Duku Palembang atau Duku Baturaja?

Habis musim rambutan terbitlah duku. :-)

Sewaktu melewati daerah Arcamanik kemarin, ada pedagang buah duku palembang yang menggelar dagangannya di dalam mobil bak terbuka. Pemandangan mobil bak terbuka penjual buah duku jamak ditemukan di Bandung saat ini. Melihat buah dukunya yang ranum-ranum, saya pun tertarik untuk membelinya.

duku palembang

Sekedar basa-basi saya bertanya apakah buah duku tersebut benar duku palembang (maklum ada juga buah duku lokal dari Ciamis yang bentuk dan tampilannya mirip dengan duku palembang, tetapi rasanya agak masam).

Saya: “Ini asli duku palembang, Bu?”
Pedagang: “Ini duku dari Baturaja, Pak”

Dalam hati saya berkata, bukankah Baturaja itu di Sumatera Selatan juga. Apa bedanya?

Ups, saya tersadar. Ya benar, buah duku tersebut tidak berasal dari Palembang (Sumsel), setahu saya tidak ada pohon duku di Palembang (CMIIW). Buah duku berasal dari daerah pedalaman Sumsel seperti Baturaja, Muaraenim, Ogan Komering, dsb. Namun orang awam kan tidak tahu Baturaja itu di mana, Muaraenim di mana, Ogan Komering di mana, tahunya cuma Palembang, jadi ya sudah disebut saja duku palembang saja (p kecil, bukan P besar).

Saya pernah melewati daerah pedalaman Sumatera Selatan, itu dulu zaman saya masih mahasiswa ketika pulang kampung dengan bus ke Padang. Sekarang sudah jarang orang pulang kampung dengan bus, biasanya ya naik pesawat saja yang ongkosnya tidak jauh berbeda bila naik bus. Nah, selepas Provinsi Lampung bus memasuki daerah Sumatera Selatan. Ketika melewati daerah Baturaja dan Muaraenim, banyak sekali pedagang buah duku di pinggir jalan Lintas Sumatera. Jalan Lintas Sumatera itu melewati hutan-hutan dan perkampungan dengan rumah yang jarang-jarang. Pohon-pohon duku yang berbuah sesekali terlihat di pinggir hutan. Pohon duku yang batangnya tinggi itu terlihat sudah berusia tua. Entah siapa yang menanam pohon duku itu, mungkin kakek moyang mereka, yang diwariskan turun temurun ke anak cucu mereka dan memberi manfaat (rezeki) hingga sekarang.

Kembali ke buah duku di Bandung tadi. Berton-ton buah duku palembang dari Sumatera Selatan menyerbu kota-kota di Pulau Jawa dan Sumatera. Mereka menjajakannya pada lapak-lapak buah dan mobil bak terbuka di pinggir jalan. Ketika saya beli kemaren harganya sudah turun Rp15.000/kg, beberapa minggu lalu masih Rp25.000/kg. Kalau mau lebih turun lagi, tunggu dua minggu hingga satu bulan lagi, harganya akan menjadi Rp15.000 per 2 kg seperti foto tahun lalu di bawah ini.

duku palembang 2

Orang Sunda menyebutnya buah dukuh (ada tambahan huruf “h” di belakang seperti halnya orang Sunda menyebut sepeda dengan sepedah, mama dengan mamah, dsb). Karena buah duku yang terkenal adalah duku palembang, maka kita harus jeli sebelum membeli. Banyak varian buah duku lokal dari daerah-daerah lain di Jawa Barat, tapi soal rasa jelas jauh berbeda dengan duku palembang. Pedagang yang tidak mau tahu tetap menyebutnya duku palembang meskipun buah dukunya tidak berasal dari Sumsel. Pedagang yang nakal mencampurkan buah duku palembang dengan buah duku lokal, hasilnya buah duku palembang yang sudah tidak murni lagi. Pedagang pada foto di atas menuliskan “Dukuh Asli Palembang” pada selembar karton untuk meyakinkan pembeli, sementara pedagang lain menuliskan “Dukuh Palembang asli Komering”. He..he, sudah Palembang pakai Komering lagi. Duku komering, duku baturaja, duku muaraenim, ya sama saja semuanya, tetap disebut duku palembang.

