Menikmati Es Krim di Toko “Oen” Malang

Saya sudah beberapa kali berkunjung ke kota Malang, namun ada satu tempat di kota ini yang ingin saya kunjungi namun belum pernah kesampaian, yaitu toko Oen. Toko Oen adalah sebuah restoran yang sudah berdiri sejak tahun 1930. Toko Oen terkenal dengan es krimnya yang khas. Selain es krim, toko Oen juga menjual masakan Indo-Belanda dengan nuansa tempo doeloe seperti nasi goreng, gado-gado, beef steak, dan lain-lain. Dulu saya pernah membaca artikel tentang toko Oen di sebuah harian nasional. Karena tertarik dengan nuansa tempo doeloe yang masih dipertahankan toko ini, maka saya memasang niat jika ke Malang lagi maka saya ingin mencoba es krim di toko Oen.

Akhir tahun yang lalu saya liburan ke kota Malang bersama keluarga. Wisata ke Malang identik dengan mengunjungi kawasan wisata di kota Batu, karena di kota Malang sendiri tidak ada obyek wisata yang menarik untuk anak-anak. Jadi, kita menginap di hotel di kota Malang, tapi jalan-jalannya ke kota Batu. FYI, hotel-hotel di kota Batu jauh lebih mahal daripada hotel di kota Malang, jadi banyak wisatawan memilih menginap di kota Malang saja. Jarak dari Malang ke Batu hanya sekitar 30 menit dan dapat ditempuh dengan taksi argo yang melayani penumpang hingga ke Batu dengan tarif biasa (bukan tarif luar kota). Sangat mudah memanggil taksi di kota Malang. Cukup menelpon dari tempat kita berdiri di pinggir jalan, maka taksi datang dalam waktu 10 hingga 15 menit.

Pada hari terakhir sebelum kembali ke Bandung, kami menyempatkan diri menikmati es krim di toko Oen. Toko Oen terletak di dekat alun-alun kota Malang, tepatnya di Jalan Jendral Basuki Rakhmad 5 Malang. Patokannya adalah sebuah gereja  Katedral. Gereja Katedral adalah gereja tua berarsitekur gothic yang terletak di seberang toko Oen.

Toko Oen, Malang

Toko Oen, Malang

Tokoe Oen tampak dari seberang jalan

Tokoe Oen tampak dari seberang jalan

Gereja Katedral di seberang toko Oen

Gereja Katedral di seberang toko Oen

Memasuki toko Oen kita disambut dengan spanduk ucapan selamat datang di Malang dalam bahasa Belanda. Di bawahnya ada tulisan tahun dibukanya toko ini, yaitu tahun 1930. Nuansa tempo doeloe langsung kita rasakan setelah berada di dalam. Kursi-kursi rotan yang rendah dengan meja bundar dan bertaplak kotak-kotak adalah peninggalan masa lalu yang masih dipertahankan pemilik toko Oen. Tamu-tamu restoran duduk di kursi-kursi rotan ini. Sebagian tamu tampak turis asing yang kemungkinan berasal dari Belanda. Mereka mungkin mengenang nostalgia masa lalu ketika kakek buyutnya pernah berdinas di kota Malang.

Welkom in Malang dan kursi-kursi rotan rendah di dalam toko Oen

Welkom in Malang dan kursi-kursi rotan rendah di dalam toko Oen

Sudut lain di dalam toko Oen

Sudut lain di dalam toko Oen

Seperti yang saya sebutkan tadi, hidangan favorit di toko Oen adalah es krim. Saya memesan menu es krim tutti frutty. Cukup lama juga pesanan saya datang, maklum pengunjung restoran cukup banyak saat itu. Pelayan restoran memakai seragam seperti pakaian kaum pribumi zaman Hindia-belanda, yaitu putih-putih dan berpeci. Saya tidak tertarik dengan hidangan makanannya, sebab selain harganya yang mahal, saya memang tidak niat makan. Saya dengar ada beberapa makanan yang tidak halal di sana karena berbahan bacon (daging babi asap). Saya hanya ingin mencicipi es krimnya saja yang sering disebut orang khas dan enak. Oh iya, harga makanan dan minuman di Toko Oen lumayan mahal, tidak heran pengunjung toko ini kebanyakan dari kalangan menengah ke atas. Sebagai gambaran, satu sendok bulat es krim di dalam gelas seperti pada gambar di bawah harganya Rp35.000, cukup mahal untuk ukuran saya :-).

