Berkunjung ke Masjid Al-Hakim, Masjid Baru nan Cantik di Pinggir Laut Pantai Padang

Setelah hampir dua tahun tidak pernah pulang kampung karena pandemi corona, akhirnya saya bisa pulang kampung juga ke tempat kelahiran di kota Padang minggu lalu. Dari Jakarta saya naik pesawat Citilink penerbangan pagi (menginap dulu di hotel kapsul di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta), dan turun di Bandara Minangkabau.

Waktu dua hari dan satu malam di Padang tentu sangat singkat, namun saya manfaatkan pergi berziarah ke makam orangtua di Bukit Seberang Padang. Satu lagi: mengunjungi dan sholat di Masjid Al-Hakim, masjid baru nan cantik yang terletak di pinggir laut di Pantai Padang. Selama ini saya kan hanya melihat dan membaca di media sosial saja tentang masjid baru tersebut, nah sekarang mumpung di Padang saya ingin melihat langsung ke sana.

Hari Minggu pagi, saya berjalan kaki dari rumah ke Pantai Padang, yah sambil olahraga jalan pagi maksudnya. Pantai Padang itu memanjang dari kawasan Muaro sampai ke utara ke arah Purus. Nah, Masjid Al-Hakim terletak yang dekat Muaro itu, yaitu tempat pertemuan Sungai Batang Arau dengan Samudera Hindia.

Pantai Padang

Hari minggu pagi banyak warga yang berolahraga di plaza sepanjang Pantai Padang. Jalur pedesterian yang lebar sangat nyaman untuk berjalan kaki atau olahraga lari, sambil menikmati sejuknya udara pantai. Di kiri kita terhampar Samudera Hindia dengan ombak yang menghempas-hempas ke pantai, seakan-akan memanggil perantau untuk pulang (seperti syair sebuah lagu berjudul Pantai Padang, yang dulu didendangkan oleh penyanyi Elly Kasim). Memang sangat menyenangkan berjalan-jalan menikmati pantai.

Video lagu cik uniang Elly Kasim (almh) berjudul Pantai Padang

Dari kejauhan sudah terlihat Masjid Al-Hakim yang berwarna putih. Letaknya ke arah ujung di dekat muara. Saya terus berjalan kaki, melewati berbagai tempat kenangan semasa kecil dan semasa bersekolah di Padang.

Nah, akhirnya sampailah saya di depan masjid ini, di pertigaan jalan Samudera. Cantik nian masjid Al-Hakim ini, arsitekturnya mirip dengan Taj Mahal di India. Langit yang cerah pagi itu menghasilkan foto yang menawan seperti di bawah ini yang saya jepret dengan kamera ponsel.

Masjid Al-Hakim

Dikutip dari laman Wikipedia, “Masjid Al-Hakim Padang adalah sebuah masjid bergaya Taj Mahal di tepi Pantai Padang, Kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia. Masjid ini mulai dibangun pada awal 2017. Biaya pembangunannya berasal dari seorang donatur, sementara lahannya disediakan oleh Pemerintah Kota Padang seiring penataan Pantai Padang yang dilakukan sejak 2014.

Lahan masjid ini dulunya merupakan area permainan anak dan dipenuhi tenda-tenda pedagang kaki lima (PKL). Pada 2016, seorang donatur menyampaikan niatnya untuk membangun masjid di tepi pantai. Berkat pendekatan yang dilakukan pemerintah setempat, PKL bersedia direlokasi ke tempat baru sehingga pembangunan masjid dapat dikerjakan.

Sejak 4 September 2020, Masjid Al-Hakim Padang sudah dibuka terbatas untuk aktivitas ibadah dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19. Menurut rencana, masjid akan diresmikan pada November 2020.

Masjid Al-Hakim memiliki program ATM Beras, program bantuan berupa beras yang ditujukan kepada 100 Kepala Keluarga (KK) di sekitar masjid. Penerima bantuan dapat mengambil beras pada jadwal yang ditentukan.

Saya masuk ke dalam masjid, hendak menunaikan sholat Dhuha. Pagi itu ada beberapa orang ibu-ibu yang juga sholat Dhuha. Sepertinya mereka adalah wisatawan lokal yang berkunjung ke masjid ini. Masjid Al-Hakim menjadi magnet baru di Pantai Padang dan menjadi salah satu obyek wisata religi di kota Padang.

Interior di dalam masjid terlihat cantik dan suasananya terasa lapang dengan karpet merah tebal sebagai alas sholat. Lampu kristal menggantung di tengah-tengah.

Suasana di dalam masjid

Usai sholat saya berjalan ke luar, naik tangga melalui koridor. Tampak dari sini laut di pinggir masjid. Ya, masjid Al-Hakim memang persis di pinggir pantai. Tampak dari sini Bukit Padang yang menjadi ikon Pantai Padang. Bukit Padang ini satu kesatuan dengan bukit Gado-Gado yang menjadi tempat legenda Siti Nurbaya. Bukit Gado-gado ini juga membentengi sungai Batang Arau. Di bawah bukit inilah bermuara sungai Batang Arau sehingga kawasan ini dinamakan Muaro (muara).

Tampak laut dari atas Masjid Al-Hakim

Di Muaro ini ada pelabuhan kecil bernama Pelabuhan Muaro sebagai tempat pemberangkatan kapal-kapal ke Kepulauan Mentawai. Keluar dari sungai Batang Arau ini bertemulah air tawar dan air laut. Kota Padang sudah ada sejak Abad 18. Dulu kota Padang bermula di kawasan Muaro ini karena ada pelabuhan kapal, sehingga kawasan Muaro disebut juga kawasan kota tua. Di kawasan Muaro masih terdapat bangunan-bangunan peninggalan Belanda (VOC) seperti kantor VOC, gudang rempah-rempah, kantor pelabuhan, dan bangunan lainnya yang dilestarikan oleh Pemerintah kota.

