Etika Politik Pak Jok(owi)

Pak Jok sedang berada di atas angin. Pencapresannya oleh PDIP membuatnya makin percaya diri. Berbagai survey mengunggulkan dirinya akan menjadi pemenang Pilpres 2014. Bahkan para pendukungnya sudah bersikap seolah-olah Pak Jok sudah menjadi RI-1 yang baru. Pilpres 2014 dianggap sudah selesai karena para pesaing Pak Jok tidak ada yang sepadan atau melebihi kepopuleran dirinya.

Saya bukan fans atau pendukung Pak Jok, dan bukan pula orang yang anti Pak Jok. Saya hanya ingin bersikap kritis saja terhadap pencalonannya itu. Menurut saya pak Jok adalah orang yang baik dan sosok yang sederhana. Dia memenuhi syarat-syarat sebagai (calon) pemimpin yang merakyat. Namun, keputusannya menjadi Capres tidak sesuai dengan etika dan fatsun politik. Pak Jok kali-kali menegaskan pada waktu kampanye Gubernur DKI 2012 yang lalu bahwa dia tidak akan loncat menjadi Capres

Saya sudah jawab berkali-kali. Sampai sepuluh kali, mungkin yang sekarang ini sudah belasan kali bilang soal komitmen saya. Masa diomongkan lagi, wong sudah bolak balik bilang Jokowi itu komitmen“, ujarnya. Pernyataan tersebut dia lontarkan dalam jumpa pers di kediaman Megawati Soekarnoputri, Kebagusan, Jakarta Selatan, Kamis (20/9/2012) siang. Komitmen tersebut sekaligus menegaskan bahwa dirinya tidak akan maju dalam pencalonan presiden pada Pemilihan Umum 2014. Joko Widodo atau Jokowi berkomitmen memimpin DKI Jakarta selama lima tahun. Ia menjamin tidak akan menjadi “kutu loncat” dengan mengundurkan diri sebelum masa jabatannya usai. (Sumber: Jokowi Janji Pimpin Jakarta Sampai Tuntas). Baca pula Inilah 19 Janji Jokowi Saat Kampanye.

Meskipun tidak ada aturan yang dia langgar karena menjadi Capres dan tidak ada pula larangan menjadi Capres, tetapi secara etika dia seperti orang yang menjilat air ludahnya sendiri. Apa yang Pak Jok lakukan tidak sesuai dengan apa yang dia ucapkan dulu. Para pendukung dan fans Pak Jok melakukan pembelaan dengan menyatakan bahwa bila Pak Jok menjadi Peesiden maka kewenangannya jauh lebih besar lagi membenahi Jakarta ketimbang sekarang menjadi Gubernur DKI. Meskipun demikian tetap saja dalam pandangan banyak orang pak Jok adalah pendusta (baca juga: Pengamat: Jika Gubernur DKI Maksa Nyapres, Gubernur DKI Langgar Janji).

Pak Jok menjadi Capres karena perintah partai, bukan karena kehendak pemilihnya. Ingat ada 56 persen lebih pemilih di DKI yang memilihnya menjadi Gubernur, mereka menitipkan suaranya kepada Pak Jok agar Pak Jok dapat membenahi masalah Jakarta yang ruwet. Sekarang bagaimana pertanggungjawaban kepada pemilih tersebut? Memang masalah Jakarta tidak akan bisa selesai sampai akhir jabatan Pak Jok, karena masalah di Jakarta (banjir, macet) adalah warisan masalah kepemimpinan sebelumnya, namun komitmen Pak Jok untuk menyelesaikan amanah itu sampai akhir jabatan sekarang dipertanyakan, seolah-olah ia lari dari tanggung jawab.

Berkali-kali Pak Jok tidak pernah tuntas menyelesaikan amanah yang dia emban. Belum selesai menjabat sebagai Walikota Solo, dia loncat menjadi Gubernur DKI. Sekarang belum tuntas amanahnya sebagai Gubernur DKI, dia loncat menjadi Capres.

Karena Pak Jok orang Islam, maka saya kutipkan ayat Al-Quran dan beberapa Hadis Nabi tentang keharusan menjaga amanah (sumber dari sini).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS 8:27).

