Bahaya Melakukan Rampatan (Generalisasi): Kasus Cadar

Pasca teror bom bunuh diri yang menghebohkan tanah air, berseliweran ujaran kebencian dan sikip sinis kepada kelompok tertentu, salah satunya kepada wanita pemakai cadar. Salah satu pelaku bom bunuh diri di Gereja di Surabaya adalah seorang wanita yang memakai hijab (cadar?). Oleh karena itu, banyak wanita pemakai cadar merasa tidak nyaman karena mereka dianggap sebagai orang berpaham radikal bahkan dicap teroris.

Sebelumnya beberapa bulan yang lalu pernah ada polemik larangan penggunaan cadar bagi mahasiswa dan dosen di beberapa universitas. Lagi-lagi karena, meskipun tidak ditulis secara eksplisit, mengasosiasikan penggunaan cadar dengan radikalisme. Kasus teror bom bunuh diri kemaren semakin menguatkan sentimen sebagian kalangan kepada wanita yang bercadar.

Menurut pemahaman saya, cadar memang bukan keharusan bagi wanita muslimah. Di dalam agama hanya disebutkan kewajiban menutup aurat bagi wanita. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Jadi, menggunakan jilbab atau kerudung yang menutup aurat saja sudah cukup. Tetapi, pemahaman agama setiap orang tidak selalu sama. Sebagian kalangan di dalam Islam memiliki keyakinan bahwa wajah wanita juga termasuk aurat yang harus ditutupi. Kalangan ini mengatakan memakai cadar termasuk keharusan.

Kita tidak memperdebatkan jika ada keyakinan orang Islam yang demikian. Silakan saja. Toh orang yang memakai cadar termasuk berbusana sopan,  jadi kenapa harus dilarang. UUD 1945 menjamin kebebasan setiap penduduk menjalankan agama dan keyakinannya, termasuk keyakinan bahwa menggunakan cadar termasuk kewajiban seorang muslimah. Istri saya sendiri hanya memakai jilbab biasa, tidak bercadar. Mahasiswi saya di kampus pun kebanyakan memakai jilbab yang bermacam-macam bentuknya, jarang sekali saya melihat mahasiswi memakai cadar, tetapi sejauh yang saya ketahui kampus ITB tidak pernah melarang cadar.

Kembali tentang topik saya di atas yang mengasosiasikan cadar dengan radikalisme. Melakukuan generalisasi ini berbahaya, karena menganggap semua wanita bercadar adalah radikal, ekstrimis, atau bahkan teroris. Jika ada orang yang berpendapat demikian, maka ia akan malu sendiri jika melihat foto di bawah ini. Ini foto yang bersumber dari sebuah akun Twitter Afwan Riyadi. Di dalam akunnya itu ia menulis sebagai berikut:

“Kapolri menjenguk polisi korban serangan teroris di Riau; AKBP Farid. Istri AKBP Farid mengenakan cadar. Maka, stop asosiasikan cadar dengan teroris. Justru mereka adalah korban dari teroris, jangan tambah lagi penderitaan mereka karena anggapan kita.”

AKBP Farid adalah salah satu korban luka pada aksi terorisme di Pekanbaru. Sebagaimana diketahui, pasca teror bom di Surabaya, dua hari sesudahnya juga terjadi aksi teror ke Mapolrestabes Pekanbaru. Terduga teroris menggunakan pedang dan menghantam mobilnya ke polisi. Seorang polisi meninggal dunia, dan beberapa orang luka-luka, salah satunya adalah AKBP Farid. Istri AKBP Farid adalah seorang pengguna cadar. Nah, di internal keluarga polisi sendiri ada yang memakai cadar, maka apakah mereka ini pantas dicap berpaham radikal atau teroris sedangkan suaminya sendiri seorang polisi yang tugasnya melawan teroris.

