Tegak lurus yang tidak tepat

“Kita harus tegak lurus mengikuti arahan Ibu Ketua Umum”, kata Puan Maharani kepada kader partai PDIP (Berita: “Puan Bertekad PDIP Hattrick Menang Pemilu, Kader Tegak Lurus Megawati” )

“Golkar selalu tegak lurus pada peraturan,” kata Nurul Arifin dalam keterangannya, Senin (11/4/2022).
Nurul menyampaikan selama ini Golkar selalu mengikuti aturan terkait Pemilu, termasuk Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden. (Berita: “Dukung Pemilu 2024, Nurul Arifin: Golkar Selalu Tegak Lurus pada Aturan” )

Relawan Jokowi Plat K meneguhkan sikap mendeklarasikan untuk tegak lurus setia 2024 bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi), dalam acara Silahturahmi Daerah (Silatda) eks karesidenan Pati Plat K yang terdiri dari Kabupaten Pati, Rembang, Grobogan, Blora, Kudus, Jepara. (Berita: Relawan Plat K Tegak Lurus Setia Bersama Jokowi hingga 2024)

“Menteri-menteri harus tegak lurus dengan kebijakan presiden”, kata seorang pengamat politik dalam penjelasannya di Jakarta kemaren.”

Saya sering mendengar dan membaca pernyataan seperti itu, kata tegak lurus. Ini pengunaan istilah matematika yang tidak tepat. Kenapa digunakan istilah “tegak lurus”? Bukankah tegak lurus itu berarti berbeda 90 derajat? Satu ke barat satu ke utara, atau satu ke timur ssatu ke selatan. Berarti tidak sejalan kalau begitu. Ibarat dua vektor yang ortogonal, hasil kali titiknya sama dengan 0. Saling meniadakan.

Istilah yang tepat adalah “paralel” yang berarti “searah” atau “sejalan”, jadi tidak ada perbedaan. Atau “selaras”, “sinkron”, dan sebagainya. Tererah pakai istilah yang mana yang lebih pas.

Jadi, seharusnya:

“Kita harus sejalan mengikuti arahan Ibu Ketua Umum” atau “Kita harus selaras mengikuti arahan Ibu Ketua Umum”

“Golkar selalu searah pada peraturan,” atau “”Golkar selalu paralel pada peraturan,””

“Menteri-menteri harus selaras dengan kebijakan presiden” atau “Menteri-menteri harus sejalan dengan kebijakan presiden”

Dipublikasi di Gado-gado | Meninggalkan komentar

Di dalam doa anakku, namaku disebut

Si bungsu (yang masih SMP) setiap selesai sholat, baik sholat sendiri maupun sholat berjamaah di rumah atau di masjid, selalu berzikir dan berdoa cukup lama. Beda dengan diriku yang bezikir dan berdoa sebentar lalu cepat berdiri setelah sholat. Jadi malu sendiri dengan anakku 🙂

Karena sering lama seperti itu, maka suatu kali, setelah selesai berdoa, saya pun iseng bertanya kepadanya.

Apakah ada kamu selipkan ayah dan ibumu di dalam doamu, Nak?, tanyaku kepadanya.

Ada, jawabnya pendek.

Alhamdulillah, di dalam doa anakku namaku disebut (pinjam judul lagu penyanyi cilik, Nikita, Didoa Ibuku Namaku Disebut).

Tissu mana tissu. 😢

Tentu saja saya merasa terharu. Saya tidak pernah meminta dia mendoakan kami, tidak pernah menyuruh. Mungkin dia dapat ilmu itu dari guru agama di sekolah, atau dari guru mengajinya di TPA waktu masih SD dulu? Entahlah…

Salah satu kebahagiaan orangtua jika mereka sudah tiada nanti di dunia ini adalah doa anak yang sholeh yang mendoakan ibu-bapaknya. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim berbunyi begini (dikutip dari sini):

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” (HR Muslim).

Jadi, meskipun kita nanti sudah tidak ada di dunia ini, sudah dipanggil oleh Allah SWT, amal pahala kita masih terus mengalir dari sedekah jariyah yang pernah kita berikan selama di dunia, dari ilmu yang bermanfaat yang pernah kita ajarkan kepada orang lain, dan jika tidak ada keduanya, maka minimal dari anak sholeh yang selalu mendoakan kita.

Saya tahu hadis ini sejak kecil. Dulu ketika ibu bapak saya masih hidup, saya sering mendoakan mereka setiap selesai sholat, Sekarang pun, meski saya sudah yatim piatu (sudah tidak punya kedua orangtua lagi), namun saya tetap selalu mendoakan mereka yang sudah berada di alam sana setiap selesai sholat. Doa apakah itu? Doa memohon kepada Allah SWT untuk mengampuni kedua orangtuaku.

Mudah-mudahan anak-anakk selalu menyelipkan nama kami di antara doa-doanya. Harta yang paling berharga adalah anak yang sholeh, bukan?

Dipublikasi di Agama | Meninggalkan komentar

Hujan dan Jemuran Mahasiswa Kos

Saat mengajar di kelas, tiba-tiba hujan deras turun. Semua mata mahasiswa menoleh ke arah jendela, melihat hujan turun dengan lebatnya. Terlihat sebagian mereka agak gelisah. Mungkin gelisah memikirkan bagaimana pulang ke kosan nanti?

