Dari Asrama Mahasiswa ITB ke Hotel Bumi Sawunggaling

Saya ini alumni asrama mahasiswa ITB. Dulu saya sempat tinggal di salah satu asrama mahasiswa yang bernama Rumah C (letaknya di Jalan Skanda, samping Taman Ganesha) selama dua tahun. Sekarang asrama mahasiswa ITB di Jalan Ganesha sudah tidak ada lagi, berganti menjadi kantor-kantor ITB. Tentang asrama ini sudah pernah saya tulis dalam tulisan yang ini dan ini.

Salah satu asrama ITB adalah Rumah G di Jalan Sawunggaling (tidak jauh dari Pasar Balubur). Letaknya terpisah dari kumpulan rumah asrama di Jalan Ganesha. Ketika saya tinggal di Rumah C, saya sering main ke Rumah G ini, karena seorang teman saya tinggal di sana. Bagi saya pribadi Rumah G itu terlihat eksotik karena bangunannya bergaya art deco karena memang dibuat pada zaman Belanda dulu.

Sekarang Rumah G sudah beralih fungsi menjadi hotel milik ITB yang bernama Hotel Bumi Sawunggaling. Hotel dengan 21 kamar itu termasuk hotel dengan kategori hotel berbintang 1. Kategorinya tidak bisa naik karena tidak memiliki kolam renang (memang sudah tidak ada lagi lahan yang dapat dijadikan kolam renang). Yang menjadi andalan (dan nilai lebih) hotel ini adalah bangunan kunonya itu.

010720133369

Hari Senin yang lalu saya dan teman-teman dosen di STEI-ITB mengadakan rapat seharian di Hotel Bumi Sawunggaling. Ini pertama kalinya saya memasuki hotel itu, setelah selama belasan tahun saya tidak pernah lagi menginjakkan kaki di sana (ketika masih menjadi asrama mahasiswa).

010720133370

Wah, saya merasa bernostalgia ketika masuk hotel ini. Dengan cepat kelabat bayangan masa lalu ketika saya sering main ke sana seakan diputar kembali. Hotel ini masih mempertahankan keaslian bangunan lamanya, termasuk ruang-ruang di dalamnya.

Lobby hotel. Dulu ini tempat menerima tamu.

Lobby hotel. Dulu ini tempat menerima tamu.

Ini tangga ke lantai dua, masih tangga yang sama seperti dulu ketika saya naik ke atas menuju kamar teman saya.

Ini tangga ke lantai dua, masih tangga yang sama seperti dulu ketika saya naik ke atas menuju kamar teman saya.

Lorong dengan kamar-kamar hotel. Dulu ini kamar-kamar asrama.

Lorong dengan kamar-kamar hotel. Dulu ini kamar-kamar asrama.

Pemandangan dari lantai 2.

Pemandangan dari lantai 2.

Ruang tamu di lantai 2.

Ruang tamu di lantai 2.

Ruang makan hotel, dulunya ini ruang makan asrama.

Ruang makan hotel, dulunya ini ruang makan asrama.

Lorong di lantai 3

Lorong di lantai 3

Kafe Da Costa yang terletak di teras luar.

Kafe Da Costa yang terletak di teras luar.

Bagi Anda yang dulu alumni asrama Sawunggaling, tulisan ini mungkin dapat mengingatkan kembali masa lalu Anda di sana.

Dipublikasi di Seputar ITB | 5 Komentar

Penggulingan Mursi dan Krisis Ekonomi

Tadi pagi saya membaca berita yang mengejutkan. Presiden Mesir, Mohammad Mursi, akhirnya digulingkan oleh rakyatnya sendiri dengan dukungan intervensi rezim militer. Padahal Mursi terpilih lewat Pemilu yang demokratis tahun 2012 yang lalu. Namun baru satu tahun berkuasa, akhirnya dia pun jatuh. Kekuatan massa (people power), apalagi jika didukung oleh militer, memang sulit untuk dilawan.

