Berkunjung ke Kampus Universitas Brawijaya Malang

Saat ini saya sedang berada di kampus Universitas Brawijaya Malang dalam rangka sebuah acara workshop. Saya belum pernah berkunjung ke kampus UB (singkatan Universitas Barwijaya), selama ini hanya mendengar saja nama besar kampus itu. Jadi, inilah pertama kali saya masuk ke kampus Brawijaya.

Kampus UB berada di kawasan multi-kampus, sebab banyak kampus PT saling bersebelahan di sekitar sini. Ada kampus Universitas Negeri Malang (Unema), kampus Universitas Merdeka (Unmer), Politeknik Negeri Malang (Polinema), dan kampus Universitas Islam Negeri Malang (UIN). Berjalan agak jauh sedikit terdapat kampus Universitas Islam Malang (Unisma). Di perbatasan antara Kota Malang dan Kota Batu terdapat kampus Universitas Muhammadiyah Maang yang sangat megah. FYI, kota Malang memang dikenal sebagai kota pendidikan, sebab di kota ini terdapat banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi mulai dari akademi hingga universitas. Padahal Malang bukan ibukota Provinsi Jawa Timur namun memiliki banyak lembaga pendidikan. Menariknya lagi, secara fisik dan penampilan kampus-kampus PT di Malang luas dan megah, berbeda jauh dengan kampus PT di Bandung yang tidak apa-apanya dibandingkan dengan kampus PT di Malang.

Kampus UB lumayan luas, sedikit lebih luas dari kampus Ganesha ITB. Semua fakultas terpusat di kampus ini. Kampus UB terletak antara Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Veteran, sehingga pengendara sering menggunakan jalan di tengah kampus sebagai jalan pintas dari Veteran ke Soekarno-Hatta. Mirip kondisinya seperti kampus Bulaksumur UGM dimana jalan raya melintasi dalam kampus.

Saya menginap di Hotel UB yang terdapat di dalam kampus. Menurut saya bagus juga ada hotel di dalam kampus sehingga tamu-tamu UB tidak perlu repot mencari penginapan di luar kampus. Hotel UB lumayan bagus dan termasuk kelas hotel berbintang tiga.

Hotel UB di dalam kampus.

Hotel UB di dalam kampus.

Di bawah ini foto tugu yang terletak di bunderan di tengah kampus, tugu apa namanya saya kurang tahu. Harus hati-hati melewati jalan di sekitar tugu, sebab banyak sekali pengendara lalu lalang di jalan di dalam kampus dengan kecepatan tinggi.

Tugu di tengah kampus

Tugu di tengah kampus

Di sebelah kanan tugu terletak gedung rektorat dengan halaman rumput yang luas. Kabarnya gedung rektorat baru akan segera dibangun.

Gedung Rektorat

Gedung Rektorat

Jalan-jalan di dalam kampus UB terlihat bersih dan resik, pepohonan hijau berderet sepanjang jalan. Pohon-pahon palem yang berjejer dan taman-taman menambah cantik kampus.

Deretan pohon palem dan jalan pedestarian yang lebar.

Deretan pohon palem dan jalan pedestarian yang lebar.

Taman-taman dan kolam yang adem.

Taman-taman dan kolam yang adem.

Taman tempat belajar

Taman tempat belajar

Gedung sebuah fakultas, kalau nggak salah Fakultas Pertanian

Gedung sebuah fakultas, kalau nggak salah Fakultas Pertanian

Ketika saya berkunjung ke sana, pembangunan fisik kampus terus berjalan. Hampir semua fakultas berlomba membangun gedung yang tinggi. Dengan lahan yang terbatas maka pembangnunan vertikal tidak dapat dielakkan.

Dari kejauahan tampak pembangunan gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang menjulang tinggi.

Dari kejauahan tampak pembangunan gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang menjulang tinggi.

Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK) misalnya, saat ini sedang membangun gedung 12 lantai, kembar lagi. Saya diperlihatkan maket gedungnya yang… waaah… keren. Informatika ITB saja tidak sebesar itu gedungnya. Semua gedung yang baru memiliki kesamaan bentuk dengan gedung rektorat yang saya tampilkan di atas.

Saya sungguh kaget ketika diberitahu bahwa setiap tahun UB menerima mahasiswa baru dalam jumlah yang sangat besar. Tahun 2012 saja mereka menerima 16.000 orang mahasiswa baru, fantastis sekali jumlahnya. PTIIKsendiri menerima 1000 orang mahasiswa baru, diantaranya Prodi Informatika saja menerima 400 orang. Bandingkan dengan Prodi Informatika ITB yang hanya menerima 100 orang dari sekitar 400 orang mahasiswa fakultas STEI.

