Koran Bekas “Penglarisan” si Mamang

Mamang-mamang pembeli barang rongsokan setiap hari selalu lewat di depan rumah saya  sambil menanyakan apakah mau jual koran bekas. Mamang-mamang itu sepertinya tahu saja kalau saya masih berlangganan koran, padahal dalam era digital sekarang orang lebih banyak membaca berita di internet ketimbang media cetak. Media cetak pun satu per satu sudah mulai kolaps karena ditinggalkan pembaca.

Langganan koran di rumah tetap saya lanjutkan karena anak saya suka membaca koran, yach minimal untuk tetap terus menumbuhkan minat baca selain baca buku tentunya. Sejak kecil di Padang saya penyuka baca koran, karena itulah saya banyak tahu tentang berita politik negara ini, kejadian di luar negeri, dan lainnya. Hobi membaca koran itu diwariskan ke anak saya.

Kembali ke cerita si Mamang pembeli koran bekas. Dengan setengah berharap dia meminta saya menjual koran bekas. Buat penglarisan, katanya. Dari tadi belum dapat barang, lanjutnya. Pedagang Sunda memang paling suka menyebut kata “penglaris” sebagai cara berharap agar dagangannya laku. Jika dagangan sedang sepi, lalu ada pembeli pertama datang, maka tawar menawar harga tidak akan sulit. Pedagang merelakan dagangannya dibeli dengan harga yang ditawar. Seringkali uang yang diterima dari pembeli dikibas-kibaskan ke barang dagangannya. Buat penglarisan, katanya, sebuah kepercayaan yang sudah turun temurun di Tatar Sunda sejak dulu kala.

Mamang sedang menimbang koran bekas

Saya lihat ke dapur, memang sudah banyak tumpukan koran bekas. Berapa sekilo mang, tanya saya. Tiga ribu, jawabnya. Sekarang harga koran bekas lagi bagus, Pak, lanjutnya. Iya, kata saya dalam hati, biasanya pedagang koran bekas membeli 2000/kg. Koran-koran bekas itu dijual ke pengepul. Biasanya koran bekas dijadikan pembungkus, misalnya pembungkus ikan asin atau buat tanaman. Si Mamang juga menanyakan apakah saya punya kertas HVS bekas kalau ada. Kertas HVS bekas biasanya didaur ulang menjadi kertas lagi. Harganya 1500/kg, lebih murah daripada koran bekas. Selain koran, si mamang juga sering menanyakan apakah ada aki bekas, besi bekas, dan sebagainya. Wah, mana ada barang itu di rumah saya.

Oke, transaksi pun berlanjut. Setelah ditimbang, ternyata ada 11 kg. Lumayan, tiga puluh tiga ribu. Uang penjualan koran bekas buat si bibi pembantu di rumah saja, yang selama ini selalu membereskan koran yang berantakan di lantai setelah dibaca. Si Mamang pun pergi dengan hati yang girang membawa barang.

Dipublikasi di Gado-gado | 1 Komentar

Adegan Kurang Nyaman di dalam Film “Dilan 1990”

Terpengaruh oleh promosi dan meme-meme yang lucu di media sosial tentang film Dilan 1990 membuat saya dan istri ikut tertarik menonton film remaja ini. Ini film yang sedang poluler di tanah air dan sudah mencapai jumlah penonton mendekati 5 juta orang.  Katanya, film yang diadopsi dari novel laris karya Pidi Baiq dengan judul sama ini, ceritanya tidak berat, banyak adegan kocak, dan yang paling penting banyak kalimat puitis yang bikin baper banyak orang.  Salah satu kalimat yang favorit di film itu dan bikin baper anak muda adalah Jangan rindu. Berat. Kamu nggak akan kuat. Biar aku saja. 🙂

Saya tertarik menonton film ini bukan karena kalimat-kalimat puitis yang bikin baper itu. Bukan. Tetapi karena film ini menggambarkan suasana kota Bandung tahun 1990. Singkatnya, tokoh Dilan dan Milea di dalam di film tersebut bersekolah di SMA di daerah Buahbatu (tahu sendirilah, pasti SMAN 8 Bandung), jadi tentu shooting film mengambil setting kota Bandung tahun 1990. Tahun 1990 itu saya masih kuliah di ITB, belum lulus, dan kesibukan saya lebih banyak menjadi pengajar di Bimbel Karisma Salman ITB. Di Bimbel itu saya bertemu banyak anak SMA dari berbagai sekolah di Bandung. Jadi, ini semacam nostalgia saja. Bagi saya, kota Bandung adalah kota kecintaan saya yang kedua setelah kota Padang tempat kelahiran saya. Saya kuliah di sini, di ITB,  dan akhirnya bekerja menjadi dosen di almamater saya hingga sekarang.

dilan-film

Menurut saya setelah menonton film Dilan, jujur saja filmnya memang bagus, jalan ceritanya menarik. Ini memang kisah cinta remaja. Saya jadi teringat masa-masa remaja di SMA, tetapi memang jalan cerita saya tidak sama dengan Dilan, he..he.

