Warna-warni Kesenian Minangkabau di Gedung Sabuga ITB

(Tulisan ini sebenarnya agak terlambat di-posting, karena kejadiannya sebulan yang lalu. Meskipun demikian, masih tetap gres saya tulis di sini)

Setiap tahun, menjelang Ujian Akhir Semester, mahasiswa-mahasiswa ITB yang tergabung di dalam Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB mengadakan malam pagelaran kesenian budaya Minangkabau di dalam kampus. Tempatnya di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB. Penontonnya tidak hanya para mahasiswa di dalam kampus, tetapi juga datang dari mahasiswa lainnya di kota Bandung, khususnya mahasiswa asal Sumbar, dan tentu saja para perantau Minang yang berada dia kawasan Bandung Raya. Bagi perantau Minang di Bandung, acara UKM-ITB ini adalah yang selalu ditunggu-tunggu. Hal ini tampak dari membludaknya penonton, ditandai dari antrean panjang calon penonton di pintu Sabuga dengan memperlihatkan kode pesanan tiketnya yang dipesan secara daring di Internet. Zaman sekarang menjual tiket tidak perlu berupa kertas lagi, tetapi cukup via internet seperti kita membeli tiket pesawat. Tidak hanya itu, jika anda tidak hadir di Sabuga malam itu, pertunjukan pun dapat dilihat dari seluruh dunia karena disiarkan secara live streaming melalui Internet.

Saya datang pada malam itu guna memenuhi undangan para mahasiswa Minang ITB yang saya cintai. Bandung malam itu sangat ramai dan meriah, karena baru saja usai ‘pesta’ perayaaan Konferensi Asia Afrika ke-60. Kawasan Jalan Dago dan sekitarnya macet total, karena beberapa jalan ditutup akibat adanya pertunjukan musik dan karnaval. Jadi, malam pagelaran kesenian Minang dari UKM-ITB itu bolehlah dianggap sebagai ‘ikut meramaikan’ perayaan KAA. Ketika ada seorang rekan bertanya kepada saya, apakah malam keseninan Minang di Sabuga itu dalam rangka KAA? Iya, jawab saya sekenanya sambil tersenyum. Dengan sepeda motor yang tersendat-sendat di sela kemacetan patrah Jalan Tamansari, akhirnya saya sampai juga di Gedung Sabuga.

Asesori-asesori hiasan Minangkabau sudah menyambut tamu menuju pintu Sabuga. Sepasang anak daro-marapulai (pengantin muda-muda Minang) menyambut penonton dengan ramah. Saya menyempatkan berfoto dulu bersama teman saya, seorang alumni ITB yang pernah menjadi Dirut beberapa BUMN semasa Menteri Dahkan Iskan dulu. Sambutan muda-mudi dalam balutan busana tradisionil Minangkabau bagaikan pengkondisian bahwa anda sekarang memasuki kawasan budaya Minang.

Sepasang muda-mudi Minang menyambut penonton masuk ke dalam sabuga.

Sepasang muda-mudi Minang menyambut penonton masuk ke dalam sabuga.

Jadwal pertunjukan ternyata ngaret dari yang diagendakan. Acara dimulai dengan pembacaan tilawah Al-Quran. Sebagai orang Minang yang taat pada agama dan dengan filosofi adat yang bersendikan pada ajaran agama (Islam), tradisi pembukaan acara dengan membaca kitab Suci Al-Quran sangat jarang kita temukan pada pertunjukan kesinian manapun. Hanya di UKM-ITB itu ada. Tradisi ini sangat baik dan perlu dilestarikan pada setiap pertunjukan dari UKM-ITB.

Setelah beberapa kata sambutan dari beberapa orang, dua orang pembawa acara mulai berceloteh panjang lebar dalam Bahasa Minang yang memancing gelak tawa. Saya mencatat celotehan ini setidaknya memakan waktu hampir satu jam, waktu yang terlalu lama untuk pembawa acara yang tampak terlampau semangat bergurau di atas panggung, lupa bahwa the main course bukanlah lawakan mereka, tetapi atraksi kesenian yang ditunggu-tunggu penonton. Tidak heran jika pertunjukan berakhir sampai hampir tengah malam (23.30 WIB). Ups…, saya sudah membicarakan waktu akhir, padahal tulisan ini baru saja dimulai.

