Ketika Kuliah di Informatika ITB Diisi oleh Aktor “Stand Up Comedy”

Dua minggu lalu saya mengundang Sam Darma Putra Ginting untuk mengisi kuliah tamu di tingkat 2 Informatika ITB. Tiap tahun memang saya selalu mengisi satu sesi kuliah dengan mendatangkan alumni Informatika untuk berbagi (sharing) cerita pengalaman mereka bekerja di ranah teknologi informasi. Semester ini saya mengundang seorang komedian bernama Sam Darma Putra alias Sammy yang sering tampil di TV pada acara-acara stand up comedy dan juga host beberapa acara di TV swasta.

Sam Darma Putra pada dalam sebuah acara stand up commedy.

Sam Darma Putra pada dalam sebuah acara stand up commedy.

Semula tidak mudah mendatangkan dia, maklum jadwalnya pasti sangat padat, tetapi karena saya dulu adalah dosennya waktu kuliah di ITB dan saya meminta kesediaannya, ternyata responnya cepat: bersedia datang dan mengisi kuliah dua jam, ha..ha..ha. Ya, Sam memang mantan mahasiswa saya dulu di Informatika ITB, tepatnya dia adalah mahasiswa Informatika (IF) angkatan 1994. Sejak kuliah dulu dia dikenal teman-temannya suka melucu (padahal saya sendiri dulu tidak tahu kalau dia senang melucu), dan akhirnya bakat melucunya itu kesampaian dengan melambungnya acara stand up comedy di TV-TV. Sekarang dia menjadi orang terkenal (artis) dan tentu saja bayarannya mahal, tapi untuk kuliah kali ini tentu saja gratis, he..he.

Setengah jam sebelum kuliah dia sudah datang bersama asistennya. Wah, artis profesional memang selalu pakai manager dan asistennya. Para asistennya juga ikut masuk ke kelas. Kelas saya hari itu penuh, karena memang sudah diumumkan minggu sebelumnya bahwa pengisi kuliah tamu adalah alumni Informatika yang menjadi aktor komedi.

Para mahasiswa saya mendengarkan kuliah dari Sam dengan penuh minat.

Para mahasiswa saya mendengarkan kuliah dari Sam dengan penuh minat.

Sam tidak hanya berprofesi sebagai aktor komedi, itu pekerjaan sambilan dia saja. Pekerjaan utamanya tetap saja di bidang teknologi informasi. Setelah lulus dari ITB dia bekerja di perusahaan-perusahan TI dan saat ini dia founder ASD-Consult, pemilik brand ST24-Pulsa dan Utama Bizniz Cell.

Dalam kuliahnya hari itu Sam memaparkan apa saja yang diperlukan seorang lulusan Informatika bila bekerja sebagai enterpreneur di bidang TI. Seorang mahasiswa sebaiknya tidak hanya belajar horizontal knowledge, tetapi juga vertical knowledge. Horizontal knowledge tentu saja materi yang perkuliahan yang dipelajari selama kuliah, tetapi vertical knowledge adalah pengetahuan tambahan yang diperlukan untuk menopang horizontal knowledge karena seorang lulusan Informatika nanti akan berhubungan dengan bidang ilmu lain. Dia mencontohkan pengalamannya yang belajar tentang akuntansi, hukum, dan sebagainya (baca ringkasan materi kuliahnya di sini).

Sam Darma Putra sedang serius memberi kuliah sekaligus melawak.

Sam Darma Putra sedang serius memberi kuliah sekaligus melawak.

Meskipun kuliah yang dibawakannya adalah materi yang cukup serius, namun karena dia seorang komedian maka tetap saja isinya ditimpali dengan humor segar khas stand up commedy. Seluruh isi kelas terpingkal-pingkal mendengar aksi panggungnya di ruang kelas dari awal sampai akhir, apalagi setelah saya minta dia secara khusus ber-stand up commedy selama 10 menit pada akhir kuliah (yang katanya kalau orang lain yang meminta maka harus lewat manajernya dan tentu saja bayarannya mahal lho).

Terima kasih banyak Sam, kapan-kapan Anda kami undang kembali mengisi acara di Informatika ITB.

(Dua foto di atas diambil dari dokumentasi STEI-ITB pada laman ini. Foto-foto lainnya saya ambil dengan kamera sendiri di bawah ini).

DSCF1386

DSCF1387

DSCF1389

DSCF1390

Dipublikasi di Seputar Informatika | 7 Komentar

Partai Mana yang Berhasil Merayu Rakyat pada Pemilu 2014?

Tanggal 16 Maret 2014 kampanye Pileg 2014 akan dimulai. Kita akan menyaksikan selama 3 minggu ini tebar-tebar janji dan pesona dari partai dan calegnya. Setiap partai politik tentu berusaha untuk menjaring suara sebanyak-banyaknya. Ada 12 parpol yang akan berlaga seperti di bawah ini.

partai_pemilu

Pertanyaannya, partai mana saja yang akan berhasil “merayu” rakyat untuk memilih caleg-calegnya pada tanggal 9 April 2014 nanti? Kalau menurut berbagai hasil survey jajak pendapat, PDIP dan Golkar yang akan bersaing memperebutkan juara 1 dan juara 2, sedangkan juara tiganya kalau tidak Gerindra ya Demokrat. Lalu partai-partai lain harus puas menempati papan tengah dan papan bawah saja.

