Selamat Jalan Bu Een

Hari Jumat kemarin, guru inspiratif yang mengajar anak-anak tanpa pamrih itu sudah berpulang. Een Sukaesih dipanggil kembali ke haribaan Ilahi setelah penyakit akut yang sudah lama dideritanya merenggut nyawanya. Saya pernah menulis tentang Bu Een pada posting tahun 2013: Een Sukaesih, Pejuang Guru dari Sumedang (Meskipun Lumpuh Tetap Mengajar Tanpa Pamrih.

Selama hidupnya dia telah menanam amal jariyah dengan memberikan bimbingan belajar kepada anak-anak sekolah yang datang berkunjung ke rumahnya. Dengan segala keterbatasan fisik yang dimilikinya, Bu Een mampu menjelaskan aneka pelajaran seperti matematika, Bahasa Inggris, IPA, Bahasa Indonesia, IPS, PKN, dan sebagainya. Semua itu dilakukannya tanpa pamrih dan dalam keadaan berbaring di tempat tidur.

Saya yakin di alam akhirat sana para malaikat menyambut arwahnya dengan tersenyum. Bu Een, pejuang pendidikan yang dijuluki Guru Qolbu, telah mendarmabaktikan seuruh hidupnya untuk pendidikan. Meskipun cita-citanya untuk menjadi guru formal tidak kesampaian, namun Bu Een sudah menjadi guru bagi anak-anak di lingkungannya. Selamat jalan Bu Een, semoga Allah SWT menerima amalan sholehmu dan menempatkanmu di tempat yang layak di sisi-Nya.

Dipublikasi di Pendidikan | Meninggalkan komentar

Ayahku

Saya dapat tulisan bagus dari grup diskusi di media sosial. Tulisan yang mencerahkan ini dibagikan oleh Ustadz Musyafa Ad Dariny, MA. Saya bagikan lagi kepada anda semoga bermanfaat, khususnya kenangan kepada (alm) ayahanda (jika ia sudah tiada)

~~~~~~~~~~~~~~

Saat umurku 4 th: “Ayahku adalah oracng yang paling hebat”.

Saat umurku 6 th: “Ayahku tahu semua orang”.

Saat umurku 10 th: “Ayahku istimewa, tapi cepet marah”.

Saat umurku 12 th: “Ayahku dulu penyayang, ketika aku masih kecil”.

Saat umurku 14 th: “Ayahku mulai lebih sensitif”.

Saat umurku 16 th: “Ayahku tidak mungkin mengikuti zaman ini”.

Saat umurku 18 th: “Ayahku seiring berjalannya waktu akan menjadi lebih susah”.

Saat umurku 20 th: “Sulit sekali aku memaafkan ayahku, aku heran bagaimana ibuku bisa tahan hidup dengannya”.

Saat umurku 25 th: “Ayahku menentang semua yang ingin ku lakukan”.

Saat umurku 30 th: “Susah sekali aku setuju dengan ayah, mungkin saja kakekku dulu capek ketika ayahku muda”.

Saat umurku 40 th: “Ayahku telah mendidikku dalam kehidupan ini dengan banyak aturan, dan aku harus melakukan hal yang sama”.

Saat umurku 45 th: “Aku bingung, bagaimana ayahku dulu mampu mendidik kami semua?”.

Saat umurku 50 th: “Memang susah mengatur anak-anak, bagaimana capeknya ayahku dulu dalam mendidik kita dan menjaga kita?”.

Saat umurku 55 th: “Ayahku dulu punya pandangan yang jauh, dan telah merencanakan banyak hal untuk kita, ayah memang orang yang istimewa dan penyayang”.

Saat umurku 60 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat”.

Lingkaran perjalanan ini menghabiskan waktu 56 tahun untuk kembali ke titik semula di umur 4 th, saat ku katakan “Ayahku adalah orang yang paling hebat”.

~~~~~~~~~~~~~~

Maka hendaklah kita berbakti kepada orang tua kita sebelum kesempatan itu hilang, dan hendaklah kita berdoa kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita lebih baik dalam bermuamalah dengan kita melebihi mu’amalah kita dengan orang tua kita.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak dengan sebaik-baiknya.

Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah sampai usia lanjut di sisimu, maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”. [Al-Isro’: 23-24].

Ini adalah risalah dari seseorang yang telah menjalani semua perjalanan hidup di atas, maka aku senang meringkasnya untuk diambil ibrah dan pelajaran.