Es krim tutti frutty.

Es krim tutti frutty.

Sembari menunggu pesanan datang, saya melihat foto-foto lama kota Malang yang dipasang di didinding toko. Ada foto Gereja Katedral tahun 1920-an, foto toko Oen jadul, foto Bung Karno yang mengunjungi kota Malang, foto stasiun kereta api Malang, dan lain-lain. Melihat foto-foto tersebut kita dapat membayangkan suasana kota Malang pada zaman Belanda dulu.

Foto lama di dinding toko.

Foto lama di dinding toko.

Selain di Malang, toko Oen juga terdapat di kota Semarang dan Jakarta. Anda dapat membaca atikel yang lebih lengkap tentang toko Oen pada blog ini. Selamat mencoba es krim di toko Oen.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 22 Komentar

Peta Daerah Asal SMA Mahasiswa ITB Angkatan 2014

Pada acara Dies Natalis ITB ke-56 kemarin, kami diberi Data dan Informasi Mahsiswa ITB Angkatan 2014. Hmmm….menarik juga melihat peta daerah asal SMA mahasiswa baru ITB angkatan 2014. Hampir semua propinsi di tanah air terwakili di ITB, sehingga ITB sebagai kampus nusantara adalah julukan yang layak.

Peta Derah Asal SMA Mahasiswa ITB Angkatan 2014

Peta Derah Asal SMA Mahasiswa ITB Angkatan 2014

Urutan 33 Propinsi daerah asal SMA mahasiswa baru ITB angkatan 2014 adalah sebagai beriku:
1. Jabar, 1104 orang
2. DKI, 728 orang
3. Jatim, 370 orang
4. Jateng, 367 orang
5. Sumut, 212 orang
6. Banten, 179 orang
7. Sumbar, 135 orang
8. Lampung, 54 orang
9. Sumsel, 49 orang
10. Riau, 48 orang
11. DIY, 46 orang
12. Bali, 46 orang
13. Jambi, 28 orang
14. Sulsel, 22 orang
15. Kepri, 20 orang
16. Kalbar, 16 orang
17. Aceh, 15 orang
18. Kaltim, 14 orang
19. Gorontalo, 12 orang
20. Bengkulu, 7 orang
21. NTB, 6 orang
22. Sulteng, 4 orang
23. Bangka dan Belitung, 3 orang
24. Sultra, 3 orang
25. Kalsel, 2 orang
26. Maluku, 2 orang
27. Papua, 2 orang
28. Papua Barat, 2 orang
29. NTT, 1 orang
30. Maluku Utara, 1 orang
31. Sulbar, 1 orang
32. Kalteng, 1 orang
33. Sulut, 1 orang

Distribusi daerah tersebut memang belum merata. Jawa Barat dan DKI adalah propinsi penyumbang terbesar mahasiswa ITB. Untuk luar Jawa, mahasiswa asal Sumatera Utara dan Sumatera Barat adalah dua propinsi yang terbanyak mahasiswanya di ITB. Dari tujuh besar urutan propinsi yang mengirimkan mahasiswa terbanyak, lima diantaranya dari Pulau Jawa. Data ini berbicara banyak hal. Pertama, kita dapat melihat bahwa kantung0kantung daerah dengan kualitas pendidikan yang bagus masih berkutat di Pulau Jawa, sedangkan di luar Jawa adalah Sumut, Sumbar, Bali, Riau, Sumsel, Lampung, dan Sulsel. Namun, itu bukan berarti di daerah luar Jawa tidak ada bibit yang bagus. Sulawesi Utara misalnya, kualitas pendidikan di sana terkenal bagus, tetapi minat siswa SMA untuk kuliah di ITB minim. Mereka mungkin enggan memilih ITB dengan berbagai alasan seperti faktor ekonomi, jarak yang jauh, dan kesan kuliah di ITB itu mahal. Bisa juga karena informasi tentang kampus ITB ini masih relatif kurang sehingga tidak banyak diketahui.

