Memiliki “Mata” dari Kejauhan

Di RT saya dipasang beberapa kamera CCTV yang terhubung ke Internet.  CCTV ini hasil urunan warga setelah diskusi di dalam grup whatsapp (WA).  Di RT saya ada grup WA sebagai sarana komunikasi antar warga yang rata-rata sibuk sehingga sulit mengadakan rapat. Dari obrolan di WA terbersit ide untuk memasang kamera CCTV di sudut-sudut jalan di RT kami. RT kami, yang berada di kompleks perumahan, terhubung satu sama lain dengan empat ruas jalan. Setiap ruas jalan akan dipasang 3 buah kamera CCTV, yaitu di pojok persimpangan dan di tengah ruas jalan. Total keseluruhan kamera CCTV adalah 13 buah.

Setelah serius dengan ide CCTV itu, maka vendor pun diundang untuk menjelaskan mekanisme dan biaya keseluruhan (biaya beli peralatan dan pemasangan). Selanjutnya ditetapkan iuran untuk masing-masing rumah. Untuk membeli semua CCTV itu (termasuk komputer) diperlukan biaya 19 jutaan, dan TV untuk monitor 2,5 juta. Jika ditambah biaya upah tukang, beli cat, beli tiang, dan lain-lain, maka total keseluruhan biaya pengadaan dan pemasangan CCTV itu sekitar 22 jutaan. Setiap rumah ditarik iuran sekitar 400 ribuan. Maka, dua minggu kemudian terpasanglah CCTV di RT kami.

Komputer, wifi, dan layar TV yang memantau semua hasil tangkapan kamera CCTV  ditaruh di pos ronda yang dijaga oleh Pak Satpam. Dari pos ronda itu Satpam dapat memantau kondisi jalan-jalan pemukiman.

Tentu saja keamanan lingkungan tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada Satpam. Warga pun dapat aktif memantau gambar-gamabr CCTV melalui ponsel, karena video dari CCTV dapat diakses melalui intenet (karena ada wifi). Dengan memasang aplikasi Glenz di Android warga dapat memantau situasi jalan-jalan pemukiman via ponsel secara real time 24 jam di mana pun mereka berada.  Seperti screen shot dari ponsel saya di bawah ini, saya dapat memantau kondisi jalan di depan rumah saya meskipun saya sedang berada di luar kota. Ketika siang hari video yang ditampilkan oleh CCTV terlihat berwarna, tetapi pada malam hari gambarnya hitam putih saja karena kurang cahaya.

Kata kunci semua ini adalah IOT (internet of things), yaitu benda-benda ditambahkan dengan kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan (internet) tanpa memerlukan interaksi antar manusia ke manusia atau manusia ke komputer.

Menyenangkan juga sesudah ada CCTV ini. Dari kantor  saya dapat melihat anak saya yang pulang sekolah pada siang hari dengan sepedanya, atau saya dapat melihat pembantu yang keluar rumah menyapu jalan, melihat orang yang datang ke rumah, dan sebagainya. Memang kamera CCTV itu tidak dapat menampilkan wajah orang secara jelas (karena dipasang di atas dengan lebar tangkapan yang tidak terlalu besar), tapi sudah cukuplah memantau situasi perumahan. Ibaratnya saya memiliki “mata” dari kejauhan.

Dipublikasi di Gado-gado, Pengalamanku | 1 Komentar

Manfaat Punya Kartu Asuransi Kesehatan

Asuransi kesehatan itu perlu. Sedapat mungkin setiap orang mengikuti program asuransi kesehatan. Manfaatnya baru terasa kalau kita menderita sakit yang cukup berat sehingga perlu dirawat di rumah sakit. Di bawah ini  pengalaman saya menggunakan kartu asuransi kesehatan.

Di kampus saya semua dosen dan karyawan dimasukkan ke dalam program asuransi kesehatan. Mitra perusahaan asuransi kesehatan selalu berganti setiap tahun, karena penentuannya melalui tender. Beberapa perusahaan asuransi yang pernah menjadi  rekanan kantor saya diantaranya Jasindo, Bumida, Bumiputera, dan lain-lain. Setiap pegawai hanya memperoleh empat kartu asuransi, yaitu untuk suami, istri, dan dua orang anak saja. Anak ketiga saya tidak mendapat jaminan asuransi kesehatan, kasihan ya. Kalau mau, maka kita menambah sendiri dengan biaya sendiri.

