Radikalisme Ada pada Semua Agama

Kasus pembubaran sholat Ied dan pembakaran kios serta masjid oleh massa Gereja Injili di Indonesia (GIDI) di Tolikara, Papua, semakin menegaskan bahwa radikalisme ada pada hampir semua agama. Biasanya sebutan radikalisme selalu disematkan pada ormas atau kelompok Islam yang oleh media tertentu sering disebut sebagai massa intoleran. Sekarang semakin jelas bahwa radikalisme tidak memandang bulu dan keyakinan. Pada kasus agama Budha, kelompok radikal itu tergambar pada kelompok bhiksu dan massa radikal yang dikoordinir oleh Bhiksu U Wirathu di Myanmar. Mereka mengusir kaum muslim Rohignya, membunuh, dan membakar semua harta bendanya. Sedangkan di India, kelompok radikal Hindu menghancurkan Masjid Babri yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Dewa Rama.

Pembakaran kios dan masjid di Tolikara, Papua, pada saat sholat Iedul Fitri (Sumber gambar: MetroTV news)

Pembakaran kios dan masjid di Tolikara, Papua, pada saat sholat Iedul Fitri (Sumber gambar: MetroTV news)

Ketika suatu agama mayoritas di suatu tempat, maka gejala radikalisme itu lebih mudah tumbuh sebagai bentuk eksistensi untuk mempertahankan eksklusivisme daerahnya sebagai penganut agama mayoritas. Kelompok yang radikal ini merasa “terancam” atau terusik dengan umat agama minoritas yang dianggap berulah atau macam-macam. Mereka melakukan pembatasan dan pelarangan, yang apabila tidak dipatuhi maka penyelesaian akhirnya adalah dengan jalur kekerasan. Apa yang terjadi di beberapa daerah mayoritas Islam di Indonesia, di Myanmar dan di Tolikara adalah adalah contoh nyatanya.

Namun saya yakin kelompok yang ekstrim ini jumlahnya minoritas. Tidak semua umat dalam agama itu setuju dengan kelompok radikal. Mayoritas umat setiap agama itu berada di tengah-tengah, tidak di ujung kiri (ekstrim kiri) atau tidak di ujung kanan (ekstrim kanan). Yang di tengah-tengah itu, yang jumlahnya mayoritas, lebih menginginkan hidup tenang, rukun dan damai, adem tentrem kerta rahardja, beribadah dan bekerja dengan tenang, ketimbang berkonflik yang hanya menghasilkan kebencian dan permusuhan.

Khusus kasus di Tolikara, dari penuturan orang-orang di Papua, mereka menyatakan bahwa tidak ada masalah dalam hubungan umat beragama di Papua. Papua termasuk daerah yang menjadi contoh kerukunan umat beragama, selain Manado yang saya tahu. Tidak pernah ada perang antar agama di Papua, yang ada hanyalah perang antar suku. Jadi, kejadian di Tolikara tidak mencerminkan karakter orang Papua yang pada dasarnya lemah lembut.

Jadi, radikalisme atau ekstrimisme bukanlah ajaran hakiki agama manapun. Tidak ada agama yang mengajarkan ummatnya melakukan kekerasan kepada orang lain yang tidak seagama, kecuali jika anda diserang.

Pada dasarnya orang Indonesia itu bisa hidup rukun damai dengan orang yang berbeda suku dan agama. Lihat saja di daerah-daerah yang multi agama seperti di Sumut, Sulut, NTT, Kalteng, Maluku, dll, mereka damai-damai saja. Mereka sudah berabad-abad hidup dengan keberagaman itu. Kerusuhan berbau SARA muncul ketika ada provokator dari luar yang memanas-manasi. Maluku contohnya.

Boleh saja kita berbeda agama dan keyakinan. Namun yang sering kita lupakan adalah bahwa kita ini masih satu bangsa dan satu tanah air, sama-sama hidup di Indonesia, sama-sama warga negara Indonesia.

