Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 7): Hari-hari di Kota Mekkah

Jamaah haji reguler tinggal di kota Mekkah selama satu bulan (30 hari). Kloter kami masuk pemondokan di Mekkah tanggl 28 Juli 2018, sedangkan wukuf di Arafah (puncak haji) adalah tanggal 20 Agustus (9 Zulhijjah). Jadi, waktu menunggu wukuf masih lama, masih tiga minggu lagi. Sambil menghitung hari menunggu wukuf, jamaah haji mengisi hari-harinya di pemondokan dengan beraktivitas seperti pergi ke Masjidl Haram untuk sholat atau tawaf,  pengajian, berbelanja, tur mengunjungi berbagai tempat bersejarah di Mekkah, dan lain-lain.

Di bawah inil foto suasana pemondokan haji di kawasan Syisyah 2. Syisyah 2 jaraknya 7,5 km dari Hara, lumayan jauh ya, tapi alhamdulillah ada bus sholawat yang mengantarkan jamaah ke Haram setiap waktu. Kloter kami ditempatkan di salah satu hotel di kawasan ini. Ada puluhan hotel di Syisyah 2, yang mayoritas dihuni oleh jamaah haji Indonesia. Ada juga sih dua hotel yang ditempati oleh  jamaah haji dari Turki. Karena mayoritas dihuni oleh jamaah haji Indoensia dari ebrbagai daerah, maka pemondokan Syisyah 2 menjadi perkampungan Indonesia. Bahkan Menteri Agama Indonesia yang menjadi Amirul Hajj juga menginap di salah satu hotel di Syisyah 2.

Hotel-hotel pemondokan haji di kawasan Syisyah 2

Kesibukan pagi hari di Syisyah 2

Pemondokan jamaah haji Indonesia yang paling dekat dnegan Haram berada di kawasan Jarwal, hanya berjarak 1 km ke Haram. Di sekeliling hotel bertaburan toko-toko berlabel Indonesia atau Jakarta, baik toko kelontong, toko emas, toko makanan dll. Kakak perempuan saya yang berangkat haji dari embarkasi Padang mendapat hotel di Jarwal.

Hotel pemondokan haji Indonesia di Jarwal

Kota Mekah itu isinya kalau nggak hotel ya pertokoan. Hotel saja yang terlihat di mana-mana, maklum saja kota ini setiap hari sepanjang tahun selalu ramai dengan kunjungan jamaah untuk umrah dan puncaknya pada musim haji ini.

Hotel-hotel lainnya di kawasan Jarwal

Seperti yang sering diceritakan orang-orang yang sudah pergi naik haji, kita tidak usah khawatir soal makan di Saudi. Banyak orang Indonesia mukimin di Mekkah, umumnya para TKI, berjualan sarapan pagi di dekat pemondokan, seperti nasi kuning, nasi uduk, nasi goreng, nasi kuning, nasi lauk pauk, bakso, soto, dsb. Nasi kuning atau nasi goreng harganya 3 riyal, bakso 5 riyal, gorengan 1 riyal.

Penjual sarapan pagi di pemondokan

Aneka sarapan pagi bisa dibeli di sekitar pemondokan

Kehadiran mereka berjualan sebenarnya sangat membantu jamaah haii Indonesia, karena sarapan pagi tidak disediakan oleh Kemenag. Jamaah haji harus mencari sarapan sendiri. Tentu bosan juga kalau setiap pagi makan mie instan terus. Orang Indonesia belum merasa sarapan jika belum makan nasi. Jadi, pedagang sarapan pagi itu selalu ditunggu. Tetapi di sisi lain, berjualan di pinggir jalan sebagai pedagang kaki lima di Saudi adalah terlarang. Para wanita yang berjualan sarapan pagi tersebut dagang Indonesia  yang berjualan, mereka harus kucing-kucingan dengan Satpol PP Saudi yang berpatroli. Jika tertangkap basah, maka ibu-ibu pedagang kaki lima itu dimasukkan ke dalam penjara.  Antara rasa kasihan dan melanggar aturan Pemerintah setempat.

Di sekitar pemondokan bertebaran toko-toko yang berlabel Indonesia yang berjualan kebutuhan sehari-hari jamah haji Indonesia, seperti makanan, bumbu dapur, ikan asin,  sabun, pakaian, ember, sajadah, oleh-oleh haji, hati onta, buah hawa, kurma, dan lain-lain. Pedagangnya (atau pelayannya) kebanyakan orang Bangladesh yang dapat mengerti Bahasa Indoensia.

Toko berlabel Indonesia yang berjualan kebutuhan sehari-hari jamaah haji.

Pedagang dari Bangladesh yang berualan aneka kebutuhan jamaah di toko-toko berlabel Indonesia.

Buah hawa (kanan) untuk wanita yang susah hamil dan hati unta (kiri) untuk penderita darah tinggi, sesak napas, lemah jantung, dll. Ada saja jamaah yang membelinya untuk oleh-oleh.

Yang menarik perhatian saya adalah beberapa toko di pemondokan juga menjual barang elektronik seperti kompor listrik, pemanas air, rice cooker, magic com, dan lain-lain. Saya perhatikan banyak jamaah haji yang membeli rice cooker dan peralatan listrik lainnya untuk memasak, menyetrika pakaian, dan lain-lain. Memasak di dalam kamar hotel sebenarnya dilarang karena dapat menyebabkan bahaya kebakaran. Tetapi orang Indonesia pada dasarnya tidak taat aturan, mereka tetap saja memasak dengan peralatan listrik tersebut di dalam kamar. Magic com adalah peralatan serba guna, ia bisa digunakan untuk memasak nasi, memasak air, menumis sayuran, menggoreng ikan, dan membuat masakan apa saja. Ibu-ibu jamaah haji sangat kreatif memasak, meski Kemenag RI selalu menyediakan catering untuk makan sang dan malam.  Ibu-ibu itu patungan memasak dan membeli bahan masakan. Pagi hari mereka berbelanja, siangnya memasak. Menjelang sore terciumlah bau masakan dari kamar-kamar yang dihuni ibu-ibu yang sedang memasak.  Hmmm…wanginya sangat menggoda.

Sayur mayur dan bumbu-bumbu pun lengkap tersedia di toko-toko tersebut.

Aktivitas lain yang dilakukan di pemondokan adalah mencuci pakaian. Kebetulan hotel-hotel di pemondokan menyediakan tempat menjemur pakaian di roof top, jadi kesulitan menjemur pakaian speerti di Madinah teratasi di Mekkah. Tersedia juga mesin cuci di setiap lantai yang dapat digunakan jamaah secara bergantian. Yang perlu dibawa dari tanah air adalah hanger untuk menggantung pakaian yang dijemur, namun sebenarnya di toko-toko berlabel Indonesia itu juga menjual hanger untuk jemuran.

Mencuci dan menjemur pakaian adalah aktivitas rutin jamaah haji di pemondokan.

Selama tinggal di pemondokan tentu ada saja jamaah haji yang sakit. Tidak usah terlalu khawatir kalau sakit saat berhaji. Tim kesehatan haji Indonesia (TKHI) dari Dinas Kesehatan masing-masing kota/kabupaten selalu mendampingi. Setiap kloter didampingi oleh satu orang dokter dan dua orang perawat. Sakit pusing, demam, flu, panas, luka, dsb langsung ke dokter di maktab. Semuanya gratis.

Jamaah yang sakit sedang berobat kepada dokter di maktab.

Saat pagi hari pemondokan terlihat ramai dengan jamaah yang berbelanja atau sekadar jalan-jalan mengusir kejemuan. Siang hari setelah sholat Dhuhur suasana hotel mulai sepi, jaamah haji lebih memilih istirahat di kamar masing-masing. Sore hari setelah Ashar suasana kembali ramai dengan jamaah yang akan berangkat naik bus Shalawat ke Haram untuk sholat Maghrib dan Isya di sana.

Waktu berjalan terasa lambat di pemondokan. Puncak haji masih tiga minggu lagi. Kegiatan jamaah haji di pemondokan kalau tidak tiduran, duduk-duduk, mengaji, atau membunuh waktu dengan internetan. Ustad pembimbing mengatakan agar selalu menjaga kondisi badan karena puncak haji di Armina memerlukan fisik yang sehat dan kuat. Kegiatan sunnah ke Masjidil Haram dilakukan sesuai dengan kemampuan fisik dan tidak memaksakan diri.

Ber-internet ria melalui HP masing-masing.

Tentu sayang rasanya jika jamaah haji hanya duduk-duduk atau tiduran di pemondokan. Saatnyalah menggunakan waktu yang berharga selama di Mekkah untuk sholat di Haram atau melakukan tawaf. Pemandangan yang selalu terkenang oleh saya hingga hari ini adalah antrian jamaah haji yang menunggu bus Shalawat pada sore hari  untuk berangkat ke Haram.  Sore hari setelah Ashar cuaca mulai teduh. Inilah waktu yang banyak digunakan jamaah haji ke Haram guna menunaikan sholat Maghrib sampai Isya di Haram. Setelah Isya, jamaah haji kembali memadati terminal bus untuk pulang ke pemondokan masing-masing. Suasana seperti itu tidak akan terulang lagi dan selalu terkenang-kenang oleh saya.  Hiks…

Menunggu bus Shawalat ke Haram

Bus Shalawat dalam perjalanan ke Haram menembus terowongan-terowongan  di bukit-bukit batu. Di ujung terowongan yang terakhir sampailah kita ke kompleks Masjidil Haram dengan Menara Zamzam yang menyambut kedatangan kita. Memang, di kota Mekah bukit-bukit batu bertebaran di mana-mana. Bukit-bukit ini menghambat akses jalan dan memperjauh jarak tempuh. Pemerintah Saudi menggali terowonganterowongan menembus bukit-bukit batu itu. Terowongan ada di mana-mana. Satu terowongan panjangnya ada yang mencapai 500 m.

Terowongan yang menembus bukit batu

Di dalam terowongan

Jika kita datang pas-pasan menjelang waktu sholat Maghrib, maka cukuplah merasa puas jika hanya bisa sholat di pelataran luar masjid Haram saja. Di Haram kita bertemu jamaah haji dari berbagai bangsa dan negara. Rasa persatuan karena seaqidah membuat kita merasa nyaman bersama mereka meskipun tidak saling mengenal. Saling bertanya asal negara, mengucap salam, atau berbagi sedikit makanan adalah hal yang umum kita lihat di Haram.

Sholat di pelataran luar Masjidil Haram

Kalau tidak shoalt di Haram, sholat berjamaah di mushola hotel juga tidak apa-apa. Di kawasan Syisyah 2  tidak terdapat masjid.  Jadi, kalau mau sholat berjamaah di hotel,  pihak hotel telah menyediakan mushola di lantai basement hotel. Kebetulan di dalam Kloter 7 juga ikut ustad Saiful Islam Mubarak, salah seorang ustad kondang di Bandung sekaligus pembimbing KBIH Maqdis (salah satu KBIH di Kloter JKS 7).  Alhasil, setiap usai sholat Dhuhur selalu ada tausiyah selama setengah jam dari pak ustad.

Pengajian dari ustad pembimbing haji setiap selesai sholat fardhu.

Hari-hari di Mekkah meski lama namun terasa begitu singkat. Perlahan-lahan hari berganti demi hari mendekati waktu wukuf. Berhaji dengan program haji reguler, meskipun waktunya lebih lama, namun sangat nikmat sekali. Banyak pengalaman selama tinggal di Mekkah yang akan selalu terkenang-kenang sepanjang masa. Kota Mekkah selalu membawa rasa rindu. (BERSAMBUNG)

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | Meninggalkan komentar

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 6): Di Masjidil Haram, Mekkah

Masjidil Haram, atau sering disingkat Haram (atau Harom) saja, tidak pernah sepi, baik pada musim haji maupun diluar musim haji. Di dalamnya ada “magnet” yang membuat Islam di seluruh dunia selalu ingin mengunjunginya, yaitu Ka’bah, Baitullah, yang menjadi kiblat ummat Islam dalam menunaikan sholat.

Selama musim haji, semakin hari Haram semakin padat dengan calon jamaah haji. Saya sarankan jangan datang ke Haram mendekati waktu sholat, pasti tidak akan mendapat tempat di dalam masjid, paling-paling mendapat tempat di pelataran luar masjid. Ya, Haram sudah penuh setengah jam sebelum waktu sholat. Jadi, kalau mau ke Haram sebaiknya satu jam sebelum waktu sholat tiba. Rata-rata jamaah ingin sholat di plaza (pelataran Ka’bah), tetapi pelataran ini sudah penuh sesak satu jam sebelum sholat. Para askar pun sudah menutup akses ke plaza satu jam sebelum waktu sholat karena sudah penuh dengan jamaah yang tawaf maupun yang menunggu sholat. Jadi, kalau anda ingin sholat di dalam Haram, maka sebaiknya datanglah minimal satu jam sebelum waktu sholat. Dari pemondokan naik bus Shalawat ke Haram satu jam sebelumnya, karena satu jam sebelum waktu sholat tiba bus Shalawat sudah penuh dengan jamaah yang akan ke Haram. Kita harus antri kedatangan bus berikutnya.

