Sudah Baca versus Belum Baca UU Omnibus Law

Sudah baca UU Omnibus Law (UU Cipta Kerja)? Belum. Saya belum membacanya. Pendukung UU Omnibus sering meledek kepada penolak UU dengan berkata: “sudah baca isinya belum? Kalau belum baca jangan asal komen”.

Hmmm…apakah yang mendukung UU tsb juga sudah membaca isinya dan paham? Saya kok kurang yakin mereka juga sudah membacanya.  Dokumen UU Omnibus itu tebalnya sekitar 900 lho.

Membaca dokumen 900 halaman tentu pekerjaan yang tidak mudah. Anda harus sekalian membaca juga naskah akademisnya, lalu baca setumpuk UU lama yang berkaitan dengan UU baru tersebut. Puff…membaca laporan disertasi mahasiswa S3 yang tebalnya 100 halaman saja sudah bikin nyut-nyut kepala, apalagi membaca 900 halaman. Puyeng.

Lalu apakah harus membaca 900 halaman itu agar bisa paham lalu mengambil kesimpulan setuju atau tidak setuju dengan UU itu. Tentu tidak. Orang cukup membaca bagian UU yang memiliki kepentingan dengan dunianya saja. Orang lingkungan membaca bagian UU yang berkaitan dengan masalah lingkungan. Orang pendidikan membaca bagian UU yang berkaitan dengan pendidikan. Dan seterusnya.

Apakah buruh-buruh yang demo kemaren itu membaca UU Omnibus Law? Wallahualam, mungkin saja ada sebagian buruh yang membacanya. Tentu mereka hanya membaca bagian UU yang berkaitan dengan nasib tenaga kerja seperti mereka. Jadi kalau mereka demo sampai mengamuk-amuk tentu ada bunyi UU itu yang merugikan mereka.

Lalu kalau tidak sempat membacanya, bagaimana sikap kita? Kalau saya sih, cukup membaca pendapat pakar2 yang kompeten yang memberikan penilaian. Jika pakar hukum seperti prof-prof UGM saja menyebutkan UU tersebut bermasalah, maka saya juga sepakat bahwa UU tersebut memang mengandung masalah. (Baca: PUKAT UGM Sebut RUU Cipta Kerja Bermasalah dari Proses Hingga Substansi)

Jangan-jangan pro kontra tentang UU Omnibus tersebut masih dipengaruhi efek sentimen Pilpres sehingga asal dukung dan asal tolak saja. Wallahu alam, mungkin saja. Semua faktor ikut berpengaruh dalam cara pandang seseorang.

Sebaiknya UU tersebut ditunda saja dulu oleh Pemerintah. Perbaiki lagi bagian-bagian yang masih bermasalah tersebut, dengarkan aspirasi rakyat, dengarkan pendapat para ahli,  tidak perlu buru-buru mengesahkannya. Bikin Perpu.

Jika dengan pemberlakuan UU tersebut diharapkan memudahkan investor masuk ke dalam negeri sehingga dapat mengurangi dampak ekonomi akibat pandemi corona, kok rasanya agak jauh. Investor tentu akan menunggu kondisi pulih dulu. Itu perlu waktu yang cukup lama. Jika kasus positif corona terus saja bertambah banyak setiap hari, investor tentu enggan untuk masuk.

Masyarakat kita saat ini sedang fokus pada masalah corona. Jangan sampai penderitaan masyarakat bertambah lagi dengan hal-hal yang bermasalah pada UU tersebut.

Dipublikasi di Indonesiaku | 1 Komentar

Momen yang Hilang di Kelas Onlen

Setelah kuliah daring (online) selama beberapa bulan, apa yang dirasakan?

Seorang rekan menjawab, kita tidak bisa lagi merasakan momen celutukan “ohhh…gituu…” dari mahasiswa yang mengangguk-anggukkan kepala tanda paham setelah kita menyelesaikan soal sulit di papan tulis.

Kita tidak bisa melihat wajah-wajah mahasiswa yang terkesima, ketika mendemokan sesuatu, menurunkan sebuah rumus, atau ketika mereka diajarkan suatu metode/algoritma/teori yang sangat menarik perhatian, apalagi jika dibumbui cerita-cerita tentang latar belakang teori itu yang dramatis.

mhs

Mengajar tatap muka di kelas nyata dan di kelas maya beda nuansanya. Mengajar di kelas maya itu seperti berbicara sendiri dengan komputer. Ketika file PPT di-share screen, maka hilanglah wajah-wajah mahasiswa di layar komputer, lalu kita berbicara sendiri di depan monitor, berbicara seperti orang “kurang waras” karena tidak ada orang lain di dekat kita, hehe.

mhs2

Ada rasa yang hilang di kelas onlen. Sentuhan humanistik tidak tergantikan dengan mengajar secara onlen meskipun kita sudah membuat video kuliah semenarik dan sebagus apapun.

