ART yang Kembali Lagi

Pembantu (ART) di rumah kami sudah bekerja sejak si bungsu umur 6 bulan. Sekarang si bungsu sudah berumur 14 tahun, berarti ART sudah bekerja lebih dari 13 tahun. Awet ya. Sistemnya tidak menginap, dia datang pagi pukul 9 lalu pulang sore pukul 5, karena dia juga punya suami di kontrakan. Kami sejak dulu selalu mencari pembantu yang tidak menginap, lebih nyaman saja begitu. Pekerjaannya rutin biasa saja, urusan cuci-mencuci, setrika pakaian, beres-beres rumah. Tidak masak karena kami membeli makanan atau memasak sendiri. Sekalian dia juga menjaga anak di rumah dan menyediakan makan karena kami keduanya bekerja. Santailah kerjanya, tidak berat-berat amat. Dia juga suka dengan kerja seperti itu makanya kerasan.

Akhir tahun lalu saat pandemi suaminya wafat. Bukan karena covid, tetapi karena penyakit jantung. Sejak itu dia mulai sakit-sakitan dan banyak pikiran. Beberapa kali on off masuk kerja. Saya maklumi saja, saya juga belum berniat mencari pengganti.

Akhirnya karena sakit terus, bahkan pernah pingsan, si bibi pulang ke kampungnya di Garut, tinggal di rumah anak lelakinya yang sudah berkeluarga. Kami pun mulai mencari pengganti ART, tetapi tidak cocok, akhirnya dihentikan. Karena masih pandemi dan WFH di rumah, maka ketiadaan ART juga tidak masalah bagi saya. Semua pekerjaan rumah sudah biasa kami kerjakan.

Lama tiada kabar, kemaren si bibi datang ke rumah, langsung dari Garut diantar anak lelakinya naik motor. Dia mengatakan ingin bekerja lagi. Selama tinggal di rumah anaknya di Garut dia tidak punya pekerjaan. Anaknya juga susah hidupnya, hanya pegawai office boy di sebuah bank. Hidup “menumpang” di rumah anak terus menerus juga kurang nyaman baginya. Dia biasa hidup mandiri dan punya penghasilan sendiri. Biasa bekerja lalu berhenti tentu bisa menimbulkan penyakit bagi dirinya. Kata dia, bekerja itu membuat dia sehat karena tubuh selalu bergerak. Diam di rumah saja malah sakit-sakitan. Kesal di rumah terus.

Kami pun menerima dia kembali bekerja harian di rumah. Sudah belasan tahun dia bekerja di rumah kami tentu sudah kerasan baginya. Sulit bagi dia melupakan anak-anak kami, apalagi si sulung yang ABK. Teringat terus, katanya. Katanya lagi, justru dia merasa bahagia kerja di rumah kami. Nggak tahu kenapa ya. Mungkin karena kerjanya nggak berat dan gajinya juga lumayan gitu? Hahaha…

Ya sudah, hari ini dia mulai masuk kerja lagi, datang pagi pulang sore. Saya tanya kenapa dia ingin bekerja lagi. Katanya, dia tidak punya uang. Saya pun mengerti. Saya teringat kata ibu saya, perempuan di mana pun di dunia ini perlu memegang uang di tangannya. Jika perempuan tidak memegang uang rasanya ada yang kurang nyaman dalam hidupnya. Benarkah begitu?

Dipublikasi di Romantika kehidupan | Meninggalkan komentar

Bunga Tanduk Rusa

Di depan rumah saya, sebuah ruang terbuka hijau, tumbuh bunga tanduk rusa di sebuah batang kayu yang besar. Bunga tanduk rusa itu pada awalnya hanya sepokok kecil, dulu ditanam oleh Bu Yusuf, tetangga saya, dengan cara mengikatnya ke batang pohon dengan tali rafia. Bunga tanduk rusa itu makin lama makin besar sehingga menjadi menjadi bunga raksasa yang indah. Daunnya yang berbentuk tanduk rusa menjuntai panjang ke bawah, sedangkan bagian mahkotanya seperti lembaran daun yang mengering berwarna coklat.

tandukrusa4

Ini adalah foto bunga tanduk rusa pada tahun 2018

Saya lupa bunga tanduk rusa ini ditanam pada  tahun berapa, sekitar tahun 2010-an lah, sekarang usianya mungkin sekitar 10 tahun.

Tanaman tanduk rusa tergolong ke dalam paku-pakuan ( Ptrydophyta), tidak ada bunganya, tetapi daya tariknya adalah pada daunnya yang berbentuk tanduk rusa itu. Bunga tanduk rusa ini subur sekali pada musim hujan ini. Di dalam “perutnya” tersimpan cadangan air yang banyak sekali. Pada musim kemarau cadangan air itu digunakannya agar tetap bertahan hidup.

tandukrusa1

Bunga tanduk rusa pada tahun 2019

Karena semakin lama semakin besar dan berat, akhirnya pada suatu pagi pada tanggal 22 September 2021, bunga tanduk rusa kebanggaanku, yang selalu saya rawat sejak masih kecil, akhirnya roboh ke tanah. Tidak kuat lagi ia menahan beban karena sudah membesar dan berat, sehingga terlepas dari kulit pohon inangnya. Terkulai di tanah ūüėĘ

tandukrusa2

Jatuh terkulai ke atas tanah

Sedih. ūüė¶

Namun saya tidak ingin bunga tanduk rusa ini mati. Maka, dengan menggunakan kawat dan tali, akhirnya saya ikat kembali ke batang pohon itu, tempat ia bergantung selama ini.

tandukrusa3

Dikkat lagi dengan bantuan tali dan kawat

Tidak persis seperti kedudukan aslinya, tetapi lumayanlah ia bisa tumbuh kembali.

