Ke Tangkubanperahu Tidak Murah Lagi

Minggu lalu ada tamu dari Malaysia datang ke kampus kami. Selesai acara presentasi saya menanyakan kepada pemandu mereka (orang Indonesia), apakah dia sudah membawa tamu Malaysia ini jalan-jalan ke Tangkubanperahu. Karena, bagi saya Gunung Tangkubanperahu adalah gunung api yang unik, kita bisa langsung mendekat ke bibir kawah (Kawah Ratu), bahkan bisa turun ke kawah lainnya (Kawah Domas). Berkunjung ke Bandung tanpa melihat kawah Gunung Tangkubanperahu rasanya ada yang kurang selain untuk sekedar wisata belanja dan kuliner. Tangkubanperahu sangat dekat dengan kota Bandung. Bandung mungkin salah satu kota yang berada dekat dengan gunung api yang masih aktif.

tangkuban_perahu2

Apa jawab pemandu tamu dari Malaysia tersebut? Mereka tidak jadi ke sana karena tiket masuk bagi turis asing mahal sekali. Satu orang Rp200.000 (kalau weekend Rp300.000/orang), sedangkan mobil Rp25.000. Jika ingin turun ke Kawah Domas maka biayanya (harus pakai pemandu) adalah Rp300.000 untuk satu jam. Anda bisa hitung jika tamu yang dibawa 10 orang, berapa biaya yang harus dikeluarkan mereka.

Saya dengar banyak turis Malaysia membatalkan agenda kunjungan ke Tangkubanperahu gara-gara tiket yang mahal tersebut. Sejak obyek wisata Tangkubanperahu dikelola oleh pihak swasta harga tiket masuk melambung tinggi (kenapa sih harus dikelola swasta?). Padahal tidak ada yang berubah dari kawasan wisata itu dari dulu sampai sekarang, tidak ada penambahan infrastruktur, gitu-gitu saja, tetapi ongkos masuknya ditarik luar biasa mahalnya. Sebagai perbandingan, masuk Trans Studio saja tiketnya hampir sama (Rp200.000/orang), tetapi itu sebanding dengan wahana yang dinikmati pengunjung.

Saya heran Pemda yang terkait dengan obyek wisata Gunung Tangkubanperahu diam saja. Padahal, jika kondisi ini terus berlangusng, maka turis asing jadi enggan datang ke Tangkubanperahu. Imej wisatawan adalah Tangkubanperahu itu mahal, jadi tidak usah ke sana. Nah, jika yang berkunjung sedikit, siapa yang rugi?

Saya tidak habis pikir dengan pola pikir bangsa kita yang diskriminatif dan “aji mumpung” dalam memberlakukan tiket masuk bagi wisatawan lokal maupun asing. Jika memang harus memberlakukan dua tarif berbeda, kenapa harus sedemikian jauh bedanya? Waktu saya jalan-jalan ke Candi Borobudur tiket masuknya juga berbeda antara wisatawan lokal dan wisatawan asing. Bahkan nonton angkung di saung Udjo pun harga tiket buat turis asing hampir dua kali lipat daripada pendatang lokal. Semangat aji mumpung itu dipelihara untuk mengeruk duit dari turis asing. Ah, semangat yang jelek karena memberikan kesan negatif.

Saya jadi malu kalau membuat agenda membawa tamu mancanegara ke Tangkubanperahu. Ya sudah dicoret saja dari agenda kunjungan.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 6 Komentar

Selamat Jalan Bu Een

Hari Jumat kemarin, guru inspiratif yang mengajar anak-anak tanpa pamrih itu sudah berpulang. Een Sukaesih dipanggil kembali ke haribaan Ilahi setelah penyakit akut yang sudah lama dideritanya merenggut nyawanya. Saya pernah menulis tentang Bu Een pada posting tahun 2013: Een Sukaesih, Pejuang Guru dari Sumedang (Meskipun Lumpuh Tetap Mengajar Tanpa Pamrih.