Tapi itu kan baru kata survey, hasilnya belum tentu valid, bisa jadi benar bisa jadi pula salah. Yang dijadikan survey hanya sebagian sangat kecil rakyat Indonesia, yaitu sekitar seribu hingga sepuluh ribu orang saja, padahal jumlah pemilih mencapai ratusan juta. Survey-survey itu bisa saja merupakan pesanan partai tertentu untuk membentuk citra dan opini pada masyarakat, meskipun tidak dikesampingkan pula ada lembaga survey yang netral.

Ingat juga bahwa dalam Pemilu nanti jumlah pemilih pemula (yang baru pertama kali ikut pemilu) persentasenya cukup besar, yaitu sekitar 20-30% dari 186.612.255 pemilih (sumber dari sini). Mereka ini masih belum jelas dalam menentukan parpol mana yang akan dipilih nanti (swing voters). Namun dengan asumsi bahwa kelompok ini melek internet, dan sebagian besar dari mereka aktif di dalam jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, maka referensi mereka dalam memilih parpol mungkin sangat ditentukan dari informasi yang mereka peroleh dari jejaring sosial dan media sosial lainnya (blog, tumblr, instagram, whatsapp, dll). Mereka sangat mudah menekan tombol like sebagaimana sangat mudah pula berpindah menjadi dislike atas suatu isu yang dipostingkan di jejaring sosial.

Secara umum persepsi orang dalam memilih parpol sangat ditentukan pada sejauh mana informasi yang mereka ketahui tentang parpol tersebut dari berbagai sumber, terutama dari media. PDIP misalnya, partai ini diuntungkan oleh salah satunya dari pemberitaan Jokowi di media, karena Jokowi adalah kader PDIP. Meskipun prestasi Jokowi membenahi Jakarta belum terlihat hasil nyatanya, namun pemihakan media mainstream kepadanya mampu membuat dirinya menjadi orang terkuat Capres 2014. Jokowi yang digadang-gadang menjadi capres dari PDIP diprediksi akan mampu mendongkrak raihan suara PDIP pada Pileg 9 April 2014 nanti. Sedangkan Golkar diuntungkan sebagai partai yang sudah mapan karena sudah mengakar sampai ke desa-desa disebabkan ia sudah mempunyai jaringan birokrasi yang kuat. Melalui banyak media yang dimilikinya, Golkar menancapkan citra sebagai partai besar dan kuat.

Media, terutama media mainstream, memang memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik tentang suatu partai. Parpol yang sering diberitakan dengan kasus-kasus buruk (korupsi) adalah parpol yang tidak beruntung karena mereka menjadi bulan-bulanan media. Kecuali kader fanatiknya yang tidak terpengaruh banyak oleh pemberitaan media, rakyat kebanyakan yang mendapat informasi dari media akan ikut mempunyai persepsi buruk tentang partai yang disebut-sebut. Mempunyai persepsi buruk artinya akan dijauhi atau tidak akan dipilih.

Dua partai yang paling sering diberitakan secara masif tentang kader atau pimpinannya yang terlibat korupsi adalah Partai Demokrat dan PKS. Elektabilitas kedua partai ini merosot tajam dan kepercayaan publik kepada keduanya mencapai titik yang rendah. Namun anehnya, menurut catatan Indonesian Corruption Watch (ICW) justru kedua partai tersebut bukanlah juara korupsi. Indeks korupsi yang tertinggi justru berada pada PDIP dan Golkar (yang digadang-gadang oleh lembaga survey sebagai pemenang Pileg 2014) seperti yang diperlihatkan pada grafik di bawah ini (Sumber dari sini):

Dari grafik ICW di atas sebenarnya tidak ada partai yang bersih sama sekali dari korupsi, semua partai sudah terkontaminasi korupsi, termasuk partai-partai dengan latar belakang agama atau berlabel agama sekalipun. Jika kasus korupsi menjadi alasan untuk tidak memilih parpol tertentu dalam Pemilu, maka seharusnya PDIP dan Golkar tidak bertengger sebagai pemuncak hasil berbagai jajak pendapat. Seharusnya responden tidak memilih kedua partai tersebut karena justru keduanya lebih “ganas” dalam kasus korupsi dibandingkan PKS dan Demokrat. Namun anehnya justru PDIP dan Golkar yang memiliki elektabilitas tertinggi. Mengapa bisa terbalik-balik begitu? Alasannya ada dua, menurut saya.

