Nasib Partai-partai Islam pada Pemilu 2019

Kasus  penangkapan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). M Romahurmuziy,  oleh KPK pada hari Jumat minggu lalu mengagetkan publik di tanah air.  Seorang Ketum partai berasaskan Islam terlibat menerima suap terkait pengaturan jabatan tinggi di Kementerian Agama. Sedih dan miris. Bagaimana tidak miris, dia membawa nama partai Islam, lambang partainya ka’bah, tetapi perilaku korupsinya bertolak belakang dengan asas partai maupun lambang partainya.

Ketika partai belum sebanyak sekarang (hanya ada Golkar, PPP, dan PDI(P)), saya dulu adalah salah satu pemilih PPP.  Dengan kasus OTT Rommy oleh KPK ini, tentu masyarakat akan memberikan hukuman sosial kepada PPP. Apalagi Pemilu tinggal satu bulan lagi.  Peristiwa OTT terhadap Ketum PPP bagaikan tsunami yang akan meruntuhkan kepercayaan publik kepadanya. Hukuman sosial dari publik jauh lebih kejam daripada hukuman terhadap Ketum itu sendiri. Masih ingat kita ketika Partai Demokrat dilanda kasus korupsi yang dilakukan para kadernya, suara Demokrat langsung turun drastis. Begitu pula kasus korupsi yang menimpa Presiden PKS yang berdampak pada suara PKS. tapi untunglah kedua partai ini dapat bangkit kembali.

Sekarang PPP yang kena. Saya merasa sedih dan prihatin melihat nasib partai PPP dan partai-partai berasaskan Islam lainnya atau mempunyai basis massa dari kalangan ormas Islam (PKS, PKB, PBB, dan PAN).  Sebagai salah satu aset umat Islam seharusnya partai-partai Islam itu harus dijaga tetap eksis dan besar. Di parlemen wakil-wakil partai Islamlah yang vokal menentang UU yang kurang ramah dengan kepentingan ummat.

Tetapi makin ke sini partai-partai Islam semakin kerdil. Kecuali PKB yang mungkin masih bisa bertahan karena memiliki pemilih yang loyal dari kalangan nahdlyin (NU), saat ini pemilih sudah banyak tidak tertarik dengan partai berbasis agama, karena partai-partai itu kurang inovatif, kurang kreatif, dan berkutat pada jargon-jargon yang itu-itu saja. Partai-partai Islam hanya mendekati ummat ketika mau pemilu saja. Di luar pemilu mereka nyaris sama saja dengan partai-partai nasionalis atau partai sekuler.

Banyaknya kader partai Islam yang terlibat korupsi atau perilaku amoral lainnya membuat ummat melihat mereka hampir tidak ada bedanya dengan kader partai nasionalis. Kelakuannya sama saja.

Peristiwa yang menimpa Rommi pasti membuat kepercayaan ummat makin jatuh ke titik nadir. Perilaku elit partai-partai Islam yang jauh dari aspirasi akar rumput membuat partai Islam makin ditinggalkan ummat. Pilkada DKI tahun 2017 adalah contohnya.  Saat itu PPP dan PKB malah malah mendukung Cagub kontroversial yang terlibat kasus penistaan agama.  Demi kepentingan pragmatis dan kekuasaan semata, elit-elit partai Islam mengambil pilihan yang berbeda dengan suara akar rumput. Pada Pilpres 2019 pun terulang kembali, elit-elit partai-partai Islam seperti PPP dan PBB berlawanan dengan suara akar rumput dalam mendukung Capres.

Hasil-hasil survey sementara menunjukkan posisi partai-partai Islam terancam tidak lolos parliamentary threshold sebesar 4%. PKS dan PAN di ujung tanduk, PBB hanya mendapat nol koma, PPP mungkin akan tenggelam karena kasus Rommi, hanya PKB yang mungkin bisa lolos. Hasil pastinya baru kita ketahui setelah tanggal 17 April 2019.

