CALL FOR PAPER Jurnal Cybermatika, Vol. 1 No. 2 Tahun 2013 (Edisi Desember 2013)

Jurnal Cybermatika, yang diterbitkan oleh KK-Informatika STEI-ITB, mengundang para peneliti, pengkaji, praktisi, industri, dan pemerhati bidang informatika untuk mengirimkan makalahnya untuk diterbitkan pada edisi kedua (Vol. 2) pada bulan December 2013.

Makalah dapat dikirimkan melalui email ke: cybermatika@stei.itb.ac.id atau melalui situs ini : http://cybermatika.stei.itb.ac.id. Format makalah dapat diunduh di sini. Makalah dapat dikirimkan sewaktu-waktu, penerbitan berikutnya akan dilakukan sesuai tanggal-tanggal penting Cybermatika Vol. 1 No. 2 (Edisi December 2013) berikut ini:

Batas penerimaan makalah : 1 Oktober 2013
Pengumuman penerimaan makalah: 18 November 2013.

Semua makalah yang diterima, akan melewati proses peer-review secara anonim oleh dua orang reviewer. Setelah proses review selesai, hasil review akan diinformasikan kepada penulis karya ilmiah melalui email.

Ruang lingkup makalah adalah (namun tidak terbatas pada):

Artificial Intelligence
Computer Graphics and Animation
Image Processing
Cryptography
Computer Network Security
Modelling and Simulation
Information Retrieval
Information Filtering
Multimedia
Bioinformatics and Telemedicine
Computer Architecture Design
Computer Vision and Robotics
Parallel and Distributed Computing
Operating System
Compiler and Interpreter
Information System
Game
Numerical Methods
Mobile Computing
Natural Language Processing
Data Mining
Cognitive System
Algorithm and complexity
Human computer interaction
Digital Speech Processing
Cloud Computing

Keterangan lebih lengkap silahkan klik ini: http://cybermatika.stei.itb.ac.id/. Adapun makalah yang diterbitkan pada Vol. 1 No. 1 (Edisi Juli 2013) dapat dilihat pada pranala berikut: http://cybermatika.stei.itb.ac.id/ojs/index.php/cybermatika/issue/view/1

Cover CYBERMATIKA

Dipublikasi di Seputar Informatika | 1 Komentar

Selamat Menjadi Walikota Bandung, Ridwan Kamil

Ini tulisan yang sempat tercecer dan belum saya tulis. Kok sampai lupa ya? Mahkamah Konstitusi akhirnya menolak permohonan penggugat hasil Pilkada Kota Bandung pada tanggal 24 Juli 2013. Dengan demikian, jika tidak ada aral melintang, maka pada bulan September 2013 nanti Ridwan Kamil akan dilantik menjadi Walikoat Bandung yang baru. Seperti yang diberitakan media, hasil pemungutan Pilkada Kota Bandung menunjukkan raihan suara pasangan Ridwan Kamil – Oded sangat tinggi, mencapai 45,24 persen atau 434.130 suara.

Inilah dosen ITB pertama yang menjadi Walikota Bandung. Pada Pilkada sebelumnya ada dosen ITB yang maju sebagai calon Walikota, yaitu Pak Taufikurrahman, dari Biologi ITB, namun dia kandas dari sang petahana, Dada Rosada. Kali ini justru istri Pak Dada yang kandas karena suaminya diterpa isu korupsi Bansos.

Malam hari setelah hasil keputusan MK keluar saya mengirim SMS ucapan selamat kepada Ridwan Kamil dengan harapan semoga dia bersama wakilnya dapat mengemban amanah warga Kota Bandung yang telah menitipkan suara kepadanya. Ridwan pun langsung membalas “Makasih bang. Doanya selalu ya bang“.