Secara logika, penggulingan Mursi itu memang membingungkan. Dulu rakyat Mesir bersatu padu menggulingkan rezim militer (Husni Mubarak), sekarang mereka berbalik mendukung rezim militer. Memang tiada musuh yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan sesaat. Kebetulan kelompok anti-Mursi bersesuaian kepentingan dengan kelompok militer yang mengalami post power syndrom sejak tergulingnya Mubarak (seorang militer)

Apa kesalahan Mursi? Saya tidak tahu persis. Yang saya tahu, sejak dia terpilih menjadi Presiden, Pemerintahannya selalu digoyang demo oleh kelompok oposisi yang kalah dalam Pemilu pasca kejatuhan Presiden Husni Mubarak. Kelompok oposisi selalu digambarkan sebagai kaum sekuler atau liberal, sedangkan Mursi sendiri didukung oleh kelompok islamis.

Menyederhanakan masalah Mesir sebagai pertentangan ideologis (islamis vs liberal) sepertinya bukan jawaban yang memuaskan. Memang ada masalah ideologis di situ, tetapi saya yakin pasti ada alasan lainnya. Gerakan massa anti-Mursi jumlahnya melebihi pemilih partai-partai liberal yang kalah dalam Pemilu. Ini berarti penentang Mursi dalam gerakan people power yang terjadi sejak 30 Juni yang lalu tidak melulu dari kelompok sekuler liberal saja, tetapi juga dari rakyat kebanyakan yang merasakan ketidakpuasan kepada Mursi.

Sejak kejatuhan Huni Mubarak, perekonomian Mesir anjlok ke titik terendah. Rakyat Mesir merasakan krisis ekonomi yang membuat kehidupan mereka menjadi tambah sulit. Pada zaman Mubarak perekonomian Mesir berada dalam keadaan stabil, namun karena Mubarak terlalu lama berkuasa, rakyat Mesir pun mulai muak dengan Mubarak yang tampak seperti Firaun yang otoriter. Fenomena Arab Spring (yang dimulai dari Tunisia) menjalar ke Mesir. Rakyat Mesir melakukan gerakan massa untuk menggulingkan Mubarak. Mubarak jatuh, Mursi naik ke tampuk kekuasaan melalui Pemilu yang dramatis.

Satu tahun Mursi berkuasa tidak tampak perbaikan perekomonian Mesir. Anda bisa paham jika selama setahun perekonomian sulit, orang pasti merasa gelisah. Urusan perut tidak bisa ditunda-tunda, rakyat Mesir tidak sabar menunggu lama. Rasa gelisah memuncak menjadi amarah, dan bila digabungkan dengan orang-orang lain yang bernasib sama, maka timbullah gerakan massa yang tidak terbendung. Itulah yang terjadi di Mesir saat ini.

Berkaca pada kasus Indonesia 1998, apa yang terjadi di Mesir saat ini mirip dengan yang terjadi di Indonesia. Kejatuhan Soeharto juga disebabkan oleh krisis ekonomi. Bedanya, Soeharto jatuh setelah 32 tahun berkuasa, sedangkan Mursi baru satu tahun. Jadi, kesulitan ekonomi adalah alasan paling mungkin yang menggerakkan massa untuk menentang Mursi. Karena itu tidak tepat memandang Mesir sebagai pertentangan antara kelompok Islam dan kelompok sekuler semata.

Dipublikasi di Dunia oh Dunia | 2 Komentar

Spanduk “Selamat Datang Plat B di Kota Bandung”

Ketika melewati Jalan Diponegoro, saya melihat sebuah spanduk yang isinya cukup menyentil. Bunyinya begini: SELAMAT DATANG PLAT B DI KOTA BANDUNG, KOTA RAMAH, SANTUN, DAN BERSAHABAT. Boleh jadi spanduk tersebut sebagai efek kasus antara Persib dan Persija minggu lalu yang membuat takut orang Jakarta datang ke Bandung membawa mobil plat B.

030720133381

Jadi ceritanya begini, bus pemain Persib dilempari hingga kacanya pecah berantakan ketika memasuki kota Jakarta. Pelakunya diduga simpatisan atau pendukung Persija (disebut Jakmania). Rencananya Persib akan bertanding melawan Persija di Gelora Bung Karno sore harinya, tetapi batal akibat peristiwa kekerasan tersebut. Dengan cepat berita pelemparan bus Persib itu menjalar ke Bandung melalui media sosial, sms, dan instant messaging. Para bobotoh Persib pun meradang. Mereka menanti kepulangan bus Persib di mulut tol Pasteur. Jumlah bobotoh yang menunggu di jalan Terusan Pasteur ribuan orang sehingga jalanan menjadi lautan biru (warna kaos Persib).

