Nasib Atlet PSSI yang Merana Dikala Tua

Kemarin pagi ketika saya sedang duduk-duduk di teras rumah, lewatlah seorang bapak tua yang menjajakan dagangan berupa sapu, ember, dan peralatan rumah lainnya. Karena memang ingin membeli sapu lidi, saya panggillah dia. Harga sapu lidinya Rp25.000. Tanpa saya tawar lagi, saya pun membelinya. Kepada pedagang-pedagang tua seperti bapak ini saya sering tidak tega menawar barang. Ada rasa kasihan melihatnya. Cara terbaik membantu mereka adalah membeli dagangannya, meskipun kita mungkin tidak terlalu membutuhkannya saat itu.

Setelah uang diterima, bapak tua itu berkata begini. “Cep, nanti malam ada Persib di TV lawan Barito Putra”. Saya hanya tersenyum. Saya bukan penyuka bola. Anak saya yang nomor dua yang hobbi bola. “Suka nonton bola, nggak?”, tanyaya. “Nggak aki, anak saya yang suka”, jawab saya.

“Bapak dulu pemain PSSI tahun 1949”, dia melanjutkan kata-katanya.

“Oh ya?”. Saya pun mulai tertarik mendengarkannya. Bapak pedagang sapu itu bernama Suhatman. Menurut ceritanya, dia mantan pemain PSSI tahun 1949 (mungkin maksudnya tahun 1959, saya kurang persis mendengarnya) yang pernah mengharumkan nama Indonesia di berbagai kancah laga internasional. Posisinya sebagai pemain gelandang. Dia pernah bermain di Afghanistan, Australia, dll. Dia masih ingat nama salah satu pemain saat itu, Saelan. Tahun 50-an kesebelasan Indonesia termasuk yang disegani di kawasan Asia.

suhatman1

Tanpa diminta dia bercerita tentang pengalaman main bolanya, pelatihnya, dan kondisi sepakbola Indonsia saat ini. Tak lupa dia memperagakan tendangan andalannya yang ia sebut “tendangan pisang”. Pak Suhatman bercerita, sampai tahun 70-an namanya masih tertulis di Gelora Senayan, tetapi sekarang sudah dihapus, ceritanya sedih. Saya mulai percaya dengan ceritanya. Saya pikir Pak Suhatman ini orang jujur dan tidak  mungkin mengada-ada. Untuk apa dia bercerita soal sepakbola begitu lengkap, tentu bukan karena motif ekonomi.

“Kalau jadi pemain bola nggak dapat uang pensiun”, katanya sedih. Jadilah pada masa tuanya hidup Pak Suhatman merana seperti sekarang. Dulu dia pernah dijanjikan kerja di PLN oleh walikota Bandung (alm) Ateng Wahyudi, tetapi tidak terealisasi. Sekarang dia harus mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Agak susah dia mendengar pertanyaan saya karena pendengarannya terganggu. Ini karena dulu kepalanya sering kena sleading bola, katanya. Umurnya saat ini 79 tahun dan masih sehat berjalan. Saya bertanya asalnya darimana, dia jawab dari Rajagaluh, Ciamis. Sekarang dia tinggal di gang sempit di Cicadas. Anak-anaknya sudah meninggal dunia, hanya satu anak perempuannya yang masih hidup, tetapi menantunya tidak suka kepadanya. Pak Suhatman harus mencari hidupnya sendiri.  Berjualan sapu dan ember adalah atas kebaikan seorang Babah Tionghoa yang menjadi majikannya. Semua barang jualan ini adalah milik si Babah. Dia hanya menjualkan saja.

Uang lima puluh ribu untuk membeli sapu tidak saya minta kembaliannya. “Buat Pak Suhatman saja”, kata saya. Dia merasa sangat terharu, dipeluknya saya dan didoakannya saya serta keluarga saya.

suhatman2

Saya tatap kepergian pak Suhatman. Saya merasa iba seorang atlet yang pernah mengharumkan nama Indonesia pada tahun 50-an tetapi hidup mengenaskan pada masa tuanya. Dia tidak sendiri, masih banyak atlet lain yang pernah mengharumkan nama bangsa namun kurang mendapat perhatian Pemerintah, mereka harus bertahan hidup dengan usaha apa saja. Membuka usaha warung, menjadi tukang beca, kuli angkat, tukang ojeg, atau pedagang keliling seperti Pak Suhatman ini.

