Kisah Hikmah: Imam Hanafi dan Anak Kecil

Sebuah kisah yang mengandung hikmah saya peroleh dari sebuah email (sepertinya diambil dari situs NU ini). Kisah itu bersumber dari kitab “Muqodimah Hasyiah Ibnu Abidin” pada jilid yang ke 1/67. Kisah yang mengandung hikmah berharga itu bercerita tentang Imam Hanafi dan seorang anak kecil. Imam Hanafi adalah salah seorang ulama klasik yang tulisan-tulisannya menjadi madzhab penting dalam ajaran Islam, yaitu Madzhab Hanafi.

Dalam kisah ini diceritakan dialog antara Imam Hanafi dengan anak kecil itu. Siapa sangka, peringatan yang keluar dari lidah anak kecil itu membuat Imam Hanafi tersungkur menangis. Berikut kisahnya yang saya copas dari email, saya tulis di sini kembali untuk menjadi hikmah buat kita semua, agar kita selalu rendah hati dan tawadhlu selalu, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah SWT

~~~~~~~~~~~~~~

Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, atau populer disebut Imam Hanafi, pernah berpapasan dengan seorang anak kecil yang tampak berjalan mengenakan sepatu kayu.

”Hati-hati, Nak, dengan sepatu kayumu itu. Jangan sampai kau tergelincir,” sang imam menasehati.

Bocah miskin ini pun tersenyum, menyambut perhatian pendiri mazhab Hanafi ini dengan ucapan terima kasih.

”Bolehkah saya tahu namamu, Tuan?” tanya si bocah.

”Nu’man.”

”Jadi, Tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar al-imam al-a‘dham (imam agung) itu?”

”Bukan aku yang menyematkan gelar itu. Masyarakatlah yang berprasangka baik dan menyematkan gelar itu kepadaku.”

“Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka gara-gara dia. Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke kubangan api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya.”

Ulama kaliber yang diikuti banyak umat Islam itu pun tersungkur menangis. Imam Hanafi bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang bocah.

Dipublikasi di Kisah Hikmah | 3 Komentar

Kisah Hikmah: Bakso Khalifatullah (Tulisan Emha Ainun Nadjib)

Cerita di bawah ini mungkin membuat siapa pun membacanya tidak bisa berkata-kata (speechless). Kisah ini adalah tulisan Emha Ainun Nadjib, yang diambil dari buku kumpulan cerpennya yang berjudul Demokrasi La Roiba Fih (Gramedia – Juli 2009 ). Semoga menjadi inspiarsi bagi kita semua.

~~~~~~~~~~~~

Bakso Khalifatullah
(Oleh: Emha Ainun Nadjib)

Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobaknya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.

“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.

“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”

Ia tertawa. “Iya Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya”

“Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.

“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.

Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?”, saya mengejar lagi.

“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.

Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil, jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.

Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya. Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!”, tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.

Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.

Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya. Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya: “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.

Peradaban saya masih peradaban “milik saya”. Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggungjawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya.

Tiga puluh tahun silam saya pernah menuliskan kekaguman saya kepada penjual cendol yang marah-marah dan menolak cendholnya diborong oleh Pak Kiai Hamam Jakfar Pabelan karena “Kalau semua Bapak beli, bagaimana nanti orang lain yang memerlukannya?”

Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar. Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.

“Lho, uang saya tidak cukup, Pak”

“Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap”

“Berarti saya hutang?”

“Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”.

Doooh adoooh…! Tompes ako tak’iye!

Di pasar Khan Khalili semacam Tenabang-nya Cairo saya masuk sebuah toko kemudian satu jam lebih pemiliknya hilang entah ke mana, jadi saya jaga tokonya. Ketika dating saya protes: “Keeif Inta ya Akh…ke mane aje? Kalau saya ambilin barang-barang Inta terus saya ngacir pigimane dong….”

Lelaki tua mancung itu senyum-senyum saja sambil nyeletuk: “Kalau mau curi barang saya ya curi saja, bukan urusan saya, itu urusan Ente sama Tuhan….”

Sungguh manusia adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah, master-piece. Orang-orang besar bertebaran di seluruh muka bumi. Makhluk-makhluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung, pelosok-pelosok dusun dan di mana-manapun. Bakso Khlifatullah, bahasa Jawanya: bakso-nya Pak Patul, terasa lebih sedap karena kandungan keagungan.

Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum Menteri dan Dirjen, Irjen, Sekjen. Itu baru pemilik toko kelontong, belum Gubernur Bupati Walikota tokoh-tokoh Parpol. Itu baru penjual jagung bakar, belum Kiai dan Ulama.

Dipublikasi di Kisah Hikmah | 9 Komentar

Beda Awal Puasa Ramadhan, Tapi Lebaran Sama (2013)

Tahun ini perbedaan awal puasa Ramadhan terjadi lagi. Muhammadiyah jauh-jauh hari telah mengumumkan awal puasa Ramadhan 1434 H jatuh pada tanggal 9 Juli. Tadi malam Pemerintah bersama-sama ormas Islam lain (diluar Muhammadiyah) resmi mengumumkan awal puasa Ramadhan jatuh pada tanggal 10 Juli. Sedangkan untuk Hari Raya Idul Fitri 1434 H kemungkinan jatuh pada hari yang sama. Jadi, warga Muhammadiyah akan berpuasa selama 30 hari sedangkan umat Islam lain berpuasa selama 29 hari. Saya pribadi memilih mengikuti penetapan awal puasa dari Pemerintah yaitu tanggal 10 Juli itu.

Bagi orang Islam Indonesia, perbedaan awal puasa Ramadhan dan lebaran Idul Fitri sudah sering kali terjadi. Kejadian tersebut ditanggapi biasa-biasa saja, artinya semua orang sudah saling paham satu sama lain. Yang berpuasa duluan silakan, yang berpuasa belakangan, monggo. Silakan diyakini dan diikuti mana yang paling benar menurut keyakinan masing-masing. Paling-paling orang hanya bisa mengurut dada melihat perbedaan yang begitu sering ini.

Awal puasa boleh berbeda, tetapi lebaran Idul Fitri sebaiknya sama, begitulah kira-kira pendapat yang saya amati dari banyak orang. Hal ini karena perayaan Idul Fitri sudah menjadi tradisi turun temurun, sudah menjadi budaya, dan sudah mengakar di kalangan umat Islam Indonesia. Sangat tidak elok ada yang sudah merayakan lebaran duluan, tetapi tetangganya masih berpuasa. Namun, kalaupun Idul Fitrinya berbeda hari, tetap ditanggapi biasa-biasa saja. Apakah itu artinya umat Islam di Indonesia sudah “dewasa”?

Selama ormas-ormas Islam di Indonesia tidak mau bersatu, percayalah tidak akan pernah terjadi penyatuan kalender hijriyah sampai akhir zaman. Selama ego ormas dikedapankan ketimbang ukhuwah islamiyah, sangat sulit umat Islam di Indonesia ini sama-sama mengawali puasa pada hari yang sama dan sama-sama berlebaran pada hari yang sama pula.

Dipublikasi di Agama | 3 Komentar

Pengalaman PPDB 2013 Kota Bandung yang Mendebarkan

Hari ini adalah hari yang paling menegangkan dalam hidup saya. Sabtu 6 Juli 2013 adalah batas terakhir pendaftaran siswa baru SMP negeri di kota Bandung yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung dengan nama PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru). Saya sudah pernah menulis sebelum ini tentang kegalauan orangtua yang harap-harap cemas dengan PPDB. Mereka yang galau, termasuk saya, adalah orangtua dengan nilai UN antara 25 dan 27 sebab saking banyak jumlahnya. Mau masuk SMP dalam kluster 1 tanggung, mau ke kluster dua juga belum ridho. Tahun ini nilai UN SD di kota Bandung mengalami penurunan, jadi ada harapan passing grade SMP negeri juga mengalami penurunan.

Saya setuju dengan penerimaan siswa baru dengan sistem kluster ketimbang rayonisasi. Sistem kluster menurut saya lebih adil, sebab calon siswa dapat memilih SMP manapun yang dia minati tanpa disekat oleh batas-batas wilayah seperti pada sistem rayonisasi. Selain itu, siswa-siswa berkualitas juga bisa menyebar ke SMP-SMP yang tidak termasuk favorit sekalipun.