Pertama, seberapa besar rakyat Indonesia mengetahui (aware) tentang indeks korupsi yang dipaparkan oleh ICW di atas? Menurut saya hanya sebagian kecil saja masyarakat yang tahu karena memang tidak gencar diberitakan media. Dari pengamatan saya informasi indeks korupsi tersebut lebih sering beredar di jejaring sosial. Kebanyakan yang mem-forward-kannya ke jejaring sosial adalah orang-orang yang kritis dan well-educated (terpelajar). Berapa persenkah orang-orang kritis dan terpelajar itu dari 188 juta lebih pemilih? Menurut saya hanya sebagian kecil saja yang mengetahuinya, dan pengaruhnya terhadap PDIP dan Golkar tidak terlalu banyak. Jadi kedua partai ini “diuntungkan” dari ketidaktahuan masyarakat tentang perbandingan korupsi berbagai parpol.

Alasan kedua, kasus korupsi di PKS menjadi berita besar karena partai ini berlatar belakang agama (Islam). Publik lebih “menghukum” partai berlabel agama ketika melakukan korupsi dibanding partai yang melabelkan dirinya sebagai partai nasionalis. Korupsi adalah persoalan moral, dan masalah moral terkait dengan ajaran agama. Dalam pikiran publik yang awam, jika partai berlabel agama saja melakukan korupsi, maka apa lagi yang bisa dipercaya dari mereka? Hal ini mirip dengan kasus asusila seperti perzinahan, perselingkuhan, pornografi, dsb. Jika yang melakukan tindakan asusila adalah kader dari partai nasionalis, masyarakat terkesan lebih “memakluminya” lalu melupakannya dengan berlalunya waktu, namun jika yang melakukannya kader dari partai berlabel agama (seperti PKS), masyarakat tidak sudi menerimanya sehingga partai berlabel agama tersebut menjadi bulan-bulanan media dan caci maki publik di dunia maya (ingat kasus anggota DPR dari PKS, Arifanto).

Untuk kasus korupsi pada Partai Demokrat, isu korupsi pada partai ini menjadi berita besar karena ia adalah partai penguasa (dalam arti presidennya dan beberapa menterinya dari Partai Demokrat). Di mana-mana partai penguasa selalu menjadi sasaran tembak pihak lawan-lawannya. Apapun akan dicari-cari kesalahannya. Ketika kadernya melakukan korupsi, maka partainya ikut terbawa-bawa. Masalahnya menjadi semakin ramai karena pihak penguasa ((istana) dan keluarganya (Cikeas) juga ikut disebut-sebut. Bagi media, kasus korupsi di Demokrat adalah berita besar sehingga berlakukah pameo bad news is good news.

Memang rumit dan runyam dunia politik itu. Permainan di dalamnya bisa bersih bisa pula kotor. Namun kita tidak boleh apatis dan berdiam diri saja, karena bagaimana pun kehidupan kita di negara ini juga ditentukan oleh politik itu. Siapa-siapa yang duduk di parlemen, merekalah yang akan mengatur hidup bangsa kita dengan sejumlah undang-undang yang mereka bikin. Siapa yang berkuasa di Pemerintahan merekalah yang akan bertindak melakukan kebijakan meskipun kita tidak setuju. Oleh karena itu, golput atau tidak memilih dalam Pemilu adalah pilihan yang buruk, karena satu suara kita akan sangat menentukan siapa yang akan menentukan arah bangsa ini ke depan.

Dipublikasi di Indonesiaku | 4 Komentar

Caleg DPR dan DPD RI Pemilu 2014 Alumni ITB

Pemilu 2014 tinggal satu bulan lagi. Pada Pemilu 2014 ini kita tidak mencoblos partai, tetapi mencontreng caleg yang kita beri amanah menjadi angota legislatif. Rekan saya sesama dosen di STEI-ITB, Pak Waskita Adijarto, mencoba merangkum daftar caleg DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dan DPD (Dewan Perwakilan Daerah) yang berasal dari ITB, yaitu mereka yang dulunya pernah kuliah di ITB atau dengan kata lain alumni ITB. Silakan lihat daftar dan profil (beserta foto) caleg DPR dan DPD alumni ITB di sini: http://caleg.kabarkita.org/daftar-caleg-2014-lulusan-institut-teknologi-bandung.

Jika diurut berdasarkan partai, maka komposisinya adalah sebagai berikut:

1. Demokrat 14 caleg
2. PDIP 13 caleg
3. Golkar 12 caleg
4. PAN 10 caleg
5. Gerindra 9 caleg
6. Hanura 9 caleg
7. PKPI 8 caleg
8. PKS 6 caleg
9. PPP 5 caleg
10. Nasdem 4 caleg
11. PKB 4 caleg
12. PBB 3 caleg

Terlihat dari daftar di atas alumni ITB paling banyak nyalon di Partai Demokrat (heran juga yach, he..he), selanjutnya PDIP dan Golkar, lalu PAN dan Gerindra. Yang nyalon di PAN mungkin karena faktor Hatta Radjasa, kalau yang nyalon di Golkar mungkin karena faktor birokrasi atau Aburizal Bakrie. Baik Hatta Radjasa maupun Aburizal Bakrie keduanya alumni ITB. Oh ya, untuk calon DPD sendiri ada 7 orang. Dari semua nama itu tidak satupun saya kenal secara pribadi, kalau mendengar namanya mungkin pernah sekilas.

