Anak Kecil Penjual Serbet dan Keset

“Assalaamu’alaikum, Pak. Beli serbet dan kesetnya, Pak”

Seorang bocah dengan baju yang tampak kebesaran tiba-tiba muncul di depan pagar rumah. Dia, si Ujang dari Cicalengka, menjajakan serbet dan keset dari rumah ke rumah di Antapani. Serbet lima belas ribu dua, keset duapuluh ribu satu. Ibunya menunggu di sudut jalan, mengerahkan anak-anaknya berjualan dari pintu ke pintu.

Sayapun menemuinya. Saya tidak butuh-butuh amat sih, masih banyak serbet dan keset kaki di rumah. Namun, saya beli juga. Iba. Uang lima belas ribu dan dua serbet sederhana berpindah tangan. Tidak lupa satu camilan gorengan buat si Ujang.

Berikut dialog saya dengan si Ujang, tentu dalam Bahasa Sunda, Sunda minimalis . Maklum, meski saya sudah puluhan tahun di Bumi Parahyangan, namun bahasa Sunda saya masih saeutik-saeutik.

+ Umurnya berapa, Jang?
– Tujuh tahun, Pak
+ Sekolah kelas berapa?
– Kelas dua
+ Dari Cicalengka naik apa?
– Naik kereta
+ Berapa orang ke sini?
– Empat. Mama, Aa, adik, dan saya
+ Pulang ke Cicalengka lagi jam berapa?
– Nanti kalau udah habis

Apa yang dilakukan si Ujang dan mamanya masih lebih baik daripada mengemis. Sejak kecil ibunya sudah memperkenalkan beratnya perjuangan hidup. Sekarang sih dia belum mengerti. Kalau sudah besar baru dia paham betapa kerasnya kehidupan ini.

Mungkin ada orang yang berpikir, ah, itu  “strategi” orangtua untuk memanfaatkan anak-anaknya berjualan agar memancing rasa iba. Child abuse. Sama seperti kisah anak-anak penjual coet atau batu cobek (batu untuk menghaluskan bumbu) dari Padalarang. Entahlah, saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Saya beli saja, hitung-hitung niat sedekah.  Jika orangtua sampai mengerahkan anak-anaknya untuk membantu berjualan, itu berarti mereka memang orang sedang kesusahan.

Hati-hati di jalan ya, Jang. Dia pun pergi ke pintu yang lain. Menjajakan dagangan yang sama. Serbet dan keset.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 1 Komentar

Ubuntu, Saya Ada karena Kita Ada

Bagi anda yang menekuni bidang komputer, tentu pernah mendengar nama Ubuntu. Ubuntu adalah nama sistem operasi keluarga Linux. Lebih tepatnya, Ubuntu adalah sebuah sistem operasi distribusi Linux berbasis Debian yang gratis dan bersifat kode terbuka (open-source). Sistem operasi ini dirilis pada tahun 2004 dan dengan cepat menjadi populer karena mudah diinstalasi dan digunakan.

Logo Ubuntu

Tulisan saya ini tidak akan membahas spesifikasi Ubuntu, silakan baca informasinya yang banyak bertebaran di Internet. Saya akan menceritakan kisah yang sangat indah dari nama Ubuntu itu. Ternyata nama Ubuntu berasal dari filosofi di Afrika Selatan yang bemakna kemanusiaan kepada sesama. Ada motivasi di balik budaya Ubuntu di Afrika.

Begini ceritanya.

Seorang antropologs mengajukan sebuah permainan kepada anak-anak suku Afrika.

Dia menempatkan sekeranjang permen di bawah sebuah pohon, lalu meminta kepada anak-anak itu untuk berdiri 100 meter jauhnya dari keranjang. Dia mengumumkan bahwa siapa saja yang pertama kali mencapai keranjang, maka ia akan mendapatkan semua permen di dalamnya. Ketika dia mulai memberi aba-aba ‘Siaaapp…Go!’….