Dengan jumlah mahasiswa yahng sangat besar itu, tidak heran bisnis kos-kosan sangat menarik di kota Malang. Tidak hanya kosan, bahkan apartemen pun bermunculan di sekitar kampus UB, yang katanya banyak diisii oleh mahasiswa.

Sebuah apartemen di samping kampus UB.

Sebuah apartemen di samping kampus UB.

PTIIKsendiri adalah embrio dari sebuah fakultas teknologi informasi/komputer. Saat ini PTIIKbelum menjadi fakultas, tetapi masih berupa Program setingkat fakultas. Prodi di dalamnya merupakan penggabungan Ilmu Komputer di FMIPA dengan sub-jurusan komputer/teknologi informasi di Teknik Elektro. PTIIKmemiliki tiga Program Studi yaitu Informatika, Sistem Informasi, dan Sistem Komputer.

Pak Sutrisno yang menjadi Ketua Program menjelaskan bahwa dengan mahasiswa yang banyak itu (1000 orang per tahun) tentu sebaran kualitas mahasiswanya beraneka ragam. Untuk meningkatkan daya saing lulusannya dibandingkan lulusan PT lain, maka strategi menutupi kekurangan kualitas mahasiswa adalah dengan memberikan nilai plus kepada mahasiswa berupa bekal sertifikasi. Setiap mahasiswa mengikuti ujian sertifikasi seperti java, CISCO, Oracle, dan lain-lain. Sertifikasi seperti ini adalah nilai kelebihan lulusan PPTIK UB. Saya pikir ini ide yang bagus juga untuk diterapkan pada mahasiswa PT lain agar mahasiswanya tidak “kalah” bersaing dengan lulusan PT ternama.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 13 Komentar

Berkunjung ke Lumpur Lapindo, Porong.

Tanggul lumpur lapindo di pinggir jalan raya dan jalan kereta api. Dua hari yang lalu saya dalam perjalanan dari Surabaya ke Malang. Saya diundang oleh Universitas Brawijaya Malang untuk memberi materi pembekalan pada sebuah workshop di kampus itu. Berhubung tidak ada rute pesawat langsung dari Bandung ke Malang, maka saya naik pesaweat dari Bandung ke Surabaya saja. Dari Bandara Juanda Surabaya saya dijemput panitia menuju Malang.

Nah, dalam perjalanan dari Juanda ke Surabaya itu kami melewati daerah Porong, Sidoarjo, yang sekarang terkendala dengan nama kawasan “Lumpur Lapindo”. Seperti yang kita ketahui sebagian daerah Porong saat ini sudah tenggelam oleh lumpur panas yang keluar dari perut bumi. Lumpur panas yang menyembur akibat “kecelakaan” penambangan oleh PT Lapindo (anak perusahaan Bakrie) terus keluar hingga saat ini menenggelamkam desa-desa, rumah, masjid, sekolah, pabrik, sawah, jalan, dan sebagainya. Kawasan yang tenggelam itu membentuk danau lumpur yang luas. Ketinggiannya terus bertambah sehingga tanggul penahannya terus ditinggikan untuk mencegah lumpur tersebut meluber kemana-mana.

Tanggul lumpur lapindo yang tingginya sama dnegan gedung bertingkat dua. Dibalik tanggul itulah danau lumpur berada.

Tanggul lumpur lapindo yang tingginya sama dengan gedung bertingkat dua. Dibalik tanggul itulah danau lumpur berada.

Saya belum pernah melihat kawasan lumpur Lapindo, selama ini hanya mendengar dan membaca dari media saja. Lumpur Lapindo tidak hanya menjadi isu sosial dan ekonomi, tetapi juga menjadi isu politik sebagai kartu truf untuk memojokkan Aburizal Bakrie yang mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pemilu tahun depan.

Perjalanan dari Bandara Juanda ke kota Malang melalui jalan tol Gempol. Seharusnya jalan tol ini memanjang melewati Kabupaten Sidoarjo, tetapi di dekat danau lumpur jalan tol sudah terputus karena sebagian ruasnya sudah tenggelam oleh lumpur.

Mobil kami berhenti di pinggir jalan raya (bukan jalan tol) yang terletak di pinggir tanggul. Baru saja mobil kami menepi, datanglah tukang parkir liar yang langsung menagih Rp5000 untuk biaya parkir dan bayarnya harus dimuka. Tidak itu saja, beberapa pemuda mendatangi kami lalu bertanya berapa orang semuanya. Ternyata untuk melihat danau lumpur itu ternyata ditarik bayaran Rp20.000. Astaga! Kawasan lumpur Lapindo saat ini menjadi ajang bisnis. Orang-orang yang menarik bayaran liar itu mengaku penduduk desa korban lumpur Lapindo. Kata mereka uang pungutan itu untuk membantu warga yang sudah kehilangan rumah dan pekerjaan setelahsawah dan pabrik tempat merteka bekerja tenggelam. Entah benar entah tidak ceritanya, tanpa ingin berdebat, teman kami membayar Rp80.000 untuk empat orang.

