Kisah Hikmah: Orang Kaya adalah Orang yang Mau Berbagi (kisah seorang sahabat)

Saya membaca catatan seorang fesbuker di dalam akunnya seperti yang saya kutip di bawah ini (setelah diperbaiki sedikit tata bahasa dan EYD). Kisah yang dituliskannya sangat menggugah dan mencerahkan batin. Saya jadi teringat kisah seorang dermawan yang menyumbangkan uang ongkos naik hajinya untuk membantu orang yang dhuafa. Sampai akhir hayatnya dia tidak jadi berhaji karena uangnya sudah habis untuk membantu orang tersebut. Meskipun dia tidak jadi pergi ke tanah suci, namun Insya Allah Tuhan menggantinya di akhirat nanti.

Tiba-tiba saja saya jadi teringat almarhum ayahanda saya….

Saya mudah tersentuh dengan kisah-kisah seperti ini. Dalam hati saya berjanji mewariskan sifat yang mulia ini kepada anak-anak saya. Harta yang kita miliki baru berarti jika bermanfaat bagi orang lain. Kebahagiaan itu bukan dari memiliki tetapi dari memberi.

~~~~~~~~~~~~~~~

Orang Kaya adalah Orang yang Mau Berbagi (Kisah dari seorang sahabat)

Oleh: Murthada Kurniawan

Ini adalah kisah SAHABAT saya tentang ayahnya:
Dulu saya pernah tidak setuju dengan ayah saya yang menolong orang tanpa menyelidiki terlebih dahulu. Entah knapa ayah saya begitu mudahnya percaya pada orang-orang yang meminta tolong kepadanya, baik itu tenaga maupun materi, selama ayah saya ada atau mampu, dia pasti akan berikan pada setiap orang tanpa pandang bulu. Sampai-sampai tabungan yang sebenarnya dia tujukan untuk pergi hajipun habis dia berikan kepada orang-orang yang meminta bantuan materi kepadanya. Pernah saya bertanya pada beliau, “Ayah kan belum pernah naik haji, mengapa ayah korbankan tabungan haji ayah untuk orang-orang yang ayah tidak tahu apakah mereka benar-benar membutuhkannya atau cuma menipu. Beliau menjawab “Nak, selama kita menganggap orang lain itu baik, maka pertolongan yang kita berikanpun akan dianggap baik oleh Allah. Masalah ibadah haji, Insya Allah, Allah akan menggantinya nanti buat ayah. Seandainya tidakpun, sebenarnya rasa yang ayah rasakan saat kita mampu menolong orang yang membutuhkan itu saja sudah sangat cukup membahagiakan ayah, membuat ayah sangat bersukur kepada Allah”.

Saat itu saya masih memprotesnya, “Tapi ibadah haji itu kan wajib bagi yang mampu, sedangkan ayah bukan tidak mampu, tapi ayah tidak mau mampu. Seandainya ayah sungguh-sungguh mengumpulkan uang ayah tanpa harus mengganggu gugatnya lagi meski ada yang butuh bantuan, bilang saja nggak ada uang, kalau uang yang ada hanya uang tabungan haji. Kalau ayah memanajemennya dengan baik, dan membagi-bagi harta yang ayah miliki pada pos-post yang sudah ayah tentukan sebelumnya, tentu ayah tidak harus sampai mengorbankan tabungan haji ayah” kataku setengah berteriak. Dengan sabar ayahku menjawab “Ayah doakan suatu saat kamu akan mengerti bahwa ibadah itu tidak harus dipaksakan dengan mengorbankan hak-hak orang lain. Yang paling utama, ayah tidak mengorbankan hak-hak ibumu dan anak-anak ayah untuk hidup cukup dan mendapat pendidikan sampai kamu dapat berdiri sendiri”.

Setelah ayah meninggal, sempat terselip penyesalan mengapa ayah tidak mendengar kata-kataku, dan yang terjadi sekarang yang ayah wariskan cuma rumah kecil dan beberapa barang sederhana, sedangkan adikkku ada yang masih kecil.