Tahukah anda apa yang dilakukan oleh anak-anak itu? Mereka saling bergandengan tangan, lari bersama-sama menuju keranjang di bawah pohon, membagi permen-permen itu sama banyak di antara mereka, memakan permen dan menikmatinya.

Ketika antropolog bertanya mengapa mereka melakukan hal itu. Mereka menjawab…”Ubuntu“,  yang mana berarti “bagaimana seseorang bisa bahagia ketika yang lainnya merasa sedih?”

Ubuntu dalam bahasa mereka berarti: “Saya ada karena kami ada” (I am because we are)

Ini adalah pesan yang sangat kuat  untuk semua generasi.

Marilah kita semua selalu memiliki perilaku ini dan menyebarkan kebahagiaan kemana saja kita pergi.

Marilah memiliki kehidupan “Ubuntu”…

SAYA ADA KARENA KITA ADA

(I AM BECAUSE WE ARE)

Kisah Ubuntu

Dipublikasi di Budi Pekerti, Renunganku | 3 Komentar

Ketika Taat Menjalankan Agama Malah Dilabeli Radikal

Sudah puluhan tahun saya hidup di tanah air tercinta, baru pada zaman pemerintahan sekarang, kira-kira 5 tahun ke belakanglah, saya merasa banyak hal menjadi terbalik-balik. Yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar. Banyak contohnya.

Memakai gamis, memakai jilbab panjang, menumbuhkan jenggot, atau memakai celana semata kaki (dikenal dengan nama celana cingkrang) akan dicap sebagai orang radikal, taliban,khilafah, HTI, fundamentalis, PKS, bahkan teroris. Dengan gampang saja label itu disematkan kepada mereka oleh kelompok pembenci. Waspada pada paham radikalisme boleh-boleh saja, tetapi menggeneralisasi semua orang yang mengikuti sunnah Rasul  adalah radikal merupakan sikap yang kebablasan.

Pada kasus revisi UU KPK misalnya, buzzer-buzzer pendukung Pemerintah melancarkan opini bahwa KPK adalah sarang kelompok radikal dan taliban. Tudingan itu dibuat karena di sana ada penyidik Novel Baswedan yang sekarang suka memakai celana cingkrang, juga karena setiap pekan ada pengajian buat karyawan yang muslim ( sementara kebaktian bagi karyawan kristiani tidak dipermasalahkan).

Fenomena lain yang membuat saya prihatin adalah seringnya ustad dihadang di bandara, pengajian dibubarkan oleh sekelompok orang atau ormas hanya karena ustad  yang akan mengisi pengajian dicap sebagai ustad radikal, khilafah, HTI, dan sebagainya. Dulu tidak pernah kejadian seperti ini. Ustad Felix Siaw adalah ustad yang paling sering dihadang dan pengajiannya dibubarkan, disamping ustad-ustad lain. Meskipun saya tidak kenal Felix Siaw, tidak selalu sepaham dengan Felix Siaw, tidak pernah mendengarkan ceramahnya, namun membubarkan pengajian atau menghadang ulama dalam kacamata saya adalah perbuatan yang tidak menghargai demokrasi. Tidak Pancasilais, anti Pancasila malah, sebab Pancasila menjunjung tinggi demokrasi, menghargai kebebasan berpendapat, dan menjamin setiap orang menjalankan agama dan kepercayaannya.

Parahnya, ormas yang membubarkan pengajian sama-sama ormas Islam juga. Lha, kok?  Aneh, bukan? Sama-sama mengucapkan syahadat, sama-sama mempunyai kitab Al-Quran, Nabinya sama, Tuhannya sama, tetapi kok sangat beringas kepada saudaranya. Dialog tidak dikedepankan, tetapi kekerasan fisik dan verbal lebih diutamakan. Padahal seharusnya pemikiran dilawan dengan pemikiran, tulisan dilawan dengan tulisan, pendapat dilawan dengan pendapat. Bukan dengan kekerasan atau menggunakan alat kekuasaan.

