Larangan Rapat di Hotel

Menpan yang baru, Yuddy Chrisnandi, mengeluarkan aturan berupa larangan bagi PNS melakukan rapat di hotel (baca ini). Pada prinsipnya saya setuju dengan semangat aturan tersebut. Maksudnya baik, yaitu gerakan melakukan penghematan nasional. Sudah punya ruang rapat di kantor tetapi rapat kok di hotel?

Bagi kami di ITB, rapat di hotel bukan kebiasaan, hanya sesekali saja untuk refreshing untuk mengurangi efek jenuh. Kalau mengadakan acara rapat di luar kota pasti di hotel karena sekalian menginap di sana. Tapi kalau nanti tidak boleh, ya sudah rapat di kantor saja.

Namun saya pikir aturan ini tidak bisa dipukul rata sebab bisa menjadi kontraproduktif. Kalau memang instansi memiliki ruangan pertemuan yang besar dan representatif, kenapa harus rapat di hotel? Bagaimana jika peserta rapat banyak dan tidak ada ruangan yang mencukupi. Pinjam ke instansi lain? Wah, bisa saja sih, tetapi apa memang segitunya?

Saya katakan tidak bisa dipukul rata karena persoalannya harus dilihat kasus per kasus. Bagi kami di kampus, pertemuan tidak selalu bisa dilakukan di dalam kampus, kadang-kadang harus di luar kota. Misalnya dalam penyusunan kurikulum, kami mengadakan pertemuan dengan alumni untuk mendapatkan masukan. Karena sebagian besar alumni bekerja di Jakarta dan waktu mereka terbatas, maka pertemuan dengan alumni pasti dilakukan di Jakarta. Kalau di Jakarta ya di mana lagi kalau bukan di hotel.

Jadi, jangan dilihat kemangkusannya saja (efisiensi), tetapi juga harus dilihat mana yang lebih sangkil (efektif).

Dipublikasi di Indonesiaku | Tinggalkan komentar

Pantai Sanur (Lagi)

Minggu lalu saya ke Pantai Sanur, Bali, lagi karena ada konferensi internasional yang diadakan di sana. Konferensi diadakan di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, dan kami panitia menginap di hotel yang sama.

Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur

Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur

Ini kali kedua saya ke Pantai Sanur. Kali pertama ketika jalan-jalan bersama keluarga tahun lalu. Menurut saya Pantai Sanur jika dilihat dari dekat biasa-biasa saja. Namun jika dilihat dari atas barulah tampak keindahannya, seperti yang saya potret dari lantai 10 hotel tersebut.

Pantai Sanur tampak dari lantai 10 hotel

Pantai Sanur tampak dari lantai 10 hotel

Pantai Sanur tampak dari sisi kiri

Pantai Sanur tampak dari sisi kiri

Pada pagi hari air laut di Pantai Sanur surut, tetapi siang hingga malam hari air laut kembali pasang. Pantai ini cocok untuk berenang karena ombaknya jauh di tengah dan pantainay dangkal. Di pinggir pantai tidak ada ombak, sehingga jika berenang di pinggir pantai serasa berenang di dalam danau.

Pantai yang nyaris tiada ombak

Pantai yang nyaris tiada ombak

Berenang di sini serasa di  danau karena tidak ada ombak di pinggir pantai

Berenang di sini serasa di danau karena tidak ada ombak di pinggir pantai

Kembali ke hotel tempat kami menginap. Hotel Inna Grand Bali Beach punya sisi cerita yang unik. Cerita tentang tingginya yang melewati tinggi pohon kelapa sudah saya ceritakan pada tulisan terdahulu. Nah, kali ini ceritanya agak mistis. Di hotel ini ada sebuah kamar yang sekarang menjadi kamar suci bagi orang Hindu, yaitu kamar nomor 327. Kamar tersebut adalah kamar yang pernah didiami oleh Bung Karno. Kamar dengan nomor 327 ini tidak disewakan untuk umum, hanya dibuka ketika hari Kamis saja dan pada jam tertentu saja untuk keperluan persembahyangan orang Hindu. Kabarnya Megawati sering mengunjungi kamara ini ketika dia mengunjungi Bali. Menurut cerita, ketika hotel Inna Grand Bali Beach terbakar (?), kamar nomor 327 luput dari amukan api. Wallahu alam. Ada kejadian anehkah di kamar tersebut? Menurut cerita pelayan hotel, sering terdengar suara ketokan dari dalam kamar, tetapi ketika kamar dibuka tidak ada orang di dalamnya. Ah, pasti itu ulah jin, kata saya dalam hati.