Dipublikasi di Gado-gado | 5 Komentar

Jokowi dan Mahasiswa ITB

Aksi demo mahasiswa ITB yang menolak kehadiran Pak Jok(owi) yang akan mengisi kuliah umum di Kampus ITB pada hari Kamis yang lalu masih menyisakan polemik di milis-milis, media sosial, dan media daring. Di milis dosen ITB aksi mahasiswa tersebut menimbulkan diskusi dan perdebatan hangat hingga tulisan ini dibuat. Saya tegaskan bahwa ini adalah aksi mahasiswa ITB sebagai sebuah komunitas, bukan aksi sebagian mahasiswa, karena yang melakukan aksi demo tersebut adalah atas nama Keluarga Mahasisa (KM) ITB. Karena KM merepresentasikan atau mewakili mahasiswa ITB, maka aksi tersebut dapat disebut sebagai aksi mahasiswa ITB keseluruhan, terlepas ada yang tidak setuju, tidak mau, atau tidak mau tahu (apatis).

Aksi demo di pintu gerbang kampus, saya potret hari Kamis yang lalu.

Aksi demo di pintu gerbang kampus, saya potret hari Kamis yang lalu.

Menurut yang saya simak dari berbagai pemberitaan, mahasiswa ITB tidak menolak kehadiran Pak Jok sebagai personil, tetapi mereka menolak politisasi kampus. Meskipun kehadiran Pak Jok adalah sebagai Gubernur DKI, namun sukar membedakan Pak Jok sebagai kader PDIP, Gubernur DKI, dan Calon Presiden (capres) dari PDIP. (Baca: Jokowi Didemo Saat Akan Kuliah Umum, Ini Sikap Keluarga Mahasiswa ITB). Walaupun KM-ITB sudah melakukan klarifikasi, namun pemberitaan di media daring dan diskusi di media sosial berkembang ke arah yang liar dan tidak terkendali. Mahasiswa ITB dibuli-buli di media sosial. Ada yang curiga bahwa aksi menolak Pak Jok didalangi oleh partai tertentu, atau mahasiswa-mahasiswa yang demo tersebut terkontaminasi politik partisan, demo bayaran, bahkan Masjid Salman yang tidak ada hubungannya dengan demo tersebut ikut dibawa-bawa dalam persoalan ini. Karena ini tahun politik, maka apapun bisa dipolitisasi dan berkembang menjadi teori konspirasi.

Aksi demo mahasiswa ITB itu menurut saya cukup mengagetkan, sebab sudah cukup lama mahasiswa ITB berada dalam diam. Sikap mahasiswa yang apatis terhadap politik dan lebih menyibukkan diri dengan urusan kuliah dan aktivitas kampus telah membuat kampus ITB tidak lekat lagi dengan aksi-aksi demonstrasi seperti romantisme mahasiswa sebelum tahun 1998. Tiba-tiba saja mereka melakukan aksi demo yang tergolong besar, bersatu padu, membuat tameng, sampai-sampai adu ngotot dan tarik-tarikan dengan pihak keamanan. Ini artinya mahasiswa ITB sudah mulai aware dengan persoalan bangsa. Baguslah kalau sudah mulai peduli.