Selama hidupnya dia telah menanam amal jariyah dengan memberikan bimbingan belajar kepada anak-anak sekolah yang datang berkunjung ke rumahnya. Dengan segala keterbatasan fisik yang dimilikinya, Bu Een mampu menjelaskan aneka pelajaran seperti matematika, Bahasa Inggris, IPA, Bahasa Indonesia, IPS, PKN, dan sebagainya. Semua itu dilakukannya tanpa pamrih dan dalam keadaan berbaring di tempat tidur.

Saya yakin di alam akhirat sana para malaikat menyambut arwahnya dengan tersenyum. Bu Een, pejuang pendidikan yang dijuluki Guru Qolbu, telah mendarmabaktikan seuruh hidupnya untuk pendidikan. Meskipun cita-citanya untuk menjadi guru formal tidak kesampaian, namun Bu Een sudah menjadi guru bagi anak-anak di lingkungannya. Selamat jalan Bu Een, semoga Allah SWT menerima amalan sholehmu dan menempatkanmu di tempat yang layak di sisi-Nya.

Dipublikasi di Pendidikan | Tinggalkan komentar

Ayahku

Saya dapat tulisan bagus dari grup diskusi di media sosial. Tulisan yang mencerahkan ini dibagikan oleh Ustadz Musyafa Ad Dariny, MA. Saya bagikan lagi kepada anda semoga bermanfaat, khususnya kenangan kepada (alm) ayahanda (jika ia sudah tiada)

~~~~~~~~~~~~~~

Saat umurku 4 th: “Ayahku adalah oracng yang paling hebat”.

Saat umurku 6 th: “Ayahku tahu semua orang”.

Saat umurku 10 th: “Ayahku istimewa, tapi cepet marah”.

Saat umurku 12 th: “Ayahku dulu penyayang, ketika aku masih kecil”.

Saat umurku 14 th: “Ayahku mulai lebih sensitif”.

Saat umurku 16 th: “Ayahku tidak mungkin mengikuti zaman ini”.

Saat umurku 18 th: “Ayahku seiring berjalannya waktu akan menjadi lebih susah”.

Saat umurku 20 th: “Sulit sekali aku memaafkan ayahku, aku heran bagaimana ibuku bisa tahan hidup dengannya”.

Saat umurku 25 th: “Ayahku menentang semua yang ingin ku lakukan”.

Saat umurku 30 th: “Susah sekali aku setuju dengan ayah, mungkin saja kakekku dulu capek ketika ayahku muda”.

Saat umurku 40 th: “Ayahku telah mendidikku dalam kehidupan ini dengan banyak aturan, dan aku harus melakukan hal yang sama”.

Saat umurku 45 th: “Aku bingung, bagaimana ayahku dulu mampu mendidik kami semua?”.

Saat umurku 50 th: “Memang susah mengatur anak-anak, bagaimana capeknya ayahku dulu dalam mendidik kita dan menjaga kita?”.

Saat umurku 55 th: “Ayahku dulu punya pandangan yang jauh, dan telah merencanakan banyak hal untuk kita, ayah memang orang yang istimewa dan penyayang”.

Saat umurku 60 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat”.

Lingkaran perjalanan ini menghabiskan waktu 56 tahun untuk kembali ke titik semula di umur 4 th, saat ku katakan “Ayahku adalah orang yang paling hebat”.

~~~~~~~~~~~~~~

Maka hendaklah kita berbakti kepada orang tua kita sebelum kesempatan itu hilang, dan hendaklah kita berdoa kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita lebih baik dalam bermuamalah dengan kita melebihi mu’amalah kita dengan orang tua kita.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak dengan sebaik-baiknya.

Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah sampai usia lanjut di sisimu, maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”. [Al-Isro': 23-24].

Ini adalah risalah dari seseorang yang telah menjalani semua perjalanan hidup di atas, maka aku senang meringkasnya untuk diambil ibrah dan pelajaran.

