-lari di antara kedua bukit itu untuk menemukan air. Setelah lelah berlari sebanyak tujuh kali ia tidak juga berhasil menemukan air. Yang dilihatnya berupa air ternyata fatamorgana di padang pasir. Akhirnya Allah SWT menurunkan mu’jizat-Nya. Ismail yang terbaring di atas pasir menangis kehausan, dia menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, dan ajaib….di bawah kaki Ismail keluarlah mata air yang sekarang bernama air zam-zam. Sumber mata air zam-zam tidak pernah kering hingga sekarang, dan air zam-zam selalu menjadi oleh-oleh utama bagi jamaah haji dan umrah.

Foto Penulis sebelum melakukan sa'i.

Foto Penulis sebelum melakukan sa’i.

Setelah melakukan sa’i, maka rangkaian ibadah umrah ditutup dengan melakukan tahalul, yaitu memotong beberapa helai rambut. Dengan melakukan tahalul, maka selesailah sudah semua rangkaian ibadah umrah tepat sebelum adzan subuh berkumandang, dan sejak saat itu maka semua larangan selama berihram menjadi tidak berlaku lagi. Jamaah sudah boleh memakai pakaian biasa. Kami sholat subuh dulu di Masjdiil Haram, selanjutnya pulang ke hotel untuk berganti pakaian dan …. tidur. Rangkaian ibadah umrah sejak berangkat dari Madinah sangat melelahkan dan kita kurang tidur. Kami diminta ustad pembimbing untuk tidur cukup lama untuk menghilangkan lelah. Siang hari nanti kami bersiap kembali untuk menunaikan sholat Dhuhur dan melihat suasana Masjidil Haram pada siang hari. (BERSAMBUNG)

Tulisan selanjutnya: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 5): Ibadah Umrah ke Kota Makkah

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 2 Komentar

Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 4): Wisata Ziarah di Madinah

Selama tinggal di Madinah kami mengunjungi beberapa situs sejarah Islam. Acara wisata ziarah didesain selalu berakhir sebelum waktu Dhuhur, sebab lebih utama selalu shalat lima waktu di Masjid Nabawi karena pahalanya sama dengan 1000 kali sholat di masjid lain. Jalan-jalan hanyalah pelengkap umrah saja, namun sayang juga jika tidak sempat mengunjungi tempat-tempat bersejarah untuk melakukan napak tilas sejarah Islam, mumpung masih di Madinah. Diperlukan waktu dua hari untuk mengunjungi semua situs bersejarah di Madinah, yang dalam tulisan ini saya rangkai menjadi satu.

Situs pertama yang dikunjungi adalah Maqam Baqi. Ini adalah kompleks pemakaman yang sudah ada sejak zaman Rasulullah. Di sini dimakamkan para sahabat Nabi, juga para jamaah haji yang meninggal dunia, termasuk penduduk kota Madinah sendiri. Maqam Baqi terletak di samping Masjdi Nabawi. Kami hanya dapat melihat pintunya dari pelataran Masjid Nabawi dan tidak dapat masuk ke dalamnya. Saya tidak memiliki fotonya, namun saya memperoleh foto Maqam Baqi dari Internet. Kuburan di sini tidak memiliki nisan, hanya sekedar batu penanda maqam.

Setelah berdoa di depan Maqam Baqi, kami diajak mengunjungi museum Masjid Nabawi yang terletak di bawah tanah (di bawah Masjdi nabawi). Untuk mencapai museum ini terdapat lift yang dapat digunakan turun ke bawah. Ruang bawah tanah di Masjid Nabawi berisi museum, tempat parkir, dan ruang kendali semua peralatan di Masjid Nabawi (termasuk kendali payung raksasa).

Di Museum Masjdi Nabawi kami mendapat penjelasan dari petugas museum (orang Indonesia rupanya) tentang sejarah pembangunan Masjid. Di museum ini kita dapat melihat foto-foto proyek perluasan Masjid Nabawi.

Foto-foto pembangunan Masjid Nabawi

Foto-foto pembangunan Masjid Nabawi

Foto Masjid Nabawi

Foto Masjid Nabawi

Ruang audio visual

Ruang audio visual

Ehmm... narsis dulu di sini, sebentar

Ehmm… narsis dulu di sini, sebentar

Di belakang Masjid Nabawi terdapat masjid bersejarah yang bernama Masjid Al-Ghamamah. Masjid yang bersejarah ini pernah diguankan Rasulullah untuk sholat Ied pada tahun 631 H. Ghamamah artinya awan, karena di tempat inilah Allah memayungi Nabi Muhammad dengan awan ketika sedang sholat di sini sehingga Nabi tidak merasa kepanasan. Kami mengunjungi masjid ini sambil melepaskan penat setelah berjalan kaki mengelilingi Masjdi Nabawi yang luas itu.

Masjid Al-Ghamamah tidak pernah dipakai lagi sebagai tempat sholat berjamaah karena sudah ada Masjid Nabawi di depannya.

Masjid Al-Ghamamah tidak pernah dipakai lagi sebagai tempat sholat berjamaah karena sudah ada Masjid Nabawi di depannya.

Setelah mengunjungi museum Masjid Al-Ghamamah, maka kunjungan selanjutnya adalah Masjid Quba. Ini adalah masjid yang pertama dibangun oleh Rasulullah. Masjid Quba terletak ke arah luar kota Madinah. Pengunjung jamaah umrah sangat padat hari itu. Kita disarankan sudah berwudhu sebelum ke sini, lalu sholat dua rakaat di Masjid Quba.

Masjid Quba tampak dari luar

Masjid Quba tampak dari luar

Masjdi Quba dengan air mancur di luarnya. Air begitu berharga di negeri padang tandus seperti Saudi Arabia

Masjdi Quba dengan air mancur di luarnya. Air begitu berharga di negeri padang tandus seperti Saudi Arabia

Di dalam Masjid Quba

Di dalam Masjid Quba

Mihrab Masjid Quba

Mihrab Masjid Quba

Sholat sunat di Masjid Quba

Sholat sunat di Masjid Quba

Selesai mengunjungi Masjid Quba, maka kunjungan berikutnya adalah Bukit Uhud di luar kota Madinag, tempat berlangsungnya Perang Uhud, yaitu perang antara kaum muslimin dengan tentara kafir Quraisy. Bukit Uhud berwarna merah, kering kerontang, berpanas, sama sekali tidak ada pepohonan yang tumbuh di sana.

Bukit Uhud yang berwarna merah

Bukit Uhud yang berwarna merah

Berdiri di sini saya membayangkan Perang Uhud yang dipimpin oleh Rasulullah. Di sini Rasulullah membuat strategi perang dengan mengatur para pemanah. Namun karena beberapa sahabat tidak mematuhi perintah Rasulullah disebabkan tergoda harta pampasan perang, maka kaum muslimin kalah dalam perang tersebut.

Narsis did epan Bukit Uhud

Narsis did epan Bukit Uhud

Di Uhud saya menemukan pedagang yang menjual kurma muda yang dibekukan di dalam freezer. Katanya bagus dimakan oleh wanita yang susah hamil.

Di Uhud saya menemukan pedagang yang menjual kurma muda yang dibekukan di dalam freezer. Katanya bagus dimakan oleh wanita yang susah hamil.

Selama acara tur kami sempat mengunjungi perkebunan kurma milik seorang kaya di Madinah. Sayang sekali saat itu kurma sedang tidak berbuah sehingga saya tidak dapat melihat dengan mata sendiri tandan-tandan kurma. Kalau sedang berbuah maka kita boleh memetik sendiri dan makan di sana. Di kebun kurma ini terdapat toko kurma yang pegawainya orang Indonesia. Berbagai jenis kurma ada di sini, termasuk kurma yang selalu dicari orang yaitu kurma ajwa, karena kurma inilah yang dimakan oleh Rasulullah. Kurma ajwa adalah kurma yang paling mahal, karena sekilo hargnaya 80 riyal (yang berkualitas bagus) atau 70 riyal (yang berkualitas sedang). Madinah adalah tempat terbaik untuk membeli kurma karena kurmanya bagus-bagus dan segar.

