Merindukan Ustad yang Santun dan Tawadhu

Zaman sekarang gampang saja bagi masyarakat dan media menggelari orang yang sedikit pandai berceramah agama dengan sebutan ustad. Dengan modal hafal satu dua ayat atau hadis, lalu berbicara banyak hal sambil sekali-kali mengutip satu dua ayat supaya ceramahnya terkesan berisi, maka dia dijuluki ustad. Apalagi kalau dia punya wajah dan paras lumayan, maka sang ustad didaulat menjadi pengisi ceramah agama di TV. Dalam waktu tidak perlu lama, ustad pun menjelma menjadi ustad seleb dan menjadi idola kaum wanita khususnya ibu-ibu. Kehidupan pribadi ustad-ustad itu, termasuk kisah asmaranya dengan sejumlah wanita, masuk hingga ke kamar-kamar kita melalui media televisi.

Inilah fenomena yang kita saksikan saat ini. Ustad seleb yang sebenarnya minim pengetahuan agama telah “mengalahkan” “ustad-ustad kampung” yang ilmunya lebih mumpuni. Ustad-ustad kampung ini mungkin wajahnya tidak tampan, hidupnya mungkin pas-pasan, tetapi mereka menjalani tugas sebagai dai dengan ikhlas. Tidak terbersit dalam benak mereka menjadikan sebutan ustad sebagai profesi untuk mencari uang. Menjadi penceramah hanyalah pekerjaan sampingan, pekerjaan utama mereka mungkin guru agama, guru mengaji, pedagang buku pinggir jalan, atau petani.

Tetapi bagi para ustad seleb, menjadi ustad adalah profesi yang menggiurkan. Mereka memasang tarif tinggi untuk ceramahnya. Mereka juga mempunyai manager yang mengatur jadwal ceramah termasuk menetapkan tarif. Celakanya, masyarakat kita merasa bangga jika mampu mendatangkan ustad mahal. Semakin mahal sang ustad dan semakin mampu mendatangkannya, semakin banggalah pengundangnya.

Saya pernah menyimak ceramah agama beberapa ustad seleb tersebut di televisi. Menurut saya isi ceramahnya terkesan dangkal. Kebanyakan berisi hal-hal yang bersifat normatif, bersifat umum atau berisikan kalimat-kalimat motivasi. Misalnya imbauan agar kita harus selalu berbuat baik, tidak boleh iri, saling menolong, dan sebagainya. Hanya karena ada taburan satu dua ayat suci dan hadis Nabi yang difasih-fasihkan, maka ceramah yang dibawakannya disebut ceramah agama. Jengah dibuatnya.

Jika ustad sudah memasang tarif dalam berceramah, maka yang kita saksikan adalah bisnis. Agama dibisniskan untuk memperkaya diri. Kita menjadi masygul melihat ada ustad yang pamer mobil Ferrari ketika mengunjungi masyarakat untuk berbagi. Kita juga muak mendengar ada ustad yang memasang tarif tinggi plus disediakan hotel berbintang lima ketika diundang berceramah di luar negeri. Bukannya ustad tidak boleh menerima honor berceramah, tetapi ketika ia menetapkan tarif, apalagi tarif yang wah, maka tidak ada bedanya dia dengan artis yang memasang tarif.

Masyarakat kita terlalu terpesona pada tampilan luar. Mereka mengagumi ustad dari ukuran sorbannya yang besar, berbaju gamis, dan tasbih yang tidak lepas dalam genggaman. Maka, ketika ustad semacam itu men-smack-down orang lain saat berceramah, apakah masih pantas dia disebut ustad?

Tiba-tiba saja saya rindu pada ustad-ustad di kampung yang sederhana, yang selalu rendah hati, dan bersikap santun. Mereka rela jauh-jauh mengunjungi jamaahnya untuk menerangi mereka dengan ilmu agama. Mereka rela dibayar seadanya, bahkan tidak ada sama sekali. Mereka jebolan pesanten, sekolah thawalib, atau sekolah agama lainnya. Penampilan boleh sederhana, tetapi ilmu mereka sangat dalam dan ceramah agama mereka bernas.

