Kiriman Randang dari Ibu

Setiap Hari Raya Idul Adha tiba, saya selalu teringat alamarhumah ibu saya. Ibu kami di Padang selalu mendapat pembagian daging qurban dari masjid, karena ibu ikut kurban di masjid dengan 1/7 sapi. Ditambah dengan ayah (alm) saya yang juga ikut kurban 1/7 sapi, maka daging kurban yang diterima alhamdulillah lebih dari cukup.

Daging qurban itu dimasak oleh ibu menjadi randang (rendang) hitam yang enak. Sebagian randang itu dimasukkan ke kaleng susu lalu di kirim ke saya di Bandung lewat paket Titipan Kilat (sekarang Tiki). Ini randang kurban, katanya via secarik kertas di dalam paket. Setelah dibuka harap dipanaskan, bunyi isi surat tersebut selanjutnya. Randang qurban itu barokah, karena daging kurban itu juga berkah sebagai wujud ketaqwaan seorang hamba kepada Tuhannya.

Randang kurban dari ibu tahan selama sebulan, lumayan menghemat pengeluaran makan saya sebagai mahasiswa kos saat itu. Saya tidak perlu lagi membeli makan di warung, saya cukup membeli nasi putih saja atau memasaknya sendiri di rumah, lalu lauknya adalah randang kiriman ibu. Rendangnya dihemat-hemat agar lama habisnya hingga tinggal dedaknya saja. Bahkan makan nasi dengan dedaknya saja sudah enak, apalagi kalau ada dagingnya.

Kebiasaan mengirim randang kurban itu selalu dilakukan ibu hampir setiap tahun, bahkan setelah saya menikah dan punya anak ibu masih mengirim saya randang kurban. Tidak hanya saya yang dikirimnya randang, kakak saya yang bekerja di Jakarta juga mendapat kiriman randang kurban dari Padang.

Sekarang, setelah ibu dan ayah saya tiada, setiap kali mendapat daging kurban dari masjid, saya selalu mengolahnya menjadi randang kurban. Randang kurban itu barokah. Randang kurban tidak hanya sekedar masakan, tetapi wujud kecintaan seorang ibu kepada anaknya di perantauan (ketika mengetikkan kalimat ini mata saya sembab berkaca-kaca, terkenang akan kasih sayangnya dulu). Semoga Allah mengampuni dosa-dosa ayah dan ibu serta melapangkan kuburnya di alam barzah. Amiin.

Dipublikasi di Renunganku | 3 Komentar

Dari Ayunan Hingga ke Liang Lahat

Sebuah foto kiriman dari seorang teman di Facebook memmbuat saya merenung cukup lama. Hidup kita ini bagaikan sebuah perjalanan waktu. Dari lahir sebagai bayi, lalu tumbuh sebagai anak-anak, bersekolah, tumbuh remaja, kuliah, bekerja, dewasa, tua, renta, terbaring sakit, dan berakhir di liang lahat. Perjalanan waktu seorang anak manusia itu bagaikan sebuah siklus yang dimulai dari bayi, muda, tua, mati, lalu tumbuh lagi generasi baru berikutnya yang akan menjalani siklus yang sama.

Bayi-muda-tua-mati (Sumber: Facebook)

Bayi-muda-tua-mati (Sumber: Facebook)

Hampir semua kita tidak menyadari bahwa waktu berlalu begitu cepat. Cara paling mudah memperhatikan berlalunya waktu itu adalah dengan mengamati pertumbuhan anak-anak kita. Kemarin dia masih bayi, digendong-gendong, ditimang-timang, tiba-tiba saja sekarang kita melihatnya sudah menjadi remaja yang aktif. Tiba-tiba saja dia akan segera wisuda sarjana. Tiba-tiba saja dia akan menjadi seorang suami/istri, dan kita akan segera menimang cucu. Begitu cepat waktu berlalu, kita menua bersamaan dengan bertambahnya usia anak-anak kita.

