Hadis Nabi tentang Isolasi Wilayah

Beberapa negara telah menerapkan lockdown di wilayahnya untuk membatasi penularan virus corona. China (khususnya di Wuhan dan propinsi Hubei), Italia, Malaysia, India, Spanyol, dan beberapa negara lain melakukan lockdown.

Lockdown adalah istilah lain untuk isolasi wilayah. Sebuah wilayah di-lockdown artinya wilayah tersebut ditutup atau diisolasi dari akses keluar masuk orang ke wilayah tersebut.  Tidak hanya sekedar ditutup, warga di dalam wilayah lockdown tidak boleh keluar rumah, mereka harus tetap berada di dalam rumah, kecuali keluar rumah hanya untuk urusan yang penting seperti membeli makanan dan obat-obatan.

Indonesia memang tidak menerapkan lockdown dengan berbagai pertimbangan. Pertimbangan utama adalah ekonomi. Intinya Pemerintah tidak siap bila melakukan lockdown, dengan kata lain tidak punya dana yang cukup, sebab jika memberlakukan lockdown maka konsekuensinya adalah Pemerintah harus menyediakan makanan untuk rakyatnya yang harus tinggal di rumah. Menyediakan makanan untuk 270 juta rakyat Indonesia untuk jangka waktu yang tidak pasti darimana uangnya?

Selain itu, untuk menerapkan lockdown, perlu dikerahkan pasukan keamanan untuk menjaga warga agar mematuhi aturan tidak berkeliaran di luar rumah. Jumlah polisi dan tentara di negara kita tidak sebanding dengan jumlah penduduk.

Hingga saat ini wabah virus corona di China sudah hampir berakhir, sebaliknya gelombang kedua virus ini berkembang dengan pesat di luar China, terutama di wilayah Eropa dan Amerika Serikat. Benua Eropa dan Amerika menjadi pusat (episentrum) pandemi baru virus corona. Jumlah kasus positif corona (COVID-19) di Amerika saja sudah di atas 200 ribu, di Italia dan Spanyol sudah 119 ribu, jauh melebihi kasus posittif corona di negeri asalnya (China). Jumlah kematian pasien corona di negara-negara itu juga jauh melebihi jumlah kematian di China.

corona-4-April-2020

Jumlah kasus positif COVID-19 di sejumlah negara (data tanggal 4 April 2020). Sumber: https://www.worldometers.info/coronavirus/

Beberapa negara berhasil melakukan lockdown, misalnya China.Beberapa lagi tidak terlalu berhasil seperti Italia. Penyebabnya adalah faktor kedisiplinan. Rakyat China cukup disiplin, mereka mematuhi aturan Pemerintahnya yang menerapkan lockdown. Sebaliknya di Italia, warganya menganggap enteng virus corona, mereka tetap berkeliaran di luar rumah, tidak memakai masker. Beberapa jam sebelum penerapan lockdown di Italia bagian utara (Lombardy dan sekitarnya), ribuan warganya keluar wilayah Italia utara, pergi ke selatan ke kampung halamannya atau ke tempat saudaranya. Akibatnya fatal, mereka bagaikan anak panah yang melesat membawa virus corona ke wilayah lainnya di Italia. Jadilah negara Italia sangat parah saat ini dilanda wabah virus.

Hal yang hampir mirip terjadi di negara kita. Himbauan agar tetap tinggal di rumah (work from home), sekolah-sekolah diliburkan, pembatasan jarak (social distancing), matinya perekonomian, kehilangan mata pencaharian, dan menyebarnya isu bahwa Jakarta akan dikarantina, membuat para kaum migran mudik ke kampung halamannya. Padahal Jakarta adalah pusat pandemi corona, kasus positif corona sebagian besar ada di Jakarta. Warga Jakarta yang mudik ini dikhawatirkan  bagai anak panah yang membawa virus corona ke kampung halamannya. Terbukti kasus-kasus positif corona di berbagai daerah muncul setelah kepulangan warga Jakarta ke daerah asalnya.