Dalam pandangan saya kehadiran Pak Jok ke kampus ITB momen waktunya memang tidak pas, yaitu menjelang masa Pilpres, karena itu wajar jika mahasiswa ITB menolak karena dikhawatirkan membawa kampanye terselubung. Jika dia datang seusai Pilpres tentu ceritanya akan lain. Meskipun demikian, bukan berarti aksi demo itu tanpa kritik. Walaupun dalam beberapa tulisan saya sering mengkritisi Pak Jok, namun cara-cara yang ditempuh oleh para mahasiswa tersebut menurut saya kurang elegan kalau tidak bisa dibilang berlebihan. Kenapa harus pakai adu otot segala? Kenapa tidak pakai otak? Bukankah mahasiswa itu kaum intelek yang dapat berpikir dengan rasio dan nalar. Pak Jok diundang oleh ITB, maka seharusnya pihak pengundanglah yang harus didemo dan diprotes, bukan Pak Jok nya. Begitupun dalam melakukan protes ada cara yang lebih intelek. Kalau anda tetap menolak politisasi kampus oleh Pak Jok, anda tidak perlu menghadang Pak Jok memasuki kampus dengan otot. Anda cukup berbaris di depan gerbang membawa poster dan spanduk penolakan politisasi kampus, nanti ketika Pak Jok masuk dia akan membacanya. Cara demo seperti ini sering saya lihat di TV yang dilakukan oleh masyarakat Eropa ketika mereka melakukan demo dengan cara damai. Toh menurut saya Pak Jok bakal tahu diri bahwa dia diundang memberi kuliah umum, bukan berbicara masalah copras capres. Kita belum mendengar apa yang dia sampaikan, maka kita belum dapat menyimpulkan dia melakukan kampanye terselubung, bukan?

Netralitas kampus sih saya setuju jika itu diartikan kampus menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik. Tetapi, politisasi kampus menurut saya istilah yang absurd. Apa artinya? Politik masuk kampus? Politisi masuk kampus? Menjadikan kampus untuk tujuan politik? Beberapa bulan lalu Pak Aburizal Bakrie dan Partai Golkar pernah datang ke kampus ITB Jatinangor untuk melakukan diskusi, tetapi saya tidak mendengar ada aksi demo/penolakan dari mahasiswa (mahasiswa tidak tahu atau karena Ical alumni ITB?). Pak Hatta Radjasa pun sudah beberapa kali ke kampus, toh adem-adem saja. Dalam pandangan saya silakan saja para politisi masuk ke kampus dan melakukan diskusi, silakan saja mereka memaparkan pandangan-pandangannya. Kalau perlu undang semuanya, tidak hanya satu orang. Toh mahasiswa (ITB) cukup cerdas untuk menilai dan memilah, mereka tidak akan menelan bulat-bulat begitu saja pandangan-pandangan tersebut. Mereka dapat mengritisi, mencecar, dan beradu argumentasi dengan para politisi itu. Kalau ini yang terjadi maka terciptalah mimbar akademis yang sehat. Mahasiswa tidak anti politik, mereka perlu tahu politik, toh ini negara milik mereka juga.

Dipublikasi di Indonesiaku, Seputar ITB | 12 Komentar

Lembaga Survey Menjadi Alat Propaganda?

Pemilu 2014 telah menjatuhkan kredibilitas lembaga-lembaga survey. Prediksi mereka sebagian besar salah dan memang sering salah dalam berbagai Pemilu dan Pilkada. Partai yang diklaim mendapat suara kecil dan tidak lolos ambang parlemen (umumnya partai-partai berbasis Islam seperti PKB, PAN, PPP, dan PKS) ternyata mendapat suara signifikan, kecuali untuk PKS yang mengalami penurunan sedikit. Partai yang diprediksi menang tebal (PDIP) dan dominan ternyata tidak terbukti. Efek Jokowi yang digembar-gemborkan oleh lembaga-lemabga survey tersebut ternyata hanya pepesan kosong. Demokrat tidak jatuh-jatuh amat, Gerinda melesat dua kali lipat, dan Golkar tetap stagnan. Hasil-hasil ini sangat jauh berbeda dari prediksi lembaga-lembaga survey yang digaungkan sejakk jauh hari hingga memasuki masa tenang.

Lembaga survey boleh saja berkilah bahwa ada sekian puluh persen responden yang belum menentukan pilihan partai, karena itu hasilnya boleh saja meleset. Namun dengan gembar-gembor margin eror 1% hingga 1,5% (sehingga dikesankan hasil surveynya sangat akurat) mengapa deviasinya begitu jomplang?

