Terkenang Daun Ruku-Ruku

Prof Amrinsyah, Guru Besar Teknik Sipil ITB, beberapa bulan lalu memberi saya bibit tanaman ruku-ruku. Saya menanamnya di dalam pot di pekarangan rumah. Tanpa perawatan yang berarti — apalagi saya tidak terlalu sering menjenguknya — tiba-tiba saja saya tersadar kemarin ketika memperhatikan deretan pot dekat tembok rumah. Ternyata tanaman ruku-ruku itu sudah besar dan tinggi, sebentar lagi ia akan berbunga.

Waaaahh.. saya merasa surprise. Anda tahu tanaman ruku-ruku? Ini tanaman yang digunakan sebagai bumbu masakan di Sumatera Barat. Ruku-ruku memiliki nama latin Ocimum tenuiflorum. Dia satu keluarga dengan daun kemangi di Jawa Barat, yaitu dari keluarga Lamiaceae dengan Genus Ocimum.

Tanaman ruku-ruku biasanya diambil batang dan daunnya saja, biasanya digunakan oleh ibu-ibu di Ranah Minang untuk memasak gulai ikan. Fungsinya adalah sebagai penyedap dan pengharum masakan, sama seperti fungsi daun kemangi yang digunakan untuk membuat pepes ikan di kalangan orang Sunda. Dibandingkan dengan daun kemangi, daun ruku-ruku baunya lebih wangi. Setahu saya tanaman ini memang hanya ada di Sumatera Barat, saya belum menemukannya di tanah Jawa. Anda bisa membaca tulisan ini untuk membandingkan ruku-ruku dengan daun kemangi.

Di rumah kami di Padang, (alm) ibu saya menamam tanaman ini di pekarangan rumah. Setiap kali memasak gulai ikan ibu pasti memetik beberapa helai daun ruku-ruku. Seperti inilah gulai ikan yang diberi daun ruku-ruku (foto diambil dari sini):

Tidak hanya untuk gulai ikan, tetapi daun ruku-ruku juga dipakai untuk memasak gulai pensi. Pensi adalah tiram endemik yang hanya terdapat di Danau Singkarak. Kalau membayangkan pensi, menitik air liur saya. Entah kapan saya bisa makan nasi dengan pensi lagi. Seperti ini bentuk gulai pensi (gambar diambil dari sini):

Ondeh, lamak bana! Setiap kali melihat tanaman ruku-ruku itu saya teringat dengan almarhum ibu saya. Oh, Ibu, semoga Allah melapangkan tempatmu di alam barzah sana dan memasukkanmu ke dalam syurga. Amiin.

Anak Penjual Kayu Bakar dari SMA 1 Pariaman Itu Diterima di ITB

Selalu saja ada kabar suka diantara derai air mata. Seperti kisah Yudi April Nando ini, anak penjual kayu bakar dari SMA 1 Pariaman, Sumatera Barat yang meraih nilai UN tertinggi di Sumbar dan diterima di STEI-ITB melalui SNMPTN jalur undangan. Kisah-kisah seperti ini akan selalu memberi inspirasi bahwa jika ada kemauan pasti ada jalan.
Dikutip dari koran lokal, Singgalang, Padang:

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Anak Penjual Kayu Bakar itu Diterima di ITB

JARUM jam menunjukkan pukul 15.00 WIB, Minggu (22/11), saat Singgalang bertandang ke rumah sederhana milik keluarga Yudi April Nando, 19, anak hebat SMA 1 Pariaman peraih nilai tertinggi UN IPA SMA 2011. Rumahnya di Korong Buluah Kasok, Nagari Sungai Sariak, Padang Pariaman.
Rumah itu amat sederhana, sesederhana anak hebat yang tinggal di dalamnya. Dinding rumah diplester seadanya. Waktu gempa, rumah ini mengalami kerusakan parah. Halaman ditumbuhi gulma panjang sejengkal. Di salah satu sudut tampak seonggok biji cokelat (kakao) sedang dijemur.

Singgalang mengetok pintu rumah sederhana itu. Ingin bertemu si anak hebat yang tinggal di sini. Setelah beberapa kali diketok, muncul sosok pemuda tinggi jangkung. Lalu ia bertanya.
“Cari sia da?
“Mancari Yudi April Nando…,”
“Ambo Yudi, ado apo da?” Jawab si jangkung itu.
Setelah memperkenalkan diri, pintu rumah pun dibukakan dan dipersilahkan masuk. Melongo saya menyaksikan rumah Yudi. Kontras benar kondisinya kalau dibandingkan dengan prestasi di bangku pendidikan. Yudi mengantongi nilai UN IPA tertinggi di Sumbar 56,20. Bahkan, dua mata pelajaran, matematika dan kimia nilainya 10 pula.

Dalam rumah tak ada kursi empuk. Ada sebuah almari usang, sebuah bofet dan sebuah meja reot untuk meletakkan makanan yang ditempatkan di sudut ruangan. Adik perempuan Yudi, Rini bergegas membentangkan tikar pandan dan mempersilahkan duduk. Setelah itu Rini berlalu membangunkan bapaknya yang lagi tidur.

Kisah pahit
Yudi yang dari tadi terlihat bingung membuka pembicaraan. Dia bertanya.
“Apo yang bisa wak bantu da?” Tanya dia.
“Ndak do, ambo nio bacurito sae nyo, seputar prestasi Yudi raih di sekolah,”.
Yudi termangu, matanya menerawang jauh menyiratkan bahagia dan galau. Dia pun melepaskan pandangan kepada ayahnya, Ali Ninih, 60.
“Apo lo ka dimalu an, memang co iko iduik wak. Carito an se lah,” kata Ali Ninih menyuruh anaknya.
Yudi pun bercerita panjang tentang keluarga dan kelangsungan pendidikannya hingga akhirnya bisa meraih nilai tertinggi UN IPA di Sumbar. Sesekali matanya terlihat berbinar menahan air mata.
“Antah lah da, semangat jo keyakinan se nan mambuek wak bisa rajin dan tekun sikola nyo,” tutur Yudi.
Panjang dan pahit lika-liku hidup yang dijalani anak hebat ini untuk bisa sekolah. Tak sedikit tetangga yang mencibir, mencimeehnya.
“Sikola yang dituruik an, iduik keluarga, untuak makan se payah,” cibir tetangga suatu waktu.
Tapi cimeeh itu dijadikan semangat oleh Yudi untuk berbuat lebih. Yudi ingin membuktikan, kalau cimeeh itu tak selamanya benar.
Ayah Yudi, Ali Ninih menceritakan, sebenarnya hatinya iba melihat Yudi. Iba tak bisa berbuat banyak mendukung biaya sekolah. Kadang-kadang untuk ongkos pergi sekolah Yudi, Ali Ninih tak jarang meminjam uang kepada tetangga. Utang kemudian ditutupi dengan kayu bakar yang ia cari di hutan. Begitulah setiap hari, gali lubang, tutup lubang.

