Catatanku

Entries categorized as ‘Cerita Ranah Minang’

Foto-Foto SMA 1 Padang Setelah Gempa Besar

26 Oktober 2009 · & Komentar

Masih dalam rangkaian kunjungan pulang kampung ke Padang, saya sempatkan menjenguk bekas sekolah SMA saya dulu, SMA Negeri 1 Padang. SMAN 1 Padang termasuk salah satu dari ratusan sekolah yang hancur atau rusak berat karena diayun-ayun oleh gempa tanggal 30 September yang lalu. Awal tahun lalu saya juga mengunjungi sekolah ini, cerita dan foto-fotonya dapat dibaca di sini. Sekarang, bandingkan kondisi sekolah ini dengan 9 bulan yang lalu, jauh sekali bedanya.

Memasuki halaman sekolah, saya tidak mengenal siapapun lagi di sana, baik guru-guru maupun karyawannya. Maklum sudah 24 tahun saya tinggalkan, para gurunya sudah pensiun atau sudah dipanggil oleh Allah Yang Maha Kuasa. Saya berkeliling sekolah dan memotret bangunan-bangunan yang rusak. Dari luar sekilas sekolah ini aman-aman saja saja, seolah-olah tidak terkena gempa, tetapi jika melongok ke dalam barulah terlihat kerusakan parah akibat gempa. Secara umum gedung yang rusak adalah gedung peninggalan Belanda yang terrletak di sebelah kanan sehingga ruang-ruang kelasnya tidak bisa dipakai lagi, sementara gedung sebelah kiri yang terletak tidak mengalami kerusakan dan aman dipakai. Waktu itu saya lihat siswa-siswa sibuk mengerjakan soal UTS. Gedung lain yang rusak adalah gedung baru berlantai tiga yang bertetangga dengan SMA PGRI.

Berikut foto-fotonya:

1. Ruang kelas yang rusak parah

DSC00761

2. Lorong sekolah di gedung lama. Kesan dari luar tidak terlihat ada kerusakan, tapi jika kita menengok ke dalam ruangan kelas, alamaakk… pemandangan yang menyedihkan seperti gambar 1 di atas.

DSC00768

3. Bangunan baru berlantai tiga yang juga rusak parah

DSC00766

DSC00762

4. Karena banyak ruang kelas yang berbahaya jika digunakan kembali, maka siswa terpaksa belajar di dalam tenda-tenda bantuan UNICEF. Tenda-tenda itu didirikan di halaman sekolah dan di lapangan upacara. Gerah memang belajar di dalamnya, tapi mau bagaimana lagi. Perlu waktu lama untuk memperbaiki kembali sekolah yang rusak tanpa harus menghancurkan seluruhnya, karena bangunan sekolah ini cagar budaya yang dilindungi.

DSC00765

DSC00764

Sedih memang melihat sekolah kebanggaan saya dulu rusak parah oleh gempa, lebih sedih lagi menyakisikan kondisi siswanya yang belajar di bawah tenda. Mudah-mudahan para alumninya yang tersebar di seluruh dunia tergerak membantu setelah membaca tulisan ini.

Kategori: Cerita Ranah Minang

Pulang ke Padang Melihat Kedahsyatan Gempa

26 Oktober 2009 · & Komentar

Minggu lalu, saat UTS di ITB, saya menyempatkan diri pulang ke Padang. Setelah gempa besar melanda Padang dan Pariaman 30 September yang lalu, saya ingin sekali pulang ke Padang, ingin melihat langsung dahsyatnya gempa bumi itu.

Keluar dari Bandara Minangkabau Padang, saya belum melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa. Hingga melewati Lubuk Buaya dan Tabing, rumah-rumah dan toko-toko di sepanjang jalan masih berdiri utuh. Hanya satu dua yang rusak. Tetapi ketika memasuki Jalan Khatib Sulaiman hingga Jalan Sudirman, barulah saya menyaksikan sendiri bangunan-bangunan yang ambruk, remuk redam, dan “patah pinggang” dihoyak gempa. Benar-benar mengerikan. Sebagian bangunan itu sudah ditutup dengan pagar seng, dan sebagian lagi sudah dibersihkan puing-puingnya.

Hari Sabtu saya menyusuri jalan-jalan yang bangunannya hondoh pondoh dilamun gempa bumi. Benar-benar mengerikan membayangkan gempa berskala 7,9 SR itu. Saya berjalan dari Jalan Sawahan hingga Simpang Haru. Lalu saya teruskan menuju area Pasar Raya, SMA 1 Padang, daerah Pondok (pecinan), Jalan Bundo Kandung, hingga Hotel Ambacang yang terkenal itu. Banyak bangunan yang rubuh atau rusak parah sehingga tidak bisa digunakan lagi.

Berikut foto-foto bangunan yang berhasil saya jepret dengan kamera ponsel:

1. Ruko-ruko di Jalan Sawahan (dekat rumah saya) yang ambruk dan “patah pinggang:

DSC00753

DSC00754

2. Masjid Muhammadiyah Simpang Haru yang sudah rata dengan tanah. Bangunan STM di belakangnya rusak sedang, sedangkan STIE di bagian kanannya “patah pinggang”.

DSC00757

3. Toko di Pasar Raya Padang yang ambruk

DSC00774

Aktivitas di Pasar Raya Padang yang menjadi kacau pasca gempa, mereka terpaksa berdagang di luar karena bangunan pasar sudah roboh.

