“Upah Menulis” dalam Ujian

Hari-hari ini saya disibukkan memeriksa berkas UJian Akhir Semester (UAS). Tanggal 8 Januari 2014 nilai-nilai kuliah harus sudah masuk ke rektorat. Banyaaaakk sekali berkas ujian yang harus saya periksa, maklum mahasiswa saya jumlahnya lumayan besar.

Di ITB hampir semua ujian bentuknya adalah soal bertipe essay (menjawab langsung dengan memecahkan masalah yang diberikan). Soal bertipe essay ini membuatnya tidak sulit, tetapi memeriksanya sangat melelahkan dan menguras waktu.

Nah, setiap kali memeriksa berkas Ujian (UTS atau UAS), selalu saja ada mahasiswa yang tidak menjawab satu atau dua soal. Soal nomor tersebut dikosongkan, mungkin karena mereka tidak tahu atau tidak bisa jawabannya.

Padahal, saya termasuk dosen yang “bermurah hati” dengan memberikan nilai 1 kalau dia menulis ulang soal tersebut di lembar jawaban, daripada kosong sama sekali. Nilai 1 itu saya sebut sebagai “upah menulis”, yang penting masih masih ada usaha dari mereka, minimal menuliskannya kembali. Sambil menulis soal ‘kan berpikir juga, betul apa tidak?

Jadi, jika Anda tidak bisa menjawab suatu soal ujian, tuliskan saja kembali soalnya di lembar jawaban, maka saya akan memberi “upah” nilai 1. Kalau soal yang tidak dijawab itu mempunyai nilai maksimal 10, maka anda sudah mendapat 1 dari skala 10. Lumayan ‘kan dapat 1 daripada 0. Apalagi kalau Anda sudah mencoba menjawab meskipun tidak selesai, tetap saya beri nilai juga. Yang penting proses atau jalannya, bukan hanya hasil akhir semata.

Bagi saya, sekecil apapun usaha mahasiswa harus tetap dihargai, sekalipun hanya menuliskan kembali soalnya di lembar jawaban. Begitu pula dalam hidup ini, sekecil apapun peran seseorang dalam sebuah sistem tetap harus kita hargai.

Dipublikasi di Gado-gado | 6 Komentar

Tidak Usah Berharap Salju Turun di Indonesia

Bulan Desember ini ada fenomena alam yang sangat langka: Salju turun di negara-negara padang pasir di Timur Tengah. Mesir yang notabene terletak di Afrika Utara dilanda hujan salju. Salju turun di Kota Kairo dan sebagian daerah Mesir lainnya (baca: Salju Turun di Kairo untuk Pertama Kalinya).

 Salju menyelimuti Semenajung Sinai, sekitar 400 km tenggara Kairo, pada Jumat (13/12/2013). | AFP PHOTO/STR (Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2013/12/15/1237322/Salju.Turun.di.Kairo.untuk.Pertama.Kalinya)


Salju menyelimuti Semenajung Sinai, sekitar 400 km tenggara Kairo, pada Jumat (13/12/2013). | AFP PHOTO/STR (Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2013/12/15/1237322/Salju.Turun.di.Kairo.untuk.Pertama.Kalinya)

Yang lebih mengherankan lagi, salju juga turun di Arab Saudi, negara yang dikelilingi padang pasir dan tentu saja beriklim panas (baca: Salju Turun di Padang Pasir Arab Saudi).

Turunnya salju di daerah padang pasir mengingatkan kita pada lagu Anggun C. Sasmi berjudul Snow in Sahara. Tidak hanya berupa ilusi berupa lagu, tetapi faktanya memang salju turun di gurun pasir. Sebagian orang menghubungkan turunnya salju di daerah Arab dengan tanda-tanda datangnya hari kiamat (baca: Imam Masjidil Haram: Salju Turun di Jazirah Arab, Tandakan Kiamat Sudah Dekat). Benar tidaknya sebagai tanda hari kiamat, wallahu alam. Namun para ahli cuaca dapat menjelaskan fenomena langka ini dari sudut pandang ilmiah (baca: Pakar BPPT Bicara Soal Salju di Timteng dan Kemungkinannya Muncul di RI).