Seharusnya jika di sebuah wilayah sedang menyebar wabah penyakit, warga di wilayah itu dilarang keluar wilayahnya, dan warga dari luar juga dilarang masuk ke wilayah itu. Apapunlah namanya, baik isolasi, karantina, atau lockdown, wilayah tersebut harus dikunci agar wabah tidak menyebar keluar.

Saya teringat sebuah hadis Rasulullah Muhammad SAW yang sangat pas dengan kondisi sekarang. Saat itu di wilayah Arab sedang berkembang wabah penyakit. Rasulullah pun memerintahkan ummat untuk menghindari wilayah yang terkena wabah.

Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Sudah benar yang dilakukan oleh Pemerintah China dengan mengisolasi kota Wuhan: melarang orang-orang masuk ke kota Wuhan dan melarang penduduk Wuhan meninggalkan kota.  Ini sesuai dengan hadis di atas meski China adalah negara komunis.

Meskipun karantina, isolasi, lockdown, atau apapun namanya, belum diberlakukan di negara kita, sebaiknya kita (khususnya kaum muslimin dan muslimat) mengikuti hadis Nabi tersebut. Tidak berpergian ke mana-mana dan tidak masuk ke wilayah yang terpapar corona. Demi keselamatan kita bersama. Amiin, ya rabbal alami.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | 1 Komentar

Negeriku Dilanda Corona dan Sikap Takabur Pejabat Publik

Setelah lama tidak diakui, akhirnya virus corona saat ini sudah mewabah di Indonesia.  Bermula kasus positif COVID-19 hanya dua orang, lalu jumlahnya bertambah secara eksponensial, hingga saat tulisan ini ditulis, jumlahnya sudah ribuan dan  tersebar di seluruh propinsi (Baca:  Data Sebaran 1.677 Kasus Positif Corona di RI, Terbanyak di DKI-Jabar-Banten).

Banyak orang menyesalkan kelambatan Pemerintah dalam mendeteksi kasus corona di Indonesia.  Ketika negara lain gerak cepat mengendalikan laju penyebaran virus corona, pejabat di sini tenang-tenang saja, seolah-olah negara Indonesia menganggap enteng virus ini. Mereka bersikap takabur dan menjadikan virus corona sebagai bahan candaan.

Saat negara-negara lain menutup negaranya dari kunjungan turis asing, Indonesia bukannya ikut men-stop, malah mempromosikan wisata agar para turis itu mengalihkan kunjungan wisatanya ke Indonesia dengan aneka diskon tiket pesawat dan hotel. Influencer pun dibayar negara untuk mempromosikan wisata. Akibatnya sungguh fatal, virus corona ikut diimpor dari negara lain.

Dikutip dari sebuah posting-an seorang netizen di medsos, perhatikan bagaimana para pemimpin kita bersikap takabur, berkoar-koar, dan buang-buang waktu, saat mereka seharusnya sudah melakukan kontrol ketat terhadap wabah ini pada saat awal.  Netizen tersebut berhasil mengumpulkan tautan berita yang menunjukkan sikap takabur yang dilakukan oleh pejabat dan para tokoh publik tentang virus corona.  Sikap takabur dan menganggap remeh itu sekarang menjadi boomerang. Virus sudah mewabah dan sudah sulit dikendalikan.

Berikut tautan-tautan berita tersebut:
.
1). Jokowi Pastikan Virus Corona Tak Terdeteksi di Indonesia
Senin, 27 Januari 2020
https://m.ayobandung.com/read/2020/01/27/77612/jokowi-pastikan-virus-corona-tak-terdeteksi-di-indonesia

2). Rapat di DPR, Ribka Tjiptaning Bercanda Korona ‘Komunitas Rondo Mempesona’
Rolando Fransiscus Sihombing – detikNews
Senin, 03 Feb 2020 13:50 WIB
https://m.detik.com/news/berita/d-4883599/rapat-di-dpr-ribka-tjiptaning-bercanda-korona-komunitas-rondo-mempesona#top

