Perilaku Manusia dengan Gawainya

Saya mendapatkan gambar di bawah ini dari social media. Seorang ibu Asia dengan anaknya asyik bermain gawai (gadget) masing-masing di dalam sebuah MRT, sedangkan di sebelahnya seorang pria bule tetap asyik bercengkerama dengan anak-anaknya.

Ibu dan anak asyik dengan gadget-nya, sedangkan pria bule tetap mengasuh anaknya (Sumber: Facebook)

Ibu dan anak asyik dengan gawai, sedangkan pria bule tetap mengasuh anaknya (Sumber: Facebook)

Apa yang dilakukan ibu Asia dengan anaknya yang saling sibuk dengan gawai masing-masing itu memang  tidak mewakili perilaku  orang Asia zaman kini, tidak bisa dirampatkan (generalisasi) pula semuanya demikian. Begitu juga tidak berarti tidak ada keluarga bule yang asyik masyuk dengan gawainya juga. Foto tersebut mungkin kebetulan saja.

Namun sukar untuk dipungkiri bahwa kita banyak menemukan pemandangan seperti ini, baik di stasiun, di ruang tunggu bandara, di halte bis, di mal, maupun tempat-tempat umum lainnya. Hampir tidak ada orang yang sedang tidak ada aktivitas yang tidak bermain dengan gawainya. Daripada bete menunggu, ya main gawai saja. Apalagi sejak banyaknya aplikasi games dan social media di internet, bermain gawai semakin mengasyikkan saja.

Pemandangan orang yang sibuk dengan gawainya masing-masing tidak hanya di negara kita saja, pemandangan serupa saya lihat juga di luar negeri seperti di Kuala Lumpur, Singapura, Seoul, dan Tokyo. Perkecualian saya lihat di Mekkah dan Madinah saat umroh awal tahun ini, jarang saya lihat jamaah umrah asyik dengan gawai, ya jelas saja ke sana kan untuk beribadah, bukan untuk main gawai. Tapi entah ya bagi penduduk Saudi, saya tidak mengamati, mungkin sama saja seperti di negara lainnya.

Tapi gawai telah mengubah perilaku manusia. Orangtua bisa jadi kurang memperhatikan tugas mengasuh dan mendidik anak karena sibuk dengan gawai masing-masing. Anak pun tidak mau kalah, karena orangtuanya sibuk dengan gawai, maka anakpun mencontoh orangtuanya dengan sibuk bermain gawai juga. Jadilah pemandangan biasa di dalam rumah seperti ini: ayah/ibu asyik dengan gawainya di atas sofa atau di dalam kamar, sedangkan anak-anaknya asyik dengan gawainya di dalam kamar tidurnya. Semua tenggelam dengan gawainya masing-masing. Foto di atas mungkin bisa bercerita lebih banyak.

Gawai bisa membuat hubungan antar manusia (termasuk orangtua dengan anak) menjadi lebih hangat atau sebaliknya bisa menjadi jauh, bergantung bagaimana kita menggunakannya. Social media melalui gawai contohnya, telah mendekatkan banyak orang yang terpisah oleh ruang, jarak, dan waktu. Yang jauh menjadi dekat, yang sudah lama tidak bertemu menjadi bisa reuni kembali. Semua berkat gawai, semua berkat ada internet yang diakses dari gawai.

Namun, jika orang yang sudah dekat sekalipun (orangtua dan anak misalnya) masih tetap saling sibuk dengan gawainya masing-masing, dan meniadakan waktu untuk bercengkerama, maka itu pertanda penggunaan gawai sudah memasuki lampu kuning.

Semuanya kembali kepada kita dalam menggunakannya, kapan perlu menggunakannya dan kapan perlu menyimpannya. Hubungan fisik dan emosi antar manusia lebih mahal daripada harga gawai itu sendiri.

Dipublikasi di Gado-gado | 3 Komentar

Biarlah Sang Maha Server yang Memprosesnya

rinaldimunir:

Saya suka dengan tulisan di bawah ini. Keren. Analoginya menampar sekali, sangat canggih dengan perumpamaan dari Google. Ketika tulisan ini saya sebar di Facebook, dengan cepat menyebar bagaikan viral.

