Seorang rekan saya, sesama dosen ITB, meminta pendapat. Ia bercerita bahwa salah seorang mahasiswa perwaliannya berkonsultasi tentang kuliah agama yang akan dia ambil di semester ini. Mahasiswa itu berencana mengambil mata kuliah agama dan etika (mata kuliah wajib 2 SKS), namun yang dia pilih adalah kuliah Agama dan Etika Budha, sementara dia sendiri bukan pemeluk agama Budha. Mahasiswa minta pendapat dosen Wali tentang rencananya itu.
Ini kasus yang umum di ITB. Mahasiswa bebas memilih mata kuliah yang dia inginkan, termasuk mata kuliah agama. Setiap tahun ada saja mahasiswa yang non-Budha mengambil kuliah Agama dan Etika Budha. Kebanyakan mereka yang non-Budha itu beragama Islam atau Kristen. Macam-macam alasan dan motivasinya. Ada yang karena motivasi nilai, sebab beredar rumor sejak dulu kala bahwa kuliah Agama Budha ini “sistem paket A”, alias sebagian besar mahasiswa yang mengambil kuliah mendapat nilai A. Ini yang paling banyak alasannya. He..he, saya harus konfirmasi nih kepada dosen mata kuliah Agama Budha, benarkah begitu? Ada juga yang karena ingin sekedar menambah pengetahuan saja tentang apa dan bagaimana agama Budha itu. Atau, ada juga yang sudah bosan dengan “indoktrinasi” di dalam agamanya sendiri, lalu mencari “udara baru” dengan mengambil kuliah agama Budha. Mungkin ada lagi alasan lain, misalnya kuliahnya ringan, tidak banyak tugas, dan lain-lain, pragmatislah pokoknya.
Zaman saya kuliah ada teman saya yang beragama Islam tetapi mengambil kuliah agama Budha. Dia tidak mau mengambil kuliah agama Islam karena dia sadar dirinya sangat awam soal Islam. Jelas saja begitu, karena sejak kecil hingga SMA dia disekolahkan oleh orangtuanya di sekolah Katolik. Dia sama sekali tidak bisa membaca Al-Quran. Dia khawatir kalau di kelas kuliah dia seperti “orang bodoh”, disuruh membaca Al-Quran ternyata tidak bisa, atau ditanya soal agama dia tidak bisa menjawab. Malu-maluin nanti, katanya. Jangan-jangan tidak lulus pula kuliah agama itu, katanya.
Sekarang, setelah menjadi dosen –apalagi menjadi dosen Wali– saya harus memecahkan masalah ini, seperti masalah rekan saya di atas. Bagaimana menjawab pertanyaan mahasiswa saya yang ingin mengambil kuliah agama berbeda? Pada intinya, dosen Wali tidak melarang mahasiswa mengambil kuliah agama apapun, keputusan ada di tangan mahasiswa itu sendiri. Aturan ITB sendiri soal mata kuliah agama juga tidak ada, sebab mahasiswa dianggap sudah dewasa untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya.
Dosen Wali cukup memberi saran saja. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, apakah mahasiswa siap secara psikologis jika di transkip nilainya nanti tertulis nilai agama x, sementara dia beragama y? Apakah tidak ada masalah nanti di kemudian hari, misalnya dengan keluarga atau orangtua. Kedua, jika alasannya karena “takut” tidak bisa dengan kuliah agamanya sendiri (seperti kasus teman saya itu), justru inilah kesempatan untuk memperdalam agamanya itu, bukan? Ada banyak teman dan asisten yang bisa membantu. Belajar baca tulis Al-Quran misalnya.
Yang terbaik adalah mengambil kuliah agama sendiri sebagai bukti keistiqamahan (konsistensi). Itu saja. Kamu punya pendapat?
-

Kasus drama kriminalisiasi pimpinan KPK, Bibit dan Chandra, mencapai klimaksnya kemarin lewat “pengadilan rakyat” di di Mahkamah Konstitusi setelah diperdengarkan rekaman pembicaraan antara Anggodo (adik Anggoro, tersangka kasus korupsi) dengan para pejabat di Polri dan Kejaksaan Agung. Kasus ini membuat masyarakat semakin sinis kepada aparat penegak hukum. Hukum bisa dipermainkan oleh mereka, BAP bisa direkayasa dengan imbalan uang bermilyar-milyar dan mobil mahal dari orang kaya yang terjerat masalah hukum. Orang yang tidak bersalah dikorbankan supaya akal bulusnya tidak ketahuan. Tetapi, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Sepandai-pandai menyimpan rapat kebusukan, akhirnya tercium juga. Itulah drama pertarungan cicak lawan buaya yang kita saksikan kemarin. Benar-benar menggemaskan sekaligus bikin geram. 





























Wallahu alam, hanya Dia yang tahu pesan apa yang hendak Dia sampaikan kepada ummat manusia di dunia ini. Dunia sudah tua ataukah kiamat sudah dekat? Seorang bayi yang berusia 9 bulan di negara bagian Dagestan, Rusia, menunjukkan fenomena aneh. Di kaki bayi yang bernama Ali Yakubova itu terdapat tulisan ayat Al-Quran. Seperti yang ditulis di situs
Tulisan arab di kaki bayi itu begitu jelas dibaca. Coba lihat foto di kanan ini, di situ tertulis falanaqusshanna ‘alaihim dan seterusnya. Ada yang tahu artinya? Pada surat apa dan ayat berapa? Anehnya, tulisan di kaki itu selalu berganti. Menurut Madina kalimat berlafalkan Al-Qur’an itu muncul setiap dua pekan sekali. “Biasanya muncul pada malam antara hari Kamis dan Jumat,” akunya.
Masalahnya, semenjak muncul tulisan yang dipercaya “ayat-ayat Allah” pertama kali, sejak itu pula, munculnya tulisan-tulisan bernuansa Arab lain bertebaran di punggung, lengan, kaki, dan perutnya. Menariknya, keluarganya mengklaim, selalu ada tanda-tanda sebelum ayat-ayat baru muncul, dua kali dalam sepekan.
Bayi bermata biru yang lucu, wajahnya benar-benar menggemaskan (lihat foto). “Anak ini adalah murni tanda dari Tuhan. Allah mengirimkannya ke Dagestan dalam rangka menghentikan perang dan ketegangan di republik ini,” kata Akhmedpasha Amiralaev, salah seorang pemuka agama di Dagestan, Rabu (21/10). Bila betul ini kebesaran Allah SWT, jangan sampai fenomena ini dijadikan klenik atau tahayul seperti yang sering terjadi di Indonesia.