Namun, sistem kluster membuat para orangtua deg-degan dalam menentukan SMP anaknya. Satu-satunya alat seleksi dalam PPDB di Bandung hanyalah nilai UN semata, terlepas nilai UN itu dari hasil ujian yang jujur atau hasil kecurangan. Nah, passing grade nilai UN tahun lalu tidak dapat dijadikan patokan. Passing grade sebuah sekolah tergantung dari siswa yang mendaftar. Jika yang mendaftar lebih banyak siswa bernilai UN tinggi, maka passing grade-nya ikut tinggi. Sebaliknya jika yang mendaftar adalah siswa dengan UN yang sedang-sedang saja atau rendah, maka passing grade di sekolah itu ikut turun.

Di Bandung calon siswa hanya boleh mengisi dua pilihan kluster. Pilihan satu dari sekolah pada kluster 1, pilihan keduanya pada kluster dua atau tiga. Kalau memilih pilihan satu dari kluster dua, maka pilihan keduanya dari kluster satu atau tiga. Kalau memilih plihan satu dari kluster tiga, maka pilihan keduanya dari kluster tiga lagi.

Bagi orangtua galau seperti saya, pendaftaran dilakukan pada hari terakhir dan pada detik-detik terakhir. Setiap saat saya selalu memantau melalui situs PPDB daring data pendaftar, nilai UN mereka, dan passing grade sementara jika kuota (jumlah daya tampung) sudah terpenuhi. Pada hari pertama pendaftaran, jumlah yang mendaftar masih sedikit. Hanya mereka yang memiliki UN tinggi dan sudah yakin dengan pilihannya yang mendaftar. Pada hari kedua dan ketiga pergerakan nilai juga masih lambat. Barulah pada hari kelima (H-1) jumlah pendaftar sudah mulai banyak dan passing grade smeentara sudah mulai bermunculan.

Pada hari terakhir pendaftaran, yaitu Sabtu siang tadi, seperti yang saya duga jumlah pendaftar mengalami booming. Sejak pukul 9 pagi para orangtua dan anaknya sudah mulai ramai mendatangi SMP favorit. SMP favorit di Bandung yang lokasinya tidak terlalu berjauhan adalah SMP 2, 5, 7, dan 14 (semuanya pada kluster 1) dan SMP 44 (kluster 2). Namun, semalam pergerakan passing grade di SMP 14 sudah mendekati 27. Orangtua yang galau, yang nilai UN anaknya antara 25 dan 27 memilih meninggalkan SMP 14, mereka ramai-ramai mendatangi tiga SMP favorit yang tersisa (SMP 7, 2, dan 5) yang jumlah pendaftarnya masih sedikit (sedikit karena setiap orang menahan diri mendaftar, menunggu pergerakan nilai yang lamban).

Saya dan anak mendatangi SMP 7 di Jalan Ambon. Wow!, orangtua sudah menyemut di SMP ini. Mereka saling mencari tahu informasi perkembangan nilai di SMP 7, juga di SMP 2 dan SMP 5. Semua orangtua di sana berharap anaknya dapat lolos di SMP 7. Mereka saling bertanya lewat HP, mengkases situs PPDB daring dengan laptop, komputer tablet, dan smartphone lainnya. Beberapa orangtua menahan diri untuk mendaftar, menunggu kepastian yang tidak jelas.

Menjelang pukul 12 siang wajah-wajah gelisah para orangtua mulai kelihatan. Situs PPDB masih belum memutakhirkan data terbaru, padahal pendaftaran akan ditutup jam 14 siang. Sebagian orangtua yang pasrah akhirnya mendafar juga, tetapi sebagian lagi masih wait and see. Jam 12 siang terdengar kabar hahwa di SMP 5 jumlah yang mendaftar masih sedikit. Memang banyak orangtua bergerombol di sana, tetapi mereka masih belum mau mendaftar. Yang dikhawatirkan oleh para orangtua itu adalah ‘serangan fajar’ pada saat-saat terakhir, yaitu masuknya pendaftaran secara kolektif dari siswa SD di Jalan Merdeka (yang dikenal memiliki banyak nilai UN tinggi-tinggi). Mereka khawatir passing grade meroket ‘gara-gara’ nilai UN dari SD itu. Duh, benar-benar sengit persaingan di kluster satu ini, khususnya pada empat sekolah yang saya sebutkan di atas.