Lalu, apakah karena mereka alumni ITB lalu saya atau Anda akan memilihnya? Saya pikir bukan karena almamaternya, tetapi lebih kepada integritas orangnya (calegnya). Jika sang caleg punya integritas diri yang baik, maka bukan tidak mungkin pilihan saya atau Anda jatuh kepadanya. Pertimbangan asal partai pengusung juga berpengaruh, sebab memori kita juga dipengaruhi oleh persepsi terhadap suatu partai. Partai politik yang mempunyai imaji yang tidak baik karena berbagai kasus yang menimpa partai tersebut tentu menjadi pertimbangan untuk memilihnya calegnya. Jadi memilih caleg untuk dicontreng pada Pemilu 2014 nanti tidak melulu obyektif, seringkali faktor subyektivitas ikut berperan.

Siapapun caleg yang terpilih nanti, khususnya dari alumni ITB, yang pasti dia harus jujur dan amanah sebagai wakil rakyat. Jangan sampai nanti ada celutukan bahwa alumni ITB di DPR atau di Pemerintahan yang ikut membuat negara ini menajdi bobrok. Janganlah.

Dipublikasi di Indonesiaku, Seputar ITB | Meninggalkan komentar

Menemukan Mushola di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok

Bandara Suvarnabhumi di Bangkok, Thailand, sangat megah. Sebagai bandara transit ke berbagai negara, bandara Suvarnabhumi didesain sangat modern, luas, nyaman, dan memenuhi hampir semua kebutuhan orang-orang yang berlalu lalang di sana, tak terkecuali mushola yang saya temukan di lantai 5 bandara. Tapi, sebelum cerita tentang mushola tadi, yuk saya ceritakan dulu bandara yang saya kunjungi beberapa waktu yang lalu ketika menghadiri sebuah konferensi internasional di Bangkok.

Bandara di negara kita memang belum apa-apanya jika dibandingkan dengan bandara Suvarnabhumi. Saya mendarat di bandara ini dari Jakarta dengan pesawat Thai Airways. Tidak banyak yang saya foto ketika datang, tetapi ketika kembali lagi ke Jakarta dua hari kemudian, saya bisa mengabadikan sudut-sudut Bandara Suvarnabhumi.

Terminal keberangkatan yang luas. Foto Raja Thai dalam ukuran besar terpampang di mana-mana. Rakyat Thai sangat mencintai rajanya.

Terminal keberangkatan yang luas. Foto Raja Thailand dalam ukuran besar terpampang di mana-mana. Rakyat Thailand sangat mencintai rajanya.

Ruang chek-in yang lapang, Para pengantar boleh masuk hingga ke dalam, mirip dengan konsep yang dipakai Bandara Kuala Namu, Medan.

Ruang chek-in yang lapang, Para pengantar boleh masuk hingga ke dalam, mirip dengan konsep yang dipakai Bandara Kuala Namu, Medan.

Papan informasi keberangkatan pesawat

Papan informasi keberangkatan pesawat

Ruang Chek-in dengan konter yang berjejer

Ruang Chek-in dengan konter yang berjejer

Narsis dulu di ruang chek-in

Narsis dulu di ruang chek-in

Patung penjaga. Patung apa nih ya?

Patung penjaga. Patung apa nih ya?

Pemeriksaan sekuriti di bandara Suvarnabhumi sangat ketat. Semua isi tas harus dikeluarkan, termasuk laptop. Ikat pinggang harus dibuka, handphone pun diperiksa (siapa tahu ada bom, ha..ha). Saya yang ingin membawa air kemasan dari tanah Thai ke atas pesawat terpaksa harus merelakan beberapa botol minuman kemasan dibuang ke tong sampah di depan petugas sekuriti. Peraturan penerbangan internasional memang melarang membawa minuman lebih dari 100 ml.

Selesai pemeriksaan sekuriti, selanjutnya pemeriksaan di loket imigrasi. Nah, di sini kejutan yang saya temukan. Petugas imigrasi yang melihat paspor saya kemudian menyapa dalam Bahasa Indonesia. “Acara apa ke Bangkok, Pak? Liburan? “, tanya petugas tersebut sambil tersenyum. Saya kaget setengah mati, kenapa pula petugas imigrasi tersebut bisa berbahasa Indonesia. Saya lihat badge namanya, ternyata nama berbau Islam, Abdul apa gitu, sayang saya saya tidak mencatat nama lengkapnya.

“Dari Pattani ya?”, tanya saya menyelidik kepada petugas yang sibuk mencocokkan paspor saya dengan data di dalam komputernya. Pattani adalah kawasan di selatan Thailand yang berbatasan dengan Malaysia, penduduk di sana mayoritas beragama Islam. Orang Pattani masih dari ras melayu, mereka masih bisa berbahasa Melayu seperti Melayu Malaysia.

“Bukan”, jawabnya. “Kakek saya berasal dari Aceh”, kata Pak Abdul lagi. “Mereka merantau ke sini dulu”, lanjutnya.

“Sudah menjadi warga negara Thailand?”, tanya saya.

“Iya”, jawabnya sambil menyerahkan paspor saya. Selesai.