Suatu ketika Ali r.a duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, lalu muncul seorang daripada keluarga al-Aliyah dan bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Beritahulah kepadaku apakah sesuatu yang paling berat dalam agama dan apakah yang ringan?”. Maka jawab Rasulullah: “Yang paling ringan dan mudah adalah mengucap dua kalimah syahadat,dan yang paling berat ialah amanah. Sesungguhnya tidak ada agama bagi orang yang tidak amanah.” (Hadis Riwayat al-Bazar at-Tabrani)

Tidak sempurna iman bagi sesiapa yang tiada amanah pada dirinya dan tiada agama bagi orang yang tidak dipercayai janjinya”. (Hadis Riwayat Imam Ahmad,al-Bazar at-Tabrani).

Nasi sudah menjadi bubur, pak Jok tentu tentu tidak akan mundur menjadi Capres dari PDIP. Kekuasaan itu bagaikan emas yang berkilauan, begitu menggoda orang-orang di sekeliling Pak Jok, bahkan mungkin termasuk pak Jok sendiri, sedangkan janji, sumpah, dan amanah adalah barang yang bisa dipermainkan. Wallahu alam.

Dipublikasi di Indonesiaku | 11 Komentar

Nasib Bebek Itu Berakhir di atas Meja Makan

Difoto di lampu merah Jalan Supratman, bebek-bebek yang lucu ini dibawa dengan keranjang di atas sepeda motor. Leher mereka yang panjang berjelujuran keluar. Mereka tidak tahu mau dibawa kemana.

bebek1

bebek2

Kemungkinan besar mereka akan dibawa ke restoran bebek dan akan berakhir di atas meja makan. Di kota Bandung banyak sekali restoran yang menyajikan menu bebek, ada menu bebek garang (segar merangsang), bebek bakar, bebek sambal cobek, bebek cabe hijau, bebek saus madu, dan lain-lain. Sejak kapan orang Bandung doyan bebek?

Sebuah restoran bebek (bebek garang) di Bandung

Sebuah restoran bebek (bebek garang) di Bandung

Saya suka telur bebek terutama bila dijadikan telur asin. Terhadap daging bebek saya kurang suka, terbayang dagingnya yang kenyal dan baunya yang lebih amis daripada daging ayam. Namun alasan sebenarnya adalah karena saya tidak tega membayangkan bebek dipotong. Kasihan, gitu.

Dipublikasi di Gado-gado | 2 Komentar

Pengalaman Naik “Xpress Air” dari Bandung ke Padang

Sudah beberapa bulan ini maskapai Express Air melayani rute Bandung – Padang pulang pergi setiap hari. Dari Bandung berangkat pukul 17.00 sore sedangkan dari Padang pukul 6.30 pagi. Ini adalah salah satu alternatif pulang kampung tanpa harus bersusah payah melewati kota Jakarta yang padat, macet, serta habis waktu di jalan menuju Bandara Soekarno-Hatta. Juga alternatif ke Bandung dari Padang tanpa perlu repot ke Jakarta dulu.

Saya ingin mencoba naik pesawat ini, bagaimana rasanya terbang langsung ke kota kelahiran dari Bandung. Setelah mencari waktu yang tepat maka bulan lalu saya membeli tiket Express Air di sebuah agen. Saya dapat tiket seharga Rp650.000 untuk penerbangan hari Sabtu. Jika dihitung-hitung memang agak lebih mahal dibandingkan bila berangkat dari Jakarta. Lion Air misalnya, pada tanggal saya pulang harga tiket paling murahnya berkisar antara 450-550 ribu rupiah, namun jika ditambah ongkos travel atau bis dari Bandung ke Bandara Soeta maka selisihnya tidak jauh berbeda. Dari Bandung ke Bandara Soeta di Jakarta bila naik bis Primajasa ongkos tiketnya sudah 90.000 rupiah. Orang Minang memang selalu berhitung, he..he…

Rupa pesawat Xpress Air di landasan Bandara Husein

Rupa pesawat Express Air di landasan Bandara Husein

Jam 15.45 saya sudah tiba di Bandara Husein Sastranegara Bandung, masih ada waktu sejam lebih lagi sebelum berangkat. Setelah proses chek-in, saya menunggu di ruang tunggu. Hari Sabtu sore itu Bandara Husein cukup ramai dengan calon penumpang yang akan berangkat ke Bali, Surabaya, dan Medan. Saya cari-cari di ruang tunggu itu apakah ada calon penumpang yang berbicara pakai bahasa Minang, sebab itu pertanda mereka calon penumpang ke Padang dengan pesawat yang sama dengan saya, he..he (padahal nggak selalu kan, mungkin saja mereka calon penumpang ke Bali atau Surabaya). Oh ada ternyata, berarti saya tidak sendiri.