Dipublikasi di Agama | 1 Komentar

Rindu Siaran Radio Kampung Halaman dengan “RRI Play”

Jika datang kerinduan mendengar siaran radio dalam bahasa daerah dari kampung halaman, maka saat ini kerinduan itu bukan hal yang sulit lagi. Tidak perlu pulang kampung untuk mendengarkan siaran radio berbahasa daerah, cukup dari genggaman tangan anda dengan menggunakan smartphone, maka kerinduan itu akan terbalaskan. Siaran radio streaming dari RRI stasiun daerah dapat anda nikmati sambil tiduran, berkendara, atau leyeh-leyeh di rumah. Asalkan ada koneksi Internet, maka anda dapat mendengarkan radio streaming dari belahan bumi mana saja.

RRI PlayCaranya mudah. Carilah aplikasi RRI Play seperti logo di samping kanan dari Play Store/Apple Store di smartphone anda, lalu unduh ke ponsel anda. RRI Play adalah aplikasi android yang disediakan di dalam Google Play. Aplikasi RRI Play tidak berbayar alias gratis, jadi anda tidak dikenakan biaya untuk mengunduhnya, kecuali biaya internet selama pengunduhan.

Screenshot_2015-06-15-19-58-13Setelah diunduh, jalankan aplikasi RRI Play ini. RRI punya kanal Pro 1, Pro 2, Pro 3, dan Pro 4 dari stasiun RRI berbagai kota mulai dari Aceh sampai Papua. Untuk siaran radio dalam bahasa daerah, pilih Pro 4.

Misalkan saya ini sebagai perantau Minang ingin mendengarkan siaran berbahasa Minang, maka pilih Pro 4, lalu pilih pilih RRI Padang, maka siaran radio berbahasa Minang dari RRI Padang Pro 4 dapat saya nikmati. Saya dapat mendengarkan lagu-lagu Minang, request lagu, berita kampung halaman, celoteh dalam Bahasa Minang, beriyta dari kampung halaman, dan lain-lain yang disiarkan oleh penyiar dari RRI Padang. Rasanya saya sedang berada di kampung sendiri:-). Dengan kecepatan 32 kbps, siaran RRI statsiun daerah ini dapat dinikmati secara live dan realtime. Pulsa internet yang terpakai pun tidak terlalu besar untuk streaming selama satu jam.

Screenshot_2015-06-15-19-58-40Ada banyak stasiun RRI daerah Pro 4 yang dapat dimainkan dari RRI Play. Saat ini ada RRI Ambon, RRI Bandung, RRI Banjarmasin, RRI Cirebon, RRI Denpasar, RRI Jakarta, RRI Jambi, RRI Jayapura, RRI Kupang, RRI Malang, RRI Manado, RRI Manokwari, RRI Medan, RRI Padang, RRI Palembang, RRI Palu, RRI Pekanbaru, RRI Semarang, RRI Samarinda, RRI Surabaya, RRI Yogyakarta. Untuk RRI Pro 1, selain stasiun radio yang disebutkan di atas, masih ada RRI Bukittinggi, RRI Fak Fak, RRI Gunung Sitoli, RR Ende, RRI Biak, RRI Bengkulu, RRI Banten, RRI Bogor, RRI jember, RRI Kendari, RRI Madiun, dan masih banyak lagi. Itu belum termasuk RRI Pro 2 dan Pro 3. RRI Play juga mempunyai kanal lagu-lagu jazz, kanal lagu klaisk, kanal lagu keroncong, dan siaran perbatasan.

Screenshot_2015-06-15-19-59-22Radio adalah media yang lebih akrab dan lebih intm ketimbang televisi. Kita dapat mendengarkannya sambil belajar, sambil membaca buku, sambil mengetik di depan komputer, sambil mengemudi, atau sambil tidur-tiduran tanpa harus membuat mata lelah seperti menonton TV. Rasanya kerinduan pada kampung halaman terbayarkan, apalagi jika anda tidak mudik ke kampung pada lebaran tahun ini. Terima kasih RRI Play, semoga RRI tetap jaya, sekali di udara tetap di udara.

