Terima Kasih, Rakyat Aceh!

Terimakasih kepada rakyat Aceh yg telah menolong, menyelamatkan, menampung, da memberi makan pengungsi Rohingnya yang malang. Sementara negara masih berpegang pada aturan kaku tentang pengungsi, orang-orang Aceh telah berbuat lebih jauh dengan menyelamatkan mereka yang telah terapung-apung selama berbulan-bulan di laut.

Pengungsi Rohingya asal Myanmar saat terombang-ambing di dekat Pulau Andaman, 14 Mei 2015 (Sumber foto: http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/indonesia/93355-nelayan-aceh-dan-penyelamatan-pengungsi-bangladesh-myanmar?cp_rap_source=yml#cxrecs_s)

Pengungsi Rohingya asal Myanmar saat terombang-ambing di dekat Pulau Andaman, 14 Mei 2015 (Sumber foto: http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/indonesia/93355-nelayan-aceh-dan-penyelamatan-pengungsi-bangladesh-myanmar?cp_rap_source=yml#cxrecs_s)

Orang Aceh yang sering dituding melanggar HAM karena menerapkan syariat Islam, justru merekalah yang pertama menegakkan HAM dengan menolong orang-orang yang teraniaya itu. Nelayan-nelayan Aceh telah menyelamatkan ratusan pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di laut, mereka masakkan makanan di atas kapal untuk para pengungsi yang kelaparan itu, lalu selanjutnya perahu pengungsi ditarik oleh nelayan ke daratan.

Seperti dikutip dari sini:

Saat mereka ditemukan, para pengungsi hanya memakai celana pendek dan kaos singlet. “Kebanyakan dari mereka tidak pakai baju, dan tubuhnya lemas,” kata Marzuki.

Setelah menarik para pengungsi, nelayan mengeluarkan stok air minum dan bahan makanan. Gula dan kue langsung disantap habis oleh para pengungsi yang kelaparan.

Karena tak cukup, para nelayan memutuskan untuk mengeluarkan stok beras dan memasak untuk para pengungsi.

“Butuh waktu sekitar 20-30 menit untuk memasak,” katanya. “Makannya pun di tangan, karena persediaan piring tak cukup.”

Mereka lalu dibawa ke Teluk Langsa dan ditangani kepolisian setempat serta pemerintah daerah.

Cerita mengenai kebaikan nelayan Aceh bagi pengungsi tak hanya sebatas menyelamatkan. Pada gelombang pengungsi sebelumnya, warga Aceh membantu dengan memberikan makanan ke tempat penampungan.

Bahkan ada beberapa warga Aceh yang ingin mengadopsi anak-anak pengungsi.

“Saya benar-benar tulus ingin merawat anak Rohingya. Apalagi mereka adalah warga Muslim. Sesama Muslim, kita harus saling membantu. Apalagi dulu saat konflik Aceh, kita juga pernah merasakan bagaimana penderitaan akibat perang,” kata Ilyas, warga Aceh.

Orang-orang Rohignya adalah etnis yang paling teraniaya di muka bumi karena mengalami diskriminasi akibat dua hal yang disandangnya: etnis dan agama. Mereka dianggap bukan orang Myanmar meskipun nenek moyang mereka sudah ratusan tahun hidup di sana oleh orang Rohingya. Agama mereka juga berbeda dengan agama mayoritas orang Myanmar, yaitu Budha. Oleh Pemerintah Myanmar mereka tidak diakui sebagai warganegara, sedangkan oleh rakyat Myanmar sendiri -dengan disponsori para Bhiksu Budha yang radikal- mereka dimusuhi, diburu, dan dibunuh dengan keji.

Karena tidak tahan dengan perlakuan buruk di negaranya, ratusan ribu orang Rohingya melarikan diri dengan perahu-perahu kayu sederhana. Mereka berbulan-bulan di laut lepas tanpa boleh mendekati daratan. Setiap mendekati daratan suatu negara, perahu mereka ditarik kembali ke laut oleh aparat keamanan negara setempat.

Tapi tidak bagi orang-orang Aceh. Ketika negara-negara di ASEAN menolak pantainya dibanjiri pengungsi yang dibuang di negara asalnya, dan ketika TNI mengembalikan mereka kembali ke laut lepas, sebaliknya nelayan-nelayan Aceh yang hidup sederhana itu justru menerima mereka dengan tangan terbuka.