Ya Allah ampunilah kami dan orang tua kami serta siapapun yang berjasa kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami semua Surga Firdaus-Mu. (133)

Dipublikasi di Renunganku | 6 Komentar

Jonru

Ada satu nama di jagad maya yang mendadak populer sejak Pilpres 2014 kemarin, yaitu Jonru. Namanya diperbincangkan di media sosial karena postingposting-nya yang selalu mengkritik dan (seringkali) menyerang Jokowi dan Pemerintahannya. Jonru memiliki fanpage di Facebook yang di-follow dan di-like oleh ratusan ribu orang. Artinya Jonru memiliki penggemar yang luar biasa jumlahnya. Hampir setiap posting-nya di Facebook di-like oleh ribuan orang dan dibagikan ke akun-akun lain di Facebook.

Saya tidak kenal dengan Jonru dan saya tidak pernah menjadi follower maupun me-like statusnya di Facebook. Hanya sesekali saja saya membacanya karena kebetulan muncul di status orang lain di akun facebook-nya. Yang sedikit saya tahu Jonru itu adalah seorang penulis buku dan menjadi pengisi materi acara workshop menulis.

Dari beberapa postingposting-nya yang saya baca, saya menyimpulkan Jonru seringkali menulis posting asal njeplak dan dangkal. Dia terlalu cepat menyimpulkan suatu kejadian sebelum melakukan tabayyun (cek dan ricek). Akibatnya postingposting-nya di laman akun Facebook-nya itu menjurus pada fitnah. Yang saya ingat adalah posting tentang Quraish Shihab dan posting tentang asal usul ayah kandung Jokowi. Kedua posting ini membuat heboh dunia maya karena tidaklah pantas seseorang menelusuri ayah kandung orang lain yang tidak disukainya karena kita tidak lebih tahu tentang ayah kandung dan ibu kandung dari orang yang kita bicarakan. Pada akhirnya posting tentang ayah kandung Jokowi itu isinya ghibah belaka alias fitnah.

Media sosial bagaikan pedang, ia dapat membawa kebajikan jika digunakan semestinya, namun ia juga dapat menjadi ajang penyebar fitnah jika diguankan untuk menyebarkan tulisan yang tidak benar. Pada titik ini Jonru bisa terperosok melakukan ghibah yang dilarang agama.

Namun Jonru tetaplah Jonru, dia tetap aktif mem-posting tulisan yang mengkritisi kebijakan Jokowi dan para menterinya. Saya bukan pendukung Jokowi saat Pilpres, namun saya tidak anti dengan Jokowi. Nah, kalau Jonru terkesan sekali begitu antipati dengan Jokowi. Posting dia di Facebook selalu mendapat banyak like dari fesbuker. Menurut saya Jonru telah dimabukkan oleh ribuan like pada setiap posting-nya, dan ini membuatnya semakin bersemangat untuk menulis postingposting baru yang bernada menyerang Jokowi. Ya, Jonru mabuk kepayang karena ratusan ribu follower/likes yang membaca dan membagikan posting-nya setiap hari. Sebagaimana kita sendiri pemilik akun di Facebook, kita merasa senang jika posting kita di Facebook disukai (di-like) oleh banyak orang, apalagi oleh ratusan atau ribuan orang.

Di sisi lain, efek Jonru juga berdampak kepada PKS, karena Jonru sering diidentikkan dengan partai dakwah tersebut. Jonru sendiri menyatakan bahwa dirinya adalah simpatisan PKS. Maka, perilaku Jonru dapat membuat orang anti dengan PKS.

Banyak netizen yang mengecam Jonru namun saya tidak mau ikut-ikutan pula mengecamnya. Semoga saja Jonru tersadar akan bahaya ghibah yang dapat menjurus pada fitnah. Dia masih dapat memperbaiki posting-nya untuk masa-masa yang akan datang dengan menulis lebih dalam dan dengan mengguankan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dipublikasi di Indonesiaku | 11 Komentar

Pemandangan Gunung Bromo dari Atas Pesawat

Dalam perjalanan dengan pesawat dari Bandung ke Denpasar, saya sangat beruntung menyaksikan pemandangan alam Gunung Bromo dan sekitarnya dari udara. Jika anda bepergian pada pagi hari dengan pesawat dari Bandung, maka pesawat akan mengambil rute menyusuri selatan pulau Jawa. Jika kebetulan cuaca sangat cerah dan anda dapat seat di sebelah kanan pesawat, maka bersiaplah menyaksikan pemandangan alam yang mempesona. Ada puluhan gunung berserakan di Pulau Jawa yang tampak dari atas pesawat, namun karena saya sudah jalan-jalan ke Gunung Bromo satu bulan sebelumnya, maka saya dapat mengidentifikasi mana yang Gunung Bromo dan Gunung Semeru.