Saya pun bertanya kepada mereka:

+ Kenapa kalian tampak gelisah? Ingat jemuran di kosan basah kuyup ya?

Semua mahasiswa tertawa. Hahaha…

Saya pun bercerita. Dulu saat saya jadi mahasiswa ITB, saya biasa mencuci pakaian sendiri, baik waktu ngekos maupun saat tinggal di asrama mahasiswa ITB. Tiga hari sekali mencucinya. Ditumpuk dulu semua pakaian kotor di dalam keranjang. Nggak repot-repot amat mencucinya, cukup direndam di dalam ember dengan deterjen Rinso. Rinso kan mencuci sendiri (demikian bunyi tagline iklan Rinso zaman itu) 🙂 . Biarkan rendaman cucian selama satu jam, kucek-kucek, lalu bilas. Setelah diperas, dijemur di atas atap kosan (ada tali jemuran di atas atap), kemudian ditinggal pergi kuliah. Sore atau siang sepulang kuliah jemuran sudah kering.

Nah, apesnya saat sedang asik kuliah di kampus, tiba-tiba hujan turun. Saya yang sedang mendengarkan dosen menerangkan kuliah langsung buyar fokusnya, teringat cucian di jemuran tadi, pasti basah lagi. Siapa yang mengangkat jemuran saya nih? Apakah ada teman yang sedang berada di kosan mau membantu mengangkatnya sebelum hujan? Hihihihi…kalau semua teman kosan juga sedang di kampus, apes deh, nggak selamat jemuran saya.

Kalau semua pakaian basah dan tidak punya persediaan yang kering lagi, terpaksa deh saya pakai CD side A side B. Hahahaha…

Namun ketika saya dan teman-teman satu alumni SMA mengontrak rumah ramai-ramai, maka saya tidak lagi mencuci sendiri. Kami mengambil pembantu yang dipanggil bibi. Bibi ini umumnya warga sekitar rumah kontrakan kami. Kami iuran per orang per bulan untuk menggaji bibi. Selain mencuci baju dan menyetrika pakaian kami, bibi bertugas berbelanja ke pasar, memasak dan menyiapkan sarapan untuk kami. Kami tinggal belajar dan kuliah saja, tidak pusing urusan mencuci dan makan lagi. Tetapi tinggal bersama dalam satu kontrakan hanya setahun saja, setelah itu kami berpisah dan kos sendiri-sendiri. Saya pun mulai mencuci sendiri lagi.

Kalau mahasiswa kos zaman sekarang apa masih ada yang mencuci sendiri ya? Sekarang kan serba mudah, jika malas mencuci, cukup cuci pakaian di tempat laundry saja. Laundry ada di mana-mana. Murah lagi, sebab hitungannya per kilo pakaian. Nggak perlu resah jika hujan turun saat sedang di kampus.

Dipublikasi di Pengalamanku | Meninggalkan komentar

Nasi Goreng Ibu

Anak saya yang bungsu, kalau mau sarapan pagi seringkali minta nasi goreng. Nasi goreng ibu, katanya. Kalau ibunya yang membuatkan nasi goreng maka makannya selalu habis. Namun jika saya yang memasakkan nasi goreng maka seringkali tidak habis dimakannya, selalu saja bersisa. 😦

Padahal bumbu nasi goreng yang saya dan istri gunakan sama, bumbu sederhana saja, yaitu bumbu racik instan dari Indofood. Cara memasaknya juga sama, yaitu panaskan satu sendok margarin blue band di atas panci teflon, masukkan telur, campurkan nasi, tambahkan bumbu racik Indofood, garam, lalu aduk-aduk, udah gitu aja.

Nasi goreng minimalis untuk si bungsu

Mungkin beda tangan yang membuat dan beda sentuhan bisa beda rasa ya nasi gorengnya. Mungkin juga faktor hubungan batin ibu dan anak membuat masakan jadi lebih enak kali ya. Ibu memasak dengan kasih, ayah memasak dengan cinta. (Eh, sama aja ya.. 🙂 )

Menurut saya, di rumah kita memang seharusnya ada sesuatu seperti masakan kesukaan anak buatan orangtuanya yang akan dirindukan oleh anak saat mereka jauh dari rumah nanti. Membuat mereka rindu rumah dan kangen dengan masakan ibu/ayahnya. Membuat mereka rindu untuk pulang.

Sama seperti kita orang dewasa, kita pun sering merasa kangen dengan masakan orangtua kita saat kita jauh di negeri orang. Rindu masakan yang dulu sering dibuat oleh ibu saat kita kecil. Orangtua kita tahu betul apa makanan kesukaan kita, dan saat kita pulang ke rumah masakan itulah yang dicari atau diminta buatkan, atau bahkan tanpa diminta orangtua kita sudah menyiapkan masakan itu ketika kita pulang ke rumah.

Jadi, penting bagi orangtua untuk mengingat apa yang menjadi kesukaan anak kita saat mereka masih tinggal di rumah. Mungkin kita kadang-kadang jengkel karena anak merengek-rengek minta dibuatkan makanan kesukaanya. Jangan pernah merasa repot dan cape mengurus anak, sebab masa-masa mengasuh anak itu hanya sekali saja dalam seumur hidup. Sebelum nanti kita menyesal karena telah melewatkan masa-masa yang berharga itu sehingga tidak meninggalkan kenangan manis pada anak kita.

