Puasa Makan Gorengan

Pada bulan Ramadhan ini camilan yang sangat menggoda untuk buka puasa adalah gorengan (bakwan, bala-bala, gehu, comro, tempe mendoan, goreng pisang, dll). Sepanjang jalan menuju rumah di Antapani bertebaran penjual gorengan. Pada bulan puasa orang-orang tampaknya lebih suka berbuka dengan makanan yang asin-asin daripada yang manis-manis.

gorengan2

Gorengan yang menggoda

Saya sangat suka- makan bala-bala (bakwan khas di Bandung). Bala-bala adalah jajanan gorengan yang terbuat dari tepung terigu dengan campuran kol, wortel, dan bumbu-bumbu. Bala-bala dimakan dengan cabe rawit dalam keadaan masih panas, hmmm… nyam… nyam. Saya bisa makan sampai 4 buah bala-bala.

Tapi, kesenangan makan gorengan itu adalah riwayat tahun lalu. Tahun ini saya “puasa” makan gorengan semacam bala-bala dan sejenisnya. Akibat sering makan gorengan kolesterol saya naik. Sekarang saya lagi diet makanan berminyak terutama gorengan itu. Gorengan memang enak, tetapi dampak negatifnya juga besar. Di dalam gorengan tersimpan senyawa lemak trans yang memicu kolesterol jahat (LDL). Kita tahu sendiri minyak goreng dipakai oleh pedagang berkali-kali untuk menggoreng. Dikutip dari sini, minyak goreng jika dipanaskan pada suhu tinggi akan mengubah struktur kimiawi lemak, sehingga nantinya akan lebih sulit untuk dicerna oleh tubuh. Alhasil, akan timbul berbagai efek buruk bagi kesehatan akibat kandugan lemak trans. Mulai dari meningkatnya risiko penyakit jantung, kanker, diabetes, hingga obesitas (Lebih lengkap baca: Hati-Hati, Ini 5 Bahaya Kesehatan yang Mengintai Akibat Sering Makan Gorengan).

Oleh karena itu, saya sekarang menghindari makanan yang digoreng, Kalaupun terpaksa ya sekali-sekali saja. Kalau ingin menggoreng sendiri saya beli minyak goreng dengan kadar asam lemak jenuh yang rendah, misalnya minyak dari biji bunga matahari (canola), minyak kedele, atau minyak jagung.

Pada bulan puasa ini saya juga berhenti membeli camilan gorengan yang menggoda itu. Setiap pulang ke rumah saya pasti melewati banyak pedagang kaki lima yang menjajakan hidangan buka puasa, antara lain gorengan. Tampilannya menggoda selera, apalagi saat berpuasa begini, tetapi kesehatan adalah nomor satu.

Dipublikasi di Makanan enak | 2 Komentar

Membiasakan Sejak Kecil

Sudah puluhan tahun saya menjalani ibadah puasa Ramadhan setiap tahun, alhamdulillah selalu lancar, tidak pernah batal kecuali sakit. Menjalani puasa sebulan penuh tidak ada rasa berat, malah sudah terbiasa. Hanya hari pertama dan kedua saja tubuh memerlukan penyesuaian, selebihnya biasa saja.

Sejak kecil kebanyakan orangtua (muslim) sudah mendidik anak-anaknya untuk berlatih berpuasa. Mula-mula puasa setengah hari, lalu kalau sudah kuat puasa seharian penuh. Setiap tahun demikian hingga tumbuh dewasa, maka berpuasa menjadi hal yang terbiasa, tidak lagi ibadah yang berat.

Membiasakan anak-anak melakukan hal-hal yang berulang-ulang sejak kecil adalah metode pendidikan karakter yang baik. Karakter itu akan melekat hingga dewasa dan menjadi sebuah habit (kebiasaan). Contoh sederhana saja misalnya menyuruh anak gosok gigi dua kali sehari, setiap pagi dan setiap akan tidur, melipat selimut setiap bangun tidur, berdoa sebelum makan, mengucapkan salam setiap masuk rumah, membaca buku, dan sebagainya.  Jika kebiasaan ini sudah dilakukan sejak kecil, maka lama-lama akan menjadi kebiasaan dan terbawa hingga besar. Semua kegiatan yang berulang-ulang akan menjadi program yang tersimpan di dalam pikiran bawah sadar dan akan berjalan secara otomatis.

Orangtua sering mengeluh anaknya malas membaca buku, apalagi buku pelajaran, malas sholat, malas mengaji, malas membersihkan kamar tidur, dan sebagainya. Ya itulah karena tidak dilatih sejak kecil dan tidak menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Seperti sebuah peribahasa mengatakan, alah bisa karena biasa, yang artinya apabila suatu pekerjaan telah terbiasa dilakukan, maka tidak terasa lagi kesukarannya atau sudah memiliki pengalaman praktek yang lebih baik.