Belum selesai keterkejutan orang dengan turunnya salju di Timur Tengah, salju dilaporkan turun di Vietnam, negara yang terletak di Asia Tenggara (baca: Setelah di Mesir, Salju Kini Turun di Vietnam). Kalau yang di Vietnam saya tidak terlalu kaget, sebab bagian utara negara ini terletak di daerah sub-tropis, yang tentu saja mempunyai peluang turunnya salju meskipun tidak rutin setiap tahun.

Hmmm…. salju sudah mendekati Indonesia. Ada orang Indonesia yang berharap salju turun di negara kita. Sebagian besar orang Indonesia belum pernah melihat salju. Hanya orang-orang yang pernah ke negara empat musim yang pernah melihat dan mearasakan salju. Memang ada salju di negara kita, tetapi untuk mencapainya harus mendaki gunung yang tertinggi yaitu Puncak Jayawijaya.

Orang-orang yang mendamba salju turun di Indonesia mungkin hanya melihat dari aspek kesenangan semata, misalnya melihat orang bermain ski di atas salju atau anak-anak yang membuat boneka salju. Semua itu menjadi impian dan berharap dapat merasakannya, oleh karena itu keinginan turun salju di negara kita saya kira wajar-wajar saja.

Saya sendiri baru sekali merasakan salju ketika berkunjung ke Korea Selatan tahun yang lalu. Awalnya sih surprise dan menyenangkan, maklum saya belum pernah melihat dan merasakan sendiri salju itu seperti apa. Namun setelah beberapa hari di sana, saya merasa sangat menderita. Suhu yang sangat dingin membuat tubuh sangat tidak nyaman. Kulit menjadi kering, badan mengggigil kedinginan meskipun sudah memakai pakaian berlapis-lapis dan jaket tebal. Jari tangan saya sampai membeku ketika kaos tangan dibuka. Kalau pakai kaos tangan susah mau memegang benda-benda yang kecil. Bagi orang Korea sudah biasa dengan iklim begitu tentu tidak masalah, tetapi bagi saya dan teman-teman yang tidak mengalami musim salju ini benar-benar sebuah penderitaan.

Karena itu, andaikan salju turun di negara kita, saya tidak bisa membayangkan betapa menderitanya rakyat kita. Ingat, rakyat kita masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan. Pakaian sehari-hari saja sulit untuk mereka dapat, apalagi membeli pakaian tebal untuk menahan dingin yang luar biasa. Rumah-rumah mereka banyak yang terbuat dari bahan yang mudah rubuh jika ditimpa salju tebal.

Bersukurlah kita tinggal di negara tropis yang tidak mengenal musim salju. Udara selalu hangat, matahari selalu bersinar sepanjang tahun. Orang di negara empat musim saja meninggalkan negaranya untuk berlibur ke negara tropis ketika musim dingin datang, mereka sangat mendambakan hangatnya matahari.

Dipublikasi di Indonesiaku | 17 Komentar

Belajar Sabar dari Buah pepaya

Saya mempunyai kebun kecil di depan rumah yang saya tanami dengan berbagai tanaman seperti kembang dan buah-buahan. Salah satu pohon buah yang tumbuh besar adalah pohon pepaya. Pembantu di rumah yang menanamnya dulu dari biji buah pepaya yang diperoleh dari tetangga sebelah.

Saya merawat pohon pepaya itu hingga suatu hari ia mengeluarkan bunga. Melalui penyerbukan oleh alam, bunga-bunga pepaya itu berubah menjadi putik. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, putik-putik itu satu per satu gugur karena mandek berkembang menjadi buah. Alam telah melakukan seleksi terhadap berbagai putik itu, tidak semuanya tumbuh menjadi buah pepaya. Andai saja semua putik berkembang menjadi buah, pastilah tidak mampu pohon pepaya itu menahan beban berat buah-buah yang nanti akan bergelayut di batangnya. Alam telah menemukan caranya sendiri untuk tumbuh dan berkembang sesuai sunnatullah yang sudah ditetapkan kepadanya.

Tidak semua putik itu gugur dan mandek, pohon pepaya tersebut menyisakan satu putik yang tumbuh normal. Perhatian saya dalam satu dua bulan ini terbetot pada pohon pepaya yang berbuah tunggal itu.

Lambat laun buah pepaya di pohon bertambah besar ukurannya. Hujan yang turun, angin yang berhembus, cahaya mentari yang menyinari, telah membuat buahnya semakin lama semakin menuju kematangan. Saya memperhatikan pertumbuhan buah itu hampir setiap hari setiap akan pergi ke kantor.

