Nonton Malam Pagelaran Seni Budaya Minang, UKM-ITB 2012

Minggu malam yang lalu saya hadir kembali untuk menyaksikan pentas kesenian minang yang diselenggarakan oleh mahasiswa-mahasiswa ITB yang tergabung di dalam Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB di Sasana Budaya Ganesha. Pentas seni ini adalah dalam rangka dies unit mereka yang ke-37 pada tahun 2012. Sebagai seorang pemerhati budaya tentu saja saya suka menyaksikan pentas-pentas seni budaya (apa saja) yang diadakan oleh mahasiswa-mahasiswa ITB. Nilai plusnya adalah karena mereka bukan mahasiswa perguruan tinggi seni karawitan, tetapi mereka adalah mahasiswa perguruan tinggi sains dan teknologi, yang sehari-harinya bergelut dengan ilmu eksakta. Disela-sela waktu kuliah mereka menyempatkan diri bergabung dan berlatih seni dan budaya daerah, salah satunya seni budaya minang. Hidup di kampus ITB memang tidak hanya otak saja yang dilatih, tetapi rasa dan karsa juga harus diperhalus agar lulusan ITB nantinya menjadi manusia yang berjiwa lembut disamping perannya sebagai seorang saintis dan enjinir. IQ, EQ, dan ESQ memang harus dilatih secara bersamaan agar hidup ini seimbang.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, malam pegelaran seni budaya minang yang diselenggarakan oleh UKM-ITB ini selalu ditunggu-tunggu oleh mahasiswa dan perantau minang di Bandung. Terbukti tiket pagelaran sudah sold-out empat hari sebelum pertunjukan. Masih ratusan orang lagi yang masuk daftar tunggu tiket. Informasi penjualan tiket melalui jejaring sosial (facebook dan twitter) sangat efektif membuat tiket habis terjual dalam waktu yang singkat. Sayang ya auditorium Sabuga hanya digunakan seperempat saja, kalau digunakan setengah lingkaran (ukuran audiorium yang sebenarnya yang dapat menampung 4000 orang), mungkin calon penonton yang tidak kebagian tiket bisa terakomodasi. Btw, penonton tidak hanya orang Minang saja, banyak juga saya bertemu mantan mahasiswa saya asal Jawa yang tertarik dengan acara keseniang minang ini.

Memasuki ruang audotorium Sabuga kita sudah disambut dengan lorong pelaminan yang dijaga oleh anak daro dan marapulai. Pegelaran budaya ini memang diset sepeti perhelatan sehingga dekorasinya seperti orang baralek saja.

Penonton berfoto bersama penerima tamu yang berpakaian pengantin adat minangkabau.

Seperti pagelaran seni tahun-tahun sebelumnya, pagelaran seni yang dibuat oleh adik-adik mahasiswa UKM-ITB tahun ini tidak jauh dari pakem , yaitu cerita drama klasik yang diselingi dengan musik dan tari-tarian tradisionil Minangkabau. Sebagai orang yang rutin menonton acara ini setiap tahun saya tidak melihat ada yang baru atau yang membuat surprise. Sepertinya ada keengganan bagi adik-adik mahasiswa untuk membuat sesuatu yang baru yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Toh acara puncak dies Unit Kegiatan Mahasiswa tidak harus berupa pegelaran cerita drama, bisa juga berupa bentuk lain seperti festival lagu minang yang finalnya pada malam dies. Tari-tarian dan musik talempong bisa dipakai untuk meramaikan acara. Kalau tidak ada tarian minang dan musik talempong memang hambar rasanya.

Seperti biasa pembukaan acara selalu dimulai dengan Tari Galombang Pasambahan. Mereka menarikannya dengan manis dan apik. Betul-betul rancak.

Tari Galombang Pasambahan

Ceritra drama kali ini adalah kisah masa lalu yang bercerita tentang seorang lelaki dan gadis minang yang saling jatuh cinta. Diantara kisah cinta itu ada prahara dan aneka pergulatan yang bertujuan untuk membuat cerita menjadi dramatis, diselingi lawakan beberapa pemain pendukung untuk membuat gelak tawa penonton. Seperti jamak cerita hitam-putih, yang baik yang akan menang dan yang jahat yang akan kalah. Tidak penting benar jalan cerita itu bagi penonton, sebab yang ingin dinikmati adalah hiburan mata dan telinga berupa pertunjukan yang rancak, tarian yang bagus, pakaian yang indah, dan musik yang enak.

Pertarungan pencak silat di dalam cerita drama

Seperti yang saya duga, tarian yang dibawakan tidak banyak dan sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu Tari Rantak, Tari Kipeh Marawa, Tari Indang, dan Tari Piring (Manggaro). Belum ada tarian baru nih. Untunglah para penari memainkan tari dengan pas dan ciamik.

Tari Kipeh Marawa

Tari Indang

Tari Piriang Manggaro

Gerakan Tari Piriang Manggaro yang lain

Pujian saya berikan pada Tari Indang dan Tari Piring Manggaro yang benar-benar heboh. Kapan-kapan Tari Piriang Manggaro ini jangan ditampilkan pada bagian akhir, tetapi pada bagian awal acara untuk “membius” dan memikat penonton agar tetap betah duduk. Pakem tarian yang biasa-biasa saja lalu berakhir dengan tari pemuncak bisa dibalik, yaitu tari yang heboh dulu di awal, yang biasa-biasa di tengah, dan yang heboh berikutnya sebagai penutup. Misalnya Tari Piriang Manggaro di awal, lalu Tari Piriang klasik yang menginjak-injak kaca sebagai penutup. Tari piriang sempat saya rekam videonya, insya Allah akan saya berikan tautannya di web saya.

Seluruh penari dan pemain menutup acara dengan manis

Beberapa hal lain yang mencuri perhatian adalah opening art berupa video persiapan panitia yang bagus, dan closing art yang kocak. Bagus deh, sayang sekali saya lupa memotretnya.

Okay, students, anda sudah melakukan yang terbaik, sudah bekerja keras dan berlatih selama berbulan-bulan, two thumbs up buat anda. Semoga tahun depan anda dapat membuat acara menarik dan lebih bagus lagi dari tahun sekarang. Asah terus kreativitasmu dan jangan takut membuat sesuatu yang baru dan beda.

