Rata-rata gaji dosen di Indonesia 3-jutaan

Tergelitik saya membaca berita di sebuah media daring di bawah ini: Rp 3 Jutaan… “Segitulah” Rata-rata Gaji Guru dan Dosen Indonesia!. Saya juga dosen, maka soal kesejahteraan tentu selalu menarik untuk dibahas.

Menurut berita itu,  “Hasil riset tersebut juga menunjukkan informasi gaji dari 3.473 responden yang berprofesi sebagai tenaga kerja pendidik. Mereka adalah dosen dan para guru, baik guru di taman kanak-kanak (TK), guru sekolah dasar (SD), maupun sekolah menengah atas (SMA), serta guru privat dan guru kursus bahasa asing.

Dari hasil riset itu terungkap bahwa gaji rata-rata yang diperoleh dosen di Indonesia adalah Rp 3.326.700 per bulan. Sementara itu, gaji rata-rata yang diperoleh guru TK adalah Rp 2.292.200 per bulan, guru SD hingga SMA sebesar Rp 2.530.350 per bulan, guru privat Rp 2.188.500 per bulan, dan guru kursus bahasa asing sebesar Rp 2.656.300 per bulan.”

Gaji dosen rata-rata “hanya” 3.3 juta per bulan. Itu rata-rata, namun diferensiasinya tentu cukup lebar. Tentu ada yang gajinya jauh lebih besar dari angka itu, namun saya kira lebih banyak yang berada di bawahnya. Itu baru gaji. Jika ditambah dengan penghasilan lain-lain, termasuk tunjangan sertifikasi dosen, maka THP (take home pay) lebih besar lagi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dosen tidak cukup mengandalkan gaji bulanan saja dari kampusnya, mereka mencari tambahan dari kerja sampingan, misalnya mengajar di PT lain, mengerjakan proyek, menjual jasa sebagai konsultan, bahkan berdagang. Apapun dilakukan untuk menutupi kebutuhan keluarganya, yang penting halal.

Dengan kerja atau usaha sampingan seperti itu, maka sukar mengharapkan peningkatan kualitas dosen. Kapan waktu mereka untuk meneliti? Kapan waktu untuk menulis publikasi? Jika waktunya habis untuk mengajar di tempat lain, kerja sampingan di luar, dan lain sebagainya, maka kualitas dosen di negara kita akan jalan di tempat. Ranking Perguruan Tinggi Indonesia masih kalah jauh dari Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam.

Di negara-negara maju, penghasilan tambahan seorang dosen bukan dari kerja sampingan, tetapi dari penelitian maupun kerma dengan pihak luar (industri). Jadi, agar kesejahteraan dan kualitas dosen beriringan, maka perlu diperbanyak hibah penelitian maupun kerjasama  (kerma) kampus dengan pihak luar (industri/pemerintahan). Dari hibah penelitian dosen dapat melakukan riset di kampusnya dengan tenang sekaligus mendapat tambahan penghasilan dari honor riset. Dari penelitian dihasilkan publikasi berupa paper maupun jurnal. Penelitian jalan,  kesejahteraan juga meningkat.

Dipublikasi di Pendidikan | 2 Komentar

Sholat Dhuhur di Masjid Agung Trans Studio, Bandung

Hari Sabtu siang seusai melihat pameran Garuda Travel Fair di Trans Studio Mall (TSM), Bandung, saya melihat jam tangan ternyata sudah masuk waktu sholat Dhuhur. Sayup-sayup suara adzan berkumandang dari luar. Itu adalah suara adzan dari Masjid Agung Trans Studio yang terletak di sisi kanan mall terbesar di kota Bandung itu (dulu sebelum ada Trans Studio namanya Bandung Super Mall atau BSM).

13095739_1097745266960164_3787997577560306540_n

Tampak samping Trans Studio Mall (TSM). Di samping mall inilah berdiri Masjid Agung TSM

Saya bergegas untuk menunaikan sholat Dhuhur. Sholat berjamaah sudah usai, jadi saya sholat sendiri saja. Meskipun beberapa kali saya melewati masjid ini, namun saya belum pernah sholat di dalamnya. Masjid Agung Trans Studio adalah masjid yang megah dan indah. Dari luar kita merasakan aura seperti Masjid Nabawi di Madinah, hal ini karena eksterior berupa lengkungan yang berwarna hitam dan putih itu mengingatkan kita pada masjid Nabawi di Madinah (baca tulisan saya terdahulu: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 3): Di dalam Masjid Nabawi).

