Pedestrian yang Ramah

Jika kita berjalan kaki melalui trotoar kota Bandung saat ini, ada banyak perubahan yang terlihat. Di beberapa tempat jalur pedestriannya (jalur pejalan kaki) dibuat lebih lapang dan nyaman. Memang belum semua jalan ada jalur pedestrian -sebagian besar masih berupa trotoar sempit atau bahkan tanpa trotoar- tetapi memiliki jalur pejalan kaki yang ramah, nyaman, dan aman, mungkin Bandung sudah mempeloporinya.

Ramah artinya jalur pedestrian tersebut tidak hanya untuk orang yang normal saja, tetapi penyandang cacat dan pengguna kursi roda juga dapat menikmatinya tanpa takut jatuh atau tergelincir.

Coba lewati pedsterian di Jalan R.E Martadinata (meskipun berganti nama tetap dikenal dengan nama Jalan Riau). Jalurnya lebar-lebar dan nyaman. Setiap beberapa meter terdapat bangku antik  untuk duduk-duduk jika anda lelah berjalan kaki atau sekedar cuci mata. Bola-bola batu dari semen berukuran besar berjajar di depan untuk mempercantik pedestrian.

 

pedestrian

Pedesterian di Jalan Riau, Bandung

Jalur pedestrian ini ramah bagi penyandang tuna netra. Coba perhatikan jalur berwarna kuning di tengahnya, itu adalah jalur khusus bagi tuna netra untuk membantunya menentukan arah dan posisi. Dengan meraba jalur kuning menggunakan tongkatnya, penyandang tuna netra dapat berjalan sendiri tanpa perlu dipandu. Jalur kuning ini memanjang dari barat ke timur sepanjang pedestrian.

Jalur kuning  bagi tuna netra tidak hanya ada di pedestrian lebar seperti di atas, tetapi di berbagai sudut kota Bandung jalur kuning juga dipasang pada beberapa trotoar kecil hingga ke jalan-jalan di pemukiman. Di trotoar Jalan Ganesha di depan kampus ITB, anda akan menemukan jalur kuning tersebut. Di jalan-jalan di pemukiman Antapani saya juga menemukan jalur kuning itu pada beberapa trotoar (Jalan Cibatu Raya, Jalan di depan Lapangan Gasmin).

Saya belum menemukan jalur kuning itu di kota-kota lain, bahkan di Jakarta pun saya belum pernah melihatnya (CMIIW).

Selain ramah bagi tuna netra, jalur pedestrian pada gambar di atas juga aman dan ramah bagi pengguna kursi roda. Hal ini karena sepanjang jalur pedestrian itu relatif datar, tidak naik turun ketika bertemu dengan jalan menuju pintu masuk gedung atau rumah di sepanjang jalan itu. Bagian yang menghadap jalan menuju pintu rumah/gedung dibuat hampir sama tinggi dengan trotoar sehingga tidak menyulitkan pengguna kursi roda. Bagi anda yang membawa koper yang pakai roda juga tidak perlu naik turun. Saya ingat pengalaman menyeret koper sepanjang trotoar di kota Tokyo, sama sekali tidak perlu turun naik jika bertemu bagian jalan yang masuk gedung karena sama datarnya dengan trotoar.

Semoga jalur pedestrian yang ama, ramah, dan nyaman seperti gambar di atas dapat dibuat di seluruh jalan di kota Bandung.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 1 Komentar

Orang Minang yang Egaliter

Kesebelasan Semen Padang dikalahkan oleh Mitra Kukar pada pertandingan final Piala Sudirman di Gelora Senayan tanggal 24 Januari 2016 yang lalu dengan skor 2-1. Penonton di Senayan mayoritas adalah pendukung Semen Padang. Mereka adalah pendukung yang sengaja datang dari kampung halaman, namun sebagian besar adalah para perantau yang tinggal di Jabodetabek. Mereka memberikan dukungan baik sebelum dan selama pertandingan. Namun ketika kesebelasan kesayangan mereka kalah, tidak ada aksi anarkis atau marah-marah melampiaskan kekesalan, baik kepada pelatih maupun kepada pemain. Mereka keluar stadion dengan wajah muram sambil membicangkan kekalahan. Kecewa, sudah pasti. Namun seperti tipikal orang Minang yang egaliter dan rasional, tampaknya kekalahan itu tidak berlarut-larut. Besoknya para perantau yang umumnya pedagang di pasar-pasar Jabodetabek beraktivitas kembali seperti biasa. Bahkan, kalau pun Semen Padang menang, saya yakin euforia yang muncul tidak akan berlebihan. Menang atau kalah itu hal yang biasa.

