“Mana Ada Jujur Itu Sekarang, Bang. Jujur Itu Hanya Ada Pada Zaman Nabi:

Ketika lagi menunggu boarding di ruang tunggu bandara, saya secara tidak sengaja “menguping” pembicaraan seorang ibu lewat ponsel dengan seseorang di seberang sana. Ya gimana nggak nguping, si ibu tadi duduk di belakang saya, praktis mau tidak mau saya mendengar apa yang dia omongkan. Dia berbicara dalam bahasa daerah yang saya tahu artinya.

Saya jadi serius mendengar pembicarannya karena dia berbicara tentang uang suap untuk memasukkan seorang anak dari kerabatnnya yang akan mendaftar di sebuah perguruan tinggi swasta. Apalagi dalam pembicaraanya itu menyebut-nyebut ITB segala, makin tegaklah telinga saya mendengarnya. Si anak yang bernama Adi tidak lulus SNMPTN, jadi pilihannya sekarang adalah ke PTS. Sekolah swasta itu dikelola oleh sebuah yayasan.

“Ikut sajalah si Adi tu mendaftar di sana, Bang. Universitas itu bagus juga tuh mutunya. Nanti kalau nilai tes masuknya jelek dan tidak lulus, kasih saja uang dua juta, taruh uangnya di bawah map. Yayasan itu kan lapar uang Bang, pasti dia butuh uanglah”

“Sekarang ini kalau jujur-jujur sudah tidak ada, Bang. Jujur itu ‘kan hanya ada pada zaman Nabi. Apa-apa sekarang ini pakai uang.”

“Nilai rapor saja bisa diminta tinggi supaya bisa lulus PMDK (Jalur undangan. Red). Si Nelly teman saya itu minta kepada guru kelas anaknya agar nilai pelajaran anaknya dikasih 9 di rapor. Nilai 8 saja sekarang tidak bisa PMDK masuk ITB (duh, kok nama institusi saya jadi disebut-sebut nih? Red). Kalau masuk U***d mungkin bisa”

“Makanya kalau urusan sekolah ini serahkan saja pada ibu-ibu, bapak-bapak mana ngerti urusan begini. Bapak-bapak bisanya cuma marah-marah dan main tempeleng saja kepada anak”

Masih banyak lagi cerocos ibu ini yang begitu semangat meminta saudaranya untuk pakai uang pelicin — atau apalah namanya– untuk memasukkan anak kuliah di sebuah sekolah. Baginya tidak masalah berbuat tidak jujur untuk memuluskan tujuan. Dengan asumsi bahwa zaman sekarang ini sogok menyogok itu adalah hal yang lumrah saja, kalau tidak begitu kita bisa kalah sama orang lain. Begitu banyak alasan untuk membenarkan (justifikasi) sikapnya dalam memandang persoalan kehidupan dengan cara meremehkan kejujuran.

Apakah sikap si ibu dalam menganggap enteng persoalan suap menyuap ini mewakili masyarakat kita? Saya tidak berani menggeneralisasi. Namun saya yakin cukup banyak orang yang mempunyai pandangan serupa dimana untuk memudahkan urusan pakai cara-cara suap. Pakai uang suap adalah hal yang dianggap biasa pada zaman sekarang, kalau tidak begitu mana bisa berhasil. Mau masuk sekolah favorit pakai suap, mau jadi PNS pakai uang pelicin, mau lulus ujian pakai uang sogok, mau cepat selesai urusan pakai uang rokok, dan sebagainya.

Kalau ada peluang untuk melakukan suap dan uangnya ada, maka jalan pintas dengan cara-cara tidak terpuji itu mungkin dengan enteng akan dilakukan. Untuk membenarkan perbuatannya maka dipakailah asumsi-asumsi bahwa zaman sekarang mana bisa hidup jujur, jujur hanya ada pada zaman Nabi. Duh!

Tulisan ini dipublikasikan di Budi Pekerti. Tandai permalink.

17 Balasan ke “Mana Ada Jujur Itu Sekarang, Bang. Jujur Itu Hanya Ada Pada Zaman Nabi:

  1. Ya begitulah Indonesia pak,segala sesuatu digampangkan dengan duit,dengan duit pun segala cara bisa dihalalkan.
    Itu bukan sayang anak,tapi malah menjerumuskan anak~

    Alhamdulillah orangtua saya bukan tipikal yang seperti itu,saya masuk sekolah negeri juga hasil perjuangan sendiri,Wallhahualam :)

    • Mas Kur berkata:

      Kayaknya gak cuma di Indonesia kok, dan di Indonesia inipun masih banyak yang jujur, termasuk, mungkin, ortu Mas Satrio (gak tahu kalau mas Satrio-nya hehehe).

      • Wallahualam,moga aja makin banyak mas orang jujur di Indonesia..
        Tapi kalaupun yang biasa gak jujur berusaha buat jujur,emang susah,soalnya juga “Jujur ke Bohong itu mudah,tapi Kembali jadi Jujur itu susah”

        Kalo saya sendiri,waktu kecil dulu sering mas (maklum masih anak2 :D)

  2. maruplayground berkata:

    Sekarang ini banyak suatu hal yang salah, jadi dibenarkan dengan alasan “sudah biasa”, “banyak yang gitu juga”. Padahal kebenaran itu mutlak kan ya..