Sebagian orang ada yang “tidak beruntung” karena tidak dapat menjalani siklus tersebut secara penuh, karena di tengah perjalanan hidup tiba-tiba Sang Maha Pencipta memanggilnya kembali ke haribaan-Nya. Ada yang kembali ke Maha Pencipta akibat sakit, ada yang karena kecelakaan, bahkan ada yang mati tidak wajar karena bunuh diri akibat tidak kuat menanggung derita yang amat sangat.

Bersyukurlah kita yang masih diberi hidup hingga saat ini dari Allah SWT. Setiap orang tentu berharap dia mencapai usia sampai hari tua, hingga dapat melihat anak-anaknya menikah, lalu melahirkan cucu-cucu hingga cicit-cicit. Oleh karena itu, kesehatan jiwa dan raga adalah aset yang paling utama di dalam hidup ini agar kita dapat terus menyaksikan anak-anak tumbuh berkembang hingga mereka dewasa, berkeluarga, dan akhirnya kita menjadi aki-aki dan nini-nini yang bahagia.

Menjaga kesehatan saja tidaklah cukup. Sebagai seorang yang beriman dan mempercayai kehidupan akhirat sesudah mati, maka yang harus selalu diingat adalah bekal amal sholeh selama hidup di dunia. Harta yang dibawa mati hanyalah tiga lembar kain kafan, tidak lebih. Tetapi yang menjadi ‘harta” kita menghadap Allah SWT annti adalah amal pahala selama hidup di dunia. Apa guna umur panjang tetapi banyak berbuat dosa. Apa guna punya badan bagus tetapi banyak melakukan kemaksiatan. Oleh karena itu, perbanyaklah berbuat kebajikan, banyak-banyaklah beramal sholeh, banyak-banyaklah menimba pahala sebagai bekal ke akhirat.

Sudahkah anda beramal sholeh hari ini?

Dipublikasi di Renunganku | 2 Komentar

Gaji Habis Setelah Dua Minggu

Seorang teman, dosen juga tapi beda Jurusan, sedikit curhat kepada saya. Saya menyimak curhatnya dengan seksama. Dia “mengeluhkan” kondisinya. Dengan gaji PNS, insentif fakultas, dan tunjangan yang dia terima per bulan, dalam waktu dua minggu atau lebih gajinya sudah habis untuk kebutuhan pribadi dan rumah tangganya. Sangat jarang dia memperoleh penghasilan tambahan sebagai dosen peneliti riset, apalagi dari proyek-proyek. Hidupnya hanya mengandalkan dari makan gaji PNS saja. Setelah gaji habis selama dua minggu, dia pusing memikirkan bagaimana menutupi kekurangan selama minggu selanjutnya menjelang datang tanggal satu bulan baru.

Curhat teman saya tersebut mungkin dialami oleh banyak orang lain yang mengandalkan gaji dari Pemerintah atau kantor untuk menopang kehidupannya, khususnya para pegawai negeri. Mereka harus bisa mengakali bagaimana cara bertahan menjelang datang bulan baru (yang berarti memperoleh gaji bulan berikutnya). Ada yang meminjam uang dari temannya, ada yang menjual barang, atau ada yang berusaha mencari pekerjaan sampingan. Tentu saja pusing kepala memikirkan kondisi galau seperti ini. Namun, sepahit-pahitnya hidup tetap harus dijalani, yang penting tidak mencuri atau korupsi.

Sebenarnya saya pun mempunyai kondisi yang hampir sama dengan teman saya itu. Seringkali setelah dua atau tiga minggu seluruh gaji saya pun sudah habis. Namun untunglah saya mempunyai jurus “penolong” yaitu tabungan. Sejak kecil saya sudah diajarkan hidup hemat dan sederhana. Untungnya lagi saya bukan orang yang suka royal, suka kemewahan, dan konsumtif. Saya tidak merokok, tidak punya kebiasaan mencari hiburan (nonton bioskop, jalan-jalan ke mal), jarang makan di luar, dan lain-lain yang menguras uang. Sejak saya lulus kuliah dan mempunyai penghasilan sendiri, saya sudah terbiasa menabung dari sebagian penghasilan yang saya peroleh. Setiap mendapat penghasilan, sebagian saya sisihkan untuk masa depan. Jika tidak menabung mana mungkin saya bisa membeli rumah, mana mungkin saya bisa memenuhi kebutuhan sekolah anak yang lumayan besar. Apalagi saya dititipkan amanah memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK), maka pengeluaran semakin besar lagi.