Semoga Aki Suhatman selalu tetap sehat dan dilindungi oleh Allah SWT. Amin.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 1 Komentar

Berbuka dengan yang Asin

Pada bulan puasa ini, ada fenomena yang cukup unik saya jumpai di Bandung. Menjelang waktu berbuka puasa, pedagang gorengan ramai dikerubungi pembeli.  Gorengan seperti bala-bala (sejenis bakwan), tempe mendoan, tempe goreng, gehu (tahu goreng yang berisi sayur toge dan kol), comro, cireng, pisang goreng yang  mengkal, perkedel jagung, dan lain-lain, laris dibeli orang.   Semuanya, kecuali pisang goreng, adalah jajanan yang rasanya asin.

gorengan1

Pedagang gorengan di Antapani

Tampilan gorengan yang tampak krispi memang menggoda selera siapapun yang melihatnya.  Di Indonesia gorengan sering menjadi makanan pembuka sebelum makanan utama.  Bila ada gorengan di atas meja, maka itulah yang dicomot lebih dulu. Gorengan adalah makanan pengganjal perut yang sedang lapar. Menikmati gorengan akan lebih enak lagi bila dimakan dengan cabe rawit atau sambal kecap cabe rawit.

Pada bulan puasa, ternyata kebanyakan orang kita lebih suka berbuka puasa dengan  makanan asin ketimbang yang manis. Coba saja anda perhatikan, jika di meja makan tersedia kurma dan gorengan, maka makanan yang diambil pertama kali kebanyakan adalah gorengan. Kurma sendiri kurang begitu “laku”.

gorengan2

Gorengan yang menggoda

Padahal ada hadis Nabi yang mengatakan “berbukalah dengan yang manis”. Jika di negara-negara Arab maksud makanan yang manis itu adalah kurma, tapi karena di Indonesia bukan tempat tumbuh pohon kurma, maka kurma diganti dengan kolak pisang atau makanan manis lainnya.

Memang kolak manis itu juga menjadi ciri hidangan pembuka puasa di tanah air, tetapi jika ia hadir berdampingan dengan gorengan, maka secara psikologis ketika orang lapar makanan yang diambil pertama kali adalah gorengan yang asin itu sebagai pembuka puasa, baru kemudian makan kolaknya.

Meski gorengan itu kurang sehat, ternyata orang Indonesia adalah pencinta gorengan sejati. Asal jangan sering-sering saja sebab kandungan kolesterolnya tinggi.

Dipublikasi di Gado-gado | 5 Komentar

Motor, Trotoar, dan Kegagalan Pendidikan Karakter

Sore hari menjelang waktu buka puasa, lalu lintas menuju kawasan perumahan di Antapani sangat padat. Semua pengendara berpacu agar duluan sampai ke rumah. Berbuka puasa bersama keluarga tentu momen yang selalu dinantikan. Jam-jam rush hour adalah saat sore ketika pulang kantor, yaitu ketika secara bersamaan orang-orang pulang ke rumah. Ruas jalan sempit di samping Jembatan Pelangi Antapani itu disesaki mobil dan motor.  Ruas jalan itu tersendat dan sulit bergerak. Semua pengendara tidak mau mengalah, tidak mau antri.

Pengendara motor yang tidak sabaran akhirnya menjajal trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki.  Satu memberi contoh, lalu diikuti oleh pengendara yang laindi belakangnya.

trotoar1

Tanpa merasa bersalah, pengendara motor – yang pasti orang berpendidikan- melaju di atas trotoar. Memang tidak ada pejalan kaki saat itu. Tapi, melaju di atas trotoar tetap saja salah, bukan?

trotoar2

Pemandangan seperti ini, pada saat lalu lintas padat, sering kita temui di mana-mana. Di bawah ini foto bersumberkan dari Antara. Ceritanya masih sama, pemotor yang tidak sabaran dan maunya menang sendiri.