Jam 16.15 pesawat Express Air baru saja mendarat dari Palembang. Memang rute pesawat ini setiap hari dari Bandung hanya tiga saja, yaitu Bandung-Pontianak pp (pagi), lalu Bandung-Palembang pp (siang), dan terakhir Bandung-Padang (sore). Jam 16.30 datang panggilan boarding kepada calon penumpang. Para penumpang Express Air pun berjalan ke landasan bandara menuju pesawat Express Air yang terparkir di sana. Wah, on-time juga pesawat ini.

22022014033

Pesawat yang saya naiki ukurannya tidak terlalu besar, kira-kira untuk seratusan penumpang, namun saya perhatikan pesawat hari itu tidak terisi penuh sebab masih banyak kursi yang kodong. Kursi-kursinya berwarna coklat dengan seat-belt sedikit berbeda dari pesawat lainnya.

22022014035

Jam 17.00 tepat pesawat pun lepas landas meninggalkan kota Bandung yang masih berawan cukup tebal sore itu, benar-benar tepat waktu sesuai janjinya. Selama perjalanan di udara tidak ada hal yang menarik, sekali-sekali pesawat mengalami guncangan akibat turbulensi di atas Sumatera, yach maklum pesawat berukuran sedang jadi guncangannya lebih terasa dibandingkan pesawat besar. Pramugari memberikan sekotak snack yang berisi roti dan air mineral, lumayanlah daripada tidak ada sama sekali seperti maskapai si singa udara.

Memasuki kota Padang pesawat berputar-putar dulu karena hujan deras melanda pesisir barat Sumatera. Menurut jadwal seharusnya pesawat sudah mendarat di Bandara Minangkabau pukul 18.30, tetapi karena berputar-putar dulu maka pesawat baru mendarat pukul 7 malam lebih sedikit. Alhamdulillah, saya sudah sampai di kota kelahiran.

Pesawat Express Air tersebut bermalam dulu di bandara Minangkabau karena penerbangan ke Bandung dari Padang adalah pukul 6.30 keesokan harinya. Bagi saya terlalu cepat sekali harus pulang lagi besok paginya, maka untuk balik ke Bandung saya naik maskapai lain, yang berarti ke Jakarta dulu. Tidak apa-apa, lain waktu saya akan coba langsung terbang dari Padang ke Bandung. Jadi nanti saya mandi dan sarapan dulu di rumah di Padang, lalu naik pesawat jam 6.30 di Bandara Minangkabau, dan tiba di Bandung pukul 8 pagi. Dari Bandara Husein ke kampus ITB hanya perlu waktu 15 menit dengan sepeda motor (karena saya nanti akan menitipkan motor di bandara Husein), dan setiba di kampus langsung ke kelas untuk mengajar. Asyik kan?

Dipublikasi di Cerita Minang di Rantau | 18 Komentar

Bandung Berselimut Kabut

Ketika saya bangun pagi beberapa hari yang lalu, saya melihat pemandangan yang sudah langka di Bandung, yaitu kabut yang cukup tebal turun di kompleks perumahan saya. Musim hujan yang belum berakhir telah membuat kelembapan udara semalam sebelumnya cukup tinggi, alhasil pagi harinya saya melihat pemandangan yang mempesona ini. Saya merasa seperti berada di kawasan Puncak Bogor atau di kawasan pegunungan yang selalu berselimut kabut tebal.

Kabut tampak dari lantai dua rumah saya

Kabut tampak dari lantai dua rumah saya

Pemandangan lainnya dari lantai dua

Pemandangan lainnya dari lantai dua

Saya keluar rumah lalu memotret pemandangan lainnya. Di depan rumah saya ada tanah lapang, jadi kabut terlihat jelas turun di sana. Rumah-rumah di seberang lapangan sampai tidak kelihatan karena tertutup kabut.

Kabut di lapangan depan rumah

Kabut di lapangan depan rumah

Kabut tebal

Kabut tebal

Tititi-titik uap air membasahi kamera ketika saya memfoto jalanan di depan rumah.

Tititi-titik uap air membasahi kamera ketika saya memfoto jalanan di depan rumah.