Saya tidak bisa bercakap-cakap lama dengan Pak Abdul karena orang di belakang saya sudah menunggu giliran. Selesai pemeriksaan imigrasi, saya dan teman menuju lantai ruang boarding. Berjalan-jalan di lantai dua bandara ini rasanya membuat betah. Toko-toko duty free berderet-deret menjual aneka produk Thailand. Thailand memang pandai mengemas aneka buah-buahan unggulan mereka menjadi manisan, ada manisan mangga, manisan jambu bangkok, manisan semangka, dan lain-lain. Padahal apa yang dijual di Bangkok juga dapat kita temukan di negara kita sendiri. Bedanya, Thailand pintar mengemasnya.

Patung yang merepresentasikan cerita rakyat Thai di lantai ruang tunggu.

Patung yang merepresentasikan cerita rakyat Thai di lantai ruang tunggu.

Toko-toko duty free.

Toko-toko duty free.

Toko-toko Duty Free

Toko-toko Duty Free

Hari sudah menunjukkan pukul 13.00, pesawat kami baru berangkat pukul 15.00. Saya dan teman berniat menunaikan shalat Dhuhur dan Ashar dengan niat jamak. Tapi, ke mana mencari mushola di bandara asing ini. Apalagi Thailand adalah negara dengan mayoritas penduduknya beragama Budha, apakah mereka masih terpikir menyediakan mushola untuk sholat di bandara yang megah ini?

Ternyata dugaan saya salah. Seorang rekan dosen dari UGM Yogyakarta yang ikut pulang bersama kami dan sering mengunjungi bandara ini mengatakan ada mushola di lantai lima. Kami pun naik lift menuju lantai lima. Ternyata memang benar ada mushola di Bandara Suvarnabhumi. Ruang mushola itu diberi nama Muslim Prayer Room.

Mushola yang saya temukan di Lantai 5

Mushola yang saya temukan di Lantai 5

Saya dan teman menunaikan sholat jamak Dhuhur dan Ashar di dalam mushola. Orang dari berbagai bangsa terlihat sholat di dalamnya, ada orang Afrika, orang Pakistan, India, Turki, dan kami orang Melayu Indonesia. Rasanya seperti bersaudara saja ketika bertemu orang-orang aneka bangsa tetapi dibalut dalam satu akidah dan keyakinan di dalam mushola ini. Wajar jika Pemerintah Thailand menyediakan ruang khusus mushola di Bandara Suvarnabhumi, sebab orang yang pergi dan datang di bandara ini berasal dari berbagai bangsa dan agama.

Jamaah dari berbagai bangsa yang sholat di dalam Mushola

Jamaah dari berbagai bangsa yang sholat di dalam Mushola

Selesai sholat, kami menuju gerbang keberangkatan (gate). Sengaja saya pilih pulang dengan maskapai Garuda, tidak dengan Thai Airways lagi. Bagaimanapun saya tetap cinta dengan Garuda Indonesia. Nasionalisme, gitu🙂.

Koridor ruang tunggu keberangkatan sangat megah. Barangkali Bandara Kuala Namu di Sumatera Utara yang bisa disejajarkan dengan Bandara Suvarnabhumi dalam hal kemegahannya.

Koridor menuju gerbang keberangkatan

Koridor menuju gerbang keberangkatan

Pemandangan yang luar biasa ke arah landasan parkir pesawat

Pemandangan yang luar biasa ke arah landasan parkir pesawat

Wow, keren!

Wow, keren!

Menakjubkan!

Menakjubkan!

Gate D5, GA867. Ini dia gate untuk Garuda Indonesia

Gate D5, GA867. Ini dia gate untuk Garuda Indonesia

Menunggu

Menunggu

Satu kata untuk Bandara Suvarnabhumi adalah: luar biasa! Saya bermimpi Bandara Soekarno-Hatta semegah ini. Mudah-mudahan.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 13 Komentar

Profesor Bukan Gelar, tetapi Jabatan

Ribut-ribut pemberitaan tentang gelar profesor di depan nama Rhoma Irama membuat saya harus menjelaskan lagi melalui tulisan ini. Di negara kita profesor bukanlah gelar akademik seperti halnya Dr, M.Sc, S.T, dan sebagainya (baca berita ini), tetapi profesor adalah sebuah jabatan akademik yang diberikan kepada Guru Besar.

Seorang akademisi mempunyai jenjang karir secara bertahap yang dinyatakan dalam bentuk jabatan akademik (dulu istilahnya jabatan fungsional), lihat Permenpan No 46 2013 (Perubahan dari Permenpan 17 2013). Jabatan akademik itu ada empat tingkat. Yang pertama Asisten Ahli, kedua Lektor, ketiga Lektor Kepala, dan yang tertinggi adalah Profesor. Untuk naik dari satu jabatan akademiki ke jabatan akademik lain harus memenuhi sejumlah angka kredit (Kum) yang telah ditetapkan oleh Dikti. Penilaian angka kredit itu dihitung dari tiga aspek tridharma, yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada Masyarakat. Seorang sarjana atau magister yang pertama kali menjadi dosen akan mendapat jabatan akademik Asisten Ahli. Jika dia mengambil S3 dan mengurus kenaikan jabatan, jabatan akademiknya dapat ditingkatkan menjadi Lektor, selanjutnya Lektor Kepala, dan akhirnya Profesor.