Kamar nomor 327

Kamar nomor 327

Meskipun di lingkungan Hindu, hotel ini menyediakan mushola kecil di lingkungan hotel. Lumayanlah menajdi tempat sholat bagi tamu-tamu hotel yang tidak menginap di sana.

Mohola Al Ikhlas di Hotel Inna Grand Bali Beach

Mohola Al Ikhlas di Hotel Inna Grand Bali Beach

Mushola kecil tampak dari depan

Mushola kecil tampak dari depan

Di depan mushola berdiri sebuah pura yang cukup besar. Pura digunakan oleh pegawai hotel untuk bersembahyang, dan juga (mungkin) bagi tamu yang kebetulan beragama Hindu. Hmm… sebuah bentuk toleransi beragama skala kecil di Pulau Bali.

Selain mushola, juga ada pura persis di depannya.

Selain mushola, juga ada pura persis di depannya.

Begitulah catatan perjalanan saya ke Pantai Sanur (lagi).

Dipublikasi di Cerita perjalanan | Tinggalkan komentar

Ponsel Pintar 4G dari Kampus ITB

Beberapa waktu yang lalu media sosial ramai mem-posting beriuta dari sebuah media nasional tentang ponsel pintar (smart phone) dengan teknologi 4G yang dibuat oleh dosen ITB. Ponsel tersebut diberi nama Ivo. Silakan baca beritanya di sini: Keren, ITB Sukses Bikin Ponsel Lokal Berteknologi 4G.

Berita tersebut menjadi istimewa karena ada rasa bangga bangsa kita mampu memproduksi ponsel sendiri, apalagi ponsel pintar dengan teknologi terbaru 4G. Namun jika disebut ponsel buatan dalam negeri atau buatan ITB tidak benar juga, mungkin lebih tepat disebut sebagai ponsel pintar dengan tingkat komponen dalam negeri 30% dan pakar dari ITB (tepatnya dari fakultas STEI-ITB) terlibat di dalamnya. Seperti dikutip dari berita di atas, “Mayoritas komponen produk dari Cina, karena di sini masih sulit didapat,” katanya. Adapun lokasi perakitan dan pembuatannya di Batam. Lokasi itu dipilih karena pabrikan di sana sudah beroperasi selama 22 tahun dan bebas pajak”.

Sebenarnya berita peluncuran ponsel pintar tersebut bukan berita baru. Media sudah mempublikasikannya sejak bulan Juli yang lalu (baca: Smartphone 4G Lokal Didesain ITB). Spesifikasi ponsel Ivo tersebut bisa dibaca pada tulisan ini: Ivo, Smartphone 4G Buatan Indonesia yang Siap Menggebrak) dan ini.

Saya berkesempatan melihat ponsel tersebut. Beberapa ponsel Ivo dibagikan kepada beberapa orang di fakultas saya. Di bawah ini beberapa foto ponsel Ivo yang saya jepret dari ponsel rekan saya. Menurut yang memakainya, ponsel Ivo rancangan Mikroelektronika ITB tersebut kencang sekali operasinya, mungkin karena kecepatan prosesornya yang bagus.

Tampak depan ponsel Ivo dengan sistem operasi Android

Tampak depan ponsel Ivo dengan sistem operasi Android

Tampak belakang ponsel Ivo

Tampak belakang ponsel Ivo

Dengan harga sekitar dua juta ke bawah dan terintegrasi dengan paket internet BOLT, apakah ponsel buatan dalam negeri ini akan merebut hati pengguna ponsel di tanah air? Wallaahu alam.