Kedua, dulu zaman saya kuliah mahasiswa asal Jawa (Jateng, DIY, dan Jatim) di ITB jumlahnya lumayan banyak, kalau sekarang agak berkurang. Mungkin karena di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur memiliki perguruan tinggi yang tidak kalah dengan ITB, sehingga calon mahasiswa memilih kuliah di propinsi mereka saja. Selain itu mungkin kesan biaya hidup di Bandung mahal mengurangi minat lulusan SMA kuliah di ITB.

Ke depan saya berharap lebih banyak lagi calon mahasiswa dari luar Jawa kuliah di ITB. Kebhinnekaan mahasiswa di ITB adalah aset yang berharga, sehingga nanti kalau anda ingin melihat Indonesia mini, maka datanglah ke ITB.

Dipublikasi di Seputar ITB | 22 Komentar

Tahu Susu dari Lembang

Oleh-oleh dari Lembang, Bandung, tidak hanya ulen (ketan bakar) atau komoditas sayuran, tetapi saat ini yang dicari wisatawan di sana juga oleh-oleh tahu susu. Entah sejak kapan dimulai produksi tahu susu di Lembang, saya juga kurang tahu. Namun yang jelas, tahu susu bukan hal yang aneh di Lembang, sebab Lembang adalah gudangnya peternakan sapi perah. Produksi susu yang berlimpah di sana mengilhami produsen tahu untuk membuat jenis tahu yang tidak biasa.

Nah, apa jadinya jika dalam proses pembuatan tahu dicampur dengan susu? Tentulah diperoleh tahu yang lembut, gurih, dan bergizi. Di pasar-pasar tradisionil di kota Bandung kadang-kadang ada pedagang yang menjual tahu susu dari Lembang itu. Saya membeli tahu susu produksi Lembang di pasar tradisionil di dekat perumahan di Antapani. Saya membeli sebungkus tahu susu berisi 10 tahu, harganya hanya Rp7000. Lumayan murah.

Tahu susu dari Lembang

Tahu susu dari Lembang

Di kota Bandung sendiri juga terdapat kawasan penghasil tahu yang terkenal, yaitu daerah Cibuntu (dikenal dengan tahu cibuntu). Produsen tahu di Cibuntu pun ikut-ikutan memproduksi tahu susu. Selain tahu susu mereka juga memproduksi tahu keju dan tahu sutra. Soal kreativitas orang Bandung memang tidak ada habis-habisnya. Namun setelah saya mencoba tahu susu dari Cibuntu, menurut saya tetap lebih enak tahu susu dari Lembang. Yang enak-enak itu memang kalau berasal dari tempat aslinya.

Tahu susu ini lebih nikmat jika dimakan dalam keadaan panas, dan tentu saja pakai sambal cabe rawit yang membuat mulut hah huh hah huh…

Yuk, sarapan pagi dulu. Bismillah.

Dipublikasi di Makanan enak | 8 Komentar

Etika Menulis Surat Anak Muda Zaman Sekarang

Kesantunan berkomunikasi tampaknya sudah mulai pudar pada anak-anak muda zaman sekarang. Berkomunikasi melalui surat ada etika atau tata kramanya. Bahasa tulisan sama pentingnya dengan bahasa lisan, di dalamnya kita seharusnya mengedepankan sopan santun dalam menulis pesan atau surat kepada orang lain. Pemilihan kata dan kalimat di dalam surat dapat menunjukkan kualitas adab seseorang.