3). Mahfud: RI Satu-satunya Negara Besar di Asia Tak Kena Corona
CNN Indonesia
Jumat, 07/02/2020 21:22
https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200207194915-20-472750/mahfud-ri-satu-satunya-negara-besar-di-asia-tak-kena-corona

4.) Canda Luhut saat Ditanya Corona Masuk Batam: Mobil?
Herdi Alif Al Hikam – detikFinance, Senin, 10 Feb 2020 14:52 WIB
https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4893152/canda-luhut-saat-ditanya-corona-masuk-batam-mobil

5). Menkes Tantang Harvard Buktikan Virus Corona di Indonesia
CNN Indonesia
Selasa, 11/02/2020 20:09
https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200211195637-20-473740/menkes-tantang-harvard-buktikan-virus-corona-di-indonesia

6). Terawan Bicara Kekuatan Doa yang Bikin RI Bebas Corona
Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
17 February 2020 13:37
https://www.cnbcindonesia.com/news/20200217133044-4-138367/terawan-bicara-kekuatan-doa-yang-bikin-ri-bebas-corona

7.) Kelakar Menhub: Kita Kebal Corona karena Doyan Nasi Kucing
Menhub Budi Karya Sumadi mengaku berguyon bersama Presiden soal nasi kucing.
Senin , 17 Feb 2020, 20:21 WIB
https://republika.co.id/berita/q5ul4k409/kelakar-menhub-kita-kebal-corona-karena-doyan-nasi-kucingl.

8), Kelakar Bahlil di Depan Hary Tanoe: Virus Korona Tak Masuk Indonesia Karena Izinnya Susah
Giri Hartomo , Okezone
Senin 24 Februari 2020 12:03 WIB
https://economy.okezone.com/read/2020/02/24/320/2173155/kelakar-bahlil-di-depan-hary-tanoe-virus-korona-tak-masuk-indonesia-karena-izinnya-susah?_gl=1*1ul5e7f*_ga*bS1nNFFRLU9zajk2UzhPeU4wM1FPSWNNSUJxVzc1bW1SY05rSHlIczdZckw2S3N2OWttUXJucWRITVctMlNZcA..

9). Indonesia Terhindar Virus Corona, Ma’ruf Amin: Berkah Doa Qunut
Reporter: Servio Maranda (Kontributor)
Editor: Rahma Tri
Kamis, 27 Februari 2020 09:40 WIB
https://bisnis.tempo.co/amp/1312785/indonesia-terhindar-virus-corona-maruf-amin-berkah-doa-qunut#aoh=15848478571857&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&_tf=From%20%251%24s

10). Ma’ruf Amin: Berkat Doa Kiai dan Qunut, Corona Menyingkir dari Indonesia
Oleh Lizsa Egeham pada 29 Feb 2020, 16:11 WIB
https://m.liputan6.com/news/read/4190703/maruf-amin-berkat-doa-kiai-dan-qunut-corona-menyingkir-dari-indonesia

11). Virus Corona Masuk Indonesia, Jokowi: Kita Sudah Siap
Reporter: Dewi Nurita
Editor: Endri Kurniawati
Senin, 2 Maret 2020 12:34 WIB
https://nasional.tempo.co/read/1314390/virus-corona-masuk-indonesia-jokowi-kita-sudah-siap

11). Menkes: Percuma yang Sehat Pakai Masker
Senin, 2 Maret 2020 | 15:54 WIB
https://amp.kompas.com/nasional/read/2020/03/02/15541281/menkes-percuma-yang-sehat-pakai-masker

13). Bahagia Terawan Teori Terbukti: Corona, Penyakit yang Akan Sembuh Sendiri
Tim detikcom – detikNews
Jumat, 13 Mar 2020 07:10 WIB
https://m.detik.com/news/berita/d-4937063/bahagia-terawan-teori-terbukti-corona-penyakit-yang-akan-sembuh-sendiri 

Nasi sudah menjadi bubur, virus corona sudah mewabah di Indonesia. Kita tidak tahu kapan wabah corona ini berakhir di negara kita. Tampaknya masih akan lama, namun baru satu bulan saja virus corona sudah mampu melumpuhkan sendi-sendi ekonomi bangsa dan menciptakan histeria ketakutan  sendiri. Astaghfirullah, marilah kita memohon ampun kepada Allah SWT atas sikap takabur ini.