Minggu lalu buah pepaya itu sudah mencapai ukuran maksimalnya, terlihat sebersit warna kuning muncul dari kulitnya. Itu pertanda ia akan menuju tahap kematangan. Namun saya menahan diri untuk tidak memetiknya. Kalau saya mau tentu saya petik saja daripada nanti dicuri orang. Tetapi, kalau saya petik sekarang, rasanya belum tentu manis. Bisa saja saya petik lalu saya peram beberapa hari agar matang, namun saya tidak melakukannya. Buah yang diperam tidak semanis matang di pohon. Yang alami lebih bernilai daripada yang direkayasa.

Hari-hari berlalu dan warna kuningnya semakin banyak terlihat. Hijau berganti kuning, kuning semakin kuning. Ah… tunggulah beberapa hari lagi, kata saya dalam hati. Kalau ingin mendapat hasil terbaik, bersabarlah untuk menunggu. Banyak orang yang ingin memperoleh kesuksesan dengan cara-cara yang instan, namun dunia telah memberikan pelajaran bahwa hasil yang instan itu tidak akan bertahan lama dan tidak memberi kenikmatan. Cepat sukses, cepat pula hilangnya. Hanya orang-orang yang menapak kesuksesan dari bawah dengan cucur keringat perjuangan yang akan menikmati kebahagiaan yang panjang.

010120103713

Kesabaran saya menunggu buah pepaya matang sempurna akhirnya mencapai perhentian kemarin. Kulit buah pepaya sudah telihat kuning semua, pertanda ia sudah mencapai titik tertinggi kematangan. Saya pun memetiknya dan menaruhnya di atas meja makan agar anak-anak dapat melihatnya.

181220133714

Saya belah buah pepaya itu. Hmmm… warna daging buahnya oranye kemerahan, menimbulkan selera bagi siapa saja yang melihatnya. Saya cicipi rasa buahnya, alhamdulillah… manis sekali. Inilah rezeki dan nikmat dari Sang Pencipta, Allah SWT. Buah dari kebun sendiri lebih nikmat daripada buah yang dibeli. Begitu pula dalam hidup ini, hasil yang diperoleh dari jerih payah sendiri lebih bernas dan memberi kenikmatan daripada yang diperoleh dari kerja orang lain.

181220133715

Saya tidak ingin menikmati buah pepaya itu sendiri. Saya berikan setengah kepada tetangga yang dulu memberikan buah pepaya yang kemudian bijinya ditanam oleh pembantu di rumah. Kalau kita mendapat rezeki dan kenikmatan dari Ilahi, hendaklah kenikmatan itu kita bagi dengan orang lain. Kebahagiaan tidak untuk diri sendiri, tetapi untuk bersama-sama. Kalau kita memperoleh keberhasilan di dalam hidup ini, ingatlah siapa saja yang pernah berjasa memberikan bantuan, sekecil apapun itu dan dalam wujud apapun, minimal berupa doa. Janganlah kita seperti kacang yang lupa dengan kulitnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Buah pepaya dari kebun itu telah memberikan pelajaran kepada saya tentang makna kesabaran. Percayalah bahwa bersabar di dalam kehidupan itu tidak akan sia-sia, pada akhirnya kesabaran itu akan berbuah kebahagiaan.

Dipublikasi di Renunganku | 13 Komentar

Ibu Penjual Serabi Pinggir Jalan

Telusurilah jalan-jalan kota Bandung pada pagi hari, niscaya Anda akan melihat banyak pedagang kecil yang menjual serabi di pinggir jalan. Tungku-tungku serabi mengepulkan asap, orang-orang berkumpul di dekatnya menunggu serabi matang. Menikmati serabi hangat pada pagi hari yang dingin di kota kembang memang sebuah kenikmatan tersendiri. Sambil menunggu serabi matang mereka sekalian menghangatkan badan di dekat tungku serabi.

121220133711

Saya mendekati seorang ibu penjual serabi dengan gerobaknya. Dia ambil adonan serabi dari dalam ember, lalu dia tuang ke dalam cetakan serabi. Bara api di bawah cetakan membakar adonan serabi, menciptakan bau harum yang khas.