Lihatlah foto di bawah ini. Gunung terkiri yang paling kiri dan mengeluarkan asap itulah Gunung Semeru. Selanjutnya di latar depan adalah sebuah kawah raksasa yang disebut kaldera. Itulah kaldera Gunung Tengger yang pernah meletus ratusan atau jutaan tahun yang lalu. Kaldera ini berisi pasir sehingga dinamakan lautan pasir. Di atas lautan pasir itu tampak Gunung Batok dan di belakangnya adalah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap.

Gunung Semeru (kiri), Gunung Bromo (berasap), dan Gunung Batok di depannya.

Gunung Semeru (kiri), Gunung Bromo (berasap), dan Gunung Batok di depannya.

Saya memotretnya dengan kamera ponsel (yang diaktifkan dengan mode pesawat sehingga tidak ada sinyal dan tidak mengganggu penerbangan). Kualitas gambarnya mungkin tidak terlalu bagus karena obyek yang difoto sangat jauh jaraknya, tetapi jika anda menyaksikannya sendiri dari atas pesawat anda akan mengucapkan Masya Allah, duhai begitu indahnya ciptaan Allah SWT. Mata saya agak basah karena begitu terharu melihatnya.

Beberapa detik kemudian pesawat sudah hampir meninggalkan Gunung Bromo, dan saya masih sempat memotretnya dua kali lagi sebagai kenang-kenangan.

DSC_0273

DSC_0274

Kelak jika ada waktu saya ingin jalan-jalan ke Gunung Bromo lagi.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 4 Komentar

Perumpamaan Empat Orang Istri

Tenang…tenang, tulisan saya ini tidak mengajak anda untuk beristri lebih dari satu (poligami) :-). Tetapi ini perumpamaan seorang lelaki yang “hidup” dengan empat orang istri. Dan ternyata tetaplah istri pertama yang paling setia sampai dibawa mati. Tiga istri yang lainnya hanyalah fatamorgana, mereka tidak akan bersedia dibawa mati.

Saya mendapatkan renungan ini dari sebuah grup diskusi di sosial media. Isinya sangat bagus, terlepas dari siapa yang menulisnya pertama kali. Setelah saya edit seperlunya dengan gaya bahasa yang lebih enak, saya bagikan kepada anda untuk direnungkan.

~~~~~~~~~~~~~~

Seorang laki-laki itu ibaratnya mempunyai empat istri.

Istri ke-1: sudah tua dan biasanya tidak diperhatikan.
Istri ke-2: agak cantik, tetapi tetap kurang diperhatikan.
Istri ke-3: lumayan cantik dan cukup diperhatikan.
Istri ke-4: sangat cantik, sangat diperhatikan, dan selalu disanjung-sanjung serta diutamakan.

Saat sang suami akan meninggal dunia, dipanggillah istri ke-4 yang paling cantik lalu ditanya, “Maukah kau ikut menemaniku ke alam kubur?”

Si istri menjawab, “Maaf, cukup sampai disini saja saya ikut denganmu.”

Saat istri yang ke-3 dipanggil dan ditanya hal yang sama, maka ia menjawab, “Maaf, saya hanya akan mengantarmu sampai ke kamar mayat saja, paling jauh sampai ke rumah duka.”

Kemudian dipanggillah istri yang ke-2 dan ditanya hal yang sama, maka ia menjawab, “Baik, saya akan menemanimu tapi hanya sampai ke liang kubur, setelah itu Good Bye.”

Si suami sungguh kecewa mendengar semua itu, tetapi inilah kenyataan kehidupan menjelang kematian.

Lalu ia memanggil istri pertama dan ditanyakan hal yang sama, si suami tak menyangka jawaban istri pertama, “Saya akan menemanimu, kemanapun kamu pergi saya akan tetap mendampingimu.”

Anda ingin tahu tahu apa dan siapa para istri itu diibaratkan, dari istri ke-1 sampai ke-4?

Istri ke-4 adalah ibarat harta, kekuasaan, dan kekayaan. Mereka akan meninggalkan jasad kita seketika saat kita meninggal.

Istri ke-3 adalah teman-teman kita. Mereka akan mengantar jasad kita hanya sampai di kamar mayat atau rumah duka saat disemayamkan.

Istri ke-2 adalah keluarga, saudara, dan teman dekat kita. Mereka akan mengantar kita sampai di kuburan, dan akan meninggalkan kita setelah mayat kita dimasukkan ke dalam liang kubur dan ditutup dengan tanah.

Istri pertama itu adalah semua amalan sholeh kita selama hidup di dunia. Ia akan menemani kita selama-lamanya sampai ke alam akhirat. Apa yang kita tabur selama hidup di dunia, maka itu juga yang akan dituai nanti di alam akhir.

