Dosen Co-pas, Mahasiwa Juga Co-pas

Berita yang sangat memprihatinkan dalam dunia pendidikan tinggi dilansir pada berita brerikut: Diduga Mencontek, Ribuan Dosen tak Lulus Sertifikasi. Banyak dosen yang tidak lulus ujian sertifikasi dosen, antara lain penyebabnya karena ketahuan mencontek dengan melakukan copy paste (co-pas) jawaban deskripsi diri temannya yang sudah lulus sertifikasi. Berita lain ada di sini.

Dikutip dari tautan berita di atas:

“Sebagian besar para dosen menulis deskripsi diri, mereka mencontek atau ‘copy paste’ dari dosen yang telah lulus sertifikasi,” katanya pula.

Ghufron memperkirakan para dosen yang tidak lulus itu mencontek deskripsi diri dari dosen yang telah lulus sertifikasi dengan harapan bisa lulus juga. Padahal tim sertifikasi memberi perhatian lebih pada keaslian deskripsi diri tersebut.

“Dosen kita itu lihat ada yang lulus langsung mencontek. Padahal itu harus dihindari dan diperingatkan. Menurut saya, besok di situsnya harus diperingatkan kalau ‘copas’ dijamin tak lulus,” kata dia lagi.

FYI, dalam ujian sertifikasi dosen, peserta diminta menulis deskripsi diri dalam untaian kalimat yang panjang lebar, tidak cukup kalimat pendek saja. Untuk lebih jelasnya seperti apa pertanyaanya, silakan baca tulisan saya yang dulu, Pengalaman Mengisi Dokumen Sertifikasi Dosen. Jika jawabanya hanya satu dua kata atau kalimat pendek, pasti tidak lulus.Bagi dosen yang terbiasa menulis atau membuat karangan, maka menjawab pertanyaan semacam itu bukan sebuah kesulitan. Namun, bagi dosen yang tidak biasa menulis, maka itu adalah pertanyaan yang menyiksa. Karena ingin lulus ujian sertifikasi, maka cara-cara tidak hahal pun dilakukan, misalnya meng-copas jawaban temannnya yang sudah lulus ujian sertifikasi sebelumnya.

Padahal, penilai memerlukan jawaban yang menggambarkan deskripsi diri anda, dan itu harus asli, bukan deskripsi orang lain, bukan? Tentu lucu jika anda menyalin deskripsi   teman anda, karena itu tidak menggambarkan deskripsi anda sendiri.

Tentu saja kejadian di atas sebuah ironi. Dosen yang notabene seorang pendidik diharapkan memberi teladan kepada mahasiswanya, dengan melarang mahasiswa  mencontek dalam ujian atau  copas tugas temannya, namun di lapangan justru melakukan perbuatan yang dilarangnya. Maka, jangan heran jika dosennya saja begitu, bagaimana mahasiswanya.

Lebih ironi lagi jika atasan dosen malah membela anak buahnya yang tidak lulus itu, dengan berkata begini (dikutip dari berita di atas):

“Ini sangat merugikan, kami akan memikirkan bagaimana mekanismenya agar para dosen yang tak lulus ini bisa lulus. Tentunya harus melalui serangkaian tes lagi,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu pula.

Bukannya dosen-dosen yang melakukan copas ini diberi sanksi, tapi ini malah diusahakan lulus dengan memberi serangkaian tes lagi. Apa kata dunia pendidikan kalau begitu?

Dipublikasi di Pengalamanku | 2 Komentar

Peringkat PT Indonesia, masih yang itu-itu lagi

Kemenristekdikti tahun 2016 ini mengeluarkan daftar peringkat Perguruan Tinggi di Indonesia. Hasil peringkat untuk dua belas besar perguruan tinggi (dan perbandingan dengan peringkat tahun 2015) diperlihatkan pada gambar di bawah ini (Sumber data dari sini). Baca juga berita: Ini 12 Besar Peringkat Perguruan Tinggi Indonesia 2016).

peringkat-pt-2016

Peringkat dua belas besar PT d Indonesia (Sumber: Kemenristekdikti)

Ada PT yang peringkatnya naik dan ada yang turun. ITB dan UGM stabil peringkatnya, sedangkan sisanya naik turun. Di Jawa Timur Universitas Brawijaya menggeser ITS dan Unair. Di Jawa Barat hanya ITB yang tetap stabil di peringkat pertama, sedangkan Unpad merosot ke peringkat bawah. Hanya ada dua perguruan tinggi di luar Jawa yang masuk 12 besar, yaitu Universitas Andalas Padang dan Universitas Hasanuddin Makassar. Maka, bolehlah dikatakan Unand dan Unhas adalah perguruan tinggi terbaik di luar Jawa dan  berhasil masuk sebagai PT cluster 1.