Dipublikasi di Gado-gado | Meninggalkan komentar

Rumah Makan di Setiap Simpang Pagi dan Sore

Membicarakan rumah makan masakan Minang (orang sering menyebutkan rumah makan padang, nasi padang, dan sebagainya, istilah yang kurang tepat sebab tidak semua pemilik rumah makan tersebut berasal dari kota Padang, dan tidak semua masakan tersebut khas masakan kota Padang) tidak akan habis-habisnya. Rumah makan minang ada di mana-mana di pelosok nusantara hingga di luar negeri. Masakan minang yang pedas, bersantan, dan berbumbu lengkap cocok dengan lidah oang Indonesia dan bule-bule.

Kali ini saya tidak akan membahas masakannya, tetapi nama rumah makannya. Nama rumah makan minang itu mengikuti tempat atau lokasinya. Ada anekdot yang mengatakan bahwa di setiap simpang jalan ada rumah makan minang, jadi tidak usah khawatir kelaparan. Ya memang betul, makanya nama rumah makan minang itu ada yang bernama RM Simpang Tigo, RM Simpang Ampek (ampek = 4), RM Simpang Limo (limo = 5). Yang belum ada mungkin RM Simpang Anam. Kemudian rumah makan yang bernama simpang-simpang masih banyak lagi, seperti RM Simpang Raya,  RM Simpang Jaya. Di kota Padang sendiri rumah makan yang bernama simpang dikaitkan dengan nama lokasinya, misalnya RM Simpang Alai, RM Simpang Jondul, RM Simpang Haru dan lain-lain.

simpang

Tidak hanya diberi nama sesuai lokasinya, nama rumah makan minang juga mengikuti waktu, yang menunjukkan ketegaran pengusaha rumah makan itu mencari nafkah dari pagi sampai malam. Jadi kita akan menemukan RM Pagi Sore, RM Siang Malam, RM Semalam Suntuk, RM Begadang. Sehingga ada anekdot yang mengatakan bhawa begitulah seni makan di rumah makan padang. Pagi hari sarapan di RM Pagi Sore, siang hari makan di RM Siang Malam. Malamnya makan di RM Semalam Suntuk. Kalau masih lapar juga karena begadang, maka makan lagi di RM Begadang.

simpang2Dari mana asal nama yang berkaitan dengan waktu tersebut? Tidak ada yang tahu. Semasa kecil di Padang saya tahu ada rumah makan yang cukup ternama, yaitu RM Semalam Suntuk. Tidak jelas juga apakah memang rumah makan ini hanya buka dari sore sampai subuh sehingga dinamakan semalam suntuk. Barangkali dari nama rumah makan semalam suntuk itu lahirlah nama-nama rumah makan di tempat lain yang bernama pagi sore, siang malam, dan lain-lain.

Sedangkan untuk nama RM Begadang, ini adalah jaringan rumah makan perantau Minang yang terkenal di daerah Lampung. Di sepanjang jalur Lintas Sumatera kita akan menemukan rumah makan dengan nama Begadang I, Begadang II,  Begadang III, dan seterusnya. Di rumah makan inilah bus-bus penumpung tujuan Sumatera dan Jawa berhenti untuk beristirahat dan mempersilakan penumpangnya makan di sana. Tentu saja untuk para awak bus makan di rumah makan perhentian tersebut gratis dan dijamu lengkap oleh pemiliknya, kadang dapat tips pula. Bus-bus tersebut membawa rezeki bagi pemilik rumah makan.

Beberapa pemilik rmah makan di perantauan memberi nama rumah makannya yang berkaitan dengan  kampung asalnya. Jadi, kita akan menemukan RM Singgalang Jaya, RM Gunung Talang, RM Talago Biru, RM Lubuk Minturun, RM Bareh Solok, RM Maninjau, dan lain-lain.

Nama memang bukan hal yang sederhana, tetapi menunjukkan hubungan emosional pemilik rumah makan tersebut dengan sesuatu yang berkaitan dengan lingkungannya dan kampung halamannya.

Dipublikasi di Cerita Minang di Rantau, Gado-gado | Meninggalkan komentar

Jebakan Tombol Keyboard Laptop ASUS

Siapa ya orang yang merancang keyboard laptop merek ASUS? Saya sering merasa kesal karena beberapa kali kepencet tombol power yang terletak di sebelah tombol delete. Tombol delete dan tombol power terletak bersebelahan. Maksud hati ingin menekan tombol delete,  tetapi karena mata fokus ke monitor, maka yang ditekan malah tombol power. Mati deh komputer. Pernah saat saya mengajar onlen salah pencet tombol, langsung mati kuliah virtualnya. Mahasiswa saya  di seberang sana tentu menunggu lama terkoneksi lagi.

Di rumah saya ada tiga buah laptop dengan merek ASUS, ketiganya memiliki posisi tombol delete dan tombol power yang bersebelahan seperti gambar di atas. Memang tidak semua jenis laptop ASUS seperti itu, tetapi yang saya miliki semuanya bersebelahan. Laptop ASUS teman saya posisi tombol power-nya terpisah sendiri. Tampaknya tergantung seri laptop ASUS ya? Dulu saya punya laptop Acer dan Toshiba letak tombol power-nya terpisah dan agak jauh dari tombol-tombol lainnya.