Sepengetahuan saya biaya premi asuransi itu ditanggung oleh kantor. Jadi, kita tidak mengeluarkan biaya premi lagi, atau dipotong dari gaji. Terima kasih kampusku. Oh iya, selain asuransi kesehatan yang ditanggung oleh kantor, saya juga memiliki kartu BPJS sebagai pengganti Askes. Di kartu itu tidak ada tulisan BPJS, tetapi Kartu Indonesia Sehat. Ah, sama saja, kata saya dalam hati.

Selama ini saya belum pernah menggunakan asuransi kesehatan. Alhamdulillah, saya jarang sakit berat dan tidak pernah diopname di rumah sakit. Saya berharap jangan sampai pernah menggunakan asuransi kesehatan tersebut, artinya saya ingin selalu tetap sehat dan jangan sampai menderita sakit. Semoga Allah SWT selalu memberi saya kesehatan, amin, dan kesehatan yang diberikan saat ini patut selalu disyukuri. Terima kasih ya Allah. Selama ini kalau sakit saya hanya sakit flu, batuk, demam, pernah juga tipes tapi cukup dirawat dan istirahat di rumah saja.

Tapi yang namanya sakit bisa menyerang anggota keluarga yang lain. Nah, itu dialami oleh istri saya. Sudah dua kali istri saya dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi, keduanya di rumah sakit swasta. Semula saya tidak ngeh dengan kartu asuransi yang kami miliki, karena jarang dibawa-bawa (tidak dimasukkan ke dalam dompet). Tetapi, ketika mengurus pendaftaran rawat inap, saya menanyakan apakah bisa menggunakan kartu asuransi? Petugasnya menjawab, silakan, nanti kami coba kontak dulu asuransinya.

Untuk rawat inap yang pertama, kebetulan saya membawa kartu asuransi atas nama istri saya. Setelah kartu digesek oleh petugas, lalu petugas melihat poin-poin apa saja yang ditanggung asuransi, ternyata saya bisa menggunakan kartu asuransi tersebut untuk pembayaran biaya selama di rumah sakit (biaya dokter, rawat inap, obat-obatan, dll). Kelas kamar yang bisa ditempati maksimal sampai kelas 2 saja. Kalau mau ke kelas lebih tinggi, maka kelebihannya akan ditanggung kita sendiri. Ketika mengurus kepulangan pasien dari rumah sakit, maka saya mendapat rincian biaya-biaya. Total biaya semuanya sekitar lima juta, dan asuransi kesehatan menanggung hampir semuanya, saya hanya membayar biaya kelebihan (excess) yang sangat kecil, yaitu Rp 128 ribu saja. Itupun tidak dibayar langsung, tetapi ditagihkan ke kantor, nanti barulah kantor mengirimkan tagihan ke saya untuk saya lunasi melalui potong gaji.

Kali kedua, istri saya menjalani operasi kecil dan dirawat di rumah sakit yang lain. Kali ini saya tidak membawa kartu asuransi. Lupa. Saya pulang ke rumah dulu untuk mengambilnya. Untuk rawat inap yang kedua ini ternyata proses persetujuan asuransinya memakan waktu yang lama.  Jadi, ketika saya mendaftar di rumah sakit, saya  belum mendapat kepastian apakah bisa ditanggung asuransi atau tidak. Tapi jawaban dari rumah sakit adalah: kami akan proses dulu dan akan mengontak pihak asuransinya. Setelah operasi dan rawat inap selesai, dan saya mengurus kepulangan, barulah saya mendapat jawaban ternyata bisa ditanggung asuransi. Total biayanya sekitar 9 jutaan, dan saya hanya membayar kelebihan biaya sekitar 300-an ribu saja. Alhamdulillah.

Setelah mengalami dua peristiwa ini barulah saya merasakan manfaat memiliki asuransi kesehatan. Sakit itu mahal, maka hendaklah kita berusaha jangan sampai sakit. Namun jika akhirnya sakit dan menjalani rawat inap, apalagi sampai operasi, maka disitulah pentingnya punya kartu asuransi.