Egaliter. Itu satu kata untuk menggambarkan bahwa orang Minang sejatinya tidak mengkultuskan apapun, baik orang maupun kelompok. Tidak ada pemujaan atau perlakuan istimewa terhadap seorang tokoh. Semua orang dianggap kedudukannya sama, sesuai dengan peribahasa yang berlaku di ranah Minangkabau, duduk sama rendah tegak sama tinggi. Anda tidak akan pernah melihat budaya cium tangan dari rakyat kecil kepada pemimpin seperti yang kita lihat di tanah Jawa, atau cium tangan dari para jamaah kepada ustad atau tokoh agama, sebagaimana yang kita lihat pada budaya santri yang mencium tangan kyai di pesantren di tanah Jawa. Orang Minang mempertahankan egaliteriannya di hadapan orang lain.

Sifat egaliter ini dapat menjelaskan kenapa pada Pilpres 2014 kemarin Capres Jokowi kalah telak di Sumatera Barat. Capres Prabowo memenangkan pertarungan di Sumbar dengan angka yang cukup mencolok, 78% berbanding 22%. Orang Minang tampaknya tidak mempan dengan pencitraan yang dilakukan oleh Jokowi sebelum dan selama kampanye Pemilu dan Pilpres. Mereka tidak bisa ditipu dengan tayangan televisi. Jika di daerah lain Jokowi dielu-elukan dan dipuja-puji, di Ranah Minang adem ayem saja. Orang Minang adalah tipe orang yang tidak mengkultuskan atau mendewa-dewakan orang lain.  Pemilih di sana adalah pemilih yang rasional. Mereka menilai pada visi misi, kinerja, dan ketokohan calon, bukan pada pencitraan yang dibuat-buat atau digadang-gadang oleh media. Meskipun Jusuf Kalla adalah sumando orang Minang (istri Jusuf Kalla berasal dari Minangkabau), namun sentimen kedaerahan tidak mampu mengangkat kemenangan Jokowi-JK pada Pilpres (analisis lainnya baca ini: 4 Faktor Prabowo-Hatta Menang Telak di Tanah Minang).

Sedikit banyaknya sifat egaliter masyarakat Minang dipengaruhi oleh dua hal: pertama bahasa, kedua agama. Bahasa Minang termasuk ke dalam varian Bahasa Melayu.  Bahasa Melayu sejatinya tidak mengenal perbedaan hirarkhi. Tidak seperti bahasa daerah di Jawa yang memiliki tingkatan bahasa yang halus (kromo) untuk orang yang lebih tua, dituakan, atau dihormati, dan  bahasa umum (ngoko) untuk pergaulan setara, maka bahasa Melayu tidak demikian. Tidak ada perbedaan “kasta” dalam bahasa Melayu (termasuk bahasa Minang). Kepada orang yang lebih tua, lebih muda, tokoh terhormat, orang awam, bahasanya sama saja.

Faktor kedua adalah agama, dalam hal ini agama Islam. Orang Minang umumnya sangat taat menjalankan ajaran agama. Agama Islam mengajarkan kesetaraan, semua orang sama kedudukannya di mata Tuhan, yang membedakan hanya ketaqwaan tiap orang. Di dalam sholat berjamaah tidak ada tempat khusus buat pejabat atau tokoh penting. Siapa yang duluan datang, dia duduk di shaf depan, yang datang belakangan duduk di shaf belakang. Ajaran Islam sudah melekat erat dalam adat istiadat, sehingga timbullah pepatah yang populer di sana yaitu adat basandi syara’, syara’ basandikan kitabullah (adat bersendikan pada syariat Islam, syariat bersendikan pada Kitab Allah, yaitu Al-Quran).

