Feed on
Tulisan
Komentar

Beberapa waktu lalu saya membaca berita bahwa film baru (tapi belum beredar) berjudul “ML, Mau Lagi” diprotes oleh banyak kalangan karena dinilai sangat vulgar menampilkan seks. Film ini dianggap mengkampanyekan seks bebas. Banyak orang bilang film ML meniru film “American Pie” yang memang disononya film tersebut menampilkan kehidupan permisif remaja Amerika soal seks. Dari namanya saja sudah membuat pikiran orang ke arah hubungan seksual sebab ML yang dimaksud si produser film bukanlah “Mau Lagi”, tetapi “Make Love” yang dalam bahasa Indonesia tahu sendirilah artinya apa. Karena protes dan kebefratan itu, LSF menunda izin penayangan film ML dan memotong lebih banyak lagi adegan yang melanggar norma susila.

Contoh di atas adalah bukti nyata bahwa ada LSF saja film Indonesia sudah semakin tidak karuan, bagaimana kalau tidak ada LSF? Masyarakat Film Indonesia (MFI) yang dulu sangat gencar mengkampanyekan pembubaran LSF dan ingin menggantinya dengan klasifikasi film dapat melihat sendiri apa jadinya jika sensor film ditiadakan. Para sutradara yang tidak punya lagi rasa malu membuat film yang semakin liar dengan menampilkan cerita melulu seputar seks. Untung saja masyarakat kita masih punya akal sehat, mereka tidak dapat menerima kehadiran film seperti itu dan menuntut agar film tersebut dilarang beredar. Untunglah Mahkamah Konstitusi masih punya hati nurani dengan menolak keinginan MFI itu.

Akhir-akhir ini para produser film latah membuat film komedi dan film hantu yang dibungkus dengan cerita seks. Contoh film komedi seperti itu adalah “D.O”, “Namaku Dick”, dan “M.L”. Film hantu yang menonjolkan seksualitas misalnya “Tali Pocong Perawan” yang menampilkan penyanyi dangdut yang dicekal karena goyangnya yang porno, Dewi Persik. Saya memang tidak menonton film-film itu dan tidak akan pernah mau menontonnya. Bagi saya film tersebut film-film sampah yang merusak moral anak muda saja. Sutradara film semacam itu menurut saya tidak perlu ada di Indonesia karena mereka adalah penumpang gelap reformasi yang memanfaatkan euforia kebebasan untuk membuat film apa saja. Dengan berlindung pada dalih kebebasan berkekspresi mereka membuat film-film porno. Padahal kebebasan berekspresi bukanlah kebebasan tanpa batas. Ada hak asasi orang lain yang juga harus dihargai. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang masih menghargai norma-norma susila. Norma susila itu diindikasikan dengan rasa malu karena berbuat sesuatu yang tidak pantas. Jika rasa malu sudah hilang pada diri seseorang, maka orang itu tidak ada bedanya dengan binatang bahkan mungkin lebih rendah dari binatang.

Sebuah film seharusnya merupakan potret kehidupan di tengah masyarakat. Film-film porno seperti yang disebutkan di atas tidaklah mewakili kehidupan di masyarakat kita. Memang ada orang-orang dengan perilaku melenceng dari norma-norma susila yang umum, tetapi perilaku seperti itu tentu tidak patut difilmkan karena bukan potret masyarakat kita. Film-film semacam itu tidak memberikan tuntunan sama sekali, tidak ada pesan yang disampaikan makanya dikategorikan sebagai film sampah saja.

Penyair Taufik Ismail pernah menantang para sineas muda, apakah mereka berani menampilkan ibunya atau saudara perempuannya atau anak perempuannya beradegan seks dalam film? Jika mereka bersedia merekam ibunya atau saudara perempuannya atau anak perempuannya beradegan seperti itu, barulah mereka dipersilakan membuat film-film sejenis sebab mereka sudah tidak punya harga diri lagi. Sudah hilang rasa malu dalam diri mereka.

Di Bandung barang apa yang langka saat ini? Jawabannya adalah gas elpiji. Sungguh cape mencari gas elpiji kemana-mana. Saya tanya ke agen-agen selalu jawabannya: kosong. Kalau pun ada, harganya melambung tinggi: 100.000 rupiah mas.. (ukuran tabung 12 kg). Biasanya sih hanya Rp 51.000 saja. Beberapa orang mang-mang saya lihat menjajakan gas epiji dengan mengunakan beca, mereka masuk kampung keluar kampung. Harga yang mereka tawarkan 2 kali lipat harga nomal. Banyak juga orang yang membelinya, habis butuh sih, harga berapapun akan dibeli.

Saya baca di koran lokal, antrian orang di Jalan Emong Bandung (agen resmi gas elpiji di Bandung) tidak pernah berakhir selama satu bulan ini. Ada yang antri mulai jam 2 pagi hanya untuk mendapatkan 2 unit tabung gas elpiji. Panjang antrian sudah mencapai ratusan meter. Sekarang yang antri adalah para calo antri, sementara pembeli sesungguhnya menunggu di luar antrian. Setiap calo antri mendapat upah Rp 5000 untuk setiap tabung. Berita “mengerikan” datang kemaren, bahwa pabrik gas elpiji di Balongan Indramayu rusak dan berhenti beroperasi. Pasokan gas ke Bandung otomatis terhenti. Gas semakin sulit didapat. Sejak saat itu pengantri di jalan Emong hanya boleh membeli satu tabung gas saja.