Saya menangkap kesan banyak lembaga survey tersebut yang tidak netral dalam melakukan survey. Menurut saya survey yang mereka lakukan adalah pesanan partai atau lembaga tertentu dan karena itu hasilnya cenderung bias. Coba periksa, apakah ada lembaga survey yang menyebutkan sumber pendanaannya? Pasti tidak mau, bukan? Melakukan survey itu biayanya mahal, tidak mungkin lembaga survey itu mendanai sendiri surveynya, mereka pasti ingin mencari duit juga. Sumber penghidupan mereka adalah dari si pemberi dana. Maka, sumber dana dari partai atau kelompok tertentu adalah sebuah keniscayaan, dan hasil surveynya tentu seharusnya “memuaskan” pemberi dana tadi. Ah, nggak tahulah, apakah hasil survey tersebut dimanipulasi oleh lembaga-lembaga tadi untuk menampilkan hasil yang diinginkan oleh sumber dana.

Saya juga mempertanyakan metodologi yang mereka gunakan dalam melakukan survey. Mosok untuk 250 juta lebih penduduk Indonesia hanya diambil sampel 1000 hingga 3000 orang saja? Dalam teori statistik saya pelajari jika ukuran sampelnya sangat sedikit dibandingkan dengan ukuran populasi maka eror estimasinya akan sangat besar.

Dalam Pemilu tahun 2014 ini lembaga-lembaga survey telah berperan sebagai alat untuk menggiring opini publik ke partai tertentu. Tokoh atau partai tertentu diagung-agungkan, sementara partai-partai lain dipojokkan. Lembaga-lembaga survey berkali-kali memprediksi Pemilu 2014 adalah kuburan bagi partai-partai Islam. Dengan dukungan media yang menjadi corongnya, partai-partai Islam itu diprediksi akan tamat riwayatnya. Lihatlah hasil survey yang diberitakan di dalam media ini: Survei: Partai Islam Tak Diminati Pemilih Pemula, atau berita ini: Pemilih Partai Islam ‘Mengungsi’ ke PDI Perjuangan. Dengan memaparkan hasil-hasil survey tersebut mereka menggiring opini publik untuk menjauhi partai-partai Islam dan mengarahkan ke partai tertentu.

Pertanyaannya, kenapa justru partai-partai islam yang dizalimi? Entah skenario apa yang diinginkan oleh lembaga-lembaga atau orang dibalik lembaga tersebut. Saya menduga lembaga-lembaga survey tersebut telah menjadi alat propaganda politik. Mereka tidak lagi berdiri di atas obyektivitas ilmu, tetapi mereka telah menyalaghunakan ilmunya untuk kepentingan yang tidak berdasar.

Kesalahan kita adalah mempercayai hasil-hasil lembaga survey tersebut. Pesan moralnya janganlah mempercayai hasil-hasil lembaga survey. Lembaga-lembaga survey telah gagal menangkap realita yang terdapat di dalam masyarakat Indonesia.

Dipublikasi di Indonesiaku | 6 Komentar

Hasil Pileg 2014 yang Membuat Terkejut

Pemilu legislatif (Pileg) 2014 sudah selesai digelar. Hasil-hasilnya sudah kita ketahui bersama dari media massa, meskipun baru berupa hasil hitung cepat (quick count). Berdasarkan pengalaman, hasil hitung riil nanti tidak jauh berbeda dengan hasil hitung cepat.

Saya memantau hasil hitung cepat Pileg di televisi sejak siang. Pergerakan angkanya sangat lambat. Untuk membunuh waktu, sesekali saya berkeliling ke beberapa TPS di dekat rumah untuk melihat proses perhitungan suara. Saya amati sekilas raihan suara Gerindra dan PDIP kejar-kejaran, sementara Golkar agak tertinggal. Saya menduga kalau bukan PDIP maka Gerindara yang menang.

Namun dugaan saya meleset. Seusai waktu maghrib baru terlihat pergerakan suara yang signifikan. Hingga jam delapan malam barulah dapat dipastikan raihan suara partai-partai yang berlaga meskipun baru versi hitung cepat. Ternyata hasil Pileg 2014 memberikan banyak kejutan yang tidak diduga oleh para pengamat dan analisis politik sekalipun. Sungguh! Inilah beberapa kejutan yang berhasil saya rangkum.