Melihat kondisi orangtuanya seperti itu, Yudi sebenarnya tak tega. Tapi, di sisi lain, dia ingin juga mengejar cita-citanya menjadi dosen atau ahli ilmu teknologi (IT). Demi cita-cita itu pula, Yudi turun tangan membantu orangtuanya mencari kayu api ke hutan, atau mengambil upah mengerjakan sawah orang. Kayu bakar yang dicari dijual ke sebuah rumah makan di dekat tempat tinggalnya Rp4.000 per ikat. Sekali ke hutan, dia dan ayahnya bisa mengumpulkan empat hingga lima ikat kayu bakar. Uang penjualan kayu bakar dipakai Yudi untuk ongkos dan belanja ke sekolah. Sisanya untuk bayar hutang dan makan.

“Kalau lah pai we e ka rimbo jo apak mancari kayu, ibo hati apak dek e. Tapi, semangat we e yo sabana kuat untuk sikola. Pai ka rimbo, we e mambaok buku juo. Panek mengumpua an kayu, inyo mambaco. Kayu takumpua, inyo nan mambaok kayu jo garobak pulang. Hampia tiok hari sarupo itu,” kata Ali Ninih.

Diterima di ITB
Buah pahit, kalau yakin bisa jadi obat. Begitu pula dengan Yudi. Pahitnya kehidupan yang dijalani ternyata berbuah manis. Sejak SD hingga SMA, Yudi selalu meraih rengking 1 di kelas. Kini, dia diundang pula untuk kuliah di ITB. Karena prestasinya itu pula, pelbagai beasiswa bisa dia dapat untuk kelangsungan pendidikan. Bahkan, karena terenyuh melihat kondisi keluarga dan prestasi akademiknya yang luar biasa, seorang pejabat di lingkungan Pemkab Padang Pariaman berkenaan jadi donatur. Selama di SMA, Yudi diberi bantuan uang tunai tiap bulan oleh pejabat tersebut.

Setelah lulus UN, Yudi tercatat salah satu dari puluhan siswa SMA 1 Pariaman yang berkesempatan menerima tawaran dari pemerintah untuk kuliah di sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) ternama di Indonesia. SNMPTN jalur undangan beda dengan PMDK. SNMPTN jalur undangan, siswa penerima dibebaskan memilih PTN favorit. Yudi memilih ITB, kampus yang selama ini jadi cita-citanya untuk kuliah. Di ITB dia mengambil Sekolah Teknik Elektronika dan Informatika (STEI). Di ITB fakultas atau sekolah, rupanya sama. Selama ini dia bercita-cita ingin sekali menjadi dosen atau ahli TI. Kini, langkah menuju cita-cita itu sudah di depan mata Yudi.

Untuk kuliah di ITB, semua sudah ditanggung negara. Untuk keberangkatan ke Bandung mendaftar, telah ada pula donatur yang mengupayakan keberangkatan. Rencananya, Yudi dan istri pejabat yang jadi donaturnya sejak SMA itu akan berangkat ke Bandung, Jumat (27/5). Batas akhir mendaftar di ITB, Selasa (31/5).

Kini yang jadi kerisauan bagi Yudi, setelah kuliah nanti, ia membutuhkan biaya beli buku dan biaya lainnya. Jumlahnya pasti banyak dan tak akan bisa diharapkan kepada keluarga. Yudi berharap, ke depan ada orang baik untuk membantunya. Dia sendiri akan berusaha mengumpulkan uang dengan bekerja, apapun itu nantinya. Yudi si penjual kayu bakar nan hebat itu membuktikan pada dunia, kalau kemiskinan tak bisa menghalangi keinginan untuk mengejar cita-cita. Dinding tinggi dan sekat tebal itu dia runtuhkan dengan semangat, keyakinan dan ketekunan belajar. Bagi dia, uang bukan segala-segalanya dalam mengejar cita-cita. Orang miskin juga bisa sukses. (*)

Rumah Makan Masakan Padang Pertama di Kota Padang

Ketika pulang ke Padang minggu lalu, ada satu pemandangan yang janggal. Saya dan teman-teman alumni SMP 8 makan siang di Restoran Sederhana di dekat GOR H. Agus Salim. Pemandangan yang janggal itu adalah tulisan “Masakan Padang” pada papan nama restoran itu, seperti pada foto yang saya jepret di bawah ini:

Tentu saja janggal, sebab di Padang — di negeri asalnya sendiri — restoran waralaba “Sederhana” masih perlu menuliskan “Masakan Padang” pada papan namanya. Apakah gambar rumah adat minang dan bangunan restoran yang berasitektur rumah gadang belum cukup menjelaskan identitas masakannya?

Di Jawa restoran Sederhana itu tersebar di mana-mana, di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan sebagainya. Maklum sistem pemasarannya adalah waralaba — sebagaimana pada Restoran Simpang Raya — sehingga siapapun dapat membuka rumah makan berlabel “Sederhana” ini asal punya modal. Embel-embel “Masakan Padang” seolah-olah menjadi “wajib” dicantumkan pada setiap rumah makan khas minang di luar Provinsi Sumbar untuk menegaskan identitas masakannya, termasuk restoran Sederhana itu.

