Untung sudah “web check-in”

Hari Jumat yang lalu saya pulang kampung ke Padang. Seperti biasa saya selalu pulang kampung menjelang bulan puasa Ramadhan untuk berziarah ke makam orangtua, karena ketika lebaran saya tidak mudik lagi. Kedua orangtua saya sudah lama tiada, jadi hanya tinggal pusaranya saja yang selalu ditengok-tengok setiap kali saya pulang. Saya pulang membawa anak yang baru saja selesai mengikuti UN SMP. Tiket pesawat pulang-pergi sudah saya beli jauh-jauh hari.

Pesawat saya berangkat dari Bandara  Soekarno-Hatta, Cengkareng. Sehari sebelum berangkat saya sudah melakukan check-in di website Garuda Indonesia (saya pilih naik Garuda untuk pulang dan kembali dengan Batik Air). Firasat saya mengatakan untuk chek-in sehari sebelumnya, khawatir telat ke bandara, karena perjalanan dari Bandung ke Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng tidak bisa diprediksi kemacetan lalu lintasnya. Boarding pass sudah cetak dan saya simpan baik-baik di dalam tas. Untuk jaga-jaga, boarding pass juga saya kirim ke akun surel saya di Gmail.

Seperti kebiasaan saya kalau bepergian, saya selalu backpacker-an. Hanya bawa tas ransel untuk pakaian dan lain-lain. Oleh-oleh saya taruh ke dalam kardus kecil  dan tas kantung plastik yang bisa dibawa ke atas kabin. Saya kurang suka memasukkan barang ke bagasi pesawat, karena perlu waktu setengah jam untuk mengambil barang tersebut setiba di bandara.

Berangkatlah saya dan anak ke Bandara Soetta dari Bandung pukul 9.00 pagi. Kami naik bis Primajasa dari Batununggal. Mungkin ini kesalahan saya juga, saya memilih keberangkatan jam 9.00, agak terlalu mepet dengan keberangkatan pesawat jam 14.00 dari Soetta. Seharusnya saya memilih berangkat pukul 8.00. Di boarding pass tertulis waktu boarding jam 13.40. Perkiraan saya jam 13 selambatnya sudah sampai di bandara, karena pengalaman saya selama ini waktu tempuh Bandung- Bandara Soetta berkisar paling lama 4 jam, jadi saya masih punya waktu satu jam kurang sebelum boarding.

Ternyata perkiraan saya salah. Memasuki Tol Cikampek arah ke Cikarang, perjalanan mulai tersendat. Bis bergerak pelan, sebentar maju sebentar berhenti. Saya masih agak santai saja waktu itu, ah nanti juga hilang macetnya, pikir saya. Ternyata tidak, macetnya lama sekali. Hari sudah menunjukkan pukul 11 lebih. Wah, saya sudah mulai khawatir. Tetapi karena saya sudah chek-in, saya tenang lagi. Kemacetan itu akibat banyaknya truk-truk bermuatan sembako lewat. Menjelang bulan puasa truk-truk sembako ini memadati jalan tol. Ternyata sebagian besar truk-truk itu rutenya mau masuk gerbang tol Cikunir. Tetapi karena banyak sekali mobil dan truk yang ke arah Cikunir, maka bis dan mobil lain di belakangnya yang hendak lurus ke gerbang tol Cikarang ikut kena macet.

Jam 12 lebih barulah bis kami berhasil melewati kemacetan parah itu. Memasuki gerbang tol Halim perjalanan mulai lancar jaya. Saya sudah mulai bernapas lega. Tetapi kelegaan saya hanya sebentar. Memasuki jalan tol Sedyatmo (jalan tol Bandara), ternyata terjebak macet lagi. Ada sebuah truk mogok di jalan, ke arah Muara Angke. Kendaraan di belakangnya terkena dampaknya. Hari sudah menunjukkan pukul 13.00. Saya sudah sangat khawatir dan merasa akan ketinggalan pesawat. Saya sudah mulai berpikir mau beli tiket penerbangan berikutnya lewat HP, cari tiket di Traveloka. Alamaaak, penerbangan hari itu sudah sold out semua, tidak satu pun tiket yang tersisa untuk semua maskapai (Lion, Garuda, Citilink, Sriwijaya). Tapi saya tidak kehilangan harapan, saya kontak mbak di agen travel langganan saya di Bandung via whatssapp, minta tolong dicarikan tiket baru. Jawabannya sama, habis semua. Namun tiket buat keesokan hari masih banyak. Saya sudah berpikir akan menginap di Bandara saja dan terbang besok harinya.