DSC00775

4. Sentral Pasar Raya yang hancur dan tidak bisa digunakan lagi.

DSC00783

5. Sebagian bangunan hotel Ina Muara yang sudah doyong

DSC00794

6. Sebagian bangunan gereja yang hancur di Jalan Bundo Kanduang

DSC00795

Sekolah Yayasan Prayoga yang luluh lantak:

DSC00797

7. Hotel Bumi Minang yang rusak parah

DSC00801

DSC00799

8. Hotel Mariani yang porak poranda

DSC00798

9. Reruntuhan hotel Ambacang

DSC00803

DSC00805

10. Matahari Dept. Store yang tidak bisa dipakai lagi

DSC00781

11. Jembatan Siti Nurbaya di kampung Nias selamat dari gempa.

DSC00789

Kategori: Cerita Ranah Minang

Merahnya Cabe Mengalahkan Rasa Takut pada Gempa

8 Oktober 2009 · & Komentar

Gempa telah menghancurkan banyak sarana infrastruktur di kota Padang, salah satunya Pasar Raya yang merupakan pasar terbesar di kawasan Sumatera Bagian Tengah. Tetapi, life must go on, hidup harus dimulai lagi, dapur harus terus berasap, periuk nasi harus tetap diisi. Berlama-lama bersedih hati tidaklah patut. Beberapa hari sesudah gempa, pedagang cabe giling di Pasar Raya mulai berani menggelar dagangannya di antara puing-puing pasar yang telah hancur. Merahnya cabe mengalahkan rasa takut pada gempa. Mau apalagi, karena itulah satu-satunya sumber nafkah pedagang ini.

s39_20630339

(Sumber foto: www.boston.com)

Kategori: Cerita Ranah Minang

Gempa di Sumbar: Pariaman Menangis

5 Oktober 2009 · & Komentar

Pariaman, siapakah urang awak yang tidak kenal dengan daerah ini. Piaman laweh, itulah julukan negeri ini, yang artinya Pariaman yang luas. Bahkan, sebagian orang Indonesia juga mengenal Pariaman meskipun dengan konotasi yang agak negatif, yaitu daerah di mana laki-laki “dibeli” oleh keluarga pengantin perempuan sebagai syarat tercapainya “deal” pada proses melamar. Sebuah konotasi yang tidak seluruhnya benar, namun citra itu masih melekat sampai sekarang.

Bagi urang Minang, Pariaman adalah daerah yang terkenal dengan tradisi tabuik (tabot) untuk mengenang kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein di Padang Karbala. Pariaman juga terkenal sebagai penghasil kelapa dengan beruknya (kera) yang lihai memelintir buah kelapa dan menjatuhkannya ke bawah. Pariaman juga dikenal dengan masakan satenya, sehingga pedagang sate di Padang maupun di tanah rantau kebanyakan adalah dari daerah ini. Kalau anda menemukan pedagang sate dengan gerobak, maka dipastikan pedagang itu dari daerah Pariaman.

tabut2
(Sumber foto: lagulamaku.blogspot.com)

Waktu kecil saya cukup sering main ke Pariaman dengan teman-teman. Naik kereta api dari Padang sampai ke Kurai Taji. Pantai-pantai di Pariaman elok dikunjungi. Pantainya landai dan berpasir putih. Ke Pariaman belum lengkap jika tidak mencoba makanan khas yang bernama sala lauak .

Tapi, keeksotisan daerah Pariaman hanya tinggal kenangan. Gempa besar yang melanda Padang, Pariaman, dan beberapa daerah lainnya di Sumbar telah meluluh-lantakkan daerah ini. Kota Padang dan dan Kabupaten Pariaman adalah daerah terparah yang dilanda gempa. Di Pariaman sendiri hampir 80% rumah dan bangunan rubuh, dan yang lebih memilukan lagi terjadi longsor dimana-mana. Anda tahu kan Sumatera Barat itu dilalui oleh Pegunungan Bukit Barisan. Sebagian jalur pegunungan itu melewati daerah ini, dan banyak kampung-kampung (di sana disebut korong) yang berada di kaki bukit. Gempa telah menggoyang bukit-bukit tadi, membelahnya, kemudian meluruhkan juataan kubik tanah ke bawah. Kampung-kampung yang berada di bawahnya tertimbun beserta penghuninya hidup-hidup.

s07_20615569

s37_20605085
(Sumber foto: www.boston.com)

Tidak hanya satu kampung, tetapi banyak! Lebih dari 600 orang tertimbun karena tidak sempat melarikan diri. Yang lebih tragis, ada 400 orang yang sedang menghadiri pesta pernikahan, merekapun juga tertimbun. Lazim di ranah Minang mengadakan pesta pernikahan pada bulan Syawal, sebab pada bulan itu orang rantau pulang kampung. Sanak famili kumpul semua pada hari-hari pasca Lebaran, dan masa itulah digunakan untuk ma-alekkan anak dan kemenakan. Tapi apa mau dita, para perantau itu tidak bisa kembali lagi ke kota asalnya karena mereka terkubur hidup-hidup pada saat gempa.

Hari-hari ini Pariaman menangis. Nagarinya telah luluh lantak dihancurkan oleh gempa dahsyat. Nasib anak nagari benar-benar menyedihkan. Rumah tempat berteduh sudah hancur, kemana lagi tempat untuk bernaung. Bahan makanan sudah habis, kelaparan mulai mengancam, penyakit mulai datang. Para perantau Pariaman hanya bisa menangis menyaksikan kampung halaman mereka sudah porak poranda, bahkan hilang dari peta. Tidak hanya itu, para sanak keluarga mereka pun banyak yang mati atau hilang. Rumah-rumah atau gedung mungkin bisa dibangun kembali, namun trauma akibat gempa perlu waktu lama agar bisa hilang. Entah sampai kapan eksotisme Pariaman terlukis kembali seperti semula. Perlu waktu setidaknya lima tahun untuk mengembalikan Pariaman seperti semula.

s27_20602535
(Sumber foto: www.boston.com)

Semua ini sudah takdir dari Ilahi, mau apalagi. Mungkin sudah digariskan oleh Allah SWT nasib suatu negeri, seperti itu pula skenario nagari Pariaman yang sudah ditakdirkan oleh ilahi. Kita hanya bisa memasrahkan diri kepada-Nya dan menerima semua kejadian ini dengan ikhlas.

