Perilaku LGBT Sudah Mewabah pada Anak-anak Muda Indonesia

Ini masih seputar berita pernikahan sesama jenis yang sedang hangat di dunia. Membaca postingan Ummi Yana di Facebook tentang grup gay di Jombang, membuat saya bergidik. Ngerii… naudzubillah min zalik, ternyata kehidupan gay dan lesbian sudah mewabah pada generasi muda di negara kita. Sudah mulai menular sejak anak-anak SMP/SMA. Ini baru di Jombang lho, sebuah kabupaten kecil di Jatim. Bagaimana dengan kota/kabupaten lain di Indonesia?

Fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Trasgender) di Indonesia ini bagaikan gunung es, yang terlihat baru puncaknya saja, tetapi yang belum terungkap justru lebih besar dan mengerikan. Mungkin yang akan kita temukan di Internet lebih dari cerita Ummi Yana tersebut.

Sebelum media sosial dan jejaring sosial ada, perilaku LGBT anak-anak muda ini mungkin sudah lama ada, tapi saya yakin tidak sebanyak sekarang. Sekarang saja menjadi lebih ramai karena peran media tersebut. Namun, media sosial pula yang ikut menyebarkan wabah LGBT ini. Mereka eksis di media sosial karena di dunia nyata mereka merasa dikekang, tidak leluasa berpacaran, tidak dapat berkomitmen secara formal, dan posesif terhadap pasangan.

Analisis saya, mungkin perilaku gay/lesbian itu subur karena kalau melakukan hubungan intim dengan sesama jenis tidak beresiko hamil. Beda kalau pacaran lain jenis sampai hubungan intim, bisa berabe. Anak-anak muda itu lagi tinggi-tingginya dorongan syahwatnya, maka penyalurannya adalah sesama jenis supaya tidak hamil.

Aduh, semakin berat saja mendidik anak pada zaman sekarang. Harus sejak dini pendidikan agama ditanamkan kepada anak. Tidak cukup itu saja, orangtua harus selalu mengawasi dan memantau pergaulan anaknya. Anak kita mungkin manis di depan kita, tidak tahunya mereka sudah terperosok ke perbuatan dosa besar. Mari kita jaga pergaulan anak-anak kita dari virus LGBT yang mengerikan ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sumber: Celotehan Ummi Yana

Sebenarnya, aku udh azzam pada diri sendiri ga mau ngomongin soal LGBT dulu selama ramadhan..

Fokus ibadah.. Dan aksi #RombongSedekah

Tapi keisenganku bberapa waktu lalu untuk masuk ke ‘Grup Gay Jombang’ Facebook, berbuah mual, muntah, dan keringat dingin..

Dan aku harus membaginya..

Seenggaknya, biar anda-anda para ibu, ayah, orangtua, yg merasa, perkembangan LGBT ini bukan sesuatu yg patut ditakutkan, sedikit bs lebih melek! ..

Buuuu..
Pakkkk..

Peluk erat anak-anak kita..
Dekati..
Fahami..
Doakan..

**

Grup ini, hanya 1 dari puluhan Grup para gay yg eksis di FB.
Itu baru yg keyword “gay jombang” ,
blum lg grup LGBT dengan nama-nama sandi,
seperti Pelangi, Rainbow, Warna-warni, dll..
Dan..
Itu baru di Jombang..
Baru di Jombang.. Sebuah kabupaten kecil !

*

Jangan dikira lolos ke grup tertutup ini mudah..
Butuh bbrpa hari..
Aku harus membuat account dgn nama alay, dan foto cowok alay yg lg selfie.. Agar meyakinkan sbg seorang Gay..
#ingat ya, cowok klo suka selfie dgn pose alay itu termasuk kategori terlalu gay
tongue emotikon

Aku jg melampirkan nomer telpon yg aktif, agar dipercaya..