Sayangnya kartu asuransi kesehatan yang saya miliki tidak dapat digunakan untuk biaya rawat jalan atau konsultasi/diagnosis ke dokter. Saya pernah membawa istri ke rumah sakit swasta yang lain untuk konsultasi ke dokter penyakit dalam dan dokter spesialis ginjal. Cukup mahal juga biaya ke dokter tersebut (termasuk pemeriksaan lab radiologi), tetapi tidak dapat di-cover oleh asuransi. Jadi, sebaiknya kita perlu mengetahui poin-poin apa saja yang ditanggung oleh suransi kesehatan, apakah rawat inap saja atau juga termasuk rawat jalan.

Demikianlah pengalaman saya merasakan manfaat memiliki asuransi kesehatan.

Dipublikasi di Pengalamanku | 2 Komentar

Sepinya Pasar Tanah Abang

Beberapa waktu yang lalu saya mampir ke toko sepatu seorang teman lama di Pasar Tanah Abang Blok A. Pasar Tanah Abang adalah pusat perkulakan terbesar di Asia Tenggara, selalu ramai dan padat pembeli. Pengunjungnya datang dari seluruh daerah nusantara dan manca negara. Tapi hari itu saya menemukan pemandangan yang cukup “aneh”. Lengang. Jarang ada pembeli. Saya hampir tidak percaya apakah ini benar Pasar Tanah Abang, kok sepi begini. Padahal ini hari minggu lho, hari banyak orang berbelanja ke toko-toko.

Sebuah toko di Pasar Tanah Abang

Apakah kondisinya selalu begini?, tanya saya kepada teman saya pemilik toko. Dia membenarkan. Kondisi sepi dan lesu sudah berlangsung sejak awal tahun ini. Hanya menjelang lebaran saja ramai, sesudah itu sepi. Padahal dulu biasanya pembeli selalu ramai setiap hari. Pembeli dengan partai besar umumnya berasal dari Indonesia Timur. Mereka membeli barang dalam jumlah besar untuk dijual kembali di daerahnya. Tapi itu dulu, sekarang sudah hampir tidak ada.

Dia mengeluhkan omset yang terus menurun. Biasanya omset perbulan minimal 200 juta rupiah. Sekarang dapat 100 juta per bulan saja sudah lumayan. Jika omset sudah kurang dari 100 juta maka dia khawatir tidak akan mampu lagi bertahan.  Pengeluaran untuk gaji karyawan, listrik,  dan sebagainya tidak akan tertutupi.

Kondisi sepi dan  lesu tidak hanya menimpa Pasar Tanah Abang, tetapi juga Mangga Dua, Glodok, dan sebagainya. Pergilah anda ke sana, sepi (Baca:  Glodok dan WTC Mangga Dua Sepi, Ekonomi Lagi Lesu?). Beberapa supermarket dan minimarket pun mulai menutup gerainya.

Saya menduga-duga apa penyebab lesunya pusat perbelanjaan akhir-akhir ini. Mungkin memang perekonomian Indonesia saat ini sedang lesu seperti yang diungkap oleh para pakar ekonomi. Tapi penyebab lain adalah bergesernya pola belanja orang Indonesia saat ini. Orang Indonesia senang berbelanja secara daring (online) (Baca: Pengunjung Sepi, Pedagang Mangga Dua Mall Keluhkan Toko Online). Tidak perlu datang ke toko di pasar atau mal, tetapi beli saja di toko daring melalui Internet. Cukup dari ponsel di tangan, anda sudah bisa memilih barang-barang yang anda inginkan dari rumah. Jika cocok, maka bayar dengan bermacam cara (ATM, kartu kredit, Internet Banking, dan sebagainya), lalu barang akan diantar ke rumah anda dalam satu dua hari. Usaha jasa kurir yang marak belakangan ini ikut bergairah dengan banyaknya orang belanja daring.

Nah, pedagang konvensional yang tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi akan terancam punah secara perlahan. Satu-satunya cara agar mereka bertahan adalah ikut menjual dagangannya secara daring. Jadi, toko secara fisik tetap ada, tetapi toko virtual juga ada. Keduanya saling melengkapi.

Dugaan saya di atas dibantah oleh teman saya yang berdagang sepatu di Tanah Abang tadi. Jikapun orang beralih belanja secara daring, maka pengaruhnya tidak banyak, karena orang membeli hanya satu atau dua buah. Saya tidak mengiyakan dan juga tidak membantah yang dia katakan. Mungkin saja memang tidak besar pengaruhnya, tetapi pembeli partai besar yang selama ini menjadi pelanggan utama toko-toko di Tanah Abang mungkin saja sudah beralih membeli barang dalam partai besar secara daring namun bukan ke toko yang biasanya mereka kunjungi, tetapi langsung ke pabrik atau distributor barang. Jika sudah demikian kondisinya, Tanah Abang akan tinggal legenda.