Contoh kasus di atas menunjukkan bahwa melakukan perampatan (meng-generalisasi) kepada suatu kelompok orang hanya karena ulah segelintir oknum di dalam kelompok tersebut sama sekali tidak tepat dan berbahaya. Berbahaya karena semua orang di dalam kelompok tersebut mendapat stigma negatif, yang dapat berlanjut kepada diskriminasi,  persekusi, pengusiran, bahkan ancaman pembunuhan, seperti cuitan di bawah ini.

princess

Kita semua sepakat melawan terorisme, tetapi marilah kita obyektif menilai. Tidak semua orang memakai cadar adalah teroris, tetapi teroris memakai cadar bisa jadi.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | 2 Komentar

Membajak Agama di Surabaya dan Racun Orangtua kepada Anak-anaknya

Memasuki awal bulan Ramadhan tahun ini terasa sumbing. Aksi terorisme yang sangat keji terjadi di Surabaya membuyarkan keceriaan menyambut Ramadhan. Lima aksi bom bunuh diri dalam dua hari menyasar orang-orang yang tidak bersalah. Tiga gereja menjadi sasaran kekejian teroris, lalu malam harinya bom meledak di sebuah rusun, dan keesokan paginya polisi di Polrestabes menjadi sasaran berikutnya. Puluhan jiwa tak bersalah menjadi korban terorisme.

Saya pribadi mengutuk aksi biadab itu. Melakukan aksi bunuh diri saja dilarang agama, apalagi membunuh orang lain yang tidak bersalah. Jika pelaku bom bunuh diri mengklaim bahwa aksinya termasuk jihad dan matinya adalah syahid, maka menurut saya hal itu salah besar. Indonesia tidak berada dalam kondisi perang, maka tidak ada musuh yang harus dimusnahkan. Mengapa pula sasarannya gereja dan jemaatnya. Apa kesalahan jemaat gereja itu sehingga mereka dibom?

Saya bisa memahami perasaan saudara-saudara sebangsa kita kaum kristiani. Mereka tentu trauma menjalankan ibadah, karena selalu diliputi rasa was-was. Aksi terorisme kemarin salah satu tujuiannya mungkin telah tercapai, yaitu membuat hubungan antar agama menjadi saling curiga atau bahkan saling membenci.

Sekali lagi aksi terorisme tersebut telah mencoreng wajah Islam yang damai karena pelaku terorisme di Surabaya kebetulan beragama Islam.  Sebagian kaum non-muslim yang selama ini memiliki persepsi negatif tentang agama Islam, karena  diidentikkan dengan aksi kekerasan di berbagai wilayah di muka bumi, semakin menambah persepsi buruk mereka tentang agama Islam. Memang tidak semua kaum non-muslim mempunyai persepsi demikian, karena sebagian mereka tetap beranggapan pelaku kekerasan tersebut hanyalah oknum yang berkedok agama dan tidak mewakili mayoritas penganut agama tersebut. Radikalisme ada pada penganut agama manapun.

Teroris telah membajak ajaran agama dengan melakukan penafsiran secara sempit.  Mereka bilang ini jihad, tetapi sesungguhnya perbuatan mereka adalah kejahatan yang mengerikan. Mereka bilang  ini mati syahid, tetapi sesungguhnya ini adalah mati konyol. Tidak ada ajaran Islam yang menyuruh membunuh orang yang tidak bersalah atau menghancurakn rumah ibadah agama lain. Nabi saja melarang membunuh anak, anak, wanita, dan manula, baik dalam situasi perang maupun bukan. Dalam masa pemerintahan Nabi di Madinah, keberadaan kaum Yahudi dan Nasrani dilindungi, termasuk rumah ibadah mereka.