Kebun kurma di kota Madinah

Kebun kurma di kota Madinah

Di dalam perjalana pulang ke Madinah, kami melewati Masjid Qiblatain. Ini adalah masjid yang pernah mempunyai dua kiblat. Mula-mula kiblatnya ke Masjidil Aqsa di Palestina, lalu ketika sedang memimpin sholat turun wahyu yang meemrintahkan arah kiblat diubah ke ka’bah di Masjidil Haram.

Masjid Qiblatain

Masjid Qiblatain

Sayang karena waktu sholat Dhuhur hampir tiba dan kami segera mengejar sholat Dhuhur di Masjdi Nabawi, maka Masjid Qiblatain tidapt bisa kami masuki untuk melihat perubahan kiblat tersebut.

Beberapa situs penting tidak dapat kami kunjungi seperti tempat percetakan Al-Quran karena waktu Dhuhur segera tiba dan kami harsu mengejar sholat Dhuhur di Masjid Nabawi. (BERSAMBUNG)

Tulisan selanjutnya: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 5): Ibadah Umrah ke Kota Makkah

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 1 Komentar

Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 3): Di dalam Masjid Nabawi

Masjid Nabawi saat ini sangat luas, bangunan masjid saja seluas 82000 meter persegegi sedagnkan pelatarannya mencapai 235000 meter persegi dan seluruhnya (bangunan dan pelataran) dapat menampung hingga satu juta jamaah. Padahal dulu ketika dibangun pertama kali oleh Nabi Muhammad, ukurannya hanya 30 meter x 30 meter. Ketika jumlah kaum muslim meningkat, Nabi memperluasnya pada abad 7 Hijriyah menjadi 50 meter x 50 meter. Perluasan masjid berlanjut pada masa kehalifahan Umar bin Khatab (17 Hijriyah), Usman bin Affan (29-30 H), Alwalid Alom (88-91 H), Almahdi Allabasi (161 – 165 H), Sultan Ashraf Gayetbai (888 H), Sultan Abdu Almageed dari Kesultanan Ottoman Turki (1265 – 1277 H), Raja Saudi Abdul Aziz (1372 H), Raja Fahd, dan terakhir pada masa Raja Abdullah (yang wafaat minggu lalu). Hingga sekarang proyek perluasan Masjid Nabawi masih terus dilakukan dengan menggusur bangunan hotel-hotel di seputar masjid. Perluasan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram didanai seluruhnya oleh Bakar bin Ladin, dia adalah adik Usamah bin ladin yang dicap teroris oleh Amerika. Di Arab Saudi keluarga Bin Ladin adalah keluarga kaya raya karena memiliki banyak perusahaan yang begerak dibidang konstruksi, transportasi, properti, dan lain-lain. Semua perusahaan tersebut bernama Bin Ladin Corp dengan logo pohon kurma dan dua buah pedang yang bersilangan.

Peta Masjid Nabawi yang selalu mengalami perluasan dari zaman ke zaman. Kotak kecil berwarna coklat adalah bagian masjid yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Bagian yang berwarna hijau adalah Masjid Nabawi saat ini

Peta Masjid Nabawi yang selalu mengalami perluasan dari zaman ke zaman. Kotak kecil berwarna coklat adalah bagian masjid yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Bagian yang berwarna hijau adalah Masjid Nabawi saat ini

Memasuki masjdi Nabawi berdecaklah kekaguman saya, sunggguh indah interior di dalamnya, sungguh sejuk di dalamnya, karpet-karpetnya tebal dan indah, lampu-lampu yang bergelantungan di atas sangat artistik. Interior di dalam masjid mengingatkan kita pada interior di dalam masjid Cordoba di Spanyol.

Jamaah menunggu sholat Isya di Masjid Nabawi

Jamaah menunggu sholat Isya di Masjid Nabawi

Jamaah keluar masjid usai sholat Isya

Jamaah keluar masjid usai sholat Isya

Setiap waktu sholat tiba, masjid sudah dipenuhi jamaah, baik itu jamaah umrah maupun penduduk Madinah sendiri. Di dalam masjid kita bertemu dengan jamaah umrah dari berbagai bangsa di dunia. Paling banyak adalah jamaah umrah dari Mesir, Turki, Pakistan, India, dan Indonesia sendiri. Banyak juga saya temukan jamaah dari Eropa Timur, Perancis, Jerman, bahkan Jepang. Jamaah Indonesia mudah dibedakan dari jamaah lainnya karena menggunakan peci, batik, atau sarung.

Berhubung bulan Januari Arab Saudi memasuki musim dingin, maka banyak jamaah yang terkena penyakit flu seperti pilek dan bersin-bersin. Jamaah yang berada di sebelah saya beberapa kali membersihkan ingusnya. Saya yang berusaha terhindar dari flu akhirnya kena juga karena kondisi tubuh juga sedang tidak fit. Karena itu disarankan Anda mendapat vaksin flu sebelum berangkat umrah.

Satu fenomena menarik yang saya amati di dalam masjid Nabawi adalah sholat jenazah setiap kali usai sholat fardhu. Setiap usai sholat ada saja jenazah yang akan disholatkan, tidak hanya siang hari tetapi juga malam hari setelah sholat maghrib, Isya dan Subuh. Dari Pak Ustad saya mendengar penjelasan bahwa di Madinah semua orang yang meninggal selalu disholatkan di Masjid Nabawi. Jadi masjid Nabawi adalah masjid tunggal untuk seluruh sholat jenazah di kota Madinah. Setiap usai sholat fardhu, imam sholat mengumumkan dalam Bahasa Arab akan ada sholat jenazah. Jamaah yang usai sholat langsung berdiri, dan masya Allah…ratusan ribu jamaah berdiri untuk sholat jenazah yang sama sekali tidak dikenalnya. Jenazah yang disholatkan bisa satu, dua, tiga, lima atau lebih. Usai sholat jenazah, jenazah langsung digotong ke pemakaman Baqi yang terletak di depan Masjid Nabawi. Jadi penguburan mayat tidak kenal waktu, bisa pagi usai Subuh, siang usai Dhuhur atau Ashar, atau malam usai Maghrib dan Isya. “Beruntunglah” orang yang wafat di kota Madinah karena ia disholatkan di Masjid Nabawi oleh ratusan ribu orang. Padahal jika mayat disholatkan lebih dari 40 orang saja maka dosa-dosanya akan diampuni, ini yang menyalatkan ratusan ribu orang. Fenomena sholat jenazah setiap usai sholat fardhu juga terdapat di Masjidil Haram di kota Mekah.

Di dalam Masjid Nabawi ada sebuah tempat di bagian depan masjid yang selalu diincar jamaah untuk sholat dan berdoa. Tempat itu dikenal dengan Raudhah. Raudhah adalah tempat yang terletak antara mimbar Nabi dan rumah Nabi (yang sekarang menjadi maqam Nabi). Dahulu Nabi Muhammad setelah wafat dimaqamkan di dalam rumahnya sendiri. Perluasan masjid Nabawi menyebabkan maqam Nabi berada di dalam masjid. Di dalam maqam itu tidak hanya dikuburkan Nabi Muhammad, tetapi juga dua orang sahabatnya yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Menurut ustad, di dalam kompleks maqam itu masih ada satu lubang maqam yang masih kosong. Maqam yang kosong itu diyakini disediakan untuk Nabi Isa a.s. Seperti keyakinan di dalam Islam, saat hendak disalib, Nabi Isa (Yesus) diselamatkan oleh Allah SWT dengan mengangkatnya ke atas langit. Jadi Nabi Isa sebenarnya masih hidup di sisi Allah, dan menjelang hari kiamat nanti dia akan turun kembali ke bumi sebagai Imam Mahdi untuk meluruskan ajaranya, sesudah itu dia akan wafat seperti manusia lain umumnya, dan kelak akan dimaqamkan di samping maqam Nabi Muhammad SAW. Wallahu alam bissawab.

