Saya Indonesia, Saya Pancasila, tapi…

Beberapa bulan terakhir ini saya seringkali membaca slogan dari orang-orang di media sosial dengan tulisan seperti pada judul di atas. Saya Indonesia, atau Saya Pancasila. Ada juga yang ditambah dengan kata-kata, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI harga mati. Di satu sisi slogan ini tujuannya baik, sebab ingin menegaskan bahwa dirinya adalah orang Indonesia tulen yang mencintai bangsa dan negaranya serta meneguhkan Pancasila sebagai falsafah negaranya.

Namun, di sisi lain slogan tersebut seringkali ditujukan untuk menyindir (atau malah menyerang) orang atau kelompok orang yang berbeda pandangan dengan dirinya. Dengan menyatakan dirinya Saya Indonesia, Saya Pancasila, maka  orang atau kelompok lain yang berbeda pandangannya dengannya dianggap tidak Pancasila, anti bhinneka tunggal ika, anti NKRI, intoleran, dan sebagainya. Dengan gampangnya mereka merasa berhak untuk mencap orang lain tidak lebih Pancasila dibandingkan dirinya atau kelompoknya.

Klaim-klaim semacam ini  terjadi pasca Pilpres 2014, lalu diikuti Pilkada DKI 2017. Seperti kita ketahui Pilpres 2014 telah membuat bangsa ini terbelah. Pasca Pilpres polarisasi ini bukannya semakin lebur, tetapi semakin tajam, apalagi ditambah dengan Pilkada DKI 2017 yang merupakan Pilkada terpanas sepanjang sejarah. Sejak dua pemilu tersebut maka muncullah berbagai demo besar berjilid-jilid. Berita hoax, berita adu domba, ujaran kebencian, fitnah, dan sebagainya merajalela, yang membuat bangsa Indonesia ini berada di jurang perpecahan. Sejak itulah kata-kata seperti intoleran, radikal, anti kebhinnekaan, anti NKRI, anti Pancasila, dan sebagainya berseliweran di dunia maya maupun di dunia nyata. Maka, untuk membedakan diri atau kelompoknya dengan orang atau kelompok lain yang berbeda pandangan, maka dimunculkanlah slogan-slogan seperti di atas.

Kondisi ini tentu saja sangat menyedihkan dan berbahaya. Menyedihkan  karena menimbulkan permusuhan sesama anak bangsa. Berbahaya karena setiap orang atau kelompok memiliki tafsir sepihak untuk menilai orang lain atau kelompok lain anti Pancasila, anti bhinneka tunggal ika, anti NKRI, intoleran, radikal, dan sebagainya. Kita semua sepakat Pancasila sudah final menjadi dasar negara, tidak ada yang perlu dipersoalkan lagi. Tetapi, jika merasa berhak untuk menilai orang lain tidak lebih Pancasila dibandingkan dirinya itu saya kira sangat fatal.

Baru-baru ini seorang ustad mengalami persekusi ketika akan berceramah di Bali. Dia ditolak dan diancam untuk diusir  oleh beberapa ormas di sana karena dianggap radikal, anti NKRI, intoleran, anti Pancasila. Sang ustad dipaksa untuk berikrar, mencium bendera merah putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sebagainya. Padahal ormas-ormas itu tidak punya legalitas untuk memaksa orang lain berikrar, apalagi menuduh seseorang anti NKRI, anti Pancasila, dan sebagainya. Hal yang sama juga terjadi pada beberapa ulama yang ditolak ditolak berceramah oleh sebuah ormas keagamaan di Jawa Timur dan Jawa Barat hanya karena ulama-ulama itu dianggap anti bhinneka tunggal ika, anti NKRI, dan sebagainya.

Ormas-ormas yang mengaku paling Pancasila dan paling NKRI itu sebenarnya secara tidak sadar telah menunjukkan sikap intoleran dan anti Pancasila. Menolak orang lain mengunjungi suatu daerah di tanah air adalah melanggar undang-undang, karena setiap warga negara Indonesia berhak pergi ke mana saja di seluruh wilayah tanah air. Melarang orang lain melakukan dakwah atau beribadah, apapun agamanya, melanggar sila pertama Pancasila dan Pasal 29 UUD 1945. Melakukan persekusi (penghakiman secara sepihak) kepada orang lain adalah perbuatan melanggar undang-undang.