Mengajar tatap muka secara langsung di kelas nyata tetaplah yang terbaik. Pandemi corona di satu sisi telah membuyarkan aneka rencana dan kegiatan berjumpa dengan anak didik di kampus. Di sisi lain masa pandemi membuat kita merenung kembali pentingnya hubungan antar manusia, betapa hubungan antar manusia secara langsung tetap tidak tergantikan dengan teknologi.

Ah, kangen suasana kelas lagi, bertatap muka dengan para mahasiswaku. Miss you my students. 😥

Dipublikasi di Pendidikan, Seputar ITB | Meninggalkan komentar

Empat Amalan Sebelum Tidur

Ini merupakan tulisan untuk pengingat diri. Tidur adalah nikmat Allah yang tidak terganti. Beberapa orang, termasuk saya sendiri, pernah sulit tidur.  Saya pernah tidak memicingkan mata selama dua hari malam. Insomnia (baca: Pengalaman Minum Obat Tidur). Cukup sering seperti ini, terutama jika ada masalah yang dipikirkan, atau badan lagi ada yang tidak beres (sakit). Saat kita tidur Allah sebenarnya mengambil ruh kita, lalu mengembalikannya lagi saat terbangun pagi hari. Banyak pula orang yang wafat saat sedang tidur.

Maka, lakukanlah empat amalan sebelum kita tidur. Sebagaimana disebutkan di dalam Kitab Durratun Nashihin karya Syaikh Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al- yang terjemahan bebasnya sebagai berikut:

Rasulullah SAW berpesan kepada Aisyah RA : “Wahai Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu:

1. Sebelum khatam Al Qur’an
2. Sebelum membuat para Nabi memberimu syafaat di hari akhir
3. Sebelum para muslim meridhoi kamu
4. Sebelum kau melaksanakan haji dan umroh

” Bertanya Aisyah: “Ya Rasulullah.. Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?” Rasulullah tersenyum dan bersabda:

1. “Jika engkau tidur bacalah surat Al- Ikhlas sebanyak tiga kali maka pahalanya sama seperti mengkhatamkan Al Qur’an.”:
Bismillaahir rohmaanir rohiim, Qulhuallahu ahad’ Allahushshomad’ lam yalid’ walam yuulad’ walam yakul lahuu kufuwan ahad’ (3x)

2. “Membaca sholawat untuk ku dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafa’at di hari kiamat“:
Bismillaahir rohmaanir rohiim, Allahumma shollii ‘alaa Muhammad wa’alaa alii Muhammad (3x)“

3. “Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meridhoi kamu”:
Astaghfirullahal adziim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih (3x)

4. “Perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan – akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh“:
Bismillaahir rohmaanir rohiim, Subhanallahi Walhamdulillaahi walaailaaha Illallahu Allahu akbar (3x).

Meskipun Rasulullah berkata kepada Aisyah R.A, tetapi karena Rasulullah adalah suri teladan, maka apa yang dikatakannya juga patut kita teladani.

Kutipan asli dari buku tersebut dikutip dari sini:

Diriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau berkata kepada Sayidah Aisyah, ‘Wahai Aisyah, janganlah kamu tidur sebelum melakukan empat hal; sebelum mengkhatamkan Alquran, sebelum membuat para nabi memberi syafaat kepadamu kelak di hari kiamat, sebelum membuat seluruh kaum muslimin ridha kepadamu dan sebelum melakukan ibadah haji dan umrah.’

Setelah berkata demikian, Nabi kemudian melanjutkan sholat malamnya dan Sayidah Aisyah sendiri berada di tempat tidur seraya menunggu Nabi menyempurnakan sholatnya. Setelah Nabi Saw menyempurnakan sholatnya, Sayidah Aisyah langsung bertanya, ‘Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku, engkau perintahkan aku melakukan empat perkara yang saat ini tidak mampu aku melakukannya.’