Kembali ke cerita Masjid Al-Hakim. Untuk menghindari abrasi yang menggerus Pantai Padang, maka di pinggir pantai di depan masjid Al-Hakim ditanam batu-batu penahan ombak. Namun hempasan ombak di dekat Muaro ini tidak sebesar ombak pantai yang ke arah utara. Berikut penampakan beberapa foto pemandangan laut dan pantai di samping Masjid Al-Hakim.

Halaman belakang masjdi Al-Hakim berupa pantai
Batu-batu penahan abrasi

Satu hal yang menarik di sekitar Masjid Al-Hakim ini adalah di seberang masjid terdapat vihara Budha. Vihara ini sudah ada sebelum masjid dibangun. Kawasan Muaro memang merupakan kawasan pecinan di kota Padang. Di sini terdapat daerah pemukiman dan perniagaan kaum Tionghoa yang dikenal dengan nama daerah Pondok. Dua ratus meter dari vihara, atau dua ratus meter dari masjid Al-Hakim, di tepi jalan Samudera, terdapat Gereja Advent Hari Ketujuh. Jadi, keberadaan masjid, vihara, dan gereja memperlihatkan kerukunan beragama yang baik di Ranah Minang.

Setelah puas mengitari masjid, saya pun meninggalkan Masjid Al-Hakim. Alhamdulillah, tercapai juga keinginan untuk mengunjungi dan sholat di masjid nan cantik ini. Saya pun memesan Gojek untuk pulang. Eh, tidak langsung pulang ding, tetapi pergi ke RS Bunda di Tarandam untuk melakukan tes antigen sebagai persyaratan naik pesawat. Saya kembali ke Jakarta sore hari dengan pesawat Citilink lagi. Semoga saya dapat kembali ke Masjid A-Hakim dan sholat di masjid ini bila pulang kampung lagi. Amiin.

Video vlog yang saya buat ketika mengunjungi Masjid Al-Hakim dapat ditonton pada kanal Youtube saya di bawah ini.

Dipublikasi di Cerita Ranah Minang | 2 Komentar

Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul “Digital Airport Hotel” Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

Karena saya ada keperluan penerbangan pagi dari Bandara Soekarno-Hatta, maka daripada berangkat dari Bandung dinihari jam 01.00, saya memutuskan menginap saja di hotel di dalam bandara. Kalau menginap di hotel sekitar bandara masih perlu naik taksi lagi ke dalam bandara.

Pilihan saya jatuh pada hotel kapsul di dalam Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Namanya Digital Airport Hotel. Letaknya di lantai 1 Terminal 3, tepat di bawah konter check-in. Kalau mau chek-in pesawat di Terminal 3 cukup naik ke lantai 2 pakai eskalator. Sangat dekat, tinggal jalan kaki saja. Oh ya, di Terminal 2 juga ada hotel Digital Airport. Saya pilih hotel kapsul di Terminal 3 karena pesawat saya, Citilink, berangkat dari Terminal 3.

Digital Airport Hotel

Kamar kapsulnya berbentuk kontainer bergaya futuristik, panjangnya sekitar 2,5 m, lebar sekitar 1,5 m dan tinggi 1,5 meter, dua tingkat. Serasa berada di dalam kamar astronot. Kata petugas hotel, jumlah kamar kapsulnya ada sekitar 100 lebih. Oh ya, ada juga kamar untuk double (2 orang).

Disebut hotel digital karena semua peralatan di kamar kapsul serba digital. Untuk membuka semua pintu menggunakan kartu elektronik. Di dalam kamar ada TV, meja lipat, USB port buat hape, headphone, bantal, selimut, peralatan mandi (handuk, odol, sikat gigi), free wifi. Warna cahaya lampunya bisa diatur, begitu juga terang gelapnya. Hanya sayang tidak ada colokan listrik buat laptop, jadi kalau mau cas laptop bisa di ruang yang ada meja co-working.

Pintu masuk ke dalam kamar kapsul
Kamar tidur di dalam kapsul

Kamar mandinya sharing, ada 10 kamar mandi (5 untuk pria dan 5 untuk wanita, terpisah). Kamar mandi terletak di luar area kamar, jadi kita harus keluar lagi dengan pintu yang hanya bisa dibuka menggunakan sensor tangan. Kamar mandinya lumayan bersih, tetapi menurut saya terlalu besar ukurannya. Padahal kamar mandi cukup kecil saja namun banyak jumlahnya supaya tidak terlalu antri (tapi pas saya ke sana tidak antri karena agak sepi, maklum masih pandemi jadi belum banyak penumpang pesawat)

Ruang area kamar mandi, ada 5 kamar mandi di sini
Di dalam setiap kamar mandi ada kloset, shower, dan westafel. Kamar mandi yang sebenarnya tidak perlu terlalu luas.

Menurut saya hotel kapsul ini cocok bagi solo traveller yang transit cukup lama atau penumpang yang berangkat dinihari atau pagi-pagi tanpa khawatir ketinggalan pesawat. Sambil menunggu penerbangan bisa istirahat dulu di kamar kapsul, leyeh-leyeh, mandi, atau tidur memulihkan tenaga. Daripada tidur di ruang transit atau di kursi-kursi bandara, ya kan. Atau kalau menginap di hotel di luar bandara, maka perlu naik taksi lagi ke Terminal 3 dan harus buru-buru supaya tidak ketinggalan pesawat.