Kriteria penilaian peringkat tentu saja dapat diperdebatkan, namun Kemenristekdikti telah menetapkan indikatornya. Indikator penilaian peringkat dihitung berdasarkan kualitas dosen (12%), kecukupan dosen (18%), akreditasi (30%), kualitas kegiatan kemahasiswaan (10%), dan kualitas kegiatan penelitian (30%).

indikator

Indikator yang digunakan dalam penilian PT

Nilai terbesar  untuk pemeringkatan adalah dari poin akreditasi dan kegiatan penelitian, masing-masing 30%. Dalam hal ini untuk kasus ITB memang sangat tinggi nilainya untuk kedua indikator tersebut, karena semua Prodinya berakreditasi A. Dari sisi penelitian ITB juga paling tinggi jika dihitung dari jumlah publikasi ilmiah yang terindeks di Scopus (baca: UI dan ITB “Kejar-kejaran””di Scopus).

Nilai-peringkat-2015-3

Peringkatberdasarkan penbelitian

Dari nilai keseluruhan memang ITB berada pada peringkat pertama, tetapi kontribusi terbesar nilai itu diperoleh dari poin penelitian dan akreditasi, sedangkan untuk indikator yang lain tidak terlalu bagus amat. Nilai  yang sangat mencolok adalah dari kualitas kegiatan kemahasiswaan, ITB  di bawah UI, Universitas Brawijaya, dan UGM.

Nilai-peringkat-2015-2

Peringkat berdasarkan kemahasiswaan

Berdasarkan data pemeringkatan tahun 2015 (tahun 2016 tidak tersedia datanya), nilai ITB jauh di bawah UGM untuk indikator kualitas kegiatan kemahasiswaan, ITB 1.9 sedangkan UGM 4.0. Apakah itu berarti kegiatan kemahasiswaan di ITB melempem? Kalau melihat ramainya kehidupan kampus ITB oleh kegiatan unit-unit kemahasiswaan dari sore hingga malam hari, ternyata itu bukan indikasi kualitas kemahasiswaan. Jika diukur dari prestasi kegiatan yang diadakan oleh Kemenristekdikti seperti PKM, PIMNAS, dll, memang ITB jauh di bawah UGM.

Nilai-peringkat-2015

Nilai skor pemeringkatan PT tahun 2015.

Dari hasil pemeringkatan tahun 2015 dan tahun 2016 saya tidak melihat ada kejutan. Kita dapat membaca bahwa perguruan tinggi yang masuk peringkat atas masih yang itu-itu lagi, sebagian besar masih di Pulau Jawa, hanya Unand dan Unhas  dari luar Jawa yang bisa danggap sejajar. Bahkan untuk 20 besar pun semuanya masih PT di Jawa. Sangat sulit bagi perguruan tinggi di luar Jawa bisa bersaing dengan perguruan tinggi di Pulau Jawa. Agak-agak tidak fair juga membandingkan PT di luar Jawa dengan PT di Jawa. Mereka sudah kalah dalam banyak hal, mulai dari segi pendanaan, kualitas SDM, dana riset,  publikasi, dan sebagainya. Menurut saya Pemerintah belum berhasil menaikkan kualitas PT di luar Jawa. Fokus Pemerintah masih PT di Jawa, sedangkan yang di luar Jawa agak terabaikan.

Dipublikasi di Pendidikan, Seputar ITB | 1 Komentar

Berkunjung ke Batam

Minggu lalu saya berkunjung ke Batam dalam rangka konferensi KNSI 2016 yang diadakan di STT Ibnu Sina, Batam. Ini merupakan kunjungan saya kedua kali ke Batam.

Bagi kebanyakan orang Indonesia, Batam identik dengan kota bisnis, karena memang banyak industri nasional dan multinasional di sana. Bagaikan gula yang dikerubungi semut, banyak orang Indonesia pergi mengadu nasib ke sana guna mencari peruntungan hidup. Ada yang berhasil dan ada pula yang gagal. Sungguh keras hidup di Batam.

Pintu masuk utama ke Batam adalah Bandara Hang Nadim. Bandara ini relatif besar, namun arsitekturnya terkesan kurang modern, mungkin karena bandara ini dibangun semasa sebelum tahun tahun 2000.