Hal pertama yang menghiburku adalah banyaknya pelayat yang mengiringi ayah ke kuburan. Orang-orang di jalan yang melihat iring-iringan pelayat menyangka yang dimakamkan adalah pejabat. Tak perlu menunggu lama, banyak orang-orang berdatangan dan dulu mengaku pernah dibantu oleh ayah, karena mereka sekarang sudah sukses, merekapun memberi bantuan kepada keluarga kami. Bahkan ada yang menawarkan pekerjaan kepada anak-anak ayah yang ingin bekerja. Kami menolaknya dengan baik-baik. Uang bantuan yang tidak seberapa itu kami jadikan modal awal suatu usaha kecil-kecilan. Ternyata usaha kami berkembang sangat cepatnya karena lebih banyak lagi orang2 yang merasa pernah ditolong ayah, membantu usaha kami. Dan setiap saya atau adik-adik saya melakukan suatu urusan atau bepergian keluar kotapun, hampir bisa dipastikan kami bertemu meskipun tidak secara sengaja dengan orang-orang yang mengaku mengenal ayah kami. Dan begitu tahu bahwa kami anak ayah, maka kemudahan-kemudahanlah yang kami dapat dari mereka.

Dan saat ini dari hasil bisnis keluarga yang berkembang pesat saya sudah menghajikan almarhum ayah saya dan kami sekeluargapun sudah haji. Ayah saya memang mungkin semasa hidupnya tidak pernah melihat Ka’bah secara langsung, tapi beliau mendapatkan pahala hajinya. Ini membuat saya teringat kata-kata beliau bahwa Insya Allah , Allah nanti akan menggantikan haji ayah. Ayah mungkin tidak pernah bersimpuh di Masjid Haram dan Nabawi, tapi ayah membuat bersimpuh hati ribuan orang yang ditolongnya. Semua kebaikan ayah, kamilah anak-anaknya yang menuainya, menikmati hasilnya di dunia. Dan saya yakin ayah menuai hasilnya di akherat. Ayah kami memang tidak mewariskan harta yang banyak, tetapi beliau mewariskan kepada semua orang kebaikan yang banyak. Dan karena kebaikan itulah kami hidup dihormati dan disayangi oleh orang2. Dalam hati saya berjanji saya akan meneruskan sikap dan sifat ayah saya dan kulihat bayangan ayah tersenyum saat ku Wukuf di Arafah.

Sumber: https://www.facebook.com/notes/murtadha-kurniawan/orang-kaya-adalah-orang-yg-mau-berbagi-kisah-dr-seorang-sahabat/10150620915930375

Dipublikasi di Kisah Hikmah | 10 Komentar

Dua Batang Pohon yang “Berpelukan”

Saya baru sadar ternyata ada pohon unik di Taman Ganesha ITB (samping Masjid Salman). Dua buah pohon tampak seperti saling berpelukan, satu pohon mahoni (?) melilit pohon kelapa sampai ke bagian atas, seperti ular melilit batang kayu. Saya baru menyadari keberadaannya ketika shalat Jumat tadi siang, padahal saya sering lewat di sana tetapi kurang memperhatikan ada pohon seperti itu.

Di bawah ini dua buah foto yang saya jepret dari kamera ponsel.

Batang pohon mahoni melilit batang pohon kelapa.

Batang pohon mahoni melilit batang pohon kelapa.

Uniknya, pohon mahoni itu terbelah dua di bagian bawah sehingga menyerupai kaki, dan ada cabang pohon yang tampak seperti ekor kuda.

Batang pohon mahoni melilit batang pohon kelapa (foto lebih dekat)

Batang pohon mahoni melilit batang pohon kelapa (foto lebih dekat)

Masya Allah, semua adalah keagungan Allah SWT

Dipublikasi di Gado-gado | 6 Komentar

Een Sukaesih, Pejuang Guru dari Sumedang (Meskipun Lumpuh Tetap Mengajar Tanpa Pamrih)

Berita di koran Pikiran Rakyat beberapa hari yang lalu menggerakkan saya untuk menulis tentang Een Sukaesih. Siapa dia? Dia bukanlah siapa-siapa, tetapi kekuatan media telah mengangkat kisah perjuangan hidupnya sebagai sumber inspirasi yang tak ternilai harganya. Dengan keterbatassn fisik yang dimilikinya, Bu Een masih mampu memberikan bimbingan belajar tanpa pamrih kepada anak-anak di sekitar rumahnya yang datang kepadanya minta diterangkan pelajaran atau soal yang tidak ia mengerti.

