Yang Dibutuhkan Anak-Anak Muda adalah Akses Internet dan Colokan Listrik

Lihatlah tempat-tempat makan anak-anak muda di Bandung pada malam hari, seperti kafe, kedai nasi goreng, kedai pasta, kedai ramen, dan warung makan kekinian yang lagi ngetrend seperti warung Upnormal. Tempat-tempat itu selalu penuh dengan pengunjung yang rata-rata anak-anak muda seperti pelajar dan mahasiswa. Mereka tidak hanya sekedar makan lalu pulang, tetapi betah berlama-lama di sana, berkumpul bersama teman-temannya, ngobrol, atau membicarakan rencana kegiatan.

upnormal

Sebuah warung kekinian yang setiap malam selalu penuh pengunjung, yang umumnya anak-anak muda

Sambil makan dan ngobrol, tangan-tangan mereka tidak pernah lepas dari gawai (gadget), terutama telepon pintar (smartphone). Sambil  asik dengan gawainya, mereka sesekali menimpali obrolan temannya. Sebagian yang lain asyik menatap laptop, mungkin sedang berselancar di dunia maya atau bermain game. Piring-piring makan, gelas, dan botol minuman ringan masih berserakan di meja mereka.

Mengapa mereka betah berlama-lama di tempat makan tersebut? Padahal menu makanan di dalamnya biasa-biasa saja, selain itu beberapa kedai agak mahal harganya. Tak lain karena kedai makan tersebut menyediakan wifi untuk mengakses intenet. Selain akses internet, warung makan juga menyediakan colokan listrik. Jadi, jika batere gawai atau laptopnya habis, mereka tidak perlu kemana-mana untuk mengisi ulang batere.

Di zaman internet seperti ini orang-orang tidak lepas dari gawainya. Penyebabnya, pertama karena ada games, kedua karena ada media sosial dan jejaring pertemanan (social network), dan ketiga untuk mengakses portal berita. Anak-anak muda adalah konsumen terbesar produk games yang beraneka ragam dan dapat diunduh secara gratis dari Playstore. Mereka juga adalah pengguna terbesar media sosial seperti blog, YouTube, Instagram, Plurk, dan jejaring pertemanan yang populer seperti Facebook, Line, Path, Whatsapp. Tipikal orang Indonesia adalah senang mengobrol. Sejak ada media sosial dan jejaring sosial, obrolan pun berpindah secara daring (online). Anak-anak muda itu adalah kelompok orang yang selalu update informasi karena mereka pengakses terbesar informasi dari situs web dan media daring.

Untuk semua hal tersebut di atas diperlukan akses internet, maka kedai-kedai makan itu menangkap peluang dengan menyediakan wifi yang dapat diakses secara gratis oleh pengunjungnya. Itu adalah daya tarik buat kedai mereka. Nah, berlama-lama menggunakan gawai tentu akan menghabiskan daya batere, maka colokan listrik yang cukup banyak adalah kebutuhan penting berikutnya yang harus ada di sebuah kedai. Kedua item tersebut menjadi alasan mengapa kedai-kedai itu selalu ramai.

Jadi, yang dibutuhkan oleh anak-anak muda zaman sekarang adalah dua: pertama akses internet, kedua colokan listrik. Siapa yang bisa membaca kebutuhan itu, maka kedainya akan didatangi anak-anak muda.

Dipublikasi di Seputar Bandung | Meninggalkan komentar

Bandara Sepinggan Balikpapan, Mal di dalam Bandara atau Bandara di dalam Mal?