Satu hal yang membuat miris dari aksi terorisme di Surabaya kemarin adalah pelakunya adalah tiga keluarga. Lima kali peristiwa bom di Surabaya melibatkan anak-anak dan istri  teroris. Saya bergidik mendengarnya. Sungguh, sampai saat ini saya antara percaya dan tidak percaya anak-anak tersebut melakukan aksi bom bunuh diri.  Saya melihat foto ibu dan keempat anaknya itu di akun fesbuk ibu mereka. Terlihat anak-anak itu masih dalam membutuhkan dunia bermain, sorot matanya mendambakan kasih sayang.  Anak-anak yang masih polos, lugu, dan mempunyai masa depan yang masih panjang diajak orangtuanya untuk melakukan bom bunuh diri. Membunuh orang lain yang tak berdosa dan membunuh darah dagingnya sendiri. Alangkah bejat dan biadabnya kelakuan teroris seperti itu, mencuci otak istri dan anaknya. Alangkah biadabnya si ayah, melilitkan bom ke pinggang anaknya, lalu menyuruh anaknya meledakkan diri di gereja. Oh…

Sampai sekarang saya masih syok kenapa ayah yang biadab ini mengajak anak-anak serta istrinya melakukan aksi bom bunuh diri.  Ajaran apa yang didoktrinasi kepada anak istrinya sehingga mereka tega melakukan aksi teror pembunuhan. Sungguh bejat ayah seperti itu, dan sungguh biadab orang yang mendoktrin mereka menjadi demikian (Baca: Peluk Tangis Anak-Anak Dita Maghrib Sebelum Aksi Bom). Saya tidak sanggup menuliskannya lagi.  Saya juga mempunyai anak-anak seusia mereka. Saya pulang dan saya cium anak-anak saya di rumah. Oh….

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | Meninggalkan komentar

Rahasia Sehat dan Umur Panjang PM Mahathir Muhammad

Pilihan Raya (Pemilu) Malaysia minggu lalu menarik perhatian publik di tanah air. Pasalnya Pilihan Raya tersebut menghantarkan Mahathir Muhammad terpilih kembali menjadi Perdana Menteri (PM) Malaysia, menumbangkan PM petahana Najib Razak yang telah berkuasa sejak tahun 2009. Mahathir dulu pernah menjadi PM beberapa periode,  cukup lama juga dari 1981 sampai 2009. Di bawah kepemimpinannya Malaysia tampil menjadi salah satu harimau Asia dengan pertumbuhan ekonominya yang mengagumkan. Setelah Mahathir turun dari PM, maka kepemimpinannya dilanjutkan oleh Najib Razak. Mahathir tampil kembali ke gelanggang politik untuk menumbangkan Najib Razak yang dulu adalah anak didiknya. Di Malaysia memang dimungkinkan kembali mantan PM mencalonkan diri kembali menjadi PM. Di Indonesia bukannya tidak boleh mantan presiden mencalonkan diri kembali menjadi presiden, UU tidak melarang, tetapi memang belum pernah ada kejadiannya.

mahathir

Mahathir Muhammad

Nah, yang menarik publik Indonesia bukanlah sekedar keberhasilan Mahathir Muhammad menjadi PM Malaysia kembali, tetapi faktor usianya. Mahathir saat ini berusia 92 tahun, usia yang sangat aki-aki kalau di Indonesia. Dengan uisia 92 tahun tersebut Mahathir menjadi pemimpin tertua di dunia. Meski usia sudah aki-aki, tetapi Mahathir Muhammad terlihat masih bugar dan sehat. Otaknya belum pikun, cara berbicaranya masih lantang.

Saya cukup kagum dengan umur panjang Mahathir. Dia bisa tampil prima sampai usia di atas kepala sembilan. Saya pernah diceritakan teman dari Malaysia, usia pensiun pegawai di Malaysia adalah 55 tahun, bandingkan kalau di Indonesia usia pensiun PNS adalah 58 tahun.  Pendeknya usia pensiun ini karena rata-rata usia hidup orang Malaysia sekarang mulai menurun, banyak orang Malaysia terkena penyakit diabetes dan stroke karena pola hidup yang kurang sehat, tuturnya.  Pak Mahathir mungkin adalah pengecualiannya.

Lalu, apa rahasia bugar Mahathir Muhammad? Dikutip dari berita ini: Jadi PM Malaysia Usia 92 Tahun, Ini Rahasia Bugar Mahathir, ternyata:

“Rahasianya? Tidak makan berlebihan,” kata Mahathir.