Tanggul lumpur lapindo di pinggir jalan raya dan jalan kereta api.

Tangga naik menuju danau lumpur.

Yuk, sekarang kami naik ke atas tanggul melewati anak tangga di pinggir tanggul. Dibalik tanggul itulah menghampar danau lumpur yang sangat luas. Di dasar danau lumpur itulah dulu terdapat desa-desa yang dulu ramai dan subur.

Danau lumpur

Danau lumpur

Di bagian pinggir danau lumpurnya sudah mengeras. kabarnya tanah dari lumpur itu bagus dijadikan batu bata. Di tengah danau terlihat asap panas pertanda di titik itu menyembur lumpur panas yang tiada henti. Menurut para ahli di bawah danau itu terdapat gunung lumpur raksasa. Akibat penambangan yang salah, ada juga yang menyebutnya karena dipicu gempa bumi, yang keluar dari lubang bor bukan minyak tetapi lumpur panas. Mungkin lumpur itu akan keluar bertahun-tahun atau puluhan tahun. Wallahualam.

Danau lumpur dari sudut yang lain.

Danau lumpur dari sudut yang lain.

Di pinggir danau lumpur banyak orang yang mencari peruntungan. Ada tukang ojeg yang menawarkan keliling danau dengan tarif Rp20.000, ada pdagang VCD/DVD yang menjual DVD berisi gambar dan video tentang lumpur lapindo, ada tukang foto, dan sebagainya.

Setelah puas melihat danau lumpur, kami meninggalkan tempat itu untuk meneruskan perjalanan ke Malang. Di atas kendaraan saya membayangkan fragmen kehidupan yang saya saksikan tadi. Tragedi lumpur Lapindo adalah rahasia Tuhan, kita tidak tahu apa pesan yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita tentang lumpur itu. Apakah sebuah peringatan terhadap kesombongan manusia? Wallahu alam bissawab.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 2 Komentar

Rendang Padang Kemasan “made in” Bandung

Rendang padang tidak hanya menjadi masakan kesukaan orang Minang, tetapi orang seluruh nusantara dan dunia pun menggemari masakan yang enak ini. Saya sudah berkali-kali membahas tentang rendang padang, silakan baca tulisan saya yang ini, ini, dan ini.

Rendang padang yang asli adalah yang berwarna hitam atau agak kehitaman. Masalahnya di tanah rantau ini sukar mencari rendang yang asli itu, sebab kebanyakan yang dijual di rumah makan padang masih berbentuk kalio (berwarna coklat). Rendang yang hitam itu awet berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, asalkan tahu caranya. Rendang menjadi oleh-oleh kalau pulang kampung, atau masakan yang wajib dibawa kalau orang Minang hendak pergi jauh atau pergi menunaikan haji.

Saat ini sudah banyak dijual rendang dalam bentuk kemasan. Di Sumatera Barat sendiri mudah mencari rendang yang sudah dikemas dalam kotak alumunium foil, misalnya di toko oleh-oleh Christine Hakim di Jalan Nias, Padang. Kalau pulang kampung ke Padang saya sering membawa rendang dari toko ini, buat saya sendiri maupun pesanan teman di kantor.

Tidak hanya di Ranah Minangkabau, tempat asal rendang, rupanya di Bandung pun ada rumah makan yang memproduksi rendang padang dalam bentuk kemasan, namanya rumah makan Restu Mande (yang artinya restu ibu). Rumah makan ini terletak di Jalan Brigjen Katamso No. 71, Bandung (belakang PPI Infanteri). Pengusaha rumah makan ini memproduksi rendang daging sapi dan rendang ayam.

Kemasan rendang padang Restu Mande

Kemasan rendang padang Restu Mande

Saya sering membeli rendang kemasan di rumah makan ini. Anak-anak saya sangat menyukai rendang yang hitam itu. Rasanya enak dan asli seperti di Padang sendiri. Satu kemasan rendang ayam (orijinal, tidak terlalu pedas) dijual Rp50.000, kalau yang hot spicy (pedas) harganya Rp55.000. Rendang daging harganya Rp60.000, sedangkan yang pedas harganya Rp65.000 (harga saat ini).

Rendang dibungkus di dalam plastik yang kedap udara, lalu dimasukkan ke dalam alumunium foil ini agar tetap awet dan higienis.