Mendengar pertanyaan Aisyah ini, Nabi lalu tersenyum dan beliau menjelaskan, ‘Jika kamu membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak tiga kali, maka pahalanya sama dengan mengkhatamkan Alquran. Jika kamu membaca sholawat kepadaku dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberikan syafaat kepadamu di hari kiamat kelak. Jika kamu memohonkan ampunan untuk seluruh kaum muslimin, maka mereka semua akan ridha kepadamu.

Dan jika kamu membaca ‘Subhanallah wal hamdulillah wala ilaha illahu wallahu akbar,’ maka kamu telah melakukan haji dan umrah,”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad.

Dipublikasi di Agama | Meninggalkan komentar

Mamang Tukang Cukur Keliling

Seorang lelaki tua tampak berjalan kaki dengan berjalan perlahan di sekitar perumahan Antapani.  Dia, seorang bapak tukang cukur keliling. Setiap hari dia mengukur jalanan, masuk kampung keluar kampung, masuk gang keluar gang. Dengan memanggul tas besar berisi peralatan cukur dan bangku kecil untuk duduk, dia berjalan kaki menyusuri jalan-jalan pemukiman penduduk, menawarkan jasa cukur, berharap ada bocah atau orang dewasa dicukur rambutnya.

TukangCukur

Saya sering melihatnya di sekitar Antapani sejak lama.  Setiap pagi saat saya olahraga jalan kaki saya sering berselisih jalan dengannya. Kadang dia lewat di depan rumah saya. Tampak letih di wajahnya, kerut keriput wajahnya, dan kulitnya yang sudah hitam terpanggang matahari menandakan dia sudah lama menjalani profesi tukang cukur keliling ini. Saya memang tidak mengenalnya dan tidak pernah memakai jasanya, tetapi saya dapat merasakan perjuangannya mencari nafkah.

Pada masa pandemi seperti ini mencari orang yang mau dicukur tentu semakin sulit. Sebagian orang masih menghindar kontak langsung dengan tukang cukur, khawatir tertular virus corona. Namun di beberapa barber shop dan tempat-tempat cukur lain di Antapani, pengunjung sudah mulai tampak normal, sudah banyak orang bercukur lagi. Tentu rambut tidak bisa menunggu waktu lebih lama untuk dicukur, ia tumbuh terus dan bertambah panjang. Mencukur sendiri atau dicukur oleh anggota keluarga hasilnya kurang memuaskan karena memang bukan ahlinya. Akhirnya orang kembali lagi ke tukang cukur rambut, tentu dengan tetap memperhatikan protokol covid-19: pakai masker saat dicukur, baik pencukur maupun yang dicukur.

Kembali tentang bapak tukang cukur keliling tadi. Pikiran saya melayang ke masa lalu, saat masih bocah. Dulu waktu kecil,  rambut saya sering dicukur oleh tukang cukur keliling. Ibu menyuruh saya duduk di kursi kecil yang dibawa tukang cukur itu. Kaki kursinya berbentuk huruf X dan dapat dilipat menjadi satu. Alas duduknya terbuat dari kulit sapi yang lentur. Saya duduk di bawah pohon atau di halaman rumah yang tidak bersemen. Tukang cukur mengeluarkan sehelai kain putih yang sudah kumal, kain putih itu dipakaikan ke punggung saya sebagai jubah agar potongan rambut tidak mengenai badan.  Potongan rambut anak-anak saat itu umumnya seragam, yaitu potongan rambut tentara: plontos di bagian belakang, tipis di bagian atas. 🙂

Kalau tidak pakai jasa tukang cukur keliling, ayah saya membawa saya bercukur rambut di DPR (di bawah pohon rindang). DPR itu pada prinsipnya sama dengan tukang cukur keliling, tetapi mereka mangkal di bawah pohon besar yang rindang, biasanya pohon beringin. Dulu di dekat rumah saya di kawasan Sawahan Padang ada tempat pemotongan hewan yang dikenal dengan nama Rumah Potong. Nah, di halaman Rumah Potong itu tumbuh sebuah pohon beringin yang besar dan rindang. Nah, di bawah pohon beringin itulah mangkal beberapa orang tukang cukur. Sebuah cermin besar tergantung di batang pohon sebagai tempat bercermin orang yang sedang dicukur.