Hasil quick count beberapa lembaga survey

Hasil quick count beberapa lembaga survey

Kejutan pertama: PDIP ternyata tidak menang tebal seperti sesumbar Pak Jok(owi). Raihan suara PDIP hanya sekitar 19%, tidak sampai 27% sesuai target partai mocong putih ini. Beberapa pengamat politik dan Projo (kelompok Pro Jokowi) malah memprediksi pencapresan Pak Jok dapat membuat suara PDIP melambung hingga 35%. Kenyataanya? Jokowi effect hanya ilusi, sama sekali tidak terbukti. Sebelum pencapresan Pak Jok, suara PDIP diprediksi sekitar 18 hingga 19%, namun setelah pencapresab Pak Jok suara PDIP tetap 19%, artinya pencapresan Pak Jok tidak membawa pengaruh yang berarti bagi raihan suara PDIP.

Kejutan kedua: Tidak ada partai yang meraih suara dominan. Suara tersebar merata di semua partai, kecuali PBB dan PKPI. Karena tidak ada partai yang meraih 25% suara atau 20% kursi di DPR, maka tidak ada satupun partai yang mempunyai boarding pass capres. Mereka harus berkoalisi agar dapat mengajukan capres dan cawapres.

Kejutan ketiga: Partai-partai Islam yang dirediksi oleh lembaga-lembaga survey akan tamat riwayatnya ternyata memperoleh raihan suara signifikan. Hasil pemilu 2014 membalikkan prediksi lembaga-lembaga survey yang sering mengkerdilkan partai-partai Islam. PKB, PAN, dan PPP mengalami kenaikan suara dibandingkan hasil pemilu 2009, hanya PKS yang mengalami sedikit penurunan. PKB naik dua kali lipat, PAN juga naik tiga persen, dan PPP dua persen. Bahkan, PBB yang diprediksi memperoleh 0,9 persen ternyata masih mendapat 1,6 persen. Total raihan suara partai-partai Islam sekitar 32%, naik dari 26% pada pemilu 2009.

Kejutan keempat: PKS yang diprediksi oleh lembaga-lembaga survey akan turun drastis suaranya karena kasus LHI dan diprediksi tidak lolos ambang batas parlemen ternyata tetap bertahan. Raihan suara PKS sekitar 6,9%, turun sedikit dibandingkan Pemilu 2009 yaitu sekitar 7,8%. Pemberitaan yang masif dan bertubi-tubi tentang kasus korupsi yang melanda LHI ternyata tidak menbuat kader-kadernya lari, terbukti mereka tetap setia. Harapan media tertentu dan kekuatan liberal untuk “memberangus” partai ini ternyata gagal.

Kejutan kelima: Partai Demokrat yang diprediksi akan gembos ternyata tidak gembos-gembos amat. Pada Pemilu 2009 raihan suara Demokrat adalah 20 persen lebih, tetapi pada Pemilu 2014 mereka masih mendapat 10%, masih lebih bagus daripada prediksi pengamat yang mengatakan raihan suara Demokrat akan hancur total karena kasus korupsi.

Kejutan-kejutan pada Pemilu 2014 memberikan pesan moral kepada kita. Rakyatlah yang berdaulat, rakyatlah yang lebih tahu pilihannya sendiri. Mereka tidak terlalu terpengaruh bombardir berita-berita media yang menggiring opini ke orang atau partai tertentu. Kekuatan media, pemilik modal, dan lembaga-lembaga survey yang melacurkan ilmunya untuk kepentingan kelompok tertentu tidak dapat mengelabui mata hati rakyat.

Dipublikasi di Indonesiaku | 5 Komentar

Pahlawan yang Tidak Masuk TV (“Unsung Hero”)

Video iklan dari negara Thai membuat saya terkagum-kagum. Iklan beberapa produk di sana dibuat dengan cermat, serius, dan tidak asal-asalan. Hasilnya adalah karya seni yang menimbulkan empati, menyentuh, dan menggetarkan mata batin. Ini berbeda dengan iklan di negara kita yang terkadang dibuat asal-asalan. Saya pernah menulis salah satu iklan produk Thai yang membuat mata saya basah (baca ini: Iklan 3 Menit yang Mengharukan).

