Apa yang Bisa Dibaca dari Reshuffle Kabinet?

Jokowi melakukan reshuffle kabinetnya kemarin siang. Nama-nama  menteri baru  menggeser menteri lama, beberapa orang berganti posisi, sedangkan beberapa orang lagi tidak tersentuh. Meskipun pergantian menteri adalah hak perogeratif Presiden, namun reshuffle ini menyisakan banyak pertanyaan yang tak terjawab. Di bawah ini adalah opini penulis semata, boleh setuju boleh tidak ya.

1. Pergantian Anies Baswedan
Banyak masyarakat yang kaget dengan penggantian Anies Baswedan menjadi Mendikbud. Setahu saya Pak Anies ini orang yang baik, perhatiannya terhadap dunia pendidikan jangan ditanya lagi. Program Indonesia Mengajar adalah salah satu idenya yang mendapat banyak dukungan dan simpati dari masyarakat. Selama menjadi menteri memang tidak ada kebijakannya yang radikal, namun banyak kebijakannya mendapat sambutan yang baik. Misalnya, meningkatkan integritas sekolah atau kejujuran dalam Ujian Nasional (UN), pelarangan kegiatan perpeloncoan dalam kegiatan MOS (Masa Orientasi Sekolah), penghapusan bullying, dan terakhir himbauannya kepada orangtua untuk mengantar anak ke sekolah pada hari pertama tahun ajaran baru.

Anies menjadi Menteri mungkin sebagai bentuk “balas budi” dari Jokowi karena telah menjadi relawan pendukungnya selama Pilpres. Namun, popularitas Anies Baswedan yang banyak mendapat simpati mungkin dapat mengancam popularitas Jokowi yang ingin menjadi Presiden pada periode kedua. Jadi, daripada memelihara anak macan yang dapat menjadi harimau ketika besar, maka lebih baik Jokowi menyingkirkannya sekarang.

2. Semakin kuat dukungan Jokowi kepada Ahok
Pergantian sejumlah menteri menyiratkan Jokowi melindungi Ahok. Menko Kemaritiman, Rizal Ramli, yang saat ini “berseteru”dengan Ahok terkait dengan proyek reklamasi, akhirnya harus tersingkir. Ini berarti proyek reklamasi tidak akan mendapat hambatan lagi karena Menteri yang menentangnya telah ditendang. Dia digantikan oleh Luhut Panjaitan, dan kita semua tahu Luhut adalah teman dekat Jokowi yang selama ini dilihat oleh masyarakat mempunyai peran lebih tinggi dari Presiden.

Perkataan Ahok bahwa Jokowi bisa menjadi Presiden karena didukung pengembang menunjukkan arah kebenaran ketika Menteri Perdagangan yang baru adalah Enggartyasto Lukita, yang dikenal dulunya sebagai pengusaha porperti. Reklamasi Teluk Jakarta yang ditentang banyak pihak karena dianggap lebih menguntungkan para taipan pengusaha properti dan akan menjadi pulau tempat tinggal orang-orang kaya menunggu buktinya nanti.

3. Pelanggar HAM, dulu dihujat sekarang diangkat
Ketika Pilpres 2014, Capres Prabowo sering dibuli oleh pendukung Jokowi maupun oleh media arus utama karena masa lalunya yang kelam terkait pelanggaran HAM. Salah satu penyebab kekalahannya saat Pilpres adalah gencarnya isu pelanggaran HAM yang dihembuskan para pendukung lawannya. Namun sekarang, Jokowi malah mengangkat Wiranto sebagai Menko Polhukam, padahal Pak Wiranto juga punya masa lalu yang kelabu dalam pelanggaran HAM. Isu pelanggaran HAM ini sempat menjadi bahan untuk menjegal pencapresannya pada Pilpres 2009. Namun sekarang para pembuli itu (termasuk media dan aktivis yang dulu garang terhadap Wiranto dan Prabowo) terlihat diam tak bersuara ketika Wiranto diangkat menjadi Menteri yang berkaitan dengan HAM. Jadi, benarlah adagium yang mengatakan “jika dia di kubu lawan, maka apapun yang dia katakan adalah salah, tetapi jika dia di kubu kami maka apapun yang dikatakannya selalu benar”.