Ada terbersit keinginan saya nanti ingin dicukur oleh tukang cukur keliling yang sering saya lihat tadi. Ada rasa iba di dalam hati saya. Kasihan melihat keletihan di wajahnya. Semoga Allah SWT membalas peluh keringatnya yang bercucuran dengan pahala, dan memberinya rezeki yang barokah.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 1 Komentar

Mahasiswa Milenial yang Berbahasa Santun

Beberapa waktu yang lalu di dunia maya (khususnya twitter) sempat trending berita tentang chat mahasiswa kepada dosenya yang dianggap oleh dosen tersebut kurang sopan (baca: Membaca Lagi Chat Dosen ‘Kok Kamu Atur Saya’ yang Heboh di Twitter). Meskipun saya tidak  mengerti dimana letak kesalahan kata-kata si mahasiswi, biasa saja kalimatnya, wajar dan sopan, tapi mungkin saja saat itu sang dosen sedang tidak berada dalam kondisi mood yang baik sehingga emosinya kurang stabil. Wallahu alam.

Itulah bedanya bahasa lisan dengan bahasa tulisan, bisa berbeda-beda penafsiran. Bahasa tulisan (seperti SMS, surel, chat dengan whatsapp, dll) tidak mengandung ekspresi dan intonasi yang rentan menimbulkan salah paham.

Anak muda generasi milenial sering dipersepsikan tidak tahu sopan santun berbahasa. Benarkah demikian? Pengalaman saya mengajar mahasiswa milenial beberapa tahun terakhir ternyata sebaliknya.

Mahasiswa milenial menurut saya sopan-sopan saja kok kalau menghubungi dosen via surel (e-mail) atau WA. Saya belum pernah mendapat pesan dengan bahasa yang kurang santun, baik dari mahasiswa di kampus sendiri, maupun mahasiswa dari kampus lain. Di awal atau di akhir surel mereka sering ada kalimat begini:

Mohon maaf apabila mengganggu waktu Bapak

Mohon maaf bila ada salah kata

Mohon maaf bila ada kata-kata atau kalimat saya yang kurang sopan

Menurut saya itu kalimat-kalimat yang baik. Malah saya sendiri kalau menyurati orang lain jarang menulis  kalimat-kalimat di atas.

Terima kasih anak-anaku, saya tidak pernah merasa terganggu membaca surel kalian, karena kebiasaan saya setiap (pagi) hari adalah mengecek semua surel yang masuk dan selalu membacanya (dan membalasnya jika pengirim menunggu jawaban).

Dulu sebelum pandemi corona, setiap kali masuk kantor dan menyalakan komputer desktop, maka aktivitas yang pertama kali saya lakukan adalah membaca semua surel yang masuk ke dalam inbox. Sekarang, ketika harus WFH, membaca surel dari orang lain bisa dilakukan kapan saja, di rumah, di perjalanan, di kantor, dan sebagainya. Ada smartphone, dan yang terpenting ada akses internet.

Sebagai dosen dan pendidik, kita tidak perlu menjadi orang yang gila hormat. Kalau kita ramah, rendah hati, selalu menyempatkan diri membalas surel/WA mahasiswa, tidak mempersulit mahasiswa, maka mahasiswa kita pun akan hormat dan segan. Mereka tidak pernah mengirim pesan dengan bahasa yang tidak sopan kepada kita. Seperti bunyi sebuah slogan pada sebuah stiker: anda sopan, kami segan.

Dipublikasi di Budi Pekerti, Pendidikan | Meninggalkan komentar

Biar Sedikit Asal Rutin

Setiap pagi saya selalu jalan kaki mengitari jalan-jalan perumahan di Antapani. Usai jalan pagi saya selalu mampir ke sebuah warung sayur. Ya sekalian beli sayur dan buah. Namun yang saya suka belanja di warung tersebut adalah selalu tersedia kotak amal buat anak yatim atau dhuafa. Saya suka memasukkan uang kembalian yang jumlahnya sih tidak banyak ke kotak itu, kadang 2000 kadang 5000. Biar sedikit tapi insya Allah rutin setiap hari. Bukankah Allah menyukai amalan yang kontinu meskipun sedikit?

Dari ’Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad. Shalawat buat Rasulullah yang mulia berserta keluarganya. Pesan Rasul sangat bermakna, khususnya buat saya.

Biar beramal sedikit tetapi rutin setiap hari, apalagi kalau banyak ya. Mari beramal sholeh secara rutin. Sedekah secara rutin, puasa sunat secara rutin, sholat tahajud secara rutin (dua yang terakhir masih berat saya kerjakan).