Dipublikasi di Indonesiaku | 8 Komentar

Sarapan Gratis Buat Mahasiswa dari Koperasi ITB

Minggu lalu Koperasi Keluarga Pegawai (KKP)-ITB membuat gebrakan yang membuat seisi kampus heboh, yaitu paket sarapan pagi gratis untuk mahasiswa dan karyawan. Paket sarapan gratis itu pada tahap pertama berlangsung setiap hari Selasa, Rabu, dan Jumat. Setiap hari disediakan 250 pack paket sarapan. Menu yang disediakan bervariasi setiap hari, hari Selasa nasi uduk, hari Rabu nasi kuning, dan hari Jumat nasi goreng. Paket sarapan gratis itu dibagikan di dekat jajaran ATM di pintu gerbang kampus. Cukup dengan memperlihatkan KTM mereka mendapat paket sarapan.

Sarapan gratis ini disambut meriah oleh mahasiswa, khususnya mahasiswa kosan. Sebelum menuju ke ruang kuliah mereka mampir dulu di koridor gerbang untuk mengambil paket sarapan, makan, lalu siap kuliah pagi. Sehat dan yang paling penting gratis:-).

Berikut penampakan foto-foto paket sarapan gratis yang dikirim oleh seorang dosen ITB, Pak Andi Oetomo.

Ibu-ibu KKP siap membagikan paket sarapan gratis (Photo by Andi Oetomo, dosen ITB)

Ibu-ibu KKP siap membagikan paket sarapan gratis (Photo by Andi Oetomo, dosen ITB)

Paket nasi goreng (Photo by Andi Oetomo, dosen ITB)

Paket nasi goreng (Photo by Andi Oetomo, dosen ITB)

Pertanyaannya, bagaimana KKP bisa memberikan paket sarapan gratis? Dari mana dananya? Apakah mereka tidak rugi? Dikutip dari rekan kolega saya, Pak Nana Syambas (Ketua KKP-ITB), ini penjelasannya:

“Inilah salah satu bentuk “perniagaan yang tak pernah rugi”. Secara matematika (hal ini) mungkin tidak akan masuk akal. Biaya (sarapan gratis) disisihkan dari sebagian keuntungan divisi Pujasera dan tidak tertutup kemungkinan para donatur.”

Andai saja banyak pelaku usaha yang menyisihkan sebagian keuntungannya untuk kegiatan sosial seperti yang dilakukan KKP-ITB ini, kita mungkin tidak akan mendengar lagi ada warga masyarakat kita yang kekurangan biaya untuk makan, untuk biaya sekolah, dan lain-lain. Sharing is caring, hidup itu indah jika kita bisa berbagi.

Dipublikasi di Seputar ITB | 7 Komentar

Layanan “Excellent” dari Maskapai Asing

Seorang teman mengirimkan tulisan seseorang bernama Mardigu Wowiek dari Facebook. Tulisan tersebut berkisah pengalaman Mardigu mendapatkan layanan yang luar biasa dari Singapore Airlines (SQ) hanya gara-gara ketumpahan sedikit air teh hangat ke jasnya.