Nonton Pagelaran Kesenian Minang dari UKM-ITB di Sabuga

Jumat malam yang lalu saya menghadiri acara pagelaran seni budaya minang yang diselenggarakan Unit Kesenian Minang (UKM) ITB. Ini untuk kesekian kalinya saya hadir. Sejak dulu sejak masih mahasiswa hingga menjadi bapak-bapak seperti sekarang ini saya tidak pernah melewatkan pertunjukan dari UKM. Menyaksikan pertunjukan seni budaya sudah menjadi hobi saya sejak dulu, tidak melulu seni budaya minang saja. Kebetulan di ITB terdapat banyak unit kesenian yang berbasis kedaerahan, mulai dari Aceh hingga Papua. Mungkin yang belum ada di ITB adalah unit kesenian dari Maluku, NTT, NTB, Sulawesi Utara/Tengah/Tenggara/Barat, Kalimantan (semua provinsi), dan Bengkulu. Penyebabnya karena mahasiswa dari daerah tersebut sangat minim jumlahnya di ITB atau bahkan tidak ada. ITB belum bisa disebut “kampus nusantara” karena belum semua daerah punya mahasiswa di sini. Barangkali hanya IPB Bogor dan STPDN yang bisa disebut kampus nusantara.

FYI, minggu lalu ada tiga unit kesenian yang menyelenggarakan pagelaran seni budaya di dalam kampus, yaitu Unit Kesenian Melayu Riau (UKMR), Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan (Jawa) PSTK, dan Unit Kesenian Minang (UKM). Saya yang sangat berkeinginan melihat pagelaran seni melayu dari UKMR patut merasa kecewa karena tidak bisa datang disebabkan badan sedang kurang sehat. Semoga tahun depan saya bisa menonton pertunjukan seni melayu, karena saya penggemar lagu-lagu melayu, terutama bila mendengar ritmik musik melayu dari akordion.

Kembali ke acara pegelaran budaya minang dari UKM ITB ini. Kita langsung ke TKP saja, di Gedung Sabuga ITB yang besar dan megah itu. Olala, hujan deras yang mengguyur kota Bandung sejak sore membuat acara terpaksa ngaret. Acara yang seharusnya dimulai pukul 19.00 terpaksa diundur pukul 19.30 karena menunggu tamu penting (mungkin saya salah satunya, ha..ha). Meskipun hujan deras, tetapi kondisi ini tidak menyurutkan penonton untuk datang memenuhi gedung Sabuga. Ruang pertunjukan yang hanya seperenam lingkaran itu penuh sesak dengan penonton yang rata-rata mahasiswa minang di Bandung, alumni, dan dan perantau. Percaya apa tidak, meskipun beberapa kampus PTN/PTS di Bandung sudah mempunyai unit budaya minang seperti yang ada di Unpad, ITTelkom, Itenas, UPI, dan lain-lain, namun pertunjukan dari UKM ITB tetap dinanti-nanti. Mungkin karena UKM ITB ini adalah perintis unit kesenian minang di kampus, usianya sudah tua sebab ia berdiri sejak tahun 1976.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pagelaran kali ini tipikal dan tidak jauh berbeda dengan yang sudah-sudah. Ada cerita yang diselingi tari, randai, dan musik talempong, saluang, dan bansi. Sepertinya pakem bahwa selalu ada cerita/drama tidak bisa dihilangkan. Oh ya cerita kali ini tentang mesin waktu yang melontarkan mahasiswa ITB ke ranah Minang pada tahun 1930-an. Dari kacamata penonton, menurut saya cerita sebenarnya tidak penting benar, yang penting adalah inti kesenian minang itu sendiri, yaitu musik tradisionil, tarian, randai, dan lagu-lagu. Yang tetap sama dengan pertunjukan tahun-tahun sebelumnya adalah tarian yang — menurut saya — selalu itu-itu saja.

Tahun ini UKM ITB agak “pelit” mengeluarkan tarian, hanya ada 5 tarian yaitu tari galombang, tari saputangan, tari (lupa lagi namanya), dan tari piring (CMIIW). Mungkin yang “agak menolong” adalah tari piring yang memang sudah jadi menu wajib pada setiap pagelaran UKM, namanya tari “piring manggaro”. Pada jenis tari piring ini, tidak ada adegan menginjak-injak beling seperti pada tari piring klasik.

Karena selalu menonton pagelaran ini dari tahun ke tahun, tentu saya dapat menilai apakah pertunjukannya luar biasa, bagus, biasa-biasa saja, atau kurang bagus. Secara umum pertunjukan tahun ini saya nilai biasa-biasa saja. Alur cerita yang ditampilkan terkesan datar dan nyaris serius. Penonton tampak bosan disuguhi cerita yang monoton. Pada akhir cerita Pak Datuk terkesan menceramahi/menggurui. Ending ceritanya kurang bagus, agak tanggung gitu. Koloborasi dengan unit-unit kesenan lain (UKMR, LSS, MGG, UKSU) ternyata hanya pada musik penutup saja. Saya kira unit-unit ini tampil di tengah acara dengan paduan musik talempong, misalnya rampak gendang diiringi talempong, atau tari Bali dengan paduan gamelan dan bansi, dan sebagainya. Ternyata bukan (agak kecewa sih).

Yang membuat saya salut pada pagelaran kali ini adalah digunakannya internet untuk live streaming. Jadi, bagi orang yang tidak sempat datang atau berada di negeri jauh seberang, mereka tetap bisa menyaksikan acara ini melalui video streaming pada URL: http://ukm.itb.ac.id/livepagelaran/. Live streaming ini adalah hasil kerjasama dengan USDI (Unit Sumber Daya Informasi) ITB. Sebagai sebuah kampus teknologi memang sudah sepantasnya mahasiswa ITB memanfaatkan teknologi untuk memaksimalkan acara pertunjukan.