Dipublikasi di Indonesiaku | Meninggalkan komentar

Pohon Buah Tin di Halaman Rumah

Di rumah saya sedang tumbuh dua batang pohon tin. Saya tanam di dalam pot karena halaman rumah saya tidak luas. Satu bibit pohon tin saya dapatkan dari seorang teman di medsos, sedangkan satu lagi saya beli di tukang tanaman di depan GOR Arcamanik, Bandung.

Buah tin atau yang memiliki nama ilmiah Ficus carica ini dulunya banyak tumbuh di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah. Buah tin juga disebut sebagai buah ara atau fig dalam Bahasa Inggris.

Subhanalah, pohon tin yang aslinya hidup di Timur Tengah ternyata bisa hidup subur di tanah nusantara.  Daunnya lebar-lebar dan banyak. Pada mulanya daunnya seperti tiga jari, tetapi ketika melebar ia menjadi daun yang lancip. Ini gambar dua pohon tin di halaman rumah saya.

Tin1

Buah tin adalah salah satu dari empat nama buah-buahan yang disebut di dalam Al-Quran (tiga lagi adalah buah kurma, buah zaitun, dan buah anggur). Begitu istimewanya buah tin ini sehingga di dalam Al-Quran terdapat sebuah surat yang diberi nama surat At-Tin. Bahkan Allah sendiri pernah bersumpah atas nama buah tin di dalam permulaan surat tersebut yang bunyinya:

Wattiini waz zaituun
Watuurisiniina
(Demi buah tin dan buah zaitun,
dan demi bukit Sinai)
(At-Tin, 1:2)

Karena Allah pernah bersumpah atas nama buah tin, saya menganggap buah tin adalah buah yang diberkahi. Buah surga. Para ahli telah menyelidiki manfaat buah tin untuk kesehatan. Dikutip dari sini, buah tin memiliki kandungan vitamin, mineral, dan fitonutrien yang baik untuk tubuh.  Vitamin yang terkandung dalam buah tin antar lain Vitamin A, vitamin C, vitamin E, vitamin K, dan vitamin B kompleks. Terdapat juga kandungan mineral meliputi tembaga, kalium, zat besi, mangan, magnesium, kalsium, zinc, sodium, dan selenium.

Beberapa manfaat buah tin adalah untuk menjaga kesehatan jantung, menjaga saluran pencernaan, mengatasi anemia, menjaga kesehatan tulang, mengatasi insomnia, mengatasi masalah seksual, meningkatkan imunitas tubuh, dan lain-lain (selengkapnya baca ini, atau ini).

Saya sendiri belum pernah makan buah tin, hanya mendengar namanya saja. Dua tahun lalu ketika saya menunaikan ibadah haji, saya mencari-cari buah tin di supermarket di kota Mekkah. Namun sayang sekali saya tidak menjumpai buah tin segar, yang ada hanya buah tin yang sudah diawetkan menjadi manisan. Kalau sudah menjadi manisan tentu rasanya sudah tidak asli lagi, cuma rasa gula saja.

Pohon tin yang tumbuh di halaman rumah selalu saya rawat dengan sepenuh hati. Saya siram dan rutin diberi pupuk. Setiap hari sebelum berangkat ke kampus saya pandang-pandang pohon ini.  Cepatlah berbuah, kata saya dalm hati.  Saya tidak sabar untuk menikmati buah surga ini.