Dipublikasi di Gado-gado | 2 Komentar

Sebaskom Kecil Air Minum Untuk Kucing Liar

Di halaman rumah saya ada ember kecil untuk menampung cucuran air dari talang di atap rumah. Talang itu berfungsi untuk mengalirkan air hujan, selain itu juga untuk mengalirkan limpahan air dari toren penampung  air ledeng yang juga berada di atas atap rumah.

Setiap hari ember tersebut selalu berisi air bersih limpahan dari toren semalam. Karena di sekitar rumah saya jarang ada genangan air, maka kucing-kucing liar yang lalu lalang di depan rumah sering mendatangi ember itu untuk minum dikala kehausan. Nikmat sekali tampaknya kucing itu meneguk air dengan lidahnya. Cukup lama ia minum, ada sekitar dua hingga tiga menit hingga lambungnya sudah penuh dengan air.

Melihat kucing minum dengan nikmatnya dari ember itu merupakan pemandangan yang mengharukan bagi saya. Saya teringat sebuah tulisan seorang Ustadz yang berisi contoh amal sholeh kecil yang dapat kita lakukan setiap hari. Isinya kurang lebih begini: sediakan satu wadah atau ember kecil di depan rumahmu yang berisi air bersih untuk minum kucing-kucing liar atau anjing liar yang sering lewat. Mudah-mudahan setiap tetes air yang diminum oleh hewan itu menjadi tambahan timbangan pahalamu kelak di Padang Mahsyar nanti. Amin.

Sekarang ember kecil hitam itu saya ganti dengan baskom yang lebih rendah sehingga tidak menyulitkan kucing-kucing yang mampir untuk minum. Setiap hari air tersebut perlu diganti agar tidak menjadi sarang nyamuk. Idealnya saya taruh di pinggir jalan di depan rumah agar hewan lain seperti anjing liar yang lewat pun bisa minum, tapi untuk sementara masih di dalam halaman dulu.

Saya kutip tulisan dari seorang teman: kata bijak mengatakan, janganlah engkau meremehkan sebuah kebaikan kecil untuk selama lamanya, karena boleh jadi jadi saat engkau tengah terlelap dalam tidur, pintu-pintu langit diketuk oleh puluhan doa kebaikan untukmu dari kucing-kucing atau anjing-anjing liar yg kehausan yang telah engkau tolong. Amin.

Dipublikasi di Pengalamanku, Renunganku | 1 Komentar

Keluar dari Grup Whatsapp

Berbincang-bincang melalui aplikasi whatsapp (WA) di dalam sebuah grup diskusi memang mengasyikkan. Pada era smartphone saat ini hampir semua pemilik gawai (gadget) memiliki aplikasi whatsapp. Perbincangan di dalam grup bisa membahas masalah serius, tapi bisa pula hanya berisi senda gurau belaka yang dapat melenakan penggunanya sehingga keasyikan  chatting berjam-jam.

Setiap orang mungkin tergabung dalam beberapa grup di WA. Grup WA yang banyak  jumlahnya adalah grup alumni, baik alumni SD, SMP, SMA, kuliah, alumni prajabatan CPNS, alumni umroh dan haji, dan masih banyak lagi. Itu belum termasuk grup komunitas, grup pegawai di kantor, grup RT, grup arisan, dan sebagainya. Memori ponsel bisa-bisa penuh dengan pesan-pesan yang terkirim di WA. Jika dilayani semua, chatting melalui WA dapat melalaikan pekerjaan kita atau tugas utama kita sehari-hari. Sikap yang paling bijak adalah berkomunikasi melalui WA seperlunya saja.

Pesan atau informasi apa saja dapat dikirim melalui WA. Tidak hanya pesan teks, tetapi juga dokumen (Word, Excell, PPT, pdf, dll), gambar, video, animasi, tautan ke situs berita daring dan sebagainya. Nah, di sinilah letak masalahnya. Karena terlalu bersemangat, anggota grup WA seringkali kebablasan. Humor-humor yang berbau pornografi sering kali melintas. Namun yang lebih parah adalah gambar-gambar mesum atau video mesum yang dikirim anggota grup.