Dipublikasi di Seputar ITB | 1 Komentar

Sholat Jumat di Masjid Al-Amanah, Hotel Holiday Inn Bandung

Beberapa hari ini saya ada kegiatan mengisi acara workshop di sebuah hotel di Jalan Dago, Bandung. Ketika Hari Jumat tiba, saya memutuskan sholat Jumat di dekat hotel saja. Tahu sendiri kan tidak ada masjid di pinggir Jalan Dago. Kalau mencari masjid yang terdekat adalah masjid Salman ITB di Jalan Ganesha. Berhubung hotel saya cukup jauh dari Masjdi Salman, saya bertanya kepada teman mau sholat Jumat di mana. Ternyata ada masjid yang dekat dengan hotel saya. Masjid tersebut terletak di dalam lingkungan Hotel Holiday Inn, sebuah hotel bintang empat yang megah di Jalan Dago.

Hotel Holiday Inn, Dago.

Hotel Holiday Inn, Dago.

Saya dan teman berjalan masuk ke halaman hotel Holiday Inn. Masjid di hotel ini terletak di basement dekat parkiran mobil. Meskipun terletak di lantai basement, tetapi pihak hotel begitu menghormati keberadaan masjid dan memang ‘niat’ untuk mengadakannya. Masjid di basement tersebut sangat luas dan lapang, aliran udaranya pun terjaga dengan baik dan segar. Saya sebut memang ‘niat’ karena masjid tersebut diberi nama Masjid Al-Amanah. Nama itu dapat kita baca pada pintu masuknya.

Masjdi Al-Amanah, Holiday Inn

Masjdi Al-Amanah, Holiday Inn

Sajadah karpet yang tebal menghiasi lantai basement. Keberadaan karpet hijau ini membuat suasana di dalam masjid terasa adem dan lapang. Tempat sholat untuk perempuan dibatasi dengan sebuah tabir di area belakang.

Suasana di dalam masjid.

Suasana di dalam masjid.

Sholat Jumat hari itu penuh dengan jamaah. Jamaah masjid tidak hanya karyawan hotel dan tamu-tamunya saja, tetapi juga para karyawan dan tamu hotel lain di dekat situ, termasuk karyawan dan pekerja kantor yang berada di sekitar hotel. Selesai sholat saya meninggalkan masjid dengan rasa syukur. Saya hampir tidak percaya ada hotel yang menyediakan masjid yang luas dan bagus buat jamaahnya. Hotel tempat saya memberikan workshop “hanya” menyediakan sebuah ruang kecil untuk mushola di lantai basement yang agak sulit dicapai oleh para tamu.

Saya berdoa semoga hotel-hotel yang memuliakan masjid di dalamnya diberi keberkahan oleh Allah SWT, semoga tamu-tamu yang menginap bertambah banyak dan masjid yang dibangunnya semakin dimakmurkan dan selalu disebut Asma Allah di dalamnya.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 1 Komentar

Menjelang Pasar Seni ITB 2014

Hari Minggu Tanggal 23 November nanti Fakultas Senirupa dan Desain (FSRD) ITB mengadakan hajatan empat tahun sekali, yaitu Pasar Seni ITB 2014. Pasar Seni ITB adalah sebuah ajang yang memeprtemukan pelaku seni dengan masyarakat sehingga masyarakat dapat berinteraksi dengan seniman.

Pasar Seni yang terakhir kali diadakan adalah pada tahun 2010, tepatnya tanggal 10-10-10. Silakan baca tulisan saya tentang Pasar Seni ITB 2010 dan suasana menjelang Pasar Seni tersebut.

Seperti biasa menjelang Pasar Seni, kampus ITB semarak dengan berbagai atribut dan hiasan yang dibuat oleh para mahasiswa Senirupa ITB. Stand-stand bazar telah berdiri demikian banyaknya di dalam kampus.

Di bawah ini beberapa foto yang saya jepret beberapa hari menjelang hari ‘H’.

Dinosaurus dari kaleng bekas

Dinosaurus dari kaleng bekas

Menara bambu di tengah kampus.

Menara bambu di tengah kampus.