Tarif kamarnya sekitar Rp 200-an sampai 300-an ribu semalam. Bisa untuk full day (dari jam 14.00 sampai jam 12.00 keesokan harinya) atau untuk yang 9 jam. Lebih murah pesan di Traveloka daripada langsung datang (go show). Sangat aman karena untuk membuka sesuatu (pintu kamar, loker penyimpan barang, pintu kamar mandi, dll) menggunakan kartu elektronik.

Loker untuk menyimpan barang

Kelebihan hotel ini ya karena sangat dekat saja ke konter chek-in dan boarding di lantai 2. Kekurangannya sih ada. Karena kamar kapsul ini terbuat dari plastik maka ia tidak kedap suara. Suara-suara dari luar kamar terdengar, atau suara orang yang mendengkur dari kamar sebelah. Kamar mandinya di luar dan harus keluar ruang kamar. Kamar mandi yang sharing ini harus sering dibersihkan karena perilaku tamu ada yang jorok (membuang tisu ke dalam kloset, lantai shower masih penuh sabun, dan sebagainya). Saat saya ke sana sabun cair yang disediakan habis, untung saya bawa sabun sendiri. Tapi secara keseluruhan lumayanlah buat menginap sementara.

Video vlog ketika saya menginap di hotel kapsul Digital Airport Hotel dapat ditonton pada kanal YouTube saya berikut ini:

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 1 Komentar

Mamang-Mamang Penjual Air Gerobak

Setiap pagi di Antapani saya sering bertemu dengan mamang-mamang yang mendorong gerobak berisi jerigen-jerigen air. Air itu dijual ke rumah-rumah yang mengalami seret air. Satu gerobak berisi 13 sampai 14 jerigen air PDAM. Air satu gerobak itu harganya 65 ribu rupiah. Satu jerigen air dijual 5 ribu sampai 6 ribu rupiah. Pada musim kemarau atau saat aliran PDAM mati (misalnya karena pipa PDAM pecah), maka harga air jerigen satu gerobak melonjak hingga 75 sampai 90 ribu, tergantung kemampuan tawar menawar.

Meskipun kawasan perumahan di Antapani dilalui saluran PDAM, tetapi tidak semua rumah lancar aliran airnya. Di sini air ledeng tidak bisa langsung naik ke kran di dalam kamar mandi atau dapur, perlu disedot dengan mesin pompa terlebih dahulu untuk dimasukkan ke dalam bak penampungan atau toren. Setiap rumah punya mesin pompa yang menyedot air ledeng. Sebenarnya memasang pompa dari saluran air PDAM terlarang, namun apa boleh buat, daripada tidak mendapat air, tindakan tersebut terpaksa dilakukan. PDAM pun tampak “memaklumi” keadaan ini. Ya, kota Bandung adalah kota yang padat pemukiman dan padat penduduk, aliran air harus dibagi-bagi sedangkan sumber air baku terbatas dan terus menyusut.

Tidak semua rumah terpasang air ledeng PDAM. Sebagian warga memanfaatkan air tanah dengan cara disedot pakai pompa jet pump. Beberapa komplek perumahan yang lebih kecil membuat sumur artesis sendiri lalu air dialirkan ke rumah-rumah warga dengan sistem iuran.

Penting sekali membeli rumah dengan memperhatikan ketersediaan airnya. Saya dulu membeli rumah seken di Antapani pada tahun 2005. Hal pertama yang saya periksa adalah bagaimana airnya, sebab air sangat vital dalam kehidupan, manusia tidak bisa hidup tanpa air, bukan? Kalau airnya bersumber dari PDAM, saya memastikan apakah alirannya lancar setiap hari? Alhamdulillah rumah yang saya beli airnya selalu mengalir setiap hari. Hanya kadang-kadang saja air ledeng mati jika ada gangguan dari PDAM, misalnya ketika pipa air (yang berukuran besar) yang mengalirkan air dari PDAM di Jalan Badaksinga pecah di daerah tertentu. Akibatnya aliran alir ke rumah-rumah warga dihentikan.

Saat air mati seperti itulah kehadiran mamang-mamang penjual air gerobak ini sangat dinantikan sebagai solusi sementara. Mamang-mamang mengambil air tersebut dari kran umum gratis yang disediakan PDAM untuk warga di daerah padat penduduk di Antapani Lama.

Karena air yang diambil dari kran umum ini gratis, maka usaha jual air gerobak ini tidak perlu modal uang setiap hari. Cuma perlu modal tenaga saja untuk pekerjaan ini, plus kesabaran menunggu antri mengisi air di kran umum, lalu mendorongnya ke kompleks perumahan yang seret air PDAM atau warga yang airnya keruh (tidak layak minum).

Dipublikasi di Romantika kehidupan, Seputar Bandung | 1 Komentar

Kemana Corona Pergi?

Tiba-tiba saja covid di Indonesia menurun dengan tajam. Tidak tiba-tiba juga sih, tetapi hanya dalam waktu dua bulan sejak Agustus 2021, jumlah kasus covid setiap hari berkurang drastis. Dalam satu bulan pada November ini saja misalnya, kasus harian hanya ratusan saja, dan jumlah yang wafat karena covid pun belasan.