4. Menteri yang tak tersentuh
Menko Kesra Puan Maharani nyaris tidak punya prestasi. Dia kalah pamor dengan menteri di bawah koordinasinya sendiri, yaitu Anies Baswedan. Namun yang menjadi “korban” reshuffle justru orang baik seperti Anies Baswedan. Puan tidak tersentuh mungkin karena dia adalah puteri Sang Ratu. Sebagai petugas partai, tidak mungkinlah Jokowi berani macam-macam kepada Ibunda Ratu.

Untuk menteri-menteri lain yang diganti memang sudah seharusnya, misalnya Menpan Yuddy Chrisnandi yang  tidak bisa menjaga konsistensi dengan peraturan yang dibuatnya sendiri. Sedangkan  Menhub  Ignatius Jonan  mungkin dianggap mbalelo karena tidak setuju dengan proyek kereta api cepat yang diusulkan Jokowi. Menteri yang lainnya entahlah, saya tidak tahu banyak.

Nah itulah analisis saya terhadap reshuffle kemarin. Bisa jadi benar bisa jadi salah, namanya saja opini pribadi.

Dipublikasi di Indonesiaku | 3 Komentar

Pokemon Tidak Perlu Dilarang

Permainan online berbasis augmented reality dan teknologi GPS yang lagi heboh saat ini adalah Pokemon. Di dalam permainan yang menggunakan gawai ini, pengguna berburu monster lucu  di berbagai tempat. Semakin banyak dan semakin langka monster yang ditangkap, semakin mengasyikkan dan membuat penasaran hingga ketagihan.Di bawah ini gambar permainan Pokemon (Sumber gambar dari sini).

pokemon-go-nick_statt-screenshots-2.0

Layar permainan Pokemon.

pokemon-go-nick_statt-screenshots-1.0

Monster dari permainan Pokemon ini berbasis augmented reality, dia muncul dengan latar belakang berupa gambar dunia nyata yang ditangkap oleh kamera perangkat gawai.

Positifnya,  pemain Pokemon perlu banyak berjalan kaki sampai berkilo-kilo meter untuk berburu monster di tempat-tempat yang dianggap banyak monster bersembunyi, sehingga membuat tubuh sehat. Negatifnya, karena mata selalu tertuju pada layar gawai sambil berjalan kaki, si pengguna mungkin tidak awas sehingga bisa jatuh, tertabrak, atau menabrak orang lain. Bahkan ada orang yang tidak peduli adab sampai berburu Pokemon ke dalam masjid, tidak sadar mereka memakai celana pendek. Masuk masjid kok tidak punya tata krama begini.

Cari-Monster-Pokemon-Dua-Pria-Bercelana-Pendek-Menyelonong-ke-Masjid-Cheng-Hoo-Pandaan-Pasuruan-by-Tafdil-31wdr6qacv5x91smqv5r7k

Nyelonong ke dalam masjid mencari Pokemon, tidak sadar menggunakan celana pendek. Sumber gambar: hidayatullah.com

Sebegitu hebohnya permainan ini, lembaga Pemerintah dan lembaga layanan masyarakat sampai perlu mengeluarkan edaran larangan bermain Pokemon di instansinya, seperti edaran yang dikeluarkan oleh Menpanlarangan dari kepolisian, dan larangan yang diekluarkan banyak Pemda. Bahkan para ulama NU pun mulai membahas hukum bermain Pokemon hingga mengeluarkan hukum makruh sampai haram.  Ada juga yang khawatir kalau pembuat Pokemon punya agenda terselubung untuk mengumpulkan data dari GPS untuk tujuan intelijen sehingga membahayakan negara. Kalau alasannya demikian, kenapa hanya Pokemon yang dipermasalahkan? Banyak juga kan aplikasi online lain yang menggunakan GPS seperti Gojek, Grab Taxi, Waze, Instagram, Twitter, Facebook, dan lain-lain tetapi kok tidak dilarang? (baca tulisan rekan saya ini yang meninjau dari sisi keamanan: Keamanan Aplikasi Pokemon Go).