Kesehatannya, diimbangi pula dengan berat badan yang dijaga di Kisaran 62 kilogram (kg) sampai 64 kg selama tiga dekade terakhir.

Pria yang lahir pada Juli ini menegaskan, kunci kesehatannya yakni tidak merokok, tidak minum alkohol, serta tidak makan terlalu banyak. Ia makan secukupnya sesuai kebutuhan kalori.

“Ada kecenderungan bagi orang-orang di atas usia tertentu untuk menjadi gemuk. Mereka memiliki perut besar untuk memuaskan diri mereka, mereka minum dan makan berlebihan yang menempatkan beban pada hati mereka,” tuturnya.

Jadi, rahasia sehat Mahathir Muhammad hingga usianya sudah 92 tahun adalah makan tidak berlebihan, tidak merokok, tidak minum alkohol, dan selalu menjaga berat badan ideal. Selain itu saya membaca kalau Mahathir Muhammad rajin berjalan kaki setiap hari.

Nah, memang pola makan adalah nomor satu agar tetap sehat. Makan itu sebenarnya boleh apa saja, tetapi yang tidak boleh adalah berlebih-lebihan. Makan secukupnya saja, yang berlebih-lebihan itu menjadi penyakit.  Penyakit–penyakit modern seperti darah tinggi, stroke, sakit jantung, diabetes, gagal ginjanl, dan sebagainya, antara lain disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat atau makan yang terlalu banyak (berlebihan). Tubuh kita mempunyai kapasitasnya sendiri, jika ia diisi dengan makanan yang berlebihan, maka tubuh tidak mampu mengolah semuanya. Kelebihan nutrisi ditimbun menjadi lemak. Lemak yang menumpuk inilah yang menjadi sumber penyakit. Hal ini ditambah lagi dengan kebiasan orang modern yang kurang gerak. Klop deh menjadi penyakit di badan.

Rahasia sehat PM Mahathir Muhammad perlu kita contoh.

Dipublikasi di Dunia oh Dunia | Meninggalkan komentar

Penyesalan yang (Belum) Terlambat

Dulu pernah ada mahasiswa saya yang bercerita tentang penyesalan dia selama berkuliah. Dia menyesal kenapa dulu ia tidak kuliah dengan serius, malas, dan lebih banyak waktu terbuang untuk hal-hal yang tidak berguna.  Ketika sudah berada pada tahun keenam kuliah, tahun terakhir sebagai batas waktu studi di ITB, barulah dia menyesali diri sendiri jika ternyata dia sudah lalai selama ini. Dia merasa dirinya sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan teman-teman seangkatannya. Andai jarum waktu bisa kembali diputar mundur ke belakang, tetapi sayang hal itu tidak bisa.

Dulu ada senior saya yang menceritakan masa mudanya yang makan apa saja tanpa memikir kesehatan. Segala makanan yang enak dan berlemak tinggi dilibas. Ketika akhirnya dia terkena stroke, barulah dia menyesali kenapa dulu tidak memikir kesehatan apabila makan. Sampai akhir hayatnya saya masih terngiang-ngiang penyesalannya itu.

Sepasang suami istri pernah menyesal kenapa dulu terlalu sibuk bekerja siang sampai malam sehingga melupakan pendidikan agama anaknya. Ketika anaknya terlibat pergaulan bebas yang berakhir masuk penjara, barulah mereka menyesali kenapa dulu dia dilenakan oleh pekerjaan duniawi sehingga melupakan perhatian kepada anak-ananya.

Seorang artis menyesali dulu semasa masih terkenal hidup bergelimang maksiat. Minum minuman keras sudah biasa, mencoba narkoba pun sudah sering meskipun tidak tertangkap polisi. Kehidupan malam adalah dunianya. Berganti pasangan sudah lumrah. Hidupnya terasa hampa. Kebahagiaan duniawi yang dicapainya hanya semu semata. Ketika sudah mulai tua dan tidak laku lagi barulah dia menyadari dia begitu jauh dari Tuhan. Untung malaikat maut masih “berbaik” hati belum menjemputnya, dia pun tobat dan memperbaiki hidupnya.