#renunganpagi

Dipublikasi di Agama, Renunganku | 3 Komentar

Bertahan Hidup pada Masa Pandemi

Sudah lima bulan pandemi corona berlangsung di tanah air (dan mungkin masih akan terus berlangsung). Sudah banyak orang terhempas secara ekonomi akibat pandemi corona. Sudah banyak orang kehilangan pekerjaan dan mata pencahariannya karena tidak ada orang yang mau memakai jasanya, atau membeli barangnya, atau karena orang-orang menghindar dulu untuk berhubungan dulu dengan mereka.

Berikut daftar orang-orang yang kehilangan mata pencaharian/pekerjaan akibat pandemi corona:
1. Pemijat termasuk tukang pijat tuna netra dan pekerja di spa
2. Pengajar bimbel/les privat
3. Pegawai hotel dan pekerja di tempat-tempat wisata
4. Perajin suvenir untuk pariwisata
5. Pilot dan pramugari (hanya sebagian mereka yang boleh terbang)dan kru di bandara (porter, pegawai check-in counter)
6. Pegawai bioskop
7. Guru honorer di sekolah swasta
8. Pegawai perusahaan biro travel, termasuk biro perjalanan umrah dan haji
9. Pegawai perusahaan ticketing daring (Traveloka, Tiket.com, Airy Room, dll sudah merumahkan sebagian karyawannya)
10. Pegawai perusahaan catering dan wedding, karena resepsi pernikahan masih belum diperbolehkan untuk tamu yang banyak.
11. Pegawai sarana transportasi (kereta api, bus travel, pesawat, Gojek, Grab, dll)
12. Pekerja event organizer
13. Pekerja seni pertunjukan (dalang, penari, sinden, penyanyi, MC, dll)
14. Artis
15. …

Masih panjang lagi daftarnya, silakan diisi sendiri. Sedih melihat situasi ini, karena efek dominonya kemana-mana.

Namun bukan orang Indonesia namanya jika tidak berusaha dengan berbagai cara untuk bertahan hidup. Kang Deden misalnya, sebelum pandemi ia bekerja di sebuah perusahaan interior kantor. Namun akibat pandemi, perusahaannya melakukan rasionalisasi karena tidak ada order interior. Setelah di-PHK dari tempat kerjanya akibat badai corona, Kang Deden banting stir berjualan ikan bandeng presto keliling. Ketika lewat di depan rumah saya, dia menawarkan ikan bandeng presto. Saya pun membelinya.

Ikan bandeng presto itu memang bukan dia yang membuatnya, tetapi diambil dari majikannya, orang Semarang  yang menjadi perajin bandeng presto di Bandung. Dia hanya menjualkannya saja secara keliling, lalu mengambil sedikit keuntungan dari per satuan  ikan bandeng yang terjual. Satu ekor ikan bandeng presto dijualnya sembilan ribu hingga sepuluh ribu rupiah. Tidak terlalu mahal. Setelah saya goreng atau bakar, rasanya yummy. Enak.

“Ya ginilah, Pak,”, katanya. “Daripada nggak ada kerjaan, saya keliling jualan ikan bandeng ini”, katanya lagi.

Tentu saja orang-orang seperti Kang Deden ini banyak jumlahnya, ratusan ribu, bahkan jutaan orang. Mereka ini dulunya punya pekerjaan tetap, tetapi akibat pandemi yang luar biasa ini, pekerjaan mereka menjadi ambyar. Pekerjaan apapun dilakukan untuk mencoba bertahan.  Yang penting halal.

Semoga orang-orang seperti Kang Deden diberi ketabahan dan tetap semangat ditengah krisis.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 2 Komentar

Rindu ke Sekolah Lagi

Sebuah posting-an di grup WA saya terima pagi ini, lengkap dengan foto ilustrasi:

Sedih yaa .. nasib anak desa .. anak rakyat kecil nan miskin ..

Absen tiap pagi pakai seragam “cekrek cekrek” dan kirim fotonya ke Bapak / ibu guru. Setelah itu duduk manis di depan hape canggih ataupun laptop mahal… kelas online dimulai. Sepertinya asyik ya?

Apa daya aku anak seorang buruh harian, jangankan hape mahal… hape di rumah hanya ada satu dibawa ayah bekerja. Ayah bilang hapenya tak bisa ditinggal untukku, ayah juga perlu.