Tetangga saya sudah 5 hari tidak bisa memasak karena tidak ada gas. Sementara di rumah kami persediaan gas semakin menipis. Untunglah kami tidak biasa memasak sehingga persediaan gas bisa dihemat. Kompor gas hanya digunakan untuk memasak air mandi untuk anak, menghangatkan makanan, dan memasak sayur. Kalau nasi dimasak dengan penanak nasi listrik (rice cooker). Kalau lauk pauk cukup membeli di rumah makan atau di warung. Air minum pakai air kemasan galon saja. Praktis persediaan gas di rumah bisa dihemat. Tapi kalau hingga akhir pekan ini gas tetap langka di pasaran, saya mulai akan bingung karena dalam pekan ini persediaan gas di rumah akan habis. Saya belum berminat ikut antri di jalan Emong.

Mau ganti ke kompor minyak tanah? Ini alternatif yang saya pikirkan, tetapi kata orang minyak tanah juga sulit diperoleh. Minyak tanah sama langkanya dengan gas elpiji. Program konversi minyak tanah ke gas elpiji menyebabkan pasokan minyak tanah berkurang.

Kalau minyak tanah juga sulit didapat, apa pakai kayu bakar saja lagi ya? Kembali ke zaman dulu, kalau begitu.

Saya tidak habis pikir kenapa gas elpiji sulit diperoleh? Apakah ada yang menimbunnya guna mencari keuntungan besar menjelang kenaikan harga BBM dalam waktu dekat ini? Ataukah pelaku usaha (restoran, industri, dll) yang biasanya menggunakan tabung gas ukuran 50 kg beralih ke tabung gas 12 kg sehingga mereka memborong gas elpiji ukuran 12 kg?

Yang jelas, hidup sekarang ini makin susah saja. Kasihan rakyat kecil, tentu mereka makin menderita kalau harga BBM benar-benar mau dinaikkan Pemerintah. Meski harga BBM belum resmi naik, tetapi harga-harga barang dan jasa sudah berebut naik duluan (lebih tepat disebut “ganti harga”). Kenaikan harga BBM berefek domino. Jika harga BBM naik, maka ongkos transportasi ikut naik. Karena barang kebutuhan diangkut dengan alat transpotasi, maka jika ongkos transportasi naik, maka harga barang kebutuhan pasti ikut naik. Jika harga barang kebutuhan naik, maka tarif barang dan jasa yang menggunakan barang kebutuhan tidak mau kalah ikut naik. Pokoknya semuanya berlomba-lomba naik.

Tetapi ada satu yang tidak naik, yaitu harga diri.

Kemaren, 8 Mei 2008, jalan tol bandara menuju Bandara Soekarno-Hatta (Soeta) terputus karena banjir akbat pasang air laut menggenangi ruas tol bandara. Akibatnya jalan menuju bandara macet total. Perlu berjam-jam menuju bandara. Puluhan ribu orang di atas kendaraan terjebak di jalan tol.

Membaca berita di atas, saya jadi teringat pengalaman yang sama yang saya alami pada tanggal 1 Februari 2008 yang lalu. Saya “terpenjara” di atas bis Primajasa selama 19 jam karena terjebak macet total di jalan tol kota Jakarta. Ceritanya begini. Tanggal 1 Februari 2008 saya akan terbang ke Manado, Sulawesi Utara, guna melayani bimbingan Tugas Akhir mahasiswa di sana. Jadwal pesawat saya (Lion Air) adalah pukul 20.15 malam. Saya berangkat ke Bandara dengan bis Primajasa dari BSM Bandung pukul 13.30. Dengan asumsi ke Bandara Soeta pada siang hari memakan waktu 4 jam, saya perkirakan sampai di Bandara 17.30 atau kalau di Jakarta terkena kemacetan paling lambat tiba pukul 18.00 lah.

Memasuki Jakarta, perjalanan mulai tersendat. Ribuan kendaraan nyaris tidak bergerak. Berjalan sedikit, berhenti lagi. Saya sudah mulai panik nih, jangan-jangan saya ditinggal pesawat. Memasuki malam, saya masih berada di jalan tol Cawang. Jarak 1 kilometer saja ditempuh dalam waktu 1 jam lebih. Rupanya banjir di Jakarta membuat kemacetan total di mana-mana. Dari televisi di atas bis saya baru tahu ternyata kemacetan parah tersebut disebabkan oleh terputusnya ruas tol pada KM 26 di jalan tol bandara. Karena jalan tol Cawang terus menyambung hingga ke Bandara, akibatnya kendaraan yang menuju ke arah barat Jakarta tidak bisa bergerak. Hingga tengah malam saya masih berada di jalan tol dalam kota (mungkin di daerah Tebet barangkali). Saya sudah tidak memikirkan naik pesawat lagi karena pasti sudah tidak mungkin. Paling-paling saya berharap pesawat delay, tapi kalau sudah 5 jam lebih begini dari jadwal seharusnya apa masih mungkin delay? Hingga waktu subuh dinihari saya masih berada di kawasan Tomang.

Saya mau pulang saja ke Bandung tetapi tidak bisa sebab kendaraan tidak bisa mundur. Kalau pun saya turun di jalan tol, belum tentu ada kendaraan yang menuju Bandung atau ke terminal bis/kereta api. Akhirnya saya dan penumpang bis pasrah saja di dalam bis, tidak bisa berbuat apa-apa. Bis tidak bisa bergerak, benar-benar macet total. Penumpang di atas bis mulai didera rasa lapar. Mau makan tidak ada yang menjual makanan di dalam tol. Dari atas bis saya melihat masih puluhan kilometer kendaraan yang tidak bergerak di depan kami, sementara puluhan kilomter kendaran lain menungu di belakang.