Kita sering membaca atau mendengar orang-orang yang menyesali apa yang sudah dia lakukan pada masa lalu. Dulu tidak pernah berpikir mengapa tidak begini, mengapa tidak begitu. Masa muda disesali pada masa tua.

Namun, penyesalan terhadap masa lalu yang saya ceritakan di atas belum ada apa-apanya dibandingkan penyesalan orang yang sudah mati.  Penyesalan dikatakan belum terlambat selama umur masih dikandung badan, selama ajal belum datang.  Ketika maut sudah memisahkan nyawa dengan badan, maka semua penyesalan sudah tiada berguna. Janganlah kita seperti penghuni neraka yang meminta dikembalikan ke dunia dan berjanji untuk mengerjakan amal saleh. Semuanya sudah terlambat. Banyak ayat Al-Quran yang menceritakan penyesalan orang yang sudah mati dan sekarang berada di alam akhirat. Mereka menyesal kenapa dulu tidak rajin beribadah dan beramal shaleh. Diantara ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” (Surat Faathir :37)

Hingga apabila telah  datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan. (Al Mukminun: 99-100)

Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah…” (QS. Al Munafiqun: 10)

“Yaa Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (kedunia) niscaya kami akan mengerjakan amal shalih. Sungguh kami adalah orang orang yang yakin.” (QS. As Sajdah: 12)

Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) adzab datang kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zhalim, “Ya Rabb kami, kembalikanlah kami meskipun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan mengikuti rasul-rasul”. (QS. Ibrahim: 44)

Oleh karena itu, selama hayat masih dikandung badan, selama masih diberi kehidupan, hendaklah kita banyak melakukan amal saleh. Mendirikan sholat, memperbanyak sholat sunat, menyeringkan puasa sunat, memperbanyak sadaqah, mengeluarkan zakat, memberi makan orang miskin dan anak yatim, rajin ke masjid, memperbanyak membaca Quran, menjauhi perbuatan maksiat, dan lain-lain. Janganlah setelah kita mati kita menyesal telah lalai mengerjakannya. Itu sudah terlambat.

Tulisan ini untuk mengingatkan diri sendiri dan orang-orang yang membacanya. Amin.

Dipublikasi di Renunganku | Meninggalkan komentar

TKI vs TKA

Hari ini hari buruh. Persoalan tenaga kerja adalah persoalan yang tidak pernah selesai di negara kita. Hari buruh tahun ini diwarnai isu banjir Tenaga Kerja Asing (TKA) ke Indonesia. TKA, terutama dari Tiongkok, hampir setiap hari berdatangan ke daerah-daerah tertentu di tanah air. Ombudsman melaporkan salah satu temuannya bahwa penerbangan Jakarta – Kendari 70%-80% penumpangnya adalah TKA.  Banyak dari TKA itu yang bekerja sebagai buruh kasar hingga supir. Gaji mereka pun tiga kali lipat dari gaji tenaga kerja lokal.

Apakah kita perlu merasa khawatir dengan banjirnya TKA ke Indonesia? Jawabannya bergantung pada jenis TKA itu. Selama TKA yang kerja di Indonesia adalah TKA terdidik atau mempunyai kualifikasi pendidikan formal, maka tidak ada masalah, hal itu sebagai efek globalisasi. Sama seperti para alumni perguruan tinggi Indonesia yang bekerja di luar negeri, why not, boleh-boleh saja.

Nah, kalau TKA yang bekerja adalah pekerja di sektor informal (buruh kasar, tukang, supir dll) barulah hal itu menjadi masalah karena di sini stok tenaga kerja seperti itu melimpah, banyak yang mengganggur, dan sulit mencari pekerjaan.