Jam 13.20 kemacetan di Tol Sedyatmo terurai. Bis melaju kencang ke arah Bandara. Namun saya sudah hilang harapan, sudah tidak mungkin lagi kekejar pesawat. Waktu tempuh dari gerbang tol Sedyatmo ke gerbang tol Cengkareng saja memakan waktu setidaknya setengah jam, itu belum termasuk waktu untuk menurunkan penumpang di Terminal 1A, 1B, 1C, dan 2D (saya di Terminal 2F, Garuda). Saya berdoa di dalam hati, semoga pesawat saya delay sehingga masih bisa kekejar. Hari sudah menunjukkan pukul 13.50 ketika memasuki Terminal 1A. Satu per satu penumpang turun di terminalnya masing-masing. Di areal bandara sangat padat kendaraan yang akan keluar, berjalan pelan. Saya sudah tidak berharap lagi akan bisa boarding.

Jam 14.02 akhirnya bis sampai di Terminal 2F. Sambil berlari membawa tas dan barang bawaan saya dan anak langsung masuk ke dalam. Ternyata tidak mudah juga, antrian masuk ke dalam lumayan banyak. Seorang perempuan yang baik hati di depan saya mempersilakan saya memotong antriannya. Kami berhasil masuk ke dalam, dan setelah melewati pemeriksaan X-Ray pertama kami tancap gas terengah-engah lari ke ruang tunggu. Di layar monitor terlihat status penerbangan saya masih boarding dan panggilan terakhir naik ke pesawat. Wah, harapan itu pun hidup lagi. Seorang petugas yang melihat kami lari tergopoh-gopoh menanyakan saya hendak ke mana, setelah saya jawab mau ke Padang, dia mengontak petugas di pintu gate F4 bahwa masih ada dua penumpang lagi. Akhirnya kami berhasil masuk Gate 4. Kami adalah penumpang terakhir yang naik ke dalam bis yang akan membawa ke pesawat yang parkir di remote area. Telat satu menit saja saya tiba maka bis terakhir sudah berangkat dan saya harus menginap di  bandara untuk esok harinya.

Alhamdulillah, Allah masih baik kepada saya. Kami berhasil masuk ke dalam pesawat sebagai penumpang terakhir. Untung saja kami sudah web chek-in sebelumnya dan sudah mencetak boarding pass serta tidak ada barang untuk dimasukkan ke dalam bagasi. Andai tidak web check-in mungkin ceritanya akan lain: ditolak. Petugas di gate F4 tidak mempermasalahkan boarding pass saya yang seukuran kertas A4 itu (bukan boarding pass Garuda yang berupa kartu seukuran 30 x 10 cm itu).

Di atas bus yang membawa kami ke dalam pesawat saya memberitahu mbak travel langganan saya, mengabarkan bahwa  saya tidak perlu beli tiket lagi. Dia juga mengucap syukur saya berhasil tidak ketinggalan pesawat. Dia menulis begini “Niat baik pasti dipermudah oleh Allah SWT, Pak”. Ya, niat saya pulang kampung adalah untuk ziarah kubur, menengok makam orangtua dan mendoakan mereka. Allah memudahkan jalan saya. Terima kasih ya Allah.

Dipublikasi di Pengalamanku | 1 Komentar

Kritik itu ternyata (tidak) perlu

Pada dasarnya setiap orang tidak suka dikritik. Meskipun sering dikatakan “silakan kritik saya, tidak apa-apa, tidak masalah bagi saya”, seolah-olah diucapkan dengan ikhlas, namun sebenarnya di dalam hatinya tidak mengharapkan untuk dikritik. Kritikan bagi seseorang adalah bentuk sebuah pamaparan kelemahannya, padahal manusia tidak suka kelemahannya ditunjukkan, apalagi di depan umum.