Jika anda datang ke Sumatera Barat, anda akan melihat sifat egaliter itu di lepau-lepau. Lepau atau lapau adalah kedai atau warung tempat para lelaki duduk maota (berbincang-bincang) sambil minum kopi atau makan gorengan, kadang-kadang juga sambil bermain domino. Di lepau itu apa saja dibincangkan, dari berita politik hingga berita kampung. Semua orang bebas bicara, bercanda (bagarah), atau mengolok-olok (mencemeeh). Tidak perlu ada yang marah atau tersinggung, karena di lepau itulah semua yang tersimpan di kepala ditumpahkan.

Saya belum melihat apa kelemahan sifat egeliter, yang saya lihat lebih banyak sisi positifnya. Bagi saya yang seratus persen berdarah Minang, lahir dan besar di tanah Minang, lalu merantau di tanah Jawa (tepatnya di bumi Parahyangan) sedikit banyaknya sifat egaliter ini membentuk saya untuk menempatkan kesetaraan dalam kehidupan. Budaya egaliter di kampus saya, ITB, membuat mahasiswa dan dosen dapat berbaur tanpa sekat-sekat. Saya bisa duduk sejajar dengan rektor. Mahasiswa dan dosen dapat menjabat tangan rektornya tanpa perlu protokoler. Mahasiswa bebas berdiri, berjalan, dan berbincang-bincang dengan profesornya di lorong gedung. Dosen dan mahasiswa bebas menyatakan pendapat di ruang-ruang kelas  tanpa takut.  Pendidikan tinggi di kampus memang seharusnya memperlihatkan egaliterian di antara civitas academica. Tidak ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain, tidak ada yang merasa lebih hebat. Semuanya sama kedudukannya. Seseorang hanya dapat dinilai dari integritas akademik dan integritas moralnya. Selain itu, tidak ada perbedaan. Sebagai orang Minang, saya bangga dengan sifat egaliter itu.

Dipublikasi di Cerita Ranah Minang, Gado-gado | 2 Komentar

Sony Sugema dan Fenomena SSC-nya

Hari minggu yang lalu ada berita duka yang cukup mengejutkan. Sony Sugema, pendiri bimbingan belajar SSC (Sony Sugema College) dan sekolah SMP/SMA Alfa Centauri dipanggil oleh Allah SWT karena penyakit jantung (Baca: Sony Sugema Wafat Saat Sholat Tahajud). Bagi orang Bandung dan kalangan pelajar SMA, nama Sony Sugema tidak asing lagi. Meskipun tidak mengenal orangnya, namun banyak pelajar mengenal nama Bimbel-nya. Dia adalah raja Bimbel, SSC mempunyai cabang di mana-mana di seluruh Indonesia dalam benytuk waralaba, berkejar-kejaran dengan bimbingan belajar lain yang juga mendominasi, Ganesha Operation (GO).

Saya tidak mengenal almarhum secara pribadi, bahkan bertemu muka juga tidak pernah, namun saya punya cerita tentang almarhum. Pada tahun 90-an awal saya menjadi pengajar di  bimbingan belajar Karisma Salman ITB.  Bimbel di Bandung belum seramai sekarang dan belum banyak saingan. Murid-murid kami  cukup banyak waktu itu. Namun pada tahun 1991  saya mendengar cerita dari murid-murid bimbel kami tentang kehebatan bimbel baru bernama SSC. Memang tidak ada murid bimbel kami yang berpindah, namun teman-teman mereka yang tidak ikut bimbel akhirnya mendaftar ke bimbel SSC.