~~~~~~~~~~~~

Sudah pahamkah anda dengan perumpamaan empat istri tadi? Jadi, tetaplah istri pertama yang paling setia sampai kita mati dan sampai kita hidup kembali, nanti.

Dipublikasi di Renunganku | 10 Komentar

Musim Membuat Tandingan

Bangsa ini tidak pernah berpikir dengan jernih. Ketika kalah dari suatu pertandingan hati merasa tidak puas, lalu membentuk organisasi tandingan. Mereka belum ikhlas menerima kekalahan dan tidak mau mengakui kemenangan lawan. Ada DPR tandingan, ada gubernur tandingan, ada parpol tandingan. Entahlah nanti apa ada presiden tandingan.

Tahukah anda, penyebab semua itu karena nafsu berkuasa. Manusia di mana-mana tidak pernah lekang nafsunya untuk menguasai orang lain. Pada kasus di DPR, sekelompok fraksi (partai) yang kalah dalam pemilihan perangkat dewan (ketua dan wakil komisi), lalu mutung dan membuat dewan tandingan dengan ketua dan wakil dari kelompok mereka sendiri. Bapak/ibu anggota dewan yang terhormat itu telah mempertontonkan perilaku anak kecil kepada seluruh rakyat Indonesia.

Pada kasus gubernur tandingan, sekelompok masyarakat menolak gubernur yang sudah sesuai undang-undang, lalu memproklamirkan gubernur sendiri sebagai bentuk perlawanan. Mereka hanya mempertontonkan lawakan yang tidak lucu kepada masyarakat. Entah sampai kapan adu kuat antara kedua gubernur ini berlangsung. Secara undang-undanga tidak ada yang dilanggar, tetapi tetap saja perseteruan ini tidak elok dilihat.

Pada kasus parpol tandingan, sekelompok elit parpol yang tidak puas dengan keputusan elit lainnya karena tidak sekubu dengan penguasa lalu membuat munas tandingan. Dari munas tersebut lahirlah pengurus tandingan (yang berarti parpol tandingan). Sudah jelas arah dan kepentingan munas tandingan tersebut, yaitu untuk memberikan dukungan kepada penguasa sambil bermanis-manis lidah. Kritisme telah mati, karena jika sudah sekubu dengan penguasa maka tinggal mengaminkan saja semua keputusan penguasa tersebut.

Sekarang tinggallah kita sebagai rakyat biasa menyaksikan pertandingan antara barang yang asli dengan barang yang KW. Yang rugi adalah bangsa kita juga, karena yang bertarung itu sama-sama anak bangsa.

Dipublikasi di Indonesiaku | 3 Komentar

Jalan-jalan ke Gunung Bromo

Pada akhir bulan September yang lalu kami rombongan dosen dari kampus melakukan acara rekreasi ke Gunung Bromo, kota Malang, dan kota Batu. Tujuan utama sebenarnya ke Gunung Bromo yang merupakan ikon wisata Jawa Timur yang terkenal itu. Sungguh saya belum pernah pergi ke Gunung Bromo, jadi ini jalan-jalan pertama saya ke Bromo.

Kami naik pesawat sore dari Bandung menuju Surabaya. Harapan kami bisa sampai ke Gunung Bromo untuk melihat sunrise pada pagi dini hari. Dari Bandung kami naik Air Asia menuju Bandara Juanda Surabaya. Pesawat tiba lebih cepat dari jadwal karena keberangkatan (jam 19.00) juga lebih cepat dari jadwalnya.