Masjidil haram tampak dari depan menara Zamzam. Saat waktu sholat Maghrib dan Isya, pelataran di depan menara ini penuh sesak dengan jamaah yang sholat.

Meskipun waktu sholat masih lama, biasanya jamaah haji mengisi waktu dengan tadarus (membaca Al-Quran). Dari tanah air saya sudah memasang niat akan mengkhatamkan Al-Quran selama di Tanah Suci (Madinah dan Mekkah). Sejak di Madinah saya sudah memulai membaca Quran dari awal lagi, dan  di Mekkah saya melanjutkan hingga alhamdulillah  tamat dua hari sebelum kepulangan ke tanah air. Membaca Quran di Haram terasa lebih berkesan, karena saya membaca Quran sambil menghadap ke Ka’bah. Di depan saya terlihat Ka’bah, meskipun tidak persis dekat di depannya. Sekali-sekali ketika jeda membaca Quran mata saya menatap ke Ka’bah. Oh Ka’bah yang selalu saya rindukan, dan juga dirindukan oleh jutaan ummat Islam di seluruh dunia, sekarang ada di depan mata saya.

Jika saya tidak mendapat tempat di plaza, maka biasanya saya mengambil tempat di lantai dua yang pemandangan menghadap ke ka’bah. Pemandangan dari lantai dua justru sangat menggetarkan hati. Di bawah sana terlihat lautan manusia berputar bersama-sama mengelingi Ka’bah, melaksanakan tawaf secara berlawanan arah jarum jam sebanyak 7 putaran. Saya merekam momen yang menggetarkan hati tersebut dengan kamera ini seperti pada foto di bawah ini.

Plaza tempat Ka’bah berada dipenuhi oleh lautan jamaah haji yang sedang tawaf maupun sholat

Di lantai dua ini (dan juga di lantai tiga) juga terdapat area mataf (area untuk tawaf). Tawaf di lantai dua dan tiga radius lingkarannya lebih panjang daripada di plaza sehingga tawaf membutuhkan waktu satu jam untuk menyelesaikannya, dan bisa lebih lama lagi jika jamaah sangat padat. Tawaf di lantai dua cocok bagi jamaah yang menggunakan kursi roda karena tidak berdesak-desakan seperti di plaza. Kursi roda tersedia secara terbatas dan gratis. Jika keluarga atau kerabat jamaah tidak sanggup mendorongnya, maka banyak tenaga kerja lokal yang bersedia membantu mendorong kursi roda menyelesaikan tawaf tujuh putaran asal bayarannya cocok.

Jamaah yang menggunakan kursi roda tawaf di lantai dua mataf

Selain untuk melaksanakan sholat fardhu, jamaah haji datang ke Haram untuk melaksanakan tawaf. Tawaf dapat dilakukan kapan saja, baik pagi, siang atau malam. Selagi masih punya tenaga dan mumpung berada di Mekkah, maka kenapa tidak memanfaatkan waktu untuk melaksanakan tawaf berkali-kali. Namun, semakin hari jamaah haji semakin hari semakin banyak saja berdatangan ke kota Mekkah dari seluruh penjuru dunia sehingga Masjidil Haram semakin bertambah padat. Untuk tawaf di plaza di depan Ka’bah semakin sulit, sangat padat dan berdesak-desakan.

Baik di lantai atas  maupun di lantai bawah, jamaah yang melakukan tawaf mengalir tiada henti. Merinding melihatnya. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Semuanya bertasbih memuji-Nya, merendahkan diri di hadapan-Nya, berdoa meminta ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Tawaf bukanlah sekedar mengelilingi kiblat ummat Islam itu. Tetapi, tawaf hakekatnya adalah mengelilingi Sang Empunya Ka’bah, yaitu Allah SWT. Selain itu, tawaf juga menghormati orang yang pertama kali membangun Ka’bah, yaitu Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Di depan Ka’bah terdapat maqam Ibrahim, yaitu bekas tempat berdiri Nabi Ibrahim. Saya belum berhasil sholat persis di belakang maqam itu karena sungguh padatnya manusia.

Tawaf juga merefleksikan pergerakan alam semesta. Planet-planet berputar mengelilingi matahari, elektron-elektron di dalam atom berputar mengelilingi inti atom. Sungguh semua itu terdapat pelajaran dan hikmah bagi manusia.

Waktu favorit jamaah untuk melaksanakan tawaf adalah pada malam hari setelah sholat Isya, dinihari sebelum subuh, dan pagi hari setelah matahari terbit. Saat itu suhu udara cukup sejuk, tidak panas menyengat seperti siang hari. Selain itu, setelah sholat Isya dan setelah sholat Subuh biasanya jamaah pulang ke hotel masing-masing untuk beristirahat sehingga Haram tidak terlalu padat dan kita bisa tawaf agak leluasa di plaza. Jamaah yang  hotelnya jauh dari Haram sudah siap-siap berangkat ke Haram pukul dua atau pukul tiga dinihari dengan niat untuk tawaf sembari menunggu waktu sholat Subuh di Haram. Bus Shalawat yang mengangkut jamaah selalu tersedia jam berapa saja, jadi mau pergi ke Haram bisa kapan saja.

Namun, tawaf pada siang hari bolong yang sangat terik tetap saja banyak jamaah yang melakukannya meskipun sangat beresiko terkena stroke panas (heat stroke). Jamaah haji Indonesia sudah diingatkan agar tidak mengambil resiko berada di luar ruangan tanpa pelindung kepala. Suhu di Mekkah saat musim haji tahun 2018 adalah 44 – 50 derajat Celcius. Teman saya bercerita, dia melihat dari lantai dua  ada beberapa orang yang digotong dari lautan manusia yang sedang melaksanakan tawaf, mungkin pingsan atau wafat terkena serangan heat stroke. Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiun.

Setiap hari banyak jamaah haji yang wafat di Mekkah. Seperti halnya di Masjid Nabawi, setelah usai sholat lima waktu selalu ada pelaksanaan sholat jenazah. Begitu juga di Masjidil Haram di Mekah. Jenazah-jenazah ditaruh di sisi lantai mataf, selanjutnya dibawa ke sisi Ka’bah untuk disholatkan, disholatkan oleh ratusan ribu jamaah haji. Jamaah haji yang wafat di Mekkah dimakamkan di pemakaman Ma’la (jika di Madinah di pemakaman Baqi). Di Ma’la juga terbaring jasad Siti Khodijah, istri Rasulullah.

Semua jamaah haji yang wafat di tanah suci biasanya dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi untuk diketahui penyebab wafatnya. Selanjutnya jenazah dimandikan, dikafani, dan dibawa ke Masjidil Haram. Sebagian jamah haji mungkin ada menginginkan wafat di Tanah Suci. Walahu alam. Kita memang tidak pernah tahu di bumi mana kita dilahirkan dan di bumi mana kita diwafatkan.

Jenazah jamaah haji yang wafat siap untuk disholatkan di depan Ka’bah

Saat di Mekkah, kloter kami JKS 07 berduka. Salah seorang jamaah dari KBIH Ar-Rahmah, seorang ibu, wafat di hotel 215 di pemondokan Syisyah 2. Tinggallah suaminya sendiri duduk menatap jenazah almarhumah istri tercintanya. Dari 402 jamaah haji kloter JKS 7 sekarang berkurang menjadi 401 orang. Umur dan ajal memang di Tangan Allah SWT. Inna lillaahi wa Inna ilaihi raajiun.

Selesai tawaf di Ka’bah, sambil menunggu waktu sholat fardhu berikutnya, sebagian   jamaah haji berpindah melakukan  “tawaf” di Zamzam Tower, he..he. Menara zamzam sudah menjadi landmark kota Mekah. Di menara ini terdapat puluhan hotel berbintang dan mal/pusat perbelanjaan. Jamaah haji khusus (plus) biasanya menginap di hotel-hotel di menara ini.

Bubaran sholat jalan-jalan ke Zamzam Tower

Mal di Menara Zamzam diisi oleh toko-toko dan supermarket (Bin Dawood) yang berjualan barang bermerek. Mal kelas elitlah. Berbagai jamaah haji dari berbagai penjuru dunia ramai mendatangi mal ini sekedar cuci mata atau memang untuk berbelanja. Puluhan  restoran baik restoran waralaba barat maupun restoran dengan menu lokal berjejer di setiap lantai. Menariknya, setiap waktu sholat tiba, seluruh toko di mal ini tutup. Para pegawai toko dan pengunjung yang terjebak  di dalam mal (tidak bisa keluar mal karena pelataran di depan Menara Zamzam sudah penuh dengan jamaah yang akan sholat) menjadikan lantai mal menjadi shaf-shaf untuk sholat. Mal pun berubah menjadi mushola besar saat waktu sholat tiba. Sungguh pemandangan yang mengharukan, hanya bisa kita temukan di sini saja.

Mal di Menara zamzam

Bin Dawood mungkin merupakan jaringan supermarket terkenal dan terbesar di Saudi. Sejak di Madinah dan di Mekah hanya menemukan supermarket ini saja.

Untuk mencari makanan di sekitar Masjidil Haram tidaklah sulit. Selain di Menara Zamzam, puluhan restoran di sekitar Haram bertebaran menawarkan menu nasi kebuli, nasi mandhi, kebab, shawarma, martabak, ayam bakar (broast chicken), dan lain-lain. Saya sempat membeli nasi kebuli Arab, yang kemudian saya ketahui bernama nasi bukhori,  di luar Haram. Ini pertama kali saya makan nasi kebuli. Ya ampun, dikasih nasi porsinya segede gaban, ayamnya juga besar. Bagaimana menghabiskannya ya? Biasanya saya makan separo dan sisanya buat sarapan pagi besok. Nasinya enak, banyak mengandung rempah. Ada cengkeh, pala, jinten, dll di dalam nasi. Nasi bukhori dengan ayam panggang harganya 20 riyal. Kalau nasinya saja harganya 10 riyal. Martabak dan shawarma juga 5 riyal.

Restoran di luar Haram

Ayam panggang yang menggoda.

Nasi bukhori. Lalapannya adalah cabe hijau besar.

Tidak jauh dari Haram, yaitu di dekat bukit batu, tidak jauh dari terminal Syib Amir, ada sebuah perpustakaan yang dulunya tempat ini adalah tempat bersejarah. Ya, di lokasi tempat perpustakaan inilah dulunya terdapat rumah tempat kelahiran Nabi Muhammad. Banyak jamaah haji yang mengunjungi tempat ini, ada juga jamaah yang saya lihat sholat di sini meskipun sudah ada larangan untuk tidak sholat di sana. Pemerimtah Saudi memang banyak menghancurkan  situs-situs bersejarah, misalnya rumah Siti Khadijah sekarang menjadi lokasi toilet, rumah kelahiran Nabi menjadi gedung perpustakaan. Mungkin maksudnya supaya jamaah tidak melakukan bid’ah, yaitu melakukan perbuatan yang mengarah syirik dengan melakukan ritual-ritual yang tidak diajarkan oleh agama. Hal ini mungkin debatable.

Perpustakaan Mekkah Al-Mukaramah. Di lokasi inilah dulu terdapat rumah tempat kelahiran Nabi Muhammad.

Seperti halnya di Masjid Nabawi, di setiap sudut Masjidil Haram terdapat banyak gentong yang berisi air zam-zam. Jamaah haji dapat minum air zamzam sepuasnya atau membawanya pulang. Biasanya jamaah haji sudah membawa botol-botol air mineral  dari pemondokan. Ketika pulang dari Haram, mereka mengisi botol-botol itu dengan air zamzam untuk diminum di hotel. Di luar Masjidil Haram juga terdapat keran-keran air zamzam. Jamaah dari India, Afghanistan, Mesir, dan lain-lain biasanya mengisi air zamzam ke dalam jerigen-jerigen.

Depot air zamzam di luar Haram.

Satu keinginan saya yang belum pernah berhasil diwujudkan di Haram adalah mencium hajarul aswad di sudut ka’bah. Waktu saya umrah tahun 2015 dulu pun juga tidak berhasil.  Perjuangan untuk mencium hajarul aswad sungguh luar biasa, bisa-bisa nyawa taruhannya karena tergencet, terinjak, atau sesak napas karena terjepit. Orang-orang berdesak-desakan saling mendorong untuk mendekati hajarul aswad. Jamaah haji yang bertubuh besar seperti dari Mesir, Turki, India, Afghanistan, dan Afrika sangat mendominasi di depan hajarul aswad. Orang Indonesia yang bertubuh kecil terjepit di tengahnya. Mencium hajarul aswad adalah sunnah saja, bukan keharusan. Hanya karena Nabi pernah menciumnya, maka jamaah haji pun berusaha untuk menciumnya.

Meskipun saya tidak berhasil mencium hajarul aswad, namun saya sudah puas bisa berdoa di Multazam. Multazam adalah area di depan Ka’bah yang terletak antara hajarul aswad dan pintu Ka’bah. Saya berdoa di sana, mencurahkan segala isi hati, memohon kepada Allah segala permohonan, hingga saya pun menangis. Multazam adalah tempat yang mustajab untuk berdoa. Semoga seluruh doa yang saya panjatkan di sana di-ijabah oleh Allah SWT, entah sekarang, entah nanti.  Amiin ya rabbal alamin.