Rendang dibungkus di dalam alumunium foil agar tetap awet dan higienis

Semua dagingnya adalah daging dengan kualitas terbaik (tanpa gajih atau lemak). Potongan daging rendang ayam mirip seperti daging sapi, dagingnya diambil dari dada ayam. Dalam satu kemasan itu terdapat lima potongan daging ayam berukuran kotak (kira-kira berukuran 4 cm x 4 cm x 2 cm) dan dedak rendang yang banyak.

Rendang ayam

Rendang ayam

Rendang ayam dilihat dari dekat.

Rendang ayam dilihat dari dekat.

Kalau anda tertarik dengan rendang kemasan produksi RM Restu Mande itu, bisa dilihat informasinya di web. Pengusaha rumah makan itu juga paham bahwa Internet sangat penting untuk mempromosikan produknya. Silakan klik laman web ini: www.restumande.com.

Dipublikasi di Cerita Minang di Rantau, Makanan enak | 7 Komentar

Berbagi Cerita Mini: “Siapa yang Gila?”

Di bawah ini sebuah cerita mini yang saya dapatkan dari sebuah milis (yang ternyata sumbernya dari laman Fesbuk ini). Ceritanya sangat mengena dan sesuai dengan fenomena di tengah masyarakat kita saat ini dimana banyak ummat muslim yang malas pergi ke masjid untuk menunaikan shalat lima waktu. Panggilan adzan dari masjid sudah “dikalahkan” oleh acara TV yang melenakan.

Semoga bermanfaat bagi kita semua.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

SIAPA YANG GILA?

Suasana sebuah kampung tiba-tiba heboh, karena persis jam 22.00 terdengar azan berkumandang dari sebuah mushalla setempat lewat pengeras suara yang berkeriot seperti suara oplet. Suara pengumandang azan yang tak kalah gontai membuat warga berbondong-bondong mendatangi mushalla itu meski mereka sudah tahu siapa yang melakukannya: Aki Dadang, yang umurnya sudah menembus kepala 7. Yang membuat kepala warga dipenuhi pertanyaan: mengapa Aki Dadang azan pada jam sepuluh malam?

Ketika warga sampai di pintu mushalla, Aki Dadang baru selesai azan dan mematikan sound system.

“Aki tahu jam berapa sekarang? ” cecar Pak RT sambil menunjuk jam dinding mushalla. “Azan apa jam segini, Ki?”

“Jangan-jangan Aki sudah ikut aliran sesat,” sambar Mang Engkus dengan nada prihatin. “Sekarang banyak banget aliran macam-macam. Bahaya kalau kampung kita sudah kena.”

“Ah, dasar aki Dadang sudah gila,” repet Joni, mantan preman yang sudah mulai insaf dan berusaha menghilangkan tato di pangkal lengannya dengan setrika panas. “Kalau nggak gila, mana mungkin azan jam segini?” sambungnya sambil menyilangkan jari telunjuk di keningnya ke arah warga yang riuh berkomentar macam-macam mengomentari laku aneh Aki Dadang.

“Kalian ini …,” jawab Aki Dadang tenang. “Tadi waktu saya azan Isya, nggak satu pun yang datang kemari. Sekarang saya azan jam 10 malam, kalian malah berbondong-bondong ke mushalla. Satu kampung lagi. Siapa yang gila, coba?”

Warga pun ngeloyor pulang satu persatu tanpa protes lagi. Termasuk Pak RT yang melipir menjauh, perlahan-lahan, tak berani melihat wajah Aki Dadang.

Sumber: http://www.facebook.com/Komunitas.orang.koplak/posts/462743730469471

Dipublikasi di Kisah Hikmah | 3 Komentar

Berbagi Tulisan: “Hormon Kebahagiaan”

Kita sering mendengar ungkapan ini dari para orangtua kita sejak zaman dulu: “Jangan suka marah, orang marah lekas tua”. Ternyata ungkapan tersebut menemukan kebenarannya pada abad 21 ini setelah diteliti oleh seorang dokter Spesialis Bedah Saluran Pencernaan di Jepang.

Di dalam tubuh kita terdapat senyawa kimia yang disebut “hormon kebahagiaan”. Jika kita berperilaku positif, hormon tersbeut mendatangkan kebahagiaan, tetapi jika berperilaku negatif (misalnya marah) maka hormon tersebut menjadi racun bagi kita

Di bawah ini ada sebuah tulisan yang saya dapat dari sebuah milis. Tulisan ini dicuplik dari buku “The Miracle of Endorphin”, tulisan Dr. Shigeo Haruyama, Spesialis Bedah Saluran Pencernaan di Jepang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Konon, di dunia pengobatan Timur dahulu, jika seseorang yang sakit mendatangi tabib/dokter, maka tabib/dokter harus membungkukkan diri di depan pasien dan meminta maaf. Alasannya, dokter hendaknya bertanggung jawab mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Mungkin hal ini terasa aneh, namun sejatinya memiliki arti yang sangat mendalam, bagaimana tidak, seorang penyembuh atau seorang dokter seharusnya memiliki tugas untuk membuat orang-orang menjadi sehat dan mencegah mereka menjadi sakit, bukannya malah menjadi pahlawan kesiangan yang mengobati setelah penyakit timbul.