Biasanya persekusi dimulai dari provokasi seseorang di akun media sosialnya ( FB, Twitter, Instagram, dll) lalu postingan tersebut menyebar secara masif dan cepat di media sosial. Sentimen keagamaan atau kedaerahan membuat orang awam yang tidak paham masalah jadi ikut-ikutan ikut terpancing dan tersulut emosi. Dengan cepat massa berkumpul di suatu tempat, dan tanpa tahu siapa yang memberi komando mereka bergerak melakukan aksi persekusi terhadap orang yang disasar. Sang provokator tidak ikut di lapangan, tetapi dia puas tujuannya telah tercapai dengan menggerakkan massa untuk melakukan persekusi.  Senjata tajam pun ikut berkeliaran tetapi aparat penegak hukum seperti tidak berdaya untuk bertindak karena kalah jumlah dengan massa.

Yang saya khawatirkan dan takutkan adalah aksi persekusi itu dapat menimbulkan reaksi balasan di tempat lain. Aksi balas dendam. Itu sudah terjadi pada beberapa kasus di tanah air. Menurutku, Pasca Pilpres 2014 dan Pasca Pilkada DKI bangsa Indonesia saat ini adalah bangsa yang sakit. Gagal move on dan selalu memendam bara api kebencian kepada orang yang sudah mengalahkannya. Menyedihkan!

Dipublikasi di Indonesiaku | 7 Komentar

Jalan-Jalan ke Pulau Langkawi, Malaysia

Akhir bulan November kemarin saya ada acara konferensi ICCEI 2017 di Pulau Langkawi, Malaysia. Langkawi adalah sebuah pulau wisata di sebelah barat Semenanjung Malaka. Dari Bandung tidak ada penerbangan langsung ke Langkawi, kita harus transit dulu di bandara Kuala Lumpur (KLIA), lalu melanjutkan penerbangan ke Pulau Langkawi. Saya dan teman-teman naik Malindo Air dari Bandung ke Kuala Lumpur (KL) dan dari KL ke Langkawi. Dua jam penerbangan dari Bandung ke KL dan 50 menit penerbangan dari KL ke Langkawi. Menurut saya pesawat Malindo Air cukup nyaman juga, ruang buat kakinya lapang dan nyaman, ada hiburan di dalam pesawat (inflight entertainment) dan mendapat light meal (pizza dan kue serta minuman). Secara umum sama dengan Batik Air. Anda harus bawa earphone sendiri kalau mau mendengarkan audio inflight entertainment-nya ya.

Tempat duduk yang lapang di Malindo Air

Light meal di Malindo Air

Oke, kembali ke cerita Langkawi. Setelah menempuh perjalanan total 3 jam plus beberapa jam transit di KL, kami pun sampai di bandra udara Langkawi International Airport. Bandaranya kecil saja, mirip dengan bandara Husein Sastranegara di Bandung. Tidak ada garbarata, jadi kita dari pesawat turun ke landasan dan berjalan kaki memasuki ruang terminal.

Bandara Langkawi

Langkawi merupakan pulau andalan wisata selain Pulau Penang di Malaysia. Pulau Langkawi terletak di negara bagian Kedah, lebih dekat dengan perbatasan Thailand. Kepulauan Langkawi terdiri dari sebuah pulau utama (Pulau Langkawi) dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Di sini terdapat geopark yang sudah terdaftar di UNESCO. Kata “Langkawi” berasal dari elang dan kawi. Elang adalah nama burung dan kawi artinya batu. Jadi, Langkawi secara harafiah artinya batu elang atau batu tempat burung elang bertengger. Landamark pulau Langkawi adalah burung elang yang hinggap di batu.

Letak Pulau Langkawi

(Gambar di atas diambil dari sini)

Sebagai pulau wisata, di Langkawi terdapat sejumlah obyek wisata. Di bawah ini saya tampilkan peta wisata di Pulau Langkawi (Sumber dari sini).

