5 Februari 2010

Nikah pada Usia Muda

Minggu lalu, seorang mahasiswa saya saya dari Angkatan 2005 yang sudah lulus pada Wisuda Oktober 2009 yang lalu dan sekarang sudah bekerja di Jakarta, datang khusus ke rumah mengantarkan undangan pernikahan. Wah, suprise nih, usia masih muda belia tapi sudah siap menempuh hidup baru membentuk keluarga baru. Calon istrinya sesama ITB juga, Farmasi lagi. Selamat ya H*k*m (wuss… namanya terpaksa disebut nih).

Bukan itu yang saya mau ceritakan. Tapi saya salut pada orang-orang seperti ini. Sudah lulus, sudah bekerja, sudah punya calon (istri atau suami) pula. Apalagi yang ditunggu-tunggu? Ya sudah, kalau restu orangtua sudah diperoleh, menikah saja. Pacaran — atau ta’aruf atau apalah namanya — terlalu lama tidak baik. Lama-lama bosan sendiri, akhirnya “bubar jalan”. Itu masih mendingan, bagaimana jika mereka terjerumus lebih dalam, melakukan apa yang seharusnya belum boleh dilakukan. Itu lebih bahaya lagi, dosa malah yang didapat.

Nikah pada usia relatif muda banyak keuntungannya. Jika langsung diberi Allah keturunan maka ketika anak-anak sudah beranjak remaja orangtuanya masih muda. Kadang saya “iri” sama teman-teman saya, anak-anak mereka sudah besar-besar, sudah mahasiswa pula, padahal orangtuanya sudah umur 40-an seperti saya ini, hi..hi, hi. Tak apalah, mungkin begitu pula jalan hidup masing-masing orang.

Saya juga mencatat beberapa orang mahasiswa saya (biasanya laki-laki) menikah ketika masih kuliah di tingkat 2 atau tingkat 3. Bukan, bukan karena faktor “accident“, tetapi memang dia yang ingin segera karena alasan agama. Saya tidak terlalu menganjurkan yang seperti ini. Menikah pada masa kuliah bisa memecah-mecah konsentrasi, akhirnya kuliah menjadi keteteran karena disibukkan dengan urusan mencari nafkah. Sabar dululah sedikit, tunggu sampai lulus kuliah dan punya pekerjaan tetap. Menikah itu tidak hanya karena demi panggilan agama semata (menjaga syahwat, menghindari fitnah, dsb), tetapi faktor lain juga harus dipikirkan. Mau dikasih makan apa anak orang, dikasih makan rumput?, begitu kata orang-orang tua zaman dahulu kalau anaknya kebelet kawin tetapi pekerjaan tidak ada.

Pada sisi lain, saya juga kadang-kadang sedih kalau mengetahui masih banyak mantan mahasiswi saya yang sekarang pendidikannya sudah tinggi, karirnya sudah bagus, tapi masih juga “sulit jodoh”. Itu saya ketahui ketika bertemu muka, atau ketika ngobrol di ruang maya. Orangtuanya pasti sudah mendesak supaya cepat menikah, tapi mau menikah dengan siapa? Kalau dia laki-laki tentu tidak masalah, sebab umur kepala tiga pun masih laku, masih banyak yang mau. Tapi kalau dia wanita, ia dibatasi oleh kodratnya, oleh hukum alam. Bertambah usia tentu semakin sukar ia menemukan jodoh. Apalagi pria umumnya mencari calon istri yang usianya lebih muda. Masalahnya semakin “berat” kalau wanita itu sudah punya karir mapan atau sudah berpendidikan S2 atau S3, tentu kriteria calon suaminya minimal yang setara, dan mencari yang setara itu semakin susah saja. Saya sendiri banyak menerima “titipan” dari beberapa orang untuk mencarikan calon suami buat anaknya, adiknya, atau kakaknya. Itu bukti bahwa makin kesini makin banyak wanita yang sulit mendapatkan jodohnya.

Bahwa pria mencari calon istri yang lebih muda itu sudah jamak, namun ada saja anomalinya. Mantan mahasiswa saya dari Angkatan 199x menikahi wanita yang usianya 2 tahun lebih tua dari dia, sesama ITB juga. Alasannya mungkin sulit dipahami banyak orang, yaitu niat karena Allah SWT ingin “membantu” wanita tadi yang sudah sulit mendapatkan jodoh. Saya rasa tentu tidak cukup niat “membantu” saja, rasa suka dan cinta pasti harus ada dong. Itu pula yang terjadi pada teman saya sesama dosen tetapi beda jurusan, ia menikahi wanita yang usianya 3 tahun lebih tua karena niat ibadah tadi. Sukar dipahami memang, tapi begitulah, masih ada orang yang seperti ini.

