Pak Jokowi, Masih Ingatkah Bapak dengan Ucapan ini?

Di DKI Jakarta, berita penggusuran pemukiman-pemukiman kumuh yang dilakukan oleh Pemprov DKI,  mengingatkan saya pada curhat Pak Presiden Joko Widodo, ketika masa kampanye PilGub DKI beberapa tahun lalu. Jokowi menceritakan pengalaman pribadinya betapa sakitnya menjadi korban penggusuran.

“Saya ingat masih SD. Kami punya tempat tinggal kemudian digusur. Tahun 70-an. Tidak dapat ganti rugi. Itu sangat membekas di ingatan saya. Bahwa.. yang namanya tergusur itu sangat sakit sekali. Sangat sakit sekali”

Jokowi kemudian melanjutkan:

“Ingat ya di UUD 45 kita jelas bahwa pemerintah dan negara itu melindungi rakyatnya. Disitu jelas sekali tercantum. Tapi yang terjadi.. pemerintah malah seperti ini. Ini kekeliruan. Sudah melanggar undang undang menurut saya.”

gusur

Videonya masih tersimpan baik di sini:

Sekarang, setelah Pak Jokowi duduk nyaman menjadi Presiden, setelah sebelumnya menjadi Gubernur DKI, kemudian melihat penggusuran demi penggusuran yang bertubi-tubi di Ibukota yang dilakukan oleh Wakil Gubernurnya dulu (yang sekarang menjadi Gubernur DKI), bagaimana ya perasaannya? Masihkah dia  ingat dengan kata-kata yang pernah diucapkannya itu? Masihkah dia merasakan rasa  sakit para korban penggusuran? Semoga Pak Jokowi tidak lupa.

Tulisan ini sekadar untuk mengingatkan Pak Jokowi, bahwa mereka yang tergusur itu dulu memilih Bapak menjadi Gubernur dan menjadi Presiden.

Salam saya buat Pak Presiden!

Dipublikasi di Indonesiaku | 6 Komentar

Jangan Takut Kuliah di ITB Karena Masalah Biaya

Kemarin saya membaca berita di suratakabar daring. Rektot ITB, Pak Kadarsah  menyatakan bahwa asal berprestasi, jangan risau soal biaya kuliah di ITB. Pernyataan Pak Kadarsah benar adanya. Selama lebih dua puluh tahun saya menjadi dosen di ITB, saya sudah melihat sendiri bahwa biaya kuliah bukan isu penting di ITB. Faktor ekonomi bukan halangan untuk berkuliah di ITB, karena selalu saja ada solusi untuk mahasiswa yang terbentur biaya kuliah dan biaya hidup selama di Bandung.

Masyarakat seringkali beranggapan bahwa ITB itu untuk kalangan orang berduit saja. Kalau hanya melihat parkiran lautan mobil mahasiswa di seputar kampus ITB, maka kesan  bahwa ITB isinya anak orang kaya semua pasti akan muncul. Ternyata dugaan itu salah. Mahasiswa ITB itu ibarat supermarket, semua mahasiswa dari kalangan ekonomi apapun, agama apapun, etnik apapun, ada di dalamnya. Mereka bisa masuk karena satu faktor saja: otak yang cerdas. Maksudnya, di ITB siapapun bisa kuliah, baik anak orang kaya maupun anak orang miskin, yang penting mereka mempunyai kemampuan intelektual bagus. Soal biaya itu urusan belakangan, yang penting diterima dulu.

Tengoklah Uang Kuliah Tunggal (UKT) di ITB yang besarnya 10 juta per semester. Itu berlaku untuk semua fakultas di ITB (kecuali di fakultas SBM yang perhitungannya berbeda). Tidak ada kutipan uang pangkal atau uang gedung, hanya UKT itu saja. Dari UKT yang 10 juta rupiah itu, ternyata tidak semua mahasiwa ITB membayarnya penuh. Ada keringanan sebesar 20%, 40%, 60%, 80%, hingga 100% yang dapat diajukan, tentu ada persyaratannya. Jadi, ada mahasiswa yang membayar 2 juta, 4 juta, 6 juta, 8 juta, bahkan 0 juta, disamping tentu ada yang membayar penuh 10 juta. Jumlah mahasiswa yang membayar penuh 10 juta hanya 30% saja dari populasi mahasiswa baru, artinya 1200 orang mahasiwa berasal dari kalangan berada, sedangkan 70% lagi bervariasi tingkat kemampuan ekonominya.