Peta wisata Pulau Langkawi

Penduduk pulau Langkawi sedikit saja, hanya 100 ribu orang, tetapi pulau ini dikunjungi banyak turis asing. Kami menginap di sebuah hotel di pinggir pantai, namanya Hotel Resort World. Hotelnya bergaya arsitektur klasik dengan bangunan yang mamanjang sepanjang pantai.

Salah satu sudut hote Resort World

Sudut lain hotel Resort World

Berada di pinggir hotel ini kita serasa berada di pinggir danau, karena lautnya tenang tiada ombak. Ya, kita sebenarnya berada di sebuah laguna. Pulau-pulau kecil di depan hotel membuat laut di sini sangat tenang. Tapi, menurut cerita orang Malaysia, ketika terjadi tsunami pada tahun 2004 yang lalu, pulau ini terkena tsunami setinggi 4 meter, termasuk hotel ini juga terkena gelombang tusnami. Ada puluhan orang di Langkawi yang hilang atau meninggal akibat tsunami.

Karena waktu kami sangat sempit, kami mencuri-curi waktu mengunjungi satu tempat wisata terkenal di Pulau Langkawi, yaitu menaiki cable car yang katanya tertinggi di dunia (800 meter). Oh iya, transportasi tidak sulit di Langkawi. Selain taksi konvensional, kita juga bisa naik Grab. Dari hotel ke tempat cable  car hanya 29 ringgit saja (1 ringgit = Rp3300). Memang sebaiknya kita perlu memasang aplikasi transporatsi online seperti Grab dan Uber selama berada di luar negeri, karena terbukti bermanfaat untuk pergi ke mana-mana dengan harga yang murah.

Naik cable car yang tertinggi di dunia, terlihatlah lanskap alam pulau-pulau di sekitar Langkawi. Sayangnya hari hujan sehingga fotonya kurang jelas

Saya hanya merekam beberapa foto saja yang sayangnya kurang jelas karena faktor cuaca (maklum pakai kamera ponsel). Di bawah ini foto-foto yang lebih jelas yang saya ambil dari akun Facebook teman saya, Pak Arry Armand, yang juga ikut dalam rombongan ke Langkawi.

Cable car (Photo by Arry Armand)

Untuk naik cable car ini (isinya max 6 orang) kita harus membayar 55 ringgit. Bentangan cable car ini cukup panjang, sekitar 2 km. Ada dua titik perhentian di puncak bukit. Kita bisa berhenti dulu pada setiap perhentian ini untuk berfoto-foto sambil menikmati pemandangan yang spektakuler, Di bawah sana jurang yang dalam, di ujung sana tampak pulau-pulau.

Di titik perhentian terakhir kita bisa turun lagi dan kalau berani kita menyusuri jembatan gantung yang sebagian dasarnya terbuat dari kaca. Ngeri banget melihat ke bawah. Untuk naik jembatan gantung ini kita harus membayar 10 ringgit.

Jembatan gantung (Photo by Arry Armand)

Jembatan gantung (Photo by Arry Armand)

Kalau ingin menyusuri Pulau Langkawi lebih lengkap setidaknya dibutuhkan dua hari lagi agar semua obyek wisata bisa dikunjungi. Tapi berhubung jatah kami hanya dua hari saja di sana, maka hanya satu obyek wisata saja yang dapat kami kunjungi.

 

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 3 Komentar

Menikmati Kuliner Malam di Bandar Lampung

Dalam suatu kesempatan menjadi dosen terbang di Instiitut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung Selatan, saya menginap satu malam. Malam hari setelah sholat Maghrib di wisma, saya mulai mencari makan malam di Bandar Lampung. Kalau bakso Sonny sudah biasa, sudah sering. Kali ini supir yang mengantar tadi siang mempromosikan begini: coba pak, nasi uduk Toha, sudah terkenal di Bandar Lampung. Nasi uduk mah sudah biasa, di Bandung juga ada, tetapi umumnya dijual pada pagi hari. Malam hari ada juga sih yang menjual nasi uduk ini, umumnya pedagang soto Jawa Timur. Selain soto, pedagang juga menyediakn menu ayam goreng dan pecel lele, nah nasinya itu bisa nasi biasa atau nasi uduk. Nasi uduk adalah nasi  nasi gurih yang dimasak dengan bumbu-bumbu dan sedikit santan.

