Feeds:
Tulisan
Komentar

Tim Sukses SBY kembali membuat blunder yang merugikan SBY sendiri. Setelah Ruhut dengan isu rasialisnya (Arab), sekarang giliran Andi Mallarangeng yang membuat isu rasialis yang lain. Dalam kampanye di Makassar 1 Juli 2009, Andi Mallarangeng mengatakan belum saatnya orang Sulawesi Selatan menjadi Presiden. Pernyataan yang diarahkan ke JK itu membakar amarah warga Sulsel dan juga sebagian warga negeri gemah ripah loh jinawi ini yang tersinggung dengan pelecehan tersebut. Saat ini diskusi-diskusi panas terus berlangsung di forum-forum diskusi di dunia maya membahas pernyataan Andi Mallarangeng ini. Ada kemungkinan blunder Mallarangeng bersaudara ini akan menyusutkan suara SBY pada Pilpres 8 Juli mendatang. Walllahu alam.

Ingat lho, orang Sulawesi Selatan itu terdiri banyak suku, ada Bugis, Makassar, Mandar, Selayar, Toraja. Itu belum dihitung suku-suku di Sulawesi lainnya yang terikat secara historis dan kultural dengan saudara mereka di Sulsel, seperti Buton, Muna, Kendari, dan lain-lain.

Mengingat JK istrinya “urang awak” alias orang Minang, maka sentimen etnis juga bisa bergerak ke Sumatera yang dihuni oleh puak Melayu.

Secara implisit pernyataan Andi Mallarangeng juga berarti orang suku-suku lainnya, belum saatnya menjadi Presiden. Jadi, jika saat ini ada Capres “urang awak”, maka mohon maaf anda harap bersabar saja, karena anda belum waktunya. Kapan? Tanya saja ke Andi Mallarangeng bersaudara.

Kematian Michael Jackson masih menyisakan banyak misteri dan pertanyaan banyak orang. Hingga saat ini jenazah Jacko belum dimakamkan, masih disimpan di dalam lemari pendingin.

Satu berita yang sering diungkap oleh media di Indonesia sejak hari kematiannya adalah kabar bahwa Jacko sudah berpindah ke agama Islam sejak tahun 2008 yang lalu (beritanya baca di koran ini dan di koran itu). Itu berarti, jika tidak ada perubahan yang berarti dari tahun 2008 hingga hari kematiannya, maka Jacko adalah seorang muslim, terlepas dari apakah dia menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim (shalat, puasa dan sebagainya) atau tidak.

Banyak orang, termasuk saya, menunggu-nunggu apakah Jacko akan dimakamkan secara Islam. Jika ya, berarti jenazahnya akan dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan terakhir dikuburkan sesuai tatacara penyelenggaraan jenazah dalam ajaran Islam. Namun hingga saat ini belum terdengar kabar bagaimana keluarga Jacko akan memperlakuakn mayat Jacko.

Kalau menurut ajaran Islam, mayat tidak boleh telalu lama menunggu untuk dimakamkan. Dia harus disegerakan pemakamannya. Ketika seseorang meninggal dunia, maka sang mayat harus cepat diselenggarakan mulai dari dimandikan hingga dikuburkan. Jeda waktu dari kematian hingga penguburan tidak boleh lebih dari sehari semalam. Jika dia meninggal pukul 12 siang, maka mayat harus dikuburkan selambat-lambatnya sebelum pukul 12 siang pada hari berikutnya.

Namun untuk Jacko, kita tidak tahu kepastian tentang hal ini. Entah, bagaimana keluarganya memperlakukan mayat Jacko, apakah dimakamkan sesuai agama keluarganya atau sesuai agama Jacko. Saya juga belum mendengar kabar inisiatif kelompok muslim di Amerika terhadap jenazah Jacko.

Saya jadi teringat ketika Prof. Mustopo (pemilik Universitas Mustopo di Jakarta dan SD Mustopo di Bandung) meninggal dunia di Bandung pada tahun 80-an. Prof. Mustopo sendiri tidak jelas agamanya apa, entah Kejawen atau agama apa, anak-anaknya sendiri beragama macam-macam, ada yang Islam, Kristen, dan sebagainya. Ketika Prof. Mustopo meninggal, anak-anaknya bersilang pendapat tentang jenazah ayahnya, apakah dimakamkan secara Islam atau Kristen atau Kejawen. Cukup lama jenazah Mustopo “terbengkalai”, akhirnya oleh beberapa ustad di Bandung, setelah berembug cukup lama dengan keluarga, saat itu diputuskan jenazah Prof. Mustopo diselenggarakan secara Islam, dengan menilik masa lalunya yang pernah menyandang “Islam KTP”.

Kasus yang mirip juga terjadi di komplek pemukiman saya beberapa bulan yang lalu. Ada seorang ibu meninggal dunia. Ibu ini seorang muslimah, tetapi (alm) suami dan anak-anaknya bukan (mengikuti agama ayah mereka). Ketika si ibu meninggal dunia, anak-anaknya bingung bagaimana mengurus jenazah ibu mereka, apakah akan dimakamkan secara Islam atau non-Islam sesuai agama mereka. Untunglah DKM masjid di RW saya cukup sigap, DKM mengambil alih urusan pemakaman mulai dari memandikan hingga penguburan, termasuk tahlilan (takziah) pada malam setelah pemakaman.

Begitulah kisah sedih tentang seonggok jenazah. “Nasibnya” tergantung pada orang-orang hidup yang mengenalnya. Semoga kita yang masih hidup diberikan oleh Allah SWT kelak hari akhir yang baik, berada di tengah orang-orang yang baik, dan diperlakukan secara baik pula hingga ke liang lahat. Khusnul khotimah, mati dalam keadaan yang baik.

Kemaren, waktu melewati Pasar Baru, saya menemukan penjaja buah-buahan yang menjual buah lokal yang sudah langka. Di Bandung buah itu bernama buah kesemek. Di kalangan anak-anak di tatar Sunda ada teka-teki yang bebunyi begini: buah apa yang suka bersolek? Jawabannya adalah buah kesemek karena kulit buahnya bertabur serbuk putih seperti bedak.