Bagi yang mendapat keringanan 100%, artinya mereka dibebaskan dari SPP, alias gratis kuliah di ITB. Siapakah mereka itu? Itulah mahasiswa program Bidik Misi, jumlahnya 20% dari mahasiswa baru. Mahasiswa Bidik Misi ini mendapat bantuan sepenuhnya dari Pemerintah, baik SPP maupun biaya hidup. Tiap tahun ITB menerima sekitar 4000 mahasiswa baru, jadi 20% dari 4000 adalah 800 orang per tahun, merekalah yang  mendapat kesempatan kuliah tanpa memikirkan SPP. Selain SPP gratis, mereka juga mendapat uang saku sebesar 1 juta rupiah per bulan sebagai biaya hidup. Di ITB uang saku dari Pemerintah itu tidak dipotong sepersenpun, 100% diberikan utuh kepada mahasiswa (sementara di PT lain yang saya dengar uang saku itu tidak sampai 100% kepada mahasiswa, tetapi dipotong untuk  biaya ini dan itu).

Dengan demikian, ada 20% dari jumlah total mahasiswa ITB berasal dari kalangan keluarga yang benar-benar tidak mampu, 30% dari keluarga yang kaya, selebihnya bervariasi dari keluarga yang sederhana hingga dari keluarga yang agak berada. Itulah gado-gado mahasiswa ITB yang menunjukkan sisi demokratisnya.

Dikutip dari tautan berita di atas,

Sebanyak 20 persen dari total seluruh mahasiswa tidak bayar sepeserpun. Mahasiswa ini masuk program bidik misi. Mereka mendapat beasiswa penuh dari pemerintah dan bahkan mendapat uang saku per bulannya sebesar (1 juta rupiah).

Sebesar 50 persen mahasiswa, lanjut Kadarsah, membayar uang kuliah bervariasi. Ada yang bayar hanya 20 persen dari total keseluruhan biaya kuliah, ada yang 40 persen dan seterusnya. Dan yang bayar 100 persen dari biaya kuliah hanya 30 persen mahasiswa.

“Itulah potret situasi perekonomian mahasiswa ITB,” ujar dia.

Kadarsah menegaskan, setiap warga negara Indonesia punya hak dan kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan di ITB sepanjang memenuhi syarat yang ditentukan. Dia meminta siapapun yang ingin masuk ITB tak khawatir dengan biaya pendidikan.

“Sepanjang berprestasi, uang jangan dijadikan kendala,” katanya.

Bahkan setelah kuliah di ITB pun, tersedia ribuan beasiswa yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa ITB. Beasiswa itu beragam jenisnya, ada beasiswa yang dilihat dari sisi prestasi saja (prestasi akademik maupun prestasi non akademik) tanpa memandang status ekonomi, namanya Beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik). Lalu, ada pula beasiswa  bagi mahasiswa yang mendapat kesulitan ekonomi, namanya beasiswa ekonomi.  Jadi, jika anda mahasiswa kaya atau mahasiswa miskin, anda pun dapat memperoleh beasiswa PPA. Jika anda mahasiswa miskin, anda berkesempatan memperoleh beasiswa ekonomi. Beragam jenis beasiswa itu dapat dilihat pada laman ini: APA SAJA BEASISWA DI ITB ?. Jadi, untuk beasiswa saja ITB juga menunjukkan demokratisnya, semua mahasiswa dari berbagai latar belakang dapat memperoleh beasiswa.

Jadi, tidak ada alasan takut kuliah di ITB karena faktor biaya. Semua ada jalannya, semua ada solusinya.

Dipublikasi di Seputar ITB | 5 Komentar

Berkunjung ke Kota Palembang

Minggu lalu saya diundang adik kelas di Informatika ITB yang menjadi dosen di Universitas Bina Darma Palembang untuk memberi seminar dihadapan mahasiwa. Kebetulan saya belum pernah ke Palembang, padahal sama-sama di Pulau Sumatera dengan kota Padang tempat kelahiran saya. Jadi, kunjungan ini merupakan pertama kali saya ke kota mpek-mpek itu. Bagi saya Palembang punya nilai emosional dengan keluarga kami di Padang, karena ayah saya pernah merantau ke Palembang sebelum ketemu dengan ibu saya. Jadi, anggaplah ini kunjungan napak tilas mengenang perantauan orangtua saya.

Oh ya, dari Bandung ada penerbangan langsung ke Palembang dua kali sehari, masing-masing dengan maskapai Xpress Air (pagi) dan Citilink (sore). Saya naik Citilink sore setelah menyelesaikan perkuliahan jam  15.00 sore di kampus. Pesawat mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang dengan mulus. Bandara SMB II adalah bandara yang megah dan baru. Bandara ini tidak jauh dari bandara lama yang merupakan milik TNI AU.