Dari Bandara Juanda bus yang menjemput sudah menunggu. Setelah makan malam di Sidoarjo, bus langsung berangkat malam itu juga ke Gunung Bromo melewati beberapa kabupaten seperti Sidoarjo dan Pasuruan. Tepat tengah malam bus sampai ke hotel transit di Pananjakan. Ini berarti kami sudah sampai di kawasan Gunung Bromo. Tepatnya kami berada di kawasan pegunungan Tengger. Gunung Bromo adalah salah satu puncak gunung di Pegunungan Tengger.

Mendengar kata Tengger kita pasti teringat suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo. Orang Tengger umumnya beragama Hindu. FYI, menurut sejarah, suku Tengger adalah sisa penduduk Kerajaan Majapahit pada zaman dulu yang menolak agama Islam. Ketika Islam berkembang di Pulau Jawa melalui para Wali Songo, penyebarannya pun sampai ke kerajaan Majapahit. Sebagian penduduk Majapahit yang tidak mau masuk Islam mengungsi ke dua tempat, yang pertama ke Pegunungan Tengger menjadi suku Tengger, sebagian lagi menyeberang ke Pulau Bali, berasimilasi dengan penduduk asli di sana, dan menyebarkan agama Hindu di Pulau Bali. Demikian flashback sejarah yang saya ingat, CMIIW. Kalau kita melewati rumah-rumah suku Tengger, kita melihat keserupaan dengan desa-desa di Bali. Di depan rumah orang Tengger terdapat pura kecil tempat menaruh sesaji.

Di hotel transit kami tidur sekitar dua jam. Jam dua pagi kami dibangunkan pemandu wisata karena petualangan ke Gunung Bromo akan segera dimulai. Pemandu wisata sudah menyewa belasan jip (jeep) menuju Gunung Bromo. Jip adalah kendaraan yang kuat untuk melewati lautan pasir dan jalan yang menanjak di sekitar Bromo. Satu jip diisi maksimal lima penumpang, satu orang di depan dan empat orang di belakang. Jip-jip itu dikelola oleh penduduk suku Tengger. Banyak sekali jip terdapat di halaman rumah orang Tengger. Kendaraan seperti Avanza, Xenia, atau merek lainnya jarang terlihat, mungkin karena kurang cocok untuk jalan di pegunungan dan tanah berpasir.

Puluhan jip parkir di sepanjang jalan menuju kawasan Bromo  (difoto pagi hari setelah sunrise)

Puluhan jip parkir di sepanjang jalan menuju kawasan Bromo (difoto pagi hari setelah sunrise)

Jalanan menuju kawasan Bromo sangat padat malam itu. Mungkin karena malam minggu sehingga banyak wisatawan yang ingin mengejar sunrise di Bromo. Bus tidak bisa sampai ke puncak Pananjakan karena sudah susah untuk parkir dan melaju ke atas. Akhirnya kami para penumpang jip berjalan kaki. Banyaknya wisatawan yang berjalan kaki menuju Pananjakan adalah rezeki bagi tukang ojeg. Puluhan tukang ojeg menawarkan jasa ke puncak Pananjakan, mereka berkali-kali mengatakan “masih jauh ke atas, Pak/Bu”. Tarif yang diminta adalah Rp15.000 per orang. Jika dua orang berboncengan maka tarifnya tetap dihitung Rp15.00/orang. Saya dan teman mengira puncak Pananjakan masih jauh, maka saya menyerah dengan tawaran tukang ojeg. Saya pun naik ojeg ke puncak Panajakan. Rupanya saudara-saudara… puncak Pananjakan itu hanya dekat saja, nggak sampai dua ratus meter dari tempat kami turun dari mobil jip. He..he..sedikit tertipu ya, tapi ya sudahlah, diikhlaskan saja Rp15.000 untuk jarak 200 meter itu.

Malam itu langit terasa sangat dekat, mungkin karena kami berada di atas gunung. Bintang-bintang bertaburan di atas langit Gunung Bromo, terasa begitu dekatnya. Belum pernah saya melihat langit malam yang bertaburan bintang seindah malam itu, bersih tanpa polusi. Kalau kita di kota besar seperti Bandung mana pernah lagi melihat langit malam sebersih ini. Sayang sekali saya tidak sempat memotretnya, karena tangan dan jemari saya sudah kaku akibat suhu di puncak Pananjakan begitu dinginnya. Sarung tangan, jaket tebal, syal, dan sebo tidak mampu menanahan dinginnya suhu. Oh iya, waktu terbaik mengunjungi Bromo adalah pada musim kemarau (Juli-Sepetember), karena cuaca saat itu sangat bagus, tiada hujan, dan langit begitu bersih. Cuman ya itu, dinginnya malam hari pada musim kemarau di gunung sangat menggigit kulit.