Untuk urusan “ke belakang”, untung saja di atas bis ada toilet. Kebayang penumpang di dalam mobil atau bis tanpa toilet, bagaimana mereka itu mau melaksanakan urusan ke belakang di tengah kemacetan total di jalan tol itu. Kasihan lagi kalau ada bayi atau balita di dalam kendaraan, tentu mereka sudah stres. Semalaman para penumpang terjebak di jalan tol dalam kota dalam keadaan lapar, lelah, dan tanpa kepastian kapan penderitaan di jalan akan berakhir.

Pagi hari sampailah kami di jalan tol bandara. Dari jauh terlihat jalan tol tergenang banjir setinggi 1 meter. Kendaraan menuju Bandara dialihkan melewati kawasan Cengakareng. Di Cengkareng kemacetan juga luar biasa sebab bis kami memasuki jalan-jalan kampung yang sempit. Jam 9 pagi bis berhasil memasuki belakang bandara dan tiba di Bandara Soeta pukul 9.15. Total waktu dari Bandung ke Bandara Soeta adalah 19 jam lebih.

Tiba di Bandara saya tidak pikir panjang lagi, langsung balik ke Bandung dengan bis Primajasa yang lain. Rencana ke Manado saya urungkan. Perjalanan pulang ke Bandung juga tidak kalah macetnya karena bis tidak bisa melewati tol bandara. Kendaraan dialihkan ke kota Tengerang yang juga tidak kalah macetnya.

Menurut saya, jalan tol bandara itu sudah salah dari awal. Sudah tahu melewati rawa-rawa dekat laut, mengapa Pemerintah tidak membuat jalan layang saja di atas rawa itu sehingga tidak bakal terganggu oleh banjir. Jika jalan tol bandara sering putus karena bajir, apa Pemerintah tidak malu dengan program Visit Indonesia Year 2008?

Teman saya di Progarm Studi Kimia, Ismunandar, meraih gelar Profesor baru-baru ini. Dia menjadi profesor termuda di ITB sebab usianya masih 38 tahun. Saya tidak tahu apakah dia menjadi profesor termuda di Indonesia juga?

Menjadi profesor adalah cita-cita tertinggi seorang dosen. Siapa sih yang tidak ingin menjadi profesor? Untuk meraih gelar ini syaratnya berat. Yang utama adalah jumlah karya tulis (makalah) di jurnal-jurnal internasional. Di ITB banyak dosen yang hebat-hebat namun mereka susah naik ke jabatan yang lebih tinggi (jabatan dosen itu ada 4 macam: asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan profesor). Penyebabnya adalah karena jarang menulis makalah, baik untuk konferensi nasional/internasional maupun untuk jurnal nasional/internasional. Padahal, kualitas seorang akademisi diukur dari karya tulisnya: Berapa banyak makalah yang telah dia tulis? Berapa banyak makalahnya dikutip (citation) oleh pemakalah lain? (di http://scholar.google.com kita dapat melihat citation ini). Berapa banyak makalahnya dimuat di jurnal internasional? (untuk kalangan akademisi Teknik Elektro dan Informatika, pemuatan makalah di jurnal IEEE merupakan pencapaian tertinggi sebab sangat sulit untuk menembus jurnal tersebut). Kalau seorang akademisi tidak menulis bagaimana kita dapat mengukur kapasitas intelektualnya? Disinilah pentingnya kemampuan menulis itu dilatih sejak menjadi mahasiswa.

Banyak dosen lebih senang mroyek (mengerjakan proyek)daripada menulis sebab mroyek mendatangkan uang (bandingkan dengan menulis makalah yang justru harus keluar uang andaikata makalah kita hendak dimuat di jurnal/proceeding). Tapi jumlah proyek tidak menjadi ukuran kapasitas intelektual seseorang. Mroyek tidak lebih dari ‘pengamalan’ ilmu yang dimiliki untuk kepentingan klien. Proyek selesai, dosen dapat uang. Jadi, mroyek itu memberikan kemaslahan untuk diri si dosen dan keluarganya saja. Bandingkan dengan menulis makalah, makalah kita berguna untuk kemajuan ilmu pengetahuan yang pada akhirnya bermuara untuk kemaslahatan ummat manusia.

Informatika ITB, meskipun usianya sudah 25 tahun, belum mempunyai seorang profesor pun. Bandingkan dengan Informatika ITS atau Ilmu Komputer UI yang sudah mempunyai profesor. Penyebabnya ya seperti yang saya sebutkan di atas. Mudah-mudahan dalam beberapa tahun ke depan ada rekan kami yang berhasil meraih jabatan profesor itu, yang jelas bukan saya, he..he.

Sabtu malam tanggal 3 Mei 2008 yang lalu, saya menyempatkan diri hadir pada pegelaran kesenian Minangkabau yang diadakan oleh Unit Kesenian Minang ITB. Tahun ini tema pagelaran adalah “Marantiang Budayo Mamaga Pusako”, yang kalau diterjemahkan artinya kurang lebih adalah “merentangkan budaya sambil menjaga pusaka”.

Memasuki ruang pertunjukan yang berbentuk seperempat lingkaran, hati ini berdecak kagum. Penonton membludak memenuhi setiap kursi. Bahkan, setelah pertunjukan berlangsung, penonton masih tetap mengalir masuk. Mungkin kalau UKM menggunakan seluruh ruang pertunjukan Sabuga (setengah lingkaran), setiap tempat duduk akan terisi. Tiket pertunjukan sebesar Rp 15.000 mungkin dianggap tidak terlalu mahal, buktinya penonton yang ramai itu. Penonton tidak hanya mahasiswa dan perantau minang di Bandung, tetapi tampak juga orang dari etnis dan suku lain. Tampaknya pertunjukan kesenian UKM ITB selama 2 tahun terakhir berhasil memancing minat orang-orang yang notabene bukan orang Minang untuk ikut menyaksikan. Selain UKM ITB, pada malam yang sama ada satu pertunjukan budaya lagi tetapi tempatnya di Aula Timur, yaitu dari unit PSTK (Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan) ITB, sebuah unit budaya Jawa.