IMG_20160904_145616

Bnadara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang

Palembang adalah kota besar nomor dua di Sumatera. Palembang menurut sejarahnya adalah kota tua, kota ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya. Bangunan-bangunan lama di Palembang bertebaran di sana-sini. Kota Palembang saat ini agak kusut dan macet karena pembangunan jalan layang monorel (Light Rapid Transport) yang membentang dari bandara hingga ke kompleks Jakabaring, melewati pusat kota. Menurut perkiraan proyek LRT ini akan selesai tahun 2017 guna menyongsong pesta Asian Games yang  akan diadakan di Jakarta dan Palembang tahun 2018.

14212617_1193785517356138_8432297176396547118_n

Pembangunan proyek LRT membuat Palembang sementara waktu macet di mana-mana

13879442_1193654890702534_3959602693009973284_n

Lalu lintas Palembang yang selalu macet akibat pembangunan LRT. Ini Jalan Ahmad Yani, jalan nomor dua terbesar di Palembang. Rumah-rumah di Palembang beratap genteng, yang menandakan pengaruh Jawa terasa sekali di sini.

Berbicara Palembang maka kita tidak bisa memisahkannya dengan Sungai Musi. Sungai Musi adalah belahan jiwa kota Palembang. Tidak lengkap ke Palembang tanpa melewati Jembatan Ampera yang membentang di atas Sungai Musi. Di sekitar Jembatan Ampera ini  sungai mulai menyempit karena rumah-rumah penduduk semakin menjorok ke tengah sungai.

14222103_1194560193945337_7080717638555329444_n

Jembatan Ampera, landmark kota Palembang

Saya dan teman sempat menyusuri sungai Musi dengan speedboat dari dermaga di seberang Pasar 16 Ilir, dekat Jembatan Ampera. Kami menyewa speedboat mengitari sungai Musi dari Seberang Ulu hingga Seberang Ilir.

Naik speedboat menyusuri sungai Musi ke seberang ulu dan seberang ilir sungguh pengalaman mendebarkan bagi saya. Laju speedboat-nya sangat kencang dan beberapa kali seperti mau terbalik, tapi supirnya begitu lihai menghindar gelombang dan halang rintang yang dapat membalikkan perahu. Sementara teman saya yang asli wong kito tenang-tenang saja, mungkin sudah biasa baginya naik speedboat kencang ini kali ya🙂. Tinggal “orang gunung” seperti saya berpegangan erat sambil komat-kamit membaca doa. Jika speedboat terbalik habislah saya, apalagi saya tidak bisa berenang. Speedboat juga tidak dilengkap dengan pelampung, agak miris juga mendengarkannya. Jadi, naik speedboat di Sungai Musi perlu nyali yang besar.

14203299_1194715223929834_7555280572719436887_n

Speedboat

Pemandangan sepanjang sungai sungguh Indonesia banget, ada rumah-rumah panggung di sepanjang sungai, pasar 16 Ilir, kapal getek, rumah apung, kapal tongkang batubara, kios bensin eceran terapung, dll. Inilah rakyat kita kebanyakan, mereka hidup secara sederhana dan menggantungkan sepenuhnya hidupnya pada kebaikan Sungai Musi.

14199275_1194649730603050_4506553092030627993_n

Rumah terapung di Sungai Musi, mengalir sampai jauh

14264975_1194715517263138_6962932078211531019_n

Rumah-rumah dan perahu di sepanjang sungai Musi

14192737_1194715483929808_8327806938905128445_n

Kapal tongkang

Ke Palembang tanpa mengunjungi Pulau Kemaro rasanya kurang lengkap. Pulau Kemaro adalah pulau delta yang terletak di tengah sungai Musi, tidak terlalu ketengah juga sih, agak dekat dengan sisi sebelah sungai. Pulau ini menajdi tempat tujuan wisata di kota Palembang.

14141793_1194690050599018_8382611617824736477_n

Pulau Kemaro

Apa menariknya pulau ini? Di Pulau Kemaro terdapat sebuah vihara dan sebuah pagoda yang besar. Pada setiap peringatan Waisyak, Imlek, dan Cap Gomeh, pulau ini ramai dikunjungi umat Budha dan Tridharma. Di pulau ini ada cerita legenda putri raja Palembang yang menikah dengan seorang saudagar dari daratan Cina.