Ya Allah ampunilah kami dan orang tua kami serta siapapun yang berjasa kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami semua Surga Firdaus-Mu. (133)

Dipublikasi di Renunganku | 6 Komentar

Jonru

Ada satu nama di jagad maya yang mendadak populer sejak Pilpres 2014 kemarin, yaitu Jonru. Namanya diperbincangkan di media sosial karena posting-posting-nya yang selalu mengkritik dan (seringkali) menyerang Jokowi dan Pemerintahannya. Jonru memiliki fanpage di Facebook yang di-follow dan di-like oleh ratusan ribu orang. Artinya Jonru memiliki penggemar yang luar biasa jumlahnya. Hampir setiap posting-nya di Facebook di-like oleh ribuan orang dan dibagikan ke akun-akun lain di Facebook.

Saya tidak kenal dengan Jonru dan saya tidak pernah menjadi follower maupun me-like statusnya di Facebook. Hanya sesekali saja saya membacanya karena kebetulan muncul di status orang lain di akun facebook-nya. Yang sedikit saya tahu Jonru itu adalah seorang penulis buku dan menjadi pengisi materi acara workshop menulis.

Dari beberapa posting-posting-nya yang saya baca, saya menyimpulkan Jonru seringkali menulis posting asal njeplak dan dangkal. Dia terlalu cepat menyimpulkan suatu kejadian sebelum melakukan tabayyun (cek dan ricek). Akibatnya posting-posting-nya di laman akun Facebook-nya itu menjurus pada fitnah. Yang saya ingat adalah posting tentang Quraish Shihab dan posting tentang asal usul ayah kandung Jokowi. Kedua posting ini membuat heboh dunia maya karena tidaklah pantas seseorang menelusuri ayah kandung orang lain yang tidak disukainya karena kita tidak lebih tahu tentang ayah kandung dan ibu kandung dari orang yang kita bicarakan. Pada akhirnya posting tentang ayah kandung Jokowi itu isinya ghibah belaka alias fitnah.

Media sosial bagaikan pedang, ia dapat membawa kebajikan jika digunakan semestinya, namun ia juga dapat menjadi ajang penyebar fitnah jika diguankan untuk menyebarkan tulisan yang tidak benar. Pada titik ini Jonru bisa terperosok melakukan ghibah yang dilarang agama.

Namun Jonru tetaplah Jonru, dia tetap aktif mem-posting tulisan yang mengkritisi kebijakan Jokowi dan para menterinya. Saya bukan pendukung Jokowi saat Pilpres, namun saya tidak anti dengan Jokowi. Nah, kalau Jonru terkesan sekali begitu antipati dengan Jokowi. Posting dia di Facebook selalu mendapat banyak like dari fesbuker. Menurut saya Jonru telah dimabukkan oleh ribuan like pada setiap posting-nya, dan ini membuatnya semakin bersemangat untuk menulis posting-posting baru yang bernada menyerang Jokowi. Ya, Jonru mabuk kepayang karena ratusan ribu follower/likes yang membaca dan membagikan posting-nya setiap hari. Sebagaimana kita sendiri pemilik akun di Facebook, kita merasa senang jika posting kita di Facebook disukai (di-like) oleh banyak orang, apalagi oleh ratusan atau ribuan orang.

Di sisi lain, efek Jonru juga berdampak kepada PKS, karena Jonru sering diidentikkan dengan partai dakwah tersebut. Jonru sendiri menyatakan bahwa dirinya adalah simpatisan PKS. Maka, perilaku Jonru dapat membuat orang anti dengan PKS.

Banyak netizen yang mengecam Jonru namun saya tidak mau ikut-ikutan pula mengecamnya. Semoga saja Jonru tersadar akan bahaya ghibah yang dapat menjurus pada fitnah. Dia masih dapat memperbaiki posting-nya untuk masa-masa yang akan datang dengan menulis lebih dalam dan dengan mengguankan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dipublikasi di Indonesiaku | 7 Komentar