Pemimpin pun tidak selalu suka dikritik. Pada zaman Orde Baru, mengkritik Presiden artinya anda harus berhadapan dengan aparat, dan anda harus siap-siap masuk bui. Pada zaman reformasi sekarang, tidak semua pemimpin suka dikritik, ada yang siap menerima kritikan, ada  yang alergi dengan kritikan, dan ada pula yang bertahan (defensif) dengan melakukan pembelaan maupun serangan balik. Memang tidak ada orang yang masuk bui karena mengkritik pemimpin saat ini, kecuali kritikan yang menyerang pribadi atau mencemarkan nama baik (ini sudah banyak kasusnya).

Saya menerima kiriman dari grup WA di bawah ini, apakah anda setuju dengan yang disampaikan oleh penulisnya? Saya perbaiki sedikit ejaanya agar enak dibaca.

Seseorang bertutur tentang pengalaman hidupnya:

Saya dulu sering mengkritik orang lain, dengan asumsi menurut saya, saya sendiri sudah merasa benar dan orang yang saya kritik salah.

Mengapa dulu saya sering mengkritik orang lain? Karena saya percaya dan banyak orang percaya bahwa kritik itu membangun.

Itulah mengapa sering kita mendengar orang berkata tidak apa asalkan “kritik membangun”.

Setelah usia semakin bertambah, dan saya mulai tertarik untuk belajar tentang buku-buku kebijaksanaan, saya terbelalak bahwa sebagian besar buku-buku Wisdom mengatakan bahwa sesungguhnya TIDAK ADA kritik yang MEMBANGUN, semua kritik itu bersifat menghancurkan, merusak dan menekan perasaan orang yang dikritiknya.

Sampai suatu ketika saya membaca buku hasil eksperimen Masaru Emoto dari Jepang, yang melakukan uji coba nasi yang kemudian diletakkan di dalam toples yang berbeda.

Toples yang pertama setiap hari diberikan kritikan terus dan ditempel kertas bertulisan kata yang mengkritik, kemudian toples yang kedua diberi pujian dan motivasi setiap hari.

Dan hasilnya dalam 2-3 minggu, toples pertama yang diberikan kritikan setiap hari membusuk kehitaman sedangkan toples kedua dengan isi yang sama masih berwarna putih bersih tak membusuk.

Penasaran pada penjelasan di buku ini, akhirnya saya meminta para guru di sekolah kami utuk melakukan eksperimen ini bersama para murid di sekolah. Ternyata benar hasilnya lebih kurang serupa.

Toples yang setiap hari diberikan keritikan oleh murid-murid, lebih cepat rusak, hitam dan membusuk. Dan di sekolah kami mengajarkan para siswa melalui eksperimen ini agar tidak mengejek, menhujat atau mengkritik sesama teman, dan melatih mereka untuk bicara baik-baik yang tidak mengkritik.

Dan sejak itulah saya belajar untuk tidak mekritik orang lain, terutama anak dan istri saya.

Dan percaya atau tidak hasilnya di luar dugaan, Istri saya jadi jauh lebih perhatian dan wajahnya lebih berbinar dan anak-anak saya jauh lebih baik, ganteng, kooperatif dan sayang pada ayahnya.

Apa yang saya ubah dari diri saya sehingga anak dan istri saya berubah?

Saya ganti kalimat saya yang mengkritik istri dan anak saya dengan ucapan terimakasih padanya setiap kali mereka berbuat kebaikan.

Saya berterimakasih pada istri dan anak saya dan memujinya dan sering kali sambil memeluknya, saat mereka berhasil berhenti dari kebiasaan yang kurang baik.

Yuk mari kita renungkan, malah kalau perlu kita coba melakukan experiment yang sama bersama anak-anak dirumah atau murid-murid kita di sekolah.

So….. masihkah kita percaya bahwa KRITIK ITU MEMBANGUN ?

Masihkah kita percaya ada KRITIK YANG MEMBANGUN?

Masihkah kita mau mengkritik orang lain, terutama suami, istri dan anak-anak kita..?

Tentu saja pilihan itu terserah pada diri kita masing-masing karena hidup ini adalah pilihan bebas berikut konsekuensinya masing-masing.

Tapi coba rasakan dan ingat-ingat lagi apakah dengan sering mengkritik orang lain akan membuat orang yang kita kritik menjadi lebih baik, atau malah sebaliknya balik mengkritik kita…?