Mari kita baca tulisannya di bawah ini, setelah itu saya akan bercerita tentang layanan pramugari di maskapai kita.

~~~~~~~~~~~~

“Kedipan Mata Pramugari SQ”
Oleh: Mardigu Wowiek

Dalam sebuah perjalanan panjang beberapa tahun yang lalu. Saya kelelahan teramat sangat. Duduk di bangku pesawat senyaman apapun kalau lama pegel juga. Di tengah pekerjaan menumpuk, ditengah kelelahan perjalanan panjang tersebut, ada cerita menarik yang saya dapat dipesawat SQ yang saya naiki waktu itu.

Karena mendapat fasilitas dari klien maka saya mendapat tiket business class untuk penerbangan menggunakan Singapore Airline. Perjalanan Bangkok- Singapore menjadi sangat nyaman. Ruang lapang di business class Boing terbaru, makanan yang tak pernah berhenti belum lagi pelayanan lainnya. Namun karena deadline pekerjaan harus selesai. Laptop di meja belakang kursi pesawat tersebut tak pernah berhenti dipergunakan.

Tanpa terasa mata saya perih dan mengantuk. saya lelah sekali. Saya pun terlelap.

“aduh!”,Tiba-tiba saya terbangun karena ada siraman air kebaju saya. saat itu saya mengenakan jas overcoat karena dingin.

“Please forgive me sir..I’ m so sorry!”,seorang pramugari SQ tertunduk-tunduk sambil sibuk menyeka pakaian saya yang tersiram air. Teh hangat. Tepat di dekat pundak kiri.

Karena kaget, saya tak banyak bicara. Tangan saya pun sibuk menyeka tumpahan tersebut. terlihat pramugari tersebut sangat panik. “I’m sorry sir, my mistake..please apologize..”, katanya berulang ulang dan bolak balik dari pantry ke tempat saya duduk.

Setelah saya lihat-lihat kondisi jas tersebut, Saya merasa tidak masalah karena setelah saya perhatikan tak ada bercak pada coat tersebut. Saya pun memilih tidak mempermasalahkan. Lelah tubuh masih mendominasi badan saya jadi saya memilih melanjutkan tidur istirahat saya. Tak lama pramugari itu muncul lagi. Membawa teh hangat. Sambil berkata,” do you want something to drink? Or is there anything you need sir? “

Saya yang lelah memilih sesuatu yang cepat yaitu meng iya kana pa yang di bawa di baki nya tersebut, “tea should be find…”kata saya separoh tidur. Saya letakkan teh panas tersebut di meja depan, lalu bersiap merebahkan kepala kesamping untuk bisa tidur. Wajah pramugari tersebut masih gusar, saya menyadarinya walau sekilas melihat dari sudut mata yang mengantuk tersebut. Dia pasti merasa bersalah terbaca benar dari gerakan tersebut. Dan menurut saya, karena saya sudah tidak mempermasalahkan singkatnya saya mau istirahat sekarang.

Ternyata tak lama setelah gerakan galaunya dia ke dalam, muncullah seorang pramugari menghampiri tempat duduk saya. Ah..dia pramugari senior. Terlihat ada pin dibawah namanya, “Chatrine Tan” lalu dia berkata, . “Sir..?!”,dengan nada sopan..”we made terible mistake, our staff spilll over tea to your lovely coat. Please accept our apology”.

Saya tersenyum. “No problem..it’s nothing..”kata saya..”it didn’t make any stain at all on it though”.

“Well sir, we hope you could accept this..this is a voucher for loundry. You could do anywhere in the world on SQ expenses. Please accept it..”,dia membungkuk sambil memberikan amplop berlogo voucher laundry dari sebuah perusahaan laundry kenamaan. Saya bisa mencuci dimanapun dengan biaya di tanggung SQ.

“Waduh baik amat”, kata saya dalam hati. Selembar voucher dalam amplop dia serahkan dengan santun dan senyum. Badannya membungkuk dan memberi salam khas SQ, tangan dikatupkan didepan muka sambil setengah mengangguk dan bergerak melangkah mundur.