Selamat bertugas, Emil. Dengan keahlianmu sebagai arsitek dan pakar tata ruang/kota, saya yakin kamu dapat membenahi kota Bandung yang acak adut, semrawut, dan kumuh ini. Keep Bandung beautifull.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 1 Komentar

Masalah Kemiskinan di Jawa Barat Lebih Penting daripada Soal Nama

Beberapa tokoh dan akademisi Jawa Barat mengusulkan perubahan nama Provinsi Jawa Barat dengan nama yang lebih berjati diri Sunda, misalnya Provinsi Pasundan, Provinsi Tatar Sunda, dan lain-lain. Baca berita ini deh: Nama Provinsi Jawa Barat Diusulkan Diganti.

Sebagai penduduk Jabar (meski bukan orang beretnis Sunda), saya kira usulan pergantian nama itu wajar-wajar saja. Di era globalisasi ada kekhawatiran bahwa budaya lokal kehilangan identitasnya, digerus oleh budaya global. Karena khawatir kehilangan jatidiri, maka masyarakat lokal mencoba membentengi dirinya dengan mempertahankan identitas kuluralnya.

Penamaan provinsi menjadi Pasundan (atau apapun yang berbau etnis Sunda) mungkin adalah sebuah cara membentengi budaya Sunda agar tidak hilang. Jawa Barat berbatasan langsung dengan DKI Jakarta. Sebagai daerah penyangga ibukota, arus perpindahan penduduk ke Jawa Barat sangat besar, para pendatang dari berbagai ragam budaya etnis dan kesukuan membanjiri provinsi ini. Lihat saja di wilayah pinggiran Jakarta seperti Bekasi, Depok, dan lain-lain, di sana orang-orang jarang berbahasa atau berbudaya Sunda, sebab penduduknya kebanyakan adalah kaum urban dari berbagai lintas budaya nusantara.

Ekspansi pendatang yang begitu besar ke Tatar Parahyangan cepat atau lambat dapat membuat budaya Sunda terpinggirkan jika tidak mampu bertahan, mungkin karena itulah para tokoh dan akademisi itu mencoba mempertahankan jatidiri kesundaan dengan mengganti nama provinsi Jawa Barat.

Meskipun perubahan nama itu saya anggap wajar saja, namun menurut saya bukan kebutuhan mendesak saat ini. Masih banyak masalah penting lain di Jawa Barat yang perlu diselesaikan ketimbang nama. Masalah utama di Jawa Barat adalah kemiskinan sebagian besar penduduknya, masalah pengangguran, dan kerusakan infratruktur lingkungan. Masalah-masalah itu yang harus lebih prioritas diselesaikan ketimbang mempersoalkan nama.

Saya kira lebih banyak mudhorat daripada manfaat mengganti nama Jawa Barat dengan kata yang menonjolkan kesukuan. Mudhorat dari sisi ekonomi sudah jelas (mengganti setiap logo atau nama “Jawa Barat”, misalnya), tetapi ada mudhorat lain yang tidak kalah penting untuk dipertimbangkan, yaitu kurangnya penghargaan terhadap perbedaan pada keragaman etnis dan budaya yang beragam di Jawa Barat, karena tidak seluruh orang Jawa Barat itu beretnis Sunda (ada Cirebon yang berbeda identitas dengan Sunda).

Dipublikasi di Seputar Bandung | Meninggalkan komentar

Kecil-Kecil Sudah Berkacamata

Anak-anak SD zaman sekarang sudah banyak yang berkacamata. Itu saya amati di sekolah anak saya. Kebanyakan yang memakai kacamata itu siswa kelas tiga ke atas. Ini fenomena yang menarik pada zaman ini, sebab anak-anak sudah mengalami gangguan penglihatan sejak dini. Mereka terpaksa memakai kacamata karena untuk melihat jauh sudah kabur. Jadi, jenis kacamata yang dipakai umumnya kacamata dengan lensa minus. Saya sendiri memakai kacamata minus sejak kelas 1 SMA, waktu saya SD dan SMP tidak punya masalah dalam penglihatan jauh.