Benar, kita tidak perlu prosesor yang canggih agar dapat menyelesaikan aneka persoalan hidup yang kompleks ini. Kita ini ibarat komputer PC yang cukup menerima input data lalu menampilkan hasilnya, sedangkan pemrosesasannya biarlah dikerjakan oleh Maha Server, yaitu Allah SWT. Yang penting ada “koneksi” yg kuat, stabil dan lancar dengan berzikir (dzikrullah ) kepada Sang Maha Server itu, ALLAH SWT, insya ALLAH hidup ini akan menjadi ringan.

Sedikit koreksi buat penulis (Rio Beni Aria), Google juga pernah membuat sistem operasi Chrome meskipun tidak laku. Bahkan, Google juga pernah membuat chromebook, kerja sama dengan Asus, Acer, Dell dll dengan harga sekitar $399. Google mencoba, tapi gagal juga, dan mereka cepat move on ke cloud computing, tidak seperti Intel.

OK, mungkin pesan moral dari penulis adalah bagaimana spiritualitas manusia dapat meniru Google. Tahniah.

~~~~~~~~~~~~~~

MENCONTEK SPIRITUALITAS GOOGLE
Agustus 14, 2015 / debuterbang
Oleh: Rio Beni Aria
(Sumber dari sini)

Jadi…kenapa sebenarnya Google tidak membuat sebuah teknologi PC (Personnal Computer) atau membuat sebuah Operating System untuk sebuah PC atau Laptop? Saya bertanya tentang itu kepada seorang rekan saya yang kebetulan dulu pernah bekerja di Nokia. Saat dia masih di negara asalnya, China.

Mengetahui fakta bahwa rekan saya ini dulunya pernah bekerja di NOKIA, pembicaraan kami sepanjang jalanan dari Balikpapan menuju Kutai Kartanegara pagi itu diwarnai dengan diskusi ngalor ngidul, dimulai dari kenapa NOKIA tidak memasang Android pada Operating Systemnya, kenapa malah Windows Mobile? Lalu cerita tentang kebangkrutan NOKIA, lalu menyambar pada cerita tentang raksasa teknologi Google.

Banyak hal menarik yang dia ceritakan mengenai Google, tetapi satu hal mengenai pertanyaan saya di atas tadilah yang kemudian menjadi tema menarik kami sepanjang perjalanan.

Kenapa Google tidak membuat Operating System sendiri untuk sebuah PC atau LAPTOP, atau kenapa malah Google tidak merambah bisnis PC?

Lalu rekan saya ini menjelaskan dalam bahasa inggris yang pekat dengan logat China-nya. Ini saya baru tahu sekarang. Menurut dia, ada dua pendekatan besar dalam dunia teknologi komputer.

Pendekatan pertama, adalah golongan yang percaya bahwa trend di masa depan adalah personnal computer. Maksudnya, di masa depan, sebuah komputer haruslah menjadi semakin canggih, semakin complicated, dan mempunyai resource atau kemampuan perangkat yang semakin hebat. Apa sebab, sebabnya adalah sebuah aplikasi akan semakin canggih dan untuk menjalankannya butuh resource dan kemampuan dahsyat. Pada golongan inilah berada IBM dan kawan-kawannya.

Pada sisi yang berseberangan, adalah ORACLE. Yang berpendapat bahwa bukan sebuah PC yang harus menjadi semakin kompleks, melainkan sebuah server. Server, haruslah sangat digdaya, sedangkan sebuah PC atau LAPTOP hanya menjadi corong input dan display dari data yang diolah server. Tetapi, sebuah PC itu bisa tersambung ke server.

Tak ingin berpanjang lebar menceritakan tentang teknologi yang saya sendiri tak paham benar, tetapi ide itulah yang ternyata kemudian dipakai oleh Google.

Google tak membuat PC, juga tak terlalu getol membuat operating system, karena Google percaya, bahwa trend masa mendatang adalah CLOUD COMPUTING, dimana orang-orang akan semakin tergantung kepada server.