Namun, ada beberapa adegan yang menurut saya cukup mengganggu dan kurang nyaman dilihat. Di dalam film ada adegan Dilan mengamuk, menyerang, dan memukul gurunya, Pak Suripto, pada saat upacara bendera. Memang Pak Suripto salah juga sih, dia menarik kerah baju Dilan lalu menamparnya di depan siswa lain. Itu memang sikap guru yang tidak pantas karena melakukan kekerasan kepada siswa. Tidak jelas juga apa kesalahan Dilan sehingga dia ditampar. Tapi menurut saya tidak selayaknya adegan guru menampar murid dan Dilan menghantam Pak Guru ditampilkan di dalam film tersebut mengingat banyaknya kasus kekerasan antara murid dan guru saat ini. Guru melakukan kekerasan kepada murid, murid membunuh gurunya. Hii….sungguh zaman sekarang makin kacau.

Saya khawatir adegan Dilan menyerang guru nanti jadi pembenaran bagi murid  lain untuk membalas dengan kekerasan pula jika guru memarahi murid dengan tangan. Heran saja adegan tersebut bisa  lolos sensor. Saya tidak tahu apakah di dalam novelnya ada alur cerita demikian (saya tidak membaca novel Pidi Baiq), tetapi ada atau tidak di dalam novel aslinya tidak perlulah ditampilkan adegan tersebut secara vulgar di dalam film. Saya sebagai guru (dosen) saja tidak nyaman melihat seorang guru diserang, dipukul, dan dihantam, apalagi Dilan memanggil gurunya dengan nama saja, Suripto, tanpa kata Pak di depannya. Itu saja tidak sopan menurut saya.

Selain adegan di atas, ada adegan lain yang saya juga kurang nyaman melihatnya, yaitu adegan romantis Milea memeluk Dilan yang boncengan di atas sepeda motor. Saya tidak tahu di dalam novel aslinya apa juga demikian, atau hanya kreativitas sutradara saja yang membuat visualisasinya berlebihan demikian. Anak SMA lho itu, bukan cerita orang dewasa. Padahal tidak usah berlebihan, biasa saja sudah cukup, sebab penonton juga sudah paham maksudnya. Film ini menurut klasifikasinya untuk usia 13+, tetapi saya lihat banyak anak-anak juga ikut nonton bersama orangtuanya, dan petugas bioskop pun tidak melarangnya.

Saya khawatir saja adegan mesra tersebut ditiru remaja kita dan menganggapnya perbuatan biasa, padahal bisa mengarah ke perbuatan selanjutnya yang dilarang agama.  Penonton film Dilan kebanyakan remaja. Usia remaja belum bisa memfilter mana adegan yang baik dan mana yang kurang pantas. Untung anak saya yang duduk di SD batal ikut menonton, padahal tadinya dia ngotot mau ikut. Coba kalau ikut, tentu saya merasa jengah melihat dia menyaksikan kemesraan dua anak SMA yang berpacaran. Menurut saya sebuah film tidak hanya berisi tontonan, tetapi seharusnya  juga berisi tuntunan yang mendidik. Memang pada zaman sekarang sudah biasa kita lihat para remaja berpacaran seperti sudah menjadi suami istri saja, peluk-pelukan, pegangan tangan, ciuman, dan akhirnya berbuat zina yang lebih dalam lagi. Tapi yang sudah biasa itu tidak boleh kita anggap benar. Saya memang termasuk kolot dalam mendidik anak, wanti-wanti saya melarang ini itu, ini tak boleh itu tak boleh, bergaul sama siapa saja.  Boleh badung sepert Dilan, tetapi jangan mendekati zina yang dilarang agama. Itu saja.