Dan coba lihat apa yang ada rasakan di hati kita pada saat kita sedang dikritik oleh orang lain? Nah perasaan yang sama itulah yang juga akan dirasakan oleh orang lain yang kita kritik.

~~~~~~~~~~

Jadi bagaimana? Apakah kritikan itu perlu atau tidak? Mungkin yang lebih tepat istilahnya bukan mengkritik, tetapi mengkritisi. Keduanya memiliki makna berbeda. Mengkritisi artinya menilai secara obyektif baik kelebihan maupun kelemahan, sedangkan mengkritik cenderung menilai secara subyektif dan impulsif.  Mengkritik kurang tepat, mengkritisi lebih elegan.

Jika anda mengkritisi (atau dalam lain kesempatan mengkritik) seseorang, maka jalan tengah yang lebih moderat adalah menyeimbangkan antara mengkritisi dan memuji. Jika ada kelemahan maka kritisilah, tetapi jika tampak kelebihan maka tidak usah segan untuk memuji. Setuju?

Dipublikasi di Gado-gado | 3 Komentar

Doktor Honoris Causa Bu Megawati Tidak Sesuai Permendikbud No. 21 Tahun 2013?

Kemarin mantan Presiden Indonesia, Megawati Sukarnoputeri, dianugerahi gelar Doktor kehormatan atau Doktor Honoris causa (Dr. Hc) dalam bidang Ilmu Politik dan Pemerintahan oleh Universitas Padjadjaran Bandung (baca:Unpad Resmi Anugerahkan Gelar Doktor Honoris Causa kepada Megawati).

Tokoh-tokoh politik diberi gelar Dr. Hc bukan hal yang baru. Sudah banyak perguruan tinggi menganugerahi gelar Dr. Hc kepada orang-orang yang dianggap memberikan kontribusi keilmuan di dalam masyarakat dan negara meskipun yang bersangkutan tidak menempuh pendidikan S3 di universitas tersebut. Tahun lalu ITB pun memberi gelar Dr. Hc kepada mantan presiden SBY setelah sempat tertunda beberapa tahun karena momennya tidak tepat (waktu itu masih menjadi Presiden RI). Tiap Perguruan Tinggi tentu mempunyai alasan dan pertimbangan sendiri dalam menganugerahi gelar Dr. Hc itu. Alasan Unpad memberikan gelar Dr. Hc kepaad Bu mega dapat dibaca di sini: Ini Alasan Unpad Berikan Doktor Honoris Causa Kepada Megawati Soekarnoputri.

Pemberian gelar Dr. Hc kepada tokoh-tokoh politik sudah sering menimbulkan pro dan kontra, baik dari pihak luar, pihak dalam kampus, maupun dari alumni perguruan tinggi tersebut. Ketika ITB memberi gelar Dr. Hc kepada Pak SBY juga sempat menimbulkan penolakan dari dalam dan luar kampus. Nah, untuk kasus Bu Mega ini, baru saja beliau diberi gelar Dr. Hc  ternyata hari itu sudah muncul penolakan dari  alumni Unpad sendiri, bahkan sampai membuat petisi daring segala (Baca: Petisi Online Tolak Gelar Doktor Honoris Causa Megawati dari Unpad dan Alumni Unpad Galang Petisi Tolak Pemberian Doktor Honoris Causa untuk Megawati).

Saya tidak hendak mengomentari penolakan alumni Unpad itu dan tidak ingin masuk sampai wilayah politik praktis. Saya hanya ingin menyoroti secara aturan legal formal bahwa pemberian gelar Dr. Hc kepada Bu Mega tidak memenuhi Permendikbud  No. 21 Tahun 2013. Di dalam Permindikbud itu diatur syarat dan tata cara pemberian gelar Doktor Kehormatan. Diinyatakan di dalam peraturan tersebut bahwa untuk memperoleh gelar Dr. Hc maka calon penerima  harus sudah memiliki gelar minimal sarja (S1) atau setara level 6 dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), seperti dikutip dari sini:

Perguruan tinggi dapat memberikan gelar Doktor Kehormatan tersebut kepada warga negara Indonesia maupun asing[3], yang:[4]

  1. luar biasa di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial, budaya, kemanusiaan dan/atau bidang kemasyarakatan;