Setelah menjadi dosen, kebiasaan menyimpan uang itu selalu saya teruskan. Setiap mendapat penghasilan tambahan di luar gaji sebagai dosen PNS, selalu saya simpan. Kadang-kadang saya mendapat honor riset, kadang-kadang mendapat insentif dari kantor, kadang-kadang mendapat royalti dari penerbit buku (saya menulis beberapa buku), kadang-kadang mendapat undangan dari kampus lain atau dari instansi lain sebagai narasumber tugas akhir atau pembimbing, dan lain-lain. Semuanya itu serba kadang-kadang, tidak menentu, dan tidak setiap bulan ada. Alhamdulillah, disyukuri semua rezeki itu. Semua rezeki dari Allah tersebut saya simpan, tentu di dalamnya ada bagian untuk dhuafa. Ketika minggu kedua atau minggu ketiga setelah gaji sebagai PNS sudah habis, maka barulah saya mengambil simpanan tersebut. Jadi jika dua atau tiga minggu pertama saya makan gaji PNS, maka pada minggu ketiga dan seterusnya, saya terpaksa “makan tabungan”, he..he. Tabungan itulah yang menyelamatkan hidup saya dan keluarga. Andai saya tidak mempunyai simpanan uang, saya tidak bisa membayangkan bagaimana menghadapi kebutuhan hidup yang yang semakin besar dan semakin mahal ini.

Mungkin Anda berpikir saya beruntung masih bisa menabung, sedangkan banyak orang yang jangankan untuk menabung, untuk sehari-hari saja sudah susah. Ya betul, kondisi setiap orang tidak sama. Namun, jika anda berpikir bahwa kunci semua itu adalah hidup sederhana, maka kesusahan menjelang akhir bulan itu dapat diatasi. Sedapat mungkin anda menyisihkan sebagian penghasilan yang anda peroleh, berapapun besarnya, baik dikala susah maupun dikala senang, baik sedang banyak uang maupun lagi banyak kebutuhan. Sedikit tidak mengapa, banyak lebih baik. Meskpun Anda pikir tidak mungkin, namun cara ini baik dicoba.

Ada satu cerita hikmah yang saya baca waktu kecil. Seorang anak perempuan memiliki kebiasaan unik. Tanpa sepengetahuan ibunya, dia selalu menyisihkan satu gelas kecil beras ke dalam kantung setiap hari. Kantung itu dia simpan di sudut lemari. Suatu hari rumah mereka kedatangan beberapa orang tamu jauh. Saat jam makan siang tiba, tamu akan dilayani makan. Si ibu panik karena persediaan beras sudah habis, sementara uang sudah tidak punya untuk membeli beras ke warung. Dengan tersenyum sang anak perempuan menunjukkan persediaan beras yang dia simpan selama ini. Ternyata jumlahnya cukup untuk makan beberapa orang. Alangkah terharunya ibu tadi, dia tidak menyangka anaknya memiliki pikiran jauh ke depan. Ketika ada keperluan mendadak, dia sudah memikirkan kemungkinan itu dengan menyimpan sedikit beras setiap hari untuk berjaga-jaga apabila persediaan beras di rumah habis.

Ingatlah bahwa kita tidak hidup hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk hari esok.