Mendengar kabar itu, saya dan anak bergegas meninggalkan SMP 7, berharap ada ‘keajaiban’ nilai di SMP 5. Ternyata di SMP 5 parkir motor dan mobil penuh, para orangtua terlihat menyesaki ruang pendaftaran. Terdengar pengumuman dari petugas bahwa ruang pendaftaran akan ditutup pada pukul 13.30, yaitu sekitar 45 menit lagi. Mereka hanya akan melayani pendaftar di dalam ruangan itu saja , setelah pukul 13.30 pintu ruangan pendaftaran akan ditutup dan pendaftar yang baru datang tidak akan dilayani lagi. Menurut saya hal ini tidak boleh dan melanggar aturan, sebab masa pendaftaran resminya ditutup pukul 14.00, jadi panitia tidak boleh menolak pendaftaran setelah pukul 13.30. Tetapi apa mau dikata, petugas di SMP 5 itu mungkin kerepotan dengan banyaknya pendaftar yang menyesaki ruangan yang tidak terlalu luas itu.

Wajah-wajah tegang orangtua semakin bermunculan. Mereka mulai tampak panik dan cemas, tetapi tetap masih menahan diri untuk mendaftar. Sementara pergerakan nilai masih sangat lambat, data yang masuk tidak segera diunggah ke situs web. Hal ini yang membuat geram para orangtua sebab mereka diombang-ambingkan oleh ketidakpastian. Tidak hati-hati dalam menentukan pilihan bisa fatal akibatnya, anaknya bakal tersingkir ke kluster dua atau tidak diterima sama sekali pada semua pilihan.

Melihat kondisi itu, saya pun mulai dihinggapi kekhawatiran. Waktu tersisa satu jam lagi, tetapi saya masih belum bisa juga memutuskan mau mendaftar ke SMP mana, SMP 5 atau SMP 7? Lalu, pilihan keduanya SMP 44 atau SMP 27? Duh, benar-benar bingung, galau, khawatir, dan cemas campur aduk menjadi satu. Setelah berpikir dan menimang-nimang, saya segera mengambil keputusan untuk membawa anak saya ke SMP 4 di Jalan Samoja. SMP 4 ini masih termasuk kluster satu. Tadi siang saya lihat passing grade sementaranya 26.25, jadi masih aman buat nilai UN anak saya.

Tiba di SMP 4 saya melihat suasananya tidak seramai di SMP 7, SMP 5, dan SMP 2. Di sini saya mendapat info dari petugas bahwa passing grade sementara sudah mencapai 26.35. Hanya terlihat beberapa orang pendaftar yang sedang duduk-duduk. Mereka adalah ibu-ibu yang H2C, khawatir terjadi ‘serangan fajar’ tak terduga menjelang pukul 14.00. Ibu-ibu ini nilai UN anaknya berada tepat pada passing grade sementara. Mereka khawatir pendaftar yang baru datang dengan nilai UN yang lebih tinggi dapat menyingkirkan anak mereka yang berada pada posisi perbatasan. Bbeerapa ibu berteriak kepada petugas untuk menutup gerbang sekolah supaya tidak ada lagi yang bisa mendaftar. Tetapi petugas tidak bersedia sebab mereka tidak ingin dianggap melanggar aturan karena waktu pendaftaran baru berakhir pukul 14.00.

Namun, meskipun sudah berada di SMP 4 saya masih juga belum melakukan pendaftaran. Pikiran saya masih ke SMP 7, karena anak saya masih ngebet dengan sekolah itu. Namun setelah melihat kompleks sekolah SMP 4 yang bersih dan menyenangkan, saya pun mulai jatuh cinta pada sekolah ini. Saya katakan kepada anak saya kita pilih saja SMP 4 ini, lupakan SMP 7 sebab nilai passing grade-nya masih gambling, bisa berada di atas 27.