Tertarik dengan promosi pak supir, saya pun mulai mencari tempat yang menjual nasi uduk ini. Kebetulan ruko yang menjual nasi uduk Toha itu tidak jauh dari wisma, yaitu di Jalan Antasari. Nah itu dia, nasi uduk Toha yang kata orang Lampung sudah menjadi legendaris.

Nasi uduk Toha

Saya pun memesan satu porsi nasi uduk dengan lauk satu potong ayam goreng dan tempe. Ternyata yang dihidangkan lebih dari itu.  Tambahannya berupa satu piring kerupuk emping, lalap sayuran yang banyak, dan tentu saja sambal.

Satu porsi nasi uduk lengkap

Rasanya sih lumayan, memang cocok dimakan hangat pada malam hari yang dingin. Menurutku nilai nasi uduknya 7,5 lah. Sambalnya tidak pedas sekali, ada sedikit rasa manis. Rasa ayam gorengnya standard seperti ayam goreng yang dijajakan pedagang kaki lima.

Coba tebak berapa harga yang harus saya bayar untuk satu paket seperti pada gambar di atas. Empat puluh dua ribu (42.000) rupiah. Hmmmm…mahal juga, kata temanku yang membaca postingan-ku di Facebook. Dia kira sekitar 20 sampai 25 ribulah. Kalau menurut taksiranku sih sekitar 30 ribulah, karena emping dan tempenya lumayan banyak.  Yang penting saya sudah mencoba nasi uduk Toha yang legendaris di Bandar Lampung itu.

Dipublikasi di Makanan enak | Meninggalkan komentar

Bersikap Istiqamah itu Jauh lebih Sulit

Beberapa hari ini media daring ramai memberitakan artis Indonesia yang melepas hijab (jilbabnya) setelah dua tahun memakainya. Tanggapan dan komentar pun datang silih berganti. Kalau yang melakukannya orang biasa, mungkin tidak ada orang peduli, tetapi karena yang melepas hijab adalah tokoh publik, maka resiko sebagai public figure ya begitu, setiap tindak tanduknya harus siap dinilai, dikritisi, atau dikomentari.

Sebenarnya ini berita basi, sebab sudah biasa dan sering terjadi artis yang melepas jilbabnya setelah cukup lama memakainya. Sebagai orang awam, bukan hak kita untuk menghakimi mereka. Biar itu urusannya dengan Tuhan saja. Apakah mereka mempermainkan agama atau bukan, saya kurang tahu.

Setidaknya peristiwa semacam di atas memberi hikmah bagi kita.  Tiap orang ingin menjadi lebih baik dari hari kemarin. Pada kasus di atas, bagi perempuan muslimah, keputusan memakai busana muslimah dengan menutup aurat (mengenakan hijab) adalah sebuah hijrah untuk lebih mengamalkan ajaran agama menjadi lebih baik lagi.

Nah, untuk berubah menjadi orang yang lebih baik tidaklah sulit. Tetapi yang jauh lebih sulit adalah adalah bersikap istiqamah atau konsisten untuk mempertahankannya. Saya sendiri mengalami hal yang sama, misalnya ingin terus melaksanakan shalat tahajud, tetapi hanya konsisten di awal-awal, setelah itu jarang. Ingin bersedekah, meskipun sedikit, setiap hari, tetapi sekarang sering lalai. Ampuni Hamba-Mu ini ya Allah, tidak bisa istiqamah.

Nah, apa yang dialami oleh para artis yang buka tutup hijab saya duga mungkin juga begitu. Mereka ingin berubah lebih baik, ingin menjalankan agama lebih kaffah, tetapi tidak dapat mempertahankannya untuk waktu yang seterusnya. Godaan di luar sana, masalah di dalam diri sendiri, dan lain-lain yang saya tidak tahu, membuat keistiqamahan itu luntur dalam perjalanan waktu.