Kembali ke pertunjukan kesenian UKM ITB. Pagelaran kesenian dibungkus dengan sebuah kisah drama yang mengambil setting zaman penjajahan Belanda di Nagari Koto Gadang, sebuah kampung dekat Bukittinggi. Drama diselingi oleh gerak tari Minang dan iringan musik talempong. Selain ada tarian, ada juga randai. Yang baru kali ini adalah dimasukkannya musik rebab sebagai musik pengantar dan penjalin cerita. Tukang rebab memainkan musik rebab sambil mendendangkan cerita. Sayang tukang rebabnya belum piawai memainkan rebab, begitu juga cengkok dendangnya masih belum terasa pas. Yang saya tahu, rebab itu mendayu-dayu sebagaimana halnya ombak laut yang menerpa pantai pada waktu malam (musik rebab itu dari pesisir pantai, khususnya dari Kabupaten Pesisir Selatan di Sumatera Barat). Tak apalah, maklum yang memainkannya mahasiswa, bukan pemusik rebab profesional.

Secara umum pertunjukan berlangsung sukses. Namun demikian, saya tidak memungkiri ada kekurangan pertunjukan kali ini. Meskipun saya ditunjuk sebagai dosen pembina unit ini, tapi hal itu tidak menghalangi saya untuk memberikan penilaian, bukan? Saya melihat masih ada yang perlu diperbaiki untuk pagelatan tahun depan. Begini nih penilaian saya. Ide cerita yang ditampilkan sebenarnya sudah baik, tetapi dibandingkan dengan pagelaran tahun lalu, pagelaran tahun ini kurang greget alias kurang memikat. Jalan cerita terkesan melompat-lompat. Tidak ada alur cerita sebelumnya yang menjelaskan kenapa Ibrahim dianggap sebagai musuh Belanda. Hanya ditampilkan Ibrahim yang kaget ketika Datuk Mangkuto Alam menyampaikan niat Belanda untuk masuk nagari. Itu saja. Drama lebih banyak didominasi diisi oleh banyolan beberapa pemain (yang nyaris mendominasi waktu pertunjukan). Tari-tarian yang ditampilkan sedikit sekali dan nyaris seragam. Untung saja ada tari piring yang “menyelamatkan” penampilan aneka tarian. Menari piring di atas pecahan kaca sungguh mendebarkan dan mengundang tepuk tangan penonton. Tari piring sengaja dijadikan tari pemuncak karena dihadirkan pada akhir acara.

Sayang sekali, pertunjukan drama tersebut dicampuri dengan banyak pesan sopnsor. Bank Nagari menjadi salah satu sponsor utama pagelaran ini. Pemain mempunyai beban moral untuk mengiklankan Bank Nagari dalam alur cerita. Tentu saja ini tidak nyambung. Belum lagi di tengah acara ada kata sambutan dari perwakilan bank yang betele-tele. Sebenarnya panitia bisa menyatukan rangkaian kata sambutan dan lain-lain di awal acara sehingga tidak mengganggu alur cerita. Oh ya, satu lagi, sistem suara kali ini agak jelek. Ini terbukti dari mike yang digunakan pemain sering mati sehingga dialog pemain kurang terdengar oleh penonton di belakang (kok bisa Sabuga yang megah itu mempunyai sound system yang jelek?)

Terlepas dari kekurangan yang ada, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada adik-adik maahsiswa ini. Di tengah jadwal kuliah yang ketat, ujian, tugas-tugas yang menumpuk, dan lain-lain, mereka rela meluangkan waktunya untuk berlatih dan terus berlatih setiap sore, malam, dan hari libur, sebelum akhirnya mereka berhasil menghadirkan pagelaran kesenian minang yang megah.

Sukses untuk pagelaran tahun depan ya….

PKB perlu diubah namanya menjadi Partai Konflik Berkepanjangan. Konflik di partai kaum nahdliyin ini tidak pernah habis-habisnya. Dalam waktu yang berbeda 2 hari , PKB versi Gus Dur dan PKB versi Muhaimin mengadakan Musyawarah Luar Biasa (MLB). Kedua vesi PKB ini mengaku sebagai PKB yang sah, yang legitimasi, yang asli, dan lain-lain.

Tentu saja kita sebagai rakyat muak dengan semua sandiwara politik yang tidak lucu ini. Mereka yang gontok-gontokan itu tidak sadar kalau sandiwara mereka itu secara perlahan akan mengerdilkan PKB. Rakyat mungkin berpikir bagaimana mereka mau mengurus bangsa ini jika di antara mereka sendiri tidak pernah akur.

Boleh dibilang PKB adalah partai keluarga besar Gus Dur. Mulai dari Dewan Syuro hingga pengurus diisi oleh orang-orang yang bertalian darah dengan Gus Dur. Muhaimin adalah keponakan Gus Dur, begitu juga Ali Masykur Musa dan Saifullah Yusuf yang sudah lebih dulu terpental. Yenni Wahid jelas anak kesayangan Gus Dur. Pengurus di daerah (di Jatim terutama) juga masih bertalian darah dengan Gus Dur. Semua keputusan partai ditentukan oleh Gus Dur. Pengurus, kader, hingga simpatisan tunduk dan takzim pada perintah Gus Dur. Ya, PKB identik dengan Gsu Dur. Gus Dur yang diagung-agungkan sebagai pembela demokrasi ternyata tidak menjalankan domokrasi di partainya sendiri. Ironis. Sangat sulit bagi PKB menjadi partai modern jika Gus Dur masih bercokol di sana.