Bu Een didatangi murid-murid yang bertanya tentang pelajaran sekolah. (Sumber foto: Liputan6.com)

Bu Een didatangi murid-murid yang bertanya tentang pelajaran sekolah. (Sumber foto: Liputan6.com)

Saya belum pernah bertemu langsung dengan Bu Een Sukaesih yang tinggal di Sumedang itu. Ah, ingin sekali menjumpainya, sekadar mengucapkan salam dan merasakan semangatnya yang luar biasa itu. Bagaimana tidak, penyakit radang sendi akut yang menggerogoti tubuhnya telah membuat tubuhnya lumpuh dan mengecil. Bu Een hanya bisa berbaring saja di atas tempat tidur. Seluruh tubuhnya ditutupi selimut, hanya wajahnya saja yang kelihatan dari balik kerudung.

Bu Een sedang menjelaskan materi pelajaran.

Bu Een sedang menjelaskan materi pelajaran.

Bila anda ingin membaca kisahnya, saya berikan tautan berikut: http://health.liputan6.com/read/603489/kisah-bu-guru-een-sukaesih-yang-26-tahun-terjebak-dalam-lumpuh. Nama penyakit yang diderita Een bernama rheumatoid arthritis. Penyakit inilah yang membuat Een lumpuh dan hanya bisa berbaring saja di atas dipan.

Een sedang menerangkan pelajaran kepada murid SMP (Sumber foto: Pikiran Rakyat)

Een sedang menerangkan pelajaran kepada murid SMP (Sumber foto: Pikiran Rakyat)

Dari yang saya baca di koran, Een adalah alumnus UPI Bandung strata D3. Dia sempat diterima menjadi CPNS dan sempat mengajar di sebuah SMP di Cirebon, namun karena penyakitnya itu dia mengundurkan diri dari calon pegawai negeri sipil.

Awal mula Bu Een memberikan bimbingan belajar adalah ketika ada seorang anak tetangga yang betanya kepadanya tentang soal PR yang tidak bisa dikerjakan. Lama-lama, makin banyak anak-anak yang datang berkonsultasi materi peljaran sekolah. Akhirnya kamar tidur Bu Een menjadi tempat bimbingan belajar. Een menerangkan pelajaran sambil berbaring di atas dipan. Tangannya tidak bisa digerakkan, jadi dia menjelaskan secara lisan. Dari belajar otodidak melalui berbagai buku, hampir semua pelajaran SD hingga SMA mampu dijelaskan oleh Een, termasuk pelajaran Fisika yang dulu tidak dia sukai.

Atas pengabdiannya itu, sebuah stasiun televisi swasta menganugerahi dia penghargaan Liputan 6 Special Award. Kisah pengabdian Bu Een sampai ke telinga Pak Beye. Bu Een diundang ke Istana Negara dan diterima oleh Presiden SBY meskipun dalam keadaan berbaring di atas kasur. Kepada Pak Beye Bu Een berbisik bahwa harta yang dia miliki hanyalah kasih sayang.

Bu Een diterima Pak Beye di istana

Bu Een diterima Pak Beye di istana

Semoga jasa-jasa Bu Een sebagai seorang guru yang gigih dengan segala keterbatasannya itu dibalas oleh Allah SWT dengan pahala yang berlipat ganda.

Dipublikasi di Pendidikan | 15 Komentar

Datang Lebih Awal pada Resepsi Pernikahan

Ada fenomena menarik yang saya amati pada setiap resepsi (walimah) pernikahan yang saya datangi di Bandung. Umumnya resepsi diadakan di gedung dan di dalam undangan resepsi pernikahan tercantum waktu resepsi dari jam 11.00 – 14.00 siang. Meskipun rentang waktunya tiga jam, namun tamu-tamu lebih banyak datang sekitar jam 11 hingga 12.30 siang. Di atas jam 12.30 sudah sedikit tamu yang datang, dan setelah jam 13.00 hanya sekitar satu dua orang saja. Pasangan pengantin yang tadinya sudah capek berdiri karena menerima ucapan selamat dari para tamu, setelah jam satu siang mereka sudah dapat duduk dengan nyaman, bahkan setengah jam sebelum resepsi berakhir pengantin sudah menikmati santap siang di meja makan yang disediakan khusus untuk keluarga pengantin.