Masa kecil adalah masa emas untuk menanamkan pendidikan karakter. Saat kecil anak mudah dibentuk sesuai dengan keinginan orangtuanya. Otak anak-anak belum berkembang, maka saat itu otak anak bisa dilatih untuk menanamkan kebiasaan yang baik. Sebuah peribahasa mengatakan kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa, sudah tua terubah tidak , yang artinya satu kebiasaan yang dilakukan sejak kecil akan menjadi tabiat yang sukar diubah.

Saya bersyukur orangtua saya sejak kecil sudah mendidik saya sholat, puasa, mengaji, jujur, berkata sopan, dan sebagainya. Sekarang semua didikannya membekas dan menjadi kebiasaan hingga sekarang. Kalau belum sholat saja di dalam perjalanan atau mengikuti acara yang memakan waktu lama saya sudah resah dan gelisah, sepertinya ada yang kurang. Berkata kurang sopan saya merasa bersalah. Apalagi bulan puasa seperti sekarang, mana pula terpikir rasa berat menjalankannya.

Alhamdulillah semua pendidikan baik yang saya dapatkan dari orangtua saya wariskan pula ke anak-anak. Sejak kecil anak-anak saya sudah berpuasa, sholat lima waktu, mengaji setiap hari, dimasukkan ke sekolah mengaji (TPA), dan sebagainya. Tujuannya agar semua yang dilakukannya sejak kecil akan menjadi habit ketika dewasa.

Dipublikasi di Pendidikan | 1 Komentar

Kejutan PKS dan PSI pada Pemilu 2019

Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 membawa berbagai kejutan. Beberapa partai naik suaranya (Nasdem, PKS, Gerindra), beberapa partai lagi turun (PPP, Demokrat), demikian menurut hasil hitung cepat (quick count). Satu kejutan yang masih menjadi perbincangan pengamat politik adalah naiknya perolehan suara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan tidak lolosnya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ke Senayan. Padahal PKS diprediksi oleh lembaga-lembaga survey tidak akan lolos ambang batas 4% akibat konflik internal dan berbagai kasus miring yang mendera kadernya. Sebaliknya, PSI dianggap oleh banyak orang sebagai partai harapan baru karena berisi anak-anak muda millenial sehingga punya kans besar untuk meraih suara dari kalangan anak muda.

Kenyataannya tidaklah demikian. PKS malah melejit raihan suaranya, dari semula sekitar 6% pada Pemilu 2014 menjadi sekitar 8% hingga 9% pada Pemilu tahun ini. Sebaliknya PSI malah hanya mendapat sekitar 2% suara nasional sehingga sangat sulit untuk lolos ke DPR.

Apa yang membuat kejutan ini terjadi? Saya akan membuat analisis amatiran di bawah ini.

PKS dan PSI dapat dianggap dua partai yang berbeda ideologi dan arah politik. PKS adalah partai Islam, tergabung ke dalam koalisi Capres-cawapres Prabowo-Sandi. PSI adalah partai nasionalis dan tergabung ke dalam koalisi Jokowi-Amin. Selama kampanye Pemilu sangat terihat kedua partai ini berbeda secara diametral. PSI sangat sering menyerang PKS terkait ideologinya itu. Bahkan dalam berbagai kesempatan petinggi partainya pernah mengatakan “haram” berkoalisi dengan PKS baik di legislatif maupun di Pilkada kelak. Para petinggi PKS menanggapi serangan itu dengan kalem saja, mereka menyatakan buktikan dulu PSI masuk ke Senayan baru kemudian bermanuver.

Sebenarnya publik menaruh harapan kepada PSI sebagai pendatang baru. Ada harapan partai ini membawa angin segar di tengah kejenuhan terhadap partai-partai lama yang sering dililit kasus-kasus korupsi dan asusila. PSI diisi oleh anak-anak muda. Para calegnya bersih dari kasus korupsi. Anak-anak muda generasi milenial adalah kaum terpelajar, rasional, melek internet, dan aktif di media sosial. Merekalah pangsa potensial pemilih PSI.

Namun sayang seribu sayang, partai ini membuat posisitioning yang menimbulkan resistensi dari mayoritas muslim di tanah air. Dalam berbagai kesempatan partai ini mewacanakan akan melarang poligami di Indonesia dengan alasan poligami lebih sering merugikan kau  perempuan. Harapannyaa kaum perempuan akan simpati dengan wacana ini sehingga akan memilih PSI. Namun, partai ini lupa jika mereka hidup di Indonesia yang masih menjunjung tinggi ajaran agama. Publik pun mengaitkan larangan poligami dengan ajaran Islam. Di dalam agama Islam poligami itu dibolehkan tetapi dengan syarat-syarat yang ketat. Meskipun tidak semua laki-laki muslim setuju poligami, tetapi mewacanakan penentangan terhadap poligami dianggap menentang syariat Islam. Hal ini dipandang sebagai persoalan serius karena menyentuh ajaran agama yang dipeluk mayoritas rakyat Indonesia. Sudah dapat diduga publik pun mulai menentang partai baru ini.