Kehebatan bimbel SSC terletak pada dua pengajar mereka yang fenomenal. Pertama Sony Sugema itu sendiri, kedua Dimitri Mahayana. Sony saya tidak kenal, tetapi Dimitri adalah teman saya satu angkatan di ITB. Dimitri dikenal sebagai mahasiswa Teknik Elektro yang jenius (belakangan saya juga mendengar Sony juga mahasiswa Teknik Sipil yang jenius). Kedanya memiliki persamaan, Sony dan Dimitri menikah muda. Sony menikah kala tingkat satu, sedangkan Dimitri menikah pada tingkat dua. Istri mereka sama-sama berusia tiga tahun lebih tua dari usia mereka sendiri. Bedanya, Sony memilih mengundurkan diri dari mahasiswa ITB pada tahun pertama itu, sedangkan Dimitri tetap lanjut kuliah dan menjadi dosen ITB hingga sekarang (Baca: Obituari Sony Sugema, Raja Bimbel SSC.)

Dua orang ini membuat siswa-siswa SMA ternganga-nganga, karena keduanya menyelesaikan soal-soal Matematika, Fisika, dan Kimia yang sulit-sulit itu dengan cara cepat yang dikenal dengan dengan nama the fastest solution. Mereka berdua menulis buku-buku penyelesaian soal-soal Sipenmaru (sekarang SBMPTN) dengan teknik (rumus) cepat itu. Buku-buku tersebut laris bak kacang goreng. Banyak siswa SMA membelinya sebagai persiapan tes Sipenmaru. Dimitri sendiri, selain sebagai pengajar idola di SSC, dia sering memberikan ceramah-ceramah futuristik yang memukau. Kloplah dua orang itu membesarkan SSC sehingga menjadi terkenal.

Saya sendiri kurang setuju mengajarkan rumus cepat menyelesaikan soal kepada murid-murid SMA. Kurang mendidik dan tidak memberikan pemahaman konsep, begitu alasan saya kepada murid-murid bimbel kami. Namun, kebanyakan murid SMA tentu berbeda paham dengan saya, bagi mereka yang penting adalah  dapat menjawab soal ujian dengan benar dan singkat, karena dengan waktu ujian yang hanya dua jam, puluhan soal Sipenmaru harus dilibas dengan cepat. Sebagian besar siswa SSC itu menargetkan masuk ITB, dan memang terbukti banyak dari siswa mereka lulus masuk ITB kala itu.

Nama SSC berkibar di kalangan siswa SMA di Indonesia. Waktu itu SSC hanya ada di Bandung. Bagi siswa yang menargetkan masuk ITB, mereka rela memesan tempat jauh-jauh hari untuk mendapatkan kursi bimbingan intensif di SSC (yang tentu saja dengan biaya mahal). Usai Ebtanas (sekarang UN), siswa-siswa dari seluruh Indonesia itu menyerbu Bandung untuk mengikuti bimbingan belajar intensif di SSC selama satu bulan lebih hingga tes Sipenmaru. Nama SSC seolah-olah menjadi jaminan mutu, sehingga bimbel lain tampaknya kurang terlalu dilirik. Ingat Sony Sugema, ingat SSC, begitu sebaliknya.

SSC berkembang pesat, tetapi di tengah jalan Dimitri keluar dari SSC. Saya mendengar alasan Dimitri keluar adalah karena SSC dikelola oleh keluarga Sony sehingga Dimitri merasa tidak nyaman di dalamnya. Namun, sepeninggal Dimitri, SSC tetap masih eksis, karena mereka merekrut pengajar dari mana-mana (ITB, Unpad, UPI). Sony tetap mengajar di sana.

Berkembangnya bisnis SSC membuat Sony Sugema mencoba membuat eksperimen lain. Dia mencoba mendirikan perguruan tinggi informatika yang bernama (kalau tidak salah) Sekolah Tinggi Informatika Sony Sugema (tetap memakai namanya sebagai brand). Namun dari pengamatan saya, sekolah tinggi ini tidak terlalu berhasil dan kurang peminat.

Selanjutnya dia mencoba misi yang lain. Sony mendirikan sekolah untuk kalangan dhuafa, bernama SMA Alfa Centauri. Sekolah di sini menerapkan sistem subsidi silang. Siswa yang mampu mensubsidi siswa dari kalangan miskin. Siswa dari kalangan miskin gratis sekolah di sana. Sony Sugema memang dikenal sebagai seorang dermawan, dia punya keinginan untuk mengangkat derajat siswa dhuafa dengan sekolah gratis di tempatnya. Saya tiap hari lewat sekolah itu di jalan Supratman. SMA Alfa Centauri saat ini sudah mulai dikenal sebagai sekolah elit, para siswanya bermobil, uang masuknya mahal, namun saya tetap berkeyakinan siswa-siswa miskin diakomodasi dengan sistem subsidi silang itu.