Sederhananya, seseorang hanya butuh komputer atau perangkat dengan kemampuan kelas medium, asalkan bisa input data, dan bisa display, dan ini yang paling penting “Terhubung dengan internet”.

Maka kita cobalah lihat semua produk Google. Ada Google maps. Google satelite. Google sky. Street view. Dan segala macam produk Google lainnya kesemuanya bisa dijalankan pada komputer kelas menengah, atau rendah, asalkan punya network yang kencang. Dan Google membuat browser hebat untuk menjadi corong display dan inputnya, yaitu Chrome.

Coba kita bayangkan, seandainya, semua kemampuan google maps, semua bank data Google maps, semua kecanggihan grafik Google maps itu harus disimpan pada sebuah PC, kita butuh PC seberapa dahsyat? PC kelas rendah sampai menengah tak akan sanggup menjalankan aplikasi itu. Tetapi, karena segala perhitungan dan algoritma google maps dijalankan oleh server, dan PC hanya menjadi display saja lewat browser, maka aplikasi yang sejatinya begitu kompleks itu terasa sangat ringan. Bahkan handphone bisa membukanya. Sekali lagi, hanya jika kita punya koneksi internet yang cepat dan stabil.

Wah, ini hal yang sangat menarik dan membuka mata saya. Saya mengucapkan terimakasih kepada rekan saya itu. Lalu tiba-tiba saya terfikir tentang sesuatu.

“You know what,” Saya sampaikan padanya, bahwa saya teringat tentang sebuah wejangan yang hampir analog dengan cerita dia barusan.

Sepertinya, saya tahu bagaimana mengaplikasikan strategi Google dalam kehidupan sehari-hari.

Rekan saya itu tertarik dan bertanya, bagaimana caranya?

Saya katakan padanya. Kita ini, setiap hari berhadapan dengan berbagai macam masalah dan perhitungan yang sangat kompleks. Masalah pekerjaan. Masalah rumah tangga. Masalah ekonomi. Dan segala macam masalah.
Dan pendekatan kita dalam mengatasi masalah itu selama ini adalah seperti golongan IBM yang merasa harus mengatasi segala masalahnya sendiri.

Akibatnya, kita harus memiliki PC yang demikian kompleks. Kita membebani diri kita sendiri. Sedangkan, hampir kita bisa katakan bahwa mungkin lebih dari sembilan puluh sembilan persen kejadian di dalam hidup ini tak bisa kita kontrol sama sekali, dan setiap kejadian akan berkelindan dengan kejadian lainnya yang saling mempengaruhi dalam hidup ini.

Jika kita ingin menghadapi semua masalah dengan perhitungan kita sendiri, maka kita bisa gila dan depresi. Apa pasal? Perhitungannya luar biasa kompleks.

Maka sebaiknya, kita tiru google. Sebenarnya kita hanya perlu kemampuan input data, dan kemampuan untuk display saja. Selebihnya, biarkan kalkulasinya dijalankan oleh server. Yang Maha Kuasa. Maka hidup kita akan menjadi lebih ringan.

Saya jadi teringat kembali dengan salah satu kutipan bijak dari aforisma Al-Hikam. “istirahatkan dirimu dari tadbir” kata Sang Bijak Ibnu Athoillah.

Apa itu tadbir? Tadbir adalah memastikan hasil usaha. Menghitung-hitung seandainya saya melakukan aksi begini, maka hasilnya PASTI begini.

Just do your part. Input datanya. Dan selebihnya biarkan Sang Maha Server –meski kita tahu tak ada umpama bisa menjelaskannya– yang mengaturnya.

Satu hal saja yang harus kita benar-benar jaga, yaitu “network”, koneksi yang sangat kencang dan stabil pada Sang Maha Server. Dzikrullah.

Originally posted on DEBUTERBANG:

Jadi…kenapa sebenarnya Google tidak membuat sebuah teknologi PC (Personnal Computer) atau membuat sebuah Operating System untuk sebuah PC atau Laptop? Saya bertanya tentang itu kepada seorang rekan saya yang kebetulan dulu pernah bekerja di Nokia. Saat dia masih di negara asalnya, China.