Selain kepuasan berdoa di Multazam, saya juga bersyukur bisa sholat di Hijir Ismai. Hijir Ismail adalah area kecil di depan Ka’bah yang dibatasi oleh tembok melengkung. Untuk masuk ke dalam Hijir Ismail ini perjuangannya juga tak kalah hebatnya dengan perjuangan mencium hajarul aswad. Para askar membatasi jamaah masuk ke dalam Hijir Ismail supaya tidak ada yang celaka. Di Hijir Ismail kita tidak bisa leluasa sholat karena di depan kita punggung jamaah haji lainnya. Untuk sujud pun sangat sulit. Alhamdulillah saya bisa beberapa kali bisa sholat di Hijir Ismail. Triknya adalah setelah selesai tawaf, maka pada putaran terakhir saya merangsek maju ke dekat Ka’bah. Setelah berdoa di Multazam, mencium Ka’bah, mencium kiswah, saya berjalan mendekati Hijir Ismail. Ketika ada tempat lowong dan askar membolehkan, saya pun masuk ke dalamnya dan sholat sunnat dua rakaat, diakhir dengan minum air zam-zam yang tersedia di sana.

Masjidil Haram di Mekkah memang selalu membuat rindu dan selalu dirindukan. (BERSAMBUNG)

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 1 Komentar

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 5): Umrah ke Mekkah

Setelah berada delapan hari Madinah, maka pada hari kesembilan kami bersiap-siap melaksanakan umrah ke Mekkah. Ibadah umrah terdiri dari ihram, tawaf, dan sa’i. Selama umrah kita akan berpakaian ihram, yaiu bagi laki-laki menggunakan hanya dua lembar kain tidak berjahit. Untuk pembaca ketahui, rukun haji itu ada enam yaitu ihram, wukuf, tawaf ifadah, sa’i, tahalul, dan tertib.

Sehari sebelum berangkat umrah, kami semua diwajibkan mengemasi semua barang ke dalam koper besar, koper besar akan dikumpulkan keesokan paginya di depan kamar masing-masing untuk diangkut dengan bus ke Mekkah. Koper kecil berisi pakaian ganti, kain ihram, peralatan mandi, dan barang pribadi lainnya.

Hari itu Hari Jumat tanggal 27 Juli 2018, kami jamaah haji Kloter 7 JKS akan berangkat umrah ke Mekkah setelah sholat Ashar. Pagi hari sebelum sholat Jumat saya ke Raudhah terlebih dahulu (seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, “pamitan” ke Rasulullah). Setelah sholat Jumat (yang dijamak dengan sholat Ashar), kami kembali ke hotel untuk bersiap-siap memakai kain ihram. Pakaian ihram hanya dua lembar kain berjahit, tidak boleh pakai pakaian apapun lagi seperti pakaian dalam. Boleh memakai sabuk agar kain ihram tidak lepas. Di situs Youtube banyak sekali video yang memperagakan cara memakai kain misalnya ini, ini, dan ini.

Setelah waktu Ashar, kami diperintahkan turun ke lantai dasar hotel untuk bersiap masuk bus. Kami hanya membawa tas kecil dan tas paspor saja. Setiap rombongan sudah tahu busnya masing-masing, nomor bus sama sejak dari Bandung. Saya dan jamaah dari KBIH saya menempati bus nomor 1.

Jam 16.30 bus bergerak meninggalkan Madinah. Ada perasaan sedih meninggalkan kota Madinah disaat lagi betah-betahnya disini. Jamaah haji tidak kembali lagi ke Madinah setelah puncak haji di Arafah. Di masjid inilah terdapat maqam Rasulullah. Jutaan jamaah haji berziarah ke maqam Rasul sambil mengenang perjuangannya di masa lalu. Memang bermukim di Madinah tidak termasuk ke dalam rukun haji. Sunnah saja. Di Madinah jamaah haji berziarah ke berbagai tempat peninggalan sejarah Nabi Muhammad, termasuk shalat arbain (40 kali) di Masjid Nabawi. Selamat tinggal kota Nabi. Mudah-mudahan saya bisa kembali lagi ke sini kalau ada kesempatan melaksanakan umrah suatu hari nanti.

37835726_1971859286215420_332718386138054656_o

Kota Madinah yang tertata asri

Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam dari hotel, sampailah jamaah haji ke Masjid Bir Ali. Jamaah haji yang datang  dari Madinah mengambil miqat di Masjid Bir Ali ini. Bir dalam bahasa Arab artinya sumur, dulu di tempat ini Ali bin Abi Thalib membangun sumur sehingga diberi nama Bir Ali. Di Masjid Bir Ali jamaah haji melaksanakan sholat sunnah dua rakaat, setelah itu melafalkan niat ihram: Labbaika Allahumma umratan, yang artinya Aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk berumroh. Sesaat setelah mengucapkan niat umrah tersebut, maka berlakulah larangan-larangan ihram seperti tidak boleh memakai wangi-wangian, tidak boleh menggunting kuku dan rabut, tidak boleh memperlihatkan aurat, tidak boleh berhubungan suami-istri, dan masih banyak lagi larangan yang harus dipatuhi. Jika dilanggar, maka jamaah haji terkena dam atau denda yang besarnya seharga satu ekor kambing.

Setelah melafalkan niat ihram, kami masuk kembali ke dalam bus. Sepuluh bus rombongan jamaah haji Kloter 07 JKS bergerak menuju kota Mekkah. Perjalanan dari Masjid Bir Ali ke kota Mekkah akan memakan waktu enam jam. Pada sore hari itu terlihat di kiri kanan jalan pemandangan yang tandus dan gersang. Bukit batu dan tanah berpasir, hanya itu saja yang terlihat. Sekali-sekali tanpak perumahan penduduk dan bangunan-bangunan yang seperti tidak berpenghuni. Di dalam bus jamaah banyak lebih banyak duduk berdiam diri saja, atau mengikuti Pak ustad pembimbing melantunkan talbiyah. Labbaikallahumma labbaik. Labbaikalaa syarikalaka labbaik. Innal hamda, wa ni’mata, laka wal mulk, laa syarikalak. Sebenar lagi saya akan berjumpa dengan Baitullah di tanah suci Mekkah. Perasaan saya bercampur aduk.

Saya yang duduk sendirian paling belakang mulai merasakan perut tidak enak. Sakit melilit-lilit, perut ditekan terasa keras. Rupanya perut saya kembung masuk angin. Saya memang rentan masuk angin jika tidak memakai pakaian. Kain ihram yang dua lembar  membuat sebagian badan saya terbuka sehingga gampang masuk angin. Saya menyesal tidak minum jamu tolak angin sebelum berangkat tadi. Saya sarankan jamaah haji membawa cukup banyak jamu tolak angin dari tanah air karena sangat bermanfat sekali di sana ketika badan terasa kurang enak.

Ketika bus berhenti di rest area saya mencari apakah ada pedagan yang menjua jamu tersebut, ternyata tidak ada. He…he, ini bukan di Indonesia, tetapi di jalur yang sepi di Arab audi, mana ada yang menjual. Untunglah Pak Ustad Pembimbing Haji membawa jamu tolak angin. Setelah meminum jamu itu saya kentut berkali-kali (maaf), alhamdulillah perut saya sekali.

Memasuki perbatasan kota Mekkah, bus harus melapor ke pos perbatasan (check point). Di sini petugas Arab Saudi naik ke atas bus untuk memeriksa penumpang bus guna memastikan bahwa semuanya adalah jamaah haji yang legal. Oleh karena itu, kartu identitas haji kita harus selalu dibawa. Pemeriksaaan itu bertujuan untuk mencegah masuknya pendatang ilegal ke kota Mekkah. Selama musim haji, Arab Saudi memang sangat ketat memeriksa setiap orang yang masuk ke kota Mekkah. Hanya jamaah haji dan orang-orang yang punya izin khusus yang boleh masuk ke Tanah Haram. Hal ini bisa dimaklumi karena selama musim haji kota Mekkah akan sangat padat dengan jamaah haji dari seluruh dunia. Masuknya orang-orang yang tidak berkepentingan dengan urusan haji dapat membuat kota Mekkah akan macet total.

Setelah pemeriksaan beres, jamaah haji mendapat sambutan selamat datang berupa paket makanan ringan dan sebotol air zam-zam dari Kerajaan Arab Saudi. Wah, bahagia rasanya diperlakukan sebagai tamu yang dihormati.  Pemerintah Arab Saudi sebagai pengayom dua tanah suci (Mekkah dan Madinah) memang melayani tamu-tamu Allah yang datang ke negara itu. Berbagai infrastruktur dibangun besar-besaran di kedua tanah haram tersebut demi kenyamanan jamaah haji.

Dari titik check point, bus memasuki kota Mekkah. Dari atas bus tampaklah Menara Zamzam di kejauhan. Menara zamzam adalah bangunan tertinggi di kota Mekah, ia selalu tampak di mana saja kita berada.

Tepat jam 1 malam bus sampai di pemondokan haji di wilayah Syisyah 2. Karena sudah malam, kami tidak dapat melihat bangunan hotel yang akan kami tempati selama satu bulan di kota Mekkah. Kloter 07 JKS ditempatkan di dua buah hotel yang bersebelahan, yang diberi nama Hotel Indonesia 214 dan Hotel Indonesia 215. Foto di bawah ini adalah rupa hotel 215 tempat kami menginap jika dilihat pada siang hari. Hotel ini nantinya juga menjadi tempat pemnodan jamaah haji dari Kebumen (embarkasi Solo), dan jamaah haji dari Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Muaro Jambi (embarkasi Batam).

Hotel dengan nomor 215 tempat pemondokan haji Kloter 07 JKS

Setelah selesai pembagian kamar dan penyerahan koper, kami disuruh istirahat selama satu jam di kamar masing-masing. Saya satu kamar bertiga (tiga bed), dicampur dengan jamaah haji dari KBIH Maqdis. Kamarnya tidak lebih bagus daripada kamar hotel di Madinah. Mirip kamar kos. Sepertinya bangunan hotel ini masih baru, itu terlihat dari cat dan furniturnya. Pemiliknya membangun banyak hotel di kawasan Syisyah 2, terlihat dari arsitektur bangunan di sini mirip-mirip semua.

Kamar hotel tempat saya menginap di Hotel 215. Maaf ya kamarnya berantakan. Ini foto pagi hari setelah bangun tidur.

Saya mencoba beristirahat di kamar, namun saya tidak bisa tidur, hanya tidur-tiduran saja. Ingat ya, jamaah haji yang laki-laki masih dalam berpakaian ihram,. Selama istirahat di dalam kamar kita tidak boleh mengganti pakaian, harus tetap memakai dua lembar kain tidak berjahit. Pakaian ihram tidak boleh dibuka di hadapan jamaah haji yang lainnya meskipun sesama laki-laki, sebab aurat tidak boleh kelihatan oleh orang lain. Jika terbuka, batal ihramnya. Kita boleh membuka pakaian ihram di dalam toilet jika ingin BAK atau BAB. Selama tidur-tiduran di atas kasur, saya juga tidak berani memakai selimut, karena khawatir membatalkan ihram.

Jam dua malam kami bersiap untuk melaksanakan umrah ke Masjidil Haram. Kawasan Sysisyah 2 lumayan jauh dari Masjidil Haram, yaitu sekitar 7 km. Untunglah Pemerintah RI menyediakan layanan bus-bus yang selalu beredar dari pemondokan haji ke Masjidil Haram. Bus-bus tersebut diberi nama bus Shalawat yang merupakan singkatan dari Shalat Lima Waktu. Jamaah haji Indonesia gratis naik bus tersebut. Kapan saja jamaah haji ingin pergi ke Haram untuk sholat maka tunggulah bus tersebut lewat di depan hotel. Nanti jika pulang dari Masjidil Haram ke hotel, jamaah dapat naik bus itu kembali dari terminal di dekat Haram (terminal untuk bus kami bernama Syib Amir).

Penampakan bus Shalawat pada siang hari

Perjalanan dengan bus Shalawat pada dinihari dari hotel ke Masjidil Haram memakan waktu 20 menit saja. Bus Shalawat bernomor 8 berhenti di terminal Syib Amir. Dari terminal Syib Amir kami berjalan kaki menuju kompleks Masjidil Haram. Sepanjang jalur dari terminal Syib Amir ke pintu Masjidil Haram dipenuhi toko-toko dan restoran yang berjualan kebutuhan jamaah haji (makanan, buah-buahan, kurma, pakaian, asesori, dan sebagainya). Berbagai restoran cepat saji khas Arab berderet menawarkan makanan yang menggoda (restoran broast).