Pemerintah, dan sebagian orang yang asal bunyi, selalu mebandingkan masalah TKA dengan jutaan TKI yang bekerja di luar negeri, misalnya di Hongkong, Taiwan, Arab Saudi, Malaysia, Singapura, dan lain-lain. Kenapa kita protes keberadaan TKA tetapi TKI kita bekerja di negara lain tidak ada yang protes. Menurut saya ini perbandingan yang tidak relevan. Kondisinya berbeda. Negara-negara tujuan TKI tersebut memang membutuhkan TKI  sektor informal seperti itu. Para TKI umumnya dari sektor informal seperti menjadi PRT, buruh perkebunan, supir, tukang, dll.  Penduduk negara tujuan TKI sudah makmur, mereka enggan bekerja untuk pekerjaan kasar, atau penduduknya sedikit. Mereka mengimpor tenaga kerja dari luar untuk pekerjaan informal seperti di atas.

Negara kita tidak membutuhkan TKA untuk pekerjaan kasar dengan alasan yang saya sebutkan di atas. Pemerintah perlu membenahi lagi berbagai penyimpangan masuknya TKA yang merebut pekerjaan yang dapat dilakukan oleh masyarakat kita sendiri. Jika tidak dibenahi, keberadaan TKA di sektor buruh kasar hal ini dapat menjadi bom waktu yang dapat meledak di kemudian hari.

Selamat Hari Buruh!

Dipublikasi di Indonesiaku | Meninggalkan komentar

#2019(Tidak)GantiPresiden

Tahun 2019 sudah dekat. Pada tahun 2019 nanti sejarah Pilpres 2014 akan kembali terulang. Bukan sejarah yang dikenang dengan baik, tetapi sejarah yang membuat bangsa ini terbelah dua akibat perbedaan dalam memilih Capres. Keterbelahan itu tidak langsung hilang setelah presiden baru telah dilantik, tetapi terus abadi hingga kini.

Kini, setahun sebelum Pemilu legislatif dan Pilpres tahun 2019 , suasana panas di jagad maya sudah mulai keluar aromanya. Jagad maya dipanaskan dengan kemunculan hastag #2019GantiPresiden. Gerakan ini  muncul sebagai antitesa gerakan pendukung Jokowi yang mempopulerkan slogan Salam 2 Periode dan sudah pasti menginginkan Jokowi menjadi presiden untuk periode kedua. Menurut Bawaslu, kedua gerakan tersebut legal dan tidak bertentangan dengan demokrasi, jadi tidak ada yang perlu dilarang atau ditangkap. Di lapangan, terjadi perang kaos antara kedua pendukung. Pihak yang paling diuntungkan dari perbedaan kedua kubu ini tentu saja pengusaha kaos 🙂

ganti

Perang kaos antara penolak dan pendukung Jokowi

Sejauh ini Capres yang sudah pasti maju lagi adalah petahana Jokowi. Jokowi seolah-olah tiada punya lawan sebanding. Prabowo yang digadang-gadang untuk maju lagi belum mendeklarasikan dirinya menjadi Capres. Akankah Prabowo akan maju lagi? Semuanya masih misteri.

Gerakan #2019GantiPresiden berasal dari kelompok masyarakat yang tidak menginginkan Jokowi kembali menjadi presiden.  Meskipun siapa calon presiden pengganti juga belum diketahui namanya, tetapi gerakan ini cukup masif di dunia maya. Dari berita dan tulisan yang saya baca di Internet, saya menyimpulkan  gerakan #2019GantiPresiden muncul karena beberapa faktor.

Faktor pertama adalah perasaan diperlakukan tidak adil. Pendukung hastag #2019GantiPresiden sebagian besar adalah dari kelompok Islam. Mereka menilai di era Presiden Jokowi luar biasa sekali pelecehan terhadap agama (Islam) dan kriminalisasi pada ulama. Para pengkritik Jokowi yang melakukan ujaran kebencian atau penyebaran hoax di media sosial begitu cepat diproses secara hukum oleh polisi, tetapi sebaliknya para pendukung Jokowi yang melakukan pelecehan agama dan melakukan ujaran kebencian kepada ulama seperti tidak tersentuh hukum, misalnya pelecehan agama yang dilakukan oleh Ade Armando, Abu Janda, dan terakhir Sukmawati lain-lain. Kasus-kasus pelecehan agama dan ujaran kebencian yang dilakukan oleh mereka proses hukumnya berjalan sangat lamban dan tidak ada kabar kelanjutannya. Polisi dinilai menjadi alat kekuasaan untuk menangkap orang-orang yang berseberangan dengan Pemerintah.