Memang ada cara untuk mengatasi salah pencet tombol power tersebut, yaitu melalui control panel di Windows. Tombolnya bisa diatur agar ketika dipencet tidak langsung shutdown.¬† Dari Control Panel, pilih Power Management, lalu ada pilihan “When press Power Button“.¬† Saya pun baru tahu cara ini setelah diberitahu teman. Namun, bagaimana dengan pembeli lain yang tidak paham? Tidak semua orang paham kan atau mengetahui cara pengaturan tersebut?

Saya heran, kenapa desainer laptop ASUS seceroboh itu? Desainer interface-nya kurang memahami psikologi pengguna. Kata seorang teman, kasus di laptop ASUS ini mirip dengan salah satu ponsel jadul Nokia, tombol backspace dan delete-nya bersebelahan. Maksud hati cuman mau hapus satu karakter, ehhh… malah terhapus semua seluruh teks yang sudah susah payah ditulis hanya karena salah pencet.

Tapi ya mau bagaimana lagi, masak harus ganti laptop lagi? Atau pasang keyboard tambahan? Ya sudahlah, awalnya memang mengganggu, lama-lama jadi terbiasa, anggap saja untuk mengingatkan agar break sejenak, makan camilan, atau berdiri sejenak. Kalau nanti kepencet lagi tombol power ketika mau menekan tombol delete, ya nasib…..¬† ūüė¶

Dipublikasi di Gado-gado | 4 Komentar

Generasi kedua tahu Mang Yadi

Sudah beberapa bulan saya tidak melihat Mang Yadi lewat di depan rumah menjajakan tahunya. Tahuuuuu…, begitu teriaknya setiap kali lewat di depan rumah saya.

Saya sudah berlangganan tahu Mang Yadi sudah cukup lama. Dia menjual tahu cibuntu, salah satu produk tahu yang terkenal di kota Bandung. Tahu cibuntu berwarna kuning karena diberi kunyit pada lapisan luarnya agar tahan lama). Mang Yadi tinggal di kampung Cibuntu juga, yang merupakan sentra perajin tahu di kota Bandung (baca postingan saya tahun 2012 di tentang tahu Mang Yadi: Tahu Mang Yadi dan Perjuangannya)

Akhirnya dua minggu lalu saya dapat kabar dari sesama tukang tahu bahwa Mang Yadi sudah tiada tiga bulan lalu. Innalilahi wa inna ilaihi raajiun. Mang Yadi adalah penjual tahu yang ramah. Pelanggannya banyak di Antapani.

Sekarang jualan tahu keliling diteruskan oleh anaknya yang nomor dua (yang nomor 1 sudah meninggal juga). Namanya Yudi, hanya tamat SMA. Yudi sekarang menggantikan Mang Yadi sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah buat ibu dan adik-adiknya yang masih kecil.

Yudi mengendarai motor bapaknya dan setiap hari dia melewati jalan-jalan di Antapani yang merupakan rute keliling bapaknya, seakan-akan menapaki kembali jejak jalur yang dilalui Mang Yadi. History repeat itself.

mangyadi3

Kiri: (alm) Mang Yadi, Kanan: Yudi, putra Mang Yadi

Tadi pagi saya ketemu putra Mang Yadi ini persis di depan rumah tempat saya mengambil foto Mang Yadi tahun lalu, bulan Maret 2020. Perhatikan motor, kotak penyimpanan tahu, dan keranjang di atas motor, persis sama.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 1 Komentar

Sayur

Anak saya yang bungsu (kelas 9 SMP), yang selama ini selalu menolak makan sayur, tiba-tiba pada suatu siang meminta makan pakai sayur bayam. Nasi dengan sayur saja, tanpa pakai yang lain.

Kami pun terperangah. Nggak salah dengar nih? Dengan sigap saya siapkan tumis sayur bayam dan dia makan nasi dengan sayur itu saja. Tidak apa-apalah tanpa protein dulu, ini permulaan yang baik mau makan sayur. Selama ini dia kan  ogah sayur. Biarpun  di rumah hampir setiap hari saya masak sayur dan ganti-ganti rupa, misalnya cah kangkung cabe rawit, sop sayur, tumis kangkung, tumis bayam, beli sayuran di warung makan, tetap saja dia tidak tertarik.

“Kok tiba-tiba ingin makan sayur, dek?”, tanya saya.

Si bungsu diam cengengesan, tidak mau menjawab. Hmmm…saya menduga-duga, mungkinkah perubahan ini karena dia nonton video di YouTube tentang dampak jika tidak mengkonsumsi sayuran? Atau setelah baca-baca artikel kesehatan di internet? Atau dapat pencerahan setelah ngobrol dengan teman sebayanya pakai Line, atau Zoom?

bayam

Zaman pandemi begini anak-anak lebih banyak pakai internet, nonton YouTube, dan ngobrol dengan temannya di dunia maya.  Ada juga manfaatnya nonton YouTube jika ketemu konten yang membuatnya tersadar atau tercerahkan. Saya saja yang selalu khawatir, khawatir konten apa yang ditonton anak.