Dengan menyediakan live streaming tentu cakupan penonton lebih luas lagi. Cuma ada kelemahannya, yaitu interpretasi dari penonton yang bukan dari ITB bisa bermacam-macam. Para perantau yang rindu dengan kampung halaman tentu berharap sebuah pegelaran seni budaya yang mereka harapkan dapat mengobati lapeh taragak, namun kenyataanya tidak demikian. Ini tampak dari komentar-komentar di milis RantauNet yang saya baca sebagai berikut:

“Cuima sayangnyo … MC nyo kebanyakan omong … jadi ndak jaleh pulo, apakah “kesenian” = ngomong melulu?
he he, Jadi latiah awak manonton. Jadi batutuik sajo baliak web tu …”

“Hehe, mungkin ekspektasi ambo nan salah. Mambaco subject “…Pagelaran Kesenian Minangkabau” nan tabayang dek ambo tadi malam tu ka manonton urang banyanyi, manari, saluang, randai”

“Anggap se anak kamanakan awak nan jadi MC tu sadang latihan utk jadi MC maso depan. Kalau anak sikola kan wajar kalau alun profesional.”

Mungkin untuk tahun-tahun yang akan datang perlu dipikirkan kembali pagelaran kesenian minang yang benar-benar menampilkan kesenian minang yang diharapkan banyak orang. Kreativitas mahasiswa perlu digali lagi. Tetap semangat ya, semoga sukses untuk tahun depan.

Mengikuti Acara “Baralek” di Rantau

Meskipun jauh dari kampung halaman, banyak orang Minang di perantauan yang menikahkan anak gadisnya tetap mempertahankan adat Minangkabau dalam acara baralek (perhelatan, kenduri). Seperti tadi siang, saya menghadiri acara baralek anak teman saya di gedung resepsi dekat Bandara Husein, Bandung (dulu satu SMA di Padang, tetapi anaknya sudah gedeee, maklum dia menikah pas tamat SMA). Nah, acara baralek teman saya ini cukup lengkap, selain pelaminan dan pakaian pengantin yang berbusana Padang, dia juga menyewa tim kesenian Minang yang membawakan Tari Galombang dan Tari Piriang. Jarang-jarang saya melihat penampilan tim kesenian Minang dalam acara baralek, maklumlah saya kebanyakan menghadiri acara kenduri orang lain yang menggunakan adat Sunda, Jawa, atau tatacara Islami (tanpa adat budaya). Berikut beberapa foto acara baralek yang berhasil saya abadikan:

1. Rombongan pengantin baru saja datang ke gedung resepi

2. Rombongan pengantin berjalan diiringi oleh rombongan pemuda yang membawa talempong tabuh

3. Rombongan pengantin disambut dengan Tari Galombang

4. Tim musik tradisionil talempong, talempong itu semacam gamelan namun irama bunyinya berbeda dengan gamelan

5. Raja dan ratu sehari di pelaminan pink

6. Penampilan Tari Piriang di depan penganten

7. Full color…, begitulah warna-warni budaya Minang

8. Dimanakah saya?

Wah, saya ingin juga nanti kalau anak menikah menggunakan adat Minang ini pada acara resepsinya. Tim keseniannya cukup dari Unit Kesenian Minang (UKM) ITB saja.

Sesama “Urang Awak” tetapi Pakai Bahasa Indonesia

Kalau bertransaksi dengan pedagang “urang awak” (sebutan buat suku Minang di rantau), saya lebih suka pakai Bahasa Indonesia saja. Saya agak kapok kalau pakai bahasa kampung sendiri, alias bahasa Minang. Ini berdasarkan pengalaman saya berbelanja ke Pasar Baru Bandung, yang notabene pedagangnya kebanyakan urang awak. Waktu itu saya membawa keluarga yang datang dari Padang hendak berbelanja. Ketika tahu pegawai toko itu urang awak, saudara saya lalu menawar pakai bahasa Minang. Apa yang terjadi? Pegawai toko itu tetap berbicara dalam Bahasa Indonesia, bahasa Indonesia logat Minanng yang khas, gitu. Saya sudah katakan, pakai bahaso awak se lah da, tetapi dia tetap bergeming, tetap keukeuh (ini bahasa Sunda) pakai bahasa Indo.

Tidak sekali dua kali pengalaman saya bertemu dengan pedagang urang awak yang perilakunya seperti itu. Maksud hati pakai bahasa Minang supaya lebih akrab, eh malah pedagangnya terlihat kurang senang. Kalaupun dia membalas pakai bahasa Minang terkesan agak terpaksa dan agak kurang ramah melayani. Lama saya berpikir kenapa begitu, akhirnya saya ketemu jawabannya dari teman. He..he, ternyata pedagang urang awak itu enggan memakai bahasa Minang karena khawatir pembelinya yang sesama urang awak itu minta harga lebih murah. Ya ampuuunnn…., kok begitu sih, padahal niat berbicara dengan bahasa Minang ya itu tadi, supaya terkesan akrab saja karena sama-sama sekampuang, tetapi keakraban itu disalahartikan oleh pedagang karena ingin minta murah. Barangkali para pedagang itu pernah punya pengalaman dimana pembeli yang kebetulan urang awak merayu-rayu minta harga lebih murah dengan alasan samo-samo sakampuang, masak samo-samo urang awak harga dimahalkan. Gitu kali….

Agak berbeda saya perhatikan dengan perantau Jawa. Bagi orang Jawa di Bandung, jika pembelinya orang Jawa juga dan berbicara pakai bahasa Jawa, maka pedagangnya terlihat sangat senang melayani, mereka akan saling berbalas bahasa Jawa seolah-olah pedagang itu sudah lama tidak ketemu dengan orang Jawa. Padalah kota Bandung ini di Pulau Jawa juga, hanya saja Jawa Barat tidak dianggap Jawa. Jawa itu adalah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Coba deh anda makan soto Jawa Timur di Pasar Simpang Dago, lalu ada pembeli yang kebetulan mahasiswa asal Jawa sudah selesai makan dan akan membayar. Dia menanyakan berapa seluruhnya yang harus dia bayar untuk soto tadi (dalam bahasa Jawa tentunya), maka si pedagang dengan semangat menjawabnya dalam bahasa Jawa juga. Kadang-kadang si pedagang menanyakan asal si pembeli, jawane ndi, mas? (maksudnya, Jawanya di mana, mas), dan sebagainya, dan sebagainya. Tidak ada kesan memakai Bahasa Jawa itu supaya harga sotonya bisa lebih murah, he..he (padahal nasi soto lima ribu rupiah itu sudah sangat murah).