Mengetahui fakta bahwa rekan saya ini dulunya pernah bekerja di NOKIA, pembicaraan kami sepanjang jalanan dari Balikpapan menuju Kutai Kartanegara pagi itu diwarnai dengan diskusi ngalor ngidul, dimulai dari kenapa NOKIA tidak memasang Android pada Operating Systemnya, kenapa malah Windows Mobile? Lalu cerita tentang kebangkrutan NOKIA, lalu menyambar pada cerita tentang raksasa teknologi Google.

Banyak hal menarik yang dia ceritakan mengenai Google, tetapi satu hal mengenai pertanyaan saya di atas tadilah yang kemudian menjadi tema menarik kami sepanjang perjalanan.

Kenapa Google tidak membuat Operating System sendiri untuk sebuah PC atau LAPTOP, atau kenapa malah Google tidak merambah bisnis PC?

Lalu rekan saya ini menjelaskan dalam bahasa inggris yang…

Lihat yang asli 637 kata lagi

Dipublikasi di Kisah Hikmah | Meninggalkan komentar

Spanduk Ucapan Selamat Datang Mahasiswa Baru ITB 2015

Tahun ini bunyi spanduk ucapan selamat datang kepada mahasiswa baru ITB angkatan 2015 sudah ganti lagi isinya. Tiap tahun berbeda, dan tulisan “Selamat datang putera-puteri terbaik bangsa” tidak pernah dipakai lagi. Banyak yang protes. Terkesan angkuh, katanya.

Spanduk ucapan selamat datang mahasiwa baru ITB angkatan 2015

Spanduk ucapan selamat datang mahasiwa baru ITB angkatan 2015

Tahun ini bunyi kalimatnya: “Selamat datang putera-puteri penerus kepimimpinan bangsa”. Apakah kalimat ini masih multi-interpretasi? Entahlah.

Dipublikasi di Seputar ITB | 1 Komentar

Bangkit dari Koma (Antara Hidup dan Mati)

Pembantu di rumah bercerita. Saudaranya mengalami peristiwa yang jarang terjadi, yaitu peristiwa antara hidup dan mati. Saudara pembantu saya ini, laki-laki, mengalami penyakit jantung. Jantungnya sudah bengkak dan kondisinya kritis. Dia dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya. Di rumah sakit kondisinya semakin parah. Dia mengalami hilang kesadaran dan akhirnya koma. Badannya tidak bergerak sama sekali, tetapi jantungnya masih berdetak. Sanak saudaranya yang dari jauh sudah dipanggil untuk berkumpul mengelilinginya. Mereka sudah ikhlas jika sudaranya yang koma ini dipanggil oleh Ilahi.

Sebagian dari sanak saudaranya ada yang mengaji, sebagian lagi membisikkan ke telinganya kalimat tahuid, laa ilaa ha illallah. Setelah berjam-jam koma, tiba-tiba tangannya bergerak-gerak, pertanda dia bangkit dari komanya. Sanak saudaranya menangis terharu melihat dirinya tersadar dari koma.

Setelah agak lama, dia mulai bercerita peristiwa yang dialaminya selama koma. Di alam antara hidup dan mati, dia berada di suatu tempat seperti di sebuah hutan. Di sana dia bertemu dengan almarhum kedua orangtuanya serta pamannya yang sudah lama meninggal. Hmmm…biasanya orang yang akan mati sering diceritakan bertemu dengan orang-orang yang sudah meninggal.

Di alam itu dia berdialog dengan kedua alamrhum ayah ibunya. Ayah ibunya bertanya kepadanya, hendak kemana dia. Dia mengatakan akan pergi ke sana (mungkin maksudnya kampung akhirat). Namun kedua orangtuanya melarang dengan mengatakan bahwa dia tidak boleh pergi karena belum waktunya mati. Orangtuanya lantas menyuruh dia pulang kembali karena anak istrinya sudah menunggu. Tidak lupa mereka memberi nasehat kepada anaknya itu seperti jangan melalaikan sholat, selalu bersedekah, dsb. Ketika dia berbalik pulang, orangtuanya kembali mengingatkan untuk tidak salah mengambil jalan, sebab di sebelah sana ada jurang. Dia diminta berhati-hati berjalan supaya tidak jatuh ke dalam jurang. Ketika berjalan menyusuri jalan pulang itulah dia tersadar dan bangkit dari komanya.