**

Butuh sepekan lebih baru aku diijinkan masuk.
Dan setelah masuk..
Aku seperti berada di neraka..
frown emotikon

Foto-foto kelamin pria beredar dimana-mana..
Sebagian mereka masih remaja.. Bahkan ada yg masih SMP.
Cari pasangan untuk seks bebas dan bersenang-senang, Jauh lebih mudah dari menjual makanan di Grup Kuliner Jombang.

Tinggal tulis usia, peran, dan ketertarikan seksual (cari yg tua, muda, putih, sawo matang, dll),
dan tinggalkan nomor telpon, WA, BBM..

Semua tawaran dan ajakan maksiat akan muncul di komentar..
Gayung bersambut..

**

” Tantangan untuk menyembuhkan anak-anak kita yg punya kecenderungan LGBT akan semakin berat jika mereka sudah memasuki fase telah berhubungan badan.. Mereka akan terjebak kenikmatan yg mengandung candu ”

Kurang lebih begitu kak Egi, penulis buku @anakku bertanya tentag LGBT menyebut bahayanya fase ini.
Dan para member di grup ini, sudah jelas masuk dlm fase ini.

*

Tak segan2 jika ada yg dikecewakan, member meng-upload sebuah foto cowok, sambil berkomentar :
” Ada yg pernah ML dgn ini gag? “.
Dan puluhan komen muncul.

Bukti, bahwa Tak hanya seks bebas,
prostitusi gay,
tukar pasangan

Jd hal yg umum banget di grup ini..

*

Ahhh, sudahlah..
Tulisan ini cuma pengen buat ente2 yg suka ngenyek aku, bangun!
Aku ga lebay..
Ini beneran terjadi.. Dekatttt dengan kita..
Ga usah ikut2an iseng kaya aku, bikin account palsu..
Nanti muntah..

**

Tulisan selanjutnya baru kita bahas lagi “harus apa” dan “gimana” yaaa

Salam,
Yana Nurliana

Menulis bukan nakut-nakutin,
Tapi membuka mata biar melek

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku, Pendidikan | 4 Komentar

Negeri Sodom Abad Modern di Tanah Amerika

Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang melegalkan pernikahan sesama jenis (lelaki dengan lelaki, perempuan dengan perempuan) sontak membuat dunia heboh. Sebenarnya Amerika bukan yang pertama, legalisiasi pernikahan sesama jenis sudah duluan disahkan di beberapa negara seperti Belanda, Irlandia, Uruguay, dan lain-lain (Baca: Pernikahan Sejenis Legal di 23 Negara Ini). Tetapi, karena Amerika adalah negara besar, maka pengaruhnya tentu sangat besar pula pada negara lain di seluruh dunia. Apa yang terjadi di Amerika akan menjalar ke tempat lain dan mungkin akan ditiru pula di negara lain, cepat atau lambat. Hanya di negara-negara yang konservatif yang memegang teguh ajaran agama peraturan itu akan mendapat perlawanan keras.

Simbol pelangi mewakili kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender)

Simbol pelangi mewakili kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender)

Semua agama menentang pernikahan sesama jenis. Tetapi di Amerika, dan juga di negara-negara Barat lainnya, agama telah dicampakkan oleh banyak warganya. Agama tidak lagi menjadi tuntunan hidup, agama tinggallah sebagai perayaan seremoni belaka. Kebebasan, kesetaraan, dan HAM menjadi ‘agama’ baru bagi warga Barat. Kalau melihat fenomena di dunia Barat di mana gereja-gereja sudah sepi ditinggalkan penganutnya, maka tidaklah mengherankan jika pernikahan sesama jenis mendapat dukungan besar warganya, terutama dari kaum mudanya.

Anehnya di Indonesia ada pula kalangan selebriti yang bangga dengan pengesahan pernikahan sesama jenis itu. Sebut saja seperti penyanyi Sherina dan sutradara Joko Anwar yang menuliskan cuitan di Twitter sebagai sebuah kemajuan peradaban. Ah, artis-artis semacam itu tidak perlu lagi menjadi tuntunan dan tontonan, karena mereka mendukung perbuatan dosa besar. Orang yang mematuhi ajaran agama tidak mungkin akan menyetujui pernikahan sesama jenis.