Kemarin saya membaca berita Ustad Abdul Somad (UAS) ditolak oleh UGM mengisi diskusi di masjid kampus dengan alasan yang terkesan mengada-ada. Menurut kabar karena tekanan sebagian alumninya. Sebagai kampus yang menghargai kebebasan akademis dan tempat beradu gagasan, penolakan itu tidaklah pada tempatnya. Apa yang ditakutkan dengan ceramah seorang ustad? Penolakan terhadap UAS tidak hanya sekali ini saja, tetapi sudah beberapa kali di beberapa tempat karena alasan dia ustad radikal. Benarkah?

Saya menduga, penyebab berbagai tudingan radikal, fundamentalis, khilafah, membubarkan pengajian, menghadang ulama, menolak ustad, dan sebagainya, benang merahnya sama: mereka dianggap oposan, tidak pro rezim, mereka tidak berada di kubu 01. Politis sekali, bukan? Karena anda tidak berada di kubu kami, maka anda adalah lawan. Mengerikan. Polarisasi akibat Pilpres (dan juga Pilkada DKI) memang sangat buruk. Bangsa kita terbelah dua. Efeknya masih terasa sampai sekarang meskipun Pilkada DKI dan Pilpres sudah selesai, meskipun Prabowo sudah menyalami Jokowi, tetapi dampaknya belum hilang. Orang-orang yang dianggap oposan itu citranya dibuat buruk

Keberadaan para pendengung (buzzer) seperti Denny Siregar, Abu Janda, dan lain-lain ikut memperkeruh suasana. Para pendengung itu meniupkan isu, menyebarkan hoaks (ingat isu ambulan membawa batu yang disebarkan oleh DS), paling sering melontarkan isu radikal, khilafah, dan lain-lain, sehingga membuat suasana menjadi panas. Keberadaan para pendengung ini merusak demokrasi karena membuat bangsa ini terpecah belah. Sayangnya, meski telah berkali-kali dilaporkan ke kepolisian, mereka untouchable.

Sampai lima tahun ke depan saya prediksi persatuan bangsa ini akan mudah tercabik-cabik karena kepentingan kekuasaan. Menyedihkan!

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | 3 Komentar

Pengemudi Gojek Perempuan itu Ternyata…

Sore hari saat jam pulang kantor saya memesan gojek motor dari sebuah rumah makan di Jalan Katamso. Saya mau pesan gojek ke rumah saya di Antapani. Di layar aplikasi ternyata yang mengambil order adalah seorang driver wanita.  Hmmm…batalkan nggak ya? Ini kedua kalinya saya mendapat pengemudi perempuan (pengalaman pertama mendapat pengemudi perempuan saya tulis di sini:  Tukang Ojek Perempuan yang Ikhlas Membantu Suaminya).

Sebenarnya saya risih jika memboncengi motor yang dikemudikan perempuan bukan mahram. Perasaan risih ini sudah saya ceritakan pada tulisan pertama tadi. Tapi lagi-lagi rasa kasihan saya mengalahkan perasaan risih. Baiklah, saya  OK-kan saja.  Pengemudi perempuan itu mengatakan bahwa dia sudah biasa mendapat penumpang laki-laki.  Di dalam hati saya berkata, jika perempuan sampai terjun menjadi tukang ojek atau gojek pastilah karena alasan yang sangat mendesak atau alasan-alasan yang luar biasa.


Dia mengemudikan motor dengan tenang. Tidak mengebut dan selalu hati-hati. Saya duduk sedikit agak menjauh dari punggungnya.

Tiba di Antapani. Sayapun turun. Lalu saya tanya:
+ Dari jam berapa nge-gojek, Teh?  (Saya memanggil dia “teteh”, panggilan kepada  perempuan Sunda)
– Dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam, Pak.
+ Punya anak?
– Punya
+ Suami?
– Sudah enggak.