Belum berhenti dengan isu poligami, PSI terus membuat  blunder dengan  mewacanakans isu sensitif lainnya seperti menolak perda-perda yang mereka sebut Perda Syariah. Perda syariah dituding oleh PSI melahirkan diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Meskipun soal diskriminasi ini masih dapat diperdebatkan, namun Perda-Perda yang dinilai berbau syariah itu sebenarnya adalah kearifan lokal di masyarakat setempat yang dijadikan undang-undang. Misalnya Perda yang mengatur penutupan rumah makan selama siang hari pada bulan puasa, Perda yang mengatur penggunaan busana muslimah bagi perempuan muslim di Aceh, dan sebagainya. Hal ini mirip seperti Perda di Bali yang melarang keluar rumah  selama Hari Raya Nyepi.

Namun, sikap penolakan PSI terhadap Perda Syariah itu diartikan oleh publik yang mayoritas muslim sebagai penolakan terhadap syariat Islam. PSI dipersepsikan sebagai partai anti-syariah, partai anti Islam, dan sebagainya. Cap sebagai partai anti-syariah semakin bertambah ketika publik mengaitkan partai ini dengan pendukung Ahok yang dianggap penista agama, karena memang para pendiri PSI dulunya adalah komunitas Teman Ahok. Jika positioning PSI terus seperti itu, maka publik akan selalu mengingatnya sebagai partai anti-syariah.

Positioning yang salah tempat dan waktu itu akibatnya fatal. PSI mendapat penolakan oleh kaum mayoritas. Menariknya lagi, kaum minoritas pun tidak banyak yang memilih PSI, sebab mereka telah melabuhkan pilihannya kepada partai nasionalis lain seperti PDIP dan Nasdem. Maka, wajar saja raihan suara PSI pada Pemilu 2019 jebok. Hanya di kota-kota besar suaranya lumayan seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan sebagainya. Di kota-kota ini PSI dipilih oleh kelompok terpelajar seperti mahasiswa. Di kota Bandung suara PSI cukup lumayan di daerah kos mahasiswa seperti di kecamatan Coblong (Dago).

Bagaimana dengan PKS? Menurut saya, PKS  mendapat “rezeki” peningkatan suara karena lima faktor. Faktor pertama adalah PKS tidak lagi mengangkat isu-isu keislaman dalam kampanyenya. Tetapi mereka “menjual” isu-isu populis seperti SIM seumur hidup dan penghapusan pajak motor. Isu-isu ini meskipun sangat sulit direalisasikan kelak, namun kalangan menengah ke bawah yang menempati porsi terbesar pemilih tertarik dengan isu ini. Motor identik dengan rakyat kecil. Kader-kader PKS yang terkenal militan berhasil mensosialisasikan isu-isu ini ke tengah masyarakt melalui baliho-balihonya yang hamoir semuanya bertuliskan SIM seumur hidup dan pajak motor dihapuskan.

Faktor kedua adalah dampak isu-isu besar nasional yang muncul selama dan pasca Pilkada DKI, yang dianggap tidak memberi keadilan bagi ummat Islam. Aksi-aksi massa spektakuler di Monas, yang dikenal sebagai aksi 212 dan demo berjilid-jilid sesudahnya mempengaruhi persepsi umat Islam terhadap pemerintah. Isu-isu pun berkembang di tengah masyarakat seperti Pemerintah  mengkriminalisasi ulama,  menangkap para tokoh dan aktivis Islam, dan lain-lain.

Sejak aksi 212 hingga sekarang bermunculan tokoh-tokoh medsos yang sering mengeluarkan postingan kontroversial dan melecehkan rasa keberagamaan umat Islam, antara lain Ade Armando, Abu Janda, Deny Siregar, dll.  Hal itu ditambah lagi dengan kasus-kasus seperti pembakaran bendera tauhid  serta kasus rmasn persekusi ustad oleh ormas tertentu. Muara dari kekecewaan itu adalah partai-partai pendukung Pemerintah pun dijauhi. Pemilih muslim yang kecewa dengan Pemerintahan Jokowi kemudian melihat PKS adalah partai yang paling dekat dengan sisi emosional mereka. Memang ada partai-partai Islam lain seperti PPP, PKB, dan PBB, namun pemilih muslim ini melihat ketiga partai tersebut bagian dari koalisi Jokowi sehingga mereka tidak mau memilihnya. PKS-lah yang mendapat berkah dari kekecewaan pemilih muslim ini.

