Setelah Pilkada DKI Berlalu

Pilkada putaran kedua di DKI Jakarta baru saja selesai. Kita pun sama-sama sudah mengetahui hasilnya. Melalui hasil hitung cepat, pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno berhasil mengalahkan pasangan petahana Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat dengan angka yang cukup telak, yaitu 58% banding 42%. Hasil real count dari KPU tidak akan jauh berbeda dari hasil hitung cepat, yang ketika tulisan ini dibuat ternyata rekapitulasi hasilnya sudah diumumkan (Baca: Rekapitulasi Suara TPS di KPU DKI Jakarta Selesai, Ini Hasilnya).

Inilah Pilkada yang paling menegangkan dan paling panas dalam sejarah Pilkada. Pilkadanya di DKI Jakarta, tetapi menyedot perhatian seluruh rakyat Indonesia. Jadi, tidak heran ada yang mengatakan ini Pilkada rasa Pilpres.

Saya sebut Pilkada yang panas dan menegangkan karena Pilkada DKI melibatkan sisi emosional orang banyak. Sentimen SARA sudah mencuat jauh sebelum kampanye Pilkada dimulai. Faktornya adalah sang petahana, Ahok. Banyak orang menilai bahwa Ahok tidak disukai karena etnik dan agamanya. Betulkah begitu? Menurut saya penilaian itu tidak tepat. Orang Indonesia sudah terbiasa hidup berdampingan dengan etnik dan penganut agama yang berbeda. Tidak ada masalah yang serius. Seperti yang pernah saya nyatakan dalam tulisan sebelumnya, Ahok sebenarnya memiliki kinerja yang bagus, jadi seharusnya dia bisa memenangkan pertandingan ini apabila  didasarkan pada hasil kerja nyatanya. Komitmennya menegakkan pemerintahan yang bersih dan anti korupsi juga sangat diapresiasi. Bahkan, hasil-hasil survey juga menunjukkan bahwa warga Jakarta mayoritas puas dengan kinerjanya. Namun ternyata mereka tidak memilih Ahok. Apa sebabnya?

Rupanya, kinerja dan prestasi saja tidak cukup. Orang juga melihat dari sisi yang lain, yaitu attitude. Inilah yang kurang dimiliki Ahok. Ahok tidak bisa menjaga bicaranya. Dia berbicara apa saja, mengomentari hal-hal yang bukan wilayahnya, menunjukkan sikap dan perilaku yang kurang santun, yang mana bagi masyarakat timur sikap dan perilaku masih sangat dijunjung tinggi. Apalagi seorang gubernur tidak hanya pemimpin administrasi pemerintahan, tetapi juga pemberi keteladanan. Apalah artinya kinerja yang bagus namun tertutup oleh attitude yang kurang pas.

Perilaku Ahok yang tidak bisa menjaga bicaranya menimbulkan ketersinggungan, khususnya umat Islam. Puncaknya adalah kasus Al-Maidah 51 yang terkenal itu yang sama-sama kita ketahui masalahnya. Karena sudah masuk ke ranah agama, sesuatu yang sangat esensial dan primordial bagi orang  Indonesia, maka mau tidak mau Pilkada DKI akhirnya “menyeret” partisisipasi hampir seluruh bangsa Indonesia untuk ikut-ikutan berkomentar. Dari semula berkomentar berubah menjadi sikap pro dan kontra.  Bangsa ini akhirnya terbelah dua dalam menyikapi Ahok.  Akibatnya sungguh menyedihkan. Hubungan pertemanan menjadi rusak hanya gara-gara berbeda sikap dan pandangan tentang Ahok. Keharmonisan hubungan antra umat beragama menjadi terganggu. Bangsa Indonesia berada diambang perpecahan. Media sosial memiliki peran besar dalam polarisasi bangsa ini, karena posting-an tentang kubu-kubuan ini beredar dengan cepat dan masif secara personal. Berita fintah dan hoax berseliweran setiap waktu yang membuat kebatinan bangsa ini semakin panas dan tegang.

Sekarang pesta sudah usai. Ahok kalah. Kekalahan itu menurut para pengamat tidak hanya karena faktor sentimen SARA semata, tetapi juga akibat beberapa kejadian  menjelang hari pemungutan suara, yang membuat pemilih rasional mengalihkan suaranya ke pasangan lain. Tiga kejadian yang menonjol adalah, pertama pembagian sembako secara masif pada masa tenang kepada rakyat miskin, yang dinilai sebagai bentuk politik uang dan dianggap menciderai demokrasi yang bersih. Kedua adalah konten video kampanye Ahok-Djarot yang memberi stigma negatif kepada kaum pribumi dan umat Islam. Ketiga adalah kasus penghinaan Steven kepada Gubernur NTB di Bandara Changi, Singapura. Ketiga kejadian ini beredar dengan cepat dan deras melalui media sosial, akibatnya sungguh tak terduga, pemilih rasional menjauhi Ahok.