Oh, berarti dia single parent, dia mencari nafkah untuk menghidupi anaknya. Kasihan ya. Dari pagi sampai malam. Untung tadi tidak jadi saya batalkan. Ternyata dia perempuan perkasa. Di akhir perjalanan saya tambahkan bonus kepadanya.

~~~~~~

Saya kagum pada perjuangan pengemudi gojek perempuan. Mereka melakukan pekerjaan yang halal. Soal mahram dan hijab dapat saya atur, saya duduk tidak terlalu merapat ke badannya, ada ruang kosong. Membatalkan pesanan gojek  kalau tidak terpaksa sekali jangan  dilakukan, karena berpengaruh pada performa driver. Kalo performa turun, mereka susah mendapat order.

Seorang teman memberi saran, jika mendapat pengemudi perempuan, maka dia tukaran tempat. Dia yang mengemudi motor, sedangkan si perempuan yang menjadi penumpang. Menurut saya cara ini pun kurang sopan, sebab seolah-olah merendahkan perempuan karena dianggap tidak mampu menjadi driver.

Para perempuan tukang ojek adalah perempuan perkasa. Banyak perempuan perkasa di sekitar kita. Mereka terjun mencari nafkah karena alasan yang terpaksa. Mungkin suami sudah tidak ada, atau ada suami tetapi penghasilan suami jauh dari mencukupi. Menjadi tukang ojek atau gojek mungkin adalah  pilihan yang cukup realistis saat ini. Mengapresiasi pekerjaan mereka adalah dengan menghargai mereka dan tidak melecehkannya.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 1 Komentar

Generasi Milenial Ternyata tidak Apatis Sosial Politik

Aksi demo besar-besaran mahasiswa di berbagai kota di Indonesia yang meminta pencabutan revisi RUU KPK dan beberapa RUU lainnya telah membuat tercengang berbagai kalangan. Bagaimana tidak, mahasiswa-mahasiswa yang berdemo ini merupakan generasi milenial, yaitu mereka yang lahir sekitar tahun 2000. Generasi mileneal sering dianggap apatis, cuek, atau kurang peduli  terhadap kondisi sosial politik di tanah air. Mereka dibesarkan oleh gawai dan sangat aktif ber-sosmed ketimbang memikirkan urusan perpolitikan.

Namun, tanpa diduga, ternyata masih ada dan masih banyak mahasiswa yang peduli tentang negeri ini dengan melakukan aksi turun ke jalan. Mereka menyuarakan keresahan di tengah masyarakat terkait dengan revisi UU KPK yang dianggap mengkerdilkan lembaga anti rasuah tersebut serta berbagai RUU yang dianggap kontroversial. Surprise karena di tengah kondisi mahasiswa kita yang umumnya  lebih mementingkan urusan kuliah, gawai, medsos, dan juga asmara rupanya masih ada sebagian mahasiswa yang tergerak hati nuraninya menyuarakan keprihatinan masyarakat. Ketika tidak ada lagi pihak yang mampu menyuarakan keprihatinan, maka harapan masyarakat disandangkan ke pundak para mahasiswa itu.

Aksi demo berlangsung masif dan berhari-hari. Dimulai dari aksi  #GejayanMemanggil di Yogyakarta, dengan cepat aksi mahasiswa di Yogya menular ke berbagai kota di Indonesia. Mereka turun ke jalan. Mahasiswa yang selama ini diam akhirya terpanggil bergerak. Aksi demo semakin dramatis dengan kehadiran pelajar-pelajar STM (sebutan SMK untuk jurusan teknik) yang membantu kakak-kakaknya berdemo. Sejak aksi demonstrasi besar-besaran mahasiswa tahun 1998, barangkali inilah aksi demo yang terbesar sesudah tahun 1998.