Faktor ketiga yang meningkatkan suara PKS adalah kasus hukum yang menimpa Ketum PPP, Rommaharmuzzy alias Rommi. Rommy ditangkap oleh KPK karena diduga menerima suap pengaturan jabatan di Kemenag. Kasus Rommy ibarat tsunami politik bagi PPP karena terjadi sebulan sebelum Pemilu. Sebagian pemilih PPP yang kecewa dengan aib yang mencoreng nama partainya mengalihkan dukungannya kepada partai Islam lain seperti PKB, PAN, dan PKS. Jadi, PKS ikut mendapat limpahan suara dari pemilih PPP yang kecewa itu.

Faktor keempat adalah limpahan suara dari pemilih loyal PBB. Semula ada harapan PBB yang dinakhodai oleh Yusril sebagai harapan baru umat Islam. Namun, tindakan Yusril yang membawa PBB mendukung capres Jokowi berseberangan dengan suara akar rumput kader partainya yang sebagian besar mendukung Prabowo. Pertentangan antara elit PBB dengan kaum akar rumput menghasilkan penolakan terhadap PBB. Akar rumput PBB yang kecewa kemudian mengalihkan suaranya ke partai Islam pendukung Prabowo, yaitu PKS dan PAN.

Faktor kelima adalah video Ustad Abdul Somad (UAS) yang viral  yang  viral yang menyatakan hanya ada duapartai yang masih konsisten menolak legalisasi miras dan LGBT, yaitu PKS dan PAN. Seperti diketahui, Abdul Somad adalah ustad paling populer saat ini.  UAS mempunyai jutaan jamaah pengajian di seluruh tanah air. Kata-katanya selalu didengar orang. Peredaran video yang viral itu ikut andil menaikkan suara PKS dan PAN. Menurut hasil hitung cepat malah PKS adalah peraih suara terbanyak di propinsi Riau.

Begitulah analisis pengamat amatir tentang kejutan kedua partai ini, PKS dan PSI. Anda boleh setuju atau tidak. Namanya juga pengamat amatir. 🙂

Dipublikasi di Indonesiaku | 3 Komentar

Pengemudi Gojek Mantan Pelaut

Selalu saja ada cerita menarik tentang pengemudi gojek. Sudah sering saya temukan pengemudi gojek dulunya memiliki profesi hebat. Namun perjalanan hidup tidak selalu indah, kadangkala terjatuh dan harus bangkit lagi. Menjadi pengemudi gojek adalah salah satu pilihan mencari rezeki halal.

Kali ini saya mendapat pengemudi gojek yang punya pengalaman hidup hebat. Suatu pagi saya akan berangkat naik kereta api ke Jakarta. Saya pesan gojek. Tidak sampai beberapa detik order langsung berbalas.  Seorang lelaki dengan muka ditutup kain datang menjemput ke rumah. Dari aplikasi saya baca namanya Heri.

Seperti biasa, saya selalu kepo, suka bertanya ke pengemudi gojek sepanjang perjalanan. Naluri jurnalistik saya selalu muncul setiap kali naik gojek. Dari obrolan sepanjang jalan tahulah saya, Kang Heri yang mengantar saya ke stasiun kereta api Bandung ini dulunya bekerja di kapal pesiar mewah (Cruise) di Samudra Atlantik.  Dia bekerja sebagai officer di anjungan kapal. Menurut Kang Heri dia dulu lulusan akademi pelayaran di Cirebon. Kapal pesiarnya adalah hotel terapung berlantai 15, membawa turis menyinggahi kota-kota pelabuhan di Eropa, Amerika hingga sampai ke kutub Utara. Kang Heri sudah mengunjungi hampir semua negara Eropa, mengunjungi menara Eiffel, menara Pisa, New York, Florida, dan lain-lain. Dia bisa berbahasa Inggris pula.

Saya ternganga-nganga mendengar cerita masa lalunya.  Wow, sudah berkelana ke Eropa, Amerika, hingga ke kutub utara? Jika kebanyakan orang Indonesia mungkin hanya bermimpi menjelajahi Eropa dan Amerika, dia sudah ke sana. Termasuk impian saya juga.

Kerja di kapal pesiar itu katanya ada senang dan ada sedihnya. Senangnya karena bertemu orang berbagai bangsa, mengenal berbagai kultur, makanan enak berlimpah di atas kapal, mengunjungi berbagai kota dunia. Kerja sembilan bulat di laut dan mendapat libur tiga bulan di darat. Gajinya lumayan besar, dalam mata uang dolar. Sedihnya jika datang rasa bosan berada di laut, kangen makanan Indonesia, atau berada antara hidup dan mati ketika kapal pesiar dihantam topan.