Dipublikasi di Pengalamanku | 1 Komentar

Kabar Bahagia dari Mahasiswaku

Seorang guru atau dosen di manapun pasti merasa bahagia mendengar muridnya berhasil dalam pendidikan atau karirnya. Meski bukan suatu keharusan bagi mereka memberitahukan kepada dosennya, namun adakalanya beberapa mahasiswaku mengirim kabar bahagia melalui surel atau pesan di whatsapp. Sekedar berbagi kabar gembira itu, mungkin.

Seperti dua kabar berikut ini.

Yth.

Bp. Rinaldi Munir

di tempat

Dengan hormat,

dengan diselenggarakannya acara wisuda pada hari ini, saya, …….. (nama sengaja dirahasiakan, Red) — yang juga merupakan mahasiswa perwalian Bapak sewaktu S1 — hendak mengucapkan terima kasih. Saya berterima kasih atas bimbingan Bapak selama 3 tahun saya berkuliah di informatika ITB. 

Selain itu, seperti yang mungkin sudah Bapak ketahui, saya akan melanjutkan studi PhD ke University of Trento. Terkait hal tersebut, Bapak merupakan orang pertama yang saya mintai pendapat terkait profesi dosen, yang tentunya berperan dalam keputusan saya apply studi lanjut. Saya berterima kasih atas pendapat/ referensi/ nasihat yang Bapak berikan pada waktu itu.

Akhir kata, saya juga mohon maaf apabila selama menjadi mahasiswa perwalian Bapak ada kesalahan yang pernah saya lakukan. Saya berdoa agar Bapak sehat selalu dan terus menginspirasi.

Alhamdulillah, saya ikut senang membaca surat tersebut. Sejak dia kuliah di Informatika ITB, saya tahu betul dia seorang anak perempuan yang sangat cerdas. Kalau duduk selalu paling depan di ruang kuliah, mendengarkan dosen menjelaskan materi kuliah dengan seksama, sekali-sekali dia mencatat pada buku catatannya. Tekun sekali. Kalau berpapasan dengan dosen di jalan dia selalu menyapa dengan santun. Setelah menempuh program fastrack (S1 dan S2 sekaligus) di ITB selama 4 + 1 tahun, dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke level pendidikan yang lebih tinggi, S3, di Italia.

Ah, bahagia sekali mendengarnya….

Kabar bahagia yang kedua saya terima baru-baru ini dari seorang mahasiswa saya yang pernah menjadi asisten lab. Dia mengabarkan melalui aplikasi perpesanan, whatsapp:

+ Assalamu’alaikum Pak Rinaldi, selamat sore. Semoga Bapak sehat selalu.

+ Pak Rinaldi, saya mohon izin update terkait status pendaftaran program PhD saya

+ Alhamdulillah, saya menerima 6 Letter of Acceptance dari 14 kampus yang saya daftar : University of Illinois Urbana Champaign, Purdue, Penn State, UC Santa Barbara, Virginia Tech dan SUNY Stony Brook

+ Syukur juga Pak saya diterima di pilihan pertama saya (Illinois), jadi Insya Allah saya akan lanjut PhD di Illinois

+ Untuk program PhD di Illinois dijamin funded selama keberlangsungan programnya Pak. Jadi, saya tidak perlu untuk apply beasiswa semacam LPDP/Fullbright.

+ Insya Allah saya akan berangkat ke US bulan Juli/Agustus tahun ini.

+ Terima kasih banyak Pak atas bantuan dan bimbingannya selama studi saya di ITB 🙏🙏

Alhamdulillah. Saya merasa ikut senang dan terharu. Mudah-mudahan dia sukses menempuh studi PhD di kampus yang diidamkannya di Amerika. Seperti mahasiswiku di atas, saya mengenalnya sebagai mahasiswa yang sangat antusias belajar. Duduk selalu paling depan di ruang kuliah. Sejak menjadi mahasiswaku, sudah terlihat ketertarikannya dalam bidang keilmuan. Karena minatnya yang kuat dengan keilmuan dan riset, saya memilihnya menjadi asisten mata kuliah yang saya ampu. Sekarang dia berjodoh dengan program PhD di Amerika dan akan melakukan riset di sana.

Dari kedua tulisan (surel maupun whatsapp) yang dikirim kepada saya, terlihat sekali mereka memiliki adab yang sangat baik. Betul kata orang-orang bijak, dalam menuntut ilmu kepada guru, adab dulu yang didahulukan, baru ilmu. Beruntunglah kami memiliki mahasiswa-mahasiswa yang tidak hanya cerdas tetapi juga baik etikanya.

Itu hanyalah beberapa kabar bahagia yang saya terima dari mahasiswa-mahasiswa saya. Masih banyak lagi, semuanya terekam dengan jelas dalam ingatan saya.

Murid harus lebih maju dari gurunya. Mahasiswa harus lebih pintar dari dosennya. Mereka berhasil, kami pun ikut bahagia.