14238158_1194690160599007_9014127558151323236_n

Legenda Pulau Kemaro

14141661_1194690093932347_7269939585893183693_n

Pintu masuk ke Pulau Kemaro

14192064_1194690190599004_866715263657129669_n

Wihara dan pagoda mini. Pagoda sebenarnya tampak di belakang

14142053_1194690237265666_3201695220682924510_n

Pagoda di Pulau Kemaro, tampak dari dermaga

14192715_1194610813940275_6308109474827929007_n

Berfoto di depan pagoda

Palembang dikenal sebagai kota mpek-mpek. Tapi Palembang tidak hanya mpek-mpek dan tekwan. Di kota ini ada makanan yang menjadi sarapan pagi warga Palembang. Namanya martabak Har. Martabak Har sejenis martabak dari Arab atau India, isinya telur, dan dimakan dengan kuah kari. Di sebelah hotel tempat saya menginap di Jalan Sudirman, ada sebuah ruko yang menjual martabak Har. Saya penasaran dengan martabak ini yang kata orang Palembang enak banget. Agak heran juga saya dengan kebiasaan makan warga Palembang ini. Biasanya martabak itu kan makannya pada waktu sore atau malam, tapi martabak yang satu ini dimakan pada pagi hari. Kuah karinya itu lho, nggak nahan.

14191966_1194497030618320_8931072149270670821_n

Martabak Har, sejak 1947

14238236_1194497093951647_5828625764343473943_n

Martabak Har dengan kuah kari

Wisata di Palembang memang hanya kuliner. Tidak banyak tempat wisata yang dapat dikunjungi di Palembang. Orang ke Palembang untuk berwisata kuliner. Kata teman di sana, untuk menikmati seluruh macam kuliner di Palembang dibutuhkan waktu dua hari saking banyak jenisnya.

Masakan Palembang kebanyakan adalah ikan. Beberapa masakan yang saya coba adalah ikan seluang (ikan kecil dari Sungai Musi), rusip (olahan fermentasi ikan), aneka pindang (ikan, daging, udang), brengkes (semacam pepes, kadang-kadang pakai sambal tempoyak atau durian), dan sate pentul. Pindang adalah masakan khas daerah Sumbagsel dengan lauk berupa ikan seperti ikan belida, ikan patin, udang, atau iga sapi.

kuliner

Aneka macam masakan Palembang (ikan seluang, pindang , rusip, brengkes)

Ada satu lagi kuliner Palembang yang wajib dicoba yaitu nasi minyak. Nasi minyak adalah semacam nasi kebuli rasa lokal, dimasak dengan minyak samin, dan bumbu seperti kunyit, garam, dana lain-lain. Pelengkapnya adalah daging kambing, sambal manga, acar mangga, dan lain-lain. Sepintas mirip nasi kuning, tetapi rasanya beda. Lezat sekali.

14117737_1193639057370784_8677178533273362968_n

Nasi minyak

Lamat-lamat suara kelompok musik Golden Wing yang menyanyikan lagu lawas Mutiara Palembang masih terngiang di telinga saya. Lagu ini menceritakan suasana romantis kota Palembang diwaktu malam.

Mutiara Palembang (Palembang Diwaktu Malam) – Oleh: Golden Wing

Palembang di waktu malam
Di kala terang bulan
Bersinar di atas sungai musi
Beriring nyanyi sang dewi

Terbayang semua harapan
Dalam keindahan itu
Mutiara yang telah hilang
Kembali padaku

Walaupun bukan yang dulu
Yang telah jauh dariku
Tapi dapat melepas rindu
Kesunyian hatiku

Mutiara yang telah hilang
Kembali padaku

Walaupun bukan yang dulu
Yang telah jauh dariku
Tapi dapat melepas rindu
Kesunyian hatiku

Kunjungan dua hari di Palembang membuat saya terkesan. Suatu hari saya ingin mengunjunginya lagi.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 4 Komentar

Dosen Co-pas, Mahasiwa Juga Co-pas

Berita yang sangat memprihatinkan dalam dunia pendidikan tinggi dilansir pada berita berikut: Diduga Mencontek, Ribuan Dosen tak Lulus Sertifikasi. Banyak dosen yang tidak lulus ujian sertifikasi dosen, antara lain penyebabnya karena ketahuan mencontek dengan melakukan copy paste (co-pas) jawaban deskripsi diri dosen lain yang sudah lulus sertifikasi. Berita lain ada di sini.

Dikutip dari tautan berita di atas:

“Sebagian besar para dosen menulis deskripsi diri, mereka mencontek atau ‘copy paste’ dari dosen yang telah lulus sertifikasi,” katanya pula.

Ghufron memperkirakan para dosen yang tidak lulus itu mencontek deskripsi diri dari dosen yang telah lulus sertifikasi dengan harapan bisa lulus juga. Padahal tim sertifikasi memberi perhatian lebih pada keaslian deskripsi diri tersebut.

“Dosen kita itu lihat ada yang lulus langsung mencontek. Padahal itu harus dihindari dan diperingatkan. Menurut saya, besok di situsnya harus diperingatkan kalau ‘copas’ dijamin tak lulus,” kata dia lagi.

