Kenangan pada Sriwijaya Air

Awal tahun 2021, tepatnya tanggal 9 Januari 2021, bangsa Indonesia dikejutkan oleh kecelakaan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan kode SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Baru mengudara 4 menit setelah take off dari Bandara Soekarno Hatta, pesawat itu jatuh menghunjam laut. Hingga hari ini pencarian korban (yang kemungkinan besar tewas semua) masih berlangsung di tengah hujan yang selalu mengguyur setiap hari. Duka mendalam bagi para keluarga korban, insya Allah penumpang yang tewas itu mati dalam keadaan syahid.

Inilah salah satu dari lima kecelakaan pesawat terburuk di Indonesia (Baca: Sriwijaya Air Jatuh, Ini 5 Kecelakaan Pesawat Terburuk di Indonesia). Saya yang sudah 10 bulan lebih tidak pernah terbang lagi karena pandemi corona, sehingga tidak bisa (dan tidak mau) pergi ke mana-mana, tetap ada perasaan bergidik setiap kali mendengar ada pesawat terbang jatuh. Namun seperti yang pernah saya tulis dulu, kalau sudah berada di atas pesawat, maka total seluruhnya saya berserah diri dan memasrahkan diri kepada Allah SWT semata, memohon keselamatan dan perlindungan di dalam perjalanan. Hidup dan mati sudah ditentukan waktunya oleh Allah Yang Maha Kuasa. Saya kutip quote dari foto profil pilot SJ-182 yang jatuh itu, Captain Afwan, yang menginspirasi:

“Setinggi apapun aku terbang, tidak akan mencapai surga bisa tidak shalat lima waktu”

Gambar dan kutipan diambil dari sini. Artikel lainnya bisa dibaca di sini.

sriwijaya0
Tulisan pada foto profil akun whatsapp kapten pilot Afwan. Sumber gambar dari sini

Saya terkenang naik pesawat ini. Dulu sebelum pandemi saya cukup sering naik pesawat Sriwijaya Air, baik kalau pulang kampung ke Padang, atau jalan-jalan bersama keluarga ke tempat wisata yang penerbangan ke kota tujuannya dilayani oleh Sriwjaya Air (antara lain ke Malang dan Tanjungpandan, Belitung), atau kalau transit ke Jakarta dari Bandar Lampung. Saya mengajar menjadi dosen terbang di ITERA Lampung.  Saat balik, jika tidak naik pesawat Wings Air yang ke Bandung, biasanya saya naik Garuda atau Sriwijaya ke Jakarta. Barulah dari Jakarta saya naik travel ke Bandung.  

sriwijaya1

Pesawat Sriwijaya Air sedang boarding

sriwijaya3

Bandara Radin Inten II, Lampung Selatan

Dibanding Lion Air, pelayanan Sriwijaya Air menurut saya jauh lebih baik meski keduanya sesama low cost carrier.  Dari pengalaman saya terbang, Sriwijaya delay-nya tidak sesering/selama Lion, kita pun dapat makanan ringan dan minum di dalam pesawat (layanan ini tidak ada pada maskapai low cost carrier lainnya), pramugarinya pun ramah-ramah. 

Namun satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah kebijakan maskapai ini yang  membuat saya simpati. Pemilik Sriwijaya Air (seorang Tionghoa dermawan asal Pulau Bangka) membebaskan pramugarinya memakai seragam sesuai keyakinan agamanya, yaitu memakai busana muslimah (jilbab).

Kebijakan ini menurut saya sesuatu yang mungkin agak sulit terjadi di maskapai lain. Ketika saya naik Sriwijaya Air dari Bandar Lampung, beberapa orang pramugarinya tampak mengenakan jilbab. Mereka terlihat charming, rapi, cantik, dan elegan memakai seragam pramugari Sriwijaya dalam balutan jilbabnya. Memakai busana muslimah tidak menghalanginya untuk tetap gesit membantu penumpang mengangkat koper ke dalam kabin, menutup bagasi kabin, membagikan snack, dan melayani  permintaan penumpang.

sriwijaya2

Saya mengapresiasi kebijakan maskapai ini yang memperbolehkan pramugarinya memakai busana muslimah. Menurut saya pemilik dan manajemen Sriwijaya Air memiliki jiwa yang bhinneka tunggal ika dan menghayati betul Pasal 29 UUD yang menghormati setiap orang memeluk agama masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Semoga musibah yang baru terjadi tidak menyurutkan orang untuk naik pesawat. Pesawat terbang merupakan mode tranportasi yang paling aman dari segi keselamatan. Kecelakaan yang terjadi pada pesawat jauh lebih sedikit dibandingkan dengan mode transportasi darat (bus, mobil, kereta api) dan laut (kapal penumpang, ferry, perahu). Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, setiap kali kita bepergian, pasrahkan diri dan serahkan diri kepada Allah SWT saja.

