ATM Beras dari Masjid Salman ITB

Ada yang baru di Masjid Salman ITB, yaitu keberadaan sebuah mesin ATM beras di pojok kantor masjid (depan kantor satpam). Biasanya mesin ATM mengeluarkan uang, tapi mesin ATM yang satu ini dapat mengeluarkan beras! Dengan menempelkan kartu elektronik RFID (Radio Frequency Identification) di bagian card reader, maka mesin ATM akan mengeluarkan beras dalam jumlah tertentu secara otomatis. Sewaktu makan di kantin Salman kemarin saya melihat mesin ATM beras ini, gambar di bawah ini wujudnya, mirip seperti ATM biasa, namun isinya beras.

atmberas1

Tidak semua orang dapat mengambil beras dari ATM beras (disingkat ATMB), tetapi beras yang ada di dalamnya hanya untuk kaum dhuafa saja, dan tentu saja dibagikan secara gratis. Jadi ATM ini bersifat sosial, karena tujuannya untuk membantu kaum fakir miskin yang karena kemiskinannya tidak mampu membeli beras. Kaum dhuafa (fakir dan miskin) yang berhak diseleksi terlebih dahulu lalu dibagikan kartu elektronik yang mirip seperti kartu ATM biasa.

atmberas2

Pencipta ATMB ini adalah alumni Salman bernama Budiaji.Budiaji sendiri adalah alumni Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1980.  Dikutip dalam laman http://kabar.salmanitb.com, Budiaji mengatakan:

ATMB ini bisa ditempatkan di masjid-masjid, kantor kelurahan, kantor-kantor BUMN, sekolah,  kampus atau di lokasi kantong-kantong kemiskinan lainnya.  Bahkan bisa jadi di area rumah orang kaya untuk menyantuni fakir miskin di sekelilingnya. “Bisa juga temporary ditempatkan di area bencana. Sumber berasnya bisa dari pemerintah (raskin), CSR (Corporate Social Responsibility), zakat, atau masyarakat yang peduli lainnya,” tutur alumni Asrama Masjid Salman ITB ini,

Secara fisik, perangkat ini berukuran 60 cm x 60 cm x 160 cm, berbentuk kotak/lemari, mirip mesin ATM biasa berkapasitas sekitar seperempat ton beras. Mesin ini juga dilengkapi dengan perangkat elektroniknya, modem hybrid untuk network GSM/satelit untuk daerah terpencil, serta sistem kontrol dan pemantauan berbasis  M2M (machine to machine) / IoT (Internet of Things).

Budiaji pun memaparkan, sistem pengelolaan dan pengawasan dibuat secara transparan sehingga masyarakat luas bisa mengakses via internet tentang data orang miskin yang disantuni, jumlah beras yang dibagikan, dan rincian pendistribusiannya. Selain itu, sistem juga akan memantau status level beras yg tersedia di tiap-tiap ATMB.

“Ditargetkan ke depan bahwa tidak boleh ada lagi rakyat yang lapar di negeri ini yang terpaksa mengemis di mana-mana. Lebih jauh lagi dari itu, ATMB ini bisa dikembangkan dan diproduksi lebih luas untuk penjualan beras secara otomatis melalui transaksi kartu elektronis,” katanya. Budiaji berharap, umat Muslim bisa lebih mengembangkan nilai-nilai kesalehan sosial melalui ATMB.

Hingga saat ini kaum dhuafa yang berhak mendapatkan beras dari ATMBN bejumlah 49 orang. Dikutip dari laman Antara,

Mekanisme penarikan beras dari mesin tersebut diatur berdasarkan jenis kartu yang dimiliki warga yakni bagi warga yang memiliki kartu kategori A bisa mengambil beras pada hari Selasa dan Jumat, bagi warga pemilik kartu kategori B mengambil beras pada hari Rabu dan Sabtu dan warga pemilik kartu kategori C bisa mengambil beras pada hari Kamis dan Minggu. Satu kali transaksi warga bisa menarik beras dari ATM Beras ini sebanyak 1,65 kg atau sekitar dua lite.