Dikutip dari seorang teman, pada tahun 2002 Sony bersama Pramono Anung dan I Gde Wenten menerima ITB82 award, yang diserahkan langsung oleh Rektor ITB saat itu (Kusmayanto Kadiman) dan Rektor ITB tahun 80-an Pak Hariadi Soepangkat. Sony sengaja membawa ibunya saat itu, dan dalam pidatonya Sony berkata : “Bu, kalau dulu ibu kecewa karena saya tak jadi diwisuda di ITB, saat ini ada dua Rektor yang mewisuda saya”. Kontan saja hadirin bertepuk tangan standing applause untuk Sony.

Selamat jalan Sony. Meskipun saya tidak mengenal secara pribadi, namun kebajikan dan amal soleh yang sudah anda perbuat semoga mendapat balasan pahala dari Allah SWT dan selalu menginspirasi orang lain untuk berbuat amal soleh. Amin.

Dipublikasi di Pendidikan, Seputar Bandung | 3 Komentar

(Tersangka) koruptor masih bisa ketawa-ketiwi

Lihatlah foto di bawah ini (saya peroleh dari jejaring sosial). Tersangka korupsi masih bisa ketawa-ketiwi, senyum-senyum, dan memberi salam dua jari. Setelah disarungi dengan jaket oranye khas KPK, mereka sama sekali tidak terlihat khawatir, seolah-olah hukuman penjara yang akan menanti mereka bukanlah tempat yang menakutkan. Halo…, tidakkah Anda takut dengan pengadilan yang lebih besar di akhirat nanti, yaitu pengadilan di hadapan Allah?

koruptor

Pemandangan tersangka korupsi (atau sudah menjadi terpidana korupsi) yang kita lihat di televisi umumnya begitu. Di hadapan para wartawan mereka melambaikan tangan, tersenyum lebar, dan terlihat seperti bercanda. Apakah wajah tersenyum itu hanya sekedar menyembunyikan rasa takut di dalam dirinya? Entahlah, tetapi tidak seharusnya mereka bersikap demikian. Di tengah kemiskinan dan kehidupan susah yang membelit  sebagian besar rakyat Indonesia, sikap koruptor yang senyam-senyum dan tertawa atas kejahatan yang mereka lakukan sendiri sungguh sebuah ironi.

Beda benar dengan maling ayam kampung, jangankan ketawa-ketiwi, bisa lolos dari maut saja sudah sukur. Kalau tidak berhasil lolos atau diamankan polisi, mungkin si maling ayam sudah habis dihakimi massa. Padahal ayam yang dicurinya berapalah harganya, cuma lima puluh ribu saja, bandingkan dengan dengan koruptor yang mencuri milyaran.

Satu lagi bedanya. Tersangka koruptor dijemput dengan mobil mewah, sedangkan maling ayam diseret dengan motor. Benar-benar timpang perlakuan hukum kepada dua jenis pencuri ini. Rasa keadilan pun terusik melihat pemandangan yang tidak lucu itu.

Dipublikasi di Indonesiaku | 5 Komentar

Ketika tangan kita ditarik ke surga

Muhaimin Zubair

Amin…semoga apa yang dikatakan oleh Pak Kyai benar, menjadi penyemangat bagi para guru, dosen, ustad, atau kyai.

Ya Allah, semoga amal jariyah kita sebagai pendidik nanti dibalas dengan syurga oleh Alah SWT.

Sumber gambar: kiriman seorang teman.

Dipublikasi di Agama, Pendidikan | 2 Komentar

Tiga anak kecil peminta-minta

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke rumahku
Pagi itu.