Dipublikasi di Pengalamanku | 14 Komentar

Gedung CC Barat ITB dikala Maghrib

Ketika malam mulai merangkak, sebagian mahasiswa tidak segera pulang ke kosan atau ke rumahnya. Kala malam datang, keriuhan di ruang kuliah, lab, perpustakaan, dan studio beralih ke sekre himpunan, unit kegiatan, dan di Gedung Student Center yang bernama Gedung CC Barat dan Gedung CC Timur (gedung kembar di tengah kampus ITB). Kehidupan malam hari pun baru saja dimulai.

Di Gedung CC Barat itu berkumpul beberapa sekre unit kegiatan mahasiswa. Ruang-ruang terbuka di sana dipenuhi mahasiswa yang sedang melakukan aktivitas. Ada yang sedang berlatih alat musik, belatih tari, olah vokal, dan ada yang duduk berkelompok seperti mendiskusikan sesuatu. (Baca: Sampai Malampun Mahasiswa Masih “Ngampus”)

Suasana Gedung CC Barat

Suasana Gedung CC Barat

Ketika panggilan adzan Maghrib datang, mahasiswa-maahsiswi yang muslim berhimpun di sebuah ruangan di lantai dasar yang difungsikan menjadi Mushola CC Barat. Mereka melakukan sholat maghrib berjamaah di sana. Beberapa orang harus antri sholat karena ruangan yang kecil tidak cukup menampung. Mahasiswa-mahasiswa itu, meskipun sedang belajar ilmu dunia, namun disela-sela kegiatan kuliah, tugas, dan aktivitas yang padat di unit-unit kegiatan, mereka tetap tidak lalai menegakkan sholat.

@Lantai dasar  Gedung CC Barat ITB, sholat Maghrib berjamaah.

@Lantai dasar Gedung CC Barat ITB, sholat Maghrib berjamaah.

Iman, ilmu dan amal harus tetap sejalan.

Dipublikasi di Seputar ITB | Meninggalkan komentar

Program Studi Informatika ITB Memperoleh Akreditasi ABET

Dua tahun yang lalu saya menulis persiapan Informatika ITB Menuju Akreditasi ABET. Setelah dikunjungi (visitasi) dan dinilai oleh asesor ABET dari negeri Paman Sam, maka dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, pada tanggal 22 September 2014 Program Studi Informatika ITB mendapat surat resmi dari ABET yang menyatakan bahwa Prodi kami resmi memperoleh akreditasi internasional ABET. Dengan demikian di ITB sudah ada tujuh Program Studi yang terakreditasi ABET, yaitu Teknik Elektro, Teknik Kimia, Teknik Fisika, Teknik Kelautan, Teknik Lingkungan, Teknik Industri, dan Informatika.

Akreditasi ABET (latar belakang Gedung Labtek V dan VIII, tempat prodi Informatika berrada). Sumber foto: https://stei.itb.ac.id/blog/2014/09/29/4367/

Akreditasi ABET (latar belakang Gedung Labtek V dan VIII, tempat prodi Informatika berrada). Sumber foto: https://stei.itb.ac.id/blog/2014/09/29/4367/

Kerja keras untuk menyiapkan semua dokumen akreditasi akhirnya berbuah manis. Akreditasi ini menjadi kebanggaan mahasiswa, dosen, dan alumni Informatika ITB. Dengan demikian Program Studi Informatika ITB sejajar dengan Program Studi serupa di perguruan tinggi terkemuka dunia. Lulusan Informatika ITB akan mendapat pengakuan internasional dan akreditasi ini menjadi nilai plus untuk bersaing di tingkat global.

Akreditasi ABET ini resminya berlaku mulai 1 Oktober 2014. Hanya sayangnya kami tidak boleh mempublikasikan durasi (masa berlaku) akreditasi tersebut. Saya tidak tahu alasannya kenapa, katanya aturan ABET begitu. Ya sudahlah kalau memang tidak boleh :-).

Yang paling sukar sekarang ini adalah mempertahankan akreditasi tersebut, yaitu bagaimana seluruh proses perkuliahan sejak terakreditasi harus sesuai dengan standard ABET. Mempertahankan ternyata lebih sulit daripada mendapatkannya.