Ratusan orang sudah berkumpul di puncak Pananjakan. Banyak penjual hidangan hangat di sini seperti jagung bakar, wedang jahe, kacang rebus, tahu goreng, bakwan, dan lain-lain. Bagi yang mau sholat jangan khawatir, ada sebuah masjid dan sebuah gardu yang difungsikan sebagai mushola. Tapi air wudhunya itu mak, sangat dingin!

Jam empat dinihari remang-remang fajar mulai terlihat dari puncak Pananjakan. Inilah awal sunrise yang ditunggu-tunggu. Ratusan orang sudah siap dengan kameranya. Benarlah, di ufuk timur langit mulai memerah, pertanda matahari akan terbit. Fajar mulai menyingsing.

Fajar mulai menyingsing dari kejauhan.

Fajar mulai menyingsing dari kejauhan.

Di tempat lain, di kawasan bibir jurang di puncak Pananjakan, puluhan orang berkumpul untuk bersiap-siap melihat sebuah pemandangan yang akan memukau mata. Ketika matahari semakin memperlihatkan sinarnya menerangi langit malam, sesuatu yang terselubung gelap di seberang jurang perlahan-lahan mulai terlihat bentuknya. Mula-mula berupa siluet, dan akhirnya tampaklah pemandangan yang begitu indahnya, masya Allah, bagaikan sebuah lukisan alam yang terbentang dengan indahnya.

Tiga buah puncak Gunung dengan lautan pasir di bawahnya.  Gunung Batok di latar depan, di sebelahnya Gunung Bromo dengan kawahnya, dan di belakangnya Gunung Semeru.

Tiga buah puncak Gunung dengan lautan pasir di bawahnya. Gunung Batok di latar depan, di sebelahnya Gunung Bromo dengan kawahnya, dan di belakangnya Gunung Semeru.

Lansekap alam yang luar biasa indahnya.

Lansekap alam yang luar biasa indahnya.

Teman saya berhasil memotret dengan kamera yang lebih baik, di bawah ini fotonya. Lihatlah, Gunung Semeru di kejauhan tampak seperti penjaga yang menjaga kedua gunung di depannya, Bromo dan Batok.

Tiga gunung yang begitu indah. Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru (credit title: Bayu Hendradjaya).

Tiga gunung yang begitu indah. Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru (credit title: Bayu Hendradjaya).

Ratusan orang antri untuk memotret  pemandangan alam yang luar biasa ini.

Ratusan orang antri untuk memotret pemandangan alam yang luar biasa ini.

Bandingkan dengan fotto dari Wikipedia: Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Mtbromo.jpg)

Bandingkan dengan fotto dari Wikipedia: Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Mtbromo.jpg)

Narsis dulu di depan Bromo

Narsis dulu di depan Bromo

Puas berfoto-foto di pincak Pananjakan, kami kembali turun ke bawah. Di sana mobil jip sudah menunggu untuk membawa kami ke petualangan yang lebih seru lagi, yaitu melintasi lautan pasir. FYI, berjuta tahun yang lalu hanya ada Gunung Tengger di sana. Gunung ini meletus dengan hebatnya sehingga menciptakan kawah yang sangat luas yang disebut kaldera. Kaldera Gunung Tengger tersebut lama kelamaan tertutup pasir sisa letusan gunung api sehingga mengesankan sebuah samudera pasir. Dari dasar lautan pasir itu muncul gunung baru yang bernama Gunung Batok karena bentuknya mirip seperti batok kelapa, sedangkan bagian aktif Gunung Tengger melahirkan Gunung Bromo. Gunung Bromo inilah yang masih aktif hingga sekarang.

Gunung Batok di hamparan lautan pasir

Gunung Batok di hamparan lautan pasir

Puluhan jip mengantar wisatawan ke lautan pasir (kaldera Gunung Tengger).

Puluhan jip mengantar wisatawan ke lautan pasir (kaldera Gunung Tengger).