Sebagai orang yang suka mengamati bandara, saya cukup surprise ketika mendarat dan berangkat di Bandara Sepinggan yang baru di Balikpapan, Kalimantan Timur. Bandara  megah yang diresmikan semasa Menteri Perhubungan Ignatius Jonan itu terbilang unik, sebab mengambil konsep bandara yang menyatu dengan pusat perbelanjaan (mal).

sepinggan1

Bandara Sepinggan yang baru di Balikpapan

sepinggan2

Terminal keberangkatan

sepinggan8

Lift

sepinggan3

Ruang check-in yang terbuka

Kita akan merasa tidak sedang berada di dalam bandara, tetapi di dalam mal. Suasana di dalam bandara mirip dengan mal. Ada sejumlah eskalator dari satu lantai ke lantai lainnya serta deretan pertokoan dan restoran pada setiap lantai. Suasana mal semakin terasa dengan keberadaan sebuah supermarket terkenal, seperti yang diperlihatkan pada foto yang saya jepret di bawah ini.

sepinggan4

Eskalator dengan suasana mal

sepinggan6

Promosi produk di dalam mal

sepinggan5

Supermarket Matahari

sepinggan7

Pintu Gate

Jadi, tidak salah jika saya menyatakan bahwa bandara ini di dalam sebuah mal atau mal di dalam sebuah bandara. 🙂

Alhamdulillah, negara kita sekarang memiliki banyak bandara megah yang tidak kalah dengan bandara modern di luar negeri. Sebut saja Bandara Kualanamu Medan, Bandara Ngurah Rai Denpasar,  Bandara Djuanda Surabaya, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin Pelembang, Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, dan Bandara Sepinggan Balikpapan.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 2 Komentar

Jembatan Layang Antapani yang Cantik

Masih ingat dengan tulisan saya yang berjudul Berharap banyak pada jembatan layang Antapani? Akhir tahun 2016 jembatan layang tersebut sudah selesai dibangun dan mulai  tanggal 2 Januari 2017 kemarin sudah digunakan. Pembangunannya tergolong cepat, hanya 6 bulan saja, dan biaya pembangunannya “hanya” 40 milyar. Normalnya, untuk jembatan layang yang sama membutuhkan waktu pembangunan satu tahun dan biaya 100 milyar, tetapi dengan teknologi baja bergelombang jembatan layang ini hemat waktu dan biaya pengerjaan hingga 50%.

Menariknya lagi, jembatan layang ini dibalur dengan seni sehingga terlihat cantik dan menarik. Di sepanjang dinding luar dan dinding dalamnya diilapisi lukisan mural mozaik. Mural mozaik ini terbuat dari bahan keramik sehingga terlihat mengkilap bila terkena cahaya. Mural mozaik ini karya seniman lulusan FSRD ITB yang dikenal dengan nama John Mart. Berikut foto-fotonya:

antapani1

antapani2

antapani6

antapani3

antapani4

antapani5

Menurut saya, ini jembatan layang tercantik yang pernah saya lihat. Bandung sebagai kota seni maka  wajar semua infrastruktur  di dalam kotanya diberi sentuhan seni. Hal ini  tentu tidak lepas dari peran Walikota Bandung, Ridwan Kamil, yang kreatif.

Mungkin jembatan layang Antapani ini akan menjaid ikon baru di kota Bandung. Saya berharap tidak ada aksi vandalisme yang mencorat-coret tembok jembatan layang ini dengan tulisan dari cat semprot. Jangan di-pylox ya….

Dipublikasi di Seputar Bandung | 1 Komentar

Kasih Ibu Kucing

Kucing adalah hewan kesayangan Rasulullah. Saya suka dengan kucing meskipun tidak memeliharanya di rumah. Suatu hari ketika mengunjungi saudara di Jakarta, saya memperhatikan seekor induk kucing yang selalu dibuntuti anak-anaknya. Kemanapun ia pergi, anak-anaknya yang berjumlah empat ekor selalu mengikutinya. Anak-anak kucing itu sudah agak besar namun mereka belum mau berpisah dengan ibunya. Belum mau mandiri. Induknya pun juga belum menunjukkan tanda-tanda untuk menolak kehadiran  anaknya agar segera hidup mandiri. Sepertinya ikatan jiwanya dengan anaknya masih belum bisa diputus begitu saja.