Orang Pariaman, baik di kampung maupun di rantau, tidak perlu terus menangis. Sudah sering ranah Minang dilanda berbagai bencana dan dengan cepat bisa pulih kembali karena besarnya sumbangsih urang rantau untuk membangun kembali negeri. Yang meninggal karena terhimpit bangunan dan tertimbun bukit-bukit diikhlaskan saja, kepentingan orang yang masih hidup harus diprioritaskan. Negeri harus dibangun kembali.

Kategori: Cerita Ranah Minang

Gempa di Sumbar: Suami Istri Itu Tewas Berpelukan Saat Hendak Selamatkan Anak

3 Oktober 2009 · 1 Komentar

Rasa sayang kepada anak mengalahkan rasa takut apapun, meskipun nyawa pertaruhannya. Dikutip dari kompas.com:

Jumat, 2 Oktober 2009 | 21:10 WIB

PADANG, KOMPAS.com – Musibah gempa di Kota Padang meninggalkan kisah memilukan bagi keluarga korban ketika Aini (55) warga Ginung Pangilun kehilangan anak, menantu dan cucunya dalam sekejap.

Menurut cerita Aini, Jumat, yang sehari-hari berjualan di Pasar Alai Padang, ketika gempa terjadi dia dalam perjalanan pulang. Jarak rumah dan pasar tempat dia berjualan sekitar dua kilometer. Di tengah jalan angkot yang dia tumpangi seperti mau terbalik karena gempa.

“Sopirnya loncat dan penumpang juga semua turun menyelamatkan diri, termasuk saya. Lalu saya jalan kaki pulang karena sudah lumayan dekat,” kata Aini.

Ketika sampai di rumah yang dia melihat reruntuhan sebagian rumahnya, terutama bagian depan. Bukan hanya itu, tetangga menyatakan keluarganya, yakni anak perempuan, menantu dan cucunya yang barusia berusia tujuh bulan terkurung di dalam.

Menurut cerita tetangganya, saat gempa anaknya yang bernama Nur sudah lari duluan ke luar rumah sedangkan menantunya memang sedang berada di halaman rumah. Sampai di halaman terdengar lengkingan tangis anak bayinya yang ternyata tertinggal dalam ayunan di depan pintu kamar Nur.

Segera saja suami istri ini secara refleks berbarengan lari kembali ke dalam rumah dan sejenak kemudian tetangga hanya menyaksikan rumah itu ambruk.

“Saat reruntuhan rumah dibersihkan untuk mengeluarkan anak saya, ternyata ketiganya sudah tak bernyawa dengan posisi Nur dan suami saling berpelukan dan anak mereka ada di antara tubuh ibu dan ayahnya,” kata tetangga Aini di Gunung Pangilun.

Jasad Nur, anak dan suaminya baru akan dikuburkan esok, Sabtu, karena harus menunggu ayahnya Nur yang masih dalam perjalanan dari Bengkulu. Kebetulan ayah Nur baru tiga hari meninggalkan rumah untuk menjenguk adiknya yang sedang sakit di Bengkulu.

“Meski sudah mulai bau tetapi Ani bersikeras baru akan memakamkan jasad anak, menantu dan cucunya esok, karena harus menunggu suaminya dulu,” ujar tetangga Aini. Nur adalah tunggal Aini dan musibah gempa ini membuat keluarganya punah.

Kategori: Cerita Ranah Minang

Gempa di Sumbar: Ya Ilahi, Padang “Jatuah Tapai”

2 Oktober 2009 · & Komentar

Meskipun saya lelaki namun perasaan saya sering tersentuh hingga menitik air mata bila melihat penderitaan orang lain yang mendapat musibah berat. Dan kali ini musibah dahsyat itu menimpa kampung halaman saya sendiri, khususnya di kota Padang tercinta. Melihat tayangan breaking news di TV tentang kedahsyatan gempa besar itu, perasaan saya menjadi tidak tenang. Galau. Tenggorokan tercekat, mata basah. Begitu dahsyat dampak gempa, kerusakan yang ditimbulkan sangat masif, dan korbannya sangat banyak. Pikiran saya langsung teringat pada ibunda yang sudah tua yang sudah susah berjalan dan para kakak berada di Padang. Bagaimanakah keadaannya?

Dari malam sampai pagi saya mencoba menghubungi kakak di Padang, tetapi tidak berhasil. Ternyata menurut laporan di TV semua saluran telekomunikasi di Padang putus..tus..tus. Listrik mati pula di sana karna jaringan PLN hancur. Keadaan benar-benar gelap gulita dan entah sampai kapan listrik bisa menyala lagi. Jadilah saya dari malam sampai siang hanya bisa menyaksikan tayangan langsung di TV tentang kedahsyatan gempa itu. Ratusan korban tewas telah ditemukan dan ribuan lainnya masih tertimbun di balik reruntuhan gedung, entah masih hidup entah sudah mati. Itu baru di Padang, sementara di Pariaman lebih dahsyat lagi dan belum tersentuh bantuan. Ribuan rumah di sana hancur, dan yang lebih mengenaskan satu kampung di kaki bukit tertimbun longsor bukit barisan dan menguburkan ratusan orang di kampung itu yang sedang menghadiri pesta pernikahan warga. Mirip seperti longsor akibat gempa di Cianjur baru-baru ini.