Ya, ya, Pokemon telah membuat banyak orang sibuk sampai membuat larangan segala. Saya punya pendapat  agak berbeda. Pokemon tidak perlu dilarang, karena dia tidak menakutkan seperti yang kita kira. Ini permainan yang sifatnya trend sesaat saja, sedang mode saja, lama-lama juga nanti orang akan bosan sendiri. Sifat dasar manusia adalah selalu tertarik mencoba sesuatu yang baru atau sensasi baru, setelah lama dipakai akhirnya jenuh, ternyata ya cuma begitu-begitu saja. Akhirnya hilang sendiri deh itu permainan, digusur permainan baru yang muncul selanjutnya. Ingat dulu pernah heboh permainan angry birds, tomagochi, dll, yang sudah tidak terdengar lagi  beritanya. Sebagian pengguna fanatik mungkin akan bertahan, tetapi sebagian besar pengguna hanya coba-coba saja untuk memenuhi rasa ingin tahu.

Jadi, ya begitulah, tidak perlu lebay. Jangan sampai energi ini dihabiskan untuk membahas hal-hal yang kurang esensial begini.

Dipublikasi di Gado-gado, Indonesiaku | 4 Komentar

Telepon Rumah (Tidak) Akan Tinggal Kenangan?

Di rumah saya masih terpasang telepon rumah. Telepon rumah ini jarang sekali digunakan dan jarang sekali berdering, jadi boleh dibilang lebih sering menganggur. Paling-paling telepon rumah digunakan untuk mencari keberadaan ponsel yang  lupa ditaruh di mana. Selain itu untuk menelpon toko air mineral dan toko gas minta diantarkan air galon dan gas jika keduanya sudah habis di rumah.  Hampir tidak pernah lagi saya menggunakan telepon rumah untuk menghubungi teman, saudara, dan orang lainnya, seperti halnya dua puluh tahun yang lalu.

telepon-rumah

Telepon rumah yang kesepian

Sejak telepon genggam (ponsel) sudah menjadi alat komunikasi yang lumrah dan biasa, telepon rumah semakin menjadi tidak penting lagi keberadaannya. Sudah ada ponsel yang lebih praktis dan mobile daripada telepon rumah, maka orang-orang tidak menganggap telepon rumah menjadi  kebutuhan penting.

Telepon rumah adalah satu-satunya saluran telepon fixed line yang dikelola oleh PT Telkom. Dulu ketika memiliki ponsel belum selumrah sekarang, untuk mendapatkan sambungan telepon rumah dari PT Telkom butuh waktu yang cukup lama. Jika di sekitar rumah kita belum ada tiang dan kabel telepon, maka perlu bersabar untuk mendapat sambungan baru. Dulu rumah yang memiliki telpon rumah memiliki nilai tambah tersendiri, sebab ketika rumah dijual dan ada sambungan telepon rumah maka harganya berbeda jika rumah tersebut tidak punya sambungan telepon.

Karena sudah sangat jarang digunakan, sebagian orang mencabut telepon rumah dari kabelnya. Maksudnya telepon rumah tidak dipasang lagi di atas meja, tinggal kabelnya yang menggantung. Lucunya, meski telepon rumah sudah tidak dipasang, namun mereka tidak mau memutus sambungannya dari PT Telkom. Mungkin merasa sayang saja jika diputus karena dulu untuk mendapatkannya perlu kesabaran tersendiri. Meski tidak dipasang lagi, tapi mereka tetap membayar abonemen bulanan  ke PT Telkom. Bagi PT Telkom sendiri telpon rumah yang menganggur mungkin sebuah kerugian, sebab mereka tidak banyak mendapat pemasukan dari fixed line, namun perawatan fixed line tetap saja harus dilakukan.

Saya sendiri tidak berniat untuk memutus sambungan telepon rumah. Biar saja terpajang di atas meja. Ia masih berfungsi dengan baik. Meskipun jarang digunakan, setidaknya telepon rumah masih berguna untuk menelpon call center bank, menelpon kantor layanan umum, menelpon pembantu dari kantor ke rumah, memesan gas dan air galon yang habis, dan ya itu…mencari keberadaan ponsel yang nyelip entah di mana.:-). Menurut cerita teman, beberapa bank BUMN dan bank asing  menjadikan nomor telepon rumah sebagai syarat untuk membuka rekening, entah benar entah tidak.