121220133709

Ditutup dulu supaya matang…

121220133708

Setelah beberapa lama, dibuka lagi tutupnya untuk mengecek kematangannya…

121220133710

Dia bukan penjual serabi yang sudah dimodifikasi menjadi jajanan yang terkesan modern. Tidak ada keju, coklat, sosis, dan berbagai topping yang mengesankan western. Serabinya tetaplah serabi tradisionil Bandung. Tidak semua orang suka jajanan tradisionil dimodifikasi hingga terkesan “naik kelas” dengan penambahan berbagai varian tambahan yang dikesankan modern. Sebagian orang tetap lebih suka mencari jajanan tradisionil yang masih asli.

Serabi si ibu hanya ada dua macam, yaitu serabi polos dan serabi oncom. Serabi polos rasanya sedikit asin, bisa dimakan langsung atau dicelupkan pada kuah gula merah. Serabi oncom adalah serabi yang memakai topping oncom Bandung dan adonan telur.

121220133707

Kue serabi yang sudah matang ditaruh di atas “meja pajang”, siap bikin ngiler orang-orang yang lewat. Satu buah serabi polos harganya Rp1000, sedangakn serabi oncom Rp1500. Tidak mahal untuk ukuran kantong orang kebanyakan.

Tahukan Anda, di dalam sebuah kue serabi itu tersimpan perjuangan seorang ibu yang mencari nafkah untuk anak-anaknya. Semoga barokah bu….

Dipublikasi di Seputar Bandung | 4 Komentar

Kenapa Kolom Agama di KTP Mau Dihapus?

Saya heran ada wacana untuk menghapus kolom agama dari kartu tanda penduduk (KTP). Alasan yang dikemukakan adalah kolom agama di KTP dapat menyebabkan timbulnya diskriminasi, terutama bagi penganut agama minoritas di suatu daerah, atau bagi orang penganut kepercayaan atau agama di luar enam agama rsmi yang diakui negara (Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu). Contoh diskriminasi yang terjadi misalnya –seperti dikutip dari siniDari temuan dan laporan sebagian anggota Komisi II, warga pemeluk agama minoritas di wilayah tertentu di Indonesia, kerap dipersulit ketika sedang mengakses pelayanan publik begitu diketahui oleh petugas tersebut agamanya berbeda.

Bahkan, Wagub Jakarta, Ahok, pun ikut-ikutan mendukung penghapusan kolom agama di KTP, dengan mengambil contoh di Malaysia saja tidak ada pencantuman agama di dalam KTP warga (meskipun pernyataan Ahok ini dibantah oleh warga Malaysia, Pemerintah Malaysia masih mencantumkan kolom agama dalam kartu tanda penduduk mereka (baca: Ahok Salah, KTP Malaysia Masih Cantumkan Kolom Agama).

Hmmmm…padahal di dalam Undang-Undang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan tdiak ada penghapusan kolom agama. Dikutip dari sini, UU baru tersebut menyatakan, masyarakat tak lagi wajib mengisi kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP) apabila dia beragama di luar 6 agama yang diakui resmi pemerintah RI saat ini, yakni Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu.

Bagi kelompok sekuler (dan liberal) yang ingin menjauhkan agama dari kehidupan bernegara dan berbangsa, pasti mereka sepemahaman dengan usulan penghapusan kolom agama. Begitu pula bagi orang-orang yang sentimen dengan masalah agama, mereka cenderung melihat agama itu dari sudut negatif saja. Agama seolah-olah tidak penting untuk dibahas, agama itu urusan pribadi, toh beragama atau tidak beragama sama saja kelakuannya. Justifikasinya sering dikaitkan dengan kasus-kasus hukum seseorang. Misalnya, mengaku taat beragama tapi kok mencuri, mengaku sudah pergi haji tapi kok suka korupsi. Ayat suci dibaca, tetapi maknanya tidak diamalkan. Akhirnya beginilah yang terjadi pada bangsa ini yang mengaku bangsa paling relijius: korupsi, suap, nyontek, perkosaan, dan perilaku buruk lainnya menjadi berita sehari-hari. Menurut saya yang salah itu bukan karena agamanya, tetapi emang dasar orang tersebut tidak mempraktekkan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari, tidak me-match-kan apa yang dibaca dengan yang tindakan yang dilakukan.

