Trotoar Ramah Tuna Netra

Di beberapa ruas jalan di kota Bandung saat ini sedang ada pembangunan trotoar (jalur pedesterian) yang ramah bagi penyandang tunanetra.

Ubin-ubin di trotoar diganti lalu dipasang ubin penanda khusus bagi penyandang tunanetra yang berjalan kaki dengan alat bantu tongkat. Warnanya kuning dan ada karakter timbul seperti huruf braille. Di bawah ini foto ubin trotoar yang baru dipasang di Jalan Ganesha (depan Kampus ITB).

231020133608

231020133607

Saya tahu itu ubin khusus untuk kaum tunanetra ketika saya berkunjung ke Tokyo (Jepang) bulan lalu. Di sana saya melihat semua jalur pedestrian selalu ada ubin kuning ini. Saya sempat heran ini untuk apa maksudnya, ternyata baru tahu itu untuk kaum tunanetra sebagai pandaun dalam berjalan kaki.

Belum semua trotoar jalan di kota Bandung memasang penanda khusus buat kaum tunanetra itu. Saya baru melihat di Jalan Ganesha dan Jalan Cibatu (Antapani). Mudah-mudahan semua jalan memiliki jalur penanda ini sehingga kota Bandung ramah bagi penyandang cacat fisik sepeti kaum tunanetra itu.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 4 Komentar

Goyang Caesar dan Lirik Lagunya yang Tidak Pantas

Saat ini masyarakat kita dilanda demam Goyang Caesar. Aksi goyang lucu dari selebriti dadakan bernama Caisar Putra Aditya itu menjadi terkenal di seantero negeri. Sebuah televisi swasta malah membuat acara khusus untuk Caisar yang menampilkan goyangannya. Jika anda belum pernah melihat seperti apa Goyang Caesar itu, silakan klik video di Youtube berikut:

Acara Goyang Caesar itu bermula dari acara sahur pada bulan Ramadhan (sudah sering dikeluhkan acara sahur isinya tidak mendekatkan orang kepada Tuhan). Karena unik dan lucu, maka goyang Caesar itu mewabah dan ditiru banyak orang dan dimainkan secara beramai-ramai, mulai dari anak-anak, ibu-ibu, hingga pelajar sekolah. Ada yang bilang Goyang Caesar itu adalah Gangnam Style-nya Indonesia karena heboh dan dijogetkan secara massal.

Saking mewabahnya, Goyang Caesar itu sering dikonteskan dan pesertanya antara lain anak-anak. Anak-anak itu berjoget menirukan Goyang Caesar dan mendapat semangat berupa tepuk tangan dari orangtuanya.

Tapi tunggu dulu! Apakah anda pernah menyimak lirik lagu yang menjadi hits musik Goyang Caesar itu? Jika anda pernah mendengar atau membaca syair lagunya, anda pun akan terhenyak mengurut dada. Lagu Goyang Caesar berjudul Buka Dikit Joss, awalnya dipopulerkan oleh Juwita Bahar yang merupakan anak penyanyi dangdut Annisa Bahar yang terkenal dengan goyangannya yang vulgar.

Hei kenapa kamu kalau nonton dangdut
Sukanya bilang ( Buka Dikit Joss )
Apa karena pakai rok mini jadi alesan

Sukanya…abang ini lihat-lihat bodiku yang seksi..
Senangnya…abang ini intip-intip ku pakai rok mini

Hei kenapa kamu kalau nonton dangdut
Sukanya bilang ( Buka sitik Joss)
Apa karena pakai rok mini jadi alesan

Sukanya…abang ini lihat-lihat bodiku yang seksi
Senangnya….abang ini intip-intip ku pakai rok mini

Hei kenapa kamu kalau nonton dangdut
Sukanya bilang ( Buka Sitik Jos )
Apa karena pakai rok mini jadi alesan

Sukanya…abang ini lihat-lihat bodiku yang seksi
Senangnya…abang ini intip-intip ku pakai rok mini

(lirik lagu diambil dari sini)