Syukurlah Ahok menerima kekalahan itu dengan lapang dada. Media sosial pun tiba-tiba berubah menjadi lebih sejuk dan lebih tenang. Suasana yang tadinya panas berubah menjadi dingin. Ada “untungnya” juga Anies-Sandi yang menang, sebab jika Ahok yang menang maka saya khawatir polarisasi bangsa ini akan terus berlanjut hingga Pilpres 2019 dan sesudahnya. Rupanya Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri sehingga bangsa Indonesia luput dari perpecahan yang mengancam.

Sekarang yang  diperlukan adalah rekonsiliasi bangsa Indonesia yang terpecah akibat Pilkada DKI.  Sudahi permusuhan dan penebaran kebencian kepada masing-masing kelompok. Tidak ada gunanya.  Kita ini bangsa yang satu, yaitu Bangsa Indonesia.

Dipublikasi di Indonesiaku | 5 Komentar

Kesabaran Merawat Ibu yang Terkena Stroke

Dulu saya pernah menulis tentang kesabaran anak yang diuji dengan merawat orangtuanya yang sakit-sakitan di akhir hayatnya (Baca: “Ujian” dari Orangtua pada Saat Akhir Hayat). Kali ini saya menemukan kisah yang serupa lagi, yang dialami oleh tukang ojek langganan anak saya.

Saya punya ojek langganan yang khusus untuk mengantar jemput anak saya ke sekolah. Saya memanggilnya Kang Agus. Sudah hampir empat tahun saya berlangganan ojek dengannya. Dia mempunyai seorang istri tapi belum dikarunia anak.  Selain menjadi tukang ojek, dia juga berjualan kaos kaki di dekat sebuah sekolah. Penghasilannya tidak seberapa, baik menjadi tukang ojek maupun berjualan kaos kaki.

Sekarang menjadi tukang ojek sudah mulai dikuranginya, pasalnya ibunya terbaring sakit di rumah setelah mendapat serangan stroke tiga tahun lalu. Ibunya sejak lama tinggal seorang diri setelah berpisah dengan suaminya. Serangan stroke membuat ibunya lumpuh. Tidak bisa berjalan, tidak bisa duduk sendiri, dan bicara pun sudah kurang jelas. Sejak ibunya terkena stroke, Kang Agus pun pindah ke rumah ibunya demi bisa merawat ibunya yang sudah tidak bisa apa-apa. Ibunda Kang Agus benar-benar bergantung pada orang lain.

Sebenarnya Kang Agus punya dua orang saudara perempuan, sudah menikah, dan hidup terpisah, tetapi kedua suadaranya ini tidak mau merawat ibunya. Praktis hanya Kang Agus sendiri, dibantu istrinya, yang merawat ibunya setiap hari.

Karena sudah tidak bisa apa-apa (lumpuh sebelah), maka ibunya hanya berada di atas kasur dari pagi sampai malam hingga pagi lagi. Semua aktivitasnya hanya di atas kasur, baik makan, buang air besar, pipis, dan lain-lain. Satu-satunya aktivitas untuk mengusir rasa jenuh adalah membaca yasinan setiap hari.

Istri Kang Agus bekerja di rumah saya sebagai asisten rumah tangga. Rutinitas yang dilakukan mereka berdua setiap hari kepada ibunda dimulai sejak subuh. Setelah sholat subuh, ibunda dimandikan (digendong ke kamar mandi). Setelah dipakaikan pampers dan pakaian, selanjutnya ibunda digendong lagi ke atas kasur. Sarapan pagi pun disiapkan untuk sang ibu sebelum mereka berdua berangkat kerja. Jam setengah tujuh pagi Kang Agus sudah datang ke rumah saya untuk mengantar anak sulung ke sekolah. Istrinya baru datang ke rumah saya pukul delapan setelah selesai membereskan rumah mertua dan memasak untuk makan siang.

Ibunda Kang Agus ditinggalkan seorang diri di rumah dalam posisi duduk di atas kasur. Untuk merebahkan tubuhnya ke kasur tidak bisa dilakukan sendiri, harus dibantu. Kadang-kadang karena mengantuk setelah membaca yasinan, sang ibu rebah tertidur begitu saja di atas kasur, namun untuk bangkit duduk lagi tidak bisa dilakukannya karena syaraf di punggung sudah lumpuh. Harus menunggu anak atau menantunya pulang agar ia bisa duduk lagi.