Suatu hari saya menerima pesan yang dikirim melalui messenger dari seorang mahasiswa luar kampus yang tidak saya kenal. Ia meminta bahan suatu modul algoritma (mungkin karena terkait dengan mata kuliah yang saya ajar). Di akhir pesan dia menulis begini, “Saya minta tolong kirim ke email saya, Pak. Terima kasih.“, tulisnya.

Wah, bahasanya itu lho, bernada memerintah. Sudahlah saya tidak kenal, lalu memerintahkan saya untuk mengirimkan file modul tersebut ke alamat surelnya. Hei, who are you, guy? I don’t know you but you ask me to send a file to your email address. Tidakkah bisa menuliskannya dengan bahasa yang lebih sopan sebagai berikut: “Mohon maaf, Pak. Jika bapak berkenan, saya membutuhkan bahan algoritma yang ada pada Bapak… dst. Jika tidak keberatan, dapatkah Bapak mengirimkannya kepada saya via email? Berikut email saya…… Mohon maaf bila telah merepotkan dan terima kasih banyak atas bantuannya”. Nah, kalau begini kan lebih sopan daripada pesan pertama, bukan? Surat-surat dengan bahasa memerintah seperti itu sudah sering saya terima, meskipun agak kurang sopan bahasanya namun tetap saya layani juga (sambil mengeluh prihatin dengan bahasa tulisannya).

Rekan saya di kampus pernah menerima surel dari mahasiswa walinya. Mahasiswa tersebut mengalami kehilangan dokumen penting, lalu dia bertanya kepada dosen walinya dengan menyebut kata “Anda” sebagai berikut: “Saya bernama …… dengan NIM …. Anda adalah dosen wali saya. Saya mengalami suatu masalah ….dst…dst.”

Waw, kepada gurunya (dosen) mahasiswa memanggil dengan kata “Anda”? Kalau dalam Bahasa Inggris semua kata yang menunjuk kepada kamu, Anda, kau, dan sebagainya hanya satu kata saja yaitu you. Kamu memanggil ayahmu dengan kata you, gurumu dengan kata you, itu wajar-wajar saja. Tetapi, dalam Bahasa Indonesia kata “Anda” tidaklah pantas disematkan kepada orang yang kita hormati, yaitu orangtua kitya sendiri maupun guru-guru kita. Kita dapat memanggilnya dengan kata Bapak atau Ibu, dan bukan “Anda”.

Masih tentang etika menulis, rekan saya mengeluhkan surel mahasiswanya yang memberikan pilihan waktu untuk bertemu. Begini bunyi surel tersebut: Äpakah ibu memiliki waktu kosong diantara:
– hari ini
– besok sebelum jam 10 pagi
– besok jam 12-14 siang?

Waduh, tepok jidat. Mahasiswa tersebut yang memiliki keperluan dengan dosennya, tetapi dia pula yang menentukan pilihan waktu untuk bertemu, seperti menjawab soal pilihan berganda saja.

Dan yang ini lebih parah lagi: “Saya akan datang ke meja ibu pukul xxx, tolong ibu ada di tempat“. Hah? Kebangetan, bukan?

Beginilah jadinya jika pendidikan etika diabaikan. Anak-anak muda kita sangat perlu dididik tentang etika menulis surat, termasuk etika berinternet. Setinggi apapun ilmu yang dimiliki seseorang, tidak ada artinya jika mengabaikan etika. Ingatlah bahwa di atas ilmu pengetahuan itu ada etika. Dahulukan adab sebelum ilmu, demikian kata para ulama.

Dipublikasi di Pendidikan | 9 Komentar

Jangan Kau Bunuh Anakmu!