Faktor kedua adalah  tentang janji. Mereka menilai Jokowi ingkar dengan janji-janjinya semasa kampanye, misalnya berjanji tidak akan mengimpor pangan, berjanji tidak akan menaikkan harga BBM, berjanji tidak bagi-bagi kursi, berjanji membeli lagi Indosat dan lain-lain (baca: Rekapitulasi Janji-janji Jokowi).  Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.

Saya rasa itulah dua faktor utama yang saya tangkap dari orang-orang yang tidak menginginkan Jokowi menjadi presiden lagi. Faktor tambahan seperti  isu hutang Pemerintah sebesar 4000 T  mungkin untuk menambah kesan seram Pemerintahan Jokowi saja, dan saya pikir ini bukan kesalahan Jokowi semata tetapi juga warisan dari Pemerintahan sebelumnya.

Ada aksi tentu ada reaksi. Gerakan #2019GantiPresiden menimbulkan perlawanan dari kelompok pro Jokowi. Mereka juga membuat hastag seperti #2019TetapPresidenJokowi, #2019KamiPuasLanjutkan, dan lain-lain. Kelompok pro Jokowi menilai Jokowi adalah presiden yang merakyat. Jokowi dinilai berhasil membangun banyak infrastruktur di berbagai daerah di tanah air, karena itu Jokowi pantas menjabat presiden untuk periode kedua.

Menurut saya, kedua gerakan yang berlawanan ini akan memanaskan jagad maya dan mungkin saja situasi bangsa secara fisik setahun ke depan. Saya tidak tahu apakah tahun 2019 akan ganti presiden atau tidak ganti presiden. Yang bisa saya prediksi adalah bangsa ini akan terbelah dua lagi karena berbeda pilihan. Sejarah mengulang dirinya sendiri.

Dipublikasi di Indonesiaku | 3 Komentar

Mengapa Nasi Goreng Tek-tek Lebih Enak daripada Nasi Goreng di Hotel?

Beberapa tahun yang lalu Rhenald Kasali pernah menulis mengapa tidak ada nasi goreng yang enak di hotel.  Baca tulisannya ini:  Mengapa Tak Ada Nasi Goreng Enak di Hotel?. Ya, Anda yang pernah menginap di hotel berbintang pasti sependapat dengan Rhenald Kasali. Nasi goreng di hotel rasanya hambar dan penampilannya tidak menggugah selera.

Nasi goreng pedagang jalanan jauh lebih enak daripada nasi goreng di hotel. Salah satu jenis pedagang nasi goreng jalanan adalah pedagang mie tek-tek. Disebut pedagang mie tek-tek karena mereka menjajakan makanan dengan gerobak atau pikulan dengan menyusuri jalan pemukiman. Sambil berjalan mereka memukul wajan tempat memasak sehingga berbunyi tek…tek…tek. Meskipun berjulukan pedagang mie tek-tek, namun menu utama mereka adalah nasi goreng, bihun goreng, dan mie goreng tentunya.

Kehadirannya selalu dirindukan ditengah malam saat perut lapar. Daripada keluar rumah mencari makanan, maka tunggu saja pedagang mie tek-tek lewat di depan rumah. Nasi goreng adalah menu masakan yang paling favorit bagi kebanyakan orang Indonesia. Membuatnya mudah, namun perbedaan rasa nasi goreng terletak pada bumbu yang digunakan.

Malam itu selepas hujan, lewatlah peagang mie tek-tek  di depan rumah saya. Kebetulan saya belum makan malam, nasi di rumah sudah habis dan laukpun tidak ada. Daripada memasak lagi atau keluar rumah, maka saya tunggulah pedagang mie tek-tek lewat. Benar saja, jam 9 malam sudah terdengar bunyi tek-tek yang khas. Saya memesan satu porsi nasi goreng agak pedas.