Di TV saya melihat kota kelahiran saya luluh lantak, hampir semua gedung rubuh dan banyak rumah yang hancur. Kebakaran di mana-mana dan semua orang sibuk menyelamatkan diri. Perasaan saya menjadi tidak karu-karuan selama beberapa hari. Bagaimana tidak, kota Padang tempat saya dilahirkan dan dibesarkan selama 18 tahun sehingga saya tahu betul semua sudut kota ini, luluh lantak dihoyak gempa besar berskala 7,6 SR pada hari Rabu sore kamaren. Hanya dalam waktu 2 menit saja kemegahan dan keindahan kota ini sirna sekejap mata. Kota Padang seperti jatuah tapai. Jatuah tapai adalah perumpamaan yang diberikan kepada kejatuhan yang menimpa orang atau barang. Tapai adalah tape singkong yang lembek, bila ia jatuh dari ketinggian maka tiba di lantai tape itu sudah tidak berbentuk lagi. Begitulah kondisi kota dan daerah lainnya di Sumbar yang porak poranda setelah diayun-ayun oleh gempa.

bangunan-bertingkat01
(Sumber foto: Detik.com)

s09_20603539
(Sumber foto: www.boston.com)

s35_20591587
(Sumber foto: www.boston.com)

Penderitaan warga makin bertambah karena sarana telekomunikasi terputus. Saya yakin jutaan perantau Minang di seperti saya baik di Indonesia maupun di luar negeri mencoba menelpon sanak sudaranya di Sumbar, tetapi tidak bisa. Semua orang menjadi putus komunikasi dengan Sumatera Barat. Seperti yang saya lihat di TV, perantau hanya bisa menangis, menangis, dan menangis tanpa tahu harus berbuat apa dan tidak tahu harus bertanya kemana.

Tadi malam barulah saya berhasil menelpon ke Padang. Alhamdulillah keluarga selamat meskipun rumah retak-retak dan pagar rubuh. Kata kakak di sana listrik masih padam, air tidak mengalir, makanan susah didapat. Pertokoan di jalan Sawahan hancur, banyak orang terperangkap di dalam reruntuhan. Meskipun keluarga selamat, namun tetap tidak mengurangi kepiluan saya yang mendalam tentang penderitaan warga Sumbar. Mereka saudara-saudara saya juga, derita mereka saya rasakan di rantau. Dua hari ini saya tidak bersemangat melakukan apa-apa, kepikikran terus, banyak pekerjaan terbengkalai. Badan memang di Bandung, tapi pikiran menerawang jauh ke kampung halaman.

Saya yakin ratusan ribu perantau Minang ingin pulang kampung melihat kondisi keluarga mereka di sana. Saya pun ingin pulang. Tapi apa daya, sarana transportasi sangat terbatas. Sangat sulit mendapat tiket pesawat dalam kondisi seperti ini. Kalaupun ada harganya sangat mahal. Naik mobil juga tidak mungkin karena sarana jalan terputus ke Padang akibat longsor. Jadilah di sini saya hanya bisa termangu-mangu menyaksikan tayangan langsung dari reporter TV di Padang, sambil sesekali menyeka air mata. Pilu.

*********

Bunyi saluang di Metro TV terdengar bagai ratapan di tengah malam. Suaranya menghiba-hiba mengiringi tayangan tentang nagari yang telah hancur oleh gempa, lalu anak-anak dan kaum ibu yang menangis ketakutan. Pilu.

Allah SWT menurunkan cobaan yang berat ini sebagai ujian untuk menguji seberapa kuat iman seseorang, apakah ia makin menjauh atau malah makin dekat kepada-Nya. Tentu ada hikmah dari bencana alam ini agar manusia lebih mendekatkan diri kepada-Nya, karena hanya kepada Allah SWT tempat untuk kembali.

Kategori: Cerita Ranah Minang

Jalan-jalan ke Kuala Lumpur (Bag. 3)

13 Agustus 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jika ke Kuala Lumpur hanya untuk konferensi tentu membosankan. Di sela-sela konferensi kami masih sempat jalan-jalan ke berbagai sudut kota Kuala Lumpur. Apa sasaran utama turis di Kuala Lumpur? Tentu saja jawabannya adalah menara kembar Petronas. Ya, kesanalah kami pergi.

DSC00619

Menara Petronas lebih dekat:

DSC00613

DSC00614

petronas

Menara Petronas memiliki dua buah tower (twin), di antara kedua tower itu terdapat gedung KLCC. Di gedung ini ada megamal yang bernama Suria KLCC:

DSC00606

Menurut saya Suria KLCC ini tidak lebih megah dari Senayan City, malah masih lebih bagus Bandung Super Mal di Bandung. Yang menarik, di mal ini banyak sekali turis-turis dari Timur Tengah yang berbelanja membawa anak-anak dan istrinya. Uniknya, sang istri memakai cadar hitam dan berjubah panjang, khas tipikal wanita di Timur Tengah, tetapi para suami mereka dengan enteng memakai celana jins pendek dan berkaos oblong, seperti terlihat pada foto di bawah ini. Anak-anak mereka juga memakai pakaian modis anak-anak zaman kini, termasuk anak perempuannya.

DSC00608

Di Kuala Lumpur turis dari Arab begitu banyaknya. Mereka menghabiskan uangnya di sini. Saya heran, mengapa tidak banyak turis Arab yang mengunjungi Indonesia, khususnya Jakarta. Kenapa harus ke Kuala Lumpur? Selama ini turis Arab di Indonesia sering diidentikkan tujuannya ke daerah Puncak Bogor saja untuk …. kawin kontrak, he..he. Jelek benar imej turis Arab di mata orang Indonesia.

Membanjirnya turis Timur Tengah tidak terlepas dari public relation mantan PM Malaysia, Mahathir Muhammad, yang begitu pintar meyakinkan negara-negara Timur Tengah untuk berinvestasi di Malaysia. Dampaknya memang hebat, investasi dari Timur Tengah mengalir ke Malaysia, termasuk ribuan turisnya yang membanjiri Kuala Lumpur. Indonesia tampaknya perlu belajar kepada Malaysia untuk menarik investor dan turis dari Timur Tengah.