Di Padang dan di Sumatera Barat sendiri tidak ada rumah makan padang, juga tidak ada tulisan “Masakan Padang” pada papan nama rumah makannya. Orang Minang menyebut masakannya dengan “masakan urang awak”. Masakan urang awak itu banyak ragamnya tergantung pada daerahnya, ada masakan khas Kapau, masakan khas Payakumbuh, masakan khas Sijunjung, masakan khas Pariaman, dan lain-lain. Lain nagari lain pula jenis masakannya. Penamaan “masakan Padang” hanya mengacu pada masakan khas dari kota Padang saja. Orang dari Bukittinggi misalnya, tidak senang disebut “orang Padang”, begitu pula masakannya mereka tidak mau disebut “masakan Padang”. Penamaan “masakan Padang” adalah dari segi kepraktisan saja, karena orang di luar Sumbar tentu tidak mengenal nama Bukittinggi, Payakumbuh, Sawahlunto, dan sebagainya. Mereka hanya mengenal Padang, orang Padang, dan tentu saja masakan Padang.

Oleh karena itu, pencantuman tulisan “Masakan Padang” pada restoran Sederhana yang di Padang itu tentu berlebihan. Kata anak muda zaman sekarang: lebay. Barangkali inilah rumah makan masakan Padang pertama di kota Padang. Nama rumah makannya sederhana, tapi harga makanannya tidak sederhana.

Terkenang Lagu “Anak Salido”

Siang-siang yang panas ini, seusai shalat Jumat dan makan siang, timbullah rasa kantuk. Sambil kepala terangguk-angguk menahan kantuk, saya mendengarkan lagu Minang lawas dari situs Youtube. Judul lagunya adalah Anak Salido, didendangkan oleh penyanyi batak tahun 70-an yang serba bisa, Eddy Silitonga. Klik video di bawah ini:

Memang sungguh nikmat mendengar lagu Anak Salido yang melankolik ini. Rasa melayang-layang pikiran ini jauh ke negeri Ranah Minang. Lagu ini adalah salah satu lagu Minang kesukaan saya selain lagu Sayang Tak Sudah dari penyanyi (alm) Tiar Ramon. Pertama kali saya mendengarkan lagu Anak Salido adalah ketika masih SMA. Lagu Anak Salido bercerita tentang pemuda(i) dari negeri Salido yang pergi merantau karena dikecewakan cintanya oleh kekasih hati. Lagu ini diciptakan oleh (alm) Huriah Adam dan dulu dipopulerkan oleh penyanyi Lily Syarief dan Elly Kasim.

Tak bosan-bosan saya mendengarkan lagu Anak Salido, bahkan kalau hati lagi gundah gulana saya sering menyanyikannya seorang diri di malam hari. Ketika anak masih bayi, saya sering pula mendendangkan lagu Anak Salido sebagai salah satu lagu pengantar tidur.

Anak Salido, anak Salido ka parantauan
pandan dibaok, pandan dibaok ka dipadagangkan
dunsanak tido, ondeh tuan manga bajalan
kasia badan, kasia badan kaditompangkan

Sungai Tanang, Sungai Tanang tapian mandi
rang Bukittinggi, rang Bukittinggi mandi bakawan
kasiah sayang bakeh tuan tatuntuang habih
manga kok kini, mangka kok kini tuan rangguikkan
tagamang badan, tagamang badan ndek ditinggakan

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

Anak Salido, Anak Salido pergi merantau
membawa pandan, membawa pandan untuk diperdagangkan
sanak suadara tidak ada, mengapa tuan pergi berjalan
pada siapa badan akan menumpang

Sungai Tanang, Sungai Tanang tempat mandi
Orang Bukittinggi, orang Bukittingi mandi dengan kawan
kasih sayang tuan kenapa sudah habis
mengapa sekarang, mengapa sekarang tuan renggutkan
tergamang badan, tergamang badan karena ditinggalkan

Salido, sebuah negeri yang jauh di seberang lautan sana. Tahukan anda dimana Salido itu? Salido adalah nama daerah di pinggir laut di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dari daerah pesisir ini lahirlah musik rebab yang diberi nama rabab pasisie. Saya belum pernah ke Salido, tetapi melewatinya hampir saja pernah. Akhir tahun lalu ketika liburan ke Padang kakak saya membawa kami ke Pantai Carocok di Painan, Kabupaten Pesisir Selatan. Perjalanan ke pantai Carocok pasti melewati daerah Salido. Namun, belum sampai ke pantai Carocok, anak saya yang paling kecil muntah-muntah karena mabuk perjalanan. Akhirnya rencana ke Pantai Carocok gagal namun negeri Salido sudah berhasil disinggahi.

Lihatlah foto di bawah ini tentang keelokan daerah Salido yang menghadap Samudera Hindia (foto diambil dari sini).

Negeri-negeri di pinggir laut itu sekarang sedang dirundung kekhawatiran, yaitu tsunami. Ancaman tsunami akibat gempa megatrust dari sesar aktif Mentawai sudah diprediksi oleh para ahli geologi, namun tidak seorangpun pernah tahu kapan peristiwa itu akan terjadi. Prediksi dari para pakar geologi itu seolah-olah menjadi kabar “kematian” bagi warga di pinggir laut pantai barat Sumetera, termasuk negeri Salido. Jika tsunami besar betul-betul terjadi (mudah-mudahan saja tidak), luluh lantaklah negeri Salido dan negeri-negeri lain di pesir barat Sumatera ini. Mungkin yang akan tetap terkenang dan lestari adalah lagu Anak Salido yang melankolis ini.

Angkot di Kota Padang: Berisik!!!

Pengalaman saya naik angkot dan bis kota di kota Padang meninggalkan kesan yang aneh. Ini naik angkot atau masuk diskotik sih? Hampir semua angkot di kota Padang dilengkapi dengan sound system subwoofer yang besar. Tidak cukup satu, tapi tiga atau empat buah, depan dan belakang.

Ingin tahu musik apa yang diputar di dalam angkot/bis kota? Musik yang diputar di dalam angkot bukan musik ringan, tetapi musik bergenre hard core, seperti musik metal, punk, rock, dan sebagainya. Pokoknya jenis musik ribut yang berdentam-dentam memekakkan telinga.

Kenapa para supir atau pemilik angkot memasang perangkat diskotik dan memutar musik cadas yang memekakkan telinga itu? Tidak lain karena persaingan sesama angkot. Jumlah angkot di Padang seperti di kota Bandung, sudah overdosis. Setiap supir bersaing merebut penumpang dengan menyediakan layanan musik. Rupanya mereka berpikir penumpang angkot itu kebanyakan anak muda seperti pelajar dan mahasiswa. Mereka berpikir selera anak muda itu adalah musik hingar bingar itu. Jadi, mereka sengaja memutar musik itu keras-keras sehingga terdengar sampai keluar angkot.