Adat orang Aceh adalah memuliakan tamu yang datang, kata seorang nelayan Aceh.

Jika kita terlambat datang menolong, mereka semua akan mati, kata nelayan yang lain lagi.

Jadi, bagaimana kita harus berkata kepada rakyat Aceh selain kata terimakasih.

~~~~~~~~~~~~

Baca juga:
1. Menyelamatkan Rohingya: Mengingat kebaikan orang Aceh

2. Ditolak TNI AL, pengungsi Rohingya ditolong nelayan Aceh

3. 672 pengungsi Bangladesh dan Rohingya kembali ditemukan nelayan Aceh

Dipublikasi di Indonesiaku | 4 Komentar

Diskotik Modern di dalam Angkot Kota Padang

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis tentang angkot di kota Padang yang super berisik (baca: Angkot di Kota Padang: Berisik!!!). Nah, tiga hari yang lalu saya pulang ke Padang untuk berziarah ke makam orangtua karena sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Saya naik angkot ke pusat kota, dan kali ini saya menemukan pemandangan yang lebih canggih dan modern dibandingkan bberapa tahun yang lalu.

Naik angkot di Padang sekarang serasa berada di dalam diskotik, full musik yang memekakkan telinga. Dashboard depan boleh butut, tetapi seperangkat sound system lengkap layar monitor komputer dan peralatan sinar lampu kelap-kelip harus modern di dashboard belakang. Cobalah bandingkan dengan sound system angkot beberapa tahun yang lalu seperti tulisan saya terdahulu (lihat tauitan di atas). Sudah berbeda jauh kan?

Sound system dan layar komputer di dashboard belakang angkot.

Sound system dan layar komputer di dashboard belakang angkot.

Supir angkot bertindak seperti disc jockey (DJ), dia mengendalikan lagu yang diputar dari audio player di dashboard depan. Penumpang pun bisa melihat daftar lagu di layar monitor. Penumpang bisa request lagu kalau mau.

Supir mengatur lagu lewat audio player di dashboatrd depan yang butut. File lagu disimpan di dalam flashdisk yang ditancapkan ke audio player.

Supir mengatur lagu lewat audio player di dashboatrd depan yang butut. File lagu disimpan di dalam flashdisk yang ditancapkan ke audio player.

Konon, pemilik angkot di Padang rela mengeluarkan biaya yang mahal untuk hiburan musik di dalam angkotnya demi menarik penumpang. Kalau nggak ada musiknya, anak-anak sekolah nggak mau naik. Pemilik angkot lebih mengutamakan penyediaan sarana hiburan modern di dalam angkotnya ketimbang meremajakan angkotnya atau sekedar memperbaiki dashboard depan yang butut itu.

Persaingan sesama angkot memang sengit di kota Padang.

Dipublikasi di Cerita Ranah Minang | 2 Komentar

Konflik Timur Tengah Laksana Spagheti

Timur Tengah adalah kawasan tempat diutusnya para nabi agama-agama samawi (Islam, Kristen, Yahudi). Seharusnya kawasan ini adalah kawasan yang damai dan diberkahi karena Tuhan menurunkan wahyu-Nya di sini. Namun nyatanya, dari dulu hingga sekarang Timur Tengah adalah kawasan yang penuh konflik berdarah. Konflik semakin rumit bak benang kusut karena melibatkan negara besar seperti Amerika, Rusia, Inggris, dan lain-lain. Negara-negara tersebut memiliki kepentingan utama di Timur Tengah, karena Timur Tengah adalah daerah yang kaya minyak. Oleh karena itu, mereka berlomba menanamkan pengaruh di sana sehingga negara-negara di Timur Tengah akans elalu bergantung kepada mereka, baik secara militer, ekonomi, dan teknologi.

Kusutnya konflik di Timur Tengah (Sumber: https://twitter.com/arissetyawan/status/487122086322659328)

Kusutnya konflik di Timur Tengah seperti spagheti (Sumber: https://twitter.com/arissetyawan/status/487122086322659328)