Bagi saya telepon rumah punya kelebihan tersendiri, yaitu sifatnya yang lebih ‘hangat’ dibandingkan ponsel. Ponsel bersifat pribadi,  jika ia berdering dengan nada dering yang disetel oleh pemiliknya, maka hanya pemiliknya yang mengangkat. Beda dengan telepon rumah, jika ia berdering di dalam rumah, maka seisi rumah tahu. Jika seorang anggota rumah mengangkatnya dan ternyata telpon itu untuk anggota keluarga lainnya, maka dia akan memanggil anggota rumah yang dituju. Jadi, keberadaan telpon rumah dapat mempererat jalinan anggota keluarga. Sepele, tapi itulah yang saya alami sendiri.

Dipublikasi di Gado-gado, Pengalamanku | 1 Komentar

Bandara yang Ramah Colokan Listrik

Ketika menunggu boarding pesawat di Bandara Sam Ratulangi, Manado, mata saya tertumbuk pada deretan bangku dengan colokan listrik terpasang pada setiap tempat duduknya (lihat foto di bawah ini).

samrat

Colokan listrik pada setiap kursi di dalam ruang tunggu keberangkatan di Bandara Sam Ratulangi, Manado

Keberadaan colokan listrik di ruang tunggu ini sangat berarti bagi calon penumpang. Calon penumpang tidak perlu repot lagi mencari colokan kabel listrik di dinding, di pojok, bahkan sampai rebutan atau antri dengan orang lain yhang duluan dapat colokan listrik. Sambil duduk tenang menunggu boarding, calon penumpang bisa pakai ponsel/laptop sambil men-cas ponsel, laptop, power bank, dll sampai penuh di tempat duduknya masing-masing.

samrat2

Ruang tunggu keberangkatan di Bandara Sama Ratulangi. Setiap calon penumpang asyik dengan gawainya. Gawai sangat bergantung pada energi listrik.

Di Bandara Soekarno-Hatta sendiri tidak ada fasilitas yang sama seperti ini. Memang di ruang tunggu keberangkatan ada disediakan kotak sebesar lemari kecil yang berisi beberapa colokan listrik paralel, namun kita harus berjalan ke sana meninggalkan tempat duduk, lalu menungguinya, atau ditinggal pergi sambil dilihat dari jauh. Yang repot adalah ketika kita membutuhkan ponsel saat sedang di-cas, maka mau tidak mau mau kita harus berdiri di dekat kotak colokan itu sambil menggunakan ponsel atau gawai yang sedang di-cas. Kurang nyaman saja rasanya.

Mobilitas orang-orang zaman sekarang tidak bisa dilepaskan dari perangkat gawai. Gawai membutuhkan pasokan energi listrik. Colokan yang ada di setiap tempat duduk itu sangat memudahkan pengguna bandara yang sangat bergantung pada energi listrik agar gawai tetap bisa menyala.

Saya memberikan salut buat kepada manager bandara yang mengerti sekali kebutuhan mobilitas orang-orang zaman sekarang ini. Memang belum semua bangku diberi colokan listrik seperti gambar di atas, tetapi sekali lagi ini sangat memudahkan. Mudah-mudahan di semua bandara lain juga diberikan fasilitas colokan listrik pada setiap bangku.

Dipublikasi di Gado-gado | 3 Komentar

Kudeta di Turki, yang Ribut di Indonesia

Kudeta yang gagal di Turki menarik perhatian masyarakat dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Kudeta yang umurnya cuma lima jam gagal mendapat dukungan dari militer dan partai oposisi. Kudeta yang terjadi pada tengah malam itu mengagetkan banyak orang di tanah air. Dengan cepat peristiwa kudeta itu menjadi perbincangan di media dan jejaring sosial dari pagi hari hingga hari ini.Bagi masyarakat Indonesia, Turki memiliki kedekatan emosional karena sama-sama negara dengan penduduk mayotitas beragama Islam, sehingga apa yang terjadi di Turki akan menjadi bahan pembicaraan di tanah air.

Masyarakat Indonesia ikut terpecah dengan peristiwa kudeta di Turki itu. Secara garis besar ada dua kelompok yang menanggapi. Kelompok pertama mengecam kudeta di Turki dan bersyukur kudeta tersebut akhirnya gagal. Kelompok ini merupakan kalangan masyarakat Indonesia yang bersimpati kepada Turki maupun Erdogan. Mereka menganggap Pemerintahan Erdogan sebagai role model politik Islam yang  berhasil mendobrak prinsip-prinsip sekularisme yang selama ini menjauhkan Turki dari kultur Islam yang dianut oleh 99 persen penduduknya.