Dipublikasi di Pendidikan | 5 Komentar

Perihal Pemerintah Akan Menarik Zakat Gaji PNS

Menteri Agama baru-baru ini melontarkan wacana untuk mengeluarkan Peraturan Presiden tentang penarikan zakat 2,5 gaji ASN muslim. Dengan Perpres tersebut nanti zakat sebesar 2,5% langsung dipotong dari gaji ASN (Aparatur Sipil negara), termasuk PNS setiap bulan. Pemotongan zakat dari gaji bulanan tidak wajib, tetapi bersifat sukarela saja. Maksudnya, hanya bagi ASN yang bersedia saja dipotong zakat 2.5% dari gajinya, sementara bagi ASN tidak bersedia tidak akan dipotong. Kata Menag, zakat yang akan terkumpul dari gaji ASN jumlahnya mencapai triliunan.

Pemotongan zakat 2,5% dari gaji PNS bukan hal yang baru, beberapa pemerintah daerah sudah lebih dulu melaksanakannya (Baca:  Lazimkah Zakat dari Pemotongan Gaji ASN/PNS?). Penyaluran zakat adalah untuk kemaslahatan umat juga, yaitu untuk pengentasan kemiskinan.

Rencana Pemerintah tersebut tentu menimbulkan pro dan kontra. Saya pribadi tidak keberatan dipotong gaji untuk zakat. Zakat adalah kewajiban agama bagi orang yang mampu. Selama ini saya membayar zakat pada akhir tahun, yaitu dari semua sisa uang penghasilan yang saya tabung, lalu dikeluarkan zakat mal sebesar 2,5%.  Meskipun tidak mengeluarkan zakat setiap bulan dari gaji, tetapi saya selalu mengeluarkan dan infaq sedekah hampir setiap bulan kepada anak yatim dan fakir miskin, yang jumlahnya kalau ditotal seringkali lebih besar dari 2,5%.

Barangkali yang dimaksud oleh Menteri Agama zakat 2,5% dari gaji bulanan adalah zakat profesi atau zakat penghasilan. Zakat profesi adalah ijtihad para ulama, karena pada masa Nabi Muhammad istilah zakat profesi itu tidak ada.  Jenis-jenis zakat di dalam Islam adalah zakat fitrah dan zakat mal. Zakat mal terdiri dari  zakat hasil pertanian/hasil bumi, zakat binatang ternak, zakat barang galian, zakat harta karun.  Setahu saya istilah zakat profesi baru muncul sekitar tahun 90-an bersamaan dengan banyaknya tumbuh lembaga amil zakat di tanah air.

Menurut yang saya baca, perhitungan zakat profesi ini ada dua pendekatan. Pertama, langsung dipotong 2,5% dari gaji kotor apabila nilainya sudah mencapai nisab. Kedua, dari gaji tersebut dikeluarkan dulu biaya operasional yang bersangkutan, seperti biaya untuk konsumsi, transportasi, biaya anak sekolah, dan sebagainya, barulah dari sisanya jika mencapai satu nisab dikeluarkan zakat 2,5%. Sebagai patokan, yang digunakan adalah nisab emas. Nisab emas adalah 90 gram. Jadi, jika memiliki uang gaji setara lebih dari 90 gram emas, atau setelah dikeluarkan seluruh biaya operasional masih bersisa  lebihd ari satu bisab, maka dikelaurkan zakatnya 2,5%.

Saya sendiri agak kurang sepakat dengan istilah zakat profesi, sebab menurut pemahaman saya, CMIIW, zakat itu dikeluarkan jika sudah mencapai satu nisab dan sudah semasa putaran satu tahun (haul). Kalau gaji bulanan memang mungkin bisa mencapai satu nisab, tetapi belum mencapai masa satu tahun. Maka, sebagai gantinya, saya mengeluarkan sedekah atau infaq saja setiap bulan dari penghasilan yang saya terima. Barulah setelah mencapai satu tahun (biasanya pada akhir tahun) saya hitung semua simpanan uang saya di dalam tabungan, dan dari simpanan tersebut dikeluarkan zakat 2,5%.

Ada juga suara-suara yang mengaitkan pemotongan zakat ini dengan pajak. Jika setiap ASN muslim dipotong gajinya untuk zakat, maka sudah selayaknya bukti zakat dijadikan sebagai bukti pembayaran pajak dan bukan pengurang pajak sebagaimana yang berlaku sekarang (Baca:  Zakat Gaji ASN, Lalu Bagaimana dengan Status Pajaknya?).  Selain itu umat juga mempertanyakan siapa yang mengelola zakat ini,  lalu untuk apa digunakan, dan sebagainya, karena ada kekhawatiran umat zakat yang terkumpul triliunan rupiah menjadi sumber korupsi baru.