Setelah empat bulan tumbuh, maka pada suatu hari pohon tin mulai mengeluarkan beberapa buah putik. Makin lama putik semakin  besar dan mulai menampakkan wujud seperti buah tin sebenarnya.  Warnanya masih hijau, pertanda belum matang. Saya sudah tidak sabar menunggunya sampai merah.

tin3

Kelak jika sudah matang warnanya akan merah seperti di bawah ini (sumber foto dari sini). Hmmm…ranumnya.

tin4

Dan bila kita memotong buahnya, tampaklah daging buahnya yang seperti serat-serat berwarna marah. Serat-serat berwarna merah itu mengingatkan saya pada isi buah delima.

tin5

Dua hari yang lalu buah tin di pohon sudah menunjukkan tanda-tanda matang. Meskipun kulitnya belum berwarna merah seperti pada gambar, namun saya merabanya seperti sudah matang. Mungkin jenis buah tin yang sayang tanam berbeda dengan buah tin berwarna merah.

Sebelum buah surga ini disikat oleh kelelawar, kemarin saya petik. Saya potong empat, buat anak dan istri, sama-sama mencicipi, meski cuma sekerat saja.  Rasanya? Manis dan segar. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mencicipi buah tin hasil tanam sendiri. Terima kasih ya allah, atas nikmat buah surga dari-Mu.

~~~~~~~~~~~~

Surat At Tin

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

  1. وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِۙ  wat-tīni waz-zaitụn  (Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun),
  2. وَطُوْرِ سِيْنِيْنَۙ  wa ṭụri sīnīn (demi gunung Sinai),
  3. وَهٰذَا الْبَلَدِ الْاَمِيْنِۙ  wa hāżal-baladil-amīn dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.
  4. لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ  laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm (Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya),
  5. ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سَافِلِيْنَۙ  ṡumma radadnāhu asfala sāfilīn (kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya),
  6. اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ  illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fa lahum ajrun gairu mamnụn (kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya).
  7. فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّيْنِۗ  fa mā yukażżibuka ba’du bid-dīn  (Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu?)
  8. اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَحْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ  a laisallāhu bi`aḥkamil-ḥākimīn (Bukankah Allah hakim yang paling adil?)
Dipublikasi di Makanan enak, Pengalamanku | 4 Komentar

Bapak Tua Penjual Koran

Jika Anda sering melewati Masjid Salman ITB (jalan kecil menuju masjid di samping Taman Ganesha) tentu Anda sering melihat bapak tua ini. Dia menawarkan koran kepada siapapun yang lewat. Tidak banyak pejalan kaki yang membeli korannya. Kita semua paham bahwa pada era informasi digital ini media cetak sudah kehilangan banyak pembacanya  (baca tulisan saya sebelum ini). Pembaca sudah beralih membaca informasi dari media daring.

Tiap Dhuhur saya ke Salman dan sering ketemu bapak ini.  Memang tidak setiap hari dia berjualan koran di Salman, tetapi kalau hari Jumat selalu ada, mungkin hari Jumat masjid sangat ramai dengan jamaah yang sholat Jumat.

penjualkoran

Setiap kali saya melewatinya biasanya saya tidak mempedulikannya, tidak tertarik beli koran, karena di rumah saya sudah berlangganan koran lokal meskipun jarang dibaca.