Motor-Naik-Trotoar-020713-AGR-2

Pemgendara motor yang tidak sabaran (Sumber foto: Antara)

Beberapa tahun yang lalu pernah  ada berita yang menjadi viral di media sosial tentang bocah kecil bernama Daffa yang berani menghadang pengendara motor di atas trotoar. Hebatnya lagi, bocah kecil itu tidak takut dibentak pengendara motor.  Dia ingin menunjukkan keyakinannya bahwa berkendaraan di atas trotoar itu salah.

daffa

Daffa menghadang pengendara motor di atas trotoar (Sumber foto: Tribunnews.com)

Tapi, viralnya berita tentang Daffa tidak mampu mengubah perilaku pengendara motor. Dengan berlalunya waktu, orang pun melupakan kisah Daffa, pemotor yang menaiki trotoar pun mulai marak lagi.

Kasus pemotor yang menaiki trotoar adalah salah satu contoh bahwa pendidikan katakter di negara kita belum berhasil. Contoh lainnya adalah budaya antri yang belum menjadi perilaku bangsa kita, orang-orang yang membuang sampah makanan dari atas mobil, merokok di sembarang tempat, meludah sembarangan, dan sebagainya.

Boleh saya katakan bahwa pendidikan di negara kita baru sebatas knowing, belum sampai menjadi doing. Murid-murid  memang diajarkan agar jangan membuang sampah di sembarang tempat, tapi itu baru sebatas pengetahuan saja. Dalam kesehariannya masih banyak anak-anak  bahkan orang dewasa dengan cuek membuang bungkus kemasan makanan dari dalam mobil di atas jalan tol. Makan kacang rebus memang asyik, tapi kulitnya berserakan di atas tanah. Makan permen itu simpel, tapi bungkusnya dibuang ke lantai.

Menyeberanglah di atas zebra cross atau di atas jembatan, tapi orang-orang tetap saja seenaknya menyeberang jalan di mana saja dia suka. Naiklah bus dari halte, tapi orang-orang malas pergi ke halte, mereka menyetop bus atau angkot dari posisi berdirinya sekarang. Supir-supir bus pun menuruti permintaan penumpang yang minta turun di mana saja yang diinginkan penumpang.

Antrilah masuk ke dalam pesawat, tapi orang-orang secara bergerombol berusaha duluan masuk melalui gate tempat pemeriksaan boarding pass. Kenapa mereka tidak mau antri dengan tertib, bukankah nanti semua penumpang akan masuk juga ke dalam pesawat, semuanya sudah mendapat nomor kursi, apa lagi yang dikhawatirkan?

Antrilah naik ke atas kereta, tapi orang-orang berebut naik dan turun kereta. Mungkin untuk kereta commuter yang karcisnya tanpa nomor kursi kita masih bisa agak maklum, mengapa orang-orang  adu cepat naik kereta agar dapat tempat duduk, tapi tetap saja fenomena ini menunjukan orang kita malas antri.

Ketika saya berkunjung ke Jepang beberapa tahun lalu, saya kagum dengan budaya antri mereka. Kereta belum datang, tapi orang-orang sudah antri dengan tertib dalam satu line. Ini adalah antrian untuk masuk ke dalam kereta, padahal keretanya sendiri belum sampai ke stasiun. Tidak ada dorong-dorongan, tidak ada yang menyerobot antrian.

DSCF1019

Antri dengan tertib menunggu kereta.

DSCF1023

Antri dengan tertib menunggu kereta

Selama pola pendidikan di negara kita masih dalam sebatas knowing, maka sangat sulit mengubah karakter bangsa ini. Pendidikan karakter seharusnya sejak dini ditanamkan. Pendidikan karakter yang terbaik adalah by doing, tidak hanya knowing. Saya dapat cerita dari teman, jika di negara kita anak TK diajarkan sebareg pelajaran mulai dari belajar membaca dan berhitung sederhana, maka di Jepang anak-anak TK diajarkan bagaimana naik kereta, bagaimana antri dan bertransaksi di minimarket atau di supermarket. Jadi, pendidikan dini di sana langsung praktek, yang diharapkan akan terbawa jika mereka dewasa. Jika dari kecil sudah terbiasa belajar tertib dan sesuai aturan, maka kelak jika dewasa nanti sudah menjadi perilaku keseharian.