13062330_1097745036960187_4472092016599818235_n

Tampak depan Masjid Agung Trans Studio Mall. Eksterior lengkungan yang berwarna hitam dan putih mengingatkan kita pada Masjid Nabawi di Madinah

Memasuki dalam masjid kita disambut hamparan karpet sajadah yang berwarna merah. Interior di dalam masjid terasa lapang dan sejuk. Dua buah kaligarfi besar berukuran raksasa yang bertuliskan Asmaul Husna terlihat di kedua dinding di samping mihrab. Lampu kristal yang besar menggantung dari atas kubah.

13062408_1097745126960178_2958961587852311813_n

Bagian depan masjid dengan dua kaligrafi bertuliskan Asmaul Husna dalam ukuran raksasa

13095757_1097745176960173_4834756554808668319_n

Pintu masjid di lihat dari depan mihrab

13076762_1098240933577264_2443244185032448835_n

Kaligrafi asmaul husna

Masjid ini terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar tempat berwudhu dan ruangan kantor. Lantai dua adalah lantai utama tempat saya sholat tadi, dan lantai tiga adalah tempat sholat untuk kaum perempuan.

13094204_1097745236960167_9117996121512773252_n

Lantai dua masjid

Berada di Masjid Agung Trans Studio bagaikan berada di tengah oase di pusat keramaian. Trans Studio Mall dikunjungi oleh puluhan ribu orang setiap hari, sedangkan pada akhir pekan bisa mencapai ratusan ribu orang. Kompleks TSM sangat luas, luasnya mungkin lebih dari luas dua buah RW. Di dalam kompleks ini ada mall atau pusat perbelanjaan dengan tenant-tenant ternama. Selain mall juga terdapat hotel berbintang enam yang megah yaitu Hotel Trans dan Hotel Ibis. Menyatu dengan mall, di sini juga terdapat pusat hiburan yang bernama yaitu Trans Studio. Ribuan orang setiap hari menikmati berbagai wahana permainan di dalam Trans Studio. Mereka datang tidak hanya dari seluruh Indonesia, tetapi juga dari mancanegara. Namun, saya sendiri sebagai warga Bandung belum pernah ke Trans Studio ini:-).

13087309_1097745333626824_5280364636200971450_n

Hotel Trans, satu-satunya hotel berbintang enam di Bandung

Nah, dengan puluhan ribu orang yang setiap harinya mengunjungi TSM, tentu dibutuhkan tempat sholat yang representatif. Bagi seorang muslim yang menjalankan kewajiban agamanya,  tempat sholat di mall adalah kebutuhan penting. Selama ini mall-mall hanya menyediakan mushola kecil di lantai parkir yang bising dan pengap. Di TSM sendiri sebenarnya sudah ada mushola yang representatif seperti yang pernah saya tulis dalam tulisan ini: Mushola di Trans Studio Mall (TSM) yang Bagus dan Bersih. Mushola itu terletak di lantai 3, dekat dengan bioskop Trans. Namun bagi Chairul Tanjung, mushola itu saja ternyata masih belum cukup. Ada hal yang lebih penting lagi yang dipikirkannya, yaitu kata-kata ibunya.

Menurut kisah yang saya baca, masjid Agung Trans Studio merupakan wujud janji Chairul Tanjung kepada ibunya. Chairul Tanjung adalah pengusaha pribumi yang besar dan sukses. Bisnisnya sudah berkembang menjadi konglomerasi. Dia telah memiliki stasiun Trans TV dan Trans 7, portal berita Detik.com, pusat hiburan Trans Studio di Makassar dan Bandung, pusat perbelanjaan Trans Studio Mall, Bank Mega, Bank Mega Syariah, hotel, supermarket Carefour dan TransMart. Dia sudah memiliki segalanya, hanya satu yang belum, yaitu membangun masjid yang megah. Ibunya pernah berkata, kalau Chairul Tanjung bisa membuat mall yang besar dan megah, kenapa tidak bisa membuat masjid yang megah dan indah? Kata-kata ibunya itu selalu terngijang-ngiang. Ibunya berpesan kepada Chairul Tanjung untuk membangun sebuah masjid yang megah, dan Chairul Tanjung berjanji mewujudkan permintaan ibunya itu. Dan ternyata, inilah masjid  yang besar dan indah yang dia janjikan itu. Dia tidak taruh masjid di bagian belakang mall, tapi dia bangun masjid itu di bagian depan sehingga terlihat bagi siapapun yang memasuki TSM.