Ketika anak-anak kucing itu lapar, dia tidak sulit mencari makan, segera saja mereka merunduk ke bagian bawah tubuh ibunya, mencari puting susu ibunya, dan mulailah dia nenen ASI kucing. Ibu kucing itupun merebahkan badannya ke lantai agar anak-anaknya leluasa menyusu.

kucing2

Anak-anak kucing itu sangat menikmati mengisap ASI dari ibunya. Matanya sampai terpejam-pejam. Kadang-kadang kedua kaknya ditekan-tekan ke tubuh ibunya seolah-olah memberi tekanan agar ASI lancar keluar. Ibu kucing pun sangat menikmati ASI-nya diisap oleh anak-anaknya, sampai-sampai dia tertidur di lantai.

Saya amati ada satu ekor anak kucing yang tubuhnya lebih besar dari anak kucing yang lain. Anak kucing yang besar itu berbulu hitam. Kata saudara yang saya kunjungi itu, anak kucing yang berbulu hitam adalah anak dari kehamilan sebelumnya. Jadi anak-anak kucing lain yang berbulu putih adalah adik-adiknya. Meskipun anak kucing berbulu hitam ini sudah besar dan seharusnya sudah mencari jalan hidupnya sendiri, namun dia juga masih ikut-ikutan mengisap ASI ibunya, masih mengikuti ibunya kemanapun dia pergi. Induk kucing itu pun tidak melarang atau mengusir anaknya yang berbulu hitam untuk ikut-ikutan menyusu, yang seharusnya adalah hak adik-adiknya. Bahkan, kata saudara saya itu, anak kucing lain yang bukan anaknya sendiri juga diterima untuk ikut mengisap ASI-nya.

kucing1

Subhanallah. Maha Suci Allah. Maha Besar Dia. Dia tunjukkan pemandangan ini sebagai i’tibar kepada manusia. Bahwa, ibu kucing saja begitu besar cinta kasih kepada anak-anaknya, bahkan kepada anak kucing lain yang bukan anaknya sendiri. Apalagi manusia ya, seharusnya lebih besar lagi kasihnya untuk menyayangi anak-anaknya.

Begitulah pelajaran yang ditunjukkan Tuhan kepada saya siang itu di Jakarta,

Dipublikasi di Pengalamanku | 2 Komentar

Jalan-Jalan ke Makassar, Samalona, dan Rammang-Rammang (Bagian 2)

Hari ketiga

Tibalah hari terakhir di Makassar. Jadwal keberangkatan pesawat ke Bandung adalah pukul 14.30 WITA. Itu berarti masih ada waktu yang cukup untuk menikmati tempat wisata yang sangat mempesona sebelum bertolak ke Bandara Sultan Hasanuddin, yaitu Rammang-Rammang.

Rammang-Rammang adalah  kawasa berupa gugusan perbukitan batu kapur (karst) yang mirip seperti Halong Bay di Vietnam. Untuk menikmatinya kita menyusuri sungai yang membelah perbukitan kapur tersebut sampai ke hulunya hingga ketemu dengan lembah dan bukit yang luar biasa indahnya. Oh iya, rammang sendiri artinya kabut atau awan, karena daerah ini sering berkabut. Perbukitan kapur di sini menandakan Rammang-Rammang dahulunya adalah laut. Memang di sana kita akan menemukan banyak batu karang bertebaran.

Rammang-Rammang terletak di Kabupaten Maros. Meski demikian, jaraknya tidak terlalu jauh dari Bandara Hasanuddin. Waktu tempuh dari Bandara Hasanuddin ke Rammang-Rammang kurang dari 1 jam, bahkan bisa kurang jika jalan underpass keluar Bandara sudah selesai dibangun. Pembanguan jalan underpass inilah yang menyebabkan kemacetan panjang keluar masuk bandara.