Semoga keberadaan ATMB dapat diproduksi secara massal dan dapat dijadikan ladang amal sholeh untuk berbagi kepada kaum yang membutuhkan. Saya mengapresiasi Mas Budiaji yang telah menemukan ATMB dan kepada Masjid Salman ITB yang mempelopori pemanfaatan ATMB untuk membantu mengentaskan kebutuhan pokok kaum dhuafa. Jazakallah.

Dipublikasi di Agama, Seputar ITB | 1 Komentar

Inspirasi dari Santri Ciamis

Aksi damai tanggal 2 Desember 2016 yang lalu (selanjutnya disebut aksi 212) di kawasan Monas Jakarta menyisakan cerita yang sangah menggugah. Seperti yang kita baca di media, aksi ini terkait dengan kasus hukum yang dilakukan oleh Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, berupa tuduhan penistaan kitab suci. Lautan manusia memadati kawasan Monas hingga ke kawasan sekitarnya sampai ke Bundaran HI untuk mengikuti doa dan istighasah hingga sholat Jumat bersama. Saya memprediksi jumlah jamaah yang mengikuti aksi ini jutaan orang, persisnya berapa saya kurang tahu. Wallahu alam. Foto epic di bawah ini dapat menggambarkan betapa dahsyatnya jumlah peserta aksi. Itu baru di kawasan Monas, belum lagi ratusan ribu lainnya yang memadati jalan-jalan sekitarnya hingga ke Bundaran HI.

belaislam3

Belum pernah terjadi di negeri ini jutaan orang berkumpul di suatu tempat pada waktu yang sama. Semuanya datang tanpa disuruh, tanpa dipaksa, datang dengan kesadaran sendiri karena merasa terpanggil untuk membela al-Quran.

Jumlah jamaah yang datang berlipat dua dibanding aksi sebelumnya pada tanggal 4 November 2016. Mengapa jamaah yang datang luar biasa sekali banyaknya? Padahal semula diprediksi jumlah jamaah yang datang tidak akan sebanyak itu, mungkin lebih sedikit dibandingkan aksi tanggal 4 November. Beberapa tokoh agama maupun ormas keagamaan bahkan menyarankan tidak perlu lagi melakukan aksi damai tersebut. Namun peristiwa menjelang tanggal 2 Desember 2016 telah menggerakkan rasa emosional dan sentimen keagamaan seseorang untuk datang ke Monas. Peristiwa apakah itu? Itulah aksi longmarch para kyai dan ratusan santri dari Ciamis yang menggerakkan orang untuk datang ke Monas.

Beberapa hari sebelum tanggal  2 Desember 2016, kepolisian melarang semua PO Bus untuk membawa massa aksi damai 212 datang ke Jakarta. Jika dilanggar, maka izin trayeknya dicabut. Karena takut, maka banyak PO Bus yang tidak bersedia membawa peserta aksi damai ke Jakarta. Namun, tiadanya bus yang membawa ke Jakarta tidak menyurutkan kaum santri dari Kabupaten Ciamis Jawa Barat untuk datang. Jika tidak bisa datang dengan kendaraan, maka berjalan kaki adalah pilihan terakhir yang dipilih. Jarak 300 km dari Ciamis ke Jakarta akan ditempuh dengan berjalan kaki. Maka, mulailah ribuan santri dengan dipimpin oleh para kyainya berjalan kaki dari masjid Agung Ciamis. Koran Pikiran Rakyat Bandung (dan beberapa media daring lainnya) memberitakan aksi heroik ini sehingga menyebar secara cepat di dunia maya.