FYI, dalam ujian sertifikasi dosen, peserta diminta menulis deskripsi diri dalam untaian kalimat yang panjang lebar, tidak cukup kalimat pendek saja. Untuk lebih jelasnya seperti apa pertanyaanya, silakan baca tulisan saya yang dulu, Pengalaman Mengisi Dokumen Sertifikasi Dosen. Jika jawabanya hanya satu dua kata atau kalimat pendek, pasti tidak lulus.Bagi dosen yang terbiasa menulis atau membuat karangan, maka menjawab pertanyaan semacam itu bukan sebuah kesulitan. Namun, bagi dosen yang tidak biasa menulis, maka itu adalah pertanyaan yang menyiksa. Karena ingin lulus ujian sertifikasi, maka cara-cara tidak hahal pun dilakukan, misalnya meng-copas jawaban temannnya yang sudah lulus ujian sertifikasi sebelumnya.

Padahal, penilai memerlukan jawaban yang menggambarkan deskripsi diri anda, dan itu harus asli, bukan deskripsi orang lain, bukan? Tentu lucu jika anda menyalin deskripsi   teman anda, karena itu tidak menggambarkan deskripsi anda sendiri.

Tentu saja kejadian di atas sebuah ironi. Dosen yang notabene seorang pendidik diharapkan memberi teladan kepada mahasiswanya, dengan melarang mahasiswa  mencontek dalam ujian atau  copas tugas temannya, namun di lapangan justru melakukan perbuatan yang dilarangnya. Maka, jangan heran jika dosennya saja begitu, bagaimana mahasiswanya.

Lebih ironi lagi jika atasan dosen malah membela anak buahnya yang tidak lulus itu, dengan berkata begini (dikutip dari berita di atas):

“Ini sangat merugikan, kami akan memikirkan bagaimana mekanismenya agar para dosen yang tak lulus ini bisa lulus. Tentunya harus melalui serangkaian tes lagi,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu pula.

Bukannya dosen-dosen yang melakukan copas ini diberi sanksi, tapi ini malah diusahakan lulus dengan memberi serangkaian tes lagi. Apa kata dunia pendidikan kalau begitu?

Dipublikasi di Pengalamanku | 4 Komentar

Peringkat PT Indonesia, masih yang itu-itu lagi

Kemenristekdikti tahun 2016 ini mengeluarkan daftar peringkat Perguruan Tinggi di Indonesia. Hasil peringkat untuk dua belas besar perguruan tinggi (dan perbandingan dengan peringkat tahun 2015) diperlihatkan pada gambar di bawah ini (Sumber data dari sini). Baca juga berita: Ini 12 Besar Peringkat Perguruan Tinggi Indonesia 2016).

peringkat-pt-2016

Peringkat dua belas besar PT d Indonesia (Sumber: Kemenristekdikti)

Ada PT yang peringkatnya naik dan ada yang turun. ITB dan UGM stabil peringkatnya, sedangkan sisanya naik turun. Di Jawa Timur Universitas Brawijaya menggeser ITS dan Unair. Di Jawa Barat hanya ITB yang tetap stabil di peringkat pertama, sedangkan Unpad merosot ke peringkat bawah. Hanya ada dua perguruan tinggi di luar Jawa yang masuk 12 besar, yaitu Universitas Andalas Padang dan Universitas Hasanuddin Makassar. Maka, bolehlah dikatakan Unand dan Unhas adalah perguruan tinggi terbaik di luar Jawa dan  berhasil masuk sebagai PT cluster 1.

Kriteria penilaian peringkat tentu saja dapat diperdebatkan, namun Kemenristekdikti telah menetapkan indikatornya. Indikator penilaian peringkat dihitung berdasarkan kualitas dosen (12%), kecukupan dosen (18%), akreditasi (30%), kualitas kegiatan kemahasiswaan (10%), dan kualitas kegiatan penelitian (30%).

indikator

Indikator yang digunakan dalam penilian PT

Nilai terbesar  untuk pemeringkatan adalah dari poin akreditasi dan kegiatan penelitian, masing-masing 30%. Dalam hal ini untuk kasus ITB memang sangat tinggi nilainya untuk kedua indikator tersebut, karena semua Prodinya berakreditasi A. Dari sisi penelitian ITB juga paling tinggi jika dihitung dari jumlah publikasi ilmiah yang terindeks di Scopus (baca: UI dan ITB “Kejar-kejaran””di Scopus).