DSC00557

Ini gambar daging buahnya setelah dipotong:

DSC00558

Saya perhatikan pedagang buah itu sudah lama menanti pembeli namun buah kesemeknya tidak kunjung laku. Sudah nanar matanya menatap seliweran orang-orang di Jalan Otista (jalan di Pasar Baru), berharap ada pembeli yang tertarik dengan dagangan langkanya itu. Saya mendekatinya dan membeli satu kilo buah kesemek, pedagangnya menawarkan Rp 4000/kg. Barangkali hanya saya yang membeli buah ini, karena bagi orang lain mungkin bentuk buahnya tidak menarik atau kurang elit, ntahpapa. Namanya saja ‘kesemek’ yang bunyinya bagi sebagian orang terkesan kampungan, gitu. Buah kesemek pedagang itu kalah dengan buah mangga yang saat ini juga lagi musim di Bandung.

Buah kesemek kalau anda pernah mencobanya, rasanya manis-manis sepat. Saya jadi terkenang masa-masa kecil di Padang dulu bila mengingat buah ini. Waktu kecil saya beberapa kali pernah makan buah kesemek. Di Padang buah itu bernama apel pahit, karena bentuknya seperti buah apel dan rasanya memang agak pahit bercampur manis sepat. Buah itu baru bisa dimakan jika direndam dulu di dalam larutan air garam selama satu malam untuk menetralisir rasa pahitnya. Tapi buah kesemek yang di Bandung ini tidak perlu direndam dulu dan dapat langsung dimakan, mungkin jenisnya agak beda dengan yang di Sumatera.

Selain buah kesemek, saya juga kangen buah-buahan masa kecil yang sudah jarang ditemukan di pasaran, misalnya jambu kaliang (apa ya namanya di sini? buah jamblang?), kamuntiang (karamunting), dan jambak (jambu bol). Jambu kaliang bentuknya kecil ldan mirip buah anggur, warnanya hitam dan rasanya manis sedikit pahit. Biasanya dijual per liter (menggunakan takaran beras). Buah kamuntiang biasanya ditemukan pada tanaman di semak-semak, warnanya coklat, bentuknya kecil sebesar ujung jari kelingking, dan berbiji banyak seperti biji buah strawberi. Rasanya manis. Kami sering menemukan buah ini di semak-semak di dekat sawah. Jambak atau jambu bol bentuknya bulat seperti kedondong, warnanya merah keputihan, daging buahnya agak tebal tetapi bijinya besar.

Buah-buahan yang saya sebutkan di atas saat ini sudah tergolong buah langka, jarang ada yang menjual buah ini. Batang pohonnya pun mungkin sudah langka pula dan mungkin banyak ditebang karena buahnya tidak bernilai ekomomis tinggi, kalah bersaing dengan buah impor yang banyak membanjiri pasar. Buah-buah lokal saat ini makin terjepit oleh kehadiran buah impor yang datangnya begitu deras dari luar. Buah lokal yang bertahan hingga saat ini paling-paling hanya mangga, nanas, sawo, kedondong, bangkuang, jeruk, salak, dan belimbing. Selebihnya anak-anak kita lebih mengenal buah apel, pir, anggur, lengkeng, kiwi, strawberi, blueberry, dan aneka buah impor lainnya.

Buah-buahan lokal bagaimanapun, apalagi yang sudah langka, seharusnya mendapat perhatian dari Pemerintah untuk terus dilestarikan. Bagi saya, buah-buahan itu tidak hanya sekadar untuk dimakan, tetapi ada kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Dengan memakan buah lokal itu, kita mengingat jerih payah petani yang merawat tanaman itu dari kecil hingga berbuah. Ada filosofi yang begitu dalam bila kita melihat jauh ke belakang puluhan tahun silam. Pohon-pohon buah itu mungkin sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun, ditanam oleh kakek moyang mereka dan diteruskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Pohon-pohon itu dirawat dan dicintai karena dari tanaman itulah petani mendapat penghasilan. Ketika waktu kalah berpacu dengan uang, pohon-pohon itu mungkin harus mengalah: ditebang karena tawaran yang lebih menggiurkan dari bisnis tanah yang terus mencari mangsa hingga ke kampung-kampung. Buah-buah langka itu mungkin suatu hari tidak akan terhidang lagi di meja makan kita, tinggal menjadi sejarah saja.

Akhirnya kesampaian juga niat saya untuk menonton film Ketika Cinta Bertasbih. Bersama istri, saya menonton di bioskop yang bukan di mal, ini supaya mudah mendapat tiket. Belajar dari pengalaman menonton Ayat-Ayat Cinta (AAC) dan Laskar Pelangi di bioskop yang ada di mal dimana kita harus antri panjaaaang, bahkan bisa-bisa kehabisan dan harus datang lagi besok harinya.

Setelah menonton film itu, ada sedikit kekecewaan. Sebenarnya novel KCB sangat bagus dan meyentuh kalbu, tetapi ketika difilmkan, ternyata film nya biasa-biasa saja tuh. Isinya memang persis sama dengan novel aslinya, tidak ada yang ditambah atau yang dikurangi. Tetapi disini masalahnya. Film KCB 1 (waaah… ada lanjutannya di film KCB 2 yang entah kapan diputarnya) tidak menyajikan konflik, jalan ceritanya datar-datar saja seperti sinetron seri. Padahal sebuah film akan menarik jika menyuguhkan konflik dalam bentuk drama sehingga dapat membuat emosi penonton ikut terbawa. Nggak tahu deh apakah di film KCB 2 menyajikan konflik di antara tokoh-tokohnya atau kembali datar saja seperti KCB 1?

Film AAC, meskipun banyak dikritik kiri kanan, namun sukses meraup jumlah penonton. Kekuatan AAC terletak pada unsur dramanya. Mereka mengakali kegagalan shooting di Mesir dengan fokus pada drama. Jalan cerita di film dibuat tidak persis sama dengan yang ada di novel, ada yang ditambah-tambah dan didramatisir. Tetapi disitulah kelebihan sutradara Hanung. Dia pandai membuat film AAC yang membuat emosi penonton ikut hanyut dan bahkan diaduk-aduk (kayak adonan kue saja). Nah unsur drama ini yang tidak ada pada KCB 1 sehingga cerita di film terasa datar. Padahal ‘tidak haram’ toh membuat film yang tidak harus persis sama dengan isi novel aslinya asalkan tidak jauh menyimpang? Yang penting pesan moral film itu tersampaikan seperti novelnya.