Wallahu alam. Apapun itu sebabnya patut disyukuri dia mau makan sayur. Kejadian ini sekali lagi menyadarkan saya bahwa kita tidak bisa memaksa anak makan apa yang kita maui atau menurut kita baik. Pada saatnya nanti dia juga akan makan sendiri apa yang dulu dia tidak mau. Kita sendiri yang orang dewasa juga begitu kan? Dulu tidak suka ini itu, tetapi sekarang malah suka.

Saya masih ingat saat anak-anak masih balita. Anak saya yang sulung susah sekali makan. Makan ini nggak mau, makan itu nggak mau. Saya takut saja dia kekurangan gizi. Tiap kali timbang badannya selalu sedih kok nggak naik-naik.

Ketika konsultasi ke dokter anak, dr. Nurrachim di Antapani, saya bertanya kenapa anak saya susah sekali makan meskipun sudah dicoba segala rupa bahkan sampai ‘dipaksa’.

Dokter Nurrachim berhenti sejenak menulis resep, lalu dia memandang saya, dan berkata:

“Bapak kalau disuruh atau dipaksa makan tetapi kalau bapak sendiri tidak mau, bagaimana?”

Saya terdiam. Saya sudah tahu jawabannya. Ya betul, kalau kita lagi nggak nafsu makan, nggak mau makan, lalu disuruh makan, tentu kita tidak mau meski dipaksa sekalipun.

“Begitu juga anak. Dia tahu kapan harus makan. Tubuhnya akan mengirim sinyal kapan perlu nutrisi. Nanti juga dia akan mau makan”, lanjut dr Nurrachim, seakan tahu jawaban saya.

Benar apa yang dikatakan dokter Nurrachim. Kita tidak bisa ‘memaksa’ anak kita makan kalau memang dia tidak mau.  Kebanyakan orangtua khawatir jika anak susah makan.  Apa yang kita khawatir seperti anak akan kurus, kurang gizi, dan sebagainya ternyata tidak terjadi. Pada saatnya nanti dia juga akan mau makan. Si sulung yang dulu susah makan sekarang doyan makan. Apa saja dimakannya dan tidak menolak makanan apapun. Mungkin juga karena semua anak saya dalam taraf pertumbuhan (remaja) sehingga sekarang suka makan. Tubuhnya sendiri yang mengirim sinyal sehingga suka makan. Apalagi si bungsu sekarang mau makan sayur. Itu kan sesuatu banget.

Dipublikasi di Gado-gado | 3 Komentar

Kesehatan adalah Rezeki yang Paling Tinggi

Saat pandemi corona yang berlangsung sekarang ini, saat banyak orang sakit terpapar covid, saat rumah sakit sudah hampir kolaps karena pasien sudah tidak tertampung, saat pasien  harus menunggu untuk masuk IGD, saat mencari kamar rawat inap dan oksigen sangat sulit, saat uang yang banyak tidak ada artinya karena tidak mendapat ruang ICU di rumah sakit, maka barulah kita sadar betapa kesehatan adalah nikmat dari Allah SWT  yang paling berharga. 

Di dalam ilmu tasawuf diceritakan bahwa Syaikh As-Sya’rawi¬†menjelaskan rezeki memiliki tingkatan sebagai berikut :

  1. Harta (Maal), adalah rejeki yang paling rendah
  2. Afiyah (sehat lahir batin), adalah rejeki yang paling tinggi.
  3. Anak-anak yang Sholeh (sholihu abna) adalah rejeki yang paling utama.
  4. Mendapat ridho Allah (ridho rabbul ‘alamin) adalah rejeki yang paling sempurna.¬†

(Sumber dari sini)

Ustad Adiwaman Karim, yang juga seorang ahli ekonomi, menjelaskan tingkatan rezeki ini secara menarik di dalam videonya. Klik video di Youtbe di bawah ini.

Jadi, uang yang kita cari, harta yang kita  kumpulkan bersusah payah, ternyata itu hanyalah rezeki dengan tingkatan paling rendah. Banyak orang yang mengorbankan waktu dan tenaganya untuk mengumpulkan uang dan harta benda. Dengan hartanya yang banyak dia dapat membangun rumah yang bagus, membeli mobil yang mewah, jalan-jalan ke luar negeri, dan sebagainya. Selama harta itu diperoleh dengan jalan halal tentu tidak ada yang salah. Orang perlu kaya agar bisa pergi naik haji, agar bisa membangun masjid, agar membantu orang miskin dan anak yatim.  

Namun, ketika diri sakit, harta yang banyak itu seringkali menjadi tiada artinya. Apa gunanya uang banyak tetapi tidak dapat dinikmati karena makanan  selalu dibatasi. Ada orang yang memiliki penyakit diabetes atau penyakit darah tinggi. Asupan makanannya harus dibatasi dan serba ditimbang. Makan ini tidak boleh, itu tidak boleh. Makanan ini hanya boleh sekian gram, makanan itu sekian gram.

Dulu ada rekan saya yang mengidap suatu penyakit (saya tidak ingat, kolesterol tinggi atau diabetes, atau hepatitis). Makanannya hanya boleh yang serba dikukus atau direbus. Dia harus bawa sendiri bekal makanannya dari rumah. Ketika orang lain menikmati aneka hidangan di atas meja, dia membuka bekal makanannya yang berupa kentang rebus, brokoli kukus, wortel kukus, dan aneka makanan yang dikukus. Padahal dari sisi kekayaaan apa yang kurang darinya, makanan apa saja mampu dibelinya. Tapi saat itu, uang yang banyak menjadi tidak berarti karena makanan yang apa saja itu tidak boleh dimakan.