Saya masih ingat saat puncak kasus covid selepas Idul Fitri, sekitar bulan Juni dan Juli 2021. Saat itu kondisi di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa sangat mencekam. Jumlah kasus positif covid setiap hari puluhan ribu, pernah mencapai di atas 50 ribu sehari bahkan nyaris menyentuh 100.000. Seluruh rumah sakit kolaps, tidak dapat menampung pasien covid. Banyak pasien covid yang akhirnya meninggal dalam perjalanan mencari rumah sakit atau meninggal di rumah karena sudah pasrah tidak mendapat tempat perawatan maupun isolasi.

Pemandangan memilukan yang kita saksikan adalah orang-orang berburu tabung oksigen atau mengantri tempat pengisian oksigen. Berita-berita di grup Whatsapp maupun di media sosial lainnya adalah berita-berita menyedihkan. Hampir setiap hari kita mendengar kabar duka, orang-orang terdekat kita pergi satu per satu. Teman, kerabat, orangtua, tetangga, teman lama. Hampir setiap hari pula kita membaca dari media tokoh-tokoh dan orang terkenal juga pergi menemui Sang Khalik.

Di kompleks perumahan saya, yang dikelilingi oleh banyak masjid dan mushola, hampir setiap hari terdengar pengumuman warga yang wafat karena covid. Tidak satu kali sehari, tetapi bisa dua kali sehari. Tidak hanya malam, tetapi juga pagi, siang, atau sore.

Sedangkan di luar sana, di jalanan, mobil ambulans tidak berhenti meraung-raung membawa pasien covid atau membawa pasien yang sudah wafat.

Sungguh keadaan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Virus corona varian Delta, yang berasal dari India, berhasil masuk ke Indonesia dan menginfeksi ratusan ribu orang.

Alhamdulillah. Sekarang kondisinya jauh lebih baik dan terkendali. Ini kondisi yang patut disyukuri meskipun kita tidak boleh jumawa, euforia, dan sebagainya. Corona masih terus mengintai setiap saat jika kita lengah.

Tentu kita bertanya-tanya, mengapa kasus covid di Indonesia menurun drastis hingga 95% dari kasus pada puncak bulan Juni-Juli.

Ada dua kemungkinan. Pertama, mungkin sudah terbentuk herd immunity di dalam masyarakat. Kekebalan alami yang timbul karena orang-orang Indonesia mungkin sebagian besar sudah terpapar virus corona namun tidak terdeteksi, alias menjadi orang tanpa gejala (OTG), lalu sembuh sendiri. Mungkin juga saya, keluarga saya, Anda, atau keluarga Anda, sudah terpapar tanpa disadari. Imunitas di tubuh kitalah yang membuat virus itu tidak berkembang.

Kemungkinan kedua adalah karena efek vaksinasi massal di mana-mana. Awalnya banyak orang yang enggan divaksinasi dengan bebagai alasan (terpapar hoax, takut, merasa kebal, dsb). Tetapi sejak ada peraturan bahwa masuk mal, restoran, naik kereta api, pesawat, kapal, dan sebagainya harus menunjukkan kartu vaksinasi, banyak warga menyerbu tempat-tempat vaksinasi sampai rela antri panjang berjam-jam. Tawaran-tawaran program vaksinasi yang diadakan oleh berbagai komunitas langsung penuh pendaftarnya setiap kali dibuka. Rupanya masyarakat kita lebih “takut” tidak bisa pergi ke mal atau takut tidak bepergian daripada takut divaksin. Cerdik juga Pemerintah yang bikin peraturan tersebut, terbukti mangkus. Membuat orang yang semula menolak divaksin akhirnya minta vaksinasi.

Antrian vaksinasi di Sabuga ITB hari Minggu 22 Agustus 2021, kiriman teman.

Vaksinasi di Indonesia saat ini mencapai rekor yang tinggi, sudah lebih dari lebih 200 juta vaksin disuntikkan. Salah satu faktor kunci penyebab tingginya vaksinasi adalah keterlibatan lembaga non-kesehatan untuk menggelar vaksinasi massal, seperti perguruan tinggi, Kodam, komunitas alumni, komunitas etnis, lembaga swasta, rumah ibadah, perusahaan, polri, dan lain-lai.

Dulu dikira hanya puskesmas dan rumah sakit saja yang melakukan vaksinasi sehingga diperkirakan akan lambat ketercapaiannya, ternyata keterlibatan pihak non negara itulah yang membuat tingginya angka vaksinasi.

Sekarang masyarakat merasakan manfaat divaksin tersebut, jumlah kasus covid menurun tajam. Ini jelas pertolongan dari Allah yang Maha Kuasa kepada negeri ini. Ada rasa bahagia terpancar dari masyarakat. Sekolah dan kampus sudah mulai buka lagi. Aktivitas sehari-hari tampak seperti sudah normal saja. Rumah makan, kafe, dan restoran sudah tampak ramai pengunjung yang makan di tempat.

Di tempat-tempat umum masyarakat masih patuh memakai masker. Memakai masker seolah sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Keluar rumah tanpa masker rasanya ada yang kurang.

Namun sebagai manusia kita tidak boleh takabur. Corona tetap akan ada. Dia tidak pergi, masih ada di sini.

Dipublikasi di Indonesiaku | Meninggalkan komentar

Roti dari Warung Mamah

Pulang mengajar dari kampus malam itu, saya singgah dulu di Toserba Borma Antapani. Mau beli pesanan dari anak. Hujan deras di luar membuatku tertahan di sini menunggu hujan reda. Seorang remaja duduk di pojok toko menggenggam dagangan roti di pangkuannya. Duduk termangu memandang orang-orang lewat. Kudekati dia.