Sebenarnya, tubuh manusia memiliki fungsi pertahanan yang dapat melindungi dari segala jenis penyakit. Jika mekanisme ini berjalan dengan semestinya, keluhan-keluhan seperti kanker, kardiovaskular, kerusakan pada jaringan pembuluh otak, yang saat ini banyak terjadi, akan jauh berkurang. Dengan kata lain, kita bisa tetap sehat tanpa harus mengonsumsi obat-obatan atau produk buatan lainnya jika kita menjaga pola makan sekaligus mengatur sekresi hormon dan sistem kekebalan tubuh.

Di dalam otak manusia, dilepaskan senyawa-senyawa yang mirip dengan morfin. Di samping memiliki efek menenangkan dan dapat meningkatkan suasana hati, kerja farmaseutikal senyawa-senyawa ini juga luar biasa, antara lain membatu memperlambat proses penuaan dan memperkuat penyembuhan diri sendiri.

Dr. Shigeo Haruyama, dalam bukunya “The Miracle of Endorphin”, secara lugas menyebut senyawa-senyawa itu sebagai Hormon Kebahagiaan. Tubuh manusia memproduksi hingga 20 hormon kebahagiaan. Dari ke-20 hormon kebahagiaan itu, Beta-Endorfin lah yang paling kuat efeknya. Kata “Endorfin” sebenarnya merupakan singkatan dari Endogenous Morphin, yang artinya kurang lebih morfin yang diproduksi di dalam tubuh.

Jika hormon kebahagiaan dilepaskan dalam jumlah cukup, efeknya tidak hanya pada otak, tetapi sampai ke seluruh tubuh, dan semua berguna. Keberadaan senyawa ini memang sudah lama dikenal, namun orang tidak terlalu memperhatikannya karena diyakini bahwa selain efek analgesik, tidak ada keistimewaan lain yang dimilikinya. Belakangan, terjadi lompatan besar penelitian dan diakuilah bahwa hormon kebahagiaan menyimpan potensi khasiat luar biasa.

Jika seseorang marah dan merasa sangat tertekan, otaknya mengeluarkan Noradrenalin, hormon yang sangat beracun. Di antara racun alami, hormon ini menempati urutan kedua setelah bisa ular. Tentu saja zat ini sangat sedikit diproduksi otak. Namun, jika orang yang bersangkutan terus-menerus marah dan tertekan, racun ini akan membuatnya sakit, lebih cepat tua, dan bahkan bisa berakibat fatal. Tidak berlebihan jika dikatakan Noradrenalin berperan dalam setiap penyakit.

Di sisi lain, ada pula hormon yang disebut Beta-Endorfin, yang merupakan hormon paling berkhasiat di antara hormon kebahagiaan. Ada korelasi antara kedua jenis hormon ini. Jika seseorang mendapat penolakan atau merasa tertekan, di dalam otaknya dilepaskanlah hormon noradrenalin yang bersifat racun. Sebaliknya, jika untuk situasi yang sama dia mendapat mendapat jawaban “itu bagus” atau bersikap positif, hormon beta-endorfin yang akan mengalir.

Jika kita mengalami sesuatu yang menyakitkan dan tak menyenangkan, lalu memberikan reaksi penolakan, noradrenalin yang akan dibebaskan. Namun, jika kita belajar sabar dan berusaha mengatasi tahap hidup yang tersulit sekalipun, hormon kebahagiaan yang akan mengalir.

Kita semua hidup dalam masyarakat yang sarat tekanan/stres. Dan ketika kita teramat stres, munculah hormon beracun sebagaimana yang dibicarakan sebelumnya. Jika hormon ini diproduksi dalam jumlah tepat, ia menjalankan fungsi yang bermanfaat bagi tubuh. Namun dalam jumlah besar, ia dapat mempersempit aliran darah ke jantung.

Penyempitan pembuluh meningkatkan tekanan darah, dan ini akan dengan mudah membuat pembuluh darah menjadi tersumbat. Jika vena besar di otak tersumbat, maka terjadilah stroke. Hormon kebahagiaan membantu mengembalikan kondisi pembuluh darah menjadi normal seperti semula dan menjaga agar darah dapat mengalir dengan mudah dan bebas hambatan.