Beberapa hari ini saya masih shock membaca berita tentang kasus pembunuhan yang dilakukan seorang ayah kepada anak kandungnya sendiri. Hanya karena masalah rebutan baju dengan kakaknya, Deni tega memukul anaknya, Kasih Ramadhani (7 tahun) dengan menggunakan bambu berkali-kali ke kepala dan badan anaknya. Coba kamu baca, sesudah selesai dipukul hingga berdarah-darah, Kasih masih sempat meminta maaf kepada pembunuhnya, yang tidak lain ayahnya sendiri.

Kasih Ramadani (7), berjalan sempoyongan mengambil air untuk membersihkan darah yang mengalir di wajahnya, di rumah Eko Hendro (40) di Dusun Buwek, Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Sabtu (21/2). Lalu, ia berjalan menghampiri ayahnya, Deni (30) yang telah memukulnya hingga berdarah untuk meminta maaf.

“Anak saya sempat cuci muka, lalu meminta maaf ke saya. Setelah itu dia roboh. Saya sangat menyesal,” kata Deni ayah Kasih yang membunuh anaknya sendiri saat dimintai keterangan polisi, Ahad (22/2).

Usai meminta maaf, Kasih masih sempat meneguk air putih dan kemudian roboh. Napasnya tersengal-sengal. Darah terus mengalir dari kepalanya. Ayahnya panik lalu membopong Kasih ke gubuk yang ada di kebun samping rumah Hendro. Ayahnya mengikatkan baju di kepala Kasih untuk membendung darah agar tidak terus mengalir. Tapi nyawa Kasih tetap tidak tertolong. (Sumber: Sebelum Meninggal, Kasih Minta Maaf pada Pembunuhnya)

Berita selengkapnya dapat dibaca di sini: Rebutan Baju dengan Kakak, Anak 7 Tahun Tewas Setelah Dipukuli Ayahnya

Hiks…hiks…hiks, saya menangis membacanya, terbayang jeritan pilu dan raungan Kasih karena dipukul bertubi-tubi oleh ayahnya yang kalap. Bayangkan anak yang masih kecil (berusia tujuh tahun), yang masih membutuhkan kasih sayang ayahnya, yang masih minta digendong atau dipangku, yang masih suka bermanja-manja, sekarang dihabisi nyawanya oleh ayah kandungnya sendiri. What a humanity?

Anak-anak nakal itu kan biasa, sirik-sirikan dengan saudara kandungnya juga biasa, bertengkar dengan adik karena rebutan mainan, makanan, atau pakaian adalah hal yang lumrah. Tetapi, orangtua yang marah besar kepada anak-anaknya sehingga sampai tega melakukan kekerasan fisik nakal sampai anak tersebut mati, maka kejahatan yang dilakukan oleh orangtua tidak sebanding dengan kenakalan anak-anaknya. Menyesali diri setelah anak kandung yang sejak kecil diberi makan dan dibesarkan dengan susah payah itu mati sudah tiada gunanya lagi. Nasi sudah menjadi bubur.

Orangtua boleh stres karena banyak masalah, tetapi otak harus tetap jalan dan tetap sadar, logika dikedepankan, hati jangan selalu dikuasai oleh nafsu amarah karena setan ada di belakangnya. Semarah apapun kondisinya, seseorang harus dapat membedakan mana perbuatan yang melampaui batas. Punya masalah dengan orang lain atau dengan pasangan jangan sampai anak sendiri yang menjadi pelampiasan kemarahan.

Saya teringat dengan anak saya yang juga sepantaran Kasih. Meskipun saya kadang-kadang jengkel dengan ulah anak, tetapi saya selalu menahan diri untuk tidak marah secara berlebihan. Malahan saya seringkali menyesal setelah memarahi anak sampai-sampai saya sendiri tidak tenang bekerja di kantor. Sore hari ketika saya pulang ke rumah, saya ciumi anak saya sebagai tanda menyesal karena memarahi dia dengan berlebihan.

Nah, ini ada orang yang memarahi anaknya sampai setega itu hingga menghabisinya. Where is humanity?