+ Jualan apa itu, Dik?

– Roti, Om

+ Berapa satu?

– Dua ribu, Om

+ Nggak sekolah?

– Sekolah, Om, di SMA …(sambil menyebutkan sebuah sekolah di Antapani), kelas 1

+ Tinggal di mana?

– Di gang Antapani Lama, Om.

+ Ini roti diambil dari mana?

– Dari warung Mamah. Kata Mamah daripada nggak ada kerjaan, sok jualkan roti ini, nanti ada sebagian hasilnya buat jajan kamu.

+ Oh, gitu.

– Iya, Om, lumayan, jadi nggak minta jajan lagi dari orangtua.

+ Tiap hari jualan di sini?

– Iya, dari jam 4 sore

Anak baik. Dia sudah belajar mandiri dan merasakan susahnya orangtua mencari uang. Saya pun membeli rotinya lima, dan kulebihkan uangnya.

Dan hujan pun masih turun.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 1 Komentar

Kuliah Luring Perdana Setelah 1,5 Tahun Pandemi

Hari Selasa tanggal 2 November 2021 merupakan hari yang “bersejarah” bagi sebagian mahasiswa Teknik Informatika STEI-ITB angkatan 2020. Karena, pada hari tersebut dilaksanakan kuliah tatap muka pertama kali bagi mereka setelah satu tahun lebih sejak TPB mereka kuliah secara onlen (daring) terus.

Alhamdulillah saat ini kondisi pandemi corona di Indonesia sudah mulai mereda. Jumlah kasus positif dalam dua bulan ini menunjukkan penurunan signifikan, kurang dari 1000 kasus setiap hari. Jumlah kasus yang yang sembuh lebih banyak daripada kasus positif, begitu juga jumlah kematian juga menurun drastis. Vaksinasi semakin gencar dilakukan di mana-mana. Mungkin juga  saat ini sudah terbentuk herd immunity di dalam masyarakat sehingga kasus-kasus positif semakin menurun. Wallahualam.

Pemerintah pun mulai melonggarkan aktivitas yang selama ini ditutup atau dibatasi, antara lain aktivitas dalam bidang pendidikan. Sekolah-sekolah sudah mulai dibuka secara bertahap, kampus pun menggeliat  dengan membuka kembali aktivitas perkuliahan terbatas seperti praktikum,studio, kuliah lapangan, dan kuliah tatap muka.

Ketika ada edaran kuisioner dari Kaprodi Informatika tentang kesediaan dosen untuk mengajar perkuliahan secara luring (offline) setelah dilaksanakan UTS, saya menyatakan kesediaan untuk mengajar kembali di kampus. Ada beberapa pertimbangan mengapa saya bersedia mengajar. Pertama, saya ikut merasakan kesedihan angkatan mahasiswa 2020 yang sejak diterima sebagai mahasiswa ITB, mereka belum pernah sekalipun merasakan kuliah tatap muka di kelas-kelas di kampus Ganesha. Jangankan kuliah, menginjakkan kaki di kampus Ganesha pun sebagian besar belum pernah.

Alasan kedua, selama hampir dua tahun kampus ITB kehilangan atmosfir akademik yang menjadi ciri khasnya. Sebelum pandemi, kita dapat melihat betapa atmosfir akademik di kampus ITB terlihat hidup. Dengan luas kampus yang kecil kita dapat menyaksikan mahasiswa-mahasiswa yang asyik belajar dan mengerjakan tugas-tugas kuliah di bangku-bangku taman, di kantin-kantin, di meja-meja belajar ruang terbuka, di lantai-lantai gedung, di perpustakaan, di sekre unit dan sekre himpunan. Di dalam lab terlihat mahasiswa mengerjakan praktikum. Di ruang lain berlangsung seminar-seminar, diskusi, dan pertemuan ilmiahnya. Tidak hanya pagi sampai sore hari, bahkan sampai malam hari pun kampus tetap hidup dengan mahasiswa-mahasiwa yang sepertinya enggan untuk pulang ke kosannya. Kampus ITB memang tempat yang kondusif untuk belajar. Namun semua pemandangan tersebut lenyap begitu saja saat negara api menyerang, eh…saat virus corona menyerang. Pandemi corona memaksa kampus menutup  dirinya, mahasiswa pulang kampung, perkuliahan dan aktivitas lainnya dilakukan secara daring. Dengan memulai kuliah luring ini diharapkan atmosfir akademik yang hilang di kampus bisa hidup kembali.

Alasan ketiga lebih pada diri saya sendiri. Saya dosen yang senang mengajar. Dunia pendidikan adalah dunia saya sejak lama. Mengajar secara tatap muka di kelas bagi saya tidak tergantikan dengan kuliah secara daring. Ada kebahagiaan tersendiri selesai mengajar, senang melihat mereka paham, mengerti, dan mendapat pencerahan. Ada dialog dan narasi yang dibangun selama kuliah tatap muka. Kalau kuliah secara daring kita tidak dapat melihat wajah-wajah mahasiswa yang mangut-mangut melihat penurunan rumus, atau celutukan seperti “oooo… begitu caranya” ketika kita menjawab soal yang sulit di papan.