Setelah mengantar anak saya ke sekolah, Kang Agus balik ke rumahnya sebentar untuk melihat kondisi ibunya, lalu keluar rumah lagi untuk berjualan kaos kaki. Jam satu siang istrinya pulang ke rumah sebentar untuk memberi makan ibunya, membersihkan pipis dan BAB di dalam pampers (sang ibu dipakaikan pampers karena untuk pipis dan buang air besar hanya bisa di atas kasur), lalu kembali lagi ke rumah saya melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Kang Agus menjemput anak saya dari sekolah pukul empat sore, lalu kembali ke rumah ibunya.

Begitulah rutinitas yang dilakukan Kang Agus setiap hari, diantara memikirkan nafkah dan merawat ibunya. Dapatkah kau mengerti ujian kesabaran yang dihadapinya. Jarang ada orang yang bisa tahan mengurus orangtuanya yang sakit-sakitan dan tidak berdaya lagi di atas kasur.  Siapa anak dan menantu yang dengan penuh kesabaran dan ketelatenan membersihkan kotoran ibunya, melap badannya, menceboki pantat dan membersihkan pipisnya? Semua itu dilakukan setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun, dan dilakukan berdua.  Sungguh sebuah kesabaran dan pengorbanan yang tiada batasnya.

Minggu lalu saya menjenguk ke rumah Kang Agus karena sudah beberapa hari Kang Agus tidak bisa mengantar jemput anak saya ke sekolah. Rupanya Kang Agus sakit diabetes (turunan dari ibunya) sehingga hanya bisa di rumah saja. Dalam keadaan sakit pun kang Agus tetap merawat ibunya dengan setia.  Saya yang datang ke rumah itu melihat sendiri kondisi ibunya yang di atas kasur. Memang menyedihkan, ibu yang sudah tua, kesepian setiap hari, tidak punya teman bicara ketika anak dan menantunya pergi bekerja, dan hanya bisa duduk berjam-jam di atas kasur dari pagi sampai malam.

Saya hanya bisa membesarkan hati Kang Agus dan menyatakan bahwa yang dilakukannya kepada ibunya adalah amal sholeh sebagai bakti anak kepada orangtuanya. Insya Allah amalan sholeh itu akan dibalas oleh Allah SWT dengan pahala yang berlipat ganda. Mungkin sekali-sekali pernah terbersit perasaaan bosan dan jengkel menghadapi ibunya, itu manusiawi, namun Kang Agus tetaplah melakoninya dengan sabar.

Saya mendapat pelajaran berharga dari Kang Agus tentang kesabaran yang luar biasa.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 3 Komentar

Selipkan Sedikit Uang dan Kartu ATM di dalam Tasmu

Teman saya mendapat pengalaman yang mungkin dapat menjadi pelajaran  bagi kita yang sering bepergian. Dia mendarat di Bandara Husein Sastranegara Bandung karena baru tiba dari Lampung. Setelah keluar dari Bandara dan mau pulang, dia merogoh sakunya, ternyata dia baru tersadar kalau dompetnya ketinggalan di wisma di Lampung.  Masalahnya dia sama sekali tidak mempunyai uang seperserpun untuk naik taksi atau sekedar naik angkot. Mau ambil uang di ATM tetapi kartu ATM berada di dalam dompet yang ketinggalan itu.

Lalu dia coba mengobok-ngobok isi tas ranselnya, mencari-cari siapa tahu ada terselip uang receh. Alhamdulillah, ternyata ada satu lembar uang 2000-an dan satu uang logam seribuan. Lumayan cukup untuk naik angkot dari Bandara sampai ke jalan terdekat ke kampus ITB, nanti bisa disambung jalan kaki. Setiba di kampus dia bisa pinjam uang temannya untuk pulang ke rumah.

Saya sendiri kalau bepergian ke luar kota selalu menerapkan pepatah yang mengatakan “jangan taruh semua telur di dalam satu keranjang”. Jika keranjang jatuh, maka semua telur pecah. Saya sering merasa khawatir kalau sedang bepergian  lalu dompet saya hilang, dicopet, atau ketinggalan, padahal semua uang dan kartu ATM ada di dompet tersebut. Bayangkan kalau kita berada di suatu tempat dimana kita tidak mengenal satu orangpun. Kalau dompet hilang, kemana kita mencari pinjaman uang sekedar untuk naik taksi atau makan? Oke, bisa saja kita minta tolong istri kita atau saudara kita untuk mentransfer uang ke rekening kita, tapi masalahnya kita tidak bisa mengambilnya di mesin ATM karena kartu ATM pun hilang. Mau ambil di bank, kita tidak membawa buku tabungan.