Beredar isu bahwa para bobotoh akan melakukan balas dendam dengan merusak mobil plat B, meskipun hal itu dibantah oleh bobotoh. Mereka mengatakan bahwa justru kehadiran mereka untuk mengamankan mobil-mobil plat B supaya tidak menjadi sasaran kekerasan oknum bobotoh yang marah. Namun isu di dunia maya bisa dicerna macam-macam oleh orang yang menerimanya. Sebagian orang Jakarta yang akan ber-wiken ke Bandung menjadi takut, jangan-jangan mobil mereka menjadi sasaran bobotoh. Memang ada kejadian beberapa oknum bobotoh yang pulang malam ketika melewati Jalan Citarum merusak dua buah mobil plat B yang sedang parkir di depan sebuah kafe, padahal pemilik mobil plat B itu bukan orang Jakarta, ettapi dari Cikarang (Bekasi). Lagipula orang Bandung sendiri banyak yang memiliki mobil dengan plat B.

Efek ketakutan itu terasa. Warga Jakarta yang akan berliburan ke Bandung agak berkurang, padahal wisatawan terbesar ke kota Bandung adalah warga Jakarta. Meskipun saya tidak tahu berapa tingkat penurunannya, namun trauma itu agak sulit dihapus dalam waktu sekejap. Oleh karena itu, saya berpikir positif bahwa spanduk tersebut dipasang untuk memulihkan kepercayaan warga Jakarta untuk tidak takut datang ke Bandung.

030720133380

Cuman, setelah melihat siapa yang menjadi sponsor dana terhadap spanduk itu (yang ternyata sebuah Factory Outlet), saya jadi senyum-senyum sendiri. Tanya kenapa.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 3 Komentar

H2C Penerimaan Siswa Baru SMP Negeri di Kota Bandung

Anak saya yang nomor dua tahun ini akan masuk SMP. Pilihan jatuh ke SMP negeri sebab di Bandung SMP negerinya lebih banyak yang bagus ketimbang SMP swasta. Anak yang pertama tidak bisa masuk SMP negeri karena hanya bisa bersekolah di sekolah inklusi. Jadi, inilah pengalaman pertama saya memasukkan anak ke sekolah negeri (SD-nya di swasta, sekolah Islam.

Penerimaan siswa baru di kota Bandung menggunakan sistem kluster, dan satu-satunya alat seleksi adalah menggunakan nilai UN semata. Ada tiga kluster yaitu kluster satu, dua, dan tiga. Sistem kluster itu pada hekekatnya mirip dengan dengan kasta. Kluster satu diasumsikan masyarakat sebagai SMP rangking atas (SMP favorit) dan passing grade nilai UN sebagai syarat masuknya tergolong tinggi. Kluster dua dan tiga dianggap sekolah kurang favorit. Favorit atau tidak favorit berhubungan dengan soal kualitas, ya kualitas sekolah ya kualitas inputnya (siswanya). Jamaknya masyarakat, mereka cenderung memasukkan anak ke sekolah favorit karena berbagai alasan, utamanya soal gengsi.

Saya juga ingin memasukkan anak yang nomor dua itu pada sekolah yang disebut sekolah favorit tadi, namun bukan karena alasan gengsi, tetapi agar anak saya terpacu semangat belajarnya jika berada pada sekolah dengan iklim kompetitif dalam belajar. Selain itu juga karena faktor jarak, beberapa sekolah di dalam kluster satu itu jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah dan dapat ditempuh dengan satu atau dua kali naik angkot. Ke SMP 2 atau SMP 5 misalnya, cukup satu kali naik angkot dari Antapani.

Sekolah SMP yang termasuk kluster satu dan banyak “diburu” orangtua siswa adalah SMP 2, SMP 5, SMP 7, dan SMP 14. Setiap tahun passing grade masuk ke sekolah-sekolah itu tergolong tinggi, yaitu di atas 27 dan 28. Saingannya sangat banyak. Namun tahun ini saya harus berhitung-hitung kembali bila memasukkan anak saya salah satu sekolah itu. Nilai UN anak saya ternyata tidak seperti yang diharapkan semula, nilainya berada di antara 26 dan 27. Parahnya lagi, tahun ini nilai UN siswa SD di Bandung sebagian besar menumpuk di antara 25 dan 27. Siswa yang memiliki nilai di atas 29 tidak ada sama sekali, antara 28 dan 29 hanya 500 orang saja, antara 27 dan 28 sekitar 2500 orang, sedangkan antara 26 dan 27 sekitar 14.000 siswa.