Aku berharap pandemi segera berlalu. Bisa kembali ke sekolah. Aku bisa bersaing dengan yang lainnya jika belajar di sekolah. Tapi kalau online… aku bisa apa? Termangu di teras rumah, pasrah….

Aku rindu suasana belajar di sekolah lagi…

anaksekolah

****************************

Tidak hanya anak desa, anak di kota pun merasakan hal yang sama. Memang pembelajaran secara daring (atau PJJ, pembelajaran jarak jauh) banyak kendala. Kendala kesenjangan antara daerah yang dapat mengakses internet dan tidak, kesenjangan antara kaya dan miskin (yang mampu beli hape smartphone dan tidak, apalagi membeli kuota internet).

Maka hari-hari ini kita sering membaca kisah guru-guru yang rela naik turun bukit menemui muridnya di rumah demi si anak bisa menerima pelajaran (Baca:  Tak Punya Android, Guru SDN Riit di Sikka Datangi Rumah Murid Beri Pelajaran)

Sedih dan prihatin. Apa mau dikata, ketentuan belajar daring dari Pemerintah Pusat harus dijalankan tanpa pernah memperhatikan apakah infrastrukturnya sudah tersedia, apakah orangtuanya mampu menyediakan perangkat.

Selain dua kesenjangan tadi, terdapat juga kesenjangan kualitas PJJ antara sekolah swasta (yang bonafid tentunya) dengan sekolah negeri dalam melaksanakan belajar daring (PJJ). Di sekolah swasta guru-guru melakukan pembelajaran secara video conference dengan semua muridnya lewat aplikasi Zoom dan siswa menyimak dari laptopnya masing-masing. Guru-gurunya cukup kreatif menyiapkan konten video ajar. Sekolah sudah menyiapkannya video ajar jauh-jauh hari, berkaca dari pengalaman PJJ pada semester yang lalu. Orangtua siswa umumnya mampu menyediakan laptop dan akses internet yang unlimited (karena ada WiFi di rumah).

Coba lihat di sekolah negeri. Guru-guru memberi materi pelajaran kepada murid lewat grup WA dan Google classroom. Siswa-siswa di sekolah negeri berasal dari keluarga dengan disparitas ekonomi yang sangat beragam. Tidak semua orangtua mampu menyediakan kuota internet untuk vidcon lewat Zoom. Pun tidak semua mampu menyediakan laptop, siswa hanya belajar pakai ponsel saja.

***********

Anak-anak sekolah sudah lama rindu pergi ke sekolah lagi.  Anak-anak sekolah (juga mahasiswa) sudah berkorban cukup lama berdiam diri di rumah, mereka tentu sudah ingin bersosialisasi dengan temannya. Orangtua di rumah pun sudah sangat kerepotan dengan pembelajaran jarak jauh ini.

Sebuah posting-an di WA berisi keluhan orangtua wali murid:

Saya mewakili wali murid seluruh indonesia yg insya Allaah satu suara. Tolong dg sangat ” BUKA KEMBALI SEKOLAH UTK ANAK2 KAMI”
Kami tidak semuanya paham dan ngerti cara belajar online. Kami tidak selalu punya uang utk beli paket data. Dgn adanya belajar online… tidak membuat anak2 kami ngerti dg materi pelajaran, malah tambah bodoh….. malas… tidak disiplin…. bahkan yg lebih parah…. MEMPERCEPAT ANAK2 INDONESIA MENGALAMI KEBUTAAN DINI karena kebanyakan mantengin ponsel…. . Apakah ini yg namanya SOLUSI???? Bapak/ ibu pemimpin yg terhormat…. tolong pertimbangkan lagi kebijakan yg kalian ambil. Aktifitas kami di batasi dg ancaman covid, sementara beratnya beban hidup kami seolah tak kalian peduli. Jika sekolah masih terus di tutup, apa jadinya dg anak2 kami….! Pasar bebas ramai , berkerumun, tanpa khawatir terpapar covid, pantai dan tmpat wisata di buka, tmpat hiburan di buka, pesawat penuh sesak dg penumpang…. mall juga di buka. Tapi kenapa SEKOLAH DI TUTUP hanya karena takut terpapar covid?! . Tolong… pak… bu…. bukalah lagi sekolah kami, tmpat anak2 kami menuntut ilmu, tmpat di mana anak2 bertemu kawan dan guru guru…. sementara di rumah…. kami sbg ortu sudahlah di repotkan dg pekerjaan rumah, kebutuhan sehari hari…. masih lagi di repotkan dg mengajarkan materi yg ada di buku tema kpd anak yg notabene itu bukan kapasitas kami… karena memang itu di luar kemampuan kami. Saya mohon….. kpd bpk/ ibu yg trhormat…. tolong…. BUKA… BUKA…. BUKA SEKOLAH KAMI. Jgn sampai menunggu kejadian… yg tak di harapkan terjadi dan ter alami di suatu saat nanti.