Berkaca dari pengalaman di atas, maka ketika seseorang masih kuliah tidak ada salahnya ia mulai memikirkan masa depan, mulai memikirkan siapa pendamping hidupnya, mulai mencari-cari siapa yang tepat. Tidak perlu merasa tabu membicarakan soal yang satu itu. Bobotnya 20 SKS lho! Menutup diri dari orang lain tidaklah tepat, apalagi memasang roman “jual mahal”. Membuka diri itu penting. Jodoh tidak datang sendiri, tapi harus dicari. Makin luas pergaulan makin baik, makin banyak mengenal orang, makin tahu karakter orang, dan makin tahu mana calon yang menjadi type kita. Mumpung masih mahasiswa, mumpung masih di kampus dengan seabreg kegiatan dan bertemu banyak orang, nanti kalau sudah bekerja pergaulan makin terbatas saja. Ketemu orang hanya yang itu-itu saja, ketemu teman-teman sekantor saja. Ritme hidup yang membosankan: rumah (kosan) — perjalanan — kantor. Betul juga kata orang kalau masa-masa belajar atau masa sekolah (termasuk kuliah) adalah masa yang paling indah dalam hidup ini. Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah, demikian bait sebuah lagu :-)

Menikah itu berarti sudah menjalankan sebagian dari agama, begitu kata Nabi. Sebagian lagi dijalankan sesudah menikah itu. Mudah-mudahan alumni saya yang tengah dilanda keresahan soal urusan yang satu ini, cepat diberikan pasangan hidup oleh Allah SWT. Amiin.

4 Februari 2010

SBY dan Kerbau

Kemarin Presiden SBY menunjukkan kekesalannya atas aksi demonstrasi 100 hari pemerintahannya. Pasalnya para demonstan membawa seekor kerbau dan di tubuh kerbau itu ada tulisan SBY dan foto dirinya. Para demonstran mungkin ingin mengatakan bahwa SBY seperti kerbau yang badannya besar tetapi bodoh (SBY badannya kan besar).


(Foto dan berita diambil dari sini)

Tentu saja SBY geram, dan saya pikir itu adalah hal yang wajar. Coba, kalau anda atau orangtua anda disamakan dengan kerbau, tentu anda marah. Kalau anda tidak marah, berarti tidak normal tuh. Secara pribadi saya tidak setuju dengan aksi demonstran yang melecehkan etika itu. Bukannya saya mau membela SBY lho, namun saya ingin proporsional sajalah. Presiden itu kan simbol negara, seperti halnya bendera merah putih dan lambang negara burung garuda. Ada UU yang melarang kita merendahkan simbol-simnbol negara. Bendera saja misalnya, tidak boleh diinjak-injak, apalagi mengenai tanah ketika dikibarkan.

Hal yang sama juga berlaku pada Presiden sebagai simbol negara. Sebagai simbol negara, maka dia adalah representasi negara. Kalau Presiden pergi ke luar negeri maka, dia mewakili negara yang besar ini. Apa yang diucapkan oleh Presiden adakah pernyataan resmi yang mewakili negara. Jadi, pelecehan terhadap SBY dengan menyamakannya sebagai kerbau tentu adalah pelecehan terhadap negara itu sendiri.

Saya melihat para demonstran itu tidak mengerti etika berdemonstrasi. Mereka lebih banyak mengandalkan emosi kebencian ketimbang berdemonstasi secara cerdas dan santun. Aneh juga, padahal yang membawa kerbau itu anak muda yang saya yakin itu mahasiswa. Sebagai orang berpendidikan tinggi tentu mereka seharusnya lebih mengedapankan intelektualitasnya dalam berdemo. Atau saya yang salah lihat, mungkin saja yang membawa kerbau itu preman mabuk yang putus sekolah? Entahlah.

Pada sisi lain, SBY juga agak lebay (berlebihan) sih menurut saya dalam menanggapi aksi demo akhir-akhir ini. SBY menjadi tertekan dan akibatnya dia sering curhat kepada publik (melalui media massa) karena kasus itu telah mengganggu ketenangan tidurnya. Seharusnya SBY bersikap tenang, tidak reaktif, dan tidak merasa panik karena adanya wacana pemakzulan dirinya akhir-akhir ini karena kasus skandal Bank Century. Biasa sajalah, tenang man, senyum dong, toh rakyat bisa menilai sendiri siapa ingin memakan siapa. Apa yang terjadi di gedung parlemen dan di istana negara adalah panggung drama yang disaksikan oleh jutaan rakyat. Pada akhirnya rakyat sendiri yang menyimpulkan dan menilai setiap aksi pelaku peran di panggung itu.

2 Februari 2010

Ampuuun….Membuat Makalah Ilmiah Saja Pakai Joki

Mahasiswa saya sudah biasa menulis makalah sebagai salah satu penilaian kuliah. Semua kuliah yang saya ampu ada tugas membuat makalah. Makalah dibuat dengan format 2 kolom mengikuti format makalah pada jurnal atau proceeding internasional. Makalah tidak boleh berupa tulisan populer atau feature seperti yang kita temukan di media massa, tetapi harus berupa technical report yang merupakan aplikasi suatu metode yang mereka pelajari di dalam kuliah. Technical report artinya tulisan itu berisi istilah-istilah teknis yang hanya bisa dipahami oleh orang dalam bidang yang sama.

Dengan menulis makalah mereka diharapkan dapat mengartikulasikan keilmuannya dalam bentuk tulisan. Agar tulisan itu bisa di-share dan dibaca oleh banyak orang, maka saya mengunggahnya ke dalam situs web saya. Klik daftar makalah mahasiswa pada kuliah yang saya berikan semester lalu. Siapapun yang mengunjungi situs web tersebut dapat mengunduh dan membacanya untuk dipelajari. Ini adalah cara kami menginformasikan dan berbagi pengetahuan dengan orang lain.