Karena datang hampir bersamaan pada waktu “prime time” (11.00 – 13.00), maka yang saya saksikan adalah suasana desak-desan para tamu mengantri pada stan-stan makanan. Bagi yang tidak mau antri, mereka berebutan mengambil makanan atau minta dilayani lebih dulu oleh penjaga stan. Jam 13.00 ke atas sebagian besar stan makanan sudah mulai kosong sebab makanannya sudah habis. Sate sudah tidak ada ayamnya, bakso cuma tinggal kuahnya, batagor cuma tinggal sisa potongan jeruk sambel, nasi cuma tinggal kuah sop saja.

Saya pernah datang ke acara resepsi setelah jam satu siang, apa yang saya temukan? Stan-stan sudah kosong padahal acara resepsi belum berakhir, masih setengah jam lagi. Penjaga stan terlihat sedang bersih-bersih dan mengemasi aneka baskom, mangkuk, dan panci makanan. Ketika saya tanya masih ada nggak makanannya, mereka bilang sudah habis. Akhirnya saya mendatangi hidangan prasmanan yang cuma ada nasi, sayur, dan kerupuk. Benar-benar habis bis bis bis! Kok bisa? Kok sudah berkemas-kemas? Padahal di dalam undangan tertera acara resepsi sampai jam 14.00.

Ternyata kedatangan tamu yang membludak pada jam-jam awallah penyebab makanan sudah habis duluan. Hampir semua tamu undangan berpikir serupa: datang lebih awal supaya masih kebagian makanan. Rupanya hampir semua tamu pernah mempunyai pengalaman tidak enak sebelumnya, yaitu kehabisan makanan. Oleh karena itu, para tamu memilih datang duluan supaya tidak kehabisan. Oalaaahh…

Dipublikasi di Pengalamanku | 2 Komentar

Mencoba Istiqomah dalam Bersedekah

Apa yang sulit dalam hidup ini? Banyak. Salah satu jawabannya adalah berusaha tetap konsisten, atau dalam bahasa Islamnya adalah istiqomah. Istiqomah secara bebas artinya berketetapan hati dengan teguh, yaitu teguh dengan prinsip yang dipegang, teguh dengan keyakinan yang dianut, dan teguh dalam beramal sholeh.

Salah satu amal shaleh yang sederhana adalah sedekah. Sedekah sudah banyak dibahas manfaatnya oleh para ulama. Meskipun tidak punya uang atau harta, kita masih tetap dapat bersedekah dengan memberi senyuman, sebab kata Rasulullah senyum itu adalah sedekah. Orang yang pelit atau kikir diibaratkan oleh Al-Quran sebagai tangan yang terbelenggu. Tangan yang terbelenggu tentu tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi memberi.

Nah, bagi orang yang mampu, bersedekah dengan uang atau harta adalah perkara yang mudah. Tinggal sumbangkan uangmu atau hartamu kepada kaum dhuafa, kepada anak yatim piatu, atau kepada masjid dan lembaga amal. Tidak ada yang sulit melakukannya selama “tanganmu tidak terbelenggu”.

Meskipun bersedekah itu mudah, namun yang sulit adalah mempertahankannya sebagai amal yang terus menerus. Bersedekah secara menerus sama artinya kita menyimpan amal pahala secara menerus ke dalam tabungan akhirat. Apalah yang kita bawa mati selain amal pahala sebagai teman kita di kampung akhirat nanti?

Saya pribadi mencoba membuat komitmen untuk istiqamah bersedekah setiap hari. Tidak besar memang, hanya Rp5000 rupiah per hari. Setiap hari saya niatkan memberi sedekah lima ribu perak (kadang-kadang kurang). Penerima sedekah saya bisa siapa saja, misalnya pengemis yang saya temui di jalan. Namun, tidak setiap hari saya menjumpai pengemis di jalan. Maksudnya orang yang benar-benar mengemis karena tidak mampu, bukan mengemis karena malas.