Dulu ketika saya masih mahasiswa di ITB saya sering melihat kabut turun di lapangan bola di tengah kampus. Di tengah kampus ITB saat itu ada lapangan bola (sekarang sudah menjadi bangunan empat Labtek kembar). Karena kuliah selalu dimulai pukul 7 pagi, maka saya selalu datang pagi ke kampus dan melihat kabut menyelimuti kampus Ganesha. Sungguh indah sekali melihatnya, serasa berada di alam pegunungan.

Kabut turun di Bandung sebenarnya bukan hal yang aneh, karena kota Bandung terletak di atas dataran tinggi pegunungan. Namun, dengan meningkatnya jumlah penduduk, pertumbuhan jumlah industri/pabrik, bertambahnya jumlah bangunan, polusi udara dari ratusan ribu kendaraan bermotor, membuat suhu kota Bandung sudah tidak sejuk dulu lagi. Hareudang, kata orang Sunda, yang artinya Bandung sudah mulai panas. Oleh karena itu, turunnya kabut yang diikuti penurunan suhu udara adalah sesuatu yang sudah langka terjadi. Alamdulillah, kabut itu masih mau mampir ke kompleks perumahan saya.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 3 Komentar

Ketika Kuliah di Informatika ITB Diisi oleh Aktor “Stand Up Comedy”

Dua minggu lalu saya mengundang Sam Darma Putra Ginting untuk mengisi kuliah tamu di tingkat 2 Informatika ITB. Tiap tahun memang saya selalu mengisi satu sesi kuliah dengan mendatangkan alumni Informatika untuk berbagi (sharing) cerita pengalaman mereka bekerja di ranah teknologi informasi. Semester ini saya mengundang seorang komedian bernama Sam Darma Putra alias Sammy yang sering tampil di TV pada acara-acara stand up comedy dan juga host beberapa acara di TV swasta.

Sam Darma Putra pada dalam sebuah acara stand up commedy.

Sam Darma Putra pada dalam sebuah acara stand up commedy.

Semula tidak mudah mendatangkan dia, maklum jadwalnya pasti sangat padat, tetapi karena saya dulu adalah dosennya waktu kuliah di ITB dan saya meminta kesediaannya, ternyata responnya cepat: bersedia datang dan mengisi kuliah dua jam, ha..ha..ha. Ya, Sam memang mantan mahasiswa saya dulu di Informatika ITB, tepatnya dia adalah mahasiswa Informatika (IF) angkatan 1994. Sejak kuliah dulu dia dikenal teman-temannya suka melucu (padahal saya sendiri dulu tidak tahu kalau dia senang melucu), dan akhirnya bakat melucunya itu kesampaian dengan melambungnya acara stand up comedy di TV-TV. Sekarang dia menjadi orang terkenal (artis) dan tentu saja bayarannya mahal, tapi untuk kuliah kali ini tentu saja gratis, he..he.

Setengah jam sebelum kuliah dia sudah datang bersama asistennya. Wah, artis profesional memang selalu pakai manager dan asistennya. Para asistennya juga ikut masuk ke kelas. Kelas saya hari itu penuh, karena memang sudah diumumkan minggu sebelumnya bahwa pengisi kuliah tamu adalah alumni Informatika yang menjadi aktor komedi.

Para mahasiswa saya mendengarkan kuliah dari Sam dengan penuh minat.

Para mahasiswa saya mendengarkan kuliah dari Sam dengan penuh minat.

Sam tidak hanya berprofesi sebagai aktor komedi, itu pekerjaan sambilan dia saja. Pekerjaan utamanya tetap saja di bidang teknologi informasi. Setelah lulus dari ITB dia bekerja di perusahaan-perusahan TI dan saat ini dia founder ASD-Consult, pemilik brand ST24-Pulsa dan Utama Bizniz Cell.

Dalam kuliahnya hari itu Sam memaparkan apa saja yang diperlukan seorang lulusan Informatika bila bekerja sebagai enterpreneur di bidang TI. Seorang mahasiswa sebaiknya tidak hanya belajar horizontal knowledge, tetapi juga vertical knowledge. Horizontal knowledge tentu saja materi yang perkuliahan yang dipelajari selama kuliah, tetapi vertical knowledge adalah pengetahuan tambahan yang diperlukan untuk menopang horizontal knowledge karena seorang lulusan Informatika nanti akan berhubungan dengan bidang ilmu lain. Dia mencontohkan pengalamannya yang belajar tentang akuntansi, hukum, dan sebagainya (baca ringkasan materi kuliahnya di sini).