Kata para supir, para pelajar dan mahasiswa itu piliih-pilih angkot, jika tidak ada musik, mereka tidak mau naik. Kalau musiknya bukan musik cadas, mereka ogah. Oleh karena itu, para supir dan pemilik angkot berlomba-lomba mendandani mobil mereka dengan asesori yang meriah dan sound system yang besar-besar. Jika kita minta kepada pak supir untuk mematikan musik atau minta dikurangi volumenya, mungkin supir itu marah atau jengkel.


(foto yang ini diambil dari sini)

Benarkah demikian? Benarkah semua penumpang angkot dan bis kota di Padang menginginkan musik hingar bingar itu? Apa betul orang memilih angkot berdasarkan musik? Belum pernah saya dengar ada penelitian soal ini. Supir angkot mungkin lupa, penumpang angkot tidak hanya pelajar dan mahasiswa, tetapi juga ibu-ibu, amai-amai, bapak-bapak, dan orang tua. Mereka tentu bukan penyuka musik bergenre hard core, pun mereka belum tentu suka musik. Juga, tidak semua pelajar dan mahasiswa itu senang dengan musik berisik. Selera orang tidak bisa dipukul rata sama, tetapi supir angkot menyimpulkan semuanya sama. Maka, terjadilah fenomena diskotik berjalan di kota Padang. Padahal, menurut saya orang naik angkot karena alasan transportasi, bukan karena ingin mendengarkan musik.

Di Indonesia, kota yang angkotnya full music seperti itu mungkin hanya ada dua, di Padang dan di Kupang (NTT). Kedua kota ini ini bersuhu panas terik pada siang hari, maka musik hard core seakan menemukan tempatnya di sini.

Memasang musik hingar bingar di dalam angkot berdampak buruk. Penjahat memanfaatkan kondisi berisik ini. Jika ada kejahatan di dalam angkot atau bis kota seperti copet atau jambret, teriakan korban mungkin tidak terdengar oleh supir atau penumpang lain, dkalahkan oleh suara musik yang memekakkan telinga. Penjahat semakin merajelela. Entah sampai kapan para supir angkot itu kapok memutar musik berisik.

Lain halnya kalau yang diputar musik lembut, tentu kondisinya akan lebih baik. Atau, diputar siaran berita dari radio Elshinta atau radio lainnya (dengan volume sedang), seperti yang dilakukan para supir bis Damri di Jakarta, tentu lebih bermanfaat dan informatif buat penumpang.

Jalan-jalan ke Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis, Padang

Setelah di Bukittinggi, saya dan keluarga bermalam di rumah neneknya anak-anak di kota Padang. Di kota Padang tujuan utama wisata tentu saja pantai dan lautnya. Kota ini menghadap ke Samudera Hindia yang menurut para pakar gempa sangat rawan tsunami karena berada di sesar Mentawai yang aktif bergerak. Mudah-mudahan bencana yang ditakutkan orang Padang itu tidak terjadi. Ya Allah, lindungilah kota ini dari gempa dan tsunami. Terus terang, sejak isu gempa besar dan tsunami yang diperkirakan para pakar akan terjadi, kota ini terasa agak lengang, terutama di pusat kota (pusat kota terletak di sepanjang pantai). Banyak warga yang pindah ke pinggiran kota yang lokasinya di atas bukit, bahkan ada yang pindah ke kota lain. Tetapi, banyak juga yang tetap bertahan di pusat kota, mereka terlihat pasrah menunggu takdir dan tidak ikut-ikutan lari ke pinggiran kota setiap kali gempa terjadi. Kebetulan rumah saya — neneknya anak-anak– berada di pusat kota yang jaraknya dari pinggir pantai cuma sekitar 3 km.

Kembali tentang jalan-jalan. Saya membawa anak-anak jalan-jalan ke pantai yang terkenal dengan cerita yang sudah melegenda yaitu kisah si Malin Kundang anak durhaka. Pantai Air Manis (aie manih) namanya. Cerita legenda ini memang dikisahkan terjadi di Pantai Air Manis, arah selatan kota Padang. Di pantai inilah terdapat batu Malin Kundang yang menjadi obyek wisata andalan.

Untuk menuju Pantai Air Manis ada dua cara. Cara pertama melalui Jembatan Siti Nurbaya yang membentang di atas sungai Batang Arau menuju bukit Gado-gado (atau disebut juga Bukit Padang atau Gunung Padang). Di bawah ini potret Jembatan Siti Nurbaya yang saya ambil dari bawah:

Saya belum sempat naik jembatan ini, tetapi gambar Jembatan Siti Nurbaya yang tampak dari arah depan di bawah ini dapat menjelaskan seperti apa bentuknya (foto ini diambil dari situs ini)

Cara pertama menuju Pantai Air Manis melalui Jembatan Siti Nurbaya ini hanya bisa ditempuh dengan motor atau jalan kaki, sebab dari Bukit Padang menuju Pantai Air Manis belum bisa dilalui mobil. Oh ya, dinamakan Jembatan Siti Nurbaya karena di Bukit Padang ini terdapat “makam” Siti Nurbaya, sebagaimana diceritakan di dalam novel Siti Nurbaya karangan Marah Rusli yang terkenal itu. Makam ini berada di sebuah taman yang menghadap ke laut lepas, di dekat “makam” ini ada meriam kuno peninggalan Jepang. Moncong meriam ini menghadap ke laut, siap menembak kapal musuh yang masuk ke pelabuhan Muara. Benar-benar indah melihat pemandangan jurang dan laut yang menghampar di bawahnya dari taman ini. Ditulis “makam” dalam tanda petik karena sebenarnya Siti Nurbaya hanyakan cerita rekaan, tetapi bagi orang Padang cerita itu seakan-akan benar-benar terjadi, sehingga tumpukan batu berbentuk makam itu dianggap sebagai makam Siti Nurbaya sungguhan.