Hubungan sesama jenis adalah perbuatan yang nyata-nyata dilarang oleh Allah SWT. Banyak sekali ayat di dalam Alquran maupun di dalam Bibel yang menceritakan kisah umat Nabi Luth di kota Sodom. Ummat Nabi Luth melakukan perbuatan liwath yang terlarang, yaitu menyalurkan syahwat lelaki kepada lelaki dan perempuan kepada perempuan. Karena perbuatan ummat Nabi Luth itu, maka Allah SWT membinasakan kaum ini dengan membalikkan kotanya.

Sekarang, kisah kaum Sodom itu muncul lagi pada abad modern dengan dalih kebebasan dan kesetaraan. Negara memfasilitasi orang-orang melakukan liwath. Mungkin ini merupakan tanda-tanda akhir zaman. Bukan tidak mungkin azab Allah akan muncul kembali kepada negeri Sodom modern. Wallaahu alam.

Gay dan lesbian adalah perilaku yang sebagian besar terjadi karena pergaulan. Sangat jarang gay dan lesbian itu karena faktor genetik. Seseorang yang bergaul dengan kaum homoseksual akan cenderung mempunyai perilaku yang sama. Maka, boleh saya katakan kalau gay dan lesbian adalah perilaku menular. Pada zaman sekarang pergaulan anak muda begitu bebasnya, gay dan lesbian sudah menjadi gaya hidup. Banyak anak muda Indonesia yang ikut-ikutan menjadi homoseksual karena salah pergaulan. Sekali masuk ke dalam dunia itu, sukar untuk keluar.

Jika pernikahan homoseksual sudah menjadi hal yang legal, sukar membayangkan bagaimana dunia nanti. Keluarga pasangan gay dan lesbian apabila ingin mempunyai anak, maka mereka melakukannya dengan cara adopsi atau donor sperma. Konsep keluarga akan menjadi kacau. Seorang anak akan melihat “ayah ibu”-nya dari jenis kelamin yang sama. Mana ayah dan mana ibu sudah tidak jelas lagi. Anak yang dibesarkan oleh pasangan sejenis mempunyai peluang besar meniru kelakuan orangtuanya.

Saya memang orang yang konservatif. Saya tidak perlu bermodern-modern soal yang satu ini. Mereka, pendukung LGBT dan pernikahan sesama jenis, mengatakannya sebagai kemajuan peradaban. Mengutip seorang teman, kehancuran peradaban biasanya dimulai ketika ia melawan fitrah kehidupan. Pernikahan sesama jenis adalah perbuatan yang melawan fitrah kehidupan.

Dipublikasi di Dunia oh Dunia | 8 Komentar

Buka Puasa dengan Buah Kesemek

Kemarin saya berbuka puasa dengan buah kesemek. Tahu kan buah kesemek? Buah yang sudah mulai langka ini jarang-jarang muncul, tetapi beberapa hari yang lalu saya menemukan pedagang yang menjualnya di Pasar Kosambi. Harganya Rp15.000 per kg untuk kualitas bagus. Biasanya buah kesemek muncul pada musim kemarau di pertengahan tahun. Dulu saya pernah menulis tentang kenangan pada buah langka ini.

Buah kesemek yang manis dan harum

Buah kesemek yang manis dan harum

Bulan puasa ini kebetulan jatuh pada musim kemarau (musim panas), maka menikmati buah kesemek yang segar dan manis adalah pilihan yang tepat. Buah kesemek rasanya manis, kaya gizi, dan harganya pun murah. Manfaat buah kesemek dbuat kesehatan dapat dibaca pada tulisan ini: 17 Manfaat Buah Kesemek Bagi Kesehatan.