Latar belakang panggung dengan rumah bagonjong dan tampilan video mapping.

Latar belakang panggung dengan rumah bagonjong dan tampilan video mapping.

Pertunjukan kesenian Minang pada malam itu mengambil setting cerita drama tahun 2040 (wah!). Dikisahkan tentang keluarga perantau Minang di Jakarta mempunyai anak lelaki yang akan diplot menjadi datuk di kampung halaman. Namun persoalannya, di kampungnya juga ada calon datuk lain yang digadang-gadang oleh keluarganya. Persaingan menjadi datuk pun terjadi dengan aneka intrik dan taktik. Di sela-sela kisah drama itu ditampilkan aneka tarian, randai, dendang, musik, dan lagu.

Salah satu adegan drama. Video mapping di latar belakang menambah rancak suasana.

Salah satu adegan drama. Video mapping di latar belakang menambah rancak suasana.

Sejatinya penonton tidak terlalu mementingkan jalan cerita drama yang mudah ditebak dan mengandung pesan-pesan yang mungkin terkesan klise saat ini, yaitu lestarikan adat dan budaya Minang. Pada setiap pertunjukan kesenian Minang di manapun, yang menjadi andalan adalah tari, musik, dan lagu. Kisah drama bolehlah dianggap sebagai pemanis belaka, celoteh bagarah-garah (lawakan) yang memancing tawa bolehlah untuk menghidupkan suasana supaya tidak garing, namun gerak tari dan lagu dengan iringan musik tradisionil itulah yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh penonton di manapun. Jiwa dari kesenian minang adalah musik, tarian (termasuk randai), dan lagu. Jadi, jiwa inilah yang harus mendapat perhatian besar bagi produser acara kesenian Minang di manapun, termasuk para mahasiswa ITB itu.

Tim musik talempong

Tim musik talempong

Gerak tari sungguh rancak dipandang mata, suara musik dan lagu memanjakan telinga. Padu padan tarian dan musik lebih baik dari tahun sebelumnya. Lho, kok tahu? Lha iya, saya selalu menonton acara ini setiap tahun :-). Hanya sayangnya, seperti kata saya dulu, tarian yang dibawakan tidak pernah berubah, selalu yang itu-itu saja. Hanya personilnya yang berganti, sedangkan koleksi tarian masih yang dulu.

Meskipun demikian, hati sungguh terhibur dengan penampilan yang memukau mata dan telinga. Gerakan yang kompak, ritmis, dan teratur dari para penari membuat penonton tidak beranjak sampai acara selesai. Apalagi di latar belakang dihiasi dengan tampilan video mapping yang membuat acara kali ini penuh warna. Video mapping adalah hal yang bari kali ini, meskipun kepopulerannya di kota Bandung sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu ketika ada pertunjukan video mapping di dinding Gedung Sate.

Foto-foto di bawah ini dapat membawa anda terhanyut dalam warna-warni kesenian Minangkabau seperti yang saya ceritakan.

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari Indang

Tari Indang

Tari Kipeh Marawa

Tari Kipeh Marawa

Tari Randai

Tari Randai

Tari Rantak

Tari Rantak

Puncak semua tari, Tari Piring

Puncak semua tari, Tari Piring

Para mahasiswa itu telah berhasil menampilkan pagelaran kesenian Minang yang menawan. Apresiasi buat mereka, karena telah mengorbankan banyak waktu latihan di sela-sela kesibukan kuliah yang padat dan berat. Setiap sore dan malam meerka berlatih di sela-sela lantai gedung kampus yang kosong. Meskipun mereka bukan penari dan pemusik profesional, mereka sudah menampilkan pertunjukan kesenian sekelas profesional.

Tahun depan, pertunjukan macam apa lagikah yang akan mereka hidangkan?

