Kemana Corona Pergi?

Tiba-tiba saja covid di Indonesia menurun dengan tajam. Tidak tiba-tiba juga sih, tetapi hanya dalam waktu dua bulan sejak Agustus 2021, jumlah kasus covid setiap hari berkurang drastis. Dalam satu bulan pada November ini saja misalnya, kasus harian hanya ratusan saja, dan jumlah yang wafat karena covid pun belasan.

Saya masih ingat saat puncak kasus covid selepas Idul Fitri, sekitar bulan Juni dan Juli 2021. Saat itu kondisi di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa sangat mencekam. Jumlah kasus positif covid setiap hari puluhan ribu, pernah mencapai di atas 50 ribu sehari bahkan nyaris menyentuh 100.000. Seluruh rumah sakit kolaps, tidak dapat menampung pasien covid. Banyak pasien covid yang akhirnya meninggal dalam perjalanan mencari rumah sakit atau meninggal di rumah karena sudah pasrah tidak mendapat tempat perawatan maupun isolasi.

Pemandangan memilukan yang kita saksikan adalah orang-orang berburu tabung oksigen atau mengantri tempat pengisian oksigen. Berita-berita di grup Whatsapp maupun di media sosial lainnya adalah berita-berita menyedihkan. Hampir setiap hari kita mendengar kabar duka, orang-orang terdekat kita pergi satu per satu. Teman, kerabat, orangtua, tetangga, teman lama. Hampir setiap hari pula kita membaca dari media tokoh-tokoh dan orang terkenal juga pergi menemui Sang Khalik.

Di kompleks perumahan saya, yang dikelilingi oleh banyak masjid dan mushola, hampir setiap hari terdengar pengumuman warga yang wafat karena covid. Tidak satu kali sehari, tetapi bisa dua kali sehari. Tidak hanya malam, tetapi juga pagi, siang, atau sore.

Sedangkan di luar sana, di jalanan, mobil ambulans tidak berhenti meraung-raung membawa pasien covid atau membawa pasien yang sudah wafat.

Sungguh keadaan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Virus corona varian Delta, yang berasal dari India, berhasil masuk ke Indonesia dan menginfeksi ratusan ribu orang.

Alhamdulillah. Sekarang kondisinya jauh lebih baik dan terkendali. Ini kondisi yang patut disyukuri meskipun kita tidak boleh jumawa, euforia, dan sebagainya. Corona masih terus mengintai setiap saat jika kita lengah.

Tentu kita bertanya-tanya, mengapa kasus covid di Indonesia menurun drastis hingga 95% dari kasus pada puncak bulan Juni-Juli.

Ada dua kemungkinan. Pertama, mungkin sudah terbentuk herd immunity di dalam masyarakat. Kekebalan alami yang timbul karena orang-orang Indonesia mungkin sebagian besar sudah terpapar virus corona namun tidak terdeteksi, alias menjadi orang tanpa gejala (OTG), lalu sembuh sendiri. Mungkin juga saya, keluarga saya, Anda, atau keluarga Anda, sudah terpapar tanpa disadari. Imunitas di tubuh kitalah yang membuat virus itu tidak berkembang.

Kemungkinan kedua adalah karena efek vaksinasi massal di mana-mana. Awalnya banyak orang yang enggan divaksinasi dengan bebagai alasan (terpapar hoax, takut, merasa kebal, dsb). Tetapi sejak ada peraturan bahwa masuk mal, restoran, naik kereta api, pesawat, kapal, dan sebagainya harus menunjukkan kartu vaksinasi, banyak warga menyerbu tempat-tempat vaksinasi sampai rela antri panjang berjam-jam. Tawaran-tawaran program vaksinasi yang diadakan oleh berbagai komunitas langsung penuh pendaftarnya setiap kali dibuka. Rupanya masyarakat kita lebih “takut” tidak bisa pergi ke mal atau takut tidak bepergian daripada takut divaksin. Cerdik juga Pemerintah yang bikin peraturan tersebut, terbukti mangkus. Membuat orang yang semula menolak divaksin akhirnya minta vaksinasi.

Antrian vaksinasi di Sabuga ITB hari Minggu 22 Agustus 2021, kiriman teman.

Vaksinasi di Indonesia saat ini mencapai rekor yang tinggi, sudah lebih dari lebih 200 juta vaksin disuntikkan. Salah satu faktor kunci penyebab tingginya vaksinasi adalah keterlibatan lembaga non-kesehatan untuk menggelar vaksinasi massal, seperti perguruan tinggi, Kodam, komunitas alumni, komunitas etnis, lembaga swasta, rumah ibadah, perusahaan, polri, dan lain-lai.

Dulu dikira hanya puskesmas dan rumah sakit saja yang melakukan vaksinasi sehingga diperkirakan akan lambat ketercapaiannya, ternyata keterlibatan pihak non negara itulah yang membuat tingginya angka vaksinasi.

Sekarang masyarakat merasakan manfaat divaksin tersebut, jumlah kasus covid menurun tajam. Ini jelas pertolongan dari Allah yang Maha Kuasa kepada negeri ini. Ada rasa bahagia terpancar dari masyarakat. Sekolah dan kampus sudah mulai buka lagi. Aktivitas sehari-hari tampak seperti sudah normal saja. Rumah makan, kafe, dan restoran sudah tampak ramai pengunjung yang makan di tempat.

Di tempat-tempat umum masyarakat masih patuh memakai masker. Memakai masker seolah sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Keluar rumah tanpa masker rasanya ada yang kurang.

Namun sebagai manusia kita tidak boleh takabur. Corona tetap akan ada. Dia tidak pergi, masih ada di sini.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.