13895537_1174236905977666_1999254367568008131_n

Bandara Hang Nadim Batam

13902556_1174236565977700_749246336521815775_n

Di dalam Bandara Hang Nadim

Bagi sebagian orang, Batam berarti batu loncatan ke Singapura, karena jaraknya yang sangat dekat, cukup naik Ferry dari beberapa terminal penyeberangan seperti Batam Center, Nongsa, dan Sekupang. Banyak orang Indonesia memilih berkunjung ke Singapura dari Batam karena ongkosnya lebih murah. Jika menginap di hotel di Singapura tentu tarif hotelnya sangat mahal untuk ukuran kantong orang Indonesia. Jadi, cukup menginap di hotel di kota Batam saja, lalu tur sehari ke Singapura, pergi pagi dan pulang malam. Ferry tersedia dari jam 6 pagi hingga pukul 21 malam, begitu pula sebaliknya ferry dari Singapura. Ongkos sekali naik ferry sekitar 250 ribu rupiah. Anda bisa pergi ke Singapura kapan saja asalkan anda punya paspor. Tidak perlu visa ke Singapura karena untuk negara-negara ASEAN tidak dibutuhkan visa.

13903220_1173317159402974_5740167141761940375_n

Terminal ferry Batam Center

13921039_1173317169402973_679970567283265216_n

Ferry di pelabuhan Batam Center

Batam adalah kota dengan tata letak yang teratur, karena kota ini memang dibuat dari awal. Bukan kota yang tumbuh dari kampung kecil seperti halnya kota-kota lain di Indonesia. Karena kota ini didesain dari awal, maka ada pembagian wilayah untuk pemukiman, industri, dan kawasan untuk bisnis serta perkantoran. Jangan heran, kita tidak akan menemukan rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan, kecuali rumah liar, seperti halnya di kota-kota lain di Indonesia. Rumah-rumah penduduk terkonsentrasi agak ke dalam dari jalan raya. Di Batam status kepemilikan tanah umumnya HGB yang dapat diperpanjang setelah 30 tahun.

Sebagai kota bisnis, maka di Batam banyak terdapat mal dan pusat perbelanjaan. Pusat perbelanjaan tidak terkonsentrasi di tengah kota, tetapi tersebar di setiap kecamatan. Jadi, orang tidak perlu berbelanja di pusat kota, cukup di kecamatannya saja.

Batam juga disebut kota sejuta ruko, karena di sepanjang jalan yang kita lihat adalah ruko-ruko, selain hotel dan perkantoran. Ruko-ruko itu banyak juga yang kosong, yang menandakan strategi pembangunan ruko tidak memperhitungkan faktor keramaian.

Jumlah hotel di Batam jangan ditanya lagi, banyak sekali, mungkin ada ratusan jumlahnya dari hotel kelas ruko hingga hotel berbintang. Di kawasan Nagoya misalnya, kawasan yang menjadi pusat kota Batam, di kawasan ini tak terhitung hotel-hotel kecil yang bangunanya mirip ruko. Pesatnya pertumbuhan hotel di Batam didorong oleh ramainya turis Singapura mengunjungi Batam. Setiap akhir pekan orang Singapura berlibur ke Batam. Mereka berbelanja di Batam yang harga barangnya lebih murah dari Singapura, plus menginap di hotel-hotel yang tarifnya termasuk murah untuk ukuran warga Singapura.

Pesatnya pertumbuhan bisnis dan industri di Batam membuat bisnis hiburan malam hidup subur di Batam. Saya melewati ruko-ruko yang menjajakan hiburan karaoke, spa, sauna, dan lain-lain. Cerita sedih yang saya dengar adalah banyak gadis-gadis dari wilayah lain di Indonesia terjerat human trafficking. Mereka diiming-imingi di daerah asalnya bekerja menjadi pelayan restoran di Batam, tak tahunya dijadikan PSK atau wanita pelayan di tempat-tempat hiburan malam itu. Kalau sudah dijadikan pelacur, susah untuk melarikan diri karena tempat-tempat hiburan itu dijaga bodyguard. (Baca: Netty Heryawan Jemput 10 Korban Trafficking).

Berkunjung ke Batam kurang lengkap jika tidak mengunjungi ikon kota Batam, yaitu jembatan Barelang. Jembatan ini menghubungkan Pulau Batam, Pulau Rempang, dan Pulau Galang. Sungkatan ketiga nama pulau itu menjadi Barelang. Di Pulau Galang terdapat bekas-bekas penampunga pengungsi dari Vietnam. Jbatan inilumayan panjang, saya tidak sempat menjelajahi sampai ke ujung karena hari sudah mulai malam.