Kali ini ada iklan asuransi yang juga sangat menyentuh, judulnya Unsung Hero. Iklan ini baru diluncurkan pada tanggal 3 april 2014 yang lalu. Iklan ini menggambarkan tentang seorang pemuda yang pemurah dan senang menolong orang setiap hari, bahkan kepada hewan dan tumbuhan sekalipun. Dia tidak malu membantu ibu tua yang terseok-seok mendorong gerobak dagangan. Dia rela memberikan sedekah uang kepada anak pengemis dari dompetnya yang hanya berisi sedikit uang. Bahkan kepada hewan pun dia berbagi makanan. Hal itu dilakukannya dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Klik video iklannya di Youtube di bawah ini.

Dia adalah pahlawan tak dikenal, tidak akan pernah muncul di TV, tidak akan dikenal namanya. Dia tidak akan menjadi lebih kaya tetapi dia memperoleh apa yang tidak bisa diberikan oleh uang, yaitu cinta dari orang-orang atau makhluk yang ditolongnya. Pahlawan tak dikenal seperti itu ada di sekeliling kita.

Dipublikasi di Renunganku | 2 Komentar

Pilih Caleg atau Parpol?

Besok, Rabu 9 April 2014, adalah hari pemungutan suara pemilihan umum legislatif (Pileg). Seluruh rakyat Indonesia yang memiliki hak pilih akan berbondong-bondong menuju tempat pemungutan suara (TPS). Pesta demokrasi lima tahun sekali ini akan menjadi Pemilu yang paling ramai diperbincangkan banyak orang. Era media sosial (social media) memiliki kontribusi besar membuat banyak orang, khususnya kalangan muda yang sering dinilai apatis politik, untuk ikut-ikutan berpendapat atau sekadar bersuara tentang Pemilu 2014.

Pada Pemilu 2014 ini kita kembali mencoblos menggunakan paku, tidak lagi mencontreng (V) seperti pada Pemilu 2009 yang lalu. Entah apa alasannya, mungkin karena orang Indonesia sudah terbiasa melakukan Pemilu dengan cara melubangi tanda gambar, jadi ketika disuruh mencontreng banyak persoalan yang muncul.

Sedikit OOT, orang-orang tua di kampung saya di Padang, serta di daerah Sumatera Barat lain umumnya, zaman dulu (entah masih sampai sekarang) tidak menggunakan istilah “mencoblos” atau “nyoblos” partai pada Pemilu. Mereka menyebutnya mancucuak. Jadi, “pergi mencoblos” bagi orang Minang disebut pai mancucuak.

A: “Pai kama, uda, uni?” (pergi ke mana mas, mbak?)
B: “Pai mancucuak“. (pergi menyoblos)

Kata mancucuak dalam bahasa Indonesia yang pas adalah “menusuk”. Jadi, pai mancucuak artinya “pergi menusuk”, karena di bilik suara itu kita menusuk tanda gambar dengan paku.

Pada Pileg 2014 ini ada himbauan yang menyarankan orang untuk lebih mengutamakan memilih caleg daripada parpolnya. Artinya, referensi memilih adalah dengan melihat integritas calegnya, sementara pertimbangan parpolnya adalah nomor dua. Caleg yang kita kenal jauh lebih mudah untuk memilihnya daripada orang yang sama sekali tidak kita kenal. Kualitas parlemen kita lebih ditentukan oleh kualitas calegnya. Namun, sebagian besar dari kita tidak mengenal caleg-caleg itu. Kalau sudah begitu tidak usah khawatir, di bawah ini ada solusinya.