Tapi hari ini saya beli korannya. Saya beli koran ibukota saja. Saya beli karena rasa iba melihat dia duduk tertunduk menatap dagangan korannya. Masih banyak koran yang belum laku. Saya pun ingin sekedar tahu profilnya. Berikut dialog saya dengannya.

+ Siapa namanya, Pak?
– Asep.     (Agak-agak kurang jelas, suaranya lirih. Red).
+ Dari mana, pak?
– Dari Cicaheum
+ Setiap hari bawa koran berapa?
– 100
+ Habis?
– Nggak juga
+ Sudah jarang orang beli koran ya, Pak?
– Iya, tapi ada saja yang beli

Demikianlah percakapan saya dengan Pak Asep. Dia menjawab pendek-pendek sambil menunduk. Sepertinya Pak Asep sedang sakit. Dari seorang teman saya baru tahu kalau dulunya Pak Asep ini agak gemuk, tetapi sekarang mengidap penyakit diabetes. Tangannya tampak bergetar. Kasihan ya.

Kalau kamu ketemu dia, sempatkanlah membeli korannya, meski kamu tidak terlalu butuh. Satu saja tak apa. Itu sudah membantu dia bertahan hidup. Orang kecil seperti Pak Asep ini banyak di sekeliling kita. Mereka tidak mau meminta-minta, tetapi selalu berikhtiar mencari nafkah halal meskipun keuntungan tidak seberapa. Hanya melalui tangan kitalah kita bisa membantu mereka dengan membeli dagangannya.

 

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 1 Komentar

(Tukang) Koran

Hingga saat ini saya masih setia berlangganan koran cetak. Rasanya sudah sejak lama saya berlangganan koran, ya sejak saya berumahtangga lah. Dulu saya berlangganan dua koran, satu koran ibukota dan satu lagi koran lokal. Sekarang tinggal satu koran saja, koran lokal Bandung. Itupun tidak bisa (atau tidak sempat) saya baca setiap hari, hanya lihat-lihat isinya secara garis besar, lalu ditaruh lagi. Besok hari koran itu sudah masuk ke keranjang koran bekas.

Pada zaman digital ini koran-koran dan media cetak seperti menunggu lonceng kematiannya saja. Orang-orang sudah jarang membaca koran sebab beritanya kalah cepat dengan media daring. Lagipula, budaya membaca pada bangsa kita masih rendah, kalah dengan budaya debat atau ngegosip di media sosial.

Lihatlah koran-koran sekarang, makin tipis saja, jumlah halamannya semakin susut, iklannya minim. Oplahnya juga sudah berkurang. Tengoklah koran Komp*s, koran terbesar di tanah air, dulu berjaya dengan tiras (oplah) yang sempat mencapai 500.000 lebih per hari, iklannya pun berlimpah. Saking banyak iklannya, jumlah halamannya pun bisa  sampai 64 halaman, tebal sekali. Sekarang, hanya tersisa 20 halaman, sudah menipis, dengan iklan yang sudah jauh berkurang. Dunia memang fana, segala yang berjaya pasti ada masa surutnya.

Dengan berubahnya budaya masyarakat pada era digital, berubah pula cara pandang orang tentang media. Apakah koran cetak masih dibutuhkan di era informasi digital yang berubah dengan cepat?

Bagi saya jawaban terhadap pertanyaan di atas adalah: masih dibutuhkan. Alasannya bukan karena saya ingin membaca berita di dalam koran itu, sebab hal itu sudah tergantikan dengan informasi di media daring. Alasannya satu: Saya masih mempertahankan berlangganan koran hingga hari ini karena kasihan saja dengan si mang koran, dia akan kehilangan penghasilan jika saya berhenti berlangganan. Tidak tega saya.

tukang koran

Tukang koran langganan saya, setiap pagi selalu setia mengantarkan koran lokal ke rumah, biar lagi sakit sekalipun.

Dipublikasi di Gado-gado | Meninggalkan komentar

Ayah dan Ibu Tidak Dapat Dibandingkan

Ayah dan Ibu adalah orang yang sangat berarti bagi kita. Kita ada di dunia ini karena ada mereka. Satu orang saja di antara mereka tidak cukup untuk menghadirkan kita ke dunia.