Ada yang bilang, Malaysia adalah negara yang aman untuk investasi dan pariwisata. Setiap kali bom meledak di Indonesia, maka yang untung adalah Malaysia sebab para turis akhirnya mengalihkan tujuannya ke Malaysia daripada ke Indonesia. Jangan-jangan Noordin M. Top yang orang Malaysia itu sengaja dihadirkan ke Indonesia untuk terus menyandera bangsa Indonesia dengan ancaman bom-bomnya itu, agar pihak investor dan turis mengalihkan tujuannya ke Malaysia..he..he

Kategori: Cerita Ranah Minang

Jalan-jalan ke Kuala Lumpur (Bag. 2)

12 Agustus 2009 · & Komentar

Konferensi ICEEI 2009 diadakan di kampus UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia), tepatnya di lingkungan FTSM (Fakulti Teknologi dan Sains Maklumat). Tidak banyak peserta yang datang, jadi konferensi ini nyaris sepi. Kami dari ITB ada 15 orang yang ke sana, lumayanlah untuk meramaikan konferensi dua tahunan itu. Menurut riset di IEEE, konferensi ilmiah yang sukses (dalam arti banyak peserta yang datang) adalah konferensi yang diadakan di daerah pantai, seperti Phuket, Bali, dan sebagainya. Maunya peserta adalah setelah presentasi langsung “kabur” ke pantai untuk berenang, hi..hi..hi. Kalau begitu konferensi ICEEI 2011 di Bali saja ah atau di Phattaya atau daerah pantai lainnya di kawasan Asia Tenggara, he..he.

Karena ada konferensi, maka mahasiswa FTSM diliburkan selama seminggu (kalau di ITB meliburkan mahasiswa itu jelas tidak mungkin, konferensi ya konferensi, kuliah tetap jalan). Konferensi diadakan selama 4 hari penuh. Menurut saya 4 hari terlalu lama, karena kalau kami di ITB mengadakan konferensi ilmiah paling lama 2 hari saja (lebih sering 1 hari penuh). Tetapi, saya kira ini adalah taktik pariwisata Malaysia agar para tamu lebih lama lagi di Malaysia untuk membelanjakan uangnya di sana, agar semain banyak devisa dari turis yang terkumpul. Cerdik juga ya.

Ini tampak depan kampus FTSM, masih keren Labtek V he..he:

DSC00605

Mahasiswa S2 dan S3 di UKM ini banyak yang berasal dari luar, umumnya dari Indonesia. UKM adalah universitas berbasis riset, jumlah mahasiswa S1 dan mahasiswa Pasca Sarjana nya hampir berimbang, tidak seperti ITB yang begitu jomplang perbandingan antara mahasiswa S1 dan S2/S3, dimana lebih banyak mahasiswa S1 nya (3 kali lipat jumlah mahasiswa S2/S3) padahal ITB sering mendeklarasikan diri sebagai research university.

Malaysia beberapa tahun belakangan ini sangat gencar mempromosikan universitasnya di Indonesia. Mereka “memburu” calon mahasiswa S1 dan S2/S3 di Indonesia. Menurut dosen di UKM, minat mahasiswa Malaysia untuk melanjutkan S2/S3 di perguruan tinggi di Malaysia sangat rendah, oleh karena itu mereka ekspansi ke Indonesia untuk menjaring mahasiswa. Jika tidak ada mahasiswa yang mendaftar bisa-bisa program studinya ditutup. Untuk “merayu” calon mahasiswa dari Indonesia, pihak universitas menawarkan beasiswa termasuk living cost. Jadi tidak heran jika banyak mahasiswa Indonesia yang mengambil S2/S3 di perguruan tinggi Malaysia itu termasuk di UKM. Tetapi saya mempunyai analisis tambahan lain mengapa banyak mahasiswa Indonesia di Malaysia, yaitu Malaysia tahu betul jika pelajar/mahasiswa dari Indonesia mempunyai kualitas akademik lebih bagus daripada mahasiswa negaranya sendiri. Kualitas akademik mahasiswa itu penting, sebab secara tidak langsung hal itu akan mengangkat kualitas universitasnya, sebab akan lebih banyak paper yang dihasilkan mahasiswa-mahasiswa itu dari riset-riset yang mereka lakukan dan dimuat di jurnal internasional, dan hal ini akan meningkatkan SCORPUS index sebagai salah satu indikator penilaian ranking universitas di seluruh dunia (world top university).

Untuk diketahui, universitas di Malaysia seperti UKM sangat berlimpah dana untuk membiayai kegiatannya. Mau melakukan apa saja tersedia dananya (membeli buku, seminar ke luar negeri, membeli peralatan, melakukan riset, mendatangkan dosen tamu dari luar, dll). Di UKM saya sempat bertemu dengan dosen sebuah PTS di Yogya yang mengambil S3 di sana. Katanya, di UKM mereka dberi ruang yang luas untuk residensi. Kalau mau beli peralatan (dia mengambil topik riset di bidang robotika), tinggal bilang saja, nanti dibelikan oleh pihak universitas. Mau buku, gratis. Wah..enak betul ya, makanya mahasiswa Indonesia betah kuliah di sana.

Jadi, jika universitas di Malaysia memiliki dana dalam jumlah yang besar, sebaliknya dari segi SDM kurang. Kontras sekali dengan kondisi perguruan tinggi di Indonesia yang selalu menghadapi masalah klasik: dana. Karena kekurangan SDM, universitas Malaysia tidak segan-segan menawarkan dosen di Indonesia untuk mengajar di sana. Beberapa orang rekan kami ditawari untuk mengajar di Malaysia, bisa 3 bulan atau dua minggu sekali ke sana. Tentu saja bayarannya tinggi.

