Naik LRT di Palembang

LRT (light rapid tranport) di Indonesia baru ada di kota Palembang. Jakarta saja LRT baru beroperasi sebagian, masih belum sedang dibangun, meski MRT (mass rapid transport) sudah ada namun baru terbatas saja jalurnya dan tidak semua di bawah tanah. Tentang transportasi cepat memang negara kita terlambat dibandingkan negara tetangga. Tidak usah bandingkan dengan Singapura, dengan Thailand dan Malaysia saja kita masih tertinggal dalam hal transportasi cepat (LRT dan MRT).

Kalau Anda mampir ke Palembang jangan lupa mencoba LRT. Saya beberapa bulan lalu berkunjung ke Palembang. Dari bandara Sultan Mahmud Badaruddin II saya sudah meniatkan mau mencoba naik LRT ke hotel tempat saya menginap. LRT di Palembang haya satu jalur saja, yaitu dari bandara SMD ke kompleks stadion olahraga Jakabaring. Kebetulan hotel saya terletak di Jalan Sudirman. Jalur LRT melalui depan hotel. Di depan hotel terletak stasiun Cinde, jadi saya bisa turun di situ.

Dari terminal kedatangan kita berjalan ke luar ke arah kanan menaiki stasiun LRT yang terletak di depan bandara.

Kereta belum datang.Saya beli tiket loket di stasiun bandara.  Harga tiket ke stasiun Cinde hanya Rp10.000 saja. Sangat murah ya, jauh lebih murah daripada kita naik taksi dari bandara. Di depan loket tertera rute yang dilalui LRT.  Nah, stasiun Cinde itu sebelum stasiun Ampera. Stasiun Ampera terletak di dekat jembatan Ampera yang terkenal di atas Sungai Musi.

Lima belas menit menunggu akhirnya kereta pun datang. Gerbong kereta ada tiga buah. Saya naik gerbong yang pertama.

Penumpang tidak banyak saat itu. Memang saya dengar okupansi LRT masih rendah sehingga pemasukan LRT dari penumpang belum mampu menutupi biaya operasional. LRT masih disubsidi oleh Pemerintah.

Kereta LRT berangkat tepat waktu. Hmm…omong-omong tentang kereta bandara, kita sudah memiliki beberapa bandara yang terhubung dengan kereta api. Bandara pertama yang memiliki kereta bandara adalah Bandara Kualanamu, kedua Bandara Minangkabau (baca: Mencoba Kereta Bandara Minangkabau, Padang), baru kemudian bandara SMD Palembang. Bandara lain yang sudah memiliki kereta bandara adalah Bandara Soekarno-Hatta dan bandara YIA Yogyakarta.

Kereta melewati beberapa stasiun seperti stasiun Asrama Haji, stasiun Punti Kayu, RSUD, Garuda Dempo, Demang, Bumi Sriwijaya, Dishub, dan stasiun Cinde. Laju kereta memang tidak terlalu cepat. Setiap stasiun memiliki bentuk bangunan yang mirip. Karena jalur LRT adalah jalur layang, maka kita perlu naik turun lift atau eskalator ke atas stasiun.

Sayang sekali stasiun Cinde terletak sebelum jembatan Ampera. Kalau nggak, saya kan bisa merasakan LRT yang melewati jalur di atas Sungai Musi seperti foto di bawah ini. Jalur LRT di atas Sungai Musi berdampingan dengan Jembatan Ampera.

Mungkin pemandangan yang sangat menarik melihat kesibukan Pasar 16 Ilir yang terletak di pinggir Sungai Musi dari atas LRT.  Ya, hampir semua aktivitas kota Palembang memang terpusat di sekitar Sungai Musi dan Jembatan Ampera.