Dipublikasi di Seputar Informatika | Meninggalkan komentar

Serumah dengan Pasien Covid

Tiga minggu lalu, hari Jumat sore, istri saya pulang dari Surabaya. Sehari setelah tiba di rumah dia biasa-biasa saja. Tapi tiga hari kemudian, hari Senin, dia mulai merasa tidak enak badan. Malam hari badan terasa demam. Keesokan harinya tenggorokan dan kerongkongan mulai terasa sakit, susah menelan makanan. Batuk pun mulai terdengar satu satu. Jangan-jangan…., ya jangan-jangan positif. Kata positif dulu konotasinya untuk kehamilan, sekarang berganti untuk kasus covid. Dulu saat awal menikah kata yang ditunggu-tunggu adalah positif, sekarang kata yang didambakan adalah kata negatif. 🙂

Hari Selasa sore dia minta diantar oleh anak saya yang nomor dua untuk tes rapid antigen di klinik Medika Antapani. Setelah menunggu tiga puluh menit, hasilnya keluar. Qadarullah, positif!

Saya pun terhenyak mendengarnya. Sudah dua tahun sejak pandemi dimulai bulan Maret 2020, belum pernah ada kasus positif di rumah kami. Akhirnya pertahanan itu jebol juga. Yang terkena adalah istri saya yang mungkin dapat oleh-oleh virus itu di Surabaya atau di atas kereta api (Bandung-Surabaya naik kereta Argo Wilis pp). Tak tahulah dapat di mana. Istri sudah vaksin dua kali. Anak-anak di rumah juga sudah vaksin dua kali, sedangkan saya sudah booster (vaksin ketiga).

Setelah istri sampai di rumah dari klinik, maka SOP pun saya terapkan. Istri isoman saja di kamarnya. Keluar hanya jika ke kamar mandi saja. Kalau keluar kamar pun harus pakai masker. Makan minum saya antarkan ke depan pintu kamar. Anak-anak diminta tidak ke kamar ibunya dan tidak berada dekat-dekat dengan ibunya. Kalau istri mau keluar kamar, maka anak-anak saya suruh mengumpet dulu di kamar. Pembantu rumah tangga pun saya suruh menjauh ke belakang rumah. Hehehe…, agak parno ya, tapi bagaimana lagi, ini kan dalam rangka ikhtiar tidak terkena. Kalau terkena semua kan gawat. Apalagi kami punya anak sulung yang ABK (anak berkebutuhan khusus), yang tidak paham apa itu covid, dan tidak mungkin bisa diisolasi jika terkena. Dia tidak bisa diam. Maklum anak autis.

Setelah berdiskusi dengan istri via WA, akhirnya pembantu rumah tangga yang biasa datang pagi dan pulang sore terpaksa saya “rumahkan”. Tidak usah masuk kerja dulu, karena dia punya komorbid, diabetes, dan lagipula dia belum pernah vaksin sama sekali (karena kadar gulanya tinggi, di atas 200 sehingga tidak bisa divaksinasi). Jika dia terkena bisa parah ‘kan?

Setelah pembantu pulang, malam hari anak sulung yang ABK itu badannya panas. Semalaman dia gelisah tidur. Saya pun agak panik. Jangan-jangan…. ah, tetapi pikiran itu saya buang, karena anak sulung ini mudah masuk angin. Jika masuk angin maka badannya pasti demam. Saya ukur suhunya 38 deajat. Saya pun tidak bisa tidur semalaman karena si sulung terus terbangun. Saya kompres dahinya, saya usap badannya dengan minyak kayu putih, dan saya minumkan Decolgen. Itu cara saya yang biasa menurunkan demamnya. Keputusan merumahkan pembantu ternyata tepat, saya khawatir saja dia tertular dari anak saya.

Besok pagi panas si sulung mulai turun. Dia mulai ceria lagi. Tapi sore harinya panasnya mulai naik lagi. Minum Decolgen lagi, dan alhamdulillah malamnya sudah normal kembali. Jadi saya makin yakin dia memang masuk angin saja atau kemasukan virus flu. Tinggal saya yang karena tidak tidur semalaman maka badang terasa tidak enak, tetapi tidak panas. Batuk mulai satu-satu.

Kembali ke istri saya. Dia hanya di kamar saja, tidur saja, karena badan tidak enak. Batuk pun mulai keras. Obat gratis yang diharapkan dikirim dari Kemenkes tidak datang-datang, padahal di aplikasi Peduli Lindungi statusnya sudah hitam (yang berarti terkena covid). Kemenkes sudah menghubungi istri via WA, tetapi anehnya disuruh menghubungi Puskesmas Kuta, Bali. Kacau nggak tuh data di Peduli Lindungi, kok Kuta? Ini kan di Bandung Jawa Barat gaesss. Hehehe…

Akhirnya saya menghubungi Rosye, teman di Dinas Kesehatan Kota Bandung, minta dikirimi obat untuk penderita covid. Kok nggak dari awal-awal, katanya? Dengan sigap dia kirim paket obat ke rumah via gojek. Isinya tiga macam obat: pertama obat antivirus yang namanya Avigan, lalu multivitamin + zinc, dan terakhir vitamin D3 1000 IU. Avigan sebanyak 40 tablet, diminum pada hari pertama 2 x 8 butir (haaa? 8 butir sekali minum? ), hari ke-2 sampai hari ke-5 sebanyak 2 x 3 butir. Multivitamin satu kali sehari saja untuk 10 hari. Kalau badan masih panas minum parasetamol saja. Begitu juga kalau batuk pakai obat pasaran saja.