Satu-satunya kelebihan film KCB adalah karena menyuguhkan panorama Mesir yang asli, yang tidak kita temukan pada film AAC padahal sama-sama bercerita mengenai kisah mahasiswa Al-azhar. Banyak sudut-sudut negeri Mesir yang terekam di dalam film ini sehingga kita yang tidak pernah ke Mesir pun bisa merasakan suasana kehidupan di Kairo, Alexandria, dan lain-lain. Namun sayangnya — sekali lagi ini juga kelemahan sutradara Chaerul Umam — dia tidak berhasil mengeksploitasi panorama Mesir menjadi gambar-gambar yang indah dan menawan.

Dari segi jumlah penonton, tampaknya film KCB 1 akan menjadi film dengan jumlah penonton terbanyak dalam sejarah. Baru dua minggu diputar di bioskop sudah menyedot penonton 2 juta orang, begitu yang saya baca di koran. Film AAC mencapai jumlah penonton 3 juta orang, film Laskar Pelangi 5 juta orang, nah film KCB 1 mungkin bisa melebihi jumlah penonton Laskar Pelangi karena masa edarnya masih panjang, apalagi sekarang saat liburan panjang yang baru berakhir Agustus mendatang, saat yang memancing orang untuk berkunjung ke mal sekalian nonton film bersama keluarga.

Terlepas dari semua itu, kehadiran film AAC, LP, dan KCB menghadirkan genre film baru di Indonesia, yang selama ini jagad film di Indonesia selalu disuguhi film hantu dan komedi seks yang tidak tidak bermutu dan bisa dikategorikan film sampah.

Sebuah tulisan yang menarik tentang peran Jusuf Kalla pasca tragedi tsunami Aceh 4 tahun silam. Setelah membaca tulisan tersebut, rekan saya berkomentar begini: Kualitas seseorang yang genuine memang akan lebih terlihat pada situasi yang ‘mencekam’.