Ternyata di atas harta, ada rezeki lain yang lebih tinggi lagi, yaitu kesehatan. Badan yang sehat adalah rezeki dari Allah SWT. Dengan tubuh yang sehat kita dapat bekerja dan beraktivitas, dapat pergi ke mana-mana, dan dapat menikmati makanan pemberian dari Allah. Tentu saja selama semua itu tidak berlebih-lebihan, karena yang berlebihan itu dapat mendatangkan penyakit.

Sekarang hampir setiap hari kita membaca berita jumlah kasus positif covid di Indonesia meledak lagi setelah lebaran. Pertambahannya tidak hanya ribuan setiap hari, tetapi sudah puluhan ribu. Kemarin, tanggal 7 Juli 2021, pertambahan kasus covid di Indonesia adalah 34.000-an, nomor dua tertinggi di dunia setelah Brazil. Yang lebih menyedihkan, ada 1000-an lebih wafat kemarin. Ya Allah, lindungi kami ini ya Allah.

Betapa hari-hari ini kita mendengar banyak pasien covid yang ditolak oleh rumah sakit karena bed sudah penuh, ruang rawat sudah penuh, bahkan untuk masuk IGD saja sampai antri berhari-hari. Jangankan orang miskin, orang kaya atau pejabat saja banyak yang tidak mendapat tempat perawatan di rumah sakit. Oksigen juga menjadi barang langka, karena banyak pasien covid, baik di yang di rumah sakit atau yang isolasi mandiri di rumah, mengalami sesak napas. Astaghfirullah al adzim, benar-benar situasi saat ini sangat mencekam.

Karena itu, sudah seharusnyalah kita bersyukur atas karunia Allah SWT masih diberi kesehatan. Semoga kita terhindar dari wabah virus corona. Jaga selalu protokol kesehatan, dan jangan lupa untuk selalu bersedeqah, berdoa dan berserah diri kepada Allah semata.

Setelah kesehatan merupakan rezeki paling tinggi, ternyata di atasnya ada lagi rezeki yang paling utama, yaitu memiliki anak-anak yang sholeh dan sholehah. Alangkah beruntung orangtua yang punya anak sholeh dan sholehah, yang selalu taat menjalankan agama, dan yang selalu mendoakan ibu bapanya.

Namun, rezeki yang paling sempurna di dalam hidup ini adalah ridho dari Allah SWT.  Apa gunanya punya banyak harta, badan yang sehat, anak yang sholeh, tetapi Allah tidak meridhoi diri kita. Orang yang diridhoi Allah adalah orang yang ketika matinya dalam keadaan husnul khotimah. Itulah mati yang paling beruntung.

Tulisan ini merupakan pengingat bagi diri saya sendiri dan bagi siapapun yang membacanya agar ingat selalu kepada Allah SWT, selalu bersyukur kepada-Nya, taat kepada-Nya, dan berserah diri hanyalah kepada Allah SWT. Ampuni kami ini, Ya Allah.

Dipublikasi di Renunganku | Meninggalkan komentar

Demam yang Parno

Pada zaman pandemi corona yang masih berlangsung saat ini, siapapun yang pernah demam, sakit kepala, nggak enak badan, batuk, atau diare, mungkin akan mengalami parno (paranoid) seperti yang saya rasakan. Karena gejala-gejala seperti yang disebutkan tadi mengarah ke Covid-19. Ciri-cirinya mirip-mirip. Jadi, jika badan lagi demam, atau sedang batuk-batuk, maka langsung was-was apakah ini Covid?

Minggu lalu saya mengalami demam dan diare. Dimulai dari hari Rabu malam, tiba-tiba badan saya menggigil seperti orang yang meriang. Saya langsung tarik selimut dan tidur saja sampai pagi. Keesokan harinya saya harus menguji beberapa tesis mahasiswa S2 secara onlen, namun tubuh saya terasa hangat. Demam. Saya tidak bisa konsentrasi. Semakin siang suhu badan saya semakin tinggi dan pernah mencapai hampir 39 derajat Celcius. Dan yang membuat saya menderita adalah saya diare (mencret) tiada henti. Tiap sebentar pergi ke toilet, meskipun BAB yang keluar hanya berbentuk cair. Saya coba meminum obat diare seperti Diatab dan Diapet, namun diare tidak berhenti juga.

Saya sudah mulai khawatir, jangan-jangan….. Ah, saya buang jauh-jauh pikiran ini, namun setiap kali membaca penjelasan di Internet tentang gejala covid, saya pun khawatir lagi. Diare dan demam adalah salah satu ciri Covid-19. Saya juga kehilangan selera makan, patah selera. Tidak mau makan. Namun yang masih saya syukuri, indra penciuman dan perasa saya masih normal. Setiap kali saya coba hirup minyak kayu putih, saya baui nasi, pisang, saya minum madu, masih terasa baik rasanya. Begitu pula tenggorokan baik-baik saja, tidak ada radang, tidak susah menelan makanan. Namun tetap saja ada rasa was-was di dalam hati.

Saya semakin gelisah ketika anak saya yang sulung, yang ABK, badannya juga hangat. Saya kontak istri, lalu saya minta pakai masker di rumah dan tidak dekat-dekat dengan saya dan anak. Saya mengisolasi diri di studio mini tempat saya bekerja di lantai dua.