Paket obat untuk pasien covid

Jadi, selain istri, di rumah hanya saya dan si sulung ABK yang gejalanya seperti orang positif covid omicron karena ada batuk dan sedikit pilek, sedangkan si tengah dan si bungsu tidak apa-apa. Maklum mereka berdua lebih banyak di kamar saja. Saya sendiri antara yakin dan tidak yakin ini covid atau bukan, karena gejalanya mirip dengan flu. Tenggorokan atau kerongkongan pun tidak sakit seperti gejala covid omicron yang saya baca di media. Kalau mau kepastian positif atau negatif sih memang tes rapid antigen atau PCR saja. Mungkin saya dan si sulung OTG, tapi anggap sajalah terkena omicron, jadi tidak perlu dites lagi. Toh dua hari juga sudah sembuh, hanya tersisa batuk sesekali. Resep yang saya tulis pada tulisan sebelumnya benar-benar saya laksanakan, yaitu minum air putih sesering mungkin, berjemur pagi, minum multvitamin. Kasus covid oleh virus omicron memang cepat sembuhnya karena gejalanya ringan bagi orang yang sudah vaksin dua kali dan tidak punya komorbid.

Istri saya, yang karena tes rapid antigennya di Antapani, maka datanya cepat masuk ke Puskesmas Jajaway dan ke Satgas covid di RW kami. Pada hari kelima datanglah Pak RW dan Bu RW ke rumah mengantar paket sembako. Isinya seplastik telur ayam, pisang, dan madu. Untuk meringankan, katanya. Setela lima hari nggak ada gejala lagi nggak perlu dites antigen lagi, katanya. Alhamdulillah, bentuk perhatian dari RW. Ternyata di RT saya yang terkena omicron tidak hanya istri saya saja, tetapi ada 15 orang! Waduh, banyak juga, tapi semuanya gejala ringan.

Setelah sepuluh hari isoman, istri saya merasa sudah lebih baik. Makan sudah enak, kerongkongan sudah tidak sakit lagi, batuk sudah jarang. Tanda hitam pada aplikasi Peduli Lindungi sudah berubah mejadi hijau. Alhamdulillah sudah sembuh, dan besok sudah mulai masuk kerja lagi.

Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah.

Dipublikasi di Pengalamanku | Meninggalkan komentar

Flu atau Omicron?

Teman-teman saya di Jakarta menceritakan kalau dia dan keluarganya tertular omicron. Gejalanya mirip flu biasa: ada pilek dan batuk. Tenggorokan sedikit gatal. Tapi tidak demam. Setelah minum panadol dan multivitamin, beberapa hari juga pilek sembuh. Sekarang tinggal batuk sesekali.

Dia tidak tes PCR. Udah yakinlah ini covid omicron katanya. Cepat penularannya. Mulai dari anak, lalu istri, akhirnya dirinya.

Memang agak sulit membedakan covid omicron saat ini dengan flu biasa. Gejalanya mirip. Kayaknya setiap orang yang pilek dan batuk jika dites antigen atau PCR hasil tesnya kemungkinan besar positif.

Jangan-jangan sudah banyak orang tertular omicron tapi nggak nyadar karena gejalanya sama dg pilek dan batuk biasa.

Jangan-jangan saya juga sudah pernah kena omicron nih. Beberapa minggu yang lalu saya kena batuk dan sedikit pilek. Awalnya dari anak, lalu ke saya, lalu ke anak yg lain. Nggak lama sih, pilek dua hari juga sudah hilang. Cuma batuk yang masih cukup lama. Masih ada sisanya sesekali.

Saya kalau kena flu maka obatnya sederhana saja. Perbanyak minum air putih. Saya bisa bergelas-gelas minum air putih sehari, mungkin lebih dari 1 liter. Biarin sering pipis, tidak apa-apa. Lalu tidak lupa berjemur pagi dan jalan kaki pagi lebih dari 30 menit.

Dari pengalaman saya, minum air putih yang banyak merupakan terapi yang sangat ampuh untuk flu seperti batuk dan pilek. Juga buat penyakit yang lain seperti pusing-pusing, tidak enak badan, darah tinggi, dll. Coba deh. Insya Allah.

Tidak hanya saat sakit saja, bahkan dalam kadaan sehat sekalipun, biasakan minum air putih yang banyak setiap hari. Air putih (air bening) ya, bukan yang dicampur dengan teh atau sirup.

Dipublikasi di Pengalamanku | Meninggalkan komentar

Berkunjung ke Masjid Al-Hakim, Masjid Baru nan Cantik di Pinggir Laut Pantai Padang

Setelah hampir dua tahun tidak pernah pulang kampung karena pandemi corona, akhirnya saya bisa pulang kampung juga ke tempat kelahiran di kota Padang minggu lalu. Dari Jakarta saya naik pesawat Citilink penerbangan pagi (menginap dulu di hotel kapsul di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta), dan turun di Bandara Minangkabau.