Singkat cerita, saya pun mulai mensurvei mahasiswa pada mata kuliah yang saya ampu, siapa saja yang ingin kuliah secara luring di kampus semester ini. Sebelumnya, Kaprodi Informatika juga sudah mensurvei  mahasiswa IF tentang kuliah luring, ternyata 63 persen mahasiswa IF siap untuk ikut kuliah luring. Dari mahasiswa IF 2020, ada 70 orang yang secara tentatif ingin kuliah luring. Karena kapasitas kelas selama adaptasi kebiasan baru dibatasi jumlahnya, maka jumlahnya dibatasi maksimal 34 orang saja. Jumlah 34 orang tersebut adalah kapasitas untuk ruang 7602, ruang kuliah terbesar di LabTek 5. Peminat kuliah luring tidak hanya dari kelas K1 yang saya ampu, tetapi juga dari kelas paralel lain, K2 dan K3, setelah dikoordinasikan dengan dosen pengampu setiap kelas. Seluruhnya ada sekitar 30-an mahasiswa yang ingin kuliah luring di LabTek 5.

Kuliah luring  yang saya ampu adalah IF2120 Matematika Diskrit (Matdis) dan IF2123 Aljabar Linier dan Geometri (Algeo). Kuliah Matdis hari Selasa sore dan kuliah Algeo hari Rabu siang. Kuliah akan dilaksanakan secara bauran (hybrid), sehingga mahasiswa yang kuliah daring di rumah pun bisa bergabung dengan teman-temannya yang kuliah luring di kampus. Untuk itu digunakan peralatan yang dapat memfasilitasi kedua cara perkuliahan tersebut.

Saya datang ke kampus dua jam sebelum kuliah berlangsung. Saya harus mempelajari dulu cara menggunakan peralatan  yang terdiri dari kamera dan dua monitor besar yang terhubung dengan komputer dan akses internet. Satu jam perlu waktu untuk belajar cara menggunakannya. Saya dibantu oleh pegawai Duktek, Pak Sudiarto, Pak Syamsudin, dan Pak Cece dalam menggunakan peralatan canggih ini. Mereka pun juga sambil belajar menggunakannya karena peralatan kuliah bauran ini memang baru dibeli dan baru dipasang. Menurut info peralatan kuliah bauran ini sangat mahal harganya.

Satu monitor besar dari Huawei di depan kelas digunakan untuk menampilkan slide PPT yang di-share dengan platform Zoom, sedangkan satu monitor besar yang lain digunakan untuk menampilkan mahasiswa-mahasiswa yang kuliah daring di rumah.  Sebuah kamera yang dapat berputar secara otomatis dipasang di depan untuk menayangkan gambar dosen secara live yang mengajar di depan monitor Huawei. Kemana saya berjalan di ruang kelas, kamera itu berputar ke arah saya sehingga gambar dosen yang wara-wiri di dalam kelas pun dapat dilihat mahasiswa yang daring di rumah.

Jam 16.00 kurang mahasiswa sudah masuk ke dalam ruangan 7602. Mereka sudah mendapat izin masuk kampus, sudah divaksin, sudah mengisi AMARI, memakai masker. Saya kira mereka ini mahasiswa yang berasal dari Bandung Raya semua, ternyata banyak juga yang berasal dari Jakarta, Jawa Tengah, Padang, dan lain-lain.  Rupanya mahasiswa asal luar Bandung ini sudah beberapa bulan kos di Bandung.  Jadi, mereka bukan mendadak ada di Bandung karena ingin ikut kuliah luring.

Jam 16.00 kuliah perdana secara bauran (onlen dan oflen sekaligus) dimulai. Mahasiswa IF 2020, yang sama sekali belum pernah merasakan kuliah di kampus Ganesha sejak tingkat 1, terlihat sangat gembira bisa kuliah lagi secara luring. Gembira bisa bertemu dengan teman seangkatan.

Ruang besar 7602 ini biasanya saat normal bisa diisi sampai 120 hingga 140 mahasiswa, tetapi pada masa adaptasi kapasitasnya hanya 34 orang saja dengan jarak duduk 1,5 meter.

Kuliah berjalan dengan lancar. Satu monitor besar menampilkan share screen PPT, satu monitor lagi menampilkan mahasiswa yang kuliah onlen dari rumah. Mahasiswa yang di rumah bisa melihat dosen berdiri mengajar di kelas dan melihat teman-temannya di kelas. Begitu sebaliknya. Mereka bisa bertanya dari rumah dan suaranya terdengar jelas di dalam kelas. Monitor Huawei ini adalah tipe layar sentuh, jadi slide-slide PPT dapat dengan mudah digeser dengan jari. Saya juga dapat menulis dengan pena digital ke layar monitor tersebut, dan tulisannya dapat dilihat oleh peserta kuliah daring.

Alhamdulillah, STEI-ITB selangkah lebih maju, insya Allah sudah siap melaksanakan perkuliahan secara luring maupun bauran. Mohon doanya agar kuliah lancar sampai akhir semester, sehat, dan aman. Amiiin ya Allah.

Dipublikasi di Seputar Informatika, Seputar ITB | 1 Komentar

Rambut Putih dan Mahasiswa yang Segar-segar

Ketika tadi siang ke kampus, saya bertemu dengan seorang kolega sesama dosen. Sudah lama saya tidak ke kampus karena pandemi. Kampus tutup, mahasiswa pulang kampung, kuliah dilakukan secara virtual. Dan selama hampir dua tahun kurang saya tidak pernah bertemu dengan kolega, hanya ketemu mereka secara virtual saja saat rapat, seminar, atau sidang. Kolega saya ini kaget melihat rambut saya sudah banyak putihnya. Sebelum pandemi nggak sebanyak ini. (Baca tulisan sebelumnya: uban)

Ternyata waktu dua tahun WFH (work from home) selama pandemi membuat rambutpun ikut stres sehingga ia berubah warna 🙂 . Apakah kamu juga begitu?