Lalu kenapa jadi tukang gojek?, tanya saya heran. Ya, kalau sudah senang kerja di sana kenapa menjadi tukang ojek?

Saya itu cita-citanya ingin mempunya usaha sendiri, jawabnya. Heri bercerita, setelah dua tahun bekerja di kapal pesiar, dia tidak memperpanjang kontrak di kapal lagi, pulang ke tanah air. Dengan bekal tabungan gajinya dalam dolar, dia membuka usaha clothing di Bandung. Tetapi suatu kali dia tertipu sehingga modal habis. Bangkrut. Sekarang dia banting setir jadi tukang ojek/gojek. Semua orderan gojek dia ambil, tak peduli jarak jauh atau dekat. Dia tidak pilih-pilih orderan. Aplikasi gojeknya di-set otomatis sehingga selalu saja dapat order gojek. Yang dia kejar adalah ongkos dari penumpang, kalau bonus poin dari gojek tidak dapat diandalkan karena jumlahnya semakin lama semakin kecil saja. Empat belas kali trip hanya dapat bonus 13 ribu. Kecil sekali.

Tidak ingin kerja di kapal lagi?, tanya saya.

Pingin sih, tapi perlu biaya banyak untuk urus surat-surat dan segala macam, jawabnya. Lagipula dia sudah lebih dua tahun berada di darat, sehingga sulit untuk bekerja di kapal pesiar lagi.

Setelah asyik ngobrol di jalan, akhirnya saya sampai di stasiun Bandung. Saya minta izin mengambil gambnarnya, akan saya bagi cerita ini kepada orang lain sebagai pelajaran kehidupan. Benar, hidup itu bagai roda pedati, kadang di atas kadang di bawah.

gojek

 

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 1 Komentar

Seberapa Tahan Memboikot Rumah Makan Padang (Nasi Padang)?

Di media sosial viral seruan netizen untuk memboikot rumah makan masakan padang (lebih tepatnya rumah makan masakan minang) atau nasi padang, gara-gara Jokowi kalah telak di Sumatera Barat. Menurut hasil hitung cepat, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin hanya mendapat 11-12% suara, sisanya 88-89% untuk pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Sudah dua kali Jokowi kalah telak di Sumatera Barat. Pada Pemilu 2014, Jokowi mendapat 22% suara. Tahun 2019 ini malah semakin turun lagi suaranya.

Pendukung pasangan 01 yang kecewa lalu mem-posting seruan di akun Facebook untuk berhenti makan di rumah makan padang, seperti gambar di bawah ini. Tujuannya adalah untuk membangkrutkan semua rumah makan padang, sebagai balasan terhadap kekalahan Jokowi di Sumatera Barat.

boikot

Entah seruan itu bercanda, sarkasme, atau memang serius, tetapi posting-an di atas terlanjur viral dan mendapat respon luar biasa dari netizen.

Tidak semudah itu membangkrutkan rumah makan padang, Ferguso! Masakan padang (minang) sudah terlanjur melekat bagi kebanyakan orang Indonesia. Masakannya enak, kaya bumbu, dan mudah diterima oleh lidah siapapun. Tidak hanya oleh lidah rakyat nusantara, tetapi sudah melampaui selera bangsa-bangsa di dunia. Siapa yang tidak suka rendang yang dinobatkan sebagai masakan terenak nomor 1 di dunia oleh CNN.

Rumah makan padang menyebar di berbagai pelosok tanah air hingga ke luar negeri. Sepahit-pahitnya orang minang itu mencari penghasilan di perantauan, maka kalau tidak berdagang kaki lima, maka ia membuka usaha rumah makan di pinggir jalan. Lama-lama rumah makannya tumbuh besar, lalu pemiliknya beralih menyewa tempat/toko, akhirnya punya restoran sendiri. Para karyawannya yang masih orang sekampungnya pun tidak lama-lama bekerja di sana, setelah beberapa tahun bekerja mereka keluar lalu membuka usaha rumah makan sendiri. Dari satu rumah makan di sebuah kota tumbuh menjadi beberapa rumah makan.

Rumah makan padang merupakan “penyelamat” para turis  muslim jika berada di negeri yang bukan mayoritas muslim, seperti di Bali, Manado, Toba, Singapura, bahkan di Eropa. Jika ragu dengan kehalalan makanan di tempat itu, makan saja di rumah makan padang, sebab sudah pasti halal.

