Peristiwa Paling Damai Hari Ini (Jokowi – Prabowo)

Inilah yang ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Dua orang Capres yang selama ini dikesankan berseteru, pagi ini bertemu dalam suasana yang sejuk. Jokowi datang menemui Prabowo di kediamannya. Keduanya saling bersalaman, berpelukan, saling hormat, ketawa-ketawa dan senyum-senyum.

Pertemuan Jokowi dan Prabowo di kediaman Prabowo di Kebayoran Baru hari ini. (Sumber.detik.com)

Pertemuan Jokowi dan Prabowo di kediaman Prabowo di Kebayoran Baru hari ini. (Sumber.detik.com)

Prabowo sudah menunjukkan jiwa besarnya sebagai negarawan, Jokowi sudah menunjukkan kesantunannya sebagai orang yang lebih muda yang mengunjungi orang yang lebih tua, sekaligus seterunya dalam Pilpres.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) memberi salam hormat kepada Presiden terpilih Joko Widodo usai melakukan pertemuan tertutup di Rumah Kertanegara, Kebayoran Baru,Jakarta (17/10/2014). Sumber foto: Republika.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) memberi salam hormat kepada Presiden terpilih Joko Widodo usai melakukan pertemuan tertutup di Rumah Kertanegara, Kebayoran Baru,Jakarta (17/10/2014). Sumber foto: Republika.

Dengan melihat peristiwa yang menyejukkan hari ini, maka tidak perlu lagilah para pendukung keduanya saling buli membuli dan olok mengolok lagi. Selama ini yang terus membuli dan mengolok-olok adalah para pendukung kedua capres tersebut yang umumnya orang terpelajar. Mereka, para pembuli itu, memperlihatkan sifat yang bertolak belakang dengan kecendekiaannya yaitu merendahkan dan menghina orang lain. Mereka adalah orang-orang yang gagal move on.

Barangkali kedua foto di atas adalah foto yang paling adem hari ini. Damailah Indonesiaku.

Dipublikasi di Indonesiaku | Tinggalkan komentar

Gagal “Move on”

Meskipun Pilpres sudah lama berlalu dan pemenangnya sudah kita ketahui dan akan segera dilantik pada tanggal 20 Oktober 2014 besok, tetapi “perseteruan” antara kubu Pro Jokowi (disebut KIH – Koalisi Indonesia Hebat) dan kubu Pro Prabowo (disebut KMP – Koalisi Merah Putih) masih terus berlangsung hingga sekarang. Setelah gagal dalam Pilpres, kubu KMP memenangkan pertandingan di parlemen. Mereka menang voting RUU MD3 di DPR, memenangkan voting RUU Pilkada, menyapu habis pimpinan DPR dan MPR, dan memenangkan perseteruan judical review UU MD3 di MK. Pertandingan akan berlanjut lagi dengan pemilihan pimpinan komisi-komisi di DPR yang pemilihannya tetap dalam satu paket.

Disatu sisi persaingan kedua kubu tersebut ada positifnya, yaitu menghadirkan keseimbangan yang kuat antara Pemerintah (eksekutif) dan Parlemen (legislatif). Pemerintah tidak akan bisa semena-mena karena kebijakan mereka akan dikontrol ketat oleh barisan oposisi (KMP). Dalam hal ini akan tercipta pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Positif kan? Kalau untuk kemaslahatan rakyat maka fenomena keseimbangan antara Pemerintah dan Parlemen ini saya pikir bagus-bagus saja.

Namun negatifnya tentu ada. Kita akan menyaksikan kebisingan politik yang melelahkan hingga tahun 2019 ke depan. Pemerintah dan DPR akan sama-sama ngotot, adu kuat, dan tarik ulur tentang kebijakan. Maka, media kita selama 5 tahun ke depan diprediksi akan dihiasi lebih banyak berita perseteruan antara parlemen dan Pemerintah.

Ada yang mengatakan perseteruan antara KIH dan KMP merupakan kelanjutan dari Pilpres. KMP dituding masih sakit hati, sedangkan KIH dianggap terlalu jumawa namun akhirnya kalah dalam pertandingan di parlemen. Politisi dari kedua kubu tetap melangsungkan perang opini di media. Celakanya, media arus utama yang selama Pilpres menjadi partisan, hingga Pilpres usai dan pelantikan presiden terpilih akan dilangsungkan, media-media tersebut tetap saja partisan dan menjadi tukang kompor untuk mendukung masing-masing kubu. Dengan kekuatan dan jaringan media yang dimilikinya, mereka menghadirkan opini negatif terhadap kubu lawan sembari memberi pembenaran untuk kubunya sendiri. Saya sendiri sudah malas membaca atau memirsa media-media tersebut karena isinya menyebarkan kebencian kepada pendukung kubu lawan. Yang paling terasa sekali menjadi media komprador adalah media pendukung kubu KIH. Sungguh menyedihkan melihat media yang sejatinya independen ternyata menjadi tukang kompor di tengah masyarakat yang sudah terbelah selama Pilpres kemarin.