(berita terkait dapat dibaca pada laman web fakultas STEI-ITB: Teknik Informatika ITB Resmi Mendapat Akreditasi Internasional ABET)

Dipublikasi di Seputar Informatika | 6 Komentar

Rekapituasi Janji-Janji Jokowi

Seorang fesbuker sedemikian rajin menghimpun atau merekap semua janji-janji yang diucapkan Jokowi selama masa kampanye Pilpres yang sudah lewat. Sekarang setelah Jokowi terpilih menjadi Presiden 2014-2019, maka publik berhak menagih janji-janji tersebut. Publik juga akan melihat apakah Jokowi taat asas (konsisten) dengan janji-janjinya itu.

Di bawah ini rekapitulasi semua janji Jokowi yang saya kutip dari akun fesbuker ini (Sunu Sumarsono):

Catatan dari penulis: tautan beritanya tidak bisa dibuka (mengalami broken link), namun judul beritanya masih bisa dicari via Google.

Janji Jokowi-JK
1. Besarkan Pertamina dan kalahkan Petronas dalam 5 Tahun
http://finance.detik.com/read/2014/0…ahkan-petronas

2. Jokowi janjikan bagun 50 rRibu Puskesmas
http://www.tribunnews.com/pemilu-201…ribu-puskesmas

3. Swasembada pangan
http://www.merdeka.com/politik/5-jan…-presiden.html

4. Membuat Bank Tani untuk mengurangi impor pangan
http://www.merdeka.com/politik/5-jan…-presiden.html

5. Jokowi janji akan tetap blusukan bila Jadi Presiden
http://news.detik.com/read/2014/08/0…esiden?9911012

6. Jokowi janji benahi kawasan Masjid Agung Banten
https://id-id.facebook.com/notes/fes…51943340196717

7. Jokowi janji cetak 10 juta lapangan kerja jika jadi Presiden
http://bisnis.liputan6.com/read/2072…-jadi-presiden

8. Jokowi jJnji buka 3 juta lahan pertanian
http://berita.plasa.msn.com/nasional…an-pertanian-1

9. Jokowi janji batasi bank asing
http://www.merdeka.com/pemilu-2014/j…ank-asing.html

10. Berjanji membangun tol laut dari Aceh hingga Papua
http://pemilu.sindonews.com/read/870…aut-aceh-papua

11. Jokowi Janji beri berapapun anggaran pendidikan
http://www.merdeka.com/pemilu-2014/j…endidikan.html

12. Berjanji untuk engurangi impor pestisida dan bibit pertanian
http://www.merdeka.com/politik/5-jan…por-pupuk.html

13. Jokowi janji hapus Ujian Nasional
http://pemilu.metrotvnews.com/read/2…ujian-nasional

14. Membangun E-government, E-budgeting, E-procurement, E-catalog, E-audit kurang dari 2 minggu
http://news.detik.com/pemilu2014/rea…anji-jokowi-jk

15. Terbitkan Perpres pemberantasan korupsi
http://news.detik.com/pemilu2014/rea…anji-jokowi-jk

16. Pertumbuhan ekonomi 8 persen
http://news.detik.com/pemilu2014/rea…anji-jokowi-jk

17. Meningkatkan pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan, bandara, di wilayah Indonesia Bagian Timur
http://news.detik.com/pemilu2014/rea…anji-jokowi-jk

18. Dana Rp 1,4 Miliar per desa setiap tahun
http://news.detik.com/pemilu2014/rea…anji-jokowi-jk

19. Kepemilikan tanah pertanian untuk 4,5 juta Kepala Keluarga dan perbaikan irigasi di 3 juta hektar sawah
http://news.detik.com/pemilu2014/rea…anji-jokowi-jk

20. Membangun 100 Sentra Perikanan yang dilengkapi Lemari Berpendingin
http://news.detik.com/pemilu2014/rea…anji-jokowi-jk