Boikot- memboikot produk bukan hal yang baru di Indonesia karena perbedaan pandangan politik dan ideologi. Sari Roti pernah diboikot tahun 2017 saat aksi demo berjilid-jilid di Monas. Nyatanya merek roti itu tetap eksis karena orang sudah terlanjur suka dengan roti itu. Ingat roti ya ingat Sari Roti. Merek lain yang pernah menjadi sasaran aksi boikot adalah Traveloka, Grab, Starbucks, Coca-cola, Bukalapak, KFC, dan lain-lain.

Boikot itu umurnya hanya sesaat, setelah itu normal lagi. Selama orang masih banyak bergantung dengan keberadaan produk yang diboikot, dan sudah menjadi kebutuhan, maka aksi boikot sia-sia belaka.

Saya yakin orang-orang yang memboikot rumah makan padang pun tidak akan kuat berlama-lama melakukan aksi boikotnya. Mana kuat dia menahan diri untuk untuk tidak memakan masakan padang yang enak-enak itu. Sebut saja rendang, gulai ayam, gulai tunjang, teri balado, gulai kepala kakap, ikan asam padeh, gulai otak, gulai nangka, sambal cabe hijau, itik lado mudo, gulai cancang, dan masih banyak lagi yang menerbitkan air liur.  Paling kuat memboikot satu  minggu, atau satu bulan, dua bulan, atau setahun, lalu pasti kembali lagi makan di sana dengan menahan rasa malu.

Rumah makan padang tidak akan bangkrut karena ulah kekanak-kanakan pendukung Jokowi yang mutung gara-gara capresnya kalah di Sumbar. Masih banyak orang Indonesia, termasuk pendukung Jokowi sendiri, yang berakal sehat tidak menghiraukan seruan boikot itu. Kalau makan ya makan saja, urusan politik ya lain lagi.  Tidak ada hubungannya pilihan politik dengan kuliner.  Jika pilihan politik dihubungkan dengan kuliner, maka daftar makanan daerah yang diboikot (karena Jokowi kalah di sana) akan bertambah panjang. Apa juga mau memboikot makanan enak-enak seperti mpek-mpek palembang, coto makassar, sate madura, mie aceh, batagor bandng, ayam taliwang, soto banjar, soto mie bogor, sate ikan banten, dodol garut, dan lain-lain?

Ada-ada saja. Lebay ah. Biasa sajalah berdemokrasi. Kalah menang itu hal yang biasa saja.

(Tulisan serupa: Seberapa Kuat Kalian Mau Boikot Rumah Makan Padang?)

Dipublikasi di Cerita Minang di Rantau, Cerita Ranah Minang, Indonesiaku | 2 Komentar

In Memoriam Prof. Iping Supriana

Sudah hampir dua minggu guru kami, Prof. Iping Supriana, meninggalkan kami di Informatika ITB. Kepergiannya sangat mendadak. Pagi hari Jumat 29 Maret 2019 pukul 6.30 pagi saya menerima pesan dari grup WA tentang kabar duka tersebut. Kaget dan shock! Ya, bagaimana tidak kaget, sebab satu hari sebelumnya saya masih melihat beliau di Aula Timur ITB, saat ada acara asesor serdos di kampus ITB.  Selama ini kami tidak pernah mendengar Prof mederita sakit. Sehat-sehat saja nampaknya. Hari Rabu pun kami di Kelompok Keilmuan Informatika masih rapat bersama dengan beliau. Tapi umur memang rahasia Ilahi. Ajal bisa datang sewaktu-waktu kapan saja dan kita tidak pernah tahu kapannya itu. Prof Iping wafat pada hari baik, hari Jumat subuh dan tidak menyusahkan siapapun, sebab meninggalnya dalam keadaan tidur. Semoga khusnul khotimah, amin.

prof iping

Sesungguhnya saya cukup intens berinteraksi dengan beliau. Saya yunior, beliau senior. Lab saya di depan lab beliau. Kami pun satu kelompok keahlian, dan beliau adalah ketuanya.

Prof Iping adalah sosok humoris, ramah, suka menyapa siapapun, dan jenius. Untuk yang terakhir, siapapun pasti angkat topi. Risetnya banyak,  karyanya tak terhitung. Meskipun sudah sangat senior, tetapi beliau masih aktif melakukan programming, menulis program atau mengembangkan aplikasi untuk riset maupun karyanya. Biasanya banyak guru besar sudah tidak menekuni lagi aktivitas programminng karena lebih fokus pada level abstraksi atau konstruksi model penyelesaian masalah sehingga memprogram sudah tidak dilakukan lagi, jarang, atau bahkan tidak pernah lagi. Sebaliknya, Prof Iping masih melakukan keduanya, ya konstruksi model, abstraksi persoalan, hingga memprogramnya.