Setelah chek-out dari hotel, kami menaiki bus selama 1,5  jam dari kota Makassar ke Rammang-Rammang. Begitu sampai di dermaga, kita disambut dengan puluhan tukang perahu yang akan mengantarkan kita menyusuri sungai sambil melihat bukit-bukit kapur di kiri kanannya. Sebaiknya anda menyewa topi lebar di dermaga ini, untuk melindungi kepala dari sengatan panas matahari.

15267619_1292461130821909_2803838766486790840_n

Dermaga dengan perahu-perahu yang akan mengantarkan kita menyusuri kawasan Rammang-Rammang.

Setiap perahu hanya boleh diisi enam orang saja. Perahu digerakkan dengan mesin diesel yang berbunyi tek…tek…tek. Ayo, mari kita menyusuri sungai hingga ke hulunya. Air sungainya berwarna hitam bukan karena kotor, tetapi karena pengaruh akar-akar pohon damar yang tumbuh di sepanjang sungai, di kiri dan kanan sungai kita disuguhi pemandangan hutan bakau dan pohon damar. Bukit-bukit kapur seperti Halong Bay di Vietnam berjejer di sepanjang sungai. Nikmati foto-foto berikut ini dulu ya:

15349766_1292461650821857_8450710350866500339_n

15338847_1292461397488549_5647892074677641041_n

15253595_1292461500821872_6426128411538245761_n

15268090_1292461194155236_3707209416789916439_n

Nah, setelah berlayar sekitar dua puluh menit, sampailah kita ke hulu sungai. Perahu berakhir sampai di sini. Kita sekarang berada di sebuah lembah dengan tebing-tebing curam yang berkemiringan 90 derajat. Pemandangan ini mengingatkan saya dengan Lembah Harau di Sumatera Barat. Bedanya, jika tebing-tebing bukit di Lembah Harau tersusun oleh batu granit, maka bukit-bukit di Rammang-Rammang tersusun oleh batu kapur. Turun dari perahu kita mulai berjalan menyusuri lembah. Paduan sawah, tebing, dan kolam mata air menghadirkan pemandangan yang tidak dapat dilupakan, seperti yang saya tunjukkan pada foto-foto di bawah ini.

15349794_1292462024155153_3915821050710698685_n

15220061_1292460494155306_768488408911650182_n

15241429_1292462404155115_5459646258675071128_n

15350634_1292460817488607_2957536006423977487_n

15253627_1292462467488442_3855832975321203810_n

15304638_10211175936298604_7831283344194059172_o

Photo by Arry Akhmad Arman

Bagaimana? Luar biasa ya indahnya Rammang-Rammang. Kalau anda nanti jalan-jalan ke Makassar, jangan lupa sempatkan  waktu ke Rammang-Rammang ini. Sebagai informasi, jika hari hujan atau gerimis maka kawasan ini tidak dapat dilihat karena tertutup kabut. Jadi, pastikan dulu cuaca di Rammang-Rammang cerah.  (HABIS)

Dipublikasi di Cerita perjalanan | Meninggalkan komentar

Jalan-Jalan ke Makassar, Samalona, dan Rammang-Rammang (Bagian 1)

Awal Desember yang lalu fakultas saya mengadakan acara jalan-jalan ke Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan beribukota di Makassar (dulu Ujungpandang). Kebetulan dari Bandung ada penerbangan langsung ke Makassar sekali sehari dengan Lion Air, yaitu pukul 06.05  WIB pagi, begitu juga sebaliknya dari Makassar ke Bandung ada penerbangan langsung pukul 14.30 WITA.

Hari Pertama

Apa tempat wisata yang diingat dari Sulawesi Selatan? Pantai Losari? Itu sudah biasa. Toraja? Hmm..lumayan jauh. Kami ingin yang dekat-dekat saja, yang tidak jauh-jauh dari kota Makassar, karena acara jalan-jalan ini hanya 3 hari 2 malam (sudah termasuk keberangkatan dan kepulangan). Nah, melalui tulisan ini saya akan menceritakan perjalanan saya ke kota Angin Mamiri dan sekitarnya. Dua tujuan utama jalan-jalan adalah Pulau Samalona dan kawasan karst Rammang-Rammang di Kabupaten Maros.