Maka, biasanya saya menaruh beberapa kartu ATM di dalam tas. Saya punya tiga kartu ATM dari bank berbeda. Satu kartu saya taruh di dalam dompet, satu kartu lagi di dalam tas ransel, dan satu kartu lagi di tempat lainnya (misalnya saku celana). Kadang-kadang sedikit uang juga saya taruh di dalam tas untuk berjaga-jaga. Jadi, jika saya kehilangan dompet, maka saya tidak terlalu khawatir menjadi orang yang paling bingung di dunia, karena ada cadangan kartu ATM lain di dalam tas atau saku celana.

Biasanya di dalam dompet kita juga menyimpan kartu-kartu lain seperti KTP, SIM, STNK, kartu kredit dan macam-macam kartu yang lain. Maka, untuk meminimalkan kehilangan, kartu-kartu yang tidak penting dibawa (karena tidak dibutuhkan) saya tinggalkan di rumah. Biasanya SIM, STNK, kartu asuransi kesehatan, dan kartu NPWP yang saya tinggal di rumah.

Kebiasaan “jangan menaruh semua telur di dalam satu keranjang” saya terapkan juga kepada anak saya. Uang jajan anak saya (atau uang  keperluan lainnya) tidak semuanya saya masukkan ke dalam dompet atau saku celananya, tetapi sebagian saya taruh di dalam tasnya. Jadi, jika dia mau naik angkot atau ojek dan dompetnya ketinggalan di rumah, maka masih ada sedikit uang di dalam tas untuk membayar angkot atau ojek. Malang sekali kan jika turun dari angkot ternyata tidak bisa membayar sama sekali berhubung dompet ketinggalan. Bisa-bisa anak kita dimaki-maki supir angkot atau dituduh menipu.

Dipublikasi di Gado-gado | 6 Komentar

Tanah yang Tak Kulupa

Sebagai orang rantau, kerinduan apakah yang kadang-kadang membayang di dalam pikiran? Tentu saja tanah kampung halaman. Apalagi jika di tanah itu anda pernah dilahirkan, dibesarkan, lalu ketika beranjak dewasa pergi meninggalkannya. Jika masih punya orangtua di sana, maka keinginan untuk pulang selalu ada. Tapi jika sudah tidak punya orangtua lagi, dua-duanya sudah almarhum, maka apakah tanah kampung halaman itu masih akan Anda kunjungi lagi?

Jawabnya ya, teutama bagi saya sendiri. Meskipun kedua orang ibu-bapa saya sudah meninggalkan dunia fana ini, tetapi keinginan untuk pulang selalu tetap ada. Minimal menengok rumah warisan orangtua, tempat di mana saya dulu dilahirkan dan dibesarkan dengan kasih sayang. Dua kali setahun saya pasti akan pulang, sekali sebelum bulan puasa untuk berziarah ke makam orangtua, kedua kali pada awal tahun. Rasanya tanah kelahiran selalu memanggil untuk pulang dan pulang.

Setiap kali meninggalkan kota Padang menggunakan pesawat, saya selalu mengambil duduk pada sisi pesawat sebelah kiri. Tujuannya satu: menatap dari atas udara tanah kota yang telah membesarkan saya. Kota ini berhalaman lautan yang terbantang luas di sebelah barat, yaitu Samudera Hindia. Kawasan pinggir pantai sangat padat dengan pemukiman, gedung-gedung, dan perkantoran. Dari udara semua pemandangan itu terlihat dengan jelas selepas pesawat take-off dari Bandara Minangkabau.

padang2

Lihatlah daratan bagian bawah, tampaklah tanah yang berbentuk kepala burung. Diujungnya teronggok Gunung Padang yang seakan duduk termenung di pinggir laut. Tanah yang berbentuk kepala dan badan burung itu adalah bagian dari perbukitan yang berhadapan dengan Samudera Hindia. Salah satu bukit itu diberi nama Bukit Siti Nurbaya karena di sinilah kisah Siti Nurbaya bermula. Sebuah sungai yang bernama Batang Arau memisahkan kawasan perbukitan dengan dataran kota. Ujung sungai itu bernama Muara. Di sepanjang sungai itulah terletak kawasan kota lama yang dibangun sejak zaman Hindia-Belanda.

padang1

Teruslah mengarahkan pandangan menyusuri perbukitan itu ke arah tenggara, maka sampailah ke kompleks pemakaman orang kampung saya. Di sana, di atas tanah bukit yang curam, terletak makam ibu dan ayah saya.  Tidak tampak dari atas pesawat, tapi saya bisa membayangkannya dari atas pesawat dengan perasaan sedih. Semoga Allah SWT menerima amal sholehmu wahai ayah dan ibu, dan menempatkamu di tempat yang layak di sisi-Nya, amin.

