Pada zaman kebebasan pers seperti sekarang kita harus cerdas dalam membaca atau menonton berita di sebuah media, baik media cetak, media daring, maupun media elektronik. Tidak jarang berita yang disampaikan sudah diplintir, dimanipulasi, diputarbalik sehingga menyesatkan, atau disampaikan tidak utuh karena sebagian informasi yang penting disembunyikan. Sebagai pembaca atau pemirsa kita tidak mendapat hak berita yang sesungguhnya, sebab berita yang disampaikan bergantung pada siapa yang menyampaikannya. Setiap media mempunyai kepentingan dengan berita yang hendak disampaikannya. Jika berita itu dianggap merugikan misi atau kepentingannya, maka berita tersebut berusaha dikerdilkan atau tidak disampaikan secara utuh. Susah mencari media yang netral, sebab hampir semua media berpihak pada kepentingannya.
Ada ungkapan yang menyatakan bahwa siapa yang menguasai media maka dia menguasai dunia. Media massa dapat mempengaruhi atau mengubah opini masyarakat. Media dapat mengarahkan pembacanya (atau pemirsanya) untuk membenci suatu kelompok atau individu yang menjadi lawan media tersebut. Media tahu benar bahwa semakin sering dimunculkan informasi yang menyebarkan kebencian kepada suatu kelompok, maka masyarakat yang semula tidak tahu menahu akhirnya memiliki opini yang serupa dan ikut-ikutan membenci kelompok tersebut. Bagi media besar yang mempunyai jumlah pembaca atau pemirsa yang besar, yang saya sebut media arus-utama (mainstream), inilah kesempatan untuk mempengaruhi persepsi masyarakat lewat tulisan atau tayangan di media tersebut.
Sebagai contoh, sebuah stasiun televisi berita bernama M***o TV adalah media yang secara serampangan senang sekali menanamkan kesan negatif dan kebencian kepada suatu kelompok. Saya mengamati stasiun TV yang satu ini memiliki fobia pada agama tertentu. Lihat bagaimana stasiun TV itu memberikan stigma teroris kepada siswa yang ikut kegiatan Rohis di sekolah. Terkait politik bumi hangus perhatikan juga bagaimana stasiun TV itu selalu menampilkan berita yang menjelek-jelekkan Pemerintahan Pak Beye dan partai pendukungnya (Partai Dem*krat), seolah-olah semua yang berasal dari Pemerintah itu selalu salah, mungkin yang benar adalah menurut stasiun TV dan partai baru besutannya (Nas*em).
Media arus-utama meskipun bersaing sesamanya, namun mereka tampak satu suara sebagai pendukung kelompok liberal. Opini dan berita yang mereka tampilkan dalam membela kelompok liberal sering tidak berimbang, mereka seperti kompak menyudutkan kelompok yang dianggap konservatif dan fundamentalis. Gerakan kelompok liberal akan di-blow-up habis-habisan, padahal kekompok itu hanya kecil saja tetapi seakan-akan besar karena liputan yang luas. Sebaliknya kelompok yang dituding konservatif dan fundamentalis tidak mendapat tempat di dalam media mereka, aksi-aksi kelompok itu nyaris tidak berbunyi karena memang tidak diberitakan secara layak. Banyak orang yang gerah dengan ketidakadilan informasi seperti itu, namun apa daya mereka tidak memiliki media yang kuat untuk menyuarakan aspirasi mereka.
Tapi itu dulu, dalam lima tahun belakangan ini di jagad maya bertebaran media sosial seperti blog, milis, Facebook, Twitter, dan sebagainya. Informasi yang tidak kita temukan di dalam media arus-utama dapat kita baca di dalam media sosial, tidak hanya tulisan tetapi juga gambar dan video. Apa yang disembunyikan oleh media arus-utama dapat kita temukan berita seutuhnya di dalam media sosial itu. Melalui media sosial kita dapat membaca persepsi yang berbeda yang tidak kita dapatkan di dalam media arus utama. Penyebaran informasi di dalam media sosial itu sungguh cepat dan dahsyat. Satu orang menaruhnya di media jejaring sosial, dengan cepat informasinya berkembang ke mana-mana menembus batas-batas yang tidak bisa dijangkau oleh media arus utama.
Media sosial yang tumbuh pesat belakangan ini membentuk jurnalisme sendiri yang dinamakan citizen journalism. Di sini orang dapat menulis apa saja, tidak hanya menumpahkan uneg-uneg, tetapi juga menyebarkan opini dan informasi dari sudut pandang yang berbeda. Media sosial dapat dianggap sebagai penyeimbang informasi yang selama ini dimonopoli oleh media arus-utama. Masyarakat yang haus informasi mendapat informasi yang lebih transparan, aktual, dan dari sudut pandang yang lain.
Banyak informasi yang bertebaran di dalam media sosial. Sama seperti pada media arus-utama, kita pun tetap harus hati-hati untuk memilah-milah mana informasi yang benar dan mana informasi sampah. Tinggal kita sendiri yang menyimpulkan mana informasi yang kita yakini benar. Kita tetap harus cerdas untuk memfilter informasi yang datang kepada kita, jangan ditelan bulat-bulat begitu saja. Baik media arus-utama dan media sosial seharusnya diperlakukan sebagai cover both story, yaitu informasi dari dua sisi berbeda.