Konflik yang abadi adalah konflik antara Israel dan Palestina. Israel didukung oleh Amerika dan Inggris, bahkan bagi Amerika Serikat negara Israel adalah anak emas yang selalu dibela dan dilindungi. Negara Israel dulunya tidak ada, tetapi Amerika dan Inggris membuat negara itu di tanah Palestina. Israel senagaja ditanam di Timur Tengah untuk membuat ketidaksatabilan di kawasan itu. Bagi pihak Amerika, jika negara-negara Arab bersatu, maka ini adalah malapetaka sebab jika negara-negara Arab bersatu maka mereka bisa memainkan politik embargo minyak, sesuatu yang ditakuti negara-negara industri yang bergantung pada minyak. Amerika tahu bahwa negara-negara Arab itu memusuhi Israel (karena menduduki tanah Palestina), maka dengan menghadirkan Israel di sana, maka negara-negara Arab itu merasa terancam. Untuk melindungi diri mereka dari serangan Israel (dan juga Iran), negara-negara Arab itu mau tidak mau meminta negara adikuasa (Amerika dan Rusia) untuk melindungi mereka. Negara-negara Arab menjadi tergantung persenjataan militernya dari negara adikuasa. Sebagai imbalannya, negara-negara Arab berbaik hati menyediakan wilayahnya menjadi pangkalan militer negara adikuasa (khususnya Amerika).

Konflik lainnya adalah konfik antara faksi Hamas dan faksi Fatah di Palestina. Ini adalah pertikaian antara dua saudara kandung yang selalu dijaga agar tetap tidak akur. Dengan membuat mereka selalu berkonflik untuk merebut kekuasaan, maka negara Palestina tidak akan pernah terwujud. Bagi Israel, bersatunya Hamas dan Fatah adalah mimpi buruk buat mereka, sebab kekuatan perlawanan terhadap Israel menjadi semakin solid.

Selain dengan Palestina, Israel juga harus menghadapi perlawanan kelompok Hezbollah di Libanon. Kelompok Hezbollah adalah kelompok syiah yang didukung Iran. Tentara-tentara Hezbolah sangat ditakuti Israel karena terkenal dengan militansinya. Israel tidak hanya berhadapan dengan Hezbollah, tetapi juga dengan Iran. Di kawasan Timur Tengah hanya ada dua negara yang kuat secara militer, yaitu Iran dan Israel. Keduanya sellau bermusushan dan saling mengancam.

Konflik berikutnya adalah konflik antara kelompok sunni dan syiah. Pada mulanya konflik ini bermula di Irak, namun merembet hingga ke Suriah hingga timbulnya kelompok militan baru yang kejam bernama ISIS. Konflik pun melebar menjadi urusan negara, karena kelompok syiah didukung oleh Iran. Bagi Arab Saudi dan negera-negara yang bermazhab Sunni, Iran adalah ancaman selain Israel. Paham syiah yang semakin lama semakin kuat (misalnya di Libanon dan Yaman) adalah ancaman terhadap negara-negara penganut sunni. Maka, jika sekarang Arab Saudi dan koalisinya menggempur kelompok Houthi di Yaman, maka sebenarnya perang yang terjadi adalah antara syiah dan sunni, atau antara Iran (di balik layar) dengan negara-negara Arab Saudi.

Fenomena Arab Spring yang bermula di Tunisia lalu merembet ke Mesir, Libya, Suriah, dan negara-negara Arab lainnya ternyata layu sebelum berkembang. Arab Spring yang berawal dari people power di negaranya tidak membuat negara-negara barat happy. Arab Spring mengancam hegemoni raja-raja dan para emir yang selama ini sudah lama berkuasa di negara-negara Arab. Para raja dan emir yang selalu bergantung kepada negara barat sudah berada pada comfort zone. Jika Arab Spring berkembang sehingga menggulingkan kekuasaan penguasa Arab yang otoriter dan korup itu, maka Amerika dan sekutunya merasa terancam keberadaannya di Timur Tengah. Para pendukung Arab Spring sudah lama jengah dengan penguasa negaranya yang selalu tunduk kepada Amerika dan sekutunya. Oleh karena itu, bagi negara barat, fenomena Arab Spring harus “dihentikan” dengan membuat negara-negara yang menikmati Arab Spring tetap dilanda konflik perang saudara (contohnya Mesir yang tetap tidak stabil hingga saat ini).