Sebaliknya, ada pula kelompok masyarakat Indonesia yang kecewa kudeta tersebut gagal. Mereka sebenarnya menginginkan kudeta itu berhasil seperti halnya yang terjadi di Mesir, sebab hanya kudetalah yang dapat mendepak perpolitikan Islam dari Turki. Mereka tidak senang dengan gaya Pemerintahan Erdogan, termasuk antipati terhadap partainya Erdogan, AKP. Mereka  khawatir kebangkitan politik Islam di Turki akan menyebar pengaruhnya di Indonesia. Erdogan digambarkan sebagai pemimpin otoriter sehingga tidak masalah dia diturunkan dengan cara apapun, termasuk kudeta militer sekalipun. Saya menilai kelompok kedua ini kontradiktif, sebab di satu sisi mereka pentolan pendukung demokrasi, namun di sisi lain mereka mendukung aksi yang tidak demokratis seperti kudeta terhadap pemerintahan yang dihasilkan dari Pemilu yang sah.

Secara sederhana kelompok yang mensyukuri kudeta gagal adalah kelompok islamis, atau  mereka yang bersimpati dengan Erdogan, sedangkan kelompok yang kecewa dengan kegagalan kudeta adalah kelompok pengusung Islam liberal, sekuler, termasuk juga Syiah. Kenapa saya sertakan pendukung Syiah masuk ke dalam kelompok ini, karena Turki selama ini memusuhi Iran, sedangkan Iran adalah  panutan kaum Syiah di tanah air. Penganut Syiah di tanah air tidak menyukai ormas keagamaan maupun partai Islam yang selama ini selalu menghadang gerakan Syiah, padahal ormas keagamaan dan partai Islam itu memiliki ikatan batin dengan Turki yang mayoritas penduduknya bermadzhab Sunni.

Dua kelompok di atas perang opini dan perang komentar di media dan jejaring sosial. Itu dapat dilihat pada posting-an di Facebook, Twitter, dan lainnya.  Bagi kelompok pertama, Erdogan semakin disanjung sebagai pemimpin yang dicintai oleh rakyat Turki, sebab rakyat Turki menolak kudeta itu, mereka menuruti perintah Erdogan untuk turun ke jalan-jalan sebagai aksi menolak kudeta. Sedangkan bagi kelompok kedua, mereka menuding bahwa kudeta itu adalah akal-akalan yang dibuat-buat oleh Erdogan untuk mengangkat pamornya.

Ada pula pihak yang mencoba mengaitkan kudeta di Turki ini dengan Jokowi. Tampaknya polarisasi kedua kelompok dalam menyikapi kudeta di Turki mirip dengan polarisasi ketika Pilpres tahun 2014. Kelompok yang kecewa dengan kegagalan kudeta di Turki kebetulan adalah pendukung Jokowi di Pilpres, sedangkan kelompok yang mensyukuri kegagalan kudeta di Turki kebetulan adalah penolak Jokowi. Mungkin faktor kebetulan saja atau memang efek perpecahan akibat Pilpres 2014 masih terasa sampai saat ini hingga masalah di Turki pun terbawa-bawa dalam perdebatan di tanah air. Saya heran, mengapa orang Indonesia sedemikian ributnya dengan apa yang terjadi di Turki.

Dipublikasi di Indonesiaku | 6 Komentar

Setelah PPDB 2016 Berlalu

Tanggal 18 Juli 2016 adalah awal tahun ajaran baru untuk tingkat SD, SMP, dan SMA. Sebagian besar anak-anak sudah mendapat sekolah yang diidamkannya masing-masing, sebagian lagi masuk di sekolah yang kurang diinginkannya, dan sebagian lagi gagal mendapat sekolah. PPDB (Pendaftaran Peserta Didik baru) sekolah negeri tahun 2016 di Kota Bandung sudah berakhir dengan sejumlah banyak catatan. Tentu ada yang bahagia, sebagian tentu ada yang merasa kecewa. Ada yang merasa diperlakukan kurang adil, tetapi sebagian lagi merasa PPDB ini sudah adil. Adil atau tidak adalah relatif bagi setiap orang, jika keinginannya tercapai maka dia akan senang hati menyebutnya sudah adil, tetapi jika keinginannya tidak tercapai maka dia (tidak semua begitu) mungkin menganggap proses PPDB ini tidak adil.