Selamat jalan Kasih, semoga kamu mendapat baju yang lebih baik di Taman Surga.

Dipublikasi di Renunganku | 8 Komentar

Thawaf dan Tarian Alam Semesta

Ini kenanganku ketika melaksanakan ibadah umrah bulan lalu. Masih terbayang-bayang di depan mata saat-saat aku thawaf di depan ka’bah di Masjidil Haram. Diri ini terasa begitu kecil di hadapan-Nya.

Aku berdiri di lantai dua bangunan temporary ring dan memandang ke bawah. Ratusan ribu jamaah berjalan mengitari ka’bah sejumlah tujuh putaran dalam prosesi ibadah thawaf. Tidak hanya di lantai dasar, tetapi juga di temporary ring dua lantai yang dibangun selama proses renovasi besar-besaran Masjidil Haram. Semua bergerak serempak dalam arah berlawanan dengan jarum jam, sambil melafalkan doa, bertasbih, menyebut Nama Allah Yang Maha Besar dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad yang dicintai jutaan muslim sedunia.

Saat aku melakukan sendiri thawaf di depan ka’bah bersama-sama ribuan jamaah lain, bulu kudukku merinding dan hati bergetar ketika berada di dalam pusaran yang berputar itu. Kau pun akan merasakan hal yang sama jika mengalaminya sendiri. Klik foto di bawah ini untuk melihat lebih jelas.

Jamaah thawaf mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram.

Jamaah thawaf mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram.

Tahukah kamu, sesungguhnya gerakan mengelilingi ka’bah tersebut adalah metafora dari gerakan alam semesta yang dinamakan “tarian alam semesta”. Alam pun berthawaf dengan caranya sendiri. Planet-planet berputar mengelilingi matahari, elektron-elektron berputar mengelilingi inti atom, mitokondria di dalam sel makhluk hidup berputar mengelilingi inti sel, dsb. Sambil berputar sesungguhya alam ini bertasbih memuji Penciptanya.

Tarian alam semesta itu menghasilkan harmoni atau keseimbangan alam. Andai jika gerakan alam tersebut berhenti, niscaya hancurlah alam semesta ini. Apa jadinya jika bumi berhenti berputar, elektron berhenti mengelilingi inti atom? Maka binasalah alam ini. Allah menyuruh ummat-Nya berthawaf untuk merenungkan alam semesta yang luas maha luas ini.

Aku berada di dalam gelombang pusaran manusia yang berputar itu. Terombang-ambing sendiri. Kadang terombang ke kiri, kadang terambing ke kanan saking padatnya jamaah. Aku bagaikan setitik kecil di antara lautan manusia itu.

Maha Suci Allah yang menyuruh manusia belajar dari alam semesta yang diciptakan-Nya.

Dipublikasi di Renunganku | 1 Komentar

Saus Tomat dan Sambal itu Ternyata Tidak Pakai Tomat dan Cabai Sama Sekali

Akhir bulan Januari yang lalu kepolisian Bandung menggerebek sebuah pabrik saus tomat dan sambal di kawasan Caringin Bandung. Saus tomat dan sambal yang diproduksi oleh pabrik tersebut mengandung zat kimia yang berbahaya. Bahkan yang mengejutkan, saus tomat dan sambal yang dihasilkan sama sekali tidak menggunakan bahan baku tomat dan cabai sama sekali. Seperti dikutip dari berita ini:

“Sambal dan saus ini bahannya dari ampas tapioka (onggok) 27 kilogram, ekstrak bawang putih 3-4 kilogram, ekstrak cabai leoserin capsikum 0,5 ons, saksrin 50 gram, garam 4 kilogram, cuka 200 gram, pewarna sunset 1 ons, perwarna jenis poncau satu sendok, potasium fospat 50 gram, dan bibit cairan tomat 0,5 ons,” sebutnya.