Yah, begitulah saya memotret konflik di kawasan Timur Tengah yang rumit itu. Yang terjadi di sana tidak lagi perang agama, tetapi perang atas nama kekuasaan. Rakyat di negara-negara di kawasan itu menjadi korban pertikaian yang tidak berkesudahan. Sementara kita yang berada di Indonesia hanya bisa menonton dari jauh, tidak bisa berbuat apa-apa. Kita, khususnya ummat Islam di Indonesia, tetap memasang mata dan telinga memantau suasana di Timur Tengah. Rasa empati pada negara-negara Arab di sana adalah wajar, bagaimanapun tanah suci ada di kawasan itu, ke sanalah ummat Islam Indonesia pergi ziarah, umroh dan hajji. Jika kawasan itu selalu dilanda konflik, maka ziarah ke tanah suci bisa terhalang.

Dipublikasi di Dunia oh Dunia | 4 Komentar

Mau Jadi Dokter kok Berbuat Curang?

Polisi di Malang baru-baru ini menangkap beberapa orang joki dan calon mahasiswa yang mengikuti Ujian Masuk Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiayah Malang. Modus jokinya sungguh canggih, yaitu menggunakan chip yang ditempel di gendang telinga.

Peserta ujian memotret soal dengan kamera ponsel yang disembunyikan di balik kotak pensil yang terbuat dari kain. Foto soal tersebut di kirim ke server di Yogyakarta. Seseorang di sana mengerjakan soal ujian, lalu jawabannya dikirim ke ponsel peserta ujian yang diselipkan di selangkangan. Dari ponsel tersebut ada kabel yang dihubungkan ke chip di gendiang telinga untuk mendengarkan jawaban dalam bentuk kode. Chip adalah rangkaian elektronik yang berukuran mikro yang memiliki memori untuk menyimpan data dan program.

Seperti dikutip dari sini:

Kecanggihan perangkat bisa dilihat dari cara curang peserta tersebut, yakni dengan mendengarkan jawaban dari joki. Mirip film James Bond atau Mission Impossible, calon mahasiswa diberi semacam chip yang dimasukkan ke gendang telinga.

“Sampai sekarang chip-nya masih di gendang telinga mereka, belum kami ambil,” ujar Wahyu.

Dia mengatakan, mereka sempat diperiksa dokter saat di UMM. Menurut dokter, chip tersebut tidak bisa diambil sembarangan. Chip harus ditarik dengan magnet.

Modus joki di UMM (Sumber: Kompas)

Modus joki di UMM (Sumber: Kompas)

Tidak tanggung-tanggung bayarannya. Setiap peserta harus membayar Rp 120 juta sampai 160 juta. Biaya itu harus dilunasi apabila peserta sudah dinyatakan lulus masuk Fakultas Kedokteran UMM. Dari tarif yang sangat mahal itu, pastilah dapat diduga calon mahasiswa yang menggunakan joki adalah anak orang kaya.

Membaca kasus perjokian yang canggih tersebut, saya hanya bisa mengurut dada. Kok ada ya orang yang mau melakukan tindakan yang gegabah dan beresiko. Gegabah karena mau-maunya orang dipasang chip di gendang telinga, apa tidak khawatir gendang telinganya rusak. Saya yakin, yang memasang chip di gendang telinga tersebut bukan sembarang orang, tetapi orang yang ahli, minimal seorang dokter THT.

Tindakan ini bersiko, sebab jika ketahuan maka pelakunya pasti ditangkap karena termasuk perbuatan kriminal. Jika pelakunya adalah mahasiswea ITB, maka hukuman DO sudah menanti sebab ini perbuatan yang mencoreng integritas institusi, selain tentu saja hukuman pidana di pengadilan (baca: Menjadi Joki = Menceburkan Diri ke Lubang DO).