Sam Darma Putra sedang serius memberi kuliah sekaligus melawak.

Sam Darma Putra sedang serius memberi kuliah sekaligus melawak.

Meskipun kuliah yang dibawakannya adalah materi yang cukup serius, namun karena dia seorang komedian maka tetap saja isinya ditimpali dengan humor segar khas stand up commedy. Seluruh isi kelas terpingkal-pingkal mendengar aksi panggungnya di ruang kelas dari awal sampai akhir, apalagi setelah saya minta dia secara khusus ber-stand up commedy selama 10 menit pada akhir kuliah (yang katanya kalau orang lain yang meminta maka harus lewat manajernya dan tentu saja bayarannya mahal lho).

Terima kasih banyak Sam, kapan-kapan Anda kami undang kembali mengisi acara di Informatika ITB.

(Dua foto di atas diambil dari dokumentasi STEI-ITB pada laman ini. Foto-foto lainnya saya ambil dengan kamera sendiri di bawah ini).

DSCF1386

DSCF1387

DSCF1389

DSCF1390

Dipublikasi di Seputar Informatika | 7 Komentar

Partai Mana yang Berhasil Merayu Rakyat pada Pemilu 2014?

Tanggal 16 Maret 2014 kampanye Pileg 2014 akan dimulai. Kita akan menyaksikan selama 3 minggu ini tebar-tebar janji dan pesona dari partai dan calegnya. Setiap partai politik tentu berusaha untuk menjaring suara sebanyak-banyaknya. Ada 12 parpol yang akan berlaga seperti di bawah ini.

partai_pemilu

Pertanyaannya, partai mana saja yang akan berhasil “merayu” rakyat untuk memilih caleg-calegnya pada tanggal 9 April 2014 nanti? Kalau menurut berbagai hasil survey jajak pendapat, PDIP dan Golkar yang akan bersaing memperebutkan juara 1 dan juara 2, sedangkan juara tiganya kalau tidak Gerindra ya Demokrat. Lalu partai-partai lain harus puas menempati papan tengah dan papan bawah saja.

Tapi itu kan baru kata survey, hasilnya belum tentu valid, bisa jadi benar bisa jadi pula salah. Yang dijadikan survey hanya sebagian sangat kecil rakyat Indonesia, yaitu sekitar seribu hingga sepuluh ribu orang saja, padahal jumlah pemilih mencapai ratusan juta. Survey-survey itu bisa saja merupakan pesanan partai tertentu untuk membentuk citra dan opini pada masyarakat, meskipun tidak dikesampingkan pula ada lembaga survey yang netral.

Ingat juga bahwa dalam Pemilu nanti jumlah pemilih pemula (yang baru pertama kali ikut pemilu) persentasenya cukup besar, yaitu sekitar 20-30% dari 186.612.255 pemilih (sumber dari sini). Mereka ini masih belum jelas dalam menentukan parpol mana yang akan dipilih nanti (swing voters). Namun dengan asumsi bahwa kelompok ini melek internet, dan sebagian besar dari mereka aktif di dalam jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, maka referensi mereka dalam memilih parpol mungkin sangat ditentukan dari informasi yang mereka peroleh dari jejaring sosial dan media sosial lainnya (blog, tumblr, instagram, whatsapp, dll). Mereka sangat mudah menekan tombol like sebagaimana sangat mudah pula berpindah menjadi dislike atas suatu isu yang dipostingkan di jejaring sosial.

Secara umum persepsi orang dalam memilih parpol sangat ditentukan pada sejauh mana informasi yang mereka ketahui tentang parpol tersebut dari berbagai sumber, terutama dari media. PDIP misalnya, partai ini diuntungkan oleh salah satunya dari pemberitaan Jokowi di media, karena Jokowi adalah kader PDIP. Meskipun prestasi Jokowi membenahi Jakarta belum terlihat hasil nyatanya, namun pemihakan media mainstream kepadanya mampu membuat dirinya menjadi orang terkuat Capres 2014. Jokowi yang digadang-gadang menjadi capres dari PDIP diprediksi akan mampu mendongkrak raihan suara PDIP pada Pileg 9 April 2014 nanti. Sedangkan Golkar diuntungkan sebagai partai yang sudah mapan karena sudah mengakar sampai ke desa-desa disebabkan ia sudah mempunyai jaringan birokrasi yang kuat. Melalui banyak media yang dimilikinya, Golkar menancapkan citra sebagai partai besar dan kuat.