Saya yakin di dalam hati sebagian pengurus PKB itu mereka menderita siksaan batin karena harus selalu tunduk pada perintah Gus Dur. Mereka sebenarnya tidak suka dengan perilaku otoriter Gus Dur. Sayangnya mereka takut mengungkapkan perasaan batin itu. Mereka tidak bisa “melawan” karena melawan kehendak Gus Dur artinya sama dengan dipecat. Banyak pengurus yang takut kehilangan jabatan sehingga mereka lebih mementingkan jabatan itu ketimbang harus berhadapan dengan Gus Dur. Jadi, ya lebih baik bersikap “sami’na wa ata’na” saja (yang artinya: kami dengar dan kami taati).

Sekarang ini mereka yang takut-takut itu harus pula mendukung dan mengamankan pencalonan Gus Dur kembali sebagai calon Presiden RI dari PKB. Bagi PKB, Gus Dur lah yang dapat menyelamatkan bangsa Indonesia ini dari keterpurukan. Rakyat yang membaca pencalonan Gus Dur itu tentu akan tertawa geli, dulu waktu menjadi Presiden saja sudah gagal, lalu sekarang mencalonkan diri kembali. Siapa yang akan memilih? Ini zamannya orang muda yang memimpin. Hasil Pilkada di Jawa Barat yang memenangkan pasangan HADE seharusnya menjadi peringatan bagi para tokoh tua yang ingin turun gunung lagi.

Tapi, ya sudahlah, itu hak PKB dan hak Gus Dur untuk mencalonkan diri lagi. Biarlah rakyat nanti yang menghukum pilihan itu, apakah mereka masih percaya dengan Gus Dur dan PKB, atau mengabaikan keduanya.

Hmm…topik ini masalah yang sensitif, tapi semua kita harus jujur untuk mengungkapkannya tanpa dibelenggu rasa takut. Mengaitkan HAM untuk masalah Ahmadiyah tidak selalu tepat.

Menurut yang saya baca dan saya pelajari, secara teologis Ahmadiyah itu aliran agama yang berada di luar Islam alias sesat. Kesesatan mereka disebabkan pengakuan ada nabi lain sesudah Nabi Muhammad SAW, yaitu Mirza Ghulam Ahmad (MGA). Meskipun jemaat Ahmadiyah mengatakan MGA tidak membawa syariat baru dan mereka tetap mengakui nabi Muhammad SAW (hal itu dibuktikan dengan syahadat mereka yang sama seperti orang Islam lain umumnya, begitu juga shalat dan bacaannya), tetapi pengakuan MGA sebagai utusan Allah berarti sudah sangat menyimpang dari hal yang paling fundamental di dalam ajaran Islam. Hadis dan Alquran sudah tegas menyatakan bahwa Muhammad SAW adalah nabi terakhir penutup zaman, tidak ada lagi nabi sesudah beliau. Semua orang Islam meyakini hal itu sebagai sebuah prinsip yang tidak bisa ditawar lagi. Masalah nabi bukan masalah khilafiyah (yang menimbulkan ragam tafsiran), sehingga tidak ada perbedaan pendapat ulama soal prinsip mendasar itu. Maka, pemikiran atau aliran yang menyatakan ada nabi lain sesudah Muhhamad pastilah pemikiran yang berada di luar Islam. Dengan kata lain, ajaran Ahmadiyah telah menodai ajaran Islam mainstream (kita gunakan istilah mainstream untuk menyatakan ajaran Islam yang dianut orang Islam pada umumnya).

Jemaat Ahmadiyah pun sebenarnya secara tidak langsung sudah menyatakan kelompok mereka berbeda dengan Islam mainstream. Mereka tidak mau shalat di masjid Islam mainstream, tidak mau berimam kepada orang Islam mainstream. Mereka beribadah di mesjid mereka sendiri dengan jemaah mereka sendiri. Pokoknya eksklusiflah.

Sekarang masalah Ahmadiyah dikait-kaitkan dengan HAM. Kelompok pembela Ahmadiyah mengatakan melarang dan membubarkan Ahmadiyah adalah bentuk pelanggaran HAM. Hmmm… bagaimana dengan penodaan agama lslam oleh ajaran Ahmadiyah, apakah itu juga bukan pelanggaran HAM ummat Islam mainstream yang tidak menginginkan agamanya dinodai? Jadi, selalu ada alasan balik untuk membantah sebuah klaim.

Kelompok pembela Ahmadiyah mengatakan bahwa pelarangan dan pembubaran Ahmadiyah merupakan pelanggaran terhadap kebebasan beragama yang dijamin oleh UUD. Baiklah, tapi apakah kebebasan beragama berarti boleh mengacak-acak ajaran suatu agama yang sudah baku? Kebebasan bergama adalah kebebasan untuk memeluk suatu agama dan menjalankan ibadah sesuai agama yang diyakininya. Kebebasan beragama tidak berarti kebebasan untuk mempermainkan ajaran agama dengan menambah dan menguranginya.