Pedagang tek-tek memasak nasi goreng dengan menggunakan anglo. Anglo adalah kompor dengan bahan bakarnya adalah arang. Nah, salah satu faktor yang membuat rasa nasi goreng tek-tek enak adalah karena dimasak dengan arang. Bau asap arang memberikan sensasi rasa yang khas pada masakan.

Saya perhatikan cara memasaknya, Mula-mula dituangnya dua sendok minyak goreng. Setelah panas, dimasukkan bawang daun, lalu telur ayam, dan diaduk sebentar. Kemudian dimasukkan bumbu ulek ke dalam wajan, lalu diaduk bersama telur tadi. Setelah itu dimasukkan sayuran soun, terakhir dimasukkan nasi dan terus diaduk. Selanjutnya dimasukkan setengah sendok teh garam, sedikit bumbu penyedap, sambal cabe rawit, dan kecap. Semuanya diaduk di atas anglo dengan api yang besar. Sebuah kipas yang ditekan dengan telapak kaki berfungsi memberi aliran udara kepada anglo sehingga apinya tetap besar. Tidak lama nasi gorengpun matang dan dipindahkan ke dalam piring. Di atas nasi goreng ditaburi acar ketimun, potongan tomat, dan kerupuk. Nasi goreng itu sungguh nikmat rasanya bila langsung dimakan saat itu juga dalam keadaan hangat, rasanya nendang, enak banget.

Lalu, apa yang membuat nasi goreng tek-tek ini lebih enak daripada nasi goreng di hotel? Jawabanya beraneka ragam. Salah satunya adalah karena pedagang nasi goreng lebih berani menggunakan bumbu, dan  lebih berani menggunakan cabai dan penyedap rasa (MSG). Bandingkan dengan chef di hotel. Nasi goreng di hotel tidak berani pakai bumbu yang kaya, bumbunya minimalis saja, hanya bawang putih dan merica. Pelezat rasa pun biasanya  kaldu, garam dan gula. MSG tampaknya terlarang digunakan di dapur hotel. Garam pun hanya ditaburi sedikit karena mempertimbangkan tamu hotel yang diet garam. Tidak ada penambahan cabe rawit di dalam bumbu nasi goreng karena khawatir dikomplain tamu hotel jika nasi gorengnya kepedasan. Kalau mau agak asin atau agak pedas, tambahkan sendiri garam atau merica yang disediakan di atas meja. Karena memasak nasi goreng di hotel mempertimbangkan banyak faktor, maka nasi goreng di hotel dibuat lebih umum (kurangi garam, tidak terlalu pedas, dan tidak terlalu berbumbu) sehingga tidak heran rasa nasi gorengnya pun kurang enak.

Pedagang nasi goreng tek-tek lebih berani bereksperimen dibandingkan chef di hotel. Rasa nasi gorengnya yang enak dominan karena faktor bumbu, cabe, dan tentu saja MSG. Saya tanya kepada pedagang tek-tek bumbunya terbuat dari bawang merah, bawang putih, cabe, ebi atau terasi, dan mungkin saja ditambah dengan penyedap rasa (wallahualam). MSG dalam porsi yang sangat sedikit dan hanya sekali-sekali saja dikonsumsi tidaklah berbahaya. Toh tidak setiap hari orang makan nasi goreng tek-tek, bukan?

Seorang teman mengatakan, selain faktor bumbu yang lebih berani, faktor lain yang membuat nasi goreng tek-tek lebih enak adalah adalah “jam terbang”  pedagang tek-tek yang jauh bedanya dengan jam terbang koki di hotel. Bagi kebanyakan penjual nasi goreng jalanan, dengan satu menu andalan, mereka sudah membuat jauh lebih banyak nasi goreng ketimbang koki hotel yang menguasai lebih banyak menu.  Dia teringat tulisan Malcolm Gladwell mengenai jam terbang minimal untuk bisa memiliki keahlian di satu bidang.

Dipublikasi di Gado-gado, Romantika kehidupan | 4 Komentar