Kalau saya ditawari mengajar di UKM, saya tidak mau. Alasannya sederhana, soal perut: saya tidak cocok dengan masakan Malaysia, bisa-bisa saya tambah kurus di sana, hi..hi..hi. Beberapa hari di Malaysia saya tidak bisa makan karena rasa masakannya aneh saja menurut lidah saya. Rendangnya manis banget serasa kita makan kolak saja, satenya juga begitu, bumbunya manis karena diberi gula pasir, ayam goreng Kentucky di sana pakai bumbu kari. Rasa sotonya juga aneh entah pakai bumbu apa tuh, benar-benar asing di lidah saya dan susah menelannya. Masakan Malaysia tidak ada yang pedas, kebanyakan manis. Aneh ya, padahal masakan melayu di Medan pedas-pedas lho, tapi di Malaysia lain sendiri. Saya hampir tidak bisa makan masakan di hotel. Nasi lemak yang saya coba tidak ada rasanya, hambar. Saya terpaksa membeli masakan padang dan membawanya ke hotel untuk sarapan. Kebetulan dekat hotel ada restoran padang yang diklaim otentik, namanya restoran Sari Ratu.

DSC00627

Saya beli dendeng balado di restoran itu dan membawanya untuk sarapan pagi di hotel. Teman-teman saya ketawa melihatnya. Soal selera saya memang “payah”, susah beradaptasi dengan makanan lokal, he..he. Kalau tidak ada pedasnya, saya tidak bisa makan. Kapan-kapan kalau ke Malaysia lagi nanti saya harus membawa bekal sendiri seperti rendang, dendeng, dan sambal balado, supaya tetap sehat di negara orang. Asli urang awak benar saya ini, hi..hi.

Kategori: Cerita Ranah Minang

Memasak Rendang

21 Juli 2009 · & Komentar

Hari Senin kemaren tanggal merah, kami di rumah memasak randang (di sini dikenal dengan nama rendang padang). Kebetulan ada persediaan daging beku di freezer, dan kebetulan pula kami sudah lama tidak memasak rendang di rumah. Memasak rendang sendiri dilatari ketidapuasan dengan rendang yang dijual di beberapa rumah makan padang di Bandung ini, sebab rasanya berbeda dengan yang di kampung aslinya. Nah, memasak sendiri rendang kenapa tidak? Kebetulan hari libur pula.

Untuk memasak rendang, saya tidak perlu repot-repot membuat bumbunya. Di Bandung ada beberapa pedagang urang awak di pasar tradisionil yang menjual aneka bumbu masakan olahan. Mereka umumnya berjualan di deretan pedagang yang menjual kebutuhan dapur seperti sayur mayur, daging, dan kelapa. Ciri khas pedagang ini adalah baskom-baskom yang penuh dengan bumbu yang sudah dihaluskan seperti cabe, laos, kunyit, jahe, bawang merah, bawang putih, kemiri, dan sebagainya. Kita tinggal pesan mau masakan apa, maka pedagang bumbu ini siap meracik bumbu masakan dengan mencampurkan aneka bumbu tadi. Mau buat gulai ayam, rendang, opor, semua ada. Mau untuk daging sekilo, dua kilo, mau pedas, super pedas, tergantung selera. Harganya murah, sekitar lima ribu rupiah saja untuk masakan dengan daging satu kilo.

Kedai bumbu favorit saya adalah Kedai Buyung, terletak di lantai basement Pasar Kosambi Bandung. Kita dilayani oleh Uni yang berbadan gemuk. Uni penjual bumbu adalah istri Pak Buyung pemilik kedai itu. Saya membeli bumbu rendang di sana untuk satu kilo daging sapi. Pedas, pasti itu. :-)

Bumbu rendang tergolong lengkap dan rumit, ada bawang putih, bawang merah, cabe, kunyit, jahe, laos, lengkuas, ketumbar, garam, daun kunyit, daun limau (jeruk), dan daun sereh (serai), dan masih ada lagi yang kecil-kecil. Enak tidaknya masakan rendang bergantung pada kelengkapan bumbu tadi dan komposisinya. Uni yang menjual bumbu di kedai Buyung sudah terampil dengan komposisi bumbu rendang yang enak. Jadi, anda tidak usah khawatir.

Daging sapi sudah ada di rumah, kami cukup membeli kelapa parut saja. Daun-daun penyedap rasa seperti sereh (sarai) dan daun limau (jeruk) ada di pekarangan rumah, jadi saya tidak perlu repot mencari lagi. Kalau tidak ada, di tukang sayur yang lewat depan rumah pasti menjual daun bumbu ini.

Yup, kami mulai memasak rendang. Kelapa parut diperas santannya. Lalu, campurkan bumbu yang dibeli di kedai tadi ke dalam santan sampai tercampur sempurna, jangan lupa daun-daun penyedap tadi dimasukkan ya. Panaskan campuran santan tadi hingga mendidih, jangan lupa terus diaduk agar santannya tidak pecah, baru kemudian masukkan potongan daging sapi.

Di kampuang asalnya, rendang ada yang polos dan ada yang dicampur dengan kacang atau kentang kecil-kecil seukuran kelereng. Anak saya lebih suka kacangnya daripada dagingnya, sehingga saya tambahkan satu kilo kacang putih (di Bandung disebut kacang ndul). Jadi, jangan heran kalau nanti hasil akhirnya kelihatan lebih banyak kacang daripada dagingnya.

Bergantian dengan istri, kami sesekali mengaduk-aduk masakan rendang yang belum jadi ini. Memasak rendang tidak sulit, yang penting ada kesabaran dan waktu yang cukup. Memasak rendang memerlukan waktu lama, kira-kira empat hingga lima jam. Jadi, kita harus siap berdiri dekat kompor selama waktu itu. Filosofinya ya kita harus sabar menjalani hidup ini, hidup itu seperti memasak rendang, he..he..

Sambil mengaduk-aduk masakan rendang, ingatan saya pun melayang ketika masa-masa masih kuliah dulu….