Menurut saya, sungguh berbahagialah orang yang selalu istiqamah, orang yang selalu konsisten dengan pilihan hidupnya atau dengan keputusan yang dia ambil, meskipun banyak orang mengecam atau mencemoohnya. Dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang, dia hanya berkeyakinan bahwa apa yang dia lakukan adalah benar.

Dipublikasi di Renunganku | 2 Komentar

Angkot dan Taxi Daring, Dua Sisi Kehidupan Berbeda

Hari ini saya naik angkot dari Jalan Riau ke kampus ITB. Penumpangnya hanya saya sendiri di belakang. Sepi. Meski sepi, Pak Supir angkot tetap menjalankan angkotnya mencari penumpang yang masih setia menunggu angkot di pinggir jalan. Dari sisi ekonomi sebetulnya dia merugi karena menjalankan angkot menyusuri jalanan kota tetapi hanya membawa segelintir penumpang. Pendapatan yang masuk dari mengangkot tentu tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkannya (bensin, makan, perawatan, tips buat preman, dsb). Tapi dia tidak punya pilihan lain. Mencari pekerjaan saat ini tidak mudah.

Zaman telah berubah. Pengguna transportasi sudah beralih ke sepeda motor dan transportasi daring (online). Sepeda motor lebih praktis karena dapat menembus kemacetan. Berbeda dengan angkot yang sering berhenti dan ngetem lama menunggu penumpang, memakai sepeda motor jauh lebih bebas dan sesuka hati pemiliknya mau pergi ke mana saja.

Untuk alasan kedua, transportasi daring, sekarang sudah menjadi pilihan penting bagi masyarakat. Transportasi daring seperti ojek daring dan taxi daring dari tiga perusahaan utama  (Gojek, Grab, dan Uber) telah menjadi andalan masyarakat yang enggan naik angkutan umum.  Tidak perlu capek-capek ke jalan raya mencari angkutan umum. Tinggal pesan via ponsel, taxi daring atau ojek daring datang ke rumah atau tempat kita memesan untuk menjemput. Selain efisien, ongkosnya murah lagi karena masih disubsidi oleh perusahaannya yang rajin “membakar duit” investor.

Pengemudi (driver) transportasi daring bisa siapa saja. Mahasiswa, karyawan, PNS, ibu rumah tangga, guru, satpam, dan lain-lain bisa menjadi driver asalkan memiliki kendaraan sendiri. Iming-iming bonus dari perusahaan transportasi daring telah membuat banyak orang tertarik ikut menjadi driver.

Saya sendiri adalah pengguna yang sering menggunakan transporatsi daring, khususnya taxi daring, selain ojek daring tentunya. Mobil yang saya naiki bermacam-macam merek dan tahun keluaran. Minggu lalu saya memesan taxi daring dari sebuah rumah sakit menuju rumah. Baru beberapa detik memesan via ponsel, order saya langsung ada yang menerima. Pengemudinya adalah seorang mahasiswa Unpad tingkat akhir yang baru saja selesai ujian skripsi. Mobil yang dibawanya adalah mobilnya sendiri (mungkin mobil yang dibelikan oleh orangtuanya), mobil terbaru dan jenis terbaru keluaran Honda (ups, sebut merek 🙂

Iseng-iseng saya tanya berapa bonus yang dia terima dengan me-go-car (saya pakai aplikasi Go-car). Katanya, sehari, kalau mendapat order mengangkut penumpang 17 kali, dia mendapat bonus Rp390.000 pada hari biasa (weekday), atau Rp450.000 pada akhir pekan (weekend). Itu diluar ongkos dari penumpang dan sejumlah tips. Dia tidak perlu keliling-keliling mencari penumpang seperti halnya taxi konvensional atau angkot, cukup mangkal di suatu tempat keramaian (stasiun, pangkalan travel, mal, pasar, dsb), tunggu order yang masuk ke aplikasi, maka dia sudah mendapat penumpang.  Kerjanya cukup dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam saja, suka-suka dia saja.

Saya berhitung-hitung, jika sehari katakanlah dia mendapat pendapatan (bonus + ongkos dan tips dari penumpang) sebesar Rp500.000, maka sepuluh hari saja dia mendapat 5 juta, sebulan dia mendapat 15 juta rupiah (sebelum dikurangi bensin,  makan, dan perawatan mobil). Itu penghasilan yang sangat besar dan menggiurkan bagi anak muda seperti dia.