Maqa mRasulullah di dalam Masjid Nabawi, dahulu adakah rumahnya. Maqam ini ditutup dengan pintu besi berwarna hijau dan menysika beberapa lubang untuk melihat ke dalamnya.

Maqam Rasulullah di dalam Masjid Nabawi, dahulu adakah rumahnya. Maqam ini ditutup dengan pintu besi berwarna hijau dan menysika beberapa lubang untuk melihat ke dalamnya.

Raudhah artinya taman. Raudhah berukuran hanya 22 meter x 15 meter(sumber: Raudhah Tempat Mustajab Berdoa Di Masjid Nabawi), sangat sempit sekali dibandingkan dengan ukuran Masjid Nabawi yang maha luas. Meskipun sempit, tetapi tempat ini selalu dipadati oleh jamaah. Raudhah tidak pernah sepi siang dan malam, selalu penuh. Anda jangan berharap Raudhah pernah kosong. Untuk dapat masuk ke dalam area ini kita harus berjuang dengan ribuan jamaah lain. Kalau kita berhasil masuk ke dalam Raudhah, maka kita tidak dapat sholat dengan nyaman seperti di luar Raudhah. Kita harus bersempit-sempit dengan jamaah lain, saling bertoleransi, saling memahami kondisi yang sesak, dan ketika hendak sujud mungkin kapala kita beradu dengan punggung jamaah lain. Tidak ada yang mengeluh, tidak ada yang marah, semua khusyuk dengan shlat dan doa yang dipanjatkan.

Kenapa Raudhah begitu disesaki jamaah, karena Raudhah adalah tempat yang mustajab untuk memanjatkan doa. Di Raudhah diyakini sebagai tempat semua doa-doa yang dipanjatkan akan dikabulkan oleh Allah SWT. Rasulullah Saw, “Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah di antara taman-taman surga” (HR. Bukhari no. 1196). Artinya, di antara mimbar dan rumah Nabi Allah SWT menurunkan rahmat, maghfirah, dan ampunan-Nya. Mintalah kepada Allah semua permintaanmu di sini, sebut saja semua keinginan dan harapanmu, dan yakinlah bahwa Allah SWT akan mengabulkannya.

Raudhah yang disesaki jamaah. Tampak dari kejauhan maqam Nabi yang ditutupi pintu besi berwarna hijau

Raudhah yang disesaki jamaah. Tampak dari kejauhan maqam Nabi yang ditutupi pintu besi berwarna hijau

Raudhah dan mimbar Nabi di kejauhan

Raudhah dan mimbar Nabi di kejauhan

Mihrab Nabi di dalam Raudhah. Pintu keluar Raudhah dijaga oleh seorang askar

Mihrab Nabi di dalam Raudhah. Pintu keluar Raudhah dijaga oleh seorang askar

Area Raudhah dicirikan oleh karpet berwarna hijau yang berbeda dengan karpet lain di sekelilingnya yang berwarna merah. Untuk dapat berdiri di atas karpet hijau ini perjuangannya memang luar biasa.

Karpet berwarna hijau di dalam area Raudhah

Karpet berwarna hijau di dalam area Raudhah

Saya pertama kali mencari Raudhah ini ketika hendak sholat Ashar. Saya tanya-tanya kepada jamaah lain yang sudah pernah ke Raudhah di mana tempatnya. Kita bisa memasuki Raudhah dari arah belakang, tetapi ketika selesai sholat Ashar area Raudhah sudah ditutup oleh para askar dan petugas cleaning service dengan pagar pembatas. Saya berhasil masuk dari depan dan dibiarkan oleh askar penjaga. Aneh, kok saya bisa masuk dengan mudahnya, mungkin ini karunia Allah. Seorang jamaah di bagian depan yang memlihat saya masuk mempersilakan saya sholat di tempatnya karena ia sudah selesai sholat di Raudhah. Perasaan saya berkecamuk memasuki Raudhah, hati bergetar, dan tiba-tiba saja keharuan menjalar ke seluruh tubuh saya karena inilah tempat yang saya impi-impikan untuk berdoa dan sekarang saya berada di sana. Segera saya sholat sunnah dua rakaat di dalam Raudhah, dan meanjatkan doa kepada Allah SWT. Semua doa yang sudah saya niatkan dari tanah air saya curahkan ke sana, doa buat anak saya yang suluing, doa buat istri dan seluruh anak saya, doa buat kakak saya, termasuk titipan doa dari teman-teman dan pembantu. Tak terasa saya berdoa sambil menangis, meminta kepada Allah. Ya Allah, semoga Engkau kabulkan semua doa dan harapan yang saya panjatkan di Raudhah.

Seperti yang saya jelaskan di atas, untuk memasuki Raudhah memang penuh perjuangan. Jamaah laki-laki dapat memasuki Raudhah pada waktu kapan saja, tetapi untuk jamaah perempuan Raudhah hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu yaitu pagi setelah pukul 8.00 dan sore setelah sholat Ashar. Maka, setelah selesai sholat Subuh dan Ashar, saya melihat pemandangan yang cukup heboh. Usai sholat, para askar yang dibantu oleh petugas cleaning service dengan sigap memasang pagar pembatas untuk menutup Raudhah. Memang, setiap usai sholat Ashar dan Subuh para jamaah yang berada di barisan belakang berlarian untuk memasuki Raudhah. Jika tidak cepat dipasang pagar, maka nanti jamaah perempuan tidak punya kesempatan memasuki Raudhah. Hanya dalam waktu beberapa menit pagar pembatas Raudhah terpasang, jamaah yang tadi berlarian dari arah belakang gagal memasuki Raudhah. Mereka hanya dapat memandang maqam Nabi dari jauh. Sambil berdiri dari balik pagar pembatas, jamaah melantunkan sholawat dan salam kepada baginda Rasul. Salamun ya Rasulullah, demikian ucapan mereka. Ada yang melantunkannya sambil menangis. Umumnya mereka adalah jamaah dari Pakistan, India, dan Iran. Begitu dalam dan cintanya kaum muslimin kepada junjungannya, Nabi Muhammad SAW, anda dapat melihat kecintaan itu di Raudhah.

Di bagian depan maqam Rasulullah, barisan jamaah yang selesai sholat berebut keluar melewati maqam Nabi untuk berziarah. Para askar berdiri menjaga maqam Nabi, karena perilaku jamaah seringkali menjurus bid’ah. Ada yang berusaha mengusap-usap pintu besi, menciumnya, mengusapkan kain ke pintu itu, dan lain-lain. Para askar dan pengurus Masjid Nabawi mencegah para jamaah melakukan hal demikian, mereka berteriak-teriak melarang jamaah: “hajj…hajj, la… la.. haram..haram”, yang artinya wahai haji, jangan, jangan, haram melakukan hal tersebut. Jamaah yang tidak berhasil mendekati maqam Nabi cukup melambaikan tangan saja sambil berucap shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW. Seperti tadi, banyak jamaah yang menangis melewati maqam Nabi. Ya Rasulullah, begitu besar kecintaan ummatmu kepadamu, kami mengharapkan syafaat darimu pada Hari Akhir nanti.

Selama saya di Madinah, saya sudah empat kali berhasil beri’tiqaf di dalam Raudhah. Kadang-kadang saya duduk persis di sebelah maqam Nabi. Tidak terbayangkan oleh saya bisa sedekat itu dengan Rasulullah meskipun hanya duduk di samping jasadnya yang sudah berada di dalam tanah. Saya bayangkan dulu Nabi bolak-balik melewati tempat saya duduk dari rumahnya menuju mimbar di dalam masjid, dan sekarang saya hanya bisa mengenangnya. Shalawat dan salam ya Rasulullah.