Dalam jalan-jalan kali ini saya tidak mengunjungi makam Siti Nurbaya, tetapi untuk membayangkan kepada anda seperti apa makamnya, maka di bawah ini ada beberapa foto yang diambil dari beberapa situs internet:


(Taman Siti Nurbaya. Gambar diambil dari sini)


(Pintu masuk makam Siti Nurbaya. Gambar diambil dari sini)


(Makam Siti Nurbaya, gambar diambil dari situs ini)


(Pemandangan Samudera Hindia dari atas Taman Siti Nurbaya. Gambar diambil dari sini)

Menurut keterangan masyarakat setempat, konon sekitar 10 meter di tebing di bawah makam Siti Nurbaya terletak makam kekasihnya, Samsul Bahri. Wallahualam.

Perjalanan ke Pantai Air Manis melalui jalur tracking di atas bukit ini sangat mengasyikkan, pengunjung dapat menikmati pemandangan alam yang mempesona. Di kiri jalur terdapat hutan yang masih belum terjamah, sedangkan di sebelah kanan adalah jurang dengan laut biru menghampar di bawahnya. Dari jauh sudah kelihatan pantai Air Manis dengan Pulau Pisang yang duduk termenung. Dulu waktu remaja hampir setiap hari minggu saya lari pagi melewati bukit ini sampai ke Pantai Air Manis. Banyak warga kota yang juga lari pagi sejak usai shalat Subuh menikmati udara yang bersih sambil berjalan-jalan di Pantai Air Manis.

Cara kedua menuju Pantai Air Manis adalah dari jalan raya Teluk Bayur. Dari sini sudah ada jalur buat kendaraan roda empat menuju Pantai Air Manis. Masuk dari jalan di depan SMA 6 Padang, lalu anda akan melewati jalan yang berkelok-kelok mendaki bukit, kemudian menurun lagi sebelum akhirnya sampai di Pantai Air Manis yang landai. Hati-hati membawa kendaraan karena jurang di pinggir kanan jalan. Kemarin saya melewati jalur ini diantar kakak saya.

Nah, ini dia Pantai Air Manis dengan Pulau Pisang di kejauhan. Pantai ini cukup panjang dengan pasirnya yang berwarna kuning kecoklatan. Suasana di Pantai ini masih asri, tidak ada bangunan seperti hotel atau penginapan, juga tidak banyak rumah penduduk. Pohon kelapa dan pohon-pohon lain membuat udara di pantai ini terasa sejuk an tidak panas.

Lalu di mana batu Malin Kundang itu? Itu dia, letaknya paling ujung selatan pantai. Dari kejauhan tampaklah batu ini, itu tuh yang dekat pondok beratap seng.

Yuk, berjalan lebih dekat lagi:

Nampaklah batu Malin Kundang yang teronggok begitu saja di pinggir pantai. Karena bentuknya yang seperti kapal karam, lahirlah cerita dongeng Malin Kundang Anak Durhaka. Entah siapa yang pada zaman dahulu melahirkan cerita ini, apakah karena nenek moyang orang Padang zaman dahulu melihat batu itu seperti kapal maka terinspirasilah membuat cerita dongeng Malin Kundang.

Menurut kamu, apakah bentuknya memang mirip seperti kapal? Hmm…bangunan beberapa warung di belakang batu ini merusak pemandangan ya.

Yuk kita naiki kapal si Malin Kundang:

Dikisahkan Malin Kundang dan ibunya tinggal di desa Air Manis. Mungkin dahulu ada pelabuhan kapal di sana (atau mungkin yang dimaksudkan adalah Pelabuhan Teluk Bayur yang terltak tidka jauh dari Pantai Air Manis). Malin Kundang kemudian merantau menjadi anak buah kapal. Karena rajin dan jujur bekerja, maka pangkatnya dinaikkan dari semula anak buah kapal menjadi kelasi. Nakhoda kapal mulai tertarik dengan Malin Kundang. Dia menjodohkan puterinya dengan Malin Kundang, kemudian dia menyerahkan kapal kepada Malin Kundang dan mengangkat Malin Kundang sebagai nakhoda menggantikan dirinya yang ingin pensiun.

Kehidupun Malin Kundang semakin makmur, tetapi dia tetap merindukan ibunya yang dulu dia tinggal sendirian. Malin Kundang pun mengarahkan kapalnya menuju pelabuhan Padang. Melihat kapal besar memasuki pelabuhan, orang-orang di desa Air Manis berlarian melihat kapal besar yang belum pernah mereka lihat. Ibu Malin Kundang yang sudah semakin tua pun ikut melihat sambil berharap ada anaknya di kapal itu. Dia sudah sangat rindu melihat Malin Kundang. Sambil berjalan tertatih-tatih dengat tongkatnya, dia menuju pelabuhan. Setelah kapal bersandar, turunlah nakhoda kapal dengan istrinya yang cantik. Tidak salah lagi, itu adalah Malin Kundang. Sang Ibu pun berteriak sambil berlari menghampiri Malin Kundang. “Malin anakku, ini ibumu, Nak”, katanya. Melihat ibunya yang sudah tua dan buruk, Malin Kundang merasa malu kepada istrinya. Malin Kundang membantah bahwa itu bukan ibunya dan cepat-cepat kembali lagi ke kapal lalu memerintahkan anak buah kapal untuk mengangkat sauh. Hancur hati sang ibu. Sambil berlinang air mata ibu Malin Kundang berdoa kepada Tuhan agar Malin Kundang diberi hukuman karena telah mendurhakai ibunya.

Tuhan mendengar doa sang ibu. Langit berubah menjadi hitam, awan hitam bergulung-gulung, petir menggelegar-gelegar. Hujan badai datang. Kapal si Malin Kundang terombang-ombing dihempas gelombang laut yang menggila. Malin Kundang yang merasa berdosa memanggil-manggil ibunya seraya minta ampun, tetapi sayang sudah terlambat. Kapal dihempas gelombang hingga terdampar di tepi pantai, lalu seketika berubah menjadi batu. Malin Kundang dan seluruh isi kapal berubah menjadi batu. Itulah dia batu si Malin Kundang yang dapat dilihat di Pantai Air Manis. Dikisahkan bahwa setelah berubah menjadi batu, ibu si Malin Kundang menyesal telah mengutuk anaknya, namun sayang nasi sudah menjadi bubur, si Malin Kundang tidak bisa menjadi manusia lagi (moral of the story: orangtua jangan suka mengutuk anak atau mengatakan hal-hal yang jelek tentang anak, karena doa orangtua itu adalah doa yang paling makbul).