Nilai-peringkat-2015-3

Peringkatberdasarkan penbelitian

Dari nilai keseluruhan memang ITB berada pada peringkat pertama, tetapi kontribusi terbesar nilai itu diperoleh dari poin penelitian dan akreditasi, sedangkan untuk indikator yang lain tidak terlalu bagus amat. Nilai  yang sangat mencolok adalah dari kualitas kegiatan kemahasiswaan, ITB  di bawah UI, Universitas Brawijaya, dan UGM.

Nilai-peringkat-2015-2

Peringkat berdasarkan kemahasiswaan

Berdasarkan data pemeringkatan tahun 2015 (tahun 2016 tidak tersedia datanya), nilai ITB jauh di bawah UGM untuk indikator kualitas kegiatan kemahasiswaan, ITB 1.9 sedangkan UGM 4.0. Apakah itu berarti kegiatan kemahasiswaan di ITB melempem? Kalau melihat ramainya kehidupan kampus ITB oleh kegiatan unit-unit kemahasiswaan dari sore hingga malam hari, ternyata itu bukan indikasi kualitas kemahasiswaan. Jika diukur dari prestasi kegiatan yang diadakan oleh Kemenristekdikti seperti PKM, PIMNAS, dll, memang ITB jauh di bawah UGM.

Nilai-peringkat-2015

Nilai skor pemeringkatan PT tahun 2015.

Dari hasil pemeringkatan tahun 2015 dan tahun 2016 saya tidak melihat ada kejutan. Kita dapat membaca bahwa perguruan tinggi yang masuk peringkat atas masih yang itu-itu lagi, sebagian besar masih di Pulau Jawa, hanya Unand dan Unhas  dari luar Jawa yang bisa danggap sejajar. Bahkan untuk 20 besar pun semuanya masih PT di Jawa. Sangat sulit bagi perguruan tinggi di luar Jawa bisa bersaing dengan perguruan tinggi di Pulau Jawa. Agak-agak tidak fair juga membandingkan PT di luar Jawa dengan PT di Jawa. Mereka sudah kalah dalam banyak hal, mulai dari segi pendanaan, kualitas SDM, dana riset,  publikasi, dan sebagainya. Menurut saya Pemerintah belum berhasil menaikkan kualitas PT di luar Jawa. Fokus Pemerintah masih PT di Jawa, sedangkan yang di luar Jawa agak terabaikan.

Dipublikasi di Pendidikan, Seputar ITB | 2 Komentar

Berkunjung ke Batam

Minggu lalu saya berkunjung ke Batam dalam rangka konferensi KNSI 2016 yang diadakan di STT Ibnu Sina, Batam. Ini merupakan kunjungan saya kedua kali ke Batam.

Bagi kebanyakan orang Indonesia, Batam identik dengan kota bisnis, karena memang banyak industri nasional dan multinasional di sana. Bagaikan gula yang dikerubungi semut, banyak orang Indonesia pergi mengadu nasib ke sana guna mencari peruntungan hidup. Ada yang berhasil dan ada pula yang gagal. Sungguh keras hidup di Batam.

Pintu masuk utama ke Batam adalah Bandara Hang Nadim. Bandara ini relatif besar, namun arsitekturnya terkesan kurang modern, mungkin karena bandara ini dibangun semasa sebelum tahun tahun 2000.

13895537_1174236905977666_1999254367568008131_n

Bandara Hang Nadim Batam

13902556_1174236565977700_749246336521815775_n

Di dalam Bandara Hang Nadim

Bagi sebagian orang, Batam berarti batu loncatan ke Singapura, karena jaraknya yang sangat dekat, cukup naik Ferry dari beberapa terminal penyeberangan seperti Batam Center, Nongsa, dan Sekupang. Banyak orang Indonesia memilih berkunjung ke Singapura dari Batam karena ongkosnya lebih murah. Jika menginap di hotel di Singapura tentu tarif hotelnya sangat mahal untuk ukuran kantong orang Indonesia. Jadi, cukup menginap di hotel di kota Batam saja, lalu tur sehari ke Singapura, pergi pagi dan pulang malam. Ferry tersedia dari jam 6 pagi hingga pukul 21 malam, begitu pula sebaliknya ferry dari Singapura. Ongkos sekali naik ferry sekitar 250 ribu rupiah. Anda bisa pergi ke Singapura kapan saja asalkan anda punya paspor. Tidak perlu visa ke Singapura karena untuk negara-negara ASEAN tidak dibutuhkan visa.