Media, terutama media mainstream, memang memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik tentang suatu partai. Parpol yang sering diberitakan dengan kasus-kasus buruk (korupsi) adalah parpol yang tidak beruntung karena mereka menjadi bulan-bulanan media. Kecuali kader fanatiknya yang tidak terpengaruh banyak oleh pemberitaan media, rakyat kebanyakan yang mendapat informasi dari media akan ikut mempunyai persepsi buruk tentang partai yang disebut-sebut. Mempunyai persepsi buruk artinya akan dijauhi atau tidak akan dipilih.

Dua partai yang paling sering diberitakan secara masif tentang kader atau pimpinannya yang terlibat korupsi adalah Partai Demokrat dan PKS. Elektabilitas kedua partai ini merosot tajam dan kepercayaan publik kepada keduanya mencapai titik yang rendah. Namun anehnya, menurut catatan Indonesian Corruption Watch (ICW) justru kedua partai tersebut bukanlah juara korupsi. Indeks korupsi yang tertinggi justru berada pada PDIP dan Golkar (yang digadang-gadang oleh lembaga survey sebagai pemenang Pileg 2014) seperti yang diperlihatkan pada grafik di bawah ini (Sumber dari sini):

Dari grafik ICW di atas sebenarnya tidak ada partai yang bersih sama sekali dari korupsi, semua partai sudah terkontaminasi korupsi, termasuk partai-partai dengan latar belakang agama atau berlabel agama sekalipun. Jika kasus korupsi menjadi alasan untuk tidak memilih parpol tertentu dalam Pemilu, maka seharusnya PDIP dan Golkar tidak bertengger sebagai pemuncak hasil berbagai jajak pendapat. Seharusnya responden tidak memilih kedua partai tersebut karena justru keduanya lebih “ganas” dalam kasus korupsi dibandingkan PKS dan Demokrat. Namun anehnya justru PDIP dan Golkar yang memiliki elektabilitas tertinggi. Mengapa bisa terbalik-balik begitu? Alasannya ada dua, menurut saya.

Pertama, seberapa besar rakyat Indonesia mengetahui (aware) tentang indeks korupsi yang dipaparkan oleh ICW di atas? Menurut saya hanya sebagian kecil saja masyarakat yang tahu karena memang tidak gencar diberitakan media. Dari pengamatan saya informasi indeks korupsi tersebut lebih sering beredar di jejaring sosial. Kebanyakan yang mem-forward-kannya ke jejaring sosial adalah orang-orang yang kritis dan well-educated (terpelajar). Berapa persenkah orang-orang kritis dan terpelajar itu dari 188 juta lebih pemilih? Menurut saya hanya sebagian kecil saja yang mengetahuinya, dan pengaruhnya terhadap PDIP dan Golkar tidak terlalu banyak. Jadi kedua partai ini “diuntungkan” dari ketidaktahuan masyarakat tentang perbandingan korupsi berbagai parpol.

Alasan kedua, kasus korupsi di PKS menjadi berita besar karena partai ini berlatar belakang agama (Islam). Publik lebih “menghukum” partai berlabel agama ketika melakukan korupsi dibanding partai yang melabelkan dirinya sebagai partai nasionalis. Korupsi adalah persoalan moral, dan masalah moral terkait dengan ajaran agama. Dalam pikiran publik yang awam, jika partai berlabel agama saja melakukan korupsi, maka apa lagi yang bisa dipercaya dari mereka? Hal ini mirip dengan kasus asusila seperti perzinahan, perselingkuhan, pornografi, dsb. Jika yang melakukan tindakan asusila adalah kader dari partai nasionalis, masyarakat terkesan lebih “memakluminya” lalu melupakannya dengan berlalunya waktu, namun jika yang melakukannya kader dari partai berlabel agama (seperti PKS), masyarakat tidak sudi menerimanya sehingga partai berlabel agama tersebut menjadi bulan-bulanan media dan caci maki publik di dunia maya (ingat kasus anggota DPR dari PKS, Arifanto).