Kalau Anda belum pernah mendengar lagunya, ini dia lagunya yang dinyanyikan oleh Soimah dengan pengiringnya adalah Caesar yang bergoyang seperti yang saya sebutkan di atas. Klik video berikut ini:

Sudah baca dan dengar lirik lagu tersebut? Bagaimana pendapat Anda? Menurut saya banyak lirik di dalamnya kurang pantas didengar alias mesum, apalagi jika didengar dan dinyanyikan oleh anak-anak. Saya mencetak tebal (bold) beberapa kalimat yang kurang pantas itu. Memang begitulah tipikal lagu dangdut di negara kita yang mengarah pada kata-kata cabul dan eksploitasi selera rendah, belum lagi ditambah dengan goyangan penyanyinya yang erotis. Tidak semua sih, tetapi sebagian penyanyi dan pencipta lagu memakai resep murahan seperti itu agar cepat laku dan terkenal.

Jadi, jika Anda ikut meniru Goyang Caesar dengan diiringi musik lagu Buka Dikit Joss itu, maka secara tidak langsung Anda mengamini lirik lagunya. Marilah kita jaga anak-anak kita dari pengaruh budaya pop yang kurang pantas untuk ditiru.

Dipublikasi di Indonesiaku | 29 Komentar

Dari Pembenci Nabi Akhirnya Menjadi Pengikut Nabi (Produser Film “Fitna”)

Itulah Maha Kebesaran Allah SWT. Mudah saja bagi-Nya untuk membolak-balik hati manusia, dari dulunya seorang pembenci Nabi Muhammad SAW, sekarang malah menjadi pengikut Nabi SAW, dan pada musim haji tahun ini hamba-Nya itu menjadi tamu Allah di Tanah Suci Mekkah, tanah kelahiran Sang Nabi itu sendiri.

Itulah yang terjadi pada Arnoud Van Doorn, produser film Fitna yang menghebohkan itu. Seperti diberitakan di dalam berita ini: Produser Film Fitna Pergi Haji, Arnoud datang ke tanah Suci Mekkah untuk menunaikan haji guna menebus dosa-dosanya.

Arnoud van Doorn (Sumber foto; Republika)

Arnoud van Doorn (Sumber foto; Republika)

Saya kutip beberapa kalimat dari laman berita tersebut:

Van Doorn mengaku menyesal ikut ambil bagian dalam produksi Film Fitna. Ia pun memutuskan mengunjungi tempat suci umat Islam menebus dosa-dosanya.

Ia menggambarkan Fitna benar-benar salah. Selain banyak menampilkan informasi yang tak benar serta tak berhubungan dengan Islam ataupun Muhammad Saw.

Semenjak kedatangan di Tanah Suci, ia merasakan hari-hari terbaik dan hidupnya. Ia juga ingin menghabiskan lebih banyak waktu di Madinah setelah menyelesaikan ritual Haji.

Ia pun mengaku merasa malu berdiri dihadapan makam Nabi Muhmmad. Ia merasa bersalah apalagi setelah menjadi produser film yang menyudutkan umat Islam.

Ia telah membaca banyak tentang Islam. Ia pun menyatakan banyak kesalahan yang ia buat sebelumnya. Aku berharap Allah memaafkanku dan menerima tobatku, tambahnya.

Van Doorn menjadi mualaf pada tahun 2012. Setelah menjadi muslim, dia berjanji untuk memperbaiki apa yang telah ia rusak (dalam film Fitna) tersebut.

“Saya akan bekerja keras guna memperbaiki apa yang saya rusak, termasuk ketika saya menjelek-jelekan Rasulullah dalam film Fitna,” ujarnya menjelaskan.

Ia mengaku sedih ketika menyadari telah melakukan kesalahan besar. “Saya berharap bisa melupakan itu. Karena saya memang tidak ingin mengingatnya, tuturnya dengan nada sedih.