Terminal Syib Amir pada siang hari

Restoran dan toko-toko di Terminal Syib Amir

Sambil berjalan menuju Masjidil Haram, saya memandang menara Zamzam.  Menara Zamzam berdiri dengan gagahnya di beranda Masjidil Haram, tampak dari arah terminal bus. Di menara ini terdapat puluhan hotel dan mal. Jamaah haji ONH plus (sekarang bernama program Haji Khusus untuk membedakannya dengan program haji reguler) biasanya menginap di hotel2 di Menara Zamzam, bukan di pemondokan seperti yang kami tempati. Cukup berjalan 50 meter dari Menara Zamzam langsung masuk Masjidil Haram.

Masjidil Haram dan Menara Zamzam pada siang hari, tampak dari arah terinal Syib Amir

Menara Zamzam adalah bangunan paling tinggi di Kota Mekah. Dimana pun kita berada di Mekah pasti dapat melihat menara ini dari kejauhan. Di puncaknya berdiri bangunan bulan sabit dari emas murni yang beratnya berton-ton. Lalu sebuah jam besar yang menjadi patokan waktu di Mekah.

Crane-crane yang terlihat di dalam foto di atas menunjukkan bahwa pembangunan perluasan Masjidil Haram masih terus berlangsung. Sejak saya umrtah tahun 2015 hingga naik haji tahun ini, tampaknya perluasan Masidil Haram belum selesai-selsesai juga.

Kami memasuki Haram dari pintu Marwah. Ini adalah pintu tempat keluar jika sudah selesai sa’i. Dari pintu ini kami berjalan kaki ke arah ka’bah melewati jalur sa’i. Meski waktu saat itu dinihari, jamaah haji yang melakukan sa’i ramai sekali. Oh iya, rangkaian ibadah umrah terdiri dari thawaf, sa’i, dan ditutup dengan tahalul. Suhu udara di linatsan sa’i ini lumayan dingin karena banyak sekali dipasang kipas angin yang meniupkan udara dingin di dalam ruangan. Brrr….

Jalur melakukan sa’i, yaitu lari-lari kecil antara bukit Shhafa dan bukit Marwah

Setelah berjalan kaki melalui lintasan sa’i sampailah kami ke mataf, yaitu tempat melakukan thawaf. Allahu Akbar, tampaklah di depan kami ka’bah, Baitullah, Rumah Allah, yang selama ini hanya dapat dilihat gambarnya saja. Kami ingin thawaf di plaza, yaitu lantai dasar yang langsung berhadapan dengan ka’bah. Dari lantai dua kami turun ke lantai dasar. Suasana plaza di depan ka’bah saat dinihari itu sangat ramai dengan jamaah haji yang thawaf maupun yang sholat. Jamaah haji dari seluruh dunia sudah berdatangan ke Mekkah, jadi wajar saja Masjidil Haram saat itu sudah padat.

Ka’bah, kiblat ummat Islam sedunia. Sepotong bulan menggantung di atas kota Mekkah. Sungguh indah sekali malam itu.

Rombongan KBIH kami thawaf dalam satu kelompok. Jamaaah perempuan berada di tengah, lalu dibentengi di kiri kanannya dengan jamaah laki-laki. Pembimbing haji berada di depan memimpin thawaf. Agar suara pembimbing dapat didengar oleh jamaah, maka masing-masing kami dilengkapi dengan perangkat radio dan kabel earphone. Earphone dipasang ke telinga, dihubungkan dengan perangkat radio yang ditaruh di dalam tas paspor (tas paspor digantung ke leher). Setiap memutar ka’bah ustad pembimbing memandu bacaan doa, kami mendengarnya melalui perangkat earphone tadi, lalu melafalkan doa yang dibaca Pak Ustad.  Menurut saya cara ini lebih efektif daripada pembimbing haji mbaa doa keras-keras agar didengar jamaahnya.

Thawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran, dimulai dari sudut ka’bah yang terdapat hajarul aswad (batu hitam) dan setiap putaran berakhir di sudut itu juga. Untuk mengetahui letak hajarul aswad dari kejauhan, tedapat lampu berwarna hijau di sudut dinding masjid. Jamaah haji melihat ke lampu hijau itu untuk memulai putaran berikutnya. Bacaan yang dibaca ketika memulai putaran dari hajarul aswad adalah bismillahi allahu akbar sambil mengangkat tangan kanan dan mengecupnya (sebagai simbol mencium hajarul aswad).  Ketika melewati sudut ka’bah yang bernama sudut Yamani, jamaah juga melafalkan bacaan yang sama tatapi tanpa mengecup tangan.

Sebenarnya pada setiap putaran kita bebas membaca doa apa saja, namun Kemenag RI  telah meyediakan buku kecil yang berisi kumpulan doa selama thawaf dan sa’i. Jamaah yang melakukan thawaf sendiri dapt membaca doa di buku itu sembari memutar ka’bah.

Selama thawaf kita dapat menyaksikan gaya masing-masing jamaah berbagai negara dalam membaca doa. Ada yang berjalan sambil membaca buku doa, atau membaca doa dari layar ponsel. Rombongan jamaah haji Indonesia dari berbagai daerah dapat mudah dikenali. Jamaah haji Indonesia tubuhnya kecil-kecil namun tertib, kontras dengan jamaah haji dari Turki, India, Mesir, Asia Tengah, yang bertubuh besar-besar dan berjalan dengan sangat cepat. Selama thawaf kami sering tergencet tubuh-tubuh jamaah haji yang besar-besar itu, beberapa kali kami terdorong ke kiri dan ke kanan. Hampir saja rombongan kami terpecah, tetapi dapat bersatu kembali. Ibadah thawaf memang memerlukan fisik yang kuat karena selain berjalan sebanyak tujuh putaran kita juga harus mengantisipasi tergencet atau terdorong oleh jamaah haji lainnya dalam suana yang padat dna berdesak-desakan.

Kurang dari satu jam akhirnya kami selesai melaksanakan thawaf, lalu kami keluar dari putaran. Selanjutnya kami mencari tempat di dekat maqam Ibahim untuk melaksanakan sholat sunnat dua rakaat. Rakaat pertama membaca surat Al-kafirun, sedangkan rakaat kedua membaca surat Al-ikhlas. Selesai sholat sunnat, selanjutnya meminum air zamzam dari gentong-gentong yang banyak terdapat di sudut-sudut Masjidil Haram.

Selanjutnya jamaah haji menuju masa’a untuk melaksanakan sa’i. Sa’i adalah berlari-lari kecil antara bukit Safa dan bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Setiap kali dari Safa ke Marwa dihitung satu kali, begitu pula dari Marwa ke Safa. Sa’i merupakan pengulangan sejarah Siti Hajar yang mencari air untuk minum bayinya (Ismail) yang kehausan. Ismail terus menangis karena haus, sementara ASI Siti Hajar sudah kering. Saya mengenang ribuan tahun yang lalu kisah Siti Hajar dan putranya Ismail. Dia melihat dari bukit Safa sekiranya ada air di sekeliling padang yang tandus. Dia melihat ada bayangan air di bukit Marwah, lalu dia berlari ke bukit Marwah. Ternyata yang dia temukan adalah fatamorgana belaka. Kemudian dia balik lagi ke bukit Safa. Begitu seterusnya sebanyak tujuh kali.

Sekarang bukit Safa dan bukit Marwah sudah tidak ada lagi seperti zaman dulu. Pembangunan perluasan Masjidil Haram mengakibatkan kedua bukit itu telah dipapas. Yang tersisa adalah sebagian potongannya yang dijadikan memorabilia sebagai tanda di situ terdapat kedua bukit tersebut. Saat ini tempat sa’i sudah sangat nyaman dan terdiri dari tiga lantai.

Awal sa’i adalah dari bukit Safa ini.

Bukit Marwa

Sa’i dimulai dari Safa dan setelah tujuh kali berlari maka akan berakhir di Marwa. Pada  lintasan dari Safa ke Marwa maupun sebaliknya ada bagian lintasan yang ditandai dengan lampu berwarna hijau. Jamaah laki-laki berlari-lari ekcil pada bagian lintasan ini, sedangkan jamaah perempuan cukup berjalan cepat atau berjalan biasa saja. Di sepanjang lintasan sa’i terdapat kran air zamzam. Jamaah yang lelah dapat berhenti dulu untuk minum air zamzam lalu menersukan sa’inya.

Ibadah sa’i kami terpotong dengan sholat Subuh. Setelah berlari sebanyak lima kali, adzan Subuh berkumandang. Sa’i pun dihentikan sementara. Kami mencari  tempat di lintasan sa’i untuk bersiap-siap sholat Subuh berjamaah. Selesai sholat Subuh, ritual sa’i yang tersisa pun dituntaskan. Alhamdulillah, pukul 6 pagi kami sudah selesai menuntaskan sa’i. Ibadah umrah diakhiri dengan tahalul, yaitu memotong sedikit rambut sebagai simbol halal melakukan apa-apa yang dilarang selama berihram. Kami sudah boleh memakai pakaian baisa, namun pakaian biasa ada di kamar hotel, jadi nanti di sana saja.

Tuntas sudah ibadah umrah. Kami berjalan keluar Haram menuju terminal Syib Amir. Kami menaiki bus shalawat kembali ke hotel untuk beristirahat. Sebelum pulang, saya singgah dulu ke restoran Ayam Broast yang tadi saya lewati. Kayaknya makanannya enak juga, maklum perut sudah lapar. Saya membeli kentang goreng untuk sarapan nanti di hotel. (BERSAMBUNG)

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 1 Komentar

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 4): Masjid Nabawi dan Sekitarnya

Masjid Nabawi sangatlah besar dan interior di dalamnya sangat indah. Barangsiapa yang masuk ke dalamnya pasti akan merasa terkaum-kagum melihat keindahannya. Lengkung-lengkung di dalamnya dipengaruhi gaya masjid di Turki dan Cordoba (Spanyol). Karpet merah terbentang hampir di seluruh lantainya. Lampu-lampu kristal bergelantungan di langit-langit.  Pintu-pintunya sangat banyak. Jamaah haji harus mengingat di pintu mana ia masuk agar tahu kalau nanti kalau keluar supaya tidak tersesat.

Interior yang cantik di dalam Masjid Nabawi

Di dalam masjid Nabawi jamaah haji dari berbagai bangsa berkumpul untuk melaksanakan sholat maupun mengaji Al-Quran. Jika ingin mendapatkan shaf di dalam masjid, maka datanglah setengah jam sebelum sholat dimulai. Jika datang pas mendekati waktu sholat, maka mungkin jamah mendapat shaf paling belakang atau di luar masjid. Selama di Madinah jamaah haji memperbanyak sholat di Madjid Nabawi, karena sholat di Masjid Nabawi 1000 kali pahalanya dibandingkan sholat di masjid lain, kecuali di Masjidil Haram.

Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.).

Duduk-duduk di dalam masjid membuat kita betah dan tidak ingin untuk pulang. Udara yang sejuk di dalam masjid yang berasal dari pendingin udara membuat mata terkantuk-kantuk. Memang banyak jamaah haji menunggu waktu sholat berikutnya di dalam masjid. Setelah sholat maghrib, sebagian jamaah haji tetap berada di dalam Masjid Nabawi menunggu sholat Isya. Begitu juga setelah sholat Dhuhur, tetap berada di dalam masjid sambil menunggu waktu sholat Ashar.

Sambil menunggu waktu sholat berikutnya, sebagian jamaah menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Quran. Kitab Al-Quran tersebar di berbagai rak yang bertebaran di dalam masjid. Sebagian lagi saya lihat banyak jamaah haji tidur-tiduran di dalam masjid. Ternyata tidak di Indonesia saja jamaah tidur di dalam masjiid, di Saudi juga sama ya. Nah, kalau anda tidur di dalam masjid Nabawi, sebaiknya perhatikan  etika ini. Jangan tidur dengan menjulurkan kaki anda ke arah kiblat atau ke arah maqam Nabi (maqam nabi berada di bagian depan Masjid Nabawi). Jadi, kepala anda berada di sebelah barat dan kaki anda ke arah timur. Saya pernah ditegur oleh jamaah haji dari Bangladesh karena kaki saya menghadap ke arah maqam Nabi. Tidak menghormati Nabi, katanya.

Setiap hari Senin dan Kamis sore menjelang sholat Maghrib saya melihat  pemandangan yang unik.  Di atas karpet tempat sholat terbentang kain putih. Di atasnya ditata hidangan seperti roti Arab, kurma, dan air zam-zam (kadang-kadang yoghurt). Di ujung kain putih seorang pemuda Madinah  memohon-mohon kepada jamaah yang lewat di dalam di masjid Nabawi untuk singgah mencicipi hidangan yang mereka sediakan secara gratis. Halal, halal, katanya. Kalau kita tidak singgah mereka sedikit kecewa.  Hidangan ini sebenarnya ditujukan bagi jamaah yang akan berbuka puasa sunat, tetapi jamaah yang tidak puasa juga boleh makan.

Pemuda ini menawarkan hidangan kepada setiap jamaah yang lewat.

Sampai kenyang perut saya karena makan hidangan tsb di dekat pintu masuk, tapi ketika berjalan ke arah depan semakin banyak saja yang menawarkan dan sudah tidak sanggup lagi saya. Syukran, syukran, kata saya.