Bersukurlah warga Palembang memiliki sarana transportasi modern yang tidak dimiliki kota-kota lain di Indonesia. Berkah Asian Games tahun 2018.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 3 Komentar

Dimana Rasa Empati? (dan Sakit Hati)

Banjir besar dan sangat parah di Jadebotabek pada awal tahun 2020 meninggalkan cerita sedih dan pilu. Ribuan rumah tenggelam oleh banjir yang tingginya sampai ke atap rumah, bahkan ada yang tingginya sampai delapan meter. Mirip tsunami kecil saja karena aliran air banjir sangat deras akibat bobolnya tanggul.  Puluhan orang meninggal dunia karena tenggelam, hanyut, atau tertimpa tanah longsor. Mobil-mobil hanyut. Tentu tidak terhitung kerugian harta benda akibat banjir hebat ini. Banjir sangat masif dengan cakupan wilayah yang luas. Benar-benar banjir yang paling besar dalam sejarah di kawasan itu.

Seorang teman yang rumahnya (di Jatiasih Bekasi) digulung banjir merasa terpukul. Banjir hampir setinggi atap rumah merendam semua barang di dalam rumahnya. Malangnya lagi, saat kejadian banjir tidak ada seorangpun di rumah, semua anggota keluarga sedang berada di luar kota. Kasur, perabot, TV, kulkas, sepeda motor, mobil di garasi, dan segala rupa barang rusak semua. Semua harta benda yang telah didapatkan selama bertahun-tahun musnah seketika. Yang paling dia sedihkan adalah kertas-kertas berharga iku hancur. Ya ijazah, sertifikat rumah, dan surat-surat berharga lainnya.

Saya menelpon dia tanggal 3 Januari pagi kemarin. Ketika saya telpon dia sedang membersihkan rumah dan semua barang yang berlumpur dengan air. Bayangkan, kemana pula mencari air bersih untuk menyemprot lumpur-lumpur itu. Pompa air pun rusak/korslet akibat terendam. Kalau tidak segera disemprot air dikhawatirkan lumpur-lumpur itu mengeras sehingga semakin sukar dibersihkan.

Saat itu yang pertama dibersihkannya dan coba dihidupkannya adalah sepeda motor agar bisa digunakan. Kalau mobil di garasi pastilah tidak akan bisa dihidupkan lagi, rusaklah. Tanpa kendaraan  tentu mobilitasnya sangat terbatas, sulit pergi ke mana-mana untuk membeli berbagai keperluan.

Saya dapat merasakan hancur dan sedih hatinya. Namun, di dunia netizen yang “kejam” yang terjadi bukannya memberikan rasa empati kepada korban, tetapi malah sibuk mencari-cari kesalahan dan membuli orang lain. Bukannya membantu para korban yang ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, tetapi membuat kegaduhan di dunia maya dengan komentar-komentar yang menyerang seorang pejabat. Sungguh terlalu.

banjir

Banjir kali ini sekaligus memperlihatkan bahwa efek Pilakda dan DKI dan Pilpres masih belum selesai rupanya, duel antara cebong dan kampret masih berlanjut di dunia maya. Padahal banjir  tidak hanya terjadi di Jakarta, namun juga di daerah Jawa Barat bagian barat dan Banten, tetapi semua kesalahan ditimpakan kepada Gubernur DKI Jakarta.  Tanpa bermaksud membela siapapun, banyak orang tidak bisa berlaku adil dalam hal ini.  Bukannya berempati kepada para korban, mereka malah lebih mengedepankan rasa kebencian dan sakit hati kepada gubernur DKI yang sekarang.

Ya begitulah politik, peristiwa bencana pun dipolitisasi dan dijadikan ajang balas dendam. Kekalahan akibat Pilkada DKI masih menyimpan rasa sakit hati bagi pendukung yang kalah. Rasa sakit hati bercampur dengan hasad dan dengki, kebaikan orang tidak dilihat, yang tampak hanya keburukan saja.