Parahnya lagi, perseteruan tidak hanya di kalangan politisi dan media pendukung, tetapi juga merambah hingga ke pendukung di kalamgan masyarakat terpelajar. Lihat saja diskusi di media sosial, isinya kebanyakan buli membuli, pelecehan, perendahan martabat, dan penghinaan ke pendukung kubu sebelah. Seakan masih belum puas untuk membuli selama Pilpres, setelah Pilpres pun masih tetap menjelek-jelekkan. Grup di Facebook yang saya ikuti isinya sampah, membicarakan hal yang sia-sia dan tidak ada gunanya lagi.

Menurut saya, kedua kubu –termasuk media pendukung dan kaum terpelajar pendukung masing-masing kubu– gagal move on. Mereka gagal berpindah ke status nromal. Mereka gagal untuk memberikan ketenangan dan kedamaian setelah Pilpres. Tetapi, mereka tetap terus menghidupkan api permusuhan yang entah sampai kapan berakhir. Buat apa sih jelek menjelekkan kubu lawan, tidak ada manfaatnya. Toh kita sebangsa dan senegara. Masyarakat awam saja sudah melupakan perbedaan selama Pilpres dan sudah kembali ke kehidupan normal, tetapi mereka yang katanya terpelajar tetap saja gagal move on.

Dipublikasi di Indonesiaku | 3 Komentar

Randang Kurban

Setiap Hari Raya Idul Adha tiba, saya selalu teringat alamarhumah ibu saya. Ibu kami di Padang selalu mendapat pembagian daging qurban dari masjid, karena ibu ikut kurban di masjid dengan 1/7 sapi. Ditambah dengan ayah (alm) saya yang juga ikut kurban 1/7 sapi, maka daging kurban yang diterima alhamdulillah lebih dari cukup.

Daging qurban itu dimasak oleh ibu menjadi randang (rendang) hitam yang enak. Sebagian randang itu dimasukkan ke kaleng susu lalu di kirim ke saya di Bandung lewat paket Titipan Kilat (sekarang Tiki). Ini randang kurban, katanya via secarik kertas di dalam paket. Setelah dibuka harap dipanaskan, bunyi isi surat tersebut selanjutnya. Randang qurban itu barokah, karena daging kurban itu juga berkah sebagai wujud ketaqwaan seorang hamba kepada Tuhannya.

Randang kurban dari ibu tahan selama sebulan, lumayan menghemat pengeluaran makan saya sebagai mahasiswa kos saat itu. Saya tidak perlu lagi membeli makan di warung, saya cukup membeli nasi putih saja atau memasaknya sendiri di rumah, lalu lauknya adalah randang kiriman ibu. Rendangnya dihemat-hemat agar lama habisnya hingga tinggal dedaknya saja. Bahkan makan nasi dengan dedaknya saja sudah enak, apalagi kalau ada dagingnya.

Kebiasaan mengirim randang kurban itu selalu dilakukan ibu hampir setiap tahun, bahkan setelah saya menikah dan punya anak ibu masih mengirim saya randang kurban. Tidak hanya saya yang dikirimnya randang, kakak saya yang bekerja di Jakarta juga mendapat kiriman randang kurban dari Padang.

Sekarang, setelah ibu dan ayah saya tiada, setiap kali mendapat daging kurban dari masjid, saya selalu mengolahnya menjadi randang kurban. Randang kurban itu barokah. Randang kurban tidak hanya sekedar masakan, tetapi wujud kecintaan seorang ibu kepada anaknya di perantauan (ketika mengetikkan kalimat ini mata saya sembab berkaca-kaca, terkenang akan kasih sayangnya dulu). Semoga Allah mengampuni dosa-dosa ayah dan ibu serta melapangkan kuburnya di alam barzah. Amiin.