Selain pendidikan dengan pola doing, teladan dari orang dewasa juga memainkan peranan penting. Jika anda membuang sampah dari atas mobil, dan di dalam mobil ada anak-anak anda yang  melihat, mereka akan beranggapan membuang sampah dari atas mobil adalah perbuatan biasa yang tidak apa-apa dilakukan. Kelak mereka akan mencontoh apa yang anda lakukan. Anda merokok di rumah, maka anak anda pun akan menirunya.

Jadi, pendidikan karakter itu adalah kombinasi dari by doing dan by simulating. Tidak sulit kalau kita memang ada niat.

Dipublikasi di Budi Pekerti, Indonesiaku, Pendidikan | 1 Komentar

Ketika Mahasiswiku yang Non-Muslim Menanyakan Kantin pada Bulan Puasa

Suatu hari seorang mahasiswiku yang beragama bukan Islam (non muslim) bertanya kepada saya.

+ Pak, apakah ada kantin yang buka di kampus siang ini?, tanyanya.

Hari itu adalah hari ketiga puasa bulan Ramadhan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, hampir semua kantin di kampus ITB tutup selama bulan puasa (ketika tulisan ini ditulis, ternyata ada satu kantin yang buka, yaitu kantin Eititu di Gedung Student Center).  Saat ini ITB juga sedang memasuki liburan panjang, maka kantin tutup dikarenakan tidak banyak mahasiswa berada di kampus juga merupakan alasan lainnya.

Tidak ada, jawab saya. Kalau kamu mau makan, kamu bisa pergi ke kantin atau kafe di Jl Gelapnyawang, di belakang Masjid Salman. Apakah kamu bawa bekal dari rumah?, tanya saya lagi.

+ Ada, pak. Saya bawa snack.

Silakan kamu makan di sini saja, di ruang asistenku di sana

+ Saya tidak enak pak sama orang yang puasa.

Tidak apa-apa. Kamu makan di labku nggak akan membuat yang berpuasa jadi batal puasanya. Kami di sini sama-sama bisa mengerti.

Saya memang tidak melarang orang lain untuk makan pada siang hari bulan Ramadhan. Orang yang berpuasa tidak perlu meminta dihormati puasanya, orang lain makan di siang bolong kita tidak boleh melarangnya. Tidak semua orang berpuasa, di lingkungan kita tidak semuanya muslim, ada saudara-suadara sebangsa kita yang tidak ikut berrpuasa. Bahkan tidak semua orang Islam ikut berpuasa. Wanita yang datang bulan, wanita yang hamil, wanita yang sedang menyusui anak, musafir, dan orang yang sedang sakit diperbolehkan tidak menjalankan ibadah puasa. Karena itu, rumah makan yang melayani orang yang tidak berpuasa seharusnya diperbolehkan.

Di Indonesia memang ada pro kontra tentang rumah makan yang buka pada siang hari bulan Ramadhan.  Di daerah yang heterogen seperti Jakarta, Bandung, dan kota-kota multietnis dan agama lainnya, sebagian rumah makan tetap buka. Biasanya mereka masih menunjukkan sikap tenggang rasa dengan tidak membuka rumah makannya secara mencolok.  Jendelanya ditutup dengan tabir kain, atau pintunya tidak dibuka seluruhnya. Di Bandung beberapa rumah makan Padang ada yang buka pada siang hari namun mereka tidak melayani makan di tempat, hanya bisa dibungkus atau tidak makan di sana.

Di daerah yang homogen dan kental keislamannya sudah ada kesepakatan berupa Perda atau aturan yang melarang rumah makan berjualan pada siang hari selama bulan puasa. Sebagai bentuk kearifan lokal, maka aturan tersebut tetaplah harus kita hormati. Saya pernah membaca ada aturan di daerah mayoritas Kristen seperti di Papua yang melarang toko-toko dan pasar buka pada hari Minggu, karena hari Minggu adalah hari khusus untuk beribadah di gereja. Aturan tersebut ditaati oleh pedagang muslim di sana.