ciamis

Tidak banyak media arus utama yang memberitakan longmarch Camis ini, tapi kekuatan media sosial tidak dapat dibendung untuk memberitakan apa adanya tanpa diplintir atau dibelokkan. Dan apa yang terjadi? Sepanjang jalan yang dilewati dari Ciamis hingga ke daerah-daerah lainnya di Jawa Barat ribuan warga menyambut mereka. Warga berbaris sepanjang jalan menyediakan makanan, minuman, sandal, sepatu, dan kebutuhan lain untuk para santri yang mereka sebut mujahid itu. Makanan dan minuman begitu melimpah di sepanjang jalan. Warga berlomba-lomba menyodorkannya kepada para santri itu sehingga mereka pun kewalahan untuk menerimanya. Sambutan  warga itu…Masya Allah…. begitu tulus dan ikhlas. Banyak warga yang menangis sepanjang jalan yang dilewati para santri. Orang-orang yang datang menyaksikan tidak mampu menyeka air matanya. Air mata mengalir tak terbendung  melihat perjuangan para santri yang tidak pantang menyerah datang ke Jakarta dengan berjalan kaki. Foto-foto di bawah ini mungkin dapat bercerita lebih banyak dibanding ribuan kata. Lihatlah ibu tua yang menyeka air matanya karena tidak mampu menahan haru.

ciamis2

ciamis4

Deny Suwardja, seorang warga Garut, menuliskan kesaksiannya yang sangat mengharukan di akun Facebook-nya ketika para santri itu sampai di Malangbong, Garut, seperti ditulis di dalam situs Hidayatullah pada tulisan ini: Sebuah Kesaksian: Gerimis Air Mata di Malangbong. Ah, andaikan saya hadir di sana, mungkin mata saya pun akan meleleh melihat dan merasakannya. Semangat ukhuwah islamiyah begitu sangat terasa. Belum pernah saya menyaksikan persaudaraan Islam begitu kuat dan syahdunya selama hidup ini.

Foto-foto di atas, dan foto-foto lainnya, menyebar dengan cepat bagaikan viral di dunia maya. Sebagian orang yang tidak suka kemudian mencibir dan meremehkan aksi longmarch itu. Namun hal yang tidak diprediksi adalah kekuatan media sosial mampu membalikkan logika. Foto  dan berita longmarch santri Ciamis yang beredar di media sosial telah  menggetarkan dan menggugah emosi banyak orang sehingga memicu rasa kebergamaan paling dalam. Orang-orang yang semula tidak berniat hadir ke Monas akhirnya tergugah hatinya dan memutuskan untuk datang ke aksi damai. Longmarch santri Ciamis telah menyebabkan efek domino sehingga menggerakkan massa lainnya datang berjalan kaki. Orang-orang yang biasa-biasa saja dalam beragama dan terbiasa sangat logis berpikir tiba-tiba mengambil keputusan untuk datang ke Monas setelah membaca perjuangan kaum santri Ciamis itu.

Jadi, bolehlah saya menduga-duga, apa yang menyebabkan jutaan orang datang ke Monas tanggal 2 Desember kemarin? Salah satu sebabnya adalah karena tergerak hatinya oleh para santri dan kyai yang longmarch dari Ciamis itu. Ya, kaum santri pejalan kaki dari Ciamis telah memberi inspirasi kepada banyak orang sehingga akhirnya anda melihat foto epic pada gambar pertama di atas.

Sebuah foto pada aksi damai 212 menggambarkan shaf terdepan pada sholat Jumat di Monas dibiarkan kosong karena dipersiapkan untuk santri Ciamis yang datang sebelum sholat Jumat dimulai. Foto diambil dari akun Numpy Aja.

ciamis5

Dan, tahukah anda? Aksi warga Jawa Barat sepanjang jalur Ciamis hingga Jakarta yang  menyediakan kebutuhan logistik (makanan, minuman, dll) kepada para peserta longmarch mungkin ikut menginspirasi banyak orang di Jakarta pada hari H, yaitu pada tanggal 2 Desember 2016. Orang-orang menjadi sangat dermawan dan rela berkorban apa saja. Niatnya satu, karena Allah. Mulai dari malam Jumat hingga siang tidak henti-hentinya orang-orang menawarkan makanan, minuman, sandal, sajadah, colokan listrik untuk cas batere HP, dll kepada peserta aksi damai. Makanan dan minuman datang berlimpah, sampai-sampai peserta aksi damai sudah kehabisan cara untuk menolak makanan yang ditawarkan karena sudah kenyang. Yang mengharukan, sampai-sampai ada pedagang roti yang menggratiskan dagangannya, dan masya Allah, Tuhan menggantinya dengan rezeki yang tak terduga.