**************

Ketika menjadi mahasiswa, masih muda dan masih lucu-lucunya :-) , ibu saya sering mengirim rendang dari Padang ke Bandung melalui jasa Titipan Kilat (sekarang Tiki). Hampit semua teman kuliah saya yang satu daerah pasti pernah dikirimi rendang dari ibunya. Rendang seakan lauk-pauk wajib yang harus dibawa kalau seseorang pergi merantau jauh, entah untuk sekolah, kuliah, berdagang, naik haji, dan sebagainya. Tidak lengkap bepergian jauh tanpa membawa rendang.

Bagi kami mahasiswa kosan di Bandung, seakan para ibunda tahu para anaknya di rantau mungkin sulit makan, kurang gizi, dan sebagainya, maka kiriman rendang dari kampuang adalah obat pelepas rindu pada masakan di rumah sendiri sekaligus perbaikan gizi. Rendang yang dikirim tentu adalah rendang yang warnanya hitam, yaitu jenis rendang kering yang bisa awet hingga waktu satu bulan. Biasanya ibu saya mengirim rendang dalam kaleng, di atas tutup kaleng ada tulisan begini: Setelah dibuka, langsung dipanaskan. Maksudnya supaya tidak jamuran dan bisa lebih awet lagi. Untunglah di tempat kos ada kompor, jadi tinggal dipanaskan sebentar. Kiriman rendang dari kampung lumayan mengirit pengeluaran makan sebab saya cukup membeli nasi putih saja.

Tentu bosan setiap hari makan dengan rendang terus, yaah tidak setiap harilah rendangnya dimakan, sekali-kali saja sampai akhirnya habis dalam waktu dua minggu. Masakan ibu adalah pengikat tali batin antara anak dengan keluarganya. Jadi, kiriman rendang itu adalah barokah, tidak boleh disia-siakan.

*************

Upss… jangan terlalu lama melamun. Akhirnya, masakan rendang kami sudah hampir matang. Sudah empat jam nih, minyak kelapanya sudah banyak keluar, warna masakan sudah menjadi coklat. Sampai di sini, masakan setengah rendang ini dinamakan kalio randang. Ini dia fotonya:

DSC00587

Hi..hi.. kalio randang buatan kami lebih banyak kelihatan kacang daripada dagingya. Maka, kami sebut saja ini randang dagiang kacang.

Beberapa rumah makan padang yang “tidak sabaran” memasak rendang, menghidangkan rendang dalam bentuk kalio saja. Hmm.. sebenarnya rendang dalam bentuk kalio belum terlalu mak nyus, dagingya belum terlalu empuk, kalau mereka mau bersabar teruskan beberapa jam lagi hingga menjadi rendang yang sempurna. Tapi ini juga terkait masalah selera tampaknya.

Ketika rendang sudah mencapai tahap kalio, maka api kompor dimatikan, Biarkan kalio randang ini dingin agak beberapa jam supaya uap airnya mengering dan bumbu meresap ke daging.

Setelah didiamkan beberapa jam, api kompor dihidupkan lagi. Kalio randang sekarang dikeringkan hingga minyaknya tidak ada lagi. Sesekali aja diaduk bolak-balik agar rendang menjadi kering. Sampai di sini, dihasilkan rendang yang warnanya coklat tua. Hmmm… tadinya satu kuali penuh santan dan bumbu, sekarang tinggal sepertiga saja. Satu kilo daging, satu kilo kelapa, satu kilo kacang ndul, dihasilkan rendang yang bobotnya kira-kira satu kilo. Dua kilo lagi menguap menjadi uap air. Ini dia fotonya:

DSC00590

Kalau ingin menjadi rendang hitam, panaskan terus kira-kira satu hingga dua jam lagi sehingga menjadi rendang kering yang tahan lama. Capek juga ya… tetapi rendang buatan sendiri tentu lebih enak daripada rendang yang dibeli di rumah makan padang.

*************

Tidak percuma sejak mahasiswa saya suka memasak hingga sekarang. Laki-laki tidak perlu malu memasak, memasak bukan masalah feminimitas atau maskulinitas, tetapi hal ini terkait hobi dan kegemaran.

Di Jakarta, ada perantau urang awak yang mempunyai bisnis rendang kantoran. Mereka menerima pesanan rendang untuk teman-teman sekantor. Karena enak, maka rendang buatan mereka tersebar dari mulut ke mulut menjadi promosi gratis sehingga pesanan pun membanjir. Baca kisah lengkapnya dengan mengklik tulisan ini: Bisnis Rendang Orang Kantoran. Menarik sekali.

Hmmm… pernah terlintas dalam pikiran saya, andai nanti saya sudah tidak terpakai lagi menjadi guru mahasiswa (pensiun maksudnya :-) ), ingin juga saya membuka usaha rendang kantoran semacam itu. Tapi itu ‘kan nanti, apa nanti masih punya tenaga atau tidak. Yang jelas, nikmati dulu rendang yang dibuat tadi. Ayo ambil nasi….

Kategori: Cerita Ranah Minang · Gado-gado · Makanan enak

Naik Kereta Api dari Padang ke Pariaman

7 Januari 2009 · & Komentar

Awal tahun baru 2009 kemaren, saya membawa anak-anak pulang ke Padang. Anak-anak minta liburan ke rumah neneknya di Padang setelah menerima rapor.

Di Padang saya mengajak anak-anak naik kereta api wisata yang menjalani rute dari Padang ke Pariaman. Pariaman adalah sebuah kota di pinggir Samudera Hindia di propinsi Sumatera Barat. Nama daerah ini sering diplesetkan Piaman saja. Orang Pariaman yang merantau ke daerah lain kebanyakan menjadi pedagang, sebagian lagi berjualan sate. Sate padang yang khas adalah sate Pariaman. Dari Padang ke Pariaman ada jalur rel kereta api yang dibangun pada zaman Belanda.