Tadi ketika mengakses Detik.com, saya kaget membaca berita bahwa ribuan guru di Riau menggunakan joki untuk membuat makalah ilmiah. Makalah ilmiah digunakan sebagai syarat kenaikan pangkat dari golongan IVa ke IVb. Kenaikan pangkat berarti kenaikan gaji :-) . Beritanya di bawah ini dan diambil dari sini:

Karya Ilmiah Pakai Joki, 1.820 Guru di Riau Terancam Turun Pangkat
Chaidir Anwar Tanjung – detikNews

Pekanbaru – Tindakan tak terpuji dilakukan 1.820 guru di Riau. Mereka menggunakan joki untuk membuat karya ilmiah sebagai salah satu syarat kenaikkan pangkat. Akibatnya, para pendidik ini pangkatnya terancam diturunkan.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Pemprov Riau, Irwan Effendi, dalam perbincangan dengan detikcom, di Pekanbaru, Selasa (2/2/2010).

Irwan menjelaskan, pembuatan karya ilmiah itu dilakukan sebagai syarat kenaikan pangkat dari golongan 4A menjadi 4B. Tapi dalam prakteknya, para guru itu malah menggunakan joki untuk membuat karya ilmiah tersebut.

“Sanksi yang diberikan kepada mereka tentulah menurunkan pangkat mereka kembali. Jumlah mereka mencapai 1.820 orang. Sebagian dari mereka memiliki jabatan sebagai kepala sekolah,” kata Irwan.

Para guru nakal ini adalah guru PNS, mulai dari guru SD, SMP dan SMA. Guru-guru itu menyebar luas di seluruh kabupaten dan kota se-Riau.

“Tindakan penurunan pangkat dan jabatan itu akan dilakukan masing-masing kepala daerah. Karena para guru itu menjadi tanggung jawab masing-masing kabupaten dan kota. Namun demikian kita tetap memproses kasus karya ilmiah yang bukan hasil karya sendiri para guru tersebut,” kata Irwan.

Berita lanjutan yang terkait bisa dibaca di sini. Tentu saja berita ini memalukan dunia pendidikan kita yang memang sudah seperti benang kusut. Guru yang seharusnya memberikan contoh budi pekerti kepada muridnya ternyata malah melakukan kecurangan karena alasan materi.

Biasanya kita hanya bisa menghibur diri bahwa tidak semua guru seperti itu, masih banyak guru yang baik dan bermoral tinggi yang tidak menghalalkan berbagai cara guna mendapatkan kenaikan pangkat. Mudah-mudahan memang demikian adanya. Yang baik itu masih lebih banyak daripada yang buruk.

28 Januari 2010

Soal Pepes-memepes, Orang Sunda Ahlinya (Kisah Sebungkus Nasi Pepes)

Teman saya di Surabaya minta ditulis lagi wisata kuliner yang lain di Bandung. Kangen Bandung, katanya. Maklumlah dulu dia cukup lama tinggal di Bandung (sejak kuliah di ITB hingga bekerja), sebelum akhirnya pindah ke Surabaya. “Di Surabaya nggak banyak variasi makanannya”, kata teman saya itu. “Kalau nggak lontong kupang, lontong balap, rujak cingur, soto, atau nasi pecel. Kalau di Bandung kan bayak sekali variasi makanannya”, lanjut teman saya itu.

Lha iyalah, Bandung kan kota kuliner, kata saya tersenyum. Bandung dikenal dengan warganya yang kreatif, mulai dari seni hingga masakan. Bangga dong sebagai orang Bandung jika kotanya dipuji begitu.

Baiklah, memenuhi permintaan teman saya itu, saya tampilkan pengalaman saya membeli nasi pepes (atau pepes nasi, sama saja ). Nasi pepes? Iya, nasi pepes. Kalau soal pepes memepes, orang Sundalah ahlinya. Segala rupa makanan dipepes, mulai dari ikan pepes, ayam pepes, tahu pepes, tempe pepes, telur pepes, ikan asin pepes, jamur pepes, dan terakhir nasi pepes. Pepes adalah teknik memasak makanan yang dibungkus dengan dun pisang (setelah dibumbui tentunya), kemudian dikukus di dalam dandang hingga bumbu menyerap ke dalam bahan makanan.

Nasi pepes adalah nasi yang sudah dibumbui dengan aneka bumbu dan dicampur dengan lauk pauk berupa potongan ayam, telur burung puyuh, ati-ampela, ikan asin jambal roti, dan jamur. Kadang-kadang ada biji pete juga :-) . Bumbunya adalah santan, bawang merah, bawang putih, kemiri, batang sereh, daun salam, dan beberapa bahan lagi (saya kurang tahu persis). Santan berfungsi untuk membuat gurih nasi (seperti nasi uduk). Untuk menambah cita rasa harum maka ke dalam nasi pepes dimasukkan daun kemangi. Cara memasaknya tidak sulit (ini dari pengamatan saya yang senang memasak). Masukkan bumbu yang sudah dihaluskan ke dalam nasi yang sudah setengah matang, kemudian nasi dibungkus dengan daun pisang. Selanjutnya kukus di dalam dandang selama setengah jam hingga bumbu meresap. Setelah dikukus, nasi pepes dibakar di atas bara api untuk menciptakan sensasi harum. Kebayang kan enaknya?