”Well thank you..”,saya menjawab

“Enjoy your rest sir”..katanya lagi mempersilahkan saya melanjutkan istirahat saya.

Saya tidak tahu berapa lama saya terlelap, seketika mendengar pengumuman di load speaker yang menyatakan pesawat akan mendarat. saya pun segera bersiap-siap. 10 menit kemudian, kapal mendarat, taxing beberapa saat kemudian terdengar announcement door may be open, pintu sudah boleh di buka.

Saya pun berkemas berdiri. Tanpa tahu dari mana kehadirnanya sang pramugari senior tadi, mrs Tan, sudah muncul di depan saya dan berkata..”Sir..could you please walk this way”. Dia menunjuk kesebuah arah jalan dengan santun.

Seperti domba di giring gembala saya mengikuti gerakan tangan dan ajakan tersebut. Saat itu saya merasa heran mengapa semua orang berhenti berjalan dan membuka jalan buat saya. Saya melewati beberapa orang yang duduk di depan saya . Hingga sampai ke dekat pintu kokpit dan pintu keluar paling depan dimana seakan seluruh pramugari berbaris kiri kanan saya.

Arahan jalan tersebut mengarah kesatu tujuan, dimana saya melihat tepat lurus dihadapan saya berdiri tegap seorang pria berwibawa berusia 50 tahunan dengan pakaian seragam biru tua jas baju putih didalamnya dengan lengkap tanda kepangkatan. Topi, jas, dengan 4 garis kuning di ujung lengan jas nya. Tangannya menjulur ke arahku.pastinya dia kapten pesawat ini. itu perkataan saya dalam hati.

“Mr Mardigu, i m Henry Chow, i m captain pilot of this plane, on behalf of my crew, my plane and my organization Singapore Airline please accept our deepest apology on what just happen to you”. Kalimat setelahnya saya lupa namun rasanya seperti seseorang yang sedang mendapatkan sebuah award. Atau kalau saya membayangkan jangan-jangan mendapatkan piala Oscar begini nih rasanya, agak ge er.

Wah..saya merasa melayang. Mendapat permohonan maaf secara formal dan santun begini. Gila…menurut saya, peristiwa tumpahnya sedikit teh adalah hal kecil yang terjadi namun mengapa sampai kaptennya turun tangan?!

Apapun itu, peristiwa permohonan maaf seperti ini bagi saya itu adalah sebuah service kepada pelanggan yang luar biasa. Bagi pelanggan seperti saya hal itu adalah sebuah penghargaan dan penghormatan yang luar biasa. Dalam hati saya berkali kali mengatakan, salut SQ.

dia pun melanjutkan perkataannya ,“Here are two ticket SQ with your name on it from singapore to jakarta roung trip valid for 1 year. Just to show you how sorry we are , please accept it,” katanya sambil membungkuk,

Wah..saya tergagap tidak bisa ngomong. Gerakan saya asli kikuk. Sambil mengambil tiket tersebut menjabat tangannya erat-erat dan mata saya kesana kemari mencari pegangan, tanda saya overwhelm.

Tanpa sengaja mata saya menatap mata pramugari yang menjatuhkan air teh tadi. mata ketemu mata tersebut membuat saya menangkap sebuah arti dari gerak mata dan gerak wajahnya. Karena aslim saya melihat pancaran tulus dimatanya. Dua telapak tangannya menutup didepan wajahnya memberi hormat. Kemudian dia mengedipkan mata kirinya sambil wajahnya dimiringkan ke kiri sedkit mengangguk dan memberi senyum dalam. saya mengangkap pesan itu. Kira-kira, ambillah..dan maafkan saya ya..

Tak terasa saya menetes air mata, dalam hati, saya ikhlas kok, gak marah, dan gak masalah. Eh diperlakukan seperti raja begini, jadi malu tapi tersanjung. Salut buat SQ, salut buat pramugari yang asaya lupa namanya, chief pramugari mrs Tan, dan kapten Henry Chow. All the best for SQ.Salut !# may peace be upon us