Ayah dan ibu adalah dua orang manusia unik. Keduanya punya peran yang berbeda.  Ayah dan ibu bukan untuk diperbandingkan, tetapi saling melengkapi dalam kehidupan seorang anak manusia.

Sebuah gambar di bawah ini memaparkan mengapa kita tidak perlu membandingkan keduanya. Sungguh dalam makna ungkapannya.

father-mother

Orang yang mencintai sampai kamu menutupkan mata adalah Ibu.
Orang yang mencintai tanpa ekspresi di matanya adalah Ayah

Ibu memperkenalkanmu kepada dunia
Ayah mengenalkan dunia kepadamu

Ibu memberimu kehidupan
Ayah memberimu penghidupan

Ibu memastikanmu tidak kelaparan
Ayah memastikanmu tahu nilai-nilai lapar

Ibu melambangkan perawatan
Ayah melambangkan tanggung jawab

Ibu melindungimu dari kejatuhan
Ayah mengajarkanmu untuk bangkit dari kejatuhan

Ibu mengajarkanmu berjalan
Ayah mengajarkanmu perjalanan hidup

Ibu mengajarmu dari pengalamannya
Ayah mengajarkanmu untuk belajar dari pengalamanmu

Ibu mencerminkan ideologi
Ayah mencerminkan realitas

Kamu mengenal cinta ibumu sejak lahir
Kamu mengenal cinta ayahmu ketika kamu menjadi seorang ayah

*******

Nikmatilah apa yang dikatakan ayahmu
Tetaplah mencintai ibumu

Dipublikasi di Budi Pekerti, Pendidikan | 3 Komentar

Coklat untuk Mahasiswaku

Setiap menjelang akhir semester saya pasti memborong banyak coklat SilverQueen. Bukan untuk dimakan sendiri atau untuk anak-anak saya di rumah, tetapi untuk mahasiswa-mahasiswaku yang mendapat nilai terbaik dalam ujian tengah semester. Biasanya selalu saja ada mahasiswa yang mendapat nilai 100 untuk ujian yang saya berikan. Tidak hanya seorang, tetapi bisa sampai lima orang. Pintar-pintar ya mahasiswaku ini. Saya mengajar beberapa tiga mata kuliah setiap semester, maka sedikitnya saya membeli sekitar 15 buah coklat SilverQueen.

Nah, sebagai apresiasi buat mereka yang mendapat nilai tertinggi di dalam ujian, saya selalu memberikan hadiah. Hadiahnya sederhana saja, yaitu coklat. Kenapa coklat, karena coklat identik dengan anak muda. Anak-anak muda itu ‘kan suka makan coklat, jadi  cocoklah sebagai hadiah. Say with chocolate, kata sebuah pepatah asing.

Biasanya setiap saya bagikan hadiah ini di depan kelas, mahasiswa langsung heboh. Gembira campur senang, hehehehe. Hadiah sederhana saja, dari seorang guru kepada muridnya. Jangan dilihat dari harga coklatnya yang tidak seberapa, tetapi lihatlah sebagai sebuah bentuk penghargaan buat mereka.
coklat

Sejak kapan ya saya memberikan hadiah coklat? Hmmm…rasanya sudah lama sekali, mungkin sejak saya jadi pengajar sebuah bimbel. Dulu ketika masih mahasiswa saya pernah mengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar. Murid-muridnya siswa SMP dan SMA. Lucu-lucu, ceria, dan menyenangkan. Dunia remaja. Nah, karena mereka remaja, maka saya perlu ikut masuk ke dunia mereka. Coklat adalah salah satu caranya. Setiap kali ada murid bimbel saya yang mendapat nilai tertinggi, saya selalu memberikan hadiah coklat. Kebiasaan memberikan hadiah coklat tersebut ternyata berlanjut ketika saya menjadi dosen di kampus. Begitulah ceritanya.

Sebenarnya hadiahnya tidak selalu coklat, kadang-kadang juga pernah alat tulis. Pernah juga hadiahnya berupa ditraktir makan. Tetapi coklat adalah hadiah yang paling sering. Entah kenapa coklatnya selalu saya pilih SilverQueen. Bukan promosi ya, menurut saya ini coklat yang paling enak, dan surprise…ternyata ini merek coklat buatan dalam negeri, asli produk lokal yang mendunia (baca sejarahnya pada tautan ini atau yang ini)

Dipublikasi di Seputar Informatika | 1 Komentar