Apa sebabnya?

Hoho…itulah, mungkin karena sudah dua tahun saya tidak pernah bertemu lagi yang segar-segar, maksudnya mahasiswa yang segar-segar. Sebelum pandemi hampir setiap hari kita ketemu mahasiswa yang selalu berganti setiap tahun. Mahasiswa yang baru-baru, segar-segar ceria, kinyis-kinyis, muda-muda, dan kita pun yang dosen ikut terbawa muda meskipun usia selalu bertambah. Mereka happy kita pun terbawa happy.

Jadi tidak heran, kata orang, guru dan dosen itu selalu tampak muda karena setiap hari mereka ketemu anak muda terus. Pemutihan rambut pun jadi ikut melambat, hihihi…. Tapi karena anak-anak muda itu menghilang dari pandangan selama dua tahun akibat pandemi, maka pemutihan rambut malah menjadi cepat. 🙂

Makanya, saya berharap, cepatlah pandemi berlalu agar kuliah berjalan lagi dan kampus diisi lagi dengan anak-anak muda ceria setiap hari. Mereka ceria kita pun terbawa ceria.

Ahhh…bercanda kok. Uban itu karena memang faktor U.

Dipublikasi di Gado-gado, Pendidikan | 1 Komentar

ART yang Kembali Lagi

Pembantu (ART) di rumah kami sudah bekerja sejak si bungsu umur 6 bulan. Sekarang si bungsu sudah berumur 14 tahun, berarti ART sudah bekerja lebih dari 13 tahun. Awet ya. Sistemnya tidak menginap, dia datang pagi pukul 9 lalu pulang sore pukul 5, karena dia juga punya suami di kontrakan. Kami sejak dulu selalu mencari pembantu yang tidak menginap, lebih nyaman saja begitu. Pekerjaannya rutin biasa saja, urusan cuci-mencuci, setrika pakaian, beres-beres rumah. Tidak masak karena kami membeli makanan atau memasak sendiri. Sekalian dia juga menjaga anak di rumah dan menyediakan makan karena kami keduanya bekerja. Santailah kerjanya, tidak berat-berat amat. Dia juga suka dengan kerja seperti itu makanya kerasan.

Akhir tahun lalu saat pandemi suaminya wafat. Bukan karena covid, tetapi karena penyakit jantung. Sejak itu dia mulai sakit-sakitan dan banyak pikiran. Beberapa kali on off masuk kerja. Saya maklumi saja, saya juga belum berniat mencari pengganti.

Akhirnya karena sakit terus, bahkan pernah pingsan, si bibi pulang ke kampungnya di Garut, tinggal di rumah anak lelakinya yang sudah berkeluarga. Kami pun mulai mencari pengganti ART, tetapi tidak cocok, akhirnya dihentikan. Karena masih pandemi dan WFH di rumah, maka ketiadaan ART juga tidak masalah bagi saya. Semua pekerjaan rumah sudah biasa kami kerjakan.

Lama tiada kabar, kemaren si bibi datang ke rumah, langsung dari Garut diantar anak lelakinya naik motor. Dia mengatakan ingin bekerja lagi. Selama tinggal di rumah anaknya di Garut dia tidak punya pekerjaan. Anaknya juga susah hidupnya, hanya pegawai office boy di sebuah bank. Hidup “menumpang” di rumah anak terus menerus juga kurang nyaman baginya. Dia biasa hidup mandiri dan punya penghasilan sendiri. Biasa bekerja lalu berhenti tentu bisa menimbulkan penyakit bagi dirinya. Kata dia, bekerja itu membuat dia sehat karena tubuh selalu bergerak. Diam di rumah saja malah sakit-sakitan. Kesal di rumah terus.

Kami pun menerima dia kembali bekerja harian di rumah. Sudah belasan tahun dia bekerja di rumah kami tentu sudah kerasan baginya. Sulit bagi dia melupakan anak-anak kami, apalagi si sulung yang ABK. Teringat terus, katanya. Katanya lagi, justru dia merasa bahagia kerja di rumah kami. Nggak tahu kenapa ya. Mungkin karena kerjanya nggak berat dan gajinya juga lumayan gitu? Hahaha…

Ya sudah, hari ini dia mulai masuk kerja lagi, datang pagi pulang sore. Saya tanya kenapa dia ingin bekerja lagi. Katanya, dia tidak punya uang. Saya pun mengerti. Saya teringat kata ibu saya, perempuan di mana pun di dunia ini perlu memegang uang di tangannya. Jika perempuan tidak memegang uang rasanya ada yang kurang nyaman dalam hidupnya. Benarkah begitu?

Dipublikasi di Romantika kehidupan | Meninggalkan komentar

Bunga Tanduk Rusa

Di depan rumah saya, sebuah ruang terbuka hijau, tumbuh bunga tanduk rusa di sebuah batang kayu yang besar. Bunga tanduk rusa itu pada awalnya hanya sepokok kecil, dulu ditanam oleh Bu Yusuf, tetangga saya, dengan cara mengikatnya ke batang pohon dengan tali rafia. Bunga tanduk rusa itu makin lama makin besar sehingga menjadi menjadi bunga raksasa yang indah. Daunnya yang berbentuk tanduk rusa menjuntai panjang ke bawah, sedangkan bagian mahkotanya seperti lembaran daun yang mengering berwarna coklat.

tandukrusa4

Ini adalah foto bunga tanduk rusa pada tahun 2018

Saya lupa bunga tanduk rusa ini ditanam pada  tahun berapa, sekitar tahun 2010-an lah, sekarang usianya mungkin sekitar 10 tahun.