Dipublikasi di Renunganku | 3 Komentar

Dari Ayunan Hingga ke Liang Lahat

Sebuah foto kiriman dari seorang teman di Facebook memmbuat saya merenung cukup lama. Hidup kita ini bagaikan sebuah perjalanan waktu. Dari lahir sebagai bayi, lalu tumbuh sebagai anak-anak, bersekolah, tumbuh remaja, kuliah, bekerja, dewasa, tua, renta, terbaring sakit, dan berakhir di liang lahat. Perjalanan waktu seorang anak manusia itu bagaikan sebuah siklus yang dimulai dari bayi, muda, tua, mati, lalu tumbuh lagi generasi baru berikutnya yang akan menjalani siklus yang sama.

Bayi-muda-tua-mati (Sumber: Facebook)

Bayi-muda-tua-mati (Sumber: Facebook)

Hampir semua kita tidak menyadari bahwa waktu berlalu begitu cepat. Cara paling mudah memperhatikan berlalunya waktu itu adalah dengan mengamati pertumbuhan anak-anak kita. Kemarin dia masih bayi, digendong-gendong, ditimang-timang, tiba-tiba saja sekarang kita melihatnya sudah menjadi remaja yang aktif. Tiba-tiba saja dia akan segera wisuda sarjana. Tiba-tiba saja dia akan menjadi seorang suami/istri, dan kita akan segera menimang cucu. Begitu cepat waktu berlalu, kita menua bersamaan dengan bertambahnya usia anak-anak kita.

Sebagian orang ada yang “tidak beruntung” karena tidak dapat menjalani siklus tersebut secara penuh, karena di tengah perjalanan hidup tiba-tiba Sang Maha Pencipta memanggilnya kembali ke haribaan-Nya. Ada yang kembali ke Maha Pencipta akibat sakit, ada yang karena kecelakaan, bahkan ada yang mati tidak wajar karena bunuh diri akibat tidak kuat menanggung derita yang amat sangat.

Bersyukurlah kita yang masih diberi hidup hingga saat ini dari Allah SWT. Setiap orang tentu berharap dia mencapai usia sampai hari tua, hingga dapat melihat anak-anaknya menikah, lalu melahirkan cucu-cucu hingga cicit-cicit. Oleh karena itu, kesehatan jiwa dan raga adalah aset yang paling utama di dalam hidup ini agar kita dapat terus menyaksikan anak-anak tumbuh berkembang hingga mereka dewasa, berkeluarga, dan akhirnya kita menjadi aki-aki dan nini-nini yang bahagia.

Menjaga kesehatan saja tidaklah cukup. Sebagai seorang yang beriman dan mempercayai kehidupan akhirat sesudah mati, maka yang harus selalu diingat adalah bekal amal sholeh selama hidup di dunia. Harta yang dibawa mati hanyalah tiga lembar kain kafan, tidak lebih. Tetapi yang menjadi ‘harta” kita menghadap Allah SWT annti adalah amal pahala selama hidup di dunia. Apa guna umur panjang tetapi banyak berbuat dosa. Apa guna punya badan bagus tetapi banyak melakukan kemaksiatan. Oleh karena itu, perbanyaklah berbuat kebajikan, banyak-banyaklah beramal sholeh, banyak-banyaklah menimba pahala sebagai bekal ke akhirat.

Sudahkah anda beramal sholeh hari ini?

Dipublikasi di Renunganku | 2 Komentar

Gaji Habis Setelah Dua Minggu

Seorang teman, dosen juga tapi beda Jurusan, sedikit curhat kepada saya. Saya menyimak curhatnya dengan seksama. Dia “mengeluhkan” kondisinya. Dengan gaji PNS, insentif fakultas, dan tunjangan yang dia terima per bulan, dalam waktu dua minggu atau lebih gajinya sudah habis untuk kebutuhan pribadi dan rumah tangganya. Sangat jarang dia memperoleh penghasilan tambahan sebagai dosen peneliti riset, apalagi dari proyek-proyek. Hidupnya hanya mengandalkan dari makan gaji PNS saja. Setelah gaji habis selama dua minggu, dia pusing memikirkan bagaimana menutupi kekurangan selama minggu selanjutnya menjelang datang tanggal satu bulan baru.

Curhat teman saya tersebut mungkin dialami oleh banyak orang lain yang mengandalkan gaji dari Pemerintah atau kantor untuk menopang kehidupannya, khususnya para pegawai negeri. Mereka harus bisa mengakali bagaimana cara bertahan menjelang datang bulan baru (yang berarti memperoleh gaji bulan berikutnya). Ada yang meminjam uang dari temannya, ada yang menjual barang, atau ada yang berusaha mencari pekerjaan sampingan. Tentu saja pusing kepala memikirkan kondisi galau seperti ini. Namun, sepahit-pahitnya hidup tetap harus dijalani, yang penting tidak mencuri atau korupsi.