Membanding-bandingkan pemimpin yang sekarang dengan pemimpin sebelumnya dalam situasi prihatin seperti sekarang tidaklah pantas.  Tiap orang harus diperlakukan secara proporsional. Anak-anak kita saja harus diperlakukan adil, mereka pasti tidak suka kalau dibanding-bandingkan, bukan?  Semua pemimpin pasti sudah berupaya yang terbaik mereka lakukan untuk rakyatnya, cuma tidak bisa sempurna 100% karena kesempurnaan hanya milik Allah.

Dipublikasi di Indonesiaku | 2 Komentar

Sholat Jumat di Masjid Jogokariyan

Sewaktu berada di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, saya sudah meniatkan diri untuk sholat Jumat di Masjid Jogokariyan, sebuah masjid bersejarah di Yogyakarta. Kebetulan saya check-out hotel jam 12.00, jadi waktunya pas dengan jadwal sholat Jumat. Dari hotel tempat saya menginap di Jalan Gowongan Kidul, Malioboro, saya naik Gojek ke masjid tersebut.

Sudah lama saya mendengar cerita tentang manajemen masjid Jogokariyan, masjid kampung yang mendunia. Sejarah masjid ini dapat anda baca pada laman Wikipedia ini.  Masjid Jogokariyan memiliki manajemen yang luar biasa, sila baca pada situs webnya. Masjid Jogokariyan tidak hanya sekadar masjid tempat sholat, tetapi sekaligus menjadikannya sebagai pusat peradaban.

Deretan kekhasan masjid Jogokariyan yang saya baca misalnya mengundang jamaah sholat ke masjid dengan cara berbeda, gerakan infak yag selalu tersisa nol rupiah, gerakan jamaah mandiri (selengkap baca di sini:  Deretan Keistimewaan Masjid Jogokariyan di Yogyakarta). Di masjid ini sandal hilang atau bahkan kendaraan yang hilang saja diganti. Banyak lagi deh cerita-cerita unik tentang masjid ini (Baca ini: 4 Alasan Mendatangi Masjid Jogokariyan Jogja Saat Ramadhan, yang ini:  Kisah Masjid dan Jamaah Jogokariyan Melayani Peserta Muslim United, atau yang ini:  Geliat dakwah Masjid Jogokariyan di kampung komunis).

Banyaknya cerita unik dan tayangan menarik tentang masjid ini membuat saya semakin penasaran. Oleh karena itulah mumpung saya sedang berada di Yogyakarta dan jadwal keberangkatan kereta saya balik ke Bandung masih lama (malam hari), maka saya sempatkanlah ke sana.

Setelah mutar-mutar naik Gojek, sampailah saya di kampung Jogokariyan. Kampung Jogokariyan terletak di arah Jalan Parangtritis, Nah, di perempatan kampung itulah terletak masjid Jogokariyan yang berwarna hijau. Waktu sholat Jumat lima belas menit lagi, saya berfoto dulu di depan masjid.

Di halaman masjid sudah teratata rapi ratusan nasi bungkus, gelas-gelas air minum dan botol-botol air minum mineral. Makanan dan minuman itu disediakan masjid bagi jamaah usai sholat Jum’at nanti, atau bagi siapapun yang lewat di sana.

Semakin mendekati waktu sholat Jumat, masjid semakin ramai dengan jamaah hingga meluber ke halaman. Jamaah sholat Jumat tidak hanya warga sekitar, tetapi juga wisatawan atau pendatang seperti saya yang sama-sama ingin mencoba sholat di masjid yang terkenal ini. Saya tahu hal itu sebab setelah selesai sholat Jumat banyak orang berfoto-foto di depan nama masjid ini.

Sholat Jumat berlangsung seperti biasa. Khotib sholat Jumat mengangkat topik tentang makanan halal dan haram. Khatib menyoroti maraknya kedai-kedai makanan di Yogyakarta yang menjual menu daging anjing, jamaah diminta untuk mewaspadai makanan yang diharamkan agama itu (anjing adalah hewan carnivora sehingga termasuk makanan yang diharamkan di dalam Islam).