~~~~~~~~~~~~~~

Pengalaman terbang yang luar biasa bagi Mardigu karena mendapatkan layanan terhormat bagai raja. Apakah karena dia penumpang bussines class sehingga mendapat layanan excellent seperti itu? Kalau dia penumpang kelas ekonomi apakah akan mengalami perlakuan yang sama? Hmmm…well, terlepas dari kelas di dalam pesawwat, saya memang pernah mendengar SQ sering mendapat award karena pelayanannya yang memuaskan di atas pesawat.

Saya baru dua kali naik pesawat maskapai asing, pertama dengan Korean Air ketika ada tugas ke Seoul pada akhir tahun 2012, dan kedua dengan Thai Airways ketika pergi ke Bangkok pada Agustus 2013 yang lalu. Keduanya menurut saya memiliki pelayanan di udara yang ramah dan memuaskan. Khusus Korean Air layanan pramugarinya lebih mengesankan saya, mereka tidak henti-hentinya hilir mudik membawa makanan dari awal penerbangan hingga akhir penerbangan. Maklum ini penerbangan panjang selama enam jam, maka layanan dan senyum ramah yang hangat membuat perjalanan panjang itu menjadi ringan.

Di Indonesia hanya maskapai Garuda Indonesia yang memiliki pelayanan yang memuaskan di atas pesawat. Maskapai lain memang tidak bisa dibandingkan dengan Garuda karena hampir seluruhnya low cost carrier, jadi tidak ada layanan makanan dan bacaan di dalam pesawat. Namun, penumpang kan tidak mencari makanan ketika naik pesawat, tetapi layanan ramah pramugari dari pramugari sudah lebih dari cukup.

Maskapai swasta yang umumnya low cost carrier itu tentu sudah mendidik pramugarinya dengan standard tertentu ketika melayani penumpang, namun tetap saja kita bisa melihat kadang-kadang sikap pramugari membuat penumpang kesal. Misalnya ada pramugari yang berkata keras menegur penumpang yang tidak membuka jendela ketika pesawat akan landing atau take off. Omong baik-baik kek kenapa, mungkin penumpang tersebut baru pertama naik pesawat sehingga dia tidak tahu. Itu baru satu contoh, masih banyak beberapa perilaku lainnya yang tidak mereka sadari telah melukai hati penumpang.

Yah begitulah, kalau membandingkan dengan kasus di SQ di atas mungkin masih sangat jauh bisa terwujud pada maskapai di tanah air.

Dipublikasi di Gado-gado | 6 Komentar

Stereotip Orang Indonesia Menurut Orang Asing

Seperti apa stereotip orang Indonesia menurut orang asing dapat kita baca dari sebuah artikel berjudul 55 National Stereotypes that will Ruin or Make your Day.

Penulisnya mendefinisikan stereotip suatu bangsa sebagai berikut: National Stereotype is a system of culture-specific beliefs connected with the nationality of a person. This system includes beliefs concerning those properties of human beings that may vary across nations, such as appearance, language, food, habits, psychological traits, attitudes, values etc, yang jika diartikan secara bebas adalah Stereotip Nasional adalah sistem keyakinan khusus tentang budaya yang dihubungkan dengan kewarganegaraan seseorang. Sistem ini mencakup keyakinan tentang sifat-sifat manusia yang mungkin berbeda-beda di negara-negara, seperti penampilan, bahasa, makanan, kebiasaan, sifat-sifat psikologis, sikap, nilai dll.

Terlepas dari apakah penulisnya benar atau salah, setidaknya ada beberapa stereotip yang mungkin bersesuaian dengan sifat bangsa kita. Berikut stereotip orang Indonesia yang saya kutip dari tulisan di atas:

Indonesians – fearful; neurotic; extroverted; conscientious; warm and
friendly people; lazy; live for today – who cares about tomorrow; no
planners; religious; family-oriented; supportive; invented the
rubber-time/rarely on time; corrupt; superstitious; slow; inferior;
polite; lacking discipline; use feeling not logic; do not follow rules;
hypocritical; resistant to change; tolerant; low profile; unwilling to
confront or give ‘bad news’; silent in meetings; can’t swim

yang artinya:

Orang Indonesia – takut; neurotik; ekstrovert; teliti; hangat dan
orang yang ramah; malas; hidup untuk hari ini – yang peduli hari esok; tidak ada
perencana; agamis; berorientasi keluarga; mendukung; menemukan
jam karet/jarang tepat waktu; korup; takhayul; lambat; rendah diri;
sopan; kurang disiplin; menggunakan perasaan bukan logika; tidak mengikuti aturan;
munafik; tahan terhadap perubahan;toleran; low profile; tidak ingin berkonfrontasi
atau memberikan ‘kabar buruk’; diam dalam pertemuan, tidak bisa berenang.