21. Membentuk Bank Khusus Nelayan
http://news.detik.com/pemilu2014/rea…anji-jokowi-jk

22. Menggunakan Pesawat Tanpa Awak untuk meng-Cover wilayah lndonesia
http://news.detik.com/pemilu2014/rea…anji-jokowi-jk

23. Meningkatkan Pemberian Beasiswa
http://news.detik.com/pemilu2014/rea…anji-jokowi-jk

24. Mengalihkan Penggunaan BBM ke Gas dalam waktu 3 Tahun
http://news.detik.com/pemilu2014/rea…anji-jokowi-jk

25. Jokowi Janji ‘Sulap’ KJS-KJP Jadi Indonesia Sehat dan Indonesia Pintar
http://news.detik.com/pemilu2014/rea…donesia-pintar

26. Tidak bagi-bagi Kursi Menteri ke Partai Pendukungnya
http://m.merdeka.com/pemilu-2014/buk…i-menteri.html

27. Jokowi Janji Tak Berada di bawah Bayang Megawati
http://www.solopos.com/2014/07/22/ha…egawati-521083

28. Membenahi Jakarta (macet, banjir, dll)
http://megapolitan.kompas.com/read/2…gan.Cara.Lain.

29. Mendukung kemerdekaan dan mendirikan KBRI di Palestina
http://www.beritasatu.com/nasional/1…palestina.html

30. Tanggal 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional
http://beta.antaranews.com/berita/44…pada-1-muharam

31. Mudah ditemui oleh warga Papua
http://jkw4p.com/bila-jadi-presiden-…ng-menemuinya/

32. Menurunkan harga sembako, meningkatkan kualitas dan kuantitas program raskin
http://www.indopos.co.id/2014/06/kam…tsourcing.html

33. Memperhatikan permasalahan outsourcing
http://www.indopos.co.id/2014/06/kam…tsourcing.html

34. Menghapus subsidi BBM
http://finance.detik.com/read/2014/0…idi-orang-kaya

35. Meningkatkan profesionalisme, menaikkan gaji dan kesejahteraan PNS, TNI dan Polri
http://surabaya.bisnis.com/read/2014…g-pilpres-2014

36. Meningkatkan anggaran penanggulangan kemiskinan termasuk memberi subsidi Rp1 juta per bulan untuk keluarga pra sejahtera sepanjang pertumbuhan ekonomi di atas 7%
http://surabaya.bisnis.com/read/2014…g-pilpres-2014

37. Perbaikan 5.000 pasar tradisional dan membangun pusat pelelangan, penyimpanan dan pengolahan ikan.
http://surabaya.bisnis.com/read/2014…g-pilpres-2014

38. Membantu meningkatkan mutu pendidikan pesantren guna meningkatkan kualitas pendidikan nasional dan Meningkatkan kesejahteraan guru-guru pesantren sebagai bagian komponen pendidik bangsa
http://surabaya.bisnis.com/read/2014…g-pilpres-2014

39. Akan berbicara terkait kasus BLBI
http://www.jpnn.com/read/2014/07/17/…Jadi-Presiden-

40. Memperkuat KPK (meningkatkan anggarannya 10x lipat, menambah jumlah penyidik, regulasi)
http://indonesia-baru.liputan6.com/r…-10-kali-lipat

41. Menghentikan impor daging
http://pemilu.metrotvnews.com/read/2…alam-5-6-tahun

42. Menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan di sektor pertanian, perikanan, dan manufaktur
http://fokus.news.viva.co.id/news/re…ing-realistis-

43. Pembangunan infrastruktur seperti jalan, listrik, irigasi, dan pelabuhan
http://fokus.news.viva.co.id/news/re…ing-realistis-

44. Meningkatkan 3 kali lipat anggaran pertahanan
http://nasional.kompas.com/read/2014…ran.Pertahanan

45. Meningkatkan kualitas pendidikan melalui pembenahan tenaga pengajar yang punya kemampuan merata diseluruh Nusantara
http://www.merdeka.com/politik/5-jan…dan-iptek.html