Di Indonesia kereta api hanya ada di Pulau Jawa dan Sumatera. Di Sumatera pun hanya ada di propinsi Sumbar, Sumut, Sumsel dan Lampung. Jaringan jalan kereta api di Sumbar dibangun sejak ditemukannya tambang batubara Ombilin pada abad 19. Sebenarnya di Sumatera Barat kereta api sudah lama mati suri semenjak tambang batubara Ombilin tidak berproduksi lagi. Kereta api tidak digunakan untuk mengangkut penumpang, tetapi batubara, sebab kalah bersaing dengan bus. Beberapa tahun terakhir kereta api mulai dihidupkan kembali untuk tujuan wisata. Rute yang dibuka barulah Padang – Pariaman. Rencananya nanti akan dibuka jalur wisata dari Padang ke Padangpanjang melewati Lembah Anai, jalur Padang ke Solok melewati Danau Singkarak dan jalur Padang – Sawahlunto melewati tambang batubara Ombilin.

Mulai tahun lalu kereta api melalui rute Padang – Pariaman setiap hari untuk mengangkut pegawai, selain hari Minggu untuk kereta wisata. Setiap hari ada dua kali rit, yaitu jam 6.30 dan jam 11.00. Dari Pariaman ke Padang juga dua rit yaitu jam 9.00 dan jam 16.00.

Saya sudah sering naik kereta api di Pulau Jawa. Naik kereta api di Padang tentu pengalaman yang berbeda. Semasa kecil di Padang dulu saya sering naik kereta api. Sekarang saya ingin mencobanya lagi untuk melihat sisa-sisa kejayaan kereta api di sana. Saya naik kereta api jam 11.00 siang dari stasiun Simpang Haru, Padang.

Ini gerbang stasiun Simpang Haru:

simpang-haru-3

Ini kereta api wisata yang saya naiki, berwarna-warni seperti marawa di ranah Minang:

dsc00236

Jam 11 lewat sedikit kereta berangkat. Olala, kereta penuuh sekali, mungkin karena masih suasana libur. Harga karcisnya murah, hanya Rp 5000 per orang. Di atas kereta banyak orang berdesak-desakan. Ini pertanda warga Sumbar memang merindukan kereta api. Bagi orang-orang tua, naik kereta api membangkitkan romantisme dan kenangan masa lalu, seperti tahun 60-an dan 70-an. Karena sifatnya kereta rakyat yang murah meriah, maka di atas kereta api berseliweran pedagang asongan yang menjajakan makanan seperti telur rebus, kacang tojin, tebu, sala lauak, dan jajanan anak-anak. Persis seperti kereta api rakyat di Pulau Jawa.

Kereta melewati stasiun kecil seperti Tabing, Duku, Pasar Usang, Lubuk Alung, Kayutanam, Kurai Taji, dan beberapa stasiun lain yang saya lupa mencatatnya. Stasiun-stasiun yang dilewati mempunyai aristektur zaman kolonial dan dipertahankan hingga saat ini. Sayangnya kereta api tidak bisa berlari kencang tetapi berjalan agak pelan sehingga jarak Padang – Pariaman ditempuh 2 jam kurang. Tetapi untunglah rasa bosan di jalan terobati dengan pemandangan yang menawan seperti sawah, kebun, dan sungai yang lebar-lebar.

Kereta api akhirnya sampai di kota Pariaman. Stasiun kereta api persis di pinggir laut. Jadi, tidak salah jika penumpang kereta kebanyakan ingin berwisata ke pantai di Pariaman. Nama pantai dekat stasiun ini adalah Pantai Gandoriah. Di Pariaman nama pantainya mirip dengan nama pantai di Bali, misalnya Pantai Kata (Bali: Kuta), Pantai Sunur (Bali: Sanur). Entah disengaja atau kebetulan, saya kurang tahu. Kalau pantai Gandoriah ini mirip dengan nama apa ya? Gandaria di Jakarta?

Ini foto stasiun Pariaman:

dsc00235

Penumpang turun dari atas kereta menuju Pantai Gandoriah. Di gerbang pantai ini ada sebuah masjid besar tempat penumpang dan wisatawan menunaikan shalat Dhuhur dan Ashar. Agama Islam memang tidak bisa dipisahkan dari adat dan budaya Minang.

dsc00237

Sepanjang pantai banyak ibu-ibu yang berjualan jajanan khas Pariaman, sala lauak. Sala adalah gorengan yang terbuat dari adonan tepung beras dicampur kunyit, garam, dun seledri, cabe, dan ikan. Ikan yang cocok untuak sala adalah ikan tukai. Rasanya asin dan sedikit pedas. Enak dimakan selagi panas. Harganya Rp 250/buah. Bagi orang Pariaman, sala sering dijadikan lauk dan dimakan dengan nasi.

Ini foto sala lauak yang menggugah selera bagi siapa saja yang memandangnya.

dsc00246

Tentang sala lauak ini, ada lagu lama yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Minang bernama Elly Kasim. Judul lagunya adalah Sala Lauak. Begini syairnya (dalam bahasa Minang tentu):

Sasaklah bana pasa rang Tarusan yo lah alai
bakaruang sumpik, yo alai di tangah balai (2x)

Lamaklah bana sala rang Piaman yo lah alai
badaun kunyik yo alai balauak tukai (2x)
salaaa lauak (2x)

Urang Cimparuah, pai ka Sintuak yo lah alai
naiak kureta yo alai di Kurai Taji (2x)

Kok lah tacubo sala rang Situngkuak yo lah alai
makan batambuah tasigi sapiriang lai (2x)
salaaa lauak (2x)

Selain sala juga dijual udang goreng, kepiting goreng, dan goreng ikan baledang. Ikan baledang adalah ikan yang panjang dan rasanya manis kalau digoreng dalam keadaan segar.

Ini foto goreng ikan baledang dengan tepung:

dsc00247

Puas bermain di pantai, penumpang kereta kembali menuju stasiun. Di sana kereta sudah menunggu untuk keberangkatan jam 16.00 sore, membawa penumpang kembali ke kota Padang.

Kategori: Cerita Ranah Minang · Cerita perjalanan