Usai sholat Jum’at nasi bungkus yang telah telah disediakan tadi dibagikan kepada para jamaah. Tidak usah khawatir, semua orang akan kebagian. Sayapun mendapat satu bungkus nasi. Oh, ini nasi yang barokah, sebab ia adalah sedekah ikhlas dari hamba Allah. Jamaah termasuk saya makan bersama di teras masjid. Terasa sekali alangkah nikmatnya makan bersama-sama ya.

Nasi bungkus itu habis saya makan. Menunya sederhana saja. Nasi dan lauknya berupa telur bacem dan bihun goreng bumbu kecap. Heran juga saya bisa menghabiskannya, padahal saya  sulit sekali makan dengan lauk yang rasanya manis. Maklum selera saya masih selera Minang yang pedas, masih sukar menerima masakan yang manis meski sudah berpuluh tahun merantau di tanah Jawa.

Setiap orang makan dengan tertib, tidak ada makanan yang tersisa, tidak ada sampah-sampah bekas makanan yang terserak. Jamaah dengan tertib membuang sampah di tempat yang telah disediakan. Sambil makan jamaah bercakap-cakap dengan jamaah lainnya. Ibu-ibu yang tidak ikut sholat Jumat datang belakangan lalu menunaikan sholat Dhuhur di masjid, selanjutnya ikut makan nasi bungkus. Nasi bungkus yang disediakan sepertinya tidak pernah kurang.

Alhamdulillah, akhirnya niat saya untuk sholat di Masjid Jogokariyan kesampaian juga. Terima kasih ya Allah.

Dipublikasi di Cerita perjalanan, Pengalamanku | 3 Komentar

Toleransi yang Hanya Kosmetik

Beberapa tahun belakangan ini saya melihat fenomena toleransi yang rancu setiap hari Natal. Acara misa Natal di dalam gereja, yang sejatinya merupakan rangkaian ibadah saudara-saudara kita kaum kristiani,  juga diisi oleh partisipan kaum santri yang memainkan rebana, melantunkan shalawat, atau menari sufi (Baca: Natal di Semarang, Diiringi Rebana hingga Gotong Royong Warga Muslim, Baca: Tari Sufi Iringi Misa Natal di Kota Malang, Pengurus Gereja: Terimakasih Telah Membangun Toleransi). Meskipun rebana atau tarian sufi tidak punya agama, namun keduanya sudah terlanjur identik dengan tradisi keislaman.

Dikutip dari siniSuara rebana mengiringi perarakan misa di permulaan rangkaian acara. Pemuda Muslim bersarung dan berkopiah berjalan bersama-sama anak-anak altar memasuki gereja. Setelah sampai di gereja, musik pun berganti dengan lagu gerejawi.

Sebelum misa ditutup, tarian sufi khas Turki kembali hadir bersama dengan lantunan kidung Syi’ir Tanpo Waton. Syi’ir Tanpo Waton adalah rangkaian bacaan istigfar (bacaan minta ampunan), shalawat Nabi Muhammad SAW, dan syair berbahasa Jawa. ”Sungguh luar bisa. Ini kado natal terindah bagi kami,” kata Anton, umat setempat.

Kutipan lainnya dari siniPengasuh Ponpes Roudlotul Solihin, KH Abdul Qodir mengatakan visi pondok pesantren yang dipimpinnya adalah mencetak santri yang inklusif yang mau menerima perbedaan. Dan pada momen Natal kali ini dirinya ingin menunjukkan kebersamaan.

“Meski akan muncul pro dan kontra, namun kami lebih menekankan aspek kemanusiaan dan aspek persaudaraan. Karena bagi kami, misi agama itu yang terpenting adalah kemanusiaan di atas ritual dan sebagainya,” ujar Abdul.