Baca juga:  Pembelajaran Daring Pengaruhi Jiwa Anak, Perlu Antisipasi Cepat

Pemberlakuan hanya daerah zona hijau dalam tingkat kabupaten/kota yang boleh melakukan belajar tatap muka perlu ditinjau lagi. Daerah-daerah yang berada di pedalaman, di lereng gunung, di pulau kecil, di tepi hutan, dan daerah-daerah lain yang jauh dari penyebaran covid, sebenarnya dapat melakukan pembelajaran tatap muka seperti biasa (tentu dengan memperhatikan protokol kesehatan).

Pemberlakuan zona hijau sebaiknya ditinjau pada level yang lebih kecil. Jika di sebuah kecamatan tidak ada kasus covid atau penyebaran covid terkendali, maka pembelajaran tatap muka di sekolah bisa dilakukan dengan protokol kesehatan. Rencana Gubernur Jabar yang akan membuka sekolah di kawasan-kawasan tersebut perlu diapresiasi.

“Dari (daerah) Risiko Rendah dan Sedang ini kita akan lebih detail ke wilayah kecamatan untuk pembukaan sekolah di Zona Hijau. Akan dibahas lebih lanjut lagi,” ucap Kang Emil. (Sumber: 22 Daerah di Jabar Masuk Zona Kuning, 5 Masih Zona Oranye).

Silakan sekolah-sekolah di kawasan yang aman dibuka kembali, tapi tentu saja dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kombinasi belajar daring (online) dan luring (offline) dapat dilakukan. Masuk sekolahnya bisa diatur bergiliran (shift). Satu kelas diisi setengahnya saja, belajar pun cukup tiga sampai empat jam sehari (8-12). Pelaksanaan belajar untuk sementara tidak dilakukan tiap hari sampai situasi benar-benar aman, misalnya dua atau tiga hari seminggu. Tiga hari luring dan dua hari daring. Ini solusi agar anak-anak tidak jenuh di rumah, bisa bersosialisasi dengan teman dan ketemu guru.

Dipublikasi di Indonesiaku, Pendidikan | Meninggalkan komentar

Puncak Corona yang Belum Kelihatan Juga

Kalau puncak gunung biasanya mudah dilihat. Semakin tinggi kita mendaki gunung, semakin tampak puncak gunungnya. Tapi tidak untuk kurva kasus virus corona di Indonesia. Setiap hari pertumbuhan kasus positif COVID-19 bukannya berkurang, tetapi terus bertambah.  Hari ini saja misalnya, jumlah kasus kasus corona rekor luar biasa, yaitu  2.657 orang, padahal sebelumnya hanya bertambah 1000-an.

Maka,  yang kita lihat saat ini adalah kurva corona di Indonesia terus mendaki, menanjak naik, melaju menuju puncak, namun masalahnya puncak kurvanya tetap belum terlihat tanda-tandanya, pun tidak bisa diprediksi kapan ketemu titik puncak tersebut.

indonesia

Kondisi berbeda terjadi di negara tetangga. Malaysia dan Singapura sudah turun kurvanya, bahkan di Malaysia kasus corona sudah hampir berakhir.

Malaysia

Masyarakat kita tidak disiplin, itu sebabnya. Anjuran memakai masker dan menjaga jarak tidak dipatuhi. Orang-orang tetap saja berkeliaran di ruang terbuka tanpa menggunakan masker, tetap berkerumun, tetap antri tanpa menjaga jarak. Ada atau tidak ada PSBB sama saja kondisinya. Jalanan tetap ramai, pasar tetap ramai. Berakhirnya PSBB dianggap sebagai sebuah euforia, bagaikan sebuah kebebasan setelah lama dikurung di rumah. Aktivitas pun kembali bergerak seperti biasa. New normal sama seperti normal. Tidak ada yang berbeda.