Di Bandung ini ada ratusan ribu perantau Minang beserta keturunannya. Cukup banyak juga jumlah itu, maklum Bandung dekat dengan kota Jakarta yang menjadi tujuan utama para perantau. Sebagian besar mereka berprofesi sebagai pedagang, mulai dari pedagang kaki lima hingga yang mempunyai toko permanen seperti di Pasar Baru, ITC Kebon Kelapa, Pasar Palasari, dan masih banyak lagi. Kalau tidak jadi pedagang ya jadi pengusaha rumah makan padang, mulai dari rumah makan kaki lima hingga restoran besar yang sudah punya nama. Tiap satu kilometer pasti ada saja rumah makan padang. Tidak susah bagi urang awak yang selera fanatiknya tidak bisa makan dengan masakan Sunda mencari makan di sini. Oh iya, selain pedagang dan usaha rumah makan, ada lagi profesi yang lain, yaitu membuka usaha photo copy. Bisnis photo copy di Bandung berkembang pesat karena Bandung adalah kota pelajar, banyak perguruan tinggi terdapat di sini.

Ikatan perantau di antara urang awak sangat kuat, terbukti di Bandung ini banyak organisai perantau yang berbasiskan kampung/nagari, misalnya ikatan perantau dari Solok, dari Payakumbuh, dari Pariaman, dari Bukittinggi, dan sebagainya. Meskipun banyak populasi urang awak di bandung, tetapi kalau sudah urusan bisnis mereka memang tidak mau membeda-bedakan antara pembeli urang awak dengan pembeli etnis lain. Bisnis ya bisnis, man, kalau urusan nostalgia kampung halaman bukan pada urusan jual beli, tapi setelah selesai transaksi saja. Barulah setelah itu mereka dengan hangat berbagi cerita tentang asal kampung dan sebagainya.

Oke, oke, paham sekarang. Saya memakai bahasa Minang lihat-lihat situasi saja. Kalau makan di rumah makan padang, yang melayani saya belum tentu urang awak. Bisa jadi pemilik rumah makan padang itu memang urang awak, tetapi para pegawainya belum tentu urang awak. Saya pakai bahasa Indonesia saja, pasti pegawainya tidak akan mengerti kalau saya bertanya ini dan itu dalam bahasa Minang. Nanti waktu membayar saja kita dilayani oleh pemiliknya yang urang awak itu, barulah kadang-kadang saya pakai bahasa Minang, tetapi lebih banyak pakai Bahasa Indo saja. Tetapi jika bertransaksi dengan pedagang kaki lima atau pedagang di Pasar Baru, saya lebih suka pakai Bahasa Indo saja. Ogah dikira minta harga lebih murah, he..he.

Nonton (lagi) Pagelaran Seni Budaya Minang di Kampus

Minggu lalu saya menyempatkan diri menonton pageleran kesenian minang yang diadakan oleh Unit Kesenian Minang (UKM) ITB. Pada malam minggu yang cerah di kota Bandung, gedung Sabuga sudah penuh sesak dengan penonton yang rata-rata mahasiswa itu. Selain itu banyak juga alumni, orang-orangtua dan perantau minang yang hadir. Katanya 3 hari sebelum pertunjukan karcis sudah terjual sold out. Benar-benar tinggi ekspektasi dan apresiasi orang terhadap pertunjukan UKM ini. Saya pun datang dengan harapan yang besar: berharap pertunjukan seni yang bagus.

Karena setiap tahun saya selalu menonton pagelaran UKM ini, tentu saya bisa membandingkan kualitas pertunjukan dari tahun ke tahun. Menurut saya pertunjukan tahun ini indak talalu rancak, kurang bagus dibandingkan dengan tahun-tahun lalu. Agak kecewa juga sih. Teman saya yang saya ajak datang juga berkomentar yang sama. Entahlah bagi penonton yang lain atau bagi yang baru pertama kali menonton. Menurut pengamatan saya format pertunjukan selalu tidak pernah keluar dari pakem drama minang yang diselingi dengan musik, tari-tarian, dan randai. Tidak ada keberanian bagi anak-anak muda di UKM ITB untuk melakukan terobosan yang berbeda dengan menggelar pertunjukan yang unik dan khas setiap tahun. Kreativitas adalah kata kunci untuk pertunjukan seni.

Drama kali ini mengambil setting gempa bumi yang terjadi di Tiku, Pariaman, pada tahun 1920, seolah mengingatkan peristiwa gempa besar yang melanda Sumatera Barat pada tahun lalu. Seperti biasa, dalam alur cerita selalu ada kelompok hitam dan kelompok putih, lalu pertarungan antara kelompok hitam dan kelompok putih itu. Mudah ditebak, kelompok putih menang dan cerita pun berakhir happy ending. Beberapa tarian ditampilkan dalam alur cerita, tapi sayangnya tarian yang ditampilkan masih itu-itu saja, tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya (jadi kangen mau lihat tari klasik seperti tari payung, tari sapu tangan, dll :-) . Supaya drama tidak terlalu serius, maka di dalam cerita ada adegan lawakan (ota maota bagarah-garah) untuk memancing tawa penonton, cuma sayangnya lagi lawakannya garing dan cendrung slapstick (dibuat-buat). Membosankan memang, apalagi pemain yang melawak ini tampil berkali-kali sehingga diteriaki huuuu… oleh penonton.

Pertunjukan drama diakhiri dengan tari piring yang dramatis. Disebut dramatis karena diakhir tarian para penari pria menginjak-injak pecahan beling yang tajam sambil memecahkan piring yang ada di tangan. Eh, saya lihat salah seorang penari telapak kakinya terluka akibat menginjak pecahan piring itu.

Untunglah pertunjukan terbantu oleh penataan yang apik, busana yang menawan, musik yang hidup, dan penggunaan sarana multimedia untuk memberi kesan megah. Semoga tahun depan lebih bagus lagi ya.