Sumber tulisan: dari Tempo Edisi Khusus Akhir Tahun, 26 Desember 2005, halaman 32. Kampanye? Silakan dipersepsikan sendirilah, he..he..

~~~~~~~~~~~~~

Inilah kisah di pusat kekuasaan selama tiga hari pertama setelah tsunami.
Mengenang setahun tragedi itu, beberapa sumber termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla serta Menteri Komunikasi dan Informasi Sofjan Djalil menuturkan kenang-kenangan mereka kepada Tempo.

****

Baru duduk di jok mobilnya, telepon seluler Jusuf Kalla berdering-dering. Staf pribadinya melaporkan: “Pak, di Aceh ada tsunami. Dahsyat sekali.” Pagi itu, 26 Desember 2004, Kalla hendak menghadiri halal bihalal warga Aceh di Senayan, Jakarta. Kalla lalu mengirim pesan pendek ke telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang pagi itu berada nun jauh di Nabire, Papua. Presiden menemui korban gempa yang melumat Nabire sehari sebelumnya.

Presiden membalas: “Saya sudah dengar. Tolong koordinasikan.” Kalla lalu menelepon Azwar Abubakar, Wakil Gubernur Provinsi Aceh. Gubernur Abdullah Puteh saat itu telah ditahan di penjara Salemba karena dugaan kasus korupsi.

Kalla juga mengontak Kapten Didit Soerjadi, pilot pesawat pribadinya. Didit sedang beristirahat. “Kau segera mandi dan berangkat ke Aceh,” perintah Kalla. Semuanya serba buru-buru. Perintah terus mengalir saat Didit mandi.
“Lucu juga, saya mandi sambil terima telepon Pak Wapres,” kenang sang pilot.
Wapres menggegas semua stafnya menelepon semua pejabat di Aceh. Sial, tak satu pun menyahut. Kalla mulai cemas.

Di Aceh, dunia berhenti pagi itu. Bumi berguncang dengan kekuatan 8,6 pada skala Richter, air laut tumpah ke daratan. Beberapa keluarga sempat mengabarkan soal air bah kepada kerabat di Jakarta. Cuma sebentar. Lalu telepon putus total.

Halal bihalal warga Aceh di Senayan dibuka pada pukul sembilan lebih, berlangsung dalam suasana tegang sekali. Berita tsunami sudah menyebar. Banyak yang sibuk menelepon. Beberapa orang berlinang air mata. Ada yang histeris, gusar kian-kemari. Kalla berpidato sekenanya. Hampir tak ada yang mendengar. “Orang-orang ingin acara itu cepat kelar,” tutur Kalla kepada
Tempo. Turun panggung, Kalla menggelar rapat mendadak di situ.

Dia memerintahkan Sofjan Djalil memimpin rombongan pertama ke Aceh. “Pakai pesawat saya saja,” kata Wapres. Anggota rombongan 30 orang, antara lain Menteri Perumahan Rakyat Yusuf Azhari, Azwar Abubakar, dan beberapa tetua Aceh. Kalla membekali Sofyan uang Rp 200 juta dan sebuah telepon satelit.
“Begitu kau tiba di Aceh, langsung telepon saya,” perintahnya. Mereka menjadi rombongan pertama pemerintah yang terbang ke Aceh di hari pertama tsunami.

Pesawat berputar dua kali di langit Banda Aceh. “Dari udara Aceh terlihat hancur total,” tutur Kapten Didit. Menara bandara retak. Tak satu pun petugas di menara. Untung, pesawat mulus mendarat, sekitar pukul enam sore.

Anggota rombongan membeli beras dan mi instan di beberapa toko dekat bandara, lalu beranjak ke pendapa kantor gubernur sekitar pukul tujuh malam. Jalanan sunyi senyap. Gelap gulita. Satu-satunya penerangan cuma lampu mobil. Sungguh mengerikan. Mayat bergelimpangan di jalan, di kolong rumah, tersangkut di dahan pohon. Beberapa ekor anjing berlari ke sana kemari.
Anggota rombongan mulai menangis sesenggukan.

Malam itu ratusan orang menumpuk di pendapa kantor gubernur. Banyak yang luka parah. Puluhan mayat dijejerkan di latar depan pendapa. Aceh lumpuh total. Koordinasi tak jalan karena aparat pemerintah pusing mencari sanak keluarga. Kepala Polres Banda Aceh hanyut ditelan tsunami.

Azwar Abubakar, Wakil Gubernur Aceh, bisa memimpin. Namun, dia sedang galau. Rumahnya di Blang Padang hancur. Ia tak tahu nasib anak-anaknya. Wakil Gubernur ini pulang ke rumahnya ditemani Sofjan Djalil, Jusuf Azhari dikawal dua tentara. Mobil melaju dalam gelap, menghindari mayat-mayat yang direbahkan di kiri-kanan jalan. Mobil berhenti kira-kira 50 meter dari rumah
Azwar sebab sampah menggunung menutup jalan.

Wakil Gubernur turun ditemani seorang tentara. Dipandu nyala senter, mereka mengendap-endap. Sofjan menunggu dengan cemas. Setengah jam berlalu, Azwar pulang. “Di rumah banyak mayat, tapi anak-anakku tak kelihatan,” katanya penuh kecemasan. Mereka lalu balik ke pendapa.

Berkali-kali Sofjan menelepon Jusuf Kalla di Jakarta. Tak bersahut. Di Jakarta, Wapres menggelar sidang kabinet darurat di rumah dinas Jalan Diponegoro pada pukul 21.30 WIB. Sembilan menteri dan Panglima TNI hadir. Sembari rapat, Kalla berkali-kali pula mengontak Sofjan. Tak bersambung juga. “Sofjan itu bawa telepon satelit kok tidak sambung-sambung,” kata Kalla.

Di Aceh, Sofjan memutuskan mengirim kabar lewat Orari Angkatan Udara di Aceh. Orari Jakarta meneruskan pesan itu ke telepon seluler Jusuf Kalla. Ini laporan pertama Sofjan dari wilayah bencana: ”Pak, korban sekitar 5.000 hingga 6.000.” “Astagfirullah, astagfirullah,” kata Kalla berkali-kali sembari mengusap wajah. Sejumlah menteri tertunduk. Hening menyapu ruang rapat.

Kalla melanjutkan pesan ke Presiden Yudhoyono yang malam itu sudah tiba di Jayapura. Presiden menyampaikan belasungkawa kepada korban bencana. Besoknya, Presiden terbang menuju Aceh.

Pukul sepuluh malam, telepon satelit Sofjan sukses menembus Jakarta. “Eh, ini Sofjan,” ujar Kalla kegirangan. “Apa yang terjadi? Kenapa kau tak telepon-telepon?” tanya Kalla dengan suara keras. “Saya stres, Pak. Di sini gelap sekali,” sahut Sofjan dari seberang. “Besok aku susul ke sana,” ujar Kalla. Percakapan ditutup.

Malam itu Kalla mematangkan persiapan ke Aceh. “Saya minta Anda menyediakan dana sepuluh miliar uang kontan,” perintah Kalla kepada Menteri Keuangan Jusuf Anwar. Jusuf tertegun. “Pak, kalau segitu tak ada,” jawabnya. “Saya tidak mau tahu. Itu urusanmu,” kata Kalla. Rapat bubar larut malam.