Lamat-lamat pesawat semakin menjauh dari tanah kota Padang, terbang ke selatan menuju tanah Jawa. Tanah yang telah memberikan kenangan kepada saya pun hilang dari pandangan. Tanah itu tidak akan pernah kulupa.

Dipublikasi di Cerita perjalanan, Cerita Ranah Minang | 4 Komentar

Obrolan dengan Supir Go-Jek Sepanjang Jalan

Akhir-akhir ini saya jadi sering menggunakan Go-Jek dari rumah ke Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Biasanya saya naik taksi dari rumah, atau bawa motor lalu dititip parkir di Bandara selama semalam dua malam, tapi saya merasa lebih praktis naik ojek saja.

Nah, apakah naik ojek pangkalan atau naik ojek berbasis aplikasi semacam Go-Jek? Dua-duanya saya gunakan, tapi kalau ke Bandara saya pilih naik Go-jek saja.  Go-Jek bisa dipesan dari rumah melalui aplikasinya, lima menit kemudian supir Go-Jek nya datang.  Praktis dan lebih murah. Namun saya tetap menghargai ojek pangkalan, kalau untuk jarak dekat ya saya naik ojek biasa.

Saya ini orang yang tipenya suka mengajak ngobrol supir Go-Jek sepanjang perjalanan. Tidak hanya supir Go-Jek saja, tapi saya juga suka mengajak ngobrol supir angkot, supir taksi, atau supir travel. Kebetulan saya mendapat supir-supir Go-Jek yang ramah dan mau diajak bercerita. Saya suka menanyakan pengalaman mereka selama menjadi supir Go-Jek. Naluri jurnalistik saya muncul begitu saja, siapa tahu ada bahan untuk tulisan, he..he. Sambil mendengarkan obrolannya, saya sekaligus menyelami kehidupan mereka. Banyak saja cerita-cerita supir Go-Jek yang dapat dijadikan pelajaran kehidupan maupun sumber inspirasi. Sambil ngobrol mereka tetap awas menjalankan motornya lho.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Cerita Supir Go-Jek 1

Saya naik Go-Jek dari rumah di Antapani ke Bandara Husein S. Tarifnya terpampang di layar aplikasi cuma 24 ribu saja. Sebagai perbandingan, jika memakai taksi dari rumah saya minimal 50 ribu rupiah. Sepanjang perjalanan supir gojeknya enak diajak mengobrol.  Saya tanya-tanyalah dia, berapa dapat penghasilan dari bonus go-ride, go-food, go-mart, dan aneka go lainnya.  Setiap hari dia mendapat bonus minimal 20 poin, itu setara 100 ribu rupiah, minimal lho itu.  Bonus uang itu ditransfer ke rekeningnya setiap hari. Sebulan berarti minimal tiga juta rupiah. Itu belum termasuk bayaran cash dan bonus lebih bayar dari penumpang.

Jam kerjanya fleksibel, Go-Jek ini cuma kerja tambahan saja.  Dia hanya Go-Jek dari pagi sampai pukul 9.00, lalu sesudah itu dia bekerja mengantar surat tagihan kartu kredit dari berbagai bank ke alamat nasabah. Tugas mengantar tagihan kartu kredit sampai jam 15.00, sesudah itu dia kembali nge-gojek lagi sampai jam 10 malam. Kalau surat tagihan yang diantar tidak banyak, dia nge-go-jek lagi, tidak harus dari jam 15.00.

Dengan penghasilan meng-gojek saja minimal mendapat penghasilan per bulan minimal tiga juta diluar cash dan bonus penumpang. Itu penghasilan di atas UMK. Jika ditambah dengan penghasilan mengantarkan surat tagihan kartu kredit dari bank tentu lebih besar lagi. Makanya banyak orang yang keluar dari pekerjaan formalnya dan beralih menjadi supir Go-Jek karena terbayang penghasilan yang menggiurkan.

Tapi supir Go-Jek di Bandung masih belum berani show of force menampakkan diri dengan seragam Go-Jek serta helm hijaunya itu, seperti yang kita lihat di Jakarta atau di kota lain. Mereka masih melapisi seragam Go-Jek dengan jaket penutup agar tidak terlihat oleh supir ojek pangkalan, yang masih menolak kehadiran Go-Jek. Itu cara supir Go-Jek di Bandung menyamar. Namun sekarang kondisinya sedikit lebih lunak. Supir Go-Jek boleh mengantarkan penumpang ke daerah yang dikuasai ojek pangkalan, tapi mereka terlarang menarik penumpang baru dari daerah itu. Itu win-win solution dengan supir ojek pangkalan, demikian cerita supir Go-Jek tadi.