13903220_1173317159402974_5740167141761940375_n

Terminal ferry Batam Center

13921039_1173317169402973_679970567283265216_n

Ferry di pelabuhan Batam Center

Batam adalah kota dengan tata letak yang teratur, karena kota ini memang dibuat dari awal. Bukan kota yang tumbuh dari kampung kecil seperti halnya kota-kota lain di Indonesia. Karena kota ini didesain dari awal, maka ada pembagian wilayah untuk pemukiman, industri, dan kawasan untuk bisnis serta perkantoran. Jangan heran, kita tidak akan menemukan rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan, kecuali rumah liar, seperti halnya di kota-kota lain di Indonesia. Rumah-rumah penduduk terkonsentrasi agak ke dalam dari jalan raya. Di Batam status kepemilikan tanah umumnya HGB yang dapat diperpanjang setelah 30 tahun.

Sebagai kota bisnis, maka di Batam banyak terdapat mal dan pusat perbelanjaan. Pusat perbelanjaan tidak terkonsentrasi di tengah kota, tetapi tersebar di setiap kecamatan. Jadi, orang tidak perlu berbelanja di pusat kota, cukup di kecamatannya saja.

Batam juga disebut kota sejuta ruko, karena di sepanjang jalan yang kita lihat adalah ruko-ruko, selain hotel dan perkantoran. Ruko-ruko itu banyak juga yang kosong, yang menandakan strategi pembangunan ruko tidak memperhitungkan faktor keramaian.

Jumlah hotel di Batam jangan ditanya lagi, banyak sekali, mungkin ada ratusan jumlahnya dari hotel kelas ruko hingga hotel berbintang. Di kawasan Nagoya misalnya, kawasan yang menjadi pusat kota Batam, di kawasan ini tak terhitung hotel-hotel kecil yang bangunanya mirip ruko. Pesatnya pertumbuhan hotel di Batam didorong oleh ramainya turis Singapura mengunjungi Batam. Setiap akhir pekan orang Singapura berlibur ke Batam. Mereka berbelanja di Batam yang harga barangnya lebih murah dari Singapura, plus menginap di hotel-hotel yang tarifnya termasuk murah untuk ukuran warga Singapura.

Pesatnya pertumbuhan bisnis dan industri di Batam membuat bisnis hiburan malam hidup subur di Batam. Saya melewati ruko-ruko yang menjajakan hiburan karaoke, spa, sauna, dan lain-lain. Cerita sedih yang saya dengar adalah banyak gadis-gadis dari wilayah lain di Indonesia terjerat human trafficking. Mereka diiming-imingi di daerah asalnya bekerja menjadi pelayan restoran di Batam, tak tahunya dijadikan PSK atau wanita pelayan di tempat-tempat hiburan malam itu. Kalau sudah dijadikan pelacur, susah untuk melarikan diri karena tempat-tempat hiburan itu dijaga bodyguard. (Baca: Netty Heryawan Jemput 10 Korban Trafficking).

Berkunjung ke Batam kurang lengkap jika tidak mengunjungi ikon kota Batam, yaitu jembatan Barelang. Jembatan ini menghubungkan Pulau Batam, Pulau Rempang, dan Pulau Galang. Sungkatan ketiga nama pulau itu menjadi Barelang. Di Pulau Galang terdapat bekas-bekas penampunga pengungsi dari Vietnam. Jbatan inilumayan panjang, saya tidak sempat menjelajahi sampai ke ujung karena hari sudah mulai malam.

IMG_20160812_173129

Jembatan Barelang diwaktu sore

Kuliner yang umum di Batam adalah hidangan laut (seafood). Masakan yang terkenal di Batam ini adalah sop ikan, yang dikenal dengan nama sop ikan batam. Sop ikan yang legendaris adalah sop ikan di restoran Hongkie, katanya belum ke Batam jika belum ke Hongkie🙂. Pedagang sop ikan ini rata-rata warga Tionghoa. Sop ikan terbuat dari daging  ikan tenggiri yang direbus dengan bumbu-bumbu sederhana dan sayur sawi. Kuahnya bening, dan untuk sambalnya adalah potongan cabe rawit did alam ekcap asin. Sungguh nikmat jika dimakan dengan nasi. Sop ikan cukup banyak yang  menjualnya, tidak hanya di restoran Hongkie saja.

13882134_1171232822944741_2407416268092455545_n

Sop ikan batam

Di Batam anda yang muslim perlu berhati-hati dalam memilih makanan, karena banyak juga restoran yang menghidangkan masakan tidak halal. Perlu bertanya dulu ke pelayan atau pemilik restoran apakah masakannya halal atau tidak. Biasanya orang Batam sudha tahu tempat-tempat makanan yang halal atau haram.