IMG_20160812_173129

Jembatan Barelang diwaktu sore

Kuliner yang umum di Batam adalah hidangan laut (seafood). Masakan yang terkenal di Batam ini adalah sop ikan, yang dikenal dengan nama sop ikan batam. Sop ikan yang legendaris adalah sop ikan di restoran Hongkie, katanya belum ke Batam jika belum ke Hongkie🙂. Pedagang sop ikan ini rata-rata warga Tionghoa. Sop ikan terbuat dari daging  ikan tenggiri yang direbus dengan bumbu-bumbu sederhana dan sayur sawi. Kuahnya bening, dan untuk sambalnya adalah potongan cabe rawit did alam ekcap asin. Sungguh nikmat jika dimakan dengan nasi. Sop ikan cukup banyak yang  menjualnya, tidak hanya di restoran Hongkie saja.

13882134_1171232822944741_2407416268092455545_n

Sop ikan batam

Di Batam anda yang muslim perlu berhati-hati dalam memilih makanan, karena banyak juga restoran yang menghidangkan masakan tidak halal. Perlu bertanya dulu ke pelayan atau pemilik restoran apakah masakannya halal atau tidak. Biasanya orang Batam sudha tahu tempat-tempat makanan yang halal atau haram.

Batam adalah kota multietnis. Berbagai suku bangsa ada di sana mencari peruntungan nasib. Ada empat etnik yang mendominasi Batam, yaitu Melayu, Batak, Jawa, dan Minang. Orang Minang cukup banyak di Batam, terbukti penerbangan dari Padang ke Batam dilayani oleh tiga maskapai (Citilink, Lion, dan Sriwijaya) dengan frekuensi lima kali sehari. Orang Batak juga banyak, terbukti dari lapo-lapo tuak dan rumah makan batak yang bertebaran, juga gereja-gereja khas Batak sepeti HKBP, gereja Simalungun, dan gereja etnik Batak lainnya banyak terdapat di Batam.

Masjid tidak terlalu banyak ditemukan di jalan-jalan besar, kebanyakan masjid berada di wilayah permukiman. Saya sempat sholat Jumat di sebuah masjid baru yang katanya dibangun oleh Asman Abnur, urang awak yang sekarang menjadi Menteri PAN-RB yang hasil reshuffle. Nama masjidnya Masji Jabal Arafah.

13907179_1172736679461022_4023004547514526231_n

Masjid Jabal Arafah

13906627_1172736666127690_957395145808667331_n

Suasana di dalam Masjid Jabal Arafah. Lengkungan bertuliskan lafal ‘Allah’ di langit-langit masjid

Meskipun Batam bukan ibukota Propinsi Kepulauan Riau (Kepri), namun di Batam terdapat banyak perguruan tingggi. Ibukota Propinsi Kepri sendiri adalah Tanjungpinang yang terdapat di Pulau Bintan. Kota Batam jauh lebih besar dan lebih ramai daripada kota Tanjungpinang. Perguruan tinggi negeri di Batam hanyalah Politeknik Batam, sedangkan perguruanh tinggi swastanya cukup banyak, diantaranya Universitas Batam, Universitas Internasional Batam, Universitas Putera Batam, STT Ibnu Sina, dan lain-lain. Umumnya mahasiswa PT itu berasal dari Batam sendiri, sangat jarang dari luar Batam. Mayoritas mahasiswa adalah karyawan, sehingga perkuliahan diadakan pada sore sampai malam hari selepas jam kerja. Di STT Ibnu Sina yang menjadi tempat penyelenggaraan KNSI, mahasiswa kuliah dari jam 17 sore hingga pukul 22 malam. Hanya di Politeknik Batam mahasiswa kuliah pagi, yang mahasiswanya rata-rata lulusan SMA fresh graduate.

Begitulah pengalaman saya berkunjung ke kota Batam. Kota Batam yang udaranya gerah dan panas memang cocok untuk tujuan bisnis dan tranist ke Singapura.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 1 Komentar

Mengurus Negara Seperti Mengurus RT?