Beberapa tahun terakhir ini cukup banyak yang menjual nasi pepes di Bandung. Mula-mula saya temukan nasi pepes pepipela yang dijual di kedai pinggir Jalan Imam Bonjol (dekat factory outlet). Dulunya nasi pepes ini lumayan enak, tapi akhir-akhir ini kok enaknya sudah berkurang. Di belakang Gedung Sate (Jalan Cimandiri) juga ada nasi pepes Sawargi, tapi rasanya average lah. Yang uueenak dan mak nyus adalah nasi pepes Anugerah di Jalan Terusan Jakarta 10 E. Nasi pepes yang terakhir inilahyang saya certakan di sini.

Tadi siang dalam perjalanan ke kampus saya singgah ke ruko yang menjual nasi pepes Anugrah. Saya beli satu untuk bekal makan siang nanti usai mengajar. Satu porsi harganya Rp12.500. Saya cukup sering membeli nasi pepes di sini. Jika lagi patah selera dan bosan dengan masakan Padang melulu, maka saya beli nasi pepes ini.

Usai mengajar jam 13.00, perut sudah terasa lapar. Bau harum dari nasi pepes tercium ke seluruh ruangan. Yuk, kita buka dus nasi pepesnya. Mau tahu kan seperti apa bentuknya? Ini dia:

Kita buka dulu bungkus daun pisangnya ya. Sabar, sabar, nanti kebagian kok.

Sudah tidak sabaran lagi? Yuk kita urai nasinya supaya terlihat aneka lauk dan daun-daun yang membuat harum nasi pepes ini.

Yang merah itu adalah sambalnya. Tanpa sambal makan nasi pepes kurang afdhol, apa lagi siang-siang panas begini.

Wah, jadi tambah lapar. Yuk, saya makan dulu ya. Mau? Rasanya jangan ditanya, gurih mantap!

Setelah beberapa menit, tinggal segini:

Yaaahhh…. nggak kebagian dong. Kalau mau, datang saja ke alamat itu, beli nasi pepesnya.

Beberapa jam sesudah makan, teman satu ruangan dengan saya nanya, makanan apa itu di meja kok harum sekali?, tanyanya kepada saya. Lho, padahal nasi pepesnya sudah habis sejak tadi, tapi sisa bau harumnya masih belum hilang juga. Baik, kapan-kapan saya beli dua ya, satu untuk dia.

Baca terus →

28 Januari 2010

Do’a Khatam Quran (Terkenang Masa Belajar Mengaji)

Lamat-lamat dari pengeras suara di masjid terdengar suara anak-anak melantunkan doa khatam Quran (doa sesudah selesai membaca Al-Quran). Doa itu terdengar begitu syahdu, membuat kalbu bergetar. Inilah doa khatam Quran itu:

Allahummar hamna bil Quran
waj’alhu lana imaamau wa nuurau wa hudaw wa rahmah
Allahumma dzakkirna minhu maa nasiina
wa ’allimna minhumaa jahiilna
warzuqna tilaawatahu
aana al laili wa athrofannahar
waj’alhu lana hujjatan
Yaaa rabbal ‘alamiin

Artinya kira-kira begini:

Ya Allah kasih sayangilah daku
dengan sebab AlQuran ini
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai pemimpin
sebagai cahaya
sebagai petunjuk
dan sebagai rahmat bagiku
Ya Allah ingatkanlah daku
apa-apa yang aku lupa dalam AlQuran
yang telah Kau jelaskan
dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui
Dan kurniakanlah daku
selalu sempat membaca AlQuran
pada malam dan siang hari
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai hujjah bagiku

**********

Bagi anda yang pernah dididik di pesantren atau di Taman Pendidikan Alquran semasa kecil, tentu anda pernah melafalkan doa ini bersama-sama. Pengalaman masa kecil belajar agama menjadi terkenang-kenang.

Kemarin sore — ketika di kantor — saya mendengarkan siaran MQ FM dari radio kecil di atas meja saya. Sesudah pembacaan sebuah surat dalam Al-Quran, penyiarnya memutar sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Haddad Alwi dan Shila. Judul lagunya Rahmat Quran. Setelah saya simak ternyata bait-bait lagunya berisi doa khatam Quran itu dalam tiga bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia). Penasaran, saya cari-cari di Youtube video lagu ini, eh…ketemu. Klik situs Youtube ini yang menayangkan video lagu Rahmat Quran yang tidak lain berisi doa khatam Quran.

Berikut bait-bait lagu Rahmat Quran itu:

Rahmat Qur’an
( Haddad Alwi dan Shila )

Allah turunkan rahmat qur’an
jadikan Qur’an cahaya petunjuk kebenaran
Allah ingatkan kami
semua yang kami lalai, berikan ilmu yang bermanfaat
jadikan qur’an bacaan yang kami cinta
di malam dan siang
jadikan Qur’an penerang
Ya Robbal ‘alamin

Versi B. Inggris

Oh Allah bless us with al Qur’an
Make it our leader our light our guide and blessing
Allah remind us of what we forget and teach us what we don’t know
Oh my beloved Allah
Do al Qur’an as our reading all night and all day,
All night and all day
Make al Qur’an our foundation
Ya Robbal Alamin