Dipublikasi di Cerita Minang di Rantau, Seputar ITB | 4 Komentar

Ketika Doa Belum Terkabul

Setiap orang beragama pasti pernah berdoa kepada Sang Pencipta. Kita berdoa kepada Tuhan meminta keselamatan, meminta kesembuhan, meminta petunjuk, meminta ampun, atau meminta apa saja. Berdoa itu pada dasarnya meminta. Kepada siapa lagi kita meminta tolong kalau tidak kepada Tuhan. Saya dan Anda pasti pernah berdoa  kepada Allah untuk meminta suatu keinginan.

Kadang-kadang kita merasa Tuhan mengabulkan (meng-ijabah) doa kita  setelah melihat ada perubahan yang terjadi setelah kita berdoa. Alangkah bahagianya ketika doa yang kita panjatkan dikabulkan oleh Allah SWT. Bertambah-tambah rasa iman kita kepada Allah.

Namun kadang-kadang kita merasa doa kita belum dijawab atau diijabah oleh Alllah. Apakah Allah tidak mengabulkan doa hamba-Nya?

Saya yakin seyakin-yakinnya, sesungguhnya Allah pasti mengabulkan (meng-ijabah) setiap doa yang dipanjatkan makhluk-Nya, karena Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia yang telah menciptakan kita,  dan Sang Pencipta pasti menyayangi setiap yang dicitptakannya.

Belum diijabah berati tidak, tetapi ditunda. Bisa jadi Allah menunda mengabulkan doa hamba-Nya untuk menguji kesabaran. Ditunda entah sampai waktu kapan, kita tidak tahu. Tuhan mungkin ingin tahu, apakah karena belum dikabulkan  itu kita jadi berpaling dari-Nya? Apakah karena belum dikabulkan lalu kita berburuk sangka kepada-Nya?  Apakah karena belum dikabulkan lalu kita berhenti berdoa?   Semuanya adalah ujian kesabaran, dan ujian kesabaran itu adalah ujian iman.

Kalau doa tidak dikabul-kabulkan juga setelah sekian lama, maka kita berbaik sangka saja kepada Allah. Allah itu sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Jika kita bersangka baik kepada Allah Ta’ala (khusnudhzon), maka Allah pun bersangka baik kepada kita. Kalau kita bersangka buruk kepada Allah (su’udhzon), maka Allah pun akan bersangka buruk kepada kita.

Kalau Allah tidak mengabulkan doa, bukan berarti tidak. Boleh jadi doa kita dikabulkan Allah dalam bentuk yang lain, yang mungkin lebih baik dari yang kita minta dan tiada kita sangka-sangka. Dia yang lebih tahu apa yang terbaik buat hamba-Nya.

Sebuah kutipan indah dari seorang teman di dunia maya: Jangan pernah berputus asa dalam berdo’a. Jika terijabah doamu, itu ‘kan menambah imanmu. Jika tertunda, itu ‘kan menambah sabarmu. Jika tiada dikabulkan berarti Allah Ta’ala sedang mempersiapkan yang lebih indah dari apa yang kamu pinta.

(tulisan ini renungan untuk siapapun, termasuk diri saya sendiri, yang sedang menunggu doa diijabah oleh Ilahi)

Dipublikasi di Renunganku | 7 Komentar

Terima Kasih, Rakyat Aceh!

Terimakasih kepada rakyat Aceh yg telah menolong, menyelamatkan, menampung, da memberi makan pengungsi Rohingnya yang malang. Sementara negara masih berpegang pada aturan kaku tentang pengungsi, orang-orang Aceh telah berbuat lebih jauh dengan menyelamatkan mereka yang telah terapung-apung selama berbulan-bulan di laut.

Pengungsi Rohingya asal Myanmar saat terombang-ambing di dekat Pulau Andaman, 14 Mei 2015 (Sumber foto: http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/indonesia/93355-nelayan-aceh-dan-penyelamatan-pengungsi-bangladesh-myanmar?cp_rap_source=yml#cxrecs_s)

Pengungsi Rohingya asal Myanmar saat terombang-ambing di dekat Pulau Andaman, 14 Mei 2015 (Sumber foto: http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/indonesia/93355-nelayan-aceh-dan-penyelamatan-pengungsi-bangladesh-myanmar?cp_rap_source=yml#cxrecs_s)

Orang Aceh yang sering dituding melanggar HAM karena menerapkan syariat Islam, justru merekalah yang pertama menegakkan HAM dengan menolong orang-orang yang teraniaya itu. Nelayan-nelayan Aceh telah menyelamatkan ratusan pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di laut, mereka masakkan makanan di atas kapal untuk para pengungsi yang kelaparan itu, lalu selanjutnya perahu pengungsi ditarik oleh nelayan ke daratan.