Bagaimana ya menggambarkan kejadian kemarin? Menteri ESDM yang baru, Arcandra Tahar, yang baru saja dilantik tiga minggu lalu, kemarin diberhentikan karena masalah kewarganegaraan. Dia memiliki paspor ganda, paspor RI dan USA. Ketika Arcandra mempunyai paspor USA, maka otomatis status kewarganegaraan WNI-nya hilang, sebab negara RI tidak menganut sistem dwi-kewarganegaraan. Ini artinya selama dua puluh satu hari negara besar RI memiliki menteri seorang warga negara asing. Bahkan, seorang pengamat mengatakan Arcandra sudah tidak punya warganegara lagi sejak mejabat Menteri ESDM.

Siapa yang salah? Mengapa Pemerintah begitu lalai dalam urusan administrasi yang sangat vital ini? Ini kedua kalinya Pak Presiden Jokowi melakukan kesalahan administrasi yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Kesalahan pertama dulu adalah pada kasus yang dikenal dengan I don’t read what I sign. Jokowi membatalkan Kepres yang baru saja dia tanda tangani berkaitan dengan kanaikan tunjangan pembelian mobil buat pejabat, dengan alasan dia tidak mungkin memeriksa satu per satu halaman yang dia tandatangani.

Kita kasihan kepada Arcandra yang menjadi korban kesalahan administrasi penyelenggara negara (anehnya, Pemerintah tidak mau mengakui disebut kebobolan), meskipun dari sisi dirinya juga ada unsur kesalahan karena tidak memberikan informasi yang jujur sebelum dilantik menjadi Menteri bahwa dia memiliki paspor USA selain paspor Indonesia. Tetapi, kita sebenarnya lebih kasihan kepada rakyat Indonesia yang menjadi “korban” dari orang-orang yang mengurus negara ini dengan gaya amatiran.

Satu keputusan dibuat lalu dibatalkan dengan mudahnya. Hey, apakah ini mengurus negara atau  mengurus RT? Jangan-jangan Presiden kita memang tidak punya kapabilitas mengurus negara yang besar ini. Maaf!

Dipublikasi di Indonesiaku | 5 Komentar

Orang Cina Bandung yang “Nyunda”

Membaca berita kerusuhan rasial di Tanjungbalai, Sumatera Utara, minggu lalu, membuat saya merasa sangat prihatin. Ya, hanya bisa prihatin, karena masalah kecil antara seorang warga keturunan Tionghoa dengan kaum pribumi di kota itu berujung pembakaran rumah ibadah kaum Tionghoa. Peristiwa ini menyiratkan bahwa hubungan antara warga Tionghoa dengan penduduk pribumi di sana masih menyimpan masalah terpendam, yang sewaktu-waktu bisa meledak bagaikan bara di dalam sekam. Ada masalah sedikit saja, maka akan ada pihak ketiga yang memprovokasi warga untuk melampiaskan kemarahan sekaligus mengambil kesempatan dalam kesempitan (pencurian misalnya). Kerusuhan SARA di Indonesia memang setiap waktu bisa meletup gara-gara masalah sepele.

Saya tidak pernah hidup di Sumut, jadi kurang tahu seperti apa hubungan antara etnik di sana, khususnya antara penduduk pribumi dengan warga keturunan. Saya hanya dengar-dengar saja jika orang cina di Medan atau Sumut agak patentang-patenteng gitu. Kata orang di sana, agak songong. Entahlah. Yang saya tahu adalah kondisi di Bandung. Saya sudah tiga puluh tahun tinggal di Bandung, dan saya melihat sendiri hubungan antara etnik Tionghoa dengan warga pribumi (Sunda) di Bandung terjalin sangat baik.

Orang Tionghoa di Bandung berbaur dengan orang Sunda. Jangan heran jika anda datang ke Bandung, orang-orang cina di sini berbicara dalam Bahasa Sunda.  Mereka memakai bahasa Sunda bukan hanya kepada orang pribumi, tetapi juga kepada sesama orang Tionghoa lainnya.

Contohnya enchi di bawah ini. Nci atau enchi adalah panggilan buat wanita cina di Bandung. Enchi-enchi ini pedagang sepeda di Jalan Veteran, Bandung. Jalan Veteran di kawasan Kosambi merupakan sentra toko-toko sepeda di Bandung. Toko-toko sepeda di Kosambi para pemiliknya umumnya dari etnik Tionghoa. Mereka mempekerjakan orang Melayu ( Sunda) sebagai pegawai teknisi sepeda. Simbiosis Cina-Melayu sudah umum di mana-mana. Ada relasi saling membutuhkan antara keduanya.

cina3

Jalan Veteran Bandung, salah satu kawasan perniagaan yang banyak diiisi oleh toko-toko sepeda.