Dipublikasi di Cerita Minang di Rantau, Gado-gado | 2 Komentar

Anak Yatim Berhak Menerima Zakat?

Seorang rekan senior bertanya kepada saya, apakah saya mudik pada lebaran tahun ini? Tidak, jawab saya, karena saya sudah tidak punya orang tua lagi di kampung halaman. Wah, kalau begitu anda yatim piatu dong, katanya. Anda berhak menerima zakat tuh, katanya setengah bercanda.

Ha..ha, jelas tidak. Setahu saya anak yatim bukanlah salah satu dari delapan asnaf (orang yang berhak menerima zakat). Dari pelajaran agama yang saya ketahui ada delapan golongan asnaf, yaitu fakir (orang yang tidak memiliki harta), miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi), riqab (hamba sahaya atau budak), gharim (orang yang memiliki banyak hutang), mualaf (orang yang baru masuk Islam), fisabilillah (pejuang di jalan Allah), ibnu sabil (musyafir dan para pelajar perantauan), dan amil zakat (panitia penerima dan pengelola dana zakat) (sumber: Inilah 8 Golongan Orang Yang Berhak Menerima Zakat)

Karena anak yatim bukan salah satu dari delapan asnaf, maka mereka tidak berhak menerima zakat, sebab anak yatim berada di bawah tanggungan orang yang berzakat (keluarganya atau famili dekat/jauh). Saya pernah membaca jawaban Pak K.H Miftah Farid (ulama tawadhu dari Bandung) tentang pertanyaan apakah anak yatim boleh menerima zakat. Jawaban Pak Miftah, kalau memberi zakat karena keyatimannya jelas tidak boleh. Namun kalau memberi zakat kepada anak yatim karena kemiskinannya, maka itu boleh.

Nah, kalau alasannya karena anak yatim itu miskin, saya sepakat (atau bisa diperluas jika ia banyak utang, fisabilillah, ibnu sabil, dst). Soalnya, anak yatim belum tentu semuanya miskin lho. Banyak juga anak yatim dari keluarga berada, mereka yang menjadi yatim karena ditinggal ayah/bundanya, namun memiliki warisan yang lumayan untuk bekal hidupnya. Saya ini sekarang anak yatim piatu, namun saya punya penghasilan memadai dan orangtua kami meninggalkan warisan yang cukuplah buat kami para anaknya, jadi saya merasa bukan salah satu dari delapan asnaf.

Yang menyedihkan, banyak lembaga sosial yang mengatasnamakan anak yatim memasang spanduk menerima zakat dan shadaqah. Jika tidak hati-hati, bisa salah paham dengan menganggap anak yatim berhak menerima zakat karena keyatimannya itu. Petugas penerima shadaqah/zakat di suatau lembaga amil zakat yang mengatasnamakan anak yatim pernah saya tanya tentang hal ini, tapi tampaknya dia tidak mengerti dengan mengatakan bahwa anak yatim kan boleh menerima zakat.

Tentu saja boleh, namun sekali jangan salah niat memberi zakat karena faktor keyatimannya, namun karena kemiskinannya. Karena kemiskinannya itu maka ia tidak mampu membayar biaya sekolah, misalnya. Supaya tidak salah paham, biasanya ketika saya memberi uang kepada anak yatim atau lembaga amal yatim, maka saya meniatkannya bukan atas nama zakat, tetapi atas nama sadaqah. Nah, kalau sadaqah bisa buat siapa saja, termasuk anak yatim.

Masalah ini menurut saya sama dengan pertanyaan apakah masjid boleh menerima zakat? Coba perhatikan, banyak Panitia Pembangunan Masjid memasang spanduk di jalanan bahwa masjidnya menerima titipan zakat, infaq, dan sadaqah untuk menyelesaikan pembangunan masjid. Karena masjid bukan manusia, maka masjid tidak termasuk salah satu dari delapan asnaf. Mungkin yang lebih tepat adalah memberikan sumbangan ke masjid atas nama waqaf, lebih tepatnya waqaf pembangunan masjid.