Sebaran nilai UN SD tahun 2013 di kota Bandung (Sumber: koran PR)

Sebaran nilai UN SD tahun 2013 di kota Bandung (Sumber: koran PR)

Melihat komposisi nilai seperti itu, persaingan keras masuk ke SMP kluster satu akan terjadi pada kelompok nilai di antara 26 dan 27 itu. Wah, saya agak pesismistis anak saya bisa masuk ke salah satu SMP 2, SMP 5, SMP 7, dan SMP 14. Saingannya pasti sangat banyak. Oleh karena itu, saya harus realistis juga dengan melirik SMP lain di kluster dua dan tiga.

Seminggu ini saya akan sering mempelototi pergesaran angka-angka passing grade sementara dan pendaftar di SMP melalui situs PPDB kota Bandung. Pendaftaran siswa SMP sudah dimulai dari tanggal 1 sampai tanggal 6 Juli 213. Kebanyakan orangtua yang galau menahan diri untuk mendaftar pada tanggal-tanggal awal, mereka baru mendaftarkan anaknya pada saat-sata terakhir (hari Sabtu 6 Juli 2013), yaitu setelah mengamati jumlah pendaftar dan passing grade sementara di sekolah yang dituju. Keputusan akhir baru dibuat pada jam-jam terakhir menjelang penutupan. Jadi harap maklum, banyak orangtua siswa, termasuk saya sendiri, yang H2C (harap-harap cemas) dari tanggal 1 hingga pengumuman penerimaan tanggal 8 Juli 2013. Selebihnya hanya bisa berdoa, Ya Allah, semoga anakku bisalah masuk ke salah satu sekolah yang saya sebutkan tadi.

Dipublikasi di Pendidikan, Seputar Bandung | 5 Komentar

Kebakaran di LabTek III (Teknik Industri) ITB

Kemarin pagi ketika membuka fesbuk ada status teman yang mengabarkan kebakaran di ITB. Wah, kaget saya, jangan-jangan kantor saya di LabTek V. Buru-buru saya cari beritanya di portal daring, ternyata benar ada kebakaran di dalam kampus. Yang terbakar adalah gedung LabTek III yang ditempati Prodi Teknik Industri. Sebenarnya di LabTek III itu ada dua Prodi lain berkantor, yaitu Prodi Matematika dan Prodi Astronomi, tetapi yang terbakar hanya bagian yang ditempati Teknik Industri saja.

Siang harinya saya menyempatkan diri ke TKP untuk melihat kejadian sebenarnya. Dari Pak Satpam saya mendengar kebakaran terjadi pada Jumat pukul 23.45 malam. Penyebab kebakaran diduga karea hubungan arus pendek (koslet). Di bawah ini foto-foto kebakaran yang saya jepret kemarin, parah juga dampak kebakarannya, dua lantai hangus terbakar. Dari keterangan teman saya yang dosen TI, ada 10 ruang dosen terbakar termasuk beberapa lab.

Di bawah ini beberapa foto kebakaran yang saya jepret kemarin.

290620133345

290620133350

290620133351

290620133349

290620133347

290620133353

Ketika saya tiba di sana, ada asap masih terlihat mengepul dari sisa kebakaran. Melhat hal itu, satpam yang berada di sana memanggil mobil pemadam kebakaran ITB untuk memadamkan asap, khawatir api membesar kembali.

290620133352

Kerugian materil dari kebakaran itu mungkin bisa diganti, tetapi ada kerugian lain yang tidak ternilai harganya, yaitu data/arsip akademik dan penelitian dosen/mahasiswa, baik berupa dokumen cetak maupun yang tersimpan di dalam komputer. Semoga kebakaran ini harap diambil hikmahnya, yaitu selalu membackup data dan menyimpannya di tempat lain (di rumah misalnya).