Pesawat Lion Air dari Bandung mendarat di Bandara Hasanuddin Makasar pukul 09.00 pagi. Bandara Hasanuddin Makassar adalah bandara yang sangat ramai dan merupakan pintu gerbang menuju  kawasan Indonesia Bagian Timur. Bandara Hasanuddin merupakan bandara transit jika kita hendak bepergian ke kota-kota lain di Indonesia Timur. Dulu waktu saya singgah de Bandara Hasanuddin, bandara ini masih terlihat bersih, tetapi sekarang sudah mulai agak kotor dan semrawut.

15219600_1290129274388428_1158257246549318922_n

Setelah selesai urusan bagasi, maka kunjungan kami yang pertama adalah ke Benteng Fort Rotterdam yang terletak tidak jauh dari pantai dan Pelabuhan Makassar. Benteng Fort Rotterdam adalah peninggalan Kerajaan Gowa dan dibangun pada tahun 1545. Di dalam benteng ini terdapat museum yang menyimpan perjalanan sejarah dan budaya Sulawesi Selatan.

Bneteng Fort Rotterdam

Benteng Fort Rotterdam

Bneteng Fort Rotterdam

Benteng Fort Rotterdam

Hari sudah menunjukkan pukul 12.00 WITA. Berhubung hari ini adalah hari Jumat, maka kami sholat Jumat di masjid terapung Amirul Mukminin di Pantai Losari. Mesjid ini tidak benar-benar terapung, tetapi konstruksinya terletak di atas laut sehingga dijuluki masjid terapung. Uf, siang itu matahari di Makassar sangat menyengat. Saya memilih sholat di lantai atas, di sini angin laut bertiup sepoi-sepoi sehingga udara gerah menjadi tidak terasa.

Masjid Amirul Mukminin di pinggir Pantai Losari.

Masjid Amirul Mukminin di pinggir Pantai Losari.

Dari lantai atas masjid terapung kita dapat memandang laut luas terbentang (Selat Makassar). Kita juga dapat melihat pemandangan sepanjang pantai Losari dan hotel-hotel yang berjejer di sepanjang pantai.

Pemandangan laut di depan masjid Amirul Mukminin

Pemandangan laut di depan masjid Amirul Mukminin

Kota Makassar sepanjang Pantai Losari, dari lantai dua masjid terapung

Kota Makassar sepanjang Pantai Losari, dari lantai dua masjid terapung

Setelah sholat Jumat tentu perut ini sudah mulai keroncongan. Makan siang di Makassar sebaiknya olahan hidangan laut (seafood), karena ikan di sini segar-segar. Kami makan di Terminal Seafood yang semua masakannya adalah ikan, uang, cumi, kepiting, dan aneka sambal yang gurih dan pedas.

Sebelum balik untuk check-in di hotel, kami singgah dulu di sebuah pantai lain yang bernama Pantai Akkarena. Menurut saya pantai ini kurang begitu bagus, pasirnya berwarna hitam, dan tidak berombak. Ada dermaga kayu di sini untuk menaiki perahu menuju pulau-pulau di sekitar Makassar. Tapi kalau mau naik banana boat atau permainan anak-anak mungkin pantai ini lumayan cocok.

Hari Kedua

Makassar hujan ringan pagi itu, namun tujuan ke Pulau Samalona tetap akan dilanjutkan. Pulau Samalona adalah pulau kecil berpasir putih yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Makassar. Dari Pantai Losari kita menaiki perahu speed boat dengan kapasitas delapan orang.