Lalu, di manakah Gunung Bromo yang kita lihat dari puncak Pananjakan? Gunung Bromo terletak di sisi kiri belakang Gunung Batok. Dari lautan pasir kita dapat melihat ratusan orang berjalan menuju puncak Gunung Bromo. Bukit yang berasap itulah puncak Gunung Bromo.

Menuju Gunung Bromo

Menuju Gunung Bromo

Untuk menuju puncak Gunung Bromo yang ada kawahnya itu, kita bisa berjalan kaki melewati lautan pasir, atau kalau malas berjalan bisa naik kuda yang disewakan dan dituntun oleh orang Tengger. Anda harus hati-hati menanyakan tarif naik kuda. Mula-mula pemilik kuda menawarkan jasa Rp100.000 pp (ke kaki Gunung Bromo dan kembali lagi ke jip di lautan pasir). Pengalaman saya ketika itu, mereka bilang tarifnya seratus ribu rupiah pulang pergi, tetapi ketika sudah sampai di kaki Gunung Bromo (perhentian terakhir menjelang tangga naik), mereka mengatakan tarifnya Rp100.000 untuk sekali jalan saja, kalau pulang pergi Rp150.000. Wah, saya pikir ini cara yang tidak baik, dan mencemari citra wisata Gunung Bromo.

Berkuda mendaki puncak Gunung Bromo

Berkuda mendaki puncak Gunung Bromo

Saya naik kuda yang dituntun oleh orang Tengger mendaki Gunung Bromo. Dari ketinggian saya dapat melihat ke bawah, di bawah terhampar lautan pasir yang maha luas, puluhan jip yang menunggu di sana terasa kecil seperti mobil mainan saja, lalu tampak juga sebuah pura. Di latar belakang adalah tebing-tebing Gunung Tengger. Dari pemandangan ini dapatlah kita menyimpulkan bahwa tempat kita berada ini sesungguhnya adalah kawah gunung api purba.

Kaldera Gunung Tengger tampak dari kaki Gunung Bromo

Kaldera Gunung Tengger tampak dari kaki Gunung Bromo

Kuda yang saya tumpangi berhenti hingga kaki Gunung Bromo. Di sini terdapat tangga menuju kawah. Ratusan orang antri untuk menaiki tangga tersebut.

Tangga menuju kawah Gunung Bromo

Tangga menuju kawah Gunung Bromo

Antri menuju kawah

Antri menuju kawah

Antri

Antri

Setelah mendaki anak tangga yang jumlahnya ratusan, sampailah kami ke puncak Gunung Bromo. Di puncak gunung inilah terdapat kawah yang terjal dan bentuknya menyerupai kerucut yang runcing ke bawah. Hati-hati berada di bibir kawah ini, meskipun sudah diberi pagar tapi tetap saja harus berpegangan supaya tidak jatuh. Di kawah yang masih aktif itu setiap tahun dilangsungkan upacara Kasada atau Kasodo. Orang suku Tengger yang beragama Hindu melarung sesajen berupa hewan hidup ke dalam kawah seperti ayam, kambing, makanan, dan lain-lain sebagai persembahan kepada Sang Hyang Widi.

Kawah  Gunung Bromo yang masih aktif

Kawah Gunung Bromo yang masih aktif

Kawah Gunung bromo

Kawah Gunung bromo

Upcara Kasodo di Gunung Bromo (Sumber: Wikipedia)

Upcara Kasodo di Gunung Bromo (Sumber: Wikipedia)

Selesai berfoto-foto di kawah Gunung bromo, saya pun turun kembali ke lautan pasir. Di lautan apsir ini terdapat sebuah pura agama Hindu. Di pura inilah upacara Kasodo dimulai.

Anak saya befoto ddengan latar belakang Gunung Bromo. Di kaki Guunung Bromo terlihat sebuah pura.

Anak saya befoto ddengan latar belakang Gunung Bromo. Di kaki Guunung Bromo terlihat sebuah pura.

Pura di kaki Gunung Bromo

Pura di kaki Gunung Bromo

Kembali bertemu dengan Gunung Batok di tengah hamparan lautan pasir.

Kembali bertemu dengan Gunung Batok di tengah hampran lautan pasir.

Demikianlah pengalaman saya jalan-jalan ke Gunung Bromo. Akhirnya kesampaian juga keinginan saya mengunjungi gunung yang terkenal ini. Sungguh indah pemandangan alam di Gunung Bromo, sungguh indah ciptaan Allah SWT.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 11 Komentar