Sambil menengadahkan tangan, mereka berkata:
Pak, minta sedekahnya

(Diadopsi dari puisi Taufik Ismail 1966, Karangan Bunga)

**

Kemarin pagi ketika saya akan bersiap berangkat ke kampus, dua orang anak perempuan kecil – satu berusia sekitar 8 tahun dan satu lagi berusia sekitar 5 tahun- berdiri di depan pagar rumah sambil menengadahkan tangan. “Pak, minta sedekahnya”, katanya dengan suara memelas. Minggu lalu mereka juga datang ke rumah saya namun bertiga, satu lagi bocah laki-laki. Masing-masingnya mendatangi rumah tetangga meminta sedekah.

Biasanya saya menjawab: “Maaf, Dik!”, lalu mereka pun pergi. Saya memang kurang suka dan kurang setuju memberi pengemis yang  masih anak-anak itu uang. Kecil-kecil kok sudah diajar mengemis oleh orangtuanya. Tidak baik, nanti malah menjadi kebiasaan dan pemalas, begitu pikiran saya.

Namun kedatangan anak-anak itu kemarin pagi membuat saya beristighfar, tidak seharusnya saya memukul rata sikap menolak memberi sedekah kepada pengemis yang masih anak-anak.

Setelah saya mengucapkan “maaf, Dik” seperti biasanya, kedua anak itu pergi menjauh. Disitulah rasa iba saya muncul. Sungguh terlalu saya ini. Rasa ingin tahu saya pun muncul, mengapa mereka sering datang meminta-minta. Saya panggil kembali anak perempuan yang paling besar dan memberi kode akan memberinya uang. Dia pun mendekat, lalu saya bertanya kepadanya.

“Tinggal di mana, Dik?”, tanya saya.

“Di Kiaracondong”, jawabnya. Kiaraconcong adalah wilayah pemukiman padat dekat stasiun kereta api, tidak jauh dari rumah saya. Penduduk yang tinggal di dekat stasiun kereta api itu umumnya bekerja pada sektor informal, seperti buruh pabrik, tukang beca, buruh bangunan, kuli angkut, pedagang kecil, pembantu rumah tangga, dan lain-lain.

“Kenapa kok kecil-kecil sudah mengemis?”, tanya saya ingin tahu.

“Bapak saya stroke di rumah, tidak bisa mencari uang. Dulu kerjanya tukang rongsok”, jawabnya lirih.Tukang rongsok adalah sebutan orang Bandung untuk orang-orang  yang kerjanya berkeliling membeli barang rongsokan ke rumah-rumah atau memulung barang rongsokan dari tempat sampah, lalu dijual lagi ke pengepul. Barang rongsokan yang dicari umumnya koran bekas, buku bekas, karung semen, besi-besi bekas bangunan,  atau barang-barang lain yang tidak terpakai lagi.

“Kalau ibu tidak kerja?”, tanya saya lagi. Saya pikir mungkin ibunya bekerja si sektor informal juga, seperti buruh pabrik, buruh cuci, atau pembantu rumah tangga.

Nggak. Ibu di rumah saja, merawat bapak. Di rumah juga ada adek bayi“, jawabnya lagi.

Astaghfirullah, ampuni saya ya Allah. Ternyata keluarganya sedang ditimpa musibah. Ayahnya sakit stroke sehingga tidak berdaya untuk mencari nafkah, sedangkan ibunya hanya bisa di rumah untuk merawat bayi sekaligus merawat suaminya yang sakit.

“Adik disuruh orangtua untuk mengemis?”, tanya saya agak menyelidik.

“Nggak pak. Saya juga kerja mencari barang rongsok, tapi dapatnya sedikit. Karena nggak cukup, saya meminta sedekah”, jawabnya polos.

Tenggorokan saya tercekat mendengar ceritanya. Saya yakin dia tidak berbohong. Sungguh malang nasib anak kecil yang terpaksa meminta-minta untuk menghidupi keluarganya yang tidak berdaya di rumah. Ayahnya stroke, ibunya merawat ayah yang stroke. Amanat mencari nafkah keluaga ada pada pundaknya. Dia seorang anak perempuan yang masih kecil, tapi harus berjuang di tengah penderitaan hidup. Anak-anak seusianya pada jam-jam pagi itu sedang belajar di kelas, atau sedang berlarian di halaman sekolah, bercanda ria dengan teman-teman sebaya, sedangkan dia harus berhenti sekolah untuk membantu keluarganya. Oh, malangnya kamu dik, lirih saya dalam hati. Terharu.