FYI, film Fitna adalah film besutan politikus Belanda, Geert Wilders. Wilders adalah pemimpin Partij voor de Vrijheid (PVV) di parlemen Belanda, sebuah partai berhaluan keras dan anti pada imigran dari Timur Tengah dan anti pada Islam. Film ini berisi pandangannya mengenai Islam dan Qur’an. Seperti dikutip dari laman Wikipedia, pembuatan film Fitna dilatarbelakangi oleh pengetahuan Wilders tentang sejarah Islam. Ia merasa bahwa Islam telah mengurangi kebebasan di Belanda dan ajaran Nabi Muhammad tidak cocok dengan moral Barat. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Fitna)

~~~~~~~~~~~~~

Apa yang terjadi pada Arnoud van Doorn mengingatkan kita pada Umar bin Khatab, salah seorang sahabat Nabi. Umar adalah seorang bangsa Quraisy yang dulunya sangat membenci Nabi Muhammad SAW. Pada puncak kebenciannya, dia memutuskan akan membunuh sendiri Nabi Muhammad dengan pedangnya. Namun apa yang terjadi? Dalam perjalanan ke rumah Nabi dia mendapat kabar bahwa saudara perempuannya telah memeluk Islam. Diriwayatkan bahwa Umar langsung datang ke rumah saudaranya itu untuk menunjukkan rasa amarahnya, namun ketika dia mendengarkan ayat-ayat Al-Quran yang dibacakan oleh adiknya itu, bergetarlah hatinya. Runtuhlah Umar yang gagah berani itu mendengar ayat-ayat tadi. Seketika itu juga dia datang kepada Nabi, tetapi bukan untuk membunuhnya, melainkan untuk mengikrarkan diri masuk Islam. Sesudah masuk Islam, Umar berbalik menjadi salah seorang pembela Nabi yang gigih.

Begitu pulalah dalam skala tertentu yang terjadi pada Arnoud van Doorn, dari yang dulunya pembenci Nabi, sekarang menjadi pengikut nabi Muhammad. Kata orang Jawa, itu namanya “kualat”. Oleh karena itu, seperti kata teman saya, jika ada orang yang menjelek-jelekkan Nabi, kita tidak perlu mengamuk marah-marah hingga bertindak anarkis segala, cukuplah kita doakan orang yang menjelek-jelekkan itu menjadi “kualat” sendiri karena ucapannya.

Dipublikasi di Agama | 11 Komentar

Bagaikan Kisah di Negeri Dongeng, Pernikahan Putri Herlina dan Reza

Sungguh pernikahan dua anak manusia ini bagaikan kisah di negeri dongeng. Putri Herlina, seorang gadis yang terlahir cacat karena tidak mempunyai kedua tangan (maaf, buntung), dipersunting oleh Reza Hilyard Somantri , putra mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Maman Husein Somantri. Berita lainnya baca di Jawa Pos (Gadis tanpa Tangan Dapatkan Suami Idaman, Putri Herlina Dinikahi Putra Mantan Deputi Gubernur BI).

Pernikahan Putri Herlina dan Reza (Sumber foto: http://saptuari.blogspot.com/2013/10/tuhan-maha-sutradara.html)

Pernikahan Putri Herlina dan Reza (Sumber foto: http://saptuari.blogspot.com/2013/10/tuhan-maha-sutradara.html)

Anda mungkin tidak percaya, saya juga, tetapi kalau Tuhan yang menghendaki, maka semua akan terjadi. Membaca kisah hidup Putri Herlina yang penuh suka dan duka membuat saya sangat terharu. Putri ditinggalkan di rumah sakit ketika masih kecil oleh orangtuanya (mungkin orangtuanya malu mempunyai anak cacat), lalu oleh rumah sakit dia diserahkan ke panti asuhan Yayasan Sayap Ibu di Yogyakarta. Selama hidup di panti, Putri belajar untuk mandiri. Meskipun tidak mempunyai tangan, tetapi dia dapat melakukan kegiatannya sendiri dengan menggunakan kakinya, seperti menulis, makan, mengganti baju, mandi, menggosok gigi, menggunakan komputer, dan lain-lain

Putri Herlina menggunakan komputer dengan kedua kakinya. (Sumber: http://saptuari.blogspot.com/2013/10/tuhan-maha-sutradara.html)