Di dalam Masjid Nabawi (juga di Masjidil Haram di Makkah) terdapat banyak rak-rak yang berisi Al-Quran yang bentuknya seragam. Al-Quran ini adalah Al-Quran waqaf. Kita dapat mewakafkan Al-Quran di Masjid Nabawi. Al-Quran ini dapat dibeli di luar masjid Nabawi (banyak dijajaakn oleh PKL) seharga 20 riyal, lalu oleh pedagangnya Al-Quran ini diberi cap, dan kita menaruhnya ke dalam rak-rak di Masjid Nabawi. Insya Allah selagi Al-Quran itu masih dibaca orang, pahala akan mengalir kepada kita yang mewakafkannya.

Selesai sholat subuh, saya berjalan menuju pintu keluar. Sebelum keluar saya sempatkan dulu minum air zam-zam yang tersedia secara gratis di mana-manan di dalam masjid. Baik di Masjid Nabawi maupun di Masjidil Haram terdapat puluhan gentong air zam-zam yang dapat diminum oleh jamaah. Air zam-zam di Masjid Nabawi didatangkan dari Makkah dengan mobil-mobil tangki yang setiap hari membawanya ke Madinah. Jangan khawatir, gelas-gelas plastik yang digunakan untuk minum air zam-zam hanya sekali pakai. Gelas-gelas yang bersih terdapat pada satu tumpukan, dan jika sudah selesai dipakai jamaah memasukkanya ke selongsong di sebelah kiri. Air zam-zam yang disediakan ada dua macam, yang pertama air zam-zam dengan suhu biasa (not cold), yang kedua air zam-zam yang yang dingin seperti dinginnya air kulkas. Anda dapat memmbaca tulisan di gentongnya, apakah NOT COLD atau tanpa tulisan. Jika NOT COLD berarti tidak dingin, jika tidak ada tulisan berarti dingin seperti air es. Anda dapat meminumnya di sana langsung atau membawa pulang dengan mengisi aiar zam-zam ke dalam botol-botol air mineral yang anda bawa.

Gentong-gentong yang berisi air zam-zam. Tumpukan gelas plastik di kanan adalah gelas bersih, jika sudah selesai memakainya anda dapat menaruhnya pada selongsong di sebelah kirnya.

Gentong-gentong yang berisi air zam-zam. Tumpukan gelas plastik di kanan adalah gelas bersih, jika sudah selesai memakainya anda dapat menaruhnya pada selongsong di sebelah kirnya.

Selesai minum air zam-zam, saya didekati oleh seorang petugas cleaning service. “Assalaamu’alaikum”, katanya. “Dari Indsonesia?”, tanyanya. “Benar, saya dari Indonesia”, jawab saya. Setelah berkenalan, dia bernama Is Harianto, berasal dari Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dia sudah dua tahun bekerja di Masjid Nabawi. Bekerja di Masjid Nabawi selain sebagai bentuk pengabdian, juga untuk mencari nafkah bagi keluarganya di Tanah Air. Seluruh petugas cleaning service di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram digaji oleh perusahaan Bin Ladin. Petugas cleaning service kebanyakan berasal dari Pakistan, India, Bangladesh, Yaman, dan Indonesia. Jarang ada orang Saudi sendiri. Menurut Pak Is, gajinya di sana tidak terlalu besar, hanya sekitar 500 riyal per bulan (sekitar Rp 1,7 juta), ditambah tunjangan seluruhnya 700 riyal. Kecil ya? Tetapi mereka banyak terbantu dari sedekah yang diberikan oleh jamaah. Jamaah sering memberikan sedekah kepada petugas cleaning service, ada yang memebri 5 riyal, 10 riyal, dan sebagainya.

Pak Is Harianto yang bertugas menjaga kebersihan Masjid Nabawi

Pak Is Harianto yang bertugas menjaga kebersihan Masjid Nabawi

Saya terharu mendengar kisah Pak Is Harianto. Jika anda nanti umrah ke Masid Nabawi, jangan lupa membawa uang pecahan kecil sebagai sedekah kepada petugas cleaning service tersebut. Mereka adalah saudara-saudara sebangsa kita yang mencari nafkah hingga jauh ke Tanah Suci.

Selesai minum air zam-zam saya segera keluar masjid. Waktu yang indah untuk menikmati keyahduan Masjid Nabawi adalah setelah sholat subuh. Malam masih menyelimuti bumi, bulan menggantung di atas Masjid Nabawi, suhu udara cukup sejuk, dan jamaah berjalan bersama-sama keluar masjid, beriring-iringan. Sungguh indah dan syahdu. (BERSAMBUNG)

Tuisan selanjutnya: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 4): Wisata Ziarah di Madinah

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 5 Komentar

Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 2): Di Hotel dan Seputar Masjid Nabawi

Perjalanan dari Bandara Madinah menuju hotel memakan waktu sekitar setengah jam. Kami sampai di hotel pukul 13.30 siang waktu setempat. Dari kejauhan menara Masjid Nabawi sudah kelihatan dari atas bis. Semakin mendekati Masjid Nabawi barulah terasa betapa ramainya kota Madinah. Ribuan orang berjalan kaki hilir mudik, ada yang masih berpakaian ihram, ada yang memakai baju batik dari Indonesia, ada yang memakai gamis, ibu-ibu yang memakai mukena, dan lain-lain aneka macam jeni pakaian setiap bangsa.

Hotel kami tempat menginap ternyata jaraknya begitu dekat dengan Masjid Nabawi, hanya sekitar 50 m dari gerbang masjid, benar-benar dekat sekali, sepelemparan batu saja. Karena saya mengambil paket Shofah, maka kami mendapat hotel yang bernama Elaf Kinda Hotel.

Hotel Elaf Kinda, persis di depan Masjid Nabawi

Hotel Elaf Kinda, persis di depan Masjid Nabawi

Puluhan hotel berjejer di pinggir jalan. Hotel-hotel itu tidak punya halaman seperti di Indonesia, keluar hotel langsung berhadapan dengan jalan raya. Hampir semua bangunan, termasuk hotel, di kota Madinah berwarna seragam yaitu warna abu-abu muram atau coklat muram seperti warna padang pasir, bentuk dan tingginyapun hampir sama. Jarang sekali kita melihat bangunan berwarna-warni dalam bentuk yang kreatif seperti di Indonesia, mungkin aturan tata kota di Saudi demikian. Pemandangan bangunan dan warna muram seperti ini mengingatkan saya pada bangunan-bangunan hotel kuno pada kota-kota di Eropa seperti di Belanda, Belgia, dll. Hotel-hotel di Madinah umumnya digunakan untuk menampung jamaah umrah dan haji, namun bukan tidak mungkin untuk wisatawan muslim yang sekedar singgah di sana (kota Madinah dan Makkah tertutup bagi non-muslim sehingga keduanya dinamakan Tanah Haram).

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Setiba di hotel kami melakukan chek-in dan pembagian kamar. Saya mendapat kamar dengan empat tempat tidur karena saya memilih paket berempat. Empat ranjang berjejer di dalam kamar yang sempit. Hotelnya lumayan bagus, kebanyakan tamunya adalah jamaah dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Hotel ini tidak pernah kosong, baru saja rombongan jamaah lain chek-out, sudah langsung diisi dengan rombongan jamaah yang baru tiba di Madinah. Di sini chek-in hotel umumnya dilakukan pukul 16.00 sore, tetapi ketika kami datang sudah bisa chek-in pukul 14.00 karena kamar sudah tersedia.

Kamar hotel Elaf Kinda dengan empat tempat tidur.

Kamar hotel Elaf Kinda dengan empat tempat tidur.