Dipublikasi di Seputar ITB | 3 Komentar

Berkunjung ke Kampus ITB Jatinangor

ITB saat ini mempunyai dua kampus yang terpisah, yang pertama kampus “tradisionil” ITB di Jalan Ganesha, dan yang kedua kampus ITB di Jatinangor (disebut kampus ITB Jatinangor). Sejarah kampus ITB di Jatinangor dapat dibaca pada tulisan saya yang terdahulu. Sebagai multi-kampus, ITB memiliki beberapa kampus selain di Ganesha dan Jatinangor, antara lain di Walini dan di Cikarang (baca tulisan saya tentang ITB multi-kampus). Kampus ITB Jatinangor terletak persis di antara kampus IPDN dan kampus Unpad. Kalau kita menuju Sumedang dan melewati daerah Jatinangor, maka kita pasti melewati plang nama kampus ITB Jatinangor seperti foto di bawah ini.

Papan nama kampus ITB Jatinangor

Papan nama kampus ITB Jatinangor

Jika hendak menuju Jatinangor, anda dapat melalui jalan biasa atau melalui jalur tol. Kalau melalui jalan tol waktu tempuhnya lebih cepat, yaitu sekitar 30 menit. Saat ini sudah ada travel yang melayani rute Balubur-Jatinangor. Silakan baca tulisan saya tentang travel ke Jatinangor.

Dua minggu lalu kami rombongan dosen STEI-ITB mengadakan rapat di kampus ITB Jatinangor. STEI-ITB saat ini sedang membangun kampus di sana, yaitu gedung KOICA-ITB Cyber Security Center. Di gedung yang baru ini nanti akan diselenggarakan program pasca sarjana Keamaman Informasi dan sebagai pusat pengembangan dan penelitian dalam bdiang keamanan informasi di Indonesia. Selain program S2 Keamanan Informasi, di kampus ITB Jatinangor juga diselenggarakan beberapa program studi baru (baca tulisan saya yang ini).

Kampus ITB Jatinangor itu sangat luas, yaitu sekitar 47 Ha. Sebagian lahan masih ada yang berupa hutan. Di sana terdapat beberapa gedung peninggalan ex-Unwim. Saat ini ITB membangun beberapa gedung baru di sana, seperti asrama mahasiswa, amphiteather, gedung kuliah, dan lain-lain. Oh ya, ITERA (Institut Teknologi Sumatera) saat ini berkampus di ITB Jatinangor sembari menunggu pembangunan kampus di Lampung selesai.

Di bawah ini saya tampilkan foto-foto yang ebrhasil saya jepret selama berkeliling kampus ITB Jatinangor.

Gedung ex-Unwim yang sekarang dijadikan gedung Rektorat ITB 2

Gedung ex-Unwim yang sekarang dijadikan gedung Rektorat ITB 2

Di sebelah Rektorat 2 ini sedang dibangun kampus KOICA-ITB Cyber Security Center

Di sebelah Rektorat 2 ini sedang dibangun kampus KOICA-ITB Cyber Security Center

Gedung ex-Unwim yang sekarang dijadikan salah satu lab.

Gedung ex-Unwim yang sekarang dijadikan salah satu lab.

Asrama mahasiswa

Asrama mahasiswa

Asrama mahasiswa (4 gedung) dari kejauhan.

Asrama mahasiswa (4 gedung) dari kejauhan.

Gedung kuliah baru

Gedung kuliah baru

Gedung yang dibangun fakultas SITH (Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati)

Gedung yang dibangun fakultas SITH (Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati)

Dam untuk pengendalian banjir. Di sebelah dam terdapat jogging track.

Dam untuk pengendalian banjir. Di sebelah dam terdapat jogging track.

Gedung Serba Guna ex Unwim.

Gedung Serba Guna ex Unwim.

Lahan kosong yang masih berupa hutan.

Lahan kosong yang masih berupa hutan.

Pemandangan dari gedung rektorat.

Pemandangan dari gedung rektorat.

Jalan di dalam kampus.

Jalan di dalam kampus.

Gedung rektorat tampak dari jalan raya

Gedung rektorat tampak dari jalan raya

Gedung lain tampak dari jalan

Gedung lain tampak dari jalan

Amphitheater (Sumber gambar: http://brightsightrads.wordpress.com/category/photos-videos/page/2/). Yang ini tidak sempat saya potret.

Amphitheater (Sumber gambar: http://brightsightrads.wordpress.com/category/photos-videos/page/2/). Yang ini tidak sempat saya potret.