Saya yang mendengar cerita pembantu tadi merasa takjub. Mungkin yang dialami saudaranya yang koma tadi sebuah ilusi atau mimpi, tapi mungkin juga nyata. Wallahualam, hanya Allah yang tahu. Mungkin ini tanda kebesaran Ilahi, sebab peristiwa yang dialaminya itu menjadi sebuah peringatan bagi kita yang masih hidup. Mungkin dia belum waktunya mati dan masih diberi kesempatan hidup untuk memperbaiki dirinya yang selama ini lalai menjalankan ibadah kepada Allah SWT.

Kita memang belum pernah mendengar cerita tentang orang yang kembali dari kampung akhirat (bangkit dari kematian), tetapi cerita orang yang bangkit dari koma yang mengalami peristiwa berada di alam antara hidup dan mati seperti kisah di atas, mungkin dapat menjadi ibrah bagi kita.

Dipublikasi di Renunganku | Meninggalkan komentar

Keterpurukan Rupiah dan Sikap Takabur Pengamat Ekonomi

Saya sedang membaca-baca kembali tautan berita tentang nilai kurs dolar dikaitkan dengan pemenang Pilpres. Pilpres memang sudah lama selesai, tetapi hari ini terlihat betapa bahayanya sifat takabur manusia yang mendahului Tuhannya.

Tautan berita pertama, Bank Asing: Percaya Atau Tidak, Dolar Turun ke Rp 10.000 Kalau Jokowi Presiden.

Tautan berita kedua, Jokowi Jadi Presiden, Rupiah Bisa Tembus 10 Ribu.

Nyatanya? Hari ini nilai dolar sudah tembus Rp13.800. Ini nilai terendah sejak 17 tahun terakhir (Rupiah Sentuh Rp 13.747, Nilai Terlemah 17 Tahun Terakhir). Bukan tidak mungkin nilai rupiah akan terus melemah hingga mencapai Rp20.000 per dolar. Ada joke yang mengatakan, jangan-jangan tanggal 17 Agustus 2015 nanti nilai dolar sudah mencapai Rp17.815, sebuah angka keramat!

Saya termangu-mangu saja membaca kembali semua tautan brita di atas. Ekonom yang sesumbar, yang menyatakan nilai rupiah akan membaik mencapai hingga Rp10.000 per dolar jika Jokowi menjadi Presiden, mungkin saaat ini sudah tiarap, malu sendiri dengan semua perkataannya yang salah. Bahkan ada ekonom yang mengatakan jika Prabowo Menang, Rupiah Berpotensi Tembus 13 Ribu. Sekarang, dengan kondisi nilai dolar yang sudah mencapai lebih Rp13.000, siapa yang menjadi Presiden, Jokowi atau Prabowo?

Tentu saja jika Prabowo yang menang, kurs dolar belum tentu akan lebih baik, bisa jadi malah lebih buruk. Tiada yang tahu apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Hanya Tuhan yang tahu. Jangan mendahului takdir, apalagi jika tujuan membuat pernyataan tersebut untuk mempengaruhi opini orang tentang seorang capres sembari menanamkan citra buruk kepada capres lainnya. Sekarang terbukti Tuhan menjungkirbalikkan kesombongan manusia.

Dengan nilai dolar yang sudah tembus Rp13.800, sudah sangat terasa perekonomian negara menjadi lesu. Daya beli masyarakat menjadi turun, PHK massal segera membayang. Jika tidak disikapi dengan cepat, kenaikan dolar ini bisa merembet ke mana-mana yang ujung-ujungnya adalah chaos. Ingat, peritiwa kejatuhan Soeharto pada tahun 1998 dimulai dengan kejatuhan nilai rupiah dari semula Rp3000 per dolar menjadi lebih dari Rp12.000 per dolar.