Di sisi lain Pemerintah sendiri merasa gamang. Apakah ekonomi yang mau didahulukan atau kesehatan?  Meneruskan PSBB, karantina wilayah, atau apapun namanya bisa melumpuhkan ekonomi. Ini bisa berbahaya karena membuat krisis multidimensi yang luar biasa. Namun melonggarkan PSBB resikonya sangat riskan bagi kesehatan. Akhirnya diambil jalan tengah. Istilahnya mari berdamai dengan corona.  Silakan bekerja kembali namun tetap menjalankan protokol: pakai masker dan jaga jarak. Cerita selanjutnya balik lagi ke kondisi ketidakdisiplinan yang diceritakan di atas.

Maka, yang dapat kita lakukan saat ini adalah menjaga diri dan keluarga masing-masing. Jaga kesehatan, jaga imun tubuh agar tetap kuat, keluar rumah hanya jika perlu. Pakai masker, selalu jaga jarak dengan orang lain. Puncak corona masih jauh.

Dipublikasi di Indonesiaku | Meninggalkan komentar

Rendang Gordon Ramsay

Beberapa hari yang lalu saluran National Geographic menayangkan program televisi yang menjadi perbincangan warganet. Program televisi bertajuk Uncharted itu menampilkan eksplorasi seorang master chef terkenal, Gordon Ramsay, menjelajahi kuliner di Sumatera Barat, khususnya memasak randang (rendang) di negeri asal rendang itu sendiri, yaitu Minangkabau (Sumatera Barat). Mengapa rendang, ya karena rendang sudah dinobatkan oleh CNN menjadi makanan paling favorit nomor satu di dunia.

FYI, rendang sebenarnya bukanlah nama masakan, tetapi rendang adalah sebuah teknik memasak di Minangkabau yang memadukan santan dan rempah lainnya yang nantinya akan menjadi randang. Lauk apa saja bisa di-randang, tidak terbatas daging sapi, tapi bisa juga daging ayam, paru, telur, kerang (lokan), ikan, kentang, bahkan daun singkong. Namun umumnya bagi orang Indonesia jika disebut rendang maksudnya rendang daging sapi. Karena di daerah asalnya disebut randang, maka untuk selanjutnya penulis menyebutnya sesuai dengan bahasa asal, yaitu randang, bukan rendang.

Kembali ke tayangan Uncharted. Sangat menarik melihat Gordon Ramsay memasak randang, mulai dari dia terjun ke pasar tradisional membeli aneka bumbu randang, mencari daging sapi yang enak, hingga memasak langsung di lembah Ngarai Sianok dibawah bimbingan William Wongso (lihat video sekilasnya di sini).

2020_05_29_96468_1590758157._large

Tetapi setelah saya  melihat apa yang dia masak dan yang dia cicipi menurut saya itu bukanlah randang, tetapi baru berupa kalio (atau kalio rendang). Kalio adalah randang yang setengah jadi, berwarna coklat, dan masih basah (berminyak). Kalio itulah yang umum disediakan di restoran padang di Jawa, dan kebanyakan orang (yang bukan orang Minang) menyebutnya sebagai rendang, padahal itu bukanlah randang.

Ini namanya kalio, belum menjadi randang

Disebut randang adalah jika ia sudah berwarna hitam atau coklat kehitaman dan agak kering. Untuk mencapai tahap randang ini diperlukan waktu memasak selama 8 jam. Rendang yang  dihasilkan akan awet selama satu bulan. Randang sering dijadikan bekal untuk ibadah haji, bekal pergi merantau, dan tentu saja kiriman untuk sanak famili di rantau orang.

Inilah rendang

230520133267

Randang ayam

Meskipun demikian, tidak ada “keharusan” memasak randang sampai berwarna hitam dan kering seperri gambar di atas, tergantung selera masing-masing. Anda bisa berhenti sampai tahap kalio yang rasanya creamy, atau menyimpannya dulu di lemari es, lalu memasaknya kembali selama beberapa jam hingga menghasilkan randang.

Lalu, mengapa umumnya rumah makan padang di pulau Jawa dan di daerah lain menyajikan randang dalam bentuk kalio? Itu tentu saja karena alasan praktis, sebab seperti yang disebutkan di atas, memasak rendang membutuhkan waktu yang lama, yaitu enam sampai delapan jam. Di Sumatera Barat sendiri umumnya randang yang dijual di rumah makan jarang berupa kalio, minimal sudah berwarna coklat kehitaman dan tidak basah.

Demikianlah perbedaan antara kalio dan randang.

Dipublikasi di Cerita Ranah Minang, Makanan enak | 1 Komentar