Sejak anak masih balita hingga remaja saya sudah langganan beli sepeda di toko enchi ini. Mulai dari sepeda roda tiga hingga sepeda gunung. Tukar tambah sepeda bisa di tokonya, jadi sepeda lama yang dulu saya beli di toko si enchi bisa saya tukar lagi dengan sepeda baru.

Enchi ini wanita tua yang ramah. Bicaranya pelan dan lembut. Dia bicara pakai bahasa Sunda, bahkan kepada anaknya dan kepada sesama enchi pun tetap pakai bahasa Sunda, bukan bahasa Mandarin. Bahasa Sundanya halus, tak beda dengan orang Sunda umumnya, malah lebih halus dari orang Sunda kebanyakan, dengan logat  Sunda yang kentara. Rata-rata orang Tionghoa di Bandung memang berbicara dengan bahasa Sunda sehari-hari. Mereka bergaul dengan pribumi, di sekolah-sekolah, termasuk sekolah yang banyak diisi orang cina,  diajarkan muatan lokal yaitu bahasa Sunda. Secara bahasa mereka sudah menyatu dengan pribumi di sini. Mereka sudah menjadi Sunda sejak kecil, hanya secara rupa saja yang berbeda.

cina1

Enchi, pedagang sepeda yang ramah

cina2

Sepeda-sepeda di toko si enchi

Sejauh yang saya ketahui setelah tiga puluh tahun tinggal di Bandung, harmoni antara etnik Tionghoa dan etnik Sunda terjaga dengan baik. Belum pernah terjadi kerusuhan rasial antara kedua etnik ini. Mungkin seperti kata saya tadi, orang Cina di Bandung sudah menjadi Sunda sejak kecil. Faktor rukun ini ditambah lagi dengan sifat orang Sunda yang ramah terhadap kaum pendatang,  sehingga keberadaan orang cina diterima dengan baik.

Menurut saya, salah satau cara agar terjadi harmoni antara etnik berbeda di tanah air, resepnya adalah menyesuaikan diri dengan budaya lokal. Berbicara dengan bahasa lokal, misalnya, itu adalah salah satu cara agar bisa diterima. Orang-orang cina di Jawa, Padang, Manado, dan lain-lain yang saya ketahui juga berbicara dalam bahasa lokal. Di negara-negara seperti Thailand, Vietnam,  Laos, dan lain-lain, orang Cina malah menjadi pengikut Budha sesuai dengan agama mayoritas di sana. Di Filipina orang-orang cina beragama Katolik sesuai agama mayoritas di sana.

Hanya di Indonesia asimilasi itu berbeda, orang Cina tidak mengikuti agama mayoritas pribumi karena faktor penjajahan Belanda. Penjajah Belanda mengkategorikan penduduk menjadi kelas-kelas sosial. Orang Belanda dan keturunan Indo-nya merupakan warga kelas satu, orang Tionghoa warga kelas dua, dan orang pribumi warga kelas tiga. Berbeda kelas maka berbeda pula pergaulannya, termasuk budayanya. Warga kelas satu tidak mau serupa dengan warga kelas dua atau tiga, warga kelas dua juga tidak mau serupa dengan warga kelas tiga. Serupa itu dalam pengertian budaya dan agama. Jadi, warga Belanda dan kaum Indo beragama Kristen, warga Cina beragama Budha atau Khong Hu Chu, dan warga pribumi beragama Islam (khususnya di Jawa).

Oleh karena itu, proses pembaruan Tionghoa dan pribumi di Indonesia masih menyisakan masalah hingga saat ini. Jika agama tidak mungkin bisa disatukan, maka pembauran bisa dilakukan secara budaya. Contohnya berbahasa lokal seperti orang Cina di Bandung. Mereka sudah nyunda sejak kecil.

Dipublikasi di Indonesiaku, Seputar Bandung | 5 Komentar

Apa yang Bisa Dibaca dari Reshuffle Kabinet?

Jokowi melakukan reshuffle kabinetnya kemarin siang. Nama-nama  menteri baru  menggeser menteri lama, beberapa orang berganti posisi, sedangkan beberapa orang lagi tidak tersentuh. Meskipun pergantian menteri adalah hak perogeratif Presiden, namun reshuffle ini menyisakan banyak pertanyaan yang tak terjawab. Di bawah ini adalah opini penulis semata, boleh setuju boleh tidak ya.