Putri Herlina menggunakan komputer dengan kedua kakinya. (Sumber: http://saptuari.blogspot.com/2013/10/tuhan-maha-sutradara.html)

Putri Herlina ingin hidup normal seperti wanita lainnya, dia ingin keluar dari panti dan menikah dengan pria idaman yang tidak buntung seperti dirinya. Doanya yang tidak pernah putus akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT, tidak disangka seorang lelaki gagah dari kalangan orang terpandang melamarnya dan mempersuntingnya menjadi istri. Anda dapat membaca kisah lengkap Putri Herlina dan foto-fotonya di blog Saptuari Sugiharto pada tulisan ini: Tuhan Maha Sutradara. Dialah yang menemukan Putri Herlina di panti dan mengangkat kisahnya di dalam blog miliknya. Kisah yang diungkapkan di dalam blog tersebut sangat mengharukan (siapkan tisu atau saputangan ketika membacanya), dan sangat inspiratif.

Menurut saya, Reza Hylliard adalah seorang lelaki yang sangat hebat, sebab dia mau menerima kekurangan istrinya itu. Kedua orangtua dan saudaranya saya pikir juga adalah orangtua dan keluarga yang hebat, sebab dengan kebesaran jiwanya mereka mau menerima pilihan anaknya. Sangat langka ada pria yang mempunyai pikiran seperti Reza. Orang normal seperti Anda, termasuk saya, pasti ingin yang sempurna, mendapat jodoh yang sepadan, sehak fisik dan jasmani. Tetapi, Reza menurut saya extraordinary, dia melihat dengan mata hati, bukan dengan mata fisik semata.

Kisah ini sekaligus membuktikan bahwa hidup, mati, jodoh, dan rezeki semua sudah diatur oleh Ilahi. Seperti kata Saptuari di dalam blognya, Tuhan memang Maha Sutradara.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 98 Komentar

Si Singa Udara (Li*n Air) yang Bikin Keki

Membaca berita penumpang Lion Air jurusan Jakarta – Padang yang terkatung-katung di bandara Cengkareng karena penundaan yang sangat kelewatan (12 jam), membuat saya teringat pengalaman naik maskapai yang sama dua minggu lalu. Waktu itu saat peak season sebab bertepatan dengan long weekend libur Idul Adha (libur 4 hari dari Sabtu sampai Selasa).

Pesawat saya rencananya akan berangkat pukul 05.00 pagi. Dari Bandung saya naik bis Primajasa pukul 01.15 dan sampai di bandara Cengkareng pukul 03.45. Waahh, pagi buta itu bandara sangat padat dengan orang-orang yang akan bepergian liburan Idul Adha. Untuk masuk ruang chek-in saja antrianya luar biasa panjang.

Saya sampai di konter antrian pukul 04.00. Setelah menunggu 15 menit akhirnya saya sampai di depan konter. Petugas menanyakan kepada saya apakah saya sudah chek-in. Pertanyaan yang aneh, lha ini saya mau chek-in. Dia berdiskusi dengan temannya di sebelah, lalu kembali lagi kepada saya dan mengtakan bahwa pesawat sudah boarding dan chek-in ke tujuan saja sudah ditutup.

Apa? Sudah tutup? Ini kan masih 45 menit lagi, masih lama. Aturannya kan 30 menit sebelum boarding maka konter chek-in ditutup. Saya komplain dan tidak terima. Saya diarahkan ke petugas di kantor duty manager. Petugas di sana tetap tidak bisa melakukan chek-in kepada saya. Alasannya pesawat sudah boarding. Boarding dipercepat satu jam sebelumnya untuk menghindari antrian pesawat lepas landas berhubung hari itu peak season. Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng memang sudah over load, baik jumlah penumpang maupun jumlah penerbangan yang pergi dan datang, sehingga untuk lepas landas saja pesawat harus antri lama.