  2. sangat berarti bagi pengembangan pendidikan dan pengajaran dalam satu atau sekelompok bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial budaya, kemanusiaan, dan/atau kemasyarakatan;
  3. sangat bermanfaat bagi kemajuan, kemakmuran, dan/atau kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia atau umat manusia; atau
  4. luar biasa mengembangkan hubungan baik bangsa dan negara Indonesia dengan bangsa dan negara lain di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial budaya, kemanusiaan, dan/atau kemasyarakatan.

 Selain syarat di atas, calon penerima gelar Doktor Kehormatan juga harus:[5]

  1. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
  2. memiliki gelar akademik paling rendah sarjana (S1) atau setara dengan level 6 (enam) dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)[6];
  3. memiliki moral, etika, dan kepribadian yang baik; dan
  4. berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air serta mendukung perdamaian dunia.

Nah, jika mengacu pada aturan Permendikbud tersebut maka syarat bergelar Sarjana tidak dipenuhi oleh Bu Megawati. Seperti kita ketahui Bu Megawati sendiri memang alumni Unpad (Fakultas Pertanian), tetapi tidak sampai tamat karena peristiwa politik pada tahun 1965 (Baca: Peristiwa Gestapu Buat Megawati tak Selesaikan Kuliah di Unpad dan Megawati: Di Unpad Mental Saya Ditempa). Dengan kata lain Bu Megawati tidak memiliki gelar sarjana S1.

Namun aturan Permendikbud memuat opsi lain meskipun tidak bergelar sarjana, yaitu “atau setara level 6 dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)”. Di dalam Permendikbud No 21 di atas dijelaskan “Berdasarkan Pasal 5 huruf f Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, yang setara dengan jenjang 6 adalah lulusan Diploma 4 atau Sarjana Terapan dan Sarjana.”. Jadi, yang disebut setara level 6 adalah lulusan Diploma IV atau Sarjana Terapan (Baca juga: Kurikulum Nasional Berbasis Kompetensi Mengacu pada KKNI).

Nah, lagi-lagi Bu Mega tidak memenuhi acuan KKNI level 6 tersebut karena Bu Mega bukan lulusan Diploma IV atau Sarjana Terapan. Jika dilihat dari masa tahun kuliah Bu Mega yang hanya selama dua sampai tiga tahun (1965-1967), maka hal itu baru setara dengan D3 (level 4 atau 5 KKNI).

 

Kesimpulannya, berdasarkan Permendikbud No. 21 Tahun 2013, pemberian gelar Dr. Hc. kepada Megawati Sukarnoputeri tidak sesuai peraturan. Namun, saya tidak tahu apa alasan dan pertimbangan Unpad tetap memberikan gelar Dr. Hc kepada Megawati meskipun beliau bukan sarjana S1 atau setara level 6 KKNI. Moral dari kisah ini adalah peraturan Permendikbud tidak boleh dilanggar. Aturan ini memberikan rambu-rambu kepada Perguruan Tinggi agar mengikuti segalar peraturan dan perundangan yang ada sebelum memberi gelar Dr. Hc.

Dipublikasi di Pendidikan | 2 Komentar

70% vs 30%

Ini masih saya copas dari grup WA, super sekali analisisnya. Saya simpan pada posting ini untuk dibagikan (terima kasih buat penulisnya, izin share di sini).

Riset Ilmiah membuktikan:
1. Smartphone, 70% fiturnya tidak terpakai
2. Mobil mewah, 70% speednya mubazir
3. Villa mewah, 70% luasnya dibiarkan kosong
4. Universitas, 70% materi kuliahnya tak dapat diterapkan
5. Seabreg kegiatan sosial masyarakat, 70%-nya iseng² tak bermakna
6. Pakaian & peralatan dalam suatu rumah, 70%-nya nganggur tak terpakai
7. Seumur hidup cari uang/harta, 70%-nya dinikmati ahli waris.

“Hidup seperti pertandingan bola”

Di babak pertama (masa muda) menanjak karena pengetahuan, kekuasaan, jabatan, usaha Bisnis, gaji dsb.

Namun di babak kedua (masa tua) menurun karena darah tinggi, trigliserida, gula darah, asam urat, kolestrol dsb.