Dipublikasi di Indonesiaku | Meninggalkan komentar

Bapak Penjual Tahu Sumedang (2)

Tahuuu…..

Setiap pagi bapak penjual tahu sumedang lewat di depan rumah saya. Dia memikul dua buah ketiding bambu (apa ya Bahasa Indonesianya?). Satu ketiding berisi penuh tahu goreng, satu ketiding lagi berisi lontong. Di kota besar seperti Bandung masih cukup banyak pedagang yang berjualan makanan dengan cara dipikul secara tradisionil pada bahu seperti itu.

tahu1

Selain tahu dan lontong, dia juga menambah jualannya dengan membawa telur asin, kerupuk-keripik, dan camilan-camilan lain dari Sumedang. Sesak sekali pikulannya. Tentu berat sekali.

+ Wah, berat sekali ini, Pak. Berapa kilo berat semuanya?
Awalnya 40 kg, tapi berkurang terus setiap ada yang beli.
Sudah berapa tahun jualan seperti ini, Pak?
+ Sudah 30 tahun lebih pak, sejak Antapani ini masih sawah-sawah, belum perumahan seperti sekarang.

Tahu yang dijualnya didatangkan langsung dari Sumedang. Sumedang terkenal dengan tahunya yang khas. Tahu-tahu itu dipasok dari juragan tahu di Sumedang. Dia hanya menjualkan saja secara keliling, masuk kampung keluar kampung. Tapi dia memang tinggal di Sumedang, bolak balik ke Bandung.

+ Dari Sumedang ke Bandung naik apa, Pak?
Naik colt buntung, Pak
+ Kalau tahunya tidak habis dalam satu hari bagaimana?
Kalau tidak habis saya menginap dulu di mess yang disediakan juragan.

Juragan tahu menyediakan mess bagi penjual tahunya di daerah Bandung Timur. Para penjual tahu menginap di sana. Setiap pagi pasokan tahu goreng datang langsung dari Sumedang. Seminggu sekali mereka pulang ke Sumedang membawa penghasilan berjualan tahu, kemudian kembali lagi ke Bandung. Profesi ini sudah dilakoninya selama 30 tahun! Itu artinya sejak saya datang ke kota Bandung ini.

Saya sampai hampir lupa membeli tahunya karena asyik mengobrol.

+ Berapa harga tahunya, Pak?
Biasa, sepuluh lima ribu.
+ Saya beli dua puluh ya

Tahu Sumedang dan uang sepuluh ribu berpindah tangan. Cocok untuk teman sarapan pagi dengan nasi hangat.

tahu2

Saya selalu bersimpati kepada orang-orang kecil yang gigih mencari nafkah secara halal. Betapa berat beban yang dia pikul, tetapi keikhlasan tampak di matanya. Orang-orang seperti ini berjuang mencari rezeki untuk keluarga yang ditinggalkannya.

Saya jadi teringat almarhum ayah saya. Setiap hari, usai sholat Subuh, ia berjalan kaki menuju terminal bus. Bapak saya adalah penjual daging sapi. Daging sapi itu dibelinya di luar kota, awalnya di Lubuk Alung, lalu di Padangpanjang, kemudian di Bukittinggi. Daging-daging segar itu dibeli di sana, lalu dibawa lagi ke Padang sebelum hari siang dengan menggunakan bus umum. Di Padang daging sapi itu dijual ke pedagang sate atau dijual ke pedagang daging di los  Pasar Raya Padang.

Hal itu dilakukannya setiap hari untuk nafkah keluarga kami, tidak peduli hari hujan sekalipun subuh-subuh ayah saya sudah berangkat dari rumah. Dari perbedaan harga beli dan harga jual itulah ayah saya mendapat sedikit keuntungan membiayai sekolah saya dan kakak-kakak saya, hingga saya bisa berkuliah di Bandung. Saya bisa seperti sekarang adalah karena perjuangan ayah saya yang rela berjualan setiap hari. Alfatihah buat almarhum ayah dan ibu saya. Amiin.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | Meninggalkan komentar

Menanti Panggilan Kerja

Setiap pagi para pekerja serabutan duduk menanti di Jalan Indramayu, Antapani, Bandung. Mereka adalah buruh-buruh kuli yang umumnya berasal dari kampung yang sama di Majalengka, sebuah kabupaten di bagian timur Jawa Barat. Mereka datang ke Bandung jika di kampung tidak ada orderan menggarap sawah, karena mereka umumnya tidak memiliki sawah.

kuli
Saat musim panen dan awal musim tanam di kampung, mereka pulang kembali ke kampungnya menggarap sawah milik juragan. Setelah itu mereka balik lagi ke Bandung mencari penghasilan sebagai buruh serabutan.  Di Bandung buruh-buruh tersebut menginap di saung-saung, emperen kantor pos, atau mengontrak kamar ramai-ramai.