Pemandangan Gunung Bromo dari Atas Pesawat

Dalam perjalanan dengan pesawat dari Bandung ke Denpasar, saya sangat beruntung menyaksikan pemandangan alam Gunung Bromo dan sekitarnya dari udara. Jika anda bepergian pada pagi hari dengan pesawat dari Bandung, maka pesawat akan mengambil rute menyusuri selatan pulau Jawa. Jika kebetulan cuaca sangat cerah dan anda dapat seat di sebelah kanan pesawat, maka bersiaplah menyaksikan pemandangan alam yang mempesona. Ada puluhan gunung berserakan di Pulau Jawa yang tampak dari atas pesawat, namun karena saya sudah jalan-jalan ke Gunung Bromo satu bulan sebelumnya, maka saya dapat mengidentifikasi mana yang Gunung Bromo dan Gunung Semeru.

Lihatlah foto di bawah ini. Gunung terkiri yang paling kiri dan mengeluarkan asap itulah Gunung Semeru. Selanjutnya di latar depan adalah sebuah kawah raksasa yang disebut kaldera. Itulah kaldera Gunung Tengger yang pernah meletus ratusan atau jutaan tahun yang lalu. Kaldera ini berisi pasir sehingga dinamakan lautan pasir. Di atas lautan pasir itu tampak Gunung Batok dan di belakangnya adalah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap.

Gunung Semeru (kiri), Gunung Bromo (berasap), dan Gunung Batok di depannya.

Gunung Semeru (kiri), Gunung Bromo (berasap), dan Gunung Batok di depannya.

Saya memotretnya dengan kamera ponsel (yang diaktifkan dengan mode pesawat sehingga tidak ada sinyal dan tidak mengganggu penerbangan). Kualitas gambarnya mungkin tidak terlalu bagus karena obyek yang difoto sangat jauh jaraknya, tetapi jika anda menyaksikannya sendiri dari atas pesawat anda akan mengucapkan Masya Allah, duhai begitu indahnya ciptaan Allah SWT. Mata saya agak basah karena begitu terharu melihatnya.

Beberapa detik kemudian pesawat sudah hampir meninggalkan Gunung Bromo, dan saya masih sempat memotretnya dua kali lagi sebagai kenang-kenangan.

DSC_0273

DSC_0274

Kelak jika ada waktu saya ingin jalan-jalan ke Gunung Bromo lagi.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 2 Komentar

Perumpamaan Empat Orang Istri

Tenang…tenang, tulisan saya ini tidak mengajak anda untuk beristri lebih dari satu (poligami) :-). Tetapi ini perumpamaan seorang lelaki yang “hidup” dengan empat orang istri. Dan ternyata tetaplah istri pertama yang paling setia sampai dibawa mati. Tiga istri yang lainnya hanyalah fatamorgana, mereka tidak akan bersedia dibawa mati.