Bandingkan dengan nasib supir angkot di atas. Dengan penumpang yang sepi, setiap hari paling banter dia hanya mendapat 100 – 150 ribu rupiah saja. Jika dikurangi makan dan setoran, paling banter dia mendapat hanya 50 ribu rupiah saja, itu yang bisa dibawanya  pulang. Nasib yang sama juga dialami oleh supir taxi konvensional yang jumlah penumpangnya semakin menyusut. Orang lebih senang menggunakan taxi daring daripada taxi konvensional karena ongkosnya murah.

Dengan ketimpangan seperti itu, maka tidak heran sering terjadi bentrokan antara pengemudi transporatsi daring dengan pengemudi transportasi konvensional. Di Bandung perseteruan keduanya sangat sengit dan cenderung anarkis. Pengemudi taxi daring dicegat, dipukul, mobilnya dirusak. Kalau sudah menyangkut urusan perut, maka logika dan nalar tidak jalan lagi. Golongan menengah (yang direpresentasikan oleh mahasiswa tadi) telah mengambil lahan golongan lemah. Sungguh persaingan yang tidak sehat dan tidak seimbang.

Tentu kita tidak dapat menyalahkan sepenuhnya pilihan masyarakat yang beralih ke taxi daring ketimbang angkot atau taxi konvensional. Dengan kebiasaan angkot yang sering ngetem, sering berhenti, dan melalui jalur yang tidak shortetst path, maka pilihan dengan taxi daring adalah alternatif yang tidak terelakkan. Jika ditambah dengan kondisi mobil angkot yang sudah reot, tidak nyaman, panas, bersempit-sempit dengan peumpang lain, maka alasan memilih taxi daring semakin kuat. Dengan kata lain, masyarakat terbantu dengan kehadiran sarana transportasi daring.

Di sisi lain, pemerintah pun gamang dengan kondisi ini. Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat tidak diikuti dengan kebijakan yang adil. Terkesan pemerintah daerah cuci tangan. Transportasi konvensional dibiarkan hidup segan mati tak mau, tetapi melarang transportasi daring juga tidak ada dasar hukumnya. Pemerintah seperti membiarkan konflik horizontal di tengah masyarakat. Kita tidak tahu sampai kapan demo-demo pengemudi transportasi daring vs pengemudi transportasi konvensional akan terus berlangsung.

Supaya persaingan ini fair, salah satu solusinya adalah pemerintah daerah mengambil alih pengelolaan semua transportasi umum. Artinya semua angkot itu dimiliki Pemda, supirmya digaji, pelayanannya diperbaiki, jalurnya dibebaskan seperti taxi daring, jadwalnya tepat waktu, dan lain-lain. Jika ini dlakukan, maka persaingan antara kedua jenis transportasi akan berlangsung sehat. Masyarakat mempunyai banyak pilihan. Tapi, ini mungkin cuma mimpi.

Dipublikasi di Romantika kehidupan, Seputar Bandung | 4 Komentar

Memiliki “Mata” dari Kejauhan

Di RT saya dipasang beberapa kamera CCTV yang terhubung ke Internet.  CCTV ini hasil urunan warga setelah diskusi di dalam grup whatsapp (WA).  Di RT saya ada grup WA sebagai sarana komunikasi antar warga yang rata-rata sibuk sehingga sulit mengadakan rapat. Dari obrolan di WA terbersit ide untuk memasang kamera CCTV di sudut-sudut jalan di RT kami. RT kami, yang berada di kompleks perumahan, terhubung satu sama lain dengan empat ruas jalan. Setiap ruas jalan akan dipasang 3 buah kamera CCTV, yaitu di pojok persimpangan dan di tengah ruas jalan. Total keseluruhan kamera CCTV adalah 13 buah.