Dipublikasi di Agama | 3 Komentar

Perilaku LGBT Sudah Mewabah pada Anak-anak Muda Indonesia

Ini masih seputar berita pernikahan sesama jenis yang sedang hangat di dunia. Membaca postingan Ummi Yana di Facebook tentang grup gay di Jombang, membuat saya bergidik. Ngerii… naudzubillah min zalik, ternyata kehidupan gay dan lesbian sudah mewabah pada generasi muda di negara kita. Sudah mulai menular sejak anak-anak SMP/SMA. Ini baru di Jombang lho, sebuah kabupaten kecil di Jatim. Bagaimana dengan kota/kabupaten lain di Indonesia?

Fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Trasgender) di Indonesia ini bagaikan gunung es, yang terlihat baru puncaknya saja, tetapi yang belum terungkap justru lebih besar dan mengerikan. Mungkin yang akan kita temukan di Internet lebih dari cerita Ummi Yana tersebut.

Sebelum media sosial dan jejaring sosial ada, perilaku LGBT anak-anak muda ini mungkin sudah lama ada, tapi saya yakin tidak sebanyak sekarang. Sekarang saja menjadi lebih ramai karena peran media tersebut. Namun, media sosial pula yang ikut menyebarkan wabah LGBT ini. Mereka eksis di media sosial karena di dunia nyata mereka merasa dikekang, tidak leluasa berpacaran, tidak dapat berkomitmen secara formal, dan posesif terhadap pasangan.

Analisis saya, mungkin perilaku gay/lesbian itu subur karena kalau melakukan hubungan intim dengan sesama jenis tidak beresiko hamil. Beda kalau pacaran lain jenis sampai hubungan intim, bisa berabe. Anak-anak muda itu lagi tinggi-tingginya dorongan syahwatnya, maka penyalurannya adalah sesama jenis supaya tidak hamil.

Aduh, semakin berat saja mendidik anak pada zaman sekarang. Harus sejak dini pendidikan agama ditanamkan kepada anak. Tidak cukup itu saja, orangtua harus selalu mengawasi dan memantau pergaulan anaknya. Anak kita mungkin manis di depan kita, tidak tahunya mereka sudah terperosok ke perbuatan dosa besar. Mari kita jaga pergaulan anak-anak kita dari virus LGBT yang mengerikan ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sumber: Celotehan Ummi Yana

Sebenarnya, aku udh azzam pada diri sendiri ga mau ngomongin soal LGBT dulu selama ramadhan..

Fokus ibadah.. Dan aksi #RombongSedekah

Tapi keisenganku bberapa waktu lalu untuk masuk ke ‘Grup Gay Jombang’ Facebook, berbuah mual, muntah, dan keringat dingin..

Dan aku harus membaginya..

Seenggaknya, biar anda-anda para ibu, ayah, orangtua, yg merasa, perkembangan LGBT ini bukan sesuatu yg patut ditakutkan, sedikit bs lebih melek! ..

Buuuu..
Pakkkk..

Peluk erat anak-anak kita..
Dekati..
Fahami..
Doakan..

**

Grup ini, hanya 1 dari puluhan Grup para gay yg eksis di FB.
Itu baru yg keyword “gay jombang” ,
blum lg grup LGBT dengan nama-nama sandi,
seperti Pelangi, Rainbow, Warna-warni, dll..
Dan..
Itu baru di Jombang..
Baru di Jombang.. Sebuah kabupaten kecil !

*

Jangan dikira lolos ke grup tertutup ini mudah..
Butuh bbrpa hari..
Aku harus membuat account dgn nama alay, dan foto cowok alay yg lg selfie.. Agar meyakinkan sbg seorang Gay..
#ingat ya, cowok klo suka selfie dgn pose alay itu termasuk kategori terlalu gay
tongue emotikon

Aku jg melampirkan nomer telpon yg aktif, agar dipercaya..