Tidak terasa sampailah saya di Bandara Husein, hendak terbang ke Lampung mengajar di ITERA. Supir Go-Jek menurunkan saya di dekat pangkalan taksi bandara. Ongkos Go-Jek 24 ribu saya lebihkan, bonus buat supir Go-Jek itu, serta memberi nilai bintang  5  di aplikasi Go-Jek.

Olala, saya lupa mengambil foto supir Go-Jek tadi agar tidak dibilang “no pic = hoax“. He..he..

Cerita Supir Gojek 2

Kali ini saya ke bandara Husein lagi dengan Go-Jek. Supir gojek yang membawa saya sungguh keren pengalaman hidupnya. Inspiratif. Namanya Pak Saiful, orang Madura. Dia bukan supir Go-Jek dengan pengalaman hidup biasa-biasa saja, tapi luar biasa. Selama bertahun-tahun sebelum menjadi supir Go-Jek, Pak Saiful  telah melanglangbuana di berbagai negara bekerja sebagai sarjana teknik mesin. Pak Saiful pernah bekerja di Belanda, Belgia, Australia, dan terakhir di Arab Saudi sebelum akhirnya pulang ke tanah air.

Putra Pak Saiful adalah lulusan S2 bidang komputer di Korea dan sekarang bekerja di empat perusahaan masakapai asing sebagai ahli IT. Meskipun sudah mencapai gelar Master, Pak Saiful tetap mendorong anaknya untuk meneruskan S3 ke luar negeri. Putranya itu sebenarnya sudah diterima S3 di  Jepang tapi tidak jadi diambilnya karena memakai program ikatan dinas dan setelah lulus harus bekerja selama 10 tahun di sana. Mungkin S3 di Jerman saja, katanya. Keren ya…

Sekarang sesudah pensiun pak Saiful sekali-sekali masih menjadi konsultan permesinan, minggu lalu baru pulang proyek di Kendari. Lha, udah hidup mapan begini kok masih mau kerja Go-Jek, Pak, tanya saya. He…he, ternyata me-gojek itu buat mengusir rasa jenuh saja karena sehari-hari dia di depan komputer memantau pekerjaan.

Pak Saiful juga bercerita tentang kucing-kucingan supir Go-Jek menghindari bentrokan dengan ojek pangkalan. Meski tidak memakai atribut Go-Jek, tapi supir ojek pangkalan mampu mendeteksi supir Go-Jek yang masuk kawasannya. Antapani yang padat berbagai kompleks perumahan itu sebenarnya pasar basah Go-Jek, namun supir Go-Jek sering takut masuk Antapani.

Setelah sampai di Bandara Husein, saya minta mengambil gambarnya buat berbagi cerita yang menarik ini. Ini Pak Saiful, tidak memakai seragam Go-Jek, seperti halnya supir Go-Jek lain di Bandung.

gojek

Hmmmm…saya membayangkan masa pensiun yang indah seperti Pak Saiful ini, yang telah berhasil mendidik anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang tinggi. Semoga tetap sehat terus, Pak…

Dipublikasi di Kisah Hikmah | 3 Komentar

Rumah di Pinggir Lapangan

Saya merasa beruntung sekali membeli rumah yang terletak di pinggir lapangan (ruang terbuka hijau atau RTH). Di sekeliling lapangan itu tumbuh pohon-pohon besar. Ketika siang hari yang panas, angin semilir berhembus dari pohon-pohon itu, membawa kesejukan dan rasa adem. Burung-burung beterbangan di sekitar pohon, dan suara serangga tonggeret yang sedang musim kawin riuh rendah terdengar hingga ke depan rumah.

Namun yang lebih menyenangkan lagi karena  rumah persis terletak di depan lapangan (dipisahkan oleh jalan), maka kami tidak punya tetangga di depan rumah. Oleh karena itu ruang bermain anak menjadi lebih luas selain lapangan itu juga dapat dijadikan warga untuk berbagai aktivitas, seperti main layang-layang, main bola, atau tempat duduk-duduk warga pada sore hari.

rumah1

Halaman rumah kala hujan, dengan ruang terbuka hijau (lapangan) tampak dari depan rumah

Namun, yang lebih penting dari semua itu adalah tersedianya ruang terbuka yang luas untuk anak saya yang sulung. Saya diamanahi oleh Allah SWT anak berkebutuhan khusus (ABK). Keberadaan ABK tentu dapat membuat tetangga merasa agak kurang nyaman karena suara dan aktivitas anak saya yang mungkin dapat membuat orang lain terganggu.  Dengan tidak adanya tetangga di depan rumah, maka tentu berkurang rasa khawatir jika tetangga kami merasa kurang nyaman.