He..he.. terlena dengan cerita di atas? Apakah batu yang anda lihat itu mirip seperti kapal? Pada awalnya sih tidak terlalu mirip, saya masih ingat waktu dulu ke sana bentuknya tidaklah terlalu mirip kapal. Tetapi, beberapa tahun lalu Pemerintah Kota Padang merekayasa batu itu dengan menambahkan ornamen-ornamen dari semen di atas batu itu sehingga menyerupai geladak kapal. Bukan itu saja, bahkan ada cetakan semen berbetuk tali tambang, tong kayu, dan sebagainya seperti foto-foto saya di bawah ini:

Perekayasaaan batu Malin Kundang sehingga mirip kapal betulan itu pernah diprotes oleh para budayawan di Padang karena merusak keaslian legenda, namun Pemda tidak mengubrisnya. Bahkan di dekat batu itu dibuat diorama dari lempeng tembaga yang meceritakan kisah Malin Kundang. Singkat cerita batu Malin Kundang dan lingkungan di sekitarnya sudah tidak asli lagi. Kepentingan pariwisata dan ekonomi mengalahkan orisinilitas.

Ngomong-ngomong, mana si Malin Kundangnya? Ini dia tokoh utama cerita kita, sedang bersujud meminta ampun:


(saya lupa memotret si malin Kundang, jadi foto di atas saya ambil dasi sini saja)

Menurut kamu, apakah patung si Malin Kundang di atas asli atau rekayasa? Silakan jawab sendiri.

Demikianlah sekelumit cerita jalan-jalan kami di Pantai Air Manis dan batu Malin Kundangnya.

Jalan-jalan ke Bukittinggi

Liburan akhir tahun ini saya dan istri membawa anak-anak pulang kampung ke rumah neneknya di Bukittinggi dan di Padang. Tulisan pertama ini adalah tentang Bukittinggi. Bukittinggi, kota sejuk di Sumatera Barat sekaligus kota wisata. Tidak lengkap ke Ranah Minang kalau belum mengunjungi kota Bukittinggi. Tahukah anda bahwa selain Yogyakarta, Bukittinggi pernah menjadi Ibukota RI pada masa darurat tahun 50-an dengan nama Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Di kota ini ada istana presiden dengan nama Gedung Triarga (artinya tiga gunung, karena kota ini dikelilingi oleh tiga gunung api yaitu Gunung Marapi, Gunung Singgalang, dan Gunung Tandikat), yang letaknya tidak jauh dari Jam Gadang (sekarang berganti nama menjadi Istana Bung Hatta).

Nah, saya akan menceritakan tempat-tempat wisata dan pemandangan kota Bukittinggi ini kepada anda. Jika anda turun di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang, maka tidak usah khawatir naik angkutan ke kota ini. Di bandara ini ada taksi resmi yang mengantar anda ke Bukittinggi dengan tarif borongan Rp222.000, relatif murah jika anda datang berempat atau berlima. Kalau naik mobil travel, anda harus ke luar bandara, salah satunya travel AWR, dengan tarif Rp30.000/orang.

Apa ikon kota Bukittinggi? Tidak salah lagi, Jam Gadang. Ke sanalah saya pertama kali pergi mengunjungi. Dibandingkan dahulu waktu saya ke sana, kawasan Jam Gadang sekarang ini relatif lebih rapi dan bersih.

Susah sekali memotret Jam Gadang ini dari dekat karena bangunannya tinggi. Jam Gadang ini dibangun pada masa Belanda dan atapnya pernah berganti rupa dari gaya Belanda, gaya Jepang, dan akhirnya atap bagonjong khas Minangkabau seperti sekarang. Yang tetap dipertahankan adalah angka jam 4 yang ditulis dalam huruf romawi ‘IIII’, bukan ‘IV’ seperti yang kita kenal.

Di depan Jam Gadang ini terdapat istana presiden yang sekarang bernama Istana Bung Hatta. Bung Hatta memang lahir dan menghabiskan masa kecil hingga bersekolah di Bukittinggi dan Padang.

Kawasan Jam Gadang adalah daerah tertinggi di Bukittinggi, maka dari kawasan ini kita dapat melihat keelokan kota dan rumah-rumah penduduk yang terletak di lembah.


Modernisasi ternyata tidak bisa dielakkan di Bukittinggi. Di depan Jam Gadang ini sudah berdiri sebuah mal (plaza) dengan sebuah supermarket besar. Apakah Pasar Atas yang terletak di seberangnya akan tersaingi?

Puas melihat-lihat jam Gadang, maka kawasan wisata apa lagi yang terdekat yang wajib dikunjungi? Tentu saja Ngarai Sianok yang terkenal itu. Tahukah anda, Ngarai Sianok itu masih terletak di tengah kota Bukittinggi. Ada ngarai di tengah kota? Ya, hanya ada di Bukittinggi. Jaraknya 1 km dari Jam Gadang, tepatnya di Jalan Panorama. Ngarai yang sudah sering diabadikan dalam lukisan dan gambar di uang kertas itu memang sangat mempesona.

Wah, banyak monyet juga jalan-jalan di kawasan Ngarai Sianok ini. Hati-hati ya bawa makanan, nanti direbut oleh monyet-monyet itu, begitu kata Pak loket karcis.


Turunilah anak tangga yang terdapat di ngarai ini,

maka sampailah kita ke…. Lobang Jepang. Ya, Lobang Jepang adalah gua panjang yang terdapat di dasar Ngarai Sianok. Gua ini dibangun pada masa penjajahan Jepang sebagai tempat pertahanan tentara Jepang. Siapa yang menjadi kuli dalam membangun gua ini? Tentu saja para anak bangsa yang dikenal sebagai romusha.

Yuk, kita masuki gua ini. Sekarang gua ini sudah terang karena sudah diberi penerangan. Untuk memasukinya kita harus menuruni anak tangga yang banyak itu.

Gua ini banyak lorongnya, seperti labirin. Jika tidak hati-hati, bisa tersesat di dalamnya. Saya hanya menyusuri lorong utamanya saja, agak takut memasuki lorong “lubang tikus” yang sepertinya berisi kamar-kamar, salah satunya bekas ruang amunisi di bawah ini.