Sekali sebulan atau dua bulan sekali mereka pulang ke kampungnya mengantarkan hasil jerih payah untuk belanja anak dan istrinya. Hasil menguras tenaga selama menjadi kuli serabutan di Bandung diserahkan kepada istrinya. Pada umumnya mereka adalah para suami yang setia.

Modal kerja mereka hanyalah cangkul, parang, dan pikulan beban. Tiap pagi buruh-buruh ini menunggu panggilan warga yang membutuhkan tenaganya untuk membersihkan kebun, taman, halaman rumah, angkut-angkut bahan bangunan, angkut barang, angkut galian, dll. Jika tidak ada panggilan kerja, mereka berkeliling kompleks perumahan, berharap siapa tahu ada warga yang memerlukan tenaganya.

kuli2Tidak ada tarif yang pasti berapa bayaran untuk buruh kuli ini, tergantung kesepakatan pemberi kerja dengan mereka. Yang jelas kita harus dapat mengukur berapa volume kerjanya dan apa saja yang harus dikerjakan sehingga kita dapat memperkirakan ongkosnya.

Saya sendiri sering menggunakan buruh kuli ini untuk membersihkan halaman rumah dan kebun/taman di seberang rumah. Yah hitung-hitung membantu mereka dengan memberi kerjaan. Tidak hanya saya beri uang jasa, tetapi juga makan. Alangkah senangnya mereka mendapat kerjaan.

Mereka yang duduk-duduk pada pagi hari itu mungkin juga sedang menunggu orang-orang yang ingin memberi sedekah sarapan . Hampir setiap hari hari, khususnya pada hari Jumat, ada saja orang baik yang mendrop nasi bungkus buat mereka.

Semoga mendapat rezeki yang barokah untuk keluarganya.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 1 Komentar

Majalah Udaraku

Saya punya koleksi yang unik, yaitu koleksi majalah-majalah udara, majalah yang disediakan di atas pesawat selama penerbangan (inflight magazine). Majalah-majalah tersebut berasal dari berbagai maskapai penerbangan yang berbeda-beda yang pernah saya naiki, baik maskapai dalam negeri maupun maskapai luar negeri. Umumnya majalah-majalah tersebut terbit setiap bulan. Jadi setiap bulan ada edisi barunya.

Foto pertama adalah majalah “Colours” dari Garuda Indonesia, majalah “linkers” dari Citilink (anak perusahaan Garuda). Lalu majalah dari Lion Group, yaitu “Lionmag” dari Lion Air, majalah “Batik” dari Batik Air, majalah “Wings” dari Wings Air. Kemudian majalah “Sriwijaya” dari Sriwijaya Air, dan majalah “Xpressair” dari Xpress Air.

Majalah1
Foto kedua adalah majalah-majalah yang maskapainya sekarang sudah tidak ada lagi atau tidak terbang lagi, yaitu majalah dari Batavia Air, Tiger Airways, dan Merpati Nusantara Airlines. Ada satu lagi maskapai yang pernah saya naiki tetapi tidak sempat mengkoleksi majalahnya yaitu Adam Air. Adam Air ini dihentikan operasinya tidak lama setelah pesawatnya jatuh di Selat Makassar ketika terbang dari Surabaya ke Manado.

Majalah2
Foto ketiga adalah majalah dari maskapai asing yaitu majalah “going places” dari Malaysia Airlines, majalah “3sixty” dari Air Asia, majalah “Heritage” dari Vietnam Airlines, majalah “Morningcalm” dari Korean Air, majalah “Ahlan Wasahlan” dari Saudi Arabia Airlines (Saudia), dan majalah “Sawasdee” dari maskapai Thai Airways yang baru-baru ini mengalami kebangkrutan akibat pandemi corona.

Majalah3
Majalah2 tersebut ada yang gratis (dapat dibawa pulang) seperti majalah Colours dari Garuda Indonesia, ada pula yang hanya untuk dibaca di tempat. Untuk kategori yang terakhir biasanya saya minta izin kepada pramugari saat akan turun dari pesawat. “Mbak,minta satu majalahnya ya untuk dibaca-baca“, pinta saya saat keluar pintu pesawat. “Oh, silakan, Pak“, kata pramugari tersebut ramah. Namun pernah juga pramugari tidak mengizinkan dibawa pulang, nah kalau begitu ya tidak saya bawa.