Seperti dikutip dari sini:

Saat mereka ditemukan, para pengungsi hanya memakai celana pendek dan kaos singlet. “Kebanyakan dari mereka tidak pakai baju, dan tubuhnya lemas,” kata Marzuki.

Setelah menarik para pengungsi, nelayan mengeluarkan stok air minum dan bahan makanan. Gula dan kue langsung disantap habis oleh para pengungsi yang kelaparan.

Karena tak cukup, para nelayan memutuskan untuk mengeluarkan stok beras dan memasak untuk para pengungsi.

“Butuh waktu sekitar 20-30 menit untuk memasak,” katanya. “Makannya pun di tangan, karena persediaan piring tak cukup.”

Mereka lalu dibawa ke Teluk Langsa dan ditangani kepolisian setempat serta pemerintah daerah.

Cerita mengenai kebaikan nelayan Aceh bagi pengungsi tak hanya sebatas menyelamatkan. Pada gelombang pengungsi sebelumnya, warga Aceh membantu dengan memberikan makanan ke tempat penampungan.

Bahkan ada beberapa warga Aceh yang ingin mengadopsi anak-anak pengungsi.

“Saya benar-benar tulus ingin merawat anak Rohingya. Apalagi mereka adalah warga Muslim. Sesama Muslim, kita harus saling membantu. Apalagi dulu saat konflik Aceh, kita juga pernah merasakan bagaimana penderitaan akibat perang,” kata Ilyas, warga Aceh.

Orang-orang Rohignya adalah etnis yang paling teraniaya di muka bumi karena mengalami diskriminasi akibat dua hal yang disandangnya: etnis dan agama. Mereka dianggap bukan orang Myanmar meskipun nenek moyang mereka sudah ratusan tahun hidup di sana oleh orang Rohingya. Agama mereka juga berbeda dengan agama mayoritas orang Myanmar, yaitu Budha. Oleh Pemerintah Myanmar mereka tidak diakui sebagai warganegara, sedangkan oleh rakyat Myanmar sendiri -dengan disponsori para Bhiksu Budha yang radikal- mereka dimusuhi, diburu, dan dibunuh dengan keji.

Karena tidak tahan dengan perlakuan buruk di negaranya, ratusan ribu orang Rohingya melarikan diri dengan perahu-perahu kayu sederhana. Mereka berbulan-bulan di laut lepas tanpa boleh mendekati daratan. Setiap mendekati daratan suatu negara, perahu mereka ditarik kembali ke laut oleh aparat keamanan negara setempat.

Tapi tidak bagi orang-orang Aceh. Ketika negara-negara di ASEAN menolak pantainya dibanjiri pengungsi yang dibuang di negara asalnya, dan ketika TNI mengembalikan mereka kembali ke laut lepas, sebaliknya nelayan-nelayan Aceh yang hidup sederhana itu justru menerima mereka dengan tangan terbuka.

Adat orang Aceh adalah memuliakan tamu yang datang, kata seorang nelayan Aceh.

Jika kita terlambat datang menolong, mereka semua akan mati, kata nelayan yang lain lagi.