Di hotel ini jamaah mendapat makan tiga kali sehari dan menunya adalah menu masakan Indonesia, meskipun tidak pas benar rasanya, tetapi lumayanlah. Selalu ada sambal terasi dalam jumlah banyak. Sesekali mereka menyediakan nasi kebuli, gulai kari, dan sebagainya. Jadwal makan di hotel disesuaikan demngan waktu sholat, yaitu sesudah sholat Dhuhur (pukul 13.00 – 15.00), sesudah sholat Isya (pukul 20.00 – 22.00), dan sesudah sholat Subuh (pukul 07.00 – 10.00). Restoran di hotel akan tutup setiap adzan bergema.

Setelah chek-in saya melihat ribuan orang keluar dari gerbang masjid. Oh, rupanya mereka adalah jamaah yang usai melaksanakan sholat Dhuhur di Masjid Nabawi. Usai sholat para jamaah itu kembali ke hotel masing-masing untuk makan siang, lalu istirahat sebentar, dan kembali lagi ke masjid setengah jam sebelum adzan sholat Ashar bergema. Setiap jamaah selalu mengusahakan dirinya sholat wajib di Masjid Nabawi dan sholat sunat sebanyak mungkin, karena sholat di Masjid Nabawi pahalanya seribu kali sholat di Masjid lain.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

(Sumber hadis dari sini).

Jadi, pahala yang berlipat ganda inilah yang dikejar oleh jamaah umrah di Madinah. Mumpung masih berada di Madinah, maka sholatlah di sana sebanyak-banyaknya. Rugi rasanya jika melewatkan sholat lima waktu tidak di Masjid Nabawi.

Saya dan rombongan jamaah belum melaksanakan sholat Dhuhur. Kami dikumpulkan oleh ustad pembimbing dan berjalan bersama-sama menuju Masjid Nabawi. Kenapa perlu dibimbing? Karena bagi jamaah yang belum pernah umrah atau haji tentu tidak tahu liku-liku masjid. Masjid Nabawi itu sangat besar dan sangat luas, pintu-pintunya banyak sekali, jika belum hafal maka kita bisa tersesat. Jadi Pak Ustad akan menunjukkan pertama kali masuk lewat pintu mana, apa ciri-cirinya, dan keluarnya dari pintu yang sama. Selanjutnya kita dapat pergi sendiri jika sudah hafal.

Saya perkirakan luas Masjid Nabawi, termasuk pelatarannya, seluas satu kelurahan. Benar-benar luas sekali. Belum pernah saya melihat masjid sebesar dan seluas ini. Waktu saya ke sana masjid masih sedang dalam proyek perluasan. Hotel-hotel dan bangunan di seputar Masjid Nabawi sudah diruntuhkan. Setahun atau dua tahun lagi hotel tempat saya menginap kabarnya juga akan digusur. Kelak nanti hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi akan semakin jauh saja jaraknya dari masjid dan jamaah terpaksa makin jauh berjalan kaki. Raja Arab Saudi (yang ketika tulisan ini ditulis baru saja wafat beberapa hari yang lalu) memang mencanangkan kedua masjid di Tanah Haram (Masjid Nabawi dan Masjidil Haram di Mekah) diperluas seluas-luasnya agar dapat menampung jutaaan jamaah haji yang setiap tahun jumlahnya selalu bertambah.

Masjid Nabawi (bagian depan)

Masjid Nabawi (bagian depan)

Masjid Nabawi dari sisi lainnya

Masjid Nabawi dari sisi lainnya

Pelataran Masjid Nabawi sangat luas. Pelataran ini dilengkapi dengan payung-payung raksasa buatan Jerman yang dapat membuka dan menguncup secara otomatis. Payung-payung itu berguna untuk melindungi jamaah dari panas terik dan hujan (yang jarang terjadi). Payung-payung raksasa itu menempel pada tiang-tiang lampu yang pada malam hari bersinar dengan indahnya (jika payung dalam keadaan menutup/kuncup). Di Indonesia, Masjid Agung Semarang membuat payung yang mirip dengan Masjid Nabawi tetapi hanya dapat dibuka dan ditutup secara amanual.

Payung-payung raksasa di halaman Majid Nabawi

Payung-payung raksasa di halaman Majid Nabawi

Payung-payung raksasa

Payung-payung raksasa

Tiang-tiang lampu di pelataran Masjid Nabawi, sebagian tiang menjadi menjadi payung raksasa.

Tiang-tiang lampu di pelataran Masjid Nabawi, sebagian tiang menjadi menjadi payung raksasa.

Ehm... saya berfoto narsis di pelataran Masjid Nabawi

Ehm… saya berfoto narsis di pelataran Masjid Nabawi

Ustad pembimbing kami memberikan tips agar tidak tersesat di Masjid Nabawi yang maha luas itu. Masuklah dari sebuah gerbang, lalu tandai sebuah bangunan toilet dengan nomor yang tertera di di depannya. Di pelataran Masjid Nabawi terdapat bangunan toilet yang berjejer-jejer, jumlahnya menncapai 80-an dan terpisah antara toilet pria dan wanita. Setiap toilet diberi nomor. Jadi, ketika masuk dari suatu gerbang, di sebelah kiri dan kanan kita ada bangunan toilet. Ingat-ingatlah nomor toilet tersebut. Jika keluar dari pimtu masjid (yang jumlahnya juga puluhan pintu), maka ingatlah nomor toilet tadi sebagai tanda. Jika nanti kesasar, maka berkelilinglah mencari nomor toilet tersebut dan kita pun dapat keluar ke gerbang yang benar menuju jalan ke hotel.

Selesai sholat Dhuhur kami kembali ke hotel untuk makan siang. Keluar dari gerbang masjid kami langsung disambut oleh pedagang kaki lima. Seperti di Indonesia, di mana ada keramaian maka di situ ada pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima yang semuanya adalah orang Arab menawarkan dagangannya di jalan-jalan di sekitar Masjid Nabawi. Jangan heran jika mereka pandai menggunakan beberapa kata Bahasa Indonesia standard seperti “murah…murah, sepuluh tiga, dipilih… dipilih”, dan lain-lain. Maklum saja, jamaah Indonesia, terutama kaum ibu, sangatdoyan belanja. Mata mereka seperti tidak tahan melihat barang-barang berkilau yang ditawarkan pedagang kaki lima itu. Umumnya barang dagangan pedagang kaki lima itu adalah kerudung dari India/Turki, gamis, abaya, gelang dan kalung imitasi, kurma, buah-buahan, kacang arab, minyak wangi, dan lain-lain. Mereka menerima pembayaran dalam mata uang rupiah dan riyal. Jadi, jika harga barang misalnya sepuluh riyal, maka mereka menerima pembayaran Rp35.000 (1 riyal sekitar Rp3500). Pedagang itu juga pandai mengucapkan lima puluh ribu, tiga puluh lima ribu, dan sebagainya, dan mengerti jika kita meminta setengah kilo dalam Bahasa Indonesia.

Pedagang kaki lima di luar Masjid Nabawi

Pedagang kaki lima di luar Masjid Nabawi

Khusus dagangan berupa makanan seperti kurma, kacang, kismis, dan lain-lain, mereka meneriakkan kata “halal..halal..halal”, yang artinya anda boleh mencicipinya gratis meskipun tidak jadi membeli. Halal?, tanya saya sambil mengambil sebiji kurtma. Halal, jawab pedagang itu, artinya dia menghalalkan kurma yang saya cicip. Pandai-pandailah menawar, tetapi jika anda menawar terlalu murah maka pedagang itu berteriak menunjuk kita sambil mengatakan kata “bakhil…bakhil”, yang artinya kikir atau pelit. He…he…, saya pernah kena kata bakhil karena menawar setengah harga.