Kembali ke masalah diskriminasi karena agama. Diskriminasi terjadi bukan karena agamanya, tetapi lebih pada perilaku orangnya. Orang yang melakukan diskriminasi karena agama sebenarnya telah berlaku tidak adil, dan ketidakadilan itu bisa diseret ke ranah hukum karena melanggar Pasal 27 UU 1045 ayat 1: Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

Ketidakadilan karena menganut suatu agama tidak hanya terjadi di negara kita. Di luar negeri, di negara-negara yang mengaku demokratis sekalipun, sering juga kita dengar diskriminasi hanya karena dia beragama berbeda. Misalnya ada wanita muslimah yang susah mendapat pekerjaan hanya karena dia memakai hijab atau kerudung. Di Perancis yang menganut paham liberte malah ada larangan menggunakan jilbab di sekolah-sekolah.

Jika pencantuman agama di KTP dianggap menimbulkan diskriminasi, maka seharusnya semua kolom data di KTP dapat menimbulkan diskriminasi juga lho. Tidak percaya? Coba perhatikan dialog berikut yang saya peroleh dari Fesbuk, anekdot lucu tetapi sebenarnya mengandung nada satire:

Perlukah Kolom Agama di KTP Dihapus?
A : “Bro, tahu belum? Ada wacana kolom agama di KTP mau dihilangkan lho.”

B : “Emang kenapa? Katanya negara berketuhanan, kok malah hilangkan agama?”

A: “Katanya sih, kolom agama itu bisa mengakibatkan diskriminasi. Lagian agama juga urusan pribadi. Nggak usahlah dicantumkan di KTP.”

B : “Nah, ntar ada juga orang yang ngaku mendapat perlakuan diskriminasi gara-gara jenis kelamin ditulis. Berarti kolom jenis kelamin juga harus dihapus dong. Laki-laki dan perempuan kan setara. Lagian, para bencong atau banci pasti protes mau dimasukkan ke jenis kelamina apa.”

C : “Eh, jangan lupa. Bisa juga lho perlakuan diskriminasi terjadi karena usia. Jadi hapus juga kolom tanggal lahir.”

D : “Eit, ingat juga. Bangsa Indonesia ini juga sering fanatisme daerahnya muncul, terlebih kalau ada laga sepak bola. Jadi mestinya, kolom tempat lahir dan alamat juga dihapus.”

B : “Ada juga lho, perlakuan diskriminasi itu gara-gara nama. Misal nih, ada orang dengan nama khas agama tertentu misalnya Abdullah, tapi tinggal di daerah yang mayoritas agamanya lain. Bisa tuh ntar dapat perlakuan diskriminasi. Jadi kolom nama juga wajib dihapus.”

B: “Kalau status pernikahan gimana? Perlu gak dicantumkan?”

A : “Itu harus dihapus. Nikah atau tidak nikah itu kan urusan pribadi masing-masing. Saya mau nikah kek, mau pacaran kek, itu kan urusan pribadi saya. Jadi kalau ada perempuan hamil besar mau melahirkan di rumah sakit, nggak usah ditanya KTP-nya, nggak usah ditanya sudah nikah belum, nggak usah ditanya mana suaminya. Langsung saja ditolong oleh dokter.”

D : “Sebenarnya, kolom pekerjaan juga berpotensi diskriminasi. Coba bayangkan. Ketika di KTP ditulis pekerjaan adalah petani/buruh, kalau orang tersebut datang ke kantor pemerintahan, kira-kira pelayanannya apakah sama ramahnya jika di kolom pekerjaan ditulis TNI? Nggak kan? Buruh biasa dilecehkan. Jadi kolom pekerjaan juga harus dihapus.”

C: “Kalau golongan darah gimana? Berpotensi diskriminasi nggak?”

A : “Bisa juga. Namanya orang sensitif, apa-apa bisa jadi bahan diskriminasi.”

E : “Lha terus, isi KTP apa dong?
Nama : dihapus
Tempat tanggal lahir : dihapus
Alamat tinggal : dihapus
Agama : dihapus
Status perkawinan : dihapus
Golongan darah : dihapus
Berarti, KTP isinya kertas kosong doang….”

A, B, C, D : (melongo)

Dipublikasi di Indonesiaku | 27 Komentar

Gila Hormat dan Hidup yang Terhormat

Saya pernah mengenal seseorang yang mana saya agak kurang suka dengan sikapnya😦. Setiap kali berpapasan dia tidak mau menyapa atau menoleh, harus orang lain yang menyapa terlebih dahulu barulah dia menoleh. Awalnya saya kira karena dia tidak melihat saya saja, tetapi selalu begitu setiap ketemu. Rupanya dia dulu bekas tentara yang mungkin punya jabatan dan punya anak buah yang selalu siap memberikan hormat setiap berpapasan. Sayangnya setelah pensiun dan tidak punya anak buah lagi, sikap meminta hormat itu tetap ditunjukkannya dalam kehidupan sehari-hari. Post power syndrom lah, itu istilah yang tepat.