Bangsa Indonesia ini sudah sejak dulu tidak punya masalah soal toleransi atau tenggang rasa. Saya teringat pengalaman saya sholat di sebuah ruang di kampus Perguruan Tinggi Swasta Katolik, mereka (teman-teman dosen di PTS tersebut) tidak masalah saya sholat di sana, padahal  di dalam ruang tersebut ada salib dan patung Yesus di dinding, malah saya sholat di bawahnya. Mereka memberi waktu untuk saya melakukan sholat, bahkan menanyakan apakah saya mau sholat dulu sebelum memulai diskusi lagi?

Meskipun saya punya pandangan tidak melarang orang makan pada siang hari bulan puasa, tetapi tetaplah ada satu hal yang perlu diperhatikan. Kalau mau makan, ya makan saja, tidak usah secara demonstratif sengaja menunjukkan makan secara terbuka di depan khalayak yang berpuasa. Kadang-kadang tidak semua orang bisa paham atau mungkin bisa salah paham dengan anda. Maka lebih bijak mencari tempat yang agak tertutup dan silakan makan di sana.

Kembali ke dialog saya dengan mahasiswi tadi.

+ Terima kasih, pak.

Dia pun mencari tempat di sudut lab, memakan bekal snack-nya.

Dipublikasi di Agama, Gado-gado, Indonesiaku | 3 Komentar

Berkas Ujian yang Sayang Dibuang

Semester genap di ITB baru saja selesai. Nilai-nilai mata kuliah sudah diumumkan. Seperti biasa, pada akhir semester saya selalu membagikan kembali semua berkas milik mahasiswa, baik itu berkas ujian mereka maupun berkas tugas lainnya. Saya taruh di atas meja lab, silakan diambil milik masing-masing. Namun, berkas ujian dan tugas itu seringkali tidak diambil lagi oleh mahasiswa setelah nilai diumumkan. Mungkin mereka merasa tidak perlu lagi, padahal menurut saya mendokumentasikan hasil-hasil pekerjaan dann ujian selama kuliah itu adalah penting.

berkas

Saya sendiri selalu menyimpan hasil-hasil ujian dan tugas sejak S1 hingga S3. Tujuannya bukan sekedar memorabilia untuk bernostalgia, tetapi mengingatkan perjalanan hidup yang pernah dilalui. Baik buruk hasilnya, itu adalah diri kita, sejarah kita.

Kebiasaan menyimpan hasil sekolah ini saya teruskan ke anak saya. Semua berkas ujian mereka, buku catatan, hasil karya, dll (kecuali buku cetak) saya simpan di dalam lemari, sampai penuh tuh lemari. Sampai-sampai istri saya  mengeluh karena lemari sudah penuh. Mau dibuang, tapi saya bilang jangan dulu. Sayang.

Berkas-berkas yang tidak diambil itu sayang sekali jika nanti dikilo di pasar loak lalu berakhir di kios gorengan untuk pembungkus pisang goreng atau pembungkus barang dagangan. Tertera di bungkus gorengan nilai UAS seorang mahasiswa mendapat nilai 35. Saya tersenyum kecut membaca jawaban ujiannya.

Di negara Belanda (cerita teman), berkas-berkas ujian mahasiswa disimpan di lemari universitas. Berkas-berkas itu hanya boleh dimusnahkan setelah 5 tahun (itu artinya setelah mahasiswa yang bersangkutan lulus). Jadi, berkas ujian mahasiswa tidak pernah ditemukan di pasar kertas bekas, tidak seperti di sini yang berakhir menjadi pembungkus gorengan.

Dokumentasi itu penting, sebab ia adalah sejarah diri kita.