Apapun itu, saya setuju dengan zakat. Harta perlu disucikan, caranya dengan mengeluarkan sebagian harta kita untuk kaum papa. Sesungguhnya di dalam harta yang kita peroleh ada hak untuk orang miskin dan fisabilillah. Yang paling penting adalah jangan sampai ada kesan Pemerintah kita begitu cepat memanfaatkan umat kalau sudah menyangkut soal duit (ingat wacana menggunakan dana simpanan haji untuk pembangunan infrastruktur, dan sekarang zakat), tetapi di sisi lain measih melakukan praktek-praktek yang melukai hati umat (ingat kasus penangkapan ulama).

Dipublikasi di Agama | 1 Komentar

Pensiun (3)

Akhirnya satu persatu dosen senior saya memasuki masa purnabakti. Pensiun. Umur 65 tahun adalah batas usia seorang dosen mengabdi di almamaternya, kecuali profesor bisa sampai umur 70 tahun. Beberapa tahun sebelumnya sudah enam orang yang purnabakti. Tahun 2018 ini dua orang lagi. Dari semua dosen senior pendiri Informatika ITB, maka akan tersisa tiga orang yang masih mengabdi di tempat kami. Namun dalam beberapa tahun ke depan, sekitar empat hingga enam tahun lagi, mereka pun akan memasuki masa purna bakti pula. Maka, akan habislah dosen senior di almamater saya. Waktu ternyata berlalu begitu cepat. Empat atau enam tahun itu tidak terasa lama.

Saya yang selama ini merasa masih tetap dosen yunior, karena merasa nyaman dengan keberadaan dosen senior di atas saya, tiba-tiba harus merasa untuk bersiap-siap  menjadi dosen senior di almamater saya di Informatika ITB. Di bawah saya sudah banyak dosen muda yang berkiprah. Mereka menggantikan peran dosen yang telah pergi memasuki masa retired. Begitulah hidup, ada yang datang dan ada yang pergi. That”s life.  Pensiun adalah hukum alam yang tidak bisa ditolak.

Tiba-tiba saja saya merasa diri ini sudah tua. Sebenarnya saya sudah menyadari hal itu sejak beberapa tahun lalu, ketika rambut putih sudah mulai banyak bertaburan di atas kepala. Tetapi, saya sering tidak sadar karena alasan di atas, yaitu merasa nyaman dengan keberadaan dosen senior di atas saya, sehingga saya merasa masih muda saja, merasa masih perlu dibimbing oleh para senior. Tetapi dengan berlalunya waktu, mereka telah mulai meninggalkan kami. Itu artinya saya akan menggantikan peran mereka menjadi orang yang dituakan oleh para dosen yang lebih muda. Semoga saja saya bisa mengemban peran tersebut.

Suatu hari, saya pernah berjalan kaki bersama seorang dosen senior ketika kami mendapat tugas mengajar di Lampung. Satu tahun lagi dia akan memasuki masa purnabakti. Sembari kami berjalan kaki, saya menceritakan kesedihan saya yang akan merasa kehilangan setelah dia pensiun. Saya menceritakan saat saya diterima menjadi dosen ketika beliau menjabat Sekretaris Jurusan. Saya menceritakan wejangan yang dia berikan, nasehat yang dia berikan saat itu, tugas yang dia berikan kepada saya, lalu cerita masa-masa kami bersama menjalankan Jurusan (waktu itu masih bernama Jurusan Teknik Informatika). Entah kenapa saya merasa sentimentil.  Dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa dia akan tetap sering ke kampus meskipun nanti sudah pensiun.

Ada satu hal yang membuat saya merasa betah berkiprah di kampus, yaitu keberadaan para mahasiswa. Itulah alasan mengapa saya tetap ada di sini. Mereka para anak muda yang haus ilmu pengetahuan. Mereka membutuhkan bimbingan dan panutan. Tiap hari saya masuk ke kampus, lalu pulang pada sore harinya. Terkadang, biarpun badan masih sakit saya paksakan juga ke kampus menemui mereka, mengajar di depan kelas, melayani bimbingan dan konsultasi. Tiba-tiba saja penyakit di badan terasa hilang, badan menjadi lebih ringan, tetapi di rumah badan mulai meriang lagi. Itulah kadang sukanya menjadi pengajar dan pendidik, rasa sakit lenyap ketika sudah berada di depan anak didik. Peran ini akan terus saya lanjutkan sampai tiba suatu masa saya mendapat giliran memasuki masa purnabakti pula, entah pada umur 65 atau umur 70. Wallahualam.