Versi B. Arab

Allahummarhamna bil Qur’an
Waj’alhulana imamaw wa nurrow wahudaw wa rohmah
Allahumma dzakkirna min huma nasiina wa a’limna minhuma jahilna
Warzuqna tilawatahu aana
Allaili wa athrofannahar
Waj’alhu lana hujjatan
Ya Robbal ‘Alamin

26 Januari 2010

Bapak Penjual Rambutan

Musim hujan tidak hanya banjir durian di Bandung, tetapi juga banjir duku dari Palembang dan rambutan asal Subang, Jawa Barat. Berton-ton rambutan menyerbu kota Bandung. Selain dijual di jongko-jongko kaki lima, rambutan itu dijual di mobil bak terbuka. Tidak hanya di daerah pasar atau pertokoan, pedagang dengan mobil bak terbuka itu juga masuk ke kantong-kantong pemukiman.

Sore sepulang dari kantor saya selalu melewati daerah Cicadas (Jalan Ahmad Yani). Sepanjang jalan itu banyak sekali mobil bak terbuka penjual rambutan. Berhubung anak saya yang bungsu penggemar rambutan, saya berhenti di depan seorang pedagang untuk membeli beberapa ikat rambutan. Tiga ikat rambutan harganya Rp10.000. Masih segar-segar rambutannya, tampaknya baru dipetik dari pohon. Merah-merah menggiurkan. Siapa yang melihat pasti tergiur untuk membelinya.

Saat ini harga rambutan jatuh karena melimpahnya pasokan dari Subang. Ada yang berani menjual 4 ikat dengan harga Rp10.000, ada pula yang banting harga tiga ikat Rp5.000. Benar-benar pedagang rambutan tidak menikmati untung besar karena panen yang melimpah ruah itu. Malangnya lagi, rambutan yang sudah dipetik itu tidak tahan lama, setelah dua hari di ruang terbuka kulitnya sudah mulai layu, tidak menarik lagi untuk dipajang. Karena itu, rambutan yang dijual harus terjual habis selama satu dua hari itu sebelum datang lagi pasokan segar dari sentra produksi.

Pasokan rambutan dari Subang seperti tidak habis-habisnya mengalir. Satu kelemahan dari rambutan Subang ini adalah tidak malokak (Bahasa Minang :-) ). Apa ya bahasa Indonesianya? Arti malokak kira-kira begini: jika anda menggigit daging buah rambutan namun kulit bijinya ikut terangkat ketika digigit berati tidak malokak. Kurang nyaman makan rambutan jika kulit bijinya ikut terkelupas. Nah, kalau soal malokak-lokak ini, rambutan rapiah asal Acehlah juaranya. Rambutan rapiah ukurannya kecil-kecil, biarpun kulitnya masih berwarna kuning namun rasanya sudah manis, dan yang paling penting malokak itu. Sayang sekali di Bandung tidak ada rambutan rapiah dari Aceh, mungkin terkendala jarak yang jauh. Adakah yang membudidayakan rambutan rapiah di Jawa Barat ini?

Itulah rambutan, buah tropis yang selalu dikangeni jika kita berada di luar negeri, khususnya di negeri 4 musim, soalnya tidak ada rambutan di sana. Apa bahasa Inggrisnya “rambutan”? Hairy fruit? Kurang tepat. Tidak ada padanan katanya dalam Bahasa Inggris, tapi kepada orang asing cukup dikatakan begini: A red fruit covered with long hair-like filaments. Masih belum mengerti?

23 Januari 2010

Ketika “Bonek” Bikin Repot Orang Bandung

Hari ini (nanti malam) kesebelasan Persebaya Surabaya akan berhadapan dengan Persib Bandung di stadion Jalak Harupat, Soreang Bandung. Kalau Persebaya yang main, maka dipastikan ratusan hingga ribuan pendukungnya yang disebut bonek (bondo nekat) akan mbrojol menyerbu kota tempat pertandingan, di manapun itu, asalkan masih di Pulau Jawa.

Seperti tadi pagi, saya baca di koran PR, jajaran aparat di Bandung sudah sibuk mengantisipasi kedatangan para bonek itu. Mereka datang ke Bandung dengan kereta api ekonomi dari Surabaya. Ada yang turun di stasiun Kiaracondong, ada yang turun di stasiun Cicalengka, lalu naik tumpangan gratis truk atau mobil bak terbuka menuju Bandung (baca beritanya di sini).

(foto diambil dari koran PR)

Sepanjang jalan kereta api dari Surabaya menuju kota pertandingan saja para bonek ini sudah bikin resah penduduk sepanjang rel kereta api. Hal ini karena berdasarkan pengalaman warga yang rumahnya dilempari bonek dengan batu dari atas kereta. Sebagai balasannya, kereta api yang mengangkut para bonek yang pulang ke Surabaya dilempari batu oleh penduduk sepanjang rel. Malangnya ada bonek yang tewas karena dilempar batu tadi. Entah berapa kerugian PT KAI setiapkali mengangkut para bonek. Bonek naik kereta saja banyak yang tidak mau bayar, ditambah lagi dengan kerusakan kereta karena lemparan batu. Bahkan, bonek ketinggalan kereta saja sudah membuat warga di stasiun kereta ketakutan.