Kelompok pembela Ahmadiyah mengatakan, hanya Tuhan pemilik kebenaran, ulama atau kelompok ulama (MUI yang selalu “ditembak” kelompok ini) tidak punya hak untuk memutuskan sebuah kelompok sesat atau tidak. Baiklah, kalau begitu untuk apa Tuhan menurunkan Alquran dan Rasulullah mewariskan al-Hadis kalau tidak dijadikan sebagai sebagai pegangan hidup dan pedoman bagi ummat Islam? Di dalam Alquran dan al-hadis berisi ayat-ayat dan wasiat Nabi Muhammad yang dijadikan tuntunan bagi ummat Islam untuk memutuskan mana yang ebnar dan mana yang salah. Berkata Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang bunyinya seperti ini: “Aku tinggalkan dua hal ini kepadamu (Alquran dan Al-Hadis), jika kamu berpegang teguh kepada keduanya maka kamu tidak akan tersesat”. Para ulama tidak main-main dalam menilai sebuah ajaran, mereka menggunakan kitab suci dan hadis nabi sebagai dalilnya. Seperti yang sudah dijelaskan di bagian awal, soal kenabian sudah final, sudah tidak ada lagi ruang perbedaan pendapat.

Menurut saya, Pemerintah harus tegas untuk menentukan status Ahmadiyah. Kalau tidak, maka konflik horizontal akan terus terjadi antara kelompok Ahmadiyah dengan umat Islam mainstream tadi. Perusakan, penyerangan, atau anarkisme terjadap jemaah Ahmadiyah bukanlah ajaran Islam, hal itu sangat tidak dibenarkan, sebab bagimananpun jemaah Ahmadiyah itu adalah saudara sebangsa juga yang dilindungi oleh hukum. Anarkisme terhadap jemaah Ahmadiyah adalah masalah hukum dimana polisi harus menindak pelaku anarkis. Sebelum anarkisme massa semakin brutal, maka Pemerintah dituntut ketegasannya. Di negara-negara Islam lainnya ajaran Ahmadiyah sudah dilarang, hanya di Indonesia yang belum. Organisasi OKI pun sudah menyatakan Ahmadiyah sebagai aliran di luar Islam. Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah berdosa karena selama ini telah membiarkan jemaah Ahmadiyah menginjak tanah suci Mekah dan Madinah untuk berhaji (yang sebenarnya haram bagi orang non-Muslim).

Bagi jemaah Ahmadiyah sendiri, penyelesaiannya menurut saya hanya ada dua pilihan. Pilihan pertama adalah menyatakan bahwa ajarannya tidak sama dengan Islam (berarti membentuk agama baru). Jika ini pilihannya, maka mereka akan diterima sebagai pemeluk agama baru yang berdampingan dengan agama lain di Indonesia. Kasus ini mirip seperti agama Sikh di India yang menggabungkan ajaran Islam dan Hindu dan membentuk agama baru yaitu Sikh. Jika mereka tidak mau disebut non-muslim, maka pilihan kedua adalah kembali ke ajaran Islam yang mainstream dengan melepaskan pengakuan MGA sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. Tidak ada pilihan ketiga, sebab pilihan ketiga akan membuat masalah ini akan terus berlarut-larut tanpa penyelesaian, bagaikan kerikil yang berada di dalam sepatu.

Sewaktu melewati Aula Barat ITB, saya membaca sebuah spanduk seperti di bawah ini:

Lmba penelitian dari Rekayasa Industri

PT Rekayasa Industri akan memberikan dana penelitian sebesar 4 hingga 6 juta rupiah bagi mahasiswa pemenang lomba karya ilmiah di bidang energi. Akhir-akhir ini minat mahasiswa ITB untuk melakukan penelitian sangat tinggi, sayangnya banyak penelitian itu terkendala oleh dana yang minim atau malah tdiak ada penyandang dana sama sekali. Nah, sekarang ada perusahaan swasta yang bersedia mengucurkan dananya untuk membantu penelitian mahasiswa tersebut. Gayungpun bersambut.

Di satu sisi, perhatian swasta terhadap dunia pendidkan perlu kita syukuri. Ini bentuk sebuah kepedulian sosial atau yang sekarang populer diistilahkan sebagai CSR (Corporate Social Responsibility). Tetapi, di sisi lain, penghargaan itu menimbulkan keprihatinan bagi sebagian kolega saya. Prihatin karena dinegara kita penelitian masih dihargai dengan rendah. Rekan saya yang membaca spanduk itu berkomentar begini: dikiranya meneliti itu murah sehingga dana penelitian hanya disediakan 4-6 juta. Masih begini kok berani mimpi jadi world class university, begitu pendapatnya. Maksud rekan saya itu, bagaimana kita bisa menghasilan penelitian bermutu dengan dana yang minim? Tetapi rekan dosen yang lain menimpali begini: apakah dengan biaya penelitian kecil pasti tidak bisa menghasilkan penelitian yang bermanfaat (bagi bangsa ini khususnya) dan tidak dapat menginduksi penelitian lain yang lebih bermanfaat? Dan apakah dengan penyediaan biaya besar dijamin menghasilkan penelitian bermanfaat?

Hmm… pro dan kontra tentang dana penelitian yang minim tidak bisa dielakkan. Sah-sah saja tergantung melihatnya dari sudut mana. Kalau bagi saya pribadi sih, alhamdulillah saja masih ada perusahaan yang peduli dengan penelitian di kalangan mahasiswa, terlepas besar kecilnya penghargaan yang mereka berikan. Saya hanya menyoroti ada ketidakadilan dalam penghargaan di bidang pendidikan dibandingkan dengan bidang hiburan (entertainment). Coba bandingkan, bangsa kita lebih menghargai mana, artis atau ilmuwan? Lomba-lomba menyanyi di TV seperti AFI, Idol, KDI, dan lain-lain menawarkan hadiah besar yang menurut saya tidak sebanding dengan usaha mereka. Hanya dengan modal wajah, tubuh, dan suara yang tidak bagus-bagus amat, pemenang lomba semacam ini mendapat hadiah mobil sampai rumah. Pihak sponsor berlomba-lomba menawarkan hadiah. Mereka rela mengeluarkan uangnya ratusan juta untuk lomba-lomba semacam itu, dengan harapan produk mereka ikut terangkat dan mendapat untung besar.