Terima kasih kepada santri Ciamis, langkahmu telah tercatat dalam sejarah ukhuwah dahsyat yang tidak akan terlupakan. Alangkah indahnya

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | Meninggalkan komentar

Merasakan Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta yang Baru

Akhirnya kita punya juga bandara yang megah yang bisa dibanggakan, tidak kalah dengan bandara megah di luar negeri. Ya, bandara merupakan etelase sebuah negara. Orang asing yang datang ke suatu negara lewat bandara maka yang dilihatnya pertama kali adalah bandara. Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta yang baru saja diresmikan beberapa bulan yang lalu sudah beroperasi melayani penerbangan dengan Garuda. Baru Garuda lho, itupun untuk rute domestik, sementara untuk penerbangan internasional masih di Terminal 2E yang lama.  Ke depan nanti Terminal 3 Ultimate ini akan melayani penerbangan internasional jika sudah selesai 100%.

Minggu lalu saya pertama kali mencoba merasakan  Terminal 3 Ultimate ini untuk terbang ke Semarang. Turun dari bus Primajasa dari Bandung kaki saya langsung menginjak lantai terminal keberangkatan. Wow, keren, terasa megah sekali. Maklum masih baru, he..he. Sebagai seorang yang suka mengamati bandara di mana-mana, saya merasa penasaran untuk mencicipi bandara yang baru ini.

terminal-1

Terminal keberangkatan berada di lantai 2. Dari sini saya bisa melihat pemandangan ke bawah, ke arah terminal kedatangan. Pemandangannya membuat decak kagum, keren sekali.

terminal-2

terminal-3

OK, selanjutnya saya masuk ke dalam untuk chek-in. Ruangan di dalamnya sangat lapang, terang, bergaya lux dan modern. Benar-benar menunjukkan bandara kelas satu, tidak kalah dengan bandara Svarnabhumi di Bangkok nih, kata saya dalam hati (saya pernah ke bandara Svarnabhumi ini).

terminal-4

Toilet ada di mana-mana dengan petugas cleaning service yang selalu stand-by. Jadi, tidak usah khawatir jika kebelet dan antri seperti di Terminal 1 dan 2.

terminal-8

Tersedia kursi-kursi buat duduk jika anda lelah berdiri sebelum masuk ke ruang tunggu. Karpet hijau yang elegan membuat suasana di dalamnya teduh.

terminal-5

Supaya tidak bete, di beberapa tempat dipajang  berbagai lukisan dan foto-foto dokumentasi negara. Kita merasa berada di dalam sebuah galeri saja. Konsep bandara dengan pajangan karya seni sudah lama diterapkan di bandara Ngurah Rai. Di Bandara Husein Sastranegara Bandung  yang baru juga ada lukisan tapi jumlahnya sedikit, maklum bandaranya relatif kecil. Bandara saat ini memang tidak hanya sekedar tempat mampir, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern dengan memasukkan aneka fasilitas yang memanjakan pengunjung.

 

terminal-7

Selanjutnya saya berjalan menuju ruangan tunggu. Kalau tidak salah gate (pintu keberangkatan) di ruang tunggu ini mencapai 17 buah. Jumlah ini menunjukkan Terminal 3 Ultimate panjang sekali, capek juga kaki berjalan dari ujung ke ujung.

 

Di ruang tunggu keberangkatan ini berjejer restoran, toko-toko, dan lounge yang semuanya dikelola oleh perusahaan Saphire. Harga makanan di restoran lumayan mahal, tapi dimaklumi saja karena pasti sewa tempatnya juga sangat mahal. Lounge-nya menggunakan konsep terbuka, jadi siapa saja yang lewat bisa melihat orang di dalam lounge mengambil makanan, makan, duduk-duduk. Hmmm…kurang privasi sekali nih.