**

Butuh sepekan lebih baru aku diijinkan masuk.
Dan setelah masuk..
Aku seperti berada di neraka..
frown emotikon

Foto-foto kelamin pria beredar dimana-mana..
Sebagian mereka masih remaja.. Bahkan ada yg masih SMP.
Cari pasangan untuk seks bebas dan bersenang-senang, Jauh lebih mudah dari menjual makanan di Grup Kuliner Jombang.

Tinggal tulis usia, peran, dan ketertarikan seksual (cari yg tua, muda, putih, sawo matang, dll),
dan tinggalkan nomor telpon, WA, BBM..

Semua tawaran dan ajakan maksiat akan muncul di komentar..
Gayung bersambut..

**

” Tantangan untuk menyembuhkan anak-anak kita yg punya kecenderungan LGBT akan semakin berat jika mereka sudah memasuki fase telah berhubungan badan.. Mereka akan terjebak kenikmatan yg mengandung candu ”

Kurang lebih begitu kak Egi, penulis buku @anakku bertanya tentag LGBT menyebut bahayanya fase ini.
Dan para member di grup ini, sudah jelas masuk dlm fase ini.

*

Tak segan2 jika ada yg dikecewakan, member meng-upload sebuah foto cowok, sambil berkomentar :
” Ada yg pernah ML dgn ini gag? “.
Dan puluhan komen muncul.

Bukti, bahwa Tak hanya seks bebas,
prostitusi gay,
tukar pasangan

Jd hal yg umum banget di grup ini..

*

Ahhh, sudahlah..
Tulisan ini cuma pengen buat ente2 yg suka ngenyek aku, bangun!
Aku ga lebay..
Ini beneran terjadi.. Dekatttt dengan kita..
Ga usah ikut2an iseng kaya aku, bikin account palsu..
Nanti muntah..

**

Tulisan selanjutnya baru kita bahas lagi “harus apa” dan “gimana” yaaa

Salam,
Yana Nurliana

Menulis bukan nakut-nakutin,
Tapi membuka mata biar melek

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku, Pendidikan | 18 Komentar

Negeri Sodom Abad Modern di Tanah Amerika

Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang melegalkan pernikahan sesama jenis (lelaki dengan lelaki, perempuan dengan perempuan) sontak membuat dunia heboh. Sebenarnya Amerika bukan yang pertama, legalisiasi pernikahan sesama jenis sudah duluan disahkan di beberapa negara seperti Belanda, Irlandia, Uruguay, dan lain-lain (Baca: Pernikahan Sejenis Legal di 23 Negara Ini). Tetapi, karena Amerika adalah negara besar, maka pengaruhnya tentu sangat besar pula pada negara lain di seluruh dunia. Apa yang terjadi di Amerika akan menjalar ke tempat lain dan mungkin akan ditiru pula di negara lain, cepat atau lambat. Hanya di negara-negara yang konservatif yang memegang teguh ajaran agama peraturan itu akan mendapat perlawanan keras.

Simbol pelangi mewakili kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender)

Simbol pelangi mewakili kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender)

Semua agama menentang pernikahan sesama jenis. Tetapi di Amerika, dan juga di negara-negara Barat lainnya, agama telah dicampakkan oleh banyak warganya. Agama tidak lagi menjadi tuntunan hidup, agama tinggallah sebagai perayaan seremoni belaka. Kebebasan, kesetaraan, dan HAM menjadi ‘agama’ baru bagi warga Barat. Kalau melihat fenomena di dunia Barat di mana gereja-gereja sudah sepi ditinggalkan penganutnya, maka tidaklah mengherankan jika pernikahan sesama jenis mendapat dukungan besar warganya, terutama dari kaum mudanya.