Di larut malam itu, pendapa kantor gubernur di Banda Aceh masih gaduh. Warga yang luka parah dirawat seadanya. Koordinasi sulit karena aparat sibuk mencari keluarga masing-masing. Kepala Polda Aceh Bahrumsyah datang ke pendapa dengan terengah-engah. Wajahnya letih. Si Kapolda cuma mengenakan pakaian dinas tanpa alas kaki alias nyeker. Orang hilir-mudik di pendapa membikin Sofjan bingung menjaga uang Rp 200 juta yang dia bawa dari Jakarta. Ia meminta seorang anggota DPRD dari Partai Keadilan Sejahtera menjaga uang itu. “Orangnya berjenggot. Uang pasti aman,” ujar Sofjan.

Sang Menteri lalu merebahkan badan di atas karpet. Belum lagi mata terpejam, terdengar pekikan, “Gempa! Gempa!” Orang-orang berlari. Sofjan ikut kabur. Setelah bergoyang beberapa menit, bumi kembali tenang. Warga kembali ke pendapa. Tak berapa lama, teriakan gempa terdengar lagi. Semua berhamburan, termasuk Pak Menteri. Malam itu gempa datang berkali-kali. Lama-lama, Sofjan putus urat takutnya. Saat orang-orang kabur, ia terlelap. “Sudah jam dua pagi, masak lari-lari terus. Saya lelah sekali,” kenangnya. Besoknya, orang ramai menggunjingkan kehebatan nyali Pak Menteri.

*****

Hari kedua, 27 Desember. Entah bagaimana caranya, Menteri Keuangan berhasil menyediakan uang kontan pagi itu. Jumlah Rp 6 miliar. Menjelang siang, Kalla terbang ke Aceh membawa serta uang satu peti. Petang hari, Presiden Yudhoyono mendarat di Lhokseumawe. Wajahnya sedih. “Tadi pagi saya meninjau Nabire. Sore ini saya di Lhokseumawe menemui saudara-saudara yang tertimpa musibah lebih besar lagi,” katanya.

Setibanya di Banda Aceh, Kalla memerintahkan stafnya memborong beras, mi instan, dan aneka makanan lain. Karena berasnya kurang, Kalla bertanya, “Eh, berasnya sedikit sekali. Mana beras dari Dolog?” Seseorang menjawab, pintu Dolog digembok. Si pemegang kunci tak diketahui rimbanya. Wakil Presiden
menyergah dalam nada tinggi “Buka! Kalau tak bisa, tembak gerendelnya. Apa perlu tanda tangan Wapres untuk buka pintu Dolog?” Suasana tegang. Beberapa polisi bergegas membidik gembok. Beras pun mengalir.

Rombongan Kalla berlalu ke pendapa kantor gubernur. Di Lambaro, mereka menyaksikan ratusan mayat berjejer di depan toko. “Masya Allah,” ucap Kalla. Badannya lemas. Di pendapa ia menggelar rapat, lalu keliling kota bersama Mar’ie Muhammad, Ketua Palang Merah Indonesia, yang datang sehari sebelumnya. Kota itu lautan mayat.

Mayat-mayat harus segera dikubur karena bau busuk menikam hidung. Untung, ada seorang ustad. Kalla minta ustad itu mendoakan tumpukan jenazah sebelum dikuburkan. Tapi siapa yang menjamin sahnya pemakaman? “Saya jamin,” kata Kalla. Ia mencorat-coret di atas kertas, lalu membubuhkan parafnya. “Tolong keluarkan ayat yang pantas-pantas saja,” pintanya kepada ustad.

Sore hari Kalla terbang dengan helikopter ke Lhok Nga untuk menjatuhkan mi instan dari udara. Helikopter itu tak punya sabuk pengaman. Setiap pesawat memutar, tubuh Kalla serong ke kiri, serong ke kanan. Rombongan Kalla terbang ke Medan pukul tujuh malam. Sofjan Djalil yang sudah dua hari di Banda Aceh minta ikut pulang. “Baru dua hari sudah minta pulang. Kau tetap di sini,” jawab Kalla. Malam itu Sofjan pusing tujuh keliling menjaga uang
satu peti yang dibawa Kalla. Takut uang itu dicolong, Menteri Sofjan dan kawan-kawannya tidur mengitari peti itu.

*****

Hari ketiga, 28 Desember. Presiden Yuhdoyono terbang dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh. Kalla yang sudah berada di Medan mendapat kabar Meulaboh rata tanah. Ia memerintahkan stafnya mencari pesawat ke Meulaboh. Dapat pesawat Angkatan Udara. Dari udara, Meulaboh tampak seperti tanah gusuran.
“Astagfirullah,” ucap Kalla berkali-kali.

Kalla meminta pilot terbang lebih rendah. Pilot mengangguk. Kalla minta lebih rendah lagi. Kali ini pilot bilang, “Tak bisa, Pak. Bahaya.” “Kau ini orang mana?” tanya Kalla. “Saya orang Makassar, Pak,” jawab si pilot. “Ah, orang Makassar kok penakut,” sergah Kalla. Pilot mengalah, pesawat melayang cuma beberapa meter di atas pucuk kelapa. Untung saja arahnya ke laut.

Setelah berkali-kali memutar di atas Meulaboh, pesawat kembali ke Medan. Kalla langsung rapat dengan Gubernur Sumatera Utara Rizal Nurdin—kini sudah almarhum. Dia memerintahkan Gubernur mengirim makanan ke Meulaboh. Keduanya sempat bersoal-jawab.

+ “Bagaimana caranya, Pak?” tanya Gubernur.
- “Lewat udara, buang dari pesawat,” jawab Kalla.
+ “Kalau dibuang nanti pecah, Pak.”
- “Tidak apa-apa, toh sampai di perut pecah juga.”
+ “Ya, tapi nanti basah Pak.”
- “Bungkus saja pakai plastik.”
+ “Pak, nanti jatuh ke GAM,” Gubernur berusaha menjelaskan.
- “ Tidak apa-apa. GAM juga manusia. Perlu makan,” nada Kalla mulai meninggi.
Beberapa orang membisiki Gubernur supaya jangan membantah.
+ “Jadi, bagaimana, bisa atau tidak?” tanya Kalla.
- “Siap, Pak,” jawab Gubernur.

Pesawat pemasok makanan melayang ke Meulaboh. Presiden dan Wakil Presiden kembali ke Jakarta pada hari ketiga.

Lalu, bantuan kemanusiaan mulai mengalir dari segenap penjuru dunia….

Kampanye ya Pak?

Ketika melakukan konsultasi bimbingan Tugas Akhir, mahasiswa bimbingan saya bertanya tentang jadwal sidang TA.

“Hmm… bagaimana kalau awal Agustus saja?”, kata saya kepada mereka. Mahasiswa saya tersebut (2 orang) saling pandang, ada sedikit keberatan tampak di wajah mereka.

Sebelum mereka berkomentar, saya timpali lagi, “Lebih cepat lebih baik ‘kan?”, kata saya.

Mereka tertawa. “Ah, bapak kampanye”, kata mereka menahan geli. Lebih cepat lebih baik diasosiasikan sebagai slogan kampanye Jusuf Kalla – Wiranto (JK-Win). Sekarang memang lagi musim kampanye pilpres.

“Lho, kok dibilang kampanye? Betul ‘kan? Kalau sudah siap mengapa harus menunda lebih lama lagi? Kalau sudah sidang ‘kan enak, bisa menikmati waktu santai”, jawab saya.

