Minggu lalu, seorang mahasiswa saya saya dari Angkatan 2005 yang sudah lulus pada Wisuda Oktober 2009 yang lalu dan sekarang sudah bekerja di Jakarta, datang khusus ke rumah mengantarkan undangan pernikahan. Wah, suprise nih, usia masih muda belia tapi sudah siap menempuh hidup baru membentuk keluarga baru. Calon istrinya sesama ITB juga, Farmasi lagi. Selamat ya H*k*m (wuss… namanya terpaksa disebut nih).
Bukan itu yang saya mau ceritakan. Tapi saya salut pada orang-orang seperti ini. Sudah lulus, sudah bekerja, sudah punya calon (istri atau suami) pula. Apalagi yang ditunggu-tunggu? Ya sudah, kalau restu orangtua sudah diperoleh, menikah saja. Pacaran — atau ta’aruf atau apalah namanya — terlalu lama tidak baik. Lama-lama bosan sendiri, akhirnya “bubar jalan”. Itu masih mendingan, bagaimana jika mereka terjerumus lebih dalam, melakukan apa yang seharusnya belum boleh dilakukan. Itu lebih bahaya lagi, dosa malah yang didapat.
Nikah pada usia relatif muda banyak keuntungannya. Jika langsung diberi Allah keturunan maka ketika anak-anak sudah beranjak remaja orangtuanya masih muda. Kadang saya “iri” sama teman-teman saya, anak-anak mereka sudah besar-besar, sudah mahasiswa pula, padahal orangtuanya sudah umur 40-an seperti saya ini, hi..hi, hi. Tak apalah, mungkin begitu pula jalan hidup masing-masing orang.
Saya juga mencatat beberapa orang mahasiswa saya (biasanya laki-laki) menikah ketika masih kuliah di tingkat 2 atau tingkat 3. Bukan, bukan karena faktor “accident“, tetapi memang dia yang ingin segera karena alasan agama. Saya tidak terlalu menganjurkan yang seperti ini. Menikah pada masa kuliah bisa memecah-mecah konsentrasi, akhirnya kuliah menjadi keteteran karena disibukkan dengan urusan mencari nafkah. Sabar dululah sedikit, tunggu sampai lulus kuliah dan punya pekerjaan tetap. Menikah itu tidak hanya karena demi panggilan agama semata (menjaga syahwat, menghindari fitnah, dsb), tetapi faktor lain juga harus dipikirkan. Mau dikasih makan apa anak orang, dikasih makan rumput?, begitu kata orang-orang tua zaman dahulu kalau anaknya kebelet kawin tetapi pekerjaan tidak ada.
Pada sisi lain, saya juga kadang-kadang sedih kalau mengetahui masih banyak mantan mahasiswi saya yang sekarang pendidikannya sudah tinggi, karirnya sudah bagus, tapi masih juga “sulit jodoh”. Itu saya ketahui ketika bertemu muka, atau ketika ngobrol di ruang maya. Orangtuanya pasti sudah mendesak supaya cepat menikah, tapi mau menikah dengan siapa? Kalau dia laki-laki tentu tidak masalah, sebab umur kepala tiga pun masih laku, masih banyak yang mau. Tapi kalau dia wanita, ia dibatasi oleh kodratnya, oleh hukum alam. Bertambah usia tentu semakin sukar ia menemukan jodoh. Apalagi pria umumnya mencari calon istri yang usianya lebih muda. Masalahnya semakin “berat” kalau wanita itu sudah punya karir mapan atau sudah berpendidikan S2 atau S3, tentu kriteria calon suaminya minimal yang setara, dan mencari yang setara itu semakin susah saja. Saya sendiri banyak menerima “titipan” dari beberapa orang untuk mencarikan calon suami buat anaknya, adiknya, atau kakaknya. Itu bukti bahwa makin kesini makin banyak wanita yang sulit mendapatkan jodohnya.
Bahwa pria mencari calon istri yang lebih muda itu sudah jamak, namun ada saja anomalinya. Mantan mahasiswa saya dari Angkatan 199x menikahi wanita yang usianya 2 tahun lebih tua dari dia, sesama ITB juga. Alasannya mungkin sulit dipahami banyak orang, yaitu niat karena Allah SWT ingin “membantu” wanita tadi yang sudah sulit mendapatkan jodoh. Saya rasa tentu tidak cukup niat “membantu” saja, rasa suka dan cinta pasti harus ada dong. Itu pula yang terjadi pada teman saya sesama dosen tetapi beda jurusan, ia menikahi wanita yang usianya 3 tahun lebih tua karena niat ibadah tadi. Sukar dipahami memang, tapi begitulah, masih ada orang yang seperti ini.
Berkaca dari pengalaman di atas, maka ketika seseorang masih kuliah tidak ada salahnya ia mulai memikirkan masa depan, mulai memikirkan siapa pendamping hidupnya, mulai mencari-cari siapa yang tepat. Tidak perlu merasa tabu membicarakan soal yang satu itu. Bobotnya 20 SKS lho! Menutup diri dari orang lain tidaklah tepat, apalagi memasang roman “jual mahal”. Membuka diri itu penting. Jodoh tidak datang sendiri, tapi harus dicari. Makin luas pergaulan makin baik, makin banyak mengenal orang, makin tahu karakter orang, dan makin tahu mana calon yang menjadi type kita. Mumpung masih mahasiswa, mumpung masih di kampus dengan seabreg kegiatan dan bertemu banyak orang, nanti kalau sudah bekerja pergaulan makin terbatas saja. Ketemu orang hanya yang itu-itu saja, ketemu teman-teman sekantor saja. Ritme hidup yang membosankan: rumah (kosan) — perjalanan — kantor. Betul juga kata orang kalau masa-masa belajar atau masa sekolah (termasuk kuliah) adalah masa yang paling indah dalam hidup ini. Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah, demikian bait sebuah lagu
Menikah itu berarti sudah menjalankan sebagian dari agama, begitu kata Nabi. Sebagian lagi dijalankan sesudah menikah itu. Mudah-mudahan alumni saya yang tengah dilanda keresahan soal urusan yang satu ini, cepat diberikan pasangan hidup oleh Allah SWT. Amiin.