Anehnya di Indonesia ada pula kalangan selebriti yang bangga dengan pengesahan pernikahan sesama jenis itu. Sebut saja seperti penyanyi Sherina dan sutradara Joko Anwar yang menuliskan cuitan di Twitter sebagai sebuah kemajuan peradaban. Ah, artis-artis semacam itu tidak perlu lagi menjadi tuntunan dan tontonan, karena mereka mendukung perbuatan dosa besar. Orang yang mematuhi ajaran agama tidak mungkin akan menyetujui pernikahan sesama jenis.

Hubungan sesama jenis adalah perbuatan yang nyata-nyata dilarang oleh Allah SWT. Banyak sekali ayat di dalam Alquran maupun di dalam Bibel yang menceritakan kisah umat Nabi Luth di kota Sodom. Ummat Nabi Luth melakukan perbuatan liwath yang terlarang, yaitu menyalurkan syahwat lelaki kepada lelaki dan perempuan kepada perempuan. Karena perbuatan ummat Nabi Luth itu, maka Allah SWT membinasakan kaum ini dengan membalikkan kotanya.

Sekarang, kisah kaum Sodom itu muncul lagi pada abad modern dengan dalih kebebasan dan kesetaraan. Negara memfasilitasi orang-orang melakukan liwath. Mungkin ini merupakan tanda-tanda akhir zaman. Bukan tidak mungkin azab Allah akan muncul kembali kepada negeri Sodom modern. Wallaahu alam.

Gay dan lesbian adalah perilaku yang sebagian besar terjadi karena pergaulan. Sangat jarang gay dan lesbian itu karena faktor genetik. Seseorang yang bergaul dengan kaum homoseksual akan cenderung mempunyai perilaku yang sama. Maka, boleh saya katakan kalau gay dan lesbian adalah perilaku menular. Pada zaman sekarang pergaulan anak muda begitu bebasnya, gay dan lesbian sudah menjadi gaya hidup. Banyak anak muda Indonesia yang ikut-ikutan menjadi homoseksual karena salah pergaulan. Sekali masuk ke dalam dunia itu, sukar untuk keluar.

Jika pernikahan homoseksual sudah menjadi hal yang legal, sukar membayangkan bagaimana dunia nanti. Keluarga pasangan gay dan lesbian apabila ingin mempunyai anak, maka mereka melakukannya dengan cara adopsi atau donor sperma. Konsep keluarga akan menjadi kacau. Seorang anak akan melihat “ayah ibu”-nya dari jenis kelamin yang sama. Mana ayah dan mana ibu sudah tidak jelas lagi. Anak yang dibesarkan oleh pasangan sejenis mempunyai peluang besar meniru kelakuan orangtuanya.

Saya memang orang yang konservatif. Saya tidak perlu bermodern-modern soal yang satu ini. Mereka, pendukung LGBT dan pernikahan sesama jenis, mengatakannya sebagai kemajuan peradaban. Mengutip seorang teman, kehancuran peradaban biasanya dimulai ketika ia melawan fitrah kehidupan. Pernikahan sesama jenis adalah perbuatan yang melawan fitrah kehidupan.

Dipublikasi di Dunia oh Dunia | 12 Komentar

Buka Puasa dengan Buah Kesemek

Kemarin saya berbuka puasa dengan buah kesemek. Tahu kan buah kesemek? Buah yang sudah mulai langka ini jarang-jarang muncul, tetapi beberapa hari yang lalu saya menemukan pedagang yang menjualnya di Pasar Kosambi. Harganya Rp15.000 per kg untuk kualitas bagus. Biasanya buah kesemek muncul pada musim kemarau di pertengahan tahun. Dulu saya pernah menulis tentang kenangan pada buah langka ini.

Buah kesemek yang manis dan harum

Buah kesemek yang manis dan harum

Bulan puasa ini kebetulan jatuh pada musim kemarau (musim panas), maka menikmati buah kesemek yang segar dan manis adalah pilihan yang tepat. Buah kesemek rasanya manis, kaya gizi, dan harganya pun murah. Manfaat buah kesemek dbuat kesehatan dapat dibaca pada tulisan ini: 17 Manfaat Buah Kesemek Bagi Kesehatan.