Dulu juga pernah ada orang lain yang punya perilaku mirip. Karena pernah menjadi kepala di sebuah instansi, maka dia merasa bawahannya harus selalu hormat kepadanya. Sayangnya dalam kehidupan sehari-hari sikap itu terbawa-bawa, dan setelah pensiun, sikap itu masih melekat dalam dirinya. Orang lain harus menyapanya terlebih dahulu, kalau tidak maka dia tidak akan menoleh.

Saya teringat kata-kata Buya Hamka di dalam bukunya yang berjudul Tasauf Modern. Kata Hamka, gila hormat itu tidak boleh, tetapi menjadi orang yang terhormat haruslah jadi tujuan hidup. Tentu tidak ada orang yang ingin menjadi orang hina dina, dilecehkan, direndahkan, atau tidak dihargai di dunia ini. Saya yakin semua orang ingin dihormati, tetapi jangan sampai minta hormat. Kalau minta hormat, itu gila hormat namanya.

Di kampus saya ada dosen yang patenteng-patenteng. Peraturan di kampus kami, setiap orang yang masuk membawa kendaraan selalu ditanyakan kartu identitas pegawainya oleh Bapak Satpam. Suatu hari dosen tersebut tidak membawa kartu identitas pegawai (KIP) sehingga Pak Satpam tidak membolehkan mobilnya masuk. Karena kesal, dosen tersebut marah-marah lalu berkata: “Bapak tahu tidak, saya ini dosen!”. Pak satpam hanya diam. Menurut saya, kalau dosen memangnya kenapa? Minta diistimewakan? Minta dihormati karena merasa dirinya lebih tinggi kedudukannya dari Pak Satpam? Pak Satpam hanya menjalankan prosedur, kita harus menghormati tugasnya itu. Padahal, kalau dibicarakan baik-baik dan tidak emosi, pasti Pak Satpam mengerti dan mengizinkan masuk. Tetapi, karena ucapan yang terkesan menunjukkan kepongahan itu, dimata saya jatuhlah dosen itu dalam pandangan yang lebih rendah dari Pak Satpam.

Saya pernah membaca ada menteri yang marah-marah di pesawat karena tempat duduknya diisi oleh orang lain. Menteri itu ngotot harus terbang pada jam tersebut. Setelah diteliti boarding pass-nya ternyata jadwal penerbangannya seharusnya pada jam berikutnya. Namun, karena merasa dirinya orang penting, dia menunjukkan perilaku yang sama sekali tidak intelek. Di era media sosial seperti ini, sikap menteri yang arogan dan gila hormat itu menyebar dengan cepat dan menuai kecaman dimata publik.

Banyak lagi kasus pejabat yang berperilaku arogan seperti kisah di atas. Ada jaksa yang marah-marah karena ingin didahului antri di pom bensin, ada anggota parlemen yang menampar pramugari, dan lain-lain. Penyebabnya karena mereka merasa kedudukannya lebih tinggi sehingga harus dihormati.

Kebanyakan pejabat di negara kita berkelakuan seperti bos. Mereka ingin selalu dilayani. Kalau datang berkunjung ke daerah mereka diperlakukan bak raja: karpet merah dibentangkan, disambut dengan payung keebsaran, dikalungi bunga rampai, disiapkan mobil jemputan mewah, dikawal selama mobilnya melintas di jalanan, orang lain harus minggir. Sudah menjadi budaya turun temurun seperti itu. Padahal sebagai pejabat atau abdi masyarakat, mereka seharusnya melayani, bukan dilayani. Mereka seharusnya merasakan susah senang hidup rakyat kecil, merasakan penderitaan masyarakatnya, bukan malah hidup bersenang-senang di tengah tangis kesedihan rakyatnya.