Saya paling sering menyedekahkan uang lima ribu perak itu pada lembaga amal melalui kotak-kotak amal yang sering kita temui di minimarket, toko-toko, maupun rumah makan. Insya Allah mereka lembaga amal resmi dari panitia pembangunan masjid atau pesantren, lembaga yatim piatu, lembaga amil zakat, dan lain-lain, seperti foto di bawah ini.

Kotak amal di rumah makan

Kotak amal di sebuah rumah makan

Lihatlah, ternyata ladang amal itu ada di mana-mana, kenapa kita tidak memanfaatkannya? Kenapa kita tidak menanam bekal di kampung akhirat di ladang itu? Amalan yang kecil namun terus menerus lebih bermakna daripada amalan besar namun hanya sesekali.

Marilah kita gemar bersedekah, dan yang paling penting selalu melakukannya setiap hari secara istiqomah. Mudah-mudahan Allah menjadikan amalan sedekah itu sebagai penyelamat kita baik di dunia maupun di akhirat. Amiin ya rabbal alamiin.

Dipublikasi di Agama, Renunganku | Tinggalkan komentar

Call for Paper: Konferensi Nasional Informatika (KNIF) 2013

Bagi Anda mahasiswa (S1/S2/S3), dosen, peneliti, dan praktisi dalam bidang Informatika, kami dari Kelompok Keahlian Informatika (KK-IF), Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB kembali mengadakan konferensi ilmiah bertajuk Konferensi Nasional Informatika (KNIF) 2013. Tahun ini adalah pelaksanaan KNIF yang ketiga setelah vakum selama satu tahun. Pelaksanan konferensi tepat pada Hari Pahlawan yaitu 28 November 2013, dan konferensi dilaksanakan di kampus ITB yang indah. Sebagai pembicara kunci (keynote speaker) adalah seorang founder Ilmukomputer.com yaitu Bapak Romi Satrio Wahono. Nama ini mungkin tidak asing lagi bagi akademisi Informatika/Ilmu Komputer/Sistem Informasi.

KNIF2013

Seperti dikutip dari laman situs resmi KNIF, “Konferensi Nasional Informatika (KNIF) merupakan konferensi yang diselenggarakan secara tahunan oleh Kelompok Keilmuan (KK) Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung.Konferensi ini diharapkan menjadi ajang pertemuan ilmiah tahunan tentang topik yang sedang hangat di bidang informatika, sekaligus menjadi sarana bagi para peneliti untuk berkomunikasi dan memaparkan area penelitian mereka.

KNIF pertama diselenggarakan pada tahun 2010 dengan tema “Sistem Komputasi Berintelejensi”. Selanjutnya, KNIF kedua diselenggarakan pada tahun 2011 dengan mengusung tema “Kinerja Komputasi”, yang fokus pada tantangan untuk terus meningkatkan kapasitas komputasi serta memenuhi harapan dari dunia komputasi yang terus meningkat. KNIF 2013 merupakan konferensi yang diselenggarakan ketiga kalinya yang memuat tema mengenai “Informatika di Indonesia: Potensi, Peluang, dan Tantangan”. Dengan memahami ketiga kondisi tersebut, diharapkan komunitas kita mampu menghasilkan karya-karya yang tepat guna untuk menjawab persoalan yang ada dan meraih prospek yang akan datang, khususnya bagi masyarakat di Indonesia. ”

Nah, jika anda memiliki makalah ilmiah hasil penelitian hendak disajikan dalam forum ini, silakan kirim makalah anda melalui situs web ini: http://knif.itb.ac.id. Adapun topik makalah (tanpa bermaksud membatasi) adalah sbb:

Mobile Computing
Image Processing
Computer Graphic
Artificial Intelligence
Information Retrieval
Computer Vision
Algorithm & Complexity
Data Mining
Information System
Distributed System
Computer & Network Security
Cloud Computing
Cryptography
Human Computer Interaction
Speech Processing
Natural Language Processing
Pervasive Computing
Social Media
Semantic Web Technologies
Game & Multimedia

Perhatikan tanggal-tanggal penting berikut:

1. Batas Akhir Penyerahan Makalah Lengkap: 7 September 2013
2. Pengumuman Penerimaan: 10 Oktober 2013
3. Batas Akhir Registrasi dan Makalah Siap Cetak: 7 November 2013
4. Pelaksanaan Konferensi: 28 November 2013

Kami tunggu makalah dan kedatangan Anda di kampus Institut Teknologi Bandung.