Ruang terbuka hijau itu dulunya milik Perumnas, maklum rumah saya termasuk di daerah Perumnas. Sekeliling lapangan dimanfaatkan warga yang rumahnya tepat di pinggir lapangan tersebut untuk berbagai keperluan. Ada warga yang membangun garasi buat mobil mereka, ada yang menjadikannya kebun, taman, dan lain-lain. Saya sendiri memanfaatkan lahan di pinggir lapangan di depan rumah menjadi taman dan kebun kecil untuk menanam bunga serta beberapa tumbuhan lain seperti mangga, pisang, jeruk, dan lain-lain. Selama ini tidak ada larangan untuk memanfaatkan lahan di pinggir lapangan tersebut asalkan bukan bangunan permanen. Daripada menjadi semak-semak dan tempat bersarang nyamuk, maka lebih baik dimanfaatkan. Tapi jika sewaktu-waktu mau di-revitalisasi oleh Pemerintah Kota, maka siap-siap saja semua yang sudah ditanam atau dibangun di sana harus rela dibongkar.

rumah2

Lahan di pinggir lapangan di seberang rumah saya jadkan taman dan kebun

Saya sering duduk-duduk ngadem di depan rumah sambail memandang taman rimbun dan lapangan itu. Sering saya berpikir, mungkin mendapatkan rumah ini sudah diatur oleh Tuhan. Dengan kondisi anak saya yang ABK, rupanya Tuhan memilihkan saya rumah di sini. Membeli rumah itu kata orang sama seperti mencari jodoh. Kalau mendapat yang pas, maka kita pun mencintainya. Itu tandanya saya berjodoh dengan rumah ini.

~~~~~~~~~

Saya melempar kembali ingatan ke masa lalu  tentang kisah mendapatkan rumah  yang saya tempati sekarang, tepatnya pada tahun 2005. Setelah saya menikah, saya menjadi seorang kontraktor. Maksudnya saya selalu mengontrak rumah karena belum mampu membeli rumah sendiri. Saya sudah tiga kali mengontrak rumah, selalu berpindah-pindah ke rumah kontrakan, tapi masih dalam satu kawasan. Satu per satu anak saya lahir dan rumah kontrakan mulai terasa sempit. Bosan juga sering pindah rumah terus, mengangkut barang-barang itu lho, sungguh merepotkan.

Sebagai orang yang selalu hidup hemat, saya rajin menabung. Setiap mendapat penghasilan lebih, saya selalu menabungnya. Kebetulan saya bukan orang yang suka royal, tidak suka menonton bioskop, tidak suka jalan-jalan ke mal, tidak merokok, tidak konsumtif, jadi memang penghasilan sebagai dosen dan penulis hanya untuk makan, transportasi, biaya anak, dan kebutuhan rumah tangga saja.

Setiap akhir pekan saya sering membawa anak-anak yang masih kecil itu jalan-jalan ke kompleks perumahan. Jalan kaki saja. Ada satu rumah yang saya sering lewati. Rumah itu kosong, halamannya cukup luas, namun saya belum terpikir untuk memilikinya. Tabungan saya juga belum cukup. Lagipula, tidak ada tanda-tanda rumah itu mau dijual.

Setiap kali jalan-jalan membawa anak keliling-keliling, saya selalu melewati rumah itu lagi. Suatu hari ada tulisan RUMAH INI DIJUAL. HUBUNGI NOMOR (nomor telpon pemilik). Iseng-iseng saya hubungi nomor yang bersangkutan. Disambut. Lalu saya tanyakan harga rumahnya. Dia menyebutkan sebuah harga. Oh, saya tidak memiliki uang sebanyak yang dia minta. Kemudian saya tawar, apakah bisa sekian harganya. Pemiliknya ternyata menyarankan untuk janjian ketemu di rumah tersebut sambil membicarakan harga.

Pada hari yang dijanjikan, kami bertemu dengan pemilik rumah. Saya melihat-lihat ke dalam, ternyata halaman belakangnya masih cukup luas. Keinginan saya sejak dulu adalah memiliki rumah yang punya halaman belakang sehingga dapat menjadi tempat leyeh-leyeh atau tempat anak-anak bermain. Ini rumah masih bangunan asli dari developer, belum direnovasi atau ditambah-tambahi. Rumah-rumah tetangga di sebelahnya juga memiliki bentuk yang sama. Saya langsung jatuh hati dengan rumah tersebut.