Jadi, bagaimana kita harus berkata kepada rakyat Aceh selain kata terimakasih.

~~~~~~~~~~~~

Baca juga:
1. Menyelamatkan Rohingya: Mengingat kebaikan orang Aceh

2. Ditolak TNI AL, pengungsi Rohingya ditolong nelayan Aceh

3. 672 pengungsi Bangladesh dan Rohingya kembali ditemukan nelayan Aceh

Dipublikasi di Indonesiaku | 7 Komentar

Diskotik Modern di dalam Angkot Kota Padang

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis tentang angkot di kota Padang yang super berisik (baca: Angkot di Kota Padang: Berisik!!!). Nah, tiga hari yang lalu saya pulang ke Padang untuk berziarah ke makam orangtua karena sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Saya naik angkot ke pusat kota, dan kali ini saya menemukan pemandangan yang lebih canggih dan modern dibandingkan bberapa tahun yang lalu.

Naik angkot di Padang sekarang serasa berada di dalam diskotik, full musik yang memekakkan telinga. Dashboard depan boleh butut, tetapi seperangkat sound system lengkap layar monitor komputer dan peralatan sinar lampu kelap-kelip harus modern di dashboard belakang. Cobalah bandingkan dengan sound system angkot beberapa tahun yang lalu seperti tulisan saya terdahulu (lihat tauitan di atas). Sudah berbeda jauh kan?

Sound system dan layar komputer di dashboard belakang angkot.

Sound system dan layar komputer di dashboard belakang angkot.

Supir angkot bertindak seperti disc jockey (DJ), dia mengendalikan lagu yang diputar dari audio player di dashboard depan. Penumpang pun bisa melihat daftar lagu di layar monitor. Penumpang bisa request lagu kalau mau.

Supir mengatur lagu lewat audio player di dashboatrd depan yang butut. File lagu disimpan di dalam flashdisk yang ditancapkan ke audio player.

Supir mengatur lagu lewat audio player di dashboatrd depan yang butut. File lagu disimpan di dalam flashdisk yang ditancapkan ke audio player.

Konon, pemilik angkot di Padang rela mengeluarkan biaya yang mahal untuk hiburan musik di dalam angkotnya demi menarik penumpang. Kalau nggak ada musiknya, anak-anak sekolah nggak mau naik. Pemilik angkot lebih mengutamakan penyediaan sarana hiburan modern di dalam angkotnya ketimbang meremajakan angkotnya atau sekedar memperbaiki dashboard depan yang butut itu.

Persaingan sesama angkot memang sengit di kota Padang.

Dipublikasi di Cerita Ranah Minang | 3 Komentar

Konflik Timur Tengah Laksana Spagheti

Timur Tengah adalah kawasan tempat diutusnya para nabi agama-agama samawi (Islam, Kristen, Yahudi). Seharusnya kawasan ini adalah kawasan yang damai dan diberkahi karena Tuhan menurunkan wahyu-Nya di sini. Namun nyatanya, dari dulu hingga sekarang Timur Tengah adalah kawasan yang penuh konflik berdarah. Konflik semakin rumit bak benang kusut karena melibatkan negara besar seperti Amerika, Rusia, Inggris, dan lain-lain. Negara-negara tersebut memiliki kepentingan utama di Timur Tengah, karena Timur Tengah adalah daerah yang kaya minyak. Oleh karena itu, mereka berlomba menanamkan pengaruh di sana sehingga negara-negara di Timur Tengah akans elalu bergantung kepada mereka, baik secara militer, ekonomi, dan teknologi.

Kusutnya konflik di Timur Tengah (Sumber: https://twitter.com/arissetyawan/status/487122086322659328)

Kusutnya konflik di Timur Tengah seperti spagheti (Sumber: https://twitter.com/arissetyawan/status/487122086322659328)