Dipublikasi di Seputar Informatika | Tinggalkan komentar

Di Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang

Pulang dari Malang ke Bandung saya naik pesawat dari Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Tidak ada penerbangan langsung Malang – Bandung, jadi saya memilih rute Malang – Jakarta, baru nanti dari Bandara Soeta saya naik bis Primajasa ke Bandung.

Bandara Abdul Rachman Saleh adalah bandara yang kecil. Sebenarnya ini bukan bandara komersil, sebab bandaranya milik TNI-AU (Lanud TNI-AU), namun bandara dibuka juga untuk penerbangan komersil. Hal ini mirip seperti Bandara Husein Sastranegara di Bandung, sama-sama milik TNI-AU tetapi melayani penerbangan komersil. Hanya bedanya, Bandara Husein Sastranegara Bandung dikelola oleh PT Angkasa Pura, sedangkan Bandara Abdul Rachman Saleh Malang dikelola oleh Pemda Malang.

Bandara Abdurrahman Saleh, Malang

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang

Karena dikelola oleh Pemda, maka yang menarik adalah pajak bandara (airport tax) di Bandara Abdul Rachman Saleh sangat murah. Saya sungguh kaget ketika membayar biaya airport tax di sana hanya Rp11.000 saja. Murah sekali ya, sangat jauh bedanya dengan airport tax bandara yang dikelola oleh PT Angkasa Pura yang besarnya Rp30.00 – Rp45.000 untuk tujuan domestik. Kok bisa semahal itu ya airport tax yang dipungut oleh Angkasa Pura? Kata petugas Dishub yang di Bandara Abdul Rachman Saleh, besaran Rp11.000 itu diatur di dalam Perda.

Suasana di depan bandara

Suasana di depan bandara

Cuma, ada juga kekurangannya karena tidak dikelola oleh Angkasa Pura. Kita tidak menemukan layar monitor yang menampilkan jadwal kedatangan dan keberangkatan pesawat di Bandara Abdul Rachman Saleh. Layar monitor itu memang menampilkan informasi online dari server Angkasa Pura. Tapi, sebenarnya pihak Lanud Abdurrahman Saleh kan bisa membuat sendiri informasi kddatangan dan keberangkatan pesawat dan ditampilkan di layar monitor, meskipun informasinya tidak seakurat dari Angkasa Pura. Selain kekurangan di atas, ternyata kode kota Malang tidak tertera di dalam boarding pass. Misalnya Cengkareng dengan kode CGK, Bandung dengan BDO, Surabaya dengan SUB, maka Malang tidak ada kodennya.

Saat ini ada empat maskapai yang melayani penerbangan ke dan dari Malang, yaitu Garuda, Lion, Sriwijaya Air, dan Citylink, semuanya tujuan Jakarta. Di bawah ini saya tampilkan foto-foto suasana di Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Saat ini sedang dibangun gedung bandara yang baru di sebelahnya.

Bandara tampak dari samping kanan

Bandara tampak dari samping kanan

Ruang kafetaria dan toko-toko

Ruang kafetaria dan toko-toko

Jalan masuk bandara yang mulus.

Jalan masuk bandara yang mulus.

Rangka gedung baru

Rangka gedung baru

Bandara tampak dari  landasan pacu

Bandara tampak dari landasan pacu

lahan di sekitar landasan pacu ditanami tebu.

lahan di sekitar landasan pacu ditanami tebu.

Rangka gedung bandara yang baru tampak dari landasan lacu

Rangka gedung bandara yang baru tampak dari landasan lacu

Pesawat Sriwijaya Air yang mendarat di bandara.

Pesawat Sriwijaya Air yang mendarat di bandara.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 26 Komentar