Pulang dari Semarang saya naik Garuda lagi ke Jakarta dan turun di Terminal 3 Ultimate lagi. Kali ini saya harus berjalan kaki lumayan jauh dari pintu kedatangan ke tempat pengambilan bagasi. Bisa gempor nih kaki berjalan sejauh ratusan meter, maklum Terminal 3 ini panjang sekali. Kebayang kalau yang berjalan itu para manula atau orangtua yang tidak kuat berjalan jauh. Tidak tersedia kursi roda bagi mereka yang tidak kuat jalan.Kalau mau ya naik ban berjalan di beberapa bagian lantai.

terminal-10

terminal-12

Begitulah pengalaman saya merasakan Terminal 3 Ultimate yang bau ini. Kesannya memang megah, tapi seperti ada sesuatu yang kurang. Apa ya? Saya merasakan Terminal 3 ini seperti tidak punya “ruh” atau tidak memiliki karakter yang kuat seperti Terminal 1 dan 2. Ah, mungkin saya terlalu berlebihan menilai ya.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | Meninggalkan komentar

Sekarang Setiap Orang adalah Guruku

Pada Hari Guru yang jatuh tanggal 25 November, saya menampilkan quote dari Jet Li, seorang aktor laga Mandarin yang terkenal.

jet-li

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

Ketika saya berusia:
SEPULUH tahun, saya takut pada guru saya
DUA PULUH tahun, saya mulai memahami guru adalah orang biasa seperti orang lain
TIGA PULUH tahun, saya mulai berpikir pentingnya kehadiran seorang guru
EMPAT PULUH tahun, saya menghargai setiap guru yang saya jumpai
Sekarang saya berusia LIMA PULUH tahun, setiap orang adalah guruku

Dan…untuk saya sendiri, sekarang semua orang adalah guru saya, guru dalam kehidupan yang tidak pernah diam. Karena, sekarang  I’m fifty seperti Jet Li.

Dipublikasi di Pendidikan | Meninggalkan komentar

Ingatlah Umurmu

Sewaktu melewati sebuah jalan di kawasan Kiaracondong, mata saya tertumbuk pada sebuah spanduk yang terpampang di tembok sebuah kantor biro perjalanan umrah dan haji. Isinya sebuah hadis Nabi, makjleb sekali maknanya.

spanduk

Spanduk tersebut mengingatkan kita akan usia yang selalu bertambah setiap tahun, tanpa  terasa ternyata sudah melewati usia Nabi. Nabi Muhammad SAW umurnya hanya 63 tahun. Banyak orang-orangtua berkata, ketika umur mereka sudah melewati 63  tahun, mereka sering menghibur diri dengan mengatakan  bahwa mereka mendapat bonus umur dari Tuhan, sambil membandingkan umur mereka dengan umur Rasulullah Muhammad SAW. Bagi orang Islam yang taat, semua hal dari Nabi adalah teladan, termasuk soal usia. Shalawat dan salam semoga selalu  tercurah bagimu ya Rasulullah shalallahu wa alaihi wassalam.

Memang panggilan Malaikat Izrail tidak tergantung pada usia manusia. Kematian bisa datang kapan saja, baik kala berusia muda maupun sudah berusia senja. Hari ini seseorang terlihat ceria, besoknya tiba-tiba kita mendengar hanya tinggal namanya saja. Mungkin dia meninggal karena kecelakaan, mungkin karena serangan jantung, mungkin karena nasib apes dibunuh begal di tengah jalan. Wallahu alam, hanya Allah yang tahu kapan panggilan itu datang.

Sesuatu yang sudah menjadi hukum alam adalah manusia itu fana. Usia tua artinya sudah mendekati kematian. Alam ini selalu setia menjalani siklus hidup. Mulai  dari bayi, tumbuh menjadi anak-anak, lalu remaja, kemudian dewasa, lalu menjaid tua, dan akhirnya mati. Maka, hadis Riwayat At-Tarmidzi pada spanduk di atas adalah pengingat agar manusia selalu bersiap-siap.