Bandul-bandul unik bergelantungan di pepohonan

Bandul-bandul unik bergelantungan di pepohonan

Rangka-rangka 'aneh'

Rangka-rangka ‘aneh’

Hiasan-hiasan kreatif

Hiasan-hiasan kreatif

Stand-stand bazar

Stand-stand bazar

Selamat mengunjungi Pasar Seni ITB tanggal 23 November yang hanya sehari saja, dari pukul 8 pagi hingga pukul 6 sore. Sayang untuk dilewatkan karena hanya empat tahun sekali.

Dipublikasi di Seputar ITB | 2 Komentar

Ahok dan FPI

Perseteruan antara Plt. Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dengan Front Pembela Islam (FPI) belum berakhir. FPI semakin ngotot menolak Ahok menjadi Gubernur DKI menggantikan Jokowi yang sudah berganti posisi menjadi Presiden RI. Hampir setiap minggu FPI melakukan aksi demo menolak Ahok. Semakin lama massa yang dibawa oleh FPI semakin besar, tidak hanya anggotanya saja, tetapi juga massa dari berbagai ormas dan elemen masyarakat lainnya. Aksi demo itu seringkali disertai umpatan dan kata-kata kasar kepada Ahok.

Ahok tentu saja tidak tinggal diam ditentang demikian. Dia pun menyiapkan jurus untuk membubarkan FPI. Ahok sudah mengirim surat kepada Kemendagri dan Kepolisian untuk membubarkan FPI. Tentu saja membubarkan sebuah ormas tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Prosesnya panjang dan melalui jalur pengadilan. Sejatinya membubarkan FPI bukanlah solusi, sebab setelah dibubarkan mereka dapat membuat ormas baru dengan nama yang berbeda tetapi singkatannya sama. Undang-undang di negara kita tidak dapat melarang pembentukan ormas, sebab hak berserikat dan berkumpul sudah dijamin oleh konstitusi.

Saya bukanlah simpatisan FPI dan juga bukan pendukung Ahok. Saya bukan warga DKI, namun seperti kita ketahui apa yang terjadi di DKI pastilah menjadi perhatian semua orang di negeri ini. Dalam hal ini, kasus perseteruan Ahok dan FPI menjadi perhatian saya juga.

Media arus utama (mainstream) umumnya memberitakan penolakan FPI kepada Ahok karena Ahok itu etnis cina dan beragama Kristen. Ahok adalah minoritas, maka minoritas tidak boleh memimpin mayoritas di DKI, demikian kesan yang kita dapat dari pemberitaan media (yang perlu kita kritisi). Namun saya mempunyai pendapat lain. Penolakan FPI terhadap Ahok tidak semata-mata karena isu SARA (meskipun faktor ini juga berperan), namun saya menduga penolakan yang semakin gencar belakangan ini lebih banyak dipicu oleh pernyataan dan kebijakan Ahok sendiri. Beberapa kebijakannya dianggap menyinggung warga muslim Jakarta, misalnya pelarangan menjual hewan kurban di pinggir jalan, pelarangan memotong hewan kurban di sekolah, mempersulit izin pengajian akbar di Monas, dan mengganti seragam muslim dengan baju kebaya Betawi setiap hari Jumat (kebijakan ini akhirnya dibatalkan).

Meskipun sebagian alasan pelarangan itu masuk akal, namun karena Ahok menyinggung hal yang sensitif (urusan agama), maka kebijakannya tersebut menyinggung perasaan keberagamaan seseorang. Melarang pemotongan hewan kurban di sekolah misalnya, disebutkan alasannya karena dapat mempengaruhi psikologis siswa melihat hewan dipotong. Namun Ahok lupa, pemotongan hewan kurban di masjid-masjid pun disaksikan oleh banyak anak-anak, dan selama ini tidak pernah terdengar kasus traumatis pada anak-anak melihat pemotongan hewan kurban. Pemotongan hewan kurban di sekolah adalah sarana pendidikan untuk menanamkan semangat berkurban kepada anak sejak dini.