1. Pergantian Anies Baswedan
Banyak masyarakat yang kaget dengan penggantian Anies Baswedan menjadi Mendikbud. Setahu saya Pak Anies ini orang yang baik, perhatiannya terhadap dunia pendidikan jangan ditanya lagi. Program Indonesia Mengajar adalah salah satu idenya yang mendapat banyak dukungan dan simpati dari masyarakat. Selama menjadi menteri memang tidak ada kebijakannya yang radikal, namun banyak kebijakannya mendapat sambutan yang baik. Misalnya, meningkatkan integritas sekolah atau kejujuran dalam Ujian Nasional (UN), pelarangan kegiatan perpeloncoan dalam kegiatan MOS (Masa Orientasi Sekolah), penghapusan bullying, dan terakhir himbauannya kepada orangtua untuk mengantar anak ke sekolah pada hari pertama tahun ajaran baru.

Anies menjadi Menteri mungkin sebagai bentuk “balas budi” dari Jokowi karena telah menjadi relawan pendukungnya selama Pilpres. Namun, popularitas Anies Baswedan yang banyak mendapat simpati mungkin dapat mengancam popularitas Jokowi yang ingin menjadi Presiden pada periode kedua. Jadi, daripada memelihara anak macan yang dapat menjadi harimau ketika besar, maka lebih baik Jokowi menyingkirkannya sekarang.

2. Semakin kuat dukungan Jokowi kepada Ahok
Pergantian sejumlah menteri menyiratkan Jokowi melindungi Ahok. Menko Kemaritiman, Rizal Ramli, yang saat ini “berseteru”dengan Ahok terkait dengan proyek reklamasi, akhirnya harus tersingkir. Ini berarti proyek reklamasi tidak akan mendapat hambatan lagi karena Menteri yang menentangnya telah ditendang. Dia digantikan oleh Luhut Panjaitan, dan kita semua tahu Luhut adalah teman dekat Jokowi yang selama ini dilihat oleh masyarakat mempunyai peran lebih tinggi dari Presiden.

Perkataan Ahok bahwa Jokowi bisa menjadi Presiden karena didukung pengembang menunjukkan arah kebenaran ketika Menteri Perdagangan yang baru adalah Enggartyasto Lukita, yang dikenal dulunya sebagai pengusaha porperti. Reklamasi Teluk Jakarta yang ditentang banyak pihak karena dianggap lebih menguntungkan para taipan pengusaha properti dan akan menjadi pulau tempat tinggal orang-orang kaya menunggu buktinya nanti.

3. Pelanggar HAM, dulu dihujat sekarang diangkat
Ketika Pilpres 2014, Capres Prabowo sering dibuli oleh pendukung Jokowi maupun oleh media arus utama karena masa lalunya yang kelam terkait pelanggaran HAM. Salah satu penyebab kekalahannya saat Pilpres adalah gencarnya isu pelanggaran HAM yang dihembuskan para pendukung lawannya. Namun sekarang, Jokowi malah mengangkat Wiranto sebagai Menko Polhukam, padahal Pak Wiranto juga punya masa lalu yang kelabu dalam pelanggaran HAM. Isu pelanggaran HAM ini sempat menjadi bahan untuk menjegal pencapresannya pada Pilpres 2009. Namun sekarang para pembuli itu (termasuk media dan aktivis yang dulu garang terhadap Wiranto dan Prabowo) terlihat diam tak bersuara ketika Wiranto diangkat menjadi Menteri yang berkaitan dengan HAM. Jadi, benarlah adagium yang mengatakan “jika dia di kubu lawan, maka apapun yang dia katakan adalah salah, tetapi jika dia di kubu kami maka apapun yang dikatakannya selalu benar”.

4. Menteri yang tak tersentuh
Menko Kesra Puan Maharani nyaris tidak punya prestasi. Dia kalah pamor dengan menteri di bawah koordinasinya sendiri, yaitu Anies Baswedan. Namun yang menjadi “korban” reshuffle justru orang baik seperti Anies Baswedan. Puan tidak tersentuh mungkin karena dia adalah puteri Sang Ratu. Sebagai petugas partai, tidak mungkinlah Jokowi berani macam-macam kepada Ibunda Ratu.

Untuk menteri-menteri lain yang diganti memang sudah seharusnya, misalnya Menpan Yuddy Chrisnandi yang  tidak bisa menjaga konsistensi dengan peraturan yang dibuatnya sendiri. Sedangkan  Menhub  Ignatius Jonan  mungkin dianggap mbalelo karena tidak setuju dengan proyek kereta api cepat yang diusulkan Jokowi. Menteri yang lainnya entahlah, saya tidak tahu banyak.