Sampai di Bandung para bonek mulai bikin ketar ketir sebagian warga kota. Publik Bandung saja sudah terbiasa khawatir dengan bobotoh Persib yang sering melakukan perusakan usai pertandingan jika Persib kalah, apalagi dengan kedatangan para bonek. Hari ini jalan-jalan di Bandung tampak sepi, tidak seramai seperti biasanya akhir pekan. Warga lebih banyak berdiam di rumah, menghindar bertemu dengan bonek. Namanya juga bonek alias modal nekat, mereka kalau sudah berada dalam komunalnya cenderung berbuat nekat apa saja. Bagaimana tidak nekat, dari Surabaya hanya membawa uang pas-pasan cuma Rp 10.000, mana cukup buat makan untuk beberapa hari Bandung, apalagi untuk beli karcis pertandingan. Tidak cukup uang, para bonek pun tidak kehilangan akal. Mereka mengamen di jalanan Bandung untuk mendapatkan tambahan uang.

Ulah para bonek memang membuat orang geleng-geleng kepala. Tidak habis pikir, kok nekat banget. Sebagian bonek tidak segan-segan meminta uang kepada pengguna jalan. Seperti dikutip di Detik.com, bonek menghentikan kendaraan bermotor yang lewat dan meminta uang. Tak hanya minta uang, mereka juga tak segan untuk meminta rokok pada pengguna jalan yang lewat. Para pengguna jalan pun tak kuasa menolak permintaan para bonek ini. Mereka akhirnya memberi uang sekenanya, atau langsung memberi rokok. Berita lainnya baca di sini.

(Sumber foto: Detik.com)

Kedatangan bonek di Bandung memberi efek ketakutan bagi para pedagang makanan. Bagaimana tidak, mereka sering menjarah makanan yang dijual pedagang tanpa mau membayar (lha iyalah, menjarah berarti sama dengan mencuri). Saking takutnya, maka pada hari ini sepanjang jalan Kopo hingga Soreang mendadak para pedagang makanan tiba-tiba lenyap begitu saja (beritanya di sini), padahal biasanya mereka berjualan sepanjang trotoar. Hari ini sampai besok mereka memilih tidak berdagang, khawatir dagangan makanan mereka diserbu para bonek yang kelaparan dan tidak mau bayar.

Kedatangan bonek menambah kerepotan aparat di kota dan Kabupaten Bandung. Supaya tidak bertambah nekat, para bonek itu disediakan penampungan (istilahnya di karantina) di Lanud Sulaemen, Margahayu. Sudah itu, mereka disediakan makanan dan dapur umum untuk melayani mereka makan. Prasmanan lagi makannya. Baik banget ya, tapi nggak apalah supaya para bonek itu nggak macam-macam, diberi makan guna meredam emosi para bonek itu, karena orang lapar biasanya sering emosi dan brutal.

Musuh bebuyutan para bonek sebenarnya bukanlah bobotoh Persib, tetapi Aremania, yaitu arek-arek pendukung Arema Malang, sama-sama satu propinsi sebenarnya (sepertinya ada rivalitas antara kota Surabaya dan Malang sejak dulu, begitu yang saya dengar). Kalau sudah bermain melawan Arema, maka dipastikan ada kerusuhan sebelum dan sesudah pertandingan.

Nah, di Bandung para bonek tahu diri juga, mereka tidak mau mencari keributan dengan bobotoh Persib. Meskipun ada trauma perang Bubat antara orang Sunda (kerajaan Galuh) dan orang Jawa (kerajaan Majapahit) pada masa lalu, tapi dalam urusan sepakbola trauma itu sepertinya tidak berlaku. Tidak ada catatan kerusuhan antara bobotoh dan bonek, dan rasanya belum pernah terjadi para bonek membuat kerusuhan di Bandung gara-gara Persebaya kalah. Entahlah kalau nanti malam. Mungkin tipikal orang Sunda yang lemah lembut membuat bonek segan untuk membuat keributan. Lagi pula, mana mau para bonek itu berhadapan dengan bobotoh yang jumlahnya ratusan ribu, apalagi ini di kampung orang lagi. Pasti takut juga mereka. Para bonek itu hanya ingin menunjukkan eksistensi mereka saja kepada orang-orang di sini bahwa mereka benar-benar nekat datang ke Bandung, meneruskan atau melestarikan tradisi dari pendahulunya dengan berbuat apa saja agar bisa makan dan nonton bola. Namanya saja bonek, modal nekat.

22 Januari 2010

Harga Beras Melambung, Kasihan Rakyat Miskin

Dikala para politisi di parlemen sibuk berpolemik dan bertengkar membahas kasus Bank Century, yang ujung-ujungnya ingin menjatuhkan menteri, wapres, dan presiden, ada berita yang luput dari perhatian para elit politik padahal masalah ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Tahukah anda bahwa harga beras akhir-akhir ini naik cukup tajam. Satu kg beras kualitas sedang harganya sudah mencapai Rp6500 hingga Rp7000, diperkirakan harganya akan terus meroket. Minggu lalu saya beli beras jenis pandan wangi harganya sudah 170 ribu per 25 kg (biasanya hanya Rp 160 ribu), sementara di kios lain sudah mencapai Rp 180 ribu. Alhamdulillah, saya sendiri masih sanggup membeli beras semahal apapun kenaikannya, tapi bagaimana dengan rakyat miskin yang penghasilannya pas-pasan, yang sehari-harinya hanya punya penghasilan Rp10.000? Dapat apa dengan uang segitu untuk memberi makan keluarganya? Baca berita menyedihkan ini.