Setelah serius dengan ide CCTV itu, maka vendor pun diundang untuk menjelaskan mekanisme dan biaya keseluruhan (biaya beli peralatan dan pemasangan). Selanjutnya ditetapkan iuran untuk masing-masing rumah. Untuk membeli semua CCTV itu (termasuk komputer) diperlukan biaya 19 jutaan, dan TV untuk monitor 2,5 juta. Jika ditambah biaya upah tukang, beli cat, beli tiang, dan lain-lain, maka total keseluruhan biaya pengadaan dan pemasangan CCTV itu sekitar 22 jutaan. Setiap rumah ditarik iuran sekitar 400 ribuan. Maka, dua minggu kemudian terpasanglah CCTV di RT kami.

Komputer, wifi, dan layar TV yang memantau semua hasil tangkapan kamera CCTV  ditaruh di pos ronda yang dijaga oleh Pak Satpam. Dari pos ronda itu Satpam dapat memantau kondisi jalan-jalan pemukiman.

Tentu saja keamanan lingkungan tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada Satpam. Warga pun dapat aktif memantau gambar-gamabr CCTV melalui ponsel, karena video dari CCTV dapat diakses melalui intenet (karena ada wifi). Dengan memasang aplikasi Glenz di Android warga dapat memantau situasi jalan-jalan pemukiman via ponsel secara real time 24 jam di mana pun mereka berada.  Seperti screen shot dari ponsel saya di bawah ini, saya dapat memantau kondisi jalan di depan rumah saya meskipun saya sedang berada di luar kota. Ketika siang hari video yang ditampilkan oleh CCTV terlihat berwarna, tetapi pada malam hari gambarnya hitam putih saja karena kurang cahaya.

Kata kunci semua ini adalah IOT (internet of things), yaitu benda-benda ditambahkan dengan kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan (internet) tanpa memerlukan interaksi antar manusia ke manusia atau manusia ke komputer.

Menyenangkan juga sesudah ada CCTV ini. Dari kantor  saya dapat melihat anak saya yang pulang sekolah pada siang hari dengan sepedanya, atau saya dapat melihat pembantu yang keluar rumah menyapu jalan, melihat orang yang datang ke rumah, dan sebagainya. Memang kamera CCTV itu tidak dapat menampilkan wajah orang secara jelas (karena dipasang di atas dengan lebar tangkapan yang tidak terlalu besar), tapi sudah cukuplah memantau situasi perumahan. Ibaratnya saya memiliki “mata” dari kejauhan.

Dipublikasi di Gado-gado, Pengalamanku | 1 Komentar

Manfaat Punya Kartu Asuransi Kesehatan

Asuransi kesehatan itu perlu. Sedapat mungkin setiap orang mengikuti program asuransi kesehatan. Manfaatnya baru terasa kalau kita menderita sakit yang cukup berat sehingga perlu dirawat di rumah sakit. Di bawah ini  pengalaman saya menggunakan kartu asuransi kesehatan.

Di kampus saya semua dosen dan karyawan dimasukkan ke dalam program asuransi kesehatan. Mitra perusahaan asuransi kesehatan selalu berganti setiap tahun, karena penentuannya melalui tender. Beberapa perusahaan asuransi yang pernah menjadi  rekanan kantor saya diantaranya Jasindo, Bumida, Bumiputera, dan lain-lain. Setiap pegawai hanya memperoleh empat kartu asuransi, yaitu untuk suami, istri, dan dua orang anak saja. Anak ketiga saya tidak mendapat jaminan asuransi kesehatan, kasihan ya. Kalau mau, maka kita menambah sendiri dengan biaya sendiri.

Sepengetahuan saya biaya premi asuransi itu ditanggung oleh kantor. Jadi, kita tidak mengeluarkan biaya premi lagi, atau dipotong dari gaji. Terima kasih kampusku. Oh iya, selain asuransi kesehatan yang ditanggung oleh kantor, saya juga memiliki kartu BPJS sebagai pengganti Askes. Di kartu itu tidak ada tulisan BPJS, tetapi Kartu Indonesia Sehat. Ah, sama saja, kata saya dalam hati.