Demikianlah jalan-jalan di kota wisata Bukittinggi. Sebenarnya masih banyak lagi yang perlu dikunjungi di kota ini. Saya ingin lagi makan nasi Kapau Uni Lis di Pasar Atas, tetapi belum kesampaian, atau melihat benteng Fort de Cock, tangga ampek puluah, dan lain-lain. Setelah di Bukittinggi, kami ke Padang, ke rumah ibu saya. Baca tulisan selanjutnya tentang jalan-jalan ke batu Malinkundang di Pantai Air Manis, Padang.

Apa Bedanya Gubernur Irwan Prayitno dan Mendagri Gamawan Fauzi?

Beberapa hari ini Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, jadi bahan kecaman media. Dia dituding tidak punya kepekaan, karena di tengah musibah gempa dan tsunami di Mentawai (yang merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Barat), dia pergi ke Jerman memenuhi undangan KBRI di sana dalam rangka mempromosikan Sumbar kepada investor Jerman. Kecaman terhadap Irwan Prayitno semakin ramai karena dia pergi sebelum turun izin dari Presiden SBY. Kadang-kadang komentar dan kecaman itu saya nilai terlalu berlebihan dan tidak proporsional. Gubernur tidur tiga malam di Mentawai satu hari setelah tsunami terjadi tidak disebut-sebut. Dia pergi juga tidak meninggalkan tugas sebab urusan penanganan bencana dia serahkan kepada wakilnya. Tapi ya itulah, saya kira nasibnya lagi apes saja, pergi pada waktu yang tidak tepat ketika banyak orang lagi sensi.

Sebagai urang awak di Bandung, saya juga mengikuti dinamika perkembangan di kampung halaman dan isu-isu yang menyangkut Sumatera Barat. Sejak musibah yang datang beruntun menimpa Indonesia (Wasior, Mentawai, dan Merapi), memang sekarang ini banyak orang terasah kepekaannya. Anggota DPR yang berkunjung ke luar negeri dikecam habis-habisan karena dianggap tidak punya hati nurani, sebab mereka pergi jalan-jalan ke luar negeri sementara rakyat sedang berduka.

Kecaman yang datang bertubi-tubi kepada Gubernur Sumbar itu membuat Pemerintah juga ikut-ikutan berang. Bahkan, Mendagri Gamawan Fauzi, yang dulunya bekas Gubernur Sumbar, berencana akan memberikan sangsi sanksi kepada Irwan Prayitno. Apa sangsinya sanksinya, masih belum diketahui.

Seperti dikutip dari sini:

Mendagri mengatakan, Gubernur Irwan yang memilih melawat ke Jerman saat tanggap darurat masih berlangsung di Kepulauan Mentawai, pascatsunami, merupakan pelanggaran sumpah jabatan kepala daerah.

“Gubernur Sumbar, jelas telah melanggar sumpah jabatannya. Juga perundangan lainnya jadi harus dikaji dulu,” ujarnya. Yang jelas, lanjut Gamawan, jika sudah melanggar sumpah tentu sanksinya sangat berat.

Saya yang membaca komentar Mendagri itu hanya bisa ketawa kecut. Apa bedanya Gamawan Fauzi dengan Irwan Prayitno? Mendagri Gamawan Fauzi juga punya kelakuan yang sama dan ini meninggalkan jejak rekam yang buruk bagi rakyat Sumbar. Ketika terjadi gempa hebat di Sumbar pada tanggal 30 September 2009 yang lalu, dia pergi begitu saja meninggalkan korban gempa karena ditawari jabatan Menteri Dalam Negeri oleh Presiden SBY. Tawaran menjadi menteri lebih menggiurkan bagi Pak Gamawan ketimbang melaksanakan tugasnya untuk memimpin Sumbar dalam masa tanggap darurat. Padahal waktu itu gempa telah mamakan korban jiwa ribuan orang dan menimbulkan kerusakan parah di beberapa kota dan kabupaten. Sekarang, apa yang dilakukan oleh Gamawan Fauzi dicontoh oleh Irwan Prayitno. Nah lho.

Saya tidak yakin Mendagri akan menjatuhkan sangsi sanksi kepada Irwan Prayitno? Nanti orang pun akan mempertanyakan apa pula sangsi sanksi buat Mendagri?

Foto-Foto Akibat Tsunami di Mentawai

Bagi orang Sumatera Barat, Mentawai itu adalah tanah yang jauh. Satu provinsi memang, tetapi Mentawai harus ditempuh dengan kapal kecil selama 14 jam menembus Samudera Hindia yang terkadang ombaknya tidak bersahabat. Dari Pelabuhan Muara, Padang, tidak setiap hari ada kapal yang berlayar dari Padang ke Mentawai. Kapal hanya ada dua kali seminggu berlayar ke sana, itupun bisa tertunda jika ombak laut besar. Orang Mentawai menyebut tanah mereka Bumi Sikirei, dan mereka menyebut daratan Sumatera sebagai Tanah Tepi. Suku Mentawai mempunyai kekerabatan dengan suku Nias karena jarak mereka berdekatan. Sebagian penduduknya masih menganut animisme, sebagian lagi beragama Kristen dan sebagian kecil beragama Islam. Sebagai tanah harapan, banyak pendatang dari Tanah Tepi — khususnya orang Minang — yang tinggal di sana sebagai pedagang dan pegawai negeri. Meskipun saya lahir dan besar di Sumatera Barat, namun sekalipun saya belum pernah ke Mentawai.

Saat ini Bumi Sikirei sedang menangis. Tsunami — “monster” laut yang mematikan — setinggi pohon kelapa yang terjadi tiga hari yang lalu telah menghancurkan perkampungan penduduk di Pulau Pagai Selatan. Pulau Pagai terletak paling selatan di antara gugusan Kepulauan Mentawai. Lebih 312 orang tewas dan 500-an orang hilang. Karena jauh dari daratan Sumatera, maka foto-foto akibat tsunami di Mentawai baru diketahui orang dua hari kemudian. Di bawah ini beberapa foto kerusakan parah akibat monster laut yang menakutkan itu. Sumber foto adalah dari kantor berita Antara (dikutip dari sini) dan dari Kompas.com.


Sejumlah penduduk yang selamat berjalan melintasi daerah yang disapu tsunami di Pagai Utara, Kepulauan Mentawai. (AP Photo/Setwapres)


Pandangan udara sebuah desa yang hancur dua hari setelah tsunami menghantam Pulau Pagai, Kepulauan Mentawai, Sumbar, Rabu (27/10).