Memang kita tidak berharap Presiden Jokowi diturunkan di tengah jalan seperti tahun 1998 dulu. Kondisi tahun 1998 dan 2015 jauh berbeda. Sekarang masyarakat kita sudah jauh lebih terdidik dan menyikapi kenaikan dolar itu tidak dengan emosional. Sejauh yang saya amati, kondisi di tengah masyarakat tampak biasa-biasa saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa (atau tidak peduli?) dengan keterpurukan nilai rupiah. Atau, mungkin pemahaman saya yang salah, mungkin masyarakat sudah pasrah dengan keterpurukan ekonomi sehingga menerima saja apa yang akan terjadi.

Meskipun kondisi di lapangan tampak biasa-biasa saja, tapi kondisi ini ibarat api dalam sekam, tidak bisa dibiarkan. Jika Pemerintah tidak bergerak cepat mengatasi kenaikan dolar, bukan tidak mungkin api di dalam sekam akan membara. Pemerintah jangan terkesan lepas tanggung jawab seperti pernyataan konyol menteri keuangan ini: Rupiah Tembus Rp13.500, Menkeu: Bukan Tanggung Jawab Pemerintah. Kalau Pemerintah tidak mau bertanggung jawab, lalu siapa lagi? Kenaikan dolar yang terus menanjak ini adalah lampu merah buat Pemerintah. Krismon jilid dua mungkin akan terulang.

Dipublikasi di Indonesiaku | 6 Komentar

Tidak Ada Daging, Ikan pun Jadi

Dua hari ini pedagang daging sapi di Bandung mogok berjualan. Pasalnya, harga daging sapi naik fantastis. Satu kilonya sudah mencapai Rp130.000-140.000. Sungguh mahal sekali, semenjak lebaran harga daging sapi tidak pernah turun-turun. Pemerintah gagal menyediakan kebutuhan daging sapi yang terjangkau bagi masyarakat. Entah di mana letak kesalahannya sehingga kondisi pasar memprihatinkan begini. Yang kasihan adalah pedagang makanan yang berbahan baku daging sapi seperti pedagang bakso, pedagang sup, pedagang soto dan coto, pedagang rawon, dan lain-lain. Sebagian mereka berhenti beroperasi karena tidak sanggup membeli daging yang mahal. Kalaupun tetap berdagang, berapa harga makanan harus dipatok, karena pembeli yang mayoritas masyarakat menengah ke bawah tentu enggan membeli jika harga makanan menjadi mahal.

Yang dikhawatirkan tidak hanya soal harga ini, tetapi lebih berat lagi yaitu masalah kehalalan. Biasanya di tengah kesempitan, ada saja sebagian pedagang yang memanfaatkan kesempatan. Ingat kasus bakso daging celeng beberapa waktu yang lalu? Daging sapi diganti dengan daging celeng yang harganya murah. Daging celeng (babi hutan) dioplos dengan daging sapi, lalu disiram dengan darah sapi segar supaya berbau sapi. Pembeli tertipu dua kali, ya tertipu dagingnya ya tertipu halalnya. Pedagang yang tidak peduli dengan masalah halal atau haram akan semakin menjadi-jadi beroperasi jika modusnya tidak ketahuan, yang penting bagi mereka dapat untung.

Saya pribadi tidak terlalu terpengaruh dengan kenaikan harga daging sapi. Harga daging sapi mahal tidak masalah buat saya, karena saya tidak terlalu suka makan daging.  Saya lebih suka makan ikan daripada daging sapi atau ayam, hanya sekali-sekali saja makan daging. Makan ikan menyehatkan dan bergizi tinggi, dan yang penting lagi tidak mengandung kolesterol. Bagi orang yang sudah berusia kepala empat lebih seperti saya, sebaiknya mengurangi konsumsi daging merah seperti daging sapi/kambing atau ayam, karena dapat meningkatkan kadar kolesterol di dalam darah. Kadar kolestrerol berlebihan menimnbulkan penyakit degeneratif seperti kanker, penyakit jantung, stroke, dan lain-lain.