Bukan berarti ketika masih muda maka manusia bisa berbuat apa saja, mumpung masih muda maka nikmatilah dunia, karena hidup hanya sekali. Begitu yang sering kita dengar. Namun bukan begitu maksudnya. Seperti yang saya tuliska di atas, kematian bisa datang kapan saja. Maka, yang perlu anda renungkan adalah: suidahkah kamu menyiapkan bekal untuk kampung akhirat kelak? Bekal itu adalah amal sholeh selama di dunia.

Dipublikasi di Renunganku | Meninggalkan komentar

Menemukan Mushola di RS Santo Borromeus Bandung

Menemukan ruang tempat sholat (mushola) di tempat-tempat umum (bandara, stasiun, terminal, mal, dan sebagainya) sudah merupakan hal yang biasa. Tetapi, menemukan mushola di sebuah rumah sakit Katolik adalah pengalaman yang luar biasa. Apalagi mushola itu berdampingan dengan kapel (gereja kecil) dan lambang-lambang salib yang bertebaran di dinding rumah sakit.

Pengalaman ini saya peroleh ketika membawa istri berobat ke dokter yang praktek di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung yang terletak di Jalan Dago. Rumah sakit ini sangat dekat dengan kampus ITB, tempat kerja saya. Sambil menunggu hasil pemeriksaan radiologi, saya melihat ke jam tangan waktu sholat Ashar sudah masuk. Saya belum melaksanakan sholat Ashar. Masjid terdekat dengan rumah sakit Santo Borromeus adalah Masjid Salman ITB yang berjarak sekitar 50 meter. Dulu ketika kita berada di rumah sakit ini dan ingin melaksanakan kewajiban sholat, maka petugas Satpam rumah sakit memberi saran ke Masjid Salman. Tetapi sekarang tidak perlu berjalan ke luar rumah sakit, ternyata di dalam RS Borromeus sendiri tersedia mushola yang cukup representatif.

Agak kurang yakin juga saya apakah memang ada mushola di rumah sakit ini, mengingat ini rumah sakit Katolik. Namun saya beranikan diri bertanya kepada Satpam di sana di mana letak mushola. Dia memberi petunjuk mushola terletak di gedung Irene dekat tangga. Ternyata benar, ada sebuah mushola yang cukup nyaman di dekat tangga Gedung Irene.  Musholanya ada dua buah, satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. Tersedia juga tempat wudhu untuk masing-masing mushola. Di dalam mushola terhampar karpet sajadah yang selalu bersih dalam tiga shaf. Di mushola wanita tersedia mukena. Ada beberapa kitab Al-Quran di dalamnya buat mengaji. Mushola itu diberi nama Ruang Doa/Mushola seperti diperlihatkan pada foto-foto di bawah ini. Mushola selalu penuh pada jam waktu sholat, pengunjung harus antri.

borrommeus2

borromeus1

borromeus3

Alhamdulillah, ternyata memang benar ada mushola di Rumah Sakit Santo Boromeus. Biarpun tidak terlalu besar, tetapi ada dan representatif. Tidak jauh dari situ ada kapel (gereja kecil) bernama kapel Hati Kudus Yesus sebagai tempat berdoa dan beribadah bagi suster, dokter, dan pegawai rumah sakit yang beragama Katolik. Hmmm…sebuah bentuk kerukunan yang patut diapresiasi. Meskipun rumah sakit ini bernuansa Katolik, tetapi meraka menyediakan tempat ibadah bagi kaum muslim. Keberadaan mushola ini sangat wajar karena memang sangat dibutuhkan. Mayoritas pengunjung rumah sakit Santo Borromeus (pasien, keluarga pasien, pengunjung pasien, dan orang yang datang berobat) adalah kaum muslim, begitu juga pegawai rumah sakit ini banyak juga beragama Islam. Tentu mereka memerlukan tempat sholat untuk melaksanakan kewajiban agamanya.