Sejumlah bangunan di Kampung Bosuwa Desa Betumonga Pulau Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai, hancur akibat gempa dan tsunami, Rabu (27/10/2010).


Sejumlah bangunan di Kampung Bosuwa Desa Betumonga Pulau Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai, hancur akibat gempa dan tsunami, Rabu

Foto-
foto lainnya dalam ukuran besar dapat dilihat di sini.

Kabar Kematian dari Pakar Gempa untuk Warga di Kampung Halaman

Kalau membaca berita di bawah ini (sumber berita dari sini), saya hanya bisa tercenung dan bermenung. Tidak tahu harus berkata apa. Rumah saya di Padang hanya berjarak 2,5 km dari pinggir laut jika ditarik garis lurus ke arah pantai. Ya Allah Tuhan kami, selamatkanlah kampung halaman kami, semoga mimpi buruk itu tidak benar-benar terjadi.

~~~~~~~~~~~~~~

Gempa 8,9 Skala Richter dan Tsunami Ancam Padang
Selasa, 12 Oktober 2010 | 16:45 WIB

TEMPO Interaktif, Padang — Tim 9 yang terdiri dari ahli gempa dan ahli tsunami bentukan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) kembali mengingatkan agar warga Padang, Mentawai, dan pesisir barat Sumatera Barat bersiap menghadapi gempa Megathrust di Pulau Siberut Mentawai dengan kekuatan yang mencapai 8,9 skala Richter dan dapat menimbukan tsunami.

“Kami dari tim sembilan ini rasanya seperti membawa kabar kematian, tetapi hasil kajian ini memang harus disampaikan agar kita bersiap menghadapi bencana,” kata Wahyu Triyoso, pakar gempa yang juga salah satu anggota tim sembilan di Auditorium Kantor Gubernur, Padang, Selasa (12/10).

Hamzah Latif, ahli tsunami memaparkan simulasi tsunami yang bisa melanda Padang dan pesisir sekitarnya jika terjadi megathrust earthquake.

Dalam simulasi terbaru, tsunami bisa menghantam Kota Padang selama 2,5 jam dengan ketinggian 6 meter sejauh 2 kilometer.

“Dengan tsunami seperti itu dan kondisi Kota Padang seperti sekarang, jika tsunami terjadi pada siang hari, kira-kira bisa menimbulkan 150 ribu jiwa, itu yang dihitung manusia bergerak dengan lebar jalan, belum termasuk hambatan lain seperti macet oleh kendaraan, tiang listrik dan bangunan yang roboh,” katanya menerangkan.

Hamzah juga tidak bisa membayangkan jika Kota Padang dihantam tsunami yang akan bisa merusak pelabuhan laut dan udara yang hanya terletak 300 meter dari pantai. Ia membayangkan kota berpenduduk lebih 900 ribu jiwa tersebut akan terisolasi karena jalan darat juga melewati Bukit Barisan.

Ia menyarankan pemerintah pusat dan daerah segera membuat shelter dan jalan evakuasi untuk mengantisipasi ancaman bencana tsunami di Sumatera Barat.

Ahli gempa Danny Hilman Natawijadja dari Laboratorium gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang sudah 20 tahun meneliti gempa di Mentawai mengatakan ancaman gempa di bawah Pulau Siberut atau gempa megathrust sudah di depan mata.

“‘Kapan waktunya, sebenarnya masanya sudah lewat, pelepasan itu sudah dimulai pada saat gempa Mentawai 2007 namun ini baru buntutnya, kini tinggal menunggu bapaknya,” kata Danny Hilman.

Ia mengingatkan pentingnya mitigasi. Ia mengatakan kegiatan mitigasi selama ini sangat kurang dan jauh tertinggal. Namun itu bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia internasional.

“Budayanya yang harus diubah, secara umum di dunia internasional pun belum membudayakan mitigasi, semuanya masih reaktif, setelah terjadi bencana baru datang ramai-ramai melakukan tanggap darurat,” kata Danny.

Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief mengatakan, kurangnya kegiatan penanganan mitigasi bencana alam di sejumlah daerah rawan gempa dan tsunami karena dana mitigasi sangat kurang.

“Ini disebabkan karena Undang-Undang Kebencanaan Tahun 2002 dibuat dalam keadaan darurat saat banyak bencana, jadi yang mengatur tentang mitigasi sangat minim, hanya 2 pasal yang membahas mitigasi,” ujar Andi Arif.

Andi mengatakan bahkan kurangnya dana mitigasi tersebut menyebabkan kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluh. Dari Rp 3 triliun dana bencana yang dikelola BNPB hampir tidak ada dianggarkan untuk kegiatan mitigasi. “Sekarang sudah diusulkan agar 10 persen dari dana tersebut dialokasikan untuk kegiatan mitigasi,” kata Andi.

Ia mengatakan sudah memberikan masukan kepada Presiden dan Presiden sudah mulai menyadari betapa pentingnya mitigasi. “Karena hasil kajian Tim 9 yang mengkaji ancaman bencana di Indonesia, antara mitigasi berbasis scientific berbanding terbalik dengan cost, makin banyak penelitian maka persiapannya makin matang,” ujarnya.

Andi mengatakan, sejak tsunami Aceh Desember 2004 hingga 2009 sebanyak Rp 150 triliun dana APBN terserap untuk penanganan bencana. Itu artinya dalam lima tahun lalu setiap tahun Rp30 triliun tersedot untuk penanganan bencana.

“Dengan memprioritaskan mitigasi mungkin tidak sebesar itu dana habis dan korban gempa-tsunami tidak sebanyak itu,” ujarnya.

Andi mengatakan, hasil kajian pihaknya dan Tim 9 yang terdiri dari para ahli gempa-tsunami memetakan enam provinsi dan 13 kabupaten-kota yang potensial bencana. Di antaranya Sumatera Barat (terutama Padang, Mentawai, dan daerah sekitar), Lampung Barat, Selat Sunda, Pangandaran, dan Yogyakarta.

Gubernur Irwan Prayitno berjanji akan segera membuat perda tata ruang yang baru yang mengatur bangunan harus tahan gempa, shelter-shelter, dan jalan-jalan evakuasi.