Benar deh, saya lebih suka makan ikan daripada daging sapi atau ayam. Pada acara-acara jamuan makan yang menghadirkan aneka pilihan masakan, misalnya pada acara resepi pernikahan, syukuran, dan lain-lain, saya selalu mencari ada menu ikan apa tidak. Jika ada, saya lebih memilih ikan dan sayuran, ketimbang gepuk, rendang, ayam, rolade, telur, dan lain-lain.

Jika diundang pergi ke daerah, maka yang saya cari adalah ikan. Makanya saya suka sekali pergi ke kota-kota di Sulawesi karena di sana kaya dengan ikan segar dan masakan ikannya enak-enak. Jika pergi ke kota Manado setiap tahun, maka saya puas sekali makan aneka olahan ikan seperti woku ikan, sup ikan, ikan goropa bakar, dan lain-lain. Ketika pulang, saya selalu  mencari oleh-oleh masakan ikan.

Jadi, tidak ada yang sulit ketika daging sapi mahal seperti sekarang. Beralihlah ke ikan. Anak-anak akan menjadi cerdas jika sering makan ikan. Ibu yang sedang hamil maka anaknya akan pintar jika sering mengkonsumsi ikan selama kehamilan, terutama ikan laut. Ikan mengandug asam amino yang bagus buat otak anak. Makan ikan tidak membuat kita kegemukan, karena ikan  tidak mengandung banyak lemak. Lihatlah orang Jepang yang doyan makan ikan, badannya langsing-langsing karena makanannya sehat.

Negara kita dikelilingi oleh laut, Ikan berlimpah ruah di lautan, tetapi bangsanya tidak terlalu doyan makan ikan. Sapi harus diimpor, tetapi ikan cukup diambil dari laut kita saja. Beruntunglah Tuhan menganugerahi kita laut yang luas. Tidak ada daging, ikan pun jadi.

Dipublikasi di Indonesiaku | 1 Komentar

Nasi Goreng Sambal Ikan Roa

Beberapa waktu yang lalu saya pulang dari Manado. Membawa oleh-oleh klappertaart dari sana sudah biasa. Kali ini saya mencari oleh-oleh yang tidak biasa, yaitu sambal ikan roa. Ikan roa adalah ikan khas Sulawesi yang diawetkan dengan cara pengasapan.

Bagi orang Manado, ikan ini diolah menjadi abon atau sambal. Ya, sambal ikan roa adalah sambal khas dari Manado. Sambal atau abon ikan roa sudah dikemas di dalam plastik atau botol, sehingga dapat dibawa dengan praktis sebagai oleh-oleh.

Sambal ikan roa dalam kemasan botol

Sambal ikan roa dalam kemasan botol

Sambal ikan roa yang dijual di toko adalah sambal dalam bentuk sajian kering (sekilas mirip abon) sehingga awet. Menurut tulisan di kemasannya, pembuatan sambal ini tidak menggunakan bahan pengawet. Siip lah, aman.

Sambal ikan roa, mirip abon.

Sambal ikan roa, mirip abon.

Sambal ikan roa tidak hanya sebagai teman makan nasi atau bubur saja (kalau di Manado sambal ikan roa dipakai sebagai pelengkap bubur Manado), tetapi juga bisa dijadkan bumbu nasi goreng.

Kali ini saya memasak nasi goreng sambal ikan roa. Caranya mudah. Ambil satu batang bawang daun lalu iris kecil-kecil. Selanjutnya panaskan margarin atau mentega, lalu tumis bawang daun tadi sampai harum. Masukkan satu butir telur kedalam tumisan tadi lalu aduk, kemudian masukkan nasi. Setelah nasi bercampur rata dengan telur, masukkan dua sendok teh (atau sesuai selera) sambal ikan roa ke dalamnya. Tambahkan garam dan merica. Kalau ingin agak gurih, tambahkan sedikit bumbu penyedap dan sedikit kecap. Tanpa bumbu penyedap pun nasi goreng ini sudah enak. Bau nasi gorengnya khas, dan rasanya pasti sedap.

Nasi goreng ikan roa. Hmmm... enak.

Nasi goreng ikan roa. Hmmm… enak.

Mau?

Dipublikasi di Makanan enak | Meninggalkan komentar