Saya iseng-iseng bertanya kepada anak itu kenapa sudah berkacamata. Dasar anak kecil, tentu mereka tidak paham apa sebabnya memakai kacamata, saya mendapat informasi justru dari ibu anak itu. Ooo… rupanya anak itu berkacamata karena mereka keseringan di depan layar komputer, main game-lah, apalagi. Kalau bukan game daring (online), ya main game yang tersimpan di dalam hard disk komputer. Selain main game, aktiviats di depan komputer yang sering dilakukan adalah mengakses Internet.

Dulu kita khawatir anak yang sering menonton TV maka penglihatannya akan terganggu, karena itu ada himbauan jangan menonton TV dekat-dekat dan jangan lama-lama. Namun saat ini terjadi pergeseran, justru acara TV tidak lagi menjadi daya tarik anak zaman sekarang. Mereka beralih ke depan layar komputer untuk main game. Anak-anak bisa berjam-jam terpaku di depan layar komputer, memainkan tetikus atau joystick untuk menembak musuh. Semakin seru maka semakin lama mereka di depan komputer.

Maka, tidak heran anak-anak yang sering duduk di depan layar komputer merekalah yang potensial memakai kacamata. Apa sebabnya sehingga duduk lama di depan layar komputer membuat orang berkacamata. Radiasi? Mungkin. Tetapi saat ini teknologi layar sudah sedemikian maju sehingga tingkat radiasi dari layar monitor sudah dapat ditekan seminimal mungkin.

Penyebab orang berkacamata adalah karena tidak menyeimbangkan penglihatan jauh dan penglihatan dekat. Duduk berjam-jam di depan layar komputer membuat lebih banyak penggunaan penglihatan (jarak) dekat, sementara penglihatan (jarak) jauh terabaikan. Maka, orang tersebut (dalam hal ini anak-anak) akan mengalami gangguan penglihatan jarak jauh sehingga harus memakai kacamata minus.

Selain itu, kita juga harus ingat bahwa mata kita diciptakan Tuhan untuk dapat melihat secara trimatra (tiga dimensi, 3D), sedangkan layar komputer itu dwimatra (dua dimensi, 2D). Jika mata 3D digunakan lebih banyak melihat bayangan 2D, maka yang terjadi adalah gangguan penglihatan.

Jika anda tidak ingin berkacamata tetapi sering duduk di depan komputer, maka nasehat dari seorang rekan saya ini bisa anda ikuti: setiap satu jam duduk di depan komputer, maka normalkan mata dengan cara melepas pandangan ke arah yang jauh beberapa menit.

Silakan dicoba.

Dipublikasi di Gado-gado | 3 Komentar

Berpuasa tapi Tidak Shalat

Alhamdulillah shaum Ramadhan hari ini sudah menginjak hari ke-13 (jika memulai sejak Hari Rabu 10 Juli 2013). Sampai saat ini puasa saya, keluarga, dan juga teman-teman lancar-lancar jaya saja. Semoga kita semua dapat menyelesaikan ibadah shaum Ramadhan ini sampai bertemu dengan Idul Fitri 1434 H.

Ada yang menarik setiap masuk bulan Ramadhan. Sebagian orang yang saya amati jarang melaksanakan sholat lima waktu, namun mereka tetap melaksanakan puasa Ramadhan. Sholat tidak, tetapi puasa iya. Mungkin mereka berpuasa karena segan dengan teman-teman kerjanya yang berpuasa, jadi ya ikut juga berpuasa, mungkin juga berpuasa karena sulit mencari orang yang berjualan makanan pada siang hari, entahlah, setiap orang tentu mempunyai alasannya masing-masing.