Kembali ke masalah hormat tadi. Kehormatan itu tidak untuk diminta, tetapi rasa hormat itu muncul dengan sendirinya karena budi yang mulia. Kehormatan itu bukan karena pangkat atau jabatan yang tinggi, kedudukan yang hebat, atau uang/harta yang banyak, tetapi kehormatan itu diperoleh karena akhlak yang terpuji. Apalah artinya punya jabatan tinggi tetapi angkuh dan arogan. Apalah artinya punya harta yang banyak tetapi pelit/kikir. Apalah artinya punya karir yang hebat tetapi korupsi. Orang akan hormat kepada kita karena kita selalu berlaku jujur, berdedikasi, dan tidak melakukan perbuatan yang tercela. Makanya, menjadi orang yang terhormat karena memiliki budi yang mulia haruslah menjadi tujuan hidup kita.

Dipublikasi di Renunganku | 9 Komentar

Setelah LHI Divonis 16 Tahun

Luthfi Hasan Ishaq (LHI), mantan Prsiden PKS, akhirnya dijatuhi hukuman 16 tahun oleh Majelis Hakim Tipikor di Jakarta baru-baru ini. LHI dinyatakan bersalah karena melakukan suap dalam kasus impor daging sapi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Menarik sekali menyimak perbincangan seru di media sosial terkait vonis hakim terhadap LHI itu. Para kader dan pendukung PKS jelas tidak bisa menerimanya, mereka menilai Majelis Hakim telah berbuat kedzoliman dengan menjatuhkan vonis tersebut. Intinya, para kader tetap menganggap LHI tidak bersalah. Sebagian kader menganggap lama hukuman tersebut dinilai tidak adil bila dibandingkan hukuman yang diperoleh oleh Nazaruddin, Angelina Sondakh, dan Joko Santoso. Ketiga koruptor tersebut dihukum lebih rendah daripada LHI meskipun jumlah uang yang mereka korup jauh lebih besar daripada LHI (baca ini: Luthfi Divonis 16 Tahun Penjara, PKS: Hakim Tidak Adil dan PKS: Mau Hukuman Ringan? Korupsilah yang Banyak).

Bagi kelompok orang atau pihak-pihak (termasuk media) yang memang tidak suka dengan PKS (yang diistilahkan dengan haters), vonis terhadap LHI tersebut semakin menebalkan rasa tidak suka mereka terhadap apapun yang berkaitan dengan PKS. Mereka menuding PKS sebagai partai munafik, sok bersih dan sok suci, ternyata elit pimpinannya mempunyai perilaku korup. Itu penilaian saya tangkap dari para haters.

Bagi simpatisan yang dulu memilih partai ini dalam Pemilu, bisa jadi mereka akan makin menjauh dari PKS. Mereka mungkin kecewa dengan PKS. Hasil-hasil berbagai jajak pendapat tentang pilihan partai untuk Pemilu 2014 memang memperlihatkan PKS semakin tidak diminati dan terperosok sebagai partai gurem. Entahlah dalam waktu beberapa bulan ke depan menjelang Pemilu 2014 apakah PKS bisa menarik simpati yang telah menjauh itu? Wallahu alam.

Bagi saya yang tidak punya afiliasi dalam partai politik apapun, saya ingin bersikap netral saja, sama seperti para pengamat lain yang melihat kasus ini secara proporsional. Saya tidak tertarik dengan teori konspirasi yang dimunculkan oleh kader-kader PKS. Menurut saya para hakim Tipikor sudah menjalankan tugasnya sesuai kompetensinya. Mereka telah membaca, mendengar, dan menyimak para saksi (baik yang memberatkan maupun meringankan), mereka juga telah menilai berbagai alat bukti yang memberatkan LHI. Kalau mereka salah dalam mengadili LHI, biarlah Allah saja yang menghukum para hakim itu di akhirat kelak. Tetapi jika mereka benar, maka mereka perlu diapresiasi.

Menurut saya, perdebatan tentang vonis LHI di luar pengadilan tidak ada gunanya dan tidak akan mengubah keputusan para hakim. Keputusan hakim adalah keputusan final. Jika tidak puas dengan vonis tersebut, maka LHI dapat mengajukan banding. Mekanismenya sudah ada, maka biar publik sendiri yang akan melihat siapa nanti yang benar dan siapa yang salah. Jika di dunia tidak mendapat keadilan, maka di akhirat nanti mendapat keadilan yang mutlak dari Tuhan.