PPDB tahun 2016 telah menguras banyak energi dan perasaan orangtua, terutama bagi orangtua dengan nilai UN anaknya yang serba tanggung. Mau milih sekolah ini khawatir tidak diterima, mau milih sekolah yang itu khawatir banyak saingan. Passing grade benar-benar tidak dapat diprediksi sampai jam-jam terakhir pendaftaran. Pergerakan data  yang lambat dan sebaran nilai UN yang kurang rinci, membuat sport jantung banyak orangtua. Sistem PPDB online tidak benar-benar online, karena data yang tersaji tidaklah real time.

Masyarakat kota Bandung kebanyakan negeri-minded.  Bukan apa-apa, untuk tingkat SMP dan SMA kebanyakan sekolah yang bagus itu adalah sekolah negeri. Sekolah swasta hanya beberapa saja yang bagus dan itupun uang pangkal serta SPP-nya lumayan mahal, tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Lagipula, sekolah swasta yang bagus-bagus itu sudah tersegmentasi pasarnya berdasarkan etnis, agama, atau status sosial.

Hasil PPDB 2016 sudah diumumkan di situs PPDB Kota Bandung, namun data kelulusan PPDB ini hanya akan bertahan selama tiga bulan saja, setelah itu masyarakat tidak dapat melihatnya lagi. Untunglah ada beberapa blog merekap hasil PPDB sehingga dapat menjadi rujukan untuk tahun-tahun berikutnya, misalnya direkap oleh seorang volunteer di dalam blog bicarapassinggrade.wordpress.com.

Anak saya yang nomor dua masuk SMA tahun ini. Keinginannya untuk masuk SMA negeri  di Jalan Belitung ternyata belum berhasil. Kurang sedikit lagi passing grade-nya untuk bisa lolos pada SMA pilihan pertama di Jalan Belitung itu.  Andai Peraturan Walikota (Perwal) yang mengatur passing grade luar kota minimal sama dengan passing grade tahap dua (gabungan wilayah) dijalankan panitia, mungkin dia bisa lolos di SMA pilihan pertama. Namun Panitia PPDB tidak mematuhi amanah Perwal ini dengan alasan yang tidak jelas. Meskipun saya sudah menyampaikan komplain ini ke Disdik di Jalan Ahmad Yani, namun tidak ada tanggapan. Bahkan, jika amanah Perwal yang ini dijalankan dan kuota luar kota yang tidak terisi dilimpahkan kembali ke GW, maka passing grade akan bisa turun lagi sehingga banyak anak-anak yang  terlempar dari pilihan 1 dan 2 akan “tertolong” masuk lagi. Bukankah siswa dalam kota Bandung seharusnya lebih diutamakan dari pada siswa luar kota? Ya sudahlah, anak saya akhirnya bisa menerima dengan lapang dada masuk di SMA pilihan kedua. Meskipun ada rona kekecewaan, namun saya anggap mungkin sudah jalan hidupnya demikian. Dia memang tidak  lolos masuk SMA terbaik di kota Bandung, namun insya Allah SMA pilihan keduanya ini mungkin SMA yang terbaik baginya.

Harus saya akui, PPDB 2016 tetap  belum bisa menghilangkan kesan sekolah favorit dalam benak masyarakat, termasuk saya sendiri. Meskipun kebijakan walikota Bandung pada PPDB tahun ini bertujuan baik yaitu agar anak bersekolah di sekolah terdekat dengan rumahnya (sistem rayonisasi), namun bagi sebagian masyarakat memburu sekolah favorit tersebut tetap tidak bisa dihilangkan. Bagi saya pribadi, masuk ke sekolah favorit itu bukan soal gengsi, tetapi bersekolah di sekolah favorit itu agar dapat merasakan suasana kompetitif bagi sang anak. Anak-anak yang masuk di sekolah favorit itu memang sudah bibit unggul, jadi jika berada di tengah-tengah mereka dapat memotivasi anak lain untuk selalu mengejar ketertinggalan dan berusaha terus maju. Inilah yang saya maksud dengan suasana kompetitif yang berdampak positif bagi perkembangan akademik seorang anak. Bukankah di ITB tempat saya mengajar suasana kompetitif itu terbentuk karena mahasiswa yang masuk adalah mahasiswa pilihan yang berotak brilian. Input mahasiswa yang bagus jugalah yang membuat ITB bisa menjadi perguruan tinggi terdepan dalam bidang sains dan  teknologi. Suasana kompetitif semacam ini sulit ditemukan di sekolah atau perguruan tinggi yang biasa-biasa aja.