Beta-endorfin penangkal stres akan terbentuk jika kita bereaksi dengan pikiran positif. Sebaliknya, hormon itu tidak akan dibebaskan jika kita bersikap negatif. Sebagai gantinya, muncul substansi lain, yaitu noradrenalin dan adrenalin, yang tidak hanya beracun, tetapi juga memicu pembentukan oksigen aktif (radikal bebas) yang seringkali dicurigai sebagai pemicu penyakit2 degeneratif, kanker, dll.

Orang Jepang punya peribahasa, ”penyakit datang dari pikiran”. Seharusnya, bukan ”men sana in corpore sano”, tetapi dalam pikiran dan jiwa yang sehat lah, akan lahir pula tubuh dan fisik yang sehat.

Menurut psikolog Abraham Harold Maslow (1908-1970), manusia memiliki 5 tingkat kebutuhan, yaitu:
1. Kebutuhan dasar jasmani, spt makan, minum, tidur, hubungan suami-istri. Kebutuhan dasar ini juga sesuai dengan gambaran otak reptilia.
2. Pada tingkat berikutnya, ada pula kebutuhan akan keamanan. Ketika perut kosong, kita mencari sesuatu yang bisa dimakan. Dalam kondisi ekstrim, manusia bahkan bisa mengabaikan rasa malu dan bahaya, untuk memenuhi kebutuhan dasar itu. Namun, begitu kebutuhan tersebut tercapai, secara bertahap kita mulai memikirkan keamanan diri sendiri.
3. Ketika jenis kebutuhan pertama dan kedua sudah dipuaskan, tingkat selanjutnya adalah kebutuhan hubungan sosial, yang melibatkan kebutuhan individu untuk hidup dan diterima sebagai anggota suatu kelompok, bermasyarakat. Dalam tingkat ini, termasuk pula kebutuhan untuk mencintai/dicintai dan bekeluarga. Otak mamalia pada umumnya, memiliki gambaran/struktur yang sama hingga tingkat kebutuhan yang ke-3 ini.
4. Kebutuhan kita berikutnya adalah pengakuan dari orang lain, yang biasanya juga berkaitan dengan harga diri. Di dalamnya juga termasuk, antara lain, rasa diri lebih hebat daripada orang lain. Di baliknya terdapat hasrat untuk membuat diri bangga lewat hal-hal tersebut, dan harapan bahwa prestasinya diakui orang lain. Medali, gelar, julukan, jabatan adalah perwujudan dari hasrat ini.
5. Tingkat kebutuhan yang terakhir dan tertinggi adalah aktualisasi diri. Pada tingkat ini, seseorang tengah berusaha ”melupakan” dirinya, namun semata-mata ingin memberi manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain. Dalam bahasa yang lain, tingkatan ini membimbing seseorang menuju ranah ketuhanan (transenden).

Fungsi dan kerja otak ternyata berkesuaian dengan teori tingkat kebutuhan tersebut.

Perasaan bahagia yang ditimbulkan hormon kebahagiaan akan semakin kuat dengan semakin tingginya tingkat kebutuhan seseorang. Orang yang mencapai ranah lebih tinggi, biasanya jarang sakit dan memiliki kesempatan hidup yang lebih baik. Penelitian terhadap hormon kebahagiaan membuktikan bahwa manusia bisa awet muda dan bersemangat jika mereka menjalani hidup dengan benar dan berjuang demi kesejahteraan sesama.

Manusia memiliki mekanisme pengaturan keseimbangan dalam sistem metabolisme-nya, yang dikenal sebagai ”homeostatis”. Sebagai contoh, pori-pori kulit akan mengerut karena kedinginan untuk menghindari hilangnya kehangatan tubuh. Saat kepanasan, pori-pori membuka dan mengeluarkan keringat untuk mengerem kenaikan suhu tubuh. Mekanisme homeostatis yang terdapat pada semua organisme ini juga berfungsi pada hormon. Ketika noradrenalin atau adrenalin dilepaskan, serotonin pasti ikut dibebaskan untuk menghambat pengaruh kedua hormon stres tersebut. Reaksi ini dikenal sebagai ”umban balik negatif atau umpan balik penghambat”.

Tubuh manusia juga memiliki sebuah mekanisme yang bekerja seperti termostat elektrik, untuk menghindari kemungkinan fungsi yang berlebihan.

Untuk mengerem pengaruh hormon kebahagiaan, terdapat senyawa pembawa pesan (neurotransmiter) bernama asam gama-aminobutirat (GABA). Ketika rasa lapar tidak dipenuhi, ia menjadi kebutuhan yang memaksa. Namun, jika perut sudah terisi penuh dan memberi manusia rasa senang (dan kenyang), maka senyawa GABA itu dapat membuat makanan yang paling disukai pun tidak menarik minat lagi.