Semoga niat ikhlas Chairul Tanjung itu mendapat balasan pahala dari Allah SWT dan menjadi amal jariyah yang bermanfaat bagi ummat Islam. Masjid Agung TSM terbuka untuk umum dan memiliki banyak kegiatan setiap pekan. Setiap hari Ahad ada pengajjian Dhuha di sana yang mengundang ustad-ustad ternama. Saya menemukan situs web masjid TSM sebagai informasi tambahan bagi anda. Jazakallah.

Dipublikasi di Agama, Seputar Bandung | 3 Komentar

Ketika Anak Merengek Ikut ke Masjid

Sebuah gambar di bawah ini saya peroleh dari akun Facebook ini. Isinya cukup menohok, khususnya bagi bapak-bapak yang punya anak masih kecil. Ketika sang anak berumur dua tahun dia merengek-rengek untuk ikut bapaknya ke masjid. Namun si bapak mengatakan tidak usah ikut sebab dia masih terlalu kecil. Hal yang sama juga dia katakan ketika anaknya sudah berumur empat tahun dan delapan tahun. Istrinya meminta untuk menunggu sebentar sebab anaknya ingin ikut ke masjid. Namun apa jawab si bapak? Dia masih terlalu kecil untuk ikut, masih anak-anak.

Ketika anaknya sudah berusia remaja dia sudah sulit diajak ke masjid. Bapaknya mengeluh  karena sudah berulangkali mengajak anaknya ke masjid tetapi dia tidak mau mendengar. Sudah terlambat, jawab istrinya, sebab putra mereka sudah bukan anak-anak lagi.

sholat-ke-masjid

Menyesal setelah anak yang sudah besar tidak mau ke masjid?

Apakah anda mempunyai pengalaman yang sama seperti cerita di dalam gambar di atas? Usia anak-anak adalah usia emas, pada usia itu segala ajaran mudah ditanamkan, apapun ajaran itu, ajaran baik maupun ajaran buruk. Anak-anak pada dasarnya meniru apa yang dilakukan orang-orang terdekatnya.

Mengajak anak sholat maupun ke masjid adalah pada usia masih dini, yaitu dibiasakan sejak kecil. Sebuah peribahasa berbunyi: kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa, sudah tua berubah tidak, yang artinya kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan sukar diubah pada masa dewasa.  Jika sejak kecil anak sudah diajak sholat ke masjid, maka kebiasaan itu akan terbawa sampai dewasa. Jika sholat ke masjid tidak pernah ditanamkan sejak kecil, maka jangan harap jika sudah besar nanti mereka menjadi orang yang cinta ke masjid.

Jadi, mengapa harus merasa repot ketika anakmu yang masih balita merengek-rengek ikut kamu ke masjid? Kerepotan itu akan berbuah manis ketika dia dewasa kelak. Mumpung anakmu masih kecil dan sebelum ada rasa penyesalan pada kemudian hari.

Dipublikasi di Agama | 4 Komentar

Google Doodle hari ini: Prof. Samaun Samadikun

Hari ini gambar doodle di laman utama Google ada yang istimewa. Jika anda membuka laman Google hari ini (www.google.co.id atau www.google.com), maka tampaklah gambar  seorang laki-laki dengan latar belakang kabel-kabel dan tombol yang membentuk tulisan ‘google’. Siapakah dia?

samaun

(Alm) Prof. Samaun Samadikun menjadi gambar Google hari ini

Dia adalah (alm) Prof. Samaun Samadikun. Beliau dulu adalah gurubesar dalam bidang mikroelektronika di ITB. Pak Samaun bukan orang sembarangan, beliau adalah bapak mikroelektronika Indonesia. Pada hari lahirnya yang bertepatan pada hari ini, Google menjadikannya sebagai doodle pada laman utamanya. Ini berarti Pak Samaun adalah ilmuwan kelas dunia.