Anda setuju atau tidak setuju dengan beberapa stereotip di atas?

Stereotip orang Indonesia yang ditulis penulis asing tersebut pernah juga dikemukakan oleh wartawan Mochtar Lubis di dalam bukunya yang berjudul Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban). Buku tersebut berisi pidato kebudayaan dari Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 16 April 1977. Isi pidatonya menyebutkan sifat-sifat negatif orang Indonesia. Menurut Mochtar Lubis ada dua belas ciri orang Indonesia:
1. Hipokrit atau munafik
2. Segan dan enggan bertanggung jawab
3. Berjiwa feodal
4. Masih percaya pada takhayul
5. Artistik
6. Watak yang lemah
7. Tidak Hemat, Dia Bukan “Economic Animal”:
8. Lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa:
9. Manusia Indonesia tukang menggerutu.:
10. Cepat cemburu dan dengki.:
11. Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia sok.:
12. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru atau plagiat.:

(Sumber: http://fakta-ilmu.blogspot.com/2013/04/12-sifat-negatif-mayoritas-orang.html#.UaLZOJzAGfM dan https://www.facebook.com/permalink.php?id=110184965682263&story_fbid=588703121163776)

Namanya juga stereotip, tentu saja bisa benar seluruhnya atau tidak salah seluruhnya, karena stereotip diperoleh dari hasil pengamatan, pengalaman, penilaian dan pemikiran kritis tentang bangsa Indonesia. Jadi kita boleh saja setuju atau tidak setuju dengan penilaian stereotip yang disebutkan oleh orang asing atau oleh Mochtar Lubis di atas.

Dipublikasi di Indonesiaku | 5 Komentar

Peringatan pada Papan Iklan: “Merokok Membunuhmu”

Ketika melewati jalan raya mata saya membaca kalimat yang berbeda pada bunyi peringatan bahaya merokok di sebuah papan iklan (billboard). Dalam iklan rokok –yang tidak pernah menampilkan gambar rokoknya– biasanya ada gambar lelaki macho, lalu di bawahnya ada peringatan yang berbunyi Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Tetapi sekarang bunyi peringatan di bawahnya sudah diganti dengan kata-kata Rokok Membunuhmu atau dalam beberapa iklan yang lain berbunyi Merokok Membunuhmu, lengkap dengan gambar lelaki yang menghisap rokok dan beberapa tengkorak di latar belakangnya. Saya baru ngeh melihat bunyi peringatan itu sekarang, meskipun kabarnya sudah diganti sejak Desember 2013 yang lalu (baca berita ini).

Saya tidak akan membahas efek negatif rokok, sudah banyak tulisan yang membahas hal ini. Yang menjadi keheranan saya adalah konsistensi Pemerintah tentang rokok. Bunyi peringatan yang baru tersebut dengan tegas menyatakan bahwa rokok adalah alat pembunuh, namun anehnya keberadaanya tetap dilegalkan. Ini tidak konsisten menurut saya, sebab di satu sisi mengetahui rokok adalah alat pembunuh nyawa, tetapi di sisi lain membiarkannya.

Rokok akan tetap selamanya menjadi pro kontra. Selama perekenomian rakyat di beberapa daerah masih bergantung pada industri rokok, maka rokok akan sulit dilarang karena berhubungan dengan masalah sosial dan kultural. Selama rokok masih merupakan penyumbang bea cukai yang sangat besar bagi Pemerintah, maka industri rokok tetap akan dipertahankan. Pelik memang masalahnya, tidak suka tetapi butuh, tidak butuh tetapi ia tetap ada.