“Iya deh Pak, kami usahakan”, kata mereka.

Setelah bimbingan berakhir, seperti biasa saya menuliskan catatan di kartu bimbingan TA mereka. Saya tuliskan apa saja yang dilakukan pada bimbingan kali ini. Pada kolom Tugas berikutnya, saya tulis: “Lanjutkan!”.

Mereka tertawa lagi, dikiranya kampanye SBY, padahal maksud saya lanjutkan penulisan bab-bab berikutnya.

Andaikan hari ini perang benar-benar terjadi antara Malaysia dan Indonesia untuk mempertahankan Ambalat, saya yakin Indonesia akan kalah. Begini alasannya. Lihatlah peralatan militer negara kita, sudah usang, rapuh, dan tidak aman. Buktinya dalam dua bulan terakhir ini sudah 4 pesawat TNI yang jatuh dan memakan banyak korban jiwa, khususnya para prajurit terbaik bangsa. Mereka harus gugur bukan karena berperang, tetapi karena faktor teknis pesawat yang sudah tidak aman lagi untuk diterbangkan. Itu baru pesawat udara, kondisi yang sama juga terdapat pada kapal tempur di lautan. Hampir semuanya berusia tua, lamban, dan kurang didukung peralatan canggih. Embargo militer dari AS membuat Indonesia tidak bisa memperbarui peralatan militernya. Banyak onderdil peralatan militer tidak bisa dibeli dari Amerika, akhirnya prinsip kanibalisme pun berlaku. Onderdil peralatan yang satu dicomot dari peralatan yang lain yang tidak terpakai untuk menyiasati onderdil yang tidak bisa dibeli dari AS. Benar-benar menyedihkan. Jadi, bagaimana mau bertempur dengan kondisi peralatan militer yang pas-pasaan itu?

Malaysia, meski negaranya lebih kecil dari Indonesia, tetapi lebih makmur. Dengan kondisi keuangan mereka yang lebih baik, diam-diam mereka mempercanggih peralatan militer sembari mengamat-amati kondisi militer negara tetangga. Sebagai test case, mereka memprovokasi kapal perang TNI di perairan Ambalat. Maksudnya sih untuk melihat sejauh mana kesiapan dan kecanggihan kapal tempur TNI itu.

Orang-orang Indonesia yang geram dan marah melihat Malaysia memprovokasi TNI di Ambalat tergugah pula rasa nasionalismenya. Kemarahan itu sebenarnya sudah disulut sejak lama, sejak para TKI kita menjadi bulan-bulanan penyiksaan para majikan di Malaysia. Begitu rendah nilai orang Indonesia di mata orang Malaysia, sehingga di Malaysia para TKI itu dipanggil Indon. Isu TKI belum habis, muncul pula klaim dari Malaysia yang membajak karya budaya yang dianggap milik Indonesia, seperti batik, angklung, reog, lagu rakyat Maluku, dan sebagainya. Lalu terakhir isu si cantik jelita Manohara ikut pula memanasakan suasana. Kloplah semua itu untuk memantik semangat heroik para pemuda. Dimana-mana muncul pasukan sipil dadakan, pasukan bela diri, atau pasukan berani mati yang siap berperang melawan Malaysia. Dengan rasa marah yang memendam, mereka siap dikirim ke Ambalat untuk bertempur. Semangat sih boleh saja, tetapi saya kira sia-sia saja usaha mereka itu. Mau berperang dengan Malaysia pakai apa mereka itu? Pakai bambu runcing atau senjata rakitan? Jelas mereka akan mati duluan dibom pesawat tempur Malaysia yang canggih itu.

Dari segi jumlah penduduk Indonesia memang jauh lebih banyak daripada Malaysia. Mungkin kalau perang langsung satu lawan satu dengan rakyat Malaysia jelas Indonesia akan menang, tetapi itu kan perang zaman kuno. Sekarang ini perang zaman modern adalah perang antara militer dengan militer, peralatan canggih versus peralatan pas-pasan. Diatas kertas jelas negara yang mempunyai peralatan tempur yang canggih yang akan menang. Jumlah penduduk negara tidak punya peranan penting. Lihatlah Israel, negara mini di Timur Tengah, tetapi mereka mampu mengalahkan negara-negara Arab dalam perang 6 hari pada tahun 1960-an ketika merebut dataran tinggi Golan, padahal penduduk Israel hanya beberapa juta jiwa, namun mereka mempunyai senjata ultramodern yang tidak dimiliki oleh negar-negara Arab.

Jadi, kalau melawan Malaysia, Indonesia harus berpikir ulang 999 kali sebelum benar-benar membunyikan genderang perang. Jangan-jangan nanti kita dipermalukan negara kecil itu karena kalah.

Yang harus dilakukan saat ini adalah bagaimana memikirkan keselamatan para prajurit TNI itu. Janganlah mereka mati sia-sia lagi karena menaiki kendaraan militer yang tidak aman. Saya miris setiap kali melihat episode keluarga prajurit itu yang bersimbah air mata ketika ayah atau suami mereka dimasukkan ke liang lahat. Kita mungkin hanya bisa bergumam: kasihan, sesudah itu kita sudah lupa dengan peristiwa itu sebelum nantinya dikejutkan lagi dengan peristiwa yang sama untuk kesekian kalinya. Kita sudah lupa dengan nasib anak-anak mereka yang masih kecil atau istri mereka yang jadi janda yang hidup berdesakan-desakan di barak-barak sempit. Masa depan keluarga TNI yang tewas karena kecelakaan itu menjadi suram karena sang pencari nafkah mati sebelum berperang.

Jadi, daripada memikirkan perang melawan Malaysia, mengapa tidak memikirkan keselamatan para prajurit dan keluarganya dari kecelakaan peralatan militer yang rapuh dan sudah usang itu?

Libur panjang telah tiba, libur kuliah maksudnya. Segenap keletihan selama kuliah satu semester akhirnya selesai di akhir bulan Mei. Nilai sudah disetor, semua urusan dengan mahasiswa sudah beres, apalagi. Mahasiswa libur selama 2,5 bulan, dosen juga (boleh) libur. Cukup lama liburnya dan ini kesempatan untuk berleha-leha dan mengerjakan urusan lain. Sayangnya libur panjang ini belum bisa saya nikmati dengan baik berhubung masih ada urusan sebagai mahasiswa S3. Mudah-mudahan libur panjang tahun depan bisa menikmatinya. ITB ini paling cepat awal perkuliahannya, juga paling cepat selesainya. Kuliah semester 2 ini dimulai pada akhir Januari 2009 dan selesai UAS pada minggu ketiga Mei. Total waktu efektif kuliah (termasuk UTS) adalah 15 hingga 16 minggu. Setelah itu libur panjang dan kuliah tahun ajaran baru akan dimulai lagi pada minggu ketiga bukan Agustus 2009. Lama bukan?