Kebiasaan menjamu jamaah biasanya saya dengar pada saat bulan Ramadhan. Saat itu banyak penduduk Makkah dan Madinah berlomba-lomba menyediakan hidangan gratis bagi orang yang berpuasa, mereka memohon agar orang yang lewat mencicipi takjil untuk berbuka puasa. Setelah Ramadhan, kata pemuda itu menjelaskan dengan bahasa Inggris yang patah-patah, kebiasaan itu berlanjut setiap hari Senin dan Kamis.

Jamaah sedang mencicipi hidangan dari penduduk Madinah yang dermawan.

Saat musim haji seperti sekarang sekitar 2 juta jamaah datang dari berbagai penjuru dunia memenuhi kota Madinah. Tentu penduduk kota Madinah akan semakin berlomba meraih pahala dengan menjamu jamaah haji yang menjadi tamu-tamu Allah itu. Penduduk Madinah memang orang yang ramah, jadi teringat ketika Rasulullah dan kaum Muhajirin disambut dengan suka cita oleh kaum Anshar di Madinah. Allahumma shalli ala Muhammad.

Pemandangan lain yang saya lihat di dalam Masjid Nabawi adalah pemuda dan anak-anak kota Madinah sedang setor hafalan ayat Al-Quran kepada gurunya usai sholat Ashar. Mereka menghadap ke guru, lalu membacakan hafalan. Jika bacaannya salah maka dikoreksi oleh guru. Metode ini mirip dengan metode tahfidz di tanah air kita, atau mungkin yang metode di tanah air mengadopsi sistem di Madinah.

Anak-anak sedang setor hafalan Al-Quran

Seorang pemuda sedang setor hafalan Quran. Gurunya mendengarkan dengan seksama.

Di dalam Masjid Nabawi ada sebiuah tempat yang selalu menjadi incaran jamaah, apalagi kalau bukan Raudhah. Raudhah adalah sebuah area yan luasnya 100 meter persegi yang terletak di antara maqam Nabi dan mimbar Nabi. Dahulunya Raudhah adalah tempat yang terletak antara rumah Nabi dan mimbar Nabi. Masjid Nabawi dulu kecil adanya, sedangkan rumah Rasululllah terletak di luarnya. Rasulullah berkata:

Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman surga.” (HR. Bukhari, no. 1196 dan Muslim, no. 1391)

Ummat Islam meyakini bahwa Raudhah adalah tempat yang mustajab untuk berdoa. Tempat itu menyebabkan masuk surga dan bahwa doa serta shalat di dalamnya layak mendapatkan balasan seperi itu, demikan tafsir para ulama.

Sholat di Raudhah. Dibalik teralis berwarna hijau itulah terdapat makam Rasulullah, Abu Bakar Siddiq, dan Umar bin Khatab

Untuk bisa memasuki Raudhah perjuangannya sangat luar biasa. Ribuan orang berdesak-desakan antri untuk memasuki Raudhah. Untuk jamaah wanita disediakan jalur khusus dan hanya dibuka setelah sholat Subuh dan Ashar, sedangkan untuk jamaah laki-laki dapat ke Raudhah waktu kapan saja.

Setiap usai sholat lima waktu jamaah haji berlomba mendekati Raudhah. Para askar dan petugas cleaning service sudah membuat barikade dengan memblok jalur ke Raudhah. Mereka mengatur jamaah yang berdesak-desakan untuk memasuki Raudhah. Setiap kali masuk Raudhah dibatasi sekitar seratus orang. Jamaah yang tidak tahan terjepit biasanya keluar dari antrian. Untuk bisa memasuki Raudhah diperlukan waktu sekitar satu jam, yang penting sabar  saja. Sebaiknya jamah membekali dirinya dengan air minum karena antri di dalam keumunan yang sangat padat dan berdesak-desakan memerlukan stamina kuat. Waktu terbaik ke Raudhah adalah siang hari jam 10 pagi dan malam hari setelah jam 22.00. Saat itu antrian tidak terlalu padat karena jamaah sudah banyak yang pulang ke pemondokan.

Area Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau

Sholat dan berdoa di Raudah tidak bisa berlama-lama, karena jamaah yang lain juga antri untuk masuk ke dalamnya. Para askar meemberi waktu kira-kira 10 menit kepada jamaah berada di dalam Raudhah, lalu menyuruh jamaah segera keluar. Askar tidak berani mengusir jamaah yang sedang sholat di Raudhah, tetapi mereka “mengusir” jamaah yang terlalu lama berdoa. Padahal, setiap jamaah yang memasuki Raudhah sudah memiliki rencana sejumlah doa dan permohonan yang akan disampaikan di Raudhah. Jika dilakukan dalam keadaan terburu-buru karena kasip waktu tentu tidak akan kesampaian semua doa tersebut. Satu tips agar bisa berdoa agak sedikit lama di Raudhah adalah jangan berdoa sambil duduk menengadahkan kedua tangan sebegaimana kita berdoa pada umumnya, tetapi berdoalah sambil bersujud. Maksudnya, anda mengambil posisi sujud lalu berdoalah dalam keadaan sujud tersebut, askar menyangka anda sedang melaksanakan sholat. Seperti yang saya katakan tadi, askar tidak akan berani mengusir jamaah yang sedang sholat,  he..he..

Di Raudhah perasaan saya pun mellow-mellow. Saya hampir tidak percaya bisa duduk sebegitu dekat dengan Rasulullah, di sebelah maqamnya. Yang memisahkan saya dengan Rasulullah hanyalah waktu sejarak 1500 tahun. Lima belas abad yang lalu lelaki mulia itu tinggal dan dimakamkan di sini. Sekarang saya ada di sampingnya, jarak kami berdua hanya beberapa meter saja. Meski hanya berada disamping jasadnya yang sudah di dalam tanah, itu sudah membuat saya merasa terharu. Saya bayangkan dulu beliau bolak-balik dari rumahnya (yang sekarang menjadi maqamnya) ke mimbarnya melewati tempat yang saya duduki ini.

Ya Nabi salam alayka, ya Rasul salam alayka. ya habib salam alayka, shalawatullah alayka. Shalawat dan salam tercurah untukmu. Begitu besar kecintaan kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia kepadamu. Namamu selalu disebut setiap sholat, shalawat dan salam selalu dikirim kepadamu. Hanya engkau yang bisa memberi syafaat kepada umat di Hari Akhir nanti. Sekarang saya datang berziarah ke maqammu.

Selama di Madinah saya sudah beberapa kali bisa berhasil memasuki Raudhah. Beberapa kali gagal karena saking padatnya antrian yang berdesak-desakan. Pada hari terakhir saya meninggalkan Madinah sebelum berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan umrah, saya sempatkan datang ke Raudhah lagi sekitar jam 10 pagi. Saya akan “berpamitan” dengan Rasulullah. Disitulah saya sholat sunnah dua kali, dan pada shalat sunnat yang terakhir saya menangis sejadi-jadinya. Teringat perjuangan Rasulullah Muhammad SAW, teringat anak saya yang saya tinggalkan,teringat dosa-dosa saya. Saya berdoa dalam keadaan sujud, dan saya menangis lagi tidak terbendung.

Selesai sholat di Raudhah, jamaah keluar masjid dan melewati melalui maqam Rasulullah dan para sahabatnya (Abubakar Siddiq dan Umar bin Khatab). Di sini kita melakukan ziarah ke maqam Rasulullah. Jamaah biasanya berjalan pelan sambil mengintip ke dalam melalui celah-celah yang agak terbuka. Saya melihat ke dalam seperti ada cungkup yang ditutupi dengan kain hijau. Mungkin itulah maqam Rasulullah atau sahabatnya. Saya melihat berbagai kelakuan jamaah di depan maqam Nabi. Ada jamaah yang mengusap-ngusapkan tangannya ke pintu maqam, mengibas-ngibaskan kain atau pecinya ke pintu maqam, mungkin mereka ngalap berkah. Askar yang berjaga di sana selalu memperingatkan jamaah agar tidak melakukan perbuatan yang dianggap syirik atau bidáh. Hajj..haj..la..la, kata akar memperingatkan jamaah.

Berziarah ke maqam Rasulullah

Selama di Madinah jamah haji memaksimalkan sholat lima waktu di Masjid Nabawi. Pemerintah Indonesia memberikan waktu sembilan hari (termasuk hari kedatangan dan hari meninggalkan Madinah) kepada jamaah haji berada di Madinah untuk melakukan arbain, yaitu sholat wajib sebanyak 40 kali di Masjid Nabawi. Alhamdulillah, saya bisa melaksanakan arbain di Masjid Nabawi. Kalau saya hitung sejak waktu kedatangan di Madinah dan pergi meninggalkan Madinah, memang pas melaksanakan sholat wajib sebanyak 40 kali (kira-kira 8 hari, yaitu 8 x 5) di Masjid Nabawi. Kami sampai di Madinah pada waktu sore hari menjelang Ashar, dan pergi dari Madinah setelah sholat Ashar.

Sholat di Masjid Nabawi maupun mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Madinah tidaklah termasuk Rukun dan Wajib Haji. Jadi, sebenarnya tidak ada keharusan bagi jamaah haji untuk ke Madinah. Haji itu adalah wukuf d Arafah. Namun, jamaah haji berada di Madinah tujuannya adalah untuk berziarah dan tentu saja menikmati sholat di Masjid Nabawi.

Setelah dua hari berada di Madinah, Panitia Haji Indonesia memfasilitasi jamaah haji untuk mengunjungi dua tempat bersejarah, yaitu Masjid Quba dan Bukit (Jabal) Uhud, serta agenda tambahan mengunjungi kebun kurma. Masjid Quba adalah masjid yang pertama dibanun oleh Rasulullah, letaknya di luar kota Madinah. Jabal Uhud adalah tempat lokasi peperangan antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan nama Perang Uhud.

Pemerintah RI menyediakan 10 bis untuk setiap kloter melakukan ziarah ke sana. Pagi hari setelah sholat Subuh jamaah haji sudah bersiap menunggu di depan hotel untuk berangkat tur. Kunjungan pertama adalah ke Masjid Quba. Di sini jamaah haji melakukan sholat sunnah. Hanya sebentar di sini, karena masih ada kunjungan ke tempat lainnya.  Tur harus selesai sebelum waktu Dhuhur agar jamaah bisa sholat wajib di Masjid Nawabi.

Masjid Quba tampak dari luar

Mihrab Masjid Quba

Menara Masjid Quba

Setelah berfoto-foto di sini, dari Masjid Quba tur dilanjutkan ke Bukit Uhud. Pada siang hari Bukit Uhud tampak berwarna kemerah-merahan. Kita bisa membayangkan disinilah Rasulullah dan kaum muslimin Madinah berperang dengan kaum Quraisy. Pada Perang Uhud ini kaum muslimin menderita kekalahan akibat tidak mau menuruti perintah Rasulullah, mereka lebih tergoda dengan harta pampasan perang yang ditinggalkan kaum Quraisy.

Bukit Uhud

Bukit Uhud yang berwarna merah

Di kompleks Bukit Uhud ini terdapat makam para syuhada yang gugur dalam peperangan, termasuk Hamzah, Paman Nabi Muhammad, yang juga gugur. Kita dapat melihat kompleks pemakaman itu, tetapi karena ditutup dengan plastik putih sehingga kurang terlihat dengan jelas. Tidak terlihat seperti kuburan, tidak ada batu-batu nisan seperti makam di Tanah Air, karena begitulah kebiasaan di Arab Saudi dalam menguburkan jenazah.

Kompleks makam para syhada

Dari Bukit Uhud, tur dilanjutkan ke kebun kurma. Di kebun kurma ini terdapat toko yang menjual bermacam-macam jenis kurma dari yang berwarna kuning, merah, hingga hitam, salah satunya kurma ajwa, yang disebut juga kurma Rasul, karena Rasulullah menyunnahkan makan kurma ini. Kurma ajwa adalah kurma favorit dan selalu menjadi buruan jamaah haji. Menurut saya harga kurma di kebun kurma mahal-mahal, saya tidak menganjurkan jamaah membeli kurma buat oleh-oleh di sini. Lebih baik membeli kurma di Pasar Kurma di Madinah (Pasar Kurma terletak setelah Gate 7 dari Masjid Nabawi). Sebagai perbandingan, satu kg kurma ajwa di kebun kurma dijual 60 riyal, sedangkan di Pasar Kurma dengan kualitas yang sama harganya 40 hingga 50 riyal, bahkan bisa 30 riyal asal pandai menawar. Jamaah haji umumnya membeli kurma dalam jumlah yang banyak, mereka mengirimkannya melalui cargo ke tanah air, sebab ada batasan membawa barang ke dalam pesawat ketika pulang (hanya boleh membawa satu koper besar, satu ts tenteng, dan satu tas paspor).

Selesai tur, jamaah haji kembali ke hotel untuk mengejar sholat Dhuhur berjamaah di Masjid Nabawi.