Namun yang membuat saya lebih mengurut dada adalah perbuatan curang calon dokter yang mengikuti ujian ini. Profesi dokter adalah profesi yang menyangkut nyawa manusia. Apa jadinya jika dokter bukanlah orang yang tidak kompeten, yaitu orang yang secara akademis sebenarnya tidak sanggup. Mereka tidak layak menjadi dokter karena lulus masuk kedokteran (jika tidak ketahuan) bukan dari kemampuan otak sendiri, tetapi dari kemampuan otak orang lain (joki). Jangan-jangan kasus malpraktek yang sering terjadi di negeri ini berasal dari dokter-dokter yang tidak kompeten tersebut.

Tidak hanya itu, calon dokter yang telah mengorbankan uang yang tidak sedikit untuk masuk kedokteran (menggunakan joki) mungkin nanti setelah menjadi dokter akan berpikir bahwa dia sudah berkorban banyak mengeluarkan biaya, maka jangan harap ada rasa empatinya terhadap orang miskin yang tidak mampu membayar dokter. Dia mungkin berpikir harus “balik modal” dengan menetapkan tarif dokter yang mahal.

Tiada maaf buat joki, tiada maaf bagi calon mahasiswa yang memakai joki.

Dipublikasi di Indonesiaku, Pendidikan | 4 Komentar

Sedekah dengan Ikhlas Hati (Bersedekah Tidak Akan Membuatmu Miskin)

Ketika anda didatangi pengemis, anda merogoh kantong dan mencari uang kecil. Jika tidak ada uang kecil di kantong, anda memeriksa dompet. Ada uang lima ribuan, uang sepuluh ribuan, dan uang dua puluh ribuan di dalam dompet tersebut. Anda mungkin berpikir terlalu sayang memberi pengemis tersebut uang lima ribu atau sepuluh ribu. Seribu saja sudah cukup.

Anda berpikir keras untuk memberinya atau tidak. Jika anda sayang pada uang anda, maka anda mengibaskan tangan ke pengemis sebagai tanda maaf. Namun jika anda ikhlas, anda merelakan uang lima ribu (atau sepuluh ribu) tersebut untuk si pengemis. Si pengemis tentu sangat bergirang hati karena mendapat uang sedekah yang besar dari anda, dan anda pun tidak menyesali karena anda suda mengikhlaskan uang tersebut.

Bagaimana ketika anda sholat Jumat di masjid, lalu didepan anda diedarkan kotak amal untuk diisi sedekah/infaq seikhlasnya. Beberapa orang tampak tidak mengisi kotak tersebut, mereka mendorongnya ke jamaah sebelahnya. Hmmm…berbaik sangka sajalah, mungkin mereka memang tidak membawa uang sama sekali, atau mungkin karena tidak mempunyai uang kecil, atau mungkin juga karena enggan mengeluarkan infaq.

Semua sikap di atas manusiawi. Banyak orang yang merasa sayang untuk mengeluarkan sedekah kepada fakir miskin, anak yatim, badan amal, dan sebagainya. Di dalam Quran sifat orang demikian disebutkan sebagai “tangan terbelenggu”. Ketika ada yang meminta sedekah, hati mereka mengikat tangan untuk tidak memberi.

Ketahuilah, bersedekah tidak akan membuat kita jatuh miskin. Allah sudah menjanjikan untuk mengganti sedekah kita sepuluh kali lipat. Mungkin digantinya tidak sekarang, mungkin nanti suatu hari. Mungkin tidak diganti dalam bentuk uang, tetapi mungkin dalam bentuk yang lain. Jika tidak di dunia memperolehnya, mungkin nanti balasannya di akhirat. Dasarnya ada pada Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 160 dimana Allah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang beramal sholeh (bersedekah adalah salah satu amal sholeh):

Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). QS. Al-An’am : 160

Kuncinya adalah melakukan sedekah itu dengan hati yang ikhlas, terserah berapapun besarnya. Semua amal sholeh pada dasarnya memerlukan niat ikhlas. Jika tidak ikhlas, maka amalan itu hanya menjadi sia-sia, seperti cerita lucu d bawah ini (saya peroleh dari jejaring sosial):

Seorang anak muda duduk di masjid menunggu khutbah Jumat. Dia melihat dengan tidak begitu ramah kepada kotak amal yang didorong ke arahnya.

Dia membuka dompetnya & memilih-milih uang yg terkecil untuk amal. Dengan berat hati dia memasukkan selembar uang Rp. 1.000,-an ke kotak amal.