    • rosa berkata:

      Iya mutlak, setahu saya penilaian Tuhan hanya ada 2: pahala atau dosa. Kalau ada yang aneh aneh itu penilaian manusia. Dan gak pernah saya lihat di kitab suci kalau sudah banyak dilakukan orang maka yang tadinya dosa jadi halal.

  3. Kang Jodhi berkata:

    padahal, kalau muslim, mustinya tahu kalau yang menyogok dan yang disogok sama-sama masuk neraka

  4. ikhwanalim berkata:

    masih banyak koq, orang2 baik.. cuma beberapa institusi saja yang pakai uang tidak baik.. ^_^

  5. Donny Kurnia berkata:

    Kasihan anaknya, mungkin memang tidak bakat untuk sekolah, siapa tahu lebih berbakat jadi pengusaha atau pekerja di bidang lain. Sayangnya banyak orang tua yang memaksakan keinginan mereka pada anaknya tanpa peduli kemampuan maupun minat si anak. Jadilah uang yang berbicara.

  6. rosa berkata:

    Tanpa sadar kita sudah diajari mencuri dari kecil dengan biasa memakai film bajakan, software bajakan, lagu bajakan. Padahal semua itu hasil curian. Tidak ada di kitab suci manapun kalau tidak punya maka boleh mencuri. Memang berat untuk menjauh dari barang curian (cd lagu 5000 udah dapat 100 lagu, kalo beli original 79 ribu dapat 10 lagu memang jauh, dan barang haram seringnya terasa enak). Mari tobat dari diri kita sendiri.

  7. saya setuju dengan ungkapan di atas!!! kita harus memperbaiki diri agar jangan sape turun kan ke anak cucu saat kita udah dewasa n menikan n punya anak!!
    samal kenal semua!!!

  8. Katak berkata:

    Jujur dan tidak jujur itu ada didiri kita masing-masing, tinggal pilihan kita menggunakannya…kalau ingin menjadi orang jujur ikutilah kata hati jangan coba-coba dilawan dengan berbagai alasan pembenaran, hidup jujur akan mendatangkan ketenangan bathin dan jiwa begitu juga sebaliknya, perbanyaklah berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga dengan tersediaanya kebutuhan hidup secara sederhana dan ajaran agama yang memadai maka kejujuran akan lahir…percayalah bahwa setiap kebaikan dan kejujuran akan melahirkan kedamaian dan ketenangan..

  9. edycintanenek berkata:

    di indonesia kejujuran mahal,,,haha
    tp tetep msh ada orang jujur,,,,,
    smw orang d indo praktis mengalami itu,,,,walo dlm hal kecil sekalipun,,,hehe
    jujur kacang ijo,,,,,byk tuh,,,he

  10. bunda sastra berkata:

    g ush menutup mata, memang hampir disegala hal dinegara ini perlu uang…..g heran angka korup terus meningkat, krn semua cari cara untuk “balik modal” dan memang korupsi menurut saya sudah menjadi budaya dinegara ini….,miris memang n harus ditegaskan sedari dini bahwa menjadi manusia jujur itu jauh lebih baik……………..

  11. Kardi Dw berkata:

    Jujur ditangan kananku, bohong di tangan kiriku, tidak ding yang namanya bohong tidak ditangan kiri dan kanan, artinya jujurlah sebaiknya dijaman nabi jujur di jaman sekarang ya jujur, gitu he he he …….

  12. Rini berkata:

    Miris, memang. Ketika sudah berfikir uang adalah segalanya maka jalan hidupnya ya segalanya untuk uang juga, membaca bagian ini juga menarik:
    “Nilai rapor saja bisa diminta tinggi supaya bisa lulus PMDK (Jalur undangan. Red). Si Nelly teman saya itu minta kepada guru kelas anaknya agar nilai pelajaran anaknya dikasih 9 di rapor. Nilai 8 saja sekarang tidak bisa PMDK masuk ITB (duh, kok nama institusi saya jadi disebut-sebut nih? Red). Kalau masuk U***d mungkin bisa”, jadi masukan juga kalo yang lewat jalur PMDK itu dilihat juga track record si calon mahasiswa ini, jangan2 nilainya besar di akhir2 aja pas mau PMDK, perlu dilihat juga dia SMP nya dimana, SMA nya dimana, dengan melihat kualitas SMP dan SMA mungkin tidak bisa akurat tapi setidaknya dapat terlihat dasarnya anak ini cerdas atau cerdas :”dadakan”. Saya juga SMA di salah satu SMA yang katanya bagus ya, dan banyak juga yang ga lulus waktu masuk tes SMA, dia sekolah dulu di SMA yang lain baru semester 2 atau kelas 2, pindah ke SMA saya. Maaf ya jadi curhat ini, Semoga kita tetap istiqomah menjaga kejujuran.

  13. susahnya kejujuran di jama edyaaan. hehehee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s