Dipublikasi di Renunganku, Seputar Informatika | 3 Komentar

Lingkungan Berat Anak Zaman Sekarang

Dulu orangtua sering khawatir dengan anak perempuannya, khawatir dengan pergaulan bebas yang dapat merusak masa depannya. Anak perempuan dijaga betul bergaul dengan laki-laki, khawatir kenapa-kenapa, misalnya mengalami pelecehan seksual, perkosaan, hamil diluar nikah, dsb. Berbagai aturan pun dibuat orangtua untuk menjaga keselamatan anak gadis mereka, misalnya tidak boleh pulang malam, tidak boleh berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, dan sederet wanti-wanti agar anak perempuan mereka tidak mudah tergoda bujuk rayu lelaki. Pokoknya cerewetlah kepada anak perempuan dibandingkan kepada anak laki-laki.  Sementara anak laki-laki diberi kebebasan di luar rumah.

Tetapi pada zaman sekarang mempunyai anak laki-laki juga sama khawatirnya dengan anak perempuan. Banyak kejahatan seksual mengintai anak laki-laki, baik yang masih anak-anak maupun yang sudah remaja. Kaum yang mengalami penyimpangan seksual mencari mangsa tidak hanya anak perempuan di bawah umur, tetapi juga anak laki-laki. Pedofilia namanya, pelakunya disebut pedofili. Orang dewasa  mencari anak laki-laki untuk memuaskan hasratnya. Kejahatan pedofilia sudah sering kita baca beritanya di media massa. Anak-anak yang menjadi korban pedofilia akan mengalami trauma berat, dan bila dewasa mereka kemungkinan akan menjadi pedofili juga atau penyuka sesama jenis.

Baru-baru ini di Bandung kita digegerkan dengan peristiwa pembuatan video porno yang melibatkan anak-anak. Beberapa anak laki-laki yang berusia 9 sampai 11 tahun disuruh melakukan adegan mesum dengan perempuan dewasa, adegan itu direkam menjadi sebuah video, lalu video tersebut dijual kepada pemesannya (kaum pedofili) dari luar ngeri. Sungguh mengerikan dan menjijikkan, dan yang lebih bejad lagi ibu dari anak itu sendiri yang mengatur adegan tersebut di kamar hotel dan memerintahkan anaknya untuk patuh mengikuti arahan sutradara video.

Jika pada anak laki-laki kejahatan yang mengincar adalah pedofilia, maka pada remaja  atau anak muda laki-laki ancaman yang sangat mengkhawatrikan akhir-akhir ini adalah perilaku LGBT, khususnya perilaku homoseksual (gay dan lesbianisme). Menurut yang saya baca di media, kaum LGBT saat ini berkembang sedemikian pesat, jumlahnya semakin hari semakin bertambah saja. LGBT merupakan perilaku yang dapat menular. LGBT menyasar remaja dan mahasiswa yang masih labil pola pikirnya. Sudah banyak kasus anak-anak muda yang normal berubah menjadi homoseksual karena diajak masuk atau terjebak ke dalam  pergaulan kaum LGBT. Media sosial sangat berperan menyuburkan pertumbuhan LGBT. Coba saja ketikkan kata “gay bandung ” , “gay depok”, “gay bekasi” atau nama lokasi lainnya pada akun Facebook anda, maka akan muncul banyak  sekali grup kaum homoseksual dengan jumlah anggota fantastis, ribuan jumlahnya. Bulan lalu polisi menggerebek pesta seks kaum gay di sebuah villa di Cianjur, dan yang mengagetkan salah satu pesertanya adalah remaja yang masih SMA.

Anak saya yang ingin ikut fitness di sebuah tempat gym saya larang, karena saya sering mendengar pusat kebugaran disinyalir tempat berkumpulnya LGBT. Tentu tidak semua pusat kebugaran tubuh demikian, tetapi sudah bukan rahasia lagi di tempat mengolah kebugaran tubuh itu sering dijadikan ajang perkenalan kaum gay. Gay menyukai pria yang berotot dengan badan six-pack. Pria-pria yang bertubuh six-pack terlihat macho, tetapi sebagian diantaranya ternyata penyuka sesama jenis. Mereka mungkin semula masih normal tetapi akhirnya terjerat menjadi gay karena salah pergaulan.