Waspadalah dari awal hingga akhir, kita harus menang 2 babak !!!

– Tidak sakit, juga harus Medical Check Up.
– Tidak haus, tetap harus minum.
– Meski benar, juga harus mengalah
– Meski Powerfull, juga perlu merendah
– Tidak Lelah pun, perlu Istirahat
– Tidak Kaya pun, wajib bersyukur
– Sesibuk apapun, tetap perlu olahraga

Sadarlah, hidup itu pendek, pasti ada saatnya Finish

Jangan tertipu dg usia MUDA
Karena syarat mati tak harus TUA

Jangan terpedaya dg badan SEHAT
Karena syarat mati tak harus SAKIT

Teruslah berbuat baik, berkata baik, memberi nasihat yg baik

Walaupun tak banyak orang yg memahamimu,

Jadilah seperti JANTUNG, yg tak terlihat tetapi terus berdenyut setiapv saat hingga membuat kita terus hidup menjelang akhir hayat

Ajal tak  mengenal waktu & usia,

Jadi teruslah berbuat baik, mengucap syukur atas apa yang sudah ada & menyampaikan kebenaran terhadap sesama.

Dipublikasi di Gado-gado | 1 Komentar

Indahnya Matematika

Kiriman seorang teman dari grup WA. Saya simpan pada posting ini untuk dibagikan (terima kasih buat penulisnya, saya baru ngeh!):

Angka 1 sampai 9 dengan huruf Bahasa Indonesia (satu s/d sembilan) mengandung decak kagum. Jika kita menjumlahkan dua angka yg huruf awalnya sama, maka hasilnya selalu 10. Lihatah perhitungan di bawah ini:

Angka Berawalan S —> Satu + Sembilan = 10

Angka yg hurufnya Berawalan D —>  Dua + Delapan = 10

Berawalan T —> Tiga + Tujuh = 10

Berawalan E —> Empat + Enam = 10

Bahkan —> Lima + Lima = 10

Kok bisa begitu ya….
Hari ini adalah Hari Matematika Nasional (tanggal 14 Mei)

Lihatlah yang menakjubkan dalam Matematika berikut ini !

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

Brilliant sekali ya? Dan lihat simetrinya yang berikut ini :

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321

Dipublikasi di Gado-gado | 1 Komentar

Bakmi Jowo Gunung Kidul van Bandung

Sore hari sepulang dari kantor saya melewati jalan Dipati Ukur. Cuaca yang dingin karena mendung dan perut yang sedang lapar membuat saya berhenti dulu di sebuah kedai bakmi jowo di pertigaan Jalan Dipati Ukur – Jalan Multatuli, seberang kampus ITHB. Bakmi Jowo DU namanya, singkatan Dipati Ukur. Saya sering melintasi jalan itu, sering melihat beberapa orang koki memasak bakmi menggunakan anglo (tungku dengan bahan bakar berupa arang kayu). Dapurnya persis di pinggir jalan, jadi siapapun yang lewat pasti melihat para koki itu memasak. Bau harum bakmi menyebar ke hidung, membuat siapapun yang lewat untuk singgah makan di sana.

bakmijowo1

Juru masak bakmi jowo yang selalu menggunakan batik

Kata orang-orang yang pernah mencoba bakmi di sana rasanya enak. Jadi, singgahlah saya di kedai Bakmi Jowo DU untuk makan bakmi godhog panas-panas sepiring. Bakmi godhog adalah nama lain untuk mie kuah. Selain bakmi godhog, ada bakmi goreng yang rasanya agak manis dan bakmi nyemek, yaitu bakmie goreng namun agak basah karena diberi kuah sedikit.

bakmijowo2

Bakmi nyemek

bakmijowo3

bakmi godhog

Setelah menunggu sekitar 10 menit, maka pesanan bakmi godhog saya pun terhidang di atas meja. Isinya mie (jelas dong), sayur, ayam suwir, telur, dan bahan yang agak kenyal-kenyal gitu. Silakan tambah dengan acar ketimun, sambal cabe rawit, dan saos tomat sesuai selera.

bakmijowo4

Sepiring mie godhog

Dari tampilannya saja sudah menggugah selera. Rasanya? Lumayanlah, agak kurang asin gitu. Mungkin anda perlu menambahkan garam sendiri yang tersedia di atas meja. Sepiring mie godhog itu harganya Rp25.000. Agak sedikit mahal ya, bagi mahasiwa kos mungkin berat makan di situ, secara seputar Jalan Dipati Ukur adalah kawasan mahasiswa.