Waktu dua hari dan satu malam di Padang tentu sangat singkat, namun saya manfaatkan pergi berziarah ke makam orangtua di Bukit Seberang Padang. Satu lagi: mengunjungi dan sholat di Masjid Al-Hakim, masjid baru nan cantik yang terletak di pinggir laut di Pantai Padang. Selama ini saya kan hanya melihat dan membaca di media sosial saja tentang masjid baru tersebut, nah sekarang mumpung di Padang saya ingin melihat langsung ke sana.

Hari Minggu pagi, saya berjalan kaki dari rumah ke Pantai Padang, yah sambil olahraga jalan pagi maksudnya. Pantai Padang itu memanjang dari kawasan Muaro sampai ke utara ke arah Purus. Nah, Masjid Al-Hakim terletak yang dekat Muaro itu, yaitu tempat pertemuan Sungai Batang Arau dengan Samudera Hindia.

Pantai Padang

Hari minggu pagi banyak warga yang berolahraga di plaza sepanjang Pantai Padang. Jalur pedesterian yang lebar sangat nyaman untuk berjalan kaki atau olahraga lari, sambil menikmati sejuknya udara pantai. Di kiri kita terhampar Samudera Hindia dengan ombak yang menghempas-hempas ke pantai, seakan-akan memanggil perantau untuk pulang (seperti syair sebuah lagu berjudul Pantai Padang, yang dulu didendangkan oleh penyanyi Elly Kasim). Memang sangat menyenangkan berjalan-jalan menikmati pantai.

Video lagu cik uniang Elly Kasim (almh) berjudul Pantai Padang

Dari kejauhan sudah terlihat Masjid Al-Hakim yang berwarna putih. Letaknya ke arah ujung di dekat muara. Saya terus berjalan kaki, melewati berbagai tempat kenangan semasa kecil dan semasa bersekolah di Padang.

Nah, akhirnya sampailah saya di depan masjid ini, di pertigaan jalan Samudera. Cantik nian masjid Al-Hakim ini, arsitekturnya mirip dengan Taj Mahal di India. Langit yang cerah pagi itu menghasilkan foto yang menawan seperti di bawah ini yang saya jepret dengan kamera ponsel.

Masjid Al-Hakim

Dikutip dari laman Wikipedia, “Masjid Al-Hakim Padang adalah sebuah masjid bergaya Taj Mahal di tepi Pantai Padang, Kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia. Masjid ini mulai dibangun pada awal 2017. Biaya pembangunannya berasal dari seorang donatur, sementara lahannya disediakan oleh Pemerintah Kota Padang seiring penataan Pantai Padang yang dilakukan sejak 2014.

Lahan masjid ini dulunya merupakan area permainan anak dan dipenuhi tenda-tenda pedagang kaki lima (PKL). Pada 2016, seorang donatur menyampaikan niatnya untuk membangun masjid di tepi pantai. Berkat pendekatan yang dilakukan pemerintah setempat, PKL bersedia direlokasi ke tempat baru sehingga pembangunan masjid dapat dikerjakan.

Sejak 4 September 2020, Masjid Al-Hakim Padang sudah dibuka terbatas untuk aktivitas ibadah dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19. Menurut rencana, masjid akan diresmikan pada November 2020.

Masjid Al-Hakim memiliki program ATM Beras, program bantuan berupa beras yang ditujukan kepada 100 Kepala Keluarga (KK) di sekitar masjid. Penerima bantuan dapat mengambil beras pada jadwal yang ditentukan.

Saya masuk ke dalam masjid, hendak menunaikan sholat Dhuha. Pagi itu ada beberapa orang ibu-ibu yang juga sholat Dhuha. Sepertinya mereka adalah wisatawan lokal yang berkunjung ke masjid ini. Masjid Al-Hakim menjadi magnet baru di Pantai Padang dan menjadi salah satu obyek wisata religi di kota Padang.

Interior di dalam masjid terlihat cantik dan suasananya terasa lapang dengan karpet merah tebal sebagai alas sholat. Lampu kristal menggantung di tengah-tengah.

Suasana di dalam masjid

Usai sholat saya berjalan ke luar, naik tangga melalui koridor. Tampak dari sini laut di pinggir masjid. Ya, masjid Al-Hakim memang persis di pinggir pantai. Tampak dari sini Bukit Padang yang menjadi ikon Pantai Padang. Bukit Padang ini satu kesatuan dengan bukit Gado-Gado yang menjadi tempat legenda Siti Nurbaya. Bukit Gado-gado ini juga membentengi sungai Batang Arau. Di bawah bukit inilah bermuara sungai Batang Arau sehingga kawasan ini dinamakan Muaro (muara).

Tampak laut dari atas Masjid Al-Hakim

Di Muaro ini ada pelabuhan kecil bernama Pelabuhan Muaro sebagai tempat pemberangkatan kapal-kapal ke Kepulauan Mentawai. Keluar dari sungai Batang Arau ini bertemulah air tawar dan air laut. Kota Padang sudah ada sejak Abad 18. Dulu kota Padang bermula di kawasan Muaro ini karena ada pelabuhan kapal, sehingga kawasan Muaro disebut juga kawasan kota tua. Di kawasan Muaro masih terdapat bangunan-bangunan peninggalan Belanda (VOC) seperti kantor VOC, gudang rempah-rempah, kantor pelabuhan, dan bangunan lainnya yang dilestarikan oleh Pemerintah kota.