Dengan memantapkan hati, pukul 13.40 (yang berarti 20 menit lagi dan sudah tidak mungkin cukup waktu untuk balik lagi ke SMP 7 yang ), saya masukkan berkas pendaftaran ke meja panitia. Sepuluh menit pemrosesan berkas, akhirnya proses pendaftaran selesai juga. Plong hati saya, namun saya tidak segera pulang, masih menunggu tepat pukul 14.00. Sesudah saya hanya ada satu orang lagi yang mendaftar, dan menurut panitia passing grade sementara tidak berubah, yaitu tetap 26.35. Ibu-ibu yang berada di saa merasa gembira sebab serangan fajar yang diperkirakan datang pada detik-detik terakhir ternyata tidak terjadi, jadi anak-anak mereka berada pada posisi aman (diterima).

Malam hari saya memantau passing grade sementara di situs web PPDB. Alhamdulillah pergerakan nilai passing grade sudah berhenti, jumlah data yang masuk sudah sama dengan data terakhir jumlah pendaftar. Anak saya bisa masuk SMP pada kluster ini dan berada pada posisi yang sangat aman. Di bawahnya masih ada 43 orang lagi yang lolos dengan passing grade terendah 26.35. Di situs PPDB saya melihat passing grade SMP 7 sudah mencapai 26.65, passing grade SMP 5 mencapai 27.15 dan passing grade SMP 2 mencapai 27.2, semuanya di atas nlai UN anak saya.

pg
pg2
pg3
pg4

Lega benar saya malam ini setelah mengalami ketegangan selama satu hari tadi. Andai saja tadi siang saya tetap bertahan di SMP 7 atau SMP 5, mungkin anak saya sudah terlempar ke pilihan kedua. Andai saja tadi siang saya tetap mendaftar di SMP 7 atau SMP 5, mungkin yang terjadi adalah kesedihan. Ada hikmahnya juga saya tidak jadi mendaftarkan anak ke dua SMP itu. Alhamdulillah dengan perhitungan yang cermat dan kehati-hatian saya tidak salah dalam mengambil keputusan. Mudah-mudahan pilihan ke SMP 4 itu adalah pilihan terbaik menurut Allah SWT dan terbaik pula untuk anak saya. Pasti ada Rahasia Allah yang ‘memasukkan’ anak saya ke SMP 4 ini. Wallahu alam bissawab.

Dipublikasi di Pendidikan, Pengalamanku | 25 Komentar

Dari Asrama Mahasiswa ITB ke Hotel Bumi Sawunggaling

Saya ini alumni asrama mahasiswa ITB. Dulu saya sempat tinggal di salah satu asrama mahasiswa yang bernama Rumah C (letaknya di Jalan Skanda, samping Taman Ganesha) selama dua tahun. Sekarang asrama mahasiswa ITB di Jalan Ganesha sudah tidak ada lagi, berganti menjadi kantor-kantor ITB. Tentang asrama ini sudah pernah saya tulis dalam tulisan yang ini dan ini.

Salah satu asrama ITB adalah Rumah G di Jalan Sawunggaling (tidak jauh dari Pasar Balubur). Letaknya terpisah dari kumpulan rumah asrama di Jalan Ganesha. Ketika saya tinggal di Rumah C, saya sering main ke Rumah G ini, karena seorang teman saya tinggal di sana. Bagi saya pribadi Rumah G itu terlihat eksotik karena bangunannya bergaya art deco karena memang dibuat pada zaman Belanda dulu.

Sekarang Rumah G sudah beralih fungsi menjadi hotel milik ITB yang bernama Hotel Bumi Sawunggaling. Hotel dengan 21 kamar itu termasuk hotel dengan kategori hotel berbintang 1. Kategorinya tidak bisa naik karena tidak memiliki kolam renang (memang sudah tidak ada lagi lahan yang dapat dijadikan kolam renang). Yang menjadi andalan (dan nilai lebih) hotel ini adalah bangunan kunonya itu.

010720133369

Hari Senin yang lalu saya dan teman-teman dosen di STEI-ITB mengadakan rapat seharian di Hotel Bumi Sawunggaling. Ini pertama kalinya saya memasuki hotel itu, setelah selama belasan tahun saya tidak pernah lagi menginjakkan kaki di sana (ketika masih menjadi asrama mahasiswa).