Selain kebijakan Ahok yang sensitif, sikap dan pernyataan-pernyataan Ahook sendiri yang arogan memicu kebencian dan sakit hati bagi sebagian orang. Ahok sering melontarkan kata-kata kasar, asal njeplak, menantang, emosional, bahkan cenderung melanggar hukum. Usulannya kepada polisi untuk menembak mati pelaku demo yang membuat onar jelas sekali bertentangan dengan hukum. Polisi tidak bisa menembak mati begitu saja pelaku rusuh. Ada prosedur tetapnya untuk menindak pelaku kerusuhan. Mau jadi apa pemimpin rakyat kalau setiap ada kerusuhan langsung meminta tembak mati perusuh? Itu adalah ciri pemimin yang zalim. Seorang pemimpin adalah pelindung masyarakat yang dipimpinnya, bukan membasminya meskipun berbeda pandangan.

Saya melihat Ahok terkesan “besar kepala” dan berada di atas angin karena ia merasa didukung oleh media dan netizen. Ahok dan Jokowi adalah tokoh yang besar oleh media. Gaya Ahok yang apa adanya, tidak basa-basi, ceplas-ceplos, berani, dan sebagainya, dianggap tipe pemimpin yang out of the box, sehingga menimbulkan simpati bagi sebagian orang yang sudah muak dengan perilaku korupsi dan jaim para pejabat di negeri ini.

Lain Ahok lain pula FPI. Sikap FPI yang arogan menolak Ahok secara berlebihan adalah tindakan yang salah serta bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Mencaci maki Ahok dengan kata-kata kasar hanya akan menimbulkan antipati bagi orang lain, termasuk dari orang Islam sendiri. Tidak setuju dengan Ahok tidaklah dilarang, melakukan demo juga tidak dilarang, namun semuanya harus dilakukan dengan cara-cara yang konstitusional, santun, beretika, dan tidak menggunakan aksi kekerasan. Ada salurannya jika menolak, yaitu melalui wakil-wakil rakyat d DPRD DKI.

Mempersoalkan Ahok sebagai Cina dan Kristen yang tidak boleh menjadi Gubernur Jakarta bertentangan dengan konstitusi kita. Di dalam UUD semua orang berkedudukan sama di hadapan hukum, maka tidak ada alasan menolak Ahok menjadi Gubernur hanya karena suku dan agama. DKI Jakarta pernah dipimpin oleh gubernur yang bukan orang Islam, yaitu Henk Ngantung, dan menurut catatan sejarah tidak ada aksi penolakan waktu itu (mungkin karena karakter Henk Ngantung tidak seperti Ahok). Seharusnya pihak yang menolak menyadari bahwa setelah Jokowi menjadi Presien, maka penggantinya adalah wakilnya, dalam hal ini Ahok.

Saya sendiri tidak sepakat dengan penolakan FPI kepada Ahok karena alasan yang bersifat primordial. Meskipun saya bukan warga DKI, saya tidak berkeberatan Ahok menjadi Gubernur menggantikan Jokowi. Konsekuensi hukum setelah Jokowi menjadi Presiden adalah Ahok yang menggantikannya sebagai gubernur. Kita harus sadar dan paham akan hal itu, tidak boleh membantahnya. Di luar alasan itu, menurut pengamatan saya Ahok adalah orang yang baik, tulus, dan sosok pekerja.

Namun, saya bisa memahami jika penolakan FPI dan ormas lainnya terhadap Ahok dipicu oleh pernyataan-pernyataan dan kebijakan Ahok yang menyinggung atau bersifat sensitif. Maka menurut saya, ke depan nanti FPI dan Ahok hendaklah sama-sama memperbaiki sikap. FPI harus lebih santun dan beretika dalam melakukan demo, sebaliknya Ahok harus lebih sabar dan dapat mengontrol dirinya (terutama menjaga mulutnya). Saya sependapat dengan pernyataan Ketua PBNU, K.H. Agiel Siradj, bahwa Ahok harus bersikap lebih sabar dalam berkomunikasi dengan pihak lain, jangan sampai ia membuat orang lain sakit hati dengan kata-katanya. Selalu marah-marah, menggebrak meja, dan berkata kasar dapat menimbulkan antipati dan kemarahan terpendam bagi orang lain. Ahok juga harus lebih peka jika mengeluarkkan kebijakan yang berkaitan dengan rasa keberagamaan. Dia dapat berkonsultasi dengan MUI, para ustad, atau para habib yang menjadi panutan warga muslim DKI. Bagaimanapun Ahok juga adalah pemimpin ulama dan para habib di DKI, selain tentu saja sebagai pengayom masyarakat.