Buah kesemek di Jawa disebut apel jawa atau apel gunung, di Padang disebut apel belanda atau buah gata (karena buah yang masih mengkal apabila digigit menimbulkan rasa gatal di bibir), di Jepang disebut buah kaki. Ini buah lokal yang harus dilestarikan supaya anak cucu kita pernah mengenal dan mengkonsumsinya.

Dipublikasi di Makanan enak | 1 Komentar

Video Varun Pruthi: Pedagang Kecil Berjualan Untuk Bertahan Hidup, Bukan Untuk Menjadi Kaya

Sebuah video baru dari Varun Pruthi, seorang aktor Bollywood, baru saja diluncurkan pada tanggal 24 Mei 2015. Video ini sudah banyak dibagikan oleh netizen karena membawa pesan yang menohok kebanyakan orang. Saya mendapat kiriman tautan video ini beserta ulasannya dari jejaring sosial. Setelah saya buka videonya di YouTube, memang pesan moralnya sungguh mengena. Di bawah ini videonya (klik saja).

Dikisahkan di dalam video tersebut, seorang penjual kelapa di pinggir jalan (diperankan oleh Varun Pruthi sendiri) didatangi oleh seorang pembeli yang memakai mobil (digambarkan sebagai orang kaya). Pembeli itu menanyakan harga kelapa muda kepada si penjual. Bukannya membeli, namun ia marah-marah setelah mengetahui harga kelapa yang dipatok penjual itu terlalu mahal (30 rupee). Ia menawar 15 rupee tetapi si penjual kelapa mengatakan bahwa kelapa yang ia beli ongkosnya saja lebih dari 15 ruppe. Ia menuduh si penjual kelapa sebagai pencuri atau perampok uang karena mematok harga yang menurutnya mahal tersebut.

Anehnya, si pembeli tadi malah memilih membeli minuman mineral di supermarket yang harganya 35 rupee, lebih mahal daripada kelapa muda tadi. Tentu ia tidak marah-marah kepada pemilik supermarket atau menuduhnya pencuri uang segala karena harga minuman yang mahal tersebut. Ia mengatakan kepada si penjual kelapa bahwa minuman yang dia beli bermerek, sedangkan air kelapa si penjual tidak.

Di dalam video ini Varun seakan menyindir kebiasaan orang-orang kaya yang tidak malu menawar terlalu murah kepada pedagang kecil yang rela berpanas-panasan di pinggir jalan, namun enggan menawar barang di mall mewah atau supermarket yang sejuk. Kebiasaan ini malah dapat memperburuk kondisi kemiskinan.

Melalui video ini pula Varun ingin mengingatkan kepada orang kaya bahwa kebanyakan pedagang kecil berjualan tidak untuk menjadi kaya, tetapi hanya untuk bertahan hidup. Mereka tidak mencari untung besar, dagangannnya laku saja itu sudah sukur. Hal sebaliknya pada pedagang-pedagang besar (yang tentu saja kaya), yang berjualan untuk meraup untung sebesar-besarnya guna menambah kekayaannya.

Apa yang ditampilkan oleh Varun Pruthi di dalam videonya itu merupakan cermin kondisi di dalam masyarakat kita. Banyak orang lebih suka membeli barang di toko-toko besar (swalayan, supermarket, mall) daripada membeli barang yang sama dari pedagang kecil. Terhadap pedagang kecil mereka meminta (menawar) harga semurah-murahnya, namun kepada pedagang besar mereka tidak melakukan hal yang sama.

Dengan membeli barang jualan pedagang kecil itu kita secara tidak langsung telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka. Satu rupiah tidak berati pagi pedagang besar, tetapi sangat berarti bagi pedagang kecil.

Orang yang kuat bukanlah orang yang mengeksploitasi orang lain, tetapi membantu mereka, demikian pesan di dalam video ini.

Dipublikasi di Renunganku | 1 Komentar