010720133370

Wah, saya merasa bernostalgia ketika masuk hotel ini. Dengan cepat kelabat bayangan masa lalu ketika saya sering main ke sana seakan diputar kembali. Hotel ini masih mempertahankan keaslian bangunan lamanya, termasuk ruang-ruang di dalamnya.

Lobby hotel. Dulu ini tempat menerima tamu.

Lobby hotel. Dulu ini tempat menerima tamu.

Ini tangga ke lantai dua, masih tangga yang sama seperti dulu ketika saya naik ke atas menuju kamar teman saya.

Ini tangga ke lantai dua, masih tangga yang sama seperti dulu ketika saya naik ke atas menuju kamar teman saya.

Lorong dengan kamar-kamar hotel. Dulu ini kamar-kamar asrama.

Lorong dengan kamar-kamar hotel. Dulu ini kamar-kamar asrama.

Pemandangan dari lantai 2.

Pemandangan dari lantai 2.

Ruang tamu di lantai 2.

Ruang tamu di lantai 2.

Ruang makan hotel, dulunya ini ruang makan asrama.

Ruang makan hotel, dulunya ini ruang makan asrama.

Lorong di lantai 3

Lorong di lantai 3

Kafe Da Costa yang terletak di teras luar.

Kafe Da Costa yang terletak di teras luar.

Bagi Anda yang dulu alumni asrama Sawunggaling, tulisan ini mungkin dapat mengingatkan kembali masa lalu Anda di sana.

Dipublikasi di Seputar ITB | 5 Komentar

Penggulingan Mursi dan Krisis Ekonomi

Tadi pagi saya membaca berita yang mengejutkan. Presiden Mesir, Mohammad Mursi, akhirnya digulingkan oleh rakyatnya sendiri dengan dukungan intervensi rezim militer. Padahal Mursi terpilih lewat Pemilu yang demokratis tahun 2012 yang lalu. Namun baru satu tahun berkuasa, akhirnya dia pun jatuh. Kekuatan massa (people power), apalagi jika didukung oleh militer, memang sulit untuk dilawan.

Secara logika, penggulingan Mursi itu memang membingungkan. Dulu rakyat Mesir bersatu padu menggulingkan rezim militer (Husni Mubarak), sekarang mereka berbalik mendukung rezim militer. Memang tiada musuh yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan sesaat. Kebetulan kelompok anti-Mursi bersesuaian kepentingan dengan kelompok militer yang mengalami post power syndrom sejak tergulingnya Mubarak (seorang militer)

Apa kesalahan Mursi? Saya tidak tahu persis. Yang saya tahu, sejak dia terpilih menjadi Presiden, Pemerintahannya selalu digoyang demo oleh kelompok oposisi yang kalah dalam Pemilu pasca kejatuhan Presiden Husni Mubarak. Kelompok oposisi selalu digambarkan sebagai kaum sekuler atau liberal, sedangkan Mursi sendiri didukung oleh kelompok islamis.

Menyederhanakan masalah Mesir sebagai pertentangan ideologis (islamis vs liberal) sepertinya bukan jawaban yang memuaskan. Memang ada masalah ideologis di situ, tetapi saya yakin pasti ada alasan lainnya. Gerakan massa anti-Mursi jumlahnya melebihi pemilih partai-partai liberal yang kalah dalam Pemilu. Ini berarti penentang Mursi dalam gerakan people power yang terjadi sejak 30 Juni yang lalu tidak melulu dari kelompok sekuler liberal saja, tetapi juga dari rakyat kebanyakan yang merasakan ketidakpuasan kepada Mursi.

Sejak kejatuhan Huni Mubarak, perekonomian Mesir anjlok ke titik terendah. Rakyat Mesir merasakan krisis ekonomi yang membuat kehidupan mereka menjadi tambah sulit. Pada zaman Mubarak perekonomian Mesir berada dalam keadaan stabil, namun karena Mubarak terlalu lama berkuasa, rakyat Mesir pun mulai muak dengan Mubarak yang tampak seperti Firaun yang otoriter. Fenomena Arab Spring (yang dimulai dari Tunisia) menjalar ke Mesir. Rakyat Mesir melakukan gerakan massa untuk menggulingkan Mubarak. Mubarak jatuh, Mursi naik ke tampuk kekuasaan melalui Pemilu yang dramatis.