Memasak Rendang

Hari Senin kemaren tanggal merah, kami di rumah memasak randang (di sini dikenal dengan nama rendang padang). Kebetulan ada persediaan daging beku di freezer, dan kebetulan pula kami sudah lama tidak memasak rendang di rumah. Memasak rendang sendiri dilatari ketidapuasan dengan rendang yang dijual di beberapa rumah makan padang di Bandung ini, sebab rasanya berbeda dengan yang di kampung aslinya. Nah, memasak sendiri rendang kenapa tidak? Kebetulan hari libur pula.

Untuk memasak rendang, saya tidak perlu repot-repot membuat bumbunya. Di Bandung ada beberapa pedagang urang awak di pasar tradisionil yang menjual aneka bumbu masakan olahan. Mereka umumnya berjualan di deretan pedagang yang menjual kebutuhan dapur seperti sayur mayur, daging, dan kelapa. Ciri khas pedagang ini adalah baskom-baskom yang penuh dengan bumbu yang sudah dihaluskan seperti cabe, laos, kunyit, jahe, bawang merah, bawang putih, kemiri, dan sebagainya. Kita tinggal pesan mau masakan apa, maka pedagang bumbu ini siap meracik bumbu masakan dengan mencampurkan aneka bumbu tadi. Mau buat gulai ayam, rendang, opor, semua ada. Mau untuk daging sekilo, dua kilo, mau pedas, super pedas, tergantung selera. Harganya murah, sekitar lima ribu rupiah saja untuk masakan dengan daging satu kilo.

Kedai bumbu favorit saya adalah Kedai Buyung, terletak di lantai basement Pasar Kosambi Bandung. Kita dilayani oleh Uni yang berbadan gemuk. Uni penjual bumbu adalah istri Pak Buyung pemilik kedai itu. Saya membeli bumbu rendang di sana untuk satu kilo daging sapi. Pedas, pasti itu. :-)

Bumbu rendang tergolong lengkap dan rumit, ada bawang putih, bawang merah, cabe, kunyit, jahe, laos, lengkuas, ketumbar, garam, daun kunyit, daun limau (jeruk), dan daun sereh (serai), dan masih ada lagi yang kecil-kecil. Enak tidaknya masakan rendang bergantung pada kelengkapan bumbu tadi dan komposisinya. Uni yang menjual bumbu di kedai Buyung sudah terampil dengan komposisi bumbu rendang yang enak. Jadi, anda tidak usah khawatir.

Daging sapi sudah ada di rumah, kami cukup membeli kelapa parut saja. Daun-daun penyedap rasa seperti sereh (sarai) dan daun limau (jeruk) ada di pekarangan rumah, jadi saya tidak perlu repot mencari lagi. Kalau tidak ada, di tukang sayur yang lewat depan rumah pasti menjual daun bumbu ini.

Yup, kami mulai memasak rendang. Kelapa parut diperas santannya. Lalu, campurkan bumbu yang dibeli di kedai tadi ke dalam santan sampai tercampur sempurna, jangan lupa daun-daun penyedap tadi dimasukkan ya. Panaskan campuran santan tadi hingga mendidih, jangan lupa terus diaduk agar santannya tidak pecah, baru kemudian masukkan potongan daging sapi.

Di kampuang asalnya, rendang ada yang polos dan ada yang dicampur dengan kacang atau kentang kecil-kecil seukuran kelereng. Anak saya lebih suka kacangnya daripada dagingnya, sehingga saya tambahkan satu kilo kacang putih (di Bandung disebut kacang ndul). Jadi, jangan heran kalau nanti hasil akhirnya kelihatan lebih banyak kacang daripada dagingnya.

Bergantian dengan istri, kami sesekali mengaduk-aduk masakan rendang yang belum jadi ini. Memasak rendang tidak sulit, yang penting ada kesabaran dan waktu yang cukup. Memasak rendang memerlukan waktu lama, kira-kira empat hingga lima jam. Jadi, kita harus siap berdiri dekat kompor selama waktu itu. Filosofinya ya kita harus sabar menjalani hidup ini, hidup itu seperti memasak rendang, he..he..

Sambil mengaduk-aduk masakan rendang, ingatan saya pun melayang ketika masa-masa masih kuliah dulu….

**************

Ketika menjadi mahasiswa, masih muda dan masih lucu-lucunya :-) , ibu saya sering mengirim rendang dari Padang ke Bandung melalui jasa Titipan Kilat (sekarang Tiki). Hampit semua teman kuliah saya yang satu daerah pasti pernah dikirimi rendang dari ibunya. Rendang seakan lauk-pauk wajib yang harus dibawa kalau seseorang pergi merantau jauh, entah untuk sekolah, kuliah, berdagang, naik haji, dan sebagainya. Tidak lengkap bepergian jauh tanpa membawa rendang.

Bagi kami mahasiswa kosan di Bandung, seakan para ibunda tahu para anaknya di rantau mungkin sulit makan, kurang gizi, dan sebagainya, maka kiriman rendang dari kampuang adalah obat pelepas rindu pada masakan di rumah sendiri sekaligus perbaikan gizi. Rendang yang dikirim tentu adalah rendang yang warnanya hitam, yaitu jenis rendang kering yang bisa awet hingga waktu satu bulan. Biasanya ibu saya mengirim rendang dalam kaleng, di atas tutup kaleng ada tulisan begini: Setelah dibuka, langsung dipanaskan. Maksudnya supaya tidak jamuran dan bisa lebih awet lagi. Untunglah di tempat kos ada kompor, jadi tinggal dipanaskan sebentar. Kiriman rendang dari kampung lumayan mengirit pengeluaran makan sebab saya cukup membeli nasi putih saja.

Tentu bosan setiap hari makan dengan rendang terus, yaah tidak setiap harilah rendangnya dimakan, sekali-kali saja sampai akhirnya habis dalam waktu dua minggu. Masakan ibu adalah pengikat tali batin antara anak dengan keluarganya. Jadi, kiriman rendang itu adalah barokah, tidak boleh disia-siakan.

*************

Upss… jangan terlalu lama melamun. Akhirnya, masakan rendang kami sudah hampir matang. Sudah empat jam nih, minyak kelapanya sudah banyak keluar, warna masakan sudah menjadi coklat. Sampai di sini, masakan setengah rendang ini dinamakan kalio randang. Ini dia fotonya:

DSC00587

Hi..hi.. kalio randang buatan kami lebih banyak kelihatan kacang daripada dagingya. Maka, kami sebut saja ini randang dagiang kacang.