Gelar akademik adalah gelar yang dicapai seseorang setelah menempuh pendidikan. Untuk orang yang telah menempuh program pendidikan S3, maka gelarnya adalah Dr atau Ph.D. Untuk orang yang telah menempuh S2, gelarnya adalah M.T, M.Sc, M.Si, MBA, M.Ag, dan lain-lain. Untuk orang yang telah lulus sarjana gelarnya macam-macam, S.T, S.Si, S.Ked., S.E, S.Sos, dan sebagainya bergantung bidang ilmu yang diambilnya.

Nah, untuk menjadi Profesor tidak ada sekolahnya, tidak ada program pendidikannya, tidak ada kursusnya, dan tidak ada pelatihannya. Pendidikan tertinggi adalah stara S3 yang merupakan puncak dari pendidikan formal. Jabatan profesor tidak otomatis diperoleh setiap akademisi, jabatan tersebut akan dicapai setelah melalui tahap pencapaian angka kredit tertentu (saya lupa angka persisnya berapa). Dia harus sering meneliti dan membuat publikasi, terutama publikasi internasional, dari hasil-hasil risetnya. Setelah angka kredit kenaikan jabatannya mencukupi, maka universitas tempat dia mengabdi melakukan review atau penilaian untuk menentukan apakah dia layak menjadi Guru Besar. Proses ini berlanjut hingga ke tingkat Kementerian sebelum akhirnya jabatan profesornya ditetapkan oleh Presiden .

Adapun jabatan itu hanya berlaku ketika dia berada di lingkungan akademik. Jika seorang profesor sudah pensiun, maka jabatan profesornya otomatis hilang. Jika dia mengundurkan diri (atau diberhentikan) dari kampus, maka dia tidak berhak lagi menyandang jabatan profesor. Contohnya Pak Amien Rais dan Pak Yusril Ihza Mahendra, keduanya dulu adalah profesor di kampusnya (UGM dan UI). Namun, ketika mereka mengundurkan diri dari kampus karena terjun ke politik praktis, maka kata Prof di depan namanya tidak boleh dipakai lagi.

Penyebutan profesor sebagai gelar memang dimungkinkan untuk profesor kehormatan (honorary professor). Beberapa perguruan tinggi di luar negeri memberi gelar honorary professor pada orang-orang terkenal seperti artis, atlit, dan orang-orang yang punya pencapaian istimewa lainnya, meskipun untuk mendapat gelar tersebut mereka tidak melakukan pekerjaan akademik (Baca di Wikipedia ini) di universitas yang memberikannya. Saya tidak tahu di mana Bang Haji Rhoma mendapat gelar profesor kehormatan (kalau memang benar), dan apakah perguruan tingginya kredibel. Jangan-jangan itu perguruan tinggi abal-abal yang memang senang memberi gelar kehormatan dengan membayar sejumlah upeti (Baca: Kampus Profesor Rhoma Tak Terakreditasi di Mana pun). Indonesia tidak ada perguruan tinggi yang memberikan gelar profesor kehormatan kepada seseorang karena memang tidak sesuai dengan aturan kenaikan jabatan akademik yang ditetapkan oleh Dikti.

Masyarakat kita sudah terlanjur salah kaprah dengan menganggap profesor adalah gelar. Barangkali ini karena warisan tradisi Belanda. Menurut seorang rekan, Belanda dan Jerman hampir mirip tradisi akademiknya. Di Jerman gelar ditulis abadi selama hidup. Di Jerman gelar profesor kehormatan ditulis di depan namanya sebagai Prof (hc), jika “hc”-nya banyak maka ditulis Prof hc (mult)badi dan ditulis di depan namanya sampai sudah mati sekalipun.

Dipublikasi di Indonesiaku, Pendidikan | 8 Komentar

Masakan Padang Itu Sehat (Tidak Perlu Khawatir Lagi dengan “Hantu” Kolesterol)

Hampir semua orang di Indonesia suka dengan masakan Minangkabau (yang disederhanakan dengan nama “masakan padang”). Masakannya enak dan selalu mengundang selera. Tidak heran rumah makan padang ada di mana-mana di seluruh tanah air, bahkan hingga ke luar negeri, karena penggemarnya juga ada di mana-mana.

Namun sebagian orang membatasi diri mengkonsumsi masakan padang karena takut dengan “hantu” kolesterol. Masakan padang sering dianggap sumber kolesterol karena umumnya masakannya bersantan. Masakan yang bersantan itu ditemukan pada aneka gulai seperti gulai ayam, gulai tambunsu (usus), gulai tunjang, gulai otak, kalio daging, rendang, dan sebagainya. Santan pada masakan inilah yang dianggap sebagai biang kolesterol sehingga menyebabkan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke. Tiap kali mau makan masakan padang, orang yang dihantui dengan kolesterol tinggi mencoba menahan seleranya.