Sebenarnya ada satu tempat lain yang juga menjadi keinginan jamah haji untuk mengunjunginyam di luar kota Madinah yaitu jabal magnit. Disebut demikian karena tempat ini dianggap memiliki pengauh medan magnet. Mobil dapat melaju kencang dalam posisi netral, bahkan bisa mencapai kecepatan 120km/jam padahal mobil lumayan besar 3500 cc. Supir bus kami membawa mobil dalam posisi kopling netral. Mobil melaju kencang namun mesin tetap hidup dan rem tetap dipakai sebagai pengendali.

Jabal magnet

Kawasan jabal manet

Jabal magnet tidak termasuk ke dalam paket tur yang saya ceritakan di atas. Jika berminat ke sana, jamaah haji dapat urunan menyewa bus. Rombongan KBIH kami menyewa satu bus ke sana, setiap kami urunan 30 riyal.

Ada beberapa masjid yang bisa diziarahi di sekitar Masjid Nabawi, yaitu tiga buah masjid bersejarah. Masjid pertama adalah Masjid Ali bin Abi Thalib, masjid kedua adalah Masjid Abu Bakar, dan masjid ketiga adalah Masjid Ghamammah. Sesuai namanya, Masjid Ali dan Masjid Abu Bakar memang dibangun oleh kedua khalifah tersebut. Masjid Ghamammah adalah masjid di mana Nabi melakukan sholat istisqa‘untuk meminta turun hujan.

Ketiga masjid tersebut tidak jauh dari Masjid Nabawi, namun tidak digunakan lagi untuk sholat. Pintu masjid terlihat dalam keadaan tertutup. Namun saya perhatikan banyak juga jamaah haji yang melakukan sholat sunnat di luar masjid tersebut, padahal sudah ada larangan untuk tidak melakukan sholat di sana.

Masjid Ali

Masjid Abu Bakar

Masjid Ghamammah

Seperti yang saya tulis di atas, rangkaian kegiatan di Madinah memang tidak masuk ke dalam Rukun Haji. Selama 9 hari jamaah haji Indonesia gelombang satu tinggal di Madinah sebelum bertolak menunaikan rukun haji di Mekah. Selama di Madinah jamaah sholat arbain di Masjid Nabawi dan berziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti Bukit Uhud, masjid Quba, Masjid Qiblatain, dan tiga madjid di atas. Masih ada lagi yang ingin dikunjungi yaitupercetakan Al-Qur’an, tetapi karena tidak punay waktu yang cukup maka kunjungan ke percetakan Al-Quran tidak jadi dilakukan. (BERSAMBUNG)

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | Meninggalkan komentar

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 3): Di Kota Nabi, Madinah nan Barokah

Selamat datang di kota Nabi, Madinah yang penuh barokah, ahlan wa sahlan. Inilah Madinah, kota yang damai dan tenteram. Ya Rasulullah, saya sampai ke kotamu yang warganya dulu menyambutmu beserta kaum muhajrin lainnya dengan ramah dan tangan terbuka.

Tidak perlu menempuh waktu lama dari bandara Madinah menuju hotel, karena bandara dekat dengan kota Madinah. Dua puluh menit perjalanan dengan bus sampailah kami di hotel  Taiba Arac Suites. Hotel Taiba terletak persis di samping Masjid Nabawi, yaitu di balik pagar masjid, tepatnya antara pintu gerbang 16 dan pintu gerbang 17.   Sangat dekat sekali, hanya sepelemparan batu saja.

Hotel Taiba Arac Suites, tempat kami menginap, terletak antara Gate 16 dan Gate 17

FYI, Pemerintah RI telah menyewa puluhan hotel di sekitar Masjid Nabawi. Hotel-hotel untuk pemondokan jamaah haji Indonesia di Madinah sangat dekat dengan Masjid Nabawi, paling dekat 50 meter dan paling jauh adalah 500 m. Kondisi ini sangat berbeda ketika di Mekah, hotel pemondokan jamaah haji Indonesia letaknya cukup jauh dari Masjidil Haram, paling dekat 1 km, paling jauh 7 km dari Haram (sebutan untuk masjidil haram).

Hotel-hotel di sekitar Taiba Arkac Suites.

Sesampai  di hotel, petugas kloter dan ketua rombongan  langsung melakukan pembagian kamar. Satu kamar bisa diisi dengan empat hingga enam orang. Hotel Taiba sangat besar, terdiri dari 15 lantai, kamar-kamarnya sangat banyak. Hotel ini dapat menampung 15.000 jamaah haji. Hotel Taiba menjadi pemondokan jamaah dari berbagai kloter dan daerah di tanah air. Jamaah haji yang menempati hotel ini saya ketahui datang dari Garut, Jember, Kabupaten Musi Rawas, Tegal, Palembang, Bandung, dan lain-lain.

Satu kamar dengan empat tempat tidur

Satu persoalan selama tinggal di hotel di Madinah adalah tidak ada tempat untuk menjemur pakaian, padahal kita cukup lama di Madinah yaitu selama sembilan hari. Hotel di Madinah tidak menyediakan rooftop untuk menjemur pakaian sebagaimana hotel di Mekah. Sebenarnya bisa saja menggunakan jasa laundry di hotel atau laundry di luar, tetapi tentu harganya cukup mahal. Alternatifnya adalah menjemur pakaian di dalam kamar mandi. Namun saya melihat jendela di sebelah tempat tidur saya bisa digeser sedikit jendelanya. Lubang-lubang jeruji di balik jendela itu ternyata bisa digunakan untuk mengaitkan gantungan jemuran. Saya membawa beberapa gantungan jemuran dari rumah. Jadilah saya dan teman sekamar bergantian menjemur pakaian di balik jendela itu. Menjemur pakaian di Madinah tidak perlu menunggu waktu lama untuk kering. Udara yang panas membuat pakaian basah cepat kering. Tiga sampai empat jam saya jemur pada siang hari sudah kering.

Karena hotel ini menampung belasan ribu jamaah haji, maka kejadian yang sering menjengkelkan adalah saat naik lift menuju lantai kamar. Usai sholat di Masjid Nabawi, ratusan jamaah haji kembali ke hotel  untuk beristirahat dan makan. Lift yang tersedia di berbagai sisi di hotel jumlahnya terbatas sementara yang mau naik ratusan orang. Maka yang terjadi adalah tumpukan jamaah yang tidak sabar untuk antri naik lift. Usai sholat Dzuhur dan Isya di Masjid Nabawi adalah saat-saat rush hour di depan lift hotel.

Pemandangan padatnya jamaah menunggu naik lift saat rush hour 

Tipikal orang Indonesia adalah  tidak mau antri atau membentuk barisan yang tertib. Mereka saling dorong untuk masuk lift terlebih dahulu. Lift bergerak menuju setiap lantai untuk menurunkan jamaah dari lantai dua sampai lantai 15, lalu kembali ke bawah. Terbayang kan lama sekali menunggu lift itu turun kembali ke lantai dasar. Oleh karena itu, banyak jamaah haji memilih menunggu dulu di masjid sampai merasa antrian di lift sudah mulai berkurang, baru kemudian pulang.

Antri naik lift

Masjid Nabawi yang terletak persis disamping hotel memudahkan saya dan jamaah lain untuk setiap waktu ke sana. Cukup berjalan kaki selama 5 menit sampailah kita ke pintu masjid.  Masjid Nabawi sangat luas. Kata ustad pembimbing haji kami, dulu luas kota Yastrib (Madinah sekarang) adalah seluas masjid Nabawi sekarang.

Berjalan kaki mengelilingi Masjid Nabawi melalui pelatarannya memakan waktu setengah jam. Waktu yang cocok untuk berjalan mengelilingi  Masjid Nabawi adalah seusai sholat subuh, sore hari menjelang Maghrib, atau malam selepas Isya. Saat itu udara kota Madinah sudah mulai sejuk. Payung-payung raksasa di pelataran masjid sudah menguncup. Ketika siang hari, payung-payung itu dikembangkan agar jamaah terlindung dari panas menyengat. Payung-payung dikembangkan secara otomatis dari sentralnya setiap usai sholat Subuh dan dikuncupkan lagi menjelang sholat Mahgrib. Sangat menarik menyaksikan detik-detik payung-payung itu mengembang atau menguncup saat bersamaan. Jika pada siang hari kita datang ke masjid,  kita tidak dapat melihat rupa masjid secara utuh karena tertutup oleh payung-payung itu. Jadi waktu terbaik memotret masjid adalah saat payung itu menguncup.

Biasanya foto dengan latar belakang Masjid Nabawi tertutup oleh payung-payung raksasa yang mengembang. Saat payungnya menguncup pada sore hari, barulah tampak masjidnya.

Jamaah haji harus menghafal nomor-nomor pintu masjid dan nomor pintu gerbang agar tidak kesasar. Pintu masuk masjid banyak sekali, jadi jangan sampai lupa nomornya. Masuk dari pintu berapa dan keluar lagi melalui pintu yang sama. Jangan sekali-sekali merasa takabur dengan mengatakan “ah, gampang kok“, seringkali saya mendengar cerita jamaah yang tidak tahu arah pulang karena merasa takabur. Jadi, hati kita harus dibersihkan, jangan sombong atau takabur.  Dulu waktu saya umrah pintu gerbang tidak diberi nomor, hanya bangunan toilet yang diberi nomor, sekarang setiap pintu gerbang sudah diberi nomor. Hotel saya terletak di antara gerbang nomor 16 dan 17.

Saat malam hari setelah sholat Isya atau sholat Subuh adalah saat yang cukup syahdu untuk  berjalan-jalan di pelataran masjid menikmati rupa Masjid Nabawi. Langit malam di atas masjid Nabawi tampak bersih tanpa awan. Tidak tampak bintang-bintang, tetapi sepotong bulan sabit terlihat menggantung begitu indahnya.

Sepotong bulan di atas langit Madinah.

Suasana di dalam Masjid Nabawi akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri sesudah tulisan ini.

Jamaah haji berada di Madinah selama sembilan hari untuk dapat melaksanakan arbain, yaitu sholat wajib 40 kali di Masjid Nabawi. Karena pemondokan jamaah haji hampir seluruhnya sangat dekat dengan masjid Nabawi, maka jamaah haji insya Allah dapat melaksanakan sholat wajib sebanyak 40 kali di sana. Saya sudah menghitung sejak  mulai check-in  di hotel  hingga check-out, memang pas waktunya untuk 40 kali sholat wajib di Masjid Nabawi. Sholat arbain di Masjid Nabawi hukumnya sunnah, jadi jamaah haji tidak perlu memaksakan diri. Jika tidak kuat, tidak usah dipaksakan. Tapi kalau badan sehat usahakanlah karena kesempatan sholat di Masjid Nabawi adalah langka, tidak akan kita dapatkan kalau kita sudah pulang ke tanah air.

Selama di Madinah jamaah haji mendapat makan dari Pemerintah RI setiap hari dua kali sehari (makan siang dan makan malam). Pemerintah Indonesia menyediakan layanan catering haji tahun ini sebanyak 40 kali, lebih banyak daripada tahun lalu yang hanya 25 kali. Perusahaan catering haji di Madinah dan Makkah wajib menyediakan makanan dengan menu Indonesia. Bumbu-bumbu masakan didatangkan dari Indonesia. Koki yang memasak makanan sudah dilatih oleh tim dari NHI,  sebuah perguruan tinggi bidang perhotelan di Bandung, agar bisa memasak masakan dengan menu Indonesia.

Catering haji di Madinah (nasi kotak untuk makan siang)

Catering haji diantar ke hotel tempat jamaah menginap dua kali sehari. Satu paket catering terdiri dari nasi kotak, buah segar (bervariasi, kadang apel, pir, atau jeruk), dan satu botol air mineral. Biasanya paket catering sudah sampai di hotel pukul 10 pagi untuk makan siang dan pukul 16 sore untuk makan malam. Jadi, sebelum sholat Dzuhur dan sebelum sholat Maghrib kita sudah bisa makan. Kalau jamaah ingin tetap berada di Masjid Nabawi dari Maghrib sampai Isya, maka makan malam sebelum berangkat sholat maghrib ke Masjid Nabawi sudah bisa dilakukan di hotel. Sehingga,  pulang  sholat Isya dari Masjid Nabawi jamaah tinggal beristirahat (tidur) saja lagi.

Menurut saya yang merasakan catering di Madinah dan Makkah, menu catering di Madinah cenderung lebih enak rasanya dan lebih variatif dibandingkan menu catering di Makkah. Memang soal rasa sangat subyektif pada setiap orang. Menu catering di Makkah cenderung membosankan (itu-itu saja) dan kurang ada rasa (bumbu), sedangkan menu catering di Madinah lebih kaya bumbu. Tapi saya tetap memakannya, itu semua adalah rezeki dari Allah dan jangan ditolak.

Menu catering di Madinah cenderung pedas, sedangkan di Makkah rasanya manis. Bagi saya yang orang Minang, saya merasa cocok dengan catering di Madinah, tetapi kurang cocok dengan catering di Makkah. Untunglah saya membawa bekal rendang dari Bandung, sehingga kalau menu cateringnya kurang cocok dengan lidah saya, maka rendang iniah sang “penyelamat” makan, he..he. Rendang padang merek Asese dikirim kakak saya dari Padang sebagai bekal haji. Saya rasa hampir setiap jamaah haji dari  setiap daerah membawa masakan khas mereka sendiri  ke Tanah Suci untuk mengantisipasi masakan yang kurang sesuai selera.