PPDB tahun 2016 yang membagi seleksi calon siswa menjadi kategori Dalam Wilayah (DW) dan Gabungan Wilayah (GW) (baca tulisan saya sebelumnya) menghasilkan beberapa kejutan yang tak terduga. Beberapa SMA favorit memperoleh siswa dengan nilai UN yang sangat rendah. Di sebuah SMA favorit yang selama bertahun-tahun passing grade-nya selalu tinggi (rata-rata nilai UN yang diterima di atas 370) nilai UN terkecil yang diterima adalah 166. Jika dirata-rata dengan empat pelajaran yang di-UN-kan, maka nilai rata-ratanya hanya 41,5. Saya berpikir positif saja, mungkin sudah rezekinya diterima di sekolah itu, maka kita tidak patut membuli anak yang bernilai UN rendah tersebut. Ada puluhan anak lain dengan nilai UN yang rendah-rendah berhasil lolos masuk SMA favorit tersebut, sangat jauh dengan nilai UN mayoritas anak lainnya yang tinggi-tinggi. Anak-anak tersebut bisa lolos masuk karena “diuntungkan” dengan keberadaan rumah yang berada di dalam rayon SMA favorit itu. Karena jumlah pendaftar dari dalam wilayah SMA tersebut sangat sedikit (maklum bukan wilayah pemukiman penduduk), sementara kuota yang tersedia besar, maka mereka otomatis diterima karena tidak ada saingan di dalam wilayahnya. Mereka pun tidak perlu bersaing dengan anak-anak dari luar rayon (GW)  dengan nilai UN yang lebih tinggi, yang berjuang dengan susah payah untuk masuk dan akhirnya sebagian besar terlempar.

Apakah hasil seperti ini yang dimaksudkan Pak Walikota dengan sistem “proteksi wilayah”, yaitu anak-anak yang berada di dalam wilayah SMA-nya lebih diutamakan daripada anak-anak yang tinggal jauh meskipun nilai UN-nya kecil. Ada kesan anak tidak perlu belajar terlalu rajin, toh nanti bisa masuk ke sekolah (favorit) karena dekat rumah, sementara anak-anak yang rajin dan pintar kalah karena faktor jarak. Jika sistem seperti ini diteruskan setiap tahun, maka bukan tidak mungkin kesan favorit SMA-SMA tersebut akan pudar karena mereka banyak menerima siswa dengan kemampuan pas-pasan akibat proteksi wilayah. Hal ini menjadi tantangan bagi para guru di sekolah tersebut, yang mungkin shock dengan kondisi ini, yaitu bagaimana membuat anak-anak yang mempunyai keterbatasan akademik itu menjadi orang-orang hebat di kemudian hari. Saya percaya pendidikan tidak hanya untuk memberdayakan otak kiri saja yang identik dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga memberdayakan otak kanan yang berhubungan kecerdasan emosional. Kalau anak-anak itu  tidak dapat dibentuk menjadi orang pintar, mudah-mudahan para guru dapat membentuknya menjadi orang yang sholeh.