Oh iya, saya belum menceritakan suasana di dalam Masjid Nabawi, di mana Roudhah, siapa saja yang saya jumpai di dalam, apa saja di dalam masjid, dan sebagainya. Saya akan menceritakan pada tulisan selanjutnya. (BERSAMBUNG)

Tulisan selanjutnya: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 3): Di dalam Masjid Nabawi

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 1 Komentar

Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 1): Dari Bandung Menuju Madinah

Bagi seorang muslim, tempat apa di muka bumi yang selalu dirindukan untuk selalu dikunjungi dan ingin dikunjungi lagi? Jawabannya adalah Tanah Suci Makkah dan Madinah di negara Saudi Arabia. Menunaikan Haji sebagai rukun Islam yang kelima adalah impian setiap muslim, namun saat ini keinginan menunaikan Haji terhalang oleh keterbatasan kuota. Kuota haji untuk Indonesia biasanya lebih dari 200 ribu orang per tahun sesuai dengan jumlah penduduk muslim (untuk setiap 1000 orang penduduk muslim di suatu negara, kuota hajinya hanya 1 orang), tetapi sejak dua tahun lalu kuota itu dikurangi lagi menjadi 160 ribuan karena proyek perluasan besar-besaran Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Saat ini untuk mendapat kuota haji seorang muslim Indonesia harus menunggu 10 hingga 20 tahun. Jika anda mendaftar tahun ini, maka anda baru bisa berangkat ke Tanah Suci 10 sampai 25 tahun lagi. Siapa yang tahu umur manusia apalah masih hidup 10 hingga 20 tahun mendatang?

Karena waktu tunggu yang lama dan ketidapastian mendapat kuota haji, akhirnya pilihan banyak muslim di seluruh dunia adalah melaksanakan ibadah Umrah. Umrah adalah haji kecil karena tidak ada ibadah wukuf di Arafah dan bermalam di Mina. Padahal haji itu adalah wukuf di Arafah. Umrah dapat dilaksanakan sepanjang waktu kecuali pada bulan-bulan Haji (Zulhijah). Minat melaksanakan umrah bagi muslim Indonesia sangatlah tinggi, apalagi ditunjang banyaknya frekuensi penerbangan langsung oleh beberapa maskapai dari berbagai kota di tanah air (Jakarta, Surabaya, Makassar) langsung ke Makkah/Madinah. Biro-biro perjalanan Umrah selalu dipenuhi permintaan jamaah yang ingin melaksanakan umrah. Sebenarnya bisa saja pergi umrah sendiri tanpa ikut rombongan tur, tetapi ikut rombongan tur dari biro perjalanan umrah lebih mangkus karena selain ada ustad pembimbing ibadah yang selalu mendampingi, kita juga tidak perlu repot soal makanan dan kendaraan selama di Tanah Suci. Pada hakekatnya pergi melaksanakan umrah sama dengan wisata rohani, karena selain beribadah di sana (thawaf dan sai) kita juga mengunjungi beberapa tempat yang bersejarah di kota suci Makkah dan Madinah.

Saya yang belum pernah ke Tanah Suci dan mendapat waktu tunggu ibadah haji selama enam tahun, sudah lama merindukan pergi ke sana. Akhirnya setelah mencari waktu yang tepat, yaitu masa liburan semester, saya memutuskan melaksanakan ibadah umrah pada awal Januari 2015. Bulan Desember dan Januari adalah masa-masa yang padat dengan jamaah umrah dari seluruh dunia. Banyak orang yang ingin melaksanakan ibadah umrah pada masa pergantian tahun, selain itu Maulid Nabi juga bertepatan dengan awal tahun baru, maka terbayanglah betapa ramainya jamaah umrah yang datang dari seluruh penjuru dunia.

Dalam memilih biro perjalanan umrah, seorang jamaah hendaklah memilih dengan berhati-hati. Rata-rata ongkos umrah saat ini berkisar antara 22 juta hingga 25 juta rupiah dengan sekamar berempat. Ongkos umrah bisa lebih mahal dari angka tadi jika memilih sekamar berdua atau bertiga dan kelas hotel yang disewa biro perjalanan. Dalam prakteknya banyak biro perjalanan umrah yang menawarkan ongkos yang murah di bawah 20 juta rupiah. Ada yang berani memberikan harga 15 hingga 18 juta rupiah. Mahal-murahnya biaya umrah yang ditawarkan biro perjalanan bergantung pada maskapai pesawat yang digunakan, jarak dari hotel penginapan ke Masjid Nabawi (di Madinah) dan Masjidil Haram (di Makkah), dan menu makanan yang terdapat di hotel (menu Indonesia atau menu Arab). Semakin murah biaya umrahnya, maka semakin jauh jarak hotel/penginapan ke dua masjid tadi (yang biasanya dicapai dengan jalan kaki, kecuali pakai biaya sendiri menggunakan taksi sebab tidak ada bus umum di sana). Bagi jamaah yang masih muda tentu tidak masalah berjalan kaki ratusan meter hingga lebih dari satu kilometer setiap kali hendak pergi sholat ke masjid Nabawi/Masjidil Haram, tetapi bagi jamaah yang sudah tua dan berusia lanjut tentu sangat kasihan harus selalu berjalan kaki. Padahal inti pergi umrah adalah selalu sholat lima waktu dan sholat sunat sebanyak-banyaknya di kedua masjid tadi karena pahalanya sangat besar. Jika selama di Tanah Suci hanya sesekali saja ke masjid dan memilih sholat di hotel tentu sangat disayangkan, jauh-jauh pergi ke Tanah Suci hanya untuk tidur dan berdiam di penginapan, tentu rugi biaya, rugi waktu, dan rugi pahala.

Selain jarak dari hotel ke masjid haram (Masjid Nabawi dan Masjidil Haram), mahal-murahnya ongkos umrah juga bergantung pada maskapai pesawat yang digunakan. Ongkos umrah bisa ditekan murah karena menggunakan pesawat low cost carrier yang rutenya transit di beberapa kota di Asia. Jadi, jamaah misalnya naik Air Asia dulu ke Bangkok, di Bangkok transit beberapa jam, lalu disambung lagi dengan pesawat lokal yang mempunyai kerjasama dengan maskapai di Saudi Arabia. Jika semuanya lancar tentu tidak masalah, tetapi tidak jarang jamaah umrah terlantar berhari-hari atau bahkan gagal berangkat ketika maskapai lokal yang akan membawa ke Jeddah tiba-tiba ditolak masuk ke Saudi. Ketika saya akan berangkat umrah bulan lalu, saya membaca di media ratusan jamaah umrah dari Indonesia terlantar berhari-hari di Bandara Don Muang di Bangkok karena Pemerintah Arab Saudi menolak maskapai lokal Thailand yang akan membawa jamaah. Rupanya ada persaingan bisnis antara beberapa maskapai lokal di Tahiland dalam merebut pangsa pasar penumpang ke Arab Saudi, celakanya yang menjadi korban adalah jamaah umrah dari Indonesia yang tidak tahu apa-apa.

Ada pula biro perjalanan yang menggunakan maskapai di Bangladesh. Dari Jakarta naik pesawat ke Bangkok, lalu ke Dhaka (ibukota Bangladesh), kemudian dari Dhaka naik pesawat lokal ke Jeddah (mungkin transit dulu di Dubai). Sambung menyambung dan melelahkan, dan seperti kasus Bangkok di atas, maka kemungkinan terlantar juga masih ada jika ada masalah dengan pesawat yang digunakan. Bahkan naik pesawat Emirates pun belum tentu ada jaminan bisa sampai ke Tanah Suci sesuai rencana. Masih dari media, saya membaca ratusan jamaah umrah dari Indonesia terlantar di bandara Dubai karena pesawat Emirates yang akan membawa ke Jeddah menelantarkan penumpang di sana (yang akhirnya diurus oleh Konjen RI di Dubai).