Libur panjang ini boleh dikata kampus relatif sepi. Ada segelintir mahasiswa yang lalu lalang di kampus, mungkin karena mengambil semester pendek atau mengerjakan Tugas Akhir. Tentang Semester Pendek yang dikenal dengan nama SP, saya sejak dulu termasuk yang anti semester pendek. Waktunya libur ya libur, kok masih ngajar lagi, makanya saya menolak membuka kelas semester pendek. Untunglah kuliah yang saya ampu termasuk irit nilai D dan E (nilai D di ITB termasuk tidak lulus kecuali di tahap TPB), jadi kalau mahasiswa mau mengulang siapa yang akan mengulang? Tidak ada pesertanya, he..he.

Saya baca pengumuman bahwa FMIPA tidak membuka kuliah TPB (yaitu kuliah Kalkulus, Fisika, Kimia) di SP ini. Baguslah. SP dulu pernah menjadi pro kontra di antara kita. Maksud awal SP itu baik, yaitu untuk mengurangi beban mahasiswa yang tidak lulus mata kuliah agar tidak mengulang pada semester reguler (yang dikhawatirkan kelas reguler itu penuh dengan mahasiswa gagal). Tapi akhirnya kebijakan itu sering disalahgunakan bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa Tingkat 1. Jika tidak lulus, ‘kan nanti ada SP, begitu kira-kira pikiran mereka. Jadi, mahasiswa memandang enteng persoalan. Tidak baik efeknya, memang, membuat buruk etos belajar. Akhirnya, ITB meniadakan semester pendek, dengan pesan moral optimalkan waktu belajar anda, jangan sampai mengulang.

Namun, bukan berarti SP tidak ada sama sekali. ITB memang masih membuka semester pendek, tetapi untuk kuliah khusus seperti Tugas Akhir (TA) dan untuk kasus-kasus yang sangat spesial lainnya (kalau SP yang gini nih saya setuju). Bagi mahasiswa yang akan wisuda pada bulan Oktober dan nilai kuliah TA nya sudah kadaluarsa (lewat 2 semester masih T alias tidak lengkap), maka mereka wajib mengambil kulah TA di SP ini. Kasus sangat spesial diberikan bagi mahasiswa yang terancam batas waktu studi, kepada mereka itu diberi kesempatan SP untuk menyelamatkan “telur di ujung tanduk” (alias terancam drop out). Jadi, ITB masih cukup baik juga kepada mahasiswa-mahasiswa kasus ini, dengan cara “menolong” mereka untuk menyelamatkan masa-masa kritisinya dari ancaman DO. Biar bagaimanapun, DO itu menyakitkan bagi mahasiswa.

Ceritanya begini. Ini pengalaman pribadi. Ada seorang mahasiswa yang terancam kasus tahap Sarjana Muda (dulu masih ada tahap TPB, tahap Sarmud, dan tahap Sarjana, sekarang tidak ada lagi, hanya ada tahap TPB dan tahap Sarjana saja). Tahap Sarjana Muda harus diselesaikan maksimal selama 5 tahun (termasuk tahap TPB) dengan IPK >= 2.0, jika tidak ya DO. Nah, mahasiswa ini sudah hampir 5 tahun masa Sarmud nya, tapi IPK sarmudnya masih kurang 2.0. Ancaman DO sudah tampak dipelupuk mata. Dosen Wali melihat apakah mahasiswa ini masih bisa ditolong, dilihat-lihat di transkip akademik ada beberapa mata kuliahnya yang bernilai D (nilai D masih lulus di tahap ini) dan E. Kalau mata kuliah yang D dan E ini diulang pada semester depan jelas tidak mungkin karena sudah melebihi batas waktu studi.

Dengan segala perjuangan, baik oleh Ketua Jurusan, bahkan Dekan Fakultas ikut kadang turun tangan, maka dosen mata kuliah tersebut dilobi, apakah bersedia memberikan kuliah di SP khusus untuk mahasiswa yang malang itu. Mungkin tidak perlu kuliah tatap muka, tetapi cukup dengan pemberian tugas-tugas saja. Nilai C tidak apalah, yang penting IPK nya bisa diatas 2,0. Jika ketemu dosen yang baik hati, maka urusan menjadi mudah, tetapi jika ketemu dosen yang saklek dan keras hati, maka urusan menjadi rumit bahkan bisa sangat sulit. Kalau sudah begini dan sudah mentok, sementara mahasiswa kasus ini sudah memasrahkan dirinya kepada kami dengan H2C (harap-harap cemas) dan tangis yang hampir membuncah, maka Ketua Jurusan mencoba melobi dosen lain yang pernah mengajar kuliah serupa agar memberikan kuliah tersebut di SP. Biasanya deal, dan pada banyak kisah ceritanya berakhir happy ending. Kasus yang sama juga terjadi pada mahsiswa yang terancam tahap Sarjana. Ceritanya miriplah. Sebenarnya “operasi penyelamatan” yang begini tidak ada aturan resmi atau tertulis, tetapi semua itu lebih pada pertimbangan kemanusiaan saja. Yang jelas tidak ada peraturan yang dilanggar, dan kami merasa semua berjalan tetap dalam koridor. Namun jangan pernah berharap “operasi penyelamatan” itu terulang pada diri anda yang masih kuliah, cukuplah buat abang-abangmu itu saja. Kami pun tidak berharap kasus ini terulang lagi. Capek.

Itulah untold stories he..he, sekarang sudah menjadi told stories hi..hi..hi. Kisah-kisah ini tidak tertulis di buku-buku sejarah, cukup menjadi kenangan yang pahit-getir-manis bagi yang terlibat dalam episode hidup itu. Sekarang mahasiswa-mahasiswa yang berhasil lolos dari lubang jarum itu mungkin sudah sukses menjadi “orang”. Entah dimana mereka, kami juga tidak tahu. Cukuplah hal ini menjadi perjuangan yang mencekam buat mereka dan menjadi pelajaran berharga untuk selalu lebih serius dalam menekuni apapun (tidak menganggap remeh, tidak takabur, bekerja keras dalam berusaha, dan sebagainya).

Pelawak Tukul dan acaranya “Bukan Empat Mata” di sebuah TV swasta kembali kena semprit KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Program “Bukan Empat Mata” itu harus dihentikan untuk sementara. Ini kali kedua acaranya Tukul kena peringatan. Dulu acaranya yang berjudul “Empat Mata” dihentikan oleh KPI karena mengandung adegan kekerasan, kali ini acara yang merupakan ganti kulit dari acara yang lama dihentikan lagi karena ada unsur pornografi. Begitulah yang saya baca di koran tadi pagi.