Dipublikasi di Gado-gado, Seputar Informatika | 1 Komentar

Masjid Salman ITB Tempat yang “Radikal”

Sebagai orang yang pernah aktif di Masjid Salman ITB, saya cukup terhentak dengan tudingan Ketua Umum PBNU K.H Said Aqil Siradj yang menyatakan bahwa Masjid Salman ITB adalah tempat berkembangnya paham radikalisme (Baca: NU: Radikalisme Menyebar ke Kampus, Terutama Masjid Salman ITB). Meski akhirnya Pak Kyai mengaku khilaf dan meminta maaf atas tudingannya itu  (baca: Pengurus Masjid Salman: Kiai Said Aqil Mengaku Khilaf dan Mohon Maaf), namun tuduhan pak Kyai terlanjur menjadi viral di media sosial dan menimbulkan keresahan bagi para alumni ITB yang pernah merasakan kehidupan di Masjid Salman.

masjid-salman

Masjid Salman ITB (Sumber: kabarsalman.com)

Kata radikal saat ini menjadi kata yang banyak dilontarkan terkait situasi politik tanah air yang belum tenang sebagai dampak kasus Ahok. Radikal dipertentangkan dengan Pancasila. Ormas radikal, ormas anti pancasila, radikalisme, kaum radikal, dan seterusnya, itulah kata-kata yang menghiasi media di tanah air. Disematkan kata radikal saja sudah membuat tidak nyaman, apalagi jika dituding sebagai pendukung dan penyebar radikalisme. Seringkali cap radikal disandingkan dengan kata anarkisme, ekstrimisme, intoleran, dan bahkan terorisme.

Padahal kalau membuka kamus bahasa kata radikal itu tidak selalu berarti negatif.  Radikal berasal dari kata radix yang artinya akar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti radikal adalah sbb:

radikal1/ra·di·kal/ a 1 secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang –; 2 Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 3 maju dalam berpikir atau bertindak;

Jika dimaksudkan radikal itu adalah kembali ke hal yang mendasar atau prinsipil, maka sudah seharusnya setiap orang demikian. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Kita sering berkata demikian, misalnya harus sesuai dengan prinsip dasar, hal yang mendasar adalah…., dsb, dsb.  Lihatlah arsitektur Masjid Salman sendiri tergolong radikal pada zamannya. Ia tidak mempunyai kubah seperti masjid lain pada umumnya.  Arsitek Masjid Salman, Pak (alm) Ahmad  Nu’man, punya alasan mengapa rancangan masjidnya demikian. Masjid memiliki kata dasar sujud, jadi masjid itu tempat bersujud. Maka, bagi sebuah masjid yang dipentingkan adalah fungsi dasarnya sebagai tempat bersujud (sholat). Bentuk bangunan sendiri tidak ditekankan seperti apa, pakai kubah atau tidak. Lihatlah Masjidil Haram, tidak ada kubah di sana. Kubah masjid baru ada pada zaman Kerajaan Ottoman Turki. Kubah tidak identik dengan Islam, kubah juga terdapat pada bangunan gereja-gereja di Eropa.

Arti kata radikal yang ketiga adalah maju dalam berpikir dan bertindak. Ya, memang, dalam hal ini Masjid Salman tergolong radikal. Pengelolaan masjid dilakukan secara profesional oleh pengurus masjid yang kebanyakan adalah dosen-dosen ITB. Berbagai teknologi sudah diterapkan Masjid Salman untuk membuat masjid ini semakin nyaman untuk beribadah, termasuk untuk pemberdayaan ekonomi dan kegiatan yang bertujuan sosial (baca juga: ATM Beras dari Masjid Salman ITB). Berbagai kajian dan diskusi yang mencerahkan pikiran diadakan silih berganti untuk menambah wawasan jamaah. Berbagai tokoh politik, tokoh agama, ilmuwan, dan tokoh masyarakat telah banyak mengisi kajian berupa seminar, telaah buku, diskusi kontemporer, semuanya untuk menghidupkan fungsi masjid lebih dari sekedar tempat sholat, tetapi masjid adalah pusat peradaban masyarakat.