Sebelum berangkat ke Pulau Samalona, kita berfoto dulu di depan dermaga Pantai Loasari

Sebelum berangkat ke Pulau Samalona, kita berfoto dulu di depan dermaga Pantai Loasari

15391083_1302841029783919_3218086172173045968_n

Aku dan anak bungsuku di Pantai Losari

Pulau Samalona dapat ditempuh sekitar 20 menit dengan perahu speedboat. Sepanjang perjalanan menuju Pulau Samalona tidak terasa ada gelombang laut, lautnya tenang, mungkin karena di sekitar pelabuhan Makassar ada benteng penahan ombak. Kita dapat menyaksikan kalap-kapal besar  yang membuang jangkar di sekitar pelabuhan. Air lautnya terlihat kotor, mungkin karena bercampur dengan limbah buangan kapal.

Setelah 20 menit berlayar, sampailah kami di Pulau Samalona. Pulau kecil berpasir putih ini terlihat di depan mata.

15267839_1291347260933296_4684220167934363831_n

Memang benar Pulau Samalona ini berpasir putih. Di sekitar pulau terdapat pemandangan batu karang dengan aneka satwa laut. Ada menara BTS sebuah operator selular di Pulau Samalona, sehingga  sinyal ponsel masih bisa kita terima. Dari pantai Samalona kita dapat memandang kota Makassar dari kejauhan.

Pantai berpasir putih di Pulau Samalona

Pantai berpasir putih di Pulau Samalona

Pemandangan lainnya di Pulau Samalona

Pemandangan lainnya di Pulau Samalona

Bocah kecil duduk senidirian di rumah pangung

Bocah kecil duduk sendirian di rumah panggung

Di Pulau Samalona terdapat beberapa penginapan, dari kelas seadanya hingga sekelas wisma. Ada sekitar belasan keluarga nelayan tinggal di Pulau ini. Mereka menggantungkan hidupnya dari kunjungan wisatawan dengan membuka usaha warung dan penyewaan toilet. Oh iya, di pulau ini tidak ada sumber air tawar, sehingga air di sini sangat berharga.

Rumah panggung khas Makassar, rumah penduduk di Pulau Samalona

Rumah panggung khas Makassar, rumah penduduk di Pulau Samalona

Meskipun air laut di Pantai Samalona terlihat bersih, namun jika diperhatikan tampak berkilauan. Itu berarti minyak yang tumpah dari kapal sudah sampai ke sini. Bagi yang ingin snorkeling, sebaiknya berhati-hati dengan limbah oli buangan kapal.  Rekan kami yang snorkeling di dekat kapal besar terkena minyak oli buangan kapal yang memenuhi badan, rambut dan kepalanya. Sangat sukar membersihkan badan yang terkena oli di pulau Samalona, karena perlu dibersihkan dengan minyak tanah. Untung saja ada penduduk yang memiliki persediaan minyak tanah sehingga oli dapat dibersihkan.  (BERSAMBUNG)

Dipublikasi di Cerita perjalanan | Meninggalkan komentar

Jagung Hitam

Ketika belanja di sebuah supermarket, di bagian sayur mayur saya menemukan jagung yang berwarna hitam. Bukan karena gosong, tapi memang hitam legam alami. Baru kali ini saya melihat ada varietas jagung yang berwarna hitam, biasanya kita tahu jagung itu warnanya kuning.

jagung-hitam

Jagung hitam, kontras dengan jagung kuning sebelahnya

Saya tidak sempat membelinya, tetapi kata teman yang sudah pernah mencicipi, rasanya manis seperi jagung biasa. Enak. Setelah cari informasinya di Google, ketemu ini: http://www.victoryseeds.com/corn_black-aztec-sweet.html. Ternyata jagung hitam  asalnya dari Mexico sehingga diberi nama Black Mexican Sweet Corn.

Subhanallah, macam-macam ciptaan Allah yang beraneka ragam dan warnanya untuk manusia.Jadi, nikmat-Nya mana lagi yang kamu dustakan?

Dipublikasi di Gado-gado | 2 Komentar