Karena itu saya lebih percaya jika maskapai yang digunakan ke Tanah Suci adalah Saudi Arabia Airlines dan Garuda Indonesia. Yang pertama adalah maskapai milik Pemerintah Saudi, maka sebagai maskapai milik negaranya sendiri, tentu mereka lebih leluasa keluar masuk negaranya. Sedangkan Garuda Indonesia kita sudah sama-sama tahu kualitas dan reputasinya. Soal makanan nasi Arab yang bikin nek (karena berminyak samin) seperti yang dikhawatirkan orang-orang di pesawat Saudi ternyata tidak sepenuhnya benar, mereka menyajikan hidangan Indonesia selama perjalanan, karena mereka tahu hampir seratus persen penumpang pesawat mereka adalah orang Indonesia. Pramugarinya juga ada orang Indonesia selain orang Arab tentu saja.

Jadi memang ketenangan dan kenyamanan dalam memilih biro perjalanan umrah adalah awal yang sangat menentukan. Tentu kualitas ibadah umrah tidak ditentukan oleh mahalnya ongkos umrah, Tuhan tentu tidak menilai ummat-Nya berdasarkan kategori mahal murahnya ongkos umrah, bukan? Semua berpulang pada kebijaksanaan kita dalam memilih.

Di Bandung, dari sekian banyak biro perjalanan umrah yang ada, saya memilih yang tidak terlalu mahal dan juga tidak terlalu murah. Biro perjalanan yang tergolong mahal misalnya Safari Suci di belakang Gedung Sate, ongkos umrahnya bahkan lebih mahal dari ONH (di atas 30 juta). Di belakang Gedung Sate dekat Masjid Istiqamah memang banyak biro perjalanan haji/umrah bertebaran, antara lain Percikan Iman Tour, Khalifah Tour, Amwa Tour, Safari Suci, Mega Citra, dan lain-lain. Namun semuanya termasuk kelas elit alias muahal pisaan (bagi saya). Mahal atau murah memang relatif bagi setiap orang. Selain itu, ongkos umrah bergantung pada kurs dollar saat itu, karena biaya ditetapkan dalam dollar, namun setelah dirupiahkan tetap saja terasa mahal. Ketika saya berangkat awal Januari lalu dan melakukan pelunasan biaya pada akhir Desember, nilai rupiah sedang anjlok terhadap dollar. Satu dollar pernah mencapai Rp13.000 pada bulan Desember. Saya tahan dulu pelunasan selama dua minggu menunggu dollar turun, akhirnya setelah dollar mencapai Rp12.500-an, barulah saya lunasi. Jika dipikir-pikir ternyata memiliki tabungan dalam mata uang dollar itu perlu juga, baru terasa manfaatnya ketika kita ingin pergi ke Tanah Suci.

Saya memilih biro perjalanan Qiblat Tour di Jalan Taman Cibeunying Selatan. Biaya umrahnya di bawah biro-biro yang saya sebutkan tadi namun kulitasnya tidak diragukan lagi. Hampir setiap minggu Qiblat Tour memmberangkatkan jamaah umrah, terbayang kan betapa besarnya peminat umrah melalui biro ini. Qiblat Tour juga memiliki kelas-kelas paket umrah yang harganya berbeda-beda, mulai dari paket yang lebih mahal karena hotelnya hanya 50 meter dari Masjidil Haram, hingga yang paling murah karena hotelnya berjarak 300 meter dari Masjidl Haram. Kita bisa memilih paket yang sesuai kantong. Meski berbeda paket, namun maskapai, makanan, dan layanan selama di Tanah Suci adalah sama. Kita mendapat bimbingan umrah selama satu kali (boleh lebih kalau mau), paket perlengkapan umrah (kain ihram, batik seragam, buku-buku, syal, koper).

Beberapa hal harus anda perhatikan bila anda ingin pergi umrah atau haji. Nama anda di paspor harus tiga kata, karena Kedubes Arab Saudi di Jakarta menolak memberi visa jika nama tidak terdiri tiga kata (baca: Berilah Nama Anakmu Minimal Tiga Kata). Kedua, anda harus telah mendapat vaksin meningitis. Kalau di Bandung suntikan vaksin meningitis dapat diperoleh di Kesehatan Pelabuhan di dalam Bandara Husein Sastranegara. Saya menyarankan tidak hanya vaksin meningitis tetapi juga ditambah vaksin flu sebab di Arab Saudi dengan jamaah umrah yang jumlahnya ratusan ribu orang maka penularan virus flu sangat cepat. Ibadah umrah cukup menguras tenaga, jika kondisi tubuh lelah dan kurang fit maka kita mudah tertular flu. Saya mendapat flu selama umrah dan penyakit ini cukup mengganggu ibadah kita.

Saya lanjutkan ya. Jika biro perjalanan lain memulai umrah dari Makkah, maka kami memulainya dari Madinah. Pesawat Saudi Arabia Airlines yang membawa rombongan jamaah adalah satu-satunya maskapai yang berangkat dari Tanah Air yang boleh langsung terbang ke bandara Madinah. Garuda hanya bisa sampai Jeddah, dari Jeddah jamaah dibawa dengan bis ke Makkah (waktu perjalanan dari Jeddah ke Makkah sekitar dua jam).

Rombongan jamaah berkumpul dari kantor Qiblat pada waktu tengah malam karena keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta adalah pukul 6 pagi. Kami berangkat lewat pukul 12 malam menggunakan dua buah bis. Selama perjalanan ke bandara kami melafalkan kalimat talbiyah. Labbaika allahumma labbaik, labaika laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan-ni’mata laka wal mulk, laa syariikalak. Kami (datang) memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.

Mata saya berkaca-kaca membaca kalimat talbiyah tadi. Terharu, karena sebentar lagi saya akan menginjakkan kaki di Tanah Suci, sebentar lagi saya akan datang ke Rumah Allah di Tanah Suci. Saya akan datang menumpahkan keharuan dan segala niat serta doa yang selama ini ingin saya curahkan di Rumah-Nya di Baitullah. Saya akan berdoa di Multazam di depan pintu Ka’bah. Saya akan mengunjungi Rumah Nabi di Masjid Nabawi, berdoa di Raudah di mana semua doa dikabulkan. Semua itu membayang-bayang di dalam kepala saya sehingga membuat saya tidak bisa tidur selama di dalam bis. Wajah-wajah anak saya yang terbaring tidur malam itu dan saya tinggalkan di rumah juga ikut terbayang-bayang, terutama wajah putra saya yang sulung yang merupakan salah satu alasan saya pergi umrah tahun ini juga. Air mata menitik membayangkan itu semua, meninggalkan sementara urusan dunia yang fana ini, pergi memenuhi panggilan-Nya ke Tanah Suci.

Jam setengah empat pagi kami sudah sampai di bandara Soekarno-Hatta, tepatnya di terminal keberangkatan luar negeri (2D). Di sana sudah banyak berkumpul jamaah umrah dari biro perjalanan lain yang sudah datang sejak awal. Seperti dugaan saya, ledakan jamaah umrah memang tidak terbendung, hampir setiap hari ada saja rombongan jamaah umrah hilir mudik di bandara Soeta menunggu keberangkatan. Jam enam pagi pesawat Saudi Arabia Airlines lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat berbadan lebar ini mengangkut sekitar 400 lebih penumpang yang sebagian besar jamaah umrah dari berbagai biro perjalanan di tanah air. Ada dari Bandung, Jakarta, Jambi, Kalimantan, Jawa Timur, dan lain-lain. Mereka mudah dikenali dari seragam batiknya karena setiap jamaah umrah dari biro perjalanan yang berbeda menggunakan seragam batik yang berlainan. Lucu juga ya jika diatur dengan seragam batik, seperti anak sekolah saja, tetapi mungkin maksudnya untuk kemudahan identifikasi antara satu jamaah biro tur dengan jamaah biro tur yang lain.