Semua agama menolak perilaku LGBT. LGBT bertentangan dengan ajaran agama. Menurut saya Indonesia saat ini sudah darurat LGBT karena pertumbuhannya sudah mengkhawatirkan. Tapi tampaknya para pemimpin kita masih belum aware dengan keresahan ini. Perbuatan LGBT belum dianggap perbuatan pidana. Jika kepedulian tentang LGBT ini tidak ditindaklanjuti oleh para pemimpin kita, maka jangan kaget jika nanti  makin banyak anak-anak kita nanti memiliki perilaku seksual yang menyimpang.

Marilah kita jaga anak-anak kita dari pergaulan yang dapat menjerumuskan mereka kepada perbuatan yang dilarang agama. Lingkungan pergaulan anak laki-laki maupun perempuan saat ini semakin berat saja tantangannya. Semoga Allah SWT menyelamatkan bangsa kita dari perbuatan yang dilarang agama.

Dipublikasi di Indonesiaku, Pendidikan | 9 Komentar

Memelihara Jantung

Beberapa minggu yang lalu rekan kami di kampus meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung. Tentu saja kami merasa kehilangan karena usia beliau masih relatif muda. Penyakit jantung merupakan penyakit nomor satu yang paling mematikan. Ia bisa menyerang siapa saja, tidak peduli usia muda atau tua. Teman saya semasa kuliah dulu sudah ada berapa orang yang meninggal dunia karena serangan jantung, padahal usianya kala itu juga masih muda.

Ada orang yang menderita penyakit jantung karena bawaan sejak lahir, tetapi lebih banyak lagi orang yang menderita penyakit jantung karena gaya hidup yang tidak memperhatikan keseimbangan, keseimbangan antara yang masuk dan keluar. Terlalu banyak makan yang berlemak tetapi kurang gerak atau olahraga merupakan pemicu penyakit jantung.

Saya bukan dokter, tetapi dari berbagai informasi yang saya ketahui serangan jantung disebabkan oleh tersumbatnya aliran darah menuju jantung akibat penumpukan lemak kolesterol, atau unsur lain di dalam pembuluh darag. Gangguan aliran darah ke jantung bisa merusak atau menghancurkan otot jantung dan bisa berakibat fatal (Sumber:  Pengertian Serangan Jantung).

Penyakit jantung disebabkan berbagai faktor, antara lain kebiasaan merokok, pola hidup yang kurang sehat (kurang berolahraga, suka makanan berlemak, jarang memakan buah dan sayur), hipertensi, diabetes, obesitas, faktor usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga yang memiliki penyakit jantung (Sumber: Penyebab Penyakit Jantung).

Jadi, mulai sekarang peliharalah jantung milik kita masing-masing, dengan cara memperhatikan faktor-faktor penyebab di atas, salah satunya olahraga secara teratur. Berolahraga memang bagus buat jantung, tetapi memforsir diri untuk berolahraga malah bisa fatal. Olahraga itu ada batasnya, kalau tubuh sudah merasa tidak nyaman atau mata mulai berkunang-kunang ketika berolahraga, badan mulai tidak stabil (sempoyongan), itu pertanda olahraga harus dihentikan saat itu. Segeralah menepi dan memilih beristirahat.

Tahun lalu Rektor sebuah PTN di Bandung meninggal dunia ketiak sedang bermain tenis. Beberapa tahun lalu kita juga mendengar seorang artis pria (Adjie Massaid) meninggal dunia ketika sedang bermain futsal. Masih banyak lagi berita orang yang meninggal dunia secara mendadak ketika berolahraga.

Bagi orang yang berusia di atas 40 tahun (seperti saya), sudah waktunya memilih olahraga yang bisa “dikendalikan”. Maksudnya, sebaiknya kita melakukan olahraga yang bisa kita kontrol sendiri kapan kita harus berhenti dan kapan dilanjutkan. Jika tubuh sudah merasa lelah, maka kita sendiri memutuskan untuk berhenti sejenak atau dalam waktu yang agak lama. Olahraga yang bisa dikendalikan itu antara lain jalan kaki, lari, senam, bersepeda, dan berenang. Semua olahraga ini bersifat privat dan bukan bersifat pertandingan. Kita tidak perlu mengikuti aturan baku dalam olahraga itu, karena kita sendiri yang melakukannya dan kita sendiri yang tahu kapan tubuh kita harus berhenti untuk berisitirahat dan kapan dilanjutkan lagi.