Namun ingat, mereka berdemo bukanlah untuk menurunkan presiden. Bukan. Pemilu dan Pilpres sudah selesai. Mereka menyuarakan keprihatinan dan kekecewaan masyarakat terhadap berbagai UU dan RUU yang dibuat kejar tayang oleh DPR dan Pemerintah. Naif juga mengaitkan aksi mereka dengan radikalisme dan isu-isu seperti khilafah dan sebagainya. Saya melihat aksi demo mereka murni dan tidak ditunggangi.

Selama aksi-aksi mahasiswa itu murni, konstitusional, dan tidak anarkis, tentu akan  didukung oleh masyarakat. Menyuarakan pendapat dijamin oleh UU. Tentu saja aksi demo mereka berhadapan dengan aparat keamanan yang menjaga ketertiban. Hanya saja kalau ada mahasiswa yang terluka, terkena gas air mata, apalagi sampai ada yang mati, saya merasa sangat sedih. Tidak seharusnya aksi damai berubah menjadi “pertarungan” antara anak-anak muda harapan bangsa itu dengan polisi dan berakhir dengan kesedihan.

Generasi milenial ternyata tidak identik dengan anak manja, apatis, cuek, kurang peduli, dan stereotip lainnya. Mereka akan “bangun” pada waktunya, sekali mereka bangun bergemuruhlah seluruh negeri.

Dipublikasi di Indonesiaku | Meninggalkan komentar

Mengenang Habibie

Terlalu banyak yang ingin saya tuliskan tentang B.J. Habibie, mantan Presiden Indonesia yang wafat semalam. Saat saya menulis ini mata saya sembap menahan haru. Aneh, padahal saya belum pernah bersua secara langsung dengan beliau, tapi entah kenapa saya merasa sedih.

Habibie adalah orang  baik, malah sangat baik. Sosok yang ikhlas dan tawadhu. Semua orang Indonesia pasti tahu tentang itu. Anak-anak Indonesia mengidolakan Habibie. Kenapa tidak, Habibie adalah orang yang jenius, karya-karyanya dalam bidang aeronautika tersebar ke seluruh dunia. Banyak orangtua menamai anak lelakinya dengan nama Habibie dengan harapan kelak seperti Habibie.  Habibie adalah role model bagi banyak orangtua. Di Prodi saya di Informatika ITB tidak terhitung jumlah mahasiswa bernama Habibi, baik sebagai nama di depan maupun di belakang.

Sungguh tepat langkah Presiden Soeharto memanggil Habibie pulang dari Jerman dan mengangkatnya menjadi menteri. Takdir hidup pula yang menggariskan  kelak Habibie menjadi presiden Indonesia berikutnya menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri akibat tekanan politik, kerusuhan sosial, dan krisis moneter  saat itu, tahun 1998.

Saat saya masih mahasiswa di ITB, nama Habibie adalah jaminan untuk sekolah ke luar negeri. Pak Habibie saat itu sebagai Menristek sekaligus ketua BPPT mengirim banyak lulusan SMA untuk kuliah di luar negeri, khususnya ke Eropa dan Amerika. Kami menyebutnya sebagai program Beasiswa Habibie. Tujuan program ini tidak lain untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam bidang teknologi. Tidak hanya teknologi dirgantara seperti keahlian Habibie, tetapi teknologi lainnya yang dibutuhkan negara.

Habibie saat muda (Aachen, Jerman, 1954)

Banyak teman saya yang sudah diterima di ITB akhirnya mengundurkan diri dari kampus karena mendapat beasiswa Habibie ke Eropa dan Amerika. Sebuah prestise saat itu mendapat beasiswa Habibie ke Eropa dan Amerika. Mereka sekolah dari jenjang S1 sampai S3. Sebagian ada yang pulang kembali ke tanah air, tapi sebagian lagi tidak balik dan bekerja sebagai ekspatriat di Eropa.