Sebelum dia mendorong kotak itu ke sebelah, seorang bapak tua di belakang menepuk pundaknya & memberikan dua lembar uang Rp. 100.000.-an.

Sang anak muda tertegun heran, tapi segera memasukkan dua lembar uang tersebut ke kotak amal. Lalu mendorong kotak amal ke jamaah berikutnya.

Dia menoleh ke bapak tua tersebut..
“Kebanyakan atuh Pak? Seribu aja udah cukup, kan sayang?”

Sang bapak tua hanya tersenyum & menggeleng ramah..
“Bukan gitu dik, itu tadi uang adik yang jatuh dari dompet, mau saya balikin ke adik.”

Tentu kita tidak ingin rugi dua kali. Rugi karena telah “kehilangan” uang yang besar, dan rugi tidak mendapat pahala karena bersedekah tanpa kekihlasan hati.

Dipublikasi di Agama, Makanan enak, Renunganku | 5 Komentar

Pensiun (2)

Tahun depan makin banyak senior saya akan menjalani masa purnabakti (istilah halus untuk kata pensiun). Saya hitung-hitung ada tiga orang dosen senior akan pensiun dalam tahun yang sama (tahun 2016). Kemudian, satu atau dua tahun kemudian bertambah lagi satu atau dua orang yang pensiun. Jika dihitung-hitung dengan tiga orang dosen yang sudah purnabakti dalam lima tahun sebelumnya, maka jumlah dosen yang lebih senior dari saya makin sedikit saja. Ini berarti saya dan beberapa orang teman akan beralih “status” menjadi dosen senior di lingkungan akademik saya.

Memasuki masa purnabakti adalah hukum alam yang tidak bisa ditolak. Usia akan terus merambat naik, masa kejayaan seseorang perlahan mulai sirna. Cepat atau lambat dia harus meninggalkan dunia pekerjaan yang sudah ditekuninya selama puluhan tahun. Generasi baru siap menggantikan perannya. Begitulah siklus hidup manusia yang berlangsung terus menerus, sudah sunnatullah sesuai yang digariskan oleh-Nya.

Dosen dan guru, khususnya yang berstatus pegawai negeri, memiliki keistimewaan dalam usia pensiun dibandingkan pegawai non-akademik maupun pegawai departemen lainnya di Indonesia. Jika pegawai biasa pensiun pada usia 55 tahun (sekarang diubah menjadi 58 tahun), maka guru pensiun pada usia 60 tahun. Usia pensiun dosen lebih lama lagi, yaitu 65 tahun. Kalau dosen tersebut memiliki jabatan akademik profesor, maka profesor pensiun pada umur 70 tahun.

Pegawai non-akademik (administrasi) pensiun pada usia 55 tahun, belakangan diperpanjang menjadi 58 tahun karena umur 55 tahun sebenarnya masih produktif. Masa persiapan purnabakti (MPP) adalah satu tahun, jadi tepat pada usia 56 tahun ia sudah berstatus pegawai purnanakti. Selama MPP itu jadwal kerjanya lebih fleksibel, ia boleh masuk kerja, atau boleh tidak masuk, namun gaji PNS nya tetap jalan terus. Di lingkungan akademik di kampus saya, ada fenomena pegawai administrasi tidak ingin mengambil jatah maksimal usia pensiun. Pada umur 55 tahun mereka sudah mengajukan pensiun, meskipun masa MPP masih satu tahun lagi. Bahkan ketika usia pensiun diperpanjang menjadi 58 tahun, mereka tetap ingin pensiun lebih awal. Mereka sudah ingin istirahat di rumah saja, ingin bermain dengan cucu, merawat tanaman, memperbanyak ibadah, atau menunaikan umroh, dan lain-lain.

Pekerjaan administrasi pendidikan yang berat adalah salah satu penyebabnya, selain masalah psikologis karena tekanan dari dosen yang karakternya bermacam-macam. Tahukah anda, bahwa mengurus nilai mahasiswa, mengurus surat-surat, mengatur penjadwalan seminar dan sidang Tugas Akhir, dan lain-lain merupakan pekerjaan yang menyita waktu. Ada ratusan mahasiswa dan kepentingan puluhan dosen yang harus dilayani. Tidak jarang pegawai administrasi lembur malam di kantor atau di rumah. Seorang pegawai administrasi bercerita kepada saya bahwa dia terpaksa membawa pulang pekerjaan ke rumah, menyimpan semua data ke dalam flash disk, lalu melanjutkan pekerjaan yang belum selesai pada malam hari di rumah. Dengan usia yang sudah di atas kepala lima, tentu tenaganya sudah tidak fit lagi kerja lembur di rumah. Oleh karena itu, ketika tiba masa MPP, dia langsung minta istirahat di rumah dan enggan ke kantor lagi.