Beberapa rumah makan padang yang “tidak sabaran” memasak rendang, menghidangkan rendang dalam bentuk kalio saja. Hmm.. sebenarnya rendang dalam bentuk kalio belum terlalu mak nyus, dagingya belum terlalu empuk, kalau mereka mau bersabar teruskan beberapa jam lagi hingga menjadi rendang yang sempurna. Tapi ini juga terkait masalah selera tampaknya.

Ketika rendang sudah mencapai tahap kalio, maka api kompor dimatikan, Biarkan kalio randang ini dingin agak beberapa jam supaya uap airnya mengering dan bumbu meresap ke daging.

Setelah didiamkan beberapa jam, api kompor dihidupkan lagi. Kalio randang sekarang dikeringkan hingga minyaknya tidak ada lagi. Sesekali aja diaduk bolak-balik agar rendang menjadi kering. Sampai di sini, dihasilkan rendang yang warnanya coklat tua. Hmmm… tadinya satu kuali penuh santan dan bumbu, sekarang tinggal sepertiga saja. Satu kilo daging, satu kilo kelapa, satu kilo kacang ndul, dihasilkan rendang yang bobotnya kira-kira satu kilo. Dua kilo lagi menguap menjadi uap air. Ini dia fotonya:

DSC00590

Kalau ingin menjadi rendang hitam, panaskan terus kira-kira satu hingga dua jam lagi sehingga menjadi rendang kering yang tahan lama. Capek juga ya… tetapi rendang buatan sendiri tentu lebih enak daripada rendang yang dibeli di rumah makan padang.

*************

Tidak percuma sejak mahasiswa saya suka memasak hingga sekarang. Laki-laki tidak perlu malu memasak, memasak bukan masalah feminimitas atau maskulinitas, tetapi hal ini terkait hobi dan kegemaran.

Di Jakarta, ada perantau urang awak yang mempunyai bisnis rendang kantoran. Mereka menerima pesanan rendang untuk teman-teman sekantor. Karena enak, maka rendang buatan mereka tersebar dari mulut ke mulut menjadi promosi gratis sehingga pesanan pun membanjir. Baca kisah lengkapnya dengan mengklik tulisan ini: Bisnis Rendang Orang Kantoran. Menarik sekali.

Hmmm… pernah terlintas dalam pikiran saya, andai nanti saya sudah tidak terpakai lagi menjadi guru mahasiswa (pensiun maksudnya :-) ), ingin juga saya membuka usaha rendang kantoran semacam itu. Tapi itu ‘kan nanti, apa nanti masih punya tenaga atau tidak. Yang jelas, nikmati dulu rendang yang dibuat tadi. Ayo ambil nasi….

Nonton Malam Pagelaran Seni Budaya UKM 2009

Hari Minggu siang saya ketemu Catra, mahasiswa Teknik Mesin Angkatan 2006, di Sabuga (baru kali ini saya ketemu muka sama kamu, Cat, biasanya cuma di blog). “Pak, mana ulasannya di blog tentang malam pagelaran UKM?”, tanya si Catra ini. He..he, sepertinya ‘wajib’ bagi saya untuk menulis setiap kali pertunjukan UKM ya, Cat. Memenuhi permintaan Catra, saya tuliskan hasil pandangan mata tentang malam pagelaran seni budaya Unit Kesenian Minang ITB tanggal 25 April 2009.

Malam itu saya datang dengan anak saya, untunglah acara belum dimulai (semoga bukan karena menunggu kedatangan saya ya). Secara tidak sengaja di sebelah saya duduk Dirut Excelcomindo (XL), Pak Hasnul. Pak Hasnul yang urang Bukittinggi dan pernah menjadi Dirut PT Indosat itu ternyata orangnya mungil :-) . Biar mungil tapi cerdas, karena itulah alumni Elektro ITB ini dipercaya menjadi dirut Indosat, salah satu BUMN besar.

Secara umum, malam pagelaran budaya UKM tahun ini tidak berbeda dengan format acara tahun-tahun sebelumnya. Acara dikemas berupa drama Minang yang dibaluti dengan aneka tarian dan musik tradisional talempong, saluang, dan pupuik sarunai. Penonton membludak memenuhi Sabuga. Padat, malah luber ke lantai dasar panggung. Diperkirakan jumlah penonton mencapai 2000 lebih. Penonton tidak hanya anak-anak muda (mahasiswa rantau), tetapi juga orang-orang tua yang ingin melepaskan rasa lapeh taragaknyo dengan kampuang halaman. Sepertinya pertunjukan UKM ITB selalu mempunyai daya pikat, terbukti yang datang tidak hanya urang awak, tetapi juga mahasiswa non-Minang lainnya. Dari ukuran jumlah penonton, boleh dibilang penonton pertunjukan UKM ITB adalah nomor 2 terbanyak setelah unit Ludruk ITB.

Di bawah ini satu foto hasil jepretan kamera ponsel, sayang tidak terlalu jelas karena lupa memakai modus malam.

dsc00448

Secara umum pertunjukan kali ini berhasil memuaskan penonton. Dukungan peralatan multimedia membuat aura pertunjukan terasa megah. Layar di sisi panggung membantu penonton yang tidak mengerti Bahasa Minang untuk mamahami jalan cerita, dengan menayangkan teks dalam Bahasa Indonesia untuk menjelaskan apa yang terjadi. Meski demikian pertunjukan kali ini tetap tidak bebas kritik. Ada beberapa kekurangan yang saya perhatikan. Pertama, pertunjukan terlalu panjang sehingga baru selesai pukul 23.15 WIB (anak saya sampai ketiduran di kursi, tak kuasa menahan kantuk, he..he). Penyebab panjang adalah karena ada adegan yang memakan waktu berlebihan, yaitu adegan bagarah-garah (banyolan) 1 dan adegan bagarah-garah 2 (saya mencatat 2 jam untuk kedua scene ini). Mungkin pemain bagarah-garah ini terlalu tersanjung karena banyolannya berhasil mengocok perut penonton sehingga mereka semakin semangat untuk terus maota lamak.