Sekarang apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Sulit meraih kepercayaan ummat lagi. Kepercayaan ummat dirusak oleh kelakuan para elit partai-partai Islam.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | Meninggalkan komentar

2019, Tahun Hilangnya Akal Sehat

Tahun 2019 adalah tahun yang melelahkan pikiran anak bangsa. Sebentar lagi kita akan melaksanakan Pilpres dan Pileg secara serentak, tetapi pertentangan di tengah masyarakat mengenai Pilpres sudah masuk hingga ke ranah privat. Banjir kiriman berita hoaks, kata-kata dan gambar hasutan, serta ujaran kebencian masuk ke ponsel kita. Pendukung kedua kubu 01 dan 02 perang kata-kata untuk membela jagoannya sambil mendegradasikan lawannya.

Memang pemilu kali ini ada pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (Pileg, meliputi anggota DPR, DPRD Propinsi, DPRD Kota/Kabupaten, dan DPD), tetapi Pileg tenggelam oleh hiruk pikuk Pilpres. Masyarakat lebih memperhatikan Pilpres ketimbang Pileg.  Hingga hari ini saya, dan mungkin juga publik seperti anda, tidak pernah tahu atau malas mencari tahu tentang calon legislatif yang akan dipilih. Jika sampai hari H demikian kondisinya, maka Pileg akan berjalan mundur seperti Pemilu dua periode sebelumnya, yaitu pemilih akan menusuk lambang partai ketimbang menusuk foto caleg.

Pilpres hanya diikuti oleh dua pasang calon (paslon), Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf, namun masyarakat sudah terlanjur terbelah karena mendukung salah satu paslon. Masalahnya dalam mendukung jagoannya, seringkali pendukung terlalu berlebihan alih-alih kebablasan. Sudah tidak rasional lagi bicaranya.

Marilah kita lihat dua kasus berbeda, masing-masing pada setiap kubu 01 dan 02. Pendukung 01 (Jokowi-Ma’ruf) terlalu jumawa dalam membanggakan keberhasilan Jokowi membangun proyek infrastruktur seperti jalan tol. Saking jumawanya mereka mengancam masyarakat yang tidak memilih Jokowi dilarang lewat jalan tol yang dibangun oleh Jokowi. Menurut saya ini pikiran kekanak-kanakan, Kenapa pakai larang melarang segala? Jalan tol itu dibangun dengan uang rakyat, bukan dibangun oleh uang pribadi Jokowi. Maka, siapapun rakyat boleh melewatinya. Membangun proyek infrastruktur adalah kewajiban pemerintah, siapapun presidennya. Jika sampai larang melarang begitu, nanti akan ada serangan balasan dari kubu 02 yang melarang pendukung 01 melewati jalan tol yang dibangun pada era Soeharto atau era SBY. Kacau bukan?

Sekarang kita lihat pula kasus yang irasional pada pendukung 02 (Prabowo-Sandi). Baru-baru ini beredar video viral tiga orang ibu-ibu di Karawang yang mengatakan jika Jokowi menang maka adzan akan dilarang. Lalu video yang sejenis di tempat lain mengatakan jika Jokowi menang maka pernikahan sejenis akan diizinkan. Menurut saya pernyataaan pendukung 02 ini jelas tidak masuk akal. Mana mungkin adzan akan dilarang di negara yang penduduknya mayoritas muslim? Cari mati itu namanya, sebab presiden yang demikian akan berhadapan dengan ratusan juta umat Islam. Tidak mungkinlah Jokowi melarang adzan jika dia menang. Begitu pula, tidak akan mungkin pernikahan sejenis akan dilegalkan di Indonesia yang masyarakatnya masih menjadikan agama sebagai pegangan hidup. Agama manapun melarang pernikahan sejenis. Indonesia tidak akan seperti Eropa yang mengizinkan pernikahan sesama lelaki atau sesama perempuan. Islam yang menjadi agama mayoritas di Indonesia adalah tameng terkuat yang akan menentangpernikahan sejenis maupun  LGBT sampai kapanpun karena haram hukumnya.