Namun, ada fenomena ganjil yang patut dicermati: mengapa senyawa ini tidak memberi umpan balik negatif saat bagian otak yang paling berkembang yang hanya ada pada manusia, yakni lobus frontal, mendapat rangsangan untuk mengeluarkan hormon kebahagiaan? Bagaimana kita menjelaskan bahwa zat pengerem yang biasanya otomatis dikeluarkan, justru tidak dibebaskan jika bagian otak yang paling berkembang ini aktif?

Ketika kita berusaha dengan berlebihan memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang lebih rendah (tingkat 1 hingga tingkat 4), pemenuhannya menunjukan bahwa ada efek samping yang muncul. Kelebihan makanan mengantarkan pada obesitas dan penyakit gaya hidup. Berkembangnya fungsi umpan balik negatif boleh jadi bertujuan untuk menekan kemunculan momok yang tidak diinginkan ini.

Namun, ketika kita memanfaatkan bagian otak yang tertinggi untuk memperjuangkan kesejahteraan dunia dan umat manusia, berbuat baik untuk sesama, jelas tidak ada yang dapat menghalanginya. Bukan hanya bebas bekerja, otak juga mengeluarkan banyak hormon kebahagiaan yang membawa kita pada kebahagiaan hakiki/puncak. Situasi ini terasa seperti kita sedang menjalankan kehendak Sang Maha Pencipta. Maslow menamainya ”pengalaman puncak”. Substansi otak kita dapat digambarkan sebagai keadaan saat sumber beta-endorfin tidak ada habisnya diproduksi.

Hormon kebahagiaan menunjukan kepada kita bahwa inilah kunci kebahagiaan abadi dan tertinggi dalam hidup.

oleh Dr. Shigeo Haruyama, dalam ”The Miracle of Endorphin”, terbitan Mizan.

Dipublikasi di Uncategorized | 5 Komentar

Suasana Kampus yang Menumbuhkan Iklim Belajar

Dua hari yang lalu seorang dosen dari perguruan tinggi yang jauh (Indonesia Timur) datang ke kampus ITB untuk berkunjung. Dia tidak datang sendiri, tetapi membawa seorang mahasiswanya. Saya ajaklah dia keliling-keliling kampus, melihat-lihat lab, perpustakaan, dan fasilitas lain di dalam kampus. Tidak lupa saya ajak makan ke kantin gedung bengkok yang terkenal dan ramai itu.

Setelah puas melihat-lihat kampus saya bertanya kepadanya, apa yang berkesan baginya? Ternyata yang membuatnya berkesan adalah aktivitas mahasiswa ITB dalam mengisi waktu kosong di kampus. Beda sekali suasananya dengan kampus saya, kata dia, di ITB meskipun pada jam-jam kosong tidak ada kuliah mahasiswa tetap saja beraktivitas, ada yang berdiskusi, mengerjakan tugas baik sendiri maupun berkelompok, mencari bacaan di Internet, memprogram, dan sebagainya. Tidak ada kursi dan meja, ngampar di lantai pun bolehlah. Bahkan di kantin pun sambil makan mereka tetap mengerjakan tugas atau apapunlah sembari tidak lupa saling bercanda atau bersenda gurau. Kalau tidak mengerjakan tugas, sebagian mahasiswa sibuk di unit-unit kegiatan untuk berlatih.

ngampar

Kalau di kampus saya, lanjut tamu tadi, mana ada mahasiswa yang begitu, biasanya kalau tidak ada kuliah mereka duduk-duduk rariungan , berkumpul sambil mengobrol ngalor ngidul, ketawa-ketiwi, bergosip, main gitar, sambil sesekali merokok. Jarang ada yang berkumpul untuk mendiskusikan bahan kuliah atau mengerjakan tugas.

Fenomena mahasiswa negara kita yang banyak menghabiskan waktu kosong untuk kongkow-kongkow dan mengobrol sering saya lihat di beberapa kampus perguruan tinggi (saya sudah mengunjungi beberapa kampus di tanah air). Sayang saja sih menurut saya, waktu di kampus dibuang percuma untuk hal-hal yang kurang penting. Tujuan ke kampus adalah untuk belajar, maka gunakanlah waktu untuk memperdalam ilmu, mengasah ketrampilan. Tentu ada waktu di kampus untuk sedikit bersenang-senang dan bercengkerama, tetapi jika sebagian besar waktu kosong digunakan hanya untuk having fun, ya sayang sekali.