Ada cerita yang menarik saat saya lupa minta izin kepada pramugari ketika membawa majalah turun dari pesawat (lupa minta 🙂 ). Tiba di darat lalu saya kirim surel kepada redaksinya dan minta izin sudah membawa majalah udaranya. Apa jawabnya? Eh, malah saya dikirimi via pos setumpuk majalah udara maskapainya edisi 6 bulan berturut-turut. Itu dari Xpress Air. Tampaknya mereka senang dengan perhatian saya pada majalah udaranya.

Berhubung dulu saya sangat sering naik pesawat, maka jadilah di rumah saya koleksi majalah2 tersebut memenuhi lemari buku. Di lemari buku majalah2 tersebut menempati satu baris lemari besar dan tersusun dengan rapi (foto keempat), disusun rapi oleh istri saya.

Majalah4
Kenapa saya tertarik mengkoleksi majalah-majalah udara ini? Itu karena majalahnya banyak berisi foto-foto nan rancak, yaitu foto-foto tempat wisata dan budaya di tanah air maupun di luar negeri. Fotografernya sangat pandai memotret sehingga menghasilkan foto-foto yang bagus.

Apalagi kertas majalahnya terbuat dari kertas lux sehingga foto-foto itu tampak cerah dan menawan. Sedikit banyaknya kegemaran saya pada foto-foto (meskipun saya tidak mahir fotografi) adalah karena salah satu minat saya di Informatika adalah bidang image processing.

Saat ini sudah sembilan bulan lebih saya tidak pernah terbang lagi. Akibat pandemi corona maka saya tidak bisa pergi kemana-mana. Masih takut bepergian, apalagi memang tidak ada keperluan ke luar kota naik pesawat. Jadilah saya baca2 majalah udara ini saja. Majalah2 tersebut merupakan saksi bisu saya pernah ke mana-mana. 🙂

Dipublikasi di Gado-gado | 1 Komentar

Sepenggal Dialog Siang

Seorang pegawai Pizza H*t (sebuah waralaba pizza yang terkenal)  lewat di depan rumah dengan motornya menawarkan paket pizza seratus ribu empat buah. Saya yang sedang berdiri di depan rumah disapanya.

+Pak, beli pizzanya, seratus ribu empat biji. Masih hangat pak, baru dibakar. (Ia menunjukkan box di sadel motor yang penuh berisi pizza)

Saya sebetulnya tidak tertarik dengan paket pizza seratus ribu empat itu, sebab kata seorang teman, pizzanya keras, udah dingin, banyak tepung, topping-nya dikit lagi.

-Boleh nggak dua saja (saya menawar 🙂 )

+Maaf pak, nggak bisa, sudah aturannya begitu. Kalau di restoran harganya 150 ribu pak (dia mencoba berpromosi)

Sudah lama jualan seperti ini?

+Iya pak, sekarang sepi. Jadi sekarang kami yang mencari pembeli door to door

Begitulah waralaba pizza yang dulu dikenal sebagai makanan elit, sekarang turun kelas menjadi makanan ‘murahan’ yang ditawarkan secara asongan di pinggir jalan atau dijajakan keliling kampung. Sejak pandemi corona banyak bisnis bertumbangan, termasuk waralaba makanan asing yang mengalami kerugian besar. Sepi pembeli, karena banyak orang takut makan di restoran, atau menghindar makan di dalam ruangan bersama.

pizza

Pizza ditawarkan di pinggir jalan

Oh, begitu?

+Iya pak, sudah banyak pegawai kami di-PHK. Ini kami ditugaskan berjualan keliling.

Boleh nggak setengah saja (kembali saya menawar). Empat buah pizza mah kebanyakan.

+Wah, nggak bisa pak. Ini saya dari tadi keliling belum laku pak (katanya sedih)

(Ya, iyalah, agak sulit laku, sebab seratus ribu itu bagi orang awam sangat besar kalau hanya untuk membeli pizza. Dengan uang segitu sudah dapat lima bungkus nasi ramas di rumah makan Padang. Kalau ingin menyasar kalangan menengah ke bawah seharusnya mereka menjualnya satuan atau minimal dua buah)

Karena raut wajahnya terlihat suram, akhirnya pertahanan saya tumbang. Kasihan aja. 🙂 Terbayang anaknya pasti menunggu ayahnya pulang bawa rezeki.

Ya udah, saya beli ya    (saya beli saja dengan niat menolong saja, meski saya tidak berminat makan pizza)

+Terimakasih ya pak (dengan nada gembira).