Menurut asal-usul, bakmi jowo pada mulanya berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta, sehingga diberi nama mie jowo. Orang Jawa dan orang Indonesia pada dasarnya suka makan mie. Mie jika diolah dengan bumbu lokal akan menghasilkan cita rasa yang khas. Di Aceh ada mie aceh yang kuahnya serasa bumbu kari, maka di Gunung Kidul ada mie jowo yang bumbunya sesuai dengan selera orang Jawa.

Di Bandung banyak cabang bakmi jowo. Bakmi Jowo DU ini termasuk favorit penikmat kuliner di kawasan Bandung Utara. Selain Bakmi DU, bakmi jowo di Jalan Taman Pramuka (dekat Jalan R.E Martadinata) juga terkenal enak, tapi yang ini saya belum coba. Kapan-kapan deh makan bakmi jowo di sana.

Dipublikasi di Makanan enak, Seputar Bandung | 2 Komentar

Iklan TV Penanda Bulan Puasa

Untuk mengetahui apakah bulan puasa Ramadhan sudah dekat kita tidak perlu lihat-lihat tanggal. Lihat saja di televisi, apakah sudah muncul dua iklan berikut: iklan sarung Atlas dan iklan sirup Marjan. Sejak dua minggu lalu iklan sarung Atlas dan iklan sirup Marjan sudah wara-wiri di televisi. Kedua iklan ini merupakan penanda bahwa bulan puasa akan segera tiba. Setiap kali jingle iklan ini muncul di TV maka segera terbayang suasana Ramadhan di Indonesia.

Sarung dan sirup adalah dua buah barang yang banyak beredar pada bulan puasa. Orang muslim Indonesia sudah terbiasa menggunakan kain sarung untuk sholat. Sarung sudah menjadi budaya khas orang Melayu. Kaum santri dan nahdliyin menjadikan sarung sebagai ikon sehingga mereka sering disebut kaum sarungan. Sebenarnya budaya sarung tidak hanya ada di tanah Melayu (Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand Selatan), warga Myanmar pun menjadikan sarung sebagai busana resmi sehari-hari. Mereka menyebutnya longyi. Meskipun sarung bukan simbol agama atau busana muslim (orang Arab sendiri tidak mengenal sarung), namun karena kegunaannya lebih banyak untuk sholat, maka sarung (dan juga peci) sudah terlanjur identik dengan alat perlengkapan sholat.

Maka, menjelang bulan puasa, produsen sarung jor-joran mengiklankan produknya di televisi. Dari sekian banyak merek sarung, maka sarung merek Atlas yang dibintangi Deddy Mizwar itu yang melekat dalam benak orang. Iklan sarung Atlas hanya muncul menjelang puasa, selama bulan puasa, dan hari-hari sesudah lebaran. Pada hari-hari biasa ia tidak pernah tampil di televisi.

Selain sarung, maka sirup menjadi produk yang paling laris selama bulan puasa, terutama pada Hari Raya Lebaran. Orang Indonesia senang berbuka dengan yang manis-manis. Minum sirup manis pada waktu berbuka atau pada hari raya menjadi hal yang umum Menjelang lebaran botol-botol sirup berjejer demikian banyaknya di supermarket dan pasar swalayan. Ia merupakan produk yang dicari untuk bingkisan dan parsel.

Dari sekian banyak produk sirup, maka sirup Marjan sudah punya nama tersendiri. Dari namanya yang terkesan kearab-arab, varian rasanya yang macam-macam, dan terutama iklannya di TV yang selalu muncul menjelang bulan puasa. Maka, jika iklan sirup Marjan sudah tayang di TV, itu artinya bulan puasa sebentar lagi tiba. Setelah lebaran iklan ini akan menghilang dan akan muncul lagi pada tahun depan.

Jadi, tidak  sulit mengetahui datangnya tanda-tanda bulan puasa. Lihat saja apakah iklan kedua produk itu sudah muncul di TV. Sederhana sekali.:-)

Marhaban ya Ramadhan yang akan tiba sebentar lagi.

Dipublikasi di Gado-gado | 3 Komentar