Foto narsis di kampus ITB Jatinangor.

Foto narsis di kampus ITB Jatinangor.

Saya berharap ke depan nanti kampus ITB Jatinangor digunakan sebagai tempat mahasiswa tahun pertama melaksanakan program TPB. Tahap TPB tidak perlu di kampus Ganesah lagi sebab kampus Ganesha sudah crowded, sudah padat dengan mahasiswa beserta mobil-mobilnya. Di kampus Jatinangor seluruh mahasiswa tinggal di asrama dan mereka mendapat pembinaan serta wawasan Nusantara karena berinteraksi dengan berbagai mahasiswa dari seluruh tanah air. Semoga!

Dipublikasi di Seputar ITB | 7 Komentar

Selamat Buat Ridwan Kamil

Pilwalkot Bandung baru saja usai tadi siang. Pemenang versi Quick Count sudah diketahui yaitu pasangan Ridwan Kamil dan Oded. Persentase kemenangannya cukup mengejutkan yaitu sekitar 45 persen. Hasil ini sungguh mencengangkan, sebab sebulan yang lalu elektabilitas Ridwan Kamil masih di bawah dua pasangan lain yang potensial, yaitu petahana Ayi Vivananda-Nani Rosada dan Edi Siswadi-Erwan Setiawan. Nani Rosada adalah istri walikota Bandung yang sekarang, sedangkan Edi Siswadi adalah Sekda kota Bandung.

Pilkada kembali membuktikan bahwa dalam memilih pemimpin masyarakat lebih melihat figur calon ketimbang partai pengusungnya. Seperti diketahui Ridwan Kamil – Oded diusung oleh Partai Gerindra dan PKS. Saya tidak melihat kemenangan ini sebagai kemenangan partai pengusungnya, karena itu saya sangat heran ketika seorang pengurus partai mengklaim bahwa kemenangan Ridwan Kamil karena masyarakat masih mempercayai partai tersebut meskipun sering dihujat terkait isu korupsi impor daging sapi. Memang partai punya peran dalam kemenangan Ridwan Kamil meskipun tidak signifikan, hal ini tidak bisa diabaikan atau dinafikan juga, tetapi ketokohan calon lebih menentukan dalam pilihan masyarakat ketimbang melihat partai pengusungnya. Dalam hal ini faktor Ridwan Kamillah yang sangat menentukan kemenangan (saya sudah pernah menulis tentang Ridwan Kamil pada tulisan sebelumnya). Hal yang sama pada kemenangan Gubernur Ahmad Heryawan – Deddy Mizwar lebih banyak ditentukan oleh faktor Deddy Mizwarnya, bukan karena partai pengusung Heryawan.

Ridwan Kamil, selain sudah dikenal oleh kalangan industri kreatif di kota Bandung dan cara kampanyenya yang kreatif, juga masih bersih dari isu korupsi. Dua pasangan calon potensial yang saya sebutkan di atas terkena efek gempa politik akibat isu korupsi Bansos. Pak Dada sudah beberapa kali dipanggil oleh KPK, sedangkan Edi Siswadi diberitakan ikut terseret kasus suap hakim Setyabudhi yang memutuskan kasus korupsi Bansos. Pemberitaan kasus tersebut bersamaan dengan masa kampanye Pilwalkot Bandung. Jadi sedikit banyak pasangan Ridwan Kamil – Oded “diuntungkan” juga oleh pemberitaan kasus tersebut. Sekali lagi media massa punya peran sangat penting dalam membentuk citra calon yang akan bertarung. Pemilih mengambang (swing voters) yang jumlahnya cukup besar menentukan keputusan pada hari-hari terakhir setelah melihat perkembangan kasus korupsi dana Bansos yang diberitakan secara masif dalam media lokal.

Selamat buat Ridwan Kamil yang -jika tidak ada aral melintang- memenangi Pilwalkot Bandung meskipun masih versi hitug cepat. Biasanya hasil hitung cepat tidak jauh berbeda dengan hasil hitung riil. Semoga kota Bandung menjadi lebih maju, menjadi juara, bebas kemacetan, bebas banjir, bersih dari sampah, dan bebas dari jalan berlubang-lubang seperti yang selama ini terjadi. Selamat menjalankan amanah warga yang memilihmu.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 4 Komentar