Masih banyak lagi berita hoaks yang beredar di ruang privat kita dari kedua pendukung capres. Tujuannya satu, menjatuhkan citra lawan dengan fitnah yang keji atau memberi ancaman jika tidak memilih paslon tertentu. Inilah yang saya sebut sudah tidak rasional lagi aksi dukungan dari kedua kubu. Sudah hilang tingkat kewarasannya demi membela jagoannya. Fanatisme yang berlebihan dari pendukung capres telah melunturkan akal sehat. Apa saja mereka sampaikan untuk memanipulasi keadaan. Banyak orang yang gerah dan tidak nyaman dengan kondisi panas seperti ini. Mereka berharap Pilpres cepatlah berlalu. Sudah tidak sehat lagi . Sudah hilang akal sehat.

Dipublikasi di Indonesiaku | Meninggalkan komentar

Pentingnya Sering Minum Air Putih

Saya mendapat kiriman dari seorang teman sebuah berita tentang wafatnya salah satu ahli geologi Indonesia, Rovicky Dwi Putrohari (Alumni Fisika UI). Beliau meninggal dunia karena ada masalah dengan ususnya. Tahun 2016 beliau pernah menulis tentang penyakit ususnya itu, yang disebabkan oleh kurang minum air putih. Berikut tulisannya yang berjudul Allah mengingatkan saya tentang air.

Saya menuliskan tentang air tapi saya malas minum *air putih.* Akibatnya saya ditegur untuk mengamalkan ilmu tidak hanya dibagi tapi juga dipakai sendiri.

Saat ini saya baru saja operasi menyambung usus besar akibat _*”sigmoid diverticulosis”*_ salah satu akibat kurang bagusnya mekanisme pembersihan usus.

Memang benar makanan berserat itu sangat diperlukan untuk mengikat sisa makanan dan mengantarkan ke pembuangan. Namun *air putih* sangat diperlukan sehingga membuat pup itu tidak mengeras, abrasif dan menggelontor seluruh permukaan usus dengan baik.

Penyakit _Diverticulosis_ memang tidak diketahui ahli kesehatan secara pasti penyebabnya. Namun salah satu yg terkena pada saya adalah kurangnya minum air putih. Saya cukup minum (teh tawar, jus dll) hanya menjaga utk tidak dehidrasi tapi semestinya memang harus dibarengi “air putih” utk pembersihan sisa makanan ini.

*Usus itu memang unik*

Usus tersusun dari otot yg tidak sadar, artinya usus itu berkontraksi karena sinkronisasi dengan gerakan otot lainnya. Jadi kalau anda ingin pencernaannya sehat, maka anda WAJIB berolah raga. Otot usus akan bekerja saat otot lain bekerja.

*Usus juga tidak memiliki syaraf perasa* , sehinggga ketika usus terganggu kita sepertinya tidak merasakan apapun. Dan itu yang terjadi pada saya empat bulan lalu.

Siang itu, empat bulan lalu, saya tidak merasakan apapun, namun sorenya saya sama sekali tidak dapat berdiri tegak karena sakit bagian bawah perut. Dan ketika esoknya ke dokter diperiksa memakai CT Scan saya disarankan untuk operasi esok paginya !!

Akhirnya usus saya dipotong 8cm esok harinya. Ususnya juga *belum dapat disambung*. Dan saya harus memakai “stoma”. Pembuangan pup lewat samping.

Barangkali penyakit ini salah satu *”silent killer”* yang harus kita waspadai secara serius, karena bisa muncul tanpa peringatan dini.

Saya menjalani sebagai ostomed selama 4 bulan. Nanti kapan” saya mendongeng ttg ostomed.

Empat hari lalu saya menjalani operasi kedua utk menutup “stoma” yg sudah menemani saya selama 4 bulan sebelumnya. Dan sekarang masih menjalani recovery.

Allah mengingatkan saya tentang manfaat *air putih*.