Jadi saus dan sambal ini, lanjut dia, tidak pakai cabai atau tomat sama sekali. Tapi pakai esens rasa tomat dan cairan kimia ekstrak cabai. Cara pembuatan saus dan sambal tersebut yakni dengan mencampur semua bahan dalam satu drum kemudian dilaruti air panas sebanyak 30 liter. Kemudian setelah itu diaduk.

“Setelah jadi, saus atau sambal tersebut kemudian dikemas dalam bungkus plastik yang sudah diberikan label dan cap serta ada tulisan bahan komposisi yang tidak sesuai dengan sebenarnya,” katanya.

Dia menjelaskan, saus dan sambal itu dipasarkan ke pasar-pasar tradisional di Kota Bandung dan di seluruh Jawa Barat. Pabrik ini sudah beroperasi selama 14 tahun. Dalam sehari, pabrik rumahan tersebut bisa membuat sambal dan saus palsu hingga 200 ton dengan keuntungan mencapai Rp 100 juta per harinya.

POLISI memeriksa bahan baku saat melakukan penggerebekan pabrik saus sambal di Jln. Cicukang, Kelurahan Caringin, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, Senin (26/1/2015).  Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/313681

POLISI memeriksa bahan baku saat melakukan penggerebekan pabrik saus sambal di Jln. Cicukang, Kelurahan Caringin, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, Senin (26/1/2015). Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/313681

Berita lainnya dapat dibaca di sini dan di sini.

Mengerikan, bukan? Saus semacam inilah yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat bawah karena harganya murah. Para pedagang kaki lima yang menjual bakso, mie ayam, cuanki, capcai, mie goreng, dan lain-lain adalah konsumen utama saus tomat dan sambal yang berbahaya itu. Di pasar-pasar tradisionil mudah ditemukan kedai yang menjual saus dan sambal isi ulang dalam kemasan plastik berkapasitas 1 kg. Pedagang kaki lima yang membelinya lalu memindahkannya ke dalam botol. Warnanya yang merah meriah menggoda konsumen untuk mencampurkannya ke dalam bakso atau mie ayam.

Dikonsumsi satu kali atau dua kali mungkin tidak terlihat efeknya, tetapi jika dikonsumsi dalam frekuensi yang sering dan dalam waktu yang lama, maka efeknya tentu sangat berbahaya bagi tubuh. Salah satu penyakit yang mungkin timbul dari konsumsi zat kimia berbahaya adalah kanker.

Saos-TomatSejak dulu saya selalu menghindari memakai saus tomat dan sambal dari pedagang bakso atau mie ayam kaki lima. Saya tidak percaya itu saus tomat asli atau sambal asli. Sudah lama saya tahu bahwa bahan baku utamanya adalah tepung singkong/tapioka. Mungkin saja ada pabrik yang menggunakan tomat dan cabai beneran, tetapi proporsinya tentu sangat kecil. Rasa tomat dan rasa pedas lebih banyak diperoleh dari penggunaan essens (perasa buatan). Tapi ini masih mendingan daripada pabrik di atas yang sama sekali tidak menggunakan tomat dan sambal, semuanya dalam bentuk ekstrak dan essens, sudah itu lalu ditambah lagi dengan bahan kimia berbahaya.

Kalau saya membeli bakso atau mie ayam dari pedagang kaki lima, biasanya saus dan sambalnya tidak saya pakai. Jika saya membelinya untuk dibawa pulang, maka setiba di rumah saya memakai saus tomat dan sambal botol dari merek yang sudah dikenal di pasaran.

Pengusaha yang memproduksi saus tomat dan sambal palsu mungkin hanya memikirkan untung besar saja, mereka tidak memikirkan (atau tidak peduli) bahaya penggunaan zat kimia yang berbahaya bagi tubuh. Di sisi lain masyarakat kita tidak aware dengan dampak buruk makanan yang mengandung zat kimia berbahaya. Mereka hanya mementingkan harga murah semata. Sudah saatnya masyarakat kita diedukasi untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan tidak mengandung zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 162 Komentar