46.Jokowi Pilih Mendikbud dari PGRI Jika Jadi Presiden
http://news.detik.com/pemilu2014/rea…-jadi-presiden

47. Memberikan gaji besar bagi para ahli asal Indonesia
http://www.merdeka.com/politik/5-jan…indonesia.html

48. Menaikkan gaji guru
http://www.merdeka.com/politik/5-jan…gaji-guru.html

49. Sekolah gratis
http://www.merdeka.com/politik/5-jan…ah-gratis.html

50. Menangani kabut asap di Riau
http://m.koran-sindo.com/node/393930

51. Membeli kembali Indosat
http://www.solopos.com/2014/06/22/de…indosat-514768

52. Membangun industri maritim
http://pemilu.tempo.co/read/news/201…Bangun-Maritim

53. Menyederhanakan regulasi perikanan
http://dprd-tegalkota.go.id/index.ph…3066&Itemid=18

54. Mempermudah nelayan mendapatkan Solar se
bagai bahan bakar kapal dengan mendirikan SPBU khusus.
http://dprd-tegalkota.go.id/index.ph…3066&Itemid=18

55. Membuktikan janji-janji dalam visi-misi
http://www.koran-sindo.com/node/402621

56. Menyejahterakan kehidupan petani
http://pemilu.tempo.co/read/news/201…terakan-Petani

57. Mengelola persediaan pupuk dan menjaga harga tetap murah
http://pemilu.tempo.co/read/news/201…terakan-Petani

58. Membangun banyak bendungan dan irigasi
http://pemilu.tempo.co/read/news/201…terakan-Petani

59. Menyusun kabinet yang ramping dan diisi oleh profesional
http://finance.detik.com/read/2014/0…an-profesional

60. Menyelesaikan pelanggaran-pelanggaran HAM di masa lalu
http://www.tribunnews.com/pemilu-201…anji-janji-ham

61. Menjadikan perangkat desa jadi PNS secara bertahap
http://www.solopos.com/2014/07/03/pi…aan-pns-516971

62. Meningkatkan Industri Kreatif sebagai salah satu Kunci Kesejahteraan Masyarakat.
http://compusiciannews.com/detail?id…0#.U94B91V_vfI