Saya pernah menulis beberapa artikel tehnis ilmiah populer dongeng geologi tentang Sumur Zam-Zam ini sudah hampir sepuluh tahun lalu. Tapi saya masih diberi peringatan Allah utk mengerti khasiat *air putih*.

Alhamdulillah,
Semoga teguran ini pertanda cintaNya.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Pengalaman sakit (alm) Rovicky menyadarkan kita mengenai pentingnya sering minum air putih. Banyak orang yang menganggap remeh soal minum air putih, jarang minum, dan setelah sakit barulah sadar telah lalai kurang minum.

Bahwa kita harus sering minum air putih untuk menjaga  badan tetap sehat sudah saya buktikan sendiri khasiatnya. Kalau saya merasa agak pusing (saya kadang-kadang memiliki tekanan darah rendah), saya langsung minum banyak air putih, beberapa saat kemudian saya merasa segar kembali. Minum air putih adalah terapi yang ampuh untuk menjaga kestabilan tekanan darah, kesehatan jantung, saluran pencernaan, dan menjaga tubuh agar tetap fit.

Sewaktu menunaikan ibadah haji tahun lalu, ustad pembimbing haji selalu mengingatkan jamaah haji agar sering minum air putih selama di Mekkah dan  Madinah. Tidak hanya untuk mencegah dehidrasi akibat cuaca panas (40-50 derajat celcius), tetapi untuk menjaga agar tubuh selalu sehat dan tidak gampang sakit.

Sejak tahun lalu sepulang haji saya selalu membiasakan diri sering minum air putih  meskipun sedang tidak haus. Pusing sedikit, langsung minum air putih. Tidak pusingpun selalu minum. Saya sudah kapok sudah tiga kali terkena penyakit ISK (Infeksi Saluran Kemih) yang sakitnya luar biasa, sampai-sampai saya berguling-guling menahan sakit yang tidak terperi di perut bagian bawah. Salah satu cara pencegahan ISK adalah rajin minum air putih untuk membuang bakteri yang menginfeksi saluran kemih. Jika ingin ginjal kita tetap sehat, banyaklah minum air pada siang hari, sedikit minum pada malam hari, dan kosongkan kandung kemih sebelum tidur, demikian tips sehat yang saya baca.

Saya menerima kiriman gambar yang sangat bagus untuk mengingatkan kita agar selalu minum pada waktu-waktu berikut: setelah bangun tidur, sebelum makan, sebelum mandi, dan sebelum pergi tidur.

Minum air putih setelah bangun tidur berfungsi untuk membersihkan organ di dalam tubuh dengan air, lalu kotoran dan kuman di dalam organ itu akan keluar ketika kita buang air kecil.

Minum segelas air sebelum makan bertujuan untuk mengencerkan cairan di dalam saluran pencernaan sehingga makanan yang masuk menjadi lebih mudah untuk dicerna.

Minum  air sebelum mandi bertujuan untuk menurunkan tekanan darah sehingga tubuh tidak kaget ketika menerima guyuran air.

Minum air sebelum tidur bertujuan untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi, tidak kekurangan cairan selama tidur.

Semoga kita tidak lalai untuk mensyukuri nikmat Allah SWT ini berupa khasat air. Maka, nikmat Tuhanmu mana lagikah yang kamu dustakan?

Dipublikasi di Pengalamanku | Meninggalkan komentar

Mempermasalahkan Istilah “Kafir”

Bahtsul Masail hasil Konferensi Alim Ulama dan Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama (NU) di Banjar, Jawa Barat minggu lalu merekomendasikan untuk mengganti istilah “kafir” bagi wargawarga non-muslim.  Sebagai gantinya, NU lebih memilih untuk mengajukan istilah “Muwathinun” yang berarti warga negara sebagai gantinya. Menurut kyai di NU, istilah “kafir” dianggap mengandung unsur kekerasan teologis. Dikutip dari sini,  NU dan Usul Penghapusan Label Kafir untuk Nonmuslim, “Abdul Moqsith Ghazali yang jadi pimpinan sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah mengatakan para kiai berpandangan penyebutan kafir dapat menyakiti para nonmuslim di Indonesia.”