Dipublikasi di Pendidikan, Seputar Bandung | 3 Komentar

Perlakuan Terhadap Guru, Dulu dan Sekarang

Lihat gambar di bawah ini,  apa yang terpikir olehmu? Mungkin seperti inilah kira-kira perlakuan orang zaman dahulu terhadap guru dan bedanya dengan zaman sekarang (Gambar diambil dari sini).

see-the-problem

Zaman dulu guru begitu dihormati. Orangtua dan anak menurut apa yang dikatakan guru. Jika guru menghukum muridnya (misalnya karena berbuat salah), orangtua tidak marah. Mereka menganggap memberi hukuman adalah salah satu bentuk pendidikan juga agar anak mengerti kesalahannya. Reward and punishment adalah metode dalam pendidikan: jika siswa benar maka pantas diberi hadiah (reward), jika salah maka diberi hukuman (punishment).  Reward bisa berupa nilai, pujian, ucapan selamat, dan sebagainya. Punishment bisa berupa tugas tambahan hingga hukuman fisik yang sifatnya bukan untuk mencelakai, tetapi sebagai peringatan supaya tidak mengulangi lagi. Bahkan, orangtua zaman dulu sering menambahi hukuman kepada anaknya di rumah. Gambar di sebelah kiri barangkali menceritakan kondisi seperti ini.

Tetapi kini zaman sudah berubah. Orangtua ikut intervensi dalam pendidikan anak. Sejauh intervensi itu berupa saran, kritik, tentu tidak masalah, sebab pendidikan adalah tugas bersama, baik guru, sekolah, orangtua, maupun masyarakat. Tetapi, masalahnya menjadi lain jika intervensi itu sampai mencampuri kewenangan guru dalam memberi pendidikan. Guru sudah mendidik dengan “benar” malah dianggap salah dan dipidanakan. Guru mencubit siswanya, orangtua melaporkan ke polisi. Guru  menghukum siswanya, orangtua datang dan menyerang guru anaknya. Misalnya baru-baru ini seorang guru SMP di Bantaeng, Sulawesi Selatan, harus mendekam di penjara karena mencubit siswanya yang berperilaku nakal (Baca: Cubit Siswi Anak Polisi, Guru Bantaeng Masuk Penjara). Gambar di sebelah kanan kira-kira menggambarkan kondisi seperti ini.

Terkait dengan hukuman fisik, kita yang pernah sekolah pada zaman tahun 60-an hingga  80-an menganggap hukuman fisik dari guru masih dalam batas kewajaran. Saya masih ingat guru saya zaman SD dulu, jika kami telat datang sholat berjamaah di mushola sekolah, maka kaki kami yang dilapisi kain sarung dipukul dengan rotan. Tidak keras, juga tidak lunak. Jika kami tidak mengerjakan PR atgau tidak bisa mengerjakan soal hitungan di papan tulis, maka siap-siap telapak tangan kami menerima pukulan rotan. Apakah orangtua kami marah mendengar hukuman itu? Tidak, malah mereka tertawa sambil menambahi dengan nasihat agar kami lebih rajin lagi belajar dan selalu patuh pada guru.

Tetapi sekarang, dengan berkembangnya isu HAM, hukuman fisik dari guru dianggap sebagai pelanggaran HAM. Menurut saya, sejauh hukuman fisik itu mengarah ke penganiayaan dan merendahkan martabat manusia, jelas itu lebay alias berlebihan. Guru juga tidak boleh mentang-mentang kepada muridnya. Ada guru yang menendang kepala dan badan muridnya dengan kaki. Ada guru yang menampar muridnya sangat keras sehingga ia sampai muntah-muntah, pusing, bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Ada guru yang mengeluarkan kata-kata kasar dan kata makian yang merendahkan harga diri murid. Nah, ini jelas guru lebay yang tidak mengerti mana hukuman yang bersifat mendidik dan mana hukuman yang mencelakakan lahir dan batin.

Di dalam ajaran Islam bagaimana adab kepada guru (dan orangtua) itu sudah diatur dengan baik di dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi. Misalnya jika anak sampai usia 10 tahun tidak mau sholat, maka orangtua (juga guru) boleh memukul kakinya. Pukulan itu bukan pukulan untuk mencelakakan, tetapi sebagai efek shock therapy agar dia tidak lalai di kemudian hari. Saya dan anda yang pernah merasakan hukuman seperti itu tentu ketika dewasa merasa berterimakasih, justru karena efek shock therapy  itulah maka saya dan anda tidak lalai dalam mengerjakan sholat hingga saat ini. Betul tidak?

(Tambahan: tentang gambar di atas, ada juga yang menafsirkan bahwa anak kecil pada gambar di sebelah kiri adalah sang ayah pada gambar sebelah kanan. Dendam masa kecil kepada guru? Entahlah. )

Dipublikasi di Pendidikan | 2 Komentar