Saya tidak habis pikir dengan mereka yang mencampuradukkan kedua hal ini (kekristenan dan keislaman) dengan dalih toleransi. Apakah untuk mendukung keragaman atau toleransi antar umat beragama kita sampai perlu mengikuti acara ibadah agama orang lain? Apakah untuk menjadi orang inklusif kita perlu ikut ambil bagian dalam misa Natal? Apakah pada tempatnya melantunkan shalawat Nabi di dalam gereja?  Bukankah hal-hal seperti ini berlebihan dan dapat menimbulkan kesalahpahaman?

Sebaliknya saya tidak pernah mendengar ketika pada hari raya Iedul  Fitri kaum kristiani datang ke dalam masjid atau lapangan sholat Ied menyanyikan paduan suara gerejawi, atau ikut pula melantunkan takbir bersama-sama sebagai wujud toleransi.

Saya khawatir toleransi yang dipraktekkan oleh sekelompok orang dengan menghadiri acara misa Natal itu hanya kosmetik belaka, baru sebatas kulitnya saja dan tidak menyentuh hakikat toleransi yang sesungguhnya. Menurut saya toleransi beragama yang sesungguhnya itu adalah membiarkan saudara-saudara kita yang berbeda agama menjalankan ibadahnya dengan tenang, aman dan nyaman. Biarkanlah saudara-saudara kita kaum kristiani dapat melaksanakan ibadah misa Natal dengan penuh kedamaian, memastikan ibadah mereka tidak terganggu, tanpa kita perlu ikut campur pula di dalam rangkaian ibadah mereka.

Membantu kelancaran lalu lintas di depan gereja, membantu mengatur perparkiran kendaraan jemaat yang akan ibadah, tidak menyetel musik keras-keras saat ibadah misa berlangsung, merupakan contoh-contoh sikap yang menunjukkan toleransi beragama.

Begitu juga sebaliknya toleransi yang dilakukan dari kaum kristiani ke kaum muslimin dengan memberi rasa aman dan nyaman kaum muslim melakukan ibadahnya. Tepa salira, bertenggang rasa, dan berempati, itulah makna hakiki toleransi.

Saya yakin saudara-saudara kita kaum kristiani tidak memerlukan kehadiran kita dalam pelaksanaan ibadah Natal. Sebaliknya kaum muslim juga tidak memerlukan kehadiran kaum kristiani dalam sholat Idul Fitri. Biarlah masing-masing umat beragama menjalankan ibadahnya dengan tenang dan damai tanpa gangguan. Itu sudah bertoleransi namanya.

Bangsa kita sudah sejak lama mengenal keragaman. Mereka hidup berdampingan rukun dan damai dengan orang yang berbeda suku dan agama. Harmoni kehidupan sudah berlangsung dengan baik. Toleransi dalam kehidupan bermasyarakat sudah sejak dulu dipraktekkan. Toleransi itu menyangkut hubungan horizontal sesama umat manusia, sedangkan ibadah mengatur hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Janganlah keduanya dicampuradukkan. Insya Allah, hidup ini akan indah jika kita dapat
menghargai perbedaan tanpa kita perlu masuk ke dalamnya.

Dipublikasi di Indonesiaku | 1 Komentar

Bangkok Halal 4D3N

Bangkok adalah tujuan wisata yang sudah mainstream. Wisata belanja, wisata kuliner, atau menyusuri sungai Chao Praya, adalah beberapa tujuan orang berwisata ke Bangkok. Saya sendiri sudah pernah sekali pergi ke kota Bangkok dalam rangka mengikuti konferensi ilmiah. Tahun ini saya kembali mengunjungi Bangkok dalam perhelatan yang serupa, yaitu mempresentaskan paper hasil penelitian di sebuah konferensi di kampus Thai-Nichi Institute of Technology (TNI), sebuah perguruan tinggi swasta di Thailand. Selama 4 hari 3 malam (4D3N) saya berada di Bangkok.

Gerbang kampus Thai-Nichi Institute of Technology

Kota Bangkok tidak jauh beda dengan kota Jakarta dalam hal juara macet dan keramaian pedagang kaki lima. Bedanya, kota Bangkok lebih teratur dan lebih tertib daripada Jakarta. Baik siang maupun malam lalu lintas di pusat kota Bangkok sangat padat, apalagi saat jam pulang kerja adalah saat rush hour, bisa berjam-jam terjebak kemacetan.