Sebenarnya saya pun mempunyai kondisi yang hampir sama dengan teman saya itu. Seringkali setelah dua atau tiga minggu seluruh gaji saya pun sudah habis. Namun untunglah saya mempunyai jurus “penolong” yaitu tabungan. Sejak kecil saya sudah diajarkan hidup hemat dan sederhana. Untungnya lagi saya bukan orang yang suka royal, suka kemewahan, dan konsumtif. Saya tidak merokok, tidak punya kebiasaan mencari hiburan (nonton bioskop, jalan-jalan ke mal), jarang makan di luar, dan lain-lain yang menguras uang. Sejak saya lulus kuliah dan mempunyai penghasilan sendiri, saya sudah terbiasa menabung dari sebagian penghasilan yang saya peroleh. Setiap mendapat penghasilan, sebagian saya sisihkan untuk masa depan. Jika tidak menabung mana mungkin saya bisa membeli rumah, mana mungkin saya bisa memenuhi kebutuhan sekolah anak yang lumayan besar. Apalagi saya dititipkan amanah memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK), maka pengeluaran semakin besar lagi.

Setelah menjadi dosen, kebiasaan menyimpan uang itu selalu saya teruskan. Setiap mendapat penghasilan tambahan di luar gaji sebagai dosen PNS, selalu saya simpan. Kadang-kadang saya mendapat honor riset, kadang-kadang mendapat insentif dari kantor, kadang-kadang mendapat royalti dari penerbit buku (saya menulis beberapa buku), kadang-kadang mendapat undangan dari kampus lain atau dari instansi lain sebagai narasumber tugas akhir atau pembimbing, dan lain-lain. Semuanya itu serba kadang-kadang, tidak menentu, dan tidak setiap bulan ada. Alhamdulillah, disyukuri semua rezeki itu. Semua rezeki dari Allah tersebut saya simpan, tentu di dalamnya ada bagian untuk dhuafa. Ketika minggu kedua atau minggu ketiga setelah gaji sebagai PNS sudah habis, maka barulah saya mengambil simpanan tersebut. Jadi jika dua atau tiga minggu pertama saya makan gaji PNS, maka pada minggu ketiga dan seterusnya, saya terpaksa “makan tabungan”, he..he. Tabungan itulah yang menyelamatkan hidup saya dan keluarga. Andai saya tidak mempunyai simpanan uang, saya tidak bisa membayangkan bagaimana menghadapi kebutuhan hidup yang yang semakin besar dan semakin mahal ini.

Mungkin Anda berpikir saya beruntung masih bisa menabung, sedangkan banyak orang yang jangankan untuk menabung, untuk sehari-hari saja sudah susah. Ya betul, kondisi setiap orang tidak sama. Namun, jika anda berpikir bahwa kunci semua itu adalah hidup sederhana, maka kesusahan menjelang akhir bulan itu dapat diatasi. Sedapat mungkin anda menyisihkan sebagian penghasilan yang anda peroleh, berapapun besarnya, baik dikala susah maupun dikala senang, baik sedang banyak uang maupun lagi banyak kebutuhan. Sedikit tidak mengapa, banyak lebih baik. Meskpun Anda pikir tidak mungkin, namun cara ini baik dicoba.

Ada satu cerita hikmah yang saya baca waktu kecil. Seorang anak perempuan memiliki kebiasaan unik. Tanpa sepengetahuan ibunya, dia selalu menyisihkan satu gelas kecil beras ke dalam kantung setiap hari. Kantung itu dia simpan di sudut lemari. Suatu hari rumah mereka kedatangan beberapa orang tamu jauh. Saat jam makan siang tiba, tamu akan dilayani makan. Si ibu panik karena persediaan beras sudah habis, sementara uang sudah tidak punya untuk membeli beras ke warung. Dengan tersenyum sang anak perempuan menunjukkan persediaan beras yang dia simpan selama ini. Ternyata jumlahnya cukup untuk makan beberapa orang. Alangkah terharunya ibu tadi, dia tidak menyangka anaknya memiliki pikiran jauh ke depan. Ketika ada keperluan mendadak, dia sudah memikirkan kemungkinan itu dengan menyimpan sedikit beras setiap hari untuk berjaga-jaga apabila persediaan beras di rumah habis.