Konflik yang abadi adalah konflik antara Israel dan Palestina. Israel didukung oleh Amerika dan Inggris, bahkan bagi Amerika Serikat negara Israel adalah anak emas yang selalu dibela dan dilindungi. Negara Israel dulunya tidak ada, tetapi Amerika dan Inggris membuat negara itu di tanah Palestina. Israel senagaja ditanam di Timur Tengah untuk membuat ketidaksatabilan di kawasan itu. Bagi pihak Amerika, jika negara-negara Arab bersatu, maka ini adalah malapetaka sebab jika negara-negara Arab bersatu maka mereka bisa memainkan politik embargo minyak, sesuatu yang ditakuti negara-negara industri yang bergantung pada minyak. Amerika tahu bahwa negara-negara Arab itu memusuhi Israel (karena menduduki tanah Palestina), maka dengan menghadirkan Israel di sana, maka negara-negara Arab itu merasa terancam. Untuk melindungi diri mereka dari serangan Israel (dan juga Iran), negara-negara Arab itu mau tidak mau meminta negara adikuasa (Amerika dan Rusia) untuk melindungi mereka. Negara-negara Arab menjadi tergantung persenjataan militernya dari negara adikuasa. Sebagai imbalannya, negara-negara Arab berbaik hati menyediakan wilayahnya menjadi pangkalan militer negara adikuasa (khususnya Amerika).

Konflik lainnya adalah konfik antara faksi Hamas dan faksi Fatah di Palestina. Ini adalah pertikaian antara dua saudara kandung yang selalu dijaga agar tetap tidak akur. Dengan membuat mereka selalu berkonflik untuk merebut kekuasaan, maka negara Palestina tidak akan pernah terwujud. Bagi Israel, bersatunya Hamas dan Fatah adalah mimpi buruk buat mereka, sebab kekuatan perlawanan terhadap Israel menjadi semakin solid.

Selain dengan Palestina, Israel juga harus menghadapi perlawanan kelompok Hezbollah di Libanon. Kelompok Hezbollah adalah kelompok syiah yang didukung Iran. Tentara-tentara Hezbolah sangat ditakuti Israel karena terkenal dengan militansinya. Israel tidak hanya berhadapan dengan Hezbollah, tetapi juga dengan Iran. Di kawasan Timur Tengah hanya ada dua negara yang kuat secara militer, yaitu Iran dan Israel. Keduanya sellau bermusushan dan saling mengancam.

Konflik berikutnya adalah konflik antara kelompok sunni dan syiah. Pada mulanya konflik ini bermula di Irak, namun merembet hingga ke Suriah hingga timbulnya kelompok militan baru yang kejam bernama ISIS. Konflik pun melebar menjadi urusan negara, karena kelompok syiah didukung oleh Iran. Bagi Arab Saudi dan negera-negara yang bermazhab Sunni, Iran adalah ancaman selain Israel. Paham syiah yang semakin lama semakin kuat (misalnya di Libanon dan Yaman) adalah ancaman terhadap negara-negara penganut sunni. Maka, jika sekarang Arab Saudi dan koalisinya menggempur kelompok Houthi di Yaman, maka sebenarnya perang yang terjadi adalah antara syiah dan sunni, atau antara Iran (di balik layar) dengan negara-negara Arab Saudi.

Fenomena Arab Spring yang bermula di Tunisia lalu merembet ke Mesir, Libya, Suriah, dan negara-negara Arab lainnya ternyata layu sebelum berkembang. Arab Spring yang berawal dari people power di negaranya tidak membuat negara-negara barat happy. Arab Spring mengancam hegemoni raja-raja dan para emir yang selama ini sudah lama berkuasa di negara-negara Arab. Para raja dan emir yang selalu bergantung kepada negara barat sudah berada pada comfort zone. Jika Arab Spring berkembang sehingga menggulingkan kekuasaan penguasa Arab yang otoriter dan korup itu, maka Amerika dan sekutunya merasa terancam keberadaannya di Timur Tengah. Para pendukung Arab Spring sudah lama jengah dengan penguasa negaranya yang selalu tunduk kepada Amerika dan sekutunya. Oleh karena itu, bagi negara barat, fenomena Arab Spring harus “dihentikan” dengan membuat negara-negara yang menikmati Arab Spring tetap dilanda konflik perang saudara (contohnya Mesir yang tetap tidak stabil hingga saat ini).