Menu makan siang dari catering haji

Untuk sarapan pagi jamaah haji harus mencari sendiri. Bekal mie instan seperti Indomie dari tanah air cukup membantu untuk sarapan pagi. Sebenarnya kita tidak perlu membawa banyak mie instan dari tanah air, sebab di Makkah dan Madinah mie instan Indomie dalam kemasan bahasa Arab banyak dijual di supermarket maupun toko-toko kelontong di sana, harganya 2 riyal (1 riyal sekitar 4000 rupiah).

Tentu membosankan dan kurang menyehatkan jika sarapan pagi selalu dengan mie instan terus. Di sekitar hotel banyak gerai yang menjual kentang goreng dan kebab khas Arab bernama shawarma. Kentang goreng dan shawarma harganya sama yaitu 5 riyal. Shawarma  isinya potongan daging ayam panggang yang dicampur dengan sayur kol yang sudah disiram dengan saus, lalu dibungkus dengan lapisan roti tipis seperti kebab umumnya. Rasanya segar dan gurih, lebih enak jika ditambahkan saus cabe.

Pedagang shawarma (kebab Arab). Sarapan pagi dengan kebab.

Beberapa restoran Indonesia juga terdapat di sekitar hotel. Ada bakso, ikan goreng, tempe, dan lain-lain, tetapi harganya cukup mahal. Bakso si Doel misalnya, harganya 15 riyal (60 ribu rupiah), sudah termasuk satu botol air minum. Biasanya restoran Indonesia ramai saat sarapan pagi usai sholat subuh.

37880786_1969617303106285_2325967507975831552_n

Rumah makan Indonesia di Hotel Andalusia, dekat gerbang 17

37775469_1969618939772788_6720018750306779136_n

Bakso si Doel, 14 riyal

Usai sholat Subuh di Masjid Nabawi jamaah haji kembali ke hotel, sebagian lagi jalan-jalan di pertokoan yang banyak terdapat di lantai dasar dan lantai basement setiap hotel, apalagi kalau bukan untuk  berbelanja. Oh iya, hampir setiap hotel di sekitar masjid Nabawi memiliki pertokoan di lantai dasar dan basement. Antara satu hotel dan hotel lain sering ada jalur bawah tanah yang menghubungkan pertokoan itu. Paling banyak toko yang menjual perhiasan emas, sajadah, peci haji, dan jam tangan. Ibu-ibu sangat senang mengunjungi toko emas, sebab emas di Madinah dan Makkah kualitasnya bagus-bagus.

Jamaah haji Indonesia dengan ciri khas kain sarungnya.

Jamaah haji Indonesia mudah kita temukan di mana-mana di Madinah. Pertama karena jumlahnya paling banyak dibandingkan dari negara lain. Kedua, ciri khasnya adalah pakaian mereka. Jamaah haji Indonesia dikenali dari kopiahnya, baju batiknya, atau kain sarungnya.  Kebiasaan orang Indonesia, terutama kaum santri atau nahdliyin dari Jawa, yang selalu memakai sarung ketika ke masjid juga dibawa ke Tanah Suci.  Namun itulah kekhasan bangsa kita. Busana adalah salah satu ciri khas jamaah haji Indonesia (BERSAMBUNG)

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 3 Komentar

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 2): Dari Embarkasi Haji Bekasi Menuju Madinah

Setelah menempuh perjalanan 6 jam dari Bandung (termasuk istirahat dan makan di RM Cibening Sari, Purwakarta, akhirnya  rombongan 10 bus Kloter 7 JKS sampai di Embarkasi Haji  Bekasi. Ini adalah embarkasi untuk jamaah haji dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Dulu embarkasi ini bernama Asrama Haji Pondok Gede. Kabarnya tahun depan embarkasi haji untuk jamaah haji Jawa Barat dipindahkan ke Bandara Kertajati, Majalengka. Tahun ini belum bisa di Kertajati karena asrama haji belum dibangun.

Di Embarkasi Haji Bekasi kami cukup lama menunggu untuk masuk aula dan belum bisa beristirahat di asrama. Kami harus menunggu selesainya pemrosesan kedatangan jamaah haji Kloter 6 dari Tasikmalaya. Sambil menunggu masuk aula, jamaah haji duduk-duduk saja di lorong asrama. Udara kota Bekasi saat itu terasa gerah, jamaah yang kelelahan selama perjalanan banyak yang duduk tertidur sambil terangguk-angguk. Semua jamaah haji memakai seragam batik nasional yang berwarna hijau. Seragam batik ini dipakai saat keberangkatan dan saat kepulangan. Tetapi, di Tanah Suci banyak juga jamaah haji Indonesia tetap memakai batik ini sehari-hari ketika ke Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Batik menjadi identitas jamaah haji Indonesia. Dengan melihat jamaah yang memakai seragam batik tersebut, maka tahulah kita jika mereka adalah saudara sebangsa dan setanah air di Tanah Suci.

Duduk-duduk menunggu panggilan masuk aula

Kompleks embarkasi Haji Bekasi cukup luas. Di dalamnya terdapat asrama, masjid, aula, dan lapangan untuk manasik haji. Ada minatur ka’bah di tengahnya. Tetapi keberadaan kami di embarkasi ini hanya selama 12 jam, jadi mana sempat untuk latihan manasik haji. Jadilah ka’bah mini itu hanya untuk dipandang-pandang. Insya Allah kami akan melihat ka’bah yang sebenarnya dalam waktu beberapa hari lagi.

Embarkasi Haji Bekasi

Akhirnya, setelah rombongan Kloter 6 selesai diproses, rombongan jamaah haji Kloter 7 dipanggil untuk masuk ke dalam aula. Di dalam aula ini ada seremoni penyambutan jamaah haji, lalu serah terima jamaah haji hari PPIH Kota Bandung ke PPIH Pusat, dan beberapa pengarahan yang cukup lama. Tidak apa-apalah, jamaah haji banyak yang berusia lanjut, jadi kepada mereka memang perlu pengarahan secara detil. Selain itu, di sini jamaah haji juga diperiksa kembali kesehatannya. Khusus untuk jamaah haji perempuan yang masih berusia produktif, ada lagi tes urin untuk memastikan sedang tidak hamil. Jika teryata positif hamil, maka jamaah tersebut terpaksa dibatalkan keberangkatannya.

Di dalam aula , menerima berbagai pengarahan dan….uang riyal.

Tibalah pembagian yang ditunggu-tunggu, he..he. Setiap jamaah mendapat living cost sejumlah 1500 riyal atau setara 6 juta rupiah. Living cost adalah tradisi Pemerintah RI sejak dulu. Living cost diberikan sebagai bekal jamaah selama di Tanah Suci. Di Tanah Suci jamaah haji mendapat makan 40 kali  (makan siang dan makan malam) berupa layanan catering haji. Tidak setiap hari jamaah haji mendapat catering makan, ada sejumlah hari tidak mendapat catering, yaitu beberapa hari sebelum dan sesudah pelaksanaan wukuf. Selain itu, jamaah haji tidak mendapat sarapan pagi. Sarapan pagi harus dibeli atau disiapkan sendiri. Jadi, uang living cost itu tujuanya digunakan sebagai bekal membeli makanan selama tidak mendapat layanan catering, juga untuk membeli sarapan pagi setiap hari, dan membeli barang kebutuhan lainnya. Namun dalam pengamatan saya di Tanah Suci, living cost yang dibagikan lebih banyak digunakan jamaah haji untuk membeli oleh-oleh di Madinah dan Mekah, he..he. Selain living cost, jamaah haji juga mendapat uang pengganti pembuatan paspor sejumlah Rp350.000. Dalam hati saya berkata, paspor saya ini sudah lama dibuat, tetapi tetap dapat penggantian biaya, ya diterima saja, anggap saja rezeki.

Umumnya jamaah haji juga telah menyiapkan bekal uang sendiri dalam bentuk pecahan riyal. Ada jamaah yang membawa banyak riyal, tapi saya membawa secukupnya saja, hanya beberapa ratus riyal saja yang saya tukarkan di bank. Tidak perlu khawatir kekurangan uang riyal di Saudi. Selain ada jasa penukaran uang di sana, asalkan kita punya kartu ATM dengan logo VISA (contohnya kartu ATM Bank Mandiri), maka kita bisa menarik uang riyal di ATM mana saja di Saudi.

Nah, selain dapat uang di atas, jamaah haji mendapat lagi souvenir dari Kemenkes RI, berupa obat-obatan (oralit, krim anti pegal-pegal, hansaplast, dll), setumpuk masker (padahal saya sudah membeli banyak masker sebelum berangkat, di sini dapat banyak masker lagi), dan tabung air semprot . Walah, tas koper dan tas tentengan saya sudah penuh, mau ditaruh dimana lagi barang-barang souvenir tadi. Jamaah haji mendapat satu buah koper, satu tas tenteng, dan satu tas paspor dari maskapai. Hanya tiga tas itu saja yang boleh dibawa ke dalam pesawat. Koper sudah dibawa duluan dari Bandung oleh truk ke bandara, tas tenteng sudah penuh dan padat, akhirnya terpaksalah dicari-cari ruang di dalam tas tenteng untuk memasukkan souvenir dari Kemenkes.

Setelah dua jam di dalam aula, akhirnya jamaah haji mendapat pembagian kamar asrama untk beristirahat. Saya mendapat kamar di gedung yang lama, satu kamar berisi 10 tempat tidur dalam bentuk ranjang susun. Gedungnya kusam, kamar mandinya di luar, dan AC nya tidak jalan. Malam hari terasa gerah sekali, saya tidak bisa tidur. Ah, memang tidak akan bisa tidur, sebab jam 2 malam nanti harus siap-siap bangun lagi untuk berangkat ke bandara Soekarno-Hatta.

Selama di embarkasi ada kegiatan yang baru pertama kali dilakukan pada tahun ini, yaitu pengambilan data biometrik (sidik jari, foto retina,  dan foto wajah). Malam hari setelah Isya, jamaah dipanggil untuk pengambilan data biometrik. Biasanya kalau kita keluar negeri, pengambilan data biometrik ini dilakukan di bandara kedatangan (dalam hal ini bandara di Saudi), tetapi tahun ini ada inovasi baru, yaitu pengambilan data biometrik dilakukan di Embarkasi haji. Proses pengambilan data biometrik ini akan mempersingkat waktu tunggu jamaah di bandara Saudi nantinya. Pengambilan data biometrik dilakukan oleh petugas Indonesia namun di bawah pengawasam Imigrasi Saudi. Tahun ini pengambilan data biometrik hanya dilakukan di beberapa embarkasi saja sebagai percontohan, tahun depan mungkin di semua embarkasi.

Hmmm…malam yang melelahkan. Saya tidak bisa memejamkan mata sepicingnpun di dalam kamar asrama. Selain gerah, juga banyak nyamuk. Jamaah haji yang mendapat kamar di gedung yang baru mungkin lebih beruntung, karena kamarnya mirip dengan kamar di hotel bintang tiga. Tapi saya tetap mensyukuri apapun yang saya terima.

Jam dua malam jamaah harus bangun dan siap-siap untuk berangkat ke bandara. Jamaah melewati proses pemindain X-ray di embarkasi, semua bawaan jamaah berupa tas tenteng dan tas paspor diperiksa dengan sinar X untuk memastikan tidak ada benda-benda terlarang dan ciaran yang melebihi 100 ml. Jadi, nanti di bandara kita tidak melewati pemeriksaan X-ray lagi, sebab jamaah haji langsung diantar ke tangga pesawat.

Jam empat pagi akhirnya jamaah haji masuk ke dalam bus-bus untuk berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Bus-bus dikawal kembali oleh mobil patwal dari embarkasi menuju bandara. Sesampai di bandara, mula-mula kita dibawa ke bagian imigrasi bandara. Saya kira kita akan diperiksa lagi oleh imigrasi Indonesia, ternyata bukan. Di bandara Soekarno-Hatta kita melewati imigrasi Saudi! Ya, untuk mempersingkat pemeriksaan imigrasi di Saudi, petugas imigrasi dari Saudi didatangkan langsung ke Jakarta. Di sini paspor dan data biometrik kita dicocokkan kembali oleh petugas Saudi. Proses ini menurut saya akan mempersingkat antrian jamaah di bandara kedatangan, sebab di bandara Saudi tidak perlu pemeriksaaan imigrasi lagi, jamaah haji bisa langsung keluar bandara seturun dari pesawat.