Buah kesemek di Jawa disebut apel jawa atau apel gunung, di Padang disebut apel belanda atau buah gata (karena buah yang masih mengkal apabila digigit menimbulkan rasa gatal di bibir), di Jepang disebut buah kaki. Ini buah lokal yang harus dilestarikan supaya anak cucu kita pernah mengenal dan mengkonsumsinya.

Dipublikasi di Makanan enak | 1 Komentar

Video Varun Pruthi: Pedagang Kecil Berjualan Untuk Bertahan Hidup, Bukan Untuk Menjadi Kaya

Sebuah video baru dari Varun Pruthi, seorang aktor Bollywood, baru saja diluncurkan pada tanggal 24 Mei 2015. Video ini sudah banyak dibagikan oleh netizen karena membawa pesan yang menohok kebanyakan orang. Saya mendapat kiriman tautan video ini beserta ulasannya dari jejaring sosial. Setelah saya buka videonya di YouTube, memang pesan moralnya sungguh mengena. Di bawah ini videonya (klik saja).

Dikisahkan di dalam video tersebut, seorang penjual kelapa di pinggir jalan (diperankan oleh Varun Pruthi sendiri) didatangi oleh seorang pembeli yang memakai mobil (digambarkan sebagai orang kaya). Pembeli itu menanyakan harga kelapa muda kepada si penjual. Bukannya membeli, namun ia marah-marah setelah mengetahui harga kelapa yang dipatok penjual itu terlalu mahal (30 rupee). Ia menawar 15 rupee tetapi si penjual kelapa mengatakan bahwa kelapa yang ia beli ongkosnya saja lebih dari 15 ruppe. Ia menuduh si penjual kelapa sebagai pencuri atau perampok uang karena mematok harga yang menurutnya mahal tersebut.

Anehnya, si pembeli tadi malah memilih membeli minuman mineral di supermarket yang harganya 35 rupee, lebih mahal daripada kelapa muda tadi. Tentu ia tidak marah-marah kepada pemilik supermarket atau menuduhnya pencuri uang segala karena harga minuman yang mahal tersebut. Ia mengatakan kepada si penjual kelapa bahwa minuman yang dia beli bermerek, sedangkan air kelapa si penjual tidak.

Di dalam video ini Varun seakan menyindir kebiasaan orang-orang kaya yang tidak malu menawar terlalu murah kepada pedagang kecil yang rela berpanas-panasan di pinggir jalan, namun enggan menawar barang di mall mewah atau supermarket yang sejuk. Kebiasaan ini malah dapat memperburuk kondisi kemiskinan.

Melalui video ini pula Varun ingin mengingatkan kepada orang kaya bahwa kebanyakan pedagang kecil berjualan tidak untuk menjadi kaya, tetapi hanya untuk bertahan hidup. Mereka tidak mencari untung besar, dagangannnya laku saja itu sudah sukur. Hal sebaliknya pada pedagang-pedagang besar (yang tentu saja kaya), yang berjualan untuk meraup untung sebesar-besarnya guna menambah kekayaannya.

Apa yang ditampilkan oleh Varun Pruthi di dalam videonya itu merupakan cermin kondisi di dalam masyarakat kita. Banyak orang lebih suka membeli barang di toko-toko besar (swalayan, supermarket, mall) daripada membeli barang yang sama dari pedagang kecil. Terhadap pedagang kecil mereka meminta (menawar) harga semurah-murahnya, namun kepada pedagang besar mereka tidak melakukan hal yang sama.

Dengan membeli barang jualan pedagang kecil itu kita secara tidak langsung telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka. Satu rupiah tidak berati pagi pedagang besar, tetapi sangat berarti bagi pedagang kecil.

Orang yang kuat bukanlah orang yang mengeksploitasi orang lain, tetapi membantu mereka, demikian pesan di dalam video ini.