Tentang hukuman LHI yang dianggap tidak adil jika dibandingkan dengan hukuman yang diterima Angelina Sondakh, Nazaruddin, dan para koruptor lainnya, meskipun jumlah uang suap untuk LHI hanya 1,3 M, tentu kita perlu melihat lebih cermat. Jangan hanya melihat pada nilai uang korupsinya, tetapi perhatikan dakwaan apa saja yang dituduhkan. LHI tidak hanya didakwa menerima uang suap (meskipun uang tersebut belum diterima, baru niat saja, bahkan niat disuap saja sudah termasuk gratifikasi. Red), tetapi juga dikenakan dakwaan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang). Seorang teman di Fesbuk memberikan penilaiannya sebagai berikut:

Dakwaan yg dikenakan ke LHI bukan hanya dakwaan suap tapi dakwaan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) yg salah satu indikasinya menyembunyikan harta pendapatan dari sumber yg tidak benar. Dakwaan ini mulai diterapkan untuk Angelina Sondakh. Pada sidang pertama, tidak dikabulkan oleh hakim, sehingga hanya dihukum 4 tahun penjara. Jaksa KPK Banding, dan pada tingkat kasasi Hakim mengabulkan kasasi KPK dengan menghukum Angelina Sondakh 12 tahun dan harus mengembalikan 39M. Sedangkan kasus Nazarudin disidangkan sebelum Angelina Sondakh. Mengapa baru diterapkan mulai kasus Angelina Sondakh ? Karena sebelumnya ada perdebatan bahwa jaksa KPK tidak berhak mengenakan dakwaan TPPU. Dakwaan yg sama dikenakan untuk Akil Mochtar, Andi Malarangeng, dll

Untuk kasus korupsi pejabat, kalau dakwaan yg dikenakan hanya korupsi, hukuman maksimalnya hanya 5 tahun, dan tidak akan membuat jera pejabat yg korupsi. KPK melakukan terobosan dengan mengenakan dakwaan TPPU yg memiliki hukuman yg lebih berat dan ganti rugi yg besar. Terobosan baru mulai diterapkan untuk Angelina Sondakh. Hasilnya Angelina Sondakh divonis 12 tahun+ganti 39M, Joko Susilo divonis 10 tahun + harta seharga 100M-an disita (KPK sedang banding), LHI divonis 12 tahun+denda 1 M+harta disita (akan banding).

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saya tidak tahu, apakah kasus LHI ini merupakan cara Tuhan untuk memperlihatkan aib yang selama ini tersembunyi di dalam elit pengurus partai. Entahlah. Kasihan dengan kader-kadernya di akar rumput yang telah bekerja keras dengan ikhlas, tetapi mereka harus menerima kenyataan pahit akibat perilaku elit mereka sendiri.

Semoga kasus LHI ini menjadi bahan introspeksi bagi PKS sendiri. Semakin sering PKS mengumbar komentar yang kontraproduktif dalam menyikapi vonis tersebut akan membuat publik semakin antipati kepada PKS, misalnya komentar Hidayat Nur Wahid pada pranala berita ini: PKS: Mau Hukuman Ringan? Korupsilah yang Banyak. Meskipun maksud Pak HNW adalah mengungkapkan satire atau sarkasme, namun sebaiknya tidak perlu diucapkan, sebab persepsi orang yang mendengarnya bisa berbeda:

“Kemampuan memahami dan menggunakan sarkasme itu memang menunjukkan tingkat kecerdasan seseorang, namun memilih untuk tidak menggunakan sarkasme karena khawatir pendengar salah tangkap menunjukkan kebijaksanaan orang tersebut.”
-AS, 2012

Langkah terbaik bagi PKS adalah menerima hukuman tersebut dan menyikapinya dengan elegan. Saya yakin masih lebih banyak orang baik di PKS, yang bobrok itu hanya beberapa orang saja. Mahasiswa-mahasiswa saya di kampus banyak juga yang menjadi kader maupun simpatisan PKS. Mereka anak-anak muda yang baik, yang berdakwah dengan cara-cara yang santun dan elegan. Saya kagum dengan semangat dan konsistensi mereka membesarkan partai.

Kasus yang menimpa LHI (dan tentunya PKS) akan mempunyai dampak langsung maupun tidak langsung pada partai Islam lainnya. Kepercayaan publik semakin merosot terhadap partai-partai berbasis agama. Publik semakin skeptis dengan partai-partai yang berbasis agama sebab kelakuannya sama saja dengan partai yang bukan berlandaskan agama. Toh, semua partai di Indonesia terindikasi korupsi, cepat atau lambat. Seperti kata pepatah, kekuasaan itu cenderung korup.

Dipublikasi di Indonesiaku | 10 Komentar