Kedua, nah ini dia, soal tari. Hampir semua tarian adalah kreasi baru, termasuk tari piriang nan legendaris itu. Sayangnya, karena terlalu banyak dimasuki unsur kreativitas, akhirnya keluar dari pakem. Padahal, penonton yang datang tidak hanya anak muda, tetapi juga para orangtua yang rindu melihat tarian yang masih klasik (asli). Oh ya, tarian yang dikeluarkan gerakannya nyaris seragam, jadi terasa agak menjemukan.

Yah, mudah-mudahan pertunjukan tahun yang akan datang lebih bagus dan lebih menarik lagi untuk semua kalangan.

Menemukan “Palai Bada” di Bandung

Secara tidak sengaja saya menemukan samba masakan kampuang yang jarang ditemukan di perantauan, yaitu palai bada. Sebuah gerobak warung makan sederhana di dekat tempat ngetem bis DAMRI di Jalan Dipati Ukur (depan Kampus Unpad), menyediakan palai bada itu. Warung makan Mande Kanduang namanya. Tidak setiap hari warung makan itu menyediakan palai. Jarang-jarang ada rumah makan Padang perantauan, termasuk di Padang sendiri, yang menyedian masakan urang kampuang seperti ini. Waktu saya ke warung itu cukup kaget juga melihat ada beberapa palai bada di atas meja.

Palai adala istilah umum untuk masakan Minang yang dibungkus dengan daun pisang kemudian dibakar di atas bara api. Mirip pepes lah kalau di Bandung. Lauk yang biasa dipalai adalah ikan (sehingga namanya palai ikan), meskipun ada juga yang mempalai ayam. Lauk yang akan dipalai dibalur dengan parutan kelapa yang sudah dibumbui dengan aneka bumbu seperti bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, dan jahe. Perasan jeruk nipis ditambahkan untuk membuat bumbu-bumbu tadi harum. Ikan yang sudah dicampur dengan parutan kelapa tadi lalu dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus. Setelah pengukusan, masakan tadi masih perlu dibakar di atas bara api untuk menciptakan sensasi harum.

Nah, samba palai (bukan sambal lho, samba adalah istilah Minang untuk masakan lauk pauk atau sayuran yang dimakan dengan nasi) yang saya temukan adalah palai bada. Bada adalah sebutan untuk ikan teri, baik teri dari danau maupun teri dari laut. Palai bada ini enak dimakan dengan nasi yang masih panas, ditemani dengan sambal lado (nah ini beneran sambal) dan rebusan daun singkong atau lapap ketimun. Sudah lamaaaa saya tidak makan nasi dengan palai bada ini. Duluuuu waktu masih di Padang, ibu saya cukup sering memasak palai ikan. Kalau sudah makan dengan palai ikan, makan jadi batambuah dibauatnya.

Ini fotonya:

Ini isinya setekah daun pisang dibuka (warna kuning karena bumbu kunyit):

Waduh, jadi lapar nih.

Nonton Pagelaran UKM di Sabuga

Sabtu malam tanggal 3 Mei 2008 yang lalu, saya menyempatkan diri hadir pada pegelaran kesenian Minangkabau yang diadakan oleh Unit Kesenian Minang ITB. Tahun ini tema pagelaran adalah “Marantiang Budayo Mamaga Pusako”, yang kalau diterjemahkan artinya kurang lebih adalah “merentangkan budaya sambil menjaga pusaka”.

Memasuki ruang pertunjukan yang berbentuk seperempat lingkaran, hati ini berdecak kagum. Penonton membludak memenuhi setiap kursi. Bahkan, setelah pertunjukan berlangsung, penonton masih tetap mengalir masuk. Mungkin kalau UKM menggunakan seluruh ruang pertunjukan Sabuga (setengah lingkaran), setiap tempat duduk akan terisi. Tiket pertunjukan sebesar Rp 15.000 mungkin dianggap tidak terlalu mahal, buktinya penonton yang ramai itu. Penonton tidak hanya mahasiswa dan perantau minang di Bandung, tetapi tampak juga orang dari etnis dan suku lain. Tampaknya pertunjukan kesenian UKM ITB selama 2 tahun terakhir berhasil memancing minat orang-orang yang notabene bukan orang Minang untuk ikut menyaksikan. Selain UKM ITB, pada malam yang sama ada satu pertunjukan budaya lagi tetapi tempatnya di Aula Timur, yaitu dari unit PSTK (Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan) ITB, sebuah unit budaya Jawa.

Kembali ke pertunjukan kesenian UKM ITB. Pagelaran kesenian dibungkus dengan sebuah kisah drama yang mengambil setting zaman penjajahan Belanda di Nagari Koto Gadang, sebuah kampung dekat Bukittinggi. Drama diselingi oleh gerak tari Minang dan iringan musik talempong. Selain ada tarian, ada juga randai. Yang baru kali ini adalah dimasukkannya musik rebab sebagai musik pengantar dan penjalin cerita. Tukang rebab memainkan musik rebab sambil mendendangkan cerita. Sayang tukang rebabnya belum piawai memainkan rebab, begitu juga cengkok dendangnya masih belum terasa pas. Yang saya tahu, rebab itu mendayu-dayu sebagaimana halnya ombak laut yang menerpa pantai pada waktu malam (musik rebab itu dari pesisir pantai, khususnya dari Kabupaten Pesisir Selatan di Sumatera Barat). Tak apalah, maklum yang memainkannya mahasiswa, bukan pemusik rebab profesional.

Secara umum pertunjukan berlangsung sukses. Namun demikian, saya tidak memungkiri ada kekurangan pertunjukan kali ini. Meskipun saya ditunjuk sebagai dosen pembina unit ini, tapi hal itu tidak menghalangi saya untuk memberikan penilaian, bukan? Saya melihat masih ada yang perlu diperbaiki untuk pagelatan tahun depan. Begini nih penilaian saya. Ide cerita yang ditampilkan sebenarnya sudah baik, tetapi dibandingkan dengan pagelaran tahun lalu, pagelaran tahun ini kurang greget alias kurang memikat. Jalan cerita terkesan melompat-lompat. Tidak ada alur cerita sebelumnya yang menjelaskan kenapa Ibrahim dianggap sebagai musuh Belanda. Hanya ditampilkan Ibrahim yang kaget ketika Datuk Mangkuto Alam menyampaikan niat Belanda untuk masuk nagari. Itu saja. Drama lebih banyak didominasi diisi oleh banyolan beberapa pemain (yang nyaris mendominasi waktu pertunjukan). Tari-tarian yang ditampilkan sedikit sekali dan nyaris seragam. Untung saja ada tari piring yang “menyelamatkan” penampilan aneka tarian. Menari piring di atas pecahan kaca sungguh mendebarkan dan mengundang tepuk tangan penonton. Tari piring sengaja dijadikan tari pemuncak karena dihadirkan pada akhir acara.