Sangat disayangkan memang, sebab secara rukun mereka tidak melaksanakan sesuai urutan. Rukun Islam itu ada lima, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Urutannya memang begitu. Untuk menjadi muslim, Anda mengucapkan kalimat shayadat terlebih dahulu. Setelah itu, mulai belajar shalat lima waktu, dilanjutkan dengan puasa. Jika anda mampu secara materi, maka anda wajib mengeluarkan zakat bagi fakir miskin dan para mustahik lainnya, dan terakhir jika anda mampu secara materi, fisik, dan mental, maka anda wajib menunaikan ibadah ke Tanah Suci. Itulah rukun Islam yang sempurna. Minimal setiap muslim itu mengerjakan tiga rukun yang pertama, sedangkan dua rukun yang terakhir hanya bagi yang mampu saja.

Setiap tahun orang-orang beriman wajib melaksanakan shaum Ramadhan satu bulan lamanya. Karena sejak kecil orang Islam sudah dilatih berpuasa, maka puasa selama satu bulan tidak terlalu berat mengerjakannya. Begitu pula shalat lima waktu, jika sedari kecil sudah dilatih dan dibiasakan melaksanakannya, maka tidak mengerjakan sholat sekali saja akan meninggalkan perasaan bersalah dan berdosa bagi seseorang.

Seperti yang dikatakan oleh ulama besar Imam Al-Ghazali, yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan sholat. Banyak orang Islam begitu gampang tidak menunaikan sholat, terlena oleh urusan dunia yang tidak akan pernah habis-habisnya. Padahal, ibadah yang pertama akan dihisab Allah SWT pada Hari Akhir nanti adalah sholat. Sholat itu tiang agama, siapa yang mengerjakannya berarti menegakkan agama.

(Tulisan ini untuk mengingatkan diri sendiri agar selalu taat kepada-Nya).

Dipublikasi di Agama | 5 Komentar

Berterimakasihlah Kepada FPI

Ada berita yang tidak terlalu menjadi perhatian media massa pada akhir Juni 2013 yang lalu. Bagi industri minuman keras (miras) dan pengguna miras tentu saja berita tersebut adalah kabar buruk. Seperti yang diberitakan di laman Detik.com ini, Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan Front Pembela Islam (FPI) yang mengajukan judicial review Keppres Minuman Keras (Miras) No 3/1997. Keppres itu mengatur bahwa minuman mengandung etanol 0-5 persen boleh beredar, 5-20 persen perlu diawasi dan 20-55 persen lebih diawasi lagi.

Dengan dihapuskannya Keppres ini, maka peredaran minuman keras sekarang diatur oleh Perda, bukan lagi oleh Pemerintah Pusat. Setiap daerah berhak membuat peraturan sendiri yang mengatur peredaran minuman keras (miras) di daerahnya. Baru-baru ini saya baca di koran lokal bahwa Kota Cirebon membuat Perda yang melarang peredaran miras sama sekali (termasuk yang mengandung etanol 0-5 persen). Kota Bandung pun juga mempunyai Perdas miras, meski tidak melarang sama sekali, namun mengendalikan peredaran miras supaya tidak mudah didapat terutama oleh remaja atau anak muda.

Tentang miras di kota Bandung sudah pernah saya tulis dalam tulisan terdahulu berjudul Mudahnya Membeli Miras di Bandung. Miras adalah kekhawatiran banyak orang, terutama dampak buruknya. Sudah banyak ditulis tentang mudharat mengkonsumsi miras, oleh karena itu tulisan ini tidak membahas tentang pro kontra mengkonsumsi miras.