Empat buah pizza dan uang seratus ribu pun berpindah tangan.

******

Dipublikasi di Romantika kehidupan | Meninggalkan komentar

Usai Kuliah Onlen Semester Ganjil 2020

Alhamdulillah, tuntas sudah perkuliahan onlen (daring) selama semester pertama (semester ganjil) tahun 2020. Dua pekan ke depan mahasiswa di kampus ITB memasuki masa Ujian Akhir Semester (UAS).

Capek? Ya, kuliah onlen ini sungguh melelahkan bagi saya. Meskipun kita berada di rumah saja, namun bekerja menyiapkan bahan kuliah cukup menyita banyak waktu. Sebagian besar waktu di rumah habis untuk membuat video kuliah. Saya memegang tiga mata kuliah semester ini, dua mata kuliah berbagi tugas dengan rekan dosen satu tim membuat video kuliah secara bergantian, sedangkan satu mata kuliah lagi berupa kuliah pilihan, saya sendiri yang membuat seluruh videonya.

Tidak mudah lho membuat video kuliah, seringkali harus diulang-ulang untuk merekamnya karena banyak kesalahan. Video kuliah itu sekali selesai dibuat dan diunggah ke platform Youtube kan tidak bisa diubah lagi. Malu-maluin saja jika di tengah video ada materi yang salah, heheh…

Saya memang tidak terampil membuat video kuliah yang bagus, tidak nyeni, tidak pakai animasi, tidak gebyar-gebyar dan tidak memakai musik. Video kuliah saya baru sebatas materi presentasi PPT bersuara. Saya membuat video kuliah seakan-akan saya mempresentasikan file PPT di kelas. Semangatnya cuma satu, jika mahasiswa ingin mengulang-ulang kembali paparan materi kuliah saya, cukup putar ulang videonya di Youtube. Ada tiga kanal kuliah di Youtube yang saya buat, yang pertama ini, kedua ini, dan ketiga ini. Siapapun bebas mengakses, mengunduh, dan menggunakannya di kampus lain.

Semester yang lalu dan semester ini berlangsung pada masa pandemi corona yang masih terus mewabah di Indonesia. Belum terlihat ujung pandemi ini akan berakhir kapan. Pendidikan pun terganggu akibat pandemi ini, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Namun “untungnya” pandemi berlangsung pada saat kondisi teknologi pembelajaran dan komunikasi (internet) sudah maju. Berbagai paltform video conference untuk mendukung proses belajar-mengajar jarak jauh sudah tersedia, seperti Zoom, Google Meet, Micosoft Teams, dan lain-lain. Kelas-kelas perkuliahan berlangsung secara virtual, rapat-rapat dan seminar pun secara virtual. Komunikasi dan diskusi bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari WA, email, hingga fasilitas video conference yang disebutkan di atas.

daring2

Foto bersama setelah kuliah onlen dengan menggunakan Microsoft Teams

 

daring3

Seminar Tugas Akhir dengan menggunakan Google Meet

Bagaimana dengan ujian-ujian? Karena ujian dilakukan di rumah mahasiswa masing-masing, maka ujian pun dilakukan secara onlen juga. Soal ujian dapat didistribusikan dengan fasilitas email, WA, Google Form, atau menggunakan platform ujian yaitu exam.net dan sebagainya. Mahasiswa mengerjakannya secara serentak di rumah masing-masing, kamera di komputer diaktifkan, dosen dan asisten pengawas memantau ujian melalui kamera. Ujian di rumah namun serasa ujian di kelas saja.

daring4

Ujian secara onlen dan dipantau dengan menggunakan Google Meet

Salah satu hal yang menarik bagi saya selama kuliah onlen ini adalah memberi soal latihan, PR, kuis, UTS/UAS dengan menggunakan Google Form. Soal-soal bertipe hitungan/algoritma saya tulis di Google Form, lalu tautan Google Form-nya dikirim ke setiap mahasiswa via gmail. Mahasiswa menjawab setiap soal di Google Form pada lembar kertas biasa di rumahnya, lalu memfoto lembar jawabannya, kemudian mengunggah (upload) fotonya dalam format JPG atau PDF ke Google Form.

daring1

Soal latihan menggunakan Google Form


File-file foto jawaban masuk ke dalam akun Google Drive saya. Tinggal dibaca lalu dinilai. Praktis, hemat (tidak butuh kertas), dan mangkus. Kelemahannya adalah mata mudah lelah dan cape membaca lembar jawaban di layar komputer (ada 56 mahasiswa per kelas, dan ada 4 kelas). Bagi saya tetap lebih nyaman memeriksa lembar jawaban dalam bentuk kertas daripada bentuk digital.