Baik, saya paham tentang antrian pesawat yang lama untuk lepas landas itu. Masalahnya, saya dan penumpang lain yang gagal terbang tidak diberitahu kalau chek-in dan boarding dipercepat. Salah saya juga sih kenapa datang satu jam sebelumnya, bukan dua jam sebelum berangkat seperti tertera di tiket. Tetapi menurut saya Lion Air juga salah, mengapa mereka tidak memberitahukan bahwa chek-in dipercepat, misalnya melalui SMS. Untuk apa gunanya nomor telpon calon penumpang diminta saat pembelian bila bukan untuk pemberitahuan jika ada hal mendadak. Dalam hal ini Sriwijaya Air patut dicontoh, maskapai ini selalu memberitahukan kepada calon penumpang apabila ada hal mendadak seperti penundaan terbang.

Setelah cukup lama komplain, saya diberikan solusi untuk terbang dengan pesawat sore, yaitu pukul 18.00. Semua jadwal penerbangan setelah jam 5 pagi sudah penuh, yang tersisa kosong hanya yang jam 18.00. Tidak ada pilihan lain, saya terpaksa menerimanya karena tidak ingin mengecewakan orang di kota tujuan jika saya tidak datang. Memang acara saya Sabtu siang di sana menjadi batal karena penundaan ini, tetapi setidaknya saya masih bisa bertemu pada hari Minggu.

Untung saja tiket saya tidak hangus dan tidak ada penambahan biaya dengan pemindahan ke jam 18.00 itu, tetapi menunggu selama 12 jam lagi bagi saya sangat lama dan sangat berat, karena kondisi badan saya saat itu sedang drop (sakit flu). Menunggu di lounge selama 12 jam tidak memungkinkan bagi saya, maka dengan berat hati saya mencari hotel di dalam bandara untuk beristirahat di dalam kamar sampai menunggu jam 18.00. Terpaksa deh keluar uang lima ratus ribu lebih untuk istirahat selama beberapa jam saja di hotel bandara.

Sungguh saya menyesalkan cara kerja maskapai singa udara ini. Saya sangat dirugikan. Tidak hanya saya, banyak juga penumpang lain dengan tujuan berbeda gagal terbang meskipun masih satu jam sebelum waktunya pesawat berangkat. Ada yang bilang ini trik si singa udara untuk menjual kursi penumpang dengan alasan telat chek-in. Nggak ngerti saya. Ada yang bilang kasus-kasus delay Lion Air disebabkan ekspansi Lion Air yang meningkat pesat tidak diimbangi dengan peningkatan infrastruktur bandara dan kemampuan manajerial maskapai. Jadi deh begini akibatnya.

Sayangnya pilihan naik pesawat tidak banyak, si singa udara masih tetap saja dipilih karena pilihan lain pada jam yang diinginkan tidak banyak tersedia. Lion Air adalah maskapai dengan frekuensi penerbangan paling banyak dan tujuan kota-kota yang mencakup hampir semua kota di tanah air, karena itu calon penumpang mau tidak mau memilih maskapai ini. Meskipun banyak kasus-kasus delay yang terjadi pada si singa udara, namun orang-orang tetap saja memilihnya, suka atau tidak suka, karena pilihan yang ada sangat terbatas.

Dipublikasi di Pengalamanku | 4 Komentar

Setumpuk Amplop dari Bapak Penjual Amplop

Pak Darta, Bapak penjual amplop itu, masih tetap duduk sendirian menunggui dagangannya berupa amplop-amplop di depan Masjid Salman ITB. Setiap kali saya sholat Jumat ke Masjid Salman ITB, saya selalu melewati Pak Darta. Cerita saya tentang Bapak penjual amplop ternyata menyebar bagaikan viral di dunia maya. Rasanya sudah tidak terhitung banyak orang yang bersimpati pada nasibnya dengan memberinya sekadar bantuan, terutama membeli amplopnya itu. Saya dengar dari orang-orang, Pak Darta sudah beberapa kali masuk tayangan TV dalam beberapa acara. Saya sendiri bukan penonton TV, jadi saya tidak tahu kalau Pak Darta pernah diliput oleh stasiun televisi.