Saya yang menerima gambar-gambar atau video mesum tersebut masih dapat bersabar. Gambar dan video tersebut saya hapus dari memori ponsel. Tetapi gambar-gambar mesum lain masih saja terus lalu lalang yang dikirim oleh anggota grup. Default-nya adalah gambar-gambar yang dikirim melalui WA akan tersimpan secara otomatis kecuali kalau kita men-seting perlu persetujuan user.

Pengirim gambar-gambar mesum sering berkilah, tujuannya hanya untuk sekedar fun, himor, biar nggak stres, atau hanya sekedar iseng mencari perhatian anggota grup. Namun, pengirim gambar tidak sadar, bahwa tidak semua anggota grup mempunyai pola pikir seperti dia. Tidak semua anggota suka dengan gambar-gambar mesum tersebut.

Saya sering komplain pada beberapa grup, mempertanyakan anggota grup yang suka mengirim gambar-gambar yang tidak pantas ke jalur umum. Jika Anda ingin menikmati gambar-gambar koleksi mesum tersebut, nikmati saja sendiri, tanggung jawab sendiri, itu urusan Anda, dosanya dosa anda, kenapa harus disebar ke dalam grup yang anggotanya beragam?

Saya punya alasan mengapa saya harus “marah”. Anak saya di rumah suka meminjam ponsel saya, sekedar main game atau mengakses video di Youtube. Kadang-kadang dia juga suka melihat koleksi gambar di Gallery ponsel.  Nah, inilah yang saya takutkan. Setiap kali saya menerima kiriman gambar mesum dari grup WA, saya dengan sigap selalu menghapusnya. Saya khawatir anak-anak saya melihatnya dan mengira saya mengkoleksi gambar-gambar mesum tersebut. Namun, ada kalanya saya lupa menghapusnya. Kecepatan saya menghapus juga tidak selalu secepat anak saya melihatnya. Bisa saja ketika dia menggunakan ponsel saya, gambar-gambar tersebut masuk dan saya belum menghapusnya. Itulah yang saya takutkan, dia melihat gambar-gamba pornografi kiriman anggota grup.  Saya membenarkan pendapat Bu Elly Risman yang menyatakan kalau peredaran pornografi secara masif adalah melalui ponsel.

Berhubung komplain saya tidak mendapat tanggapan yang memuaskan, maka apa boleh buat, saya pun terpaksa left atau keluar dari grup. Daripada anak saya menjadi korban pornografi, biarlah saya rela tidak mengikuti grup diskusi yang ramai itu. Keluar dari grup WA tidak berarti memutus hubungan pertemanan di darat. Hubungan saya dengan teman di grup tetap baik-baik saja.

Dipublikasi di Pengalamanku | 4 Komentar

Mendidik dengan Memberi Contoh

Suatu hari anak saya yang bungsu pergi belanja sendiri ke minimarket dengan menggunakan sepeda. Diam-diam saya buntuti dia, karena saya agak khawatir kalau dia tidak lihat kiri kanan saat menyeberang jalan dengan sepedanya (minimarket itu berada di seberang jalan). Tiba di minimarket, saya amati dia dari jauh. Setelah membayar belanjaan di kasir, ternyata ada sisa kembalian berupa uang receh. Uang receh itu lalu dia masukkan ke kotak amal yatim piatu yang terletak di luar dekat pintu masuk minimarket. Dia melakukan hal itu (memasukkan uang ke dalam kotak amal) karena sering melihat saya melakukan hal yang sama ketika dia diajak berbelanja ke minimarket. Hmmm…padahal saya tidak pernah lho menyuruh dia untuk memasukkan uang ke kotak kencleng, tapi sekarang dia melakukan amal kecil yang pernah saya lakukan.

Saya pun tersadar. Pendidikan terbaik bagi anak-anak adalah dengan memberikan contoh. Tidak perlu berteori yang muluk-muluk atau berceramah  panjang lebar, tapi perlihatkan dengan contoh teladan. Apa saja yang anda lakukan, maka anak anda akan menirunya karena dia menganggap orangtua dan guru adalah contoh yang patut ditiru, terlepas apakah perbuatan itu baik atau buruk. Anak anda akan mem-foto-copy apa yang anda lakukan.