Saya pribadi tidak mengenal beliau, meski sama-sama di ITB. Beliau adalah seorang dosen di Jurusan Teknik Elektro ITB, jurusan yang berbeda dengan saya di Informatika ITB. Jadi saya tidak pernah diajar oleh Pak Samaun. Meskipun saya tidak pernah diajar oleh Pak Samaun, namun saya sudah sering mendengar nama besar beliau melalui karya-karyanya dalam bidang bidang elektronika.

Saya kutip dari sini:

Prof. Dr. Samaun Samadikun sendiri lahir di Magetan pada tanggal 15 April 1931. Ia pernah menjadi salah seorang dosen di ITB yang semasa hidupnya dikenal karena kepribadian dan sikapnya yang sangat sederhana dan bersahaja, namun tanpa mengurangi sedikit pun kewibawaannya sebagai salah seorang yang disegani.

Berawal dari pendidikan Teknik Elektro di ITB yang ditempuhnya pada tahun 1950. Kemudian Prof Samaun pun melanjutkan kuliahnya dan lulus dari Universitas Standford untuk mengambil gelar M.Sc di tahun 1957, tak hanya itu gelar Ph.D. pun berhasil direngkunya pada tahun 1971 dalam bidang teknik elektro. Prof Samaun bersama dengan K.D Wise akhirnya berhasil menciptakan sebuah paten “Method for forming regions of predetermined in silicon” dengan nomor Us Patent No 3.888.708 pada tahun 1975.

Prof Samaun sendiri juga Pernah menjabat sebagai seorang direktur pertama dari sebuah Pusat Antar Universitas (PAU) Mikroelektronika di ITB pada periode tahun 1984 hingga 1989. Ia pun juga sempat mengambil cuti dalam mengajar di ITB karena ia mendapatkan jabatan sebagai Direktur Binsarak DIKTI dari pemerintah pada tahun 1973 hingga 1978. serta pada tahun 1989
sampai 1995 Prof. Dr. Samaun Samadikun diangkat menjadi ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Usai masa jabatan di LIPI berakhir, Prof Samaun Samadikun akhirnya memutuskan untuk kembali lagi mengajar di ITB. ia pun mengabdikan dirinya disana hingga akhirnya beliau meninggal dunia pada tahun 2006.