Bunyi peringatan Rokok Membunuhmu pada papan iklan rokok itu tinggal menjadi slogan kosong belaka. Menurut saya tidak akan berpengaruh banyak terhadap perubahan perilaku orang yang gemar merokok. Gambar lelaki gagah pemberani di atasnya lebih menarik perhatian ketimbang slogan hampa tersebut. Dalam benak orang yang merokok, gambaran kehebatan lelaki gagah pemberani tersebut menghapuskan imaji horor rokok sebagai alat pembunuh.

Dipublikasi di Gado-gado | 11 Komentar

Lagi, Mahasiswa Korban Kecanduan “Game Online”

Setelah satu orang mahasiswa saya terpaksa DO karena tidak lulus tahap TPB gara-gara kecanduan game online (baca tulisan saya sebelum ini: Kecanduan Game Online Bagaikan Narkoba), sekarang saya menemui kasus yang hampir mirip yang juga menimpa seorang mahasiswa saya lainnya.

Sungguh saya kaget melihat jebloknya prestasi mahasiswa saya ini, dari yang semester-semester sebelumnya memiliki IP lebih dari tiga, semester kemarin jatuh drastis menjadi hanya nol koma sekian. Dari the best menjadi the worst, dari pemenang menjadi pecundang.

Setelah saya tanya secara intensif kepada mahasiswa ini, ternyata penyebabnya karena kecanduan game online . Akibat kecanduan game online yang sudah akut akhirnya ia bolos kuliah. Bolosnya tidak hanya sekali, tetapi seterusnya. Tidak hanya bolos, tetapi juga tidak ikut ujian, tidak membuat tugas kuliah, dan sebagainya. Pantesan saja IP nya hancur-hancuran.

Saya sudah menduga kalau penyebabnya adalah game online. Terjebak pada aliran sesat dan kecanduan game online adalah dua dari banyak masalah kemahasiswaan di kampus saya. Aliran sesat seperti NII sudah kurang terdengar lagi kabarnya, tetapi wabah game online sudah banyak korbannya akhir-akhir ini.

Dari ceritanya saya menjadi tahu awal mulanya. Pertama kali kecanduan game onlineadalah ketika ia sudah terlambat kuliah pagi. Karena sudah terlambat untuk datang ke kampus, akhirnya main game online saja di kamar kosan. Sebagaimana sebuah iklan di TV berbunyi kesan pertama begitu menggoda, akhirnya tergodalah ia setiap hari bermain game online sampai tidak kenal waktu, dari pagi sampai malam, hingga sampai pagi lagi.

Sebenarnya bermain game itu tidak buruk. Game juga mempunyai sisi positif, antara lain melatih kecepatan berpikir, mengasah ketajaman otak, melatih motorik halus, dan merangsang kreativitas. Namun, jika kontrol dari diri sendiri dan dari lingkungan tidak ada, maka yang terjadi adalah kebablasan. Hidup sendiri di kamar kos, jauh dari orangtua dan keluarga, teman sebelah kamar yang kurang peduli (karena tidak mau mencampuri urusan orang lain), membuat pemain game (online) seperti mahasiswa kosan menjadi lupa diri.

Main game itu cukup seperlunya saja, tidak perlu berlebihan. Di mana-mana yang berlebih-lebihan itu tidak baik karena dapat merusak, ya merusak fisik, mental, dan sebagainya. Kunci dari semua ini adalah kemampuan mengendalikan diri. Kontrol dari lingkungan juga perlu sebagai pengingat. Jika tidak, maka hanya penyesalan pada kemudian harilah yang akan didapat.

Dipublikasi di Pendidikan, Seputar ITB | 10 Komentar

Lektor Kepala

Setelah menunggu diproses selama tiga tahun, akhirnya usulan kenaikan jabatan akademik saya ke Lektor Kepala sudah disetujui oleh Pemerintah (c.q Mendikbud). Alhamdulillah, penantian selama tiga tahun tidak sia-sia. Meskipun saya belum menerima SK kenaikan jabatan tersebut (baru berupa surel dari Wakil Rektor ITB Bidang Sumberdaya dan Organisasi), tapi berita tersebut cukup membahagiakan.