Saya lari ke dalam rumah, mengambil beberapa lembar uang, mencari makanan yang bisa diberikan.

“Ini untuk jajan kamu dan adik-adikmu. Ini kasih ke ibumu”, kata saya sambil memberinya uang.

Setelah mengucapkan terima kasih, dia pun berlalu dengan adiknya. Saya memandang mereka sampai hilang di belokan. Anak-anak yang malang. Jika mereka datang lagi, saya ingin mencoba membantu lagi, sekedar meringankan beban keluarganya.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 5 Komentar

Tulang Ikan untuk Kucing

Di rumah kami tidak memelihara kucing. Meskipun begitu, saya dan anak adalah penyayang kucing. Hampir setiap pagi kucing tetangga datang ke depan rumah mengeong-ngeong minta makan.  Biasanya jika ada sisa tulang ikan atau tulang ayam semalam, saya selalu memberikannya kepada kucing lapar tersebut. Karena setiap hari selalu diberi makan, kucing tersebut menjadi terbiasa datang ke rumah kami setiap pagi. Pagi-pagi dia sudah menunggu rezeki di depan pintu. Padahal pemiliknya ada, namun entah kenapa meminta makan ke rumah kami.

Setiap kali saya mau memberi sisa-sisa makanan kepada kucing, anak saya yang bungsu datang merebut. Dia ingin dirinya  yang memberi makan kepada kucing itu. Tulang ayam, tulang ikan, dan sisa makanan lain ditaruhnya di pinggir jalan di depan taman yang terletak di seberang rumah kami, Dengan lahap si kucing lapar menyantap makanan tersebut. Sebelum menyantapnya, si kucing mengeong-ngeong terlebih dahulu, mungkin dia ingin mengucapkan terima kasih :-).

Jika tidak ada sisa tulang ikan atau tulang ayam hari itu, tentu tidak ada yang dapat diberikan kepada si kucing. Ah, sebenarnya kucing bisa mencari makanannya sendiri, jadi tidak perlu khawatir dia akan kelaparan, kata saya kepada anak. Namun anak saya berpikirnya lain. Rasa iba membuatnya diam-diam membuka tudung saji di meja makan untuk mencari makanan yang bisa diberikan kepada kucing. Diambilnya beberapa rendang suwir yang saya beli ketika mudik ke Padang, lalu diberikannya kepada kucing tadi.

Mengetahui hal tersebut saya sedikit marah kepada anak saya. Rendang suwir itu untuk lauk bekal makan siang abangnya di sekolah, kenapa diberikan kepada si kucing? Sayang kan, kata saya menasehati. Anak saya menjawab, kasihan si kucing, meong-meong terus.

Tiba-tiba saja saya tersadar. Bukankah dulu waktu kecil saya juga diam-diam memberikan lauk di dapur kepada kucing tanpa sepengetahuan ibu? Alasan saya waktu itu karena kasihan melihat kucing yang terus minta makan. Jadi apa yang dilakukan anak saya sekarang sama seperti yang saya lakukan dulu. Saya tidak perlu marah, karena saya dan dia sama-sama memiliki rasa iba dan rasa sayang kepada binatang.

Apa yang dilakukan anak kita adalah representasi dari apa yang kita lakukan ketika kecil. Anak memiliki naluri dan rasa ingin tahu yang sama seperti kita. Anak juga punya rasa sayang dan kasihan seperti kita. Jadi, sebelum kita memarahi perbuatan anak, pernahkah kita memikirkan bahwa dulu kita juga berbuat yang sama?

Sejak itu, saya tidak memarahi anak lagi lagi bila mengambil lauk untuk kucing. Sedikit lauk yang diberikannya tidak ada artinya dibandingkan dengan kasih sayang yang dia tunjukkan kepada sesama makhluk ciptaan Allah. Kecil-kecil saja sudah punya rasa sayang, bagaimana jika besar nanti?

Dipublikasi di Gado-gado, Pendidikan | 6 Komentar