63. Cuma satu dua jam saja di kantor, selebihnya bertemu rakyat
http://politik.news.viva.co.id/news/…-jam-di-kantor

64. Jika Menang, Jokowi Janjikan Internet Cepat
http://www.kabar24..com/nasional/rea…internet-cepat

~~~~~~~~~~~~~~~

Masya Allah, banyak sekali janji-janji yang diucapkan oleh Jokowi. Mungkin masih ada beberapa janji lain yang luput dihimpun oleh Pak Sunu, namun 64 buah janji di atas sudah terlalu banyak bagi seorang Presiden.

Janji adalah hutang, dan hutang harus dibayar. Namun, belum dilantik pada tanggal 20 Oktober 2014, Jokowi melanggar sendiri beberapa janjinya, misalnya janji nomor 26 dan nomor 59. Jokowi berjanji tidak akan bagi-bagi kursi kepada partai pendukungnya, namun minggu lalu Jokowi sudah mengumumkan ada sebanyak 16 kursi menteri akan diberikan kepada profesional partai. Jokowi berjanji akan membuat kabinet ramping untuk menghemat anggaran (janji nomor 59), namun nyatanya struktur kabinet Jokowi tetap saja gemuk, yaitu 34 pos menteri, tidak jauh berbeda dengan kabinet Pak Beye.

Dua ingkaran janji ini telah membuat sebagian masyarakat kecewa. Tapi apa mau dikata, Jokowi akan menjadi orang nomor 1 di negeri ini, tentu dia berhak mengatur apa yang dia inginkan. Jokowi tidak salah, yang salah adalah orang yang menaruh harapan terlalu tinggi kepadanya yang akhirnya berujung kecewa.

Semoga saja Jokowi dapat menepati 62 janji lain yang belum dilanggarnya.

Dipublikasi di Indonesiaku | 12 Komentar

Ketika Kuliah S1 Maksimal Lima Tahun

Masa kuliah tingkat sarjana semakin pendek saja. PERMENDIKBUD No 49 tahun 2014 yang terbaru menyebutkan batas maksimal waktu studi kuliah tingkat sarjana (S1) adalah lima tahun. Itu artinya mahasiswa tidak boleh berlama-lama di kampus. Lewat lima tahun artinya D.O alias drop out.

Dulu waktu saya kuliah di ITB tahun 1985, waktu studi maksimal adalah 7,5 tahun. Lama ya? Ya jelas, karena jumlah SKS S1 saat itu 160 SKS (9 semester). Tahun 1990-an batas waktu studi berubah lagi menjadi 7 tahun karena jumlah SKS berkurang menjadi 144 (8 semester). Sejak tahun 2004 batas waktu studi di ITB makin berkurang lagi menjadi maksimal 6 tahun (namun tetap 144 SKS), dan sekarang dengan Permendikbud yang baru itu ITB masih mengkaji pemberlakuan masa studi maksimal 5 tahun.

Saya membayangkan, jika batas studi maksimal 5 tahun diberlakukan, akan banyak konsekuensi yang muncul. Kuliah maksimal 5 tahun itu bagus-bagus saja dari sisi hardskill motivasi mahasiswa, sebab mendorong mahasiswa agar cepat menyelesaikan studi, fokus selalu kuliah dan belajar, jangan sampai mengulang mata kuliah karena tidak lulus, cepat menyelesaikan TA, dsb.

Namun sepertinya akan ada hal yang dikorbankan atau hilang yaitu semarak kehidupan kemahasiswaan. Mahasiswa mungkin enggan untuk ikut berorganisasi atau berkegiatan ekstrakurikuler di kampus karena dianggap menyita waktu. Unit-unit kegiatan mahasiswa yang selama ini membuat kampus ITB tetap hidup siang dan malam (bahkan pada hari-hari libur sekalipun) mungkin akan kehilangan gairah karena mahasiswa berpikir panjang untuk menghabiskan waktunya di unit-unit.

Padahal -menurut saya- justru aktivitas kemahasiswaan diluar perkuliahan itulah yang menjadi sarana pendidikan softskill mahasiswa. Pendidikan tidak hanya di dalam ruang-ruang kuliah, di lab-lab, atau di ruang perpustakaan, namun pendidikan juga ada di luar ruang-ruang akademis. Saya meyakini tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter manusia, dan sarana pembentukan karakter itu lebih banyak diperoleh dari aktivitas berorganisasi dalam kegiatan ekstrakurikuler maupun aktivitas kemahasiswaan lainnya yang menjalin interaksi dan komunikasi, baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Jika mahasiswa hanya memikirkan urusan kuliah saja (karena batas waktu studi yang semakin pendek saja) dan enggan terlibat atau melibatkan diri dengan kegiatan kemahasiswaan, maka kelak mereka akan menjadi sarjana tukang yang baik yang tidak boleh salah, yang menurut dan nunut dengan perintah atasan, serta tidak mencoba mencari jalan yang lebih baik karena daya kritisnya tumpul. Pengalaman para pendahulu menunjukkan bahwa kesuksesan dalam karir dan pekerjaan lebih banyak ditentukan dari keaktifan berorganisasi selama kuliah di kampus.

Baiklah, mungkin pendapat saya di atas mewakili pandangan pesimistis saja terhadap kebijakan batas waktu studi maksimal lima tahun. Boleh jadi efeknya terhadap kehidupan kemahasiswaan tidak seburuk yang dibayangkan apabila dunia kemahasiswaan dapat beradaptasi dengan kebijakan tersebut. Misalnya saja dengan membuat kegiatan dan kaderisasi yang padat, mangkus dan sangkil. Pada dasarnya manusia itu cepat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya. Semoga saja demikian nantinya.

Dipublikasi di Pendidikan, Seputar ITB | 12 Komentar