Selama ini saya belum pernah menggunakan asuransi kesehatan. Alhamdulillah, saya jarang sakit berat dan tidak pernah diopname di rumah sakit. Saya berharap jangan sampai pernah menggunakan asuransi kesehatan tersebut, artinya saya ingin selalu tetap sehat dan jangan sampai menderita sakit. Semoga Allah SWT selalu memberi saya kesehatan, amin, dan kesehatan yang diberikan saat ini patut selalu disyukuri. Terima kasih ya Allah. Selama ini kalau sakit saya hanya sakit flu, batuk, demam, pernah juga tipes tapi cukup dirawat dan istirahat di rumah saja.

Tapi yang namanya sakit bisa menyerang anggota keluarga yang lain. Nah, itu dialami oleh istri saya. Sudah dua kali istri saya dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi, keduanya di rumah sakit swasta. Semula saya tidak ngeh dengan kartu asuransi yang kami miliki, karena jarang dibawa-bawa (tidak dimasukkan ke dalam dompet). Tetapi, ketika mengurus pendaftaran rawat inap, saya menanyakan apakah bisa menggunakan kartu asuransi? Petugasnya menjawab, silakan, nanti kami coba kontak dulu asuransinya.

Untuk rawat inap yang pertama, kebetulan saya membawa kartu asuransi atas nama istri saya. Setelah kartu digesek oleh petugas, lalu petugas melihat poin-poin apa saja yang ditanggung asuransi, ternyata saya bisa menggunakan kartu asuransi tersebut untuk pembayaran biaya selama di rumah sakit (biaya dokter, rawat inap, obat-obatan, dll). Kelas kamar yang bisa ditempati maksimal sampai kelas 2 saja. Kalau mau ke kelas lebih tinggi, maka kelebihannya akan ditanggung kita sendiri. Ketika mengurus kepulangan pasien dari rumah sakit, maka saya mendapat rincian biaya-biaya. Total biaya semuanya sekitar lima juta, dan asuransi kesehatan menanggung hampir semuanya, saya hanya membayar biaya kelebihan (excess) yang sangat kecil, yaitu Rp 128 ribu saja. Itupun tidak dibayar langsung, tetapi ditagihkan ke kantor, nanti barulah kantor mengirimkan tagihan ke saya untuk saya lunasi melalui potong gaji.

Kali kedua, istri saya menjalani operasi kecil dan dirawat di rumah sakit yang lain. Kali ini saya tidak membawa kartu asuransi. Lupa. Saya pulang ke rumah dulu untuk mengambilnya. Untuk rawat inap yang kedua ini ternyata proses persetujuan asuransinya memakan waktu yang lama.  Jadi, ketika saya mendaftar di rumah sakit, saya  belum mendapat kepastian apakah bisa ditanggung asuransi atau tidak. Tapi jawaban dari rumah sakit adalah: kami akan proses dulu dan akan mengontak pihak asuransinya. Setelah operasi dan rawat inap selesai, dan saya mengurus kepulangan, barulah saya mendapat jawaban ternyata bisa ditanggung asuransi. Total biayanya sekitar 9 jutaan, dan saya hanya membayar kelebihan biaya sekitar 300-an ribu saja. Alhamdulillah.

Setelah mengalami dua peristiwa ini barulah saya merasakan manfaat memiliki asuransi kesehatan. Sakit itu mahal, maka hendaklah kita berusaha jangan sampai sakit. Namun jika akhirnya sakit dan menjalani rawat inap, apalagi sampai operasi, maka disitulah pentingnya punya kartu asuransi.

Sayangnya kartu asuransi kesehatan yang saya miliki tidak dapat digunakan untuk biaya rawat jalan atau konsultasi/diagnosis ke dokter. Saya pernah membawa istri ke rumah sakit swasta yang lain untuk konsultasi ke dokter penyakit dalam dan dokter spesialis ginjal. Cukup mahal juga biaya ke dokter tersebut (termasuk pemeriksaan lab radiologi), tetapi tidak dapat di-cover oleh asuransi. Jadi, sebaiknya kita perlu mengetahui poin-poin apa saja yang ditanggung oleh suransi kesehatan, apakah rawat inap saja atau juga termasuk rawat jalan.

Demikianlah pengalaman saya merasakan manfaat memiliki asuransi kesehatan.

Dipublikasi di Pengalamanku | 2 Komentar