Saya yakin seyakin-yakinnya hampir semua orang Indonesia mencintai Habibie. Beliau Presiden Indonesia yang tidak meninggalkan masalah selepas turun tahta. Dari tujuh presiden Indonesia (Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Jokowi), saya paling berkesan dengan Habibie. Alasan-alasannya adalah sebagai berikut:
1. Cerdas. Beliau adalah salah satu orang Indonesia yang jenius. Ilmuwan hebat yang diakui dunia atas karya-karyanya dalam bidang aeronautika.
2. Rendah hati (humble). Tidak sombong, tidak suka berkoar-koar menebar janji-janji dan harapan palsu. Betapa presiden-presiden Indonesia terlalu sering membuat janji dan harapan semu sekedar gimmick atau lipstik. Tapi Habibie beda. Sekedar contoh saja, berkat tangan dinginnya dia mampu mengembalikan rupiah yang terpuruk saat kejatuhan Soeharto dari 17.000 menjadi 9000 per dollar. Saat ini kita tidak pernah melihat dollar bertengger di bawah sepuluh ribu rupiah.
3. Tidak menumpuk kekayaan selama berkuasa, karena memang pada dasarnya Habibie sudah kaya dari royalti yang diterimanya atas karya-karya pesawatnya. Habibie adalah sosok yang ikhlas dan tidak kemaruk tahta. Kecintaannya pada tanah air jangan diragukan lagi.
4. Tidak punya kasus setelah tidak berkuasa.  Ini saya saya sebutkan tadi. Habibie bersih dari berbagai skandal, sepi dari segala rumor dan isu tidak sedap setelah turun tahta. Coba bandingkan dengan Soekarno, Soeharto, SBY, Megawati, masih saja diungkit-ungkit perbuatannya pada  masa lalu. Entah pula nanti Jokowi ketika nanti lengser, apa pula yang akan dipermasalahkan orang nanti.
5. Demokratis. Dialah yang membuka kran media massa sehingga puluhan media terbit. Media bebas bersuara, tidak takut lagi mengkritik penguasa. Pemilu multi partai pun dimulai pada era Habibie. Partai yang semula cuma 3 (Golkar, PPP, PDI) berkembang menjadi 48 partai. Luar biasa. Pantaslah Habibie disebut sebagai Bapak Demokrasi.
6. Habibie mewakafkan hartanya untuk ilmu pengetahuan dengan mendirikan Habibie Center.  Habibie Award adalah Nobel Price-nya Indonesia.
7. Habibie memadukan ilmu dengan agama. Salah satu  warisan yang dipopulerkan oleh Habibie adalah frase “meningkatkan IMTAK dan IPTEK”. IMTAK = iman dan taqwa. IPTEK = ilmu pengetahuan dan teknologi.
8. Habibie menguasai banyak bahasa asing (Inggris, Jerman, Perancis)

Memang semua presiden di republik ini punya keunikan, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Namun Habibie-lah yang paling berkesan di hati saya.

Habibie saat muda adalah pria yang ganteng. Kegantengannya dan budi pekertinya yang santun meluluhkan hati Ainun, seorang mojang priangan kota Kembang yang cantik, saat Habibi kuliah di ITB dulu. Foto-foto Habibie saat masih muda bertebaran di media sosial seperti foto-foto di bawah ini.

Berkat film Ainun dan Habibie, yang mengisahkan perjalanan Hbibibie dan istrinya, orang Indonesia pun semakin tahu bahwa Habibie tidak hanya cerdas tetapi juga romantis. Kisah cintanya yang romantis dengan Ainun menjadi inspirasi bagi banyak orang. Bacalah sebuah tulisan yang saya tidak tahu siapa penulisnya tetapi saya rasa sungguh tepat menggambarkan Habibie dan istrinya itu. Saya copas di sini ya.

SELAMAT JALAN, RUDY..
9 Maret 1962. Saat itu malam hari raya Iedul Fitri.
Rudy – panggilan BJ Habibie – mengajak jalan Ainun. Ia ingin mengajaknya nonton bioskop, tapi sayang karena udara begitu cerah. Akhirnya mereka berjalan kaki menyusuri sepanjang kampus ITB. Hati Rudy berdetak tidak karuan. Ada yang ingin ia sampaikan. Tapi ia begitu malu. Sampai terlintas dalam pikirannya, “Kalau tidak sekarang, kapan lagi ?”