Arti kata radikal yang kedua adalah amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan). Jika ini yang dimaksudkan, maka sangat jauh panggang dari api. Jamaah Salman yang umumnya kaum intelektual (mahasiswa, dosen) bukanlah bertipe demikian, apalagi jika dihubungkan dengan perilaku kekerasan.  Saya belum pernah membaca atau mendengar ada kegiatan makar atau penggulingan Pemerintahan yang sah yang dilakukan oleh jamaah Salman, apalagi melakukan tindak anarkis. Di Salman tidak ada kaderisasi politik. Jika alumninya aktif dalam politik praktis, maka itu bukan karena Salman-nya, tetapi adalah pilihan pribadinya.

Siapapun yang pernah berkunjung, sholat, maupun aktif berkegiatan di Masjid Salman ITB, pasti mengetahui bahwa Masjid Salman ITB adalah masjid yang terbuka. Siapapun boleh datang, ikut kajian, ikut mendengarkan ceramah, ikut mengaji, ikut memakmurkan masjid, ikut berbagai kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid, dan sebagainya. Walikota Bandung, Ridwan Kamil, adalah alumni Masjid Salman juga.

emil dan bimbel

Emil (sedang dipeluk di belakang) dan para murid Bimbel Salman berfoto dengan para pengajar di tangga Masjid Salman, tahun 1990 usai malam tafakkur menjelang UMPTN 1990. Saya berada di depannya pada baris kedua, di sebelah murid perempuan.

Karena sifatnya yang terbuka, maka siapapun bisa beraktivitas di sana. Ketika ramai kasus NII di Bandung, masjid Salman ikut kena imbas karena aktivis NII melakukan perekrutan anggota melalui masjid, tak terkecuali mungkin mereka diam-diam menggunakan Masjid Salman sebagai base. Tapi, sekali lagi itu bukan kegiatan masjid, tetapi orang-orang yang memanfaatkan masjid untuk tujuan kelompoknya.

Tulisan ini bukan pembelaan diri. Tetapi demikianlah adanya bahwa masjid Salman itu memang masjid yang radikal dalam tanda kutip.

Dipublikasi di Indonesiaku, Pengalamanku, Seputar ITB | 3 Komentar

Kuburan di Atas Bukit

Bulan puasa Ramadhan pada tahun 2017 tinggal dalam hitungan hari. Tradisi  umat Islam di Indonesia menjelang bulan Ramadhan adalah pergi beziarah ke makam orangtua atau keluarga yang sudah mendahului. Di Jawa dinamakan dengan tradisi nyekar atau nyadran. Tradisi ziarah kubur sebelum Ramadhan memang tidak dicontohkan oleh Nabi, tetapi ziarah kubur sendiri tidak dilarang, sebab mengunjungi makam orang yang sudah meninggal berguna agar kita selalu mengingat kematian.

Seperti orang Indonesia lainnya, minggu lalu saya menyempatkan diri pulang ke Padang untuk menziarahi makam kedua orangtua saya.  Di Padang kompleks pemakaman sering didasarkan atas kampung asal (orang Padang sendiri sebagian besar adalah perantau dari berbagai daerah kabupaten di  Sumatera Barat). Kompleks pemakaman orang-orang dari Koto Anau, Solok, di Padang adalah di sebuah bukit di daerah Seberang Palinggam. Di sanalah kedua orangtua saya dimakamkan.

Kota Padang sendiri dilingkari oleh perbukitan. Bukit-bukit di daerah selatan, yang berbatasan dengan sungai dan laut, sudah lama menjadi tempat pemakaman warga Tionghoa. Kuburan orang Cina, begitu kami menyebutnya, terentang di atas Bukit Siti Nurbaya (nama baru setelah ada jembatan Siti Nurbaya). Nah, kuburan orang kampung saya di sepanjang bukit itu juga, tapi agak ke timur.

Di atas bukit di daerah Seberang Palinggam itulah terdapat kompleks pemakaman orang kampung saya (Koto Anau, Solok). Mungkin sudah ada ratusan kuburan di atas sana, dari dulu hingga sekarang. Pemakaman itu dijaga dan dirawat oleh sebuah keluarga dari suku Nias. Orang Nias cukup banyak juga di Padang, umumnya mereka tinggal di sekitar perbukitan dekat kawasan Muara.