Maka, bila anda memperlihatkan teladan baik, anak anda akan mencontohnya. Bila anda memperlihatkan sikap buruk, anak anda  pun akan menirunya. Anda membanting pintu sebagai pelampiasan marah di depan anak anda, maka anak anda akan melakukan hal yang sama. Anda merokok di depannya, anak anda akan jadi perokok juga, diam-diam atau terang-terangan. Pada contoh cerita saya di atas, anda bersedekah di dekatnya, maka dia pun akan melakukan hal yang sama kelak. Percayalah.

Saya merasa tindakan apa yang saya lakukan selama ini ternyata berpengaruh besar terhadap sikap anak. Selain sikap yang menurut pandangan umum adalah baik, kadang-kadang saya menyesal bila pernah memberi contoh yang kurang baik. Makan minum sambil berdiri misalnya, maka anak saya pun sering begitu. Membawa ponsel ke toilet, maka anak pun juga membawa ponselnya ke sana. Duh, saya menyesal telah memberi contoh yang  kurang baik dan sekarang harus memperbaiki kembali bangunan yang sudah salah terbentuk.

Dipublikasi di Pendidikan | 2 Komentar

Menangisi Nasib Rohingya yang Nestapa

Kekerasan terhadap warga Rohingya di Myanmar yang dilakukan oleh tentara Myanmar dan sebagian massa Budha radikal mewarnai pemberitaan dunia hari-hari ini. Media setiap hari memberitakan pembunuhan keji yang dilakukan oleh tentara Myanmar kepada warga Rohingya di negara bagian Rakhine (Arakan). Kaum lelaki dibunuh dan dibakar, para perempuan diperkosa,  anak-anak yang melindungi ibunya dipotong lehernya dengan pisau, rumah-rumah mereka dibakar (Baca: Mengerikan, Kekerasan Tentara Myanmar terhadap Rohingya). Puluhan ribu orang yang selamat melarikan diri ke perbatasan Bangladesh menyeberangi sungai Naf. Perahu yang sarat penumpang itu ada yang terbalik menghanyutkan penumpangnya, yang akhirnya menjadi mayat-mayat yang terdampar di pinggir sungai. Ethnic cleansing atau genosida sedang dilakukan oleh tentara dan Pemerintah Myanmar.

rohingya2

Sumber gambar: http://bdnews24.com/neighbours/2017/09/02/rohingya-muslims-flee-as-more-than-2600-houses-burned-in-myanmar-s-rakhine

Orang Rohingya adalah etnik yang tidak diakui oleh negara Myanmar. Mereka dianggap imigran dari Bangladesh yang memasuki wilayah Rakhine, meskipun menurut sejarah mereka sudah tinggal di Rakhine beberapa generasi. Secara fisik mereka berbeda dengan orang Myanmar pada umumnya. Orang Rohingya berkulit gelap (hitam) dan, sedangkan orang Burma (suku terbesar di Myanmar) berkulit putih. Bahasa mereka juga berbeda dengan bahasa di Myanmar. Satu pembeda lain dengan warga Myanmar adalah agama. Penduduk Myanmar umumnya beragama Budha, sedangkan orang Rohingya ini beragama Islam. Kelak soal agama ini juga ikut memicu ketegangan rasial antara warga Rohingya dengan kelompok Budha yang dipimpin oleh Bhiksu radikal.

Pemerintah dan warga Myanmar menyebut mereka Bengali ketimbang Rohingya. Jumlah mereka mencapai 1,1 jiwa yang sebagian besar hidup di Rakhine. Karena tidak diakui sebagai warganagera yang sah, maka warga etnik Rohingya tidak mendapat hak-hak seperti hak pendidikan, hak politik, kesehatan, hak mendapat pekerjaan formal, dan lainnya. Mereka didiskriminasi dalam segala bidang. Pemerintah dan warga Myanmar membenci warga Rohingya dan menjadikan mereka sebagai musuh bersama yang harus dijauhi dan diusir dari Myanmar. Malangnya, Bangladesh pun tidak mengakui mereka sebagai warga Bangladesh. Jadilah orang Rohingya menjadi stateless, tidak memiliki kewarganegaraan apapun. Faktor stateless inilah yang menjadi pemicu awal diskriminasi terhadap orang  Rohingya.