Saya memberi apresiasi yang tinggi kepada pengelola Rumah Sakit Santo Borromeus atas ketersediaan mushola ini. Terima kasih, semoga kerukunan antar umat beragama tetap terpelihara dengan baik.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 6 Komentar

Pengalaman Terbang dengan “Malaysia Airlines” – MH

Ketika terbang ke Yangon, Myanmar, dari Jakarta awal Oktober yang lalu, saya menggunakan pesawat Malaysia Airlines (MH) yang transit di Kuala Lumpur. Ini pertama kali saya naik maskapai negeri jiran tersebut. Semula saya agak ragu naik MH, karena musibah yang dialami pesawat MH sudah dua kali terjadi dalam waktu berdekatan. Tapi, keraguan tersebut saya tepis, toh musibah bisa menimpa pesawat apa saja, kendaraan apa saja, baik di darat, laut, maupun udara. Kalau sudah berada di atas pesawat, maka saya hanya bisa memasrahkan diri saja kepada Allah saja. Hidup mati hanya Allah yang tahu.

malaysia2

Pesawat MH ketika memasuki wilayah Kuala Lumpur

Jujur saja, mendengar nama Malaysia Airlines maka yang teringat adalah tragedi hilangnya pesawat MH370 dalam penerbangan dari Kualulumpur ke Beijing tanggal 8-3-2014. Hingga saat ini keberadaan pesawat tersebut masih misteri. Ada teori yang mengatakan MH370 terjun ke Samudera Hindia, ada pula yang mengatakan terkena rudal, atau malah diculik Alien. Entahlah. Wallahu alam. Musibah yang menimpa MH370 tersebut sangat menggemparkan dunia dan menjadi musibah yang masih misteri hingga sekarang. Belum hilang ingatan dengan musibah MH370, lagi-lagi Malaysia Airlines mendapat musibah empat bulan kemudian. Pesawat MH17 mengalami kecelakan akibat terkena tembakan peluru kendali Rusia di wilayah Ukraina pada pada 17 Juli 2014. Pesawat tersebut tengah dalam perjalanan dari Amsterdam, Belanda, menuju Kuala Lumpur, Malaysia.

Kedua musibah tersebut cukup menggoncang maskapai MH sehingga membuat calon penumpang merasa trauma. MH pernah sepi penumpang pasca tragedi. Kerugian besar jelas  diderita oleh MH. Namun, dengan berjalannya waktu, orang mulai melupakan peristiwa tersebut. Lambat laun jumlah penumpangnya mulai naik lagi.

Saya pun memilih MH ketika pergi ke Yangon. Alasannya karena harga tiket pesawat MH yang ditawarkan (via Traveloka) mendapat diskon 30% jika kita pergi PP dengan pesawat ini. Karena penerbangan MH full service, maka saya putuskan pakai MH saja.

malaysia3

Pesawat MH di bandara KLIA

Bagaimana kesan naik pesawat Malaysia Airlines? Kalau soal kenyamanan di dalam pesawat ya sama saja dengan pesawat ke luar negeri lainnya, pesawatnya baru dan modern. Tersedia hiburan di dalam pesawat dengan film-film yang bervariasi. Namun, jika dinilai dari sisi keramahan, maka  pramugari dan pramugara Malaysia Airlines masih kalah ramah dengan pramugari Garuda Indonesia. Mereka jarang sekali memberi senyuman. Sepele memang, tapi keramahan dan senyuman dapat membuat penumpang merasa nyaman dan senang. Pengalaman saya ketika dilayani pramugari MH dari etnik Tamil/India mendapat kesan mereka kaku, tidak tersenyum, dan sedikit bicara.

Bagaimana dengan kualitas makanan? Hi..hi.., lihat saja foto di bawah ini. Cara penyajiannya simpel, hanya ada tiga jenis: nasi ikan, air mineral berukuran kecil, dan sebungkus kacang asin. Itu saja. Rasa makanannya? Kurang memancing selera dan kurang rasa. Tapi karena lapar ya dimakan saja.

malaysia1

Begitulah pengalaman pertama saya naik pesawat Malaysia Airlines. Mungkin jika pilihan lain tidak lebih baik, dan harga tiket MH masih mendapat diskon cukup besar, saya akan naik pesawat ini lagi untuk terbang ke wilayah regional ASEAN. Mudah-mudahan pihak Malaysia Airlines membaca tulisan saya ini dan meningkatkan pelayanan kepada penumpangnya.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | Meninggalkan komentar