13315652_1118877744846916_5869833978637917960_n

Untuk mencapai pemakaman ini, kita harus menaiki tangga, sebagian lagi melalui jalan setapak yang cukup terjal. Saya membayangkan betapa sulitnya membawa jenazah yang hendak dikubur di sini. Pada musim hujan jalan setapak ke atas bukit itu  cukup licin, jika tidak hati-hati kita bisa terpeleset ke bawah. Namun, bagi orang Nias yang banyak bermukim di bukit itu, mereka sudah biasa saja naik turun bukit yang terjal tersebut.

13266057_1118877698180254_3045192816838233239_n

Karena berada di atas bukit, maka kompleks pemakaman itu rawan longsor. Dua tahun lalu terjadi hujan deras yang begitu lebat di atas bukit. Air dari atas bukit meluncur deras dalam jumlah yang besar, menghanyutkan dan merobohkan apapun yang dilaluinya. Sejumlah kuburan terkena longsoran, termasuk makam ayah saya. Air yang deras meluluhlantakkan isi sejumlah makam sehingga tulang-belulang jenazah ikut jatuh ke bawah dan tidak dikenali lagi itu tulang belulang siapa.

Atas kesepakatan warga perantau kampung saya, maka seluruh tulang belulang itu dikumpulkan dan dimakamkan di dalam satu lubang. Sebagai simbol bahwa makam pernah ada, maka keluarga yang masih hidup membangun makam baru sebagai simbol saja, padahal isinya tidak ada. Tujuannya adalah agar keluarga yang masih hidup dapat tetap berizarah ke sana meskipun kuburan aslinya sudah hilang. Itu termasuk makam ayah saya.

Dari atas bukit ini kita dapat melihat pemandangan kota Padang. Dari kejauhan kita dapat melihat kantor gubernur, beberapa bangunan hotel, Masjid Raya Sumbar, Pantai Padang, dan lain-lain.

18485304_1472619679472719_10544900203165908_n

13325440_1118877774846913_1913774488892107167_n

18485281_1472619636139390_1941990409701227054_n

Tadi sudah saya sebutkan bahwa bukit ini berbatasan dengan sebuah sungai, namanya Sungai Batang Harau. Sungai ini bermuara ke Samudera Hindia sekitar 2 km ke arah barat. Di daerah Muara bertemulah air laut yang asin dengan air tawar dari sungai.

Anda semua pasti tahu jika kota Padang rawan gempa. Gempa bumi sering terjadi dalam skala kecil hingga skala besar. Beberapa kali gempa besar pernah terjadi di sini, terkahir tahun 2009 yang meluluhlantakkan kota. Kekhawatiran paling besar dari gempa bumi adalah tsunami. Jika terjadi tsunami, maka air laut akan masuk ke tengah kota melalui anak-anak sungai yang bermuara ke laut, termasuk melalui sungai Batang Harau ini. Bagi warga yang bermukim di kawasan selatan, jalur evakuasi untuk menghindari tsunami adalah lari ke atas bukit-bukit itu. Pemerintah kota membangun beberapa jembatan evakuasi di atas sungai Batang Harau. Jika terjadi peringatan tsunami, maka warga bisa berlari ke atas bukit yang saya ceritakan ini.

Dari kompleks pemakaman tadi saya dapat melihat dengan jelas jembatan evakuasi tsunami.  Berlindung ke bukit yang tinggi ini cukup aman bagi warga sampai menunggu pertolongan datang.

13312673_1118877794846911_5475495546647719388_n

Jembatan evakuasi dari tsunami

13325620_1118958614838829_6122710926432889508_n

Yang paling penting dari jembatan ini adalah edukasi. Penting bagi Pemerintah kota untuk sering melakukan simulasi gempa dan tsunami agar warga menyadari bahwa jembatan ini bukan sekedar tempat penyeberangan biasa, tetapi adalah sarana evakuasi bencana.

Dipublikasi di Cerita perjalanan, Cerita Ranah Minang | 4 Komentar