Dipublikasi di Renunganku | 1 Komentar

Puasa itu Untuk Allah

Puasa (wajib atau sunnah) adalah ibadah yang unik dan eksklusif karena tidak mengandung unsur riya (ingin dilihat/dipuji). Ini sangat berbeda dengan ibadah lainnya seperti sholat, sodaqah/zakat, atau haji yang terang benderang diketahui orang lain. Jika anda sholat, orang lain bisa melihatnya. Jika anda pergi haji, orang sekampung tahu. Jika anda berzakat, maka petugas zakat atau penerima zakat tahu. Jika anda bersadaqah kepada anak yatim, maka orang lain akan tahu, apalagi jika anda membawa wartawan untuk meliput aksi amal anda.

Nah, kalau anda puasa, hanya diri anda dan Tuhan yang tahu. Tiada orang lain yang tahu anda sedang berpuasa atau bukan. Anda bisa saja diam-diam meminum air ketika berwudhu, tidak ada yang tahu. Anda bisa saja diam-diam makan di kamar tertutup tanpa ada orang lain yang tahu. Kalaupun ada orang yang melihat anda makan, mereka mungkin tidak tahu apakah anda makan karena membatalkan puasa atau memang tidak berpuasa.

Karena unik dan eksklusifnya, maka perlakuan Allah SWT terhadap puasa itu berbeda.

Allah SWT berfirman : ”Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya.” Hadis lengkapnya adalah sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda, ‘Setiap amalan kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah SWT berfirman, ‘Kecuali, amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. (HR Bukhari dan Muslim)

Nah, karena istimewanya ibadah puasa itu, maka janganlah menyia-nyiakan hak eksklusif Allah SWT tersebut. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

Dipublikasi di Agama, Renunganku | Tinggalkan komentar

Sales Kartu Kredit yang Ulet

Saya seringkali menerima telepon dari sales kartu kredit bank. Kadang-kadang mereka menelpon langsung ke ponsel saya, kadang-kadang menelpon via nomor kantor. Dua bank yang sangat agresif menawarkan kartu kredit tersebut adalah Bank Mand*r* dan Bank B*I, sekali-kali ada juga dari Bank Nia*a. Darimana mereka dapat nomor telepon saya, itu bukan hal mengherankan saat ini. Banyak cara bagi pihak bank untuk mendapatkan nomor telepon pelanggan. Data pribadi kita seperti nama, alamat dan nomor telepon memang ‘berserakan’ di mana-mana, jadi tidak usah heran lagi kalau tiba-tiba saja dapat surat atau telepon dari instansi lain yang menawarkan produk atau jasa.

Kembali ke cerita sales kartu kredit tersebut. Setiap kali saya menerima telepon mereka, saya sudah dapat menduga bahwa mereka menawarkan kartu kredit. Suaranya manis (umumnya wanita), kalimat-kalimatnya seperti sudah dihafal sehingga terdengar kaku. Tanpa banyak lika-liku, mereka langsung ke inti persoalan yaitu menawarkan kartu kredit dari banknya.

Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik memiliki kartu kredit. Kartu kredit satu-satunya yang saya miliki adalah kartu kredit gratis (tanpa biaya administrasi seumur hidup) dari Bank Mand*r*, yang saya miliki karena ditawarkan dari koperasi kampus. Tapi, sesungguhnya kartu kredit tersebut sangat jarang saya pakai. Hanya satu kali saya gunakan ketika memesan hotel untuk liburan. Itu saja, dan sesudah itu tidak pernah lagi sampai sekarang. Pada dasarnya saya tidak suka berutang, saya lebih suka bertransaksi tunai. Membayar transaksi dengan kartu kredit artinya kita ngutang dulu ke bank, bank yang menalangi peembayaran transaksi kita ke pihak merchant, nanti barulah kita membayar tagihan tersebut ke bank sebelum jatuh tempo.