“Meski begitu, kata Moqsith, bukan berarti NU akan menghapus seluruh kata kafir di Alquran atau hadis. Keputusan dalam Bahtsul Masail Maudluiyyah ini hanya berlaku pada penyebutan kafir untuk warga Indonesia yang nonmuslim.”

Saya agak heran dengan rekomendasi NU ini. Bukan saya anti, tetapi sebenarnya di mana masalahnya? Dalam konteks muamalah, atau hubungan sesama manusia, orang Islam tidak pernah terbiasa dan tidak pernah dibiasakan untuk menyebut kafir kepada non-Muslim di ruang publik.  Bangsa kita juga mempunyai adab dan sopan santun, mereka tidak pernah memanggil saudaranya yang berbeda iman dengan sebutan “hai, kafir”, “hai para kafirin”, dan sebagainya.  Tidak pernah, saya rasa. Sejak dulu sampai sekarang. Lalu masalahnya apa?

Sebutan kafir hanya kita dengar dalam ceramah-ceramah agama pada konteks teologis, untuk membedakan orang yang beriman kepada Allah SWT dengan orang yang kufur nikmat, yang disebut kafir. Di dalam surat Al-Kafirun Allah sudah dengan tegas menyebut dengan kalimat “ya ayyuhal kaafirun”.  Jadi, bukan dalam konteks muamalah seperti yang disebutkan oleh para kyai.

Setahu saya, orang-orang non-muslim pun tidak keberatan mereka disebut kafir (dalam konteks teologis), karena mereka tahu sebutan kafir itu dalam sudut pandang Islam, bukan dalam pemahaman mereka (Baca: Soal Sebutan Kafir Hilang, Walubi: Urusan Mereka Panggil Kami Apa). Dalam sudut pandang agama non-Islam, orang Islam pun tentu dianggap “kafir” dari sudut pandang ajaran mereka, mungkin dengan istilah yang tidak sama tetapi maksudnya kurang lebih sama. Misalnya, sebagai contoh saja, CMIIW (mohon maaf kalau saya  salah memahami), menolak mengimani Kristus sebagai juru selamat tentu dianggap “kafir” dalam pandangan Kristen, atau istilahnya “domba-domba yang tersesat”. Biasa saja bagi orang Islam disebut demikian, dan biasa juga bagi orang non-muslim jika dianggap kafir dalam pemahaman orang Islam.

Saya sependapat dengan penjelasan Prof. Din Syamsudin tentang istilah kafir. Dikutip dari sini, “Maka dari sudut keyakinan Islam, orang kafir adalah penganut keyakinan selain atau di luar Islam. Tidak ada maksud “kekerasan teologis” di dalam istilah kafir. Menurut Din, sesungguhnya istilah tentang “orang luar” ini biasa di dalam setiap agama.

Orang yang tidak memenuhi kriteria tersebut dianggap sebagai orang luar (outsiders) atau orang lain (the others). Masalah baru muncul ketika istilah kafir dipakai dengan nada labelisasi-negatif atau pejoratif yang bertujuan menghina atau menista. Kata kafir itu sendiri tidak mengandung masalah di dalam dirinya.

“Semua agama, seperti Yahudi, Kristen, Hindu, atau Buddha, memiliki istilah atau konsep ttg ‘orang luar’ dan ‘orang lain’ ini, dan itu termaktub dalam Kitab Suci. Istilah semacam ini bersifat datar saja dan tidak menimbulkan keberatan dari pihak lain, baik karena memakluminya maupun karena memang mereka merasa bukan ‘orang dalam’ lingkaran keyakinan tersebut,” papar Din.