Berkaca pada banyak kasus anggota parlemen hasil pemilu sebelumnya yang bobrok moral dan etikanya (tersangkut skandal korupsi dan perilaku asusila), maka pada Pemilu 2014 ini orang-orang yang lebih berpendidikan lebih aware tentang caleg yang akan dipilih. Banyak situs-situs di Internet yang menyediakan panduan memilih caleg, misalnya situs Koalisi Bersih 2014 yang menyediakan informasi caleg yang “bersih”. Jika anda tidak ingin memilih lagi anggota legislatif hasil Pemilu sebelumnya, maka situs Jari Ungu dapat digunakan sebagai panduan. Situs Masyarakat Indonesia Pendukung Pemberantasan Korupsi juga dapat ditengok untuk melihat hasil sortiran dari 6000 caleg yang mendukung pemberantasan korupsi.

Nah, sudah banyak referensi di internet yang dapat digunakan untuk mencoblos caleg besok. Jangan sia-siakan hak satu suara dari kita, karena satu suara sangat berharga untuk masa depan bangsa.

Dipublikasi di Indonesiaku | 2 Komentar

Jam Dinding Kenangan

Sewaktu memperbaiki jam tangan di sebuah toko jam di Jalan ABC Bandung, mata saya tertumbuk pada sebuah jam dinding yang dijual di toko itu. Jam dinding bermerek SE*KO itu sudah lama saya cari, karena saya memang ingin memilikinya. Jam dinding itu membawa saya kenangan pada jam dinding di rumah almarhum ibunda di Padang. Setiap saya pulang ke Padang, jam dinding itulah yang mengingatkan saya pada almarhum kedua orangtua saya.

Jam dinding yang saya ceritakan ini mempunyai nada melodi sebagai tanda waktu. Melodi itu berbunyi setiap 15 menit sekali dengan panjang yang terus meningkat. Ketika jarum panjang tepat pada angka 3, ia berbunyi seperempat melodi. Ketika jarum panjang tepat pada angkat 6, jam berbunyi setengah melodi. Seterusnya ketika jarum panjang tepat pada angka 9, ia berbunyi 3/4 melodi, dan akhirnya ketika jarum panjang tepat pada angka 12 ia mengeluarkan melodi satu putaran penuh dan diakhiri dengan bunyi lonceng sebanyak angka yang ditunjuk jarum pendek. Jadi ketika jam menunjukkan angka 9 tepat, lonceng akan berdentang sebanyak sembilan kali, persis seperti dentang lonceng jam menara atau jam tegak seukuran lemari. Kata penjual jam di toko, jam dinding SE*KO yang saya minati itu memang versi dinding dari jam lemari. Bunyi melodinnya ada dua macam, yaitu Webminster dan Wettington.

Jam dinding SE*KO yang baru saya beli

Jam dinding SE*KO yang baru saya beli

Kata alamarhum ibu saya, jam merek SE*KO itu dibelinya di sebuah toko jam di Padang. Tahunnya tidak ingat lagi, tetapi kalau tidak salah selepas pulang dari Haji (tahun 1990-an kalau begitu). Harganya cukup mahal, sekitar ratusan ribu. Harga yang mahal itu sebanding dengan kualitasnya yang bagus. Jam merek SE*Ko memang merek jam yang terpercaya, hingga sekarang jam dinding tersebut masih berfungsi dengan baik, tidak pernah lambat, dan angka waktunya selalu tepat.

Ibuku menjadikan bunyi jam itu sebagai referensi waktu sholat. Misalnya kalau sudah berdentang 12 kali maka itu tandanya waktu sholat Dhuhur sebentar lagi akan masuk. Ibu sudah siap-siap berwudhu ke kamar mandi, lalu menggunakan telekung (mukena) dan berjalan menuju masjid yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah. Ibuku selalu sholat berjamaah di masjid, demikian pula ayahku.

Setiap kali ke Padang dan duduk melamun di rumah yang sudah sepi, maka suara melodi dan dentang jam dinding selalu membuat saya teringat dengan almarhum ibu.

Kini di Bandung saya sudah memiliki jam dinding yang sama. Suara melodi dan dentangnya akan selalu mengingatkan saya kenangan kepada ayah bunda yang sudah berada di alam sana. Semoga Alalh SWT melapangkan kuburnya, menghapuskan segala dosa-dosanya, dan memasukkan mereka ke syurga. Amiin ya rabbal ‘alamiin.

Dipublikasi di Renunganku | 5 Komentar