Nah itulah analisis saya terhadap reshuffle kemarin. Bisa jadi benar bisa jadi salah, namanya saja opini pribadi.

Dipublikasi di Indonesiaku | 4 Komentar

Pokemon Tidak Perlu Dilarang

Permainan online berbasis augmented reality dan teknologi GPS yang lagi heboh saat ini adalah Pokemon. Di dalam permainan yang menggunakan gawai ini, pengguna berburu monster lucu  di berbagai tempat. Semakin banyak dan semakin langka monster yang ditangkap, semakin mengasyikkan dan membuat penasaran hingga ketagihan.Di bawah ini gambar permainan Pokemon (Sumber gambar dari sini).

pokemon-go-nick_statt-screenshots-2.0

Layar permainan Pokemon.

pokemon-go-nick_statt-screenshots-1.0

Monster dari permainan Pokemon ini berbasis augmented reality, dia muncul dengan latar belakang berupa gambar dunia nyata yang ditangkap oleh kamera perangkat gawai.

Positifnya,  pemain Pokemon perlu banyak berjalan kaki sampai berkilo-kilo meter untuk berburu monster di tempat-tempat yang dianggap banyak monster bersembunyi, sehingga membuat tubuh sehat. Negatifnya, karena mata selalu tertuju pada layar gawai sambil berjalan kaki, si pengguna mungkin tidak awas sehingga bisa jatuh, tertabrak, atau menabrak orang lain. Bahkan ada orang yang tidak peduli adab sampai berburu Pokemon ke dalam masjid, tidak sadar mereka memakai celana pendek. Masuk masjid kok tidak punya tata krama begini.

Cari-Monster-Pokemon-Dua-Pria-Bercelana-Pendek-Menyelonong-ke-Masjid-Cheng-Hoo-Pandaan-Pasuruan-by-Tafdil-31wdr6qacv5x91smqv5r7k

Nyelonong ke dalam masjid mencari Pokemon, tidak sadar menggunakan celana pendek. Sumber gambar: hidayatullah.com

Sebegitu hebohnya permainan ini, lembaga Pemerintah dan lembaga layanan masyarakat sampai perlu mengeluarkan edaran larangan bermain Pokemon di instansinya, seperti edaran yang dikeluarkan oleh Menpanlarangan dari kepolisian, dan larangan yang diekluarkan banyak Pemda. Bahkan para ulama NU pun mulai membahas hukum bermain Pokemon hingga mengeluarkan hukum makruh sampai haram.  Ada juga yang khawatir kalau pembuat Pokemon punya agenda terselubung untuk mengumpulkan data dari GPS untuk tujuan intelijen sehingga membahayakan negara. Kalau alasannya demikian, kenapa hanya Pokemon yang dipermasalahkan? Banyak juga kan aplikasi online lain yang menggunakan GPS seperti Gojek, Grab Taxi, Waze, Instagram, Twitter, Facebook, dan lain-lain tetapi kok tidak dilarang? (baca tulisan rekan saya ini yang meninjau dari sisi keamanan: Keamanan Aplikasi Pokemon Go).

Ya, ya, Pokemon telah membuat banyak orang sibuk sampai membuat larangan segala. Saya punya pendapat  agak berbeda. Pokemon tidak perlu dilarang, karena dia tidak menakutkan seperti yang kita kira. Ini permainan yang sifatnya trend sesaat saja, sedang mode saja, lama-lama juga nanti orang akan bosan sendiri. Sifat dasar manusia adalah selalu tertarik mencoba sesuatu yang baru atau sensasi baru, setelah lama dipakai akhirnya jenuh, ternyata ya cuma begitu-begitu saja. Akhirnya hilang sendiri deh itu permainan, digusur permainan baru yang muncul selanjutnya. Ingat dulu pernah heboh permainan angry birds, tomagochi, dll, yang sudah tidak terdengar lagi  beritanya. Sebagian pengguna fanatik mungkin akan bertahan, tetapi sebagian besar pengguna hanya coba-coba saja untuk memenuhi rasa ingin tahu.

Jadi, ya begitulah, tidak perlu lebay. Jangan sampai energi ini dihabiskan untuk membahas hal-hal yang kurang esensial begini.

Dipublikasi di Gado-gado, Indonesiaku | 7 Komentar