Selama ini penentang miras kebanyakan adalah dari kelompok Islam. Namun, kelompok lain pun mulai bersuara terkait dampak buruk miras. Ribuan warga di kota Jayapura (yang kebanyakan bukan orang Islam) melakukan protes peredaran miras. Seperti dikutip dari situs MetroTV tersebut, massa pendemo marah lantaran aksi kriminal dan pembunuhan kian marak akibat pengaruh miras. Pengunjuk rasa menuntut pemerintah daerah bersikap tegas. Mereka mendesak pemerintah menutup seluruh toko yang menjual miras. Tidak hanya di Jayapura, ibu-ibu di Timika (masih di Papua) pun demo ke Kantor DPRD Mimika untuk mendesak Pemda dan aparat keamanan setempat segera menutup tempat penjualan minuman keras (miras). Mahasiswa di Papua juga demo menuntut legislatif segera mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang pelarangan minuman keras (miras) di Papua. Sebagaimana dikutip dari Situs Berita Papua, dalam orasinya Tanius Gomba (perwakialn mahasiswa Papua) mengklaim jika miras bukan budaya orang Papua sehingga DPR Papua perlu membuat Perda miras dan tidak mendengar intervensi dari pihak manapun. “Sudah banyak masyarakat Papua yang korban karena miras. Tidak ada untungnya miras beredar karena banyak menimbulkan dampak negatif,” kata Tanius Gomba.

Nampaknya banyak pihak mulai menyadari bahwa miras perlu disingkirkan dari kehidupan masyarakat karena dampak buruknya itu. Salah satu gerakan anti miras yang gencar di jejaring sosial dipimpin oleh Fahira Idris (putri pengusaha dan mantan menteri, Fahmi Idris).

Kelompok Islam yang paling vokal menentang peredaran miras adalah Front Pembela Islam (FPI). FPI sudah terlanjur mendapat stigma buruk dari media dan kelompok liberal karena kerap melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang dinilai keras. Media dan kelompok liberal memberi bermacam-macam sebutan kepada FPI, seperti preman berjubah, kelompok intoleran, kelompok anarki, kelompok wahabi, dan sebagainya. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh FPI di-blow-up habis-habisan oleh media dan ditayangkan berulang-ulang sehingga terbentuk opini buruk kepada ormas ini. Masyarakat yang tidak paham duduk perkaranya terpengaruh dan antipati kepada FPI (baca tulisan saya terdahulu: Bersikap Adil kepada FPI).

Stigma buruk terus dilekatkan setiap kali FPI melakukan aksi demo atau razia (sweeping). Salah satu razia yang dilakukan FPI adalah razia anti miras dengan mendatangi tempat-tempat hiburan malam. Seringkali aksi razia FPI berakhir ricuh disertai perusakan, nah peristiwa perusakan inilah yang lebih banyak diberitakan media. Namun media seringkali tidak berimbang dan tidak jujur dalam memberitakan aksi FPI tersebut, mereka tidak menjelaskan sebab musababnya. FPI sebelum memulai aksinya mengirimkan peringatan tertulis kepada pengusaha hiburan malam untuk tidak menjual miras, namun pengusaha tidak menggubris surat FPI tersebut. FPI juga meminta aparat hukum untuk menindak tegas tempat hiburan malam yang menjadi sarang peredaran miras dan narkoba. Namun, aparat penegak hukum yang seharusnya menindak pengusaha hiburan malam itu juga tidak berbuat apa-apa (sudah menjadi rahasia umum aparat menjadi beking tempat hiburan malam). Jika polisi tidak bertindak, maka yang terjadi adalah kontrol dari masyarakat yang melakukan dengan caranya sendiri, salah satunya FPI itu.

Meskipun saya tidak setuju seratus persen terhadap cara ‘kekerasan’ yang ditempuh oleh FPI itu dan tetap mengkritisinya, namun saya menganggap keberadaanya masih dibutuhkan sebagai kelompok penyeimbang dan pemberi pressure, khususnya terhadap kelompok liberal dan pengusung paham kebebasan berkeskpresi yang kebablasan. Bagi masyarakat yang kecewa dengan aparat penegak hukum yang terlihat diam atau tidak berdaya dalam memberantas penyakit masyarakat (perjudian, miras, pornografi, pelacuran, dll), apa yang dilakukan oleh FPI itu merupakan jawaban dari kekecewaan mereka. Jika aparat mau menegakkan hukum dengan adil maka saya kira FPI tidak akan melakukan aksinya dengan caranya sendiri. Pelik memang, tapi itulah kondisi penegakan hukum di negara kita yang amburadul.