Benarkah santan pada masakan padang sebagai sumber kolesterol? Hal itu dibantah oleh Guru Besar Ilmu Gizi dari Universitas Andalas Padang, Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, seperti yang diberitakan pada artikel di situs ini . Menurut hasil penelitian Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, orang Minang tahu rahasia sehat masakan padang. Bumbu-bumbu pada santan seperti jahe, kunyit, lengkuas, bawang merah, bawang putih, cabe, serai, daun salam, daun limau, dan daun-daun lainnya berfungsi sebagai antioksidan, dan antioksidan itu menetralisir lemak jenuh yang terdapat pada santan dan daging hewan.

Dikutip dari artikel tersebut:

“Hal yang ditakutkan dari masakan Minang itu kan lemak daging yang bercampur dengan lemak kelapa. Kedua lemak itu merupakan lemak jenuh yang jahat. Namun, ketika diramu oleh orang Minang dengan bumbu khasnya, lemak itu bisa dinetralisir dengan zat antioksidan yang terdapat di dalam bumbu itu,” ujar jebolan Monash University, Australia ini.

Makanan tradisional Minang yang dianggap sehat itu adalah masakan yang memakai santan dan mengandung bumbu yang disebutkan di atas. Di antara bumbu tersebut, menurut Indrawaty, yang paling tinggi kandungan antioksidannya adalah jahe, kunyit, dan cabe.

(Sumber: Guru Besar Ilmu Gizi Unand Ungkap Rahasia Sehat Masakan Minang. Artikel lengkapnya saya lampirkan pada bagian bawah apabila Anda kesulitan mengakses situs tersebut.)

Setelah membaca artikel tersebut saya merasa lega, mungkin juga Anda yang sering merasa was-was bila mengkonsumsi masakan padang. Kekhawatiran bahwa masakan padang sebagai sumber kolesterol telah terpatahkan dengan penelitian profesor Unand ini. Meskipun demikian, saya tetap meyakini bahwa penyakit datang apabila kita makan secara berlebihan, tak peduli masakannya memakai santan atau tidak. Makan yang berlebih-lebihan itu adalah sumber penyakit. Di mana-mana yang berlebihan itu tidak baik. Sedikit itu baik, cukup tidak mengapa, sedangkan berlebih-lebihan adalah awal dari mala petaka.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Guru Besar Ilmu Gizi Unand Ungkap Rahasia Sehat Masakan Minang

RANAHBERITA– Masakan tradisional masyarakat Minangkabau selama ini dinilai tidak sehat karena memakai santan dan bumbu yang banyak. Misalnya pada makanan seperti gulai, rendang dan masakan yang mengandung santan lainnya. Diduga menyebabkan sakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke.

Hal itu dibantah oleh penelitian Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, MMedSci, Phd, SpGK, yang baru dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Rabu (20/11/2013).

Dia mengatakan, kalau orang Minang berhenti memakan santan dan malah beralih memakan makanan yang digoreng bisa berakibat fatal. Alasannya, melihat kecenderungan masyarakat saat memasak, semakin banyak santan, maka akan semakin banyak bumbu.

“Bumbu dalam masakan Minang yang memakai santan adalah rahasia sehat dari makanan orang Minang,” kata Indrawaty dalam wawancara dengan ranahberita.com, Senin (26/11/2013).

Bumbu yang dimaksud adalah kunyit, jahe, lengkuas, serai, daun salam, cabe, bawang merah dan putih serta daun-daun lainnya. Bumbu ini dikatakan sehat karena mengandung antioksidan. Antioksidan berfungsi sebagai zat yang menetralisir lemak jenuh pada santan dan hewan.

“Hal yang ditakutkan dari masakan Minang itu kan lemak daging yang bercampur dengan lemak kelapa. Kedua lemak itu merupakan lemak jenuh yang jahat. Namun, ketika diramu oleh orang Minang dengan bumbu khasnya, lemak itu bisa dinetralisir dengan zat antioksidan yang terdapat di dalam bumbu itu,” ujar jebolan Monash University, Australia ini.

Makanan tradisional Minang yang dianggap sehat itu adalah masakan yang memakai santan dan mengandung bumbu yang disebutkan di atas. Di antara bumbu tersebut, menurut Indrawaty, yang paling tinggi kandungan antioksidannya adalah jahe, kunyit, dan cabe.

“Samba lado hijau itu sebenarnya juga baik. Tapi, tak mungkin orang makan cabe itu dalam jumlah banyak, paling sedikit saja. Tapi kalau digulai, kecenderungan orang kalau makan gulai akan menyantap kuahnya lebih banyak. Sehingga bisa menyerap zat antioksidan cabe lebih besar juga,” ujarnya.

Makanan yang berbahaya bagi kesehatan itu, tambah Indrawaty adalah gorengan. Jika masyarakat Minang mengganti santan dengan minyak goreng, tentu orang akan semakin minim memakan bumbu-bumbu di atas. Sehingga, lemak yang terdapat pada minyak goreng itu diserap tanpa ada yang menetralisir.