Satu tahun Mursi berkuasa tidak tampak perbaikan perekomonian Mesir. Anda bisa paham jika selama setahun perekonomian sulit, orang pasti merasa gelisah. Urusan perut tidak bisa ditunda-tunda, rakyat Mesir tidak sabar menunggu lama. Rasa gelisah memuncak menjadi amarah, dan bila digabungkan dengan orang-orang lain yang bernasib sama, maka timbullah gerakan massa yang tidak terbendung. Itulah yang terjadi di Mesir saat ini.

Berkaca pada kasus Indonesia 1998, apa yang terjadi di Mesir saat ini mirip dengan yang terjadi di Indonesia. Kejatuhan Soeharto juga disebabkan oleh krisis ekonomi. Bedanya, Soeharto jatuh setelah 32 tahun berkuasa, sedangkan Mursi baru satu tahun. Jadi, kesulitan ekonomi adalah alasan paling mungkin yang menggerakkan massa untuk menentang Mursi. Karena itu tidak tepat memandang Mesir sebagai pertentangan antara kelompok Islam dan kelompok sekuler semata.

Dipublikasi di Dunia oh Dunia | 2 Komentar

Spanduk “Selamat Datang Plat B di Kota Bandung”

Ketika melewati Jalan Diponegoro, saya melihat sebuah spanduk yang isinya cukup menyentil. Bunyinya begini: SELAMAT DATANG PLAT B DI KOTA BANDUNG, KOTA RAMAH, SANTUN, DAN BERSAHABAT. Boleh jadi spanduk tersebut sebagai efek kasus antara Persib dan Persija minggu lalu yang membuat takut orang Jakarta datang ke Bandung membawa mobil plat B.

030720133381

Jadi ceritanya begini, bus pemain Persib dilempari hingga kacanya pecah berantakan ketika memasuki kota Jakarta. Pelakunya diduga simpatisan atau pendukung Persija (disebut Jakmania). Rencananya Persib akan bertanding melawan Persija di Gelora Bung Karno sore harinya, tetapi batal akibat peristiwa kekerasan tersebut. Dengan cepat berita pelemparan bus Persib itu menjalar ke Bandung melalui media sosial, sms, dan instant messaging. Para bobotoh Persib pun meradang. Mereka menanti kepulangan bus Persib di mulut tol Pasteur. Jumlah bobotoh yang menunggu di jalan Terusan Pasteur ribuan orang sehingga jalanan menjadi lautan biru (warna kaos Persib).

Beredar isu bahwa para bobotoh akan melakukan balas dendam dengan merusak mobil plat B, meskipun hal itu dibantah oleh bobotoh. Mereka mengatakan bahwa justru kehadiran mereka untuk mengamankan mobil-mobil plat B supaya tidak menjadi sasaran kekerasan oknum bobotoh yang marah. Namun isu di dunia maya bisa dicerna macam-macam oleh orang yang menerimanya. Sebagian orang Jakarta yang akan ber-wiken ke Bandung menjadi takut, jangan-jangan mobil mereka menjadi sasaran bobotoh. Memang ada kejadian beberapa oknum bobotoh yang pulang malam ketika melewati Jalan Citarum merusak dua buah mobil plat B yang sedang parkir di depan sebuah kafe, padahal pemilik mobil plat B itu bukan orang Jakarta, ettapi dari Cikarang (Bekasi). Lagipula orang Bandung sendiri banyak yang memiliki mobil dengan plat B.

Efek ketakutan itu terasa. Warga Jakarta yang akan berliburan ke Bandung agak berkurang, padahal wisatawan terbesar ke kota Bandung adalah warga Jakarta. Meskipun saya tidak tahu berapa tingkat penurunannya, namun trauma itu agak sulit dihapus dalam waktu sekejap. Oleh karena itu, saya berpikir positif bahwa spanduk tersebut dipasang untuk memulihkan kepercayaan warga Jakarta untuk tidak takut datang ke Bandung.

030720133380

Cuman, setelah melihat siapa yang menjadi sponsor dana terhadap spanduk itu (yang ternyata sebuah Factory Outlet), saya jadi senyum-senyum sendiri. Tanya kenapa.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 3 Komentar