Alhamdulillah, yang membuat saya terharu (sekaligus bangga) di kampus Ganesha ini adalah suasana yang kondusif untuk belajar. Dosen dan mahasiswa sama-sama sibuk belajar, meneliti, dan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat. Suasana akademik di dalam kampus menjadi hidup. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Suasana akademik seperti itu membuat siapa pun di kampus ini termotivasi untuk belajar. Maka, pemandangan para mahasiswa yang tetap sibuk mengerjakan tugas, berdiskusi, mengakses Internet, atau membaca pada jam-jam kosong adalah pemandangan sehari-hari di kampus ITB.

Suasana seperti itu yang sukar saya temukan di kampus lain. Sebenarnya di kampus lain pun banyak mahasiswa yang rajin dan tidak ingin sia-sia membuang waktu untuk hal yang kurang berguna, namun suasana di kampusnya tidak kondusif untuk mengekspresikan semangat dan jiwa belajar yang rajin itu. Akhirnya dia larut dan ikut dalam pergaulan teman-temannya yang lebih senang kongkow-kongkow daripada belajar.

Moral dari cerita ini, lingkungan di kampus sangat menentukan suasana belajar. Lingkungan belajar itu bisa diciptakan, misalnya dengan menghidupkan diskusi-diskusi kelompok. Tidak ada waktu yang sia-sia, semua bermanfaat. Bukan berarti tidak boleh bermain, bermain pun penting. Bagaimana membuat belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar, dua-duanya bisa dicapai sekaligus.

Dipublikasi di Seputar ITB | 5 Komentar

Fathanah

Hari-hari ini perhatian publik tersita pada kasus suap impor daging sapi yang melibatkan AF dan petinggi sebuah partai dakwah bernama LHI. AF dan LHI keduanya ditangkap oleh KPK dengan sangkaan AF diduga akan memberikan uang suap kepada LHI.

Satu per satu perbuatan AF terungkap setelah dicecar pertanyaan oleh penyidik KPK. Kasus ini semakin menarik karena ada bumbu-bumbu perempuan di dalamnya. Perempuan-perempuan di sekeliling AF bukan orang sembarangan, ada artis hingga mahasiswi. Dengan uang banyak yang dipunyainya, AF sangat royal membuai para wanita dengan uang dan harta yang mewah.

Saking banyaknya perempuan yang berada di sekeliling AF, sampai-sampai ada sebuah joke yang dikirim oleh seorang teman di milis tentang AF. Begini joke tersebut:

Telpon dari seorang wanita.

Wanita:” Hallo, bisa bicara dengan bapak Achmad Fathanah (AF)?”

AF:” Iya . . saya sendiri. Ada apa ya?”

Wanita:” Bapak Fathanah sendiri?”

AF:” Iya .. . ya . . ”

Wanita:” Kalau begitu . . saya ingin bertemu dan bicara serius 4 mata
dengan bapak”.

AF:” Maaaf . . apa ibu mengenal saya?”

Wanita:” Tentu saja . . ! Bapak adalah ayah dari salah satu anak-anak saya”.

AF:” Hah . . !!! Astaga . . . Apakah kamu Ayu?”

Wanita:” Bukan . . . , pak.

AF:” Icha !!!”

Wanita:” Bukan . . !”

AF:” Tiara !!!”

Wanita:” Bukan . . !”

AF:” Olivia !!!”

Wanita:” Bukan . . !”

AF:” Kiki !!!”

Wanita:” Bukan . . !”

AF:” Indri . . . ah . . suaranya Indri !!!”

Wanita(bBingung):” Bukan . . , bukan, pak! Saya wali kelas anak bapak !”

~~~~~~~~~~~~~

AF adalah singkatan nama Achmad Fathanah. Fathanah adalah kata dari bahasa Arab yang artinya cerdas, pintar, atau smart. Fathanah adalah salah satu sifat Rasul. Ketika masih SD dan belajar di TPA guru agama saya mengajarkan sifat Rasul itu ada empat. Pertama, siddiq yang artinya jujur, kedua fathanah yang artinya cerdas, ketiga amanah yang artinya bisa dipercaya, dan keempat tabligh yang artinya menyampaikan. Keempat sifat yang mulia itu ada pada diri setiap Rasul yang diutus oleh Allah SWT kepada umat manusia.

Mungkin orangtua AF memberi nama fathanah itu dengan harapan nantinya dia memiliki sifat Rasul itu, yaitu cerdas. Sayangnya sifat cerdas yang dimilikinya tidak digunakan untuk hal yang baik, tetapi untuk perilaku yang memalukan. Lebih memalukan lagi karena AF adalah lulusan perguruan tinggi di Saudi Arabiya, negeri tenpat Rasulullah diturunkan.

Dipublikasi di Gado-gado | 2 Komentar