Akhirnya Hari Jumat saya beranikan diri ke klinik Medika Antapani, berobat ke dokter umum, diantar anak saya yang tengah. Setelah menunggu cukup lama, tibalah giliran saya masuk ke ruang praktek dokter. Setelah menceritakan gejala yang saya alami, dokter merekomendasikan saya untuk tes swab antigen, setelah ada hasilnya nanti baru boleh kembali lagi ke dokter tersebut. untuk pemeriksaan.

Kebetulan di klinik tersebut juga menyediakan tes swab antigen, jadi saya tidak perlu jauh-jauh ke tempat lain. Dengan perasaan harap-harap cemas, saya mulai menjalani tes swab antigen. Hidung saya dicucuk dengan semacam cotton bud untuk mengambil cairan di hidung. Duh, terasa perih dan ngilu. Saya agak tegang sih. Ini pertama kali saya dicucuk hidung untuk di-swab, biasanya hanya mendengar cerita-cerita orang yang di-swab, sekarang saya menjalani sendiri.

Sambil menunggu hasi tes, pikiran saya berkelabat ke mana-mana. Saya memikirkan berbagai skenario kalau hasilnya positif. Itu berarti seluruh orang di rumah nanti harus di-swab juga, lalu isolasi mandiri. Yang saya pikirkan adalah anak sulung saya yang ABK, bagaimana dia menjalaninya nanti? Sambil berdoa, saya berharap agar hasilnya negatif, saya minta anak saya yang tengah mendoakan saya.

Setelah setengah jam menunggu, maka hasilnya segera keluar. Dan….alhamdulillah, hasilnya negatif. Saya pun bernapas lega. Saya kembali ke dokter umum tadi membawa hasil tes, dan dia berucap yang sama. Barulah dokter berani memeriksa badan saya. Setelah memberi resep obat, saya pun menuju apotik untuk membeli obatnya.

Setelah minum obat dari dokter selama dua hari, ternyata diare saya tidak berhenti juga. Kalau demam memang tidak ada lagi, tetapi diarenya masih, meskipun frekuensi ke belakang sudah berkurang menjadi satu dan dua kali saja. Selera makan saya sudah mulai agak normal. Namun diare itu masih menjadi pikiran saya. Sampai obatnya habis saya masih tetap diare, BAB nya masih cair atau bubur (maaf). Namun yang alhamdulillah, anak saya yang sulung, yang tadi demam, demamnya hanya satu hari, besoknya sudah sembuh.

Di dalam lembaran hasil tes swab antigen disebutkan bahwa hasil negatif tidak menyingkirkan kemungkinan terinfeks SARS-Cov-2 sehingga masih beresiko menularkan kepada orang lain. Meskipun saya tidak batuk, tidak pilek, dan tidak demam lagi, namun indera penciuman dan perasa masih normal. Ini yang saya syukuri, sebab seperti yang saya baca, penderita covid kehilangan penciuman. 

Untuk lebih meyakinkan lagi dan ingin sembuh dari diare, saya kembali berobat ke klinik Medika Antapani, tetapi kali ini ke dokter spesialis penyakit dalam (internis) pada Hari Selasa. Hari Senin dokter internis sudah penuh dengan pasien. Setelah menunggu sampai jam 13.00 (bayangkan dari jam 9 pagi), maka tibalah giliran saya. Saya ceritakan kondisi saya secara kronologis dan saya tunjukkan hasil tes swab antigen.

Dokter Faishol yang memeriksa saya adalah dokter yang sudah berusia lansia, tentu beliau sudah berpengalaman dengan¬† berbagai penyakit. “Jadi, kenapa saya masih diare, Dok”, tanya saya. “Bapak mengalami gangguan pencernaan”, jawabnya. Oh…,jadi itu rupanya.

Dokter memberi resep obat. Ada dua macam obat yang harus saya minum, yang pertama antibiotik, yang kedua obat diare. Alhamdulillah, keesokan harinya saya sudah tidak diare lagi. BAB normal.

Begitulah pengalaman saya. Salah satu kesalahan saya adalah panik, khawatir, atau stres. Hal ini tidak boleh, sebab dapat menurunkan imun. Sebaiknya harus disikapi dengan tenang dan berpasrah diri kepada Allah SWT.

Moral dari kisah ini, saya semakin mensyukuri nikmat kesehatan dari Allah SWT. Betapa kesehatan itu adalah nikmat yang paling tinggi. Apa guna banyak uang tetapi badan sakit, maka uang itu tidak dapat kita nikmati. Sakit mengajarkan kita agar selalu menjaga kesehatan dan selalu bersyukur. Jangan merasa sombong dan takabur. Jangan menganggap enteng pandemi ini. Terima kasih ya Allah, semoga kami sekeluarga diberi selalu tubuh yang sehat dan dijauhkan dari berbagai penyakit, dan pembaca yang membaca kisah saya ini juga dilindungi oleh Allah SWT. Amiin ya rabbal alamiin.

Dipublikasi di Pengalamanku | Meninggalkan komentar

Kampus Ganesha ITB Sunyi dari Mahasiswa Saat Pandemi

Sudah satu setengah tahun kampus Ganesha ITB ditutup untuk perkuliahan dan aktivitas kemahasiswaan. Mahasiswa sudah pulang ke kampung halamannya masing-masing, kuliah dari rumah.

Saya pun sudah satu setengah tahun tidak pergi kerja ke kampus. Mau ngapain juga di kampus, tidak ada siapa-siapa, tidak ada mahasiswa, hanya ada beberapa pegawai tendik di kantor Tata Usaha yang bertugas secara bergantian hari dengan pegawai lannya.