Coba bandingkan dengan pemenang lomba di bidang pendidikan seperti olimpiade IPA, lomba karya ilmiah remaja (LKIR), lomba karya ilmiah mahasiswa, dan yang semacam itu. Berapa hadiah yang mereka dapat, paling-paling hanya jutaan rupaih saja (kayaknya belum ada deh pemenang olimpiade fisika yang mendapat medali emas di tingkat internasional memperoleh hadiah sebuah mobil, baik dari pihak swasta maupun dari pemerintah). Selain itu, publikasi terhadap mereka juga kurang. Banyak orang Indonesia tidak tahu kalau saudara sebangsanya meraih penghargaan di tingkat nasional dan internasional karena memenangkan lomba di bidang penelitian maupun pendidikan. Bandingkan dengan publikasi pemenang lomba hiburan, waaah… bisa menyita perhatian media massa, sementara pemenang lomba olimpiade IPA tidak diberitakan sebagai sebuah berita besar. Biasa-biasa saja.

Yah, peneliti memang tidak sama dengan selebriti. Mereka meneliti tidak bertujuan menjadi orang terkenal. Mereka meneliti karena ingin hasil penelitian mereka dapat memberikan manfaat bagi bangsa, untuk hajat hidup orang banyak. Sayangnya, masih banyak pihak yang belum memberikan penghargaan yang pantas untuk peneliti. Jika pemenang lomba penelitian atau pendidikan diberikan penghargaan yang pantas, maka hal ini akan merangsang orang untuk makin bersemangat memajukan pendidikan dan penelitian di Indonesia. Tapi, kapan ya?

HADE Jua Akhirnya

Pilkada Jabar berakhir happy ending. KPUD Jabar menetapkan pemenang Pilkada, yaitu pasangan Ahmad Heryawan - Dede Yusuf alias HADE. Tidak ada tuntutan dari pihak yang kalah (AMAN dan DA’I). Damai-damai saja Pilkada Jabar ini, sesuai dengan tipikal orang Sunda yang lemah lembut, kalem, ramah, dan tidak mau mencari keributan. Alamnya yang indah dan musik tradisionilnya yang melankolis telah membentuk orang Sunda menjadi orang yang ramah.

Sejak awal saya pesimis HADE akan memenangkan Pilkada. Pasangan ini tidak masuk hitungan. Lembaga survey selalu menempatkannya pada urutan terakhir. Tapi hal mengejutkan terjadi pada pada detik-detik pencoblosan, banyak pemilih yang masih mengambang akhirnya memilih pasangan muda ini. Pilkada Jabar memang mengagetkan banyak orang. Calon incumbent dan calon yang sudah tua kalah di berbagai pilkada. Hingga saat ini entah berapa banyak tulisan di media massa yang mengulas kemenangan HADE. Apakah ini pertanda orang Indonesia menginginkan perubahan? Pemimpin yang sudah tua tidak laku lagi? Ini peringatan bagi Megawati dan Abdurrahman Wahid yang ingin menjadi Presiden lagi. Saya pikir si ibu dan si bapak ini mengurungkan saja niat mereka mencalonkan diri menjadi Presiden kembali sebelum dipermalukan oleh rakyat Indonesia nanti. Tidak tahu diri, kata saya, sudah gagal menjadi Presiden waktu berkuasa dulu, eh sekarang mau mencalonkan diri lagi.

Kekhawatiran saya bahwa pasangan calon yang menggunakan politik uang akan memenangkan Pilkada, seperti pada tulisan sebelumnya, ternyata tidak terbukti. Orang Jabar ternyata cerdas memilih, mereka ternyata sudah punya pilihan sendiri dan tidak terpengaruh kemeriahan kampanye pasangan calon lain. Menurut analisis saya sih, faktor Dede Yusuflah yang banyak berperan dalam meraih suara HADE. Dia artis, terkenal, ganteng, dan relatif bersih (tidak banyak kena gosip). Orang-orang di kampung tidak mengenal Ahmad Heryawan, mereka hanya tahunya Dede Yusuf. Daripada pusing-pusing, pilih saja Bodrex, begitu banyak orang bilang. Bodrex adalah nama obat flu yang iklannya dibintangi Dede Yusuf. Mungkin orang Sunda (baca: Jabar) ingin melihat gubernur/wakil gubernurnya dari kalangan artis kali ya. Pemilih Jabar yang memilih HADE karena faktor Ahmad Heryawan saya kira tidak terlalu banyak, karena simpatisan dan kader PKS di Jabar ini jumlahnya relatif sedikit dibandingkan penduduk Jawa Barat yang mencapai 29 juta jiwa.

Ada satu komitmen pasangan ini yang akan ditunggu pembuktiannya, yaitu mereka siap mundur jika dalam waktu 3 tahun tidak berhasil mewujudkan janji-janji pollitiknya waktu kampanye. Sebuah komitmen yang berani, karena banyak orang setelah duduk di kursi empuk, tidak mau turun-turun karena merasa keenakan. Nah, saya yakin pemimpin dari PKS tidak menjadikan kekuasaan untuk kepentingan sesaat, tetapi menganggapnya sebagai sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hari akhir kelak.

Hari Selasa minggu lalu saya diundang ke Semarang oleh Jurusan Teknik Informatika, Universitas Dian Nuswantoro (Udinus). Saya belum pernah ke Semarang, jadi ini adalah kesempatan pertama saya mengunjungi kota yang hanya sering saya dengar namanya saja. Berhubung tidak ada penerbangan langsung dari Bandung ke Semarang, saya terpaksa naik pesawat dari Jakarta (kenapa ya Bandara Husein Sastranegara di Bandung sepi rute pesawat?).