Fenomena ini berbeda dengan dosen. Kalau saya perhatikan, banyak dosen yang sudah memasuki masa purnabakti, namun masih tetap betah ngantor ke kampus. Meja kerja mereka belum disingkirkan, dibiarkan tetap seperti biasa, atau ruang kerjanya tetap di sana. Ada perasaan segan di kalangan dosen yunior menyingkirkan meja kerja dosen purnabakti. Mereka adalah dosen senior yang sangat dihormati, yang telah ikut andil mengisi kapasitas keilmuan si yunior. Karakter orang Timur memang begitu, menghormati orang tua. Oleh karena itu, selama meja itu belum ada dosen baru yang mengisinya, maka ia tetap dibiarkan di situ. Dosen purnabakti itu masih sering mengunjungi ruang kerjanya, sekedar duduk bercerita, membuka komputer, atau melakukan pekerjaan apapun yang dapat dilakukannya. Pengabdiannya selama puluhan tahun di kampus tidak bisa dilupakan begitu saja. Maka, pihak dekanat tidak pernah mengusik barang-barang mereka, atau melarang mereka menggunakan fasilitas di kampus. Ini berbeda jika anda adalah pegaweai administrasi di kantor lain, begitu anda pensiun maka semua barang-barang anda disingkirkan, meja anda diisi oleh orang baru.

Pada masa-masa sebelumnya, dosen yang sudah purnabakti masih dikaryakan oleh kampus untuk mengajar satu dua mata kuliah, atau membimbing tugas akhir, tesis atau disertasi. Mungkin karena ilmunya masih dibutuhkan atau belum ada penggantinya. Mereka disebut dosen luar biasa, kalau mereka profesor maka disebut profesor emiritus. Ada kebahagiaan yang terpancar pada dosen-dosen purnabakti itu ketika merasa dirinya masih dibutuhkan. Bukan uang yang dikejar, tetapi kepuasan batin yang dicari. Setiap orang di mananpun di dunia pasti merasa dirinya dihargai kala tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan orang, bukan?

Namun sekarang, peraturan selalu berganti-ganti. Dosen yang sudah purnabakti tidak bisa mengajar atau membimbing lagi oleh kampus kami. Tugasnya dianggap sudah selesai. Saya tidak tahu alasannya, apakah karena pertimbangan anggaran atau apa. Yang jelas saya melihat ada raut kekecewaan pada wajah mereka ketika diberitahu tidak boleh mengampu mata kuliah lagi. Padahal, kalau diperbolehkan, mereka masih ingin dikaryakan kembali selama beberapa tahun sampai mereka memang sudah tidak kuat lagi datang ke kampus. Bagi saya yang mempunyai jalan pikiran bebas, selagi dosen purnabakti tersebut masih bersedia mengajar atau membimbing, apa salahnya dikaryakan. Apalagi di lingkungan akademik kami jumlah dosen masih relatif kurang, jatah dosen PNS tiap tahun hanya satu dua orang, sedangkan yang pensiun mulai banyak, maka keberadaan dosen purnabakti masih diperlukan.

Entahlah, suatu hari nanti saya pun akan memasuki kondisi serupa, purnabakti. Saya belum tahu bagaimana kondisi nanti, namun yang sudah pasti saya akan terus menulis selama hayat dikandung badan.

Dipublikasi di Seputar ITB | 3 Komentar

Kasihan Zainal Abidn