Meskipun saya pegawai dan dosen ITB, namun saya tidak bebas leluasa masuk ke dalam kampus, ke kantor saya sendiri . Perlu mengurus surat izin masuk dulu ke fakultas, mengisi formulir daring, mendapatkan QR-code, dan seterusnya. Tujuannya sih bagus, yaitu untuk melakukan pelacakan jika terjadi kasus penularan covid di kampus dan mencegah timbulnya klaster kampus Ganesha. Sejauh ini kampus Ganesha ITB aman-aman saja, tidak ada klaster covid. Memang ada pegawai tendik dan dosen yang terpapar corona, namun mereka terpapar di luar kampus, mungkin di lingkungan keluarganya sendiri.

Meskipun saya WFH, namun sesekali saya masih pergi ke kampus Ganesha, tapi bukan untuk WFO, namun untuk urusan singkat saja, misalnya mengambil buku dan dokumen di meja kerja, meng-copy file di komputer desktop kantor, atau memperbaiki software laptop di Ditsti. Saat  vaksinasi dosen di Gedung Sabuga, kampus dibuka untuk parkir kendaraan,  lalu berjalan ke Sabuga melalui terowongan. Nah, saat bisa masuk ke kampus itulah saya sempat mengambil foto-foto suasana kampus Ganesha. Begini suasananya. Sepi dan sunyi.

  1. Gerbang Selatan (gerbang utama) kampus Ganesha yang membisu, seperti orang  yang duduk melamun sendirian, dengan bunga-bunga bougenville yang mulai bermekaran, namun tiada langkah-langkah kaki yang biasanya  selalu melewatinya.

ITB1

ITB2

2. Jalan utama kampus yang kosong. Hanya terdengar suara daun bergesek dan desiran suara angin.

ITB3

3. Kantin bengkok yang kesepian. Saat jam makan siang, tempat ini penuh dengan mahasiswa yang makan sambil mengerjakan tugas kuliah dengan laptopnya.

ITB4

4.  Lorong yang sepi. Lorong-lorong yang menghubungkan antar gedung-gedung di dalam kampus nyaris tidak ada orang yang lewat.

ITB5

5.  Ruang sekre unit-unit kegiatan mahasiswa di sunken court yang seperti markas yang ditinggal penghuninya (Sunken court adalah kawasan bawah tanah yang terletak di sepanjang jalan menuju terowongan yang menghubungkan kampus Ganesha dan Sabuga. Sunken court terletak di antara Gedung Perpusatakan Pusat dan Gedung Riset dan Inovasi)

ITB6

ITB7

6. Kantin borju dengan meja-meja makan yang berdebu. Sebelum pandemi, kantin ini adalah tempat rendevouz selain tempat makan tentunya.

ITB8

7. Meja-meja belajar di selasar LabTek V yang kosong melompong. Pada hari-hari kuliah, meja-meja ini adalah tempat mahasiswa mengerjakan tugas-tugas kuliah

ITB10

ITB11

8. Lapangan basket dan lapangan cinta yang kosong. Sebelum pandemi, setiap hari tempat ini ramai dengan mahasiswa yang mengisi waktu melempar-lempar bola basket atau sekedar duduk-duduk di sini. Kalau ada TPB Cup atau pertandingan antar Himpunan Mahasiswa, bisa riuh rendah sampai malam hari di sini.

ITB13

ITB14

9. Ruang kelas dan lorong LabTek V yang lengang

ITB15

Foto-foto kampus ITB yang sepi selama pandemi dapat dilihat pada video saya di Youtube di bawah ini:

Semoga pandemi corona ini segera berakhir dan kondisi kampus yang sepi dari mahasiswa ini ramai kembali. Perlu waktu memang kalau ingin suasanya seperti dulu lagi.

Dipublikasi di Seputar ITB | Meninggalkan komentar

Masker, Jenuh, dan Pandemi Corona yang Tiada Berujung

Hari-hari ini, pertengahan bulan Juni, kasus covid-19 di Indonesia melonjak lagi dengan tajam. Sempat turun selama bulan Mei (Ramadhan dan pasca Lebaran Idul Fitri), sekarang jumlah penderita covid naik signifikan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan, karena rumah sakit-rumah sakit di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa akan kolaps jika tidak ada tindakan luar biasa untuk memutus pandemi.

Seperti yang sudah diprediksi banyak ahli epidemiologi, dua atau tiga minggu setelah libur Lebaran Idul Fitri kasus covid akan meningkat tajam. Hal ini disebabkan banyak masyarakat yang tetap mudik ke kampung halaman meskipun sudah dilarang oleh Pemerintah. Pemudik pulang ke kampung halamannya kemungkinan OTG, lalu menularkan penyakit itu kepada orang-orang di kampungnya. Atau, pemudik itu tertular di kampung halaman yang zona merah, lalu setelah mereka kembali ke kota mereka menularkan penyakit itu kepada orang-orang lain di kota. Propinsi-propinsi yang menjadi tujuan pemudik seperti Jabar, Jateng, Yogyakarta, Jatim, Sumbar, Riau, dan Sumsel sekarang mengalami pandemi gelombang kedua dengan pertambahan kasus luar biasa hari-hari ini.