Baiklah. Ilmu saya tentu tidak sedalam ilmu para kyai di NU. Pemahaman saya yang sederhana ini tentang kafir memang seperti demikian, saya rasa banyak orang Islam pun sama pemahaman dengan saya. Sejak dulu sampai sekarang tidak ada masalah dengan istilah kafir, lalu mengapa tiba-tiba menjadi masalah saat ini? Saya tidak mengerti.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | Meninggalkan komentar

Antri Membeli Sate Jando di Jalan Cimandiri

Hari masih pukul 9 pagi ketika saya melewati Jalan Cimandiri di belakang Gedung Sate Bandung, tetapi belasan orang sudah antre di depan jongko pedagang sate di seberang gedung Program Magister Ekonomi UNPAD. Mereka antri untuk mendapatkan seporsi sate yang terkenal dengan nama sate jando. Nanti saya ceritakan apa arti “jando” itu. Saya yang setiap hari lewat di jalan itu ketika menuju kampus ITB cukup penasaran apa yang membuat orang begitu rela antri hanya untuk mendapatkan sate.

Saya pun  ikut antri untuk mencoba satenya itu. Seorang ibu dibantu beberapa “karyawannya” sedang melayani para pembeli yang antri. Ia menggelar dagangan sate di atas trotoar. Sate dibakar langsung di sana dan pembeli makan di situ juga, duduk di atas kursi plastik atau sambil jongkok di dekat selokan yang membatasi trotoar dengan pagar gedung. Pembeli sate banyak juga orang yang membawa mobil dan sengaja parkir di situ hanya untuk makan sate jando.

Ada tiga macam sate yang dijual Bu Sri Rezeki, demikian namanya. Sate ayam, sate sapi, dan sate jando. Nama yang terakhir ini terdengar aneh, tetapi istilah jando adalah sebutan pembeli untuk sate dari gajih yang diambil dari lemak payudara sapi. Seporsi sate dihidangkan di dalam pincuk daun pisang, ditambah lontong, dan disiram bumbu kuah kacang. Seporsi sate ayam harganya Rp22.000, sedangkan sate sapi atau sate jando Rp24.000.

Rasanya? Lumayan enak. Saya nilai 8 lah. Soal rasa memang relatif bagi setiap orang. Bumbunya gurih, bisa ditambah sambal supaya lebih pedas. Sate ini menjadi terkenal karena cerita dari mulut ke mulut lalu dari medsos ke medsos. Nama “jando” memang unik dan memancing penasaran banyak orang, termasuk wisatawan yang ke Bandung. Begitu terkenalnya sate jando ini sehingga ia sudah beberapa kali dimuat di media massa seperti di dalam artikel ini, ini, dan ini, serta beberapa situs kuliner.

Setiap hari sate jando hadir di trotoar Jalan Cimandiri. Keberadaannya menimbulkan simbiosa mutualisme dengan pedagang kaki lima lain di sebelahnya. Pedagang lain yang ikut mangkal di sana adalah pedagang minuman, sop buah, dan baso tahu. Tukang parkir pun menikmati kehadiran pembeli yang menepi memarkir motor dan mobil mereka.

Namun bukan berarti pedagang sate jando ini selalu aman berjualan di sana. Karena mereka berjualan di atas trotoar jalan yang dianggap mengganggu hak pejalan kaki, maka kehadiran Satpol PP yang melakukan razia adalah persoalan klasik yang selalu dihadapi pedagang kaki lima.

Suatu kali saya hendak membeli sate jando, tiba-tiba datanglah Satpol PP. Buyar deh rencana saya membeli sate.  Namun untungnya petugas Satpol PP nya masih “baik”, dagangan Bu Sri Rezeki tidak diangkut, hanya diambil KTP saja lalu dagangannya difoto. Entah ada deal atau apa :-). Hanya sebentar saja, dan bussiness as usual. Kembali seperti biasa dan pembeli pun antri kembali.

Petugas Satpol PP merazia pedagang sate jando

Begitulah sejumput keramaian di sebuah ruas jalan Cimandiri. Jalan Cimandiri yang rindang di belakang Gedung Sate memang menjadi tujuan orang yang hendak mencoba mencicipi sate jando yang terkenal itu.