Kalaupun nanti kuliah tatap muka sudah bisa dimulai pada semester depan (wallahu alam), cara pemberian soal latihan dan kuis menggunakan Google Form ini tampaknya akan saya lanjutkan.

Moral dari cerita di atas adalah pandemi corona tidak menghalangi proses belajar mengajar. Semua berjalan seperti biasa, hanya bertemu muka secara fisik saja yang tidak ada. Untunglah ada internet sehingga proses pendidikan saat ini agak tertolong. Jika tidak ada, sulit membayangkan apa yang akan terjadi.

Dipublikasi di Pendidikan | 4 Komentar

Charlie Hebdo, Macron, dan Kecintaan kepada Rasulullah

Mengapa Nabi Muhammad yang dicintai oleh umat muslim di seluruh dunia selalu menjadi sasaran pelecehan dan penghinaan oleh sebagian orang di Barat. Kesalahan apa yang dilakukan oleh junjungan umat Islam itu sehingga selalu menjadi objek penghinaan? Koran Charlie Hebdo di Perancis misalnya, sudah berulang-ulang menampilkan karikatur Nabi dengan narasi dan gambaran yang sangat merendahkan. Sudah berkali-kali pula kantor mereka diserang oleh muslim yang sangat tersinggung bahkan sampai melakukan pembunuhan segala (yang tentu saja sangat tidak dibenarkan oleh ajaran Islam). Koran itu berlindung dibalik kebebasan berekspresi yang selalu dipuja dan diagung-agungkan oleh dunia Barat, termasuk bebas menghina atau melecehkan agama.

Apa sebenarnya tujuan mereka menampilkan kartun tersebut? Untuk memancing kemarahan kaum muslimin di seluruh dunia kah? Lalu kalau sudah marah, apakah mereka mendapat kepuasan dari kemarahan itu?

Presiden Perancis, Macron, sama saja. Bukannya mengecam pemuatan kartun yang merendahkan junjungan umat Islam itu, tetapi malah memberi dukungan dan melontarkan kata-kata yang malah membuat situasi semakin runyam. Mendukung sama artinya menyetujui koran Charlie Hebdo melakukan pelecehan pada Nabi Muhammad.

Tentu umat Islam tidak perlu membalas aksi Charlie Hebdo dan Macron itu dengan kemarahan yang berlebihan sehingga sampai melakukan kekerasan. Itu bukan ajaran Nabi Muhammad. Marah boleh, demo dan protes silakan, melakukan boykot sebagai aksi senyap tidak masalah. Namun membalasnya dengan melakukan kekerasan, apalagi sampai membunuh, itu sangat dilarang oleh agama.

Meskipun Nabi Muhammad SAW sering direndahkan, dilecehkan, dan dicela, namun semua hinaan itu tidak akan mengurangi sedikitpun kemuliaannya. Tidak juga akan mengurangi kecintaan kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia untuk selalu mencintainya, selalu mengucapkan shalawat kepadanya siang dan malam pada setiap sholat.

Manusia boleh datang dan pergi dari dunia ini, bangsa-bangsa berjaya dan runtuh silih berganti, namun kecintaan kepada Rasulullah akan terus hidup sepanjang masa.

Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang telah mencintaiku, maka aku bersamanya di Surga”. (Hadis Riwayat Tarmidzi).

Mengapa ummat Islam sangat mencintai Rasulnya itu? Selalu bershalawat dan mengirim salam kepadanya sepanjang waktu? Selalu merindukan untuk bertemu dengannya? Karena beliaulah yang menuntun ummatnya ke jalan yang lurus, keberkahan, dan kemuliaan hidup. Beliaulah satu-satunya manusia pemberi syafaat di Hari Pembalasan nanti. Siapa yang dapat menolong umatnya terlepas dari siksaan api neraka kalau bukan Nabi Muhammad?

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu

Kan pasti mengalir air mataku
Karena pancaran ketenanganmu

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukucup tanganmu

Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Tak pernah kutatap wajahmu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Kami rindu padamu

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad
Ya Robbi sholli ‘alaihi wassalim

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad
Ya Robbi sholli ‘alaihi wassalim

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kudakap dirimu

Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya Tuhan saja yang tahu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Tak pernah kutatap wajahmu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Kami rindu padamu

Kutahu cintamu kepada ummat
Umati umati

Kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafa’atkan kami

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Terimalah kami sebagai umatmu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Kurniakanlah syafa’atmu

(Raihan – Ya Rasulullah)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad.