Rush hour di kota Bangkok

Thailand adalah negara dengan penduduk mayoritas beragama Budha.  Orang Thai sangat menghormati para bhiksu, sama seperti orang kita yang sangat menghormati ulama, kyai atau ajengan. Setiap pagi terlihat bhiksu berjalan kaki di kota Bangkok. Warga memberikan sedekah makanan kepada bhiksu yang lewat, memasukkannya ke dalam panci yang dililit di pinggang bhiksu. Bhiksu kemudian menuangkan air suci ke dalam wadah yang disediakan di atas tanah, lalu mendoakan umatnya. Warga berlutut, melepaskan alas kaki, lalu mensedekapkan kedua tangan, ikut berdoa.  Sebuah harmoni pagi di kota Bangkok yang saya saksikan di dekat hotel tempat saya menginap.

Warga Thai sedang berdoa dengan dibimbing oleh bhiksu

Meski Thailand adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Budha, lalu apakah sulit mencari makanan halal di Bangkok? Ternyata mencari makanan halal di Bangkok  tidaklah sulit. Makanan di restoran atau makan jalanan (street food) di kota Bangkok tersedia beraneka ragam, ada yang halal dan tidak halal.

Untuk memastikan anda membeli makanan yang halal, maka perhatikan apakah kedai-kedai makanan memasang tulisan Halal Food, Muslim Food, atau logo halal dalam aksara Arab. Jika iya, berarti makanan yang dijajajakan adalah halal. Pedagang makanan di kedai halal umumnya orang Pattani dari Thailand Selatan. Pattani adalah wilayah muslim di perbatasan Thailand dengan Malaysia, penduduknya beretnis melayu. Di kota Bangkok sendiri banyak terdapat kantong-kantong pemukiman muslim dari Pattani, perkampungan Jawa, dan etnis muslim lain yang telah berasimilasi menjadi warga Thailand. Saya menemukan cukup banyak masjid di pinggir jalan. Perempuan berkerudung mudah ditemui lalu lalang di keramaian. Di kampus Tha-Nichi saya melihat mahasiswi yang memakai jilbab, begitu juga anak-anak sekolah yang memakai busana muslimah berbaur dengan siswa lainnya.

Label halal di sebuah kedai makanan di kawasan Ratchathewi

Muslim food

Jika sudah ada tulisan halal di kedai makanan, maka tenanglah kita makan di sana. Bermacam-macam kuliner yang menggugah selera ada kedai itu, misalnya nasi goreng tom yam, phad thai, som tam, dan lain-lain. Makanan-makanan itu bisa dikombinasikan, misalnya som tam dengan nasi goreng, mie rebus dengan tom yam, dan sebagainya. Pedagang langsung memasaknya di depan kita.

Seafood dan nasi goreng tom yam

Terbit air liur dibuatnya

Di kawasan Pratunam, kira-kira 500 meter dari Kedubes RI di Bangkok, ada sebuah rumah makan melayu Pattani dengan nama restoran MAKAN. Ya Makan. Pemiliknya orang Pattani.  Saya diajak oleh Abdullah Zulkifli,  alumni Informatika ITB angkatan 1990 yang sekarang menjadi diplomat di Kedubes RI di Bangkok, makan malam di restoran Makan.  Cukup berbicara dengan bahasa Indonesia, karena pemilik dan pelayannya mengerti bahasa Melayu. Kami memesan som tam, pad thai, ayam kukus daun pandan, dan ikan kembung bakar tetapi tanpa kulit.  Phad thai adalah semacam kwetiau namun terbuat dari tepung beras, sedangkan som tam adalah sayuran pedas dari pepaya muda. Ini favorit saya yang suka makanan pedas.