Kasus covid di Indonesia naik turun seperti siklus yang tidak berujung. Di mana ujung dan pangkalnya sudah tidak jelas lagi. Meskipun sudah dilakukan PSBB, PKM mikro, atau apapun namanya (karena Pemerintah tidak suka dengan istilah lockdown), tetap saja kasus covid di Indonesia bertambah terus. 

Penyebab naiknya kasus covid ada dua. Pertama adalah ketidakpatuhan masyarakat dengan protokol kesehatan (prokes). Gerakan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) sudah kendur. Banyak orang yang tidak lagi memakai masker. Jika di kota-kota besar kepatuhan warga memakai masker masih terbilang bagus, tetapi di luar kota seperti di kampung-kampung orang tidak menggubris lagi seruan memakai masker. Gambar kartun di Harian Kompas ini bisa menjelaskan fenomena masyarakat Indonesia saat ini:

kartun

Di kota besar, jika Anda tidak bermasker di tempat umum, maka orang lain mungkin akan marah kepada anda atau menolak bertemu dengan Anda. Sebaliknya di kampung-kampung, jika anda memakai masker maka Anda mungkin dianggap aneh oleh penduduk kampung. Semua orang memandang anda dengan tatapan heran atau malah anda ditertawakan. Mungkin saja Anda ditanya oleh penduduk kampung: “Apakah Mas atau Mbak lagi sakit?”.

Sebagian orang di kampung mungkin tidak percaya dengan virus corona. Mereka  menganggap covid adalah penyakit orang-orang di kota. Corona hanya ada di kota-kota, di kampung kami bersih, demikian kira-kira keyakinan masyarakat kita. Faktanya sekarang kasus covid sudah sampai ke kampung-kampung.

Jadi, jangan heran jika kasus positif corona di Indonesia tidak pernah habis-habisnya karena masyarakat sudah banyak yang mengabaikan protokol kesehatan. Gerakan 3M, yang  sekarang sudah berubah menjadi 5M (2 M berikutnya adalah Menjauhi kerumunan dan mengurangi Mobilitas atau bepergian), tidak begitu dipedulikan warga. Masyarakat tampak berkegiatan seperti biasa. Meskipun Pemerintah sudah melarang untuk tidak mudik dulu demi kebaikan bersama agar kasus corona melandai namun sebagian masyarakat tidak patuh, tetap bandel pergi mudik juga. 

Saya yakin, masyarakat bukannya tidak mau mematuhi prokes, tetapi saya duga karena masyarakat sudah jenuh dengan kondisi saat ini. Mereka sudah bosan disuruh di rumah terus.  Memakai masker dan menjaga jarak hanya diawal-awal pandemi saja, sekarang sudah longgar. Masyarakat menganggap kalau sudah divaksin maka aman, nyatanya orang yang sudah divaksin pun bisa terkena covid juga. 

Selain itu ada juga yang beranggapan bahwa kalau terkena covid maka nanti akan sembuh sendiri sehingga mereka tidak terlalu khawatir. Ditambah dengan berbagai berita hoaks yang beredar secara berantai melalui whatsapp tentang covid maka terbentuklah pemahaman di dalam sebagian masyarakat bahwa covid itu semacam penyakit flu biasa. Wallahu alam.  Kondisi ini diperparah dengan keengganan masyarakat untuk divaksin. Berbagai isu negatif tentang vaksin corona membuat sebagian masyarakat menolak untuk disuntik vaksin. Jadi, bagaimana herd immunity akan terbentuk kalau sebagian masyarakat menolak disuntik vaksin?

Di sisi lain, tidak adil jika kesalahan ditimpakan hanya kepada mayarakat yang dianggap tidak patuh. Inkonsistensi Pemerintah juga punya andil membuat kondisi menjadi membingungkan dan chaos. Misalnya pada bulan puasa kemarin Pemerintah mengatakan bahwa mudik dilarang namun berwisata ke tempat-tempat wisata diperbolehkan dengan alasan untuk menghiduokan perekonomian. Kebijakan yang aneh, bukan? Mudik itu bepergian ke luar kota, apa bedanya dengan pergi mengunjungi tempat-tempat wisata yang juga ke luar kota.

Inkonsistensi lain misalnya melarang mudik tetapi membolehkan tenaga kerja asing masuk ke Indonesia, melarang sekolah dibuka tetapi mal, bioskop, tempat wisata, dan kantor-kantor boleh dibuka, menghimbau masyarakat untuk tetap di rumah tetapi sebuah kementerian mendorong masyarakat berwisata untuk menggerakkan perekonomian, dan lain-lain. Jadi, kasus covid di Indonesia yang sekarang memasuki gelombang entah keberapa (rasanya gelombang satu juga belum habis) merupakan buah dari sikap ketidakpatuhan masyarakat menaati prokes dan sikap inkonsistensi Pemerintah dalam membuat kebijakan yang membingungkan.

Entah kapan siklus corona yang tidak berujung dan tidak berpangkal ini putus. Masyarakat merindukan kembali suasana seperti sebelum pandemi, bisa beraktivitas seperti biasa, bisa bepergian ke mana saja, bisa pergi umrah dan haji bagi yang muslim, bisa sekolah dan kuliah dengan lancar. Sudah cukuplah cobaan ini. Semoga Allah SWT mengangkat pandemi corona ini dari Indonesia khususnya dan dari dunia umumnya. Virus corona merupakan peringatan dari Allah SWT agar manusia lebih mendekatakan diri kepada-Nya. Amiin ya Allah.

Dipublikasi di Indonesiaku | Meninggalkan komentar