Ingatlah bahwa kita tidak hidup hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk hari esok.

Dipublikasi di Pengalamanku | 11 Komentar

Gedung CC Barat ITB dikala Maghrib

Ketika malam mulai merangkak, sebagian mahasiswa tidak segera pulang ke kosan atau ke rumahnya. Kala malam datang, keriuhan di ruang kuliah, lab, perpustakaan, dan studio beralih ke sekre himpunan, unit kegiatan, dan di Gedung Student Center yang bernama Gedung CC Barat dan Gedung CC Timur (gedung kembar di tengah kampus ITB). Kehidupan malam hari pun baru saja dimulai.

Di Gedung CC Barat itu berkumpul beberapa sekre unit kegiatan mahasiswa. Ruang-ruang terbuka di sana dipenuhi mahasiswa yang sedang melakukan aktivitas. Ada yang sedang berlatih alat musik, belatih tari, olah vokal, dan ada yang duduk berkelompok seperti mendiskusikan sesuatu. (Baca: Sampai Malampun Mahasiswa Masih “Ngampus”)

Suasana Gedung CC Barat

Suasana Gedung CC Barat

Ketika panggilan adzan Maghrib datang, mahasiswa-maahsiswi yang muslim berhimpun di sebuah ruangan di lantai dasar yang difungsikan menjadi Mushola CC Barat. Mereka melakukan sholat maghrib berjamaah di sana. Beberapa orang harus antri sholat karena ruangan yang kecil tidak cukup menampung. Mahasiswa-mahasiswa itu, meskipun sedang belajar ilmu dunia, namun disela-sela kegiatan kuliah, tugas, dan aktivitas yang padat di unit-unit kegiatan, mereka tetap tidak lalai menegakkan sholat.

@Lantai dasar  Gedung CC Barat ITB, sholat Maghrib berjamaah.

@Lantai dasar Gedung CC Barat ITB, sholat Maghrib berjamaah.

Iman, ilmu dan amal harus tetap sejalan.

Dipublikasi di Seputar ITB | Tinggalkan komentar

Program Studi Informatika ITB Memperoleh Akreditasi ABET

Dua tahun yang lalu saya menulis persiapan Informatika ITB Menuju Akreditasi ABET. Setelah dikunjungi (visitasi) dan dinilai oleh asesor ABET dari negeri Paman Sam, maka dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, pada tanggal 22 September 2014 Program Studi Informatika ITB mendapat surat resmi dari ABET yang menyatakan bahwa Prodi kami resmi memperoleh akreditasi internasional ABET. Dengan demikian di ITB sudah ada tujuh Program Studi yang terakreditasi ABET, yaitu Teknik Elektro, Teknik Kimia, Teknik Fisika, Teknik Kelautan, Teknik Lingkungan, Teknik Industri, dan Informatika.

Akreditasi ABET (latar belakang Gedung Labtek V dan VIII, tempat prodi Informatika berrada). Sumber foto: https://stei.itb.ac.id/blog/2014/09/29/4367/

Akreditasi ABET (latar belakang Gedung Labtek V dan VIII, tempat prodi Informatika berrada). Sumber foto: https://stei.itb.ac.id/blog/2014/09/29/4367/

Kerja keras untuk menyiapkan semua dokumen akreditasi akhirnya berbuah manis. Akreditasi ini menjadi kebanggaan mahasiswa, dosen, dan alumni Informatika ITB. Dengan demikian Program Studi Informatika ITB sejajar dengan Program Studi serupa di perguruan tinggi terkemuka dunia. Lulusan Informatika ITB akan mendapat pengakuan internasional dan akreditasi ini menjadi nilai plus untuk bersaing di tingkat global.

Akreditasi ABET ini resminya berlaku mulai 1 Oktober 2014. Hanya sayangnya kami tidak boleh mempublikasikan durasi (masa berlaku) akreditasi tersebut. Saya tidak tahu alasannya kenapa, katanya aturan ABET begitu. Ya sudahlah kalau memang tidak boleh :-).

Yang paling sukar sekarang ini adalah mempertahankan akreditasi tersebut, yaitu bagaimana seluruh proses perkuliahan sejak terakreditasi harus sesuai dengan standard ABET. Mempertahankan ternyata lebih sulit daripada mendapatkannya.

(berita terkait dapat dibaca pada laman web fakultas STEI-ITB: Teknik Informatika ITB Resmi Mendapat Akreditasi Internasional ABET)

Dipublikasi di Seputar Informatika | 1 Komentar