Jalan Cimandiri

Dipublikasi di Makanan enak, Seputar Bandung | 2 Komentar

Tidur Siang Sejenak di Kampus

Setelah jam 14.00 siang biasanya mata saya lelah setelah cukup lama berada di depan komputer atau mengajar. Selain lelah mata, juga lelah otak. Kalau sudah begitu, biasanya saya pergi menuju ruang rapat yang sepi, lalu menyusun kursi-kursi berjejer. Selanjutnya saya merebahkan badan di atas jejeran kursi itu, meletakkan ponsel dan kacamata di atas kursi di depan saya, lalu tiduranlah saya sekitar setengah jam hingga satu jam. Lumayan segar lagi setelah bangun. Otak dan matapun punya hak untuk istirahat.

Rupanya tidur siang adalah sunnah yang dianjurkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda (sumber dari sini dan ini):

Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim)

Keberkahan tidur siang sejenak juga disebutkan di dalam Al-Quran:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (Ar-Ruum :23)

Jadi, tidur siang itu sunnah. Tidur siang yang dilarang adalah tidur setelah sholat Subuh dan setelah Sholat Ashar.

Tidur sejenak siang hari memiliki manfaat, antara lain membuat pikiran segar kembali untuk beraktivitas berikutnya. Saya pernah membaca sebuah artikel tentang kebiasaan orang Italia dan Spanyol tidur siang. Lepas tengah hari mereka menutup pintu-pintu tokonya untuk tidur siang. Satu jam setelah tidur mereka membuka tokonya kembali.

Beberapa kantor perusahaan IT modern seperti Google menyediakan dipan untuk tidur siang. Karyawannya bisa relax sejenak sejenak dari aktivitas coding. Kantor Bukalapak di Bandung pun menyediakan ruangan tidur lengkap dengan dipannya.

Jadi, tidak salah juga saya tidur sejenak di kantor saat setelah lepas Dhuhur. Kalau saya agak cape, atau kepala berat dan pusing, saya pergi ke ruang rapat itu. Tidak ada kasur, kursi-kursipun jadilah. Tidur dulu ah…..

Dipublikasi di Agama, Pengalamanku | 2 Komentar

Bapak Penjual Ember Keliling

Seorang penjual ember dan baskom keliling lewat di dekat rumah saya di Antapani.  Penampilannya menarik perhatian saya. Hanya bersendal jepit dan mekakai baju kaos yang sudah basah dengan keringat, dia membawa begitu banyak ember dan baskom berukuran besar-besar. Dua buah baskom dipegang pada masing-masing tangannya, tujuh  buah ember berukuran besar ditumpuk menjadi “topi” menutupi kepalanya, dan beberapa ember serta keranjang plastik diselempangkan di belakang punggungnya.

Berat sekali beban yang dipikulnya. Sambil berjalan kaki, dua ember di tangannya saling diadunya menghasilkan bunyi gaduh untuk menarik perhatian orang. Dia berharap ada orang yang membeli ember atau baskom itu. Dia berkeliling perumahan di Antapani menawarkan embernya.

Saya dulu pernah membeli ember besar dari mamang seperti ini. Harganya sekiitar 60 ribu. Menurut saya ember yang dijualnya sangat kuat, terbuat dari bahan karet yang kenyal. Bahkan diinjak-injak oleh anak kecilpun tidak akan pecah.

Saya tanya ini produksi ember dari mana. Penjual itu mengatatakan pabriknya di Tangerang. Dia hanya menjajakan secara keliling.

Kasihan bapak itu. Sedari tadi dia berkeliling belum ada yang laku. Ketika saya keluar rumah lagi, saya menemukannya berjalan di pinggir jalan besar, masih dengan jumlah ember yang sama.

Bapak penjual ember keliling terus mencoba peruntungan nasib. Mudah-mudahan ada orang yang mau membeli embernya sehingga dia pulang tanpa tangan hampa.  Anak istrinya tentu menunggu jerih payahnya di rumah.

Semoga lelahnya menjadi pahala, berkah dan penghapus dosanya karena mencari rezeki secara halal.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 1 Komentar