Hampir setiap waktu terjadi aksi kekerasan terhadap orang Rohingya. Tak tahan dengan kekerasan yang terus menerus yang dialami etniknya, maka sekelompok kecil warga Rohingya akhirnya menjadi militan dan melakukan perlawanan mengangkat senjata. Mereka sudah putus asa dan sudah kehilangan harapan untuk hidup.  Dalam pikiran mereka, jika pun masih hidup, maka nanti akan mati juga di tangan tentara atau warga Myanmar. Satu-satunya jalan adalah melawan, mau mati atau hidup sudah tidak ada harapan lagi, mungkin begitu yang terlintas di kepala mereka. Kelompok militan yang dinamakan ARSA ini  menyerang pos polisi dan tentara, membunuh target yang mereka temui. Rupanya, aksi kekerasan yang dilakukan oleh ARSA ini berimbas kepada warga Rohingya lain yang tidak berdosa. Mereka menjadi target tentara Myanmar untuk memburu kelompok militan itu, dengan alasan tidak bisa membedakan mana militan dan  mana warga biasa. Dengan keji tentara Mynamar membunuh warga Rohingya yang tidak bersalah, membakar rumah-rumah mereka, sehingga menghasilkan arus pengungsian seperti yang saya sebutkan di bagian awal.

Sesungguhnya pengusiran dan pembunuhan warga Rohingya sudah berlangsung selama puluhan tahun. Sekarang saja puncaknya karena ada momentum untuk menjadi alasan pembenaran aksi kekejaman itu, yaitu sebagian warga Rohingya dianggap teroris yang  harus dibasmi.

Kebetulan warga Rohingya ini beragama Islam, maka solidaritas dan aksi demo di negara-negara muslim pun marak memprotes kekejaman tentara Myanmar. Di tanah air, solidaritas kepada warga  Rohingya memancing sekelompok orang lain untuk bersikap sebaliknya. Kelompok ini sepertinya tidak memiliki hati nurani. Aksi keji tentara dan warga Myanmar terhadap warga Rohingya tidak mampu menumbuhkan empati pada diri mereka. Mereka malah nyinyir kepada warganet (netizen) yang memberikan rasa empati dan simpati mereka kepada Rohingnya. Mereka malah menyalahkan orang  Rohingya sebagai pendatang dari Bangladesh yang tidak tahu diri. Sudahlah “mengambil” tanah orang, lalu membuat gaduh di sana, begitu kata mereka. Terhadap orang Indonesia yang ikut-ikutan membela Rohingya, kelompok ini berkata sinis sebagai berikut: tidak perlu jauh-jauh membantu orang Rohingya, masih banyak warga kita yang perlu dibantu itu urusan dalam negeri Mynamar, ngapain kita ikut campur; kalau mau berjihad, silakan saja pergi ke sana; ujung-ujungnya nanti yang disalahkan adalah Jokowi; dan sebagainya.  Perpecahan bangsa akibat Pilpres dan Pilkada masih berlanjut hingga ke masalah Rohingya ini. Astaghfirullah.

Padahal, tidak perlu menjadi muslim untuk ikut bersimpati kepada penderitaan warga Rohingya. Menjadi manusia saja sudah cukup untuk ikut merasakan nestapa orang Rohingya yang teraniaya. Mereka terlahir menjadi Rohingya bukanlah keinginan mereka.  Meski mereka tidak memiliki kewarganegaraan, tapi bukan berarti manusia, dalam hal ini tentara Myanmar, boleh semena-mena memperlakukan mereka sebagai anjing kurap yang harus dibasmi. Siapapun manusia di dunia yang teraniaya karena nasibnya yang malang, apapun etnis dan agamanya, maka sebagai manusia lain yang lebih beruntung minimal kita berempati kepada nasib mereka ini. Hak asasi manusia untuk hidup harus dihormati.

Di sisi lain, meskipun kita warga muslim Indonesia berempati dan membela Rohingya, jangan sampai pula kita membuat fallacy yang membahayakan. Meskipun mayoritas warga Myanmar beragama Budha, tetapi warga Budha di Indonesia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kekerasan yang dilakukan warga Budha Myanmar terhadap warga Rohingya. Konflik di tanah Arakan itu bukan konflik berlatarbelakang agama.  Jadi, sungguh perbuatan salah jika vihara, bhiksu, dan warga Budha di tanah air menjadi sasaran kemarahan. Stop membuat kesimpulan ngawur dan sesat.

Dipublikasi di Dunia oh Dunia | 1 Komentar