Untuk kasus korupsi pada Partai Demokrat, isu korupsi pada partai ini menjadi berita besar karena ia adalah partai penguasa (dalam arti presidennya dan beberapa menterinya dari Partai Demokrat). Di mana-mana partai penguasa selalu menjadi sasaran tembak pihak lawan-lawannya. Apapun akan dicari-cari kesalahannya. Ketika kadernya melakukan korupsi, maka partainya ikut terbawa-bawa. Masalahnya menjadi semakin ramai karena pihak penguasa ((istana) dan keluarganya (Cikeas) juga ikut disebut-sebut. Bagi media, kasus korupsi di Demokrat adalah berita besar sehingga berlakukah pameo bad news is good news.

Memang rumit dan runyam dunia politik itu. Permainan di dalamnya bisa bersih bisa pula kotor. Namun kita tidak boleh apatis dan berdiam diri saja, karena bagaimana pun kehidupan kita di negara ini juga ditentukan oleh politik itu. Siapa-siapa yang duduk di parlemen, merekalah yang akan mengatur hidup bangsa kita dengan sejumlah undang-undang yang mereka bikin. Siapa yang berkuasa di Pemerintahan merekalah yang akan bertindak melakukan kebijakan meskipun kita tidak setuju. Oleh karena itu, golput atau tidak memilih dalam Pemilu adalah pilihan yang buruk, karena satu suara kita akan sangat menentukan siapa yang akan menentukan arah bangsa ini ke depan.

Dipublikasi di Indonesiaku | 4 Komentar

Caleg DPR dan DPD RI Pemilu 2014 Alumni ITB

Pemilu 2014 tinggal satu bulan lagi. Pada Pemilu 2014 ini kita tidak mencoblos partai, tetapi mencontreng caleg yang kita beri amanah menjadi angota legislatif. Rekan saya sesama dosen di STEI-ITB, Pak Waskita Adijarto, mencoba merangkum daftar caleg DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dan DPD (Dewan Perwakilan Daerah) yang berasal dari ITB, yaitu mereka yang dulunya pernah kuliah di ITB atau dengan kata lain alumni ITB. Silakan lihat daftar dan profil (beserta foto) caleg DPR dan DPD alumni ITB di sini: http://caleg.kabarkita.org/daftar-caleg-2014-lulusan-institut-teknologi-bandung.

Jika diurut berdasarkan partai, maka komposisinya adalah sebagai berikut:

1. Demokrat 14 caleg
2. PDIP 13 caleg
3. Golkar 12 caleg
4. PAN 10 caleg
5. Gerindra 9 caleg
6. Hanura 9 caleg
7. PKPI 8 caleg
8. PKS 6 caleg
9. PPP 5 caleg
10. Nasdem 4 caleg
11. PKB 4 caleg
12. PBB 3 caleg

Terlihat dari daftar di atas alumni ITB paling banyak nyalon di Partai Demokrat (heran juga yach, he..he), selanjutnya PDIP dan Golkar, lalu PAN dan Gerindra. Yang nyalon di PAN mungkin karena faktor Hatta Radjasa, kalau yang nyalon di Golkar mungkin karena faktor birokrasi atau Aburizal Bakrie. Baik Hatta Radjasa maupun Aburizal Bakrie keduanya alumni ITB. Oh ya, untuk calon DPD sendiri ada 7 orang. Dari semua nama itu tidak satupun saya kenal secara pribadi, kalau mendengar namanya mungkin pernah sekilas.

Lalu, apakah karena mereka alumni ITB lalu saya atau Anda akan memilihnya? Saya pikir bukan karena almamaternya, tetapi lebih kepada integritas orangnya (calegnya). Jika sang caleg punya integritas diri yang baik, maka bukan tidak mungkin pilihan saya atau Anda jatuh kepadanya. Pertimbangan asal partai pengusung juga berpengaruh, sebab memori kita juga dipengaruhi oleh persepsi terhadap suatu partai. Partai politik yang mempunyai imaji yang tidak baik karena berbagai kasus yang menimpa partai tersebut tentu menjadi pertimbangan untuk memilihnya calegnya. Jadi memilih caleg untuk dicontreng pada Pemilu 2014 nanti tidak melulu obyektif, seringkali faktor subyektivitas ikut berperan.

Siapapun caleg yang terpilih nanti, khususnya dari alumni ITB, yang pasti dia harus jujur dan amanah sebagai wakil rakyat. Jangan sampai nanti ada celutukan bahwa alumni ITB di DPR atau di Pemerintahan yang ikut membuat negara ini menajdi bobrok. Janganlah.

Dipublikasi di Indonesiaku, Seputar ITB | Meninggalkan komentar