Beras, bagaimanapun sangat penting bagi orang-orang miskin, terutama di desa-desa. Jika orang-orang kaya di kota bisa membeli roti jika mereka bosan makan nasi, tidak demikian halnya dengan orang desa. Satu buah roti yang harganya Rp5000 mungkin hanya untuk dimakan seorang, tapi bagi orang desa uang lima ribu itu bisa membeli satu kg beras untuk makan berempat. Pameo “belum makan sebelum makan nasi” memang benar adanya. Bagi orang-orang desa yang bekerja keras membanting tulang untuk membeli satu cangkir beras, nasi adalah sumber tenaga dahsyat yang tidak tergantikan.

Apa jadinya jika beras mahal dan tidak mampu dibeli? Makan nasi menjadi barang mewah, namun “kreatifitas” (dalam tanda petik) selalu muncul untuk menyiasati hal ini. Apapun dilakukan mereka asal tetap makan nasi. Bagi orang miskin di Jawa, mereka sudah biasa makan nasi aking. Nasi aking adalah sisa nasi yang sudah basi, kemudian dijemur hingga kering, selanjutnya direndam beberapa malam agar lunak, baru kemudian dimasak. Perhatikan gambar seorang nenek yang makan nasi aking dengan cucu-cucunya di bawah ini (gambar diambil dari sini):

Selain nasi aking, orang desa di Jawa sudah biasa makan nasi tiwul dan nasi jagung. Nasi tiwul adalah nasi yang dicampur dengan gaplek (singkong kering), sedangkan nasi jagung adalah nasi yang dicampur dengan tepung jagung. Biasanya, kalau beras sudah menipis, maka persediaan jagung kering yang ada di loteng rumah terpaksa diturunkan, kemudian biji jagungnya dipipil. Jagung ditumbuk, lalu beras dicampur dengan tepung jagung sebelum kemudian dimasak.

Jika harga beras tidak bisa dikendalikan, maka jangan heran akan muncul masalah sosial yang tidak kalah hebat dengan kasus Bank Century itu. Uang trilyunan rupiah “yang dirampok” Bank Century itu bisa membeli beras berjuta-juta ton untuk membantu orang-orang miskin yang tidak mampu membeli beras.

20 Januari 2010

Pedagang Program Bajakan di Depan Kampus

Berjalanlah di sepanjang Jalan Ganesha, maka anda akan menemukan beberapa pedagang program (software) bajakan yang menggunakan tenda sebagai gerainya. Seperti foto di bawah ini:

Harga program bajakan yang dijual pedagang ini (dalam bentuk keping CD atau DVD) berkisar antara Rp10.000 hingga Rp25.000. Mau pesan program lain yang tidak ada di sana juga bisa. Pelanggannya cukup banyak, mulai dari mahasiswa, dosen, pelajar, orang kantoran, dan masyarakat umum. Tidak hanya menjual program bajakan, mereka juga menjual aneka CD game. Mereka menjual produk bajakan itu terang-terangan tanpa takut dirazia atau ditangkap oleh aparat. Seperti halnya para pedagang VCD bajakan di emper-emper toko dan kaki lima, mereka tetap aman berdagang meskipun tidak jauh dari situ ada polisi hilir mudik. Polisi pun membiarkan saja pedagang itu, mungkin mereka pikir itu orang-orang kecil yang mencari nafkah.

Kebanyakan program ketika diinstalasi (setup) ke komputer akan menanyakan kunci atau nomor registrasi sebagai prasyarat sebelum bisa dipakai oleh pengguna. Pada program yang dibeli secara legal, kunci atau nomor registrasi itu tertera di balik bungkus CD/DVD atau pengguna harus melakukan registrasi dulu secara online ke server pengembang untuk mendapatkan kunci yang valid. Bagi pembajak, mereka tidak kehilangan akal untuk mendapatkan kunci pada setiap keping CD/DVD bajakannya. Mereka cukup membeli satu program yang legal (yang berarti mendapatkan kuncinya), lalu membuat program cracker untuk membangkitkan kunci tersebut (program keygen). Program keygen hanya membangkitkan kunci-kunci yang legal (yang berarti akan dikenali oleh program setup). Program keygen disisipkan di dalam setiap CD/DVD bajakan. Pembeli program bajakan hanya perlu menjalankan program keygen ini ketika program setup menanyakan kunci, lalu meng-copy-paste kunci yang dihasilkan ke pertanyaan program setup. Sederhana, bukan?

Di lingkungan kampus, program bajakan itu banyak disimpan di komputer server lab. Bagi mahasiswa yang mencari program yang dibutuhkannya, ia hanya perlu melakukan telnet atau ftp ke server tersebut untuk mengunduh program tersebut lengkap dengan keygen nya.