Kadang-kadang saya iseng melihat orang membuka dompet ketika melakukan pembayaran di kasir supermarket. Di dalam dompetnya terlihat banyak sekali kartu kredit dari berbagai bank. Wah, kaya sekali orang itu, punya banyak kartu, he..he… Saya saja satu biji nggak terpakai. Nah, ini ada sales kartu kredit yang tidak henti-hentinya menawarkan kartu kredit. Setiap kali saya tolak, maaf saya tidak tertarik, dia masih belum mau menyerah. Masih saja mencoba untuk meyakinkan saya tentang perlunya memiliki kartu kredit dari banknya, dengan aneka diskon, keunggulan, dan lain-lain.

Sebagian orang langsung menutup telpon ketika dirinya ditelpon sales kartu kredit. Atau, ada juga orang yang meletakkan teleponnya di atas meja membiarkan sales itu ngomong sendiri dan akhirnya berhenti sendiri karena tidak ditanggapi. Halo…halo…. (tutup).

Kasihan juga kalau dipikir-pikir jika orang diperlakukan seperti itu, padahal mereka sedang mencari nafkah juga, sama seperti kita. Saya yakin sales tersebut bukanlah pegawai tetap bank, mereka mungkin tenaga outsourcing yang gajinya dibawah UMR. Tiap hari kerjanya duduk di depan telepon menawarkan aneka produk bank seperti kartu, asuransi, dan sebagainya. Mereka mendapat tambahan gaji yang diperoleh dari komisi bila berhasil mendapat nasabah baru. Jadi, tidak heran mereka begitu ulet menawarkan kartu-kartu itu kepada nasabah.

Terus terang saya kagum dengan orang yang bekerja sebagai sales apapun, termasuk sales kartu kredit. Mereka adalah pekerja keras yang tahan banting. Itu sisi positifnya. Mereka harus tebal muka, harus membuang rasa malu, atau menahan perasaan jika dibentak atau diacuhkan oleh calon nasabah.

Meskipun sering terganggu dengan sales-sales kartu kredit itu, sebaiknya kita tidak perlu bersikap apriori, apalagi membanting telepon dengan keras, membiarkannya ngomong sendiri, dan sebagainya. Katakan saja permohonan maaf bahwa anda sedang ada rapat, sedang ada pekerjaan yang tidak bisa diganggu, atau belum tertarik memiliki kartu itu, sambil mengucapkan terima kasih telah dihubungi. Saya pribadi masih melayani telepon dari sales kartu kredit, namun meminta maaf tidak tertarik untuk saat ini. Saya rasa itu sudah cukup tanpa membuatnya korban perasaan.

Dipublikasi di Gado-gado | 3 Komentar

Menghormati Orang yang (Tidak) Berpuasa

Dua hari lagi bulan Ramadhan kan menjelang’. Umat Islam akan memulai shaum (puasa) Ramadhan selama satu bulan penuh. Jauh-jauh hari tanda-tanda datangnya bulan Ramadhan itu sudah dirasakan orang Indonesia. Lihat saja di TV, jika iklan sirup Marjan sudah muncul, itu pertanda bulan puasa akan segera tiba. He..he, piss, bercanda.

Selama satu bulan orang Islam yang mengimani kewajiban puasa akan berpantang makan dan minum pada siang hari. Suasana bulan Ramahan di Indonesia sangat kental terasa. Salah satunya dengan mengamati banyak warung makan dan restoran yang tutup pada siang hari. Jika pun tidak tutup, mereka masih buka namun dengan menutup jendela kacanya dengan kain gorden atau tabir lain sehingga orang yang makan di dalamnya tidak terlihat dari luar. Itu cara mereka menghormati orang yang berpuasa meskipun orang Islam tidak pernah meminta harus begitu. Semuanya merupakan kesadaran sendiri saja, dan hal ini sudah berlangsung lama sejak dulu tanpa perlu dikomando atau diajarkan.