Tonton “Siapakah Samaun Samadikun ?” di YouTube

~~~~~~~~

Pak Samaun sudah tiada, tetapi karya-karyanya untuk ilmu pengetahuan Indonesia dan dunia menjadi warisan bagi generasi penerus. Doa alfatihah buat almarhum Pak Samaun Samadikun.

Dipublikasi di Indonesiaku, Seputar ITB | 4 Komentar

Menolak Lupa (Janji Penggusuran)

Hari Senin kemarin merupakan hari yang kelabu bagi warga kampung Luar Batang, Jakarta. Pemukiman mereka dihancurkan oleh puluhan buldoser. Warga Pasar Ikan yang sudah turun-temurun selama berabad-abad ada di sana harus digusur dengan alasan mereka mendiami tanah ilegal, tanah negara. Penggusuran itu dibeking penuh oleh aparat keamanan dari TNI dan Polri, demi titah dari penguasa DKI. Saya yang menyaksikan penggusuran itu melalui siaran live di TV tak kuasa menahan sedih dan pilu. Jeritan para wanita dan anak-anak yang tak rela rumahnya dihancurkan tidak mampu meluluhkan hati para petugas yang terus merangsek meratakan bangunan.

gusur

Menyaksikan kampungnya yang sudah rata. Apa yang kamu lihat, Nak?

Satu persatu kampung-kampung orang miskin yang mendiami bantaran sungai, kawasan pantai, dan kawasan kumuh lainnya lainnya digusur dengan alasan mendiami tanah negara. Orang-orang miskin di Jakarta semakin terusir saja dari kampungnya, namun kali ini penggusuran menggunakan cara-cara pendekatan kekuasaan yang mirip gaya Orde Baru. Kehadiran aparat keamanan memberikan rasa takut kepada warga. Tidak mau pergi dari sana, maka mereka harus berhadapan dengan aparat untuk diusir paksa. Tidak adakah  cara-cara yang lebih manusiawi untuk memindahkan mereka?

Sepelemparan batu dari Pasar Ikan, di teluk Jakarta, terjadi pemandangan yang sungguh ironi. Di pulau-pulau reklamasi yang masih kontroversi itu telah berdiri bangunan mewah menjulang tinggi. Bangunan-bangunan itu ilegal karena Perda reklamasi saja belum disahkan tetapi bangunan sudah didirikan. Kenapa bangunan ilegal itu tidak ikut digusur juga? Dimanakah rasa keadilan?

Di media sosial, riuh rendah penghuni jagad maya memberikan komentar yang beragam tentang aksi penggusuran. Sebagian netizen mengecam penggusuran yang tidak manusiawi itu, namun sebagian lagi memberi dukungan kepada Gubernur yang mereka anggap tegas. Menurut kelompok pendukung Gubernur, warga miskin itu sudah seharusnya digusur  dari kampung mereka karena mereka mendiami tanah ilegal. Tidak perlu diberi uang kerahiman atau ganti rugi segala, toh itu bukan tanah mereka, tapi tanah milik Pemprov. Sudah bagus mau dipindahkan ke Rumah Susun, tapi masih mbalelo juga, demikian suara-suara netizen yang mendukung penggusuran. Rata-rata netizen ini adalah kelompok pendukung Gubernur DKI, Ahok,  yang akan mencalonkan diri lagi melalui jalur independen. Tidak ada lagi rasa empati dan simpati kepada warga miskin yang tergusur itu, suara hati telah dibutakan dengan dukungan yang membabi buta kepada sang Gubernur.

Sekilas tujuan penggusuran terdengar manusiawi, warga yang tinggal di pemukiman kumuh direlokasi ke Rumah Susun. Yang dilihat hanya aspek fisik semata, yaitu bangunan, tapi aspek sosial sama sekali terlupakan. Memindahkan ke rumah susun artinya menjauhkan mereka dari livehood mereka selama ini. Nelayan hidupnya di pantai, kalau di rumah susun bukan nelayan namanya. Menjauhkan nelayan dari pantai sama dengan membunuh mata pencaharian mereka.

Ya sudahlah, orang-orang miskin itu sudah tergusur dari kampungnya. Mereka sudah kenyang menjadi “permainan” calon pemimpin dan politisi. Orang miskin di kampung-kampung kumuh hanya duidekati ketika Pemilu atau Pilkada agar memilih pemimpin atau politisi tersebut. Setelah tercapai tujuannya, atau sudah mendapat jabatan empuk, orang-orang miskin itu dilupakan begitu saja, nasibnya tidak dipedulikan lagi. Ketika mereka harus enyah dan terusir dari kampungnya, suara pemimpin itu tidak terdengat lagi memberi pembelaan. Lupa dia dengan janji-janjinya dahulu kepada mereka.

Kita tidak boleh menolak lupa. Ketika Jokowi menjadi Calon Gubernur DKI, beliau menandatangani kontrak politik dengan warga pemukiman kumuh. Dia berjanji tidak akan menggusur pemukiman warga, melegalkan kampung ilegal, melindungi pelaku ekonomi lemah, dan lain-lain sebagainya.

kontrak

Kontrak politik Jokowi

Janji tinggal janji. Semua janji Pak Jokowi di atas adalah bulshitt semata, termasuk janji-janji selama kampanye yang dilanggarnya sendiri. Penerusnya di DKI, Ahok,  mungkin tidak terikat dengan janji tersebut sehingga tidak perlu merasa “berdosa” mengusir paksa warga pemukiman ilegal.  Namun kita tidak pernah mendengar suara Bapak Presiden memberi pembelaan atau minimal teringat dengan janji-janjinya dulu. Jika Presiden boleh (pura-pura) lupa,  namun Allah tidak akan pernah lupa. Gusti Allah ora mboten sare, Allah tidak pernah tidur.