Kembali ke cerita Masjid Al-Hakim. Untuk menghindari abrasi yang menggerus Pantai Padang, maka di pinggir pantai di depan masjid Al-Hakim ditanam batu-batu penahan ombak. Namun hempasan ombak di dekat Muaro ini tidak sebesar ombak pantai yang ke arah utara. Berikut penampakan beberapa foto pemandangan laut dan pantai di samping Masjid Al-Hakim.

Halaman belakang masjdi Al-Hakim berupa pantai
Batu-batu penahan abrasi

Satu hal yang menarik di sekitar Masjid Al-Hakim ini adalah di seberang masjid terdapat vihara Budha. Vihara ini sudah ada sebelum masjid dibangun. Kawasan Muaro memang merupakan kawasan pecinan di kota Padang. Di sini terdapat daerah pemukiman dan perniagaan kaum Tionghoa yang dikenal dengan nama daerah Pondok. Dua ratus meter dari vihara, atau dua ratus meter dari masjid Al-Hakim, di tepi jalan Samudera, terdapat Gereja Advent Hari Ketujuh. Jadi, keberadaan masjid, vihara, dan gereja memperlihatkan kerukunan beragama yang baik di Ranah Minang.

Setelah puas mengitari masjid, saya pun meninggalkan Masjid Al-Hakim. Alhamdulillah, tercapai juga keinginan untuk mengunjungi dan sholat di masjid nan cantik ini. Saya pun memesan Gojek untuk pulang. Eh, tidak langsung pulang ding, tetapi pergi ke RS Bunda di Tarandam untuk melakukan tes antigen sebagai persyaratan naik pesawat. Saya kembali ke Jakarta sore hari dengan pesawat Citilink lagi. Semoga saya dapat kembali ke Masjid A-Hakim dan sholat di masjid ini bila pulang kampung lagi. Amiin.

Video vlog yang saya buat ketika mengunjungi Masjid Al-Hakim dapat ditonton pada kanal Youtube saya di bawah ini.

Dipublikasi di Cerita Ranah Minang | 3 Komentar

Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul “Digital Airport Hotel” Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

Karena saya ada keperluan penerbangan pagi dari Bandara Soekarno-Hatta, maka daripada berangkat dari Bandung dinihari jam 01.00, saya memutuskan menginap saja di hotel di dalam bandara. Kalau menginap di hotel sekitar bandara masih perlu naik taksi lagi ke dalam bandara.

Pilihan saya jatuh pada hotel kapsul di dalam Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Namanya Digital Airport Hotel. Letaknya di lantai 1 Terminal 3, tepat di bawah konter check-in. Kalau mau chek-in pesawat di Terminal 3 cukup naik ke lantai 2 pakai eskalator. Sangat dekat, tinggal jalan kaki saja. Oh ya, di Terminal 2 juga ada hotel Digital Airport. Saya pilih hotel kapsul di Terminal 3 karena pesawat saya, Citilink, berangkat dari Terminal 3.

Digital Airport Hotel

Kamar kapsulnya berbentuk kontainer bergaya futuristik, panjangnya sekitar 2,5 m, lebar sekitar 1,5 m dan tinggi 1,5 meter, dua tingkat. Serasa berada di dalam kamar astronot. Kata petugas hotel, jumlah kamar kapsulnya ada sekitar 100 lebih. Oh ya, ada juga kamar untuk double (2 orang).

Disebut hotel digital karena semua peralatan di kamar kapsul serba digital. Untuk membuka semua pintu menggunakan kartu elektronik. Di dalam kamar ada TV, meja lipat, USB port buat hape, headphone, bantal, selimut, peralatan mandi (handuk, odol, sikat gigi), free wifi. Warna cahaya lampunya bisa diatur, begitu juga terang gelapnya. Hanya sayang tidak ada colokan listrik buat laptop, jadi kalau mau cas laptop bisa di ruang yang ada meja co-working.

Pintu masuk ke dalam kamar kapsul
Kamar tidur di dalam kapsul

Kamar mandinya sharing, ada 10 kamar mandi (5 untuk pria dan 5 untuk wanita, terpisah). Kamar mandi terletak di luar area kamar, jadi kita harus keluar lagi dengan pintu yang hanya bisa dibuka menggunakan sensor tangan. Kamar mandinya lumayan bersih, tetapi menurut saya terlalu besar ukurannya. Padahal kamar mandi cukup kecil saja namun banyak jumlahnya supaya tidak terlalu antri (tapi pas saya ke sana tidak antri karena agak sepi, maklum masih pandemi jadi belum banyak penumpang pesawat)

Ruang area kamar mandi, ada 5 kamar mandi di sini
Di dalam setiap kamar mandi ada kloset, shower, dan westafel. Kamar mandi yang sebenarnya tidak perlu terlalu luas.