FYI, selain golongan pangkat seperti III-a, III-b, dst, dosen juga memiliki karir akademik berupa jabatan fungsional. Jabatan fungsional dosen itu ada empat tingkatan, yaitu Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, dan Profesor. Dulu ketika saya pertama menjadi dosen, jabatan fungsional itu ada lima, yaitu Asisten Ahli Madya, Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, dan Profesor, sebelum akhirnya disederhanakan menjadi empat saja seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Saya sudah mengalami semuanya, mulai dari Asisten Ahli Madya, Asisten Ahli, Lektor, dan sekarang Lektor Kepala, tinggal Profesor saja yang belum (mimpi kali yee…, ha..ha..ha).

Untuk naik ke jenjang Lektor Kepala di ITB tidak mudah. Syaratnya harus sudah Doktor atau Ph.D (S3), lalu mempunyai karya ilmiah di Jurnal Internasional, selain itu jumlah angka kreditnya mencukupi dari tiga aspek Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat). Karena syarat yang ketat tersebut, banyak teman-teman saya yang masih berkualifikasi S2 atau sudah S3 tetapi jarang menulis makalah di jurnal internasional tidak bisa naik jabatan ke Lektor Kepala (baca tulisan saya pada tahun 2011 terdahulu: “Tingginya” Syarat Kenaikan Jabatan di ITB). Sekarang persyaratan di ITB itu diadopsi oleh Dikti menjadi aturan secara nasional sehingga berlaku pula bagi dosen-dosen di perguruan tinggi lain.

Saya agak “diuntungkan” karena saya mempunyai banyak publikasi makalah ketika menempuh pendidikan S3, baik di prosiding konferensi nasional, konferensi internasional, jurnal nasional, dan jurnal internasional. Makalah-makalah inilah yang sangat membantu kenaikan jumlah angka kredit. Saya dengar isu bahwa sekarang ini makalah yang sudah dipublikasikan selama pendidikan S3 tidak dapat dipakai untuk kenaikan jabatan fungsional, yang bisa dipakai hanya ijazah S3-nya saja. Benarkah?

Perlu waktu tiga tahun untuk menyelesaikan proses kenaikan jabatan di fakultas saya. Selama itu kah? Sebenarnya tidak lama, tiap fakultas bisa berbeda-beda waktunya, tergantung keaktifan pihak-pihak yang terlibat. Yang membuat lama itu adalah proses penilaian ulang makalah yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Karena kesibukan pemberi review, tidak jarang proses review makalah menjadi berlarut-larut. Proses kenaikan jabatan itu bisa bolak-balik seperti bola pingpong dari Senat Fakultas ke Rektorat lalu ke dosen yang bersangkutan; diperbaiki lagi, dinilai lagi, dst, sungguh ribet dan melelahkan. Tenaga administrasi yang mengurus kenaikan jabatan itu juga terbatas jumlahnya, padahal jumlah dosen yang diproses kenaikan jabatan jumlahnya banyak. Maka, sistem antrian pun berlaku, FIFO, First In First Out.

Kalau sudah menjadi Lektor Kepala maka nanti saya sudah boleh membimbing mahasiswa S3 sebagai Promotor Utama. Sekarang saya baru bisa sebagai co-promotor dulu. Tidak apa-apa, magang saja dulu.

Ada teman yang bilang selangkah lagi menjadi Profesor. Wah, masih sangat jauh. Saya merasa belum sangat layak untuk menduduki jabatan tertinggi tersebut. Belum pantas saja. Ilmu saya masih sedikit, karya keilmuan saya belum banyak. Sekarang mengalir saja dulu seperti air entah kemana nanti muaranya.

Dipublikasi di Pendidikan, Pengalamanku, Seputar ITB | 9 Komentar