Dipublikasi di Indonesiaku | 14 Komentar

Minimnya Alumni ITB di Kabinet Jokowi, Memang Sudah Sewajarnya Demikian

Beberapa saat setelah Presiden Jokowi mengumumkan kabinetnya, bermunculanlah komentar-komentar dari para alumnus ITB di berbagai grup diskusi di media sosial. Menteri-menteri Jokowi didominasi oleh alumni UGM. Wajarlah, Jokowi kan alumni UGM. Lalu, alumni ITB yang menjadi menteri mana? Rata-rata para komentator di grup alumni ITB mengomentari alumni ITB menjadi menteri makin sedikit. Hanya ada ada dua orang alumni ITB di kabinet itu. Padahal, dalam kabinet-kabinet pemerintahan sebelumnya alumni ITB yang menjadi menteri banyak bertebaran. Maklum saja karena alumni ITB mempunyai jaringan yang kuat di Pemerintahan dan BUMN, hingga ke partai-partai politik, sehingga peluang menjadi menteri sangat besar. Tetapi sekarang dominasinya sudah mulai luntur.

Apakah hal ini sebuah masalah? Tergantung. Jika dilihat dari sejarah, memang kali ini alumni ITB tidak lagi mendominasi pemerintahan baru. Saya tidak tahu penyebabnya dan memang tidak ada keharusan setiap kabinet diisi oleh banyak alumni ITB, bukan? Itu hak perogeratif presiden memilih para pembantunya. Kalau sekarang sedikit, memangnya jadi masalah?

Saya sendiri tidak kaget dengan jumlah yang sedikit itu. Sudah saatnya alumni ITB melakukan introspeksi diri. Ini otokritik buat alumni alamameter saya juga. Reputasi alumni ITB sudah tercoreng dengan banyaknya pejabat negara yang merupakan alumni ITB terjerat berbagai kasus korupsi. Masih segar dalam ingatan kita Pak Rudi Rubiandini yang ditangkap oleh KPK karena kasus suap SKK Migas. Kasus yang paling anyar adalah mantan Menteri ESDM, Jero Wacik, yang ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka korupsi. Kalau dirunut ke belakang masih banyak lagi alumni yang terkena kasus serupa.

Memang yang melakukan korupsi tidak hanya alumni ITB saja, tetapi alumni perguruan tinggi lain pun ada juga, namun rasanya tidak sebanyak alumni ITB. Mereka adalah Rahardi Ramelan (ITS Surabaya) dalam kasus korupsi dana non-bujeter Bulog saat menjabat Menteri Perdagangan dan Perindustrian; Nazaruddin Syamsuddin (UI) dalam kasus korupsi di Komisi Pemilihan Umum (KPU); Miranda Goeltom (UI) dalam kasus cek perjalanan kepada anggota DPR RI; Rokhmin Dahuri (IPB) dalam kasus dana non-bujeter di Kementerian Perikanan dan Kelautan yang dipimpinnya (sumber kutipan dari sini).

Banyaknya alumni ITB yang terjerat kasus hukum adalah sebuah peringatan keras. Karena nilai setitik rusak susu sebelanga. Keunggulan ITB mulai tenggelam karena kasus korupsi tersebut. ITB jelas tidak pernah mengajarkan mahasiswanya melakukan korupsi, namun kalau sudah lulus dari kampus maka tindakan mereka sudah menjadi urusan pribadi masing-masing yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan alamamaternya. Pengaruh lingkungan pergaulan setelah lulus dari kampuslah yang memberikan dampak besar bagi alumni manapun untuk melakukan korupsi.

Maka, menyimak dari berbagai kasus yang memalukan nama alamamter ITB tersebut, sudah wajar kalau Jokowi hanya sedikit memberi tempat kepada alumni ITB. Kalau boleh saya usulkan moratorium dulu bagi aluni ITB untuk menjadi pejabat pemerintahan. Biarlah selama waktu moratorium tersebut menjadi masa untuk introspeksi diri bagi para alumni.

Dipublikasi di Seputar ITB | 4 Komentar