Tanaman tanduk rusa tergolong ke dalam paku-pakuan ( Ptrydophyta), tidak ada bunganya, tetapi daya tariknya adalah pada daunnya yang berbentuk tanduk rusa itu. Bunga tanduk rusa ini subur sekali pada musim hujan ini. Di dalam “perutnya” tersimpan cadangan air yang banyak sekali. Pada musim kemarau cadangan air itu digunakannya agar tetap bertahan hidup.

tandukrusa1

Bunga tanduk rusa pada tahun 2019

Karena semakin lama semakin besar dan berat, akhirnya pada suatu pagi pada tanggal 22 September 2021, bunga tanduk rusa kebanggaanku, yang selalu saya rawat sejak masih kecil, akhirnya roboh ke tanah. Tidak kuat lagi ia menahan beban karena sudah membesar dan berat, sehingga terlepas dari kulit pohon inangnya. Terkulai di tanah 😢

tandukrusa2

Jatuh terkulai ke atas tanah

Sedih. 😦

Namun saya tidak ingin bunga tanduk rusa ini mati. Maka, dengan menggunakan kawat dan tali, akhirnya saya ikat kembali ke batang pohon itu, tempat ia bergantung selama ini.

tandukrusa3

Dikkat lagi dengan bantuan tali dan kawat

Tidak persis seperti kedudukan aslinya, tetapi lumayanlah ia bisa tumbuh kembali.

Dipublikasi di Gado-gado | Meninggalkan komentar

Rumah Makan di Setiap Simpang Pagi dan Sore

Membicarakan rumah makan masakan Minang (orang sering menyebutkan rumah makan padang, nasi padang, dan sebagainya, istilah yang kurang tepat sebab tidak semua pemilik rumah makan tersebut berasal dari kota Padang, dan tidak semua masakan tersebut khas masakan kota Padang) tidak akan habis-habisnya. Rumah makan minang ada di mana-mana di pelosok nusantara hingga di luar negeri. Masakan minang yang pedas, bersantan, dan berbumbu lengkap cocok dengan lidah oang Indonesia dan bule-bule.

Kali ini saya tidak akan membahas masakannya, tetapi nama rumah makannya. Nama rumah makan minang itu mengikuti tempat atau lokasinya. Ada anekdot yang mengatakan bahwa di setiap simpang jalan ada rumah makan minang, jadi tidak usah khawatir kelaparan. Ya memang betul, makanya nama rumah makan minang itu ada yang bernama RM Simpang Tigo, RM Simpang Ampek (ampek = 4), RM Simpang Limo (limo = 5). Yang belum ada mungkin RM Simpang Anam. Kemudian rumah makan yang bernama simpang-simpang masih banyak lagi, seperti RM Simpang RayaRM Simpang Jaya. Di kota Padang sendiri rumah makan yang bernama simpang dikaitkan dengan nama lokasinya, misalnya RM Simpang Alai, RM Simpang Jondul, RM Simpang Haru dan lain-lain.

simpang

Tidak hanya diberi nama sesuai lokasinya, nama rumah makan minang juga mengikuti waktu, yang menunjukkan ketegaran pengusaha rumah makan itu mencari nafkah dari pagi sampai malam. Jadi kita akan menemukan RM Pagi Sore, RM Siang Malam, RM Semalam Suntuk, RM Begadang. Sehingga ada anekdot yang mengatakan bhawa begitulah seni makan di rumah makan padang. Pagi hari sarapan di RM Pagi Sore, siang hari makan di RM Siang Malam. Malamnya makan di RM Semalam Suntuk. Kalau masih lapar juga karena begadang, maka makan lagi di RM Begadang.

simpang2Dari mana asal nama yang berkaitan dengan waktu tersebut? Tidak ada yang tahu. Semasa kecil di Padang saya tahu ada rumah makan yang cukup ternama, yaitu RM Semalam Suntuk. Tidak jelas juga apakah memang rumah makan ini hanya buka dari sore sampai subuh sehingga dinamakan semalam suntuk. Barangkali dari nama rumah makan semalam suntuk itu lahirlah nama-nama rumah makan di tempat lain yang bernama pagi sore, siang malam, dan lain-lain.

Sedangkan untuk nama RM Begadang, ini adalah jaringan rumah makan perantau Minang yang terkenal di daerah Lampung. Di sepanjang jalur Lintas Sumatera kita akan menemukan rumah makan dengan nama Begadang I, Begadang IIBegadang III, dan seterusnya. Di rumah makan inilah bus-bus penumpung tujuan Sumatera dan Jawa berhenti untuk beristirahat dan mempersilakan penumpangnya makan di sana. Tentu saja untuk para awak bus makan di rumah makan perhentian tersebut gratis dan dijamu lengkap oleh pemiliknya, kadang dapat tips pula. Bus-bus tersebut membawa rezeki bagi pemilik rumah makan.

Beberapa pemilik rmah makan di perantauan memberi nama rumah makannya yang berkaitan dengan  kampung asalnya. Jadi, kita akan menemukan RM Singgalang Jaya, RM Gunung Talang, RM Talago Biru, RM Lubuk Minturun, RM Bareh Solok, RM Maninjau, dan lain-lain.

Nama memang bukan hal yang sederhana, tetapi menunjukkan hubungan emosional pemilik rumah makan tersebut dengan sesuatu yang berkaitan dengan lingkungannya dan kampung halamannya.

Dipublikasi di Cerita Minang di Rantau, Gado-gado | Meninggalkan komentar