Meskipun sudah terkenal dan (mungkin) mendapat bantuan materi, namun Pak Darta tetaplah begitu-begitu saja, tidak ada yang berubah sejak saya pertama kali bertemu. Saya tidak tahu banyak tentang kehidupan Pak Darta hingga sekarang, apakah ada kenmajuan atau ada perubahan. Yang tetap saya lakukan adalah selalu meniatkan membeli amplopnya setiap kali saya shalat Jumat ke Salman. Kadang saya beli tiga bungkus, kadang lima bungkus, dan seperti biasa selalu saya lebihkan uangnya dengan niat sedekah.

Amplop-amplop yang sudah saya beli itu saya taruh di dalam lemari buku di kantor. Amplop-amplop itu masih tetap rapi di dalam bungkus-bungkus plastik, sebagiannya saya masukkan ke dalam dua kotak amplop yang sudah padat (kotak amplop itu juga dari Pak Darta ketika saya membelinya dalam jumlah cukup banyak). Karena cukup sering membeli amplop Pak Darta, maka jumlahnya semakin banyak saja di lemari. Tadi siang ketika mau sholat Jumat saya beli lagi lima bungkus amplop dan saya simpan di dalam lemari. Di bawah ini tumpukan amplop yang sudah menggunung itu.

Tumpukan amplop yang saya beli.

Tumpukan amplop yang saya beli.

Jika ditumpuk semuanya sudah semakin tinggi saja.

Jika ditumpuk semuanya sudah semakin tinggi saja.

Hingga saat ini saya belum pernah memakai satupun amplop itu, karena di kampus sendiri kami lebih sering menggunakan amplop dengan kop fakultas. Niat saya membeli amplop Pak Darta memang bukan karena membutuhkannya, tetapi lebih karena ingin menolong saja untuk melariskan dagangannya dan tentu saja niat sedekah. Untuk apa amplop itu nantinya, saya juga tidak tahu.

Amplop-amplop itu akan terus menggunung di dalam lemari buku di kantor, karena saya memang selalu berniat untuk membelinya lagi dan lagi.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 10 Komentar

Soal Membaca, Orang Jepang Juaranya

Ini oleh-oleh yang tersisa waktu ke Jepang bulan lalu. Kalau urusan membaca yang tidak kenal tempat dan tidak kenal waktu, orang Jepang deh juaranya. Sambil menunggu kereta atau bis, atau bahkan berdiri di dalam kereta api mereka masih tetap meluangkan waktu untuk membaca, seperti foto yang saya jepret di bawah ini.

Sambil berdiri di atas kereta pun tetap membaca.

Sambil berdiri di atas kereta pun tetap membaca.

Di dalam kereta api cepat Shinkansen pun orang Jepang tetap membaca.

Di dalam kereta api cepat Shinkansen pun orang Jepang tetap membaca.

Di era digital seperti sekarang, kegiatan membaca beralih melalui gadget. Di Jepang, Internet ada di mana-mana di tempat-tempat publik, bahkan di atas kereta pun ada, maka membaca tulisan daring pun tetap dilakukan. Luar biasa orang Jepang dalam budaya membacanya.

Di negera kita, membaca belum menjadi budaya masif. Budaya bertutur lisan masih lebih umum dibandingkan membaca. Memang era ponsel dan gadget membuat perilaku orang Indonesia berubah, mereka memang lebih suka mengotak-atik ponsel atau gadget lainnya, tetapi kebanyakan digunakan untuk main game atau untuk social networking. Maka tidak heran aplikasi social networking seperti Facebook, Twitter, BBM, WhatsApp, dan lain-lain sangat populer dan laris di negara kita. Soal hubungan sosial orang kita memang juaranya, beda dengan orang Jepang yang kaku dalam berelasi sosial.

Orang kita memang patut mencontoh orang Jepang dalam budaya membaca. Budaya membaca adalah indikator kemajuan sebuah bangsa.

Dipublikasi di Gado-gado | 8 Komentar