Konsistensinya melakukan aktivitas coding dan programming (dua hal yang berbeda) sungguh luar biasa, tidak mengenal tempat dan waktu. Di sela-sela rapat dan seminar pun beliau masih menyempatkan diri menyelesaikan programnya. Bahkan, ketika kami jalan-jalan rekreasi pun beliau tetap asyik memprogram di laptopnya. Sebatang rokok tidak pernah lepas dari tangan.

Foto di bawah ini adalah di Pantai Senggigi, Lombok pada tahun 2015. Ketika kami asyik menikmati suasana sore di pantai menjelang sunset, beliau malah asyik sendiri memprogram di tepi pantai dengan laptop setianya.

Kalau foto di bawah ini di Chonburi, Thailand. Pagi-pagi di halaman belakang hotel di Chonburi, Thailand, beliau sudah sibuk mengkoding program, padahal rekan-rekan kami sedang sarapan dan menyiapkan konferensi ICAICTA 2015 di Chonburi, Thailand.

Meskipun rajin meneliti dan memprogram, namun sholat berjamaah di mushola maupun di masjid Salman ITB tidak pernah dilalaikannya. Beliau selalu sholat Dhuhur dan Ashar di Salman.

Jika tidak sholat di Salman, beliau sholat di mushola di LabTek 5. Saya sering jadi makmumnya. Nah, seringkali sesudah sholat berjamaah beliau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang susah saya jawab, namun dari situ saya belajar hal yang baru yang banyak belum saya ketahui tentang ilmu agama. Setiap kali selesai diskusi dengan Prof Iping, selalu saya tuangkan ke dalam tulisan di blog ini. Beberapa tulisan saya di blog wordpress terinspirasi dari diskusi dengan beliau. Berikut beberapa tulisan saya yang saya sarikan dari beliau.

  1. Sedang Apa Allah Sekarang

Setelah sholat Dhuhur berjamaah dengan seorang profesor di kampus saya, beliau mengajukan pertanyaan kepada kami (jamaah sholat): “Pernahkah terpikir, sedang apa Allah sekarang?”

Hmmm…pertanyaan sederhana, namun sulit juga menjawabnya. Selama ini saya atau kita tidak pernah terpikir Tuhan itu sedang melakukan apa. Tidak terpikir sampai ke situ. Sedang melihatkah? Sedang mendengarkah? Sedang mengamati makhluk-Nya kah?

Pak Prof menunjukkan jawabannya. Coba buka Surat Ar-Rahman ayat 29 katanya, di sana ada jawabannya. Saya bukalah Al-Quran, dan ketemulah ayat 29 pada Surat Ar-Rahman yang artinya sbb: …. (dst, silakan baca selengkapnya pada tautan di atas)

2. Allah Menjawab Al-Fatihah yang Kita Baca 

(Ini masih lanjutan posting saya sebelumnya)

Pak Prof bertanya kepada kami, pernahkah terpikirkan bahwa Allah SWT selalu menjawab setiap bacaan Al-Fatihah yang kita baca di dalam sholat? Hal itu ditemukan penjelasannya dalam sebuah hadis qudsi, kata Pak Prof.

Benar, saya baru tahu jika Allah selalu menjawab setiap kali kita membaca ayat-ayat Al-Fatihah di dalam sholat. Maklum, ilmu saya masih dangkal sekali.

Lanjut Pak Prof, ketika kita membaca “Alhamdulillahirabbil ‘alamiin“, maka Allah menjawab, “Hamba-Ku telah memujiKu” …. ( …. (dst, silakan baca selengkapnya pada tautan di atas)

3.  Zikir pagi dan petang

(Pencerahan ketiga dari Prof.  Kalau yang ini tidak ada tulisannya di blog, saya tulis di laman Facebook) Ketika jalan-jalan di Lombok kemarin, saya sekamar dengan Prof Iping Supriana. Usai sholat maghrib, beliau bertanya kepada saya, “Pernah dengar nggak sayyidul istighfar?”

“Belum”, jawab saya polos, maklum ilmu saya masih jauuuh di bawah .

“Kalau dibaca setiap pagi dan sore, maka kita dijamin menjadi ahli surga”, lanjut Pak Prof.

Saya manggut-manggut, penasaran, seperti apa sayyidul istighfar itu sehingga membacanya pagi dan petang maka jika kita mati akan menjadi ahli surga.

Segera deh saya langsung gugling di Internet, dan dapatlah penjelasannya. Sayyidul istighfar adalah penghulunya istighfar atau the king of istighfar. Istighfar ini merupakan bacaan istighfar yang seharusnya menjadi nomor urut pertama apabila kita ingin membiasakan membacanya, artinya jangan sampai bacaan sayyidul istighfar ini ditinggalkan, sementara bacaan istighfar yang lainnya selalu dibaca.