Namun kesadaran seperti itu tiba-tiba saja sedikit ‘terusik’ ketika Menteri Agama membuat kicauan di Twitter yang meminta kita menghormati orang yang tidak berpuasa dengan cara tidak perlu memaksa warung-warung makan tutup. Baca ini: Menteri Agama: Hormati yang Tak Puasa, Warung Makan Boleh Buka Siang Hari Selama Ramadan.

Kicauan Menteri itu sekilas tujuannya terdengar baik, namun menurut saya lebay atau berlebihan. Sekelas Menteri Agama tidak perlu membuat pernyataan seperti itu. Orang yang berpuasa tidak pernah meminta dirinya dihormati karena ia sedang berpuasa, begitu pula orang tidak berpuasa tidak pernah minta dirinya dihormati. Itu adalah sikap yang berlebihan.

Diminta atau tidak, orang-orang yang tidak berpuasa pun punya rasa tahu diri dengan tidak mengumbar makan dan minum di dekat orang yang berpuasa. Kalau pun mau makan, mereka sering meminta maaf (yang sebenarnya juga tidak perlu) karena tidak puasa. Kita juga harus ingat bahwa orang yang tidak berpuasa tidak hanya non-muslim, tetapi juga perempuan muslim yang sedang haid, musafir, orang sakit, dan sebagainya.

Salah satu ujian puasa adalah menahan godaan makan dan minum. Anggap saja melihat orang yang makan dan minum itu sebagai godaan iman. Orang yang sedang berpuasa sedang diuji keimanannya. Semakin kuat iman, semakin besar godaannya. Orang yang lulus ujian adalah orang yang bisa menahan diri tidak tergoda hingga waktu berbuka tiba. Godaan seperti ini biasa Anda jumpai ketika anda sedang berpuasa sunnah (misalnya puasa Senin-Kamis) di luar bulan Ramahan. Orang-orang di sekeliling anda makan dan minum, misalnya ada acara makan-makan di kantor, tetapi anda tetap kuat menahan diri untuk menuntaskan puasa sampai waktu Maghrib datang. Ketika waktu berbuka tiba, hati anda pun plong karena dapat mengalahkan godaan untuk membatalkan puasa pada siang tadi. Nikmat, sekali bukan? Maka, begitu pulalah sikap kita selama bulan Ramadhan. Kita tidak meminta orang lain untuk tidak makan dan minum di dekat kita. Kita tidak minta dihormati.

Jika meminta penghormatan kepada orang yang seang berpuasa adalah sikap berlebihan, maka bagaimana dikatakan tidak berlebihan pula kalau anda diminta menghormati orang yang tidak berpuasa dengan tidak memaksa tutup warung-warung makan. Toh orang-orang yang tidak berpuasa sudah dihormati sejak dulu, mereka tidak pernah dilarang makan dan minum pada siang hari. Restoran dan rumah makan tidak pernah dilarang buka pada siang hari. Yang terjadi adalah saling memaklumi seperti yang saya ceritakan di atas.

Jadi, minta dihormati karena berpuasa itu aneh, dan minta menghormati orang yang tidak berpuasa lebih aneh lagi. Pernyataan Menteri Agama itu seolah-olah menganggap orang yang berpuasa (baca: orang Islam) sebagai ‘tertuduh’. Saya khawatir pernyataan Menag dapat berkembang ke arah yang lebih liar. Salah satu posting liar yang ramai di jejaring sosial adalah tantangan kepada Menteri Agama untuk membuat pernyataan menjelang hari besar agama lain, misalnya menyatakan jangan memaksa tutup bandara di Bali pada hari raya Nyepi, hormati orang yang tidak merayakan Nyepi. Jika ini yang terjadi, maka akan timbul kegaduhan antar umat beragama akibat pernyataan yang membuat resah. Tentu kita tidak ingin seperti itu, bukan?

Orang Indonesia pada dasarnya punya rasa toleransi atau tenggang rasa kepada pihak lain yang tidak sepaham tanpa perlu harus ditegaskan secara eksplisit. Saling menghormati dan saling memaklumi.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | 8 Komentar