Dipublikasi di Indonesiaku | 6 Komentar

Mencoba terminal baru bandara Husein Sastranegara, Bandung

Hari ini saya berkesempatan mencoba terminal penumpang baru Bandara Husein Bandung. Seperti biasa dalam kunjungan rutin saya mengajar di ITERA Lampung, saya naik pesawat dari Bandara Husein. Terminal baru itu baru beroperasi hari rabu yang lalu, jadi ini hari ketiga penggunaannya.

Terminal penumpang yang lama (untuk keberangkatan dan kedatangan) sangat kecil. Jumlah penumpang yang naik dan turun di Husein tumbuh luar biasa. Sungguh tidak nyaman menggunakan ruang tunggu yang sempit dan harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Sungguh malu membandingkan bandara Husein dengan bandara megah di kota lain. Padahal Bandung adalah kota wisata, maka bandara adalah etalase pertama yang dilihat orang.

Untunglah walikota Bandung Ridwan Kamil cepat tanggap. Dia mendesain terminal penumpang yang baru di sebelah terminal yang lama. Setelah setahun lebih dikerjakan, akhirnya terminal yang baru selesai bulan ini.  Yang membedakan bandara ini dengan bandara lain adalah aksen seni di dalamnya. Ya, Bandung adalah kota seni, maka sangat wajar unsur seni mewarnai bandara. Di dalam bandara kita serasa berada di sebuah galeri lukisan, karena lukisan berukuran besar karya alumni FSRD ITB terpampang di dinding ruang tunggu.

Yuk lihat foto-foto yang saya jepret tadi siang.

Husein1

Terminal baru tampak dari luar, dengan atap bangunan khas adat Sunda.

Husein2

Terminal keberangkatan

Husein3

Ruang check-in

Husein4

Ruang check-in yang lapang

Husein5

Pemeriksaan X-ray

Husein6

Ruang tunggu keberangkatan. Lukisan besar tergantung di dinding

Husein8

Ruang tunggu yang lapang

Husein9

Kafe-kafe dan restoran di ruang tunggu

Husein10

Ruang tunggu yang nyaman. Penumpang tidak perlu lagi berdiri karena tidak kebagian kursi

Husein7

Tempat bermain anak di ruang tunggu

Yang masih perlu dibenahi di Bandara Husein adalah soal taksi yang dimonopoli oleh taksi Primkopau TNI-AU. Taksi ini tidak pakai argometer, sistem harganya borongan dan tawar menawar. Sungguh membuat penumpang yang baru datang sering kesal dengan layanan taksi bandara. Selain masalah taksi yang cukup klasik, masalah parkir yang sempit dan semrawut juga masalah yang belum terselesaikan. Oh iya, terminal yang baru ini tidak punya garbarata, jadi penumpang harus turun ke landasann untuk naik dan turun pesawat. Sangat sulit membangun garbarata karena bandara Husein lahannya sempit. Bandara Husein memang dari awal tidak dirancang untuk bandara komersil karena bandara ini adalah milik TNI AU sebagai pangkalan udara.

Selamat mencoba terminal Husein yang baru.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 2 Komentar

Miskin bukan berarti tidak punya apa-apa, kaya bukan berarti punya segalanya

Ini cerita sederhana yang saya peroleh dari teman, tentang seorang gadis yang mengontrak sebuah rumah, dia tinggal sendiri di sana. Di sebelah rumahnya tinggal sebuah keluarga miskin dengan dua orang anaknya yang masih kecil.

Suatu malam listrik mati di pemukiman mereka. Rumah-rumah menjadi gelap gulita, termasuk rumah yang disewa gadis dan rumah keluarga miskin tadi. Dengan bantuan cahaya dari ponsel, si gadis mencari lilin di lemari dapur. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk, suara seorang anak kecil  terdengar dari luar. “Kak, punya lilin tidak?”, tanya anak kecil tadi.  Itu adalah suara dari anak miskin, tetangga sebelah rumahnya.

Gadis itu terdiam, dia berpikir sejenak. Dia merasa tidak usah memberikan lilin kepada anak miskin tadi, sebab jika diberi nanti  menjadi kebiasaan untuk terus meminta. Lalu dia menjawab  dengan keras, “Tidak ada!”.

Anak miskin tadi berkata dengan riang. “Nah, benar ‘kan kakak tidak punya lilin. Ibu menyuruh saya memberikan dua lilin ini kepada kakak, karena ibu khawatir kakak tinggal sendirian dan tidak punya lilin”.

Si gadis merasa bersalah karena telah berburuk sangka kepada keluarga miskin itu. Air matanya berlinang, dia memeluk erat-erat anak miskin tadi…

~~~~~~~~~~

Moral dari cerita ini adalah hendaklah kita jangan mudah cepat berprasangka. Jangan menilai  kelemahan orang lain dari penampilan luarnya. Kekayaan tidak diukur dari banyaknya harta yang kita miliki, tetapi seberapa mampu kita memberi  kepada orang yang tidak berpunya. Miskin bukan berarti tidak punya apa-apa, kaya bukan berarti punya segalanya.

(kisah terinspirasi dari kiriman seorang teman)

Dipublikasi di Kisah Hikmah | 6 Komentar