Begini bunyi dzikir sayidul istighfar:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

ALLAA-HUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTA-NII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MAS-TA-THA’-TU A-‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’THU ABUU-U LAKA BINI’-MATI-KA ALAYYA WA ABUU-U LAKA BI DZAM-BII FAGH-FIR-LII FAINNAHUU LAA YAGH-FIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA

yang artinya:

“Yaa Allah, Engkau adalah RabKu, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkau yang telah menciptakan aku, aku hambaMu, aku senantiasa dalam ikrarku kepadaMu (untuk mengesakan-Mu) dan janjiMu (kepadaku untuk membalas dengan surga karena tauhidku) sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan perbuatanku. Aku akui segala nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan aku akui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Karena tiada yang bisa mengampuni dosa selain Engkau.”

Tentang keutamaan sayyidul istighfar, begini hadisnya:

Dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sayyidul Istighfar adalah bacaan: ….beliau menyebutkan doa di atas. Kemudian beliau menyebutkan keutamaannya:

“Barangsiapa yang membaca do’a ini dengan penuh keyakinan di sore hari, kemudian dia mati pada malam harinya maka dia termasuk ahli surga. Dan barangsiapa yang membacanya dengan penuh keyakinan di pagi hari, kemudian dia mati pada siang harinya maka dia termasuk ahli surga.” (HR. Al Bukhari 5522)

Subhanallah, Maha Suci Allah SWT.

Yuukk… mari membaca Isayyidul istighar ini pagi dan petang, sehingga jika kita mati pada siang atau malamnya, maka Allah menjadikan kita ahli syurga.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Demikianlah kenangan saya dengan guru kami, Prof. Iping Supriana. Semoga beliau mendapat tempat yang layak di Sisi-Nya, dan amal sholehnya diterima oleh Allah SWT. Amin. Selamat jalan, Prof.

Dipublikasi di Seputar Informatika | 2 Komentar

Jamu Tol*k An*in, Obat Sapu Jagat

Di rumah saya selalu menyediakan jamu Tol*k Ang*n (sengaja saya samarkan namanya supaya tidak dianggap iklan). Jika saya masuk angin, perut kembung, badan hangat, nggak enak badan, pusing, segera saya minum itu jamu. Alhamdulillah ampuh. Tidak lama kemudian badan saya enakan lagi. Obat sapu jagat, begitu sebutan untuk jamu itu, karena dapat digunakan untuk macam-macam keluhan sakit yang saya sebutkan di atas. Padahal bahan bakunya hanya jahe dan madu tetapi komposisinya pas. Memang jahe itulah zat aktifnya yang membuat badan terasa enak. Ditambah lagi dengan madu yang sudah disebutkan di dalam Al-Quran sebagai obat  dari segala obat.

Saya punya pengalaman tidak terlupakan dengan jamu tersebut. Pernah waktu saya naik haji tahun lalu, dalam perjalanan dari Masjid Bir Ali menuju Mekah untuk umrah, saya masih berpakaian ihram, hanya dua lembar kain itu yang saya pakai, tanpa pakaian dalam. Badan dan perut sedikit terbuka. Bus pakai AC. Dingin sekali. Kalau sudah seperti itu kondisinya gampanglah saya masuk angin. Perut saya kembung dan keras. Masuk angin. Di dalam bus yg melaju di jalan tol perut saya melilit sakit. Saya meringis menahan sakit. Mau berhenti tidak tahu kapan berhenti itu bus. Mekkah masih jauh. Lima jam lagi.

Bus akhirnya berhenti di sebuah rest area. Jangan bayangkan seperti rest area di Indonesia. Kecil saja. Saya cari warung atau toko yang menjual jamu Tol*k Ang*n di sana. Tidak ada. Saya lupa ini bukan di Indonesia yang segalanya ada. Melihat saya yang kebingungan, pak ustad pembimbing haji bertanya, mau beli apa. Saya jawab jamu tersebut. Oh, saya bawa, katanya. Diberinya saya satu. Segera saya minum. Beberapa menit kemudian saya mulai buang angin berturut-turut. Perut saya kempes dan enakan lagi.

Sejak kejadian di Mekkah tsb saya selalu sedia jamu Tol*k Ang*n di rumah maupun kalau bepergian ke luar kota. Di dalam tas saya selalu saya sediakan jamu tersebut. Pernah saya coba merek yang lain lagi karena di warung kosong, tetapi tidak cocok. Jadi kembali lagi ke jamu yang itu. Tadi siang anak saya masuk angin dan muntah-muntah, setelah minum jam Tol*k Ang*n badannya jadi segar lagi.

Nenek moyang kita yang menemukan jamu memang hebat ya.

Dipublikasi di Pengalamanku | 1 Komentar