Menurut saya hotel kapsul ini cocok bagi solo traveller yang transit cukup lama atau penumpang yang berangkat dinihari atau pagi-pagi tanpa khawatir ketinggalan pesawat. Sambil menunggu penerbangan bisa istirahat dulu di kamar kapsul, leyeh-leyeh, mandi, atau tidur memulihkan tenaga. Daripada tidur di ruang transit atau di kursi-kursi bandara, ya kan. Atau kalau menginap di hotel di luar bandara, maka perlu naik taksi lagi ke Terminal 3 dan harus buru-buru supaya tidak ketinggalan pesawat.

Tarif kamarnya sekitar Rp 200-an sampai 300-an ribu semalam. Bisa untuk full day (dari jam 14.00 sampai jam 12.00 keesokan harinya) atau untuk yang 9 jam. Lebih murah pesan di Traveloka daripada langsung datang (go show). Sangat aman karena untuk membuka sesuatu (pintu kamar, loker penyimpan barang, pintu kamar mandi, dll) menggunakan kartu elektronik.

Loker untuk menyimpan barang

Kelebihan hotel ini ya karena sangat dekat saja ke konter chek-in dan boarding di lantai 2. Kekurangannya sih ada. Karena kamar kapsul ini terbuat dari plastik maka ia tidak kedap suara. Suara-suara dari luar kamar terdengar, atau suara orang yang mendengkur dari kamar sebelah. Kamar mandinya di luar dan harus keluar ruang kamar. Kamar mandi yang sharing ini harus sering dibersihkan karena perilaku tamu ada yang jorok (membuang tisu ke dalam kloset, lantai shower masih penuh sabun, dan sebagainya). Saat saya ke sana sabun cair yang disediakan habis, untung saya bawa sabun sendiri. Tapi secara keseluruhan lumayanlah buat menginap sementara.

Video vlog ketika saya menginap di hotel kapsul Digital Airport Hotel dapat ditonton pada kanal YouTube saya berikut ini:

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 1 Komentar

Mamang-Mamang Penjual Air Gerobak

Setiap pagi di Antapani saya sering bertemu dengan mamang-mamang yang mendorong gerobak berisi jerigen-jerigen air. Air itu dijual ke rumah-rumah yang mengalami seret air. Satu gerobak berisi 13 sampai 14 jerigen air PDAM. Air satu gerobak itu harganya 65 ribu rupiah. Satu jerigen air dijual 5 ribu sampai 6 ribu rupiah. Pada musim kemarau atau saat aliran PDAM mati (misalnya karena pipa PDAM pecah), maka harga air jerigen satu gerobak melonjak hingga 75 sampai 90 ribu, tergantung kemampuan tawar menawar.

Meskipun kawasan perumahan di Antapani dilalui saluran PDAM, tetapi tidak semua rumah lancar aliran airnya. Di sini air ledeng tidak bisa langsung naik ke kran di dalam kamar mandi atau dapur, perlu disedot dengan mesin pompa terlebih dahulu untuk dimasukkan ke dalam bak penampungan atau toren. Setiap rumah punya mesin pompa yang menyedot air ledeng. Sebenarnya memasang pompa dari saluran air PDAM terlarang, namun apa boleh buat, daripada tidak mendapat air, tindakan tersebut terpaksa dilakukan. PDAM pun tampak “memaklumi” keadaan ini. Ya, kota Bandung adalah kota yang padat pemukiman dan padat penduduk, aliran air harus dibagi-bagi sedangkan sumber air baku terbatas dan terus menyusut.

Tidak semua rumah terpasang air ledeng PDAM. Sebagian warga memanfaatkan air tanah dengan cara disedot pakai pompa jet pump. Beberapa komplek perumahan yang lebih kecil membuat sumur artesis sendiri lalu air dialirkan ke rumah-rumah warga dengan sistem iuran.

Penting sekali membeli rumah dengan memperhatikan ketersediaan airnya. Saya dulu membeli rumah seken di Antapani pada tahun 2005. Hal pertama yang saya periksa adalah bagaimana airnya, sebab air sangat vital dalam kehidupan, manusia tidak bisa hidup tanpa air, bukan? Kalau airnya bersumber dari PDAM, saya memastikan apakah alirannya lancar setiap hari? Alhamdulillah rumah yang saya beli airnya selalu mengalir setiap hari. Hanya kadang-kadang saja air ledeng mati jika ada gangguan dari PDAM, misalnya ketika pipa air (yang berukuran besar) yang mengalirkan air dari PDAM di Jalan Badaksinga pecah di daerah tertentu. Akibatnya aliran alir ke rumah-rumah warga dihentikan.

Saat air mati seperti itulah kehadiran mamang-mamang penjual air gerobak ini sangat dinantikan sebagai solusi sementara. Mamang-mamang mengambil air tersebut dari kran umum gratis yang disediakan PDAM untuk warga di daerah padat penduduk di Antapani Lama.

Karena air yang diambil dari kran umum ini gratis, maka usaha jual air gerobak ini tidak perlu modal uang setiap hari. Cuma perlu modal tenaga saja untuk pekerjaan ini, plus kesabaran menunggu antri mengisi air di kran umum, lalu mendorongnya ke kompleks perumahan yang seret air PDAM atau warga yang airnya keruh (tidak layak minum).

Dipublikasi di Romantika kehidupan, Seputar Bandung | 1 Komentar