Buat bapak-bapak dan ibu-ibu di KPI, saya kira acaranya Tukul ini tidak usah dihentikan sementara, tetapi untuk selamanya saja, dan saya pikir Tukul tidak diperbolehkan lagi menjadi host acara serupa. Kenapa? Tidak kapok-kapok, itu kata yang pas untuk menggambarkan pengelola acara (Tukul cs). Perilaku Tukul dalam acara itu jauh dari nilai-nilai kesopanan. Ada pelecehan terhadap kaum perempuan di dalam acara itu. Dia suka mencolek-colek dan memegang-megang tamu wanita maupun rekan mainnya yang perempuan. Seakan-akan perempuan itu istrinya atau saudaranya saja. Namun yang paling menyebalkan dan sangat tidak pantas adalah kata-kata dan sikapnya yang merendahkan martabat orang lain lantaran kekurangan fisik orang tersebut. Kelemahan fisik tamunya dijadikan bahan olok-olokan dan tertawaan. Baca tulisan saya yang terdahulu soal perilaku Tukul itu.

Sebenarnya banyak acara-acara TV yang bermasalah, tidak hanya acara Tukul tersebut. Sinetron-sinetron picisan dan kejar tayang banyak berhamburan kata sumpah serapah, makian, hinaan, adegan kekerasan, gaya hidup mewah, dan sebagainya menghiasi layar kaca setiap hari. Belum lagi acara reality show yang banyak mempertontonkan tindakan asusila. Manajemen televisi berlomba membuat acara yang mendatangkan keuntungan materi semata. Rating adalah kata sakti yang didewakan manajemen televisi. Sayangnya dalam mengejar rating tinggi, aspek moral dan etika sering terabaikan, baik oleh artis maupun oleh manajemen TV. Pihak artis dan manajemen TV sering berkilah bahwa tidak ada standard ukuran nilai-nilai moral di Indonesia. Buruk bagi seseorang belum tentu buruk pula menurut pandangan orang lain. Semua tergantung pribadi masing-masing, begitu alasan klise yang sering kita dengar. Dengan memanfaatkan perdebatan nilai-nilai yang tidak habis-habisnya itu — serta didukung oleh kelompok-kelompok liberal — pihak artis dan televisi seakan menutup mata dan telinga mereka dari suara-suara yang dianggap mewakili kelompok konservatif. Bak anjing menggonggong kafilah tetap lalu. Padahal televisi merupakan media yang paling banyak mempengaruhi persepsi dan nilai-nilai sosial di masyarakat. Perubahan nilai-nilai di masyarakat salah satunya karena dampak tayangan televisi.

Saya pikir banyak acara-acara TV sekarang ini yang tidak layak untuk ditonton, apalagi oleh keluarga yang punya anak kecil. Jalan yang paling aman memang matikan saja pesawat TV, habis perkara. Namun tidak semua orang berpikiran seperti itu, jutaan orang lain tidak atau belum peduli tentang hal ini. Bagi kebanyakan orang di Indonesia yang tingkat pendidikannya masih rendah, televisi adalah sarana hiburan keluarga yang murah meriah dan seolah wajib ada di rumah. Merekalah sebenarnya sasaran empuk infiltrasi nilai-nilai yang kurang baik dari acara-acara TV sampah itu. Parahnya lagi tidak semua orang Indonesia memiliki iman, nilai moral dan agama yang kuat. Sekali dua kali infiltrasi nilai-nilai itu belum terasa pengaruhnya, tapi kalau sering dilihat maka pengaruhnya terhadap perilaku baru dirasakan setelah jangka waktu yang agak panjang. Jika benteng moral dan agama tidak kuat, maka anak-anak kita kelak menjadi orang yang permisif terhadap perbuatan asusila.

Menyerahkan solusi masalah ini dengan pendidikan agama dan etika seakan-akan menyederhanakan masalah dan terkesan menghindari tanggung bagi pihak artis dan manajemen televisi. Pendidikan agama dan budi pekerti memang perlu dan harus selalu diberikan kepada anak kita, namun sumber masalah yang menyebabkan terjadinya degradasi moral itu juga harus tetap diselesaikan. Dalam kasus ini, masalahnya ada pada produser dan artis yang terlibat di dalamnya. Program televisi mereka itu dilarang saja agar menimbulkan efek jera. Indonesia ini tidak hanya berisi orang-orang seperti mereka, tetapi masih banyak berisi orang-orang yang menginginkan negara ini menjadi negara yang beradab.

Kamu punya sepeda namun biasanya susah memarkirnya di kampus ITB? Takut hilang atau takut kehujanan? Jangan khawatir, pihak kampus sudah membuat beberapa tempat parkir sepeda beratap yang dapat dipindah-pindah. Ini dia fotonya saya jepret tadi siang (di samping dan di depan Gedung Ahmad Bakrie alias LabTek VIII Elektro).

Foto yang di bawah ini area parkir sepeda yang ditaruh di samping Gedung LabTek VIII, arah ke Bank BNI. Kosong. Saya kira letaknya kurang aman, rawan pencurian, jadi mahasiswa tampaknya enggan memarkirnya di sana.

DSC00534

Kalau yang di bawah ini area parkiran sepeda di depan gedung LabTek VIII, dekat parkiran motor dan mobil, setiap hari selalu penuh dengan parkiran sepeda karena dekat dengan orang yang lalu lalang ke gedung itu (yang mau nyolong sepeda pasti mikir 99 kali kali sebab tempatnya ramai :-) :

DSC00535

Akhir-akhir ini cukup banyak mahasiswa yang membawa sepeda ke kampus. Sehat, murah, dan praktis, itulah gaya hidup ke tempat aktivitas dengan naik sepeda. Saya kira bersepeda ke kampus adalah alternatif solusi untuk mengurangi padatnya parkiran mobil di area seputaran kampus. Prihatin saja, banyak mahasiswa yang kos dekat kampus namun membawa mobil pribadi jika hendak kuliah. Akibatnya kampus ITB menjadi macet, cet, cet, sempit, dan tidak nyaman lagi.

Dosen atau karyawan yang bersepeda ke kampus sangat jarang. Mungkin ada satu dua orang, tapi tidak terdeteksi oleh saya. Kalau pun ada, saya pikir hanya sesekali saja. Rumah dosen umumnya jauh dari kampus (seperti saya nih, di Antapani Bandung Timur, yang jarak dari rumah ke kampus 8 km). Kalau setiap hari naik sepeda pasti ngos-ngosan karena dari Timur ke Utara jalannya menanjak. Tiba di kampus pakaian sudah penuh dengan keringat. Bau. Harus mandi lagi di kantor supaya kawan dan mahasiswa tidak lari :-)

Namun saya sangat berkeinginan untuk sesekali membawa sepeda ke kampus. Sesekali saja, tidak setiap hari, kalau pas tidak ada kuliah, sidang, seminar, atau rapat-rapat.

Tulisan Sebelumnya »