Kesan pertama saya tentang kota Semarang adalah: panaaasss…. He..he, maklum saya ini orang gunung (Bandung kan di atas gunung), maka kalau pergi ke kota pantai ya jelas terasa gerah. Saya sempat diajak jalan-jalan mengelilingi kota Semarang oleh rekan dosen di Udinus. Ternyata kota Semarang itu tampak teratur, rapi, dan yang paling penting jarang ada kemacetan. Tidak seperti Bandung yang …halah, muaaacett dan padat. Semarang juga padat sih, tapi menurut saya kota Bandung jauh lebih crowded.

Saya diajak melihat landmark kota Semarang yang terkenal itu, yaitu gedung Lawang Sewu. Berhubung mobil terus melaju, saya tidak sempat memotret Lawang Sewu, jadi fotonya saya ambil dari internet saja ya (lupa tadi di situs web mana ya mengunduhnya):

Lawang Sewu atau gedung seribu pintu menurut saya cantik dan artistik. Sayang, gedung peninggalan kolonial Belanda ini tampak tidak terawat, dinding luarnya terlihat kusam dan berjamur. Kenapa ya Pemda Kota Semarang tidak membenahi gedung kebanggaan warga kotanya? Menurut kabar-kabari berbau mistik, jumlah pintu di gedung itu sebenarnya tidak 1000, tetapi banyak. Namun tidak seorangpun yang berhasil menghitung secara persis berapa jumlah pintu itu semuanya. Selalu ada perbedaan menghitung antara satu orang dengan orang lainnya. Benarkah? Selain itu, di ruang bawah tanah juga terdapat cerita-cerita mistik tentang suara-suara aneh dari bekas penghuninya. Ruang bawah tanah itu dulunya penjara dan ruang penyiksaan.

Seperti biasa kita juga melewati Simpang Lima yang terkenal itu, yah seperti lapangan Gasibu-nya Bandung lah. Tapi, kok saya tidak melihat rumah makan padang di Simpang Lima ini ya? Setahu ya, rumah makan padang ada di setiap simpang, baik itu simpang tiga, simpang empat, maupun simpang lima. He…he.

Oleh-oleh Semarang yang terkenal apalagi kalau bukan wingko babat dan ikan bandeng presto Juwana. Banyak sekali toko yang menjual oleh-oleh ini, tapi untunglah tuan rumah memilihkan toko oleh-oleh yang paling terkenal di jalan Pandanaran. Kalau ingat ikan bandeng presto, saya jadi kasihan sama kucing. Tidak ada yang bersisa lagi buat kucing, sebab sampai ke duri-duri ikan terasa renyah dan enak dimakan.

Tentang Udinus, saya punya kesan tersendiri. Udinus sejak tahun lalu menjalin kerjasama dengan ITB dengan nama Twinning Program. Program ini memungkinkan mahasiswa Informatika Udinus kuliah di ITB setelah menjalani seleksi ketat dari ITB tentunya. Sayang, belum ada seorang pun mahasiswa Udinus yang lolos seleksi masuk Informatika ITB tahun lalu. Mungkin perlu banyak belajar lagi ya agar berhasil lolos masuk ITB tahun ini. Setahu saya, untuk twinning program ini, baru ada dua orang maahsiswa PTS yang berhasil masuk Informatika ITB, yaitu dari Universitas Al-Azhar Jakarta. Namun, dosen-dosen Informatika di sana sangat antusias dengan program kerjasama ini. Mereka ingin sekali menimba ilmu dari ITB. Kami di ITB tentu dengan senang hati membantu teman-teman di PTS/PTN daerah. Adalah kewajiban ITB untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi di tanah air. Dalam rangka itulah saya datang ke Semarang.

Udinus ini menurut dosen di sana adalah PTS nomor satu di Semarang. Kampusnya besar dan mahasiswanya banyak. Hebatnya lagi, Udinus mempunyai stasiun TV sendiri bernama TV-KU. Stasiun TV Stasiun TV ini menjadi salah satu TV lokal komersil di Semarang. Pengelola TV ini adalah staf pengajar di Fakultas Ilmu Komputer Udinus dan operatornya adalah mahasiswa mereka sendiri. Menariknya, di Udinus ini Fakultas Ilmu Komputer mempunyai program studi yang beraneka ragam dan tidak berhubungan langsung dengan Ilmu Komputer. Selain Jurusan Teknik Informatika dan Sistem Informasi, di fakultas ini juga ada program studi Fotografi (D3), dan Multimedia (D3). Ketika saya tanyakan, kenapa kedua program studi D3 itu ‘nekat’ dikelompokkan ke dalam Fakultas Ilmu Komputer, mereka mengatakan tidak ada aturan Dikti yang melarang hal itu, bukan? Ada benarnya juga sih, saya jadi ingat ITB saja mempunyai SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen) yang secara rumpun keilmuan sangat jauh beda dengan “sekolah sebelahnya” yang menggeluti sains dan teknik (ups.. hampir lupa, ada lagi Fakultas Seni Rupa dan Desain di ITB yang dianggap merupakan “keberanian” ITB menggabungkan seni ke dalam institut teknologi). Menurut saya, modal nekat dan keberanian itu memang diperlukan di dalam sebuah institusi. Memang awal-awalnya ada suara sumbang dan dicerca, tetapi setelah inovasi itu memperlihatkan performanya, barulah orang berbalik kagum.

Itulah oleh-oleh dari Semarang.