Jam tujuh pagi jamaah mulai memasuki pesawat. Jam delapan tepat pesawat pun take-off. Pesawat yang membawa jamaah haji Kloter 7 adalah dari maskapai Saudia. Pesawatnya sama dengan pesawat ketika saya umrah tahun 2015 yang lalu. Garuda Indonesia hanya membawa jamaah haji dari beberapa bandara saja, yaitu Padang, Solo, Banda Aceh, Makassar, dan Banjarmasin, selebihnya diangkut oleh maskapai Saudi. Menurut saya maskapai Saudia ini bagus, pesawatnya lebar dan besar. Susunan kursinya dalam satu baris 3, 4, 3. Sajian makanannya juga enak. Selama dalam penerbangan penumpang mendapat dua kali makan (meal), dan berbagai snack serta minuman. Pramugarinya selain orang Arab juga ada orang Indonesia. Pengumuman disampaikan dalam bahasa Arab dan dalam Bahasa Indonesia.

Sepuluh jam di dalam pesawat cukup menjemukan. Kita dapat mengisi waktu dengan tidur, membaca Quran, atau menikmati hiburan (flight entertainmet) melalui layar  TV di depan kita. Di luar sana hanya terlihat awan dan cahaya terang (kami berangkat pagi hari). Oh ya, jika anda jamaah haji yang berangkat pada gelombang kedua, maka anda sudah harus memakai kain ihram ketika masuk pesawat karena nantinya anda kangsunke Mekah untuk melaksanakan umrah wajib. Untuk jamaah haji pada gelombang satu tetap memakai pakaian biasa karena belum akan melaksanakan umrah.

Memasuki wilayah daratan Saudi terlihatlah pemandangan yang tandus. Bukit batu dan gurun pasir yang tandus terlihat di bawah sana. Masya Allah, di negeri yang tandus inilah Nabi Muhammad diutus oleh Allah SWT kepada kaum Quraish yang jahiliyah.

Bukit-bukit batu yang tandus terlihat dari atas pesawat.

Tepat pukul 14.0o waktu Madinah, pesawat mendarat di Bandara Madinah. Alhamdulillah, perjalanan sangat lancar. Tiba di bandara Madinah kami disambut dengan suhu udara 41 derajat Celcius! Arab Saudi sedang musim panas pada bulan Juli hingga September. Suhu siang hari sangat panas, udara malm hari terasa gerah.

Alhamdulillah, pesawat yang membawa Kloter 7 JKS mendarat di bandara Madinah

Tidak perlu berlama-lama di bandara ini. Tidak ada pemeriksaan imigrasi lagi karena sudah dilakukan di bandara Soekarno-Hatta. Jamaah haji dapat langsung keluar bandara. Koper-koper dan tas tenteng sudah diurus oleh porter dan dimasukkan ke dalam bus untuk dibawa ke hotel. Jamaah haji segera menuju hotel tempat pemondokan selama berada di Madinah. Kami adalah jamaah haji Gelombang 1, jadi akan berada di Madinah dulu selama sembilan hari, baru kemudian pindah ke Mekah (BERSAMBUNG).

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 2 Komentar

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 1): Dari Bandung Menuju Embarkasi Haji

Pengantar: Selama satu bulan lebih, lebih tepatnya 41 hari, saya cuti menulis di dalam blog ini karena saya menjadi tamu Allah SWT di Tanah Suci Makkah dan Madinah untuk menunaikan Rukun Islam yang ke-5, Haji. Sebelum berangkat ke Tanah Suci, saya sudah berniat untuk menuliskan perjalanan haji sepulang dari sana, sebagaimana dulu saya pernah menuliskan tulisan berseri catatan perjalanan Umrah tahun 2015. Insya Allah saya akan menuliskan pengalaman haji sebagai tulisan berseri, dengan maksud berbagi pengalaman kepada pembaca yang belum pernah naik haji, atau sekedar bernostalgia merajut kenangan bagi pembaca yang sudah pernah menunaikan haji.

Sebelum menulis seri tulisan tentang haji, saya sudah menulis beberapa tulisan pendahuluan sebagai berikut:

  1.  Bismillaahirrahmaanirrahiim, Memulai Niat ke Tanah Suci
  2.  Menuju Haji 2018
  3. Rindu dengan Rasulullah

************************************************************************************

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu selama enam tahun pun tiba. Setelah mengikuti manasik selama tiga bulan di KBIH Mega Arafah (d/h Mega Citra), akhirnya kami diberitahu bahwa keberangkatan haji ke tanah suci adalah pada tanggal 19 Juli 2018. Saya dan jamaah lain di KBIH tersebut tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter 7), dengan kode JKS 07 embarkasi Bekasi.Saya pergi haji sendiri, tidak bersama istri. Istri saya sudah haji tahun 2011. Kami tidak bisa pergi haji berdua karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Tanggal 18 Juli 2018 sebelum sholat subuh semua jamaah haji sudah berkumpul di KBIH sebelum berangkat ke Mapolda Jabar di Gedebage, Bandung. Semua jamaah haji kota Bandung berangkat ke embarkasi Bekasi dari Mapolda Jabar. Di kantor KBIH kami dilepas oleh keluarga. Di sana tidak tertahankan lagi isak tangis dan peluk cium yang mengharukan antara jamaah haji dengan keluarganya, seperti hendak pergi selama-lamanya dan tidak bertemu lagi. Pergi haji masih dianggap pergi ke tempat yang jauh dan dalam jangka waktu yang lama (40 hari). Belum tentu jamaah haji bisa pulang ke tanah air, mungkin saja ditakdirkan wafat di Tanah Suci. Hidup dan mati hanya Allah yang tahu, kita tidak tahu di bumi mana kita dilahirkan dan di bumi mana kita diwafatkan. Setiap tahun memang ratusan jamaah haji Indonesia meninggal dunia di Tanah Suci. Faktor penyakit bawaan dari tanah air atau usia lanjut adalah faktor terbesar meninggalnya jamaah haji di sana.

Saya pun larut dalam kesedihan. Apalagi saya pergi haji sendiri, meninggalkan anak dan istri di rumah tanpa kehadiran saya. Namun, saya selalu teringat kata-kata ustadz pembimbing haji ketika manasik. Katanya, jika kita berangkat haji, maka pasrahkan saja semuanya kepada Allah SWT.  Kita pasrahkan keluarga kita dan harta yang kita tinggalkan kepada Allah. Biarlah Allah saja yang menjaganya. Insya Allah dengan memasrahkan diri kepada Allah kita dapat berangkat ke Tanah Suci dengan tenang.

Dari kantor KBIH di Jalan Cimandiri (belakang Gedung Sate), kami berangkat dalam rombongan satu bus ke Mapolda Jabar di Gedebage, Jalan Soekarno-Hatta Bandung. Di sana semua rombongan jamaah haji Kloter 07 dari berbagai KBIH dikumpulkan.  Jamaah haji Kloter 7 semuanya 410 orang. Mereka berasal dari KBIH Maqdis, KBIH Mega Arafah, KBIH As-syakur, KBIH Al-Abror, KBIH Unisba, dan beberapa orang jamaah haji mandiri (tidak tergabung dalam KBIH manapun).

Di Mapolda Jabar jamaah haji Kloter 7 dikumpulkan di Masjid. Di sana jamaah masih diberi pengarahan dan kiat-kiat sehat di Tanah Suci. Setelah serangkaian seremoni, akhirnya jamaah haji masuk kembali ke dalam bus masing-masing, siap berangkat ke embarkasi Jawa Barat di Bekasi.

Bersiap-siap memasuki bus

Berfoto bersama di Mapolda Jabar sebelum berangkat ke Embarkasi

Satu persatu bus rombongan haji (10 bus) meninggalkan Mapolda Jabar. Para pengantar,  yang merupakan keluarga jamaah haji, yang menunggu di luar (tidak boleh masuk ke dalam Mapolda) menyemut memberikan lambaian tangan selamat jalan. Tak terasa air mata pun menetes. Sungguh mengharukan. Sepanjang jalan dari Mapolda Jabar hingga perempatan lampu merah di Gedebage para pengantar berbaris melambaikan tangan. Perjalanan haji adalah perjalanan jauh, mungkin juga perjalanan menuju kematian. Para pengantar itu datang beramai-ramai ke Mapolda. Ada yang menyewa angkot, minibus, atau membawa mobil pribadi.

Lambaian tangan selamat jalan dari pengantar

Para keluarga pengantar jamah haji berbaris sepanjang jalan melambaikan tangan selamat jalan

Labbaikallahumma labbaik, labbaikala syarikalaka labbaik. Hamba datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.

Bus-bus rombongan jamaah haji selama perjalanan dari embarkasi menuju Embarkasi Haji di Bekasi dikawal oleh mobil Patwal polisi sehingga mendapat prioritas jalan. Bunyi sirine meraung-raung sepanjang jalan.  Bahkan, ketika tol Cikampek ditutup karena ada pembangunan jalan LRT,  khusus untuk rombongan jamaah haji dibuka khusus. Serasa menjadi tamu VIP saja.

Di Kabupaten Purwakarta bus berhenti di RM Cibening Sari untuk makan siang. Pemkot Bandung mentraktir jamaah haji makan siang gratis di rumah makan tersebut. Memang selama mengikuti haji mulai berangkat dari Bandung hingga kembali ke Bandung jamaah haji mendapat banyak perlakuan istimewa. Mungkin sebabnya satu: jamaah haji itu adalah tamu-tamu Allah, sehingga banyak orang/instansi berlomba memuliakan tamu-tamu itu, meskipun sebagai jamaah haji tidak pernah meminta perlakuan khusus tadi.

Oh iya, kloter saya, Kloter 7, termasuk dalam keberangkatan gelombang pertama. Sebagaimana diketahui, pemberangkatan jamah haji dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama dari tanggal 16 Juli – 30 Juli 2018, jamaah haji diterbangkan ke Madinah dulu. Gelombang kedua dari tanggal 31 Juli – 15 Agustus 2018, jamaah haji diterbangkan ke Mekah via Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Jamaah haji gelombang satu akan berada di Madinah dulu selama sembilan hari sebelum bertolak ke Mekah, sedangkan jamaah haji gelombang kedua tinggal di Mekah dulu selama 31 hari, baru kemudian pindah ke Madinah selama sembilan hari. Jadi, jamaah haji gelombang satu nantinya pulang ke tanah air melalui bandfara Jeddah, sedangkan jamah haji gelombang dua pulang melalui bandara Madinah.

Pembagian dua gelombang ini karena jamaah haji Indonesia sangat banyak jumlahnya tahun ini mencapai 220.000 orang, sehingga tidak mungkin diangkut semuanya secara serentak dalam satu periode. Mengangkut 220.000 orang dengan pesawat terbang sama dengan memindahkan seluruh penduduk sebuah kabupaten di Sumatera, dan menurut saya ini adalah sebuah pekerjaan raksasa.

Berangkat pada gelombang satu atau gelombang dua sama-sama memiliki plus minus. Jika berangkat pada gelombang satu, maka perginya lebih awal dan pulangnya ke tanah air juga lebih awal. Minusnya adalah terlalu lama menunggu puncak ibadah haji (wukuf di Arafah, energi jamaah sudah terkuras untuk mengerjakan ibadah sunnah di Madinah dan Mekah, sehingga ketika masa puncak haji kondisi kebugaran dan kesehatan jamaah sudah mulai menurun. Padahal, inti ibadah haji itu adalah wukuf di Arafah.

Sebaliknya jika berangkat pada gelombang kedua, jarak waktunya dengan puncak ibadah haji tidak terlalu lama menunggu, sehingga jamaah masih dalam keadaan fit untuk menjalani puncak ibadah haji di Armina (Arafah, Mudzdalifah, dan Mina). Sisa waktu setelah puncak ibadah haji dapat digunakan untuk ibadah sunnah di Makkah dan Madinah. Minusnya adalah setelah puncak ibadah haji selesai, jamaah haji biasanya sudah diliputi perasaan homesick untuk pulang ke kampung halaman.

Sayangnya jamaah haji tidak dapat memilih diberangkatkan pada gelombang satu atau dua, karena urutan keberangkatan ditentukan oleh Kemenag (mungkin melalui pengundian?). Namun, biasanya beberapa KBIH tertentu sudah memiliki “kebiasaan” berangkat pada gelombang satu atau gelombang dua setiap tahun. Tinggal kita saja mencari-cari informasi KBIH ini biasanya berangkat pada gelombang satu, KBIH yang itu biasanya pada gelombang dua. Kebetulan KBIH saya biasanya kebagian gelombang satu. Beberapa KBIH di Bandung sudah langganan berangkat pada gelombang dua, misalnya KBIH Salman, KBIH Pusdai, KBIH Istiqamah, KBIH Persis, dan lain-lain.

Kembali ke kisah perjalanan kami ke embarkasi Bekasi. Selama perjalanan ke embarkasi saya lebih banyak duduk diam dan melamun. Melamun banyak hal :-). Akankah saya dapat melaksanakan ibadah haji ini dengan lancar? Dapatkah saya melupakan sejenak urusan duniawi ini, fokus beribadah kepada Allah saja? Banyak lagi yang saya lamukan, namun sebagimana kata ustad pembimbing, pasrahkan semua urusan hidup ini hanya kepada Allah SWT saja. (BERSAMBUNG)

Dipublikasi di Agama, Cerita perjalanan | 1 Komentar