Yah, begitulah saya memotret konflik di kawasan Timur Tengah yang rumit itu. Yang terjadi di sana tidak lagi perang agama, tetapi perang atas nama kekuasaan. Rakyat di negara-negara di kawasan itu menjadi korban pertikaian yang tidak berkesudahan. Sementara kita yang berada di Indonesia hanya bisa menonton dari jauh, tidak bisa berbuat apa-apa. Kita, khususnya ummat Islam di Indonesia, tetap memasang mata dan telinga memantau suasana di Timur Tengah. Rasa empati pada negara-negara Arab di sana adalah wajar, bagaimanapun tanah suci ada di kawasan itu, ke sanalah ummat Islam Indonesia pergi ziarah, umroh dan hajji. Jika kawasan itu selalu dilanda konflik, maka ziarah ke tanah suci bisa terhalang.

Dipublikasi di Dunia oh Dunia | 4 Komentar

Mau Jadi Dokter kok Berbuat Curang?

Polisi di Malang baru-baru ini menangkap beberapa orang joki dan calon mahasiswa yang mengikuti Ujian Masuk Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiayah Malang. Modus jokinya sungguh canggih, yaitu menggunakan chip yang ditempel di gendang telinga.

Peserta ujian memotret soal dengan kamera ponsel yang disembunyikan di balik kotak pensil yang terbuat dari kain. Foto soal tersebut di kirim ke server di Yogyakarta. Seseorang di sana mengerjakan soal ujian, lalu jawabannya dikirim ke ponsel peserta ujian yang diselipkan di selangkangan. Dari ponsel tersebut ada kabel yang dihubungkan ke chip di gendiang telinga untuk mendengarkan jawaban dalam bentuk kode. Chip adalah rangkaian elektronik yang berukuran mikro yang memiliki memori untuk menyimpan data dan program.

Seperti dikutip dari sini:

Kecanggihan perangkat bisa dilihat dari cara curang peserta tersebut, yakni dengan mendengarkan jawaban dari joki. Mirip film James Bond atau Mission Impossible, calon mahasiswa diberi semacam chip yang dimasukkan ke gendang telinga.

“Sampai sekarang chip-nya masih di gendang telinga mereka, belum kami ambil,” ujar Wahyu.

Dia mengatakan, mereka sempat diperiksa dokter saat di UMM. Menurut dokter, chip tersebut tidak bisa diambil sembarangan. Chip harus ditarik dengan magnet.

Modus joki di UMM (Sumber: Kompas)

Modus joki di UMM (Sumber: Kompas)

Tidak tanggung-tanggung bayarannya. Setiap peserta harus membayar Rp 120 juta sampai 160 juta. Biaya itu harus dilunasi apabila peserta sudah dinyatakan lulus masuk Fakultas Kedokteran UMM. Dari tarif yang sangat mahal itu, pastilah dapat diduga calon mahasiswa yang menggunakan joki adalah anak orang kaya.

Membaca kasus perjokian yang canggih tersebut, saya hanya bisa mengurut dada. Kok ada ya orang yang mau melakukan tindakan yang gegabah dan beresiko. Gegabah karena mau-maunya orang dipasang chip di gendang telinga, apa tidak khawatir gendang telinganya rusak. Saya yakin, yang memasang chip di gendang telinga tersebut bukan sembarang orang, tetapi orang yang ahli, minimal seorang dokter THT.

Tindakan ini bersiko, sebab jika ketahuan maka pelakunya pasti ditangkap karena termasuk perbuatan kriminal. Jika pelakunya adalah mahasiswea ITB, maka hukuman DO sudah menanti sebab ini perbuatan yang mencoreng integritas institusi, selain tentu saja hukuman pidana di pengadilan (baca: Menjadi Joki = Menceburkan Diri ke Lubang DO).

Namun yang membuat saya lebih mengurut dada adalah perbuatan curang calon dokter yang mengikuti ujian ini. Profesi dokter adalah profesi yang menyangkut nyawa manusia. Apa jadinya jika dokter bukanlah orang yang tidak kompeten, yaitu orang yang secara akademis sebenarnya tidak sanggup. Mereka tidak layak menjadi dokter karena lulus masuk kedokteran (jika tidak ketahuan) bukan dari kemampuan otak sendiri, tetapi dari kemampuan otak orang lain (joki). Jangan-jangan kasus malpraktek yang sering terjadi di negeri ini berasal dari dokter-dokter yang tidak kompeten tersebut.

Tidak hanya itu, calon dokter yang telah mengorbankan uang yang tidak sedikit untuk masuk kedokteran (menggunakan joki) mungkin nanti setelah menjadi dokter akan berpikir bahwa dia sudah berkorban banyak mengeluarkan biaya, maka jangan harap ada rasa empatinya terhadap orang miskin yang tidak mampu membayar dokter. Dia mungkin berpikir harus “balik modal” dengan menetapkan tarif dokter yang mahal.