Kebetulan saya membawa anak yang masih kecil-kecil. Melihat anak-anak saya itu, pemilik itu merasa simpati. Dia minta sebuah harga yang bulat, sedikit lebih rendah dari yang dia tawarkan, sementara untuk biaya balik nama, pajak, dan biaya notaris ditanggung berdua (saya dan pemilik rumah). Akhirnya deal. Setelah melalui proses di  notaris selama sebulan, rumah tersebut akhirnya menjadi milik saya. Saya seperti hampir tidak percaya bisa memiliki rumah sendiri. Uang yang saya tabung selama bertahun-tahun sejak saya belum menikah, sedikit demi sedikit, akhirnya membuahkan sebuah rumah. Tak apalah rumah second, nanti bila ada rezeki saya bisa merenovasinya.

Rumah itu memiliki nomor yang bagus, yaitu nomor sembilan, meskipun saya tidak  percaya soal angka keberuntungan. Airnya dari PDAM, selalu lancar dan bersih. Rumah-rumah yang terletak di jalan lain di seberang lapangan seringkali kekurangan air, maka air di rumah saya selalu mengalir. Kami tidak pernah kekurangan air.  Alhamdulillah. Saya ingat pesan orangtua jika membeli rumah: perhatikan airnya apakah lancar. Itu nomor satu. Nomor dua adalah lingkungan. Lingkungan di sekitar rumah saya yang asri, sejuk, segar, lapang, hijau, dan tetangga yang baik adalah nilai tambah lainnya, sebagaimana yang saya ceritakan di atas.

Setelah merenung-renung kembali, maka saya pun mulai mengerti sekarang, rupanya inilah rumah yang dipilihkan Allah SWT untuk kami. Rahasia Allah kita tidak pernah tahu.

Dipublikasi di Pengalamanku | 4 Komentar

Kenangan Pecel Kroya

Di daerah Antapani Bandung sering terlihat seorang perempuan penjual pecel. Dia mbak bakul penjual pecel asal Kroya, Cilacap. Setiap pagi dia keliling kompleks pemukiman di Antapani berjualan pecel dengan menggunakan sepeda. Pecelnya lumayan enak meskipun menurut saya agak kurang pedas (maklum cabe rawit merah harganya selangit saat ini, Rp140.000/kg). Saya beli satu porsi pecel pincuk (pecel dengan wadah daun pisang), pakai tambahan daun pepaya yang pahit biar enak di perut. Sayangnya nggak ada bunga kecombrang merah, padahal itulah khasnya pecel Kroya.

pecel1

pecel2

pecel3

Pecel Kroya? Hmm…saya jadi terkenang masa lalu ketika dulu main ke Solo, Yogya, atau Surabaya, saya selalu naik kereta api, biasanya kereta api ekonomi dari Bandung. Nah,  ketika kereta berhenti di Kroya, banyak penjual pecel di stasiun menawarkan pecel pincuk, harganya murah cuma seribu ribu rupiah.

pecel kroya

Pemandangan para perempuan penjual pecel di stasiun seperti ini adalah eksotisme masa lalu yang mungkin jarang terulang (Sumber foto: https://c1.staticflickr.com/4/3769/9959534334_c3bbc18d6a.jpg)

kroya4

Mbok bakul penjual pecel di stasiun Kroya. Bunga kecombrang merah menjadi hiasan pecel khas Kroya. (Sumber foto: http://haapengennulishe.blogspot.co.id/2010/09/haa-iki-pecel-kroya.html)

Sebagian penjual pecel masuk ke dalam kereta menawarkan pecelnya. Penumpang yang kelaparan memang sudah menunggu-nunggu pedagang asongan ini, terutama pecel itu, karena pakai lontong.Untuk membuat pecel itu terlihat menaik, maka di atasnya diletakkan bunga kecombrang yang berwarna merah sebagi hiasan, tapi juga bisa dimakan.

Sekarang tidak mungkin lagi beli pecel di stasiun Kroya karena pedagang pecel tidak boleh masuk ke dalam kereta. Jendela kereta bisnis dan ekesekutif juga tidak bisa dibuka. Kalau mau, ya berani turun gerbong untuk beli pecel itu, tapi resikonya bisa ketinggalan kereta karena berhentinya cuma dua menit.

Dipublikasi di Cerita perjalanan, Makanan enak | 1 Komentar