Phad thai

Som tam

Ayam dikukus dengan daun pandan

Saya bersama Abdullah Zulkifli di restoran Makan, Pratunam, Bangkok

Tentu saja menikmati makanan halal di Bangkok tidak lengkap tanpa menikmati jajanan yang sudah beken, yaitu nasi ketan dengan buah mangga (sticky rice mango), ketannya disiram kuah santan. Rasanya? Bukan enak lagi, sangat enak. Gurih dan manis. Jenis mangganya juga beda. Hmmm…kalau di kampung saya orang makan ketan dengan durian. Di Bandung sudah banyak yang menjual dessert ini, tetapi mangganya diganti dengan mangga harum manis.

Nasi ketan buah mangga

Jenis mangga yang digunakan

Saya menikmati nasi ketan mangga di kedai pinggir jalan, pedagangnya orang Pattani. Ada logo halal di gerobaknya. Saya merasa nyaman saja jika membeli makanan di kedai orang Pattani. Makanan halal itu selain sehat juga barokah.

Gerobak pedagang nasi ketan mangga

Thailand memang sangat peduli dengan konsep wisata halal. Pariwisata adalah industri yang menopang ekonomi Thailand. Mereka sadar wisatawan yang datang ke negaranya banyak berasal dari berbagai negara berpenduduk muslim, oleh karena itu mereka menyediakan tempat-tempat yang menjual makanan halal lengkap dengan label halalnya. Bahkan, industri makanan kemasan pun mendapat sertifikasi halal dari MUI Thailand. Jika kita berbelanja makanan kemasan di minimarket, maka untuk memastikan halal tidaknya makanan itu  cukup lihat label tulisan halal yang tertera di bagian belakang kemasan.

Tidak hanya makanan, Thailand pun menyediakan mushola di tempat-tempat umum, misalnya mushola di bandara Suvarnabhumi. Saat waktu maghrib datang, saya sholat di sebuah mushola di mal Platinum lantai lima. Di mal Platinum yang megah ini terdapat mushola buat sholat, mushola terpisah untuk mushola pria dan mushola untuk wanita. Bangkok lho ini, bukan di Jakarta atau di tanah air. Saya teringat mal megah di Bandung yang musholanya terletak di basement yang pengap dan bersebelahan dengan toilet dan tempat parkir.

Mushoal untuk laki-laki di mal Platinum

Interior di dalam mushola

Thailand memang serius menggarap pangsa wisata dari negara-negara berpenduduk muslim. Mereka sediakan segalanya, termasuk wisata halal, tanpa menghilangkan identitas dan ciri khas mereka.

Dipublikasi di Cerita perjalanan, Makanan enak | 1 Komentar

Tidak Pernah Bosan Mengasuh dan Mendidik Anak

Bagi saya pribadi Mengasuh dan mendidik anak itu tidak pernah mengenal kata bosan atau capek. Kuncinya adalah melakukannya dengan senang hati dan ikhlas. Biar badan kita sudah lelah dan pegal-pegal mengerjakan berbagai urusan pekerjaan, tetapi jika menyangkut urusan anak maka apapun akan dilakoni. Malam yang sepi dan dingin pun akan ditembus demi urusan anak, begitulah perumpamaannya. Apa yang mendorong banyak orangtua melakukan hal itu? Tidak lain karena rasa tanggung jawab.

Ketika anak saya masih kecil-kecil, setiap hari saya pontang-panting berbagi tugas dengan istri: memandikan, menyuapi makan, antar sekolah, beli berbagai keperluan anak, hingga menemaninya tidur sampai terlelap. Pak pik puk dan kerepotan setiap pagi sudah biasa itu. Rutinitas pagi. Sekali-sekali mengomel karena khawatir anak telat pergi ke sekolah dan kita pun telat pergi ke kantor itu lumrah saja.