Dipublikasi di Agama | 2 Komentar

Sudah Baca versus Belum Baca UU Omnibus Law

Sudah baca UU Omnibus Law (UU Cipta Kerja)? Belum. Saya belum membacanya. Pendukung UU Omnibus sering meledek kepada penolak UU dengan berkata: “sudah baca isinya belum? Kalau belum baca jangan asal komen”.

Hmmm…apakah yang mendukung UU tsb juga sudah membaca isinya dan paham? Saya kok kurang yakin mereka juga sudah membacanya.  Dokumen UU Omnibus itu tebalnya sekitar 900 lho.

Membaca dokumen 900 halaman tentu pekerjaan yang tidak mudah. Anda harus sekalian membaca juga naskah akademisnya, lalu baca setumpuk UU lama yang berkaitan dengan UU baru tersebut. Puff…membaca laporan disertasi mahasiswa S3 yang tebalnya 100 halaman saja sudah bikin nyut-nyut kepala, apalagi membaca 900 halaman. Puyeng.

Lalu apakah harus membaca 900 halaman itu agar bisa paham lalu mengambil kesimpulan setuju atau tidak setuju dengan UU itu. Tentu tidak. Orang cukup membaca bagian UU yang memiliki kepentingan dengan dunianya saja. Orang lingkungan membaca bagian UU yang berkaitan dengan masalah lingkungan. Orang pendidikan membaca bagian UU yang berkaitan dengan pendidikan. Dan seterusnya.

Apakah buruh-buruh yang demo kemaren itu membaca UU Omnibus Law? Wallahualam, mungkin saja ada sebagian buruh yang membacanya. Tentu mereka hanya membaca bagian UU yang berkaitan dengan nasib tenaga kerja seperti mereka. Jadi kalau mereka demo sampai mengamuk-amuk tentu ada bunyi UU itu yang merugikan mereka.

Lalu kalau tidak sempat membacanya, bagaimana sikap kita? Kalau saya sih, cukup membaca pendapat pakar2 yang kompeten yang memberikan penilaian. Jika pakar hukum seperti prof-prof UGM saja menyebutkan UU tersebut bermasalah, maka saya juga sepakat bahwa UU tersebut memang mengandung masalah. (Baca: PUKAT UGM Sebut RUU Cipta Kerja Bermasalah dari Proses Hingga Substansi)

Jangan-jangan pro kontra tentang UU Omnibus tersebut masih dipengaruhi efek sentimen Pilpres sehingga asal dukung dan asal tolak saja. Wallahu alam, mungkin saja. Semua faktor ikut berpengaruh dalam cara pandang seseorang.

Sebaiknya UU tersebut ditunda saja dulu oleh Pemerintah. Perbaiki lagi bagian-bagian yang masih bermasalah tersebut, dengarkan aspirasi rakyat, dengarkan pendapat para ahli,  tidak perlu buru-buru mengesahkannya. Bikin Perpu.

Jika dengan pemberlakuan UU tersebut diharapkan memudahkan investor masuk ke dalam negeri sehingga dapat mengurangi dampak ekonomi akibat pandemi corona, kok rasanya agak jauh. Investor tentu akan menunggu kondisi pulih dulu. Itu perlu waktu yang cukup lama. Jika kasus positif corona terus saja bertambah banyak setiap hari, investor tentu enggan untuk masuk.

Masyarakat kita saat ini sedang fokus pada masalah corona. Jangan sampai penderitaan masyarakat bertambah lagi dengan hal-hal yang bermasalah pada UU tersebut.

Dipublikasi di Indonesiaku | 1 Komentar

Momen yang Hilang di Kelas Onlen

Setelah kuliah daring (online) selama beberapa bulan, apa yang dirasakan?

Seorang rekan menjawab, kita tidak bisa lagi merasakan momen celutukan “ohhh…gituu…” dari mahasiswa yang mengangguk-anggukkan kepala tanda paham setelah kita menyelesaikan soal sulit di papan tulis.

Kita tidak bisa melihat wajah-wajah mahasiswa yang terkesima, ketika mendemokan sesuatu, menurunkan sebuah rumus, atau ketika mereka diajarkan suatu metode/algoritma/teori yang sangat menarik perhatian, apalagi jika dibumbui cerita-cerita tentang latar belakang teori itu yang dramatis.

mhs

Mengajar tatap muka di kelas nyata dan di kelas maya beda nuansanya. Mengajar di kelas maya itu seperti berbicara sendiri dengan komputer. Ketika file PPT di-share screen, maka hilanglah wajah-wajah mahasiswa di layar komputer, lalu kita berbicara sendiri di depan monitor, berbicara seperti orang “kurang waras” karena tidak ada orang lain di dekat kita, hehe.

mhs2

Ada rasa yang hilang di kelas onlen. Sentuhan humanistik tidak tergantikan dengan mengajar secara onlen meskipun kita sudah membuat video kuliah semenarik dan sebagus apapun.