Olahraga yang memerlukan partner atau teamwork dalam pertandingan tidak disarankan bagi orang berusia di atas 40 tahun, karena sangat menguras energi. Olahraga semacam itu misalnya bermain futsal, tenis, badminton, sepakbola, volley, basket, dan sebagainya. Bermain sepakbola misalnya, kita hanya istirahat setelah 90 menit pertandingan. Kita tidak bisa berhenti sesuka hati kita ketika sedang main. Meskipun tubuh sudah sempoyongan, kita terikat aturan permainan untuk terus bermain sampai waktu istirahat tiba (kecuali ada pergantian pemain). Hal yang sama juga berlaku ketika sedang bermain tenis, badminton, volley, futsal, dan sebagainya. Semuanya olahraga yang menguras tenaga, jika jantung tidak kuat memompa darah bisa fatal akibatnya, apalagi kalau punya potensi penyakit jantung.

Jantung adalah pusat dari tubuh kita, yang memompa darah ke semua bagian tubuh, Jika ia berhenti berkerja, maka habislah riwayat kita. Tentu kita berharap memiliki umur yang panjang supaya tetap bisa melihat anak-anak kita tumbuh besar, dewasa, melihat mereka menikah, dan mempunyai cucu. Mari kita syukuri nikmat Allah SWT dengan memelihara jantung kita masing-masing.

Dipublikasi di Gado-gado | 2 Komentar

PilGub Jabar 2018, Siapa yang Akan Menang?

Hiruk pikuk tahun politik 2018 sudah dimulai pada awal Januari. Tahun 2018 berlangsung iven Pilkada serentak di seluruh Indonesia, termasuk di Jawa Barat, propinsi tempat tinggalku kini. Setelah melalui proses tarik ulur yang cukup dramatis, akhirnya PilGub Jabar akan diikuti oleh empat pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Keempat pasang calon tersebut adalah Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi yang diusung Partai Demokrat dan Golkar, Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum yang diusung oleh Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura, Sudradjat – Akhmad Syaikhu yang diusung Gerindra, PKS, dan PAN, serta Tubagus Hasanuddin – Anton Charliyan yang diusung oleh PDIP.

Empat pasang calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat

Sebenarnya jabatan Gubernur tidaklah terlalu strategis, karena negara kita menganut asas otonomi daerah. Kewenangan di daerah dipegang oleh Bupati/Walikota, Gubernur bertindak sebagai koordinator saja. Bupati/Walikotalah yang membuat kebijakan di daerah kekuasaannya, bukan Gubernur, sehingga para bupati dan walikota sering disebut sebagai “raja kecil” yang berkuasa di daerahnya. Gubernur tidak bisa mengintervensi bupati/walikota di bawahnya.

Tetapi, mengapa PilGub tahun 2018 ini sangat menarik perhatian? Tak lain dan tak bukan karena tahun berikutnya, 2019, adalah tahun politik panas. Pada tahun 2019 rakyat Indonesia akan melakukan pemilihan umum untuk memilih anggota legislatif dan presiden. Nah, posisi Presiden Jokowi tahun 2019 belum terlalu aman kalau ia ingin menjadi presiden lagi, sebab hasil-hasil jajak pendapat beberapa lembaga survey menyebutkan elektablitasnya masih di bawah 50%. Meskipun kepuasan rakyat terhadap kinerjanya tinggi, tetapi tidak sebanding dengan elektabilitas yang belum mencapai 50% itu.

Nah, disinilah letak strategisnya Pilkada tahun 2018. Partai-partai politik berlomba-lomba menempatkan calon terbaiknya dalam pemilihan bupati, walikota, dan gubernur sebagai ajang pemanasan  menjelang Pemilu 2019. Partai-partai politik itu berusaha memenangkan calonnya menjadi penguasa di daerah, karena akan memudahkan tujuan mereka mencapai kekuasaan yang lebih tinggi. Jika berhasil memenangkan Pilkada, maka bupati, walikota, atau gubernur yang mereka jagokan akan “dimanfaatkan” untuk memenangkan partainya dalam Pemilu 2019. Dana-dana politik untuk memenangkan Pemilu 2019 lebih mudah diperoleh karena bupati, walikota, dan gubernur itu memiliki akses ke birokrasi atau pengusaha di daerahnya. Itu sudah menjadi rahasia umum di negeri ini bahwa birokrasi digunakan penguasa daerah untuk tujuan politiknya.