Dulu, ketika saya mulai berkeluarga dan punya anak, maka waktu dan pikiran pun harus dibagi-bagi untuk urusan kampus, mahasiswa, orangtua, istri, tetangga, sekolah S2 dan S3, dan tentu saja urusan anak. Hidup kita di dunia ini benar-benar multitasking, multithreading, dan multiprogramming. Satu processor, yaitu otak, harus dibagi-bagi untuk mengerjakan banyak pekerjaan, task, thread, dan program. Itulah hebatnya otak manusia yang diciptakan Allah.

Orangtua di manapun di muka bumi ini pasti merasakan susah senangnya mengurus anak. Keluh kesah pasti adalah, namanya anak juga makhluk hidup, tidak selalu sesuai dengan maunya kita. Anak kita pernah bandel, itu biasa. Anak kita pernah nakal, itu bagian dari perkembangannya. Anak kita pernah tidak mau menurut, itu bagian dari proses kemandiriannya. Jangan pernah berprasangka anak kita tidak menyayangi kita. Itu sama sekali tidak benar. Anak manapun di dunia ini tidak akan pernah melupakan orangtuanya, apalagi tidak menyayanginya.

Jika dipikir-pikir anak-anaklah harta yang paling berharga di dunia ini. Iya, kan? Anak itu anugerah Ilahi. Tidak ada alasan untuk bosan dan capek mengurus anak. Mengasuh dan mendidik anak hanya sekali saja dalam hidup kita ini. Tidak akan terulang lagi.

Dipublikasi di Pendidikan | Meninggalkan komentar

Ber-“lu gue” di Kampus

Ketika saya berada di kampus UKSW Salatiga mengisi sebuah seminar, terdengar mahasiswa ngobrol dengan sesamanya menggunakan kata “kau” dan “aku”.  Tampaknya mereka belum terkontaminasi pergaulan anak muda Jakarta yang pakai sapaan “elo”,”lo” “elu”, “lu”, “gua”, “gue, “gw”.

Di kampus saya di ITB  sudah jarang saya mendengar mahasiswa memakai kata “saya”, “kamu”, “kau”, “aku” ketika mengobrol sesamanya.  Sudah saling pakai kata  “elo”,”gua”, dan sejenisnya, meskipun mereka bukan dari Jakarta dan sekitarnya. Mahasiswa dari daerah Jawa dan luar Jawa pun sudah biasa saja bersaling sapa dengan kata elo gua tersebut. Enakan saja tampaknya. Saya kurang tahu apakah di kampus  lain di Bandung seperti UNPAD, UPI, Telkom University, Unpar, dan lain-lain juga seperti di ITB. ITB sebagai kampus nusantara, yang mana mahasiswanya berasal dari Sabang sampai Merauke, pergaulan mahasiswanya ternyata tidak dipengaruhi oleh kultur Sunda, malah budaya dan gaya pergaulan anak Jakarta, khususnya dalam bercakap-cakap.

Kota Bandung yang dekat dengan Jakarta sudah biasa terimbas style dan gaya pergaulan dari Jakarta, termasuk soal sapaan tadi. Mahasiswa-mahasiswa sesama anak muda, tidak peduli dari daerah mana, cenderung bertutur kata seperti gaya Betawi. Bahkan anak saya yang dibesarkan di tanah Parahyangan dan baru masuk ITB tahun ini pun sudah ber-elu gua kepada sesama temannya di kampus. Terdengar oleh saya dari kamarnya dia berbicara dengan temannya lewat hape memakai sapaan lu  gua. 🙂

Saya masih ingat dulu saat saya jadi mahasiswa ITB, teman-teman saya sudah biasa memanggil dengan kata elo gua itu, saya saja yang masih polos sebagai mahasiswa asal daerah masih ber-saya kamu, he..he. Sampai sekarang pun begitu, merasa aneh saja kalau saya juga menggunakan sapaan lo gua itu kepada orang lain. Tetap ber-saya kamu, tetap dengan jatidiri saya sebagai orang rantau yang tidak terpengaruh gaya Jakarta.

Dipublikasi di Seputar ITB | 3 Komentar