Saya mendapatkan renungan ini dari sebuah grup diskusi di sosial media. Isinya sangat bagus, terlepas dari siapa yang menulisnya pertama kali. Setelah saya edit seperlunya dengan gaya bahasa yang lebih enak, saya bagikan kepada anda untuk direnungkan.

~~~~~~~~~~~~~~

Seorang laki-laki itu ibaratnya mempunyai empat istri.

Istri ke-1: sudah tua dan biasanya tidak diperhatikan.
Istri ke-2: agak cantik, tetapi tetap kurang diperhatikan.
Istri ke-3: lumayan cantik dan cukup diperhatikan.
Istri ke-4: sangat cantik, sangat diperhatikan, dan selalu disanjung-sanjung serta diutamakan.

Saat sang suami akan meninggal dunia, dipanggillah istri ke-4 yang paling cantik lalu ditanya, “Maukah kau ikut menemaniku ke alam kubur?”

Si istri menjawab, “Maaf, cukup sampai disini saja saya ikut denganmu.”

Saat istri yang ke-3 dipanggil dan ditanya hal yang sama, maka ia menjawab, “Maaf, saya hanya akan mengantarmu sampai ke kamar mayat saja, paling jauh sampai ke rumah duka.”

Kemudian dipanggillah istri yang ke-2 dan ditanya hal yang sama, maka ia menjawab, “Baik, saya akan menemanimu tapi hanya sampai ke liang kubur, setelah itu Good Bye.”

Si suami sungguh kecewa mendengar semua itu, tetapi inilah kenyataan kehidupan menjelang kematian.

Lalu ia memanggil istri pertama dan ditanyakan hal yang sama, si suami tak menyangka jawaban istri pertama, “Saya akan menemanimu, kemanapun kamu pergi saya akan tetap mendampingimu.”

Anda ingin tahu tahu apa dan siapa para istri itu diibaratkan, dari istri ke-1 sampai ke-4?

Istri ke-4 adalah ibarat harta, kekuasaan, dan kekayaan. Mereka akan meninggalkan jasad kita seketika saat kita meninggal.

Istri ke-3 adalah teman-teman kita. Mereka akan mengantar jasad kita hanya sampai di kamar mayat atau rumah duka saat disemayamkan.

Istri ke-2 adalah keluarga, saudara, dan teman dekat kita. Mereka akan mengantar kita sampai di kuburan, dan akan meninggalkan kita setelah mayat kita dimasukkan ke dalam liang kubur dan ditutup dengan tanah.

Istri pertama itu adalah semua amalan sholeh kita selama hidup di dunia. Ia akan menemani kita selama-lamanya sampai ke alam akhirat. Apa yang kita tabur selama hidup di dunia, maka itu juga yang akan dituai nanti di alam akhir.

~~~~~~~~~~~~

Sudah pahamkah anda dengan perumpamaan empat istri tadi? Jadi, tetaplah istri pertama yang paling setia sampai kita mati dan sampai kita hidup kembali, nanti.

Dipublikasi di Renunganku | 8 Komentar

Musim Membuat Tandingan

Bangsa ini tidak pernah berpikir dengan jernih. Ketika kalah dari suatu pertandingan hati merasa tidak puas, lalu membentuk organisasi tandingan. Mereka belum ikhlas menerima kekalahan dan tidak mau mengakui kemenangan lawan. Ada DPR tandingan, ada gubernur tandingan, ada parpol tandingan. Entahlah nanti apa ada presiden tandingan.

Tahukah anda, penyebab semua itu karena nafsu berkuasa. Manusia di mana-mana tidak pernah lekang nafsunya untuk menguasai orang lain. Pada kasus di DPR, sekelompok fraksi (partai) yang kalah dalam pemilihan perangkat dewan (ketua dan wakil komisi), lalu mutung dan membuat dewan tandingan dengan ketua dan wakil dari kelompok mereka sendiri. Bapak/ibu anggota dewan yang terhormat itu telah mempertontonkan perilaku anak kecil kepada seluruh rakyat Indonesia.

Pada kasus gubernur tandingan, sekelompok masyarakat menolak gubernur yang sudah sesuai undang-undang, lalu memproklamirkan gubernur sendiri sebagai bentuk perlawanan. Mereka hanya mempertontonkan lawakan yang tidak lucu kepada masyarakat. Entah sampai kapan adu kuat antara kedua gubernur ini berlangsung. Secara undang-undanga tidak ada yang dilanggar, tetapi tetap saja perseteruan ini tidak elok dilihat.

Pada kasus parpol tandingan, sekelompok elit parpol yang tidak puas dengan keputusan elit lainnya karena tidak sekubu dengan penguasa lalu membuat munas tandingan. Dari munas tersebut lahirlah pengurus tandingan (yang berarti parpol tandingan). Sudah jelas arah dan kepentingan munas tandingan tersebut, yaitu untuk memberikan dukungan kepada penguasa sambil bermanis-manis lidah. Kritisme telah mati, karena jika sudah sekubu dengan penguasa maka tinggal mengaminkan saja semua keputusan penguasa tersebut.

Sekarang tinggallah kita sebagai rakyat biasa menyaksikan pertandingan antara barang yang asli dengan barang yang KW. Yang rugi adalah bangsa kita juga, karena yang bertarung itu sama-sama anak bangsa.

Dipublikasi di Indonesiaku | 3 Komentar