Diantara delapan orang terpidana mati kasus pengedaran narkoba yang diekselusi mati di Nusakambangan hari Rabu dinihari yang lalu, hanya terdapat seorang dari bangsa kita sendiri, yaitu Zainal Abidin. Tujuh lainnya berasal dari Australia, Brazil, Ghana, dan Nigeria. Pemberitaan tentang Zainal Abidin tidak segencar Mary Jane dari Filipina yang lolos dieksekusi malam itu (hukuman matinya ditunda). Pada detik-detik terakhir menjelang eksekusi, Pemerintah Filipina berhasil meyakinkan Pemerintah RI bahwa Mary Jane adalah korban perdagangan manusia. Pelakunya sendiri telah menyerahkan diri di Filipina. Tidak pelak penundaan mati Mary Jane menjadi kehebohan dunia. Rakyat Filipina bersuka cita. Tagar di Twitter ramai men-twit tentang penundaan itu.

Zainal Abidin (tengah) (sumber foto: Jawa Pos)

Zainal Abidin (tengah)
(sumber foto: Jawa Pos)

Tidak hanya Filipina, Australia, Perancis, dan Brazilia termasuk negara yang all out membela warganya agar lolos dari hukuman mati. Bagaimana dengan Zainal Abidin? Dia sama sekali terabaikan oleh negaranya sendiri, tidak ada pembelaan dari Pemerintahnya. Bahkan, pemberitaan tentang dirinya tidak banyak dan tidak segencar dua Bali Nine sebelum pelaksanaan eksekusi. Dia seolah-olah dianggap memang pantas dihukum mati. Bahkan pada saat matinya pun tidak ada keluarganya yang datang ke Nusakambangan berhubung tidak punya biaya ke sana. Dia pun dikubur di Nusakambangan karena Gubernur Sumatera Selatan (daerah asal Zainal Abidin) menolak jasadnya dimakamkan di kampung halamannya.

Seperti dikutip dari sini, Koordinator Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar bingung dengan sikap masyarakat tersebut. Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih perhatian kepada salah satu warga negaranya yang juga terancam hukuman mati, Zainal. Karena dari semua terpidana mati nasib Zainal paling menyedihkan.

“Kasihan Zainal Abidin, ternyata dia satu-satunya orang Indonesia tapi malah dia enggak jelas proses hukumnya. Enggak jelas siapa lawyer-nya. Dan keluarganya malah tidak ada yang muncul. Terakhir-terakhir dia malah ditolak untuk dikubur (di Palembang),” ungkapnya.

Yang membuat saya terhenyak adalah membaca berita tentang berkas Peninjauan Kembali (PK) kasusnya yang terselip di PN Palembang selama 10 tahun tanpa diproses. Seperti yang dikutip dari sini, berkas permohonan PK telah dikirimkan Pengadilan Negeri (PN) Palembang pada 5 Mei 2005. Tapi pihak PN Palembang baru mengirim ke MA pada 10 tahun setelahnya. PK ini dikirim PN Palembang dengan surat pengantar nomor W6.U1/188/Pid.01/2015. Perkara PK Zainal Abidin diregistrasi dengan nomor perkara 65 PK/Pid.Sus/2015 pada tanggal 8 April 2015 dan distribusi berkas ke Majelis Hakim PK dilakukan pada tanggal 21 April 2015 dan majelis hakim memutus perkara tersebut pada tanggal 27 April 2015.. Berita lainnya dapat dibaca di sini.

Itu artinya tanggal 27 April adalah dua hari sebelum pelaksanaan hukuman mati terhadap dirinya. Selama sepuluh tahun hak hukumnya tidak dipenuhi, sekarang dia sudah terlanjur tewas di-dor. Benar-benar gegabah sitem peradilan di negara kita.

Sebenarnya pada pengadilan tingkat pertama di Palembang, Zainal Abidin “hanya” mendapat hukuman 15 tahun. Tetapi, Zainal Abidin melakukan banding ke pengadilan tinggi. Celakanya upaya bandingnya itu justru memperberat hukumannya menjadi hukuman mati. Upayanya melakukan Penijauan Kembali justru tidak kunjung mendapat balasan. Rupanya berkas PK-nya terselip di PN Palembang selama 10 tahun.

Saya tidak menentang hukuman mati, tetapi seharusnya pelaksanaannya dilakukan dengan sangat hati-hati, karena ini menyangkut nyawa manusia. Kejaksaan Agung harus teliti dengan cermat sampai semua proses hukum terpidana sudah dipenuhi.

Sekarang Zainal Abidin sudah mati, nyawanya tidak bisa dikembalikan lagi. Negara sudah bertindak zalim dengan mengabaikan hak hukumnya selama sepuluh tahun.

Dipublikasi di Indonesiaku | 5 Komentar