Batam adalah kota multietnis. Berbagai suku bangsa ada di sana mencari peruntungan nasib. Ada empat etnik yang mendominasi Batam, yaitu Melayu, Batak, Jawa, dan Minang. Orang Minang cukup banyak di Batam, terbukti penerbangan dari Padang ke Batam dilayani oleh tiga maskapai (Citilink, Lion, dan Sriwijaya) dengan frekuensi lima kali sehari. Orang Batak juga banyak, terbukti dari lapo-lapo tuak dan rumah makan batak yang bertebaran, juga gereja-gereja khas Batak sepeti HKBP, gereja Simalungun, dan gereja etnik Batak lainnya banyak terdapat di Batam.

Masjid tidak terlalu banyak ditemukan di jalan-jalan besar, kebanyakan masjid berada di wilayah permukiman. Saya sempat sholat Jumat di sebuah masjid baru yang katanya dibangun oleh Asman Abnur, urang awak yang sekarang menjadi Menteri PAN-RB yang hasil reshuffle. Nama masjidnya Masji Jabal Arafah.

13907179_1172736679461022_4023004547514526231_n

Masjid Jabal Arafah

13906627_1172736666127690_957395145808667331_n

Suasana di dalam Masjid Jabal Arafah. Lengkungan bertuliskan lafal ‘Allah’ di langit-langit masjid

Meskipun Batam bukan ibukota Propinsi Kepulauan Riau (Kepri), namun di Batam terdapat banyak perguruan tingggi. Ibukota Propinsi Kepri sendiri adalah Tanjungpinang yang terdapat di Pulau Bintan. Kota Batam jauh lebih besar dan lebih ramai daripada kota Tanjungpinang. Perguruan tinggi negeri di Batam hanyalah Politeknik Batam, sedangkan perguruanh tinggi swastanya cukup banyak, diantaranya Universitas Batam, Universitas Internasional Batam, Universitas Putera Batam, STT Ibnu Sina, dan lain-lain. Umumnya mahasiswa PT itu berasal dari Batam sendiri, sangat jarang dari luar Batam. Mayoritas mahasiswa adalah karyawan, sehingga perkuliahan diadakan pada sore sampai malam hari selepas jam kerja. Di STT Ibnu Sina yang menjadi tempat penyelenggaraan KNSI, mahasiswa kuliah dari jam 17 sore hingga pukul 22 malam. Hanya di Politeknik Batam mahasiswa kuliah pagi, yang mahasiswanya rata-rata lulusan SMA fresh graduate.

Begitulah pengalaman saya berkunjung ke kota Batam. Kota Batam yang udaranya gerah dan panas memang cocok untuk tujuan bisnis dan tranist ke Singapura.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 1 Komentar

Mengurus Negara Seperti Mengurus RT?

Bagaimana ya menggambarkan kejadian kemarin? Menteri ESDM yang baru, Arcandra Tahar, yang baru saja dilantik tiga minggu lalu, kemarin diberhentikan karena masalah kewarganegaraan. Dia memiliki paspor ganda, paspor RI dan USA. Ketika Arcandra mempunyai paspor USA, maka otomatis status kewarganegaraan WNI-nya hilang, sebab negara RI tidak menganut sistem dwi-kewarganegaraan. Ini artinya selama dua puluh satu hari negara besar RI memiliki menteri seorang warga negara asing. Bahkan, seorang pengamat mengatakan Arcandra sudah tidak punya warganegara lagi sejak mejabat Menteri ESDM.

Siapa yang salah? Mengapa Pemerintah begitu lalai dalam urusan administrasi yang sangat vital ini? Ini kedua kalinya Pak Presiden Jokowi melakukan kesalahan administrasi yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Kesalahan pertama dulu adalah pada kasus yang dikenal dengan I don’t read what I sign. Jokowi membatalkan Kepres yang baru saja dia tanda tangani berkaitan dengan kanaikan tunjangan pembelian mobil buat pejabat, dengan alasan dia tidak mungkin memeriksa satu per satu halaman yang dia tandatangani.

Kita kasihan kepada Arcandra yang menjadi korban kesalahan administrasi penyelenggara negara (anehnya, Pemerintah tidak mau mengakui disebut kebobolan), meskipun dari sisi dirinya juga ada unsur kesalahan karena tidak memberikan informasi yang jujur sebelum dilantik menjadi Menteri bahwa dia memiliki paspor USA selain paspor Indonesia. Tetapi, kita sebenarnya lebih kasihan kepada rakyat Indonesia yang menjadi “korban” dari orang-orang yang mengurus negara ini dengan gaya amatiran.

Satu keputusan dibuat lalu dibatalkan dengan mudahnya. Hey, apakah ini mengurus negara atau  mengurus RT? Jangan-jangan Presiden kita memang tidak punya kapabilitas mengurus negara yang besar ini. Maaf!

Dipublikasi di Indonesiaku | 6 Komentar