Lalu ia memberanikan diri bertanya, “Ainun, maaf. Saya tidak ingin mengganggu masa depanmu. Tapi, apakah kamu punya kawan dekat ?”

Ainun, dengan detak jantung yang sama cepatnya, terdiam lama. Lalu ia menghadapkan tubuhnya ke arah Rudy sambil menjawab dengan lirih, “Tidak. Saya tidak punya kawan dekat..”

Hati Rudy bersorak. Perasaan yang sudah lama dipendamnya mendapatkan jawaban. Sesudah malam itu, merekapun selalu bersama, saling berbincang dan saling menyatukan hati hingga menikah pada tahun yang sama.

Perjalanan hidup kedua manusia ini menjadi cerita romansa yang tidak ada habisnya. Mereka tidak pernah berjauhan. Tidak sedikitpun. Ainun selalu mengikuti kemana Rudy pergi, sampai kekasihnya menjadi Presiden RI.

Tetapi janji itu putus sudah. Ainun harus pergi tanpa bisa meminta. Betapa hancurnya hati Rudy saat itu. Ia ingin menangis tapi suaranya tidak pernah keluar. Tubuhnya lunglai tanpa ia mampu menegakkan.

“Saat ini saya tidak takut lagi menunggu kematian, karena Ainun menunggu disana..” Perih hatinya menjadi sukacita. Ia menunggu hari-harinya dengan senyum kekasihnya yang selalu ada di setiap malam ketika rasa sepi membunuhnya.

Malam ini, Profesor Dr Ing Bacharuddin Jusuf Habibie, dengan tersenyum menuju ke tempat hatinya berada. Ke tempat Ainun menunggunya dengan senyum yang tak pernah ada habisnya.
Ia berbahagia ketika seluruh bangsa menangis ditinggalkannya. Hati ini hancur seperti hancurnya Rudy ketika Ainun meninggalkannya.

Rudy dan Ainun, mereka bersama menari di alam yang berbeda. Mereka memang tidak terpisahkan. Tidak akan pernah…
Selamat jalan B.J Habibie. Bangsa ini kehilangan anda. Anda  akan selaku dikenang sebagai seorang yang baik, malah sangat baik. Nama anda akan selalu ada di hati segenap bangsa Indonesia. Alfatihah.

Dipublikasi di Indonesiaku | 4 Komentar

Mahasiswa Depresi lalu Bunuh Diri

Beberapa hari yang lalu ada peristiwa yang cukup menggemparkan warga kampus Ganesha ITB. Seorang mahasiswa S2 di kampus kami meninggal dunia di kamar kosnya karena bunuh diri (baca beritanya di sini). Siapa sangka, mahasiswa yang cerdas, berprestasi, ternyata mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis seperti itu. Di dalam blognya dia menulis sudah lama mengalami depresi dan sudah punya keinginan untuk melakukan bunuh diri. Membaca tulisannya di blog sungguh membuat hati saya terenyuh. Sedih.

Depresi. Aku pernah merasakan depresi. April 2018 lalu aku ke psikolog mengikuti konseling karena depresi. Aku merasakan depresi dan terus berpikir untuk bunuh diri.

….

Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu aku mendapat peringkat pertama Olimpiade Sains Nasional tingkat SD di bidang IPA. Karena prestasi itu aku mendapatkan beasiswa di SMP Semesta Semarang, sebuah sekolah swasta berasrama. Kemudian aku melanjutkan pendidikan di SMA Mustafa Germirli di Kayseri, Turki. Setelah 4 tahun SMA aku lalu melanjutkan kuliah di ITB mengambil jurusan Teknik Elektro. Juli 2018 lalu aku lulus menjadi ST.