Sayang sekali, pertunjukan drama tersebut dicampuri dengan banyak pesan sopnsor. Bank Nagari menjadi salah satu sponsor utama pagelaran ini. Pemain mempunyai beban moral untuk mengiklankan Bank Nagari dalam alur cerita. Tentu saja ini tidak nyambung. Belum lagi di tengah acara ada kata sambutan dari perwakilan bank yang betele-tele. Sebenarnya panitia bisa menyatukan rangkaian kata sambutan dan lain-lain di awal acara sehingga tidak mengganggu alur cerita. Oh ya, satu lagi, sistem suara kali ini agak jelek. Ini terbukti dari mike yang digunakan pemain sering mati sehingga dialog pemain kurang terdengar oleh penonton di belakang (kok bisa Sabuga yang megah itu mempunyai sound system yang jelek?)

Terlepas dari kekurangan yang ada, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada adik-adik maahsiswa ini. Di tengah jadwal kuliah yang ketat, ujian, tugas-tugas yang menumpuk, dan lain-lain, mereka rela meluangkan waktunya untuk berlatih dan terus berlatih setiap sore, malam, dan hari libur, sebelum akhirnya mereka berhasil menghadirkan pagelaran kesenian minang yang megah.

Sukses untuk pagelaran tahun depan ya….

Pagelaran UKM-ITB yang … rRuarr Biasa

Sabtu malam, 28 April, 2007,Unit Kesenian Minang ITB (UKM-ITB) mengadakan pagelaran seni dan budaya Minang dalam rangka dies-nya yang ke-32. Tempat pagelaran kali ini cukup wah, yaitu di Sabuga ITB, biasanya kan “cuma” di Aula Barat. Sabuga yang sering jadi tempat pertunjukan musik para artis ibukota maupun artis bule, malam itu berjodoh dengan “artis-artis” UKM ITB. Judul pagelaran seni kali ini adalah “Aso Palarai Ratok”, yang kalau di-Indonesiakan artinya kurang lebih “Harapan Pengobat Tangis”. Maklum Sumbar bebrapa bulan lalu dirundung bencana gempa bumi dan terbakarnya istana kerajaan Pagaruyung, istana kebanggaan urang awak. Namun cerita yang ditampilkan di pagelaran itu tidak ada kaitannya dengan musibah bencana alam. Cerita utama yang ditampilkan diangkat dari kisah klasik ranah Minang. Tidak menariklah untuk diceritakan di sini jalan ceritanya.

Sebagai “Bapak” UKM ITB (walah…walah, maksudnya Dosen Pembina UKM), tentu saya wajib hadir untuk memberikan kata sambutan. Okelah, saya datang dengan teman dari T.Sipil 85 dan si “kalene” alias anak saya yang selalu minta ikut kalau saya mau pergi kemana-mana. Memang tidak seluruh ruang pertunjukan utama Sabuga yang disewa UKM ITB, hanya sepertiga saja, tetapi ruang sebesar itu terisi penuh dengan penonton, belum lagi penonton yang duduk di barisan depan. Penonton yang datang tidak hanya mahasiswa ITB, tetapi juga mahasiswa “urang awak” dari PT lain di Bandung, termasuk para perantau Minang yang bekerja di Bandung. Ajang pegelaran semacam ini memang sering dijadikan acara temu teman-teman sesama “urang awak”. Tidak hanya mahasiswa Minang saja yang menonton, tetapi saya lihat beberapa mahasiswa saya orang Jawa dan Batak hadir juga di dalam. Entahlah apakah mereka mengerti dengan dialog para pmaian di panggung yang berceloteh dalam Bahasa Minang.

Pertunjukan kolosal yang terdiri dari randai, tari, dan musik talempong malam itu memang luar biasa. Para pemain begitu apik memainkan perannya. Gerak tari minang yang dinamis, pakaian penari dan pemain drama yang meriah dengan warna-warni, musik tradisionil yang mengikat emosi urang awak, semuanya berpadu menghasilkan pertunjukan yang patut diacungi jempol. Salah satu karakteristik pagelaran UKM ITB beberapa tahun terakhir ini adalah dimasukkannya unsur komedi di dalam cerita. Beberapa pemain yang memerankan “anak buah” raja tampil bergurau atau “maota” (ngobrol-ngobrol) dengan logat dan gaya bicara khas orang Minang. Strategi memasukkan komedi ini rupanya berhasil, para penonton dibuat terpingkal-pingkal dengan gurauan khas Minang (bahasa Sunda-nya” “heureuy”). Hal ini mengingatkan masa lalu kami di kampung halaman, dimana kami kalau bergurau dengan teman sering menggunakan bahasa “cemeeh” (artinya ledekan). Ah, pertunjukan menjadi hidup karena dialog yang memancing tawa. Tidak terbayang kalau pegelaran itu hanya sekadar menampilkan tari dan drama yang datar-datar saja, pasti penonton cepat bosan. Salutnya, gurauan atau dialog yang ditampilkan sama sekali tidak menyerempet ke arah pornografi (sesuatu yang menjadi menu wajib acara komedi di televisi). Ke depan, unsur komedi dalam pagelaran UKM semalam harus selalu dipertahankan agar acara pegelaran UKM ITB menjadi hidup.

Berikut beberapa foto pagelaran UKM (kiriman Srizalman dari T. Sipil 85 dan dari webblog Widya Wardani :

Pagelaran UKM ITB 2007 (1)

Pagelaran UKM ITB 2007 (2)

Pagelaran UKM ITB 2007 (3)

Pagelaran UKM ITB 2007 (4)