Tiada maaf buat joki, tiada maaf bagi calon mahasiswa yang memakai joki.

Dipublikasi di Indonesiaku, Pendidikan | 4 Komentar

Sedekah dengan Ikhlas Hati (Bersedekah Tidak Akan Membuatmu Miskin)

Ketika anda didatangi pengemis, anda merogoh kantong dan mencari uang kecil. Jika tidak ada uang kecil di kantong, anda memeriksa dompet. Ada uang lima ribuan, uang sepuluh ribuan, dan uang dua puluh ribuan di dalam dompet tersebut. Anda mungkin berpikir terlalu sayang memberi pengemis tersebut uang lima ribu atau sepuluh ribu. Seribu saja sudah cukup.

Anda berpikir keras untuk memberinya atau tidak. Jika anda sayang pada uang anda, maka anda mengibaskan tangan ke pengemis sebagai tanda maaf. Namun jika anda ikhlas, anda merelakan uang lima ribu (atau sepuluh ribu) tersebut untuk si pengemis. Si pengemis tentu sangat bergirang hati karena mendapat uang sedekah yang besar dari anda, dan anda pun tidak menyesali karena anda suda mengikhlaskan uang tersebut.

Bagaimana ketika anda sholat Jumat di masjid, lalu didepan anda diedarkan kotak amal untuk diisi sedekah/infaq seikhlasnya. Beberapa orang tampak tidak mengisi kotak tersebut, mereka mendorongnya ke jamaah sebelahnya. Hmmm…berbaik sangka sajalah, mungkin mereka memang tidak membawa uang sama sekali, atau mungkin karena tidak mempunyai uang kecil, atau mungkin juga karena enggan mengeluarkan infaq.

Semua sikap di atas manusiawi. Banyak orang yang merasa sayang untuk mengeluarkan sedekah kepada fakir miskin, anak yatim, badan amal, dan sebagainya. Di dalam Quran sifat orang demikian disebutkan sebagai “tangan terbelenggu”. Ketika ada yang meminta sedekah, hati mereka mengikat tangan untuk tidak memberi.

Ketahuilah, bersedekah tidak akan membuat kita jatuh miskin. Allah sudah menjanjikan untuk mengganti sedekah kita sepuluh kali lipat. Mungkin digantinya tidak sekarang, mungkin nanti suatu hari. Mungkin tidak diganti dalam bentuk uang, tetapi mungkin dalam bentuk yang lain. Jika tidak di dunia memperolehnya, mungkin nanti balasannya di akhirat. Dasarnya ada pada Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 160 dimana Allah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang beramal sholeh (bersedekah adalah salah satu amal sholeh):

Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). QS. Al-An’am : 160

Kuncinya adalah melakukan sedekah itu dengan hati yang ikhlas, terserah berapapun besarnya. Semua amal sholeh pada dasarnya memerlukan niat ikhlas. Jika tidak ikhlas, maka amalan itu hanya menjadi sia-sia, seperti cerita lucu d bawah ini (saya peroleh dari jejaring sosial):

Seorang anak muda duduk di masjid menunggu khutbah Jumat. Dia melihat dengan tidak begitu ramah kepada kotak amal yang didorong ke arahnya.

Dia membuka dompetnya & memilih-milih uang yg terkecil untuk amal. Dengan berat hati dia memasukkan selembar uang Rp. 1.000,-an ke kotak amal.

Sebelum dia mendorong kotak itu ke sebelah, seorang bapak tua di belakang menepuk pundaknya & memberikan dua lembar uang Rp. 100.000.-an.

Sang anak muda tertegun heran, tapi segera memasukkan dua lembar uang tersebut ke kotak amal. Lalu mendorong kotak amal ke jamaah berikutnya.

Dia menoleh ke bapak tua tersebut..
“Kebanyakan atuh Pak? Seribu aja udah cukup, kan sayang?”

Sang bapak tua hanya tersenyum & menggeleng ramah..
“Bukan gitu dik, itu tadi uang adik yang jatuh dari dompet, mau saya balikin ke adik.”

Tentu kita tidak ingin rugi dua kali. Rugi karena telah “kehilangan” uang yang besar, dan rugi tidak mendapat pahala karena bersedekah tanpa kekihlasan hati.

Dipublikasi di Agama, Makanan enak, Renunganku | 6 Komentar