Apakah aku masih depresi? Aku tidak tahu. Ingin aku katakan kalau aku sudah tidak lagi merasakan depresi. Aku sudah tidak merasa sesedih April 2018 lalu. Namun bagaimana aku bisa tahu? Bagaimana aku tahu kalau nanti malam, atau besok, atau lusa aku tidak akan melompat dari gedung atau menggantung diri atau memutus nadi. Bagaimana aku bisa tahu?

Aku tidak tahu.

Namun yang aku tahu sekarang adalah aku punya kedua orang tua yang mendukungku. Aku tahu ada adik-adikku melihatku dari jauh. Aku tahu ada teman-teman dan Bapak Ibu dosen dan staff yang mengenalku. Dan yang paling penting ada seseorang yang menghangatkan hatiku. Selama ada mereka mungkin aku tidak akan bunuh diri. Karena aku ingin membuat mereka bahagia.

….

Dalam hidupku aku bukanlah orang yang punya banyak teman. Aku tidak pandai bergaul. Keberadaan sesorang dan ketiadaan sesorang sangat berarti bagiku. Maka dari itu aku takut.

Aku takut kalau selama ini aku terlalu clingy kepada orang-orang yang mengenalku. Aku takut sendirian. Ketika aku depresi aku merasa sangat sendirian. Tidak ada yang dapat aku ajak curhat. Tidak ada yang dapat aku peluk. Tidak ada yang bilang kepadaku kalau dia mengerti dan mau menenangkanku.

Saat aku depresi aku merasakan ketiadaan itu jauh lebih baik dari pada keberadaan. Setiap waktu yang berlalu terasa menusuk. Pekerjaan semuanya tertunda. Apapun tidak ingin dilakukan. Yang diinginkan adalah ketiadaan.

….

Saya tidak habis pikir dan tidak mengerti mengapa almarhum mengambil jalan pintas yang sesat itu? Saya bisa membayangkan betapa hancur dan sedih hati ayah dan ibunya mendapat kenyataan pahit seperti ini. Padahal orangtuanya selalu mendukungnya seperti yang dia tulis di atas.

Saya sudah sering membaca berita mahasiswa melakukan bunuh diri di berbagai kampus. Apakah masalah perkuliahan di kampus yang menjadi penyebab mahasiswa bunuh diri? Saya tidak percaya. Saya yakin sebagian besar faktor penyebab bunuh diri itu bukan karena masalah akademik, tetapi masalah non akademik yang mengganggu pikirannya, seperti masalah dengan pacar, orangtua, keluarga, mengidap penyakit menahun, halusinasi pikiran-pikiran buruk, dan lain sebagainya. Masalah non akademik ini mengakibatkan stres dan depresi yang berkepanjangan, lalu jalan pintasnya bunuh diri. Sayang sekali, kita kehilangan satu generasi, lost generation.

Sebagai dosen kita tidak hanya melihat mahasiswa dari sisi akademik semata. Kalau ada mahasiswa yang sudah aneh-aneh sikapnya, stres, depresi, dsb, maka mahasiswa ini perlu diperhatikan lebih intens, kalau perlu dilakukan pendampingan agar dia tidak sendirian. Early warning. Orang yang dilanda depresi sesungguhnya membutuhkan seseorang untuk berbagi. Dia menulis sebagai berikut:

Aku takut sendirian. Ketika aku depresi aku merasa sangat sendirian. Tidak ada yang dapat aku ajak curhat. Tidak ada yang dapat aku peluk. Tidak ada yang bilang kepadaku kalau dia mengerti dan mau menenangkanku.

Di sisi lain teman-teman sesama mahasiswa juga perlu bersikap peduli dengan temannya yang bermasalah. Jangan cuek. Kesibukan kuliah yang padat jangan sampai menjadi alasan untuk memperhatikan orang lain. Sesibuk apapun sempatkanlah memperhatikan teman. Sharing is caring.

Saling membantu itu indah. Anda tidak perlu merasa terbuang waktu karena telah menaruh kepedulian kepada sesama. Waktu yang terbuang tidak sebanding dengan generasi yang hilang.

Dipublikasi di Pendidikan, Renunganku, Seputar ITB | 5 Komentar