Sebenarnya, kata Indrawaty, lemak yang terkandung dalam santan jauh lebih sedikit dari minyak goreng. Dibandingkan santan dan minyak goreng dalam jumlah yang sama, misalnya masing-masing dalam satu gelas, maka lemak pada santan hanya 30 persen. Sedangkan lemak minyak goreng itu 100 persen kandungannya.

“Jadi selama ini kita melihat, kebanyak orang Minang tidak percaya diri ketika bicara soal makanan. Karena menganggap makanan khas Minangkabau tidak sehat. Padahal tidak masalah. Itulah hebatnya nenek moyang kita yang telah memikirkannya di zaman yang serba terbatas. Kalau memang tidak sehat, buktinya sampai sekarang kita baik-baik saja,” ujar dosen yang juga pernah menuntut ilmu di Sheffield University, Inggris ini.

Menurutnya, kecemasan masyarakat akan masakan Minangkabau muncul sejak tahun 1950an. Peneliti dari Amerika mendapatkan hasil bahwa penderita sakit jantung karena lemak jenuh. Lemak jenuh yang dimaksud adalah lemak jenuh hewani. “Penelitian mereka terhadap orang yang mengonsumsi lemak jenuh hewani. Orang Amerika tidak ada makan kelapa. Sementara, kadar lemak jenuh kelapa dan hewan itu berbeda,”

Indrawaty meminta, agar masyarakat tetap mengonsumsi masakan tradisional yang mengandung dengan bumbu-bumbu khas. Alasannya, selain aman untuk kesehatan juga merupakan kekayaan budaya.

“Asalkan makannya jangan berlebihan. Apapun makanannya, kalau berlebihan tidak baik bagi kesehatan,” tambah Indrawaty. (Arjuna/Ed1)

Sumber: http://ranahberita.com/news.php?id_news=1876#.Uwyoz_uqNdh

Dipublikasi di Cerita Ranah Minang, Gado-gado, Makanan enak | 20 Komentar

Gema Adzan di Bandara Minangkabau Padang

Jika Anda bepergian dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang, adakah sesuatu yang berbeda yang tidak ditemukan di bandara lain di Indonesia?

Bukan bentuk atapnya yang tradisional khas rumah gadang yang membuatnya berbeda, bukan pula karena satu-satunya bandara yang namanya diambil dari nama etnik, bukan itu maksud saya. Tapi, jika anda seorang muslim, maka Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda itu, yaitu dikumandangkannya suara adzan pertanda waktu sholat wajib. Jika anda berada di bandara ini pada waktu masuk shalat, maka jangan kaget tiba-tiba terdengar suara adzan menggema melalui pengeras suara, menembus semua sudut dan ruang-ruang di bandara, mengingatkan umat muslim bahwa waktu sholat wajib sudah tiba dan segeralah menunaikan shalat. Setahu saya baru adzan Magrib dan Dhuhur yang pernah saya dengar.

Suasana di dalam bandara

Suasana di dalam bandara

Suasana ruang chek-in. Orang-orang yang berdiri di lantai dua pada foto ini adalah mereka yang antri untuk wudhu dan sholat di mushola yang kecil.

Suasana ruang chek-in. Orang-orang yang berdiri di lantai dua pada foto ini adalah mereka yang antri untuk wudhu dan sholat di mushola yang kecil.

Saya tiba di bandara ini beberapa saat sebelum masuk adzan Maghrib. Ketika sedang chek-in, bergemalah suara adzan Maghrib. Terlihat orang-orang menuju mushola kecil di lantai dua. Karena tempat wudhu kecil dan ruang sholat juga kecil, maka sholat harus bergiliran (lihat foto di atas). Bahkan, karena sempitnya mushola, maka terpaksa lorong di sebelah mushola dimanfaatkan sebagai mushola kedua.

Jamaah yang sholat Maghrib di lorong sebelah mushola

Jamaah yang sholat Maghrib di lorong sebelah mushola

Sebagai daerah yang mempunyai filosofi adat basandi syara’ dan syara’ basandi kitabullah (yang artinya adat bersendikan pada syariat agama yaitu Islam, dan syariat agama bersendikan pada kitab suci Al-Quran), maka salah satu pengejawantahan filosofi itu mungkin gema adzan pada ruang publik seperti bandara ini. Meskipun filosofi Minangkabau tersebut saat ini sudah mulai terlihat luntur dan kurang dipegang teguh oleh sebagian masyarakatnya (contohnya kemaksiatan yang banyak terdapat di sepanjang Pantai Padang), tetapi masih ada usaha Pemerintah Daerah untuk tetap melestarikan filosofi tersebut, antara lain gema adzan di bandara BIM ini.

Saya katakan gema adzan di bandara hanya ada di BIM karena di Bandara Iskandar Muda Banda Aceh sendiri saya tidak mendengar suara adzan melalui pengeras suara di bandara tersebut (koreksi jika saya salah). Itu pengalaman saya ketika ke Banda Aceh beberapa tahun lalu, padahal Aceh adalah daerah dengan penerapan Syariat Islam.

Semoga gema adzan di BIM tetap lestari dan dipertahankan oleh pengelola bandara sebagai salah satu ciri khas bandara ini.

Dipublikasi di Cerita Ranah Minang | 6 Komentar