Saya amati wajah-wajah jamaah yang kelelahan di dalam pesawat. Rata-rata jamaah umrah adalah orang-orang tua, wanita paruh baya, dan aki-aki yang sudah pensiun. Sebagian lagi keluarga yang membawa lengkap anak-anaknya, mungkin karena masih libur sekolah. Jamaah yang sudah berusia lanjut ini mungkin sudah pernah melaksanakan ibadah haji, tetapi mau pergi haji lagi terbentur masalah kuota tadi dan adanya semacam himbauan agar ibadah haji itu cukup satu kali, tidak perlu berkali-kali. Mereka mungkin pergi umrah dengan gaji pensiun mereka yang dikumpulkan bertahun-tahun, atau diberangkatkan oleh anak menantu mereka sebagai bentuk bakti anak kepada orangtua. Sehari-harinya orang-orang tua tadi mungkin hanya menghabiskan waktu hari tua di rumah dan pergi ke masjid ketika waktu sholat tiba. Orientasi orang-orang tua itu hanyalah ibadah dan ibadah saja. Anak-anak mereka sudah besar dan sudah hidup terpisah dengan mereka karena sudah berkeluarga. Tapi anak-anak itu tetaplah anak yang berbakti dan memperhatikan kebutuhan orangtua mereka. Mereka berinisiatif memberangkatkan orangtua mereka ke Tanah Suci sebagai bentuk “hiburan rohani”. Orangtua mana yang akan menolak ketika anak-anak mereka yang sudah besar memberangkatkan mereka pergi umrah ke Tanah Suci. Naik haji lagi tentu harus menunggu puluhan tahun, mungkin tidak sampai lagi nyawa yang dikandung badan menunggunya, maka pergi umrah adalah keinginan besar bagi kebanyakan orangtua. Saya membayangkan, suatu hari nanti ketika saya sudah tua, anak-anak saya memberangkatkan orangtuanya pergi umrah ke Tanah Suci.

Selain orangtua yang sudah pergi berhaji, banyak pula jamaah umrah yang memang belum pernah naik haji karena terbentur aturan kuota. Menunggu pergi haji sepertinya tidak mungkin karena harus menunggu belasan tahun, maka pergi umrah adalah jalan keluarnya. Wajah-wajah jamaah menyiratkan mereka adalah orang yang lugu, berasal dari kampung-kampung, belum pernah naik pesawat, belum pernah ke luar negeri. Mereka mungkin telah menngumpulkan uangnya bertahun-tahun untuk pergi haji, tetapi karena kondisi yang saya ceritakan di atas, maka tabungan mereka bertahun-tahun itu dialihkan untuk ongkos umrah. Niatnya beda, namun Insya Allah di mata Allah SWT tentu pahalanya sama seperti orang pergi berhaji. Mereka, jamaah yang sudah tua-tua itu, memendam hasrat kerinduan yang mendalam memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci pergi berhaji, tetapi apa daya kuota memupus impian itu. Maka, umrah adalah pilihan jika berhaji tidak mungkin lagi.

Ah, saya terlalu banyak melamun di dalam pesawat. Sembilan hingga sepuluh jam di dalam pesawat adalah waktu yang membosankan. Saya mencoba mengaji di dalam pesawat, membaca kembali buku bimbingan ibadah umrah, membaca majalah bertulisan arab yang saya tidak mengerti isinya, namun saya susah sekali untuk bisa tidur. Di layar monitor di dalam pesawat terpampang posisi pesawat sedang di atas mana, waktu di Saudi dan waktu di Jakarta, sudah berapa jam terbang, berapa jam lagi sampai, suhu di udara dan lain-lain. Oh, terasa begitu lama. Belum pernah saya menempuh perjalanan yang lama ini. Paling lama naik pesawat adalah ketika pergi ke Korea dan Jepang selama enam jam, tetapi ke Madinah waktu tempuhnya sekitar sembilan hingga sepuluh jam.

Memasuki wilayah udara Saudi saya melihat pemandangan yang berbeda. Di bawah sana saya hanya melihat warna coklat, warna khas gurun pasir. Kering dan tandus. Hanya terlihat coklat keemasan di mana-mana, hampir tidak pernah saya melihat hutan yang hijau atau gunung-gunung yang menjulang sebagaimana kalau kita akan mendarat di bandara tanah air. Alam yang kering dan tandus inilah yang mungkin membuat orang Saudi dikesankan berwatak keras, agak kasar, tertutup, dan (katanya) kurang ramah seperti bangsa kita. Alam telah menempa karakter orang Arab menjadi keras seperti itu selama ribuan tahun. Mungkin karena alasan itulah Allah menurunkan nabi-nabi di sana, termasuk Nabi Muhammad SAW, untuk mendidik bangsa Arab yang sangat jahiliyah menjadi bangsa yang beradab dan bertauhid. Sisa-sisa jahiliyah tentu masih ada, tidak hilang seratus persen, buktinya kita sering mendengar kasus-kasus TKW Indonesia disiksa dan dianiaya oleh majikannya di sana. Ah, omongan saya kok ngelantur membahas tipikal orang Saudi.

Jam 11.30 siang waktu Saudi (yang berarti pukul 15.30 WIB waktu Bandung), pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Madinah. Ketika memasuki kota Madinah yang terlihat adalah pemandangan yang gersang. Bandara Madinah bukan bandara yang besar bahkan termasuk sepi. Tidak semua pesawat boleh masuk ke sana. Selain pesawat Saudi Arabia Airlines, saya melihat sebuah pesawat Egypt Air dari Mesir yang membawa rombongan jamaah pulang umrah. Hanya itu pesawat yang saya lihat, selain itu benar-benar sepi.

Rombongan jamaah umrah turun di Bandara Madinah.

Rombongan jamaah umrah turun di Bandara Madinah.

Keluar dari pesawat kami disambut angin dingin. Bulan Desember dan Januari negara-negara Arab memasuki musim dingin. Tidak ada salju di musim dingin, kecuali di negara-negara seperti Palestina, Libanon, Suriah, namun angin begitu dingin. Jamaah sudah diingatkan untuk membawa jaket yang tebal. Kota Madinah siang hari cukup dingin, seperti dinginnya daerah Ciwidey di Bandung Selatan, tentu malam hari lebih dingin lagi.

Pemeriksaan imigrasi di bandara tidak terlalu sukar dan lama. Kesan saya, petugas bandara di Madinah tidak sesangar yang saya kira. Sebagian petugas imigrasi itu bisa sedikit berbahasa Indonesia, maklum saja karena jamaah umrah ratusan ribu dari Indonesia setiap tahun. Koper-koper jamaah sudah ada yang mengurusnya. Biro perjalanan umrah menjalin kerjasama dengan orang lokal Saudi untuk mengurus barang jamaah. Indonesia, Indonesia, kata porter di bandara. Mereka hafal Indonesia, mereka tahu orang Indonesia.

Dari Bandara kami langsung dibawa oleh bis menuju hotel. Sepanjang perjalanan yang tampak adalah suasana sepi. Jarang terlihat orang di luar. Toko-toko dan ruko-ruko nyaris tidak ada orang. Oh, mungkin ini masih di luar kota Madinah. Tetapi di jalan-jalan raya, mobil-mobil sedan mewah berkeliaran di jalan. Orang-orang Saudi tetap setia memakai pakaian tradisionil mereka dari balik kemudi, yaitu baju gamis dan kain penutup kapala semacam kafiyeh. Jalan-jalan layang terdapat di luar kota. Pohon-pohon kurma berjejer di pinggir jalan tetapi sedang tidak berbuah. Selain itu yang saya lihat hanyalah suasana gersang. Memasuki kota Madinah barulah kita melihat keramaian, mobil-mobil yang berseliweran, dan beberapa pohon program penghijauan kota Madinah yang tumbuh subur.

Suasana di pinggiran kota Madinah

Suasana di pinggiran kota Madinah

Suasana pinggiran kota Madinah

Suasana pinggiran kota Madinah

Suasana pinggiran kota Madinah (dari atas bis)

Suasana pinggiran kota Madinah (dari atas bis)

Saya akan menceritakan kisah selanjutnya pada bagian kedua (BERSAMBUNG).

Tulisan selanjutnya: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 2): Di Hotel dan Seputar Masjid Nabawi

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 7 Komentar