Jika dipikir-pikir pedagang itu untung besar menjual program bajakan. Modalnya hanya CD/DVD kosong yang harganya tidak sampai 2000 rupiah per keping. Mereka meng-copy program ke setiap keping, lalu menjualnya dengan harga lima hingga sepuluh kali harga CD/DVD kosong. CD bajakan jumlahnya bisa ribuan buah yang didistribusikan ke seluruh Indonesia. Harga program yang legal mungkin berkisar ratusan ribu hingga jutaan, tapi di tangan pedagang itu hanya dihargai 20 ribu prak. Benar-benar menggemaskan dan menjengkelkan bagi si pembuat program. Padahal membuat program itu butuh waktu berbulan-bulan dengan menguras pikiran, tenaga, biaya, bahkan perasaan, namun di tangan pembajak karya mereka dihargai sama dengan sepiring bakso. Pantaslah pembajakan itu adalah perbuatan kriminal karena merugikan pembuatnya. Indonesia adalah surga bagi para pembajak. Pembajakan apa saja, mulai dari film, musik, buku, hingga piranti lunak. Yang belum ada hanya pembajak pesawat :-) .

Pedagang program itu tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Sistemlah yang membuat pembajakan itu ada. Harga program yang legal tidak terjangkau oleh masyarakat umum. Selain itu, yang masalah utama adalah akses untuk mendapatkan program legal tidak mudah, mencarinya pun susah-susah gampang. Program yang legal tidak selalu ada gerai resminya. Coba sebagai contoh kecil, dimana kita bisa membeli program WinZip atau WinRar yang legal yang sering dipakai untuk kompresi/dekompresi? Ketika kebutuhan akan sebuah piranti lunak itu sangat mendesak (kepepet) dan mencari yang legalnya sulit, akhirnya orang mencarinya di gerai-gerai bajakan itu. Hayo, siapa yang tidak pernah menggunakan program bajakan? VCD bajakan? DVD bajakan? Saya pernah (hi..hi, ngaku). Saya rasa hampir semua orang pernah memakai program bajakan. Coba periksa apakah semua program di laptop atau komputer anda semuanya program legal? I think no.

Menyedihkan memang, tapi itulah faktanya. Kampanye penggunaan freeware ataupun open source hanya berhasil mengatasi sebagian masalah (karena tidak semua program ada opensource atau freeware nya), sebagian lagi tidak dan ini adalah peluang subur untuk tumbuhnya industri pembajakan. Keberadaan pedagang program bajakan itu dibenci (karena melakukan kriminal pembajakan) tapi pada sisi lain ia dibutuhkan (kalau lagi butuh-butuhnya program yang diinginkan). Benci tapi rindu.

15 Januari 2010

Serial Animasi “Upin dan Ipin” Mencuri Perhatian

Di tengah hubungan yang kurang harmonis antara Indonesia dan Malaysia, ternyata sebuah serial animasi asal ngeri jiran itu mencuri perhatian anak-anak dan keluarga Indonesia. Judul serial animasi itu adalah Upin dan Ipin.

Serial animasi ini diputar di stasiun televisi TPI setiap hari. Ceritanya berkisar tentang keseharian anak-anak Malaysia yang bernama Upin dan Ipin, teman-temannya bernama Mei-Mei, Rajoo, Fizi, dan lain-lain. Upin dan Ipin adalah anak-anak yang cerdik, sekaligus polos dan kadang-kadang nakal. Ada kakak mereka yang galak –kak Ros, lalu Opah dan cikgu Jasmin yang ramah. Dialognya menggunakan bahasa melayu-Malaysia namun diberi teks terjemahan dalam Bahasa Indonesia.

Cerita di dalam film animasi ini sungguh kocak. Mereka masih anak-anak tetapi mengajarkan banyak hal kepada orang, utamanya tentang kejujuran, kebersamaan, rasa simpati, dan lain-lain. Meskipun berlatar belakang kehidupan anak-anak di kampung-kampung Malaysia, namun nuansanya tidak jauh beda dengan di Indonesia, misalnya main petak umpet, main ketapel, menangkap ayam, dan sebagainya, makanya dengan cepat serial ini merebut hati anak-anak. Anak saya suka banget menonton Upin dan Ipin ini, saya juga kalau sempat ikut pula menonton. Lucu sih melihat ulah anak-anak itu, kadang saya tertawa dan kadang terharu. . Saking populernya serial animasi ini, maka produk-produk bergambar Upin dan Ipin pun bermunculan di pasar, mulai dari kartu, kaos, boneka, dan lain-lain. Saya jadi ingat ketika dulu serial Dora The Explorer muncul dan digemari anak-anak, maka aneka merchandise Dora pun banyak dijual orang.

Sedihnya, tidak ada produser Indonesia yang mencoba memuat serial animasi anak-anak. Saya yakin animator Indonesia cukup banyak jumlahnya dan tidak kalah kreatif dengan animator Malaysia itu. Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta adalah gudangnya desainer animasi, tapi saya heran kok nggak ada ya yang membuat film animasi yang bercerita tentang anak-anak Indonesia? Masa anak-anak kita dibanjiri tokoh impor semua seperti Sponge Bob, Naruto, Avatar, Power Ranger, dan lain-lain. Ada sih yang membuat film kartun dalam bentuk VCD dan DVD, tetapi kebanyakan ceritanya tentang dongeng klasik yang tidak bisa dikembangkan lagi karena sudah pakem, seperti cerita si kancil, Timun Mas, Malin Kundang, Ande-ande Lumut, dan sebagainya. Dalam bentuk serial tidak ada (dulu pernah ada sih, tapi hanya sebentar yaitu Si Huma), kalau Si Unyil itu bukan serial animasi, tapi boneka.