Mengajar tatap muka secara langsung di kelas nyata tetaplah yang terbaik. Pandemi corona di satu sisi telah membuyarkan aneka rencana dan kegiatan berjumpa dengan anak didik di kampus. Di sisi lain masa pandemi membuat kita merenung kembali pentingnya hubungan antar manusia, betapa hubungan antar manusia secara langsung tetap tidak tergantikan dengan teknologi.

Ah, kangen suasana kelas lagi, bertatap muka dengan para mahasiswaku. Miss you my students. 😥

Dipublikasi di Pendidikan, Seputar ITB | Meninggalkan komentar

Empat Amalan Sebelum Tidur

Ini merupakan tulisan untuk pengingat diri. Tidur adalah nikmat Allah yang tidak terganti. Beberapa orang, termasuk saya sendiri, pernah sulit tidur.  Saya pernah tidak memicingkan mata selama dua hari malam. Insomnia (baca: Pengalaman Minum Obat Tidur). Cukup sering seperti ini, terutama jika ada masalah yang dipikirkan, atau badan lagi ada yang tidak beres (sakit). Saat kita tidur Allah sebenarnya mengambil ruh kita, lalu mengembalikannya lagi saat terbangun pagi hari. Banyak pula orang yang wafat saat sedang tidur.

Maka, lakukanlah empat amalan sebelum kita tidur. Sebagaimana disebutkan di dalam Kitab Durratun Nashihin karya Syaikh Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al- yang terjemahan bebasnya sebagai berikut:

Rasulullah SAW berpesan kepada Aisyah RA : “Wahai Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu:

1. Sebelum khatam Al Qur’an
2. Sebelum membuat para Nabi memberimu syafaat di hari akhir
3. Sebelum para muslim meridhoi kamu
4. Sebelum kau melaksanakan haji dan umroh

” Bertanya Aisyah: “Ya Rasulullah.. Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?” Rasulullah tersenyum dan bersabda:

1. “Jika engkau tidur bacalah surat Al- Ikhlas sebanyak tiga kali maka pahalanya sama seperti mengkhatamkan Al Qur’an.”:
Bismillaahir rohmaanir rohiim, Qulhuallahu ahad’ Allahushshomad’ lam yalid’ walam yuulad’ walam yakul lahuu kufuwan ahad’ (3x)

2. “Membaca sholawat untuk ku dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafa’at di hari kiamat“:
Bismillaahir rohmaanir rohiim, Allahumma shollii ‘alaa Muhammad wa’alaa alii Muhammad (3x)“

3. “Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meridhoi kamu”:
Astaghfirullahal adziim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih (3x)

4. “Perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan – akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh“:
Bismillaahir rohmaanir rohiim, Subhanallahi Walhamdulillaahi walaailaaha Illallahu Allahu akbar (3x).

Meskipun Rasulullah berkata kepada Aisyah R.A, tetapi karena Rasulullah adalah suri teladan, maka apa yang dikatakannya juga patut kita teladani.

Kutipan asli dari buku tersebut dikutip dari sini:

Diriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau berkata kepada Sayidah Aisyah, ‘Wahai Aisyah, janganlah kamu tidur sebelum melakukan empat hal; sebelum mengkhatamkan Alquran, sebelum membuat para nabi memberi syafaat kepadamu kelak di hari kiamat, sebelum membuat seluruh kaum muslimin ridha kepadamu dan sebelum melakukan ibadah haji dan umrah.’

Setelah berkata demikian, Nabi kemudian melanjutkan sholat malamnya dan Sayidah Aisyah sendiri berada di tempat tidur seraya menunggu Nabi menyempurnakan sholatnya. Setelah Nabi Saw menyempurnakan sholatnya, Sayidah Aisyah langsung bertanya, ‘Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku, engkau perintahkan aku melakukan empat perkara yang saat ini tidak mampu aku melakukannya.’

Mendengar pertanyaan Aisyah ini, Nabi lalu tersenyum dan beliau menjelaskan, ‘Jika kamu membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak tiga kali, maka pahalanya sama dengan mengkhatamkan Alquran. Jika kamu membaca sholawat kepadaku dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberikan syafaat kepadamu di hari kiamat kelak. Jika kamu memohonkan ampunan untuk seluruh kaum muslimin, maka mereka semua akan ridha kepadamu.

Dan jika kamu membaca ‘Subhanallah wal hamdulillah wala ilaha illahu wallahu akbar,’ maka kamu telah melakukan haji dan umrah,”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad.

Dipublikasi di Agama | 1 Komentar