PilGub Jabar menyedot perhatian karena Jawa Barat adalah propinsi dengan penduduk paling besar, yaitu 47 juta. Jawa Barat merupakan lumbung suara bagi banyak partai politik. Tetapi, di Jawa Barat ini Jokowi tumbang pada Pilpres 2014, dikalahkan oleh Prabowo dengan persentasi 60% : 40%. Maka, siapapun yang berhasil menguasai Jawa Barat akan memudahkan memenangkan persaingan dalam Pilpres 2019 nanti. Di sinilah letak pentingnya PilGub Jabar 2018. Maka, tidak heran Ridwan Kamil yang diusung salah satunya oleh Partai Nasdem diikat dengan perjanjian harus mensukseskan kemenangan Jokowi pada Pilpres 2019 nanti.

Lalu, siapakah calon gubernur yang akan dipilih oleh rakyat Jawa Barat pada Pilgub nanti? Di atas kertas kemungkinan besar adalah Ridwan Kamil. Ridwan Kamil selalu unggul dalam berbagai jajak pendapat. Peluangnya paling besar untuk memenangkan PilGub. Tetapi, banyak pula yang beranggapan Ridwan Kamil baru menang “di udara” (di dunia maya), yaitu di wilayah perkotaan yang melek Internet dan selalu update informasi, sementara di darat (wilayah pedesaan) belum tentu (kurang terlalu dikenal).

Tipikal orang Sunda (Jawa Barat) adalah memilih pemimpin yang memenuhi aspek nyunda, nyantri, dan nyakola. Dilihat dari ketiga aspek tersebut semua pasangan calon memiliki kelebihan dan kekurangan. Nyunda, semua calon orang suku Sunda, jadi tidak ada masalah (meskipun Deddy Mizwar orang Sunda tapi lebih banyak tinggal di Jakarta).   Nyakola (berpendidikan), semuanya merupakan intelektual dan berpendidikan.

Nyantri artinya taat agama (Islam). Tiga pasangan calon (Ridwan Kamil – Uu, Sudradjat – Akhmad Syaikhu, Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi) memiliki rekam jejak yang dapat dinilai aspek kesantriannya. Untuk Dedi Mulyadi ada rekam jejak yang diingat bagi pemilih muslim yang kritis, yaitu kiprahnya selama menjadi Bupati Purwakarta mengadakan iven yang dianggap menjurus syirik dan membangun patung-patung di kota Purwakarta yang ditentang ulama dan ormas Islam.  Sementara pasangan Tb. Hasanuddin – Anton Charliyan jarang terdengar kiprahnya dalam soal keislaman. Faktor PDIP sebagai partai yang kurang dekat dengan Islam mungkin akan membuat jarak bagi pemilih yang menimbang aspek ini sebagai kriteria memilih.  Apalagi, Anton Charliyan ketika menjadi Kapolda Jabar pernah meninggalkan catatan yang kurang baik yaitu kejadian bentrokan antara ormas binaannya dengan sebuah ormas Islam.

Ridwan Kamil bukannya tanpa ada masalah juga. Awal-awal pencalonannya oleh Partai Nasdem menimbulkan pro dan kontra. Ridwan Kamil menerima pinangan Nasdem pada saat yang tidak tepat, yaitu saat suasana kebatinan pemilih muslim masih diliputi kemarahan oleh kasus Ahok. Kebetulan Nasdem adalah salah satu pengusung Ahok pada Pilkada DKI. Banyak pengagum dan fans Ridwan Kamil memilih meninggalkannya,  istilahnya unfriend. Saya tidak tahu apakah saat “rasa luka” pemilih yang unfriend itu masih berbekas atau sudah mulai melupakan. Wallahu alam.

Untuk pasangan Sudradjat – Akhamad Syaikhu, ini wajah baru yang kurang dikenal di Jawa Barat. Padahal orang memilih calon pemimpin karena kenal terlebih dahulu, kalau tidak dikenal mungkin kurang dilirik. Perlu waktu dan kerja keras mesin partai pengusung untuk memperkenalkannya ke penduduk Jawa Barat, padahal waktu yang tersisa hanya enam bulan.  Apakah berhasil, waktu yang akan menjawabnya.

Warga Jawa Barat bebas menentukan pilihannya sesuai preferensinya. Mau pilih figur atau melihat partai pengusung? Memilih calon dengan melihat rekam jejak atau kinerja? Semua sah. Yang jelas faktor SARA tidak akan terjadi pada PilGub Jabar nanti. Mengenai siapa yang akan menang, masih samar-samar.

Dipublikasi di Indonesiaku, Seputar Bandung | Meninggalkan komentar