Saya melihat FPI sekarang mulai mencoba melakukan aksinya dengan jalan konstitusional. Judical review terhadap Kepres miras itu adalah contohnya. Cara-cara yang elegan seperti itu harus diteruskan dan saya yakin akan mendapat dukungan luas dari masyarakat dan juga wakil rakyat di parlemen. Saya kira masyarakat yang selama ini tidak setuju dengan miras perlu berterima kasih kepada FPI, karena berkat FPI maka Keppres tentang peredaran minuman keras batal demi hukum. Wakil rakyat di parlemen perlu didukung untuk menggolkan RUU ANTI MIRAS, sehingga miras dilarang oleh UU secara nasional.

Dipublikasi di Indonesiaku | 13 Komentar

Sukses Masuk PTN Karena Bimbel?

Minggu lalu di dalam sebuah suratkabar lokal Bandung ada iklan dua halaman penuh dari sebuah Bimbingan Belajar ternama. Iklan itu berisi daftar nama 20.300 orang siswa Bimbel tersebut yang diterima di berbagai PTN di seluruh Indonesia dengan ITB sebagai daftar paling depan. Ada 768 orang siswa Bimbel tersebut yang diterima di ITB. Mungkin kita perlu mengucapkan “Selamat datang putera-puteri terbaik Bimbel!”.

Benarkah mereka berhasil lulus masuk PTN karena Bimbel? Saya tidak yakin. Saya lebih percaya mereka bisa lulus masuk perguruan tinggi, khususnya masuk ITB, karena pada dasarnya mereka memang sudah pintar sejak di bangku sekolah. Saya malah yakin yang tidak lulus masuk PTN mungkin lebih besar dari angka 20 ribuan itu.

Menurut saya Bimbel tidak terlalu banyak memberikan dampak terhadap keberhasilan seorang siswa. Anak saya sendiri contohnya, karena terpengaruh teman-temannya, akhirnya ikut Bimbel beberapa bulan menjelang UN SD. Dari beberapa kali hasil try out di Bimbel itu, nilai ujiannya tidak jauh beda dengan hasil try out yang dilaksanakan di sekolahnya. Prediksi nilai UN-nya juga tidak jauh berbeda dengan kenyataan. Jadi, tiga bulan ikut Bimbel hasilnya tidak terlalu berpengaruh. Malahan temannya yang ikut Bimbel selama satu tahun mendapat nilai UN yang rendah. Kalau pada dasarnya kemampuan akademiknya biasa-biasa saja, ikut Bimbel atau tidak ternyata tidak signifikan.

Kebanyakan Bimbel mengajarkan cara menjawab ujian dengan cepat ketimbang mengajarkan konsep dan pemahaman. Mereka mengembangkan teknik-teknik rumus cepat dengan nama yang gagah. Oleh karena itu, namanya kurang tepat disebut Bimbingan Belajar, tetapi mungkin Bimbingan Test. Adanya Bimbel menurut saya menunjukkan ada ketidakpercayaan terhadap sistem pendidikan di sekolah.

Jika mereka menganggap metode pengajaran di Bimbel akan berhasil ketika mereka kuliah di ITB, saya yakin akan banyak yang gagal pada tahap TPB (tingkat 1 di ITB). Sudah banyak contoh kasusnya berdasarkan cerita teman-teman yang mengajar kuliah Fisika Dasar, Kimia Dasar, dan Kalkulus. Karena tidak percaya diri, akhirnya ketika TPB mahasiswa ikut Bimbel lagi (lihat foto di bawah).

Iklan les privat buat mahasiswa TPB (Photo by Eko Purwono)

Iklan les privat buat mahasiswa TPB (Photo by Eko Purwono)

Dipublikasi di Pendidikan | 5 Komentar